BAB VII

PERJANJIAN LINGGARJATI DAN RENVILLE

B
ab ini akan membahas mengenai upaya penyelesaian konflik Indonesia
dan Belanda melalui perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville,
kedua perjanjian tersebut memiliki arti penting dalam upaya
mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada awal kemerdekaan. Upaya
diplomasi merupakan salah satu cara yang digunakan pihak Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun pada akhirnya Belanda
melanggar kedua perjanjian tersebut.

TIK
Setelah mempelajari Bab 7 ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan upaya bangsa Indonesia melaui diplomasi dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia .
2. Mendeskripsikan isi perjanjian Linggarjati
3. Mendeskripsikan isi perjanjian Renville
4. Menjelaskan dampak positif dan negative upaya diplomasi bangsa
Indonesia dalam perjanjian Linggarjati dan Renville

Sejak awal berdirinya pemerintahan RI, strategi perjuangan yang cukup
populer di antara elite politik Indonesia adalah jalur diplomasi. Prioritas politik
luar negeri Indonesia pada masa revolusi adalah mengusahakan pengakuan
internasional bagi kemerdekaan Indonesia. Tujuan lainnya adalah mencari
perantara untuk menyelesaikan sengketa Indonesia–Belanda di bawah
pengawasan PBB
Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan,
berlangsung selama empat tahun. Dalam periode mempertahankan kemerdekaan
itu, bangsa Indonesia disamping menggunakan kekuatan senjata juga aktif dalam
bidang diplomasi. Untuk mengetahui bagaimana bangsa Indonesia dalam

190 | S N I 5
mewujudkan perjuangan diplomasi, maka di bawah ini akan diuraikan hasil
hasil-hasil
yang dicapai melalui perjungan diplomasi khususnya Perjanjian Linggarjati dan
Perjanjian Renville.

Gambar. Suasana perundingan
p Wakil-wakil Indonesia dan Belanda yang diketuai oleh
Diplomat Inggris Lord Killearn sebagai penengah di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1946.
Sumber: Repro foto 30 Tahun Indonesia Merdeka

1. Perjanjian Linggarjati
Sejak tahun 1946, telah dimulai serangkaian perundingan antara Indonesia
dengan Belanda untuk mencari menyelesaikan sengketa antara ke dua belah pihak.
Setelah kabinet Syahrir II terbentuk, maka pada tanggal 14-24
14 24 April 1946
berlangsung perundingan antara Indonesia dengan Belanda di Hoge Valuwe,
dengan perantara seorang diplomat Inggris yaitu Clark Kerr.

Gambar. Gedung Perundingan Linggarjati di Cilimus,, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sumber:
google.com

191 | S N I 5
Perundingan di Hoge Valuwe ini mengalami kegagalan, yang disebabkan
karena ke dua belah pihak tidak dapat menerima usul yang ditawarkan oleh
masing-masing delegasi dalam perundingan tersebut. Walaupun itu gagal untuk
mencapai kesepakatan, akan tetapi perundingan Hoge Valuwe telah menghasilkan
prinsip-prinsip dasar sebagai landasan bagi perjanjian Linggarjati dan perjanjian
selanjutnya. Seperti yang dikemukakan oleh R.Z. Leririzza: “Di Hoge Valuwe
telah dicapai beberapa prinsip yaitu pengakuan de facto atau Republik Indonesia
(sekalipun atas pulau Jawa saja) dan kemerdekaan Indonesia dalam bentuk federal
setelah masa peralihan tertentu. Prinsip-prinsip Hoge Valuwe sesungguhnya telah
menyediakan landasan bagi perjanjian Linggarjati yang secara resmi menerima
prinsip-prinsip itu (Lapian dan Droglover, 1992)
Perjanjian Linggarjati merupakan perjanjian pertama yang dicapai antara
Indonesia dengan Belanda. Namun demikian sebelum tecapainya perjanjian
Linggarjati, antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda telah dicapai suatu
persetujuan gencatan senjata, seperti dijelaskan oleh Moh. Roem: “Konferensi
telah menerima laporan, dimana telah diterima dengan suara bulat oleh panitia
gencatan senjata. Dengan demikian panitia gencatan senjata telah menunaikan
tugasnya yang telah diberikan kepadanya. Konferensi menerima dengan suara
bulat laporan dari panitia gencatan senjata, serta dengan suara bulat menyetujui,
bahwa akan ada gencatan senjata antara kekuatan-kekuatan Sekutu dengan
Indonesia mulai hari ini. Selain itu panitia juga menyetujui dengan suara bulat
bahwa panitia bersama gencatan senjata akan membentuk sub panitia dengan
susunan, wewenang tugas, sesuai dengan kertas yang dilampirkan dengan laporan
dari panitia gencatan senjata (Roem, 1972).
Persetujuan gencatan senjata tersebut dimaksudkan, bahwa sebelum
diadakan perundingan politik antara Indonesia dengan Belanda terlebih dahulu
dicapai gencatan senjata atau penghentian tembak menembak antara kedua belah
pihak, karena apabila tembak menembak masih terus berlangsung maka
perundingan politik tidak mungkin dapat dilaksanakan. Dengan demikian maka
diadakanlah persetujuan gencatan senjata antara kedua belah pihak.

192 | S N I 5
Gambar. Sebelum berunding para peserta Nampak dari kiri ke kanan Dr. Leimena, Dr.
A.K Gani, Dr. Van Mook, Mr. Mohammad Roem, Mr. Amir Syarifuddin, Prof. Mr. Schermerhorn,
Mr. Susanto Tirtoprodjo, M. Van PollF. De Boer, PM Sutan Sjahrir, Mr. A.K. Priggodigdo, Dr.
Soedarsono, dan Mr. Ali Budiarjo. Sumber: Repro foto 30 Tahun Indonesia Merdeka

Dengan tercapainya persetujuan gencatan senjata antara pihak Indonesia
dengan pihak Belanda pada tanggal 14 Oktober 1946, maka pertempuran segera
terhenti. Dengan terhentinya pertempuran berarti kesempatan baik untuk membuat
persetujuan-persetujuan politik, karena antara Indonesia dengan Belanda masih
banyak terdapat perbedaan-perbedaan keinginan yang sulit dipertemukan, dan
dirasa sangat perlu untuk diselesaikan lewat perundingan-perundingan.
Atas jasa baik dari pihak Inggris, dengan mengutus diplomatnya yaitu
Lord Killearn sebagai perantara bagi perundingan antara kedua belah pihak. Atas
usaha-usaha yang dilakukan Lord Killearn inilah sehingga antara Indonesia
dengan Belanda dapat dipertemukan di meja perundingan, yang akhirnya
menghasilkan perundingan Linggarjati pada tanggal 15 November 1946.
Linggarjati adalah nama kota peristirahatan di dekat Cirebon yang terletak
di lereng Gunung Cerme (semacam Kaliurang untuk Yogyakarta). Dalam
perundingan tersebut delegasi Indonesia diketuai oleh Sultan Syahrir, sedangkan
delegasi Belanda di ketuai oleh Schermerhorn.

193 | S N I 5
Lord Killearn
(diplomat Inggris sebagai perantara dalam perundingan Linggarjati)

Sultan Syahrir Schermerhorn
(Delegasi Indonesia) (Delegasi Belanda)

Sumber : https://www.google.com/search?q=PERUNDINGAN+LINGGARJATI
https://www.google.com/search?q=PERUNDINGAN+LINGGARJATI

Persetujuan Linggarjati memuat 17 pasal ketentuan. Sedangkan pokok
pokok-
pokoknya adalah sebagai berikut:
1) Pemerintah Belanda mengakui kenyataan kekuasaan de facto pemerintah
RI atas Jawa, Madura dan Sumatra. Daerah-daerah
Daerah daerah yan diduduki ol
oleh
tentara Sekutu atau Belanda seara berangsur-ansur
berangsur ansur dan dengan kerja
samakedua pihak akan dimasukkan ke dalam daerah RI (pasal1);

194 | S N I 5
2) Pemerintah Belanda dan Pemerintah RI akan bekerja sama untuk
membentuk NIS yang meliputi seluruh wlayah India-Belanda sebagai
negara berdaulat, dengan mengingat cara-cara yang demokratis dan hak
menentukan nasib sendiri (pasal 2, 3, dan 5 ayat 2)
3) Pemerintah Belanda dan RI akan membentuk Uni Indonesia Belanda.
Adapun negeri Belanda dalam yang dimaksud dengan Indonesia ialah NIS.
Uni dipimpin oleh raja Belanda dan bertujuan untuk mengurus
penyelenggaraan kepentingan bersama (pasal 6 dan 8)
4) Pemerintah Belanda dan Pemerintah RI akan mengusahakan agar
pembentukan NIS dan Uni bisa diselesaikan sebelum 1 Januari 1949 (pasal
12).
5) Pemerintah RI mengakui, memulihkan dan melindungi hak milik orang
asing (pasal 14).
6) Pemerintah Belanda dan pemerintah RI setuju untuk mengadakan
pengurangan tentara dan kerjasama dalam hal ketentaraan (pasal 16, lihat
juga pasal 1)
7) Jika terjadi perselisihan antara pemerintah Belanda dan Pemerintah RI
perihal pelaksanaan persetujuan ini, maka kedua pihak akan menyerahkan
persoalan kepada sebuah komisi arbitrase untuk memecahkannya (pasal
17).
Dari pokok-pokok isi persetujuan yang paling penting bagi kehidupan bangsa
Indonesia ialah pasal 1(pokok 1) dn pasal 2 (pokok 2), karena ini langsung
menyangkut eksistensi RI.

195 | S N I 5
Sultan Syahrir dan Prof. Schermerhorn tengah menandatangani perjanjian Linggarjati
Sumber : P. R. S. Mani. 1989. Jejak Revolusi 1945. Sebuah Kesaksian
Kesaksian Sejarah. Jakarta: PT
Pustaka Utama Grafitri

Peta wilayah Indonesia pada masa perjanjian Linggarjati

Dengan dicapainya perjanjian Linggarjati oleh Indonesia dengan Belanda,
bukan berarti perjanjian tersebut bisa dilaksanakan. Perjanjian itu baru bisa
dilaksanakan apabila telah diratifikasi oleh parlemen masing-masing
masing masing negara yang
bersangkutan. Oleh karena itu kedua pemerintah harus berusaha untuk
meyakinkan parlemen tentang perjanjian yang telah dicapai oleh kedua delegasi.
Seperti yang dilakukan
lakukan oleh wakil presiden RI Moh. Hatta yang terus berusaha
meyakinkan anggota KNIP, agar perjanjian Linggarjati dapat diratifikasi, pada
tanggal 4 Desember 1946, beliau antara lain mengatakan: “Jika naskah tadi kita
terima, maka hasilnya lebih besar daripada
da ruginya. Untungnya
gnya ialah bahwa kita

196 | S N I 5
mendapatkan kesempatan untuk menyusun kekuatan kita dalam suasana yang
damai (Nasution,1978).

Gambar. Upacara penandatanganan naskah perjanjian Liggajati di Istana Rijswijk Jakarta
(sekarang Istana Merdeka) pada tanggal 25 Maret 1947. Sumber: Repro foto 30 Tahun Indonesia
Merdeka.

Baik parlemen Belanda maupun KNIP tidak begitu saja meratifikasi
naskah perjanjian Linggarjati, bahkan terjadi perdebatan yang berlarut-larut.
Kemudian pemerintah membawa naskah perjanjian Linggarjati kemuka sidang
KNIP pada tanggal 25 Februari 1947 yang berlangsung di Malang, dalam sidang
KNIP yang khusus membahas naskah perjanjian Linggarjati tersebut terjadi
perdebatan seru. Karena mayoritas anggota KNIP menolak pokok-pokok yang
terdapat dalam naskah perjanjian Linggarjati.
Walaupun tampaknya anggota KNIP tidak setuju terhadap naskah
perjanjian Linggarjati, namun pemerintah tetap berusaha keras untuk
mendapatkan ratifikasi dari KNIP terhadap naskah perjanjian Linggarjati. Adapun
alasan pemerintah sehingga menerima naskah perjanjian Linggarjati adalah
sebagai berikut:
1. Kayakinan bagaimanapun juga ialah jalan damai untuk mencapai tujuan
adalah yang paling aman bagi Indonesia karena kelemahannya dibidang
militer. Karena itu tercapainya tujuan perjuangan tergantung kepada
kepandaian bangsa Indonesia di dalam berdiplomasi. Cara damai ini akan
mendatangkan simpati dan dukungan Internasional yang pasti akan dan
harus diperhitungkan oleh lawan.

197 | S N I 5
2. Sehubungan dengan kelemahan militer Indonesia
Indonesia maka adanya perjanjian
itu memungkinkan pihak Indonesia untuk memperoleh kesempatan yang
baik guna mengadakan
mengadak tindakan konsolidasi militer (Moedjanto,1988
(Moedjanto,1988).

2. Perjanjian Renville
Aksi militer yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia membuat
PBB turun
urun tangan untuk mencari penyelesaian pertikaian antara kedua negara
tersebut. Setelah agresi militer Belanda tersebut,
tersebut, maka masalah Indonesia ram
ramai
diperdebatkan di Dewan Keamanan PBB, bahkan dianggap sebagai suatu hal
yang biasa membahayakan perdamaian dunia.

Gambar. Kapal Renville Amerika Serikat tempat perundingan Renville.
Renville. Sumber: google.com

Dengan demikian merupakan suatu kemenangan politik bagi Indonesia,
sebab disamping menarik campur tangan PBB juga mendatangkan simpati dari
berbagai negara terhadap RI. Kar
Karena
na banyaknya negara yang tidak setuju dengan
aksi militer yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia, termasuk Inggris
dan Amerika Serikat. Sedangkan Inggris dan Australia tampil sebagai pembela
utama Indonesia, India tampil membela Indonesia
Indonesia karena solidaritas Asia,
terutama setelah konferensi Inter
Inter-Asia
Asia di New Delhi bulan Maret 1947 juga

198 | S N I 5
karena politik beras Syahrir antara tahun 1946-1947, dimana Indonesia mampu
menyediakan beras 500.000 ton bagi India yang terancam bahaya kelaparan.
India dalam membela Indonesia berpegang pada pasal 34 piagam PBB,
yaitu mengenai “pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia” (Moedjanto,
1991). Sedangkan Australia medasrkan pembelaannya pada pasal 39 piagam PBB
yang memuat tentang ancaman terhadap perdamaian dunia.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka India dan Australia mengajukan
resolusi bersama ke Dewan Keamanan PBB pada tanggal 27 Juli 1947, agar
Belanda dan RI segera menghentikan permusuhannya dan menyerahkan
perselisihan mereka kepada komisi arbitrase sesuai dengan pasal 17 persetujuan
Linggarjati.
Akan tetapi resolusi bersama yang diajukan oleh India dan Australia
tersebut, oleh Amerika Serikat dianggap terlalu memberatkan Belanda dan
dikhawatirkan akan diveto oleh Inggris dan Prancis dan ditentang oleh Belgia
dalam DK PBB. Oleh karena itu Amerika Serikat lalu mengajukan usul
kompromi yang akhirnya diterima DK PBB pada tanggal 1 Agustus 1947.
Adapun isi usul kompromi yang diajukan oleh Amerika Serikat adalah Belanda
dan RI:
1. Menghentikan permusuhan
2. Menyelesaikan perselisihan mereka dengan bantuan komisi arbitrase atau
cara damai lainnya, dan melaporkan kepada DK PBB segala kemajuan yang
dicapai.
Sedangkan Rusia mengusulkan untuk membentuk komisi pengawas
gencatan senjata, yang kemudian didukung oleh Amerika Serikat, Australia,
Brasil, Colombia, Polandia dan Suria yang kemudian diveto oleh Prancis. Prancis
menganggap bahwa usul tersebut terlalu menguntungkan pihak Indonesia.
Prancis hanya akan setuju bila dibentuk komisi konsuler sesuai dengan jumlah
konsul yang ada di Jakarta, yang akan bertindak sebagai pengawas dan yang
harus melaporkan bagaimana pelaksanaan gencatan senjata kepada DK PBB. Dan
usul Prancis diterima oleh anggota dewan.

199 | S N I 5
Pada akhir bulan September 1947, menerima laporan komisi para konsul
yang dibentuk berdasarkan usul Prancis dan berada di Jakarta. Laporan komisi
para konsul tersebut antara lain berisi:
1. Pengumuman gencatan senjata tidak seluruhnya dapat dituruti
2. Tentara Belanda yang melakukan operasi kipas sejak 21 Juli sampai 4
Agustus, membentuk tulang-tulang kipas yang sudah menjorok jauh kedepan,
sehingga daerah-daerah antaranya terbentuk kantong-kantong yang masih
dikuasai tentara Republik.
3. Tentara Republik yang bergerak mundur melakukan taktik bumi hangus,
perampokan dan penculikan, yang secara khusus ditujukan kapada harta milik
dan orang-orang Cina (Tobing, 1986:8)
Komisi para konsul juga berpendapat, bahwa selama keadaan masih tetap
seperti sekarang, tidak akan mungkin diadakan gencatan senjata yang efektif,
komisi konsul juga mengakui bahwa komisi belum dapat menemukan cara yang
tepat untuk menanggulangi masalah tersebut.
Sementara itu pihak Belanda sendiri, dalam usaha menangkis setiap usul-
usul dan resolusi yang diajukan oleh negara-negara yang bersimpati kepada
perjuangan kemerdekaan RI kepada DK PBB, yang menyerukan gencatan senjata
dan penarikan semua pasukan Belanda ke posisi semula sebelum terjadinya
penyerangan dan menanggapi keterlibatan PBB dalam menyelesaikan sengketa
Belanda dengan Indonesia terus meyakinkan dunia internasional dengan segala
cara agar masalah Indonesia tidak dibicarakan di dalam sidang DK, karena
masalah Indonesia dianggap sebagai masalah dalam negeri Belanda sendiri.
Dalam sidang DK, Belanda yang diwakili oleh duta besarnya di PBB Dr.
N. Van Klerrens, mengajukan protes dan tetap menganggap bahwa masalah
Indonesia tidak dibicarakan dalam sidang DK karena dianggapnya sebagai
masalah dalam negeri Belanda sendiri, dan DK tidak berhak ikut campur
didalamnya.
Perdana Menteri Indonesia Sultan Syahrir ketika mendapatkan giliran
untuk berbicara di depan sidang DK PBB pada tanggal 4 Agustus 1947, berusaha
meyakinkan Dewan mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi di Indonesia.

200 | S N I 5
Beliau juga mengatakan jalan satu-satunya untuk mengakhiri pertempuran adalah
pembentukan komisi pengawas yang bertugas menjamin terlaksananya resolusi
DK PBB, perlunya Dewan Keamanan menerima usul Australia, pasukan Belanda
kedudukan semula sebelum penyerangan berlangsung (Moedjanto, 1991).
Setelah beberapa minggu berlangsungnya sidang DK, tidak ada keputusan
yang dapat diambil. Akhirnya DK menerima usul Amerika Serikat pada tanggal
25 Agustus 1947 untuk membentuk Komisi Jasa-Jasa Baik, menjadi keputusan
Dewan Keamanan yang akan membantu dalam menyelesaikan pertikaian antara
Indonesia dengan Belanda.
Berdasarkan usul Amerika Serikat tersebut, maka dibentklah Komisi Jasa-
Jasa Baik atau yang lebih dikenal dengan Komisi Tiga Negara (KTN). Cara
pembentukannya adalah, dimana Indonesia dan Belanda masing-masing
menunjuk satu negara dan kedua negara yang dipiih tersebut memilih negara
ketiga. Indonesia menunjuk Australia, seangkan Belanda menunjuk Belgia,
kemudian Australia dan Belgia menunjuk Amerika Serikat sebagai negara ketiga.
Belgia diwakili oleh Van Zeland, Australia diwakili oleh Richard C. Kirby dan
Amerika Serikat diwakili Frank Graham.
Resolusi Dewan Keamanan yang membentuk KTN itu merupakan pukulan
keras bagi Belanda. Sebab dipandang dari sudut hukum internasional merupakan
pengakuan de facto PBB atas kedaulatan RI. Karena dengan resolusi tersebut di
atas masalah Indonesia bukan lagi masalah Indonesia dengan Belanda, melainkan
sudah menjadi masalah internasional. Oleh karena itu kedua belah pihak
dihimbau supaya segara menghentikan pertikaian dan bersedia berunding untuk
mencari jalan penyelesaian.
Tanggal 27 Oktober 1947, bertepatan dengan penutupan pembahasan
masalah Indonesia dengan Belanda babak kedua di DK PBB, anggota-anggota
KTN tiba di Indonesia. Pihak Indonesia menyambut kedatangan KTN dengan
harapan, karena keputusan DK tidak memberi suatu kepastian bagi kedua belah
pihak sedangkan KTN hanya akan memberi jasa baik dan tidak berwenang
mengambil keputusan, sekalipun terjadi kemacetan yang tidak dapat
dikompromikan.

201 | S N I 5
Sebaliknya pihak Belanda menyambut kedatangan komisi dengan
perasaan kecewa, tetapi terpaksa karena mereka tidak berani menghadapi tuduhan
bahwa mereka ingin menegakkan kembali penjajahan di Indonesia. Oleh karena
itu mereka harus mampu meyakinkan KTN, bahwa satu-satunya jalan untuk
mempertahankan nilai ekonomis Indonesia adalah dengan jalan menghapuskan
Republik sekarang dan menggantinya dengan Republik yang lebih rasional
(Tobing:17).
Dengan perantaraan KTN, akhirnya dapatlah dipertemukan antara wakil-
wakil Indonesia dengan wakil-wakil Belanda, sekaligus berhasil mengatasi
kemacetan perundingan antara kedua belah pihak, dengan mengadakan suatu
perundingan yang berlangsung diatas kapal perang Amerika Serikat Renville,
dalam perundingan tersebut delegasi Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri
Mr. Amir Syarifuddin, sedangkan delegasi Belanda diwakili oleh R. Abdul Kadir
Widjodjiatmojo.
Perundingan tersebut sedikit mengalami hambatan bahkan terkesan sangat
alot, karena sulitnya untuk mempertemukan pendirian dari masing-masing
delegasi. Karena adanya tantangan dari pihak Belanda terhadap usul-usul yang
disampaikan oleh KTN, maka selanjutnya KTN menyampaikan usul baru
sekaligus sebagai pesan dalam pesan natal tersebut tanggal 26 Desember berisi
usul-usul yang sangat dekat dengan keinginan Belanda, dalam pesan natal
tersebut KTN menghendaki perdamaian dengan garis Van Mook. Karena
sebelumnya dimana dalam tuntutan Van Mook ingin mempertahankan
kedudukan militernya pada kedudukan sejak agresi 21 Juli 1947. Jadi dalam
pesan natal tersebut KTN menerima tidak lebih dari tiga bulan, Belanda
diharuskan menarik pasukannya dari daerah yang diduduki.
Selanjutnya dalam menanggapi usul KTN tersebut, Belanda antara lain
mengusulkan:
1. Agar bantuan KTN diteruskan
2. Dalam waktu tidak kurang dari 6 bulan tetapi tidak lebih dari 1 tahun setelah
penandatanganan persetujuan, perundingan yang suka rela dan bebas tentang
soal-soal yang pokok segera dilangsungkan.

202 | S N I 5
3. Akan segera dilakukan penentuan nasib tentang hubungan politik rakyat
sesuatu daerah dengan NIS.
4. Tiap pihak akan menjamin kebebasan berkumpul, berbicara dan berpendapat,
dengan catatan bahwa kebebasan itu tidak akan dipakai untuk melakukan
tindakan kekerasan atau pembalasan.
Pihak RI juga menyampaikan usul yang berisi kesediaan RI untuk
menerima usul-usul yang disampaikan oleh KTN dalam pesan natalnya tanggal
26 Desember 1947, yang disampaikan oleh ketua delegasi Indonesia Mr. Amir
Syarifuddin. Adapun usul-usul tersebut seperti yang dikemukakan oleh Anak Gde
Agung sebagai berikut:
1. Usul-usul mengetahui persetujuan gencatan senjata yang diajukan secara
tidak resmi oleh pemerintah Belanda tanggal 2 Januari 1948 serta alenia yang
dikonsep baru dan tafsiran alenia 10 tentang usul-usul ini yang disampaikan
pada 4 Januari 1948.
2. Asas-asas politik untuk pengetahuan sengketa termasuk empat pasal
persetujuan Linggarjati, yang diambil oleh “Pesan Natal” Komisi, diajukan
secara tidak resmi oleh delegasi Belanda tanggal 2 Januari 1948 dan
dirumuskan tanggal 9 Januari 1948 (1983:65).
Setelah dibahas secara terperinci usul-usull kedua belah pihak oleh
masing-masing delegasi, maka kedua delegasi tetap mempertahankan
pendiriannya masing-masing, sehingga perundingan tersebut hampir gagal.
Berhubungan karena adanya jalan buntu dalam perundingan terutama tentang
status daerah yang diduduki oleh Belanda, maka ditetapkan bahwa akan diadakan
plebisit (penentuan pendapat rakyat). Pihak Belanda setuju setelah ada jaminan
bahwa kedaulatan Nederland akan diserahkan kepada NIS sedangkan RI sendiri
hanya bagian dari NIS.
Dengan adanya jaminan tersebut, maka dapatlah dicapai dua perjanjian
antara RI dengan Belanda, yaitu masing-masing pada tanggal 17 Januari 1948
dan 19 Januari 1948. Yang terdiri dari perjanjian gencatan senjata dan 12 dasar-
dasar perjanjian politik serta 6 pasal tambahan dari KTN.
Pokok-pokok isi perjanjian Renville memuat ketentuan sebagai berikut:

203 | S N I 5
1. Republik menerima garis demakrasi Van Mook, dan bersedia menarik semua
pasukan TNI yang berada diluar garis Van Mook.
2. Setelah perjanjian Renville ditandatangani, maka kedua belah pihak bersedia
menghentikan permusuhan atau dicapai gencatan senjata.
3. Pemerintah
tah Belanda dan RI akan bekerjasama membentuk Uni Indonesia
Indonesia-
Belanda.
Dengan dicapainya perjanjian Renville, maka pertikaian Indonesia dengan
Belanda akan diselesaikan dengan jalan damai yaitu lewat perundingan. Seperti
komentar Frank Graham “from the bullet to the ballot” atau “ dari peluru ke
pemungutan suara” (dari peperangan ke plebisit atau penentuan pendapat rakyat)
r
(Moedjanto, 1991).
Memperhatikan hasil yang dicapai dalam perjanjian Renville, merupakan
suatu kerugian besar bagi RI, karena wilayah Republik
Republik Indonesia semakin sempit
bila dibandingkan dengan hasil yang dicapai dalam perjanjian Linggarjati.

Gambar. Delegasi Indonesia pada perjanjian Renville, tampak di antaranya Agus Salim dan
Achmad Soebardjo. Sumber: google.com

Dari hasil yang dicapai dalam perundingan Renville tersebut, nampaknya
banyak pihak yang tidak setuju, termasuk presiden Sukarno sendiri wakil
presiden Moh. Hatta, Amir Syarifuddin dan Syahrir serta banyak partai
partai-partai
politik yang menolak perjanjian tersebut.
tersebut. Akan tetapi berhubungan karena adanya

204 | S N I 5
laporan dari beberapa panglima tentara kepada presiden, bahwa persediaan
amunisi semakin menipis, serta adanya kepastian bahwa apabila Republik
menolak Renville, maka akan ada serangan baru dari pihak Belanda. De
Dengan
demikian, maka terpaksa perjanjian Renville diterima. Disamping itu ada
pertimbangan lain yaitu bahwa segera akan diadakan plebisit, dimana rakyat
diharapkan akan memberikan suara yang mendukung RI.
Penerimaan pemerintah RI atas perjanjian Renville, disamping
disamping karena
pertimbangan-pertimbangan
pertimbangan diatas, juga karena pemerintahan sadar bahwa dalam
suatu perundingan tiap-tiap
tiap tiap pihak yang berunding harus bersedia memberi dan
menerima. Sebab itulah hasil maksimal yang telah diusahakan oleh delegasi dan
Indonesiaa dalam perundingan Renville.
Setelah penandatanganan perjanjian Renville, maka Indonesia mengalami
masa krisis dan penuh dengan cobaan. Karena wilayah yang semakin sempit,
timbulnya pemberontakan PKI di Madiun dan selanjutnya Belanda melancarkan
agresi militer
liter yang kedua.

Gambar. Peta wilayah Indonesia pada masa perjanjian Renville.
Renville. Sumber: Google.com

205 | S N I 5
Kesimpulan

Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville merupakan bukti bahwa
Belanda ingin kembali menguasai Indonesia, yang mana kedua perjanjian
tersebut tidak membawa hasil bagi kedua pihak. Di dalam perjanjian ini Belanda
melancarkan agresinya yaitu setelah perjanjian Linggarjati terjadi Agresi Militer
Belanda I dan Agresi Militer Belanda II setelah perjanjian Renville. Kedua
perjanjian tersebut hanyalah merupakan dasar-dasar yang harus diperhatikan oleh
kedua belah pihak didalam melakukan pembicaraan-pembicaraan politik. Dalam
kenyataannya, perjanjian Linggarjati dan Renville, memang tidak lebih dari
secarik kertas yang tidak ada isinya. Belanda tidak sedikitpun mengindahkan isi
yang telah disepakati dalam perjanjian itu. Pertempuran-pertempuran bukannya
tanbah berkurang, tetapi semakin berkobar di mana-mana, RI dan Belanda sama-
sama saling tuduh menuduh dan saling tidak mengakui, bahwa dialah yang
mengingkari perjanjian itu. Sementara itu Belanda terus memperluas daerah
kekuasaannya sehingga Indonesia wilayah kekuasaannya semakin sempit.

206 | S N I 5
Glosarium

Diratifikasi : Proses adopsi perjanjian internasional, atau
konsitusi atau dokumen yang bersifat nasional
lainnya melalui persetujuan dari tiap entitas kecil
di dalam bagiannya.
De Facto : Pengakuan yang diberikan oleh suatu negara
kepada negara-negara lain yang telah memiliki
unsur-unsur seperti rakyat, wilayah, pemimpin
Diveto : hal untuk membatalkan keputusan, ketetapan,
rancangan, peraturan dan undang-undang atau
resolusi
DK PBB : Dewan Keamanan PBB
Delegasi : Perwakilan atau utusan dengan proses penunjukan
secara langsung ataupun musyawarah.
Garis Van Mook : Garis satatus quo, perbatasan buatan yang
memisahkan wilayah Indonesia dan Belanda pada
masa revolusi nasional
KNIP : Komite Nasional Indonesia Pusat
Konsolidasi militer : penyerangan dengan menggunakan militer atau
perang, menggagalkan penyerangan
Komisi Arbitrase : Badan penyelesaian sengketa atau beda pendapat
perdata oleh para pihak melalui alternatif.
Komisi konsuler : komisi yang bertugas mengawasi gencatan senjata
Indonesia-Belanda disepanjang Garis Van Mook
KTN : Komisi Tiga Negara, badan arbitrase yang tidak
memihak pihak manapun demi melerai konfil RI
dan Belanda

207 | S N I 5
NIS : Negara Indonesia Serikat
Plebisit : pemungutan suara yang dilakukan oleh suatu negara
untuk menyikapi kebijakan tertentu.

208 | S N I 5
Latihan 1
1. Kemukakan perbedaan antara Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville
2. Buatlah analisis tentang isi Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville.
3. Bagaimana pendapat anda tentang wilayah Indonesia pada masa perjanjian
Linggarjati dan Perjanjian Renville
4. Kemukakan pendapat anda terhadap sikap pemimpin yang selalu menerima
hasil perundingan Linggarjati dan Renville yang kedua perjanjian tersebut
mempersempit wilayah Indonesia.
5. Buatlah laporan dampak yang ditimbulkan dari kedua perjanjian itu bagi
kedaulatan negara Indonesia.
Latihan 2
1. Di bawah ini merupakan kesepakatan dari Perundingan Linggarjati, kecuali...
a. Belanda mengakui wilayah Indonesia meliputi Jawa, Sumatra dan Madura
b. Indonesia dijadikan sebagai negara persemakmuran berbentuk federasi
c. Dibentuk Negara Indonesia Serikat
d. Dibentuk Uni-Indonesia Belanda
e. Belanda berjanji tidak akan melakukan politik de vide et impera
2. Dalam perundingan Renville delegasi Indonesia dipimpin oleh
a. Sutan Syahrir
b. Moh. Hatta
c. Mohammad Roem
d. Abdulkadir Wijoyoatmojo
e. Amir Syarifuddin
3. Pemimpin Indonesia yang menandatangani Perjanjian Linggarjati adalah....
a. Sutan Syahrir
b. Moh. Hatta
c. Mohammad Roem
d. Abdulkadir Wijoyoatmojo
e. Amir Syarifuddin
4. Komisi Tiga Negara (KTN) berperan penting terhadap terselenggaranya
perundingan....

209 | S N I 5
a. Linggarjati
b. Hooge Value
c. Renville
d. Federal
e. Perserikatan
5. Perundingan Renville menimbulkan akibat-akibat sebagai berikut, kecuali...
a. Kabinet Amir Syarifuddin jatuh
b. Wilayah Indonesia semakin sempit
c. Pasukan Siliwangi melakukan hijrah (long march) ke wilayah RI
d. PDRI menyerahkan mandatnya kepemerintah pusat di Yogyakarta
e. Terjadinya pemberontakan DI/TII dan pemberontakan PKI Madiun
6. Perundingan yang menghasilkan pengakuan kedaulatan RI meliputi wilayah
Jawa, Sumatra, dan Madura adalah...
a. Perundingan Hooge Value
b. Perundingan Malino
c. Perundingan Linggarjati
d. Perundingan Renville
e. Perundingan Roem-Royen
7. Negara yang termasuk didalam Komisi Tiga Negara adalah....
a. Australia, Belgia, Amerika Serikat
b. Australia, Belgia, Indonesia
c. Australia, Belgia, Belanda
d. Australia, Amerika Serikat, Inggris
e. Inggris, Belanda, Amerika Serikat
8. Lord Killearn sebagai perantara bagi perundingan antara kedua belah pihak.
Atas usaha-usaha yang dilakukan antara Indonesia dengan Belanda dapat
dipertemukan di meja perundingan, yang akhirnya menghasilkan perundingan
Linggarjati. Lord Killearn berasal dari negara....
a. Belanda d. Inggris
b. Prancis e. Belgia
c. Australia

210 | S N I 5
9. Tempat dilaksanakannya perundingan Renville adalah....
a. Di kapal Renville milik Amerika Serikat
b. Indonesia
c. Belanda
d. Di Linggarjati, Jawa Barat
e. Australia.
10. Perundingan Linggarjati dilaksanakan pada tanggal
a. 15 November 1946
b. 16 November 1946
c. 17 November 1946
d. 15 Desember 1946
e. 20 Desember 1946

TAMBAHAN SOAL
1. Bagaimanakah peranan Inggris didalam proses perundingan Linggarjati.
a. sebagai perantara antara Belanda dengan Indonesia dalam tercapainya
perundingan Linggarjati
b. negara yang mendukung Belanda
c. negara yang mendukung Indonesia
d. negara yang mengadudomba Indonesia dengan Belanda
2. Mengapa Indonesia menerima perjanjian Linggarjati sementara hasil
perjanjian itu membuat wilayah Indonesia menjadi sempit.
a. Indonesia sangat bergantung pada pihak Belanda
b. Dengan kelemahan militer Indonesia maka adanya perjanjian itu
memungkinkan pihak Indonesia untuk memperoleh kesempatan yang baik
guna mengadakan tindakan konsolidasi militer.
c. Supaya Indonesia dapat melakukan perjanjian lagi dengan Belanda
d. Agar Indonesia bisa merdeka secepatnya.
3. Mengapa disebut sebagai perjanjian Renville.
a. Karena perjanjian ini dilakukan oleh pihak Belanda
b. Delegasi yang mewakilinya bernama Renville

211 | S N I 5
c. Renville adalah nama tempat di Amerika Serikat
d. Karena perjanjian Renville dilaksanakan diatas kapal Renville
4. Jelaskan mengapa Dr. Beel tidak mengakui isi perjanjian renville?
a. Agar Belanda merasa leluasa melakukan agresi terhadap Republik
Indonesia.
b. Karena isi Perjanjian Renville sangat merugikan pihak Belanda
c. Agar Belanda masih bertahan di Indonesia
d. Dr. Beel menginginkan Indonesia jatuh ketangan Belanda
5. Bagaimanakah peranan KTN dalam Perjanjian Renville.
a. Dengan perantaraan KTN, akhirnya dapatlah dipertemukan antara wakil-
wakil Indonesia dengan wakil-wakil Belanda dalam Perjanjian Renville
b. KTN dapat mempercepat penyelesaian konfil antara Indonesia dengan
Belanda
c. KTN adalah organisasi bentukan Belanda sehingga mendukung
perjuangannya
d. dengan adanya KTN Indonesia dapat merdeka secepatnya
6. Mengapa Divisi Siliwangi dipindahkan ke Jawa Tengah setelah perjanjian
Renville...
a. Karena Divisi Siliwangi ingin menghindari pihak Belanda
b. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah
pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur, hal ini sesuai dengan isi
perjanjian Renville
c. Divisi Siliwangi ingin melindungi rakyat Yogyakarta
d. Karena di Jawa Tengah kondisinya sangat memungkinkan untuk
melakukan perang.
7. Berikut ini dalam perjanjian Linggarjati ada beberapa negara yang mengakui
kekuasaan RI kecuali....
a. Inggris
b. Amerika Serikat
c. Mesir
d. Jepang

212 | S N I 5
8. Karena tidak setuju dengan isi perjanjian Renville pejuang RI Kartosoewiryo
kemudian mendirikan...
a. NII
b. DI/TII
c. RIS
d. NIT
9. Berikut ini adalah partai-partai yang menentang perjanjian Linggarjati
adalah...
a. PNI
b. GOLKAR
c. PDI
d. MURBA
10. Yang mendirikan DI/TII sebagai reaksi dari perjanjian Renville adalah....
a. Kartosuwiryo
b. Kabinet Amir Syarifuddin
c. Kahar Muzakkar
d. Sultan Syahrir

213 | S N I 5
Daftar Pustaka

A. B. Lapian dan P. J. Droglever. 1992. Menelusuri Jalur Linggarjati. Jakarta:PT
Pustaka Utama Grafiti.
Agung, Anak Gde. 1983. Renville. Jakarta: Sinar Harapan.
Kahin, Audrey R.1985. Pergolakan Daerah Pada Awal Kemerdekaan. Jakarta: PT
Pustaka Grafiti.
Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad 20 (2). Yogyakarta:Kanisius.
Nasution, A.H. 1978. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 4. Bandung:
Angkasa.
Roem, Mohammad. 1972. Bunga Rampai dari Sejarah Jilid II. Jakarta: Bulan
Bintang.
Sumarkidjo, Atmadji. 2000. Mendung di Atas Istana Merdeka. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Sekretaris Negara Republik Indonesia. 1985. 30 Tahun Indonesia Merdeka.
Jakarta: PT. Citra Lemtoro Gung Persada
Tobing, K.M.L. 1986. Perjuangan Politik Bangsa Indonesia Renville. Jakarta: PT
Gunung Agung.

https://www.google.com/search?q=PERUNDINGAN+LINGGARJATI

214 | S N I 5
BAGAN MATERI

Uapaya Penyelesaian
Konflik Indonesia-
Belanda

Diplomasi/
Perundingan

Perundingan
Perundingan Renvile
Linggajati

Komisi Tiga Negara

215 | S N I 5