You are on page 1of 36

BAB 5

BEBARAPA ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN

KELAUTAN DAN PERIKANAN, PELUANG DAN PERMASALAHANNYA

5.1 Kinerja Pembangunan Kelautan

Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia yang secara agregat

cenderung meningkat ternyata telah membawa implikasi kepada

peningkatan aktivitas ekonomi di kawasan Asia Pasifik. World Economic

Forum (WEF) pada Konvensi di Swis tahun 2001 yang lalu memprediksi

bahwa kawasan,ini akan menjadi leader bagi kawasan lain dalam kurun

waktu hingga dua dekade mendatang. Suatu hal yang menarik, berdasarkan

kajian WEF bahwa variabel terpenting dan pertumbuhan ekonomi di

kawasan ini adalah sektor kelautan yang akan menjadi prime mover.

Indonesia sebagai negara kepulauan disamping Filipina dan jepang

yang terletak di kawasan Asia Pasifik, diyakini oleh Bank Pembangunan

Asia (ADB) dan World Bank dalam laporan tahunannya pada Tahun 2000

akan memegang peranan kunci dalam pertumbuhan di kawasan ini

sebagaimana prediksi WEF tersebut. Dalam konteks nasional, studi PKSPL

(2000) menunjukkan bahwa tahun 1998, sektor kelautan menyumbang

20,06 % dan pangsa PDB nasional Apabila dibandingkan dengan sektor-

sektor lainnya, sektor kelautan mengalami kenaikan yang cukup besar

hampir meningkat 12.1% per tahun selama kurun waktu 4 tahun seperti

disajikan pada Tabel berikut :

Tabel. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto menurut Lapangari
Usaha Tahun 1994-1999 (dalam%) (Atas harga berlaku)

No Lapangan Usaha 1994 1995 1996 1997 1998

1 Pertanian 19.72 16.12 14.83 12.89 12.62

Pertambangan &
2 9.38 9.25 4.85 5.69 4.21
Penggalian

3 Manufakturing 23.30 23.86 20.91 21.02 19.92

4 Jasa-jasa 50.60 50.80 47.03 42.64 41.12

5 Kelautan - 12.38 12.31 16.55 20.06

Sumber : PKSPL-IPB 2000

Bila dibandingkan dengan negara lain, maka kontribusi sektor

kelautan Indonesia relatif masib relatif rendah. Beberapa negara seperti

RRC, Amerika Serikat dan Norwegia kontribusi ekonominya dalam bidang

kelautan terhadap PDB nasional sudah lebih dari 30 persen. RRC, misalnya.

pada fahun 1999 telah menyumbangkan nilai sebesar 1.846 milyar yuan

(17.352,6 milyar dollar AS) atau sekitar 48,4 persen dan PDB nasionalnya

(Kin, 1999), Amenika Serikat dengan potensi keanekaragaman hayati laut

yang jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia, pada tahun 1994 bisa

meraup devisa dan industri bioteknologi kelautan sebesar 14 milyar dollar

(Bank Dunia dan Cida, 1995). Hal ini kontradiktif sekali jika dibandingkan

dengan total nilai ekspor produk perikanan Indonesia yang hanya mencapai

2,1 milyar dollar pada tahun 1998.

Tabel 3. Perbandingan Kontribusi Sektor Kelautan Beberapa Negara

Panjan Kontribusi Sektor Kelautan
Luas
g Terhadap GDP
No Negara Perairan
Pantai
(Km2)
(Km) (%) Nilai

1 Amerika Serikat 19.800 $ 14 Milyar (1995)

2 Korea Selatan 2.713 37 $ 14,7 trilyun (Huh
and Lee, 1992)

3 RRC 32.000 3 Juta 48.40 $ 17.352,6 milyar
(1998)

4 Indonesia 81.000 5.8 Juta 20.06 Rp 189 trilyun
(1998)

5 Jepang 34.386 54 $ 21.4 trilyun

(Itosu,1992)

Sumber : PKSPL-IPB 2000

Walapun demikian, jika dikaji secara menyeluruh, Nilai Produk

Domestik Bruto (PDB) sektor kelautan atas dasar harga berlaku sejak tahun

1995 memperlihatkan peningkatan. Pada Tahun 1995 PDB sektor kelautan

diketahi sebesar Rp.55.995 milyar atau sekitar l2,38% dan PDB nasional

yang mempunyai nilai sebesar Rp. 452.381 milyar, dan pada tahun 1998

PDB sektor kelautan meningkat menjadli Rp. 189.134 milyar atau 20,06 %

dan PDB nasional atas harga berlaku (Tabel 3). Dan kontnibusi bidang

409 9.573 103. 6.907 20. PDB Sektor KelautarvAtas Dasar Harga Berlaku Pada Tahun 1995 —1998 Menurut Sektor (Milyar Rupiah).474 9.652 94.19.700 6.43% atau Rp. PDB PDB PDB PDB No Sektor 1995 1996 1997 1998 1 Perikanan Laut dan 6.965 12.490 9.890 12.Industri 3.800 3. 532. 20.990 4.995 65.374 Minyak Bumi .712 21.209 6.425 maritim Iainnya 4 Jasa Angkutan Laut 3.345 Payau 2 Pertambangan 19. Nasional 7 8 9 8 Sumber : PKSL-IPB.LNG 4.043 dan Jasa Penunjang 5 Pariwisata Bahari 3.445 4.989 15.329 6 Bangunan Kelautan 3.345 milyat Peningkatan terbesar tenjadi pada sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi.98% atau .474 milyar dan pada tahun 1998 kontribusi tersebut meningkat menjadi 2.366 3.299 3. 942.PengiTangan 5. 625.505.450 14.514.247 6.093 11.790 5. yaitu pada tahun 1996 persentase PDB sub sektor ini sebesar 4.630.952 4.142 Minyak dan Gas 3 Industri Maritim .712 milyar dan pada tahun 1998 meningkat menjadi 9.890 8.843.36% atau Rp.904 7.079 . Jumlah PDB 55.256 5.646 Lainnya.859 7.16 % atau Rp.751 7 Jasa Kelautan 5.kelautan tersebut dapat diuraikan lebih rinci lagi berdasarkan sektor sebagai berikut: Tabel 4.426 42.950 4. 2000 Persentase PDB Sub sektor penikanan laut dan payau pada tahun 1996 sebesar 1.546 189.134 Sektor Kelautan Jumlah PDB 454.

Namun demikian dalam pengembangan eksplorasi minyak bumi dan gas selalu terdapat inovasi teknologi untuk mengatasi kendala tersebut.06%. Dalam jangka pendek sampai jangka menengah peranan sektor pertambangan minyak dan gasbumi masih sangat besar terhadap sektor kelautan. pariwisata bahari dan perikanan laut dan payau akan mempunyai peranan yang sangat besar. namun dengan berkurangnya sumber minyak bumi. dan pada tahun 1998 meningkat menjadi 20. Persentase Produk Domestik Bruto Sektor Kelautan terhadap PDB nasional dan tahun 1995 sampai tahun 1998 menunjukkan peningkatan. Namun demikian dan tahun 1995 ke tahun tahun 1996 persentase PDB sektor kelautan mengalami penurunan.38%. khususnya LNG. jasa angkutan laut dan jasa penunjang. walaupun apabila dilihat dan nilainya mengalami peningkatan.sebesar Rp. Hal ini disebabkan karena sektor lainnya yang mengalami peningkatan pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan . Sektor kelautan dibangun oleh beberapa subsektor-subsektor antara lain subsektor perikanan laut dan payau. 94. industri maritim. pariwisata bahari dan bangunan kelautan serta jasa kelautan lainnya. Sementara diperkirakan untuk jangka panjang industri maritim. pertambangan minyak dan gas bumi. Pada tahun 1995 persentase kontribusi PDB sektor kelautan terhadap PDB nasional sebesar 12. maka peranannya akan sedikit berkurang selama tidak ada intervensi teknologi.142 milyar.

4 5.527 Iainnya 4 Jasa Angkutan Laut dan 3.PengiTangan 4.4 Jasa Penunjang 5 Pariwisata Bahari 3565.573 milyar (atas harga yang benlaku). 2000 Sementara itu distribusi persentase PDB kelautan atas harga konstan 1993 menunjukkan beberapa perbedaan.190.503.3 6 Bangunan Kelautan 6.566 3.4 6.674 3.4 Payau 2 Pertambangan Minyak 6.864 5. 65. Hal tersebut juga ditunjukkan PDB berdasarkan harga konstan sebagai benikut: Tabel 5.568 6.8 6196.dengan sektor kelautan. Pada tahun 1996 persentase PDB sektor kelautan sebesar 12.9 Sumber : PKSPL-IPB.3 3565.9 5. Sub sektor Perikanan menunjukkan kenaikan yang konstan demikian pula dengan sub sektor Jasa Angkutan Laut dan Jasa Penunjang.503.568 6.8 6196.9 5.928.4 3.060 .248.4 6. PDB Sektor Kelautan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 Pada Tahun 1995 —1998 Menurut Sektor (Milyar Rupiah).468 7.905 4.248.928.4 3.248. Namun sub sektor Pertambangan Minyak dan Gas walaupun juga menunjukkan kenaikan setiap tahun tetapi pada Tahun 1997 .4 dan Gas 3 Industri Maritim .9 5.8 Jumlah PDB Sektor 3. PDB PDB PDB PDB No Sektor 1995 1996 1997 1998 1 Perikanan Laut dan 5.3 3565.801 4.503.190.4 5.Industri maritim 2.928.3 3565.248.566 3.503.190.260 6.4 5.190.31% dan PDB nasional atau nilainya sebesar Rp.568 6.LNG 3.566 3.030 3.609 6.566 Kelautan Jumlah PDB Nasional 5.8 6196.4 3. 6196.4 6.275 Minyak Bumi .928.042 4.568 7 Jasa Kelautan Lainnya.

751 1. Merujuk pada pengelompokan tujuh sektor dalam bidang kelautan.58 12.790 0.345 2.75 4.079 0.256 0.16 6.25 kelautan 7 Jasa lainnya 5. Nilai PDB Sektor Kelautan dan Prosentase terhadap PDB Nasional Tahun 1995 – 1998 1997 1998 1995 1996 No Sektor Nilai (Rp Nilai (Rp Nilai (Rp Nilai (Rp Share Share Share Share Milyar) Milyar) Milyar) Milyar) 1 Perikanan taut 6.366 0.68 c Lainnya 4 Jasa angkutan 3.546 milyar (16.81 11.142 0.31 6 Bangunan 3.43 9. maka secara agregat memiliki share yang signifikan terhadap PDB Nasional.329 1.445 0.06 %) terhadap PDB Tabel 6.54 20.425 0.87 3.06 3. Pada tahun 1997 dan 1998 masing-masing mencapai Rp 103. Perbedaan kenaikan persentase antara pengukuran PDB atas harga konstan dan atas harga berlaku ini disebabkan oleh berfluktuasinya nilai kurs Rupiah terhadap US Dollar selama kurun waktu pengukuran serta tidak adanya indeks pada pengukuran PDB atas harga berlaku.142 9.990 0.859 1.952 0.98 migas 3 Industri Maritim 5.36 21.39 laut dan penunjangan 5 Pariwisata bahari 3.474 1.26 94.87 14.86 15.96 3.890 1.sempat mengalami penurunan.890 1.29 7.209 0.700 1.409 1.80 5.712 4.134 (20.247 1.907 2.652 94.299 0.904 0.646 1.55 %) dan 189.73 7.34 .76 4.800 1.67 6.20 9.16 dan payau 2 Pertainbangan 19.89 a Pengilangan minyak bumi b LNG 4.093 0.490 1.90 5.989 1.74 4.450 0.73 3.26 6.74 4.20 9.043 1.950 0.79 12.965 0.42( 42.

95 kaki kubik gas pada tahun 1998.38 65. Beberapa Isu Strategis 5. Peluang peningkatan pengembangan ekonomi sektor kelautan masih terbuka luas.8 100. 100.843.31 103. Diversifikasi Sumberdaya Pertambangan Sektor pertambangan merupakan andalan dalam bidang kelautan. jasa angkutan laut. sektor pertambangan migas memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB dan kemudian diikuti oleh industri maritim.0 Sumber : Diolah dart data BPS.573 12.505.06 PDB Nasional 454. PDB Kelautan 55.1. 2000 Nasional secara keseluruhan nilai PDB sektor di kelautan dan persentasenya terhadap PDB Nasional tahun 1995-1998 disajikan seperti tabel berikut.2. diperlukan investasi dan kebijakan yang konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor yang efisien menjadi prioritas. karena sumberdaya tersebut pada suatu saat akan habis.0 942.995 12. Potensi tesebut masih memerlukan tindak lanjut melalui ekplorasi agar didapatkan cadangan baru.0 625.3 miliar barel minyak dan 307.630.8 100. 5. jasa kelautan.134 20. perikanan. pariwisata bahari dan bangunan kelautan. khususnya untuk MIGAS potensi sumberdaya migas Indonesia diperkirakan sebesar 73.55 189. Pengembangan sumberdaya baru dan diversifikasi sumberdaya pertambangan akan sangat menentukan keberlanjutan .1 100.546 16.2.0 532. Dari data tensebut tenlihat bahwa.514.

keragaman flora dan fauna (biodiversiy) seperti taman laut. Produk wisata bahari yang perlu dikembangkan adalah wisata pantai (seaside tourism). sehingga pengembangan kepariwisataan bahari perlu mendapat prioritas.2. 5. Kebijakan Investasi Pertambakan . Namun demikian pengembangan pertambangan dalam era otonomi daerah harus memberikan manfaat eksploitasi kepada masyarakat lokal serta menghindari terjadinya konflik dengan masyarakat dan meminimumkan kerusakan lingkungan yang dapat ditimbulkan. wisata pesiar (cruise tourism). wisata alam (eco tourism).2. Pembangunan wisata bahari melalui pemanfaatan obyek dan daya tarik berupa wisata alam (pantai). Peningkatan aktivitas ekplorasi dan eksploitasi sumberdaya pertambangan dan energi harus memperhatikan koeksistensi dengan sektor lain terutama sumberdaya pulih (renewable). Pengembängan Pariisata Bahari Sektor pariwisata bahari merupakan sektor yang paling efisien dalam bidang kelautan. pertumbuhan ekonomi dari sektor pertambangan.2. wisata budaya (cultural tourism) maupun wisata olahraga (sport tourism). wisata bisnis (business tourism). Dengan jumlah 241 kabupaten/kodya di kawasan pesisir maka pengembangan pariwisata bahari akan membawa dampak langsung yang besar kepada pendapatan masyarakat lokal maupun pemerintah daerah.3. 5.

Mengingat terdapat komponen lain harus dikorbankan yang seharusnya dipertimbangkan pada saat program ini disusun. Di satu sisi kita boleh berbangga. tetapi di sisi lain kita juga perlu senclini melihat target ekspor yang terlalu tinggi. Dan. Berdasarkan dokumen Protekan 2003 terlihat bahwa budidaya tambak udang merupakan target utama dalam perolehan devisa yang nilainya mencapai 90 % dan keseluruhan total target perolehan devisa dari ekspor komoditas hasil budidaya. komoditas udang selalu menjadi primadona.79 milyar. Merujuk pada kebijakan Protekan 2003 yang ambisius maka ada berbagai aspek yang harus menjadi perhatian serius sehingga menimbulkan kekhawatiran dan kalangan aktivis lingkungan. pada tataran empinis pencapaian target ini tidak semudah yang dibayangkan dan tertulis dalam Protekan 2003. Tetapi. memang jika kita melihat waktu 5-6 tahun ke belakang. komoditas udang selalu memberikan kontribusi ekspor sekitar 60 % dan total ekspor perikanan Indonesia. Dalam dokumen Protekan 2003 pengembangan usaha budidaya pada hakikatnya dilakukan melalui budidaya tambak. budidaya laut dan budidaya air tawar. . Sepintas target ini kelihatannya mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap IMF yang sekarang ini sudah diklaim sebagai bentuk dan kolonialisme baru. Target devisa yang diharapkan dan budidaya tambak dalam program ini diproyeksikan sebesar US$ 6.

Sebingga target yang diharapkan oleh pemerintah melalui Protekan 2003 mi menjadi kurang realistis karena produksi produksi udang yang diharapkan mencapai 667.200 metrik ton menjadi 737.000 metrik ton dengan target yang proyeksikan dalam Protekan 2003. Cina. maka terjadi peningkatan 1. Padahal peningkatan produksi udang dunia dari tahun 1997 sampai tahun 1998 hanya mencapai 12 % yakni dari 660. Dan sejumlah itu pasar internasional hanva mampu menyerap produk udang Indonesia sekitar 6.200 metnik ton.200 metrik ton. Jepang dengan penduduk 120 juta .28% selama 5 tahun. Sementara produksi udang dunia yang berasal dari budidaya yang secara keseluruhan pada tahun 1998 secara total mencapai 737. produk udang Indonesia hanya memiliki pangsa pasar sebesar 6. India juga tumbuh pesat.335.640 ton.78%. Memang harus diakui bahwa komoditas udang sudah menjadi komoditas dunia. Pasar Amenika dengan penduduk 260 juta jiwa yang makmur menempatkan udang sebagai sea food favorit ke-2 untuk dikonsumsi.78 % Artinya. Jika membandingkan produksi udang Indonesia pada tahun 1998 yang besarnya 50. Dengan perkataan lain bahwa hampir keseluruhan permintaan pasar udang yang berasal dari budidaya dunia akan dikuasai oleh Indonesia padahal negara produsen lainnya seperti Thailand.

potensi lestari SDI laut Indonesia diperkirakan sebesar 6. jelas merupakan pasar yang besar bagi komoditas udang. pelagis kecil sekitar . Secara rinci areal budidaya tambak dengan pola intensifikasi dan ekstensifikasi s/d tahun 2003 sebagaimana tentera dalam dokumen KEADAAN PERIKANAN NASIONAL Data DKP (2005) menunjukkan.jiwa merupakan negara di dunia yang tingkat konsumsi udangnya mendekati 3 kg per kapita. Agar supaya produksi udang yang dihasilkan mencapai proyeksi target devisa yang diinginkan pemenintah Indonesia.408 juta ton/tahun yang terdiri dan pelagis besar sekitar 1.855 hektar ini sampai tahun 2003 akan dilakukan melalui intensifikasi seluas 256. madya dan maju.165 juta ton/tahun. Teknologi yang akan dikembangkan pada pola intensiflkasi ini adalah teknologi sederhana.855 hektar. Begitu juga halnya dengan Uni Eropa dengan total penduduk sebanyak 373 juta jiwa dan memiliki banyak daerah pariwisata.399 ha. maka konsekuensi logisnya adalah diperlukan perluasan lahan budidaya tambak udang sebesar 379. yang akan dilaksanakan di 23 propinsi.555 ha yang akan dilakukan di 17 propinsi dan ekstensifikasi seluas 122. Pengembangan budidaya tambak seluas 379.

145 juta ton/tahun dan udang. DKP telah membagi wilayah perairan Indonesia menjadi 9 wilayah perikarian (WPP) mulai dan Selat Malaka hingga Laut Arafura Dilihat dari konteks WPP. yaitu WPP 1 (Selat Malaka) dan WPP 3 (Laut Jawa). Kemudian diikuti WPP 2 (Laut Cina Selatan) sebesar 1. DKP.030 ton/tahun.050 ton/tahun Potensi SDI Terkecil terdapat di WPP I (Selat Malaka) yaitu hanya sebesar 276. yaitu tercatat memiliki potensi SDI sebesar 1. WPP lainnya masih memungkinkan untuk dikembangkan kapasitas perikanannya karena tingkat . potensi SDI terbesar terdapat di WPP 9 (Samudera Hindia). Gambar : Wilayah Pengolaan Perikanan (WPP) di Pera Indonesia (Sumber.605 juta ton/tahun.3.890 ton/tahun.057.128 juta ton/tahun.076. termasuk cumi-cumi sekitar 0.. Dalam konteks pembangunan perikanan tangkap. demersal sekitar 0. 2005) Dalam konteks pemanfaatan SDI. beberapa WPP telah mengalami overfishing.

ltshing(33. SelatMaleka 276.37 ondernshitig (34 Arotinre 14 Total Nasional 1. mde. Lout 832.28 ovefltshi.1001 4.84 1. seperti Laut Cina Selatan. Laut Seram. dan sisi jenis spesies SDI dan tingkat pemanfaatannya.94 3.45 w.78 underfishinq (57.72 655.84 unde. Laut Flores. Tabel berikut menyajikan potensi dan tingkat pemanfaatan SDI menurut WPR Selanjutnya.06 379.40 .057.89 623. Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Tabel Potensi SDI Laut dan Tingkat Pemanfaatannya menurut WPP Potensi Produksi Status WPP (1000 ton) (1000 ton) Pemanfaatan 1.078. Demikian pula kegiatan penangkapan ikan untuk wilayah perairan Selat Makassar.fishing(e2.11’ dan Lout Flares 5.82 157.47 don Samudem Pasifik 8. Lout Serum 550. jenis ikan demersal dan pelagis. Laut Arafura serta Samudera Hindia masih dapat dikembangkan dilihat dan sisi kuantitas ketersediaan sumberdaya ikan atau dari sisi kelompok SDI.92 .55 263. sampai Teluk Tomini.90 tmdahtshatg Selatan (35. LautBanda 277.11 undeslIshing Sutawesi (37. Setat 929.41 o.03 369.g (‘1001 2.4e dun Tehtk Tomim 7. Laut Banda.72 237.094.defltshmg Makassar (70.1S 6.edtshingQ. Lout China 1. Lout 771. Lautjawa 796.99 228.pemanfaatannya masih di bawah 80%.

073. produksi perikanan laut mencapai . Produksi SDI laut pada tahun 2002 telah mengalami peningkatan sebesar 51. Namun. Pada tahun 2002. jumlah itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan negara produser perikanan lainnya seperti Gina (17 juta ton/tahun). Keragaan mengenai potersi SDI laut Indonesia dan tingkat pemanfaatannya pada tahun 2002 dapat dilihat pada Tabel Pada periode 1992-2002.506 ton. Sementara itu.3 juta ton/tahun). naik hampir 2 kali lipat dan produksi perikanan pada tahun 1992 (tabel).Sumber : DKP (2003) sar telah dieksploitasi masing-masing sekitar 85% dan 63.7 juta ton/tahun). Peru (10.43% jika dibandingkan tahun 1992.17% dari potensi yang ada. sedangkan jenis ikan karang dan udang peneid masih belum dapat dikonfirmasi datanya. Amerika Serikat (4. Jepang (5 juta ton/tahun). jenis pelagis kecil baru dimanfaatkan sekitar 49%.7. produksi perikanan Indonesia menunjukkan kecenderungan (trend) positif. Pada tahun 2002 mencapai 4.juta ton/tahun) dan Cili (4.

Tabel .690.25 ?‘lOO Sumber. Demersal 1. pertumbuhan produksi perikanan laut kembali mengalami penurunan yang drastis. Rata-rata pertumbuhan produksi perikanan selama sebelas tahun terakhir sebesar 4. Pada tahun 1998-1999. Pelagis besar 1.073. Pelagis kecil 3. Lobster 4. Potensi dan Pemanfaatan SDI Laut tahun 2002 N PEMANFAATAN SPESIES MSY (ribu ton) O (%) 1.506 ton dan tahun 1992 produksi perikanan laut mencapai 2. terjadi pertumbuhan negatif yang dapat dikartkan dengan masa krisis ekonomi yang terjadi pada penode tahun yang sama Pada tahun 1999 sampai 2000. Namun.605.00 7.365.17 2.49 3. Udang Panaid 94.050 ton.165. pertumbuhan penkanan kembali mengalami peningkatan dan turun lagi pada tahun 2001. LIPI dan DKP (2001) 4. Pertumbuhan produksi perikanan dari tahun 1992 sampai 1995 terus mengalami penurunan dan mengalami kenaikan tahun 1996 Pada tahun 1996 sampai tahun 1998.60 85. selama 11 tahun terakhir itu.27 persen.00 ‘100 6. Ikan Karang 14525 ‘lOG 5.65 49. pertumbuhan produksi ikan laut mengalami fluktuasi.09 79. .52 4. Cumi 28.36 63.

1994 3. 1998 3. 1997 3. potensi perikanan budidaya Indonesia sampai tahun 2000 baru menghasilkan produksi Table : Produksi Perikanan Laut Indonesia No Tahun Produksi Perikanan Laut (ton) 1. 1992 2.931 3. Sementara itu. jika ada salah satu sumber produksi itu mengalami penurunan. Bahkan hal itu dapat memicu terjadinya krisis ikan nasional.290. 1995 3. 2002 4.894.050 2.690. 1993 2. 1996 3.795 5. Departemen Kelautan dan Perikanan (2003) .444 9.723.506 Sumber : Statistik Perikanan.078.191 10.610.807. 2000 3.682.381. 1999 3. dampaknya adalah menurunnya produksi perikanan nasional.746 8.(Gamba) Dengan demikian.966.151 4. 2001 3.140 6.073.480 11.537 7.

000.000. Produksi Perikanan Laut 4.500.000 3.500.000 1.268 miliar. dan Filipina.000. produksi 12 10 8 6 4 2 0 Pertumbuhan Produksi Perikanan Laut Rata-rata Pertumbuhan .000 4.000 3. Jepang. Pada tahun 2000.000 500.000 2. seperti Cirio. India. Jumlah itu jauh lebih kecil jika dibandingkan negara-negara produser perikanan lain nya.500.000 1.000.000 2.500.000 - 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Tahun Gambar Produksi Perikanan Laut Indonesia sekitar 994 ribu ton dengan nilai sekitar US$2.

2003).759 hektar.444 ribu ton dengan nitai sekitar US$28. .000 km dan ekosistem perairan taut semi tertutup (semi-closed waters) yang cukup banyak.Gambar. Pertumbuhan Produksi Perikanan Laut perikanan budidaya Cina sudah mencapai sekitar 32. sementara produksi aktuat budidaya baru mencapai 0.117 miliar. Data DKP (2004) menunjukkan. pemanfaatanlahan budidaya untuk tambak masih belum optimal karena baru sekitar 40% atau 344. total lahan budidaya di kawasan pesisir (tambak) mencapai 913. Selain lahan budidaya untuk kepentingan tambak.000 hektar yang tersebar di seluruh provinsi lndonsia. Namun. peluang pengembangan budidaya taut (marikultur) masih terbuka lebar. dengan potensi ganis pantai sepanjang 81. Pendekatan itu merupakan pendekatan tertua di Eropa yang saat ini lebih dikenal dengan co-management.7 juta ton/tahun (DKP. Potensi produksi budidaya ikan laut diprediksi mencapai kurang lebih ) 47juta ton/tahun. Selain itu dari sisi potensi lahan. Tabel : Permasalahan konflik antaralat tangkap dan alten pemecahannya perumusan aturan dan penegakkan hukum dari aturan itu. potensi budidaya taut (marikultur) menjadi salah satu adalah bagi pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia.

lebih dan 758 kapal penangkap ikan ilegal beroperasi di perairan dunia(Lihat Gambar Akibatnya. sampai sekarang belum terselesaikan dengan baik. .12 yang menggunakan pendekatan pelibatan peran serta nelayan. unreported and unregulated) Fishing mempakan permasalahan klasik perikanan di seluruh perairan dunia. lalu pemerintah bersama nelayan mencari altematif pemecahan untuk menghilangkan penyebab timbulnya masalah. Pendekatan itu diawali dengan identifik masalah (sebab) dan akibatnya. praktik IUU Fishing akan mengancam. IUU FIshing Permasalahan IUU (illegal. seyogianya pendekatan itu dapat dipertimbangkan sebagai landas dalam pengambilan keputusan penyelesaian konflik yang lain dengan beberapa penyesuaian karakteristik konflik setempat. termasuk Indonesia yaI. Merujuk hasil kajian PMP2SP (2000) dalam pemecahan konflik seperti pada Tabel 3. Setiap tahunnya.

pertama. kontribusi perikanan tangkap terhadap PDB. khususnya dan SDI. kesalahan dalam pelaporannya (misreported). Padahal kebakan pemerintah seudah reformasi menunjukkan adanya peningkatan kesadaran tentang pentingnya membangun ekonomi nasional berbasis sumberdaya alam (natural resources based economy). Adanya aktivitas IUU Fishing di perairan Indonesia akan mengurangi kontribusi perikanan laut ZEEI atau taut lepas kepada ekonomi nasional dan mendorong ke arah hilangnya rent SDI Data FAO (2001) . Jumlah Kapal Penangkapan Ikan ilegal di beberapa Negara antara tahun 1980-2003. Permasalahan IUU Fishing di perairan Indonesia tidak hanya mencakup problem kiasik pencurian ikan (illegal fishing). Hal itu dapat dilihat dan beberapa parameter. Maraknya IUU Fishing di Perairan Indonesia akan berdampak terhadap keterpurukan ekonomi nasior dan meningkatnya permasalahan sosial.org perekonomian nasional dan kelestarian SDI. tetapi meliputi masalah perikanan yang tidak dilaporkan (unreported fishing) dan perikanan yang tidak diatur (unregulated fishing). Argumen yang hiendasari dilarangnya praktik kedua adalah cadangan ikan disuatu negara seharusnya düdentifikasi dan diatur pemanfaatnya sehingga tidak terjadi kerusakan global di masa depan yang dapat terjadi jika penangkapan ikan dilakukan dengan prinsip free for all fishing. 12. Adapun praktek kedua menyangkut kegiatan penangkapan ikan yang tidak diatur (unregulated) negara yang bersangkutan. www. dan pelaporan yang tidak semestinya (undetreported). Praktek pertama menyangkut kegiatan penangkapan ikan (walaupun legal) yang tidak dilaporkan (unreported). seaaroundus. Sumber Based on Sea Around Us IUU database.Gambar 3.

empat) tahun lalu tersebar tujuh industri pengalengan ikan tuna di Jawa Timur. di Bali pun tinggal 1 satu. seperti perusahaan penangkapan ikan pengolahan ikan.4 miliar. sedangkan suplai bahan baku sangat terbatas sehingga tidak sedikit industri pengalengan ikan yang ditutup. Itu pun setelah diambil alih investor dan Filipina. ketenagakerjaan. Bali. Namun. padahal sebelumnya ada dua industri pengalengan ikan tuna (Kompas. dan aktivitas sektor Iainnya yang berhubungan.3 . kehadiran industri di keempat daerah / sudah terlalu banyak. Sumatara Utara. kini tinggal dua industri yang beroperasi. kini empat dan tujuh industri tadi tidak berproduksi lagi. Kurangnya suplai bahan baku ikan tuna diduga kuat akibat maraknya illegal fishing di Indonesia Jika kita tihat dan data potensi SDI yang ada di wilayah perairan indonesia. Menurut catatan APII.5 juta ton atau setara dengan sekitar US$2. Lain halnya dengan Sulawesi Utara yang semula memiliki empat industri. Alasannya. Sementara itu. IUU Fishing akan mengurangi potensi ketenagakerjaan nasional dalam sektor perikanan. Misalnya pertengahan Juni 2005. dan Sulawesi Utara. Kedua. khususnya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia . 18 Juni 2005).menunjukkan bahwa Indonesia setip tahun kecurian ikan sebanyak 1. Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APII) meminta pemerintah untuk tidak lagi mengizinkan pembangunan industri pengalengan ikan tuna yang barn di Pulau Jawa.

9 juta ton/tahun. Hal itu karena kapal penangkapan ikan ilegal umumnya tidak mendaratkan ikan tangkapannya di pelabuhan perikanan nasional. Bahkan. data FAQ dan 1990 sampai 2003 menunjukkan peningkatan produksi ikan pelagis besar jenis tuna di wilayah perairan Samudera Hindia. multiplier effects. tuna mata besar (13. cakalang (21.077 ton (southern bluefin tuna). pendapatan jasa dan pajak dan operasi yang sah.(ZEEI). IUU Fishing akan mengurangi potensi tempat pendaratan ikan nasional (pelabuhan perikanan nasional) beserta nilai tambahnya.000 ton). Besamya potensi SDI itu tersebar di seluruh wilayah Samudera Hindia.64 ton (albakora). Keempat. Ketiga. Produksi ikan pelagis besar di Samudera Hindia setiap tahunnya untuk masingmasing jenis rata-rata 1. Langsung atau dampak multiplier IUU Fishing itu memiliki hubungan dengan penangkapan ikan nasional karena aktivitas penangkapan ikan nasional akan berkurang dengan hilangnya potensi akibat . dan madidihiang (10.000 ton). 1.836 ton (bigeye tuna). 37. khususnya ZEEI. IUU Fishing akan mengurangi SDI yang pada gilirannya mengurangi pendapatan perusahaan yang memiliki izin penangkapan yang sah. potensi SDI pelagis besar di wilayah Samudera Hindia yang dorninan adalah albakora. yaitu sebanyak 3. pendapatan pelabuhan perikanan. Menurut catatan DKP (2003). dan 17.613 ton (yellowfin tuna).408. Setelah itu disusul jenis ikan tuna sirip biru (84. potensi tersebut sangat memungkinkan untuk berkembangnya industni pengalengan ikan tuna.000 ton).769 ton (skipjack tuna). Kelima.000 ton). 24.

aktivitas IUU Fishing. Hal itu karena nelayan asing selain melakukan penangkapan secara ilegal dan tidak. Selain itu berkurangnya pendapatan masyarakat yang melakukan penangkapan ikan di wilayah pantai. Kedelapan. Adanya overfishing. Keeham. misalnya sumberdaya udang yang dekat ke wilayah penangkapan ikan pantai dan dari area bakau yang boleh jadi dirusak IUU Fishing. Pengurangan ketersediaan ikan pada pasar lokal akan mengurangi ketersediaan protein dan keamanan makanan nasioral Hal itu akan meningkatkan risiko kekurangan gizi bagi masyarakat. kerusakan ekosistem. untuk mencari ikan di perairan Indonesia. keamanan makanan. Ketujuh. dan ekosistem laut Iainnya merupakan akibat dan pembangunan perikanan yang tidak memperhatikan aspek keberlanjutan. Hilangnya nilai kawasan pantai. terumbu karang. kerusakan ekosistem mangrove. konflik dengan armada nelayan tradisional Maraknya illegal fishing mengganggu keamanan nelayan Indonesia. MCS (Monitoring Controlling and Suiveillance). Selain itu. khususnya nelayan tradisional. Meningkatnya . Degradasi Lingkungan Pembangunan penkanan tanpa memperhatikan aspek keberlanjutan SDI dan cenderung beronentasipada tujuan ekonomi semata kini telah menimbulkan kerusakan lingkungan. jarang mereka menembaki nelayan tradisional yang sedang melakukan penangkapan ikan di fishing ground yang sama. IUU Fishing menambah pengeluaran lagi unbur.

Semua itu dipicu beberapa hal. seperti gill nets danperangkap menimbulkan pula kerusakan lingkungan karena beberapa ikan terperangkap di dalamnya dan menjadi sampah ditengah laut. keberadaan alat tangkap yang hanyut atau hilang (ghost fishing). mamalla laut. terutama di sekitar terumbu karang mengakibatkan kerusakan ekosistem terumbu karang untuk jangka panjang. dan spesies langka atau terncarn punah lainnya. burung laut. Penangkapan ikan yang menggunakan cara-cara rusak (destructive fishing practice) seperti penggunaan dan potassium. dan gil/nets secara signifikan dapat meningkatkan penangkapan ikan bukan target (by catch) berupa ikan juvenile. Overfishing pada beberapa area penangkapan menunjukkan keberadaan SDI berada dalam keadaan Kritis. Kegiatan penangkapan ikan yang lebih berorientasi pada keuntungan jangka pendek mendorong terjadinya ecosystem overfishing karena menurunnya nilai ekonomi ekosistem dan sumber daya yang ada di sekitamya. tanpa kecuali ikan-ikan yang bukan merupakan tujuan tangkapan. . Selain itu. hewan bentik.fiegradasi lingkungan laut tidak terlepas dan pesatnya penggunaan alat dan praktek penangkapan yang bersifat Fiestructive dalam mengeksploitasi SDI. longlines. Penggunaan alat tangkap yang tidak selektif (nonselective fishing gear) seperti trawis. seperti banyaknya kegiatan penangkapan ikan yang berukuran belum layak tangkap (juvenile) serta laju penangkapan ikan yang melebihi nilai maximum sustainable yield.

Selain itu. Aktivitas penambangan/penggalian di dasar laut. serta limbah rumahtangga yang terakumulasi dalam jangka panjang. Kerusakan SDI pun dapat teijadi karena aktivita luar penangkapan ikan. kekeruhan akibat aktivitas penambangan mendorong kematian beragam jenis ikan tujuan tangkapan nelayan.4 juta ton/tahun dianggap banyak pihak belum mencerminkan keadaan perikaan sebenamya. Keakuratan Data Perikanan Data perikanan merupakan salah satu kunci dari keberhasilan pembangunan perikanan di Indonesia. Artinya. seperti penambangan pasir laut mendorong laju kewsakan lingkungan dan ekosistem laut termasuk ikan di dekatnya. penyusunan statistik perikanan yang dilakukan sejak tahun 1970-an belum memenuhi harapan karena tidak menunjukkan keadaan SDI yang sesungguhnya. seperti panambangan. polusi industri dan daratan atau laut. banyak yang mempertanyaah keakuratan data perikanan yang dikeluarkan pemerintah seperti dalam sebuah diskusi stake holders perikanan. Secara nasional. pemerintah hingga saat ini belum memiliki data secara akurat mengenai potensi SDI dan statistik perikanan nasional. Demikian pula sebaliknya. semakin dapat dipercaya data perikanan informasi terhadap arah kebijakan pembangunan perikanan nasional semakin mendekati kebenaran. jika data perikanan itu kurang dapat dipercaya. Kajian potensi SDI sebesar 6. informasi yang dihasilkan kurang dapat dipercaya. . Mereka menilai. Akibatnya jumlah hasil tangkapan nelayan setempat berkurang bahkan mereka dapat kehilangan mata pencahariannya.

Aparatur pusat dan daerah merupakan pelaku pembuat kebijakan perikanan . pemerintah hendaknya melakukan penataan pendataan sistem perikanan nasional. melainkan pada metode dan mekanisme pengumpulan data pun hendaknya ditinjau kembali Mekanisme pengumpulan data hendaknya dijalankan secara profesmonal sehingga data perikanan diolah berasal dan mekanisme pengurnpulan data yang baik. Krisis Sumberdaya Manusia Keberadaan sumberdaya manusia (SDM) tidak dapat diabaikan dalam proses pengelolaan perikanan. pemanfaatan SDI dapat melalui hilai maximum sustainable yield dan ketidakberlanjutan dalam pemanfaatan SDI pun dapat terjadi. Kajian potensi SDI yang belum sesuai harapan pun telah menimbulkan keraguan banyak pihak dalam mengelola perikanan. Penataan data perikanan bertujuan agar pengelolaan perikanan dapat dilakukan dengan berbasis pada keadaan aktual SDI pengelolaan sebelumnya. Selain itu. Akibat masalah itu. kualitas SDM perikanan memillki peran sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan perikanan di pusat dan di daerah. Berpak pada semua masalah itu. keterbatasan dan ketidakakuratan data dapat menghambat kehadiran investor penkanan di beberapa daerah. Sebagai subyek pembangunan. Permasalahan data penkanan selama ini tidak hanya terbatas pada penyajiannya. Keberadaan SDM perikanan tangkap dimaknai sebagai SDM pembuat kebijakan dan penerima kebijakan pembangunan perikanan.

DKP membagi kegiatan usaha perikanan tangkap ke dalam dua skala aktivitas. golongan ruang III (53%). Aparatur perikanan di tingkat pusat sebagian besar memiliki tingkat pendidikan strata satu/diploma empat (36%). yaitu nelayan industri dan nelayan UKM atau rumah tangga Karaktenistik SDM penkanan tangkap dilihat dan sebaran umur . Lain halnya dengan aparatur perikanan di daerah. di tingkat kepala dinas. Sejalan meningkatkannya perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan. proses pembangunan perikanan di era reformasi belum berjalan sesuai harapan. Akibatnya. Selain itu.sedangkan para pelaku usaha perikanan (skala industri dan tradisional) merupakan kelompok yang menerima secara langsung kebijakan yang dibuat. Kesenjangan kapasitas pendidikan antara staf dan pimpinan di tingkat daerah membuat proses transformasi kebijakan tidak berjalan dengan baik. paradigma kebakan sisi perikanan tangkap pusat yang sejalan dengan kebijakan sistem dunia internasional berupa paradigma konservasi tidak dilkuti dengan kebijakan pemerintah daerah yang lebih mengarah pada paradigma rasional dalam sistem pengelolaan penikanan tangkap. sebagian besar dari mereka setara dengan kapasitas SDA di tingkat pusat. Meskipun secara keseluruhan aparatur di daerah masih berada dibawah aparatur pusat. dan sebanyak 39 % berada pada kisaran usia produktif (36-45 tahun).

dan hanya mementingkan din sendiri. diikuti lulusan SMP (19%). Adapun nelayan rumahtangga cenderung didominasi lulusan SD (67%). Lebih lanjutlagi. sebaran komposisi SDM perikanan tangkap dilihat dan tingkat pendidikannya. yaitu 20-30 tahun (Pusdikiat Penkanan DKP. khususnya perikanan.Artinya. lalu diikuti lulusan SMP (26%). SMU 4%). Keadaan itu menunjukkan bahwa SDM nelayan skala industri relatif lebih tinggi pendidikannya dibandingkan SDM nelayan. tidak peduli.menunjukkan bahwa sekitar 70% nelayan berada pada kisaran usia produktif. diploma (4%). tingkat pengetahuan (pendidikan) dan kemiskinan memiliki korelasi terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan laut dan pesisir Jika keadaan itu tetap tidak mendapatkan perhatian serius dan pemenintah dan pihak lain. Nelayan industri umumnya didominasi lulusan SMU (73%). dan terakhir tidak tamat SD (3%). dan sarjana (4%). Penyebab meningkatnya berbagai macam kerusakan lingkungan pesisir dan lautan sekarang ini. 2005). kualitas SDM perikanan di masa mendatang akan terus mengalami penurunan. Dengan demikian. tradisional. salah satunya tidak terlepas dan peran manusia yang tidak bentanggung jawab. pembangunan nasional. Perilaku negatif manusia itu tidak lepas dan pengaruh tekanan terhadap kebutuhan ekonomi dan rendahnya tingkat pengetahuan tentang pentingnya pelestarian lingkungan pesisir dan laut. akan mengalami stagnasi mengingat sampai ini .

Jika kita lihat dan angka kemiskinan nasional. Hal itu bertujuan untuk menghindari terjadi. yang krisis SDM perikanan. terutama saat musim paceklik tiba. Iebih dan 60 persen masyarakat miskin merupakan masyarakat pesisir (BPS. kemiskinan para nelayan dapat diartikan sebagai tidak terjaminnya dan semakin hilangnya hak penguasaan sumber daya dan aset. .nelayanlah yang memiliki andil besar dalam membangun perikanan nasional. dan sistem. 2004). Kemiskinan Nelayan Pembangunan perikanan sampai saat ini masih belum menunjukkan kontribusi maksimal terhadap perekonomian nasional. tidak berpihaknya sistem hukum dan kebijakan terhadapnya. khususnya generasi muda nelaan yang saat ini sudah berada di ambang krisis. Akibatnya. Selain turut meningkatkan laju kerusakan lingkungan tingkat pendidikan nelayan tradisional pun memengaruhi pula kemampuan nelayan dalam mengatur pendapatan. Oleh karena itu pemerintah hendaknya menjadikan pengembangan SDM ini sebagai program utama pembangunan nasional. terjadinya sistem ekonomi yang timpang. mereka terbelenggu dalam kemiskinan secara permanen karena tidak mengalokasikan pendapan mereka. sosial budaya yang menyudutkan keberadaan mereka. tidak terjaminnya hak dasar warga negara. Begitu pula terhadap tingkat kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir lainnya. Menurut suara komunitas miskin.

5. . Akibat semua itu. rendahnya akses pelayanan pendidikan dan kesehatan. Karakteristik kemiskinan pada nelayan menurut bentuknya dikiasifiasikan ke dalam tiga jenis. 2. Kemiskinan bentuk itu dapat digambarkan sebagai berikut: 1. kemiskinan struktural. yaitu : Pertama. 4. Kemiskinan itu diderita segolongan nelayan karena keadaan struktur sosial yang ada pada mereka tidak mampu ikut memanfaatkan sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Hal sama pun dialami nelayan skala industri. dan 6. Hampir 56% nelayan memiliki pendapatan kurang dan 800 ribu. Menurut Pusdiklat Perikanan DKP (2005). Keadaan itu akan terus dialami nelayan jika pengelolaan perikanan tangkap dilakukan melalui pendekatan open access. lemahnya akses pelayanan dalam rnemperolah permodalan sesual dengan kebutuhan. terbatasnya penguasaan alat produksi. terbatasnya wilayah penangkapan karena alat produksi terbatas. rendahnya akses terhadap pasar. tidak mempunyai kekuatan dalam menentukan harga. Kemiskinan struktural terjadi karena pekerjaan menjadi nelayan merupakan katup terakhir bagi para pencari kerja seiring semakin meningkatnya jumlah penduduk dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Keberadaan nelayan secara turun-temurun akan terus berada pada garis kemiskinan karena sumberdaya yang terbatas dikelola nelayan dengan jumlah yang terus meningkat. kéberlanjutan dalam pernanfaatan SDI tidak diperhatikan. sekitar 75% nelayan skala rumahtangga memiliki pendapatan kurang dan 800 ribu rupiah. 3.

Dalam keadaan itu. kemiskinan alamiah. Kemiskinan yang terjadi karena faktor budaya.480/liter telah menghentikan beroperasinya 700 kapal ikan tuna di Benoa.200 menjadi Rp5. Bahkan. Akibatnya pendapatan yang diperoleh tidak dikelola secara baik. Ketiga. Kemiskinan jenis itu mendorong nelayan cenderung berorienkasi untuk mencari keuntungan jangka pendek sehingga economic overfishing dan ketidak berlanjutan sumberdaya pun tidak dapat dihindari. kemiskinan kultural. Kedua. Bali. Kemiskinan itu cenderung terjadi karena nelayan memiliki anggapan hari esok ikan dapat ditangkap kembali. seperti pemboman ikan dan pencemaran. Kebijakan Harga BBM Kebijakan pemerintah dalam menaikan harga bahan bakar minyak membuat nelayan dan industri perikanan mengalami keterpurukan. Keadaan itu menunjukkan bahwa kebijakan yang dibuat Pertamina tia mengindahkan . Ketetapan Pertamina per 1 Agustus 2005 tentang kenaikan harga BBM bagi kapal ikan di atas 30 GT dan Rp2. tingkat pendidikan sangat memengaruhi gaya hidup sebagian besar nelayan. seperti kemalasan yang bersumber pada nilai lokal yang memang tidak kondusif bagi suatu kemajuan. pada beberapa daerah menunjukan sebgian besar nelayan selalu berfoya- foya dan bergaya hidup materialistik pada saat musim ikan tiba. dilukiskan dengan miskin atau rusaknya sumberdia pesisir laut karena faktor alam atau faktor manusia. Kemiskinan yang terjadi karena keadaan lingkungan tidak mendukung mereka melakukan kegiatan ekonomi produktif yang.

Beban biaya operasi penangkapan bagi usaha perikanan skala kecil pascakenaikan harga BBM pertama (1 Maret 2005) melonjak sebesar 12%. sektor perikanan saat ini masih berupaya menunjukan ekssit ensinya sebagao kekuatan ekonomi masa depa Indoensia. berbagai dukungan kebijkan yang kondusif sangat besar aritnya bago keberlanjutan pembangunan industri perikanan nasional.100/liter. Keadaan itu akhirnya pemicu terjadinya . karena kebanyakan nelayan tidak memiliki uang tunai untuk membeli BBM langsung di SPDN/SPBU.nelayan terpaksa memberinya dengan harga Rp2. bahkan lebih. Oleh karena itu.500/Iiter. Hal itu akibat harga solar mengalami kenaikan 28% dan Rpl. Artinya.650/liter menjadi Rp2. tingkat pendapatan nelayan turun tajam karena besarnya biaya operasional penangkápan tidak secara otomatis diikuti peningkatan hasil tangkapan dan harga jual ikan. Sehatrusnya dalam membuat kebijakan sektor perikanan Pertamina memperhatikan aspirasi masyarakat yang perikanan. Akibatnya. Beban biaya operasional penangkapan bagi nelayan kecil kembali diperparah dengan kebijakan kenaikan harga BBM tahap kedua (1 Oktober 2005) sbesar 100%.masyarakat perikanan nasional. Keadaan itu diperparah kenyataan. meskipun harga resmi solar Rp2. nelayan terpaksa memikul beban tambahan iaya operasi yang mencapai 52%. Perlu dipahami. Dengan demikian. Mereka terpaksa membeli lewat perantara atau tengkulak. nelayan membayar solar jauh lebih mahal dan harga eceran resmi pemerintah.100/liter.

Sulawesi Utara yang semula memiliki empat industri yang sama. kuli bangunan.alih profesi yang dilakukan para nelayan di berbagai daerah. Padahal. sekarang tinggal dua yang beroperasi. Mereka ada yang menjadi buruh.tidak sedikit nelayan yang terpaksa menganggur. sektor itu dapat menjadi salah satu penyerap tenaga kerja yang cukup banyak. pemerintah akhirnya mengambil Iangkah untuk menyelamatkan kegiatan usaha perikanan sebagai akibat pengurangan subsidi BBM dengan menerbitkan Peraturan Presiden . empat tahun lalu ada tujuh industri pengalengan ikan tuna di Jawa Timur. atau pengojek. Pertama. keterpurukan industri pengalengan ikan nasional karena berkurangnya pasokan bahan baku yang disuplai kapal-kapal ikan. jadi Bali tinggal satu unit. Kedua. Ketiga. Bahkan. Sementara itu. Kini. tukang becak. Menurut catatan APII. tidak beroperasinya kapal penangkapan ikan nasional akan semakin membenikan keleluasaan bagi kapal asing (baik legal dan ilegal) menangkap ikan di perairan nasional. empat unit di antaranya tidak berproduksi lagi. Apalagi diperparah dengan keadaan kapal pengawas perairan nasional yang masih terbatas dalam menjaga wilayah Indonesia bebas dan pencurian ikan. Itu pun seteIah diambil alih investor dari Filipina. padahal sebelumnya ada dua indsutri pengalengan ikan tuna. Dengan melihat semua masalah itu. menurunnya jumlah industri pengalengan ikan berdampak pada meningkatnya pengangguran di sektor penikanan.

termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) untuk tiap liter ditetapkan. Akhirnya perusahaan perikanan tidak mampu mengoperasikan kapal-kapalnya. Adanya Perpres itu mudah- mudahan dapat membantu keberlangsungan usaha perikanan nasional Oleh karena itu. dan pelayanan umum di titik serah. transportasi. Keadaan itu berangkat dari asumsi. catatan mereka. komponen BBM besarnya 67% dari total biaya operasional kapal penangkap ikan. kebijakan subsidi BBM mendorong terjadinya over-exploitation SDI.(Perpres) No 9 Tahun 2006 tentang. Rasio biaya BBM dan biaya operasional kapal mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Selain itu. yaitu 67 persen Dengan kata lain.500 untuk bensin premium dan Rp4. stok . keterlibatan semua stakeholdre perikanan dalam mengawasi pelaksanaan Perpres itu sangat membantu mempercepat implementasinya. usaha perikanan. keberadaan harga BBM bersubsidi pemerintah selama ini mendapat tentangan dan kalangat aktivis lingkungan. terutama berbagai LSM dunia. Menurut.300 untuk minyak solar. Perubahan Atas Peraturan Presiden No 55 Tahun 2005 tentang Harga Jual Eceran BBM dalam Negeri. Pada sisi lain. Kenaikan harga BBM telah memberi kerugian yang sangat besar bagi perusahaan perikanan. kenaikan harga BBM mempengaruh pula terhadap tiga hal lainnya Rp4. Perpres No 9 Tahun 2006 itu menyebutkan hargajual eceran bensin premium dan minyak solar untuk usaha kecil. Hal yang sama terjadi pula pada usaha perikanan skala besar.

. 2006).ikan sudah menurun sehingga sudah saatnya kapasitas penangkapan dikurangi sehingga mereka alergi terhadap program bantuan kredit dari semacamnya yang bertujuan meningkatkan kapasitas penangkapan ikan (Satria.