You are on page 1of 15

RESTI FATMALA KURAIS_D61112006

GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA


KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

GEOLOGI DAERAH MANTADULU KECAMATAN ANGKONA


KABUPATEN LUWU TIMUR PROVINSI SULAWESI SELATAN

Resti Fatmala Kurais


Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin
Jl. Poros Gowa-Malino
email : restiiifatmala@yahoo.com

ABSTRACT
Administratively, the research area was located in Mantadulu at Angkona district in
the Luwu Timur regency, South Celebes at coordinates of 120 53' 00" - 120 57' 00" East
Longitude and 02 24' 00" - 02 28' 00" South Latitude. The research was carried out to conduct
detailed geological mapping at 1:25.000 map scale againts aspect of geomorfology,
stratigraphy, structural geology, historycal geology and natural resources with the aim was
to create a geological mapping report based on data that had been collected in the field and
interpretation of supporting theories from several geological literatures.The geomorphology
of the research area devided into two landscapes units, which were fluvial plain landscape
unit and denudational hills. The river types that developed are periodic and permanent river,
while geneticaly concist of insequen and obsequen river with dendritic and parallel drainage
patterns. Stadia area of research area is adult. Based on unofficial lithostratigraphy,
stratigraphic study area divided into five (5) rock units from the younger to the older which
were alluvial units, conglomerats unit, limestone unit, peridotit unit and serpentinit unit.
Geological structure of the study area consists of systematic and nonsistematyc joints with
direction of maximum force was N335 oE and Mantadulu sinistral strike slip fault which
relatively elongate from north west southwest. The potential of natural resources in the area
of researches is classifying in rock category which was laterit.
Key words : Mantadulu, Angkona, Malili, Luwu Timur, Ultramafic.

SARI
Secara administratif daerah penelitian termasuk dalam Daerah Mantadulu Kecamatan
Angkona Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan pada koordinat 120 53' 00" - 120
57' 00" Bujur Timur dan 02 24' 00" - 02 28' 00" Lintang Selatan. Maksud dari penelitian ini
untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara detail pada peta skala 1 : 25.000
terhadap aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sejarah geologi, dan aspek bahan
galian dengan tujuan untuk membuat laporan pemetaan geologi yang dirancang berdasarkan
akumulasi seluruh data yang dikumpulkan di lapangan dan intepretasi berdasarkan teori
pendukung yang disadur dari berbagai literatur geologi. Geomorfologi daerah penelitian terdiri
atas 2 satuan bentangalam yaitu satuan pedataran fluvial dan satuan perbukitan denudasional.
Jenis sungai yang berkembang adalah sungai periodik dan permanen, sedangkan secara
genetik terdiri dari sungai insekuen dan obsekuen dengan pola aliran dendritik. Stadia daerah
penelitian adalah stadia dewasa.Berdasarkan litostratigrafi tidak resmi, stratigrafi daerah
penelitian dibagi menjadi lima (5) satuan batuan dari urutan muda hingga tua yaitu satuan
aluvial, satuan konglomerat, satuan batugamping, satuan peridotit dan satuan serpentinit.
Struktur geologi daerah penelitian terdiri dari kekar, jenis kekar berdasarkan bentuknya adalah
kekar sistematik dan non sistematik dengan arah gaya maksimum N335 oE, sesar geser
Mantadulu yang bersifat sinistral (mengiri) bergerak dari arah barat laut - tenggara. Bahan
galian pada daerah penelitian tergolong dalam golongan bahan galian batuan berupa laterit.
Kata Kunci : Mantadulu, Angkona, Malili, Luwu Timur, Ultrabasa.

1
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

I. PENDAHULUAN 25.000 yang merupakan perbesaran dari


Peta Rupa Bumi Indonesia, sekala 1 :
Geologi sebagai ilmu bumi 50.000 Lembar Mangkutana nomor 2113-
sangatlah berpengaruh dalam hal 52 terbitan Badan Koordinasi Survey dan
perkembangan suatu negara maupun Pemetaan Nasional (bakosurtanal) edisi 1
wilayah. Pemahaman mengenai geologi tahun 1991, Cibinong, Bogor (Gambar 1).
sangat banyak membantu dalam hal Tujuan dari diadakannya penelitian
pembangunan suatu daerah, pencarian geologi pada daerah Mantadulu
sumber daya alam, pengolahan sumber Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu
daya, hingga peningkatan infrastruktur Timur Provinsi Sulawesi Selatan ialah
suatu wilayah. Adapun aspek geologi yang untuk memberikan informasi aspek
umumnya diamati pada pemetaan geologi geologi berupa geomorfologi, stratigrafi,
atas permukaan ialah geomorfologi, struktur, sejarah geologi, dan potensi
stratigrafi, dan struktur. Pemetaan geologi bahan galian yang terdapat pada daerah
yang akan dilakukan termasuk pemetaan penelitian.
yang cukup detail dengan sekala 1:25.000 Secara administratif daerah
yang dilakukan pada daerah Mantadulu penelitian termasuk dalam wilayah
Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Mantadulu Kecamatan Angkona
timur Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu Timur Provinsi
Adapun data dan hasil dari Sulawesi Selatan dan secara geografis
penelitian ini diharapkan dapat membantu
terletak pada koordinat 120o 5300 BT
semua elemen yang dapat terlibat, baik itu
pemerintah daerah, universitas, 1205700 BT dan 022400 LS
mahasiswa, maupun warga sekitar daerah 022800 LS yang mempunyai luas
penelitian sebagai data dalam menunjang 54.68 km dan dapat dicapai dengan
pembangunan daerah. menggunakan transportasi darat dari
Adapun maksud dari diadakannya Makassar menuju Kabupaten Luwu
penelitian geologi pada daerah Mantadulu Timur menggunakan kendaraan beroda
Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu dua atau beroda empat yang ditempuh
Timur Provinsi Sulawesi Selatan yaitu sekitar kurang lebih 12 jam dengan
untuk melakukan pemetaan geologi atas jarak kurang lebih 400 km.
permukaan dengan menggunakan peta
dasar (peta topografi) dengan skala 1:
II. GEOMORFOLOGI
Penamaan satuan bentangalam
daerah penelitian didasarkan pada
pendekatan morfogenesa (Thornbury
1969) morfometri dan morfografi dengan
memperhatikan bentuk topografi di
lapangan. Berdasarkan pendekatan
tersebut maka geomorfologi daerah
Mantadulu Kecamatan Angkona,
Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi
Selatan dibagi menjadi dua satuan
bentangalam, yaitu :
1. Satuan Bentangalam Pedataran
Fluvial
2. Satuan Bentangalam Perbukitan
Denudasional
Gambar 1. Peta Tunjuk Daerah Penelitian

2
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

Proses eksogen ini membentuk dataran


Satuan Bentangalam Pedataran aluvial yang cukup luas dibagian Barat
Fluvial Daya daerah penelitian
Dasar penamaan satuan Satuan bentangalam pedataran
bentangalam ini menggunakan pendekatan menempati 15.25 km2 (27,89%) dari luas
morfografi berupa bentuk topografi daerah keseluruhan daerah penelitian. Dengan
penelitian melalui pengamatan langsung di daerah penyebaran sepanjang bagian Barat
lapangan serta pengamatan peta topografi; Daya dan Selatan daerah penelitian.
pendekatan morfogenesa dengan Berdasarkan pendekatan morfografi yaitu
melakukan analisis proses-proses melalui pengamatan secara langsung di
geomorfologi yang dominan bekerja pada lapangan daerah ini memiliki kenampakan
daerah penelitian. Area ini digolongkan topografi yang datar sekitar 0 2o dan beda
dalam bentangalam pedataran karena tinggi 3m, maka tipe morfologinya
bentuk lahannya yang relatif datar. Satuan pedataran. Analisis morfogenesa daerah
ini umumnya di susun oleh endapan aluvial penelitian merupakan analisis terhadap
dari hasil material yang di angkut oleh karakteristik bentukan alam hasil proses-
sungai di sekitarnya Secara genetik, proses proses yang merubah bentuk muka bumi
utama yang membentuk satuan tersebut. Tingkat pelapukan relatif sedang
bentangalam ini adalah proses eksogen dan tingkat erosi yang terjadi relatif sedang
antara lain proses pelapukan, sampai tinggi, terjadi di sepanjang anak
pengendapan, serta artificial manusia. sungai dan sungai utama Salo Angkona
dengan erosi lateral lebih dominan dari
erosi vertikal sehingga dimensi dari
penampang sungai semakin besar dan
bentuk profil penampang sungai
menyerupai huruf U. Satuan
bentangalam ini umumnya dimanfaatkan
oleh masyarakat setempat untuk areal
pertanian, perkebunan, irigasi serta daerah
pemukiman. Dengan vegetasi yang
heterogen, terdiri atas pepohonan serta
semak belukar.
Foto 2.1 Kenampakan satuan bentangalam pedataran
difoto ke arah N 152o E Satuan Bentangalam Perbukitan
Denudasional
Proses pelapukan yang bekerja Berdasarkan pendekatan
pada satuan bentangalam ini morfografi yaitu melalui pengamatan
menyebabkan bentuk morfologi yang secara langsung di lapangan daerah ini
relatif datar dimana proses pelapukan yang memang memiliki kenampakan topografi
bekerja berupa pelapukan fisika. Proses perbukitan dengan kemiringan sekitar 15
pelapukan tersebut menghasilkan soil yang 50o . Proses-proses geomorfologi yang
cukup tebal yaitu antara 0,5 1 meter. dominan bekerja pada daerah penelitian
Proses pengendapan berupa pengendapan yaitu kondisi pelapukan yang umumnya
material yang tidak terkonsolidasi di dijumpai yaitu pelapukan dengan derajat
sepanjang aliran sungai Angkona berupa lapuk tinggi dan dibeberapa tempat
endapan material lempung, warna soil abu- dijumpai pelapukan dengan derajat lapuk
abu sampai coklat kemerahan dan jenis soil sedang (Kaharuddin, 1988a), erosi yang
secara umum berupa transported soil yang bekerja didominasi oleh erosi lateral serta
merupakan hasil pelapukan dari litologi pengendapan. Litologi penyusun pada
batuan beku yaitu peridotit dan serpentinit satuan perbukitan denudasional ini terdiri

3
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

dari dominasi konglomerat, serpentinit,


peridotit, dan batugamping.

Foto 2.2 Kenampakan satuan bentangalam perbukitan


denudasional, difoto dari stasiun 50 ke arah Foto 2.5 Kenampakan pelapukan biologi
N 142o E. berupa akar tanaman yang
tumbuh pada celah batuan
Proses geomorfologi yang dijumpai pada stasiun 57 difoto
dijumpai di daerah penelitian arah N 10o E
pengelupasan kulit bawang pada litologi
konglomerat dan Serpentine (Foto 2.3) Jenis erosi yang berkembang pada
yang merupakan akibat dari proses daerah penelitian berupa erosi dengan
pengembangan akibat dari pembongkaran lebar saluran mencapai 1 m dan telah
(expansion resulting from unloading) serta mengalami pelebaran kesamping yang
adanya akar tanaman yang tumbuh pada dapat dikelompokkan dalam jenis erosi
celah batuan yang menyebabkan akar saluran (gully erosion) (Noor, 2010).
tanaman memberikan tekanan ke segala Bentuk gerakan tanah yang terjadi pada
arah pada batuan (Foto 2.5) menunjukkan daerah penelitian berupa debris slide .
akibat dari proses aktivitas organik. Proses Debris slide merupakan gerakan tanah
geomorfologi di atas termasuk ke dalam yang melalui suatu bidang gelincir pada
pelapukan fisika. Selain itu dijumpai pula suatu lereng. Proses sedimentasi yang ada
perubahan warna pada litologi yang pada satuan bentangalam ini yaitu adanya
berubah menjadi kehitaman yang endapan sungai berupa point bar dengan
disebabkan oleh proses oksidasi yang ukuran material berupa pasir kasar - pasir
menunjukkan pelapukan kimia (Foto 2.4). halus dan channel bar dengan ukuran
Sehingga proses pelapukan pada daerah material berupa pasir halus - bongkah.
penelitian yaitu pelapukan fisika, biologi Adapun pemanfaatan satuan bentangalam
dan pelapukan kimia. ini oleh warga setempat digunakan sebagai
areal perkebunan kelapa sawit dan merica.

Sungai
Sungai yang terdapat pada
daerah penelitian termasuk dalam
sungai eksternal dan berdasarkan
kandungan airnya pada tubuh sungai
Foto 2.3 Kenampakan spheroidal weathering / pengelupasan
kulit bawang pada litologi Konglomerat (A)
termasuk dalam sungai permanen dan
difoto arah N121o E dan litologi Serpentinit (B) periodik. Pola aliran sungai daerah
difoto arah N 172o E pada stasiun 44 dan 45 penelitian termasuk pola aliran
dendritik dan pola aliran parallel. Tipe
genetik sungai yang terdapat pada
daerah penelitian terdiri atas tipe
genetic sungai insekuen dan obsekuen.
Stadia sungai daerah penelitian adalah
Foto 2.4 Kenampakan pelapukan kimia berupa proses stadia dewasa.
oksidasi pada litologi Konglomerat (A)
dijumpai pada stasiun 44 difoto arah N 30o E
dan litologi Serpentinit (B) difoto arah N 174o
E

4
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

Stadia Daerah penamaan satuan batuan ini adalah satuan


Berdasarkan analisa terhadap serpentinit.
dominasi dari persentase penyebaran
karakteristik atau ciri-ciri bentukan alam
yang dijumpai, maka stadia daerah
penelitian mengarah kepada stadia dewasa

III. STRATIGRAFI
Pengelompokan dan penamaan
satuan batuan pada daerah penelitian
didasarkan atas litostratigrafi tidak resmi
yang bersendikan pada ciri-ciri litologi, Foto 3.1 Singkapan Serpentinit pada
dominasi batuan, keseragaman gejala stasiun 55 di foto kearah N50o E
litologi, hubungan stratigrafi antara batuan Secara megaskopis, pada daerah
yang satu dengan batuan yang lain dan penelitian batuan serpentinit dijumpai
dapat dipetakan dalam skala 1:25.000 dalam kondisi segar memperlihatkan ciri
(Sandi Stratigrafi Indonesia, fisik berwarna hijau keabuan dan dalam
1996).Berdasarkan interpretasi, kondisi lapuk berwarna kuning
pengamatan dan laboratorium maka urut- kecoklatan, tekstur lepidoblastik, bentuk
urutan stratigrafi daerah penelitian, yaitu mineral fibrous (serabut) struktur
diuraikan sebagai berikut (dari muda ke nonfoliasi. Secara megaskopis mineral-
tua) yaitu Satuan Alluvial, Satuan mineral yang dapat diamati adalah
Konglomerat, Satuan Batugamping, serpentin. Berdasarkan sifat fisik dan
Satuan Peridotit dan Satuan Serpentinit. komposisi mineralnya maka nama
Pembahasan dan uraian dari urutan satuan batuannya adalah Serpentinit (Travis
stratigrafi daerah penelitian dari tua ke 1955) (Foto 3.1). Kenampakan
muda adalah sebagai berikut : mikroskopis dari serpentinit dengan nomor
sayatan 14/55/RFK/SRP secara umum
Satuan Serpentinit memiliki warna interferensi abu-abu
Satuan ini menempati sekitar kehitaman, warna absorbsi kuning
38,82% dari keseluruhan luas daerah kecoklatan, bentuk mineral anhedral
penelitian atau sekitar 21,23 Km2. subhedral, dengan ukuran mineral < 0,01
Penyebaran satuan serpentinit ini mm 1 mm. Komposisi mineral terdiri
menempati perbukitan bagian Barat laut dari mineral olivin ( 25%),
hingga Timur daerah penelitian dan serpentin(>70%) dan mineral opak (5%).
sekitarnya. Berdasarkan selisih antara (Selengkapnya, lihat lampiran petrografi).
kontur terendah dan kontur tertinggi pada Berdasarkan sifat optik dan komposisi
satuan tersebut maka didapatkan ketebalan mineralnya maka nama batuannya adalah
yang diperkirakan adalah sekitar 375 m. Serpentinit (Travis, 1955) (Foto 3.2)
Pengamatan secara megaskopis ditentukan
secara langsung di lapangan terhadap sifat
fisik dan komposisi mineral yang bisa
diamati oleh mata, dengan menggunakan
klasifikasi Travis (1955) dalam
Kaharuddin (1988a) sebagai dasar
penamaan. Secara mikroskopis
penamaannya menggunakan klasifikasi Foto 3.2 Kenampakan mikroskopis serpentinit pada
stasiun 55 dengan nomor sayatan
batuan metamorf menurut Travis (1955). 14/55/RFK/SRP. Komposisi mineral terdiri
Berdasarkan data lapangan, satuan ini dari mineral olivin (5A), serpentin (3F) dan
mineral opak (1F).
disusun oleh litologi serpentinit sehingga

5
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

langsung di lapangan terhadap sifat


fisik dan komposisi mineral yang bisa
diamati oleh mata, dengan
menggunakan klasifikasi Fenton
(1940) dalam Kaharuddin (1988a)
sebagai dasar penamaan. Secara
Foto 3.3 Kenampakan mikroskopis serpentinit pada
mikroskopis dengan menggunakan
stasiun 19 dengan nomor sayatan mikroskop polarisasi untuk
08/19/RFK/SRP. Komposisi mineral terdiri
dari mineral serpentin (4B), piroksin (1D) dan
pengamatan sifat optik mineral serta
mineral opak (4H). pemerian komposisi mineral secara
spesifik yang kemudian penamaannya
Berdasarkan kesamaan ciri fisik menggunakan klasifikasi batuan beku
dan posisi stratigrafinya serta letak menurut streckeisen (1974).
geografis maka satuan serpentinit pada Kenampakan mikroskopis dari
daerah penelitian dapat disebandingkan peridotit dengan nomor sayatan
dengan anggota Batuan Ultramafik atau 07/07/RFK/UB secara umum memiliki
Mtosu (Mezosoikum tersier ofiolit sulawesi warna interferensi abu-abu kehitaman,
ultramafic) yang berumur Kapur Bawah warna absorbsi kuning kecoklatan, bentuk
dan terbentuk pada kerak oseanik. mineral anhedral subhedral, dengan
Hubungan stratigrafi satuan ini dengan ukuran mineral < 0,02 mm 0,5 mm.
satuan di atasnya yaitu satuan peridotit Komposisi mineral terdiri dari mineral
adalah kontak metamorfisme. Hal ini piroksin (38%), olivin (65%) dan mineral
ditentukan berdasarkan perubahan opak (2%). Berdasarkan sifat optik dan
komposisi mineral serpentin semakin komposisi mineralnya maka nama
banyak dan semakin mendominasi batuan, batuannya adalah Peridotit (Streckeisen,
dan pada satuan serpentinit masih 1974) (Foto 3.5)
memperlihatkan mineral sisa berupa
mineral olivin dan piroksin. Hal ini
menandakan bahwa serpentin berasal dari
batuan peridotit yang mengalami proses
metamorfisme sehingga terserpentinkan,
sedangkan dengan satuan konglomerat
adalah kontak ketidakselarasan.

Satuan Peridotit
Satuan ini menempati sekitar 4.35
% dari keseluruhan luas daerah penelitian Foto 3.4 Singkapan Peridotit pada stasiun 7 di
atau sekitar 2.38 Km2. Penyebaran satuan foto kearah N 24o E
peridotit ini menempati perbukitan bagian
tenggara daerah penelitian dan sekitarnya.
Berdasarkan selisih antara kontur terendah
dan kontur tertinggi pada satuan tersebut
maka didapatkan ketebalan yang
diperkirakan adalah sekitar 225 m.
Penamaan batuan dari penyusun satuan
Foto 3.5 Kenampakan mikroskopis peridotit pada
batuan ini terdiri atas dua cara yaitu stasiun 7 dengan nomor sayatan
pengamatan batuan secara megaskopis 07/07/RFK/UB. Komposisi mineral terdiri
dari mineral Olivin (1F), klinopiroksin
dan secara mikroskopis. Pengamatan (1A) dan mineral opak (6H).
secara megaskopis ditentukan secara

6
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

klasifikasi batuan karbonat menurut


Dunham (1962).
Secara megaskopis, pada daerah
penelitian batuan batugamping dijumpai
dalam kondisi segar memperlihatkan ciri
fisik berwarna putih keabuan dan dalam
kondisi lapuk berwarna abu-abu
Foto 3.6 Kenampakan mikroskopis peridotit pada kehitaman, tekstur nonklastik struktur
stasiun 1 dengan nomor sayatan
06/01/RFK/UB. Komposisi mineral tidak berlapis yang tersusun atas mineral
terdiri dari mineral Olivin (1D), piroksin kalsit yang bersifat karbonatan.
(2I), serpentin (1F) dan mineral opak Berdasarkan sifat fisik dan komposisi
(1E).
mineralnya maka nama batuannya adalah
Berdasarkan kesamaan ciri fisik batugamping kristalin (Dunham, 1962).
dan posisi stratigrafinya serta letak (Foto 3.15).
geografis maka satuan peridotit pada Kenampakan mikroskopis dari
daerah penelitian dapat disebandingkan batugamping dengan nomor sayatan
dengan anggota Batuan Ultramafik atau 04/59/RFK/BTG secara umum memiliki
Mtosu (Mezosoikum tersier ofiolit sulawesi warna interferensi abu-abu kecoklatan,
ultramafic) yang berumur Kapur Bawah warna absorbsi transparent/colourless,
dan terbentuk pada kerak oseanik. bentuk mineral anhedral subhedral,
Hubungan stratigrafi satuan ini dengan dengan ukuran mineral < 0,01 mm 0,05
satuan di atasnya yaitu satuan batugamping mm. Komposisi mineral terdiri dari
adalah kontak tektonik. Hal ini didasarkan mineral kalsit ( 99%) dan mineral opak (
karena adanya batuan sedimen diatas 1%). Berdasakan sifat optik dan komposisi
batuan beku ultrabasa akibat adanya proses mineralnya maka nama batuannya adalah
tektonik. Crystallin (Dunham, 1962). (Foto 3.16)

Satuan Batugamping
Satuan ini menempati sekitar
8.39 % dari keseluruhan luas daerah
penelitian atau sekitar 4.59 Km2.
Penyebaran satuan batugamping ini
menempati perbukitan bagianTimur
Laut daerah penelitian.
Berdasarkan selisih antara kontur
terendah dan kontur tertinggi pada satuan
tersebut maka didapatkan ketebalan yang
Foto 3.1 Singkapan Batugamping Kristalin pada
diperkirakan adalah sekitar 400 m.
stasiun 59 di foto kearah N 9o E
Penamaan batuan dari penyusun satuan
batuan ini terdiri atas dua cara yaitu
pengamatan batuan secara megaskopis dan
secara mikroskopis. Pengamatan secara
megaskopis ditentukan secara langsung di
lapangan terhadap sifat fisik dan komposisi
mineral yang bisa diamati oleh mata dan
secara mikroskopis dengan menggunakan Foto 3.2 Kenampakan mikroskopis batugamping
mikroskop polarisasi untuk pengamatan kristalin pada stasiun 59 dengan nomor
sifat optik mineral serta pemerian sayatan 04/59/RFK/BTG. Komposisi
mineral terdiri dari mineral kalsit dan
komposisi mineral secara spesifik yang mineral opak.
kemudian penamaannya menggunakan

7
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

(1976) dalam Boggs (1987),sebagai dasar


penamaan. Secara mikroskopis dengan
menggunakan mikroskop polarisasi untuk
pengamatan sifat optik mineral serta
pemerian komposisi mineral secara
spesifik yang kemudian penamaannya
menggunakan klasifikasi batuan sedimen
Foto 3.3 Kenampakan mikroskopis batugamping kristalin
menurut Pettijohn (1976) dalam Boggs
pada stasiun 48 dengan nomor sayatan (1987). Berdasarkan data lapangan, satuan
01/48/RFK/BTG. Komposisi mineral ini disusun oleh litologi Konglomerat,
terdiri dari mineral kalsit dan mineral opak.
Konglomerat berselingan batupasir halus
Berdasarkan kesamaan ciri fisik dan breksi sehingga penamaan satuan
dan posisi stratigrafinya serta letak batuan ini adalah satuan Konglomerat.
geografis maka satuan batugamping pada Secara megaskopis, pada daerah
daerah penelitian dapat disebandingkan penelitian batuan konglomerat dijumpai
dengan anggota Batuan Sedimen Formasi dalam kondisi segar memperlihatkan ciri
Matano atau Kml (Kapur matano fisik berwarna abu abu dan dalam kondisi
limestone), yang berumur Kapur Atas dan lapuk berwarna coklat kemerahan - hitam,
terbentuk pada laut dalam. tekstur klastik struktur nonfoliasi bentuk
Hubungan stratigrafi satuan ini butir subrounded rounded, ukuran butir
dengan satuan di atasnya yaitu satuan pasir halus berangkal. Komposisi
konglomerat adalah ketidakselarasan. Hal material matriks berupa batupasir dengan
ini didasarkan karena perbedaan umur dan ciri fisik ; warna segar putih, warna lapuk
cekungan pengendapan. putih kecoklatan, tekstur klastik halus,
bentuk butir subrounded - rounded, ukuran
Satuan Konglomerat butir pasir halus pasir kasar dan fragmen
Satuan ini menempati sekitar berupa batuan beku.
23,64 % dari keseluruhan luas daerah Fragmen batuan beku memiliki
penelitian atau sekitar 12,93 Km2. ciri fisik warna segar hijau kehitaman,
Penyebaran satuan Konglomerat ini warna lapuk coklat kehitaman, tekstur ;
menempati perbukitan bagian barat ke kristalinitas holokristalin, granularitas
tenggara daerah penelitian dan sekitarnya. faneritik, bentuk anhedral - subhedral,
Kedudukan batuan secara umum berarah relasi equigranular, komposisi mineral
relatif barat laut tenggara N336oE/24o piroksin dan olivin, struktur massive,
pada stasiun 35. komposisi kimia silikaan, nama batuan
Penentuan ketebalan satuan ini Peridotit (Fenton, 1940). Berdasarkan
berdasarkan pada perhitungan ketebalan klasifikasi Wentworth (1922) batuan ini
pada penampang geologi A-B yang dinamakan Konglomerat. (Foto 3.4).
berarah barat daya timur laut dengan Secara umum, kenampakan
mengukur batas bawah dan batas atas mikroskopis konglomerat dibagi atas
lapisan pada penampang geologi, sehingga kenampakan mikroskopis fragmen dan
diperoleh ketebalan satuan konglomerat matriksnya. Pada kenampakan
100 m . Penamaan batuan dari penyusun mikroskopis fragmennya yang berupa
satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu batuan beku dengan no. sayatan
pengamatan batuan secara megaskopis dan 16/02/RFK/KLR/FR memiliki warna
secara mikroskopis. Pengamatan secara absorbsi kuning kecoklatan, warna
megaskopis ditentukan secara langsung di interferensi abu-abu kehitaman. Bentuk
lapangan terhadap sifat fisik dan komposisi mineral anhedral subhedral, ukuran
mineral yang bisa diamati oleh mata, mineral <0,02 mm 0,5 mm. Komposisi
dengan menggunakan klasifikasi Pettijohn mineral yaitu piroksin (35%) olivin (60%),

8
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

dan mineral opak (5%). Berdasarkan sifat


fisik dan komposisi materialnya maka
nama fragmen batuan beku pada
konglomerat yaitu Peridotit. (Foto 3.5).
Sedangkan matriks berupa
batupasir dengan no. sayatan
17/02/RFK/KLR/MTRX. Memiliki warna
absorbsi kuning kecoklatan, warna Foto 3.6 Kenampakan mikroskopis matriks berupa
interferensi abu-abu kehitaman. Tekstur batupasir halus pada stasiun 38 dengan nomor
klastik, bentuk mineral anhedral sayatan 25/38/RFK/KLR/MTRX. Komposisi
mineral terdiri dari mineral piroksin (5H),
subhedral, ukuran mineral <0,01 mm 0,5 serpentin (4I), olivin (4F), kuarsa (3H) rock
mm. Komposisi mineral yaitu piroksin fragmen (3A) Mineral Opak (5A) dan massa dasar
(1E).
(15%) serpentin (25%), mineral opak
(5%), rock fragmen (35%) biotit (5%)
kuarsa (5%) dan massa dasar
mikrokristalin silika (10%). Berdasarkan
sifat fisik dan komposisi materialnya maka
nama matriks pada konglomerat yaitu
Lithic arenit (Pettijohn, 1976) (Foto 3.6)

Foto 3.7 Kenampakan mikroskopis Fragmen berupa batuan


beku peridotit pada stasiun 16 dengan nomor
sayatan 18/16/RFK/KLR/FR. Komposisi mineral
terdiri dari mineral piroksin (1H), Serpentin ( 5D)
dan Mineral Opak (6B)

Foto 3.4 Singkapan Breksi pada stasiun 38 di foto


kearah N 38o E Foto 3.8 Kenampakan mikroskopis matriks berupa batupasir
halus pada stasiun 16 dengan nomor sayatan
19/16/RFK/KLR/MTRX. Komposisi mineral
terdiri dari mineral piroksin (5A), Serpentin (2A),
Mineral Opak (3A), Rock fragmen (3F), Kuarsa
(6I) dan massa dasar (1H).

Berdasarkan kesamaan ciri fisik


dan posisi stratigrafinya serta letak
geografis maka satuan konglomerat pada
Foto 3.5 Kenampakan mikroskopis Fragmen berupa batuan daerah penelitian dapat disebandingkan
beku piroksenit pada stasiun 43 dengan nomor
sayatan 20/43/RFK/KLR/FR. Komposisi dengan anggota Batuan Sedimen Formasi
mineral terdiri dari mineral piroksin (1B), Bone Bone atau Tmpb (Tersier miosen
Serpentin (2G) Mineral Opak (1H).
pliosen bone-bone), yang berumur Miosen
Atas - Pliosen dan lingkungan
pengendapan berada di darat, yang
diinterpretasi dari komposisi kimia berupa
silika. Hubungan stratigrafi satuan batuan
ini dengan satuan batuan di atasnya yaitu

9
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

hubungan ketidakselarasan akibat


perbedaan umur pengendapan.

Satuan alluvial
Berdasarkan material yang
menyusun satuan ini menunjukan
karakteristik endapan Aluvial, dan melihat
proses genetiknya dan lokasi terbentuknya
menunjukan bahwa material tersebut
berasal dari proses erosi dan sedimentasi
disungai. Maka berdasarkan hal tersebut
penamaan satuan ini yaitu satuan aluvial.
Penyebaran satuan ini menempati sekitar Foto 3.9 Kenampakan endapan sungai yang berukuran
pasir halus pada stasiun 41 difoto kearah N
25,14 % dari luas keseluruhan daerah 211 oE
penelitian dengan luas penyebaran sekitar
13,75 km2. Penyebaran satuan ini berada
pada bagian barat daya daerah penelitian
memanjang dari barat selatan dan
merupakan hasil dari pelapukan satuan
batuan yang ada disekitarnya kemudian
tertransportasi oleh aliran sungai sungai
pada daerah penelitian yaitu pada sungai
angkona.
Material penyusun satuan ini
berupa material lempung lanau, pasir
Foto 3.10 Kenampakan endapan sungai Angkona yang
halus hingga kerakal, berasal dari berukuran lempung pada stasiun 39 difoto
pelapukan batuan peridotit, serpentinit, kearah N130 oE
dan konglomerat. Material-material
tersebut terendapkan disungai membentuk
endapan aluvial. Material endapan sungai IV. STRUKTUR GEOLOGI
dengan kenampakan warna abu-abu
kecoklatan, tersusun oleh material Penentuan struktur geologi
berukuran lempung lanau dan pasir didasarkan pada data yang diperoleh
berukuran halus. Satuan aluvial di daerah berupa data yang bersifat primer maupun
penelitian tersusun atas material lempung sekunder dan interpretasi pada peta
lanau dan pasir halus yang tersebar topografi daerah penelitian. Berdasarkan
disungai salo angkona dan sekitarnya. pengamatan di lapangan maka diperoleh
Karakteristik Aluvium atau Qal : data penciri struktur geologi primer berupa
lumpur, lempung, pasir,kerikil dan data kekar serta data penciri struktur
kerakal. Merupakan endapan sungai, rawa geologi sekunder berupa breksi sesar,
dan pantai. Berdasarkan kesamaan ciri pergeseran punggung bukit/offset ridges,
fisik dan posisi stratigrafinya serta letak pembelokan sungai yang tiba-tiba/offset
geografis maka satuan aluvial pada daerah stream dan mata air/springs. Struktur
penelitian dapat disebandingkan dengan geologi yang berkembang pada daerah
anggota Alluvium atau Qal (Quarter penelitian berdasarkan penciri struktur
alluvium) yang berumur Holosen yang yang dijumpai di lapangan adalah :
terbentuk di sungai (darat). Hubungan 1. Struktur Kekar
stratigrafi satuan ini dengan satuan batuan 2. Struktur Sesar
dibawahnya yaitu ketidakselarasan akibat
dari adanya selang waktu pengendapan.

10
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

Struktur Kekar stasiun 45. Setelah itu, dilakukan


analisis data kekar menggunakan
Kekar adalah susunan regular dari
sepanjang retakan yang mana tidak metodestreonet. Adapun hasil
mengalami pergerakan (Mc Clay, 1987). pengukuran kedudukan kekar disajikan
Menurut Asikin (1979) kekar adalah dalam tabel 4.1 berikut :
sebutan untuk struktur rekahan dalam
Tabel 4.1 Tabel frekuensi hasil pengukuran
batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali
data kekar stasiun 45
mengalami pergeseran. Berdasarkan
bentuknya, kekar yang terdapat pada
daerah penelitian berupa kekar sistematik
dijumpai pada litologi peridotit pada
stasiun 7 (Foto 4.1) dan kekar tak
sistematik di jumpai pada litologi
Serpentinit di stasiun 45 (Foto 4.2).

Berdasarkan hasil pengolahan data


kekar dengan menggunakan metode
streonet di stasiun 45 pada litologi
serpentinit sumbu tegasan utama
maksimum (1) dari kekar sistematik yang
bekerja pada daerah ini yaitu berarah N
Foto. 4.1 Kekar sistematik pada litologi peridotit
stasiun 7 dengan arah foto N 49oE 335o E dan tegasan utama minimum (3)
berarah N 238o E. Arah tegasan utama
relatif berarah Barat Laut Tenggara.

Gambar. 4.1 Hasil pengukuran kekar pada litologi


serpentinit di stasiun 45

Foto. 4.2 Kekar tak sistematik pada litologi serpentinit


stasiun 45 dengan arah foto N 115oE Struktur Sesar
Untuk menentukan arah Sesar atau patahan adalah suatu
bidang rekahan atau zona rekahan yang
tegasan utama yang bekerja dan
telah mengalami pergeseran (Ragan,
mengontrol struktur geologi yang 1976). Pergeseran yang terjadi
berkembang pada daerah penelitian menyebabkan adanya perpindahan bagian-
maka dilakukan pengambilan data bagian dari blok-blok yang berhadapan
sepanjang bidang patahan tersebut.
kekar berupa pengukuran kedudukan
Berdasarkan hasil analisa terhadap data
sebanyak 40 kali pada stasiun 7 dan lapangan berupa data primer ataupun data

11
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

sekunder serta korelasi terhadap tektonik Mekanisme pembentukan struktur


regional maka sesar yang bekerja pada daerah penelitian berdasarkan teori Reidel
daerah penelitian berupa sesar geser. dalam McClay (1987), diawali oleh
Adapun indikasi penciri sesar yang dapat kegiatan tektonik secara regional akibat
dijumpai di daerah penelitian antara lain pengaruh gaya kopel yang kemudian
adanya breksi sesar yang dimana material diikuti oleh gaya kompresi yang berarah
fragmen dan matriksnya terdiri dari batuan barat laut - tenggara menghasilkan tegasan
serpentinit dan peridotit (foto 4.3), adanya utama maksimum (1) yang berarah
mata air disepanjang zona sesar (foto 4.4), N335oE, gaya ini bekerja terus-menerus
adanya kekar di litologi serpentinit pada sehingga satuan batuan pada daerah
zona sesar yang berarah barat laut- penelitian mengalami fase deformasi
tenggara dan adanya pergeseran aliran elastis dan selanjutnya fase ini terlewati
sungai akibat sesar mendatar pada stasiun akibat gaya yang terus bekerja
6 (berdasarkan pengamatan peta menyebabkan batuan pada daerah ini
topografi). Semua ciriciri diatas mengalami retakan dan hasil retakannya
menunjukkan bahwa sesar yang itulah yang disebut kekar. Selanjutnya
berkembang pada daerah penelitian ini tekanan pada batuan terus meningkat
adalah sesar geser dan melewati daerah sehingga batuan mencapai fase deformasi
Mantadulu. Sehingga berdasarkan atas hal plastis, dimana rekahan pada batuan
tersebut, maka sesar pada daerah penelitian mengalami pergeseran atau yang lazim
ini dinamakan Sesar Geser Mantadulu. disebut sesar geser Mantadulu yang
berarah Barat Laut Tenggara pada daerah
penelitian yang sifatnya mengiri
(sinistral). (Gambar 4.2).
Penentuan umur struktur geologi
pada daerah penelitian diatas ditentukan
secara relatif melalui pendekatan umur
satuan batuan yang dilewatinya. Struktur
sesar geser Mantadulu melalui satuan
serpentinit dan konglomerat dengan umur
batuan yang termuda yaitu satuan
konglomerat yang berumur Miosen Atas-
Foto 4.3 Kenampakan breksi sesar di foto kearah Pliosen sehingga dapat diinterpretasikan
N 43E di sekitar stasiun 2. bahwa umur sesar geser Mantadulu adalah
Post Pliosen.

Foto 4.4 Kenampakan mata air pada stasiun 43 (a)


difoto arah N 1070E dan pada stasiun 23
(b) difoto arah N800E Gambar 4.2 Mekanisme pembentukan struktur geologi
daerah penelitian berdasarkan teori sistem Reidel, 1987.

12
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

V. SEJARAH GEOLOGI terjadinya proses regresi (penurunan muka


air laut) membentuk lingkungan
Sejarah geologi daerah penelitian pengendapan darat dimana terjadi
dimulai pada Kala Kapur Bawah dimana pengendapan material-material sedimen
dua lempeng samudera yang saling berukuran pasir halus bongkah yang
bergerak mendekat sehingga terjadi dipengaruhi oleh kecepatan arus
collision yang mengakibatkan membentuk satuan konglomerat. Proses
terbentuknya busur gunung api dan daerah pengendapan ini berakhir pada Kala
pemekaran kerak samudera. Kedua Pliosen.
lempeng samudera yang saling mendekat Pada Kala Post Pliosen terjadi
itu salah satunya mengalami peleburan. aktivitas tektonik pada daerah penelitian,
Hal ini menyebabkan salah satu dari yang menyebabkan batuan terkekarkan
lempeng itu akan habis, dan lempeng yang dimana gaya tekan terus bekerja sehingga
lainnya akan mengalami pengangkatan ke batuan melewati batas plastisnya sehingga
lempeng benua dan membentuk satuan tersesarkan membentuk sesar geser
peridotit. Pada kala dan lingkungan Mantadulu.
pembentukan yang sama akibat adanya Setelah terjadi aktivitas tektonik
proses tektonik yang terus bekerja, tersebut, kemudian berlangsung proses
mengakibatkan sebagian satuan peridotit proses geologi muda berupa proses erosi,
mengalami proses serpentinisasi akibat pelapukan dan sedimentasi. Proses inilah
metamorfisme lantai samudera sehingga yang kemudian mengontrol pembentukan
membentuk satuan serpentinit. Proses bentangalam pada daerah penelitian
pemekaran kerak samudera terus dimana proses tersebut masih berlangsung
berlangsung dan terbentuk secara bertahap hingga sekarang.
sehingga batuan yang melebur membentuk KORELASI SATUAN PETA
magma yang bersifat basa kemudian CORRELATION OF MAP UNITS

membentuk satuan peridotit.


Aktivitas tektonik terus berlanjut,
hingga memasuki Kala Kapur Atas terjadi
subsidence pada pertemuan dua lempeng
membentuk palung laut disertai proses
transgresi dan berkembang menjadi
lingkungan laut dalam dimana terendapkan
material-material sedimen pelagic yang
terakumulasi dan terlitifikasi membentuk
satuan batugamping. Proses pengendapan
ini terus berlangsung dan berhenti pada
Kala Paleosen sedangkan proses VI. BAHAN GALIAN
pembentukan batuan ultramafik terus
berlanjut dan berakhir pada Kala Eosen Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Atas. No.23 Tahun 2010, bahan galian daerah
Memasuki Kala Post Eosen Atas penelitian termasuk bahan galian batuan
terjadi proses emplacement dari satuan berupa Laterit. Bahan galian berupa laterit
peridotit dan serpentinit akibat adanya ini terdapat di bagian Barat daerah
gaya deformasi dan displacement yang penelitian pada daerah Nusantara. Laterit
mengakibatkan satuan ini naik keatas pada daerah penelitian terdiri dari residual
kerak benua. soil litologi konglomerat dan serpentinit.
Memasuki Kala Miosen Atas Keterdapatan bahan galian ini mudah
terjadi pendangkalan oleh tebalnya lapisan dijangkau oleh masyarakat setempat
sedimen laut dalam yang menyebabkan karena berjarak 1,5 km dari pemukiman
warga.

13
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

Kenampakan fisik dari bahan Aluvial, Satuan Konglomerat, Satuan


laterit umumnya berwarna merah Batugamping, Satuan Peridotit dan
kecoklatan. Keterdapatan adanya indikasi Satuan Serpentinit
bahan galian ini yaitu pada daerah satuan 4. Struktur geologi yang berkembang
konglomerat (Foto 6.1). Bahan galian ini pada daerah penelitian adalah breksi
memungkinkan digunakan sebagai bahan sesar, kekar sistematik dan non
tambang serta kondisi dimensi dan sistematik serta sesar geser Mantadulu
jangkauan dari indikasi serta sebaran yang bersifat sinistral dengan arah
bahan galian yang cukup mudah dijangkau tegasan utama relatif berarah Barat
maka dinilai efektif untuk dieksploitasi. laut Tenggara.
Pada daerah penelitian laterit belum 5. Indikasi bahan galian pada daerah
dimanfaatkan dan belum dieksploitasi Hal penelitian berupa bahan galian laterit.
ini dikarenakan belum adanya penelitian
lebih lanjut.
SARAN
Daerah penelitian memiliki potensi
bahan galian laterit yang baik namun sulit
untuk dieksploitasi karena tidak adanya
sarana yang menunjang dan penelitian
lebih lanjut sehingga penulis menyarankan
sebaiknya ditunjang oleh sarana dan
prasarana yang baik seperti aspek
keterjangkauan yang baik pula dalam hal
ini perbaikan jalan menuju lokasi-lokasi
Foto 6.1 Kenampakan kondisi keterdapatan indikasi bahan galian batuan, guna
bahan galian laterit yang berasal dari meningkatkan nilai ekonomis dari bahan
litologi konglomerat dan serpentinit galian. Saran ini ditujukan untuk pihak
pada stasiun 50. Difoto arah N
terkait dalam hal ini pemerintah setempat
3180E.
di daerah penelitian.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan pada daerah Mantadulu dan Asikin, S., 1979. Dasar-Dasar Geologi
sekitarnya, maka dapat diketahui Struktur, Jurusan Teknik Geologi
kondisi geologi daerah penelitian Institut Teknologi Bandung,
secara umum adalah sebagai berikut: Bandung.
2. Daerah penelitian tersusun oleh dua Badan Standarisasi Nasional.2001.Tata
satuan bentangalam yaitu satuan Cara Umum Penyusunan Laporan
bentangalam pedataran fluvial dan Eksplorasi Bahan Galian. SNI 13-
satuan bentangalam perbukitan 6606-2001.
denudasional. Jenis sungai yang Bakosurtanal., 1991. Peta Rupa bumi
berkembang adalah sungai periodik Lembar Mangkutana nomor 2113-
dan permanen sedangkan secara 52, Cibinong, Bogor.
genetik berupa sungai obsekuen dan Blatt, H., Tracy, R.J., dan Owens, B.E.,
insekuen dengan pola aliran berupa 2006. Petrology ; Igneous,
pola aliran dendritik. Stadia daerah Sedimentary and Metamorphic
adalah dewasa. Third Edition. W. H Freeman &
3. Startigrafi daerah penelitian tersusun Company, New York.
atas tiga satuan batuan, dari yang Boggs, S.,1987. Principles of
termuda ke yang tertua yaitu : Satuan Sedimentology and Stratigraphy

14
RESTI FATMALA KURAIS_D61112006
GEOLOGI DAERAH MANTADULU KEC.ANGKONA
KAB. LUWU TIMUR PROV. SULAWESI SELATAN

Fourth Edition. Pearson Penelitian dan Pengembangan


Education. Inc: New Jersey. Geologi, Bandung
Ikatan Ahli Geologi Indonesia., 1996. Sukandarrumidi.1999. Bahan Galian
Sandi Stratigrafi Indonesia. Industri, Gajah Mada University
Bidang Geologi dan Sumber Daya Press, Bulaksumur, Yogyakarta.
Mineral. Jakarta. Indonesia. Sompotan, A.F.2012. Struktur Geologi
Kaharuddin, M.S. 1988a. Penuntun Sulawesi.Perpustakaan Sains
Praktikum Petrologi. Kebumian Institut Teknologi
Laboratorium Petrologi Jurusan Bandung.Bandung
Teknik Geologi, Fakultas Teknik Thornburry, W.D. 1969. Principles of
Universitas Hasanuddin Geomorphology, Second edition,
Makassar. John Willey & Sons, Inc, New
Kaharuddin, M.S. 1988b. Field Geologi York, USA.
Identifikasi dan Analisis Tucker, Maurice E., Wright, V. Paul.1990.
Singkapan, Jurusan Teknik Carbonate Sedimentology. A
Geologi, Fakultas Teknik blackwell publishing company.
Universitas Hasanuddin London
Makassar. Undang-undang Republik Indonesia
Lobeck, A.K., 1939. Geomorphology An Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Intruduction to the Study of Usaha Pertambangan.
Landscapes, McGraw-Hill Book Van Zuidam, R. A. 1985. Aerial Photo-
Company, Inc New York and Interpretation in Terrain Analysis
London and Geomorphologic Mapping,
Mc Clay, K. R.., 1987. The Mapping of Smith Publisher The Hague,
Geological Structures, University Enschede, Netherlands.
of London, John Wiley & Sons
Ltd, Chichester, England.
Noor, D, 2010. Geomorfologi. Program
Studi Teknik Geologi Fakultas
Teknik Universitas Pakuan Bogor.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 23 tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan
Batubara.
Selley, R.C., 2000. Applied Sedimentology
Second Edition. Academic Press
:San Diego, San Fransisco, New
York, Boston, London, Sydney,
Tokyo
Sastroprawiro, S., dkk., 1996. Petunjuk
Praktikum
Geomorfologi.Laboratorium
Geomorfologi Jurusan Teknik
Geologi, Fakultas Teknologi
Mineral Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta.
Simandjuntak, E. Rusmana, Surono dan J.
B Supandjono.1991. Geologi
Lembar Malili, Sulawesi. Pusat

15