You are on page 1of 14

1

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Ikan adalah hewan yang bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah

dingin (poikilothermal) dimana hidupnya dilingkungan air, pergerakan dan

keseimbangan dengan menggunakan sirip serta pada umumnya bernafas dengan

insang. (Raharjo, 1980).

Insang dan jantung merupakan organ yang berperan penting pada sistem

pernapasan ikan. Karena insang berperan sebagai organ tempat pengambilan O2

terlarut didalam perairan dan pelepasan CO2 kedalam perairan ketika ikan sedang

bernapas. Sedangkan jantung berperan sebagai organ pemompa darah kaya CO 2

dari jantung ke insang dan membawa darah kaya O 2 dari insang menuju keseluruh

organ tubuh yang membutuhkan.

Pertukaran antara oksigen yang masuk kedalam darah dengan

karbondioksida yang keluar dari darah terjadi dengan cara difusi pada pembuluh

darah dalam insang. Peredaran darah dalam filamen insang merupakan pertemuan

antara pembuluh darah yang berasal dari jantung yang masuh banyak

mengandung karbondioksida dengan pembuluh darah yang akan meniggalkan

filamen insang yang kaya akan oksigen. Difusi oksigen pada filamen insang

dibantu oleh tekanan air yang terdapat pada rongga mulut dan air yang dipaksa

keluar melalui insang.

Sistem sirkulasi darah pada ikan adalah berbentuk dari beberapa sistem

hidraulik (sistem alirannya hampir sama dengan sistem gerak poston tunggal

secara sentrifugal). Pada prinsipnya sistem sirkulasi terbagi atas sistem cardiac

pertanian. I. pertambangan dan industri. Dampak negatif dari perairan yang telah tercemar itu adalah dapat mematikan populasi ikan secara massal. 2 yaitu jantung dan sistem vescular yaitu pembuluh-pembuluhnya sebagai jalan darah. Tetapi kenyataan kini banyak perairan menjadi tempat kehidupan yang tidak menyenangkan lagi bagi jenis-jenis ikan yang berda didalamnya. . jumlah darah yang dipompakan oleh jantung bertambah dan aktivitas pernapasan meninggi. Sehubungan dengan pernapsan pada ikan. seperti limbah rumah tangga.2. Limbah –limbah tersebut masuk keperairan baik secara sengaja ataupun tidak disengaja. Dengan adanya gerak ikan sebagai tanggapan terhadap bahan pencemar yang menyebabkan kebutuhan oksigen jaringan meningkat. Dan mngetahui bagaimana morfologi insang dan jantung ikan setelah beberapa menit setelah mati karena polutan serta mengetahui laju pernafasan dan denyut jantung ikan. Tujuan dan Manfaat Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana reaksi ikan di perairan yang tercemar khususnya tercemar dengan bahan ditergent. Sehingga perairan menjadi sangat berarti bagi kehidupan organisme ikan yang hidup didalamnya. Karena banyak lingkungan perairan itu sudah tercemar oleh berbagai macam limbah. salah satu penyebab rendahnya konsentrasi oksigen dalam air adalah masuknya bahan oencemar yang akan memperlihatkan tanggapan fisiologis jangka pendek dan selanjutnya terjadi kematian pada ikan tersebut. Seperti halnya pada pernapasan ikan dengan masuknya bahan pencemar mengakibatkan penurunan konsentrasi oksigen akan berpengaruh terhadap aktivitas jantung untuk meninggikan sirkulasi darah keseluruh tubuh.

. 3 Sedangkana manfaat dari praktikum ini dapat mengetahui berapa jumlah buakaan mulut dan bukaan operculum ikan saat bernafas dan dapat mencegah agar perairan tidak sampai tercemar untuk mengurangi mortalitas ikan diperairan tersebut.

kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan . Kartilago merupakan suatu bentuk jaringan ikat dan berdasarkan struktur penyusunnya dapat digolongkan kedalam jenis kartilago hyalin. oleh karena itu ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dari permukaan laut) (Suyanto. suhu optimal antara 23-300c. Ordo Perchomorphi. 1993). Famili Ciclidae. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Trewavas dalam Suyanto (1994) klasifikasi ikan nila gift adalah Filum Chordata. Ikan nila terkenal sebagai ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan. Sub ordo Percoidea.5. Menurut Susanto (1998). 4 II. Sub kelas Acanthopherigii. 2001). Kadar garam yang disukai antara 0-35 permil. kadar oksigen yang baik berkisar antara 3- 5 ppm. Oleh karena itu. mempunyai garis vertikal 9-11 buah. garis-garis pada sirip ekor berwarna merah berjumlah 6-12 buah. Badan relatif tebal dan kekar dibandingkan dengan ikan mujair. dapat hidup di lingkungan perairan tawar. Genus Oreochromis dan Spesies Oreochromis niloticus. Pada sirip punggung terdapat juga garis- garis miring. Lengkung insang maupun filament insang disokong oleh tulang kartilago. Sub filum Vertebrata. payau. bentuk badan ikan nila adalah pipih kesamping memanjang. Sisir insang terletak pada bagian anterior dari lengkung insang sedang kan filament insang terletak pada bagian posterior lengkung insang. dan asin. Kelas Osteichtyes. nilai pH air berkisar antara 6-8. Oksigen sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme. Insang terdiri dari lengkung insang. sisir insang dan filament insang atau lamella primer (Kotellat. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Garis lateralis terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah.

5 oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen terlarut dalam perairan tentu saja akan mempengaruhi fisiologi respirasi ikan dan hanya ikan yang memiliki sistem respirasi yang sesiuai dapat bertahan hidup (Fujaya. 1962). sebagian besar bahan pencemar yang ditemukan di perairan berasal dari kegiatan manusia. Salah satu penyebab rendahnya konsentrasi oksigen dalam air adalah masuknya bahan pencemar. pertanian dan rumah tangga. 2002) Menurut Paling (1971). (Dahuri. sumber daya. Salah satu sumber bahan pencemar yang berasal dari limbah pertanian adalah DDT yang terkandung dalam Roundoup. Secara umum dampak negative dari pemakaian pestisida maupun insektisida sintesis adalah : 1) pencemaran air dan tanah yang akhirnya akan kembali lagi kepada manusia dan makhluk hidup . Pada umumnya bahan pencemar tersebut berasal dari berbagai kegiatan industri. Pencemaran dapat disebabkan oleh padatan ataupun cairan. dan nilai guna lainnya dari ekosistem. tinja. Jika konsentrasi oksigen dalam perairan jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan keadaan jenuh dapat diartikan telah terjadi pencemaran (Kusnoputranto. Pencemaran didefenisikan sebagai dampak negatif (pengaruh yang membahayakan) bagi kehidupan biota. baik disebabkan secara langsung maupun secara tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah ke dalam perairan yang berasal dari kegiatan manusia. sampah dan sebagainya. menyatakan bahwa insang yang rusak dapat mengurangi pertukaran gas-gas pernapasan antara insang dengan lingkungan sekitarnya dan ini dapat menyebabkan busung udara pada ikan uji tersebut. 1999). Pencemaran dalam bentuk padatan misalnya pasir. serta kesehatan manusia. tanah. Sedangkan pencemaran dalam bentuk cairan ditentukan oleh tersusupensi atau bahan terlarut didalamnya (Klein. 1984). kenyamanan ekosistem. Fujaya (1999).

pencemaran air oleh pestisida (termasuk deterjen) terutama terjadi melalui aliran air dari tempat-tempat kegiatan manusia yang menggunakan pestisida dalam usaha menaikkan produksi pertanian/peternakan. residunya dapat bertahan di tanah dan air hingga puluhan tahun. Di dalam air kadar atau jumlah pestisida yang tinggi dapat menimbulkan kematian organisme air secara tidak langsung yakni sebagai akibat pengendapan dan berkumpulnya pestisida didalam tubuh ikan/organisme air. 2002) Di lingkungan perairan. 5) timbulnya kekebalan OPT terhadap pestisida sintesis. seperti lebah yang sangat berperan dalam penyerbukan bunga. (Novizan. 3) kemungkinan terjadinya serangan hama sekunder. 2) matinya musuh alami dari organisme pengganggu tanaman (OPT). 4) kematian organisme yang menguntungkan. 6 lainnya dalam bentuk makanan dan minuman yang tercemar. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida sintesis. 1962). Pada kadar yang rendah kemungkinan yang besar menyebabkan kematian organisme (Klein. .

Plotkan hasil pengamatan pada table yang telah tersedia. air dan bahan pencemar yaitu ditergent. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.3. yaitu 3 buah tong besar sebagai tempat air. Hitung jumlah bukaan mulut dan bukaan insang selama satu menit. Waktu dan Tempat Praktikum dilaksanakan pada Hari Selasa. Kemudian masukkan 3 ekor ikan nila pada masing-masing tong. III. Setelah itu masukkan bahan pencemar rondap secara bersamaan pada tong berlabel B dan C secara bersamaan. gunting bedah. Metode Praktikum Metode yang digunakan oleh praktikan dalam praktikum ini adalah metode pengamatan secara langsung dari objek yang dipraktikumkan.2.4. Kemudian ambil 1 ekor ikan dari tiap-tiap tong. Prosedur Praktikum Pertama sekali sediakan 3 buah tong besar yang telah di isi air dengan label A untuk control. nampan.1. METODE PRAKTIKUM III. stopwatch untuk mengukur waktu. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah ikan Nila (Oreochromis niloticus). 7 III. III. Setelah itu ukur TL dan SL dari masing-masing sampel ikan. Setelah itu lihat morfologi dari insang dan jantung pada ikan nila. Hitung waktunya menggunakn stopwatch selama 10 menit pertama. 1 April 2014. Pukul 08. 3. label B untuk 1 ml rondap dan label C untuk 2 ml rondap. Universitas Riau.00 sampai dengan selesai. Ukur kembali . Sedangkan alat yang digunakan pada praktikum ini.

Ukur TL dan SL serta hitung jumlah bukaan mulut dan bukaan operculum selama satu menit. Ambil masing- masing 1 ekor ikan dari tiap-tiap tong. Lihat morfologi insang dan jantung ikan. . Plotkan hasil pengamtan pada table sebelumnya. 8 waktu dengan menggunakan stopwatch selama 10 menit kedua.

9 IV. Morfologi Insang dan Jantung Ikan Nila (Oreochromis niloticus) . Morfologi ikan Nila (Oreochromis niloticus) Gambar 2. HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus ) : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Osteichtyes Ordo : Perciformes Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis Spesies : Oreochromis niloticus Gambar 1.

Reaksi Ikan Perlakuan sebelum Sesudah Kontrol Diam.5 80 80 Merah Merah 2 5” 4 3. tidak aktif Tetap diam dan tidak bergerak. ikan berada di megap.5 2 80 80 Merah Merah 5”’ 3. bukaan mulut banyak bergerak.5 90 90 Merah merah Perlakuan 5’ 4 3. dan operculum normal bukaan mulut dan operculum normal Perlakuan 1 Diam.5 4 60 60 Pucat Pucat Tabel 2.5 3. mulai melemas Perlakuan 2 Diam.5 2. megap- . 10 Table 1. melihat morfologi insang dan jantung ikan beberapa menit setelah mati karena pencemaran. Perlakuan Waktu TL SL Jumlah Jumlah Warna Warna (cm) (cm) Bukaan Bukaan mulut insang Jantung Operculum Kontrol 5’ 4 3 90 90 Merah segar Merah 5” 3.5 2 90 90 Merah segar merah 5”’ 4. bukaan mulut dasar semakin cepat. tidak aktif Bergerak aktif. tidak aktif Bergerak aktif. Pengamatan menentukan laju pernapasan . megap- bergerak.5 90 90 Merah Merah 1 5“ 3.5 80 80 Pucat Pucat Perlakuan 5’ 5 4.5 70 70 Pucat Pucat 5’” 4.

ikan berada di megap.4 cm (SL) akan lebih mudah mengalami kematian ketika tingkat pencemaran didalam perairan tinggi. Sedangkan reaksi yang di tunjukkan oleh ikan adalah mula. kemudian ketika pencemar di berikan pada ikan akan langsung aktif bergerak secara tidak beraturan di dalam perairan .4 cm – 4. bukaan mulut dasar semakin cepat. Dari table diatas juga dapat disimpulkan bahwa ikan nila (Oreochromis niloticus) pada ukuran 3.2. Perlahan – lahan organ yang akan terseinfeksi akibat iritasi dari pencemran air adalah insang yang akan berwarna cokelat yang menandakan insang tersebut sangat terinfeksi.mula pada perairan tidak tercemar ikan akan tenang. pingsan. Udara mengandung 20% oksigen. kemudian jantung ikan berubah warna menjadi cokelat juga karena kurangnya pasokan udara. Dan berbeda pula pada pompa respirasi dimana pada ikan peranan pompa respirasi dilakukan oleh overculum dan rongga mulut yang dapat mempercepat dan memperlambat aliran air sehingga oksigen yang diserap oleh insang bervariasi sesuai dengan keperluan oksigen tubuh.9 cm – 5 cm (TL) dan 3. Pembahasaan Respirasi pada ikan sangat berbeda dengan mamalia karena perbedaan konsentrasi oksigen dari udara dengan air. 11 bergerak. melemah. sedangkan dalam air konsentrasi oksigen jauh lebih rendah. Kemudian ginjal dan hati juga akan mengalami kerusakan seiring bertambahnya banyaknya pencermaran didalam perairan tersebut. IV.

lamanya kontaminasi (extent of exposure). tubuh serta warna insang dan jantung yang merah kehitaman. jenis dan umur atau stadia organisme serta jenis pestisida (Julianto dalam Pabutungan. Senyawa insektisida dapat masuk kedalam tubuh ikan melalui oral. 12 tersebut karena ikan – ikan tersebut merasakan gangguan pada lingkungan hidupnya. suhu. 1987). difusi melalui insang dan kulit. menyatakan bahwa respon akibat adanya pencemaran dengan perubahan tingkah laku marupakan suatu indikasi kematian karena ketakseimbangan syaraf otak dangan kekurangan suplai oksigen. Menurut Connel dan Miller (1995). pada ikan yang tercemar akan ditemui lendir pada insang. Daya tahan organisme perairan terhadap toksisitas seperti pestisida sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Selain itu. tempat ia akan melakukan aksi toksinya. Zat –zat toksik masuk kedalam sirkulasi darah dan terbawa keorgan-organ sasaran. Aksi toksik insektisida terhadap tubuh ikan atau organisme lainya adalah berupa gangguan fisiologis yang dalam keadaan berat dapat menyebabkan kematian. .

1. 13 V.2. Saran Ikan yang diamati memiliki ukuran yang kecil membuat praktikan kesulitan untuk melihat organ yang akan diamati. baik tiu jantung maupun insang. Jadi sebaiknya ikan yang dijadikan sampel praktikum berukuran sedang atau menengah keatas agar lebih terlihat morfologi organ yang akan diamati. . KESIMPULAN DAN SARAN V. Bahan pencemar rondap ini cukup kuat membuat ikan menjadi bertingkah abnormal dan merubah morfologi dari organ-organ yang terkait dengan proses respirasi maupun sirkulasi. V. Jumlah bukaan mulut pada ikan nila menjadi lebih cepat saat terjadi pencemaran diperairan. Disamping itu jumlah bukaan operculum lebih rendah atau sedikit dari kebiasan normalnya. Kesimpulan Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa perairan yang tercemar akan menggagu proses respirasi dan sirkulasi pada ikan.

5 (5) : 1-2. Gramedia Pustaka Utama. 110 halaman. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. R. UI Press. Budidaya Ikan Nila di Pekarangan. Aspek Kesehatan Masyarakat dan Pengelolaannya.E. Paling. Warta penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Keanekaragaman Hayati Laut Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Dahuri. A. Kemungkinan Pengaruh Penggunaan Pestisida terhadap Kehidupan Organisme Estuaria. Ikan Nila Merah Untuk Kolam Pekarangan. PT Agromedia Pustaka. Penebar Swadaya. S. Ltd. Jakarta. 1998. Surabaya.R. kartikasari . 3 Blackwell Scientific Publication. Jakarta. Fujaya. Susanto. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. E. 14 DAFTAR PUSTAKA Connel dan Miller. 239 p. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Whritten . W. Jakarta. Causes and Effectens. 1971. 1993. 105 hal. 1987. J. In Metode for Assessment of Fish Production in Freshwater. Oxford. Pewarta Oseana (4). H. 1999. Bogor. S. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. 1962. Limited. Reser Pollution II. Jakarta. Kusnoputranto. Suyanto. Perciplus ed.N. L. . Y. Penebar Swadaya. 1995. Butterwort and Cl. H. Sudarto. M : J. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Nila. Causes of Mortality. J. 226-235. Pabutungan. Jakarta. dan wirjoatmojo. RICKER. Klein. 102 halaman. 2001. Rineka Cipta. Novizan. Air Limbah dan Eksrets Manusia. IPB Handbook No. PT. 2002. S. 2002. Universitas Indonesia Press. 1983. Kottelat. Freswater Fishes of Westwern Indonesia and Sulawesi. 1984. Jakarta. ED.