You are on page 1of 9

TUGAS THT

ILMU PENYAKIT
TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA LEHER
OBAT DEKONGESTAN, MUKOLITIK, EKSPEKTORAN, ANTITUSIVE

KARANGANYAR

Oleh :
Chrisanty Azzahra Yudyasari G99152072

Pembimbing : dr. Antonius Christanto, M.Kes, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI
BOYOLALI
2017
1. Sebutkan obat Dekongestan yang tercantum dalam formularium nasional.
Pseudoefedrin :
Valved (Kombinasi pseudoefedrin HCL 60mg dan Triprodiline HCl 2,5mg)
Tremenza (Kombinasi pseudoefedrin HCL 60mg dan Triprodiline HCl 2,5mg)
Protifed (Kombinasi pseudoefedrin HCL 30mg dan Triprodiline HCl 1,25mg)
Tremenza (Kombinasi pseudoefedrin HCL 30mg dan Triprodiline HCl 1,25mg)
Rhinofed (Kombinasi pseudoefedrin HCL 30mg dan Terfenadin 40ml)
Derivat Imidazolin
Oksimetazolin 0,025% dan 0,05% tetes hidung

2. Bagaimana mekanisme kerja dekongestan? Bedakan 1 dengan yang lain!

Mekanisme kerja
Dekongestan nasal biasanya digunakan pada penderita rhinitis alergika /rhinitis
vasomotor dan pada penderita infeksi saluran napas atas dengan rhinitis akut.
Dekongestan menyebabkan venokontriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor 1
sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi
penyumbatan hidung.
Macam-macam dekongestan:
Efedrin
Efedrin sebagai obat adrenergik dapat bekerja ganda dengan cara melepaskan
simpanan norepinefrin dari ujung saraf dan mampu bekerja memacu secara
langsung di reseptor dan . Pada sistem kardiovaskuler, efedrin meninggikan
tekanan darah baik sistolik maupun diastolik melalui vasokonstriksi. Efedrin
berefek bronkodilatasi tetapi lebih lemah dan lebih lambat dibandingkan epinefrin
atau isoproteronol. Efedrin memacu ringan SSP sehingga menjadi sigap,
mengurangi kelelahan, tidak memberi efek tidur dan dapat digunakan sebagai
midriatik. Efedrin digunakan sebagai dekongestan hidung, bekerja sebagai
vasokonstriktor lokal bila diberikan secara topikal pada permukaan mukosa
hidung, karena itu bermanfaat dalam pengobatan kongesti hidung pada Hay
fever, rinitis alergi, influenza dan kelainan saluran napas atas lainnya. Dosis :
pada asma, oral 34 dd 25-50 mg (HCl), anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6
dosis. Nama Paten : Asmasolon.

Pseudoefedrin
Isomer dekstro dari efedrin dengan mekanisme kerja yang sama, namun daya
bronkodilatasinya lebih lemah, tetapi efek sampingnya terhadap SSP dan
jantung lebih ringan. Obat ini, jika masuk ke dalam sistem saraf pusat, dapat
menyebabkan kecemasan, peka rangsangan, dan gelisah. Efek samping lainnya
berupa denyut jantung lebih cepat, insomnia, efek alergi pada kulit, kulit kering,
retensi urin, anoreksia, halusinasi, sakit kepala, mual, dan sakit perut. Obat ini
banyak digunakan dalam sediaan kombinasi untuk flu. Dosis : oral 3-4 dd 60 mg
(HCl, sulfat) Nama Paten : Sinutab, Sudafed, Polaramin

Fenilpropanolamin
Derivat tanpa gugus C-H pada atom N dengan khasiat yang menyerupai efedrin.
Kerjanya lebih panjang, efek sentral dan efek jantungnya lebih ringan.
Dosis : oral 3-4 dd 15-25 mg. Nama Paten : Triaminic, Sinutab, Rhinotusal
Dekongestan Topikal, digunakan untuk rinitis akut yang merupakan radang
selaput lendir hidung. Bentuk sediaan dekongestan topikal berupa balsam,
inhaler, tetes hidung atau semprot hidung. Dekongestan topikal (semprot hidung)
yang biasa digunakan yaitu oxymetazolin, xylometazolin, tetrahydrozolin,
nafazolin yang merupakan derivat imidazolin. Penggunaan dekongestan topikal
dilakukan pada pagi dan menjelang tidur malam, dan tidak boleh lebih dari 2 kali
dalam 24 jam. Dekongestan topikal terutama berguna untuk rhinitis akut karena
tempat kerjanya yang lebih selektif,tetapi obat-obat ini cenderung untuk
digunakan secara berlebihan oleh penderita, sehingga menimbulkan penyumbatan
yang berlebihan. Dekongestan oral jauh lebih kecil kemungkinannya untuk
menimbulkan rebound congestion, tetapi lebih besar risikonya untuk
menimbulkan efek samping sistemik.

Derivat Imidazolin
Senyawa ini memiliki efek alfa adrenergik langsung dengan vasokonstriksi tanpa
stimulasi SSP. Khususnya digunakan sebagai dekongestan pada selaput lendir
yang bengkak di hidung dan mata, pilek, selesma (rhinitis, coryza), hay fever,
sinusitis, dsb. Bayi dan anak kecil sebaiknya jangan diberikan dalam jangka
waktu lama untuk obat ini karena dapat diabsorbsi dari mukosa dengan
menimbulkan depresi SSP. Gejalanya berupa rasa kantuk, pening, hipotermi,
bradikardi, bahkan juga koma pada kasus overdosis. Sifat ini bertentangan dengan
kebanyakan adrenergik yang justru menstimulasi SSP.
Yang paling banyak digunakan adalah :
1. Oxymetazolin
Derivate imidazolin ini bekerja langsung terhadap reseptor alfa tanpa efek
reseptor beta. Setelah diteteskan di hidung, dalam waktu 5-10 menit terjadi
vasokonstriksi mukosa yang bengkak dan kemampatan hilang. Efeknya
bertahan hingga 5 jam. Efek sampingnya dapat berupa rasa terbakar dan
teriritasi pada selaput lender hidung dengan menimbulkan bersin.
Dosis : anak-anak di atas 12 tahun dan dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,05%
(HCl) di setiap lubang hidung; anak-anak 2-10 tahun larutan 0,025% (HCl)
Nama Paten : Afrin, Iliadin, Nasivin

3. Efek samping dari kerja dekongestan


Pengobatan dengan dekongestan nasal sering kali menimbulkan hilangnya efektivitas
pada pemberian kronik,serta rebound hyperemia dan memburuknya gejala bila obat
dihentikan.
Dekongestan Sistemik (pseudoefedrin, efedrin, dan fenilpropanolamin). diberikan
secara oral. Meskipun efeknya tidak secepat topikal tapi kelebihannya tidak
mengiritasi hidung. Dekongestan sistemik harus digunakan secara hati-hati pada
penderita hipertensi, pria dengan hipertrofi prostat dan lanjut usia. Hal ini
disebabkan dekongestan memiliki efek samping sentral sehingga menimbulkan efek
samping takikardia (frekuesi denyut jantung berlebihan), aritmia (penyimpangan
irama jantung), peningkatan tekanan darah atau stimulasi susunan saraf pusat.
Dekongestan topikal mempunyai efek yang lebih cepat terhadap sumbatan hidung,
namun efeknya ini sebetulnya tidak fisiologik dan pemakaian jangka lama (lebih dari
7 hari) akan menyebabkan rinitis medika mentosa (Soetjipto, 2000).
Pseudoefedrin : Obat ini, jika masuk ke dalam sistem saraf pusat, dapat menyebabkan
kecemasan, peka rangsangan, dan gelisah. Efek samping lainnya berupa denyut
jantung lebih cepat, insomnia, efek alergi pada kulit, kulit kering, retensi urin,
anoreksia, halusinasi, sakit kepala, mual, dan sakit perut.
Oksimetazolin : Gejalanya berupa rasa kantuk, pening, hipotermi, bradikardi, bahkan
juga koma pada kasus overdosis.

4. Sebutkan obat Mukolitik, Ekspektoran, Antitusif yang tercantum dalam formularium


nasional.
Mukolitik
N acetylsistein
Sediaan : kaps 200mg, inj nebulizer 300mg/3ml, amp 3 ml
Antitusif
Kodein
Sediaan : 10mg, 15mg, 20mg
Ekspektoran
OBH
Sediaan : syrup 100ml, 2000 ml
Ambroxol HCl
Sediaan : 30mg
Paratusin (Kombinasi : Noscapine 10mg, CTM 2mg, GG 50mg, PCT 500mg,
Phenylpropanolamin HCl 15mg) tab
Syr : (Kombinasi : Noscapine 10mg, CTM 2mg, GG 50mg, PCT 500mg,
Succus liq 125mg)
Rosadryl (Kombinasi Difenhidramin HCl 125mg, Ammonium Chlorida
125mg, Na sitrat 50mg, menthol 1 mg)
Sidiadryl (Kombinasi Difenhidramin HCl 125mg, Ammonium Chlorida
125mg, Na sitrat 50mg, menthol 1 mg)

5. Jelaskan perbedaan definisi mukolitik, antitusif dan ekspektoran


Mukolitik

Obat yang dipakai untuk mengencerkan mukus yang kental , sehingga menurunkan
tingkat kekentalan dan mudah dieskpektorasi.

Ekspektoran

Obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran


pernafasan Obat ini juga merangsang terjadinya batuk supaya terjadi
pengeluaran dahak. Yang termasuk ke dalam golongan obat ini adalah Glyceril
Guaiacolate, Ammonium Klorida, Succus liquiritae dan lain-lain.

Antitusif
Antitusif bekerja untuk menekan refleks batuk. Obat ini sesuai digunakan pada
batuk jenis batuk kering dan tidak boleh digunakan pada batuk jenis batuk
berdahak, karena dahak yang tertahan pada cabang trakeobronkial dapat
menganggu ventilasi dan bisa meningkatkan kejadian infeksi.

6. Jelaskan mekanisme kerja dari obat mukolitik, ekspektoran, dan antitusif!


a. Mukolitik

Mukolitik bekerja dengan cara menghancurkan benang-benang mukoprotein dan


mukopolisakarida dari dahak. Sebagai hasil akhir, dahak tidak lagi bersifat kental
dan dengan begitu tidak dapat bertahan di tenggorokan lagi seperti sebelumnya.
Membuat saluran nafas bebas dari dahak. Salah satu contoh dari golongan
mukolitik adalah Golongan Thiol Mempunyai fungsi dalam memecah rantai
disulfida mukoprotein, sehingga menurunkan viskositas mukus. Salah satu
golongan yang termasuk dalam golongan ini adalah asetilsistein. Asetilsistein
adalah derivat H-asetil dari asam amino L-sistein, digunakan dalam bentuk larutan
atau aerosol. Mekanisme pemberian diberikan ke dalam saluran nafas melalui
kateter atau bronkoskopi sehingga didapatkan efek yang cepat, yaitu
meningkatkan jumlah sekret bronkus. Disamping sebagai mukolitik, N-
Asetilsistein berfungsi sebagai antioksidan dimana mencegah kerusakan saluran
nafas yang disebabkan oleh oksidan, salah satunya adalah asap rokok. Efek
samping yang dapat ditimbulkan berupa stomatitis, mual, muntah, pusing, demam
dan mengigil jarang ditemukan.
- Dosis : 200mg, 2-3 kali/oral
- Dosis inhalasi : 1-10ml larutan 20% / 2-20ml larutan 10% (pemberian
dicampur dengan bronkodilator dikarenakan mempunyai efek
bronkokonstriksi)
- Dosis pemberian langsung : 1-2ml larutan 10-20%
b. Ekspektoran
Bekerja dengan cara merangsang selaput lendir lambung dan selanjutnya secara
refleks memicu pengeluaran lendir saluran nafas sehingga menurunkan tingkat
kekentalan dan mempermudah pengeluaran dahak. Yang termasuk ke dalam
golongan obat ini adalah Glyceril Guaiacolate, Ammonium Klorida, Succus
liquiritae dan lain-lain.
Ekspektorans adalah obat yang meningkatkan jumlah cairan dan merangsang
pengeluaran sekret dari saluran napas. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu melalui:
o Refleks vagal gaster
o Stimulasi topikal dengan inhalasi zat
o Perangsangan vagal kelenjar mukosa bronkus
o Perangsangan medulla
Refleks vagal gaster adalah pendekatan yang paling sering dilakukan untuk
merangsang pengeluaran cairan bronkus. Mekanisme ini memakai sirkuit refleks
dengan reseptor vagal gaster sebagai afferen dan persarafan vagal kelenjar
mukosa bronkus sebagai efferen. Termasuk ke dalam ekspektorans dengan
mekanisme ini adalah:
o Ammonium khlorida
Untuk meningkatkan pengeluaran dahak melalui refleks rangsangan selaput
lendir saluran cerna, Amonium Klorida merupakan salah satu komponen
Obat Batuk Hitam (OBH). (Dosis pemakaian untuk dewasa 300 mg setiap 4
Tidak dianjurkan pada pasien yang mengalami kerusakan hati, ginjal, dan
pasien mengidap jantung kronik karena dapat mengganggu keseimbangan
kimia darah yang mempengaruhi ekskresi obat.
Dosis 5 g pada penderita dapat menyebabkan efek samping dengan gejala
antara lain : mual, muntah, haus, sakit kepala, dan hiperventilasi.
o Guaifenesin (gliseril guaiakolat)
Selain berfungsi sebagai ekspektoran, obat ini juga memperbaiki
pembersihan mukosilier. Obat ini jarang menunjukkan efek samping. Pada
dosis besar dapat terjadi mual, muntah dan pusing.
Dosis dewasa : 200 400 mg setiap 4 jam (tidak melebihi 24 g/hari)
Dosis anak 611 tahun :100 200 mg setiap 4 jam (tidak melebihi 1 2
g/hari)
Dosis anak 2 5 tahun : 50 100 mg setiap 4 jam (tidak melebihi 600 mg
sehari)
o OBH
Merupakan kombinasi dari Ammonium Chlorida, Succus liq, SASA (Solutio
Ammonii Spirituosa Anisata)
Dosis : Dewasa : 1 sendok makan (15 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam). Anak : 1
sendok teh (5 ml) 4 x sehari (setiap 6 jam)
o Ambroxol
Ambroxol merupakan derivat dari Bromheksin. Mekanisme kerja dari
Bromheksin untuk mengencerkan dahak di saluran nafas. (b) Dosis
pemakaian untuk dewasa 4-8 mg, 3 kali sehari. Kontraindikasi pada penderita
tukak lambung dan wanita hamil 3 bulan pertama. Efek samping dapat terjadi
rasa mual, diare, dan kembung yang ringan
c. Antitusif
Bekerja untuk menekan refleks batuk. Obat ini sesuai digunakan pada batuk jenis
batuk kering dan tidak boleh digunakan pada batuk jenis batuk berdahak, karena
dahak yang tertahan pada cabang trakeobronkial dapat menganggu ventilasi dan
bisa meningkatkan kejadian infeksi. Contohnya obat ini adalah dekstrometorfan,
noskapin, etilmorfin, kodein. Obat-obat ini merupakan derivate senyawa opioid
sehingga memiliki efek samping konstipasi, sedatif, dll.
Kodein : 10-20 mg setiap 4-6 jam jika perlu (tidak boleh lebih dari 120 mg/hari)
6-12 th: 5-10 mg setiap 4-6 jam jika perlu (tidak boleh lebih dari 60 mg/hari)
2-6 th: 0,25 mg/kg sampai 4xsehari
DAFTAR PUSTAKA

Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika. Jakarta.
Soetjipto D, Mangunkusumo E, 2000, Sinus Paranasal dalam Efiaty AS, Nurbaiti I. dalam
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok kepala Leher. Edisi kelima. Balai
Penerbit FK UI. Jakarta.