You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transfusi darah merupakan bagian esensial dalam perawatan
kesehatan modern. Jika digunakan dengan benar, transfusi darah
dapat menyelamatkan jiwa pasien dan memperbaiki status
kesehatan. Kendati demikian, penularan mikroorganisme penyebab
infeksi lewat darah dan produk darah membutuhkan perhatian
khusus untuk menghindari risiko tersebut.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengembangkan strategi
terpadu berikut untuk meningkatkan keamanan penggunaan darah
yang bersifat global dan mengurangi risiko yang menyertai tindakan
tranfusi :
1. Pembentukan pelayanan tranfusi darah secara nasional dengan
sistem yang berkualitas disemua wilayah/daerah.
2. Pengambilan darah hanya dari donor darah sukarela yang tidak
meminta imbalan dan berasal dari populasi penduduk berisiko
rendah.
3. Menghasilkan produk darah yang berkualitas, meliputi:
pemeriksaan skrining terhadap semua darah dan produk darah
terhadap infeksi yang bisa ditularkan melalui tranfusi darah,
misalnya HIV, Hepatitis B dan C, sifilis serta penyakit menular
lainnya.
4. Praktek laboratorium yang baik dalam semua aspek pembuatan
komponen darah; pemeriksaan golongan darah; tes
kompatibilatas serta penyimpanan dan transportasi
darah/komponen darah secara tertutup dan memperhatikan rantai
dingin.
5. Penggunaan frekuensi transfusi yang tidak diperlukan dengan cara
mempertajam kemampuan penggunaan klinis darah/komponen
darah yang rasional dan penggunaan alternatif lain yang
sederhana sebagai pengganti transfusi jika memungkinkan.

Sejarah perkembangan pelayanan tranfusi darah di Indonesia
dimulai pada tahun 1950 yang dilaksanakan oleh palang merah
Indonesia, dan pada tahun 1980 terbit peraturan pemerintah republik
Indonesia (PP) nomor 18 tahun 1980 tentang transfusi darah. Sejak
saat itu pelayanan transfusi darah di Indonesia dilaksanakan
berdasarkan PP 18/1980 tersebut.

Pelayanan darah yang berkualitas, aman, tersedia tepat waktu
dapat dicapai apabila pelayanan berjalan dengan sistem tertutup,
dimana rumah sakit tidak lagi menyerahkan upaya memperoleh
darah transfusi kepada keluarga pasien, tetapi seluruh mekanisme
pelayanan dilaksanakan oleh petugas. Hal ini dapat dilaksanakan
apabila rumah sakit sebagai pengguna darah transfusi, mempunyai
Bank Darah RS, sebagai unit pelaksana pelayanan transfusi darah
yang bekerja sama melalui ikatan kerja sama dengan UTD (Unit
Transfusi Darah) kab/kota/propinsi setempat.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum : terlaksananya pelayanan tranfusi darah di RS
Dinda dengan sistem rantai dingin secara distribusi tertutup serta
berkualitas, terkordinasi dan sesuai dengan standar.
2. Tujuan khusus : tersedianya acuan bagi petugas seluruh ruangan
dalam melaksanakan pelayanan transfusi darah yang berkualitas
(cukup, aman, tepat waktu, efisien, rasional) sebagai pelayanan
penunjang untuk mendukung pelayanan prima di RS Dinda.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pemakaian pedoman ini adalah bagi seluruh petugas
yang berhubungan dengan pelayanan transfusi darah di RS Dinda.

D. Dasar Hukum

1. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
2. Peraturan pemerintah No. 18 tahun 1980 tentang transfusi darah

3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
478/Menkes/Peraturan/X/1990 tentang upaya kesehatan di bidang
transfusi darah
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1178/Menkes/Per/X/1990
tentang upaya kesehatan swasta dibidang pelayanan medik
5. Kepmenkes No. 423/menkes/SK/IV/2007 tentang kebijakan
peningkatan kualitas dan akses pelayanan darah
6. Keputusan dirjen pelayanan medik No. 1147/Yanmed/RSKS/1991
tentang petunjuk pelaksanaan upaya kesehatan dibidang transfusi
darah.
7. Peraturan pemerintah No. 7 tahun 2011 tentang pelayanan darah

trombosit dan plasma mempunyai berat jenis yang berbeda ( masing-masing 1.03-1. Pada plasma darah terdapat banyak protein. Komponen darah adalah : Produk darah yang dihasilkan dari pemisahan darah lengkap seorang donor yang telah diberi antikoagulan menjadi beberapa macam produk Pembuatan komponen darah dimungkinkan karena sel darah merah. dari 1 orang donor dapat dihasilkan 3 komponen yang dapat berguna untuk 3 orang pasien.08-1.BAB II KETENTUAN UMUM A.  Meningkatkan efisisensi dan aktivitas pemanfaatan darah donor. sel darah putih dan keping-keping trombosit. Keuntungan pengguanaan komponen :  Sesuai kebutuhan resipien (penerima transfusi darah)  Meminimalisasi risiko transfusi seperti : reaksi imunologis maupun transmisi penyakit. volume .09 .04 dan 1. Darah dan komponen darah : 1. termasuk protein pembekuan darah dan albumin yang mempunyai manfaat dalam bidang transfusi darah. misalnya. Darah Lengkap (Whole Blood) Yang dimaksud darah lengkap (whole Blood) adalah darah yang diambil dari seorang donor dan mengandung seluruh komponen darah sesuai yang ada pada darah donor. 1.  Penyimpanan optimal sesuai standar masing-masing komponen.03) sehingga dengan mengguanakan differential centrifugation darah lengkap dapat dibuat menjadi komponen darah. Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah. DARAH DAN KOMPONEN DARAH Darah adalah materi biologis yang terdiri dari bagian sel dan plasma.

2. Suhu penyimpanan 2-6C dengan masa simpn 35 hari (di Indonesia 14 hari) diberikan dalam waktu 30 menit setelah dikeluarkan dari penyimpanan. Komponen Sel Darah Merah a. dekstrose. phospat. Suhu penyimpanan 2-6C dengan masa simpan 35 hari. Volume 150-200 mL diambil dari donor tunggal dimana sel dipisahkan dengan hampir seluruh plasmanya sehingga didapatkan hemoglobin 20g/100mL dan hematokrit 55-75%. diberikan dalam waktu 30 menit setelah dikeluarkan dari penyimpanan. trombosit dan factor koagulasi yang labil (f V dan f VIII) yang sudah tidak berfungsi. Sel darah merah pekat Yang dimaksud sel darah merah pekat (packed red sel) adalah komponen darah merah yang telah dipisahkan dari plasmanya. Sel darah merah pekat miskin leukosit (Leucocyte depleted red cell components) yang dimaksud sel darah merah pekat miskin leukosit adalah komponen darah merah yang telah difiltrasi/ disentrifugasi sehingga mengandung sel darah putih yang lebih sedikit dari sel darah merah pekat biasa. namun beberapa kantong volumenya 450cc yang berisi 65cc antikoagulan CPDA (citrate. Dibuat dengan menggunakan kantong multiple sebelum penyimpanan. adenine). leukosit. mengurangi . b. umumnya 300cc. Kandungan yang ada : Sel darah merah. Kandungan yang ada : sel darah merah. leukosit. 99% lekosit dihilangkan sehingga kadar lekosit dalam satu kantong darah kurang dari 5x10 yang akan mengurangi febril non hemolytic reaction. trombosit dan faktor koagulasi yang labil (f V dan f VIII) yang sudah tidak berfungsi.

diberikan dalam waktu 30 menit setelah dikeluarkan dari penyimpanan. Suhu penyimpanan 2-6C harus segera diberikan dalam waktu 24 jam setelah pencucian karena pembuatannya yang dengan system terbuka. thawed and washed) adalah komponen darah merah yang telah dibekukan dan saat akan digunakan dicairkan dahulu dan dicuci/dihilangkan plasmanya. Sel darah merah cuci (Washed red Cell) Yang dimaskud sel darah merah cuci (washed red cell) adalah komponen darah merah yang telah berulang kali dicuci dengan NaCl 0. Sel darah merah dibekukan dengan pengawet glycerol sehingga dapat disimpan sampai 10 tahun untuk kemudian dicairkan dan dicuci sebelum digunakan dalam waktu 24 jam. Sel darah merah pekat beku yang telah dicuci (frozen. Mengandung 20% lebih sedikit sel darah merah dibanding komponen aslinya dan kandungan sel darah putih yang lebih sediit dibanding leucocyte depleted red cell setelah dilakukan pencucian dengan NaCl dengan sistem terbuka. c. urtikaria. d. e. Produk ini terutama digunakan untuk tranfusi autologus pasien dengan golongan darah langka dan pada keadaan blood shortage. pasien dengan defisiensi lgA dan anafilaktik syok. thawed and washed) Sel darah merah pekat beku yang telah dicuci (frozen. Suhu penyimpanan 2-6C dengan masa simpan 42 hari.9% dalam rangka menghilangkan komponen plasmanya. Mengurangi panas. aloimunisasi sel darah putih (human leukocyte antigen) dan mereduksi penularan infeksi cytomegalovirus. Sel darah merah yang diradiasi (Irradiated Blood) .

Konsentasi granulosit (Granulocyte concentrate) Yang dimaskud engan Konsentasi granulosit (Granulocyte concentrate) adalah komponen plasma yang banyak mengandung sel darah putih. Sel darah merah yang telah diradiasi dengan 25-30 Gy sinar gamma digunakan untuk mencegah proliferasi limfosit yang masih ada pada saat ditransfusikan kepada pasien dengan keadaan imunodefisiensi kongenital atau didapat misalnya: pada pasien pasca transplantasi organ atau sumsum tulang dan juga pada neonates. maupun plateletferesis (>3x1011/unit). Plasma dan Produk Plasma . h. Konsentrat trombosit (thrombocyte concentrate) Yang dimaskud dengan Konsentrat trombosit (thrombocyte concentrate) adalah komponen plasma yang banyak mengandung trombosit. Diperoleh dari pemisahan whole blood. Yang dimaksud sel darah merah yang diradiasi (Irradiated Blood) adalah sel darah merah yang diberikan radiasi sinar gama. Suhu penyimpanan 200-240C harus segera diberikan dalam waktu 24 jam setelah pencucian. berisi 5. Diperoleh dengan cara leukoferesis atau sentrifugasi darah lengkap. g. sedangkan sentrifugasi darah lengkap menghasilkan granulosit dengan fungsi tidak adekuat yang disebut buffy coat. Masa simpan 28 hari setelah radiasi. Leukoferesi merupakan cara ideal mendapatkan konsentrasi granulosit.5 x 10 10 dalam 1 unit. Diberikan pada pasien sepsis atau neutropenia berat (PMN<500/Ul) Pemberian harus ABO kompetibel karena pada proses pengumpulan granulosit masih terdapat 25-50mL sel darah merah. f. Pemeriksaaan pretransfusi tidak perlu dilakukan cross matching.

Keriopresipitat (anti hemophilic factor/AHF) Yang dimaksud dengan kriopresipitat (anti hemophilic factor/AHF) adalah plasma yang banyak berisi factor pembekuan VIII. Plasma Segar Beku ( Fresh Frozen Plasma/FFP) Yang dimaksud plasma segar beku adalah plasma segar yang dibekukan. AHF didapatkan dari pencarian FFP pada suhu 1 0-60C. fibrinogen. factor vonwillebran dan fibronektin dalam konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan plasnma. Pemberiannya harus ABO kompatibel dalam waktu 30 menit setelah dicairkan. Volume 1 kantong AHF 45-60 mL mengandung 80-120 unit factor VIII. Berisi plasma dan semua faktor pembekuan (factor koagulasi) FFP didapatkan dengan cara plasma dibekukan secara cepat dalam waktu 8 jam setelah pendonoran sehingga mengawetkan faktor pembekuan labil yaitu F V dan F VIII. Penyimpanan pada suhu 16C dapat bertahan lebih dari satu tahun. Penyimpanan pada suhu -180C dapat bertahan lebih dari satu tahun. . presipitat cryo akan terisah dari supernatante lalu disiman dalam bentuk beku. Karena poses pembekuannya yang cepat leukosit menjadi non fungsional sehingga tidak diperlukan lagi proses preduksian leukosit. fibronektin dan von willebrand yang dibekukan. digunakan untuk pasien hemophilia A. b. Jenis-jenis produk plasma : a.Plasma didapatkan dari sentrifugasi darah segar atau dengan plasmaferesis yang akan mendapatkan volume 2 kali lipat plasma konvensional. pasien dengan penyakit von wiliebran dan defisiensi fibrinogen. Karena proses pembekuannya yang cepat lekosit menjadi non fungsional sehingga tidak diperlukan lagi proses preduksian lekosit. fibrinogen.

.Pemberiannya harus ABO kompatibe dalam waktu 30 menit setelah dicairkan.

Sifilis. . dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Merupakan kewajiban Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) sebagai pendukung pelayanan kesehatan di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan darah tersebut. yaitu : 1. malaria dan yang lain. transfusi dapat membawa risiko seperti kejadian reaksi imunologis atau infeksi yang ditularkan melalui transfusi seperti infeksi HIV. pendistribusian darah. seperti halnya dengan tindakan yang lain. Alur Pelayanan darah di Indonesia Alur Pelayanan darah di RS Dinda Kebutuhan darah dirumah sakit meningkat setiap tahunnya. para klinisi harus sudah terbiasa dengan sistem tersebut dan memahami setiap keterbatasan yang dapat berakibat pada keamanan dan ketersediaan darah. Penggunaan darah dan produk darah yang tepat dalam klinik Sistem apapun yang digunakan oleh lembaga palang merah setempat dalam mengumpulkan darah. seiring meningkatnya jumlah pasien yang berobat. yang bisa terjangkau dengan biaya yang wajar 2. Akan tetapi. Keamanan dan keefektifan transfusi bergantung pada dua faktor penting. Hepatitis. melaksanakan skrining serta pemrosesan darah. BAB III PELAYANAN TRANSFUSI DARAH A. PELAYANAN TRANSFUSI DARAH Pelayanan tranfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang meliputi penyediaan darah. Pasokan darah dan produk darah yang aman.

Hal ini membutuhkan penanganan/jalan keluar seperti membuat IKS (ikatan kerja sama) dengan UTD lain atau memproduksi sendiri darah/komponen darah untuk kebutuhan RS Dinda. Karena darah merupakan produk yang sangat bergantung pada donor. darah tersebut harus dilakukan uji tapis penyakit menular melalui transfusi darah di laboratorium Patologi Klinik RS Dinda. Dalam keadaan shortage/kekurangan persediaan darah sehingga harus mendapatkan darah dari UTD lain. pada keadaan seperti pada bulan puasa. biasanya akan terjadi shortage atau keadaan kekurangan darah. INDIKASI PENGGUNAAN KOMPONEN DARAH 1. Indikasi Transfusi Sel Darah Merah (PRC = packer red cell). mungkin membutuhan peningkatan kapasitas angkut oksigen lebih besar dibanding individu lain dengan Hb yang lebih rendah namun kondisi klinisnya stabil. Oleh sebab itu hasil pemeriksaan laboratorium dan penilaian klinis sangatlah esensial dan menjadi landasan dalam memutuskan perlu tidaknya transfusi darah pada pasien. Untuk itu diperlukan satu pedoman indikasi penggunaan komponen darah yang berlaku di satu rumah sakit sehingga dapat digunakan sebagai acuan bagi seluruh dokter yang menggunakan darah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan darah di RS Dinda. Seseorang yang menderita anemia sedang dan pneumonia. tapi juga harus berdasarkan penilaian kondisi klinis secara seksama. Keputusan untuk memberikan transfusi darah tidak boleh ditentukan atas dasar Hb saja. Penggunaan darah sebagai suatu produk medis yang sangat berharga mensyaratkan indikasi yang benar untuk penggunaannya. hari raya atau hari-hari besar. UPTD menjalin kerja sama dengan UTDD PMI TANGERANG sebagai penyedia darah dan bahan habis pakainya. Bila kondisi seseorang .

2000 mL = 30 - 40% volume cairan tubuh. Pasien dengan perdarahan akut di kategorikan kedalam 4 kelompok. oksigenasi dapat membaik tanpa perlu transfusi.  Perdarahan kelas 3 : kehilangan darah s/d 1500 .1500 mL = 15 . yakni (untuk pasien dengan berat badan 70 kg):  perdarahan kelas 1 : kehilangan darah s/d 750 mL = s/d 15% volume cairan tubuh. Anemia karena perdarahan akut Tidak semua pasien dengan anemia diberikan transfusi darah kecuali pasien dengan perdarahan akut. monitor yang ketat.0 g/dL Laki-laki : 14 – 16 g/dL >14 tahun Perempuan : 12 – 14 g/dL Laki-laki : 13 – 15 g/dL Usia Lanjut Perempuan : 11 – 13 g/dL Indikasi transfusi darah sel darah merah pada anemia a. misalnya infeksi akut.5 g/dL Neonates hari 1 +18.stabil.  Perdarahan kelas 2 : kehilangan darah 750 . Nilai Hb Normal Umur Konsentrasi hemoglobin (g/dL) Darah tali pusat (term) + 16. . terapi yang efektif untuk kondisi yang menyertainya.0 g/dL 7 – 13 tahun + 13.  Perdarahan kelas 4 : kehilangan darah >2000 mL = > 40% volume cairan tubuh.0 g/dL 6 bulan – 6 tahun + 12.0 g/dL 3 bulan + 11.0 g/dL 1 bulan + 14.30% volume cairan tubuh.

b. Transfusi darah donor diberikan bila keadaan anemia tersebut . Namun demikian. untuk mengatasi kedaruratan (syok hemoragik). karena proses penyediaan darah donor untuk pemeriksaan golongan darah ABO& Rhesus (“ABO rhesus typing”) dan uji silang serasi (“cross matching”) memerlukan waktu minimal 90 menit. Indikasi sel darah merah golongan O pada permintaan darah donor untuk kasus darurat. Tetapi mengingat di indonesi Rh (-) ditemukan pada <0. walaupun telah diberikan darah donor universal golongan O. Pada pasien dengan perdarahan kelas 1 dan 2. Pada pasien dengan perdarahan kelas 3 dan 4. permintaan ini dibuat lebih awal. ABO rhesus typing (berkisar antara 10-15 menit) dan uji silang serasi (berkisar antara 90 menit). HTA kementrian kesehatan (2010) merekomendasikan darah donor universal pada keadaan darurat adalah darah donor golongan O dengan rhesus (+). sambil ditentukan apakah perdarahan yang terjadi bersifat perdarahan surgical (yang memerlukan penghentian perdarahan dengan pembedahan) atau bukan. yakni darah donor golongan O dan Rhesus (-). bank darah rumah sakit tetap memproses penyediaan darah donor kantung berikutnya dengan melakukan pemeriksaan golongan darah ABO& Rhesus dan uji silang serasi. maka darah donor yang telah dipesan dan disimpan tersebut dapat segera diberikan. Mengingat waktu yang diperlukan untuk penyediaan darah donor.05%. c. maka bila diperlukan darah donor yang segera. transfusi darah donor harus dimintakan. tetapi disimpan dahulu di bank darah rumah sakit. Begitu terjadi perubahan status kelas perdarahan dari kelas 1 atau 2 ke kelas 3 atau 4. transfusi darah donor merupakan keharusan. Pada anemia kronik prinsipnya adalah menghindarkan transfusi darah. diberikan terlebih dahulu kantung pertama adalah darah donor tanpa pemeriksaan ABO& Rhesus dan uji silang serasi. Indkasi transfusi sel darah merah pada anemia kronik.

d. obat anti malaria pada anemia karena malaria. Transfusi darah pada anemia kronik ditujukan untuk menghilangkan tanda-tanda ketidak cukupan oksigenasi jaringan. maka transfusi darah tida perlu diberikan. dimana kadar hemoglobin (Hb) darah 5 g/dL atau pada wanita hamil dengan kadar Hb 7g/dL atau yang disertai dengan komplikasi lain (misalnya pneumonia. Berbeda dengan anemia kronik seperti diuraikan diatas. Misalnya. konsentrasi berkurang. dl) sudah menimbulkan tanda-tanda tidak cukunya (inadequate) oksigenasi jaringan. Kadar Hb yang tinggi pada pasien thalasemia yang bergantung . Jumlah/volume sel darah merah yang ditransfusikan tidak ditujukan untuk menaikakan kadar Hb darah ke kadar tertentu (misalnya 12g/dL) tetapi ditentukan berdasarkan klinis. tetapi dicari penyebab anemia kronik tersebut dan diberikan pengobatan yang sesuai penyebabnya. sesak nafas bila beraktifitas. atau rasa sesak nafas bila beraktifitas menjadi hilang. steroid pada anemia hemolitik autoimun. misalnya denyut jantung menjadi normal kembali. diberikan terapi zat besi pada anemia defisiensi besi. Transfusi darah donor merupakan upaya untuk mengoptimalkan seluruh komponen yang terkait dengan system penyaluran oksigen (oxygen delivery system) untuk memperbaiki suplai oksigen ke jaringan. maka anemia pada penderita thalassemia mayor atau intermedia yang bergantung pada transfusi darah harus dikoreksi dengan pemberian transfusi darah merah untuk mencapai kadar Hb darah antara 10 s/d 12g/dL. dan sebagainya. dimana pada kadar Hb darah tertentu (misalnya Hb 8g/dL) pasien tidak lagi mengalami tanda-tanda ketidak cukupan oksigenasi jaringan. Bila tidak ada tanda-tanda ketidak cukupan oksigenasi jaringan. mual.(umumnya anemia gravis. misalnya: jantung berdebar. Untuk itu transfusi darah harus diberikan secara bertahap dengan volume kecil dengan pemantauan klinis. Indikasi transfusi sel darah merah penderita thalassemia mayor atau intermedia. dan lain-lain.

Indikasi transfusi sel darah merah seperti pada thalassemia mayor dan intermedia juga diindikasikan pada jenis lain dari hemoglobinopati lainnya.0g/dL adalah batas minimal yang diperlukan oleh sel tubuh untuk metabolism energy. Indikasi transfusi sel darah merah pada pembedahan dan pasien pulang. Seyogyanya. Transfusi sel darah merah donor tidak boleh diberikan dengan alasan untuk meningkatkan kadar Hb sebelum pembedahan efektif. kecuali pada pembedahan darurat. Transfusi sel darah merah donor juga tidak boleh diberikan dengan tujuan meningkatkan kadar Hb sebelum pasien pulang dari rumah sakit. Kadar Hb 8. yakni penderita hemoglobinopati structural/varian (misalnya pada Hbs/anemia sel sickle) e. sebelum pasien pulang telah dicari penyebab anemia tersebut dan diberikan pengobatan kausatif yang sesuai. harus dinilai secara individual. Indikasi transfusi sel darah merah pada anak Indikasi penggunaan komponen sel darah merah pada anak usia lebih dari 4 bulan Indikasi Kadar Hb  Sebelum operasi dengan gejala Hemoglobin < 8 g/dL anemia . kecukupan darah donor yang ditransfusikan kepada penderita thalasemia mayor atau intermedia.transfusi darah diperlukan untuk mengurangi hipoksemia yang akan mengaktifkan eritropoiesis abnormal yang menghasilkan sel darah merah thalasemik yang mudah hemolisis. Namun demikian.

seperti : thalassemia. Walaupun semua pasien dapat menerima PRC golongan . Dalam kemoterapi atau radioterapi  Anemia dengan gejala yang nyata pada anemia kronik kongenital atau didapat  Pada prosedur bedah darurat dengan prediksi terjadinya perdarahan dengan keadaan anemia yang signifikan sebelum operasi  Penyakit respirasi yang berat Hemoglobin < 13 g/dL  Pasien dengan ECMO Perdarahan intraoperative > 15% dari volume darah total Perdarahan akut yang tidak responsive dengan terapi lain Kelaianan produksi sel darah merah kongenital. anemia aplastic. Indikasi transfusi sel darah merah pada neonatus Indikasi Ambang transfusi Transfusi sel darah merah Anemia dalam 24 jam pertama Hb < 12 g/dL Neonatus dengan ventilasi mekanik Hb < 12 g/dL Perdarahan akut >10% darah hilang Menggunakan oksigen (bukan Hb < 8-12 g/dL (tergantung ventilator) keadaan klinis) Anemia lanjut. pasien stabil (tanpa Hb < 7 g/dL oksige) Transfusi PRC harus menggunakan darah ABO yang kompatibel dengan pasien.

5 normal.  Bila pada kasus perdarahan terdapat pemanjangan aPTT. .  Transfusi FFP juga diindikasikan untuk menetralkan warfarin pada keadaan darurat. disseminated intravascular coagulation/DIC) dimana terdapat bukti laboratoris yang menunjukkan adanya defisiensi faktor-faktor koagulasi. 2. tapi tetap harus menggunakan unit PRC yang spesifik sesuai dengan goongan darah pasien. Pasien Rhesus positif dapat menerima PRC Rhesus positif maupun negative. misalnya sebelum suatu prosedur invasif dengan perdarahan aktif. IX dan penyakit von Willebrand. yang ditandai dengan pemanjangan masa protrombin (PT) atau masa tromboplastin parsial (aPTT) > 1. Indikasi Penggunaan Fresh Frozen Plasma (FFP) Beberapa gangguan/penyakit yang timbul akibat defisiensi faktor koagulasi (lihat defisiensi FFP) adalah sebagai berikut:  Defisiensi faktor koagulasi herediter/bawaan: seperti hemofilia A dan hemofilia B karena kekurangan faktor VIII.O. karena respon imun yang terbentuk dapat menyebabkan hemolysis ekstravaskuler lambat dan dapat menimbulkan komplikasi transfusi berikutnya atau berpengaruh terhadap kehamilan.  Bila pada kasus perdarahan terdapat pemanjangan PT. maka diberikan transfusi FFP (ABO kompatibel) 15 mL/kg berat badan. diberikan faktor VIII konsentrat dan plasma konsentrat atau 10-15 unit kriopresipitat (yang mengandung faktor VIII dan fibrinogen). Pasien Rhesus negative harus menerima PRC Rhesus negatif untuk mencegah timbunya respon imun terhadap antigen D (antigen Rhesus).  Perdarahan oleh karena defisiensi faktor koagulasi didapat pada defisiensi vitamin K  DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) Indikasi transfusi darah plasma konsentrat dan kriopresitat  Transfusi FFP diberikan pada kasus-kasus perdarahan (misalnya karena trauma.

Indikasi transfusi trombosis konsentrat Transfusi trombosit konsentrat diberikan pada situasi sebagai berikut tanpa pembatasan (resktriksi):  Perdarahan aktif dan hitung trombosit < 50. Tujuan utama terapi transusi trombosit adalah mengontrol atau menghentikan perdarahan. Hal ini disebabkan masih terbatasnya ketersediaan faktor VIII dan IX konsentrat di samping mahalnya obat tersebut dan asuransi hanya memberikan faktor VIII dengan jumlah yang dibatasi. 3.000/uL atau adanya defek fungsi trombosit (uremia. Oleh karenanya respon klinis lebih penting daripada semata-mata peningkatan kadar trombosit saja.000/uL bila terdapat febris atau perdarahan minor). Rekomendasi jumlah trombosit sebelum tindakan invasif . kriopresipitat dan plasma konsentrat masih digunakan untuk pengobatan perdarahan pada pasien hemofilia A (kriopresiptat) dan hemofilia B (fresh frozen plasma/FFP). dan setelah operasi “bypass” jantung). pemberian transfusi trombosit konsentrat mengacu panduan penatalaksanaan penderita demam berdarah. “known storage pool defect”. Indikasi Transfusi Trombosit Transfusi trombosit diindikasikan untuk terapi perdarahan yang diakibatkan trombositopenia dan atau disfungsi kualitatif trombosit baik kongenital maupun didapat. Pada trombositopenia karena demam berdarah.Indikasi transfusi darah kriopresipitat pada pasien hemofilia Di Indonesia.000/uL (atau < 20.  Perdarahan aktif akibat efek mielosupresi (karena obat-obat sitostatika) dan trombosit < 10. khususnya di RS Dinda.

000/uL Tindakan pembedahan mayor < 80.The British Committee for Standards in Hematology telah merekomendasikan transfusi trombosit konsentrat pada tindakan invasif bila jumlah trombosit minimal sebagai berikut: Transfusi Trombosit Jumlah Trombosit Tindakan gigi rutin < 10.000/uL Pencabutan gigi < 30.000/uL Tindakan gigi dengan anestesi blok < 30.000/uL Indikasi transfusi trombosit pada neonatus Transfusi Trombosit Jumlah Trombosit Pertimbangkan pada semua neonatus < 30 x 109/L Pertimbangkan pada keadaan risiko < 50 x 109/L perdarahan yang meningkat  < 1000 g dan usia < 1 minggu  Klinis tidak stabil (mis: TD tidak stabil)  Perdarahan mayor yang terjadi sebelumnya (mis: intraventricular haemorrhage gr 3-4)  Perdarahan minor yang baru terjadi (mis: ptekie)  Adanya koagulapati  Rencana operasi atau exchange transfusion Perdarahan mayor < 100 x 109/L Standar Volume Transfusi Komponen Volume Peningkatan yang diharapkan Sel darah 10-15 mL/kg BB Hb ↑ 2-3 g/dL .000/uL regional gigi Tindakan pembedahan minor < 50.

000/ μ l Granulosit ≥ 1 x 109 neutrofil/kg Diulang sampai terlihat respon klinis BB dalam volume 15 mL/kg BB FFP 10-15 mL/kg BB Aktivitas faktor ↑ 15-20% AHF 1-2 unit/10 kg BB Fibrinogen ↑ 60-100 mg/kg BB Standar Volume Transfusi pada Anak Komponen Volume Peningkatan yang diharapkan Darah lengkap BB (kg) x 6 (Hb diinginkan Hb yang diinginkan – Hb tercatat) PRC BB (kg) x 4 (Hb diinginkan Hb yang diinginkan – Hb tercatat) Trombosit BB Jumlah trombosit yang x 1−2 U 13 diinginkan Granulosit ≥ 1 x 109 neutrofil/kg Diulang sampai telihat respon klinis BB dalam volume 15 mL/kg BB FFP 10-15 mL/kg BB Aktivitas faktor ↑ 15-20% AHF 1-2 unit/10 kg BB Fibrinogen ↑ 60-100 mg/kg BB Kecepatan Transfusi PRC pada Anak Hb penderita (g/dL) Jumlah PRC (diberikan dalam 3-4 jam) .000- 100.merah Trombosit 5-10 mL/kg BB Trombosit ↑ 50.

7 . Melengkapi formulir permintaan darah dengan BENAR. Permintaan darah regular/ sudah pasti 3. lengkap dan jelas. Pemberian penjelasan tentang tindakan transfusi. payah jantung (+) Transfusi tukar PROSEDUR KLINIS TRANSFUSI Setelah diputuskan harus dilakukan tindakan transfusi. Permintaan darah untuk kebutuhan operasi elektif. indikasi dan efek sampingnya serta pengisian formulir informed consent merupakan tanggung jawab DPJP. dapat diulang dengan interval 6 – 12 jam < 5. PROSEDUR PERMINTAAN TRANSFUSI DARAH Prosedur permintaan darah adalah tata cara meminta darah sesuai dengan standar medis untuk mengurangi risiko reaksi transfusi. dapat diulang dengan interval 6 – 12 jam < 5. setiap petugas yang terlibat dalam proses klinis transfusi memiliki tanggung jawab untuk menjamin agar darah yang benar diberikan pada pasien yang benar pada saat yang benar.10 10 mL/kg BB 5–7 5 mL/kg BB. A. yang bukan merupakan tanggung jawab dari UPTD. Permintaan darah dibedakan menjadi: 1. Bila formulir permintaan darah tidak benar. UPTD berhak mengembalikan formulir dan sampel sehingga potensial terjadi keterlambatan. . 2. yaitu permintaan darah dengan tingkat kebutuhan (belum tentu digunakan) Setiap klinisi bertanggung jawab terhadap setiap pasien yang transfusi meliputi: 1. payah jantung (-) 3 mL/kg BB. Permintaan darah emergency 2. LENGKAP dan JELAS. payah jantung ( ± ) 3 mL/kg BB dan diberikan furosemid < 5.

PROSEDUR PENGUJIAN PRA TRANSFUSI Semua darah harus diuji sebelum transfusi dilakukan untuk: . Memusnahkan atau mengembalikan kantong darah yang sudah berada pada suhu ruangan lebih dari waktu yang diperbolehkan atau kantong darah yang sudah terbuka saat diterima atau kantong darah yang terlihat terdapat kerusakan produk darahnya h. Jika kebutuhan mendesak. komponen darah dan dokumen/ rekam medis pasien yang dilakukan di samping pasien g. Mencatat tindakan transfusi pada rekam medis pasien secara benar  Alasan transfusi diperlukan  Komponen darah dan jumlah yang ditransfusikan  Waktu transfusi darah dilakukan  Hasil pemantauan keadaan pasien sebelum. 3. Alasan transfusi dilakukan c. Kedaruratan yang ada pada kebutuhan pasien akan transfusi d. hubungi segera Unit Pelayanan Transfusi Darah dengan telepon. B. Kapan dan dimana darah tersebut diperlukan e. Jenis komponen darah dan jumlah yang diinginkan b. Menyampaikan informasi yang jelas terhadap Unit Pelayanan Transfusi Darah tentang: a. Sebelum transfusi dimulai. 4. selama dan sesudah transfusi  Setiap reaksi transfusi yang terjadi Formulir darah yang digunakan di RS Dinda: SCAN FORMULIR DARAH Semua keterangan yang diminta dalam formulir permintaan darah tersebut harus dilengkapi dengan akurat dan benar. laksanakan pemeriksaan terhadap identitas pasien. Mengambil sampel dari pasien yang benar dan dimasukkan dalam tabung sampel yang benar serta mencantumkan label dengan benar pada tabung sampel tersebut. Memastikan agar darah dan komponen darah disimpan dengan benar di dalam klinik/ ruangan sebelum dilaksanakaan transfusi f.

PROSEDUR PENYIMPANAN DARAH Penyimpanan darah di UPTD dan di unit kerja dilakukan secara khusus sesuai jenis komponen darah dengan memperhatikan suhu dan perawatan alat penyimpanannya. khususnya anti-RhD Uji silang serasi (kompatibilitas) dilakukan sebelum darah ditransfusikan. Permasalahan uji silang serasi:  Jika sampel pasien memiliki antibodi sel darah merah yang secara klinis signifikan. . sampel darah akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan di laboratorium rujukan PMI yang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan darah yang cocok  Jika kebutuhan transfusi sangat mendesak.  Memastikan bahwa sel darah merah yang akan ditransfusikan itu kompatibel dengan antibodi yang ada pada plasma pasien/ resipien  Menghindari pembentukan antibodi sel darah merah yang baru dalam plasma pasien. Suhu dalam setiap alat penyimpanan darah harus selalu dipantau dan dicatat setiap hari (3 shift) untuk memastikan suhunya selalu berada dalam batas normal. Unit Transfusi Darah dan dokter yang bertanggung jawab atas pasien harus menimbang risiko antara penundaan transfusi karena belum mendapatkan darah yang cocok dengan risiko transfusi darah yang tidak sepenuhnya cocok C. Uji ini akan mendeteksi reaksi antara:  Serum darah pasien dengan sel drah merah donor (uji silang serasi mayor)  Serum darah donor dengan sel darah merah pasien (uji silang serasi minor) Prosedur ini akan memakan waktu sekitar 2 (dua) jam dengan metode tabung.

 Pada penyimpanan TC. Semua label darah (baik yang ditransfusikan maupun tidak jadi ditransfusikan) dikembalikan ke UPTD maksimal 2 x 24 jam. jangan sekali- kali menempatkan komponen darah ini dalam lemari pendingin karena akan kehilangan kemampuannya dalam membekukan darah. Semua produk darah yang tidak terpakai dilaporkan ke UPTD. batas suhu 20 0-240 C sangat penting untuk menjaga fungsi faktor pembekuan agar tidak rusak. Setelah darah dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Anti Hemophilic -180-320 C Freezer 1 tahun Factor (AHF)  Pada penyimpanan PRC. Whole Blood (WB) 20-60 C Blood bank 35 hari refigerator 2. tindakan transfusi harus segera dimulai dalam waktu 30 menit. Thrombocyte 200-240 C Platelet incubator 5 hari Concentrate (TC) agitator 4. Packed Red Cell (PRC) 20-60 C Blood bank 14 hari refigerator 3. batas suhu 60 C sangat penting untuk meminimalkan pertumbuhan setiap kontaminasi bakteri pada darah. . Fresh Frozen Plasma -180-320 C Freezer 1 tahun (FFP) 5.Sistem penyimpanan darah dilakukan secara FIFO (First In First Out) dimana darah yang paling lama masa kadaluwarsanya diletakkan dibelakang darah yang lebih dulu kadaluwarsa dan setiap kantong darah harus diletakkan berjajar/ tidak bertumpuk. dan batas suhu 20 C sangat penting untuk mencegah hemolisis yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Pemusnahan kantong darah yang tidak ditransfusikan diperlukan sebagai limbah medis ruangan dan dibuang ke tempat sampah medis (warna kuning). Penyimpanan darah sesuai komponennya: N Jenis Komponen Suhu Alat Penyimpan Masa o Darah Simpan Simpan 1.

Keadaan ini kerap kali terjadi karena kesalahan pada saat megambil darah dari UPTD. batas suhu -18 0-320 C sangat penting untuk menjaga fungsi faktor pembekuan agar tidak rusak terutama faktor V dan VIII. Untuk menghindari kesalahan tersebut maka saat pengambilan darah petugas yang mengambil darah harus membawa dokumen pasien dan formulir pengambilan darah untuk identifikasi pasien yang berisi: a) Nama pasien b) Rekam medis pasien c) Ruang rawat/ poliklinik d) Jenis komponen darah dan golongan darah pasien e) Nomor formulir permintaan f) Nama petugas UPTD g) Tanggal dan jam pengambilan Jika formulir pengambilan darah tersebut tidak ada atau hilang maka dapat digantikan dengan surat keterangan dari dokter yang merawat yang berisi: a) Naama pasien b) Tanggal lahir dan jenis kelamin pasien c) Nomor rekam medis pasien d) Ruang rawat/ poliklinik e) Jenis komponen darah Dokumen pasien yang harus dibawa antara lain adalah:  Surat Jaminan Pelayanan (SJP)  Kartu jaminan pelayanan (Askes/ Gakin/ Jamkesmas/ Jamkesda/ Jaminan Thalassemia. Plasma dengan kadar faktor VIII yang berkurang tidak dapat digunakan untuk penderita hemofilia. PROSEDUR PENGAMBILAN DARAH Penyebab reaksi transfusi yang sering terjadi adalah transfusi kantong darah yang salah karena sebenarnya kantong darah tersebut dimaksudkan bagi pasien lain.  Pada penyimpanan FFP dan AHF. dll) Petugas UPTD yang menerima formulir pengambilan darah harus memeriksa dan memastikan kecocokan identitas pada formulir . D. Jika suhu penyimpanan tidak sesuai maka faktor VIII akan menurun dengan cepat dalam waktu 24 jam.

pengambilan dengan identitas pada formulir permintaan darah sebelum darah disiapkan untuk dikeluarkan. telp Pada label darah petugas harus mencantumkan:  Nomor stock darah  Volume darah  Nama pasien  Ruang rawat/ poliklinik pasien  Tanggal kadaluwarsa  Tanggal pemeriksaan  Hasil pemeriksaan  Tanggal pemberian darah  Tanggal dan jam pencairan  Petugas pemeriksa Setiap darah yang akan diberikan harus dilakukan pengecekan terhadap identitas pasien pada formulir permintaan. E. PROSEDUR PEMBERIAN DARAH Setiap rumah sakit harus memiliki prosedur operasional yang baku untuk pemberian produk darah. Pada formulir permintaan yang harus dicantumkan pada kolom hasil pemeriksaan adalah:  Nomor stock darah  Tanggal aftap (tanggal pengambilan darah dari donor)  Golongan darah dan rhesus pasien  Golongan darah donor  Jenis komponen darah  Volume darah  Hasil uji silang serasi  Petugas pemeriksa dan pencatat  Nama petugas yang memberikan darah  Tanggal dan jam pemberian darah  Nama keluarga/ petugas kurir darah. no. label darah dan kantong darahnya untuk memastikan kecocokannya. Untuk setiap darah yang dikeluarkan harus disertai formulir permintaan darah dan label darah yang telah diisi oleh petugas UPTD. Sebelum darah diberikan harus harus dilakukan pengecekan kantong darah terhadap: .

Transportasi darah berbeda setiap komponennya. F.  Tanggal kadaluwarsa darah  Tanda hemolisis pada garis yang memisahkan sel darah merah dengan plasma  Tanda kontaminasi seperti perubahan warna dalam sel darah merah yang terlihat gelap atau keunguan  Bekuan darah yang menandakan darah tersebut tidak tercampur antikoagulan secara merata  Kebocoran pada kantong darah  Tanda hemolisis pada plasma yang menandakan adanya kontaminasi Pada saat pemberian darah petugas UPTD harus memastikan bahwa petugas yang mengambil darah adalah benar mengambil darah untuk pasien yang dimaksud agar tidak terjadi kesalahan pemberian darah. . dengan memakai alat transportasi standar (cool box) berisi ice park. PROSEDUR TRANSPORTASI DARAH Transportasi darah harus dilakukan sesuai prosedur agar produk darah tidak mengalami penurunan fungsinya. Sistem transportasi darah yang aman harus sesuai standar dan memperhatikan rantai dingin darah serta dalam sistem tertutup (tidak melibatkan keluarga pasien). diharapkan suhu selama transportasi dapat dipertahankan sehingga fungsi darah dapat terjaga.  Untuk PRC/ WB dibawa dengan cool box berisi ice park dengan karton pembatas antara darah dengan ice park disertai termometer  Untuk FFP/ AHF dibawa dengan cool box berisi ice park dengan karton pembatas antara darah dengan ice park disertai termometer  Untuk TC dibawa dengan cool box tanpa ice park disertai termometer Darah yang akan dibawa harus disertai formulir pengiriman darah yang sudah dibubuhi tanda tangan pengirim dan pembawa darah tersebut.

PENGAWASAN PASIEN YANG MENDAPATKAN TRANSFUSI Pencatatan pelaksanaan transfusi sangat penting untuk keselamatan pasien dan aspek medikolegal tenaga medis. yang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam dan reaksi tranfusi lambat. berat bahkan menimbulkan kematian. dan berakhirnya  Monitoring pasien sebelum. Setiap kejadian reaksi tranfusi yang akut harus segera dilaporkan ke- Unit Pelayanan Tranfusi Darah dan dokter penanggung jawab pasien. Dilihat dari waktu terjadinya. saat mulai. .BAB IV MONITORING DAN EVALUASI A. saat dan selesai transfusi  Pelaporan bila terjadi reaksi transfusi B. Perlu dicatat pada rekam medis alas an dilakukannya transfusi dan informasi lain seperti :  Telah dilakukan informed consent pada pasien atau keluarga  Tanda tangan dokter yang menginstruksikan  Pemeriksaan pra transfusi seperti :  Identitas pasien  Kantong darah  Label darah  Tanda tanga petugas yang melakukan pemeriksaan pra transfusi ini  Saat transfusi :  Jenis dan jumlah darah yang ditransfusikan  Nomor stok kantong darah  Golongan darah dan Rh kantong darah yang ditransfusikan  Waktu pelaksanaan transfusi setiap kantong darah. PELAPORAN REAKSI TRANSFUSI YANG TERJADI Efek samping tindakan transfusi darah dapat berupa komplikasi ringan.komplikasi dibagi menjadi reaksi tranfusi akut/cepat.

kirim ke Unit Pelayanan Transfusi Darah. 2. pemeriksaan berikutnya adalah: . jumlah dan no stok kantong darah yang ditransfusikan 3. Setelah pemeriksaan awal tersebut. Jika dicurigai reaksi akan berakibat fatal dan mengancam jiwa segera konsulkan pada doker jaga anastesi/tim emergency/petugas yang terlatih untuk mendampingi. Kewaspadaan terhadap gejala yang timbul dan tatalaksana yang tepat akan menyelamatkan jiwa pasien. untuk diperiksa:  1 sampel darah beku dan 1 sampel dengan pengawet EDTA (dari lengan yang berlawanan dengan sisi yang ditransfusikan) untuk pemeriksaan:  Konfirmasi ulang golongan darah dan Rh  Konfirmasi ulang pemeriksaan antibody skrining dan uji silang serasi  Pemeriksaan darah lengkap  Skrining koagulasi  Tes Direct Antiglobulin  Ureum dan Kreatinin  Elektrolit  Kultur darah  Kantong darah dan set infus yang ditransfusikan  Urin pertama pasien setelah kejadian reaksi transfusi 4. Melengkapi laporan reaksi transfusi 5. Catat kejadian ini pada rekam medis pasien.Kejadian reaksi tranfusi akut ini dapat terjadi pada 1-2% pasien yang ditranfusi. PEMERIKSAAN PADA REAKSI TRANSFUSI CEPAT 1. Ambil sampel darah baru dari pasien. Segera laporkan kejadian reaksi tranfusi (kecuali reaksi alergi urtikaria ringan dan febril non hemolitik) yang terjadi kepada dokter penanggung jawab dan Unit Pelayanan Transfusi Darah. termasuk:  Jenis reaksi transfusi  Jarak terjadinya reaksi dari saat awal dilakukan transfusi  Jenis darah.

minggu bahkan bulan setelah transfusi sering transfusi sebagai penyebab terlupakan. Reaksi hemolitik lambat dapat terjadi 3-21 hari setelah tranfusi. Pemeriksaan yang perlu dilakukan :  Konfirmasi ulang golongan darah dan Rh pasien  Pemeriksaan tes Direct Antiglobulin  Pemeriksaan Skrining antibody  Peningkatan Bilirubin C. Pendokumentasian semua hasil pemeriksaan atas kejadian reaksi transfusi ini pada rekam medis pasien untuk follow up lebih lanjut bila diperlukan REAKSI TRANSFUSI LAMBAT Reaksi tranfusi lambat dapat terjadi karena reaksi hemolitik atau karena penyakit infeksi melalui transfusi darah.  Sampel urin pasien selama 24 jam 6. karena itu penting untuk mencatat dengan akurat semua tindakan transfusi pada rekam medis pasien dan mempertimbangkan reaksi transfusi sebagai salah satu diagnosis bandingnya. PEMANTAUAN PENGGUNAAN DARAH YANG RASIONAL Peneyediaan darah yang mencukupi bergantung pada kebutuhan sesungguhnya pasien di tiap ruangan. Karena reaksi transfusi terjadi setelah beberapa hari.  1 sampel darah beku dan 1 sampel dengan pengawet EDTA (dari lengan yang berlawanan dengan sisi yang ditransfusikan) untuk pemeriksaan jam ke-12 dan ke-24 setelah kejadian reaksi transfusi. penyebabnya adalah antibodi yang terbentuk oleh rangsangan berulang dan tidak terdeteksi saat dilakukan uji silang reaksi. Pengetahuan akan .

Bila rasio melebihi 2 berarti terjadi penggunaan yang berlebihan dari yang dibutuhkan. Dibutuhkan juga pelatihan-pelatihan penggunaan darah yang rasional pada para klinis serta adanya standar pemakaian darah untuk tiap jenis tindakan/operasi yang disepakati bersama. sehingga perkiraan kebutuhan darah dapat lebih akurat. Pemantauan penggunaan darah yang rasional dilihat dari rasio darah yang dilakukan uji silang serasi (crossed/di uji silang serasi) disbanding penggunaan darah yang sesungguhnya (transfusid/ditransfusikan). Untuk pemantauan rasio cross/transfusid (C/T) ini unit Pelayanan Transfusi darah RS dinda mensyaratkan dikembalikannya label darah yang menyertai setiap kantong darah untuk dikembalikan ke UPTD baik darah ditransfusikan maupun tidak untuk dibandingkan dengan semua kantong darah yang dilakukan uji serasi di UPTD.penggunaan darah yang rasionaldan keterampilan klinis terutama pembedahan sangat mempengaruhi penggunaan darah. . Hal ini bisa berakibat dibutuhkannya tempat penyimpanan yang berlebihan serta adanya darah yang akhirnya akan kadaluwarsa.