You are on page 1of 14

NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN TRADISIONAL

DALAM KOMUNITAS ADAT KAJANG DI SULAWESI SELATAN


THE TRADITIONAL LEADERSHIP VALUES IN KAJANG
CUSTOM COMMUNITY IN SOUTH SULAWESI

Faisal
Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Jalan Sultan Alauddin / Tala Salapang Km.7 Makassar, 90221
Telepon (0411) 883748, 885119, Faksimile (0411) 865166
Pos-el: faisal_bpnbmks@yahoo.com
Handphone: 085242266714
Diterima: 26 Februari 2015; Direvisi: 9 April 2015; Disetujui: 27 Mei 2015

ABSTRACT
This study aims to describe the traditional leadership values in Kajang custom community in South Sulawesi.
The research method used is descriptive qualitative and data collection techniques are observation, interviews,
and literature. The research result showed that there are six traditional leadership values in Kajang custom
FRPPXQLW\VXFKDVKRQHVW\UPQHVVXQLW\VLPSOLFLW\SDWLHQFHDQGFDUHIRUWKHQDWXUDOHQYLURQPHQW7KH
honesty value is the primary value that must be practiced in everyday life, likes honest to Turiek Akrakna, honest
WRKXPDQEHLQJVDQGKRQHVWWRRXUVHOI7KHUPQHVVYDOXHPXVWEHRZQHGE\OHDGHUWRGRMXVWLFHWRPDQ\SHRSOH
The unity value must be upheld as a sense of solidarity and life harmony in society. The simplicity value must
be realized in daily life according to the guidance of pasang. The patience value must be practiced, primarily
to Ammatoa, to accept the fate from Turiek Akrakna. The care for the natural environment value is a realization
act in preserving the natural environment according to the guidance of pasang.
Keywords: the leadership values, custom community, Ammatoa.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan tradisional dalam komunitas adat Kajang
di Sulawesi Selatan. Metode Penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan
data, berupa: pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam nilai
kepemimpinan tradisional pada komunitas adat Kajang, yaitu: kejujuran, keteguhan, persatuan, kesederhanaan,
kesabaran dan kepedulian terhadap lingkungan alam. Nilai kejujuran merupakan nilai utama yang harus diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari, yaitu jujur terhadap Turiek Akrakna, jujur terhadap sesama manusia, dan jujur
terhadap diri sendiri. Nilai keteguhan harus dimiliki oleh setiap pemimpin agar hukum dapat ditegakkan kepada
setiap orang. Nilai persatuan harus dijunjung tinggi sebagai wujud rasa solidaritas dan harmonisasi kehidupan
dalam masyarakat. Nilai kesederhanaan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran
pasang. Nilai kesabaran harus diamalkan, terutama kepada Ammatoa, untuk menerima takdir dari Turiek
Akrakna. Nilai kepedulian terhadap lingkungan alam merupakan wujud sikap menjaga kelestarian lingkungan
alam sesuai dengan ajaran pasang.
Kata kunci: nilai-nilai kepemimpinan, komunitas adat, Ammatoa.

PENDAHULUAN dan orang dekatnya, terutama yang telah berjasa,


Disadari bahwa pemimpin nasional, baik seperti tim suksesnya. Walaupun telah ada UU
yang ada di pusat maupun di daerah masih No. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggara
memiliki integritas yang rendah. Kenyataan ini negara yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan
menunjukkan rata-rata pemimpin bangsa ini nepotisme, tetapi pada kenyataannya kasus
sangat sulit untuk melepaskan diri dari korupsi, pelanggaran terhadap undang-undang tersebut
kolusi dan nepotisme. Hal ini terjadi untuk relatif banyak. Kasus korupsi yang melibatkan
mengakomodasi kepentingan dirinya, partainya pejabat negara, seperti menteri, gubernur, bupati

17
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
dan sebagainya yang jumlahnya relatif banyak Setelah keturunan dewa meninggalkan
menunjukkan kasus pelanggaran dan rendahnya bumi, berselang beberapa waktu lamanya
integritas pemimpin bangsa ini. Rendahnya terjadilah kekacauan selama petu pariama (tujuh
integritas tersebut melahirkan wacana di kalangan windu) lamanya. Dalam masa tersebut berlaku
masyarakat tentang perlunya pengungkapan hukum rimba yang disebut sianre bale tauwe
kepemimpinan tradisional yang memiliki nilai- (siapa yang kuat dialah yang menang). Keadaan
nilai kearifan dalam menangani berbagai masalah kacau balau seperti itu barulah berakhir ketika
dalam masyarakat setempat. Menurut Weber kehadiran tomanurung (orang yang turun dari
(dalam Wibowo, 2014:15) kepemimpinan kayangan atau orang yang tidak diketahui asal
tradisional berasal dari tradisi yang diwariskan usulnya) yang diangkat sebagai raja. Penobatan
secara turun-temurun. Hal senada dinyatakan tomanurung sebagai raja melalui musyawarah
oleh Gaffar (2012:3), bahwa dalam masyarakat dan kontrak politik antara tomanurung itu
Bugis di Sulawesi Selatan, kepemimpinan sendiri dengan pemimpin-pemimpin kaum
tradisional yang bersumber dari nilai budaya yang mewakili masyarakat. Hampir semua
dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi kerajaan di Sulawesi Selatan mengalami hal yang
berikutnya melalui tradisi sosialisasi yang disebut sama, yaitu kacau balau yang diakhiri dengan
pappaseng (petuah-petuah). kehadiran tomanurung. Menurut Mattulada
Menurut Mattulada (1985:387), sistem (1985:403) kehadiran tomanurung sekaligus
kepemimpinan tradisional di Sulawesi Selatan menjadi penguasa dan kemudian dilanjutkan
terbagi atas dua periode, yaitu periode galigo secara patrilinial kepada keturunannya. Periode
dan periode lontarak. Pada periode galigo, ini disebut periode lontarak.
sistem kepemimpinan berdasar pada pandangan Kontrak politik yang terjadi antara
religio charismatic. Sedangkan periode lontarak tomanurung dengan pemimpin-pemimpin kaum
berdasar pada pandangan patrimonial. Dalam atau kelompok merupakan pedoman dasar di
periode galigo, sikap hidup manusia ditentukan dalam penyelenggaraan keseluruhan aktivitas
oleh faktor-faktor yang terletak di luar dirinya. politik pemerintahan dan kenegaraan orang Bugis
Segala sesuatu dipertautkan kepada kekuatan- dan Makassar. Naskah dalam kontrak politik itu
kekuatan gaib sebagai sumber segala kekuasaan tampak bahwa telah terjadi musyawarah yang
dan kepemimpinan. Kekuasaan dalam kelompok menghasilkan permufakatan mengenai batas-
masyarakat diserahkan kepada orang-orang batas hak, wewenang, tanggung-jawab dan
yang dianggap memiliki kekuatan gaib, yang kewajiban raja dan rakyat (Ibrahim, 2003:131).
diperoleh dengan jalan penitisan dewa-dewa. Dalam lontarak (naskah kuno) Luwu dipaparkan
Pola pikir yang menganggap bahwa segala tentang musyawarah tomanurung dengan
kekuasaan itu berasal dari kerajaan dewa-dewa pemimpin-pemimpin kaum. Berkatalah salah
di Botillangi (dunia atas) dan Pertiwi (dunia seorang pemimpin kaum, sebagai wakil rakyat
bawah). Dikisahkan bahwa Batara Guru, putra (diterjemahkan sebagai berikut):
tertua Datu Patoto (dewa di Botillangi) kawin Maksud kedatangan kami, hai manusia
dengan We Nyili Timo (putri dewa dari Pertiwi). suci yang kami tidak kenal, engkaulah yang kami
Pasangan ini menempati Alekawa (dunia tengah, pertuan, engkau pulalah Datu di Cina. Engkau
dunia yang ditempati manusia) yang kemudian selimuti kami agar kami tidak kedinginan,
beranak pinak hingga ratusan keturunan. Mereka engkau menjaga kami dari gangguan burung
hidup selama enam generasi dan berkuasa di bumi pipit agar tidak hampa, engkau tidak akan
ini. Setelah enam generasi tersebut, tidak ada lagi mempermalukan kami, engkau memanggil dan
keturunan dewa yang mau tinggal di bumi, mereka kami akan datang, engkau menyuruh dan kami
kembali ke Botillangi dan Pertiwi. Menurut akan kerjakan jikalau hal itu menjadikan engkau
Abidin (1999:120), bahwa semua keturunan dewa besar dan memuliakan kerajaanmu. Menjawab
tersebut habis, karena tenggelam di perairan Luwu Simpurusiang tomanurung di Lompo: Jikalau
setelah menghadiri upacara reuni. demikian, maka aku memutuskan tinggal di negeri

18
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

ini, walau anakku dan isteriku jikalau melakukan kepemimpinan tradisional masih kuat diterapkan
perbuatan yang tidak menghidupkan kalian dan dalam kehidupan masyarakat. Di Sulawesi Selatan
tidak mulia, maka juga tidak menghidupkanku terdapat suatu wilayah di mana kepemimpinan
(Abidin, 1999:121). tradisional masih kuat, yaitu di Ilalang Embaya.
Dalam kontrak politik tersebut tampak Wilayah tersebut merupakan kawasan adat, yaitu
dengan jelas konsep kekuasaan dimaknai sebagai komunitas adat Kajang. Lokasinya terletak dalam
pengayoman, pemayungan pada kepentingan wilayah administratif Desa Tanatoa, Kabupaten
rakyat dan hak milik rakyat. Secara eksplisit Bulukumba. Kawasan adat tersebut dipimpin
dinyatakan bahwa raja sama sekali tidak memiliki oleh seorang ketua yang disebut Ammatoa
wewenang dan tidak berhak memaksakan dengan beberapa pembantu-pembantunya yang
kehendaknya kepada rakyat, serta tidak melakukan terstruktur berdasarkan bidang tugas masing-
perbuatan sewenang-wenang menggunakan masing. Kepala Desa Tanatoa termasuk salah
senjata untuk menindas rakyatnya. satu di dalam struktur kepemimpinan tersebut
Kepatuhan rakyat kepada raja adalah yang bertugas menjembatani program kegiatan
kepatuhan bersyarat dan sangat ditentukan oleh pemerintah dengan masyarakat Ilalang Embaya,
tindakan sang raja. Selama raja menaati dan begitu pula sebaliknya.
melaksanakan kontrak politik dengan mewujudkan Ammatoa sebagai pemimpin tradisional
ada tongeng (perkataan benar), lempuk (jujur), dalam komunitas adat Kajang memiliki pengaruh
getteng (tegas) dan sipakatu (saling menghormati yang sangat kuat terhadap kehidupan masyarakat
sesama) serta mappesona ri pawinruk seuwaE dan kelestarian lingkungan alam di kawasan
(berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa) adat tersebut. Kebijakan-kebijakan pemerintah
dalam segenap perilaku, tindakan, perbuatan, dan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup
kebijaksanaannya sebagai raja, selama itu rakyat dan kesejahteraan mereka kadang kala ditolak
akan tetap mematuhinya. Selain itu raja yang patut bilamana tidak sesuai dengan pasang (aturan adat)
dipatuhi adalah raja yang tidak culas, raja yang yang berlaku dalam masyarakat. Keberhasilan
memelihara kejujuran di dalam dirinya, yang tidak Ammatoa sebagai pemimpin dalam komunitas
semena-mena mengambil hak rakyatnya. Namun adat Kajang tidak terlepas dari nilai budaya yang
demikian, bilamana kontrak politik tersebut tidak ada dalam komunitas tersebut. Koentjaraningrat
dipenuhi atau dilanggar, maka sesuai pangadereng, (1990:190) membatasi pengertian nilai budaya
rakyat berhak mencabut pengakuannya dengan (cultural value) sebagai konsep abstrak mengenai
tiga pilihan cara, yaitu: (1) palessoi, turunkan raja masalah dasar yang amat bernilai, berharga dan
dari tahta, (2) unoi, bunuh raja, dan (3) salaiwi, penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi
tinggalkan raja. Berkaitan dengan hal ini, ada sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan
beberapa contoh rakyat mencabut pengakuannya. orientasi kepada kehidupan warga masyarakat.
Misalnya, Karaeng Tunijallo di Gowa diamuk Oleh karena itu, sangat menarik untuk mengkaji
oleh rakyatnya, La Inca Raja Bone dihukum mati nilai-nilai kepemimpinan tradisional untuk menjadi
oleh Dewan Adat Kerajaan Bone, Batara Wajo La tauladan dalam sistem kepemimpinan di Indonesia.
Pateddungi Tosamalangi dibunuh oleh rakyatnya Sehubungan dengan hal tersebut, fokus masalah
karena tidak memiliki kejujuran. Raja-raja Bugis dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai
tersebut suka mengambil sesuatu yang bukan kepemimpinan tradisional dalam komunitas adat
haknya, senang memperkosa rakyat dan hak-hak Kajang?.
rakyatnya (Ibrahim, 2003:164).
Setelah Indonesia merdeka, kepemimpinan METODE
tradisional tersebut di atas berakhir dan beralih Metode penelitian yang digunakan
kesistem kepemimpinan nasional berdasarkan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif,
UUD 1945 dan perundang-undangan lainnya. yang difokuskan untuk mengkaji nilai-nilai
Kendati demikian, di daerah-daerah tertentu dengan kepemimpinan tradisional dalam komunitas adat
batas-batas wilayah yang relatif kecil, sistem Kajang. Pengumpulan data primer dilakukan

19
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
terhadap sejumlah informan yang dipilih secara PEMBAHASAN
purposif, yaitu ketua adat dan beberapa pemangku Komunitas Adat Kajang
adat lainnya. Selama wawancara, peneliti sedikit Komunitas adat Kajang terletak di Desa
mengalami kesulitan karena tidak fasih berbahasa Tanatoa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi
Konjo, yang merupakan bahasa pengantar sehari- Sulawesi Selatan. Desa Tanatoa terdiri atas
hari komunitas adat Kajang. Di sisi lain, seluruh 9 dusun, 7 dusun di antaranya berada dalam
informan tidak tahu berbahasa Indonesia. Oleh Komunitas adat Kajang. Komunitas adat tersebut
karena itu, peneliti menggunakan juru bahasa dikenal dengan nama Ilalang Embaya, sedangkan
untuk memperlancar komunikasi dan memperkuat di luar kawasan adat disebut Ipantarang Embaya.
akurasi data yang diperoleh. Dalam wawancara Pengertian Ilalang Embaya adalah kawasan adat
ditentukan topik tentang nilai-nilai kepemimpinan yang sejak dahulu seluruh ketentuan adat, baik
tradisional yang dipraktikkan dalam komunitas yang bersumber dari pasang maupun Ammatoa
adat Kajang. Pertanyaan tentang nilai-nilai tersebut harus dipatuhi oleh warga masyarakatnya.
dikembangkan dan diperdalam pada aktivitas- Di dalam kawasan adat Kajang terdapat
aktivitas yang telah dilakukan oleh pemimpin hutan seluas 331 ha. Hutan tersebut terbagi atas
dan ucapan-ucapan yang disampaikan berkaitan tiga, yaitu borong karrasa (hutan keramat),
dengan kebijakannya selama menduduki jabatan borong battassaya (hutan penyangga) dan borong
dalam komunitas adat tersebut. Sedangkan teknik tattakang (hutan rakyat). Borong karrasa terdiri
observasi dilakukan pada kegiatan-kegiatan yang atas dua tempat dengan nama yang berbeda,
dihadiri oleh ketua adat dan pemangku adat lainnya, yaitu hutan karanjang atau biasa pula disebut
seperti acara abborong (musyawarah), akkattere pakrasangan ilau (perkampungan di sebelah
(upacara pemotongan rambut) dan berbagai ritual timur) dan hutan tombolo atau biasa disebut
lainnya. Selain itu, observasi juga dilakukan pada pakrasangan iraja (perkampungan di sebelah
kehidupan sehari-hari ketua adat dan pemangku barat). Kedua jenis hutan karrasa tersebut telah
adat lainnya. Dalam kegiatan pengamatan tersebut dijadikan hutan lindung oleh pemerintah.
terdapat kendala yang dialami oleh peneliti, karena Berdasarkan registrasi penduduk akhir
tidak semua yang diamati dapat didokumentasikan. tahun 2013, jumlah penduduk komunitas adat
Bagi kehidupan ketua adat (Ammatoa) sehari-hari Kajang sebanyak 2.818 jiwa, terdiri atas 1.288
dan kegiatannya dalam menghadiri suatu upacara, laki-laki dan 1.530 perempuan. Penduduk tersebut
tidak dapat didokumentasi karena kasipalli berada dalam 639 kepala keluarga (KK). Penduduk
(pemali) berdasarkan sistem nilai dan norma- tersebut rata-rata memiliki pendidikan relatif
norma yang berlaku dalam masyarakat setempat. rendah. Hal tersebut disebabkan adanya aturan,
Analisis data dilakukan dengan cara induktif, yaitu kasipalli (tabu) bagi warga masyarakat
dimulai dengan menelaah seluruh data yang untuk mengenyam pendidikan formal hingga
terkumpul dari hasil wawancara, pengamatan, akhir tahun 1970-an. Namun demikian, berkat
dan studi pustaka. Setelah data tersebut dikaji dan pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintah
ditelaah, dilanjutkan dengan membuat reduksi terhadap tokoh masyarakat setempat agar dapat
data dengan jalan membuat abstarksi berupa menerima dan mau menyekolahkan anak-anaknya
rangkuman dan pernyataan-pernyataan. Langkah di lembaga pendidikan formal. Upaya tersebut
selanjutnya adalah menyusun dalam satuan- ternyata membuahkan hasil, anak-anak diberi
satuan dan sekaligus membuat kategorisasi. kebebasan untuk mengenyam pendidikan formal
Tahap akhir analisis data dilakukan pemeriksaan hingga setinggi-tingginya. Kendati demikian,
ulang terhadap validitas dan hasil interpretasi masih ada hambatan karena lembaga pendidikan
data untuk memperoses hasil yang ada menjadi (sekolah) tidak boleh dibangun di dalam kawasan
sebuah simpulan. adat.
Penduduk Desa Tana Towa, baik yang ada
di dalam kawasan adat Kajang maupun yang

20
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

ada di luar kawasan adat digolongkan sebagai masyarakat. Ketiga dimensi pengamalan nilai
subsuku dari suku bangsa Makassar. Bahasa kejujuran tersebut hendaknya diwujudkan oleh
yang digunakan dalam interaksi sosial sehari- setiap warga masyarakat, baik sebagai pemimpin
hari, adalah bahasa Konjo. Bahasa itu merupakan maupun sebagai masyarakat biasa.
perpaduan antara bahasa Bugis dan Makassar. Oleh Pengamalan nilai kejujuran tersebut lahir
karena perpaduan dua bahasa, maka kosa kata dari dari hati nurani yang bersih sesuai dengan
kedua bahasa tersebut (terutama bahasa Makassar) sistem kepercayaan Patuntung, yaitu pakabaji
banyak memengaruhi bahasa Konjo. Kendati atekanu (perbaiki hati nuranimu) karena itu
demikian, Purba dkk., (2012:12) menyatakan, adalah ibadah. Seseorang yang berstatus karaeng
bahwa Ammatoa, Puto Palasa menegaskan justru (pemimpin) akan diakui keabsahannya bilamana
bahasa Bugis dan Makassar yang mengikut memiliki sifat jujur. Dalam ungkapan komunitas
dan mengembangkan bahasa Konjo di wilayah adat Kajang disebutkan lambusunuji nukaraeng
penuturnya masing-masing. Menurut Ammatoa, (karena kejujuranmu maka engkau jadi karaeng
komunitas adat Kajang adalah pusat. Dalam atau pemimpin). Seorang pemimpin harus
ungkapan disebutkan kunni nampatassure sulu, senantiasa mewujudkan kejujuran dan dibuktikan
artinya Di sini (baca, komunitas adat Kajang) dalam perbuatan nyata, seperti dalam ungkapan
mulanya, baru berkembang keluar. disebutkan panggaukang lambusu (perbuatan
yang jujur). Dalam kehidupan masyarakat sehari-
Nilai-Nilai Kepemimpinan Tradisional hari, pemimpin dan rakyat (tokoh masyarakat)
Nilai Kejujuran saling menasihati dan mengingatkan (lingu
Kejujuran merupakan salah satu nilai utama sipakainga). Wujud nasihat tokoh masyarakat
dalam komunitas adat Kajang. Kata tersebut terhadap pemimpinnya dipaparkan dalam
dikenal dengan istilah lambusu, yaitu landasan ungkapan Ikau karaengnga, lambusu burungko,
pokok dalam menjalin hubungan dengan sesama palalangnganga angkuayaa (engkau pemimpin
manusia dan merupakan faktor yang sangat jujurlah luruslah bagaikan pohon burungko
mendasar dalam kehidupan manusia. Tanpa yang lurus ke atas tanpa dahan dan ranting).
kejujuran mustahil akan tercipta hubungan yang Rakyat akan patuh, setiah kepada pemimpinnya,
baik antara sesama manusia. Menurut Sikki dkk. bilamana pemimpin tersebut berlaku jujur.
(1998:6), salah satu kriteria untuk mengatakan Salah satu bentuk kejujuran dalam
baik-buruknya atau beradab tidaknya seseorang komunitas adat Kajang, adalah tidak mengambil
dapat dilihat dari segi kejujuran. atau mengganggu hak orang lain. Ajaran pasang
Komunitas adat Kajang mengamalkan menganjurkan tentang seseorang, baik orang
nilai kejujuran dalam tiga dimensi, yaitu jujur biasa maupun pemimpin untuk tidak mengambil
terhadap Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha dan mengganggu hak orang lain, ajaran pasang
Berkehendak), jujur terhadap sesama manusia tersebut adalah Jako alingkai batang (jangan
dan jujur terhadap diri sendiri. Pengamalan melangkahi batang kayu), artinya jangan
nilai kejujuran terhadap Turiek Akrakna, adalah mengambil barang orang lain atau dapat juga
melaksanakan secara bersungguh-sungguh segala berarti jangan mengganggu istri orang. Ajaran
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan- pasang tersebut menegaskan, bahwa kejujuran
Nya. Sedangkan pengamalan nilai kejujuran termasuk perbuatan terpuji, tidak mencuri
terhadap sesama manusia, adalah menghargai atau mengambil kepunyaan orang lain, tidak
dan menghormati hak orang lain. Begitu pula mengganggu isteri atau suami orang lain.
pengamalan nilai kejujuran terhadap diri sendiri, Apalagi seorang pemimpin, tidak dibenarkan
yaitu menegakkan prinsip panggaukang lambusu menggunakan kekuasaannya untuk merampas
(perbuatan yang jujur). Artinya, perbuatan yang hak orang lain.
didasarkan pada kebenaran sesuai dengan nilai- Orang yang memelihara nilai kejujuran
nilai dan norma-norma yang berlaku dalam dalam hidupnya patut disebut manusia yang
bermartabat. Manusia yang bermartabat adalah

21
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
manusia yang senantiasa menjaga sirik (harga Kartono (2014:39) menyatakan, seorang
diri) dalam dirinya. Manusia seperti itu senantiasa pemimpin harus memiliki kepedulian terhadap
berpikir, bersikap, berbicara dan berperilaku bawahannya atau rakyatnya dengan jalan
baik sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma memprakarsai tingkah laku sosial dengan
dalam masyarakat. Dalam komunitas adat Kajang, mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau
manusia seperti itu disebut tau patantangnga pau mengontrol usahanya melalui prestise atau
mana (orang yang berpegang teguh pada adat). kekuasaan. Kepedulian Ammatoa terhadap
Hamid dkk. (2012:73) menyatakan, bahwa orang rakyatnya tidak hanya tertuju kepada
yang teguh pada adat adalah orang yang tinggi perlindungan hak dan kesejahteraannya, tetapi
sirikna (harga dirinya), yaitu orang yang mampu juga membimbing rakyatnya agar selamat dunia
menentukan sikap sesuai dengan kebenaran dan dan akhirat. Salah satu bentuk bimbingan atau
ketetapan hati nuraninya yang benar. Ia tidak nasihat Ammatoa adalah Jako todogaukangngi
mudah terombang-ambing oleh desakan atau kasipallia apanna-apanna nugaukang nacalaka
ancaman dari luar dirinya. bohennu, napitabaiko pangilai Turiek Akrakna
Ammatoa sebagai pemimpin adat dipercaya (jangan kerjakan apa yang dilarang adat, apabila
sebagai wakil Turiek Akrakna di bumi, segala engkau kerjakan akan didengar oleh leluhurmu
perilaku dan perbuatannya diyakini sebagai dan dikutuk oleh Turiek Akrakna). Larangan adat
kehendak-Nya. Oleh karena itu, Ammatoa (kasipalli) tidak membenarkan seseorang untuk
senantiasa mewujudkan prinsip panggaukang mencuri merampas hak orang lain, berdusta, iri
lambusu dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip hati, dengki, cemburu dan sebagainya. Nasihat
tersebut merupakan pengamalan nilai kejujuran tersebut sesuai dengan pasang yang menyatakan
terhadap Turiek Akrakna, terhadap sesama Pakalere hilunyahaya napa ri siatia (jauhkan
manusia dan terhadap diri sendiri. Beliau rasa iri dengki, cemburu terhadap sesama
senantiasa tafakkoro (berserah diri) kepada Turiek manusia). Selain itu dinasihatkan pula agar setiap
Akrakna untuk melaksanakan segala perintah dan orang senantiasa berkata benar dan sopan, seperti
larangan-Nya. dalam ungkapan disebutkan Allamungko tabu
Hubungannya terhadap rakyatnya, Ammatoa ri biring ngusennu (tanamlah tebu di pinggir
memiliki kepedulian yang sangat tinggi, sebagai bibirmu). Semua perilaku dan perbuatan yang baik
pengayom dan pelindung serta memikirkan itu adalah ibadah dan akan mendapat balasan yang
kesejahteraan rakatnya. Walaupun kehidupan baik pula dari Turiek Akrakna di hari kemudian.
ekonominya relatif rendah, beliau tidak pernah
Karesoi apa-apa numaengnga naturunggi Nilai Keteguhan
songo padanna tau (menginginkan jerih payah Keteguhan yang dimaksudkan dalam
orang lain atau rakyatnya) dengan cara merampas komunitas adat Kajang adalah gattang, sama
atau menggunakan kekuasaannya semena-mena. artinya dengan getteng dalam bahasa Bugis.
Sebaliknya, justru beliau lebih mengutamakan Menurut Rahim (2011:133), gattang atau getteng,
kesejahteraan rakyatnya dibanding kesejahteraan selain berarti teguh juga berarti taat-asas atau
dirinya sendiri dan keluarganya. Dalam pasang setia pada keyakinan, dapat pula berarti kuat dan
disebutkan: Punna anne kampong lakasi- tangguh dalam pendirian. Sedangkan Ibrahim
asi, kaminang riolo lakasi-asi iamintu Bohe (2003:165) menyatakan bahwa getteng berarti
Amma (Ammatoa), minka punna riek harena ketegasan berpegang pada keyakinan yang benar.
lakalumannyang kaminang ribokoa kalumannyang Nilai gattang ini terikat pada makna yang positif,
Bohe Amma (jika kampung ini akan miskin, yang seperti dalam ungkapan disebutkan gattangpi
lebih dahulu miskin adalah Ammatoa, tetapi kalau na adak (keteguhan memelihara adat). Dalam
memiliki nasib akan kaya, yang terakhir kaya memelihara dan menegakkan adat diperlukan
adalah Ammatoa). Pasang tersebut menjelaskan adanya nilai keteguhan atau ketegasan tanpa
tentang sikap dan perbuatan Ammatoa yang harus membeda-bedakan kepada setiap orang, baik
mengutamakan kepentingan rakyatnya.

22
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

bangsawan atau pejabat maupun kalangan biasa. nakuwa tirioloa sangadinna kamaseyannai
Demikian pula tidak ada perbedaan antara anggota Karaeng Lompowa (sogok menyogok itu sama
keluarga dengan orang lain, semua sama di mata dengan racun tikus, sama dengan bara api di sabut
hukum. kelapa, sama rembesan air di atas kertas dan sama
Perwujudan gattangpi na adak dijelaskan pula dengan guna-guna di dalam dirimu, itulah
dalam pasang, yaitu Manna ana talakkullei yang disebut penyakit tidak ada obatnya, kecuali
tauwwa annyikki manu mate, anggalepek manu ampunan dari TuhanYang Maha Kuasa). Artinya,
polong, manna anakta punna salai, nipatabai tonji sesuatu yang kelihatannya menggembirakan,
pasala (walaupun anak tidak dapat dimenangkan tetapi justru menghancurkan kehidupan seseorang.
bagaikan ayam mati kalah beradu, dibela bagaikan Dalam komunitas adat Kajang, walaupun
ayam patah pada saat beradu, walaupun anak kita tidak ada kasus penegakan hukum yang melibatkan
kalau bersalah pasti dikenakan sanksi). Pasang anggota keluarga Ammatoa, tetapi masyarakat
tersebut memberikan contoh dalam suatu arena percaya bahwa bilamana anak atau anggota
adu ayam jago, yang terbuka untuk umum. kerabat Ammatoa melakukan pelanggaran, maka
Dalam arena tersebut banyak orang yang datang, Ammatoa akan menjatuhkan sanksi secara tegas
ada yang membawa ayam jago untuk diadu, ada kepada anaknya atau anggota kerabatnya tersebut.
wasit yang mengatur permainan, ada yang datang Kepercayaan masyarakat tersebut diyakini secara
sekedar untuk menonton, dan sebagainya. Semua kultural, bahwa Ammatoa memiliki pangullei
orang dapat menyaksikan secara langsung adu (pemegang amanah) yang diberikan oleh Turiek
ayam tersebut, dan semua orang dapat melihat dan Akrakna melalui proses ritual di dalam hutan
menentukan siapa ayam yang menang dan kalah keramat.
tanpa ada rekayasa. Jadi demikianlah suatu bentuk
peradilan, walaupun ayam milik raja (pemimpin) Nilai Persatuan
atau milik wasit jika kalah beradu, maka ia tidak Persatuan merupakan pondasi dalam
boleh dibela atau dimenangkan karena semua mewujudkan harmonisasi dalam masyarakat.
orang menyaksikannya. Dalam masyarakat adat Kajang, persatuan
Peradilan adat Kajang (ada tanayya dibangun dari pemangku adat dengan berlandaskan
ri Kajang), tidak memenangkan perkara pada nilai-nilai dasar yang dimilikinya. Dalam
berdasarkan keindahan bertutur kata, tetapi yang pasang disebutkan, ada empat nilai dasar yang
dipertimbangkan adalah lambusu (kejujuran) dapat membentuk kehidupan harmonis dan
dan bicara tojeng (bicara yang benar). Sekalipun dirahmati oleh Turiek Akrakna, yaitu: kejujuran,
balloi bicarannu mingka anrenatojeng, kittemintu tegas, kesabaran dan pasrah. Setiap orang apakah
nipatabai sala (sekalipun bicara anda bagus ia manusia biasa, anggota adat, pejabat, petugas
kedengaran, tetapi tidak benar, maka tetap agama dan sebagainya, akan senantiasa berusaha
dinyatakan bersalah). Para pengambil keputusan mencapai manuntungngi (mengamalkan) keempat
(Ammatoa, Paranrang Bicarayya dan Lompo nilai tersebut. Namun demikian, pengamalan
Ada) tidak berani menerima pasoso (sogokan) nilai-nilai tersebut lebih diutamakan pada
dalam bentuk apapun dan memihak kepada pemegang jabatan, yaitu pemimpin, pemangku
siapapun, sekali pun anak sendiri kalau bersalah adat, penghulu agama dan dukun. Kejujuran lebih
tetap diputuskan bersalah. Komunitas adat Kajang dituntut pada setiap pemimpin, ketegasan pada
memandang bahwa pasoso (sogok-menyogok) setiap pemangku adat, kesabaran pada setiap guru
itu suatu perbuatan tidak baik, diibaratkan seperti (penghulu agama), dan kepasrahan pada setiap
racun, api dan penyakit yang susah diatasi atau sanro GXNXQ  +DG   (PSDW XQVXU
disembuhkan. Dalam pasang disebutkan Anjo ini kemudian melembaga dan disebut Appak
pasoso sangkamma racung balahoa, sangkamma panggentunna tanaya na pattungkulukna langik
pepe ri sahu kalukuwa, sangkammai ere ri (empat penggantung bumi dan empat penopang
bujanga, sangkamma tonji poeng garring doti ri langit). Keempat pemegang jabatan tersebut
kalennu, injomi nikana garring anre pabballena

23
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
diasosiasikan sebagai penggantung bumi. Beliau serta pranata sosial yang disebut pasang. Tidak
yang mengatur kehidupan masyarakat, akan satupun masyarakat adat Kajang yang merasa
dibawa ke mana masyarakatnya, sejahtera atau dirinya terpisah dari yang lainnya, sehingga
PLVNLQ KDUPRQLV DWDX NRQLN 8QWXN PHQXMX mereka memiliki rasa empati dan tenggang
kehidupan yang harmonis dan sejahtera, keempat rasa yang tinggi (sipakatau dan sipakalebbi).
jabatan tersebut harus berlandaskan pada nilai- Hal tersebut tertuang di dalam pasang yang
nilai dasar, yang diasosiasikan sebagai empat menyatakan: Abbulo sipappa, alemo sihatu,
penopang bumi. tallang sipahua, manyu siparampe, lingu
Wujud persatuan dalam masyarakat adat sipakainga, sallu riajoa, ammolo riadahang
Kajang tampak dalam kebersamaan mereka (bersatu padu bagaikan sebatang bambu, bulat
dalam berbagai kegiatan yang didahului dengan tekad bagaikan jeruk sebiji, tenggelam saling
abborong (musyawarah). Abborong adalah suatu mengapungkan, hanyut saling mendamparkan,
sistem pengambilan keputusan yang melibatkan lupa saling mengingatkan, mematuhi segala
banyak orang dengan mengakomodasi semua aturan, sehingga apapun kehendak pemerintah
pendapat dan kepentingan warga masyarakat, harus diikuti).
sehingga tercipta satu keputusan yang disepakati Abbulo sipappa adalah sebatang bambu
bersama dan dapat dijalankan oleh seluruh warga yang dijadikan simbol pemersatu untuk menjaga
masyarakat. Pelaksanaan abborong sebagai tanda harmonisasi antara pemimpin dan yang dipimpin,
persatuan dan kebersamaan antarsesama warga serta antara sesama warga masyarakat. Sebatang
masyarakat, baik Ammatoa, pemangku adat dan bambu yang tumbuh subur ditopang oleh akar
masyarakat biasa. yang kuat, disertai dengan ranting dan dedaunan.
Salah satu esensi persatuan adalah Sebatang bambu yang tidak memiliki ranting
mewujudkan solidaritas dalam masyarakat. dan dedaunan, adalah bambu yang sudah mati.
Solidaritas merupakan rasa kebersamaan, rasa Sedangkan ranting dan dedaunan pada batang
senasib, rasa simpati, sebagai sesama warga bambu, tetapi tanpa akar juga bukan sebatang
masyarakat. Implementasi nilai solidaritas dalam bambu yang hidup. Pasang tersebut menjelaskan,
komunitas adat Kajang adalah bilamana ada yang bahwa pemimpin tanpa warga yang dipimpinnya
berduka cita, maka semuanya akan merasakan adalah kekuasaan yang hampa, pemimpin yang
hal yang sama. Kalau ada yang bergembira, ditinggalkan oleh rakyatnya. Sebaliknya, warga
maka semuanya akan turut bergembira. Saling masyarakat tanpa pemimpin, adalah kacau-balau,
membantu dan tolong-menolong dalam suka dan terjadi hukum rimba, siapa yang kuat dia yang
duka. Koentjaraningrat (1992:171) menyatakan menang. Suatu masyarakat dapat hidup bersatu
nilai solidaritas merupakan penggerak dalam dan harmonis bilamana warganya menyatu
masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, dalam dengan pimpinannya, bagaikan sebatang pohon
masyarakat adat Kajang nilai solidaritas itu bersifat bambu yang tumbuh subur dengan rating dan
dinamis, sistimatis dan masif. Tidak lahir secara dedaunan yang lengkap, ditopan oleh akar yang
spontanitas untuk berbakti kepada sesamanya, kuat. Itulah esensi sebuah simbol pemersatu dalam
tetapi pada prinsipnya mereka terdorong oleh masyarakat adat Kajang.
perasaan saling butuh-membutuhkan. Alemo sihatu merupakan simbol kebulatan
Ammatowa sebagai pemimpin adat tekat untuk bersatu bagaikan jeruk sebiji. Jeruk
senantiasa berupaya menjaga persatuan dan dijadikan simbol karena bentuknya bulat dan
kebersamaan dalam masyarakat adat Kajang, terdiri atas beberapa komponen, mulai dari kulit,
begitu pula hubungannya dengan masyarakat isi dan rasanya bervariasi. Kulit jeruk terdiri
yang tinggal di luar kawasan adat, yang masih atas kulit luar yang tebal membungkus seluruh
memiliki hubungan geneologis dan kultural. isinya. Sementara isi jeruk berupa ulasan-ulasan
Hubugan kebersamaan dan persatuan itu, disebut di dalamnya terdiri atas butiran-butiran yang
assikajangeng (sama-sama orang Kajang), yang berlapis-lapis disertai dengan beberapa biji. Setiap
diikat oleh kesamaan budaya dan tempat tinggal, butiran terbungkus lagi dengan kulit sangat tipis,

24
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

berisi cairan yang manis bercampur kecut, kadang nanigaukang sikontu passurona pamarenta
kala ada butiran yang cairannya terasa pahit. Hal (mengikuti alur yang telah ditentukan pada
itu menggambarkan komunitas adat Kajang yang waktu membajak dan mengikuti seruan dari
terdiri atas Ammatoa sebagai pelindung yang pemerintah). Maksudnya adalah melaksanakan
berpedoman pada pasang diibaratkan sebagai segala ketentuan yang digariskan dalam pasang,
kulit jeruk yang berfungsi melindungi isinya. maupun kesepakatan dalam abborong, demikian
Sedangkan warga masyarakat memiliki sifat dan pula seruan dari pemerintah. Ketentuan tersebut
perilaku yang berbeda-beda, ada yang baik, sopan, harus dilaksanakan secara tegas dan tepat
cuek, nakal dan sebagainya diibaratkan sebagai sasaran. Ammatoa menuntun warga masyarakat
isi jeruk yang rasanya beraneka ragam. Ammatoa melaksanakan ketentuan dan aturan tersebut dalam
dan rakyatnya merupakan satu kesatuan yang tak rangka stabilitas kehidupan dalam masyarakat.
terpisahkan dalam bingkai assikajangeng dengan
berpedoman pada nilai-nilai dalam pasang. Nilai Kesederhanaan
Tallang sipahua, manyuk siparampe Hakikat hidup bagi masyarakat adat Kajang
merupakan nilai yang mengandung perasaan adalah mewujudkan suatu kehidupan yang
empati dan solidaritas untuk membantu sesamanya. berlandaskan pada pasang. Inti dari isi pasang
Esensi dari perasaan empati adalah menyelami adalah kepercayaan kepada Turiek Akrakna
perasaan orang lain melalui perasaan diri sendiri. dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi
Artinya, kalau menurut pribadi kita baik, maka segala larangan-Nya. Simbol ketaatan masyarakat
baik pula menurut orang lain. Sebaliknya, kalau adat Kajang terhadap Turiek Akrakna diwujudkan
menurut pribadi kita buruk, maka buruk pula dalam bentuk kehidupan yang sederhana, disebut
menurut orang lain. Dalam ungkapan disebutkan kamase-mase. Karena kesederhanaannya merata
Nikapiu rolong kalenta, nampa nikapiu paranta pada berbagai aspek kehidupan, sehingga
tau, punna parrisi nisaring parrisi toi ri paranta perkampungannya dijuluki butta kamase-mase
tau (cubit dulu diri sendiri baru cubit orang lain, (perkampungan yang kehidupan warganya
kalau terasa sakit maka sakit pula dirasakan orang sederhana). Hidup dengan kesederhanaan
lain). Dengan demikian Iya haji piri gitte, nahaji dilakoni dengan sabbara (kesabaran) dan pesona
todo ri tau tabalaya (adapun yang baik untuk (kepasrahan) karena takdir yang mereka terima di
diri sendiri, baik juga untuk orang banyak). Adanya dunia. Sebaliknya, kehidupan yang mewah bukan
perasaan empati mendorong seseorang untuk di dunia, tetapi tempatnya nanti di akhirat. Dalam
membantu atau menolong sesamanya. Wujud ungkapan disebutkan: Punna anre kusiduppa
tolong-menolong tersebut tampak pada berbagai ri lino manna riallo ribokopi sallo (kalau tidak
kegiatan sosial maupun kegiatan individu atau dapat di dunia nanti di akhirat kelak). Menurut
keluarga dalam masyarakat, misalnya kegiatan kepercayaan mereka, di akhirat kelak, setiap orang
membangun rumah, kegiatan pertanian, upacara akan dibangunkan bola tepu anre rapanna ri lino
perkawinan, kelahiran, akkattere, kematian dan (rumah mewah tidak ada samanya di dunia) oleh
sebagainya. Tolong menolong tersebut bukan Turiek Akrakna. Bola tepu tersebut adalah istana
hanya dalam bentuk pemberian jasa tetapi juga dalam surga.
dalam bentuk materi dan uang. Ammatoa sebagai Salah satu bentuk kesederhanaan bagi
pemimpin adat juga memiliki perasaan empati dan masyarakat adat Kajang dapat dilihat dari
solidaritas kepada rakyatnya. Wujud kepedulian pakaiannya, yaitu keharusan berpakaian warna
Ammatoa adalah senantiasa hadir dalam berbagai hitam dan kasipalli (tabu) mengenakan pakaian
undangan yang dilakukan oleh warga masyarakat, berwarna-warni. Menurut Usop (1985:117) warna
memberikan pertolongan atau pengobatan kepada hitam mempunyai arti khusus bagi masyarakat
yang sakit, dan memberikan nasihat kepada warga adat Kajang, yaitu sebagai himpunan segala warna
masyarakat terutama yang melakukan kesalahan yang melambangkan kesatuan tekad dan tindakan
atau pelanggaran adat. untuk menghadapi tantangan hidup. Selain itu,
Sallu ri ajoka, ammulu ri adahang,

25
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
warna hitam melambangkan kesederhanaan mengenakan pakaian pesta yang warnanya
hidup bagi masyarakat adat Kajang. Lain halnya beraneka ragam, sama halnya dengan pakaian pesta
yang dikemukakan oleh Salle (1999:296), masyarakat Bugis dan Makassar pada umumnya.
bahwa pakaian hitam menandakan kebersamaan, Pola hidup sederhana juga ditunjukkan pada
karena hitam adalah warna yang tidak mengenal bentuk rumah dan segala perabotnya. Rumahnya
tingkatan, yaitu anrek lekleng toa, anrek lekleng berbentuk panggung, tidak ada rumah permanen
lolo, lekleng situju-tuju, lekleng kabusuji (tidak karena pemali. Ukuran rumah relatif kecil, rata-rata
ada warna hitam tua, tidak ada warna hitam muda, berukuran 5 x 7 meter. Tiang rumah berjumlah 16
tidak ada warna hitam setengah, sekali hitam buah yang bentuknya seperti balok persegi empat
tetap hitam). Semua hitam adalah hitam, tanpa panjang. Penempatan seluruh tiang tersebut diatur
ada perbedaannya. Dengan demikian, memakai sedemikian rupa, membentuk formasi empat jejer
SDNDLDQKLWDPDGDODKSHQJJDPEDUDQVWUDWLNDVL ke samping dan empat jejer ke belakang. Lantai
sosial ekonomi yang sama, yaitu kamase-mase. dan dinding rumah rata-rata terbuat dari papan
Setiap orang mempunyai kedudukan yang sama dan bambu, sedangkan atap terbuat dari daun
di hadapan Turiek Akrakna. nipa. Perabot rumah tidak ada barang-barang
Mengenakan pakaian hitam yang hasil industri, seperti kulkas, televisi, radio dan
seragam merupakan tindakan preventif terhadap sebagainya. Demikian pula peralatan dapur, tidak
kemungkinan terjadinya persaingan atau perasaan ditemukan kompor minyak tanah apalagi kompor
berbeda antara sesama warga, begitu pula antara gas di dapur tersebut. Lampu penerangan hanya
pemimpin dan yang dipimpin. Pakaian sehari-hari menggunakan kanjoli (lampu dari kemiri yang
yang mereka kenakan, selain warna hitam juga ditumbuk bersama kapas) atau sulo gatta (obor
bentuk dan kualitasnya relatif sederhana. Kaum yang terbuat dari karet), tidak ada lampu stronking
laki-laki ada yang mengenakan sarung hitam dan atau lampu listrik. Semua barang-barang industri
passapu (penutup kepala) tanpa mengenakan termasuk listrik dianggap pemali, sehingga tidak
baju, ada pula yang mengenakan baju polos yang bisa dimiliki oleh warga masyarakat.
terbuat dari kain atau kaus yang berwarna hitam. Dalam perkembangan terakhir, komunitas
Kaum wanita ada yang mengenakan kebaya adat Kajang telah banyak menggunakan alat-
dan kaus yang dikombinasikan dengan rok atau alat dapur hasil industri, seperti baskom,
sarung hitam. Dalam perkembangan terakhir, ember, jerigen, piring, cangkir, panci, kuali dan
kaum muda, baik laki-laki maupun perempuan sebagainya. Penggunaan peralatan dapur seperti
telah banyak mengikuti tren mode, namun masih itu disebabkan karena peralatan dapur yang terbuat
dalam kategori yang sopan sesuai adat setempat. dari tanah liat, daun lontar dan sebagainya tidak
Mereka mengenakan kemeja atau kaus yang diproduksi lagi. Penggunaan senter untuk keluar
dikombinasikan celana jeans panjang. Warna rumah pada malam hari juga sudah digunakan
pakaian tidak mutlak hitam, tetapi ada yang oleh warga masyarakat, karena sulo gatta (obor
warna putih, abu-abu, biru tua dan coklat, jarang yang terbuat dari karet) yang selama ini digunakan
mengenakan warna merah dan kuning. Untuk dirasa kurang efektif lagi karena kurangnya bahan
acara-acara resmi, seperti pekawinan, akkattere, karet. Telepon seluler juga sudah dimiliki dan
naik rumah baru dan sebagainya, pakaian warna digunakan oleh warga masyarakat terutama yang
hitam juga mereka kenakan. Kaum laki-laki memiliki kerabat yang tinggal di luar kawasan
dewasa termasuk pemangku adat mengenakan adat. Selain digunakan untuk berkomunikasi
destar, baju dan sarung dilengkapi passapu, dengan kerabatnya itu, juga dijadikan sebagai
yang kesemuanya berwarna hitam. Kaum wanita tempat mengecas telepon, karena di luar kawasan
mengenakan, kebaya, baju bodo dan sarung yang terdapat aliran listrik. Kepemilikan telepon bagi
berwarna hitam serta sanggul yang diselipkan ke komunitas adat Kajang memang belum banyak,
dalam rambut di belakang kepala, mereka sedikit tetapi suatu pertanda bahwa peralatan tersebut
mengenakan perhiasan. Dalam upacara perkawinan tidak dilarang karena sangat membantu warga
dan akkattere, pengantin dan yang diakkattere untuk berkomunikasi yang jaraknya relatif jauh.

26
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

Penggunaan peralatan yang lain, seperti pakaian ada, pembeli ikan ada, tanah kebun dan
sepeda, motor dan mobil belum dizinkan untuk sawah ada, rumah cukup sederhana saja), maka
memasuki kawasan adat Kajang. Orang yang masyarakat sudah mensyukuri atas kehidupan
tinggal di dalam maupun di luar kawasan adat tersebut. Mereka yakin bahwa kehidupan yang
harus berjalan kaki untuk masuk dan keluar sederhana itu adalah takdir yang harus dijalani,
dari kawasan adat. Mereka dapat mengenakan nanti di hari kemudian akan diberikan kekayaan
sandal atau sepatu untuk menghindari duri atau oleh Turiek Akrakna.
benda-benda tajam lainnya yang dapat melukai
kaki. Warga komunitas adat Kajang yang ingin Nilai Kesabaran
bepergian jauh, mereka dapat menggunakan Kesabaran dalam masyarakat adat Kajang
sepeda atau motor yang ada di luar kawasan adat diartikan sebagai kemampuan mengendalikan
untuk memudahkan perjalanan hingga sampai diri, perasaan, emosi, dan keinginan yang
di tujuan. Dengan kata lain, tidak ada larangan berlebihan untuk menerima takdir dari Turiek
(pemali) bagi komunitas adat Kajang untuk Akrakna. Kesabaran tidak hanya dimiliki oleh
memanfaatkan teknologi modern asalkan di luar warga masyarakat tetapi lebih diutamakan kepada
kawasan adat. Anak-anak senang menonton acara pemimpin, seperti dalam pasang disebutkan
siaran televisi dan main game di rumah temannya sabbarapi na guru, artinya seorang guru harus
yang ada di luar kawasan. Ibu-ibu rumah tangga memiliki kesabaran. Ammatoa sebagai pemimpin
menjunjung padi mereka di tempat penggilingan adat, beliau juga bertugas sebagai guru untuk
beras yang ada di luar kawasan. menuntun, menasihati dan mengajarkan pasang
Pola hidup sederhana dalam masyarakat terhadap warganya. Dalam melaksanakan
adat Kajang, penerapannya lebih terwujud tugas sebagai guru, Ammatoa harus memiliki
dalam kehidupan keluarga Ammatoa sehari- kesabaran dan ketekunan, agar warganya dapat
hari. Hal itu disebabkan karena Ammatoa memahami dan mengamalkan isi pasang. Bentuk
harus mengutamakan kesejahteraan rakyatnya pengajaran Ammatoa dalam menyampaikan
dibanding pribadinya dan keluarganya. Salah satu pasang biasanya dilakukan saat ada acara yang
bukti kesederhaaan tersebut, adalah kehidupan melibatkan kehadiran semua atau beberapa
sehari-hari di rumah Ammatoa hanya tersedia orang, misalnya acara abborong, perkawinan,
nasi yang terbuat dari jagung, atau beras dicampur akkattere dan sebagainya. Cara penyampaian
jagung dan lauk-pauk berupa sayur tibuang pasang biasanya dalam bentuk nasihat dengan
(kacang putih) dengan sedikit kua dan rasanya memberikan contoh-contoh perbuatan yang baik
asin, tanpa lauk-pauk. Kalau ada lauknya, dan buruk, disertai dengan akibat yang dapat
hanya berupa ikan asin. Dibandingkan di rumah muncul dari perbuatan tersebut. Sifat kesabaran
masyarakat biasa, sehari-harinya terdapat nasi Ammatoa juga ditunjukkan pada saat mengambil
yang terbuat dari beras atau dicampur jagung. tindakan atau memutuskan sanksi pada orang
Sayurnya boleh bermacam-macam dan lauknya yang bersalah. Sifat kesabaran itu berarti tidak
selalu ada ikan, baik ikan asin atau ikan basah dan emosional, gegabah, dan tergopoh-gopoh, tetapi
kadang kala ada telur. dilakukan dengan tenang dan hati-hati. Keputusan
Pola hidup sederhana bagi masyarakat adat yang diambil dengan sifat yang sabar akan lebih
Kajang cukup memengaruhi bagi kelestarian berkualitas dan efektif.
lingkungan, karena kebutuhan hidup mereka Esensi sifat sabar dalam masyarakat adat
tidak akan pernah melebihi daya dukung alamnya Kajang juga diterapkan dalam kehidupan sehari-
(carrying capacity). Menurut Hijjang (2005:259), hari, yaitu sifat sabar menerima takdir dari
wujud konkret dari kehidupan sederhana secara Turiek Akrakna. Kesabaran menerima takdir,
batiniah disebutkan dalam pasang Anganrena membuat Ammatoa tidak pernah menggunakan
rie, care-carena rie, pammali jukuna rie, tana, kekuasaannya untuk mengambil hak rakyat
koko, galung rie, bolasituju-tuju (makanan ada, atau mengeksploitasi hutan untuk kepentingan

27
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
pribadi atau keluarganya. Demikian pula warga yaitu hutan karamaka, battassaya dan tattakang.
masyarakat tidak pernah bercita-cita untuk Hutan karamaka, sejak dulu hingga sekarang,
menjadi kaya, memiliki rumah dan kendaraan hutan tersebut tidak pernah dimanfaatkan untuk
mewah. Mereka sabar, taat, dan patuh terhadap mengambil kayu termasuk apa saja yang ada di
Ammatoa dan pasang. Sabar menerima kenyataan dalamnya. Bahkan pohon yang tumbang dan
tidak ada penerapan modernisasi dalam kegiatan dahan-dahan yang jatuh tidak boleh diambil,
ekonomi, tidak ada listrik, tidak ada ledeng, begitu pula buah-buahan yang ada di dalamnya
tidak ada sarana jalan dan kendaraan di dalam kasipalli (tabu) untuk diambil. Pemanfaatan hutan
pemukiman mereka. Di balik kesabaran itu justru karamaka bagi komunitas adat Kajang hanya
melahirkan ketenangan, ketentraman dan lebih sebagai tempat pelaksanaan upacara adat. Hal ini
mendekatkan diri kepada Turiek Akrakna. terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat
yang menganggap hutan tersebut memiliki
Nilai Kepedulian terhadap Lingkungan Alam nilai kesakralan dan kesucian, sebagai tempat
Ammatoa sebagai pangullei (pemegang turunnya Ammatoa pertama. Menurut Bahri
amanah) mampu mempersatukan semua unsur (2012:65) pemanfaatan hutan karamaka seperti
di dalam masyarakat pendukungnya. Salah satu itu dikategorikan sebagai fungsi ritual.
hal yang perlu dicatat dalam pola kepemimpinan Berbeda halnya dengan hutan battassaya,
Ammatoa adalah kemampuannya dalam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
mengaplikasikan ideologi kepemimpinannya yang Sebelum hutan tersebut ditetapkan sebagai hutan
diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakannya, lindung, pemanfaatan hutan tersebut dapat ditebang
yaitu panggaukan lambusu (perbuatan yang jujur). dan diambil kayunya untuk kebutuhan bahan
Ia selalu menampakkan pola hidup sederhana dan bangunan rumah. Pengambilan kayu di dalam
sadar lingkungan (environmental awareness) hutan tersebut tidak dilakukan secara bebas dan
dengan tidak semena-mena menebang kayu di serampangan, tetapi terdapat berbagai persyaratan
hutan, serta mengambil hasil hutan lainnya. Tugas yang harus dilakukan. Syarat-syarat tersebut antara
mulia seorang Ammatowa dilukiskan dalam lain: (1) harus mendapat izin dari Ammatoa, (2)
pasang, bahwa tugusana Ammatowa, appa jumlah pohon yang akan ditebang ditentukan oleh
passala iyamintu tabbang kaju, tatta uheya, rao Ammatoa, (3) sebelum menebang sebatang pohon
doanga, tunu baniyya (ada empat tugas utama sesuai dengan izin yang diberikan Ammatoa,
Ammatowa yaitu mencegah penebangan kayu, terlebih dahulu harus menanam dua pohon yang
pemotongan rotan, penangkapan udang, dan sejenis sampai tumbuh dengan baik, (4) Penanaman
mengambil lebah madu) (Basrah, 2009:200). pohon tidak perlu dilakukan di tempat penebangan
Tugas Ammatoa untuk menjaga hutan, asalkan masih dalam kawasan hutan, di mana
lebih khusus lagi mengenai borong karamaka pohon tersebut akan ditebang. Tempat menanam
(hutan keramat), karena di hutan itulah sebagai pohon biasa pula ditentukan oleh Ammatoa
tempat melaksanakan upacara appadongkok (Faisal, 2006:50). Ketentuan yang demikian cocok
atau apparuntuk paknganro, tempat melantik untuk diistilahkan sebagai sistem tanam-tebang.
Ammatoa, pammantanganna sikamma tau 6HEHQDUQ\DVHFDUDORVRVVLVWHPWDQDPWHEDQJ
rioloanta (tempat kediaman segenap leluhur) bertujuan menjaga keseimbangan antara yang
dan akak kajuna appakalompo timbusu, raung ditebang dan yang ditanam, dan dari segi hukum
kajuna angngontak bosi (akar kayunya yang adat, ialah menjaga keseimbangan magis.
membesarkan mata air, daunnya yang mengontak Warga masyarakat yang akan membangun
atau memanggil hujan). rumah, bahan bakunya berupa kayu, bambu,
Pemanfaatan hutan dalam komunitas adat rotan dan atap, diusahakan dari hutan tattakang
Kajang diatur oleh Ammatoa berdasarkan pasang yang dikelola oleh masyarakat secara perorangan
(Ahmad, 1991:71). Ammatoa telah menetapkan di dalam kebunnya sendiri. Namun demikian,
pemanfaatan hutan berdasarkan jenis hutan, bilamana bahan bangunan tersebut tidak
mencukupi, maka dapat diusahakan dengan cara

28
Nilai-Nilai Kepemimpinan ... Faisal

meminta kepada Ammatoa, yang ada dalam hutan itu, Ammatoa senantiasa terbuka, merasa utuh
battassaya. Permintaan tersebut dapat dipenuhi bersatu, sejiwa dan perasaan dengan rakyatnya,
sepanjang tersedia di dalam hutan battassaya. bahkan senasib dan sepenanggungan dalam satu
Bilamana bahan bangunan yang diperlukan perjuangan yang sama. Oleh karena itu, Ammatoa
tidak tersedia di dalam hutan battassaya, maka bersama pemangku adat lainnya bersedia
yang memerlukannya dapat meminta pada warga memberikan pelayanan dan pengorbanan kepada
sedusun (salah satu bentuk tolong menolong) atau rakyatnya.
harus mencarinya di luar kawasan adat, bahkan Penyelesaian masalah, seperti pencurian,
dapat dibeli dari pedagang yang mendatangkan pelecehan seksual, perkelahian dan sebagainya
bahan bangunan (kayu) dari Sulawesi Tenggara. senantiasa diselasikan melalui abborong
Pemanfaatan hutan battassaya seperti (musyawarah). Keputusan dalam abborong
tersebut di atas dilakukan secara efektif dan adalah suatu keputusan yang tepat, tegas dan
HVLHQ7LGDNVHPXDSHPRKRQXQWXNPHQJDPELO benar tanpa membeda-bedakan antara satu dengan
kayu di hutan tersebut dikabulkan oleh Ammatoa. yang lainnya, termasuk keluarga atau kerabat
Seorang warga yang akan membangun rumah, dari pemimpin itu sendiri. Ammatoa sebagai
tidak secara langsung bermohon meminta pemimpin adat sekaligus sebagai pemimpin dalam
kayu kepada Ammatoa, tetapi terlebih dahulu setiap acara abborong harus memiliki sikap tegas
mengusahakannya terlebih dahulu di tempat dan teguh untuk menyelesaikan perkara. Nilai
lain, apakah bahan kayu atau bambu itu diambil keteguhan dan kejujuran harus dikedepankan
dari kebun sendiri, diminta dari kerabat dan agar keputusannya dapat diterima dan diyakinkan
tetangga atau dibeli dari penjual kayu yang ada kebenarannya oleh warga komunitas setempat.
di luar kawasan adat. Setelah hal itu diusahakan Berdasarkan hal tersebut, nilai-nilai
secara maksimal, ternyata bahan bangunan yang kepemimpinan dalam komunitas adat Kajang perlu
dibutuhkan masih kurang dengan jumlah relatif mendapat perhatian untuk kegiatan pembinaan,
sedikit, maka hal itu baru diusulkan kepada pengembangan dan pelestarian dalam rangka
Ammatoa untuk memperoleh izin menebang kayu pembentukan karakter khususnya bagi para
di hutan battassaya. pemimpin. Selain itu, nilai kepemimpinan tersebut
dapat dijadikan acuan untuk hidup berbangsa dan
PENUTUP bernegara, serta menjadi acuan bagi birokrasi dan
Dalam masyarakat kecil yang bersahaja, pejabat pemerintah.
seperti halnya komunitas adat Kajang terdapat
nilai-nilai kepemimpinan yang merupakan pola DAFTAR PUSTAKA
sikap, perilaku dan tindakan bagi pemimpim- Abidin, Andi Zainal. 1999. Capita Selekta
pemimpinnya. Nilai-nilai kepemimpinan tersebut Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujung
sangat aktual dan fleksibel sesuai dengan Pandang: Hasanuddin University Press.
perkembangan zaman. Nilai-nilai tersebut adalah Ahmad, Abdul Kadir. 1991. Komunitas
kejujuran, keteguhan, persatuan, kesederhanaan, Ammatoa di Kajang Bulukumba: Studi
kesabaran dan kepedulian terhadap lingkungan tentang Peranan Kepercayaan terhadap
alam. Sebagian nilai-nilai tersebut juga diamalkan Pelestarian Lingkungan Hidup. (Tesis)
dalam kehidupan sehari-hari oleh warga komunitas Ujung Pandang: Program Pascasarjana
adat tersebut. Atas dasar nilai tersebut, Ammatoa Unhas.
sebagai pemimpin adat termasuk pemangku Bahri, Syamsul. 2012. Komunitas Adat Ammatoa
adat lainnya senantiasa mengamalkan nilai-nilai dalam Mempertahankan Sistem Budaya.
tersebut dan menghindari sikap dan perilaku dalam Jurnal Walasuji. Vol. 3. No. 1,
yang menyimpang terhadap nilai-nilai dan BPSNT Makassar.
norma-norma yang berlaku dalam komunitas Basrah. 2009. Kearifan Ekologis Tu Kajang dalam
tersebut. Selain pengamalan dalam bentuk seperti Pengelolaan Hutan Lestari di Wilayah Adat

29
WALASUJI Volume 6, No. 1, Juni 2015: 1730
Kajang Kabupaten Bulukumba. (Disertasi). Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu
Makassar: Program Pascasarjana Unhas. Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Faisal. 2006. Kearifan Lokal dalam Pelestarian Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok
Hutan bagi Komunitas Adat Kajang di Antropologi Sosial. Dian Rakyat: Jakarta.
Sulawesi Selatan. dalam Jurnal Walasuji. Mattulada. 1985. Latoa: Satu Lukisan Analitis
Vol. 1. No. 3, BPSNT Makassar. Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis.
Gaffar, Syamsul Bakhri. 2012. Pengaruh Perilaku Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kepemimpinan Tradisional Orang Bugis Rahim, Rahman. 2011. Nilai-Nilai Utama
dan Motif Berprestasi terhadap Kinerja Kebudayaan Bugis. Yogyakarta: Ombak.
Pengelola Koperasi di Sulawesi Selatan. Salle, Kaimuddin. 1999. Kebijakan Lingkungan
dalam -XUQDO$ONU Vol. 16. No. 2. Menurut Pasang, Sebuah Kajian Hukum
+DG$EGXOAmmatoa dalam Kelembagaan Lingkungan Adat pada Masyarakat Ammatoa
Komunitas Adat Kajang. Makassar: De La Kecamatan Kajang Kabupaten Daerah Tk.II
Macca. Bulukumba. (Disertasi). Ujung Pandang:
Hamid, Abu dkk. Sirik: Filosofi Suku Bugis, Program Pascasarjana Unhas.
Makassar, Toraja dan Mandar. Makassar: Sikki, Muhammad dkk. 1998. Nilai dan Manfaat
Arus Timur. Pappaseng dalam Sastra Bugis. Jakarta:
Hijjang, Pawennari. 2005. Pasang dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Kepemimpinan Ammatoa: Memahami Bahasa.
Kembali Sistem Kepemimpinan Tradisional Usop, M.KMA. 1985. Pasang ri Kajang, Kajian
Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sistem Nilai Masyarakat Ammatoa.
Sumberdaya Hutan di Kajang Sulawesi Dalam Mukhlis dan Kathryn Robinson
Selatan. dalam Jurnal Antropologi (eds), Agama dan Realitas Sosial. Ujung
Indonesia. Vol. 29. No.3. Pandang: Lembaga Penerbit Unhas.
Ibrahim, Anwar. 2003. Sulesana: Kumpulan Esai Wibowo, Agus Budi. 2014. Kepemimpinan
tentang Demokrasi dan Kearifan Lokal. Tradisional pada Suku Aceh di Kabupaten
Makassar: Lephas Unhas. Aceh Besar Provinsi Aceh. Hasil penelitian
Kartono, Kartini. 2014. Pemimpin dan (belum terbit). Jakarta: Direktorat Sejarah
Kepemimpinan.-DNDUWD375DMD*UDQGR dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal
Persada. Kebudayaan, Kemendikbud.

30