You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keluarga Berencana (KB) menurut WHO (World Health Organization) adalah

tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari

kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan,

mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kehamilan dalam

hubungan dengan umur suami dan istri, serta menentukan jumlah anak dalam

keluarga (Hartanto, 2004).


Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia

dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, yaitu keluarga yang

harmonis, sehat tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan, serta produktif

dari segi ekonomi (Suratun, 2008).


Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, dapat

bersifat sementara maupun permanen (Prawirohardjo, 2005). Alat kontarsepsi

yang sedang digalakkan dalam program pemerintah adalah Pil, Suntik, Implan,

IUD dan Kontap. Pada referat ini akan dibahas mengenai metode KB yaitu Alat

Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Device (IUD) dan Implan,

dimana akan membahas lebih dalam mengenai bagaimana cara kerja, keuntungan,

keterbatasan, efek samping serta bagaimana cara pemakaian (insersi) dan

pelepasan (ekstraksi) dari kedua jenis metode KB ini.

1.2 Batasan Masalah


Referat ini membahas tentang teknik pemasangan dan pelepasan AKDR/IUD

dan Implan.
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis

mengenai cara pemakaian (insersi) dan pelepasan (ekstraksi) dari metode KB

AKDR/IUD dan Implan.


1.4 Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan yang

merujuk kepada berbagai literatur.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Intra Uterine Devices (IUD)/ Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

2.1.1 Pengertian

IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim terbuat dari

plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi atau kehamilan (BkkbN,

2012).

2.1.2 Jenis IUD

Jenis - jenis IUD, yaitu :

1. Cooper-T

Berbentuk T terbuat dari bahan polyetheleb dimana bagian vertikalnya diberi

lilitan kawat tembaga halus. Lilitan ini mempunyai efek anti fertilasi (anti

pembuahan) yang cukup baik.

2. Cooper-7

Berbentuk angkat 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini

mempunyai ukuran diameter batang vertical 32 mm, ditambahkan gulungan

tembaga yang fungsinya sama seperti lilitan tembaga halus pada jenis Cooper-T.

3. Multi Load

Terbuat dari plastik atau polyethelen dengan dua tangan, kiri dan kanan terbentuk

sayap yang fleksibel. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga untuk

menambah efektifitas.

2
4. Lippes Loop

Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral atau huruf S bersambung. Untuk

memudahkan kontrol benang pada ekornya. Lippes Loop mempunyai angka

kegagalan yang rendah (Lalik, 2010).

2.1.3 Efektifitas IUD

AKDR/IUD efektif mencegah kehamilan dari 98% hingga mencapai hampir

100%, yang bergantung pada alatnya. AKDR terbaru, seperti T 380A, memiliki angka

kegagalan yang jauh lebih rendah pada semua tahap pemakaian tanpa ada kehamilan

setelah 8 tahun pemakaian (Everett, 2007).

Cupper T-380 A merupakan unggulan pilihan BKKBN. Pertimbangan mengapa BKKBN

memilih Cupper T-380:

1. Teknik pemasangan mudah, tidak sakit

2. Efektifitas tinggi

3. Kejadian ekspulsi rendah

4. Tidak mudah menimbulkan perforasi

5. Tidak banyak menimbulkan komplikasi

6. Tidak banyak menimbulkan trauma

7. Kembalinya kesuburan berjalan lancar (Manuaba, 2001).

2.1.4 Mekanisme Kerja IUD

Mekanisme Kerja IUD adalah sebagai berikut:

1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii

3
2. Mempengaruhi fertilitasasi sebelum ovum mencapai kavum uteri

3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun

AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan

mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi

4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (Saifuddin,

2006).

2.1.5 Keuntungan IUD

Keuntungan dari IUD ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai kontrasepsi, mempunyai efektivitas yang tinggi

2. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan

3. Metode jangka panjang

4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat

5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil

7. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI

8. Tidak efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A)

9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak

terjadi infeksi)

10. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)

11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat

12. Membantu mencegah kehamilan ektopik

4
2.1.6 Kerugian IUD

1. Efek samping yang umum terjadi :

a. Perubahan pada siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan

berkurang setelah 3 bulan

b. Haid lebih lama dan banyak

c. Perdarahan (spotting) antarmenstruasi

d. Saat haid lebih sakit

2. Komplikasi lain:

a. Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.

b. Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan

penyebab anemia

c. Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)

3. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS

4. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering

berganti pasangan

5. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai

AKDR, Penyakit radang panggul dapat memicu infertilitas

6. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.

5
7. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri

8. Sedikit nyeri dan perdarahan terjadi setelah pemasangan AKDR (Saifuddin,

2006)

2.1.7 Indikasi IUD

Menurut Arum (2011), berikut ini merupakan beberapa indikasi dari pemakaian

IUD:

1. Usia reproduktif

2. Keadaan nulipara

3. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang

4. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya

6. Risiko rendah dari IMS

7. Tidak menghendaki metode hormonal

8. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

9. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari

Pada umumnya ibu dapat menggunakan AKDR Cu dengan aman dan efektif.

AKDR dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan misalnya:

1. Perokok

2. Sedang menyusui

3. Gemuk ataupun yang kurus

4. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya

infeksi

6
5. Sedang memakai antibiotika atau anti kejang

Begitu juga Ibu dalam keadaan seperti dibawah ini dapat menggunakan

AKDR:

1. Penderita tumor jinak payudara, kanker payudara

2. Tekanan darah tinggi

3. Pusing-pusing, sakit kepala

4. Varises di tungkai atau di vulva

5. Penderita penyakit jantung

6. Pernah menderita stroke

7. Penderita diabetes dan penyakit hati atau empedu

8. Epilepsi

9. Setelah pembedahan pelvik

10. Penyakit tiroid

11. Setelah kehamilan ektopik (Saifuddin, 2006)

2.1.8 Kontraindikasi IUD

Yang tidak boleh menggunakan AKDR secara mutlak, apabila:

1. Kehamilan

2. Perdarahan saluran genital yang tidak terdiagnosis; bila penyebab didiagnosis dan

diobati, AKDR dapat dipasang.

3. Kelainan pada uterus missal uterus bikornu

4. Alergi terhadap komponen AKDR mis, tembaga.

5. HIV/AIDS karena penurunan sistem imun dan peningkatan risiko infeksi

6. Infeksi panggul atau vagina; bila telah diobati, AKDR dapat dipasng

7
Yang tidak boleh menggunakan AKDR secara relatif, apabila:

1. Riwayat infeksi panggul

2. Dismenorea dan/atau menoragi

3. Fibroid dan endometriosis

4. Terapi penisilamin dapat mengurangi keefektivan tembaga (Everett, 2007)

2.1.9 Waktu Penggunaan IUD

1. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid

2. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil

3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu

pascapersalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amonorea laktasi

(MAL).

4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada

gejala infeksi.

5. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi (Saifuddin,

2006).

2.1.10 Pemeriksaan Ulang IUD

Setelah pemasangan IUD perlu dilakukan control medis dengan jadwal :

1. Setelah pemasangan kalau dipandang perlu diberikan antibiotika profilaksis.

2. Jadwal pemeriksaan ulang:

a. Dua minggu setelah pemasangan

b. Satu bulan setelah pemeriksaan pertama

c. Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua

d. Setiap enam bulan sampai satu tahun

8
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dapat dibuka sebelum waktunya bila

dijumpai:

1. Ingin hamil kembali

2. Leokorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus.

3. Terjadi infeksi

4. Terjadi perdarahan

5. Terjadi kehamilan mengandung bahan aktif dengan AKDR (Manuaba, 2001).

2.1.11 Cara pemasangan AKDR/IUD

Pemasangan AKDR/IUD terdiri atas tindakan pra pemasangan dan tindakan

pemasangan:

1. Tindakan Pra Pemasangan:


- Jelaskan proses pemasangan AKDR dan apa yang akan klien rasakan pada

saat proses pemasangan dan setelah pemasangan dan persilahkan klien

untuk mengajukan pertanyaan.


- Masukkan lengan AKDR Cu T380A di dalam kemasan sterilnya :
Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat kebelakang.
Masukkan pendorong kedalam tabung inserter tanpa menyentuh benda

tidak steril.
Letakkan kemasan pada tempat yang datar.
Selipkan karton pengukur dibawah lengan AKDR.
Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai

ke pangkal lengan sehingga lengan akan melipat.


Setelah lengan melipat sampai menyentuh tabung inserter, tarik tabung

inserter dari bawah lipatan lengan.


Angkat sedikit tabung inserter, dorong dan putar untuk memasukkan

lengan AKDR yang sudah terlipat tersebut ke dalam tabung inserter.

9
Pastikan cincin biru sejajar dengan arah lengan AKDR, cocokkan

dengan ukuran kavum uteri.


Pastikan ujung pendorong menyentuh ujung AKDR.
AKDR siap diinsersikan ke kavum uteri.

Gambar 2.1 Langkah Memasukkan Lengan AKDR ke dalam Kemasan


Tindakan Pemasangan:
- Pakailah sarung tangan yang baru.
- Pasanglah spekulum vagina untuk melihat serviks.
- Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali
- Jepit serviks dengan tenakulum secara hati-hati.
- Masukkan sonde uterus dengan teknik Tidak menyentuh (no touch

tehnique) yaitu secara hati-hati memasukkan sonde ke dalam kavum uteri

dengan sekali masuk tanpa menyentuh dinding vagina ataupun bibir

spekulum.
- Tentukan posisi dan kedalaman kavum uteri dan keluarkan sonde.
- Ukur kedalaman kavum uteri pada tabung inserter yang masih berada di

dalam kemasan sterilnya dengan menggeser leher biru pda tabung inserter,

kemudian buka seluruh plastik penutup kemasan.


- Angkat tabung AKDR dari kemasannya tanpa menyetuh permukaan yang

tidak steril, hati-hati jangan sampai pendorongnya terdorong.


- Pegang tabung AKDR dengan leher biru dalam posisi horisontal (sejajar

lengan AKDR). Sementara melakukan tarikan hati-hati pada tenakulum,

10
masukkan tabung inserter ke dalam uterus sampai leher biru menyentuh

serviks atau sampai terasa adanya tahanan.


- Pegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu tangan
- Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawl yaitu

menarik keluar tabung inserter sampai pangkal pendorong dengan tetap

menahan pendorong.
- Keluarkan pendorong, kemudian tabung inserter didorong kembali ke

serviks sampai leher biru menyentuh serviks atau terasa adanya tahanan.
- Keluarkan sebagian dari tabung inserter dan gunting benang AKDR

kurang lebih 3-4 cm.


- Keluarkan seluruh tabung inserter, buang ke tempat sampah

terkontaminasi.
- Lepaskan tenakulum dengan hati-hati, rendam dalam larutan klorin 0,5%.

Langkah Pemasangan AKDR / IUD


2.1.12 Cara Pelepasan AKDR/IUD
Pelepasan AKDR/IUD terdiri atas tindakan pra pelepasan dan tindakan

pelepasan:
Tindakan Pra Pelepasan:
- Pastikan klien sudah mengosongkan kandung kencingnya dan mencuci

kemaluannya menggunakan sabun.


- Bantu klien naik ke meja pemeriksaan.

11
- Cuci tangan dengan air sabun , keringkan dengan kain bersih
- Pakai sarung tangan baru yang telah di DTT
- Atur peralatan dan bahan-bahan yang akan dipakai dalam wadah steril

atau DTT.

Tindakan Pelepasan:

- Lakukan pemeriksaan bimanual :


Pastikan gerakan serviks bebas
Tentukan besar dan posisi uterus
Pastikan tidak ada infeksi atau tumor pada adneksa
- Pasang spekulum vagina untuk melihat serviks.
- Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali
- Jepit benang yang dekat dengan klem.
- Tarik keluar benang dengan mantap tetapi hati-hati untuk mengeluarkan

AKDR.

Tindakan Pasca Pelepasan:

- Rendam semua peralatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin 0.5%

selama 10 menit untuk dekontaminasi.


- Buang bahan-bahan yang sudah tidak dipakai lagi (kas, sarung tangan

sekali pakai) ketempat yang sudah disediakan.


- Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam

larutan 0.5 %, kemudian lepaskan dalam keadaan terbalik dan rendam

dalam klorin tersebut.


- Cuci tangan dengan air dan sabun
- Amati selama 5 menit sebelum memperbolehkan klien pulang
2.2 Implan

2.2.1 Pengertian

Implan adalah alat kontrasepsi bawah kulit yang mengandung progestin yang

dibungkus dalam kapsul silastik silikon polidimetri.


2.2.2 Jenis Implan

12
- Norplan, terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 36

mg 3,4 cm, diameter 2,4 mm yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel dan

lama kerjanya 5 tahun,


- Implanon, terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40

mm, diameter 2 mm yang diisi dengan 68 mg 30-keto desogestrel dan

lama kerjanya 3 tahun,


- Jadelle dan Indoplan, terdiri dari dua batang berisi 75mg Levonorgestrel

dengan lama kerjanya 3 tahun.


2.2.3 Keuntungan Implan
- Keuntungan kontrasepsi
Sangat efektif (kegagalan 0,2-1,0 kehamilan per 100 perempuan).
Daya guna tinggi.
Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun).
Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.
Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.
Bebas dari pengaruh estrogen.
Tidak mengganggu hubungan seksual.
Tidak mengganggu ASI.
- Keuntungan non-kontrasepsi
Mengurangi nyeri haid.
Mengurangi jumlah darah haid.
Mengurangi/memperbaiki anemia.
Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul.
Menurunkan angka kejadian endometriosis.
2.2.4 Keterbatasan Implan
- Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan,
- Tidak mencegah IMS,
- Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi, akan

tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan,


- Efektivitas menurun bila menggunakan obat tuberculosis atau epilepsi,
- Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi.
2.2.5 Efek samping Implan
- Sakit kepala,
- Nyeri payudara,
- Amenorrhea,
- Perasaan mual,
- Perdarahan bercak ringan,

13
- Ekspulsi,
- Infeksi pada daerah insisi,
- Penambahan berat badan.

2.2.6 Cara Pemasangan Implan

Pemasangan implan terdiri atas persiapan pemasangan, tindakan sebelum

pemasangan, pemasangan kapsul dan tindakan pasca pemasangan (Tahir dkk.,

2015).

Persiapan pemasangan:

- Persilakan klien mencuci seluruh lengan dengan sabun dan air yang

mengalir, serta membilasnya. Pastikan tidak terdapat sisa sabun (sisa

sabun menurunkan efektivitas antiseptik tertentu). Langkah ini sangat

penting bila klien kurang menjaga kebersihan dirinya untuk menjaga

kesehatannya dan mencegah penularan penyakit.


- Tutup tempat tidur klien (dan penyangga lengan atau meja samping, bila

ada) dengan kain bersih.


- Persilakan klien berbaring dengan lengan yang lebih jarang digunakan

(misalnya lengan kiri) diletakkan pada lengan penyangga atau meja

samping. Lengan harus disangga dengan baik dan dapat digerakkan lurus

atau sedikit bengkok sesuai dengan posisi yang disukai klinisi untuk

memudahkan pemasangan.
- Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm di atas lipatan siku,

gunakan pola (template) dan spidol untuk menandai tempat insisi yang

14
akan dibuat dan tempat keenam kapsul akan dipasang (bila akan

menggunakan antisepsik yang mengandung alkohol gunakan spidol

dengan tinta permanen).


- Siapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril tanpa menyentuh alat-

alat di dalamnya.
- Buka dengan hati-hati kemasan steril implan dengan menarik kedua

lapisan pembungkusnya dan jatuhkan seluruh kapsul dalam mangkok

steril. Bila tidak ada mangkok steril, kapsul dapat diletakkan dalam

mangkok yang didisenfeksi tingkat tinggi (DTT) atau pada baki tempat

alat-alat. Pilihan lain adalah dengan membuka sebagian kemasan dan

mengambil kapsul satu demi satu dengan klem steril atau DTT saat

melakukan pemasangan. Jangan menyentuh bagian dalam kemasan atau

isinya kecuali dengan alat yang steril atau DTT.

Tindakan Sebelum Pemasangan

- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih
- Pakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung tangan untuk setiap

klien guna mencegah kontaminsi silang).


- Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk

memastikan jumlahnya.
- Persiapkan tempat insisi dengan larutan antiseptik. Gunakan klem steril

atau DTT untuk memegang kassa berantiseptik. (Bila memegang kassa

berantiseptik hanya dengan tangan, hati-hati jangan sampai

mengkontaminasi sarung tangan dengan menyentuh kulit yang tidak

steril). Mulai mengusap dari tempat yang akan dilakukan insisi ke arah

luar dengan gerakan melingkar sekitar 8-13 cm dan biarkan kering (sekitar

15
2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus antiseptik yang berlebihan

hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.


- Bila ada, gunakan kain penutup (doek) yang mempunyai lubang untuk

menutupi lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan

tempat yang akan dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi lengan di

bawah tempat pemasangan dengan kain steril.


- Setelah memastikan (dari anamnesis) tidak alergi terhadap obat anestesi,

isi alat suntik dengan 3ml obat anestesi. Dosis ini sudah cukup untuk

menghilangkan rasa sakit selama memasang kapsul implan.


- Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada tempat insisi (yang terdekat

dengan siku) kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak

masuk ke pembuluh darah. Suntikkan sedikit obat anestesi untuk membuat

gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum,

masukkan ke bawah kulit (subdermis) sekitar 4cm. Hal ini akan membuat

kulit (dermis) terangkat dari jaringan lunak di bawahnya. Kemudian tarik

jarum pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikkan obat

anestesi sebanyak 1 ml di antara tempat untuk memasang, kapsul 1 dan 2,

selanjutnya di antara kapsul 3 dan 4 serta 5 dan 6.

Pemasangan Kapsul

- Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum atau skalpel

(pisau bedah) untuk memastikan obat anestesi telah bekerja.


- Pegang skalpel dengan sudut 45 derajat, buat insisi dangkal hanya untuk

sekedar menembus kulit. Jangan membuat insisi yang panjang atau dalam.
- Ingat kegunaan ke-2 tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan

ujung yang tajam menghadap keatas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda (1)

16
dekat pangkal menunjukkan batas trokar dimasukkan ke bawah kulit

sebelum memasukkan setiap kapsul. Tanda (2) dekat ujung menunjukkan

batas trokar yang harus tetap di bawah kulit setelah memasang setiap

kapsul.
- Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya

masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari

kiri atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar ke depan dan

berhenti saat ujung tajam seluruhnya berada di bawah kulit (2-3 mm dari

akhir ujung tajam). Memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika

terdapat tahanan, coba dari sudut lainnya.


- Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit, angkat trokar ke atas,

sehingga kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati ke

arah tanda(1) dekat pangkal. Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat

diraba dari luar dengan jari. Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit

selama pemasangan. Masuknya trokar akan lancar bila berada di bidang

yang tepat di bawah kulit.


- Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar
- Masukkan kapsul pertama kedalam trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk

atau pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan ke dalam

trokar. Bila kapsul diambil dengan tangan, pastikan sarung tangan tersebut

bebas dari bedak atau partikel lain. (untuk mencegah kapsul jatuh pada

waktu dimasukkan ke dalam trokar, letakkan satu tangan di bawah kapsul

untuk menangkap bila kapsul tersebut jatuh).Dorong kapsul sampai

seluruhnya masuk ke dalam trokar dan masukkan kembali pendorong.

17
- Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai

terasa ada tahanan, tapi jangan mendorong dengan paksa. (Akan terasa

tahanan pada saat sekitar setengah bagian pendorong masuk ke dalam

trokar).
- Pegang pendorong dengan erat di tempatnya dengan satu tangan untuk

menstabilkan. Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan

telunjuk ke arah luka insisi sampai tanda (2) muncul di tepi luka insisi dan

pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Hal yang penting pada

langkah ini adalah menjaga pendorong tetap ke tempatnya dan tidak

mendorong kapsul ke jaringan.


- Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus

terlihat di tepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada

di bawah kulit. Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul

sudah keluar seluruhnya dari trokar. Hal yang penting adalah kapsul bebas

dari ujung trokar untuk menghindari terpotongnya kapsul saat trokar

digerakkan untuk memasang kapsul berikutnya.


- Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral

kanan dan kembalikan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul

pertama bebas. Selanjutnya gesert trokar sekitar 15 derajat, mengikuti pola

seperti kipas yang terdapat pada lengan. Untuk melakukan itu, mula-mula

fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar

pelan-pelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanad (1). Hal ini

akan memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar

menusuk kapsul yang dipasang sebelumnya. Bila sudah mencapai tanda

18
(1), masukkan kapsul berikut ke dalam trokar, lakukan langkah

sebelumnya hingga seluruh kapsul terpasang.


- Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi risiko infeksi atau

ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5mm

dari tepi luka insisi. Juga pastikan jarak antara ujung setiap kapsul yang

terdekat dengan tepi luka insisi (ujung kecil dari pola seperti kipas) tidak

lebih dari lebar 1 kapsul.


- Saat memasang keenam kapsul satu demi satu, jangan mencabut trokar

dari luka insisi. Hal ini akan mengurangi trauma pada jaringan,

menurunkan kemaungkinan infeksi dan mempersingkat waktu

pemasangan.
- Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan keenam kapsul

semuanya telah terpasang.


- Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi (sekitar 5

mm). Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka inisisi,

harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali di tempat yang tepat.
- Setelah keenam kapsul terpasang semuanyadan posisi setiap kapsul sudah

diperiksa, keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari

menggunakan kassa selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan.

Bersihkan tempat pemasangan dengan kassa berantiseptik.

Tindakan Pasca Pemasangan

- Menutup luka insisi


Temukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester dengan

kassa steril untuk menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit

karena dapat menimbulkan jaringan parut.

19
Periksa adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan

pembalut untuk hemostasis dan mengurangi memar (perdarahan

subkutan).
2.2.6 Cara Pelepasan Implan
Terdapat beberapa metode untuk melepas implant, antara lain metode standar,

metode teknik U dan metode teknik Pop Out.


- Metode Standar
Tentukan lokasi insisi yang mempunyai jarak sama dari ujung bawah

semua kapsul (dekat siku), kira-kira 5 mm dari ujubawah kapsul.


Pada lokasi yang sudah dipilih, buat insisi mellintang yang kecil 4

mm dengan menggunakan scalpel


Mulai mencabut kapsul yang mudah diraba daru luar atau yang

terdekat luka insisi


Dorong ujung kapsul kea rah insisi dengan jari tangn sampai ujung

kapsul tampak pada luka insisi


Masukkan klem lengkung melalui luka insisi lengkungan jepitan

mengarah ke kulit.
Dorong ujung kapsul pertama sedekat mungkin pada luka insisi

dengan lengkungan jepitan mengarah ke kulit, teruskan sampai berada

di bawah ujung kapsul dekat siku.


Dorong ujungkapsul pertama sedekat mungkin pada luka insisi.
Bersihkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi kapsul.
Jepit kapsul yang sudah terpapar dengan menggunakan klem kedua
Pilih kapsul berikutnya yang tampak paling mudah dicabut.
- Metode Pencabutan Teknik U
Tentukan lokasi insisi pada kulit di antara kapsul 3 dan 4 5 mm dari

ujung kapsul dekat siku.


Buat insisi kecil (4 mm) memanjang sejajar di antara sumbu panjang

kapsul dengan menggunakan skalpel.

20
Masukkan ujung klem pemegang implant secara hati-hati melalui luka

insisi.
Fiksasi kapsul yang letaknya paling dekat luka insisi dengan jari

telunjuk sejajar panjang kapsul.


Masukkan klem lebih dalam sampai ujungnya menyentuh kapsul, buka

klem dan jepit kapsul dengan sudut yang tepat pada sumbu panjang

kapsul 5 mm di atas ujung bawah kapsul.


Bersihkan kapsul dari jaringan ikat yang mengelilinginya dengan

menggosok-gosok menggunakan kasa steril.


Gunakan klem lengkung untuk menjepit kapsul yang sudah terpapar
Lepaskan pemegang norplant dan cabut kapsul dengan pelan-pelan

dan hati-hati.
Taruh kapsul yang telah dicabut dalam mangkok kecil yang berisi

klorin 0,5% untuk dekontaminasi sebelum dibuang.


Pencabutan kapsul berikutnya adalah yang tampak paling mudah

dicabut.
- Metode Pencabutan Teknik Pop Out
Raba ujung-ujung kapsul di daerah dekat siku untuk memilih salahg

satu kapsul yang lokasinya terletak di tengah-tengah dan mempunyai

jarak yang samadengan ujung kapsul lainnya.


Lakukan penekanan dengan menggunakan ibu jari dan jari tangan

lainnya pada ujung bagian bawah kapsul untuk membuat ujung kapsul

tersebut tepat berada di bawah tempat insisi.


Masukkan ujung tajam scalpel ke dalam luka insisi sampai terasa

menyentuh ujung kapsul.


Tekan jaringan ikat yang sudah terpotong tadi dengan kedua ibu jari

sehingga ujung bawah kapsul terpapar keluar.

21
Tekan sedikit ujung kapsul (dekat bahu) sehingga kapsul muncul (Pop

Out) pada luka insisi dan dengan mudah dapat dipegang dan dicabut.
- Tindakan Pasca Pelepasan: Menuutup luka insisi
Bila klien tidak ingin menggunakan implant lagi, bersihkan tempat

insisi dan sekitarnya dengan menggunakan kasa berantiseptik.


Dekatkan kedua tepi luka insisi kemudian tutup dengan band aid.
Buang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi.
Rendam seluruh peralatan yang sudah terpakai dengan larutan klorin

0,5% selama 10 menit.


Cuci tangan dengan larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan sarung

tangan dalam posisi terbalik

22
DAFTAR PUSTAKA
Arum dan Sujiyatini. 2011. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Nuha Medica.

Yogyakarta.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2012. Policy Brief. Edisi 7.

Surabaya : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional: 1-2.


Everett, 2007. Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduktif. EGC, Jakarta.
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. PUSTAKA SINAR

HARAPAN : Jakarta.

Lalik, 2010. Kontrasepsi IUD. http//widamedika.com/kontrasepsi-iud. Diakses 26

September 2011.

Manuaba, 2001. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana.

EGC, Jakarta

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Saifuddin, 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Suratun dkk, 2008. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi.

Trans Info Media : Jakarta.


Tahir , AM, Farid RB. 2015. Keterampilan Pemasangan dan Pencabutan AKDR

Makalah. Makasar: Fakultas Kedokteran Univeritas Hasanuddin.

23