You are on page 1of 22

Kominusi

BAB II
KOMINUSI

Kominusi adalah proses mereduksi ukuran butir atau proses meliberasi


bijih. Yang dimaksud dengan proses meliberasi bijih adalah proses
melepaskan bijih tersebut dari ikatnnya yang merupakan gangue
mineral dengan menggunakan alat crusher atau grinding mill. Kominusi
terbagi dalam 3 tahap, yaitu primary crushing, secondary crushing dan
fine crushing.

A. Primary Crushing
Merupakan tahap penghancuran yang pertama, dimana umpan berupa
bongkah-bongkah besar yang berukuran +/- 84 x 60 inchi dan produkta
berukuran 4 inchi. Beberapa alat untuk primary crushing antara lain :
1. Jaw Crusher
Alat ini mempunyai dua jaw, yang satu dapat digerakkan (swing jaw)
dan yang lainnya tidak bergerak (fixed jaw). Berdasarkan porosnya jaw
crusher terbagi dalam dua macam :
a. Blake Jaw Crusher, dengan poros di atas
b. Dodge Jaw Crusher, dengan poros di bawah
Perbandingan Dodge dengan Blake Jaw Crusher, yaitu :
a. Ukuran produkta pada Blake Jaw lebih heterogen dibandingkan
dengan Dodge Jaw yang relatif seragam
b. Pada Blake Jaw porosnya di atas sehingga gaya yang terbesar
mengenai partikel yang terkecil
c. Pada Dodge Jaw porosnya di bawah sehingga gaya yang terbesar
mengenai partikel yang terbesar sehingga gaya mekanis dari Dodge Jaw
lebih besar doibandingkan dengan Blake Jaw
d. Kapasitas Dodge Jaw jauh lebih kecil dari Blake Jaw pada ukuran
yang sama
e. Pada Dodge Jaw sering terjadi penyumbatan
Istilah-istilah pada Jaw Crusher, antara lain :
a. Setting Block, bagian dari jaw crusher untuk mengatur agar lubang
ukuran sesuai dengan yang dikehendaki. Bila setting block dimajukan,
maka jarak antara fixed jaw dengan swing jaw menjadi lebih pendek
atau lebih dekat, dan sebaliknya.
b. Toggle, bagian dari jaw crusher yang berfungsi untuk mengubah
gerakan naik turun menjadi maju mundur
c. Pitman, berfungsi untuk merubah gerakan berputar dari maju
mundur menjadi gerakan naik turun
d. Swing Jaw, bagian dari jaw crusher yang dapat bergerak akibat
gerakan atau dorongan toggle
e. Fixed Jaw, bagian dari jaw crusher yang tidak bergerak/diam
f. Mouth, bagian mulut jaw crusher yang berfungsi sebagai lubang
penerimaan umpan
g. Throat, bagian paling bawah yang berfungsi sebagai lubang
pengeluaran
h. Gate, adalah jarak mendatar pada mouth
i. Set, adalah jarak mendatar pada throat
j. Closed Setting, adalah jarak antara fixed jaw dengan swing jaw pada
saat swing jaw ekstrim ke depan
k. Open Setting, adalah jarak antara fixed jaw dengan swing jaw pada
saat swing jaw ekstrim ke belakang
l. Throw, selisih jarak pelemparan antara open setting dengan close
setting
m. Nip Angle, sudut yang dibentuk dengan garis singgung yang dibuat
melalui titik singgung antara jaw dengan batuan
Khusus untuk gape adalah jarak mendatar pada mouth yang diukur
pada bagian mouth dimana umpan yang dimasukkan bersinggungan
dengan mouth. Jadi besarnya gape selalu berubah-ubah menurut
besarnya umpan.
Pecahnya batuan dari jaw crusher karena adanya :
a. Daya tahan batuan lebih keci dari gaya yang menekan
b. Nip angle
c. Resultante gaya yang arahnya ke bawah
Gaya-gaya yang ada pada jaw crusher, adalah :
a. Gaya tekan (aksi)
b. Gaya gesek
c. Gaya gravitasi
d. Gaya yang menahan (reaksi)
Arah-arah gaya tergantung dari kemiringan atau sudutnya. Resultante
gaya akhir arahnya harus ke bawah, yang berarti material itu dapat
dihancurkan. Tapi jika gaya itu arahnya ke atas maka material itu
hanya meloncat-loncat ka atas saja.
Faktor-faktor yangmempengaruhi efisiensi jaw crusher :
a. Lebar lubang bukaan
b. Variasi dari throw
c. Kecepatan
d. Ukuran umpan
e. Reduction ratio (RR)
f. Kapasitas yang dipengaruhi oleh jumlah umpan per jam dan berat
jenis umpan
Reduction ratio merupakan perbandingan antar ukuran umpan dengan
ukuran produk. Reduction ratio yang baik untuk ukuran primary
crushing adalah 4 7, sedangkan untuk secondary crushing adalah 14
20 dan fine crushing (mill) adalah 50 -100.
Terdapat empat macam reduction ratio, yaitu :
a. Limiting Reduction Ratio
Yaitu perbandingan antara tebal/lebar umpan dengan tebal/lebar
produk
LRR = tF/tP = wF/wP
dimana :
tF = tebal umpan
tP = tebal produk
wF = lebar umpan
wP = lebar produk
b. Working Reduction Ratio
Perbandingan antara tebal partikel umpan (tF) yang terbesar dengan
efective set (Se) dari crusher.
WRR = tF/Se
c. Apperent Reduction Ratio
Perbandingan antara effective gate (G) dengan effective set (So)
ARR =0,85G/So
d. Reduction Ratio 80 (R80)
Perbandingan antara lubang ayakan umpan dengan lubang ayakan
produk pada kumulatif 80%.
Kapasitas jaw crusher dipengaruhi oleh :
a. Gravitasi
b. Kekerasan material
c. Keliatan material
d. Kandungan air/kelembaban
Menurut Taggart, kapasitas jaw crusher dinyatakan dalam suatu rumus
empiris :
T = 0,6 LS
dimana : T = kapasitas, ton/jam
L = panjang dari lubang penerimaan
S = lebar dari lubang pengeluaran

2. Gyratory Crusher
Crusher jenis ini mempunyai kapasitas yang lebih besar jika
dibandingkan dengan jaw crusher. Gerakan dari gyratory crusher ini
berputar dan bergoyang sehingga proses penghancuran berjalan terus
menerus tanpa selang waktu. Berbeda dengan jaw crusher yang proses
penghancurannya tidak continue, yaitu pada waktu swing jaw bergerak
ke belakang sehingga ada material-material yang tidak mengalami
penggerusan.
Macam-macam gyratory crusher :
a. Suspended Spindel Gyratory Crusher
b. Pararell Pinch Crusher
Perbedaan utama jenis ini dari suspended spindel, terletak pada
gerakan crushing head-nya. Gerakan crushing head pada prarell pinch
menghasilkan bentuk cone yang tajam dengan puncak dalam keadaan
menggantung sehingga menghasilkan gerakan berputar yang dapat
menghancurkan umpan sepanjang daerah permukaan crushing head.
Bentuk-bentuk head dan concave pada gyratory crusher adalah :
a. Straight head and concave
b. Curved head and concave
Kedua jenis head dan concave ini perbedaanya hanya pada
permukaannya, yaitu yang pertama adalah rata dan yang kedua
melengkung.
Kapasitas gyratory crusher lebih besar disbanding dengan jaw crusher
pada ukuran umpan yang sama. Oleh Taggart, kapasitas gyratory
dihitung dengan rumus :
T = 0,75So (L-G)
dimana :
T = kapasitas, ton/jam
G = gape, inch
So = open set, inch
Kapasitas gyratory crusher tergantung pada :
a. sifat alamiah material yang dihancurkan, seperti kekerasan, keliatan
dan kerapuhan
b. permukaan concave dan crushing head terhadap umpan akan
mempengaruhi gesekan antara material dengan bagian pemecah
(concave dan head)
c. Kandungan air, seting, putaran dan gape
Perbedaan antara gyratory dan jaw crusher adalah :
a. Pemasukan umpan, jaw crusher pemasukannya tidak kontinyu
sedangkan gyratory kontinyu
b. Gyratory alatnya lebih besar dan bagian-bagiannya tidak mudah
dilepas
c. Kapasitas gyratory lebih besar dari jaw crusher, karena pemasukan
umpan dapat kontinyu dan penghancurannya merata
d. Pemecahan pada jaw lebih banyak tekanan, tetapi pada gyratory
crusher gaya geseknya lebih besar walaupun ada gaya tekannya. Pada
gyratory kalau berputarnya cepat, produkta yang dihasilkan relatif
kecil.

B. Secondary Crushing
Merupakan tahap penghancuran kelanjutan dari primary crushing,
dimana umpan berukuran lebih kecil dari 6 inchi produkta berukuran
0.5 inchi. Beberapa alat untuk secondary crushing antara lain :
1. Jaw Crusher (kecil)
2. Gyratory Crusher (kecil)
3. Cone Crusher
Alat ini merupakan secondary crusher yang penggunaannya lebih
ekonomis. Cone crusher hampir sama dengan gyratory crusher,
perbedaannya terletak pada :
a. crushing surface terluar bekerja sedemikian rupa sehingga luas
lubang pengeluaran dapat bertambah
b. crushing surface terluar bagian atasnya dapat diangkat sehingga
material yang tidak dapat dihancurkan dapat dikeluarkan
Macam-macam cone crusher :
a. Simon Cone Crusher
Alat ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
- standart crusher type, yaitu untuk mereduksi umpan yang berukuran
kasar
- short head crusher type, yaitu untuk mereduksi umpan berukuran
halus
b. Telsmith Gyrasphere Crusher
Crushing head dari alat ini berbentuk bulat (sphere) yang terbuat dari
baja dengan cutter shell bergerak naik turun. Dalan cone crusher
crushing head adalah rata dan perbandingan antara tinggi dengan
diameternya 1 : 3. Unpan dari cone crusher harus dalam keadaan
kering karena jika basah akan mengakibatkan choking.
4. Hammer Mill
Hammer mill dipakai dalam secondary crusher untuk memperkecil
produk dari primary crushing dengan ukuran umpan yang diperbolehkan
adalah kurang dari satu inch. Alat ini merupakan satu-satunya alat yang
berbeda cara penghancurannya dibandingkan alat secondary crushing
lainnya. Pada hammer mill proses penghancuran menggunakan shearing
stress, sedangkan pada secondary crushing lainnya menggunakan
compressive stress.
5. Roll Crusher
Alat ini terdiri dari dua silinder baja dan masing-masing dihubungkan
pada as (poros) sendiri-sendiri. Silinder ini hanya satu saja yang
berputar dan lainnya diam, tapi karena adnya material yang masuk dan
pengaruh silinder lainnya maka silinder ini ikut berputar juga. Putaran
masing-masing silinder tersebut berlawanan arah sehingga material
yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.
Bentuk dari roll crusher ada dua macam, yaitu :
a. Rigid Roll
Alat ini pada porosnya tidak dilengkapi dengan pegas, sehingga
kemungkinan patah pada poros sangat besar. Roll yang berputar hanya
satu saja, tapi ada juga yang keduanya berputar.
b. Spring Roll
Alat ini dilengkapi dengan pegas sehingga kemungkinan porosnya patah
sangat kecil sekali. Dengan adanya pegas maka roll dapat mundur
dengan sendirinya bila ada material yang sangat keras, sehingga tidak
dapat dihancurkan dan material itu akan jatuh.
Dari gambar diatas diketahui diameter roll (D) dan diameter material
(d), gaya normal (N), gaya tangensial (T) dan resultante (R) dari gaya
normal dan gaya tangensial, nip angle (n), setting (s). Jika resultan
arahnya ke bawah maka material akan dapat dihancurkan karena
terjepit oleh roll.
Persamaan komponen-komponen vertikal dari gaya normal dan gaya
tangensial menggambarkan batas kondisi untuk crushing.
Nv = Nsin(n/2)

Tv = Tcos(n/2)
untuk Nv = Tv maka persamaan menjadi :
Nsin(n/2) = Tcos(n/2)
atau,
T/N = tan(n/2)
adalah koefisien gesek , maka agar terjadi crushing harus lebih kecil
atau sama dengan .
Hubungan antara n, s, d dan D :
atau
dari hubungan formula diatas dengan koefisien gesek akan dapat
menentukan diameter roller.
Contoh :
Diketahui : koefisien gesek = 0,4, mereduksi 1,5 menjadi 0,5
Ditanya : diameter minimum roll (Dm)
Jawab : = 0,4
:
jadi :
: D = 12,5 inchi
Kapasitas roller tergantung pada kecepatan roler, lebar permukaan
roller, diameter dan jarak antara roller yang satu dengan lainnya.
Roller biasanya digunakan untuk batuan lunak seperti shale, lempung
dan material lengket sampai setengah keras.
Kapasitas roller dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
C = 0,0034 N x D x W x G x s
dimana :
N = jumlah putaran, rpm
D = diameter roll, inchi
W = lebar permukaan roll, inchi
G = berat jenis material
s = jarak antar roll, inchi
Hancurnya material dalam roll crushing dibedakan menjadi :
a. Choke Crushing
Penghancuran material tidak hanya dilakukan oleh permukaan roll
tetapi juga aoleh sesama material
b. Free Crushing
Yaitu material yang masuk langsung dihancurkan oleh roll.
Kecepatan crushing tergantung pada kecepatan pemberian umpan
(feed rate) dan macam reduksi yang diinginkan.
C. Fine Crushing (Grinding Mill)
Milling merupakan proses kelanjutan dari primary crushing dan
secondary crushing. Proses penghancuran dalam milling menggunakan
shearing stress.
Milling diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan :
1. Bentuk cell
a. Cylinder (produk yang ada masih kasar)
Contoh untuk mill bentuk silinder adalah tube mill. pada tube mill ini
produktanya masih agak kasar dan dalam proses penghancurannya
perlu ditambahkan air sehingga bercampurnya dengan material
menjadi pulp.
b. Conical (produk halus)
Contoh untuk mill bentuk conical adalah hardinge conical mill.
Produktanya halus, lebih halus daripada produkta yang dihasilkan
cylinder mill. Untuk akhir penghancuran memerlukan bola baja dengan
diameter 2 3 inchi. Jumlah bola-bola baja dalam ball mill berkisar
antara 50% - 60% dari volume mill dan kadang-kadang mencapai 80%.
d. Cylindro Conical
Mill jenis ini produktanya ada yang halus dan ada yang kasar, bentuk
cell merupakan penggabungan antara bentuk cylinder dan conical.
2. Grinding Media
a. Ball Mill (bola-bola baja)
Contoh untuk mill ini adalah ball mill, yang telah diuraikan pada
keterangan conical mill.
b. Peable Mill (batu api/flint)
c. Rod Mill (batang-batang Baja).
Grinding media pada rod mill adalah batang-batang baja, umpan yang
dimasukkan ukurannya lebih kecil dari inchi dan produktanya
berukuran -14 sampai -18 mesh. Umpan berukuran kecil, karena bila
materialnya terlalu besar maka akan menimbulkan cataracting
akibatnya batangan baja akan patah.
Dengan adanya rod maka tidak akan mengalami over grinding, hal ini
karena rod tersebut saling sejajar sehingga umpan yang telah halus
tidak akan mengalami penghancuran lagi. Hal ini dapat dilihat pada
distribusi partikel pada rod mill.

Pada bagian (A) terlihat penyebaran material itu teratur dari besar di
sebelah kiri dan yang kecil disebelah kanan. Pada bagian (B)
penyebaran partikel ini acak-acakan ada yang besar
dan ada yang kecil, tetapi di sini dapt dilihat bahwa partikel yang
relatif besar saja yang mengalami penghancuran sampai akhirnya
berukuran relatif sama sehingga tidak akan terjadi over grinding. Pada
bagian (C) terlihat pada bagian kiri terdapat partikel yang besar
(terlalu besar) sedangkan disebelah kanan partikelnya kecil. Hal ini
menyebabkan timbulnya cataracting dan dapat menyebabkan patahnya
rod.
3. Cara Memasukkan Umpan
a. Scoop Feeder
b. Drum Feeder
c. Scoop and Drum Feeder
Cara pemasukan umpan melalui kombinasi antara scoop dan drum.
4. Lubang Pengeluaran
a. Grate Discharge
Proses penghancurannya dilakukan dalam keadaan basah dan pada
lubang pengeluaran diberi saringan sehingga diharapkan hasilnya
seragam. Kelemahanya kemungkinan grinding media yang kecil
menutupi lubang saringan sehingga saringan tersumbat.
b. Overflow Discharge
Mill jenis ini mirip dengan grate mill diatas, hanya saja pada mill ini
tidak dilengkapi dengan saringan sehingga hasilnya tidak seragam.
5. Kecepatan Putar Cell
a. Kecepatan Kritis
Yaitu kecepatan putar cell pada operasi milling dimana pada saat
itugrinding media menempel pada dinding cell sehingga tidak terjadi
proses abrasi maupun impact.
b. Cataracting
Adalah kecepatan putar dari cell mill dimana grinding media akan
menimbukan impact yang lebih besar dibandingkan abrasi.
c. Cascading
Yaitu kecepatan putar pada cell mill pada operasi milling yang
mengakibatkan grinding media lebih dominan bekerja secara abrasi
maupun impact.
Rumus kecepatan kritis adalah sebagai berikut :

dimana :
N = putaran, rpm
D = diameter cell mill, ft
r = jari-jari mill, ft
S = diameter mill, ft
s = diameter bola baja/grimding media, ft
Setiap mill bagian dari cell dilapisi oleh liner. Hal ini berguna untuk
melindungi cell agar tidak aus dan rusak, selain itu juga membantu
kerja dari grinding media. Liner ini jika sudah aus harus diganti dengan
yang baru agar tidak merusak bagian mill. Lapisan pengganti (liner)
biasanya terbuat dari baja campuran dan terdapat dalam beberapa
tipe, yaitu ; shiplap. wedge bar dan ribbed plate.
Dalam pemakaian mill perlu diperhatikan kekerasan material yang akan
dihancurkan karena liner yang dipasang harus lebih keras dari material
yang akan dihancurkan. Operasi mill dapat dilakukan secara tertutup
maupun terbuka. Untuk yang tertutup biasanya diombinasikan dengan
classifier. Pada operasi ini terdapat istilah-istilah sebagai berikut :
- Circulating Load Ratio
yaitu perbandingan antara material yang dikembalikan dari classifier
ke mill dengan umpan yang masuk ke mill.

dimana :
d = persen berat kumulatif yang ada pada ukuran tertentu yang ada
pada umpan
o = persen berat kumulatif yang ada dalam overflow pada classifier
s = persen berat kumulatif dalam underflow pada classifier

Laporan Praktikum Modul Rod Mill


BAB III ROD MILL

3.1 Landasan Teori


Penggerusan dengan rod mill diterapkan dengan cara penggerusan basah dan kering, rod mill
digunakan pada prymary grinding sebelum dilanjutkan dengan ball mill. Disamping itu rod mill
digunakan untuk preparasi bijih untuk proses gravity konsentrasi dengan produk mempunyai
ukuran 4-100 mesh, dapat juga digunakan untuk umpan pembuatan klinker semen.
(Rod mills) mampu mereduksi (feed) dengan ukuran 50 mm menjadi produk dengan ukuran
300 m. Rasio reduksi biasanya antara 15: 1 s.d. 20:1. Ciri khusus dari (rod mill) adalah
panjang (cylindrical shell)-nya antara 1,5 dan 2,5 kali diameternya.

Gambar 3.1 Tampilan Rod Mill


(Mill) dengan panjang 6,4 m, diameternya tidak boleh lebih dari 4,57 m. Rod mills) dengan
diameter lebih dari 4,57 m dengan panjang 6,4 m dapat digunakan dengan motor 1640 kW.

Daya yang dibutuhkan untuk kapasitas tertentu dapat diperkirakan dengan persamaan Bond:

Persamaan Bound
Jenis jenis Rod Mill
- Centre peripheral discharge mills

Gambar 3.2 centre peripheral discharge mill

Pada centre peripheral discharge mills, feed dimasukkan dari kedua ujungnya ke
dalam trunnions dan hasilnya dikeluarkan melalui port sirkumferen pada bagian
tengah shell. Mill ini dapat digunakan untuk penghalusan basah atau kering dan banyak
dipakai dalam menyiapkan pasir-pasir khusus dalam jumlah besar.

- End peripheral discharge mills


Pada end peripheral discharge mills, feed dimasukkan dari salah satu ujungya
ke trunnion dan produk dikeluarkan dari ujung lainnya. Mill ini digunakan umumnya untuk
penghalusan kering dan lembab.
Gambar 3.3 end peripheral discharge mills

Jenis (rod mill) yang paling banyak digunakan dalam industri pertambangan adalah (trunnion
overflow), dimana umpan dimasukkan melalui sebuah (trunnion )dan dikeluarkan melalui
yang lainnya. Jenis (mill) ini hanya digunakan untuk penghalusan basah fungsi dasarnya
adalah untuk mengkonversi produk (crushing plant) menjadi (ball-mill feed).
Diameter (overflow trunnion) lebih besar 10-20 cm dari bukaan umpan untuk membuat aliran
yang tinggi.

Gambar 3.4 overflow mill

Untuk (rods) ini digunakan baja karbon tinggi. Jumlah penghalusan yang optimal diperoleh
jika volumenya 35 % dari (shell). Pemakaian (rod) tergantung kepada karakteristik (mill
feed), kecepatan penggilingan, panjang (rod), dan ukuran produk; normalnya berkisar antara
0,1-1,0 kg baja per ton bijih untuk penghalusan basah, dan kurang dari itu untuk penghalusan
kering.
(Rod mills) normalnya bekerja antara 50 dan 65% dari kecepatan kritisnya.
Gambar 3.5 Grinding action of rocks at Rod Mill

3.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum (Rod Mill) adalah menentukan RR80 dari hasil penggerussan, dimana
waktu penggerusan setiap umpan berbeda beda dan memisahkan mineral pengganggu yang
msih menyatu dengan mineral berharganya.

3.3 Sistematika Alat


Sistematika alat dari (Rod Mill) yaitu menggunakan energi kinetik dari slinder baja yang
bersama -sama dengan umpan dalam (crusher), pada saat terjadinya pemutaran kemudian
umpan dan silinder baja terlempar bersama sama ke dinding (crusher) saat itulah terjadinya
penggerusan pada umpan yang kita masukkan pada (Rod Mill).

3.4 Alat dan Bahan


3.4.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam proses pereduksian dengan Rod Mill yaitu :
1. Rod mill, sebagai alat untuk menggerus batuan.
2. Stopwatch sebagai alat pencatat waktu.
3. Timbangan Elektrik (neraca analitik) sebagai alat menimbang berat bahan dan plastik
4. Sieve shekar sebagai ayakan yang digunakan untuk mengelompokkan butiran sesuai dengan
ukuran butirannya.
5. Kantong plastik sebagai wadah sample dari tiap ayakan.
6. Kemoceng 1 buah sebagai pembersih alat.
7. Dulang 2 Buah untuk tempat sample setelah proses pengerusan.
8. Scrap 2 buah untuk mencampur sample.
9. Spidol, untuk membuat tanda pada tiap plastik berisi sampel sebagai pengenal.
10. Pulpen dan kertas (buku), sebagai alat tulis dan tempat menulis data yang diperoleh.

3.4.2 Bahan
Bahan yang digunakan sebagai umpan adalah yang tertahan ayakan no 10 pada proses
sebelumnya (Hamer Mill)

Gambar 3.6 Bahan yang digunakan pada percobaab Rod Mill


Neraca analitik sekop Silinder Baja

dulang Rod Mill

Screen scrap

Spidol
Kemoceng
Gambar 3.7 alat yang digunakan dalam praktikum Rod Mill
3.5 Prosedur Percobaan
1. Menimbang umpan tertahan 10# sebanyak 1500 gr, dan membaginya dalam 3 bagian.
2. Menggerus umpan I dalam waktu 30 sekon, umpan II 60 sekon dan umpan III 90 sekon
dengan menggukan Rod Mill.
3. Menimbang hasil penggerusan Rod Mill tiap bagian .
4. Mengayak produk dengan durasi 300 sekon.
5. Menimbang produk tiap ukuran mesh pada ayakan.
6. Setelah menimbang produk tiap mesh, menyatukan kembali dalam 1 tempat(plastik).
7. Mencatat hasil penimbangan
8. Malakukan pengolahan data dan mencari RR80 dengan membandingkan 80% umpan dengan
80% produk.

3.6 Pengolahan Data


Umpan yang praktikan gunakan yaitu produk yang tertahan ayakan no 10 dengan berat total
1500 gr, dengan demikian F80 = 1,68 mm (Klasifikasi Tayler) dan membaginya dalam 3
bagian yang sama.
Umpan 1
Berat awal = 503,2 gr
Berat setelah di Rod Mill = 498,0 gr
Waktu Penggerusan = 30 sekon
Waktu Pengayakan = 300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 1

BERAT BERAT BERAT


PLASTIK PLASTIK KOMULATIF % LOLOS
NO MESH LUAS(mm)2 (gr) +SAMPEL (gr) BERATSAMPEL(gr) (gr) KOMULATIF
1 #10 1,68 3,2 380,4 377,2 428,8 100,00
2 #20 0,841 3,2 42,8 39,6 51,6 12,03
3 #40 0,42 3,2 8 4,8 12 2,80
4 #60 0,25 3,2 6 2,8 7,2 1,68
5 #80 0,178 3,2 5,2 2 4,4 1,03
6 #100 0,15 3,2 3,2 0 2,4 0,56
7 #120 0,125 3,2 3,8 0,6 2,4 0,56
8 #140 0,105 3,2 3,5 0,3 1,8 0,42
9 #200 0,073 3,2 3,5 0,3 1,5 0,35
10 <200 0,073 3,2 4,4 1,2 1,2 0,28
428,8

Nilai P80 = 1,49 mm


Maka RR80 =
=
= 1,1275

Umpan 2
Berat awal = 503,4 gr
Berat setelah di Rod Mill = 500,4 gr
Waktu Penggerusan = 60 sekon
Waktu Pengayakan = 300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 2

BERAT BERAT BERAT


PLASTIK PLASTIK KOMULATIF % LOLOS
NO MESH LUAS(mm)2 (gr) +SAMPEL (gr) BERATSAMPEL (gr) (gr) KOMULATIF

1 #10 1,68 3,2 340,2 337 445,8 100,00


2 #20 0,841 3,2 91,4 88,2 108,8 24,41
3 #40 0,42 3,2 13,3 10,1 20,6 4,62
4 #60 0,25 3,2 5,8 2,6 10,5 2,36
5 #80 0,178 3,2 5 1,8 7,9 1,77
6 #100 0,15 3,2 4,4 1,2 6,1 1,37
7 #120 0,125 3,2 4,3 1,1 4,9 1,10
8 #140 0,105 3,2 4,1 0,9 3,8 0,85
9 #200 0,073 3,2 3,6 0,4 2,9 0,65
10 <200 0,073 3,2 5,7 2,5 2,5 0,56
445,8

Nilai P80 = 1,46 mm


Maka RR80 =
=
= 1,15

Umpan 3
Berat awal = 503,4 gr
Berat setelah di Rod Mill = 499,7 gr
Waktu Penggerusan = 90 sekon
Waktu Pengayakan = 300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 3

BERAT BERAT BERAT


PLASTIK PLASTIK KOMULATIF % LOLOS
NO MESH LUAS(mm)2 (gr) +SAMPEL(gr) BERATSAMPEL(gr) (gr) KOMULATIF
1 #10 1,68 3,2 388,7 385,5 445,4 100,00
2 #20 0,841 3,2 38 34,8 59,9 13,45
3 #40 0,42 3,2 14 10,8 25,1 5,64
4 #60 0,25 3,2 7,3 4,1 14,3 3,21
5 #80 0,178 3,2 6 2,8 10,2 2,29
6 #100 0,15 3,2 4,8 1,6 7,4 1,66
7 #120 0,125 3,2 4,8 1,6 5,8 1,30
8 #140 0,105 3,2 4 0,8 4,2 0,94
BERAT BERAT BERAT
PLASTIK PLASTIK KOMULATIF % LOLOS
NO MESH LUAS(mm)2 (gr) +SAMPEL(gr) BERATSAMPEL(gr) (gr) KOMULATIF
9 #200 0,073 3,2 3,7 0,5 3,4 0,76
10 <200 0,073 3,2 6,1 2,9 2,9 0,65
445,4

Nilai P80 = 1,485 mm


Maka RR80 =
=
= 1,13
3.7 Pembahasan
Dari praktikum yang telah praktikan lakukan praktikan medapat % lolos komulatif, produk
dan RR80 untuk setiap umpan dalam selang waktu proses yang berbeda-beda dengan F80
yang tetap yaitu 1,680 mm, karena menggunkan pruduk yang lolos ayakan no 10. Untuk
menentukan RR80dengan rumus berikut
Maka RR80 =
Dimana : F80 = ukuran umpan pada 80% pada grafik
P80 = ukuran umpan pada 80% pada grafik
- Umpan bagian 1 dengan Berat awal = 503,2 gr, setelah di reduksi di Rod Mill = 498,0 gr
waktu pengayakan 30 sekon dan berat akhir = 428,8 gr, nilai P80% = 1,49 mm, sehingga RR80 =
1,1275
- Umpan bagian 2 dengan Berat awal = 503,4 gr, setelah di reduksi di Rod Mill = 500,4 gr
waktu pengayakan 60 sekon dan berat akhir = 445,8 gr, nilai P80% = 1,46 mm, sehingga RR80 =
1,15
- Umpan bagian 3 dengan Berat awal = 503,4 gr, setelah di reduksi di Rod Mill = 449,7gr
waktu pengayakan 90 sekon dan berat akhir = 445,4 gr, nilai P80% = 1,485 mm, sehingga
RR80 = 1,13
Pada proses pengerusan atau pereduksian dengan menggunakan (Rod Mill) berguna untuk
memisahkan mineral mineral pengotor yang masih menyatu dengan mineral berharganya,
itulah sebabnya dilakukan proses lanjutan (secandary crusher). Jumlah berat umpan yang di
masukkan dalam (crusher) terjadi kehilangan berat (loss) hal tersebut karena beberapa hal
yaitu, sebagian umpan tertinggal dalam alat sehingga dianggap berat yang hilang, selanjutnya
pada saat penuangan produk ke suatu tempat (plastik) dan selanjutnya pada saat pengeluaran
produk dari (crusher)umpan yang berukuran (micro) terhembus dan terbawa oleh angin. Hal-
hal tersebutlah yang mengakibatkan perbedaan antara berat umpan denga berat produk (berat
produk lebi rendah daripada berat umpan)
3.8 Aplikasi
Aplikasi (Rod Mill) pada perusahaan pertambangan yaitu berguna untuk meningkatkan
jumlah produksi dan meningkatkan kualitas produksi suatu perusahaan, dimana proses (Rod
Mill) yaitu menggerus umpan yang umpannya berasal dari hasil perduksian
sebelumnya (primary Crusher)dengan memisahkan mineral mineral pengganggu yang
masih menyatu dengan mineral berharganya supaya mendapatkan produk baik. Pada
umumnya Rod Mill digunakan dalam perusahaan logam dan nonlogam, seperti pasir, besi,
dolomit, keramik dll.

3.9 Kesimpulan dan Saran


3.9.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah praktikan lakukan, praktikan dapat menyimpulkan bahwa :
1. Rod Mill merupakan lanjutan dari Primary crusher yaitu secondary crusher (tahap
pereduksian lanjutan dari primari)
2. Rod Mill merupakan salah satu bagian pereduksian batuan yaitu menggerus dengan
menggunakan silinder baja, yang bertujuan untuk memisahkan mineral pengotor yang masih
menyatu dengan mineral berharganya.
3. Pada pereduksian dengan Rod Mill nilai RR80 relatif kecil, hal tersebut dipengaruhi oleh
F80(nilai 80 % pada umpan), karena pada pereduksian ini praktikan mengunakan umpan yang
tertahan ayakan no 10.
4. Pada pereduksian menggunakan Rod Mill semakin lama waktu pengayakan maka semakin
banyak produk yang berukuran milli (lolos ayakan < 200)