You are on page 1of 39

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN APENDIKSITIS

A. KONSEP APENDISITIS
1. Anatomi dan Fisiologi
a. Anatomi
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan
panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama
kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu
bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang
akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal
dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya
insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen
sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada
appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum
dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik
Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks adalah
retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%,
subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%,
dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar
dibawah ini.

Appendiks pada saluran pencernaan (Gambar 2.1)

7
8

Posisi Appendiks (Gambar 2.2)

b. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu
secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke
sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan
pada patogenesis Apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan
oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A).
Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu
mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi
enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun, pengangkatan
appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan
sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan
seluruh tubuh. (Tsamsuhidajat & Wim de jong, 2010).

2. Pengertian
Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu
atau umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum
9

(caecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga


memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya. ( Wim de Jong et al, 2010). Apendisitis merupakan
inflamasi akut pada apendisitis verniformis dan merupakan penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat. (Brunner&Suddarth, 2014).
Peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding
organ, dimana patogenis utamanya diduga karena obstruksi pada lumen
yang disebabkan oleh fekalit (feses keras yang terutama disebabkan oleh
serat). Patofisiologi Edisi 4 hal 448.
Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak
dalam pencernaan. Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara
pasti, namun usus buntu ini terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi
untuk mempertahankan atau imunitas tubuh. Dan bila bagian usus ini
mengalami infeksi akan sangat terasa sakit yang luar biasa bagi
penderitanya (Saydam Gozali, 2011).
Jadi, dari referensi diatas yang di maksud dengan apendisitis
merupakan suatu peradangan pada bagian usus (Caecum) yang disebabkan
karena ada obstruksi yang mengharuskan dilakukannya tindakan bedah.
3. Etiologi
Penyebab terjadinya apendisitis dapat terjadi karena adanya
makanan keras yang masuk ke dalam usus buntu dan tidak bisa keluar lagi.
Setelah isi usus tercemar dan usus meradang timbulah kuman-kuman yang
dapat memperparah keadaan tadi (Saydam Gozali, 2011).
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. berbagai hal sebagai faktor
pencetusnya:
a. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai
faktor pencetus disamping hyperplasia jaringan limfe, tumor apendiks
dan cacing askaris.
b. Penyebab lain penyebab apendiks karena parasit seperti E. hystolitica.
c. Penelitian Epidemiologi mengatakan peran kebiasaan makan makanan
yang rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya
apendisitis. Konstipasi akan menarik bagian intrasekal, yang berakibat
timbulnya tekanan intrasekal dan terjadi penyumbatan sehingga
10

meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon (R Tsamsuhidajat & Wim


De jong, 2010).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi
ada factor prediposisi yaitu:
a. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi
ini terjadi karena:
1) Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
2) Adanya fekolit dalam lumen appendiks
3) Adanya benda asing seperti biji-bijian
4) Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus..
c. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan
limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk apendiks:
1) Appendiks yang terlalu panjang
2) Massa appendiks yang pendek
3) Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4) Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul, 2009).

Jadi, berdasarkan referensi diatas yang menyebabkan terjadinya


apendisitis yaitu disebabkan oleh adanya obstruksi yang diakibatkan juga
karena gaya hidup manusia yang kurang dalam mengkonsumsi makanan
tinggi serat.

4. Manisfestasi Klinis
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang di dasari
dengan radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat,
disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal. Gejala klasik
apendisitis adalah:
a. Nyeri visceral epigastrium.
b. Nafsu makan menurun.
c. Dalam beberapa jam nyeri pindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney.
d. Kadang tidak terjadi nyeri tapi konstipasi.
e. Pada anak biasanya rewel, nafsu makan turun karena focus pada
nyerinya, muntah-muntah, lemah, latergik, pada bayi 80-90% apendisitis
terjadi perforasi (Tsamsuhidajat & Wong de jong, 2010).
11

Manisfestasi klinis lainya adalah:


a. Nyeri dikuadran kanan bawah disertai dengan demam ringan, dan
terkadang muntah kehilangan nafsu makan kerap dijumpai konstipasi
dapat terjadi.
b. Pada tiik Mc Burney (terletak diantara pertengahan umbilicus dan spina
anterior ileum), terasa nyeri tekan local dan kekakuan otot bagian bawah
rektus kanan.
c. Nyeri pantul dapat dijumpai lokasi apendiks menentukan kekuatan nyeri
tekan, spasme otot dan adanya diare atau konstipasi.
d. Jika apendiks pecah, nyeri lebih menyebar abdomen menjadi lebih
terdistensi akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.
(Brunner&Suddarth, 2014.

Jadi berdasarkan referensi diatas, manisfestasi yang sering


muncul pada kasus apendisitis adalah nyeri namun kadang bisa juga tanpa
nyeri namun terjadinya konstipasi. Pada anak-anak biasanya ditemukan data
yaitu nafsu makan menurun, terjadinya penurunan kesadaran hingga
terjadinya perforasi.
12

5. Pathways

Invasi&Multiplika Hipertermi Febris


si
Apendistisis Peradangan Kerusakan control
Jaringan suhu terhadap
Operasi inflamasi
Sekresi mukus berlebih pada lumen
Luka Insisi
Ansietas Apendiks Teregang
Kerusakan Jaringan Pintu masuk kuman
Ujung saraf putus Risiko Infeksi Tekanan intraluminal lebih
Prostaglandin lepas dari tekanan vena
Kerusakan Integritas
Stimulasi Dihantarkan Jaringan Hipoxia jaringan apendiks
Spinal Cord Spasme dinding Ulcerasi
Cotex Serebri apendiks
Nyeri Perforasi
Nyeri
dipersepsikan Risiko Akumulasi sekret

Defisit perawatan diri ketidakefektifan Ketidakefektifan


gastrointestinal jalan nafas
Anestesi-> Peristaltik Anoreksia
usus->Distensi Ketidakseimbangan
Mual dan muntah
abdomen- nutrisi kurang dari
>Gangguan rasa Risiko kekurangan kebutuhan
nyaman volume cairan
13

6. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan
penanganan. Faktor keterlambatan dapat terjadi dari pasien ataupun tenaga
medis. Faktor penderita dapat berasal dari pengetahuan dan biaya. Faktor
tenaga medis dapat berupa kesalahan dalam mendiagnosa, keterlambatan
mengangani maslah dan keterlambatan dalam merujuk ke rumah sakit dan
penangggulangan. Hal ini dapat memacu meningkatnya angka morbiditas
dan mortalitas. Proporsi yang sering adalah terjadi pada anak kecil dan
orang tua. Komplikasi 93% lebih sering terjadi pada anak kecil dibawah
usia 2 tahun dan 40-75%% terjadi pada orang tua. Pada anak-anak dinding
apendiks masih sangat tips, omentum lebh pendek, dan belum berkembang
secara sempurna sehingga mudah terjadi apendisitis. Sedangkan pada orang
tua, terjadi gangguan pada pembuluh darah.Adapun jenis omplikasi
diantaranya:
a. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus.
Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa
ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum
b. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga
bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam
pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.
Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran
klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C,
tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama
polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.

c. Peritontis
14

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan


komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya
cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan
oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat,
muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis. (Mansjoer, 2007)

Komplikasi menurut (Brunner&Suddarth, 2014):


a. Komplikasi utama adalah perforasi apendiks yang dapat menyebabkan
peritonitis pembentukan abses (tertampungnya materi purulen), atau
flebilitis portal.
b. Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala
yang muncul antara lain: Demam 37,7C, nyeri tekan atau nyeri
abdomen.
Berdasarkan penjelasan diatas, hal yang bisa mengakibatkan
keparahan/komplikasi penyakit apendisitis dikarenakan dua hal yaitu faktor
ketidaktahuan masyarakat dan keterlambatan tenaga medis dalam
menentukan tindakan sehingga dapat menyebabkan abses, perforasi dan
peritonitis.

7. Penatalaksaan
a. Penatalaksanaan Medis
1) Pembedahan (konvensional atau laparaskopi) apabila diagnose
apendisitis telah ditegakan dan harus segera dilakukan untuk
mengurangi risiko perforasi.
2) Berikan obat antibiotik dan cairan IV sampai tindakan pemebedahan
dilakukan.
3) Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.
4) Operasi (apendiktomi), bila diagnosa telah ditegakan yang harus
dilakukan adalah operasi membuang apendiks (apendiktomi).
Penundaan apendiktomi dengan cara pemberian antibiotik dapat
mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks dilakukan
drainage. (Brunner&Suddarth, 2014).
15

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Tujuan keperawatan mencakup upaya meredakan nyeri, mencegah
defisit volume cairan, mengatasi ansietas, mengurangi risiko infeksi
yang disebabkan oleh gangguan potensial atau aktual pada saluran
gastrointestinal, mempertahankan integritas kulit dan mencapai nutris
yang optimal.
2) Sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai
jalur Intra Vena berikan antibiotik, dan masukan selang nasogastrik
(bila terbukti ada ileus paralitik), jangan berikan laksatif.
3) Setelah operasi, posisikan pasien fowler tinggi, berikan analgetik
narkotik sesuai program, berikan cairan oral apabila dapat ditoleransi.
4) Jika drain terpasang di area insisi, pantau secara ketat adanya tanda-
tanda obstruksi usus halus, hemoragi sekunder atau abses sekunder.
(Brunner&Suddarth, 2014).
c. Penatalaksaan Keperawatan
Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah
apendiktomi. Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan
kejadian perforasi. Teknik laparoskopi sudah terbukti menghasilkan
nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat dan
angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat
peningkatan kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu
operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk diagnosa dan terapi pada
pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita. (Rahayuningsih dan
Dermawan, 2010).
Jadi berdasarkan pembahasan diatas, tindakan yang dapat
dilakukan terbagi dua yaitu tindakan medis yang mengacu pada tindakan
pembedahan/apendictomy dan pemberian analgetik, dan tindakan
keperawatan yang mengacu pada pemenuhan kebutuhan klien sesuai
dengan kebutuhan klien untuk menunjang proses pemulihan.

9. Pemeriksaan Penunjang (NANDA, 2015)


a. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling),
rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
16

2) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng


Sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
3) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di
angkat tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
5) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan dari sel darah putih hingga sekitar 10.000-18.000/mm3. jika
terjadi peningkatan lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks telah
mengalami perforasi (pecah).
c. Pemeriksaan Radiologi
1) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang
membantu).
2) Ultrasonografi/USG
3) CT-Scan.
Berdasarkan referensi diatas, yang menjadi kunci tata laksana
penentuan diagnosa apendisitis yaitu dengan dilakukan pemeriksaan fisik
yaitu salah satunya dengan mempalpasi bagian perut bagian kanan bawah
akan terjadi blumbeng sign, lalu dengan memeriksa laboratorium dengan
melihat peningkatan leukosit dan pemeriksaan USG.

10. Pemeriksaan Diagnostik


a. SDP; Leukositosis diatas 12.000/mm3, Neutrofil meningkat sampai
75%,
b. Urinalisis: Normal, tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada.
c. Foto abdomen: Dapat menyatakan adanya pergeseran, material
apendiks (fekalit), ileus terlokalisir. (Doengoes, Marilynn E, 2014).

B. Konsep Post Op Apendiktomi


1. Pengertian
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan
intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan/pasca
anastesi dan bearkhir sampai evaluasi selanjutnya
17

2. Patofisiologi

Mual & muntah Appendiks terinflamasi

Resiko tinggi Meningkatkan tekanan


kekurangan volume intraluminal
cairan
Menghambat aliran limfe

Ulserasi pada dinding mukosa

Gangren dan perforasi

appendektomy

Luka post op

Resiko tinggi infeksi Nyeri akut


Kerangka 2.2 Patofisiologi post operasi appendektomy
Sumber : Smeltzer, Suzzane, C (2001)
Mansjoer (2007)
18

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Dalam proses keperawatan, ada lima tahap dimana tahap terebut


tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan. Tahap-tahap tersebut secara
bersama-sama membentuk pola pemikiran dan tindakan yang kontinu, yang
mengulangi kontak dengan pasien (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Tahap-tahap dalam proses keperawatan tersebut adalah:
1. Pengkajian
Merupakan tahap dinamis yang terorganisasi, dan meliputi tiga
aktivitas dasar, yang pertama mengumpulkan data secara sistematis; kedua
memilah dan mengatur data yag dikumpulkan dan ketiga
mendokumentasikan data dalam bentuk format yang dibuka kembali.
Data data diperoleh dari riwayat keperawatan, keluhan utama
pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang atau tes diagnostic.
Dalam melakukan pengkajian diperlukan keahlian-keahlian seperti
wawancara, pemeriksaan fisik dan observasi. Hasil pengkajian tersebut
dikelompokan kembali menjada data subjektif dan objektif.
Ada beberapa cara dalam pengelompokan data, yaitu:
a. Berdasarkan sistem tubuh.
b. Berdasarkan kebutuhan dasar.
c. Berdasarkan teori keperawatan.
d. Berdasarkan pola kesehatan fungsional.
Jadi yang dimaksuk dengan pengkajian adalah tahap terorganisir
untuk mendapatkan sejumlah data berdasarkan hasil pemeriksaan fisik,
menanyakan keluhan dan berdasarkan dengan hasil pemeriksaan penunjang.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai
status kesehatan atau masalah actual atau risiko mengidentifikasi dan
19

menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, mencegah atau


menghlangkan masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnya
(Carpenito,1983 dalam Tarwoto & Wartonah, 2011).
Dilihat dari status kesehatan klien, diagnosa dapat dibedakan
menjadi actual, potensial, risiko dan kemungknan.
a. Aktual: Diagnosa keperawatan yang menggambarkan penilaian klinik
yang harus di validasi perawat karena ada batasan mayor. Contoh: Jalan
nafas tidak efektif karena adanya akumulasi secret.
b. Potensial: Diagnosa keperawatan yang menggambarkan kondisi klien ke
arah yang lebih positif (kekuatan pasien). Contoh: potensial peningkatan
status kesehatan klien berhubungan dengan intake nutrisi yang adekuat.
c. Risiko: Diagnosa keperawatan yang mengambarkan kondisi klinis
individu lebih rentan mengalami masalah. Contoh: Risiko infeksi
berhubungan denngan efek pembedahan.
d. Kemungkinan: Diagnosa keperawatan yang mengambarkan kondisi
klinis individu yang memerlukan data tambahan sebagai sebagai faktor
pendukung yang lebih akurat.
Jadi yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan adalah
pernyataan yang jelas yang berkaitan dengan masalah yang didapat pada
pasien baik itu secara aktual, potensial, risiko atau kemungkinan.

3. Intervensi Keperawatan
Terdapat 4 hal yang harus diperhatikan:
a. Menentukan prioritas masalah
1) Berdasarkan hirarki Maslow, yaitu: Fisiologis,
keamanan/keselamatan, mencintai, hara diri dan aktualisasi diri.
2) Berdasarkan Griffith-Kenney, dengan urutan:
a) Ancaman kehidupan kesehatan.
b) Sumber daya dan dana tersedia.
c) Peran serta klien.
d) Prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.
b. Menentukan tujuan
Dalam menentukan tujuan, digambarkan kondisi yang diharapkan
disertai jangka waktu.
c. Menentukan kriteria hasil
Terdapat hal-hal berikut yang diperhatikan:
1. Bersifat spesifik dalam hal isi dan waktu.
20

2. Bersifat realistic, dalam menentukan tujuan harus dipertimbangkan


faktor fisiologi/patologis.
3. Dapat diukur, pasien dapat menyebutkan tujuan dan dapat
mendemonstrasikan.
4. Mempertimbangkan keinginan dan keadaan pasien.
d. Merumuskan intervensi
Dengan mengacu pada Nursing Interventions Clasifikation (NIC) dan
Nursing Outcomes Clasification (NOC).
Jadi, yang dimaksud dengan intervensi keperawatan adalah
rencana tindakan untuk menghilangkan atau mencegah permasalahan
kesehatan yang dihadapi klien dengan berdasarkan prioritas masalah, tujuan
dan kriteria hasil dengan melihat acuan teori kebutuhan dasar
manusia/hirarki Maslow.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan


dalam rencana keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan
tindakan kolaborasi.
a. Tindakan mandiri (independen)
Adalah aktivitas perawatan yang didasarkan pada kesimpulan dan
keputusan sendiri bukan merupakan petunjuk atau perintah petugas
kesehatan lain.
b. Tindakan kolaborasi
Adalah tindakan yang dilakukan atas dasar hasil keputusan bersama,
seperti dokter dan petugas kesehatan lain.
21

Berdasarkan referensi diatas, implementasi merupakan tindakan


nyata yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan intervensi yang telah
dibuat baik itu secara mandiri (independen) atau kolaborasi.

5. Evaluasi
Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana
perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan.
langkah-langkah evaluasi sebagai berikut:
a. Daftar tujuan-tujuan pasien.
b. lakukan pengkajian apakah pasien dapat melakukan sesuatu.
c. Bandingkan antara tujuan dengan kemampuan pasien.
d. Diskusikan dengan pasien, apakah tujuan dapat tercapai atau tidak.
Melihat dari bahasan diatas, yang dimaksud dengan evaluasi
merupakan hasil pencapaian yang telah dilakukan dengan berdasarkan
kriteria hasil dan tujuan.

D. Konsep Asuhan Keperawatan Apendiktomi

1. Pengkajian
Data yang diperoleh haruslah mampu menggambarkan status
kesehatan klien ataupun masalah utama yang dialami oleh klien. Dalam
melakukan pengkajian, diperlukan teknik khusus dari seorang perawat,
terutama dalam menggali data, yaitu dengan menggunakan komunikasi yang
efektif dan teknik terapeutik. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Adapun pemeriksaan yang dilakukan pada kasus apendisitis
berdasarkan NANDA (North American Nursing Diagnosis Association),
2015:
a. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi: Akan tampak adanya tanda pembengkakan (swelling),
rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
Normal: Tidak tampak terjadinya distensi atau penegangan pada
abdomen.
22

2) Palpasi: Dibagian perut kanan bawah akan terasa nyeri (Blumbeng


Sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendsitis akut.
Normal: Tidak teraba atau klien tidak memberikan respon nyeri.
3) Dengan tindakan tungkai dan paha kanan ditekuk kuat / tungkai di
angkat tingi-tinggi, maka rasa nyeri akan semakin parah (Psoas Sign).
Normal: Jika dilakukan pemeriksaan ini, klien tidak akan merasa
nyeri.
4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin parah apabila
pemeriksaan dubur dan vagina terasa nyeri.
Normal: Jika dilakukan pemeriksaan ini, klien tidak akan merasa
nyeri.
5) Suhu dubur atau rectal yang lebih tinggi dari suhu ketiak, lebih
menunjang lagi adanya radang usus buntu.
Normal: Suhu ketiak lebih tinggi dibandng dengan suhu dubur ata
vagina.

b. Pemeriksaan Laboratorium
Di lihat dari kenaikan leukosit 10.000-18.000/mm3, bila lebih maka
sudah terjadi perforasi.
Normal: Tidak terjadinya peningkatan leukosit melebihi batas normal.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan USG
Normal: Tidak tampak ada peradangan pada bagian Mc. Burney.
2) Foto polos
Normal: Tidak tampak ada kelainan pada organ.

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan diagnosa Apendiktomi yang menggunakan
pendekatan (NANDA, 2015):
a. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada apendiks/post apendiks.
b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret.
c. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma insisi.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
anoreksia.
e. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Distensi abdomen.
f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya ujung
saraf.
g. Defisit perawatan diri berhubungan dengan adanya rasa nyeri post op.
h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan pasien terhadap
tindakan/penyakit.
23

i. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman melalui


luka insisi.
j. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
k. Risiko ketidakefektifan gastrointestinal berhubungan dengan adanya
perforasi
24

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (INTERVENSI BEDASARKAN NANDA, 2015)

a. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada apendiks/post apendiks.

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1 Nyeri berhubungan dengan NOC: NIC
peradangan pada a. Pain level a. Pain management
apendiks/post apendiks. b. Pain Control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
c. Comfort level\ komperehensif termasuk lokasi,
Kriteria Hasil: karakteristtik, durasi, frekuensi, kualitas
Batasan karakteristik:
a. Mampu mengontrol nyeri
a. Perubahan selera makan dan faktor presipitasi
(tahu penyebab nyeri, mampu 2. Gunakan komunikasi terapeutik untuk
b. Perubhana tekanan darah
c. Perubahan frekuensi menggunakan tekhnik mengetahui pengalaman nyeri pasien,
jantung nonfarmakologis, mencari 3. Observasi reaksi nonverbal dari
d. Perubahan frekuensi bantuan), ketidaknyamanan
pernapasan b. Melaporkan nyeri berkurang 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon
e. Diaforesis dengan menggunakan nyeri
f. Perilaku distraksi manajemen nyeri, 5. Evaluasi respon nyeri masa lampau
g. Mengekspresikan c. Mampu mengenali nyeri 6. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
perilaku (merengek, (skala, intensitas, frekuensi dan menemukan dukungan
menagis) dan tanda), 7. Kontrol lingkungan yang dapat
h. sikap tubuh melindungi d. Menyatakan rasa nyaman mempengaruhi nyeri seperti suhu
i. Gangguan tidur setelah nyer berkurang ruangan, pencahayaan, dan kebisingan,
j. Melaporkan nyeri secara 8. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
verbal menentukan intervensi
k. Perubahan posisi 9. Ajarkan tekhnik non farmakologis
(relaksasi genggam jari)
25

10. Berikan analgetik untuk mengurangi


nyeri
11. Tingkatkan istirahat
12. Evaluasi keefektifan control nyeri
13. Monitor penerimaan pasien tentang
mmanajemen nyeri.
b. Analgesik Admistration
1. Tentukan karakteristik, lokasi kualitas
dan derajat nyeri sebelum pemberian
obat
2. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi
3. Pilih analgesic yang diperlukan atau
kombinasi dari analgetik ketika
pemberian lebih dari satu
4. Tentukan pilihan anlgesik tergantung tipe
dan berat nyerinya
5. Tentukan anlgesik pilihan, rute
pemberian dan dosis optimal,
6. Monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian anlgesik pertama kali
7. Berikan analgesic tepat waktu terutama
ketika nyeri.
8. Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan
gejala.
Tabel 2.1
26

Diagnosa Nyeri Akut

b. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret.


No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
2 Ketidakefektifan jalan nafas NOC NIC 27
berhubungan dengan a. Respiratory status: Ventilation a. Airway Suction
akumulasi secret. b. Respiratory status: Airway 1. Pastikan kebutuhan oral dan trakeal
patency suctioning
Batasan karakteristik: Kriteria Hasil: 2. Auskultasi suara nafas sebelum dan
a. Mendemonstrasikan batuk sesudah suction
a. Tidak ada batuk
b. Suara nafas tambahan efektif dan suara nafas yang 3. Informasikan ada pasien dan keluarga
c. Perubahan irama nafas bersih, tidak ada sianosis dan tentang suctioning
d. Sianosis dyspneu (mampu 4. Minta klien untuk nafas dalam sebelum
e. Kesulitan berbicara mengeluarkan sputum, mampu suctioning
f. Penurunan bunyi nafas bernafas dengan mudah, tidak 5. Berikan O2 melalui nasal untuk
g. Dispnea memfasilitasi suction nasotrakeal
ada pursed lips)
h. Sputum dalam jumlah 6. Gunakan alat yang steril setiap
b. Menunjukan jalan nafas paten
yang berlebih melakukan tindakan
(klien tidak merasa tercekik,
i. Batuk tidak efektif 7. Anjuran klien untuk istirahat dan nafas
j. Ortopneu
irama nafas, frekuensi nafas
dalam setelah kateter dikeluarkan dari
k. Gelisah dalam rentag normal, tidak ada
nasotrakeal
l. Mata terbuka lebar suara nafas abnormal)
8. Monitor status oksigen pasien
c. Mampu mengidentifikasi dan
9. Ajarkan keluarga cara melakukan suction
mencegah faktor yang dapat 10. Hentikan suction dan berikan oksigen
menghambatjala nafas. bila pasien mengalami bradikardi
b. Airway management
1. Buka jalan nafas, gunakan tekhnik chin
lift atau jaw trust
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
3. Identifikasi pasien bila perlunya
menggunakan alat bantu nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. lakukan fisioterapi dada bila perlu
6. Keluarkan secret dengan batuk atau
suction
7. Auskultasi suara nafas
8. Lakukan suction pada mayo bila perlu
9. Berikan bronkodiator bila perlu
10. Berikan pelembab udara menggunakan
kassa basah NaCl
11. Monitor status respirasi dan status O2.
28

Tabel 2.2
Diagnosa Ketidakefektifan Jalan Nafas

c. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma insisi.


No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi
3. Hipertermi berhubungan NOC : NIC
dengan penyakit atau Thermoregulation a. Fever Treattment
trauma insisi. 1. Monitor suhu sesering mungkin
2. Monitor IWL
Kriteria Hasil :
Batasan karakteristik : 3. Monitor warna dan suhu kulit
a. Suhu tubuh dalam rentang 4. Monitor tekanan darah, RR dan nadi
a. Konvulsi
normal 5. Monitor penurunan tingkat kesadaran
b. Kulit kemerahan
b. Nadi dan RR dalam rentang 6. Monitor WBC, Hb, dan Hct
c. Peningkatan suhu tubuh
normal 7. Monitor intake dan output
diatas kisaran normal
c. Tidak ada perubahan warna 8. Berikan anti piretik
d. Kejang
kulit dan tidak ada pusing 9. Berikan pengobatan untuk mengatasi
e. Takikardi
f. Takipnea demam
g. Kulit terasa hangat 10. Selimuti pasien
29

11. Berikan tapid sponge


12. Kolaborasi dalam pemberian cairan
intravena
13. Kompres pasien pada lipat paha dan
aksila
14. Tingkatkan sirkulasi udara
15. Berikan pengobatan untuk terjadinya
menggigil
b. Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal 2 jam
2. Rencanakan monitor suhu secara
kontinyu
3. Monitor TD, nadi dan RR
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
8. Ajarkan kepada pasien untuk cara
mencegah keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan emergency
yang diperlukan
30

11. Berikan anti piretik jika perlu


c. Vital sign monitor
1. Monitor TD, nadi, RR dan suhu
2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Auskultasi TD pada kedua lengan lalu
bandingkan
4. Monitor TD, nadi, RR sebelum, selama
dan sesudah aktivitas
5. Monitor kualitas dari nadi
6. Monitor frekuensi dan irama dan
pernafasan
7. Monitor suara paru
Tabel 2.3
Diagnosa Hipertermi
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


4. Ketidakseimbangan nutrisi NOC NIC
kurang dari kebutuhan a. Nutritional status a. Nutrition management
berhubungan dengan b. Nutritional status : food and 1. Kaji adanya alergi makanan
fluid intake 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
anoreksia.
c. Nutritional status : nutrient menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
Batasan karakteristik : intake weight control. dibutuhkan pasien
a. Kram abdomen 3. Anjurkan pasien untuk
b. Nyeri abdomen Kriteria hasil : meningkatkanprotein dan vitamin C
c. Menghindari makanan a. Adanya peningkatan berat 4. Berikan substansi gula
d. Berat badan 20% atau badan sesuai dengan tujuan 5. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
31

lebih dibawah berat b. Berat badan sesuai dengan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
badan ideal tinggi badan 6. Berikan makanan yang terpilih (sudah
e. Kerapuhan kapiler c. Mampu mengidentifikasi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
f. Diare kebutuhan nutrisi 7. Ajarkan pasien bagaimana membuat
g. Kehilangan rambut d. Tidak ada tanda-tanda mal catatan makanan harian
berlebihan nutrisi 8. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
h. Bising usus hiperaktif e. Menunjukkan peningkatan kalori
i. Kurang makanan fungsi pengecapan dari 9. Kaji kemampuan pasien untuk
j. Kurang informasi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
menelan
k. Kurang minat pada
f. Tidak terjadi penurunan berat b. Nutrition monitoring
makanan 1. BB pasien dalam batas normal
badan yang berarti
l. Penurunan berat badan 2. Monitor adanya penurunan berat badan
dengan asupan makanan 3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
adekuat biasa dilakukan
m. Tonus otot menurun 4. Monitor turgor kulit
n. Cepat kenyang setelah 5. Monitor kulit kering dan perubahan
makan pigmentasi
o. Sariawan rongga mulut 6. Jadwalkan pengobatan dan dan tindakan
tidak dilakukan pada saat jam makan
7. Monitor mual dan muntah
8. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
9. Monitor kemerahan, pucat dan kekeringan
jaringan konjungtiva
10. Monitor kalori dan intake nutrisi
Tabel 2.4
Diagnosa Ketidakseimbangan Nutrisi
32

e. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Distensi abdomen.


33

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


5 Gangguan rasa nyaman NOC NIC
berhubungan dengan Distensi a. Sleep deprivation a. Anxiety reduction
abdomen. b. Comort, readlines or enchanced. 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
Batasan karakteristik : Kriteria hasil : pelaku pasien
a. Ansietas 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang
a. Mampu mengontrol kecemasan
b. Menangis b. Status lingkungan yang nyaman dirasakan selama prosedur
c. Gangguan pola tidur c. Mengontrol nyeri 4. Pahami perspektif pasien terhadap situasi
d. Takut d. Kualitas tidur dan istirahat stres
e. Ketidakmampuan untuk 5. Temani pasien untuk memberikan
adekuat
rileks e. Agresi pengendalian diri keamanan dan mengurangi takut
f. Iritabilitas f. Respon terhadap pengobatan 6. Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
g. Merintih g. Kontrol gejala
h. Melaporkan merasa dingin h. Status kenyamanan meningkat
i. Melaprkan merasa panas i. Support sosial
j. Melaporkan perasaan j. Keinginan untuk hidup
tidak nyaman
k. Melaporkan geja distress
l. Melaporkan rasa gatal

Tabel 2.5
Gangguan Rasa Nyaman

f. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan terputusnya ujung saraf.


34

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


6 Kerusakan integritas NOC NIC
jaringan berhubungan a. Tissue integrity: skin and a. Pressure ulcer prevention wound care
dengan terputusnya ujung muccous 1. Anjurkan pasien untuk memakai pakaian
saraf. b. Wound healing: Primary and longgar
secondary intention. 2. Jaga kulit agar tetap kering dan bersih
Batasan Karakteristik: 3. Mobilisasi pasien setap 2 jam sekali
4. leskan lotion atau minyak/baby oil pada
a. Kerusakan jaringan Kriteria Hasil:
daerah yang tertekan
(Misal: kornea, a. Perfusi jaringan normal
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi 5. Monitor kulit adanya kemerahan atau tidak
membrane mukosa, 6. Monitor status nutrisi pasien
c. Ketebalan dan tekstur jaringan
integument, dan 7. Observasi luka
normal
subkutan) d. Menunjukan pemahaman dalam 8. Ajarkan keluarga tentang luka dan
b. Kerusakan jaringan perawatan luka
proses perbaikan kulit dan
9. Cegah kontaminasi feses dan urin
mencegah terjadinya cedere
10. Lakukan tekhik perawatan luka dengan
e. Menunjukan proses
prinsip steril
penyembuhan luka
11. Berikan posisi yang mengurangi tekanan
pada luka
12. Hindari kerutan pada tempat
tidurMandikan pasien dengan air hangat.
Tabel 2.6
Diagnosa Kerusakan Integritas Jaringan
35

g. Defisit perawatan diri berhubungan dengan adanya rasa nyeri post op.
NO Diagnosa Tujuan dan Kriteri Hasil Intervensi
7 Defisit perawatan diri NOC NIC
berhubungan dengan adanya a. Activity tolerenrancy a. Self Care Assistence: Bathing/Hygiene
rasa nyeri post op. b. mobility: physical impaired 1. Pertimbangkan budaya ketika
c. Self care deficit hygiene mempromosikan perawatan diri
d. Sensory perception: auditory 2. Tempat handuk, deodorant dan kebutuhan
Batasan Karakterisik:
disturbed. mandi ditaruh disamping tempat tidur atau
a. Ketidakmampuan dalam
Kriteria hasil kamar mandi.
mengakses kamar mandi a. Perawatan diri ostomi:
b. Ketidakmampuan 3. Pertimbangkan usia pasien ketika
tindakan pribadi dalam memromisan perawatan diri
mengeringkan tubuh
mempertahan ostomi untuk 4. Menyediakan lngkungan yang terapeutik
c. Ketidakmampuan dalam
eliminasi dengan memastikan hangat, santai, dan
merasakan bagian tubuh
b. Perawatan diri: aktivitas personal
d. Ketidakmampuan dalam
perawatan fisik dan pribadi 5. Memfasilitasi alat untuk menyikat gigi
merasakan hubungan
secara mandiri klien
spasial
c. Peawatan diri mandi: mampu 6. Memfasilitasi alat yang dibutuhkan untuk
e. Ketidakmampuan dalam
untuk membersihkan diri mandi
menjangkau sumber air
f. Ketidakampuan dalam sendiri secara mandiri 7. Memfasilitasi pemeliharaan rutin yang
d. Perawatan diri hygiene biasa pasien tidur, isyarat sebelum tidur
mengatur air mandi
e. Perawatan diri oral hygiene 8. Memberikan bantuan sampai pasien
g. Ketidkmampuan dalam
f. kebersihan. sepenuhnya dapat mengansumsikan
membasuh tubuh
perawatan diri.
Tabel 2.7
Diagnosa Defisit Perawatan Diri
36

h. Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan pasien terhadap tindakan/penyakit.


No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
8 Ansietas berhubungan NOC NIC
dengan ketidaktahuan pasien a. Ansiety self-control a. Anxiety Reduction
terhadap tindakan/penyakit. b. Coping. 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku
Batasan karalteristik : Kriteria hasil : pasien
a. Perilaku : 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan
a. Klien mampu mengidentifikasi
1. Penurunan selama prosedur
dan mengungkapkan gejala
produktivitas 4. Temani pasien untuk memberikan ketenangan,
cemas
2. Gerakan yang ireleven keamanan dan mengurangi rasa takut
b. Mengidentifikasi,
3. Gelisah 5. Berikan obat untuk mengurangi kecemasan.
4. Melihat sepintas mengungkapkan dan
5. Insomnia menunjukkan teknik untuk
6. Kontak mata yang mengontrol cemas
buruk c. Vital sign dalam batas normal
7. Mengekspresikan d. Postur tubuh, ekspresi wajah,
kekhawatir bahasa tubuh dan aktivitas
8. Tampak waspada menunjukkan

b. Affektif :
1. Gelisah
2. Kesedihan yang
mendalam
3. Ketakutan
4. Perasaan tidak adekuat
5. Berfokus pada diri
37

sendiri
6. Peningkatan
kewaspadaan
7. Iritabilitas
8. Khawatir

c. Fisiologi :
1. Wajah tegang, tangan
tremor
2. Peningkatan keringat
3. Peningkatan
ketegangan
4. Gemetar, tremor
5. Suara bergetar

d. Simpatik
1. Anoreksia
2. Diare, mulut kering
3. Wajah merah
4. Jantung berdebar-
debar
5. Peningkatan TD
38

Tabel 2.8
Diagnosa Ansietas

i. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya jalan masuk kuman melalui luka insisi.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


.
39

9 Risiko infeksi berhubungan NOC NIC


dengan adanya jalan masuk a. Imune status a. Infection control(kontrol infeksi)
kuman melalui luka insisi. b. Knowledge : infection control 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
c. Risk control. 2. Pertahankan teknik isolasi
3. Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko : 4. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
Kriteria hasil :
1. Penyakit kronis 5. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
a. Klien bebas dari tanda dan
2. Diabetes mellitus keperawatan
3. Obesitas gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses 6. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
4. Pengetahuan yang tidak 7. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat.
cukup untuk penularan penyakit, faktor
8. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
menghindari pemanjanan yang mempengaruhi penularan 9. Monitor terhadap kerentanan infeksi
patogen serta penatalaksanaannya 10. Batasi pengunjung
5. Pertahanan tubuh primer c. Menunjukkan kemampuan 11. Dorong klien untuk mengonsumsi antibiotic sesuai resep
yang tidak adekuat untuk mencegah timbulnya 12. Ajarkan pasein dan keluarga akan tanda dan gejala
6. Ketidakadekuatan infeksi infeksi
pertahanan sekunder d. Jumlah leukosit dalam batas 13. Ajarkan cara menghndari infeksi
7. Imunosepresi (imunitas normal 14. Laporkan kecurigaan infeksi.
yang didapat tidak e. Menunjukkan perilakku hidup
adekuat) sehat
8. Penurunan haemoglobin

Tabel 2.9
Diagnosa Risiko Infeksi

j. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan mual dan muntah.


40

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


10 Risiko kekurangan cairan NOC NIC
berhubungan dengan mual a. Fluid balance a. Fluid management
dan muntah. b. Hydration 1. Timbang popok atau pembalut jika memungkinkan
c. Nutritional status : food and 2. Pertahankan catatan intake atau output yang akurat
Batasan Karakteristik:
fluid intake 3. Monitor status hidrasi (kelembaban, membran mukosa,
a. Perubahan status mental
nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
b. Penurunan tekanan darah
4. Monitor vital sign
c. Penurunan tekanan nadi Kriteria hasil :
5. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake
d. Penurunan volume nadi a. Mempertahankan urine output
e. Penurunan turgor kulit kalori harian
sesuai dengan usia dan BB, BJ 6. Kolaborasi cairan IV
f. Penurunan turgor lidah
urine normal, HT normal 7. Monitor status nutrisi
g. Penurunan haluaran urin
b. Tekanan darah, nadi, suhu 8. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
h. Penurunan pengisian
tubuh dalam batas normal 9. Dorong masukan oral
vena
c. Tidak ada tanda-tanda 10. Berikan penggantian nasogastrik sesuai output
i. Membran mukosa kering
j. Kulit kering dehidrasi, elastisitas turgor b. Hypovolemia Management
kulit baik, membran mukosa 1. Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan
k. Peningkatan hematokrit
lembab, tidak ada rasa haus 2. Pelihara IV line
3. Monitor tingkat Hb dan hematokrit
yang berlebihan.
4. Monitor tanda vital
5. Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan
6. Monitor berat badan
Tabel 2.10
Diagnosa Risiko Kekurangan Cairan

k. Risiko ketidakefektifan gastrointestinal berhubungan dengan adanya perforasi.


41

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


. Hasil
11 Risiko ketidakefektifan NOC NIC
gastrointestinal berhubungan a. Circulation status a. Tube care gastrointestinal
dengan adanya perforasi. b. Electrolite and acid 1. Monitor TTV
base balance 2. Monitor cairan dan elektrolit
Faktor resiko :
c. Fluid balance 3. Monitor bising usus
a. Anemia
d. Hidration 4. Monitor irama jantung
b. Usia >60 tahun
e. Tissue perfusion : 5. Catat intake dan output secara akurat
c. Diabetes melitus
6. Kaji tanda-tanda gangguan keseimbangan cairan
d. Jenis kelamin wanita abdominal organs
dan elektrolit sesuai instruksi dokter
e. Varises gastroesofagus. Kriteria hasil :
7. Monitor diare Tabel
a. Jumlah, warna,
b. Bledding reduction gastrointestinal 2.11
konsistensi, dan bau
1. Pantau tanda-tanda shock
feses dalam batas 2. Ukur lngkar perut
normal 3. Memantau status cairan, termasuk inpu dan
b. Tidak ada nyeri perut
output
c. Bising usus normal
4. Hindari pemberian antikoagulan
d. Tekanan systole dan
5. Memantau studi koagulan, termasuk waktu
dyastole dalam protrombin
rentang normal 6. Berikan obat (missal: vasopressin)
e. Gangguan mental, 7. Menilai status gizi pasien
orientasi pengetahuan 8. Anjurkan pada keluarga atau klien menghindari
dan kekuatan otot penggunaan obat anti inflamasi (missal: aspirin,
normal ibuprofen)
f. Na, K, Cl, Ca, Mg, 9. Mengkoordinasikan konseling untuk pasien dan
dan biknat dalam batas keluarga (pendetaa, pecandu alcohol)
normal c. Bowel irrigation
g. Tidak ada bunyi naas d. Medication administration
tambahan
h. Intake output
seimbang
i. Membran mukosa
lembab
42

Risiko Ketidakefektifan Gastrointestnal


99

4. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan
dalam rencana keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan
tindakan kolaborasi. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Pada tahap ini perawat menggunakan semua kemampuan yang
dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik
secara umum maupun secara khusus pada klien post appendictomy pada
pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen.
Interdependen dan dependen.

5. Evaluasi
Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana
perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. (Tarwoto & Wartonah, 2011).
Untuk menentukan masalah teratasi, teratasi sebagian, tidak
teratasi atau muncul masalah baru adalah dengan cara membandingkan
antara SOAP dengan tujuan, kriteria hasil yang telah di tetapkan. Format
evaluasi mengguanakan :
S : subjective adalah informasi yang berupa ungkapan yang didapat dari
klien setelah tindakan diperbaiki
O : objective adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,
penilaian, pengukuran, yang dilakukan oleh perawat setelah dilakukan
tindakan
A : analisa adalah membandingkan antara inormasi subjektif dan objektif
dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa
masalah teratasi, masalah belum teratasi, masalah teratasi sebagian, atau
muncul masalah baru.
P : planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisa, baik itu rencana diteruskan, dimodifikasi,
dibatalkan ada masalah baru, selesai (tujuan tercapai).
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2013, Keperawatan Medikal Bedah: Jakarta: EGC.

Dermawan, Deden & Titik Rahayuningsih. 2010, Keparawatan Medikal Bedah


(Sistem Pencernaan): Yogyakarta: Gosyen Publishing.
100

Doengoes, Marilynn E, Marry frances Moorhaose. 2014, Rencana asuhan


Keperawatan: Jakarta: EGC.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan: Jakarta: Rineka


Cipta.

Jurnal Kesehatan Keperawatan Vol 8, No. 1, Februari 2012.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC: Jogja: Mediaction
Publishing.

Prasetyo, Sigit Nian. 2010, Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri: Yogyakarta:
Graha Ilmu.

Saydam, Gouzali, 2011. Memahami Berbagai Penyakit (Penyakit pernafasan dan


Gangguan Pencernaan): Bandung: Alfabeta.

T. Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi Anna Keliat. 2015,
Diagnosa Keperawatan; Definisi & klasifikasi 2015=2017: Jakarta: EGC.

Tarwoto & Wartonah. 2011, Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses


Keperawatan: Jakarta: Salemba Medika.

Tsamsuhidajat & Wim De jong.2010,Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3, Jakarta: EGC.

Pinandita, 2012. Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan


Intensitas Nyeri pada Pasien Post Op Laparatomi diakses pada tanggal 20
Mei 2016 dalam http://digilib.stikesmuhgombong.ac.id/download.php?
id=284)

Liana, 2008. Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Keseimbangan Emosi.


Diakses pada tanggal 20 Mei 2016 dalam
(http://www.pembelajar.com/category/kolomnis/emmy-liana-dewi)

Lukman, 2008, Gambaran pasien Apendisitis yang Mengalami Perforasi Di


RSUP Hasan Sadikin Bandung dalam (http://elibrary.unisba.ac.id/files/08-
6155_Fulltext_Duplikat.pdf di akses pada 26 Mei 2016)

Evarica, 2015, Pemberian Teknik Relaksasi Genggam Jari terhadap Penurunan


Intensitas Nyeri pada Pasien Post Op Apendisitis dikutip dalam
(http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/27/01-gdl-evaricawid-
1323-1-ktievar-4.pdf diakses pada tanggal 9 juni 2016)
101

Solihah, 2014, Pemberian Teknik Relaksasi Genggam Jari terhadap Penuruanan


Intensitas Nyeri pada pasien Post Op Lumpektomi di kutip dalam
(http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/17/01-gdl-solikhahha-
844-1-ktisoli-1.pdf diakses pada tanggal 9 juni 2016)

http://citarum.org/citarum-knowledge/pusat-database/data-tabular/data-dalam-
angka/386-dalam-angka-kab-cianjur-2008/file.html diakses pada tanggal 29
mei 2016 pukul 11.35

Anonim, 2016, Makalah perawatan pre dan post op apendiktomi di akses pada
tanggal 02 Juni 2016 pukul 12.43 dalam
(http://dokumen.tips/documents/pre-op-dan-post-op.html)

Anonim, Latar Belakang. Diakses pada tanggal 22 Juni 2016 pukul 11.22 dalam.
(http://eprints.ums.ac.id/25910/2/BAB_I.pdf)