You are on page 1of 6

ATHA BIN ABI RABA’

Atha bin Abi Raba Kun-yahnya adalah Abu Muhammad Al-Makki. Dahulu ia merupakan
seorang budak dari keluarga Abi Hutsaim. Ayahnya dikenal dengan Abu Rabah Aswadan, nama
aslinya Aslam dan ibunya bernama Barokah. Ia dilahirkan di sebuah desa di negeri Yaman yang
bernama Al-Janad di masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Atha wafat pada tahun 114 H.
Atha adalah seorang yang berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berbibir tebal. Semasa di
Mekah ia menjadi budak dari seorang wanita yang bernama Habibah binti Maisarah bin Abi
Hutsaim. Tatkala sang tuan melihat budaknya ini mempunyai semangat yang tinggi dalam
menuntut ilmu dan berkhidmat kepada agama Allah, maka ia pun berinisiatif untuk
membebaskannya dan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bebaslah Atha dari
belenggu perbudakan yang membatasi gerak-geriknya dalam meraih keutamaan di jalan Allah. Ia
menjadi orang yang merdeka dan hanya menjadi budak Allah Ta’ala, Dzat yang telah
menciptakan seluruh alam semesta ini.

Tersebutlah, Sulaiman bin Abdul Malik, seorang Khalifah kaum muslimin dan salah
seorang raja agung yang pernah bertahta di muka bumi sedang berthawaf di sekeliling Ka’bah
dengan kepala terbuka dan bertelanjang kaki. Dia hanya mengenakan kain sarung dan selendang.
Kondisinya kala itu sama seperti saudara-saudaranya fillah yang menjadi rakyat jelata.
Sementara di belakangnya ada dua orang putranya, keduanya adalah dua anak muda yang
keceriaan wajahnya bagaikan bulan purnama dan wangi dan kilauannya ibarat bunga yang
sedang mekar. Begitu khalifah menyelesaikan thawafnya, beliau menengok ke arah salah seorang
pengawalnya sembari berkata, “Di mana sahabatmu?. ”Orang itu menjawab, “Dia di sana sedang
shalat”, Sambil menunjuk ke pojok Barat Masjid Al-Haram. Lalu Khalifah dengan diikuti kedua
putranya menuju tempat yang ditunjuk oleh pengawal tersebut.

Para pengawal pribadinya ingin mengikuti khalifah guna melebarkan jalan bagi dan
melindunginya dari suasana berdesak-desakan. Akan tetapi Khalifah melarang mereka
melakukan hal itu sembari berkata, “Para raja dan rakyat jelata sama kedudukannya di tempat
ini. Tidak seorang pun yang lebih mulia dari orang lain, kecuali berdasarkan penerimaan
(terhadap amalnya) dan ketakwaan. Boleh jadi ada orang yang kusut dan lusuh berdebu datang
kepada Allah, lalu Allah menerima ibadahnya dan pada saat yang sama, para raja tidak diterima
oleh-Nya. Kemudian Khalifah berjalan menuju orang tersebut, lalu dia mendapatinya masih
melaksanakan shalat, khusyu’ di dalam ruku’ dan sujudnya. Sedangkan orang-orang duduk di
belakang, di sebelah kanan dan kirinya, lalu Khalifah duduk di barisan paling belakang dari
majlis tersebut dan mendudukkan kedua anaknya di situ.

Dia banyak berguru kepada sahabat-sahabat . siapapun tidak boleh memberi fatwa kepada orang-orang di tempat ini. mengabdi kepadanya dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan sempurna. Lalu Sulaiman bin Abdul Malik. berambut keriting lebat dan pesek hidungnya. Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan budak Habasyah ini. “Berdirilah. kecuali ‘Atha’ bin Abi Rabah. Jika dia duduk tampak bagaikan gagak hitam.” dan beliau berkata kepada kedua putranya.” lalu keduanya berdiri… Kemudian mereka bertiga berlalu menuju tempat sa’i. kedua anak muda itu mendengar ada orang-orang yang berseru. Karena ‘Atha’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan penduduk Mekkah. dia menoleh ke arah dimana Khalifah berada. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Waktu ini dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya. Maka salah satu dari kedua anak muda itu menoleh kepada ayahnya seraya berkata. karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi mulia. Mulailah dua anak muda Quraisy ini mengamati laki-laki yang dituju Amirul mu’minin (bapak mereka) dan duduk bersama orang-orang awam lainnya. orang yang malas akan menjadi pintar dan budak-budak akan melebihi derajat raja. pemilik fatwa di Masjid Haram dan pewaris Abdullah bin Abbas di dalam kedudukan yang besar ini. menunggunya hingga selesai dari shalatnya.”Perkataan Sulaiman bin Abdul Malik kepada putranya tentang masalah ilmu tidaklah berlebihan. antara Shafa dan Marwa. Akan tetapi. Dan dia juga menisbahkan setiap perkataan yang diucapkannya kepada sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian: Satu bagian untuk majikan perempuannya. dari satu hal ke hal lainnya. berkulit hitam. Dan jika dia tidak ada.” Maka Sulaiman berkata kepada putranya. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. “Bagaimana mungkin pegawai Amirul mu’minin bisa menyuruh orang-orang supaya tidak meminta fatwa kepada siapapun selain kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah dan sahabatnya kemudian kita telah datang meminta fatwa kepada orang ini?… seorang yang tidak peduli terhadap kehadiran Khalifah dan tidak memberikan penghormatan yang layak terhadapnya?. Ketika Khalifah telah selesai mengajukan pertanyaannya.“Orang yang telah kamu lihat -wahai anakku- dan yang kamu lihat kita tunduk di depannya inilah ‘Atha’ bin Abi Rabah. “Mudah- mudahan Allah membalas anda dengan kebaikan. dengan meletakkan kedua kakinya semenjak kecil di jalan ilmu. Ketika orang itu telah selesai dari shalatnya. Saat itulah Khalifah menyongsongnya dan bertanya tentang manasik haji. “Wahai kaum muslimin.”Kemudian Khalifah melanjutkan perkataannya. sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika mereka bertiga di pertengahan jalan menuju tempat sa’i. belajarlah ilmu. beliau mengucapkan. dan orang itu menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang tuntas dan memerincinya sehingga tidak memberikan kesempatan lagi bagi si penanya untuk bertanya lagi. Ternyata orang itu adalah seorang tua yang berasal dari Habasyah.“Wahai anakku. sang khalifah memberi salam dan orang itu membalasnya. maka Abdullah bin Abi Nujaih.

Kedua. tempat dia berteduh dan sebagai sekolahan yang dia belajar di dalamnya. mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan. ‘Dahulu mereka menganggap setiap perkataan yang bukan membaca atau memahami Kitab Allah ‘Azza wa Jalla sebagai perkataan sia-sia. Dia berguru kepada Abu Hurairah. Abdullah bin Az- Zubair dan sahabat-sahabat mulia lainnya radliyallâhu ‘anhum.”Mereka berkata. Hal ini membuat ahli sejarah berkata. ‘Atha’ bin Abi Rabah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat tinggalnya. Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas waktunya. ‘Atha’ bin Abi Rabah menasehatiku.” Dia berkata. barangkali ucapan ini dapat memberi manfaat kepadamu. ‘Abdullah bin Umar. fiqih dan riwayat dari Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. dan menyerap ilmu-ilmu mereka yang banyak dan murni. sehingga hatinya dipenuhi ilmu. Dia berkata. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa. Semenjak hari itu.”Seorang tabi’i yang mulia ‘Atha’ bin Abi Rabah ini telah sampai kepada kedudukan yang sangat tinggi di dalam bidang ilmu dan sampai kepada derajat yang tidak dicapai. ‘Dan apa perkataan yang sia-sia menurut mereka?’ ‘Atha’ berkata. ‘Wahai keponakanku. sedangkan di tengah- tengah kalian sudah ada ‘Atha’ bin Abi Rabah?!. sebagai tempat shalat yang dia bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan dan keta’atan. Muhammad bin Suqah bercerita kepada pengunjungnya. Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas jiwanya. Mudah-mudah Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Demikian pula dengan bukan meriwayatkan dan mengaji hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam atau menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau ilmu yang . Ketika Majikan perempuannya melihat bahwa budaknya telah menjual jiwanya kepada Allah dan mewakafkan hidupnya untuk mencari ilmu. wahai penduduk Makkah. “Masjid Haram menjadi tempat tinggal ‘Atha’ bin Abi Rabah kurang lebih dua puluh tahun. “Pada suatu hari. sebagaimana ia telah memberi manfaat kepadaku?. Dia tidak membiarkannya hanyut di dalam perkataan dan perbuatan yang melebihi keperluan. “Maukah kamu mendengar suatu ucapan. maka ‘Abdullah berkata. ‘Abdullah bin Abbas.Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang masih hidup. maka dia melepaskan haknya terhadap ‘Atha’.” Lalu aku berkata. kemudian memerdekakannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya orang-orang sebelum kami dahulu tidak menyukai perkataan yang sia-sia. kecuali oleh beberapa orang semasanya. Dia tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak berguna. sebagai rumahnya. “Baik. “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian.” ‘Atha’ bin Abi Rabah telah sampai kepada derajat agama dan ilmu dengan dua sifat: Pertama.

dapat dibuat taqarrub kepada Allah Ta’ala atau kamu berbicara tentang kebutuhanmu dan ma’isyahmu yang harus dibicarakan Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepadaku dan berkata. tetapi. namun aku duduk dalam keadaan berpaling dari arah kiblat. kecuali dia adalah orang yang berilmu. “Aku akan menuju kendaraanku. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir “(Qaaf. “Dengan bayaran berapa anda mencukur rambutku?” Maka tukang cukur itu menjawab:Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda. Lalu dia berkata: Ke mana anda akan pergi? Maka aku menjawab. Kemudian dia berkata. kemudian pergilah kemana anda suka. dia berkata. Dan mulailah dia mencukur kepalaku. lalu aku berputar. ayat: 10) Dan bersama setiap kamu ada dua malaikat “Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. ayat: 17-18).”Allah Azza wa Jalla benar-benar menjadikan ilmu ‘Atha’ bin Abi Rabah bermanfaat bagi banyak golongan manusia.” Maka aku berkata kepadanya: Dari mana anda dapatkan manasik yang anda perintahkan kepadaku ini? Maka dia berkata: Demi Allah. Lalu dia berkata kepadaku. Dunia telah berdatangan kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah namun dia berpaling dan menolaknya dengan keras Dia hidup sepanjang umurnya hanya dengan mengenakan baju yang harganya tidak melebihi lima dirham. duduklah dan berikan sekedar kerelaan. jika buku catatannya yang dia penuhi awal siangnya dibuka di depannya. Imam Abu Hanifah An-Nu’man bercerita tentang dirinya. dan aku semakin grogi. Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka.” Maka aku merasa malu dan aku duduk. lalu dia menemukannya apa yang tertulis di dalamnya bukan urusan agamanya dan bukan urusan dunianya. lalu tukang cukur mengajariku…yaitu bahwa aku ingin mencukur rambutku supaya aku keluar dari ihram. Dia berkata: Aku telah berbuat kesalahan dalam lima bab dari manasik haji di Makkah. sehingga aku berdiri untuk siap-siap pergi. Di antara mereka ada orang- orang yang khusus ahli ilmu dan ada orang-orang pekerja dan lain-lainnya. Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran.” Lalu aku shalat dua rakaat dan aku berkata di dalam hati. sedangkan aku terdiam sambil melihatnya dan merasa kagum kepadanya. lalu aku sewaktu hendak cukur. karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya. dan aku menurutinya.” Lalu dia berkata. aku berkata. akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam . “Apakah salah seorang di antara kita tidak malu. Akan tetapi bukan dia tidak memenuhi ajakan mereka. shalatlah dua rakaat. “Berikan bagian kanan kepala anda. Aku telah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabah melakukannya lalu aku mengikutinya dan aku mengarahkan orang lain kepadanya. “Seorang tukang cukur tidak akan berbuat seperti ini. “Kenapa anda diam? Bertakbirlah.” Lalu aku bertakbir. Kemudian aku menyilakannya supaya dia mencukur kepalaku sebelah kiri. Lalu tukang cukur itu menoleh ke arahku supaya aku menghadap kiblat. Apakah kamu mengingkari “sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) ” (Al-Infithar.

Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka . Kemudian Hisyam berkata. sehingga beliau mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya. ayah turun dari keledainya. Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata. “Ya. dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin. maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka. selamat datang. dan ketika Hisyam melihatnya. beliau segera mempersilakannya masuk. “Wahai Amirul Mu’minin. kemari. bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka. Maka Hisyam menjawab. Wahai ajudan. “Diam. “Baik.” Maka Hisyam berkata. dan tadinya mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. aku tidak bisa masuk. “Ketika Hisyam mengetahui bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah berada di depan pintu. maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah. lalu keduanya berpelukan dan saling menyapa. penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti arab dan pemuka Islam.kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam. Di antaranya seperti yang diceritakan oleh Utsman bin ‘Atha’ Al-Khurasani. “Ya wahai Amirul mu’minin. “Baik. Ceritakanlah kepadaku. kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Tulislah. serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Kemari.” Ketika orang itu telah dekat dengan kami. dia berkata. wahai ajudan. “Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku. Kemari. karena kalau mereka mati. beliau berkata. Orang itu juga turun dari himarnya. maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Dan di antara orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar. dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya. maka ayah berkata. dan menyentuhkan lututnya dengan lututnya. kemari. tulislah. berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Tempat duduknya terbuat dari kayu.dan demi Allah. “Siapa ini?” Maka ayah berkata. kecuali karena sebab dia. aku berkata kepadanya. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya.” “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata. sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. “Apa keperluan anda wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata. Penduduk Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang.” Maka Hisyam berkata. tentang apa yang anda berdua lakukan. ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah. keduanya dipersilakan masuk.” ‘Atha’ berkata. Ketika ayah telah ke luar. tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam. Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?. dan terus beliau berkata kepadanya. Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan. supaya dikirim rizki kepada mereka. maka perbatasan akan hilang. “Baik. Tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun. wahai ajudan. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus. Selamat datang. mereka berdiri di depan musuh-musuh anda.” “Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Ya wahai Amirul mu’minin. wahai Amirul mu’minin.

kebaikan dan takwa.”Maka Hisyam berkata. Selain itu. Dan dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah. . Ya. lalu ‘Atha’ berdiri dan aku berdiri bersamanya. Sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun. Bertakwalah kepada Allah di dalam diri anda wahai Amirul mu’minin.”Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis. “Maaf aku tidak akan menerima ini.” “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad? ‘Atha’ berkata. dan orang itu berkata kepadanya. dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.tidak mampu. Di sana dia memohon kepada Allah keridlaan-Nya dan surga-Nya. karena apa yang anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk anda atas musuh anda. supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. dan anda akan mati didalam keadaan sendiri…dan anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang anda lihat bersama anda. amal. Ketika dia wafat.” “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu. Banyak berbekal dengan amal akhirat.” Maka ‘Atha’ berkata. Umur itu dia penuhi dengan ilmu. “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada anda. upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’. Dan ketika kami telah sampai ke pintu. Selanjutnya ‘Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. ayat:109) Demi Allah. Dan memohon perlindungan kepada-Nya dari murka-Nya dan dari neraka-Nya. ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha’ dengan membawa kantong. “Wahai ajudan tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi. beliau melakukan di dalammya 70 kali wukuf di arafah. dan ketahuilah bahwa anda diciptakan di dalam keadaan sendiri. dia di dalam keadaan ringan dari beban dunia. Dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali.