You are on page 1of 5

Pengertian, Hukum, Cara dan Macam Thaharah

Pengertian Thaharah

Secara etimologi (bahasa) adalah: membersihkan diri dari semua kotoran, walaupun
suci, seperti ludah, keringat dan lainnya dan dari najis, baik yang bersifat hissy
(kongkrit), seperti kotoran dan kencing manusia, liur anjing dan lainya atau kotoran yang
bersiafat ma’nawy (abstrak), seperti kesyirikan, kemaksiatan dan lain-lain.

Adapun secara terminologi (syariat) adalah: “menghilangkan hadats, najis, dan
kotoran dengan air atau tanah yang bersih. Dengan demikian, thaharah adalah
menghilangkan kotoran yang masih melekat di badan yang membuat tidak sahnya shalat
dan ibadah-ibadah yang lain”.

Hukum Thaharah

Hukum membersihkan dan menghilangkan najis adalah wajib ketika ingat dan disertai dengan
kemampuan. Hal ini berdasarkan dalil dari al-qur’an dan sunnah serta ijma’ para ulama. Dari al-
qur’an adalah firman Allah.

‫كۡمل وررأيلد قي ر ك‬ ‫ر‬
‫ق‬
‫مررفافق ق‬ ‫كۡمل إ قرل ى للل ر‬ ‫جهوهر ك‬ ‫سكلهوفا ا وك ك‬‫صل رهووةق رفلغل ق‬‫ذفا كقملكتۡمل إ قرل ى لل ص‬ ‫من كهووفا ا إ ق ر‬
‫ن رءفا ر‬ ‫ذي ر‬‫ي روأي يره ا لل ص ق‬
‫جن كبب ا رفلط صهصكروفاال ورقإ ن ك‬ ‫كۡمل إ قرل ى للل ر‬ ‫جل ر ك‬ ‫ر‬
‫كنكتۡم‬ ‫كنكتۡمل ك‬ ‫بۡيلنل ورقإ ن ك‬ ‫كۡعل ر ق‬ ‫كۡمل ورأۡرل ك‬ ‫س ك‬ ‫حهوفا ا ب قكركءو ق‬ ‫س ك‬‫رولمل ر‬
‫ر‬ ‫ر‬ ‫مرلض ى رأول ع رل ر ى س ر ر‬
‫دوفا ا ر‬
‫مءآبء‬ ‫ج ك‬ ‫سءآرء فررلۡمل ت ر ق‬
‫ۡم للن ن ر‬ ‫مسلت ك ك‬ ‫ط أول ل ور ر‬ ‫ن لللرغءآئ ق ق‬ ‫م ر‬ ‫من ك‬
‫كۡم ن‬ ‫حدل ن‬ ‫جءآرء أ ر‬ ‫فرر أول ر‬ ‫و ر‬ ‫ر و‬ ‫ص‬
‫ل ع ررلۡيل ك‬ ‫ر‬
‫منل‬ ‫كۡم ن‬ ‫ه ل قرۡيجلۡعر ر‬ ‫ريد ك للل ص ك‬ ‫م ا ي ك ق‬ ‫هل ر‬ ‫منل ك‬ ‫كۡم ن‬ ‫دي ك‬
‫كۡمل ورأيل ق‬ ‫حهوفا ا ب قهوك ك‬
‫جهوه ق ك‬ ‫دفا ط رۡي نبب ا رفلمل ر‬
‫س ك‬ ‫صقۡعۡي ب‬‫مهوفا ا ر‬ ‫فرت رۡي ر ص‬
‫م ك‬
٦ ‫ ن‬ ‫كۡمل ل رۡعرل ص ك‬
‫كۡمل رتۡشلك ككرو ر‬ ‫هل ع ررلۡيل ك‬
‫مت ر ك‬
‫ۡم قنۡعل ر‬ ‫ريد ك ل قۡي كط رهنرر ك‬
‫كۡمل ورل قۡي كت ق ص‬ ‫حررٖجل ورل ور ق‬
‫كن ي ك ق‬ ‫ر‬

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu
tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu
dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak
membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.

(QS.Al Maidah:6)

Manfaat Thaharah

Hampir mayoritas ulama fiqh maupun hadits, mereka mulai karangan atau tulisan mereka dengan
kitab THAHARAH, walaupun Imam Bukhari mulai dalam kitabnya dengan bab “bad’ul wahyu”,
Imam malik mulai kitabnya dengan “waktu-waktu shalat” akan tetapi yang ma’ruf dan lumrah

adalah mereka mulai dengan kitab thaharah. Karena thaharah merupakan pengosongan dari semua najis dan kotoran. yaitu dengan tayammum. b. Dan dalam hal ini ada tiga macam. Sebagaimana datang dalam sebuah hadits yang artinya: “sesungguhnya keduanya telah diadzab. (no: 225). seperti kencing. dan Ibnu Majah. adapun orang ini adalah karena tidak membersihkan dari kencingnya”. 2. madzi dan wadzi. yang dimaksud disini adalah bersuci dari hadats besar. Thaharah kubra. buang angin. ( Riwayat Abu Abu Dawud. dan tidaklah diadzab karena perkara besar. Thaharah menjadi syarat syah shalat yang paling kuat. nifas. Thaharah hakikiyah: yaitu bersuci dari kotoran. yaitu: a. Bukan karena motif dunia. Oleh karena itu dimulai dengan bersuci kemudian pengisian dengan ibadah tertentu.At Taubah:108). Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “tidak akan diterima shalat orang yang berhadats sehingga ia berwudlu”. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba). pakaian seseorang atau tempat tertentu. hal ini adalah karena sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. yang dimaksud disini adalah bersuci dari hadats kecil. Thaharah hukmiyah: yaitu bersuci dari hadats yang ada di badan. baik berupa harta. Allah berfirman: ‫للا نتمقلملا رفهيرهلا أننبددالا لننملسرجلدلا أمهسنسلا نعنل ىلا الطتلقنَنو ىلا رملنلا أنطورللا ننيلَنوملا أننحبقلا أنلنلا نتمقَنونملا رفهيرهلا رفهيرهلا ررنجلالللا منيرحببَنوننلا أنلنلا ننينتنططه مروالا نوا طم‬ ‫للا منيرحببلا اللمططه ررنينن‬ ‫م‬ ”Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. jabatan dan lain- lain yang bersifat fana’. haid. 4. Macam-Macam Thaharah Dari segi bentuknya. 5. (no: 130) dan Muslim. 3. . Allah mencintai orang-orang yang gemar bersuci dan memuji mereka. seperti najis yang menempel di badan. seperti junub. no:347 dengan sanad yang shahih ). Mereka mulai dengan thaharah untuk mengisyaratkan kepada kita. An-nasai. (Riwayat Bukhori. Pengganti dari keduanya ketika ada udzur. baik ketika melakukan ibadah atau mencari ilmu supaya membersikan niat dan keinginan dengan hanya mengharap wajah Allah. 2. bahwa: 1. no: 20. no: 2069. Sesungguhnya meremehkan bersuci dari najis adalah merupakan sebab siksa kubur. c. maka ulama kita membagi thaharah menjadi dua macam: 1. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS. berak. Thaharah sughra.

Bukhari dan Muslim). iman. Maka ini adalah merupakan dalil akan wajibnya memakai air untuk menghilangkan kotoran atau najis. istighfar serta dzikir kepada Allah. air teh atau air bunga. pertama yaitu dengan air. yaitu kotoran dan najis yang tidak Nampak. disamping membersikan pakaian. sehingga dapat digantikan oleh debu yag suci. Sedangkan menurut madzhab hanafiyah.R. Dan itu semua menjadi sempurna dengan memperbanyak taubat. yaitu dari segi wujudnya maka ulama kita membagi thaharah menjadi dua macam. riya’ dan semisalnya. dengki. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menghilangkan najis yang menempel pada sesuatu atau benda tertentu: . Hal itu jika tidak mungkin bersuci dengan menggunakan air atau karena tidak adanya air. badan dan tempat dari hadats atau najis. baik yang kecil maupun besar bisa lakukan dengan menggunakan dua cara. Tayammum merupakan ganti dari thaharah dengan air. Sebagiam ulama berpendapat bahwa kotoran atau najis tidak bisa dibersikan melainkan dengan air. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Al -Utsaimin rahimahumallah. Cara Melakukan Thaharah Ulama kita telah sepakat. kekufuran. akan tetapi bisa dengan air cuka. sombong. junub dan lain-lain. kejujuran. seperti syrik. 2. seperti wudlu. Dan tayammum adalah merupakan cabang untuk thaharah. (H. Kedua yaitu dengan tayammum. Allahu ‘alam. Syahid-nya dalam hadits ini adalah sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. (menggunakan debu yang suci). Thaharah batin: yaitu dengan membersihkan hati dari sifat-sifat yang negative. yaitu: 1. Syafi’iyah dan Hanabilah. hasad. Dan memenuhi hati dengan sifat-sifat yang terpuji. mereka berpendapat tidak wajibnya memakai air (mutlak) untuk menghilangkan kotoran atau najis. ikhlas.Disana ada pembagian lain yang disebutkan oleh sebagian ahli ilmu. dan ini adalah merupakan asal dalam thararah. Karena air dapat membersihkan lebih cepat dan sempurna serta lebih mudah dalam pelaksanaannya. nifaq. yang penting dapat membersikan kotoran atau najis. bahwa thaharah dari hadats. Antara air dan tayammum keduanya saling menggantikan fungsi yang lain akan tetapi yang pokok adalah tetap dengan air. yakin. Sebagaimana Ini adalah pendapat madzab Malikiyah. “dengan air”. Sebagian ahli ilmu menyebutkan kenapa sebabnya harus dengan air. Hal ini berdasarkan sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengenai darah haid yang menimpa pakaian: “keriklah kemudian bersikan lalu siramlah dengan air dan shalatlah dengannya”. Adapun untuk menghilangkan kotoran atau najis maka dalam hal ini ulama kita berbeda pendapat. Thaharah dzahir: yaitu dengan berwudzu atau mandi pakai air. tawaqal dan lain-lainya. seperti tauhid.

apapun bentuknya. mereka berpendapat bahwa niat bukanlah merupakan syarat untuk membersikan dari hadats. baik kecil maupun besar. Jika setelah itu ada bekas. Diantara alasan mereka adalah karena niat bukanlah merupakan ibadah tersendiri. manusia juga berbedah-bedah tingkatannya. yaitu dengan mengusapkannya ke bumi 8. mandi. Untuk mensucikan pakaian dari kencing anak laki yang masih menyusu. 3. syafi’I dan hanabilah.1. yaitu dengan percikan. Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah yang pertama. Untuk mensucikan bejana yang dijilat oleh anjing. akan tetapi niat hanya dipakai untuk memperbaiki ibadah. bahwa niat bukanlah merupakan suatu syarat untuk melakukan thaharah dari najis. Untuk mensucikan kulit yaitu dengan menyamaknya. Disyaratkannya Niat Ketika Melakukan Thaharah Ulama fiqih telah sepakat. Untuk mensucikan pakaian dari madzi. yaitu dengan cara menuangkan setimba air pada tempatnya atau dengan membiarkannya sampai kering sehingga bekas najis menjadi hilang dan suci. yaitu bahwa niat adalah merupakan syarat. (H. Untuk mensucikan bagian bawah sandal. 5. dengan bukti karena Allah memberikan balasan dan keutamaan atas amalan-amalan ini. 7. Maka kita jawab: justru niat merupakan ibadah tersendiri. Adapun madzab hanafi yang berpendapat bahwa niat bukan merupakan syarat. Untuk mensucikan kelebihan pakaian wanita. Semuanya sesuai dengan kadar ilmu dan iman . akan tetapi ulama kita berselisih ketika melakukan thaharah dari hadats. jika demikian maka niat menjadi syarat bagi masing-masing ibadah tersebut. dan dengan siraman bagi anak perempuan. Ulama madzab maliky. bahwa thaharah merupakan ibadah. yaitu dengan menyiram air pada tempatnya. Wallahu ‘alam. karena berwudlu. yaitu dengan mencucinya sebanyak tujuh kali dan mulai dengan tanah. Dalam hal ini. 2. yaitu dengan dipakai pada tanah yang suci sesudahnya. yaitu dengan mengkeruknya kemudian dibasuh dan disiram dengan air. Tingkatan-tingkatan Thaharah Jika kita telah pahami. Maka ketahuilah bahwa dalam hal ini. Bukhari dan Muslim). mereka mengatakan karena niat bukanlah merupakan ibadah tersendiri. Untuk mensucikan tanah atau bumi dari najis. maka tidaklah mempengaruinya. Untuk mensucikan pakaian yang terkena darah haid. Diantara dalil pendapat ini adalah sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Dan sesungguhnya semua amal bergantung kepada niatnya”. tayammum adalah merupakan ibadah tersendiri. mereka berpendapat bahwa niat adalah merupakan syarat untuk membersikan dari hadats. 4. 6.R. berbeda dengan madzab hanafi.

yaitu: 1. mensucikan dan mengkosong batin dari selain Allah.seseorang. Oleh karena itu ulama kita menyebutkan. 2. bahwa thaharah ada empat tingkatan. mensucikan anggota badan dari segala bentuk kesalahan dan dosa. mensucikan dzahir. maka semakin seseorang mampu mewujudkan nilai-nilai thaharah dan mengamalkannya. seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Rosulnya. Semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang-orang yang suci dan mencintai kesucian. mensucikan hati dari semua ahlaq yang tercelah. 3. 4. baik berupa hadats maupun najis dengan macam-macamnya. Semakin kuat ilmu dan iman seseorang. Amiin Sumber : Hamidin As-Sidawy Al-Atsary .