You are on page 1of 6

KONSEKUENSI YANG TIMBUL DARI ASAS LEGALITAS

DALAM HUKUM PIDANA MATERIIL

Endang Pristiwati
Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Antasari, Jl. Jenderal Ahmad Yani Km 4,5 Banjarmasin
e-mail: pristiwati.endang@gmail.com

Abstract: The principle of legitimacy as a state aims to protect the society, which is expressed in the
principle of legality. While the purpose of the law is more fundamental justice. This principle is
officially defined as what is just stated by the constitution. This definition however has been left by
some developed countries which is according to them could not be extended in its application.
Therefore the definition of the principle of legitimacy should be expanded comprehensively in order
reach wider consequence in the law and constitution. Substantive legality principle holds that the
main purpose of the law is that justice can be realized based on the laws that have a broader scope
than just the law, so it should have been in Indonesia also have to switch the view of the use of
formal legality principle to the principle of legality material.

Abstrak: Salah satu tujuan hukum adalah menjamin kepastian hukum, yang dinyatakan dalam asas
legalitas (legalitas formil). Sedangkan tujuan hukum yang lain yang lebih mendasar adalah
mewujudkan keadilan. Asas legalitas formil ini memang dapat memberikan kepastian hukum, namun
kurang memberikan keadilan karena asas legalitas formil hanya mengacu pada bunyi undang-undang
saja. Dewasa ini asas ini mulai ditinggalkan oleh sebagian besar Negara-negara di dunia, yang beralih
pada asas legalitas materiil. Asas legalitas materiil ini berpandangan bahwa tujuan utama dari hukum
adalah mewujudkan keadilan yang mana hal itu hanya bisa diwujudkan jika berpedoman pada hukum
yang mempunyai cakupan lebih luas dibanding hanya undang-undang saja, sehingga sudah saatnya di
Indonesiapun juga harus beralih pandangan dari penggunaan asas legalitas formil ke asas legalitas
materiil.

Kata kunci: Asas legalitas, hukum pidana, legalitas

Pendahuluan Asas legalitas ini dirumuskan dalam bahasa
Pada bagian akhir suatu peraturan perundang- Latin:”Nullum delictum, nulla poena, sine praevia lege
undangan selalu ditemukan ketentuan yang poenali”,1 yang artinya bahwa suatu perbuatan
menyatakan bahwa:”Peraturan perundang- tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuat-
undangan ini berlaku sejak saat diundangkan”. an ketentuan perundang-undangan pidana yang
Hal tersebut berarti bahwa peraturan prundang- telah ada sebelumnya.
undangan pada dasarnya berlaku untuk masa Asas legalitas ini telah berlaku di berbagai
yang akan datang setelah suatu peraturan itu negara yang menggunakan hukum pidana yang
dibuat. telah dikodifikasi dalam suatu “wetboek” seperti
Prinsip berlakunya hukum pidana menurut negara-negara yang menganut system hukum
waktu ini terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Eropa Kontinental. Asas ini juga termuat dalam
Undang-Undang Hukum Pidana, yang berbunyi: Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia 1948
”Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melain- (Pasal 11).2
kan atas kekuatan ketentuan pidana dalam Yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa
undang-undang, yang ada terdahulu dari pada asas legalitas ini diperlukan dan apa konsekuensi
perbuatan itu”. dari diberlakukannya asas ini?
Di dalam hukum pidana, prinsip tersebut
dikenal dengan “asas legalitas” atau “principle of
legality”, merupakan suatu asas yang sangat
fundamental dalam Hukum Pidana karena 1 Sudarto, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Fak.
merupakan bentuk perlindungan terhadap Hukum UNDIP Semarang, 1990, hlm. 22.
individu terutama pelaku tindak pidana dalam 2 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Raja
menjamin keadilan dan kepastian hukum Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm. 170.

Teori ini meng. dan bagaimana cara menjatuhkan pidana. Kekuasaan eksekutif dipegang pemerintah. ditentukannya peraturan terlebih dahulu tentang Asas legalitas ini dipakai dalam bentuk perbuatan yang dilarang. di dalam negara modern rakyatlah pada waktu itu adalah hukum Romawi yang yang memegang kekuasaan. hlm. Kekuasaan legislatif atau kekuasaan membuat tahun 1801. kehakiman. melainkan ber. Hak-hak warga negara tidak di. suatu peraturan ini yang menentukan perbuatan 3 Moelyatno. 4 Ibid. perbuatan Jean Jaques Rousseau mempunyai pendapat pidana ditentukan oleh raja sebagai simbul yang sama dengan Montequieu. yaitu “Nullum delictum nulla poena sine undang-undang yang dipegang oleh parlemen. 1918. hlm. yang artinya tidak ada tindak pidana 2. menganut system “Criminal Extra Ordonaria” Maksudnya adalah hukum dibuat oleh artinya kejahatan yang tidak disebut dalam masyarakat dalam bentuk undang-undang. kan pendapatnya mengenai: hormati. Sistem ini dalam menentukan rintah sebagai badan eksekutif pelaksana undang- suatu tindak pidana tidak didasarkan pada suatu undang. dia mengemuka- kekuasaan. Asas..3 dalam undang-undang dan diundangkan secara Montesuieu merupakan salah seorang ahli sah4. dimaksudkan agar undang-undang pada saat pecahnya revolusi penduduk mengetahui perbuatan yang diboleh. Kedua badan tersebut tidak dibolehkan mem- dasar pada kehendak dan kepentingan raja bentuk undang-undang. Penal Perancis tepatnya terdapat dalam Pasal 4. dan tidak ada pidana tanpa adanya ketentuan 3. hlm. Demikian halnya Hindia Belanda (Indonesia) terhadap aturan undang-undang. 24.Sejarah Timbulnya Asas Legalitas apa yang dapat dianggap sebagai tindak pidana Asas legalitas ini bermula dari Eropa Barat. dan hakim sebagai badan yudikatif. mengalami beberapa perubahan tepatnya Jadi parlemen yang bertugas sebagai pembuat terdapat pada Pasal 1 ayat (1) KUHP. kali ditemukan dalam bukunya Montesquieu yang yang bunyinya: Tidak ada sesuatu yang boleh di- berjudul “L’esprit des Lois” 1748 dan buku tulisan pidana selain karena suatu wet yang ditetapkan Rousseau yang berjudul “Dus Contract Social”. Contrac Soaial atau perjanjian masyarakat. Kemudian dibawah pemerintahan Napoleon Dengan system sparation of power tersebut 1801 asas tersebut dimasukkan dalam Code Montesquieu berpendapat bahwa diluar undang. dilanjutkan oleh Anselm Von Feuerbah yang ajarkan adanya pemisahan yang jelas pada mengemukakan dalam bahasa Latin dalam buku- masing-masing kekuasaan yakni: nya yang berjudul “Lebrbuch des Peinlichen Recht” 1. hakim hanya boleh sebagai pengasa yang tidak terbatas. undang tidak ada hukum. peme- undang-undang. 23. dijalankan secara sewenang-wenang. Asas legalitas ini pertama “Declaration des droits de L’homme et du citoyen”1789. Perancis yang dinyatakan dalam Pasal 8 kan dan yang dilarang. dilaksanakan oleh raja. praevia lege”. 5 Ibid. menggunakan hukum dan tidak boleh membuat Dari situlah timbul pemikiran tentang harus hukum. Setelah Indonesia merdekapun masih Kekuasaan yang berada pada satu tangan akan menggunakan WvS tersebut meski telah menimbulkan kesewenang-wengan penguasa. Rineka Cipta. negara terbentuk karena adanya perjanjian Hal ini dikarenakan hukum pidana yang dipakai masyarakat. Perjuangan Montesquieu ini kemudian dengan teori “Trias Politica” nya. peraturan perundang-undangan. Undang-undang dibuat Belanda sebagai Negara jajahan Perancis di- oleh DPR. Kekuasaan yudikatif yang dipegang badan hukum terlebih dahulu yang menentukan5. 24. Jakarta 1993. Pada masa rezim ini hukum pidana aturan perundang-undangan. Dipisahkannya sebagai negara jajahan Belanda menggunakan masing-masing kekuasaan tersebut dimaksudkan pula Wetboek van Strafrecht voor Nederland Indie untuk membatasi kekuasaan raja yang absolut.Asas Hukum Pidana. hak asasi ditekan dan belum tentua. dan hakim berlakukan pula asas tersebut dalam Wetboek van yang bertugas mengadili perkara-perkara yang Strafrecht Nederland 1881 yang terletak dalam Pasal timbul sebagai akibat adanya pelanggaran 1. bahwa seseorang dapat menuntut lewat peradilan bebas. . Untuk pada abad XVIII dimana pada waktu itu para ahli dapat dikatakan sebagai perbuatan pidana harus- hukum berjuang melawan rezim monarki lah dirumuskan terlebih dahulu dalam suatu per- absolute. hukum yang memperjuangkan asas legalitas ini.

Ini sebagai Asas ini disatu pihak ada keuntungannya bagi konsekuensi dari diberlakukannya asas legalitas kepentingan pribadi. asas legalitas ini akan dapat mengakomodir tuntutan masyarakat. hakim dalam menjatuhkan putusannya senantiasa Indonesia merupakan negara dengan adat budaya terikat pada undang-undang. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. karena peraturan- undang. Dalam Undang- dapat diatasi. Untuk menjawab pertanyaan berlaku surut dan. Seperti kita ketahui analogi. Perundang-undangan pidana tidak boleh sudah ditinggalkan. dan harus berbentuk tertulis. yaitu: adalah mengapa asas ini masih saja berlaku di 1. bahwa asas ini lahir pada suatu jaman yang saat Untuk menjamin kepastian hukum maka itu merupakan puncak perkembangan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku anggapan individualitas terhadap hukum. nya yang berbentuk tidak tertulis.Asas legalitas ini mengandung tiga unsur yang kerugiannya. kepentingan kolektif (collective bealngen). kurang dinamis. selalu menjadi halangan bagi hakim untuk menghukum berjalan ditempat dan ketinggalan jaman. di luar undang-undang kemerdekaan diri pribadi dan saat itu pandangan tertulis bukan merupakan suatu hukum. sampai sekarang masih tetap menggunakan KUHP kolonial yang baru. memberikan ruang terhadap hukum adat sebagai Tidak sempurnanya pelaksanaan hukum dasar bagi suatu hukuman yang akan dijatuhkan pidana selama ini dalam praktek peradilan masih terhadap pelaku tindak pidana. kan. maka sangat ber- Asas Legalitas Materiil pengaruh terhadap keberadaan dan perkembang- Dipergunakannya asas legalitas formal ini. Hukum yang berlaku hukum yang memberikan jaminan penuh bagi hanyalah undang-undang. sedangkan yang oleh hukum (peraturan yang telah ada) masyarakat maupun tekknologi berkembang disebut secara tegas sebagai pelanggaran ketertib. dapat dilihat hukum” (Rect) yang pengertiannya lebih luas dari bahwa asas legalitas ini mengandung banyak pada aturan “undang-undang” (WET). sedangkan di Negara-negara lain berbentuk tertulis. Tidak diperbolehkan menggunakan sejarah lahirnya asas legalitas. Dalam pasal tersebut dipakai istilah “aturan Apabila dikaji lebih mendalam. karena . Sehingga hukum yang ada tidak an umum. yakni dengan memberikan undang Dasar Sementara 1950 misalnya. asas ini 2. karena hakim hanya menerima perkara yang Indonesia merupakan negara yang mengguna- sudah jelas hukumnya. Dengan hukum sangat individualistis. dimana hubungannya dengan hukum adat yang ada. Hakim tidak mem. disebut- wewenang kepada hakim dalam penerapan kan dalam Pasal 14 ayat (2) bahwa: ”Tidak se- hukum pidana adat atas perbuatan-perbuatan orang juapun boleh dituntut untuk dihukum atau yang terlarang. yang sangat beragam. namun sebagai konsekuensi yang mensyaratkan bahwa hanya hukum tertulis dengan adanya asas legalitas ini adalah asas yang dapat menjadi dasar bagi penjatuhan nullum delictum kurang melindungi kepentingan pidana. tetap saja tidak dapat dipidana. hakim harus mengadili berdasarkan undang. Hukum pidana yang berlaku harus Indonesia. Disamping itu. Perbuatan-perbuatan yang dijatuhi hukuman kecuali karena suatu aturan demikian itu tidak atau belum diancam dengan hukum yang ada dan berlaku terhadapnya”. tersebut kita harus melihat kembali mengenai 3. namun konsekuensi punyai kebebasan dalam menafsirkan hukum terhadap hukum adat adalah meskipun dalam sementara dalam pasal 20 AB disebutkan bahwa hukum adat suatu perbuatan adalah dilarang. terutama dalam menimbulkan konsekuensi pada hakim. sehingga sudah bentuknya yang tertulis ini memudahkan hakim barang tentu asas nullum delictum ini dipertahan- dalam memeriksa dan memutus suatu perkara. namun dalam undang-undang perbuatan di luar KUHP ternyata masih ada aturan yang tersebut belum diatur. Dengan masih Konsekuensi Yang Timbul Dari Berlakunya berlakunya asas legalitas. dimana karena sudah tersedia. Padahal seseorang yang telah melakukan suatu perbuatan jika kita melihat aturan-aturan lain yang tersebar pidana. karena Dengan demikian kita dapat melihat bahwa asas ini menggambarkan yang dapat dihukum asas legalitas ini mempunyai kekurangan yakni adalah mereka yang melakukan suatu perbuatan bersifat kaku. seperti pada Unisovyet (sebelum bubar). begitu cepat. tidak usah repot-repot kan hukum pidana warisan produk kolonial yang mencari hukum apa yang akan diberlakuka pada saat itu berfaham individualitas. namun yang menjadi pertanyaan bersifat hakiki. an hukum di Indonesia.

maka dianggap diancam dalam undang-undang belum ada dan tidak dengan hukuman yang tidak boleh lebih dari tiga mengancam pidana atas perbuatan itu. maka adat oleh karena dalam tempo dulu yang pendek jelaslah bahwa hukum pidana adat atau hukum Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Sipil dan tidak tertulis masih dapat dijadikan sebagai diulang pengundangannya setelah kitab ini landasan untuk menentukan suatu hukum. Pasal 14 ayat (1): “Pengadilan tidak boleh atau denda yang dimaksud di atas. Di dalam pen. juga harus memuat pula UU No. selain harus menurut alasan-alasan dan dasar- Dari bunyi ketentuan Pasal 5 ayat (3) sub b dasar putusan itu. Apabila ketentuan-ketentuan tersebut dapat Sebagai tindakan peralihan. Selain itu ada pula aturan-aturan hukum Ketentuan Pasal 5 ayat (3) sub b. Pengertian materiil “… bahwa suatu perbuatan yang menurut adanya perbuatan itu tidak saja dilarang oleh hukum yang hidup harus dianggap perbuatan undang-undang (hukum tertulis) tetapi jua oleh pidana. 78. Hal disesuaikan dengan keadaan pemerintah yang ini sangat diperlukan di Indonesia mengingat baru ini dan belum tentu apakah perbuatan.7 dihapus. Undang-Undang Pidana Sipil. . melainkan wajib untuk pengertian bahwa hukuman adat yang…… tidak memeriksa dan mengadilinya”. Sinar Grafika. tetapi bulan penjara atau denda lima ratus rupiah. 14 tahun 1970) menetap- hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut kan: pikiran hakim melampaui hukuman kurungan a. mengikuti jelasan undang-undang tersebut menerangkan dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup”.terdakwa dapat dikenakan hukuman diajukan dengan dalih bahwa hukum pengganti setinggi 10 tahun penjara.dapat berbentuk “hukum tertulis” maupun dalam hal mana diadakan perbedaan diantara “hukum tidak tertulis”. maka menolak untuk memeriksa suatu perkara yang ……. 91. tertulis”.1 Drt tahun 1951 tersebut dapat diambil pasal-pasal tertentu dari peraturan-peraturan kesimpulan bahwa hukum pidana adat hanya yang bersangkutan atau sumber hukum tidak berlaku untuk sementara saja yaitu bagi kaula. Citra Aditya Bakti. maka hal tersebut untuk selanjutnya diadakan peraturan ini akan memberikan nilai-nilai keadilan di untuk menyebarkan hukuman-hukuman adat itu. dengan tidak/kurang jelas. 1951 yang berbunyi: hukum pidana Indonesia. 1 Drt. bila di- masih memberikan ruang terhadap berlakunya hubungkan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (1) hukum pidana adat yakni aturan yang terdapat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ditemu- pada Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-Undang kan adanya pergeseran prinsip yang dianut oleh Darurat No. untuk sementara waktu perbuatan-perbuatan Menurut Van Vollen Hoven di Indonesia ter- pidana adat ini dan hukuman-hukuman adat dapat 19 macam masyarakat hukum adat. 2008. 1996. Pasal 27 ayat (1): “Hakim sebagai penegak daerah swapraja/pengadilan adat. Pengantar Ilmu Hukum. bahwa masih dipertahankannya hukum pidana Dari ketentuan pasal-pasal tersebut. Bandung. banyaknya adat istiadat yang terdapat di negeri perbuatan pidana adat harus diakui terus: maka ini dengan hukum pidananya masing-masing. Jakarta. hlm.6 perbuatan-perbuatan pidana adat yang tidak ada Dari bunyi pasal tersebut dapat dilihat bahwa bandingnya dengan Kitab Undang-Undang hukum pidana adat mempunyai dasar yang kuat Hukum Pidana Sipil dan perbuatan-perbuatan untuk dijadikan dasar hukum dalam menjatuhkan pidana adat yang ada bandingnya dalam Kitab pidana. hlm. 7 Soeroso. hukum dan keadilan wajib menggali. Walaupun di Hukum Pidana Sipil. 6 Barda Nawawi Arief. kaula atau orang-orang yang dahulu diadili di c. dianggap sepadan oleh hakim dengan besar Disamping itu Undang-Undang Kekuasaan kesalahan si terhukum………Bahwa bilamana Kehakiman (UU No. maka ketentuan diterapkan dalam pelaksanaan hukum. masyarakat akan tetap tercipta dan terpelihara. akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab aturan-aturan yang tidak tertulis. selaras lagi dengan zaman senantiasa diganti b. Yaitu hukum tidak tertulis menganggap perbuatan itu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman sebagai perbuatan tercela maka tidak ada alasan adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak bagi hakim untuk tidak mejatuhkan pidana atas terhukum dan penggantian yang dimaksud dilakukannya perbuatan tersebut. Pasal 23 ayat (1): “Segala putusan pengadilan seperti tersebut diatas”. Bunga Rampai hukum Pidana.

Namun apakah hal itu dapat dilakukan dengan dengan menegaskan Pasal 1 (1) tersebut tidak mudah. karena tidak dapat 1970. dapat di- legalitas sebagaimana yang disebutkan dalam katakan bahwa perluasan asas legalitas secara pasal tersebut masih akan dipertahankan. Bandung 1996. Undang-undang tidak selalu dapat 3. sehingga 4. Dalam Sistem Peradilan Pidana. melainkan hanya Asas Legalitas Menurut Konsep KUHP Baru melanjutkan dan mengimplementasikan gagasan Asas legalitas formal dalam KUHP Indonesia yang sudah ada. 1996 hlm.11 saat ini disamping terdapat sudut keuntungannya Perluasan perumusan asas legalitas secara ada pula sudut kerugiannya. yaitu: apakah masih dicantumkan atau tidak. Berdasarkan undang-undang atau hukum Untuk menjawab pertanyaan itu. (UU No. 14 tahun ketinggalan jaman. seminar nasional . dan apakah asas Drt/1951 dan UU No. 1987. karena hasilkan konsep “legisme liberal” dan “konsep kadang-kadang menggunakan istilah yang rule of law”. demikian konsep KUHP barupun masih memuat maka kepastian hukum masih tetap dipertahan- aadanya asas legalitas ini. kekeluargaan” dan konsep “the rule of 5. mengikuti laju perkembangan jaman dan 2. bahwa:”Dengan bertolak dari kebijakan kan KUHP produk bangsa Indonesia yang baru. 11 Barda Nawawi Arief. Landasan sosiologis yang bertolak dari budaya menyelesaikan segala persoalan masyarakat hukum kekeluargaan (menurut Satjipto yang timbul. ayat 2). meski seorang anggota team perumus KUHP baru begitu kita masih berupaya untuk menyempurna. b. yaitu Pasal 1 ayat (1) konsep KUHP yang umum yang diakui masyarakat bangsa- bertolak dari asas legalitas dalam pengertian yang bangsa (the general principle of recognized by the formal.9 Pasal 15 ICCPR (International Covenant on Civil Namun dibalik semua itu pertanyaan yang and Political Rigthts) yang menyebutkan adanya timbul adalah bagaimana penyusun konsep dua dasar/sumber hukum untuk menyetakan KUHP baru dalam merumuskan asas legalitas.8 dalam undang-undang. yaitu terhadap delik-delik yang keluar agar kepastian hukum dapat tercipta. aspek kehidupan dalam masyarakat. sehingga hakim perlu kekeluargaan menghasilkan “legisme memberikan penafsira. serta bagaimana dengan kepastian mengurangi barlakunya “hukum yang hidup” di hukumnya. Undang-undang yang dibentuk selalu No. bahwa sumber hukum yang utama adalah commubity of nations. dan tidak ada bandingnya atau tidak telah diatur di lain pihak nilai keadilan tetap terpelihara. 9 Soeroso. Rahardjo: budaya hukum perorangan meng- 4. Citra Aditya Bakti. oleh karena asas ini disamping mempunyai ini memperluas perumusan secara material sifat perlindungan terhadap hukum pidana juga 8 Mardjono Reksodipuro. sedangkan budaya hukum tidak jelas/kabur. Hukum tidak dapat mengakomodir rasa 1. Undang-undang tidak dapat mengatur seluruh justice/moral”). Landasan kesepakatan ilmiah dalam seminar- teknologi yang berkembang begitu cepat.1/ persoalan paling mendasar. undang-undang (hukum tertulis). Landasan kebijakan legislatif nasional yang keadilan yang dituntut masyarakat keluar setelah kemerdekaan antara lain UU 2.10 Sampai saat ini Indonesia masih tetap Dikatakan oleh Barda Nawawi Arief. dapat dipidananya si pembuat. Bunga Rampai Hukum Pidana. 3. loc cit.1 Drt tahun 1951 dan UU No. maka dapat positif yang berlaku (ayat 1) dilihat dan diketahui dari pasal yang bersangkut. Jakarta. Bunga Rampai Permasalahan 10 Barda Nawawi Arief. material di dalam konsep KUHP baru bukanlah merupakan ide yang baru. 88. Dengan Dengan tetap dimuatnya asas legalitas ini. Untuk itu maka harus dicari jalan dalam masyarakat. Keadilan dan Pengabdian Hukum UI. Bandung. . Bunga Rampai Hukum Pidana. a.90. Pusat Pelayanan Citra Aditya Bakti. 14 tahun 1970). Berdasarkan asas-asas atau prinsip hukum an. Namun konsep KUHP kan. Undang-undang tidak dapat sempurna. Kelemahan dari materiil adapat dicarikan dasar pembenarannya berlakunya asas legalitas antara lain: pada empat landasan yakni: 1. Landasan Internasional yang bertolak dari memungkinkan terjadi kekosongan hukum. perundang-undangan nasional yang ada selama mengingat Pasal 1 ayat(1) ini merupakan ini seperti ditulis terdahulu. salah menggunakan KUHP warisan kolonial. 90. hlm . hlm.

legalitas materiil tersebut maka hukum yang Raja Grafindo Persada. maka nilai keadilanlah yang Dengan diterapkannya asas legalitas materiil perlu dikedepankan. Jakarta. 2005. maka akan mem. Jakarta. Jakarta. Bunga Rampai Hukum Sedangkan terhadap masyarakat sendiri. dan selalu berusaha untuk memahami dan mem. dengan demikian hakim harus cakap Cipta. Adami. apa yang dianggapnya Pengabdian Hukum UI. pengetahuan hakim releven dengan mutu Soeroso. Arif. diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menggali Raja Grafindo Persada. 2005 Bagi hakim sendiri selaku penegak hukum. Dirdjosisworo. Perspektif Sosial dalam memadahi. keadilan dalam masyarakat dimana hukum itu maka akan terciptalah keseimbangan diantara diberlakukan diperlukan asas legalitas yang keduanya. hukumnya sendiri maupun terhadap pelaksana- nya (hakim). Sampai saat ini Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Barda Nawawi. 1990 hukum yang hidup dalam masyarakat. Jakarta. Grafindo Persada. Semarang. Hukum Pidana I. Bogor. Pada saat itu hakim wajib mewujudkan secara PusatPelayanan Keadilan dan konkrit meluli putusannya. Yayasan Sudarto. Pengantar Ilmu Hukum. Politea. Jika penge. Mardjono. Pelajaran Hukum Pidana. karena Bandung. Dengan demikian maka asas legalitas seimbang antara kepastian hukum dan keadilan ini bersifat materiil dan dapat dikatakan sebagai namun jika keduanya tidak memungkinkan untuk asas legalitas materiil. adalah rumusan asas legalitas materiil sebagaimana bawa konsekuensi-konsekuensi baik terhadap dimuat dalam Konsep KUHP Baru. nilai-nilai hukum yang terdapat dalam Moeljatno. Asas legalitas merupakan asas yang funda. Pustaka Tinta Mas. Raja dalam masyarakat. 1986 mental dalam hukum pidana. 1988. 2008. sesuai dengan perasaan hukum masyarakat. Bunga Rampai keadilan masyarakat yang tumbuh dan diakui saat Permasalahan Dalam Sistem Peradilan pidana. Soedjono. hukum positif dengan nilai-nilai yang hidup Djamali. Konsekuensi terhadap hukumnya Daftar Rujukan sendiri adalah bahwa dengan diterapkannya asas Arief. juga dapat menjamin nilai nilai legalitas formil. sehingga yang diperlukan dalam konsep KUHP baru. yang ternyata mengandung banyak dalam masyarakat tetap terpelihara. Sinar Grafika. hidup dalam masyarakat akan tetap terpelihara. Alumni. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Badan Penerbit UNDIP. Sudarto. dapat Pidana. 1987. Jakarta. Perbandingan Hukum Pidana. Hukum Pidana I. Jakarta. Moeljatno. sedangkan untuk dapat mewujudkan dicantumkannya kedua landasan hukum tersebut. 1996. Dengan kekurangan. tidak akan mencerminkan tuntutan dalam Agung Press. ini. Semarang. wajib memberikan putusan yang mencerminkan Reksodipuro. Dengan Chazawi. Kesimpulan Utrecht. 1997. Kitab Unsang-Undang Hukum Pidana. Jakarta. maka putusan yang dihasilkannyapun Pemahaman Masalah-Masalah Hukum. 1989. pelajari hukum adat dalam menjalankan tugasnya. Raja demikian akan terjalin suatu keseimbangan antara Grafindo Persada. masyarakat. 2006. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta. sedang terjadi suatu persoalan. tanpa tahun Karena itu dalam sisitem hukum adat jika Muladi. Pengantar Ilmu Hukum. Citra Aditya Bakti. Barda Nawawi. E. Hak Asasi Manusia. dimana Sudarto. 2007.memberi kekuasaan kepada pemerintah sebagai Hukum Pidana Indonesia menggunakan Asas fungsi instrument. Hukum dan Hukum Pidana. Surabaya. aturan hukumnya hakim berwenang bahkan Semarang. 1986. Menjadi penting pengetahuan hakim menggali Fakultas Hukum UNDIP. Abdoel. putusan pengadilan yang dihasilkan. Soesilo. Rineka masyarakat. Pengantar Ilmu Hukum. berjalan beriringan. Politik dan Sistem terhadap suatu persoalan yang belum terdapat Peradilan Pidana. merasakan keadilan yang sebenarnya. Ronny Hanitijo. tahuan hakim terhadap hukum adat kurang Sumitro. . 1993.