You are on page 1of 20

Fisika Kesehatan dan Proteksi Radiasi

1. Proteksi Radiasi dalam Institusi Medis (Pendahuluan)
2. Dosimetri pasien dalam pencitraan diagnostik
3. Instrumentasi dan keselamatan dalam kedokteran nuklir
4. Keselamatan dalam brakhiterapi
5. Kalkulasi fungsi transmisi radiasi pengion
6. Shielding linac (pendahuluan)
7. Perencanaan tanggapan darurat medi/radiologi
8. Inspeksi fasilitas medis pengguna radiasi pengion
9. Efek biologi radiasi pengion dari eksposi medis
10. Pelaksanaan program Fisika Kesehatan

Proteksi Radiasi dalam Institusi Medis (Pendahuluan)

Fisika Kesehatan yang akan dibicarakan dalam kuliah ini berkaitan
dengan berbagai informasi kegiatan praktis fisikawan kesehatan yang
bekerja di institusi medis. Saat ini di tanah air fisikawan kesehatan
belum dikenal, sebagian kecil tugas mereka dilaksanakan oleh PPR
(petugas proteksi radiasi), yang mendapat lisensi dari BAPETEN.
Apabila Fisika Medis sudah mantap, sedikit demi sedikit peran
fisikawan kesehatan di rumah sakit dapat ditegakkan.

Fisika Kesehatan adalah profesi yang fokus dengan pekerjaan dengan
radiasi pengion. Profesi ini mencakup berbagai bidang spesialisasi,
yang semuanya merupakan cara proteksi individual yang
melaksanakan pekerjaannya, masyarakat umum, dan lingkungan,
dari radiasi yang merugikan. Proteksi radiasi memerlukan
pengetahuan mengenai interaksi radiasi dengan materi dan benda
hidup.

Perlu diperhatikan bahwa untuk kontrol penggunaan radiasi pengion,
beberapa persyaratan utama harus dipenuhi:
1. Pendidikan semua individu yang bekerja dengan radiasi
pengion (pendidikidan terstruktur, berbagai training)
2. Peralatan dengan kondisi fungsional prima, dengan perawatan
dan kualitas kontrol teratur
3. Peraturan lokal, yang dibuat oleh institusi
4. Peraturan pemerintah

Standar persyaratan proteksi terhadap radiasi pengion

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 33 Tahun 2007
tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber
Radioaktif mengatur persyaratan penggunaan radiasi pengion,
termasuk dalam bidang medis.
 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 29 Tahun 2008
tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan
Bahan Nuklir

Prinsip dasar keselamatan: 1. Indonesia termasuk anggota IAEA (international atomic energy agency). dilakukan oleh BAPETEN (badan pengawas tenaga nuklir nasional). Tanggung jawab utama untuk keselamatan harus disandarkan pada seseorang atau organisasi yang bertanggung jawab pada berbagai fasilitas ataupun aktivitas yang menimbulkan bahaya radiasi. Peran pemerintah. Kepemimpinan dan manajemen yang efektif untuk keselamatan harus didirikan dan dilestarikan dalam organisasi . oleh karenanya peraturan pengawasan penggunaan radiasi pengion untuk tujuan medis mengambil beberapa rekomendasi IAEA yang tertuang dalam BSS No 115 (International Basic Safety Standards for Protection Against Radiation and Ionizing Radiation and for the Safety of Radiayion Sources). dan mengontrol berbagai eksposi radiasi pengion sehingga bahaya berbagai radiasi. termasuk kemungkinan berbagai efek kesehatan dan dampak pada lingkungan dapat dikurangi sampai pada tingkat pencapaian yang selayaknya. maka diperlukan pengawasan/kontrol pemerintah.Dengan adanya peraturan pemerintah. mengelola. Tujuan ini harus dicapai tanpa terlalu membatasi operasional fasilitas ataupun pelaksanaan aktivitas yang mengakibatkan bahaya radiasi. Suatu badan pemerintah yang efektif untuk keselamatan. Kepemimpinan dan manajemen untuk keselamatan. yang direpresentasikan dengan lisensi yang dengan masa berlaku tertentu. Pengawasan penggunaan radiasi pengion di tanah air. 2. Oleh karenanya sistem proteksi dan keselamatan bertujuan menilai. Dinyatakan bahwa tujuan dasar keselamatan adalah proteksi masyarakat dan lingkungan dari efek radiasi pengion. Tanggung jawab untuk keselamatan. termasuk badan pengawas independen harus didirikan dan dilestarikan/terus menerus 3. sehingga lisensi peralatan produksi radiasi pengion dan sumber radioaktif untuk tujuan medis dikeluarkan oleh institusi ini.

Justifikasi fasilitas dan aktivitas. Pembatasan risiko pada para individu. Semua praktek usaha harus dibuat untuk mencegah dan mitigasi/mengurangi kecelakaan nuklir atau radiasi. 6. 7. Pencegahan kecelakaan. menyediakan teknik pedoman dalam perkembangan dan rencana implementasi keselamatan radiasi. Masyarakat dan lingkungan. 9. Proteksi harus dioptimasikan untuk memperoleh keselamatan tingkat tertinggi yang layak dapat dicapai. saat ini dan masa datang. Pada prinsipnya peraturan lisensi memasukkan implementasi program proteksi radiasi yang menjamin sesuai dengan berbagai ketentuan antara lain: . Fasilitas dan aktivitas yang menimbulkan risiko radiasi harus menhasilkan manfaat. 4. Tindakan protektif untuk mengurangi berbagai bahaya radiasi yang sudah ada ataupun yang tidak/belum diatur harus dijustifikasi dan dioptimasi. Proteksi generasi sekarang dan yang akan datang. Optimasi proteksi. Kesiapan dan tanggapan kedaruratan. Pengaturan harus dibuat untuk kesiapan dan tanggapan kedaruratan/emergency kecelakaan nuklir atau radiasi. 10. Tugas dan tanggung jawab RSO sebagian ditentukan oleh pemberi lisensi agar sesuai dengan standard ketentuannya (BAPETEN). dibuat oleh petugas proteksi radiasi (PPR) yang dikenal di luar negeri sebagai RSO (radiation safety officer). 5. 8. berkaitan dengan fasilitas dan aktivitas yang menimbulkan bahaya/risiko radiasi. harus diproteksi terhadap berbagai risiko radiasi. Pengukuran untuk mengontrol risiko radiasi harus menjamin bahwa tidak ada individu yang menderita bahaya risiko yang tidak dapat diterima. Adapun peraturan lokal. Seorang RSO berkualifikasi melalui training dan pengalaman.

memasukkan faktor bobot radiasi WR H = D x WR Satuan dosis ekuivalen adalah Sievert (Sv). H )   (WT . 1 rem = 0. dan satuan non SI adalah rem. D) all organs all organs Dosis efektiv E merupakan ukuran risiko berkaitan dengan paparan radiasi .01 Sv Dosis efektiv E. Satuan dalam Proteksi Radiasi Dosis ekuivalen H. E   (WT . memasukkan variasi sensitivitas jaringan terhadap radiasi WT.  Batas dosis pekerja radiasi  Batas dosis untuk anggota publik  Pemantauan dan labeling material radioaktif  Transportasi material radioaktif  Pelaporan kehilangan atau pencurian material radioaktif ataupun unit/pesawat yang memproduksi radiasi pengion. WR .

Perlu diperhatikan bahwa konsep dosis efektif dan faktor bobot jaringan hanya dipakai berkaitan dengan efek stochastik.2) dibanding dengan untuk organ lain. Radiobiologi dan Risiko Dalam proteksi radiasi berdasarkan efek radiasi mempunyai 2 tujuan utama sebagai berikut: . Artinya efek genetik memiliki kemungkinan sekitar seperempat dari kemungkinan induksi kanker apabila seseorang menerima paparan radiasi.Nilai faktor WT gonad paling tinggi (0.

mencegah terjadi efek deterministik. Yang berarti efek ini tidak memiliki dosis ambang. di bawah dosis tersebut tidak ada efek yang dapat diamati. malignansi dan heridity. mengingat induksi kanker tidak tergantung pada dosis rendah ataupun tinggi. mengurangi kemungkinan efek stochastik Efek deterministik Pada umumnya efek deterministik sebagai akibat pembunuhan sel. yang selanjutnya diperkirakan terjadi pula pada manusia. Selain itu efek heridity yang secara statistik yang telah terbukti terjadi pada kelompok mammalian. 1. Efek akan meningkat dengan kenaikan dosis setelah melewati dosis ambang. Efek ini spesifik untuk jaringan tertentu. Namun kemungkinan . dikenal sebagai efek stokhastik karena sifatnya yang rambang. seperti paparan tinggi akibat kecelakaan 2. Efek ini berlaku untuk semua tingkat dosis. Efek yang terdeteksi secara epidemiologi. dan keparahan efek tidak tergantung pada dosis. Dapat pula menimbulkan kerusakan sel syaraf (yang selanjutnya mengakibatkan kelumpuhan apabila terjadi kerusakan spinal cord). Efek ini mempunyai dosis ambang. Secara konseptual dinyatakan bahwa DNA kemungkinan dapat mengalami kerusakan akibat paparan dari radiasi tunggal. Sebagai contoh efek erytema pada kulit. Efek stochastik Radiasi juga dapat menimbulkan efek somatik seperti induksi malignansi. yang muncul dalam waktu lama setelah individu menerima radiasi dan mungkin secara epidimiologi terdeteksi pada suatu populasi. dalam beberapa kasus berat dapat mengakibatkan sindrom akut yang tergantung pada individu secepatnya setelah menerima radiasi. yang selanjutnya dapat menghasilkan transformasi dari sel sehat menjadi sel malignant.

Demikian pula dengan efek heridity. Sebagian . Pencitraan medis berkontribusi tinggi dalam memberikan eksposi radiasi pengion pada rata-rata individu (90% di USA).efek akan meningkat dengan kenaikan dosis.

diikuti oleh staf medis (pekerja radiasi). Tabel 1. Eksposi medis penduduk Amerika Prosedur Pasien/tahun dosis Kemungkinan efek pada kesehatan Pemeriksaan 200 – 500 juta Sampai sekitar 20 Secara teori risiko kanker konvensional dan mGy dental dengan sinar x Diagnostik kedokteran 5 – 6 juta Sampai sekitar 15 Secara teori risiko kanker nuklir mGy Angiografi dan 4 – 5 juta Sampai 30 mGy. Dosis pasien mempunyai rentang lebar. dapat dinyatakan sebagai 4 sampai 5 kelompok nilai. misalnya menghindarkan skrining dengan pemeriksaan diagnostik. dan anggota publik (seperti staff administrasi radiologi diagnostik). Dalam aplikasi diagnostik. Dalam radioterapi. Sebagai contoh eksposi radiasi medis pada penduduk Amerika ditunjukkan dalam tabel berikut (National Research Council 2005). dosis pasien dapat mencapai 70 Gy (70 000 mGy) atau lebih tinggi lagi. dosis pasien pada umumnya dalam rentang 1 – 20 mGy. Jumlah pasien yang menjalani pemeriksaan diagnostik lebih dari 95% semua pasien aplikasi radiasi dalam medis. risiko kanker pada anak Pasien merupakan penerima manfaat. Efek akut pada kulit.besar diterima oleh pasien. pemeriksaan QC peralatan teratur dan harus dilaksanakan oleh qualified staff. dan merupakan salah satu tujuan program proteksi radiasi untuk menjaga eksposi yang tidak produktif mencapai minimum. intervensional lainnya tetapi dapat jauh risiko kanker lebih tinggi tergantung waktu fluoroskopi Radioterapi (semua 1 – 2 juta 10 – 70 Gy Kerusakan jaringan dan modalitas) organ. mengatur kolimasi sesuai dengan luas lapangan tubuh . tidak dapat dihindarkan dari eksposi radiasi. Beberapa cara mengurangi eksposi yang tidak diperlukan.

di bawah dosis tersebut tidak ada efek yang dapat diamati. Yang berarti efek ini tidak memiliki dosis ambang. Pada umumnya efek deterministik sebagai akibat pembunuhan sel. dan jumlah paparan  Efek terjadi dini. dan keparahan efek tidak tergantung pada dosis. contoh. Efek stochastik yang paling penting dan harus diperhatikan adalah induksi kanker. terjadi pada penerima radiasi  Perbaikan dan penyembuhan terjadi  Keparahan efek meningkat dengan kenaikan dosis.yang akan diperiksa. Efek ini mempunyai dosis ambang. Sebagai contoh efek erytema pada kulit dan kerusakan sel syaraf (yang selanjutnya mengakibatkan kelumpuhan apabila terjadi kerusakan spinal cord). mengingat induksi kanker tidak . Efek ini spesifik untuk jaringan tertentu. Efek akan meningkat dengan kenaikan dosis setelah melewati dosis ambang. dan terjadi penyembuhan cepat sesudahnya  Mekanisme sudah diketahui. dalam radioterapi Efek stokastik Efek ini berlaku untuk semua tingkat dosis. Secara konseptual dinyatakan bahwa DNA kemungkinan dapat mengalami kerusakan akibat paparan dari radiasi tunggal. penggunaan berbagai shielding tubuh seperti apron. umumnya dalam hari atau minggu. Efek deterministik diperkirakan terjadi pada tingkat jaringan. laju dosis. yang selanjutnya dapat menghasilkan transformasi dari sel sehat menjadi sel malignant. dan mempunyai beberapa sifat berikut  Efek terlihat setelah dosis > 150 mGy  Dosis ambang bervariasi tergantung pada jenis jaringan  Merupakan efek somatik. terutama pada jaringan dengan sel yang aktif mitosis.

pernafasan dan pencernaan. sedangkan efek genetik diakibatkan oleh mutasi chromosome yang produksi efek pada keturunan. Beberapa sifat efek carcinogenesis  Risiko cancer tidak sama untuk semua bagian tubuh .tergantung pada dosis rendah ataupun tinggi. Namun kemungkinan efek akan meningkat dengan kenaikan dosis. Efek non cancer Efek stochastik non cancer ditemukan dari hasil analysis mereka yang survive akibat bom Hiroshima dan Nagasaki (1945). dan penyakit jantung. Secara statistik peningkatan signifikan dengan kenaikan dosis ditunjukkan untuk stroke. Efek somatik berakibat pada tubuh penerima paparan. termasuk embrio. Efek non cancer ditentukan dari data mereka yang meninggal antara tahun 1950 – 1990. Efek genetik Efek genetik dapat diakibatkan oleh deterministik ataupun stochastik.

.  Mutasi hasil induksi radiasi bersifat resesif. Membutuhkan waktu lama untuk terjadi efek biologi.  Tidak mempunyai dosis ambang  Risiko cancer tertinggi untuk individu yang menerima paparan radiasi pada umur < 10 tahun  Bukti/fakta efek radiasi sesuai dengan fakta dari berbagai sumber. malformasi. dan hanya berhubungan dengan umur child-bearing/umur fertil. Efek deterministik.2 Sv. dosis ambang ~ 0. kehamilan 1 – 5 hari.15 tahun. efek muncul tergantung pada tingkat radiasi dalam populasi  Risiko pada generasi tergantung pada stabilitas mutasi yang terbentuk Risiko radiasi tinggi terjadi terutama pada anak ataupun in utero Risiko radiasi pada foetus ( ringkasan) 1. sehingga memungkinkan untuk memperkirakan risik Risiko genetik dari radiodiagnostik  Hanya paparan pada gonad penyebab efek genetik. leukaemia terjadi setelah 4.

dapat terjadi pre- replication (aberasi chromosom) ataupun setelah DNA replication (aberasi chromatid). . risiko 6%/Sv sampai dengan umur 15 tahun. Efek heriditer. Dosis sekitar 50 mSv pada seluruh tubuh mengakibatkan 1 atau 2 kromosom disentrik dapat ditemukan dalam 1000 sel mitotik yang diperiksa. Metoda dosimetri yang dahulu digunakan adalah dengan menghitung kromosom disentrik dalam sel yang berada dalam darah perifer. setengahnya fatal. Induksi cancer. Salah satu mekanisme yang menimbulkan aberasi adalah kesalahan penggabungan strand/pita yang patah (karena radiasi). sebelum ataupun sesudah lahir Mutagenesis Radiasi mengakibatkan aberasi chromosom. 3.2.4%/Sv. risiko 2.

Kedua banyak mutasi induksi radiasi yang resesif. sehingga kesempatan ”timbul” akan tergantung pada tingkat eksposi keseluruhan pada populasi. namun mereka menerima dosis . Pertama. Ketiga.Ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan dalam menilai risiko genetik penggunaan radiasi dalam diagnostik. Meskipun dosis yang diterima pada saat pemeriksaan berlangsung relatif rendah. risiko pada generasi berikutnya akan tergantung pada kestabilan mutasi segera setelah terbentuk. eksposi pada gonad dominan tetapi bagi mereka yang telah melewati umur fertil tidak dapat merupakan komponen penting lagi. Berdasarkan penelitian pada tikus. diperkirakan pada manusia Staff medis pekerja radiasi bekerja dengan radiasi dalam jangka waktu lama.

Triad pertama berkaitan dengan prinsip proteksi radiasi. staf yang bekerja dekat ruang pencitraan diagnostik. Anggota publik dapat diproteksi dari radiasi dengan melarang masuk ke dalam daerah terkontrol. suatu pencitraan medis dengan radiasi pengion dilakukan. dan time-distance-shielding. dengan memperhatikan:  Harus selalu ada perkiraan manfaat (justifikasi)  Dosis pada setiap orang (pasien dan staf ) sebaiknya as low as reasonably achievable (ALARA). (optimization)  Dosis sebaiknya tidak tinggi sehingga tidak menimbulkan risiko radiasi (limitation) Triad kedua berkaitan tindakan proteksi radiasi. Keselamatan radiasi: Untuk keselamatan radiasi dikenal 2 kondisi triad justification- optimization-limitation. Oleh karenanya mereka harus berusaha bekerja dengan eksposi as low as reasonably achievable (ALARA). training dan monitoring staff (menggunakan film badge.akumulasi. lewat dekat ruang pencitraan diagnostik. Anggota publik. mungkin terekspos pada saat di ruang tunggu. TLD atau dosimeter OSL (optically stimulated luminiscence). Kondisi demikian dapat dikontrol dengan melakukan survai daerah kerja secara teratur. . bekerja sebagai staf administrasi. melindungi staf dan anggota publik dari eksposi radiasi dapat dilakukan dengan:  Meminimalkan waktu berada dalam medan radiasi  Berada pada jarak maksimum dari sumber radiasi  Memberi shielding cukup antara sumber radiasi dengan individu yang dilindungi.

dan batas dosis yang diterima oleh mereka yang mungkin terekspos radiasi.4%/Sv. BAPETEN. Publication 60. termasuk proteksi radiasi (Contoh di Indonesia.  Mutasi hasil induksi radiasi bersifat resesif. 5. Risiko genetik dari radiodiagnostik  Hanya paparan pada gonad penyebab efek genetik. Rekomendasi ICRP . 1990. dosis ambang ~ 0. setengahnya fatal. Efek deterministik. Efek heriditer. Setiap negara memiliki peraturan dan badan khusus yang menangani pengawasan penggunaan radiasi pengion. sebelum ataupun sesudah lahir Proteksi staf dan publik Rekomendasi dosis limit dari ICRP (international Commission on Radiological Protection).Peraturan untuk melindungi masyarakat dari radiasi pengion berkaitan dengan aturan pancaran radiasi dari sumber. malformasi. 6. risiko 2. efek muncul tergantung pada tingkat radiasi dalam populasi  Risiko pada generasi tergantung pada stabilitas mutasi yang terbentuk Risiko radiasi tinggi terjadi terutama pada anak ataupun in utero Risiko radiasi pada foetus ( ringkasan) 4. kehamilan 1 – 5 hari. dan hanya berhubungan dengan umur child-bearing/umur fertil. Induksi cancer. risiko 6%/Sv sampai dengan umur 15 tahun.2 Sv. disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada saat itu. badan pengawas tenaga nuklir) Rekomendasi ICRP berubah.

ditekankan dosis pada individu untuk proteksi publik. Namun kemajuan ilmu dan teknologi dalam pemeriksaan radiologi sering peningkatan dosis pada pasien tidak dapat dihindarkan. dan shielding.Tahun Dosis limit pekerja radiasi 1934 . Oleh karenanya. Perlengkapan peralatan proteksi radiasi pada berbagai pesawat diagnostik meningkat. kompromi antara asas manfaat dan risiko menjadi pertimbangan dalam justifikasi harus diperhatikan. dosis pasien menjadi perhatian. karena dosis yang diterima staf proporsional dengan dosis pasien.1950 450 mSv/tahun 1950 – 1958 150 mSv/tahun 1958 – 1990 50 mSv/tahun 1990 . Pasien berhak untuk memperoleh manfaat tinggi dengan pemeriksaan/ tindakan menggunakan eksposi rendah. Implementasi dalam medis tidak hanya menggunakan prinsip ALARA. jarak.. merekomendasikan setiap individual sebaiknya berada dalam daerah lapangan radiasi dalam waktu secepat mungkin. reduksi memperhatikan faktor waktu. Faktor waktu. Invers square law berlaku untuk sumber radiasi berbentuk titik. Radiasi hambur tinggi (contoh fluoroskopi). namun juga memasukkan etika.sekarang 20 mSv/tahun Mulai tahun 1990. Radiasi hambur dari pasien dan peralatan lain tidak merupakan . Jarak. Proteksi staf Dosis pasien diusahakan serendah mungkin.

sehingga hubungan antara dosis dan jarak menjadi kompleks. bukan untuk berkas primer. 0. ditentukan sebagai daerah terkontrol. Pekerja radiasi . Daerah yang memungkinkan pekerja radiasi menerima 3/10 batas dosis yang diperbolehkan. Namun untuk proteksi radiasi invers square law dapat digunakan.5 Sv/jam).sumber titik. yang umumnya > 7.25 mm untuk sinar X < 100 kVp) dipakai untuk melindungi tubuh.35 mm untuk sinar X > 100 kVp. dan didesain untuk radiasai hambur. Daerah supervised bila seseorang dimungkinkan menerima dosis (1/10 – 3/10 batas dosis. Shielding/pelindung. Personel sebaiknya berdiri sekitar 2 m dari sumber hamburan bila memungkinkan. Daerah kerja dengan paparan tinggi. Lead apron (0.5 mm. Pb adalah pelindung paling efesien dalam diagnostik. 0. memerlukan pemantauan khusus.

kemungkinan menerima dosis melebihi 6 mSv/tahun Limit dosis untuk foetus 1 mSv setelah kehamilan diketahui. Sebagai contoh . catatan pemantauan individual disimpan dan tersedia setiap saat diperlukan sampai 30 tahun setelah bekerja dengan radiasi atau berumur 70 tahun)  Kelompok B. Kelompok A. menerima dosis melebihi sekitar 6 mSv/tahun (3/10 dosis limit). dinding ruangan  Mobile unit. pembatasan dosis tidak mengikuti dasis bagi anggota publik. tambahan wawasan dan refreshing. diperhatikan khusus. orthopedists. pekerja radiasi bukan kelompok A  Mahasiswa dengan umur < 18 tahun. arah berkas sinar X diperhatikan  Pemegang pasien saat pemeriksaan berlangsung. Contoh peraturan proteksi radiasi berkaitan dengan pesawat sinar X. Dosis tinggi terutama diterima oleh staf (radiologists) yang melakukan pemeriksaan intervensional. ~ 2 mSv pada kulit abdomen ibu yang diperkirakan foetus menerima dosis tidak melebihi 1 mSv. dan cardiologists. limit dosis ekuivalen lensa mata 50 mSv/tahun dan 150 mSv/tahun untuk 1 cm2 kulit  Semua pekerja radiasi memiliki pengetahuan mengenai prinsip dasar radiasi dan proteksi radiasi. Proteksi publik  Shielding permanen. limit dosis efektif 6 mSv/tahun. Kursus berkala diperlukan. Food and Drug Administration membuat peraturan berkaitan dengan standar operasional beberapa peralatan klinik.

dan lebih rendah dari 10 cGy/min bila dioperasikan dengan mode otomatik.  Harus ada timer yang berbunyi bila flouroskopi kontinu sudah berlangsung 5 menit.  Jarak sumber ke permukaan kulit (SSD.1 cGy/jam pada jarak 1 m dari tabung.peraturan pesawat sinar X untuk fluoroskopi. . yang harus memenuhi peraturan berikut:  Laju kerma udara pada titik berkas masuk pada pasien harus lebih rendah dari 5 cGy/min (5R/min) bila dioperasikan manual.  Radiasi bocor dengan kVp tertinggi dan mA maksimum sesuai dengan spesifikasi pabrikan maksimum sekitar 0. source to skin distance) minimum 38 cmuntuk sistem fluoroskopi stationer dan 30 cm untuk sistem unit mobile (pengecualian untuk prosedur bedah khusus bila diperlukan).