You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari
seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis
penyakit (Wikipedia. 2010).
Pemeriksaan fisik adalah peninjauan dari ujung rambut sampai ujung
kaki pada setiap system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang
klien dan memungkinkan perawat untuk mebuat penilaian klinis. Keakuratan
pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang diterima klien dan
penetuan respon terhadap terapi tersebut.(Potter dan Perry, 2005)
Tujuan Pemeriksaan Fisik
1. Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
2. Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh
dalam riwayat keperawatan.
3. Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4. Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien
dan penatalaksanaan.
5. Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan.
Namun demikian, masing-masing pemeriksaan juga memiliki tujuan tertentu
yang akan dijelaskan nanti di setiap bagian tubuh yang akan dilakukan
pemeriksaan fisik.
Manfaat pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun
bagi profesi kesehatan lain, diantaranya:
1. Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose
keperawatan.
2. Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan
Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan
pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan
perencanaan perawatan pasien. Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara
sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak.Setelah
pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi.

1
Untuk bisa melakukan pemeriksaan fisik yang tepat dan akurat maka
diperlukan suatu pengetahuan tentang bagaimana anatomi dan fisiologi
fisik.Dengan demikian nantinya bisa ditentukan apakah pemeriksaan fisik yang
dilakukan itu memberikan hasil yang normal ataukah abnormal.
Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik,
ahli medis dapat menyusun sebuah diagnosis diferensial, yakni sebuah daftar
penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan
dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut. Sebuah pemeriksaan yang
lengkap akan terdiri diri penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ
yang spesifik.
Dari berbagai bagian pemeriksaan fisik yang biasa dilakukan kepada
pasien, makalah ini memfokuskan untuk membahas bagaimana pemeriksaan
fisik khususnya pada abdomen. Makalah ini membahas entang bagaimana
anatomi dan fisiologi tubuh khususnya pada abdomen, kemudian pemeriksaan
apa saja yang bisa dilakukan pada abdomen, serta abnormalitas yang mungkin
ditemukan dalam abdomen.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi abdomen atau perut?
2. Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan pada abdomen atau perut?
3. Apasaja ketidaknormalan (abnormalitas) yang terdapat pada abdomen atau
perut?

C. TUJUAN
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi abdomen atau perut.
2. Mengetahui teknik pemeriksaan apasaja yang dapat dilakukan pada
abdomenatau perut.
3. Mengetahui abnormalitas yang terjadi pada abdomen atau perut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI ABDOMEN

2
Abdomen merupakan suatu bagian tubuh yang menyerupai rongga tempat
beberapa organ-organ penting tubuh yaitu lambung, usus, pankreas, hati, limpa serta
ginjal. Abdomen merupakan lokasi dari beberapa sistem yang dimiliki tubuh,
diantaranya Sistem Pencernaan, Sistem Perkemihan, Sistem Endokrin, serta Sistem
Reproduksi. Dalam melakukan pengkajian atau pemeriksaan, perawat harus
memahami struktur anatomi perut yang meliputi daerah-daerah/ bagian dan batas-
batas perut.
1. Pembagian Abdomen
Untuk memudahkan kita mengenali letak topografi dari perut dan dada, Dr.
Djoko Setijadji Rahardjo. DTMH (2001) menjelaskan adanya garis-garis yang
dijadikan pedoman antara lain :
a. Linea Media Anterior
Yakni garis imajiner yang ditarik dari ujung sternum (lekuk supra
sternum/sulcus jugularis), lurus ke bawah sampai ke symphisis melalui
umbilicus ke atas ke kepala tepat lewat glabella terus ke atas sampai vertex.
b. Linea Mamilaris (Linea Medio Clavicularis)
Yakni garis imaginer yang ditarik dari pertenggahan clavicula lurus terus
kebawah sampai pada lipatan pangkal paha.
c. Linea Sternalis
Yakni garis imajiner yang ditarik dari tepi pertemuan tulang costa dengan
sternum, dari atas ke bawah pada arcus costae.
d. Linea Para Sternalis
Yakni garis imajiner yang ditarik dari atas kebawah yang berada dari
pertengahan antara linea mamilaris dengan linea sternalis.
e. Linea Maxilaris
Yakni garis imajiner yang ditarik lurus dari atas kebawah dimulai dari tepi
depan ketiak sampai ke spina iliaka superior anterior.
f. Bidang Trans Pylorik
Yakni bidang imajiner yang ditarik dari kedua ujung arcus costae kanan dan
kiri.
g. Bidang Trans Tuberkuler
Yakni bidang imajiner yang ditarik dari kedua spina illiaka superior
anterior.
Sehingga dengan demikian bila kita mencermati tubuh kita ( thorax dan
abdomen ), akan terbagi menjadi 9 bagian atau biasa disebut dengan region,
diantaranya :
a. Regio Hypochondrica Dextra

3
Yakni regio yang dibatasi oleh kanan linea maxillaris dextra, bawah oleh
bidang trans pylorik, kiri oleh linea mamillare/linea medio clvicularis
dextra.
b. Regio Epigrastica
Yakni region yang dibatasi oleh linea mamillar/linea medio clavicularis
dextra dan linea mamillaris sinistra, sebelah bawah oleh bidang trans
pylorik
c. Regio Hypochondrica Sinistra
Regio yang dibatasi sebelah kiri oleh linea maxilaris sinistra dan kanan oleh
linea mamillaris/linea medio clavicularis sinistra, bagian bawah oleh bidang
trans pylorik.
d. Regio Lateralis Dextra
Regio yang dibatasi oleh sebelah kanan linea maxillaris dextra, sebelah kiri
oleh linea medio clavicularis dextra, sebelah atas oleh bidang trans pylorik
dan pada bagian bawah oleh bidang transtuberkuler.
e. Regio Umbilikalis
Yakni region yang dibatasi oleh sebelah atas bidang trans pylorik, sebelah
kanan oleh linea medio clavicularis dextra dan bagian bawah dibatasi oleh
bidang tuberkularis, disebelah kiri dibatasi oleh linea medio clavicularis
sinistra.
f. Regio Lateralis Sinistra
Regio yang dbatasi oleh sebelah kanan linea medio clavikularis dextra,
sebelah atas oleh bidang trans pylorik, sebelah kiri dibatasi oleh linea
maxilaris sinistra, bagian bawah dibatasi oleh bidang trans tuberkularis.
g. Regio Inguinalis Dextra
Yakni region yang dibatasi oleh kanan spina illiaca superior anterior dextra,
sebelah atas oleh bidang trans tuberkularis, sebelah kiri oleh linea medio
clavicularis dextra, sebelah bawah oleh tepi dari lipatan paha, jadi bentuk
region ini adalah berbentuk segitiga.
h. Regio Pubica
Yakni region yang dibatasi oleh bidang trans tuberkularis, sebelah bawah
sepanjang lipatan paha dan melintas pubis, sampai kekiri dibatasi oleh linea
medio clavicularis sinistra.
i. Regio Inguinalis Sinistra
Yakni region yang dibatasi oleh sebelah kanan oleh linea medio clavicularis
sinistra, sebelah atas oleh bidang trans tuberkularis sinistra, bagian kiri oleh
spina illiaca superior anterior sinistra.

2. Organ-organ yang terdapat di dalam Abdomen

4
a. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang
keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu: kardia, fundus, dan antrum. Lambung
biasanya memiliki bentuk J,dan terletak di kuadran kiri atas abdomen.
Terletak dibawah diafragma didepan pancreas dan limpa, menempel
disebelah kiri fundus uteri.
Fungsi Lambung:
1) Menampung makanan, menghaluskan dan menghaluskan makanan oleh
peristaltic lambung dan getah lambung,
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan :
a) Pepsin, fungsinya memecah putih telur menjadi asam amino atau
albumin dan pepton.
b) Asam garam (HCL), fungsinya mengasamkan makanan sebagai
antiseptic dan disinfektan dan membuat suasana asam pada
pepsinogen sehingga menjadi pepsin.
c) Renin, fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan
membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu).
d) Lapisan lambung jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi asam
lemak yang merangsang sekresi getah lambung.

b. Pankreas
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat
mirip dengan kelenjar ludah, panjangnya kira-kira 15cm, lebar 5cm mulia
dari duodenum sampai ke limpa, dan beratnya rata-rata 60-90 gram.
Pankreas terbantang pada vertebra lumbalis I dan II di belakang lambung.
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua
fungsi utama yaitu menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon
penting seperti insulin.Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan
berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari).
Sekresi Pankreas
1) Hormon Insulin.
Hormone ini langsung dialirkan kedalam darah tanpa melewati
duktus.Sel-sel kelenjar yang menghasilkan insulin ini termasuk sel
kelenjar endokrin. Kumpulan sel ini berbentuk seperti pulau-pulau, yang
disebut pulau Langerhans
2) Getah pancreas.

5
Sel-sel yang memproduksi getah pancreas ini termasuk kelenjar
eksokrin.Getah pancreas dikirim kedalam duodenum melalui duktus
pankreotikus yang bermuara pada papilla vateri yang terletak pada
dinding duodenum.
Fungsi Pankreas :
1) Fungsi eksokrin, membentuk getah pancreas yang berisi enzim dan
elektrolit.
2) Fungsi endokrin, sekelompok kecil sel epithelium yang berbentuk pulau-
pulau kecil atau pulau langerhans yang bersama-sama membentuk organ
endokrin, yang mengsekresikan insulin.
3) Fungsi sekresi eksternal, cairan pancreas dialrkan ke duodenum yang
berguna untuk proses pencernaan makanan di intestinum.
4) Fungsi sekresi internal, sekresi yang dihasilkan oleh pulau-pulau
langerhans sendiri langsung dialirkan ke dalam peredaran darah.
Sekresinya disebut hormone insulin dan hormone glucagon. Hormon
tersebut dibawa kejaringan untuk membantu metabolism karbohidrat.
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan
melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas
akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah
protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan
dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran
pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat,
yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam
lambung.

c. Hati
Hati atau hepar adalah organ yang paling besar didalam tubuh,
dengan berat sekitar 1300-1550 gram, 1,5 kg. Warnanya merah kecoklatan
sangat vascular dan lunak.Letaknya bagian atas dalam rongga abdomen,
disebelah kanan bawah diafragma.Hati berbentuk baji dengan dasarnya pada
sisi kanan dan apek pada sisi kiri.Organ ini terletak pada kuadran kanan atas
abdomen, yang dilindungi oleh kartilago kostalis.
Fungsi Hati:
1) Mengubah zat makanan yang diabsorbsi dari usus dan yang disimpan
disuatu tempat dalam tubuh, dikeluarkan sesuai dengan pemakaiannya
dalam jaringan.

6
2) Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk diekskresi dalam empedu
dan urine.
3) Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen.
4) Sekresi empedu, garam empedu dibuat dihati, dibentuk dalam system
retikulo endothelium, dialirkan ke empedu.
5) Pembentukan ureum, hati menerima asam amino yang kemudian diubah
menjadi ureum, dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urine.
6) Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air.

d. Usus
Usus terdiri atas :
1) Usus Halus
Usus halus adalah bagian dari system pencernaan makanan yang
berpangkal pada pylorus dan berakhir pada sekum. Panjangnya 6m,
merupakan saluran paling panjang, tempat proses pencernaan dan
absorbs hasil pencernaan yang terdiri dari lapiasan usus halus.
Usus halus terbagi atas 3, yaitu
a) Duodenum
Duodenum disebut juga usus duabelas jari, panjangnya 25cm,
berbentuk sepatu kuda melengkung kekiri, pada lengkungan ini
terdapat pancreas.Pada bagian kanan duodenum ini terdapat selaput
lender yang membukuit disebu papilla vateri.Pada papilla vateri ini
ermuara disaluran empedu dan saluran pancreas. Dinding duodenum
mempunyai lapisan mukosa yang banyak megandung kelenjar, yang
disebut kelenjar brunner, yang berfungsi untuk memproduksi getah
intestinum.
b) Jejunum dan Ileum
Jejunum dan ileum mempunyai panjang 6m.Dua perlima bagian
atas adalah jejunum dengan panjang 2-3m dan ileum dengan
panjang 4-5m.Lekukan jejunum dan ileum melekat pada dinding
abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritoneum yang
berbentuk kipas dikenal sebagai mesentrium.
Fungsi Usus Halus
a) Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap
melalui kapiler darah dan saluran limfe
b) Menyerap protein dalam bentuk asam amino
c) Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida
d) Absorbsi air, garam dan vitamin
e) Menerima empedu dan getah pancreas
f) Sekresi cairan usus
2) Usus Besar

7
Usus besar atau intestinum mayor panjangnya 1.5 m lebarnya 5-
6cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar: selaput lender,
lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat.
Usus Besar terbagi atas:
a) Sekum
Sekum adalah kantung lebar terletak pada fosa illiaka
dextra.Dibawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang
berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga sebagai umbai
cacing.

b) Apendiks
Apendiks disebut juga sebagai umbai cacing, panjangnya 18cm dan
membuka pada sekum sekitar 2,5cm dibawah katup ileo
sekal..Seluruh bagiannya ditutupi oleh peritoneum, mudah bergerak
walaupun tidak mempunyai mesenterium dan dapat diraba melalui
dinding abdomen pada orang yang masih hidup.Apendik memiliki
lumen yang sempit, lapisan submokosanya mengandung banyak
jaringan limfe.
c) Colon Asendens
Panjangnya 13cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan
membujur ke atas dari ileum kebawah hati melengkung kekiri,
lengkungan ini disebut fleksura hepatica.
d) Colon Transfersum
Colon Transfersum panjangnya 38cm, membujur dari colon
asenden sampai ke colon desenden, yang berada dibawah abdomen,
sebelah kanan terdapat fleksura hepatica, dan sebelah kiri terdapat
fleksura linearis.
e) Colon Dsendens
Colon ini panjangnya 25cm, terletak di bagian bawah abdomen
bagian kiri membujur dari atas kebawah dan fleksura linearis sampai
kedepan ileum kiri, bersambung dengan colon sigmoid.
f) Colon Sigmoid

8
Colon ini merupakan lanjutan dari colon desenden terletak miring
dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S,
ujung bawahnya berhubungan dengan rectum.
g) Rektum
Rektum terletak dibawah kolomsigmoid, yang menghubungkan
intestine mayor dengan anus.Terletak dalam rongga pelvis didepan
os skrum dan os koksigeus.
h) Anus
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan
rectum dengan dunia luar/ udara luar.

e. Ginjal
Ginjal merupakan suatu kelunjar yang terletak dibagian belakang
kavum abdominalis dibelakang peritoneum pada kedua sisi vertebra
lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen.Bentuk
ginjal seperti biji kacang, jumlahnya ada 2buah, yang letaknya ada pada kiri
dan kanan.Setiap ginjal memiliki panjang sekitar 12cm, lebar 7cm dan tebal
maksimal 2,5cm.Gimjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada
umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.
Fungsi ginjal :
1) Memegang peranan ppenting dalam pengeluaran zat-zat toksik atau
racun
2) Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
3) Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh
4) Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zt lain dalam
tubuh
5) Mengeluarkan sisa-sisa metabolism hasil akhir dari protein ureum,
kreatinin dan amoniak.
6) Berperan dalam produksi vit D

f. Ureter
Ureter merupakan tabung dari ginjal yang menuju ke vesika
urinaria.Terdapat 2 ureter dalam tubuh manusia, masing2 berada di kanan
dan kiri. Setiap ureter panjangnya sekitar 25cm. Ureter dimulau dari bagian
pelvis ginjal,bagian yang berdilatasi melekat pada hilum ginjal. Kemudian
berjalan ke bawah di bagian posterior didnding abdomen di belakang
peritoneum. Didalam pelvis, ureter membelok ke depan dan ke belakang

9
untuk memasuki vesika urinaria, melewati dindingnya ureter berjalan secara
oblik.
Lapisan dinding ureter mengalami gerakan peristaltic yang nantinya
akan membuat ureter mampu mendorong urine dari ginjal ke vesika urinaria.

g. Vesika Urinaria
Vesika urinaria atau yang biasa disebut dengan bllader atau kandung
kemih merupakan suatu organ dalam system pencernaaa yang mempunyai
fungi menampung urine yang telah disalurkan dari ginjal melalui
ureter.Ketika kosong kandung kemih terletak pada pelvis, sedangkan ketika
lebih dari setengah bagiannya terisi, kandung kemih menempati abdomen di
tas pubis. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilinggi oleh otot
yang kuat.
h. Uterus
Uterus adalah organ yang tebal, berotot dan berbentuk buah peer,
terletak didalam pelvis antara rectum dan kandung kemih.Ototnya disebut
miometrium.Uterus terapaung didalampelvis dengan jaringan ikat dan
ligamen.Panjang uterus 7,5cmlebar 5cm, tebal 2,5cm, dengan berat
50gram.Pada rahim wanita dewasa yang belum pernah menikah (bersalin)
panjang uterus adalah 5-8cm, beratnya 30-60gram.
Fungsi uterus adalah untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama
perkembangan, ovum yang telah keluar dari ovarium dihantarkan melalui
tuba uterine ke uterus.Pembuahan ovum secar normal terjadi didalam tuba
uterina, endometrium disiapkan untuk menerima ovum yang telah dibuahi,
dan ovum tertanam dalam endometrim.Pada waktu hamil uterus bertambah
besar, dindingnya menjadi tipis tetapi kuat dan besar samai keluar pelvis
masuk kedalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan janin.Pada saat
melahirkan uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.

B. PEMERIKSAAN ABDOMEN
Pemeriksaan fisik, dalam prakteknya tidah hanya cukup menggunakan
pemeriksaan fisik saja namun juga pengkajian secara utuh.Dimana pengkajian yang
bisa dilakukan untuk abdomen seperti halnya pada pengkajian secara keseluruhan
adalah anamnesa atau wawancara serta pemeriksaan fisik.
1. Anamnesa

10
Anamnesa adalah metode atau cara untuk mendapatkan informasi dengan
menanyakan pertanyaan tertentu pada pasien (Wikipedia. 2010).
Anamnesa yang dilakukan ini adalah menyangkut tentang :
Biodata pasien
Keluhan-keluhan pasien
Penyakit sekarang
Riwayat Kesehatan yang lalu
Status Kesehatan Terakhir
Riwayat Keluarga
Riwayat Psikososial
Terdapat 2 kriteria Anamnesa diantaranya :
a. Auto anamnesa
Anamnesa yang dilakukan secara langsung kepada pasien.
Contoh auto anamnesa :
Jenis makanan apa yang membuat Anda diare ?
Aktivitas apa yang dapat menyebabkan Anda nyeri ?
Aktivitas apa saja yang dapat mengurangi nyeri pada perut Anda ?
Aktivitas apa saja yang dapat menambah nyeri pada perut Anda ?
Di daerah mana Anda merasakan nyeri ?
Apakah nyeri yang Anda rasakan menyebar ?
Seberapa Anda merasakan nyeri ?
Apa yang Anda lakukan ketika perut Anda terasa sakit ?
Kapan Anda merasakan nyeri pertama kali?
Nyeri itu dating secara tiba-tiba ataukah bertahap?
Bagaimana Frekuensinya ?
Apakah Anda sering terbangun pada malam hari karena nyeri pada
perut Anda ?
Bagaimana pola defekasi Anda ?
Apakah sekarang Anda sedang mengalami Stress ?
Apa yang menyebabkan Anda Stress ?
Apakah Anda mempunyai kebiasaan merokok ?
Apakah Anda mempunyai kebiasaan minum alkohol ?
Apakah Anda sedang mengkonsumsi obat?
Apakah Anda suka mengkonsumsi kafein (kopi) ?
Bagaimana kondisi feses Anda ?
Apakah Anda merasakan kesulitan ketika menelan ?
Apakah Anda pernah mengalami tindakan pembedahan ?
b. Allo anamnesa
Anamnesa yang dilakukan tidak secara langsung kepada pasien, misalnya
anamnesa pada keluarga pasien, atau tenaga medis yang merujuk pasien.
Contoh allo anamnesa :
Apakah pasien baru datang dari luar negeri ?
Terapi apa saja yang sudah diberikan pada pasien ini?
Bagaimana kondisi pasien sebelumnya?
Apa yang paling dikeluhkan pasien?
Bagaimana riwayat kesehatan yang dimiliki pasien?

11
Apakah pasien memiliki riwayat penyakit menular?
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami gejala ini?
Bagaimana pola hubungan/kekerabatan masing-masing anggota
keluarga anda, jika ada yang mengalami sakit ?

2. Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan melakukan 4 teknik pemeriksaan
fisik yang biasa disingkat dengan IPPA ( Inspeksi, Palpasi, Perkusi,
Aukskultasi). Teknik Pemeriksan yang dilakukan pada abdomen, diantaranya :
a. Inspeksi
Saat bertemu dan melihat pasien, tentunya akan terbersit kesan keadaan
umum pasien tersebut dalam pikiran kita, bila hal ini dicermati maka akan
didapatkan informasi-informasi tentang pasien tersebut.
Inspeksi yang dilakukan pada abdomen, diantaranya meliputi :
1) Kulit Abdomen
Pada pemeriksaan kulit di daerah abdomen ini yang perlu diperhatikan :
a) Kebersihan kulit
b) Warna kulit
c) Ada tidaknya luka atau bekas luka termasuk jaringan parut
d) Adanya benjolan
2) Bentuk Abdomen
Bentuk abdomen yang dimaksudkan disini adalah datranya abdomen,
tidak terjadi penumpukan cairan/ lemak yang berlebihan.

b. Palpasi
Palpasi ialah metode pemeriksaan di mana penguji merasakan
ukuran, kekuatan, atau letak sesuatu dari bagian tubuh pasien (di mana
penguji ialah praktisi kesehatan) (Wikipedia. 2010).
Palpasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ukuran, bentuk,
serta konsistensi organ yang ada di dalam abdomen. Palpasi dilakukan
dengan menggunakan kedua tangan, dan utamanya dengan ujung jari,
dimana telah kita pahami bahwa ujung jari adalah bagian tubuh yang
relative paling sensitive dalam berfungsi sebagai indra perabaan. Palpasi
dibagi atas :
1) Palpasi Dangkal
Yaitu merupakan palpasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan
dengan berat jari tangan.
2) Palpasi Dalam
Yaitu merupakan palpasi yang dilakukan dengan meletakkan jari-jari
tangan yang sebelah/satunya dari tangan yang lain tepat diatas jari

12
tangan yang terdahulu, sehingga kita akan mendapatkan kesan
pengkajian yang lebih baik dari semula.
3) Palpasi Bimanual
Yaitu palpasi yang dilakukan dengan menggunakan kedua belah jari
tangan kanan dan kiri sekaligus, dimana kita posisikan ujung-ujung jari
kita pada tepi organ atau benjolan yang diperiksa. Dengan
menggerakkan kedua jari tangan secara bergantian atau bersamaan akan
diperoleh kesan tentang ukuran, konsistensi, adanya perlekatan dengan
sekitar atau tidak, serta tekstur permukaaan objek tadi.
Cripitasi : pada saat palpasi kita merasakan/ seras ada seperti sesuatu
yang bergesekan, seperti ada barang yang hancur, ataupun bergesekan
dengan yang lain.
4) Palpasi Ballotement
Mirip dengan palpasi Bimanual, hanya saja pergerakan jari hanya
dilakukan secara bergantian, sehingga diperoleh kesan apakah objek tadi
mengapung dalam suatu wadah ataukah melekat pada bagian tubuh yang
lain.
5) Palpasi Khusus
Yaitu palpasi yang dilakukan dengan menggunakan ujung-ujung jari
telunjuk saja atau jari telunjuk dengan jari tengah, yang kita kenal
dengan Toocher.Sebagai contoh yaitu pada Rectal Toucher dan Vaginal
Toucher.

Palpasi yang dilakukan pada abdomen meliputi:


1) Permukaan Abdomen
Palpasi pada permukaan abdomen ini dimaksudkan untuk mengetahui
a) Adanya benjolan atau kerusakan kulit
b) Ada tidaknya nyeri dan nyeri tekan
c) Tekstur kulit abdomen
d) Turgor kulit abdomen
e) Konsistensi abdomen
f) suhu abdomen
2) Hepar/hati
Palpasi hepar dilakukan dengan palasi bimanual, hal ini dimaksudkan
dengan tujuan terutama untuk mengetahui bila ada pembesarab hepar.
Langkah palpasi hepar :
a) Letakkan tangan kiri pada dinding thorak posterior kira-kira pada
tulang rusuk ke 11 atau 12.

13
b) Letakkan tangan kiri ke atas sehingga sedikit mengangkat dinding
dada.
c) Letakkan tangan kanan pada batas bawah tulang rusuk sisi kanan,
sudut kira-kira 450 dengan otot rektus abdominal atau parallel
terhadap otot rektus abdominal dengan jari-jari kea rah tulang rusuk.
d) Pada pasien ekhalasi, lakukan penekanan ke dalam 4-5cm ke arah
bawah pada batas tulang rusuk.
e) Jaga posisi tangan dan suruh pasien inhalasi (menarik napas dalam).
f) Rasakan batas hepar bergerak menentang tangan anda yang secara
normal terasa dengan kontur regular. Bila hepar tak terasa/teraba
minta pasien untuk mebarik nafas dalam sementara posisi tangan
tetap dipertahankan atau lebih sedikit diberi tekanan lebih dalam.
g) Bila hepar membesar, lakukan palpasi di batas bawah tulang rusuk
kanan.
3) Limpa
Pada orang dewasa yang normal limpa tak teraba, palpasi limpa
baru teraba bila terjadi abnormalitas. Langkah melakukan palpasi limpa
pada intinya sama dengan hepar, yang membedakan hanya tempat
melakukan palpasi. Palpasi limpa dilakukan pada batas bawah tulang
rusuk kiri dengan menggunakan pola seperti pada palpasi hepar.
4) Ginjal
Secara anatomis, lobus atau kedua ginjal menyentuh diafragma
dan ginjal turun sewaktu inhalasi.Ginjal kanan normalnya lebih mudah
dipalpasi daripada ginjal kiri, karena ginjal kanan terletak lenih bawah
dari ginjal kiri.Ginjal kanan terletak sejajar dengan tulang rusuk ke-11.
Dalam melakukan palpasi ginjal, pasien diatur pada posisi supinasi dan
perawat berada pada sisi kanan pasien, langkah-l2ngkah palpasi ginjal
adalah:
a) Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri di
bawah panggul dan elevasikan ginjal ke arah anterior.
b) Letakkan tangan kanan pada dinding perut anterior pada garis
midclavicularis dari tepi bawah batas costa.
c) Tekankan tangan kanan secara langsung ke atas sementara pasien
menarik nafas panjang. Pada orang dewasa normal, ginjal tidak
teraba tetapi pada orang yang sangat kurus, bagian bawah ginjal
kanan dapat dirasakan.
d) Bila ginjal teraba, rasakan mengenai kontur (bentuk), ukuran, dan
adanya nyeri tekan.

14
e) Untuk melakukan palpasi ginjal kiri lakukan di sisi seberang tubuh
pasien, dan letakkan tangan kiri di bawah panggul kemudian lakukan
tindakan seperti pada palpasi ginjal kanan.
5) Kandung Kemih
Palpasi kandung kemih dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau
dua tangan.Kandung kemih teraba terutama bila mengalami distensi
akibat penimbunan urin.

c. Perkusi
Teknik pemeriksaan ini menggunakan prinsip pantulan getaran
gelombang suara, dari ketukan-ketukan yang akan kita lakukan dengan
menggunakan jari tangan, dimana salah satu dari jari tangan berfungsi
sebagai dasar, dan salah satu jari tangan dari tangan yang lainnya menjadi
pengetuk.
Pantulan suara/ suara perkusi yang biasadijumpai diantaranya :
1) Sonor
Yaitu suara menggema, biasanya didapati pada daerah paru pada orang
yang normal.
2) Hypersonor
Yaitu suara menggema yang keras, biasanya dijumpai pada paru-paru
dengan kelainan (emphysema, pneumothoraks, hypermeteorisme) serta
bagian tubuh yang menggandung udara.
3) Tympani
Yaitu suara yang keras, bernada tinggi, biasanya ditemukan pada
lambung yang penuh dengan udara, serta usus yang kembung.
4) Dullnes
Suara pekak/tumpul yang biasa dijumpai pada objek yang padat seperti
hepar.
Pemeriksaan perkusi pada abdomen diantaranya :
1) Lambung
Pada orang normal didapatkan suara sonor sampai tympani
2) Hepar
Didapatkan suara pekak
3) Usus
Pada pemeriksaan perkusi usus pada orang normal didapatkan suara
tympani.
4) Kandung Kemih
Perkusi pada kandung kemih yang normal didapatkan suara sonor.
d. Aukskultasi
Aukskultasi adalah salah satu cara pemeriksaan fisik dengan
mendengarkan organ atau bagian tubuh pasien menggunakan stetoskop.

15
Istilah-istilah yang sering digunakan dalam pemriksaan ini diantaranya :
ronchi, rochelen, klinken, murmur, wheezing, friksi, dan gallop.
Pemeriksaan aukskultasi pada abdomen yaitu bertujuan untuk
mendengarkan bising usus serta pembuluh darah.
Bising usus merupakan suara yang terjadi saat peristaltik yang
disebabkan oleh perpindahan gas atau makanan sepanjang
mediastinum.Banyak atau sedikitnya bising usus yang didengarkan saat
aukskultasi tergantung dari pergerakan atu motalitas usus, normalnya bising
usus adalah 5-12kali permenit.
Selain digunakan untuk kedua hal tersebut diatas, pada pasien yang
sedang mengalami kehamilan aukskultasi pada abdomen dilakukan untuk
mengetahhui DJJ dan kondisi rahim yang dikandung pasien.
Langkah aukskultasi bising usus adalah:
Letakkan diafragma pada tekanan ringan pd tiap kuadran
abdomen dan dengarkan suara peristaltik aktif dan gurgling tiap 5-20 detik.
Frekuensi suara bergantung pada status pencernaan ada/tdk nya makanan
pada saluran pencernaan. Bila bising usus terdengar jarang sekali/tidak ada,
dengarkan 3-5 menit sebelum dipastikan.
Langkah aukskultasi pembuluh darah :
Letakkan bagian bel stetoskop diatas aorta, arteri renalis, arteri
iliaka. Auskultasi aorta dari arah superior ke umbilikus. Auskultasi arteri
renalis dg meletakkan stetoskop pada garis tengah abdomen ke arah kanan
kiri garis abdomen bagian atas mendekati panggul. Pada orang normal
aukskultasi pembuuh darah tidak didapatkan suara, yang ada hanya detak
heart rate dari arteri.

C. ABNORMALITAS
Abnormalitas abdomen merupakan suatu kelainan yang muncul pada
abdomen, serta organ-organ yang ada didalam abdomen.Abnormalitas abdomen
dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan fisik baik anamnesa maupun
melalui IPPA. Dari abnormalitas ini nantinya akan bisa ditelusuri apa yang
menyebabkab terjadinya abnormalitas pada daerah tersebut untuk kemudian
dicarikan solusi, perawatan dan terapi yang bagaimana yang akan cocok untuk
mengatasi masalah tersebut.
Abnormalitas yang mungkin terjadi pada abdomen sesuai dengan cara
pemeriksaan fisik yang dilakukan diantaranya :

16
1. Inspeksi
Abnormalitas yang mungkin terjadi pada abdomen adalah:
a) Adanya luka atau luka bekas operasi hingga timbulnya jaringan parut
b) Bila ada luka, adakah pus atau serum
Adanya pus mengartikan bahwa telah terjadi peradangan pada daerah luka.

c) Nodul atau massa yang muncul dipermukaan abdomen.


Nodul atau massa pada abdomen mungkin merupakan suatu tumor baik
ganas ataupun tak ganas. Selain itu juga bisa merupakan suatu hernia.
d) Hyperpigmentasi kulit abdomen
Pada pasien yang sedang hamil, hyperpigmentasi atau yang biasa disebut
dengan striae ini wajar terjadi, namun bila hal ini terjadi pada pasien yang
tidak sedang mengalami kehamilan, maka hal ini terjadi pada pasien yang
mengalami asites.
e) Adanya gelombang peristaltic menandakan adnya obstruksi di GI
f) Adanya pulsasi menandakan adanya peningkatan pada aneurisme aortic
g) Bentuk abdomen
Pada pasien dengan marasmus perutnya akan terlihat sangat kurus dan
cekung. Sebaliknya pada pasien-pasien yang mengalami sirosis hepatis,
biasanya terjadi asites pada perut karena penumpukan cairan yang
berlebihan. Selain itu pada pasien dewasa biasanya juga dapat dijumpai
perut yang buncit, banyak factor yang mempengaruhinya, dari penumpukan
lemak, BAB yang tak lancer, yang kesemuanya itu akan meningkatkan
resiko penyakit bagi orang tersebut terlebih resiko PJK.

2. Palpasi
Pemeriksaan palpasi abnormal yang mungkin terjadi diantaranya :
a. Teraba nodul atau massa yang muncul dipermukaan abdomen.
Nodul atau massa pada abdomen mungkin merupakan suatu tumor baik
ganas ataupun tak ganas. Selain itu juga bisa merupakan suatu hernia.
b. Nyeri dan nyeri tekan
Letak nyeri menjadi pengaruh dari masalah yang terjadi di daerah tersebut,
yang nantinya akan mempengaruhi pendiagnosaan serta perawatan dan
pemberian terapi atas nyeri yang dirasakan.
Diagnosis banding nyeri :
1) Kwadran kanan atas
Cholecystitis acute
Perforasi tukak duodeni
Pankreatitis acute
Hepatitis acute
Acute Congestive Hepatomegali
Pneumonia dan pleuritis

17
Phyelonefritis Acute
Abses Hepar
2) Kwadran kiri atas
Ruptura Lienalis
Perforasi Tukak Lambung
Pencreatitis Acute
Rupture Aneurisma Aorta
Perforasi Colon
Pneumonia daan Plieuritis
Phyelonefritis
Infark Miokard Acute
3) Kwadran para umbilical
Ileus Obstruksi
Appendicitis
Pankreatitis Acute
Trombosis Arteri /Vena Mesentrial
Hernia Inguinalis Strangulata
Aneurisma aorta yang pecah
Diverculitis
4) Kwadran kanan bawah
Appendicitis
Salphingitis Acute
Graviditas Axtra Uterin yang pecah
Hernia Inguinalis Incarserata/ Strangulata
Diverculitis Meckel
Ileus Regionalis
Psoas Abses
Batu Ureter (Colic)
5) Kwadran kiri bawah
Sigmoid Diverkulitis
Salphingitis Acute
Graviditas Axtra Uterin yang pecah
Torsi Ovarium Tumor
Hernia Inguinalis Incarserata/ Strangulata
Perforasi Colon Dedenden (Tumor, Corpus Alineum)
Psoas Abses
Batu Ureter (Colic)
c. Raba hepar saat pasien menghirup nafas, bila ujung teraba keras,
menandakan sirosis.
d. Ukur jaraknya dari margin costae pada garis midclavicular, bila jarak
meningkat kemungkinan terjadi hepatomegali.
e. Raba ginjal, apabila terjadi pembesaran kemungkinan terjadi hidronefrosis,
kanker, kista.

18
f. Periksa nyeri tekan terhadap sudut kostovertebra kemungkinan bila terjadi
nyeri tekan pada infeksi ginjal.
g. Adanya kekauan otot pada daerah yang nyeri

3. Perkusi
Perkusi abnormal yang mungkin ditemukan dalam pemeriksaan fabdomen
adalah:
a. Bunyi pekak pada sebagian besar abdomen terlebih pada bagian atas, dapat
ditemukan pada pasien dengan sirosis hepatis yang asites.
b. Pada daerah lambung terdengar pekak, disebabkan karena hepatomegali
ataupun slenomegali.
c. Pada Vesika Urinaria terdaengar sonor, disebabkan karena adanya retensi
urine dalam vedika urinaria.

4. Aukskultasi
a. Penurunan atau peningkatan bising usus.
Bising usus meningkat pada saat seseorang mengalami diare, dan menurun
pada saat seseorang konstipasi.
b. Adanya desiran menandakan adanya stenosis arteri renalis.
Disebabkan karena arteri renalis mengalami perforasi
c. Friction rubs menandakan adanya tumor hear, infark splenikus.

19
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau
hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematis
dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah
dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien.
Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien
yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat, secara rutin pada
klien yang sedang di rawat, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien.Jadi
pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut,
baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik
untuk untuk menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat
untuk proses keperawatan, maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan
keperawatan.

B. SARAN
Agar pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan baik, maka perawat harus
memahami ilmu pemeriksaan fisik dengan sempurna dan pemeriksaan fisik ini
harus dilakukan secara berurutan, sistematis, dan dilakukan dengan prosedur yang
benar.

DAFTAR PUSTAKA

Bates, Barbara. 1998. Buku Saku Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Edisi
2.Jakarta : EGC.
Gibson, John. 2003. Fisiologi & Anatomi Modern untuk Perawat Edisi 2. Jakarta: EGC.
Priharjo, Robert. 1995. Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta: EGC.

20
Rahardjo, Djoko Setijadji. 2001. Pedoman Praktis Pengkajian Fisik Secara Umum.
Surabaya: Cipta Usaha Makmur.
Syaifiddin.2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta:
EGC.
http://fkunmul04.files.wordpress.com/2008/10/akut-abdomen.pdf
http://anam56.blogspot.com/2009/01/auskultasi-dan-perkusi-abdomen.html
http://koaskamar13.wordpress.com/2007/09/21/asites/
http://id.wikipedia.org/wiki/Riwayat_kesehatan
http://id.wikipedia.org/wiki/Palpasi

21