You are on page 1of 13

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kerbau (Bubalus bubalis) adalah ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi
tinggi dalam penyediaan daging. Kerbau merupakan ternak asli daerah panas dan lembab
khususnya daerah belahan utara tropika. Tujuan pemeliharaan ternak kerbau adalah sebagai
tenaga kerja, penghasil daging, dan susu . Selama 8 tahun terakhir ini perkembangan ternak
kerbau di Indonesia kurang menggembirakan. Populasi ternak kerbau yang ada di Indonesia
saat ini 40% berada di Pulau Jawa dengan kepemilikan 1-2 ekor per orang peternak . Salah
satu factor yang menyebabkan rendahnya populasi ternak kerbau adalah keterbatasan bibit
unggul, rendahnya mutu pakan ternak, perkawinan silang dan kurangnya pengetahuan
peternak dalam menangani produksi ternak tersebut. Kerbau dibedakan menjadi beberapa
jenis yaitu kerbau rawa dan kerbau sungai, dan yang berkembang di Indonesia kebanyakan
adalah kerbau rawa/lumpur.
Suhubudy (2005) mendeskripsikan beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya
populasi kerbau di Indonesia. Adanya program sapinisasi, rendahnya tingkat reproduksi
kerbau, dan teknik serta metode praktek peternakan di Indonesia yang tidak mendukung
pengembangan ternak kerbau merupakan faktor-faktor yang menyebabkan populasi ternak
kerbau tidak berkembaang dengan baik.
Meskipun demikian, bukan berarti bahwa ternak kerbau sama sekali tidak memiliki
potensi pengembangan. Kerbau dapat dijadikan sebagai salah satu ternak potong yang dapat
menghasilkan daging untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat (Litbangnak, 2006).
Oleh karena Ternak kerbau yang ada di Indonesia perlu dilestarikan dan dikembangkan sesuai
denga kondisi wilayah masing-masing.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini yaitu :
1. Apa yang menjadi masalah pengembangan kerbau di Indonesia?
2. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah pengembangan kerbau di Indonesia?
II. PEMBAHASAN

A. Peternakan Kerbau di Indonesia
Di Indonesia kerbau telah berkembang sejak dahulu. Dimana telah tersebar di seluruh
Indonesia termasuk Sulawesi. Kerbau yang berasal di Indonesia didominasi oleh kerbau
lumpur dengan jumlah populasi sekitar 2 juta ekor dan kerbau perah terdapat 5 ribu ekor.
Kerbau-kerbau tersebut dipelihara oleh peternak kecil. Untuk kerbau lumpur dengan
pemeliharaan secara tradisional dengan jumlah kepemilikan 2-3 ekor induk peternak,
sedangkan kerbau perah dipelihara atau digembalakan secara berkelompok pada areal sekitar
para peternak berdiam. Walaupun demikian pada beberapa tempat tertentu terdapat
kepemilikan dalam jumlah besar sepeti di pulau Moa (Maluku), Sumba (NTT), dan Sumbawa
(NTB) dimana jumlah kepemilikan kerbau per peternak sapat mencapai 100 ekor per induk.
Dengan majunya otonomi daerah dan adanya permentan tentang penetapan SDG (sumber
daya genetik) ternak lokal maka beberapa daerah mengklaim kerbau-kerbau lumpur yang ada
di daerahnya untuk ditetapkan sebagai bangsa atau sub bangsa kebau di Indonesia kerana
kemampuan adaptasinya pada lingkungan tertentu yang cukup berbeda dengan kawasan
kerbau lainnya di Indonesia seperti kerbau Sumbawa (NTB), dan kerbau Moa (Maluku) yang
diusulkan oleh daerah masing-masing untuk ditetapkan sebagai rumpun kerbau yang adaptif
pada kondisi daerah spesifik pada iklim mikro masing-masing. (Rusastra, 2011)
Kerbau memiliki beberapa peranan utama secara nasional yaitu sebagai penghasil
daging yang mendukung program pemerintah dalam hal swasembada daging selain daging
sapi, sebagai ternak kerja, penghasil susu dan pupuk. Murtidjo (1992) menjelaskan bahwa
potensi kerbau sebagai ternak potong ternyata cukup tinggi, meskipun kerbau sebagai ternak
potong tidak sepopuler sapi karena dagingnya berwarna lebih tua dan keras dibanding daging
sapi, seratnya lebih kasar dan lemaknya berwarna kuning. Ternak kerbau yang digemukkan,
umumnya memiliki kemampuan pertambahan bobot badan rata-rata per hari lebih tinggi
dibanding ternak sapi.
Daging kerbau dan kontribusinya dalam pangan sumber protein hewani masih
dikesampingkan dan menempati urutan kedua sesudah susu di negara yang banyak terdapat
kerbau tipe sungai atau sesudah kerja di negara yang banyak terdapat kerbau tipe rawa. Di
Indonesia harga per kilogram daging kerbau barangkali sangat mahal jika diperoleh dari
kerbau belang (Tedong bonga) di Tanah Toraja, Sulawesi. Daging kerbau (buff) biasanya
diperoleh dari penyembelihan (15-20 tahun) dengan berat 380 kg setelah masa kerja. Jika
sengaja diternakkan untuk pedaging, maka kerbau dapat dipotong pada umur 8 bulan (Murti,
T.W., 2006).
Selain menurut Murtidjo (1992) manfaat kerbau sebagai ternak kerja ternyata sangat
besar. Hal ini terbukti dengan digunakannya kerbau sebagai tenaga kerja oleh 0,25 milyar
petani di negara-negara berkembang. Bahkan sampai tahun 2000 pun, sebagian besar petani
masih sangat tergantung pada ternak kerja. Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis,
penggunaan ternak kerbau sebagai tenaga kerja pengolah tanah di Indonesia mutlak perlu,
karena sekitar 85% rumah tangga petani Indonesia rata-rata memiliki lahan kurang dari 2 ha.
Sedangkan mekanisasi dengan traktor hanya dimungkinkan untuk petani yang memiliki lahan
5 ha atau lebih. Bila digunakan pagi hari atau sekali sehari, kerbau sebagai tenaga kerja
pengolah tanah sanggup bekerja selama 3,5 jam. Jika digunakan pagi dan sore hari atau dua
kali sehari, kerbau sanggup bekerja sampai 6 jam. Jadi, sepasang kerbau memiliki
kesanggupan menyelesaikan tanah sawah seluas 2,3 ha per musim bila dipekerjakan sekali
sehari dan 3,2 ha per musim bila dipekerjakan dua kali sehari. Kerbau juga sanggup
mengolah sawah berlumpur dalam.
Di Indonesia, kerbau sebagai ternak perah sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat
Aceh, Tapanuli Utara, Palembang, Sulawesi dan Timor. Bila dibandingkan dengan susu sapi,
susu kerbau hasil pemerahan, tidak banyak mengandung air tetapi lebih banyak mengandung
bahan padat, lemak, laktosa dan protein. Kandungan lemak pada susu kerbau adalah 50%,
jadi lebih banyak dibandingka susu sapi. Begitu juga halnya dengan kandungan protein. Di
Indonesia, umumnya susu kerbau tidak dikonsumsi langsung dalam keadaan segar, tetapi
diolah untuk berbagai keperluan. Di Aceh, susu kerbau dibuat mentega dan minyak samin,
sedangkan d Sumatera Utara dibuat dadih (Murtidjo, 1992).
Konsumen susu kerbau memang masih terbatas, namun peluang pengembangbiakan
produk olahan dari susu kerbau cukup besar karena kerbau memiliki kadar lemak tinggi.
Bibit kerbau penghasil susu cukup tersedia dan dapat diimpor dalam bentuk semen atau
embrio, sedang teknologinya telah dikuasai (Triwulaningsih, 2006)
Manfaat lain dari ternak kerbau menurut Murtidjo (1992), adalah meski tanpa
didukung pengetahuan ilmiah, sejak dahulu andil keterpaduan usaha pertanian dan
peternakan cukup besar dalam mempertahankan hasil produksi pertanian. Keterpaduan ini
juga tidak terlalu mengeksploitasi kemampuan tanah. Menggunakan ternak kerbau untuk
mengolah tanah pertanian dan membuang kotoran kerbau di lahan berarti mengembalikan
dan mempertahankan kesuburan tanah. Hasil akhir pelapukan bahan-bahan organik, berkat
adanya mikroorganisme yang disebut humus, mempunyai kegunaan antara lain menyerap air
untuk kebutuhan tanaman, serta menjaga kelembaban dan menyerap zat-zat makanan yang
dibutuhan tanaman.
Demikian pula jika kebutuhan berlaku secara efektif sesuai yang dibutuhkan peternak
maka tentu existensi kerbau akan terus dipertahankan. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi
maka tentulah populasi kerbau akan menurun, karena kebutuhan tentu driveb by market and
farmers need. Populasi kerbau tidak akan menurun jika ada nilai tambah yang dilakukan dan
berdampak nyata secara ekonomi bagi perbaikan penghasilan para peternak (Rusastra, 2011).
Ciri petenakan kerbau yang mendominasi keragaman usaha ternak kerbau di
Indonesia, identik dengan ketergantungan pada pakan serat alami antara lain; rumput alam,
jerami, berbagai tanaman pangan dan holtikultura serta perkebunan dengan skala usaha antara
2-3 unit ternak. Kerbau ini dapat digembalakan secara terus menerus maupun hanya
digembalakan pada siang hari (Talib 2010) dan dikandangka. Kuswandi (2011) dan
Prawiradigdo et, al (2010) mengatakan bahwa pakan seperti ini umumnya rendah
kualitasnya sehingga membutuhkan teknologi pengkayaan nutrisi untuk meningkatkan
kualitas nilai gizinya, apalagi kalau ditambah dengan masalah pemberian pakan dalam jumlah
yang tidak mencukupi, maka produktivitas kerbau akan sangat sulit diperoleh.
Sepuluh provinsi di Indonesia dengan jumlah kerbau terbanyak
Provinsi Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
Nanggro Aceh Darussalam 409,071 338,272 371,143 390,334 280,662
Sumatera Utara 263,435 259,672 261,794 189,167 155,341
Sumatera Barat 322,692 201,421 211,531 192,148 196,854
Sumatera Selatan 86,528 90,300 86,777 90,160 77,271
Banten 139,707 135,041 146,453 144,944 153,004
Jawa Barat 149,960 148,003 149,444 149,030 145,847
Jawa Tengah 122,482 123,815 112,963 109,004 102,591
NTB 156,792 154,919 155,166 153,822 161,450
NTT 136,966 139,592 142,257 144,981 148,772
Sulawesi Selatan 161,504 124,760 129,565 120,003 130,109
Sumber :
http;www.ditjennak.go.id/basisdataproses.asp?
yhn1=2004&thn2=2008&jt=kerbau&button=submit&rep=2&ket=populasi+nasional+
%28per+provinsi%29+

B. Produktivitas Kerbau

Murti (2006) menyatakan bahwa reproduksi yang jelek dari kerbau rawa dan sungai
adalah faktor utama yang membatasi kinerja kerbau dan pencapaian perbaikan. Kerbau (rawa
dan sungai) mempunyai umur beranak pertamakali sangat tinggi dan interval kelahiran yang
panjang akibat perkawinan yang tergantung pada musim. Kadangkala siklus estrus yang
tidak tampak juga menyulitkan dokter hewan dan ahli ternak di pedesaan dalam upaya
pengaturan reproduksinya. Kerbau jantan akan mengalami dewasa kelamin pada umur 2
tahun, sedangkan kerbau dara mulai mengalami estrus pada umur 2 - 2,5 tahun.

C. Masalah Pengembangan Kerbau di Indonesia
Faktor penyebab menurunnya populasi kerbau di indonesia tidak berbeda jauh dengan di
negara-negara asia lainnya. Penurunan produktivitas kerbau sdesebabkan faktor internal dan
faktor eksternal.
1. Faktor internal
Faktor internal ditentukan oleh sifat atau karakteristik dari suatu jenis ternak. Pada kerbau
sifat internal yang berpengaruh terhadap kendala peningkatan populasi adalah:
 Masak lambat
Kerbau termasuk hewan yang lambat dalam mencapai dewasa kelamin (Subiyanto, 2010).
Pada umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau
mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 3 tahun. 2-3 tahun (Lendhanie, 2005)
 Lama bunting
Kerbau akan mengandung anaknya selama 10,5 bulan, sedangkan sapi hanya 9 bulan.
Menurut Keman (2006) lama bunting pada kerbau bervariasi dari 300-344 hari (rata-rata 310
hari) atau secara kasar 10 bulan 10 hari. Dikemukakan pula oleh Hill (1998) bahw lama
bunting pada kerbau lebih lama dan lebih bervariasi. Untuk kerbau kerja, lama buntuing
kerbau mesir bervarisi 325-330 hari. Hasil penelitian Landhanie (2005) di Desa Sapala,
kecamatan Danau Panggang lama bunting kerbau rawa mencapai 1 tahun.
 Berahi tenang
Tanda-tanda berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas (Subiyanto, 2010). Sifat
ini menyulitkan paa pengamatan berahi untuk program inseminasi buatan. Meskipun
fenomena ini bisa diatasi dengan menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan sistem
pemeliharaan yang terkurung memungkinkan perkawinan tidak terjadi.
 Waktu berahi
Umumnya berahi pada kerbau terjada pada saat menjelang malam sampai agak malam
den menjelang pagi atau subuh atau lebih pagi (Toilehere, 2001). Menurut Hill (1988) tanda-
tanda berahi da kativitas perkawinan pada jkerbau mesir pada umumnya terjadi pada malam
hari. Pada saat seperti ini umumnya kerbau-kerbau betina di Indonesian sedang berada dalam
kandang yang tertutup yang tidak memungkinkan terjadinya perkawinan.
 Jarak beranak yang panjang
Jarak beranak yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya. Pada
kerbau keerja jarak beranak bervariasi dari 350-800 haru dengan rata-rata 553 hari (Keman,
2006). Menurut Hill (1988) jarak beranak pada kerbau bervariasi dari 334-650 hari.
Tyergantung pada manajemen yang dilakukan. Menurut Ladhanie (2005) jaerak beranaka
pada kerbau rawa antara 18-24 bulan.
 Beranak pertama
Panjang sifat-sifat produksi lain akan berpengaruh langsung terhadap beranak pertama
pada kerbau. Hasil survei di Indonesia terutama si NAD< Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
timur, NTB dan Dulaweisi Selatan, umur pertama kali beranak masing-masing 45,0; 49,6;
47,7; 49,1; 45,6 dan 49,2 bulan denga rata-rata 47,7 bulan (Keman, 2006), sementara itu di
Brebes, Pemalang, semarang dan Pati rata-rata umur pertama kali8 beranak, berturut-turut
adalah 44, 40, 44, dan 42 (Keman 2006).
 Faktor eksternal
Diantar faktor eksternal, ada yang berpengaruh langsung terhadap performa reproduksi
dan ada yang tidak berpengaruh langsung. Reproduksi adalah suatu proses yang rumit pada
semua spesies hewan. Rumit karena reproduksi tergantung Pada fungsi yang sempurna
proses-proses biokimia dari sebagian besar alat tubuh. Uvilasi, berahi, kebuntingan, kelahiran
dan laktasi, itu semua tergntung dari fungsi yang sempurna dari berbagai hormon dan alat
tubuh. Setiap abnormalitas dalam anatomi dan fisiologi dari alat reproduksi berakibat
fertilitas menurun atau dapat menyebabkan sterilitas. (Anggorodi, 1979).
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh langsung terhadap performa reproduksi adalah ;
 Pakan
Menurut Murtidjo (1991), makanan ternak kerbau dapat dibagi dalam beberapa golongan
menurut kebutuhan, usia, dan manfaat ternak kerbau, yaitu makanan pengganti untuk anak
kerbau (gudel), makanan kerbau dara, makanan kerbau dewasa, makanan kerbau laktasi, dan
makanan kerbau kering kandang. Bahan baku makanan ternak kerbau digolongkan menjadi 8
kelas, yakni hijauan kering, hijauan segar, silase, makanan sumber energi, makanan sumber
protein, makanan sumber mineral, makanan sumber vitamin, dan makanan tambahan.
Kontribusi pakan sangat kuat pengaruhnya terhadap performa reproduksi. Makanan
berperan penting dalam perkembangan umum dari tubuh dan reproduktif (Tillman, et al.,
1983).
Peternak kerrbau di negara kita pada dasarnya merupakan peternak tradisional dan
merupakan kegiatan yang turun menurun sehingga pemberian pakan umumnya didapat pada
saat digembalakan. Rumput yang tumbuh di lapangan, di pematang sawahn atau pinggir-
pinggir jalan adalah pakan yang tersedia pada saat digembalakan.
Pakan yang diberikan di kandang pada umumnya jerami kering yang kadang-kadang
disiram larutan garam dapur. Pada musim kemarau ketersediaan rumpur alam akan sangat
menurun jumlahnya dan secara langsung akan berpengaruh langsung terhadap asupan pakan
pada ternak. Pakan dengan kualitas dan kuantitas seperti ini akan berpengaruh tidak baik
terhadap performa reproduksi. Diperparah lagi oleh tugan yang harus dilakukan pada saat
musim mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan kerbau adalah mampu
memamfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk mendapatkan performa
reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas.
 Manajemen Pemeliharaan
Menurut Setyawan (2010) menyatakan bahwa manajemen pemeliharaan dalam upaya
pengembangan kerbau di kabupaten Brebes system pemeliharaannya masih sangat tradisional
karena belum ada sentuhan teknologi terpadu baik untuk peningkatan populasi ternak,
pengelolaan pakan dan pengetahuan pengelolaan hasil produksi sehingga menyebabkan
peningkatan populasi juga tidak berkembang.
 Sosial budaya
Beberapa di daerah di Indonesia yang secara sosial budaya berkaitan dengan kerbau
menunjukkan populasi kerbau yang tingg. Keterkaitannya bis a berupa dalam adat istiadat
atau kebutuhan tenaga kerja. NTB, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan
keterkaitannya lebih pada adat istiadat yang turun temurun. Di Sumatera Barat, kerbau
mempunyai arti sosial yang sangat khas.
Rumah adat dan perkantoran pemerintah mempunyai bentuk atap yang melengkung yang
melambangkan bentuk tanduk kerbau. Diduga kata “minangkabau” berasal dari “menang
kerbau” (Hardjosubroto, 2006). Pada masyarakat Batak dikenal upacara kematian sepeti saur
matua dan mangokal hili. Bagian dari rangkaian upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta
syukuran adat yang disertai pemotongan kerbau. Pemotongan kerbau juga dilakukan pada
saat upacara perkawinan, horha bius (acara penghormatan terhadap leluhur, dan pendiri
rumah adat (Susilowati, 2008). Bagi etnis toraja, khususnya toraja sa`dan, kerbau adalah
binatang paling penting dalam kehidupan sosial mereka (Nooy-Palm, 2003 yang dikutip
Stepanus, 2008) selain sabagai hewan yang memenuhi kehidupan sosial, ritual maupun
kepercayaan tradisional, kerbau juga menjadi lata takaran, status sosial dan alat transaksi.
Dari sisi sosial, kerbau merupakan harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya (Issudarsono,
1979 yang dikutip Stepanus, 2008). Kerbau juga merupakan hewan domestik yang sering
dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang bermata pencaharian dibidang pertanian.
Di Banten, kerbau selain digunakan sebagai hewan kerja juga masyarakat sangat fanatik
terhadap daging kerbau. Menurut Patheram dan Liem (1982) selera masyarakat banten
terhadap daging kerbau cukup tinggi dibandingkan dengan daging sapi. Di Jawa Barat, Jawa
Tengah dan Jawa Timur lebih pada kebutuhan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa
budaya masyarakat sangat berperan terhadap perkembangan populasi kerbau.
Populasi kerbau di Indonesia terdapat di seluruh provinsi, karena kerbau mempunyai daya
adapatasi yang sangat tinggi. Kerbau bisa berkembang mulai dari daerah kering di NTT dan
NTB, lahan pertanian yang subur di Jawa hingga lahan rawa di Sulawesi Selatan, Kalimantan
dan daerah pantai Sumatera (Asahan sampai Palembang). Selain itu pengembangannya tidak
akan menghadapi hambatan selera, budaya da agama (Triwulanningsih).

D. Usaha-Usaha Mempercepat Peningkatan Populasi Dan Kualitas Kerbau Melalui
Efisiensi Reproduksi
Banyak faktor yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan populasi dan kualitas
kerbau diantaranya adalah:
1. Mengupayakan terbentuknya village breeding system (VBC) yang secara khusus
mengupayakan pengembangan kerbau.
2. Mengadakan upaya recording serta seleksi kerbau berdasarkan performa dan asal usul ternak
dengan cara penjaringan ternak yang baik berdasarkan standarisasi.
3. Penerapan teknologi, khusunya untuk mengolah limbah pertanian (jerami padi, pucuk tebbu,
jerami jagung, jerami kedelai).
4. Komitmen yang berkelanjutan. Penurunan populasi kerbau di daerah-daerah tertentu sudah
lama terjadi, namun sampai sejauh ini dorongan pemerintah, terutama pemerintah daerah
belum nyata mendorong perkembangan populasi di daerahnya masing-masing. Tidak sedikit
peternak kerbau berlokasi jauh dari pusat pemerintah sehingga banyak yang tidak tersentuh
oleh laju pembangunan. Fasilitas untuk peningkatan populasi baik software maupun hardware
belum sampai ketangan peternak kerbau. Peternak kerbau seolah berjalan sendiri tanpa tahu
kemana tujuanya.
5. Pembentukan kelompok ternak. Memungkinkan dapat mendorong peningkatan populasi.
Dalam kelompok para peternak bisa merencanakan usaha yang akan dilakukan sehubungan
dengan peningkatan populasi, termaksud terbentuknya kandang kelompok. Kandang
kelompok bila dikelola dengan baik dengan kesadaran yang tinggi dapat memecahkan
masalah ketiadaan jantan dan keterlambatan perkawinan.
6. Melakukan seleksi, baik pada kerbau betina maupaun pada kerbau jantan, terutama pada
kerbau jantan. Mengingat satu ekor jantan dalam 1 tahun mampu mengawini 50 ekor betina
dan bila semua berhasil bunting maka akan lahir anak kerbau yang genetikanya baik. Pada
saat ini justru kerbau betina atau jantan yang tampilanya lebih besar adalah yang paling cepat
masuk rumah potong. Peran pemerintah disini melakukan penjaringan agar fenomena yang
sudah lama terjadi ini akan dihentikan minimal dikurangi.
7. Peternak yang memiliki kerbau yang baik dan memenuhi standar bibit perlu mendapat
penghargaan dengan memberikan sertifikat. Hal ini bisa merangsang prestasi selanjutnya dan
akan berpengaruh positif terhadap lingkungan.
8. Mengembangkan program inseminasi buatan pada daerah-daerah yang padat populasi
kerbaunya. Penerapan inseminasi buatan (IB) pada kerbau adalah salah satu cara untuk
mengatasi terbatasnya pejantan unggul sepanjang secara sosial ekonomi dapat
dipertanggungjawabkan (SUBIYANTO, 2010) peran pemerintah harus mengangtifkan
kembali produksi mani beku kerbau di balai-balai inseminasi buatan. Dengan inseminasi
buatan juga dapat mencegah terjadinya kawin silang dalam.
9. Peningkatan pendidikan inseminator. Inseminator buatan pada ternak bukan pekerjaan mudah
untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan, lebih-lebih pada kerbau yang saat
berahinya sulit diamati. Meskipun demikian kita bila kita mau kita bisa. Pengalaman telah
menunjukkan bahwa beberapa tahun yang lalu pada sapi potong, yang pada saat itu sulit
melakukan inseminasi buatan pada sapi potong karena sapi potong terutama sapi lokal juga
memperlihatkan berahi tenang. Pada saat ini meningkatnya pengetahuan dan keterampilan
para inseminator inseminasi buatan pada sapi potong sudah bisa dilakukan dengan prestasi
yang baik.
10. Lokasi peternak kerbau yang umumnya masih berjauhan, akan menyulitkan pelaksanaan
inseminasi buatan. Seorang inseminator mungkin saja melayani peternak yang jaraknya dari
pos bisa belasan kilometer. Dalam rangka mempercepat peningkatan populasi maka program
sinkronisasi birahi waktu pelaksanaan dan jumlah yang akan diinseminasi bisa diatur dan
fasilitas inseminasi bisa lebih efisien. Penggunaan teknik sinkronisasi birahi akan mampu
meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, disamping juga
mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi butan dan meningkatkan fertilitas .
11. Untuk meningkatkan mutu genetic kerbau di suatu wilayah, bisa dilakukan dengan membeli
pejantan unggul hasil seleksi dari wilayah lain atau menggunakan pejantan IB persilang
dengan tipe perah juga bisa dilakukan dengan harapan keturunanya bisa menghasilkan susu
yang lebih banyak, minimal bisa memberi susu keturunanya dalam jumlah yang mencukupi.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. permasalahan pengembangan peningkatan populasi kerbau di Indonesia di sebabkan oleh
factor internal dan eksternal, hal ini menyebabkan pengembangan usaha ternak kerbau di
Indonesia kurang berkwmbang dibandingkan dengan ternak sapi.
2. Peningkatkan populasi kerbau di Indonesia yaitu dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti membentuk village breeding system, Komitmen yang berkelanjutan, Pembentukan
upaya recording ternak, penerapan teknologi khusunya , kelompok ternak, Melakukan
seleksi, Peternak yang memiliki kerbau yang baik dan memenuhi standar bibit perlu
mendapat penghargaan, Mengembangkan program inseminasi buatan pada daerah-daerah
yang padat populasi kerbaunya, Peningkatan pendidikan inseminator, Penggunaan teknik
sinkronisasi birahi,dan persilangan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2006. Sulawesi Tenggara dalam Angka. BPS Provinsi Sulawesi Tenggara.
http://www.sultra.dalam.angka2006.bps. 15 Agustus 2009.
Ditjennak, 2004. Dalam http;www.ditjennak.go.id/basisdataproses.asp?yhn1
=2004&thn2=2008&jt=kerbau&button=submit&rep=2&ket=populasi+nasional+
%28per+provinsi%29+.

Gunawan, dkk. 2010. Kebijakan Pengembangan Pembibitan Kerbau Mendukung swasembada
Daging Sapi/Kerbau. Seminar Lokakarya Nasional Kerbau 2010. Pustlitbang Peternakan,
Bogor.

Keman, S. 2006. Reproduksi ternak kerbau. Menyongsong rencana kecukupan daging tahun 2010.
Pros. Orasi dan sSeminar Pelepasan dosen purna tugas 2006. Fakultas peterenakan. UGM.
Yogyakarta.

Lendhanie, UU. 2005. Karakteristik Reproduksi kerbau rawa dalam kondisi lingkungan peternakan
Rakyat Bioscientiae, 2.(1) http:/ Bioscientiae.tripod.com

Murtidjo, B.A., 1992. Memelihara Kerbau. Kanisius. Yogyakarta
Murti, T.W., 2006. Ilmu Ternak Kerbau. Kanisius. Yogyakarta
Rusastra, I.W. 2011. Kinerja industri peternakan: isu dan kebijakan antisipatif peningkatan produksi
dan daya saing. Makalah presentase dalam lokakarya RPJP Pustlitbang Peternkan pada 27
januari 2011, Bogor
Talib, C. 2010. Peningkatan populasi dan produktivitas kerbau di padang ppenggembalaan
tradisional. Pros. Semiloka Kerbau Nasional di Brebes, Jateng. 2009. Pustlitbang Peternakan
Bogor. Hlm. 109-118.

Stepanus B. 2008. Kerbau tradisi orang toraja. http://www.google.co.id/kerbau+dalam.
Setyawan . 2010. Perkembangan Program Aksi Pembibitan Ternak Kerbau di Kabupaten Brebes. .
Seminar Lokakarya Nasional Kerbau. 2010 Dinas Peternakan Kabupaten Brebes.
Subiyanto. 1010. Populasi Kerbau semakin menurun. http:/www.dijennak.go.id/bulletin.artikel3.pdf

Toilehere, MR. 2001./ Potensi dan pengembangan kerbau di Indonesia. Suatu tinjauan reproduksi.
Workshop kebijakan ketahanan pangan kerbau sebagai sumber keanekaragaman protein
hewani. Kerjasama pustlitbang peternakan dan dinas pertanian peternakan provinsi Bnnaten,
Cilegon.
Tillman, dkk. 1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadja Mada University oress, Fakultas
Peternakan,. UGM. Jogjakarta

Triwulanngsih E., 2006. Kerbau Sumber Daging dan Susu, Mungkinkah?. Balai
Penelitian Ternak Bogor, Indonesia. http://www.balitnak.bogor.kerbau.sumber.daging.dan.sus
u.mungkinkah. 11 Agustus 2009
1. Definisi Operasioanal Tipe A
Adalah perumusan dalam bentuk suatu tindakan yang harus dilakukan untuk
memunculkan fenomena atau keadaan seperti apa yang dimaksud. Sehingga dari judul di atas
dapat diketahui definisi operasionalnya berupa variabel Metode SAS (Struktural Analitik
Sintetik).
 Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) adalah metode yang bersumber pada ilmu jiwa
yang berpandangan bahwa pengamatan dan penglihatan pertama manusia adalah global atau
bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang diperkenalkan pada murid
haruslah mulai ditunjukan dan diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global.

2. Definisi Operasioanal Tipe B
Adalah perumusan dalam bentuk deskripsi tentang bagaimana suatu objek (benda
tertentu) beroperasi, yakni apa yang dilakukan atau terdiri dari apa ciri-ciri dinamis objek
tersebut. Sehingga dari judul di atas dapat diketahui definisi operasionalnya berupa variabel
Pembelajaran Bahasa Indonesia.
 Pembelajaran Bahasa Indonesia adalah proses pengajaran bahasa Indonesia baik
pembelajaran kompenen kebahasaan ataupun kesusastraan pada siswa di kelas. Upaya-upaya
yang dilakukan di dalam pembelajaran dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi
dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran,
menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan
pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu,
setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran.

3. Definisi Operasioanal Tipe C
Adalah perumusan dalam bentuk deskripsi objek atau fenomena tentang seperti apa
atau terdiri dari apa ciri-ciri statis objek atau fenomena penelitian. Sehingga dari judul di atas
dapat diketahui definisi operasionalnya berupa variabel Tingkat Pemahaman Siswa.
 Tingkat pemahaman yang dimaksud dalam penilitian ini adalah bagaimana cara mengukur
tingkat kemampuan siswa di dalam mencerna materi bahasa Indonesia yang diajarkan oleh
guru di kelas.

Implementasi Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
Pada Tingkat Pemahaman Siswa SMAN Rambipuji Kelas X a
dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Ekstrak daun mengkudu adalah ekstrak yang diperoleh dengan melakukan ekstaksi daun
mengkudu kering yang telah dihaluskan dengan pelarut etanol 96% kemudian diuapkan dengan
evaporator sehingga diperoleh ekstrak daun mengkudu. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak
daun mengkudu dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%.
2. Koloni Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif berbentuk kokus dengan susunan
seperti buah anggur, tidak mempunyai spora dan tidak bergerak bersifat aerob dan anaerob
fakultatif yang dapat menyebabkan abses. Penelitian ini menggunakan Staphylococcus aureus
ATCC 25922 karena merupakan bakteri biakan terbaru dan cara kerja lebih mudah dibandingkan
dengan mengambil langsung dari pasien yang mengalami abses periodontal.
3. Diameter zona hambat adalah diameter zona dimana bakteri tidak tumbuh, ditandai dengan
zona bening yang diukur dengan jangka sorong dengan satuan millimeter (mm).
4. Media pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah Mueller Hinton
Agar (MHA).

PENGARUH EKSTRAK DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)
TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus SEBAGAI
PENYEBAB ABSES PERIODONTAL SECARA IN VITRO