You are on page 1of 19

BAB IV

ANALISIS KASUS

1. Diagnosis Banding
Kandidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut
disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan
dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru kadang-kadang
dapat menyebabkan septikemia, endokarditis atau meningitis.
Berdasarkan keluhan utama pasien yaitu Timbul bintil berisi nanah
dengan dasar berwarna merah pada bokong, dada dan kening pasien sejak ± 2
minggu yang lalu atau dengan kata lain terdapat efloresensi berupa pustul
dengan dasar yang eritema , maka didapatkan tiga diagnosis banding untuk
kasus ini, yaitu Kandidiasis kutis, Tinea korporis dan Dermatitis atopik. Uraian
untuk masing-masing diagnosis banding tersebut ditinjau dari aspek
epidemiologi, gejala klinik, etiologi, predileksi dan efloresensi.

1) Aspek Epidemiologi
Ditinjau dari aspek epidemiologi, ketiga diagnosis banding tersebut
masing-masing mendekati kasus. Pada kasus diketahui bahwa pasien berjenis
kelamin laki-laki dan berusia 2 tahun, suku melayu berkebangsaan Indonesia
(Asia), keluhan pertama kali muncul yaitu saat berusia 2 tahun dan
berlangsung selama 2 minggu. Berdasarkan teori, Candidiasi kutis dapat
menyerang laki-laki dan perempuan pada semua usia,. Sedangkan untuk Tinea
korporis epidemiolginya lebih banyak menyerang pada usia dewasa
walauppun tidak ada perbedaan terhadap jenis kelamin. Dermatitis Atopi,
lebih sering menyerang wanita pada semua usia. Mengingat jenis kelamin
pasien pada kasus ini adalah laki-laki, hal ini berarti dapat membantu
menyingkirkan diagnosis banding Dermatitis atopi.

19

Akan tetapi berbeda dengan keluhan gatal pada Dermatitis atopik yang terutama timbuk saat cuaca dingin. Hal diatas sesuai dengan manifestasi dari Kandidiasis kutis dan tinea korporis. penyakit kulit yang residitif kronis dana adanya riwayat atopi baik pada pasien maupun kelurganya. Tabel 1. baik laki-laki orang dewasa. pada musim hujan 2 . pada jenis kelamin tidak ada Indonesia lebihtinggi pada dan suku/ras. keluhan semakin bertambah saat pasien berkeringat dan tidak dipengaruhioleh cuaca dingin. 2) Gejala Klinis Pasien awalnya mengeluh muncul bintil nberisi nanah yang muncul tanpa sebab yang jelas. Diagnosis Banding Kasus Ditinjau dari Aspek Epidemiologi Diagnosis Banding Kasus Kandidiasi Kutis Tinea Korporis Dermatitis atopik Epidemiologi Seorang anak Mengenai semua Lebih sering pada Lebih sering laki-laki. maupun ada perbedaan wanta. perempuan. walaupun gatal pada Kandidiasi kutis relatif lebih hebat dibandingkan dengan Tinea Korporis. usia. perbedaan pada (bangsa Asia). 20 . dimana terdapat gatal yang dipengaruhi oleh kelembapan kulit akibat panas. lalu terdapat gatal. tidak menyerang berusia 2 tahun. daerah tropis. negara usia dan berkembang dan suku/ras. disertai konjungtivitis alergi. tetapi suku Melayu.

Tabel 2. Diagnosis Banding Kasus Ditinjau dari Gejala Klinik Diagnosis Banding Kasus Kandidiasi Kutis Tinea Korporis Dermatitis atopik 21 .

Gatal bertambah saat berkeringat. 3) Aspek etiologi Pada pasien didapatkan keluhan gatal yang dipengaruhi oleh keringat. Gejala ✓ Lesi awal berupa Penderita Sebagian Gatal biasanya Klinik bercak kemerahan mengeluh gatal penderita dipengaruhi oleh (Anamnesis) muncul tanpa sekali. sebab yang jelas. tidak digaruk. atau asma. sulit penderita konjungtivitis gatal dan hilang ditahan untuk misalnya garukan. sehingga pasien Gatal ini sifatnya akan menggaruk dapat terus sampai lecet. sadar. daerah Kandidiasis kutis kandidiassis kutis. riwayat timbul. dapat pruritus yang ✓ Gatal muncul Penderita merasa menyebabkan yang terutama saat enak bila digaruk. juga panas. namun dapat juga tanpa disadari misalnya saat tidur. Dimana saaat terjadi peningkatan suhu akan meningkatkan kelembapan kelit sehingga gatal 22 .riwayat berkeringaat S sama dengan alergi makanan Gejala kelainan pada (sedang santai). Gatal yang dipengaruhi oleh keringat biasanya disebabkan oleh jamur. terdapat memang terus Trauma pada kulit ✓ Keluhan sangat menerus. alergi. menerus atau walau rasa gatal sporadik. gatal yang hebat. Gosokan bercampur nyeri dan garukan dapat pasien masih ingin terjadi secara menggaruk. Rasa gatal ringan 2. kelainan yang residitif. ✓ Keluhan gatal sekitar mata adalah perasaan tidak dapat ditahan gelap. bila hari mengeluh gatal cuaca dingin.

Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada. Maka dari hal diatas dapat membantumenyingkirkan diagnosis Dermatitis Atopik. Tabel 3. disertai adanya riwayat atopi pada pasien atau keluarga. akan bertambah hebat. pruritus dapat oleh suatu daerah. riwayat alergi obat aktivitas (berkeringat). Sedangkan untuk DD ketiga tidak sesuai dengan keluhan. Karena. dimana gatal biasanya dirasakan saat cuaca dingin atau pada malam hari. makanan/ obat dan Riwayat kencing karena adanya Disebabkan leh Asma) manis. jenis Candida. 4) Aspek Predileksi Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa. kelembapan udara keluarga seperti muncul terutama saat Hipotesis mengenai yang tinggipada riwayat Atopi (Alergi pasien berkeringat). dan makanan tidak Disebabkan oleh jamur ada. alergi obat dan makanan dalam keluarga tidak ada. etiologi dari dermatitis atopik adalah genetik. riwayat kencing manis. 23 . asma. Berdasarkan hal tersebut. pada kasus letak predileksi dari penyakit adalah pada bokong kanan-kiri. riwayat asma. perubahan suhu karena jamur dermatofita. Diagnosis Banding Kasus Ditinjau dari Etiologi Diagnosis Banding Kasus Kandidiasi kutis Tinea Korporis Dermatitis Atopik Etiologi Rasa gatal yang tak Pruritus memainkan Dipengaruhi oleh Biasanya tertahankan sehingga peran sentral dalam kebersihan dari dipengaruhi oleh terjadi garukan terus timbulnya pola reaksi individu dan faktor genetik dalam menerus (keluhan kulit berupa erosi. sesuai dengan DD pertama dan kedua yaitu Kandidiasis kutis dan Tinea Korporis yang penyebabnya adalah jamur.

paha kanan-kiri. sekitar anus. efloresensis yang ditemukan hampir mirip yaitu berupa Vesikelatau pustul dengan dasar yang eritema. garis-garis kaki dan tangan. 24 . Thorax anterior. tangan dan kuku. dada depan. korimbiformis. bawah. bentuk bulat. sekitar siku dan lipat lutut. Bokong. Tempat predileksi waja. Pada anak- perut. Untuk penyakit kandidiasis kutis. Diagnosis Banding Kasus Ditinjau dari Predileksi Diagnosis Banding Kasus Kandidiasis Kutis Tinea Korporis Dermatitis atopik Predileksi Bokong. Tabel 4. garis-garis kaki. dengan diameter 0. bawah bawah dan punggung. payudara. Hampir menyerupai predileksi pada Tinea korporis yaitu pada wajah.2- 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa diagnosis yang paling mendekati adalah kandidiasis kutis.4 cm. kuku 5) Aspek Efloresensi Pada kasus didapatkan efloresensi yaitu berupa Pada regio gluteus dextra et sinistra. pada tengkuk. pusat. paha. dan kening. dada lipat ketiak. Abdomen dan Frontalis terdapat Pustul multipel. Keluhan yang dialami pasien predileksinya sesua dengan penyekit kandidiasis kutis dengan predileksi pada bokong. dengan dasar yang eritema. sekitar pusat. Tinea korporis dan Dermatitis Atopik. lipat kening. anggota gerak atas dan bawah serta punggung. lipat paha. sekitar anus. Femoralis dextra et sinistra. payudara. lipat siku dan lipat lutut. Akan tetapi terdapat efloresensi khas pada Kandidiasis kutis yaitu lesi yang berbentuk satelit (Korimbiformis) dimana terdapat satu lesi ditengah yang dikelilingi lesi lain dengan ukuran lebih kecil. Sedangkan untuk dermatitis atopik pada anak biasanya predileksinya pada tengkuk. lipat anggota gerak atas dan anakbiasanya terdapat depan dan paha.

Contoh Lesi Gambar 9. Tabel 5. Lesi pada Gambar 11. Diagnosis Banding Kasus Ditinjau dari Efloresensi Diagnosis Banding Kasus Kandidiasis kutis Tinea korporis Dermatitis Atopi Efloresensi (Lesi) Gambar 8. Lesi pada pada Kasus Kandidiasis Kutis Tinea korporis Deramtitis atopik 25 . Lesi pada Gambar 10.

penyembuhan sentral.2-0. anular atau geografis.4 Terdapat lesi satelit yang kronik dapat cm. Thorax bersisik. anterior. ditemukan papula terdapat Pustul hiperpigmentasi. Pada regio gluteus Daerah erotematosa . dengan kadang berfisura. (korimbiformis) diteumkan llikenisasi. erosif kadang-kadang atau plak yang merah efloresensinya berupa Femoralis dextra et dengan papula dan atau hiperpigmentasi paula-papula miliar. Pemeriksaan Penunjang Pada kasus ini untuk lebih untuk memastikan penyebab dari penyakit kandidiasis kutis atau Tinea Korporis mengingat etiolgi dari penyakit ini sama 26 . eritematosa atau multipel. Abdomen daerah-daerah pada tepi-tepi lesi dan Frontalis likenisasi . pada bulat. sinistra. gejala klinik. etiologi. Berdasarkan epidemiologi. polisiklik. korimbiformis. pada dengan tepi aktif dan likenisasi tak keadaaan kronik . dan vesikel. perjalanan penyakit diameter 0. predileksi dan efloresensi persamaan antara temuan kasus dan teori lebih banyak mengarah ke diagnosis Kandidiasis kutis. Lesi berbrntuk makula Pada anak-anak dextra et sinistra. untuk menyingkirkan diagnosis Tine korporis dan dermatitis atopik tetap harus dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu dengan pemeriksaan langsung kerokan kulit dengan KOH dan Pemeriksaan biakan dengan media saboround. eksudatif. 1. dengan dasar yang gambaran lesi dapat eritema. bentuk hiperkeratosis. maka diagnosis kerja pada kasus ini adalah Kandidiasis kutis. Namun.

dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. terlihat sel ragi. namun untuk eksudat hasilnya akan lebih baik bila digunakan pewarnaan Gram. Selain pemeriksaan dengan kerokan kulit langsung. krusta diletakkan pada kaca objek b. Dengan mikroskop cahaya dapat terlihat apabila ditemukan pseudohifa dan sel ragi maka diagnosisnya adalah Candidiasis kutis akan tetapi bila ditemukan hifa maka diagnosis pasien adalah Tinea korporis. pH 5. Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10 % atau dengan pewarnaan gram. berupa yeast like colony. basah. kandida mudah tumbuh dalam suhu kamar (25-30C). Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabourand. a. pus.6. blastospora atau hifa semu. a. Pada agar Sabaraud glukosa atau Mycosel yang ditambah antibiotik untuk menekan pertumbuhan bakteri. Dalam waktu 24-48 jam akan terbentuk koloni bulat. suhu 37 C. Ditutup dengan kaca penutup. dipanaskan sebentar di atas api kecil (tidak sampai mendidih) d. Bahan pemeriksaan berupa kerokan kulit. berukuran sebesar kepala jarum 27 . Bahan ditetesi dengan larutan KOH 10-20%. Periodic Acid Schiff (PAS) atau Gridley c. koloni tumbuh setelah 24-48 jam. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37 C. vesikel. dapat juga dilakukan pemriksaan biakanuntukmengetahui ada tidaknya jamur Candida albicans.yaitu jamur. mengkilat seperti koloni bakteri. b. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakan tumbuhan pada corn meal agar. jadi seharusnya perlu dilakukan pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit langsung.

dubliniensiss membentuk germ-tube yang menyerupai kecambah (Reynold–Braude phenomenon) bila diinkubasi selama 2-3 jam dengan serum pada suhu 37 C. lama penggunaan obat serta manfaat dari obat Edukasi diberikan kepada orangtua pasien mengingat usia pasien baru 2 tahun. keduanya membentuk klamidospora bila ditanam di beberapa medium khusus. C. Edukasi ini diberikan dengan tujuan agar faktor predidposisi eksogen yang menjadi penyebab dari penyakit dapat dihilangkan sehingga penyakit yang diderita oleh pasien akan sembuh. tidak sempit dan terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat. c. pentul. Selain itu diberikan edukasi tentang cara pemakaian obat. lama pemakaian. Tween 80 dan serum fetus sapi. albicans dan C. Dua sampai lima hari kemudian tampak koloni mukoid putih. misalnya medium agar tepung jagung. 1. lama kelamaan berkeriput dan berbau ragi. serta cara 28 . Tatalaksana 1) Non Farmakologi • Menanggulangi faktor predisposisi ( kebersihan kulit) • Menjaga kelembaban kulit • Mengurangi kontak dengan air • Menggunakan pakaian yang nyaman. • Menghindari pemakaian popok yang lembab • edukasi tentang cara pemakaian obat. Mula-mula permukaan koloni halus dan licin.

b) Obat antijamur sistemik diberikan pada infeksi jamur superfisialis luas. yaitu cream mikozale. atau bila telah resisten terhadap pengobatan topikal. Dalam mengobati infeksi jamur maka harus diperhatikan prinsip pengobatan. c) Obat sistemik dapat digunakan untuk terapi preventif pada pasien immunosupresif d) Jamur penyebab menentukan lama pengobatan Berdasarkan teori diatas. tinea pedis. potensi interaksi obat efikasi obat dan kemudahan didapat. Hal ini dilakukan agar efektifitas obat maksimal dan mencegah resistensi terhadap obat anti jamur golongan azole. • Antijamur Pemberian obat antijamur dapat secara topikal maupun sistemik. pengaplikasian obat topikal. 29 . dan tinea kapitis. lokasi lesi. 1 Farmakologi Pada Kasus ini diberikan pengobatan dengan menggunakan obat antijamur topikal dan obat antihistamin oral. yaitu : a) Pemilihan obat antijamur ditentukan antara lain oleh luas dan keparahan penyakit. onikomikosis. infeksi penyerta. maka pada kasus Candidiasis kutis ini yang tidak tergolong dalam kriteria diatas maka tidak perlu diberikan obat antijamur sistemik dan hanya perlu menggunakan obat antijamur topikal.

Gambar 12. Pemberian obat antijamur topikal menunjukkan kelebihan antara lain efek samping minimal.5 gr. Satu FTU pada laki-laki setara dengan 0. jarang terjadi interaksi obat. pada perempuan setara dengan 0. 2 Indikasi penggunaan krim yaitu untuk indikasi kosmetik.4 gram setara dengan 257 cm2. Untuk menghitung jumlah kebutuhan pasien setiap kali mengoles obat. pengobatan terbatas pada lesi dan umumnya lebih murah. atau 30 . Maka pada kasus ini diberi sediaan krim.5 gram setara dengan 312 cm2. sebaiknya menggunakan ukuran “fingertip unit” (FTU) yang dibuat oleh Long dan Finley. Pedoman FTU Pada anak-anak untuk mempermudah dapat digunakan rumus: 2 palmar orang dewasa = 0. dermatosis yang subakut dan luas yang dikehendaki ialah penetrasi yang lebih besar daripada yang lain. Fingertip Unit Gambar 13.

lalu oleskan tipis di atas lesi dan meluas hingga 1 inci keluar batas lesi. selain itu juga Obat mikonazole biasanya diberikan sampai 1-2 minggu setelah penyakit sembuh. Golongan Ekinokandin efektif terhadap Candida pula namun obat ini biasanya diberikan apabila terdapat resistensi golongan azole. jumlah pemberian 2klai sehari jadi. Azol. Seperti yang diketahui penyakit pasien ini bersifat akut sehingga kemungkinan resisten 31 . jadi diberikn obat ketokonazole selama 4 minggu. Trichophyton. Alilamin dan Ekinokandin. maka sebaiknya pemberian obat topikal ini dimalam hari dimana aktivitas individu yang sedikit sehingga keadaan bersih dan kering tetap terjaga. Cara penggunaan obat topikal antijamur ialah daerah yang terinfeksi dibersihkan dahulu dengan air dan sabun kemudian keringkan.5 gram = 3. jumlah perhari adalah 3 gram = 7.2 Kasus Kandidiasis kutis ini sendiri diketahui penyebab terbanyak karena jenis Candida albicans sehingga dipilih obat golongan ini. 2 palmar orang dewasa untuk 2 kali pemakaian/hari = 30 gr/bulan Didapatkan 84 gram selama 4 minggu dari perhitungan (6 palmar = 1.75 FTU.5 FTU.5 gr) Jadi untuk satu kali oles krim dibutuhkan 1. Obat topikal antijamur yang digunakan pada infeksi jamur terdapat berbagai golongan yaitu golongan Polien. Lama pemberian mikonazol krim selama 4 minggu (28 hari x 3 gram). jadi total krim yang dibutuhkan adalah 84 gram. Sedangkan penyakit Kandidiasis kutis biasanya sembug dalam waktu 3 minggu. Pada kasus ini untuk pemilihan golongan obat antijamur topikal dipilih golongan imidazol karena golongan ini memiliki aktivitas luas terhadap dermatofita (Microsporum. Pada kasus Kandidiasis Kutis ini dipilih mikonazol krim 2% dioleskan 2 kali perhari karena masa kerja ketoko yaitu 12-24 jam sehingga dalam pemberiannya adalah 2 kali sehari. Hasil akan maksimal bila lesi dijaga agar tetap bersih. Epidermophyto) serta ragi termasuk Candida albicans dan Pityrosporum orbiculare). Pasien diberikan Mikonazol krim 2% kemasan 15 gram sebanyak 6 buah. Diberikan 4 minggu karena ketokonazol bersifat fungistatis (melemahkan).

Ekonazol. digunakan bila resisten terhadap golongan Azol serta bila terjadi infeksi jamur sistemik. terhadap dermatofit (Microsporum. Bersifat efektif terhadap Candida Miskafungin. Terbinafin.terhadap golongan azole masih minimal. ragi termasuk Candida albicans dan Oksikonazol. Obat ketokonazol memiliki efek samping yang dapat ditoleransi 32 . Tabel 6. Pityrosporum orbiculare). Pemberian obat antijamur topikal golongan imidazol pada kasus ini adalah ketokonazol. Trichophyton. Untuk itu kita menggunakan jenis topikal antijamur golongan azole. Albicans yang menyebabkan Anidulafungin kandidiasis yang invasif. Ekinokandin Caspofungin. Perbandingan Efektivitas Obat Antijamur Golongan Nama Generik Obat Efektifitas Poliene Nystatin Tidak efektif terhadap dermatofit dan penggunaannya secara klinis juga terbatas yaitu untuk pengobatan infeksi yang disebabkan Candida albicans dan Candida sp lain. Epidermophyto) serta Sulkonazol. Relatif memiliki aktivitas yang luas Mikonazol. Ketokonazol. Alilamin Naftifin. Imidazol Klotrimazol. Efektif terhadap dermatofita tapi kurang aktif terhadap ragi. Keefektifan masing-masing golongan obat dapat dilihat pada tabel 6.

oral. Mikonazol adalah obat antijamur golongan azol generasi pertama. + pedis. rasa terbakar yeast (jamur ragi) atau jenis jamur lain seperti P. 33 . Sedangkan pada obat klotrimazol biasa digunakan pada tinea pedis. sedikit rasa panas. mengelupas. vesikasi. sedikit rasa panas. tinea pedis. yeast (jamur ragi) atau jenis jamur lain dan efek samping yang ditimbulkan lebih minimal dari obat lain yaitu iritasi dan rasa terbakar yang dapat ditoleransi secara umum. tinea pedis. pruritus. kruris dan korporis dan efek samping yang ditimbulkan lebih banyak seperti rasa tersengat. mikonazol dinilai lebih efektif dibandingkan obat lain karena mikonazol efektif digunakan pada infeksi kulit dan kuku karena dermatofita.sama seperti mikonazol namun untuk pemberian ketokonazol lebih efektif untuk tinea korporis. Mikonazol Infeksi kulit dan kuku Dapat ditoleransi. kruris dan edema. pitiriasis versikolor. iritasi. tinea manus. korporis). kutaneus dan urtikaria. tinea kruris. Ekonazol Dermatofitosis dan Iritasi lokal dan reaksi + kandidiasis hipersensitif. Maka. dan + karena dermatofita. kandidosis deskuamasi.. Untuk obat solkunazol dan oksikonazol juga memiliki efek samping iritasi lokal dan reaksi hipersensitif. edema serat kulit melepuh. eritema. kandidiasis kutan dan dermatitis seboroik. pada kasus ini dipilih golongan imidazol yaitu ketokonazol. Versicolor. tinea korporis. Tabel 7. Perbandingan Obat Topikal Golongan Imidazol Jenis Obat Indikasi Efek Samping Ketersediaan Klotrimazol Dermatofitosis (tinea Rasa tersengat. eritema dan gatal dan hanya efektif untuk penggunaan infeksi jamur dikulit (tabel 7). tinea kruris. genital. eritema dan gatal. eritema. kulit melepuh. rasa panas terbakar dan iritasi umum pada kulit.

tinea manus. obat ini juga memiliki efek sedasi yang minimal. dermatitis dapat pitiriasis versikolor. masa kerjanya panjang dan aktivitas antikolinergiknya minimal. pedis. + 1 Piperazin ++ sd +++ + sd +++ + +++ + 34 . tinea ditoleransi. sehingga pemberiannya cukup 1 kali per hari dengan dosis 5 mg. Anjuran minum obat ini yaitu pada pagi hari sebelum memulai aktivitas. pruritus. Umumnya dapat + tinea kruris. Oksikonazol Infeksi jamur pada Iritasi lokal dan reaksi + kulit hipersensitif. kandidiasis kutan dan dermatitis seboroik. Ketokonazol Tinea korporis.Intensitas Efek Beberapa Antihistamin Efek Efek samping Golongan saluran Antihistamin Sedatif Antikolinergik Antiemetik pencernaan 1. terjadi. . Selain pemberian obat antijamur juga diberikan obat Antihistamin berupa ceterizine tablet. dengan tujuan agar pasien tidakmerasa gatal saat aktivitas yang lebih aktif pada siang hari. Rasa terbakar. sedikit rasa panas. eritema dan gatal. eritema dan gatal. Alasan pemilihan obat antihistamin generasi II ini didasarkan karena memiliki efek antihistamin yang tinggi. sedikit rasa panas. Tabel 8. +++ n 1 Alkilamin ++ sd +++ + sd ++ ++ . Etanolamin + sd ++ + sd +++ +++ ++ sd +++ + 1 Etilenediami + sd ++ + sd ++ . 1 x 5 mg perhari dapat diberikan sebagai pengobatan simptomatik. Sulkonazol Infeksi jamur pada Iritasi lokal dan reaksi + kulit hipersensitif.

juga dikarenakan mempunyai efek antiinflamasi dan menghambat terjadinya urtikaria karena efek PAF dan kalikrein pada reaksi fase lambat.= tidak ada + sd ++++ = menggambarkan tingginya intensitas efek secara relatif. Tabel 9. Sedangkan loratadine juga mempunyai efek sedasi dan antikolinergik yang minal akan tetapi kurang efektif dalam menghambat pelepasan histamin. Obat astemizol dan fleksonazil juga tidak dipilih karena selain karena mulaikerjanya lambat juga dapat menyebabkan gangguan metabolisme hati walaupun efek terhadapt jantung minimal.sd + . - nonsedatif (Sumber: Syarif.. Aktivitas Kolinergiknya Golongan dan Dosis Masa Aktivitas Komentar Contoh Obat Dewasa Kerja kolinergik ANTIHISTAMIN GENERASI I 35 . dkk. Pemilihan obat ceterizine karena selain mempunyai efek antihistamin yang baik.sd + . Dosis. Masa Kerja.1 Fenotiazin + sd +++ +++ +++ ++++ - 1 Antihistamin ++ sd +++ . Penggolongan Antihistamin. 2007) Keterangan: sd = sampai dengan .

anti-motion sickness ✓ Meklizin 25-50 mg 12-24 jam . juga anti serotonin ✓ Mebhidrolin 50-100 mg ± 4 jam + napadisilat ANTIHISTAMIN GENERASI II Astemizol 10 mg < 24 jam .Etanolamin ✓ Karbinoksamin 4-8 mg 3-4 jam +++ Sedasi ringan sampai sedang ✓ Difenhidramin 25-50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat. Sedasi ringan. Keamanan 2. komponen obat flu ✓ Bromfeneramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan Derivat Fenotiazin ✓ Prometazin 10-25 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat. anti-motion sickness Etilenediamin ✓ Pirilamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang ✓ Tripelenamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang Piperazin ✓ Hidroksizin 25-100 mg 6-24 jam + Sedasi kuat ✓ Siklizin 25-50mg 4-6 jam . Sedasi ringan. antiemetik Lain-lain ✓ Siproheptadin 4 mg ± 6 jam + Sedasi sedang. Kualitas hidup 36 .. dkk. Masa kerja lebih lama ✓ Cetirizine 5-10 mg 12-24 jam - (Sumber: Syarif. lebih rendah Lain-lain ✓ Loratadin 10 mg 24 jam . Mula kerja lambat. anti-motion sicknesss ✓ Dimenhidrinat 50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat. risiko aritmia Feksofenadin 60 mg 12-24 jam . anti-motion sickness Alkilamin ✓ Klorfeniramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan. 2007) Pemilihan dodis 5 mg dikarenakan pada anak harus memperhatikan beberapa hal dalam pemilihan obat. yaitu: 1.

3.4. 2. Aktivitas anti alergi Sehingga pada anak sebaiknya dimulai dengan dosis terkecil terlebih dahulu. 37 . bila kelembaban dan kebersihan kulit selalu dijaga serta diberikan pengobatan yang adekuat maka akan memberikan prognosis yang baik. 3. 4. Mudah diberikan dan cepat diabsorbsi 4. dengan penjabaran sebagai berikut: 1. Quo ad fungsionam pada kasus ini adalah bonam karena tidak mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh lainnya. Quo ad sanationam pada kasus ini adalah bonam karena penyakit ini dapat sembuh jika terapi yang diberikan tepat dan pasien patuh untuk berobat. Prognosis bergantung pada penyebab (penyakit yang mendasari) dan status psikologis penderita2. Selain itu. Quo ad cosmetica pada kasus ini adalah bonam karena kelainan kulit yang ada dapat kembali seperti warna kulit sekitar jika pengobatannya adekuat. untuk mengurangi efek samping karena efektivitas organ yang belum maksimal. berdasarkan teori. Quo ad vitam pada kasus ini adalah bonam karena penyakit Candidiasis kutis tidak mengancam jiwa. Mulai kerja cepat tanpa efek samping 5.