You are on page 1of 50

KASUS BESAR

SEORANG WANITA 68 TAHUN DENGAN HIPERTENSI STAGE I,
HIPERKOLESTEROLEMIA,
OBESITAS, TENSION TYPE HEADACHE, PRESBIOPI

Diajukan untuk melengkapi syarat kepaniteraan Klinik Senior

di bagian Ilmu Penyakit Dalam

Pembimbing:

Dr. Redjeki Andayani, Sp.PD,K-Ger

Disusun oleh:

Nurul Safitri

22010113210008

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2014HALAMAN PENGESAHAN

Nama Mahasiswa : Nurul Safitri

NIM : 22010113210008

Bagian : Ilmu Penyakit Dalam RSDK / FK UNDIP

Judul kasus :Seorang Wanita 68 Tahun dengan Hipertensi Stage I,
Hiperkolesterolemia, Obesitas, Tension Type Headache, Presbiopi

Pembimbing : dr. Redjeki Andayani, Sp.PD,K-Ger

Semarang, 20 Desember 2014

Pembimbing

dr. Redjeki Andayani, Sp.PD,K-Ger

2

BAB I
ASSESMENT GERIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. T. W
Umur : 68 tahun
Pekerjaan : Pensiunan
Alamat : Stonen, Sampangan, Semarang
Agama : Islam
No. CM : 403619
Masuk RS : 6 Desember 2014

II. DAFTAR MASALAH
No Masalah Aktif Tanggal No Masalah Pasif Tanggal
1. Hipertensi Stage I 6-12-2012 1. - -
2. Hiperkolesterolemia 6-12-2014
3. Obesitas 6-12-2014
4. Tension Type Headache 6-12-2014
5. Presbiopi 6-12-2014

III.DATA DASAR
A. Data Subyektif
Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 6 Desember 2014, pukul 08.00 WIB di poli
Geriatri RSUP Dr.Kariadi Semarang.
Keluhan utama : Nyeri Kepala
Riwayat Penyakit Sekarang :
Onset dan Kronologi : + 2 hari SMRS pasien merasa nyeri Kepala di kepala bagian
belakang.
+ 1 tahun yang lalu, pasien mengeluh nyeri Kepala. nyeri Kepala dirasakan terus
menerus, di kepala bagian belakang, leher tegang. Pasien sering merasa nyeri Kepala
sejak suami sakit sehingga pasien harus membantu suami melakukan kegiatan sehari-hari.
Atas anjuran keluarga, pasien berobat ke Poli Geriatri RSDK. Di Poli Geriatri dikatakan
tekanan darah pasien mencapai 160/100 dan dari hasil laboratorium darah dikatakan

3

kadar kolesterol pasien tinggi. Sejak saat itu pasien rutin memeriksakan diri setiap bulan
ke Poli Geriatri RSDK.
Kualitas : Nyeri Kepala terasa seperti tegang
Kuantitas : Nyeri Kepala dirasakan terus menerus
Faktor memperberat : Nyeri Kepala bertambah jika pasien kelelahan
Faktor memperingan : Nyeri Kepala berkurang jika pasien istirahat dan tiduran.
Gejala penyerta : Leher tegang (+), mual (+), kulit pucat dan dingin (-), muntah
(-), air liur berlebihan (-), sakit kepala (-), gangguan penglihatan (+) jarak pendek, ingatan
menurun (-), kelemahan separuh tubuh (-), nyeri dada (-), nafas pendek (-), sesak dalam
melakukan aktivitas sehari-hari (-),sesak saat batuk (-), batuk dengan dahak putih,
berbuih, encer(-), kaki bengkak (-), tangan dan kaki dingin (-), pingsan (-), berdebar-debar
(-), BAK lancar warna kuning jernih, BAB tidak ada kelainan.

Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pasien didiagnosis hipertensi dan hiperkolesterolemia sejak 1 tahun yang lalu. Pasien
rutin berobat ke Poli Geriatri RSDK. Pasien biasanya diberikan obat amlodipin,
valsartan, dan simvastatin obat selalu diminum teratur.
- Gangguan penglihatan sejak 50 tahun, penglihatan berkurang jika melihat dengan
jarak pendek dan memakai kacamata plus.
- Riwayat kencing manis disangkal.
- Riwayat sakit jantung disangkal.
- Riwayat sakit batuk lebih dari 2 minggu dengan pengobatan lama tidak ada.
- Riwayat merokok disangkal.
- Riwayat operasi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat sakit darah tinggi dalam keluarga (+), ayah pasien.
- Riwayat sakit jantung dalam keluarga disangkal
- Riwayat sakit kencing manis dalam keluarga disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien seorang pensiunan, dahulu bekerja sebagai dosen. Suami juga seorang pensiunan.
Memiliki 2 orang anak yang sudah menikah dan hidup mandiri. Pasien tinggal serumah
dengan anak pertama bersama menantu dan 2 orang cucu. Hidup sehari-hari dengan uang
pensiunan. Hubungan pasien dengan penghuni rumah baik. Pasien tinggal di rumah
permanen dengan dinding semen berukuran 20 x 20 m2, 4 kamar tidur, 1 ruang keluarga

4

dan 3 kamar mandi. Pasien memiliki 1 kamar tidur berukuran 3 x 3 m 2 dengan jendela
berukuran 1x1 m2. Jendela juga ada di ruang tamu dan dapur. Lantai ubin, atap genteng,
sirkulasi udara dan sinar matahari cukup masuk ke dalam kamar. WC duduk tanpa
pegangan, sumber air minum dari PAM. Penerangan listrik PLN, memasak dengan
kompor biasa.
Kesan : sosial ekonomi cukup
Biaya pengobatan :Askes

Riwayat Fungsional
 Sebelum masuk RS
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan di dalam dan sekitar rumah
masih baik. Untuk buang air kecil dan buang air besar penderita dapat melakukannya
dengan mandiri tanpa bantuan. Untuk aktivitas seperti makan, mandi dan berpakaian
pasien juga masih dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.
 Saat berobat di RS

INDEKS KATZ ( Menilai AKS)
No. Aktivitas Mandiri Tergantung 6-12-2014

1. Bathing Memerlukan bantuan Memerlukan Mandiri
hanya pada 1 bagian bantuan dalam
tubuh (bagian mandi lebih dari 1
belakang / anggota bagian tubuh dan
tubuh yang terganggu) saat masuk serta
atau dapat melakukan keluar dari bak
sendiri mandi / tidak dapat
mandi sendiri

2. Dressing Menaruh pakaian & Tidak dapat Mandiri
mengambil pakaian, memakai pakaian
memakai pakaian, sendiri atau tidak
’brace’, & menalikan berpakaian
sepatu dilakukan sebagian
sendiri

3. Toilletting Pergi ke toilet, duduk Memakai ’bedpan’ Mandiri
berdiri dari kloset, atau ’comode’ atau
memakai pakaian mendapat bantuan
dalam, membersihklan pergi ke toilet atau
kotoran (memakai memakai toilet
’bedpan’ pada malam
hari saja & tidak

5

kecuali bathing. toiletting & 1 fungsi lain F : Mandiri. Transfering Berpindah dari dan ke Tidak dapat Mandiri tempat tidur & melakukan / berpindah dari dan ke dengan bantuan tempat duduk untuk berpindah (memakai atau tidak dari & ke tempat memakai alat bantu) tidur / tempat duduk 5. Continence BAK & BAB baik Tidak dapat Mandiri mengontrol sebagian / seluruhnya dalam BAB & BAK. untuk 5 fungsi C : Mandiri. kecuali bathing. toiletting. memakai penyangga mekanik) 4. 6 . kecuali bathing & 1 fungsi lain D : Mandiri. dengan bantuan manual / kateter 6. transfering & 1 fungsi lain G : Ketergantungan untuk semua 6 fungsi di atas Kesan : Katz A(Mandiri.dressing. dressing. & 1 fungsi lain E : Mandiri.kecuali bathing. untuk 6 fungsi)  Berikut adalah skor untuk mengukur risiko dekubitus pada pasien. Feeding Mengambil makanan Memerlukan Mandiri dari piring / yang bantuan untuk lainnya & makan atau tidak memasukkan ke dalam dapat makan mulut (tidak termasuk semuanya atau kemampuan untuk makan per- memotong daging & parenteral) menyiapkan makanan seperti mengoleskan mentega di roti) Klasifikasi menurut Indeks Katz : A : Mandiri. untuk 6 fungsi B : Mandiri. dressing.

masih menggunakan MSG dan garam. Masakan di rumah sehari-hari dimasak oleh asisten rumah tangga. Pasien tidak makan makanan selingan. . ayam. 7 . Pasien biasanya makan 3x/hari @ nasi ± 1 piring dan habis. Lauk sayur dan tempe tahu. ikan. SKOR NORTON ( Untuk Mengukur Risiko Dekubitus) Penilaian Skor 6-12-2014 Kondisi fisik umum : ·Baik 4 4 ·Lumayan 3 ·Buruk 2 ·Sangat buruk 1 Kesadaran : ·Komposmentis 4 4 ·Apatis 3 ·Konfus/soporus 2 ·Stupor/koma 1 Aktivitas : ·Ambulan 4 4 ·Ambulan denganbantuan 3 ·Hanya bisa duduk ·Tiduran 2 1 Mobilitas : ·Bergerak bebas 4 4 ·Sedikit terbatas 3 ·Sangat terbatas 2 ·Tak bisa bergerak 1 Inkontinensia : ·Tidak ada 4 4 ·Kadang-kadang 3 ·Sering inkontinensia urin 2  Inkontinensia alvi & urin 1 Skor total 20 Kategori : Skor 16-20 : kecil sekali/tak terjadi 12-15 : kemungkinan kecil terjadi < 12 : kemungkinan besar terjadi Skor : 20 Kesan : kecil sekali/tak terjadi Riwayat Gizi .udang. Pasien minum minum air putih 8 gelas/hari. telur. .

Hubungan pasien dengan keluarga juga baik. Anda telah meninggalkan banyak kegiatan / minat / Ya Tidak kesenangan anda? 3. Ya Tidak 1. Anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda? Ya Tidak 8.Riwayat Psikiatri Kegiatan sehari-hari pasien seperti membersihkan rumah. Hubungan dengan tetangga masih baik. tetangga. mengobrol dengan keluarga. berbelanja. Anda merasa kehidupan anda kosong? Ya Tidak 4. Anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini Ya Tidak menyenangkan? 12. Anda mempunyai semangat yang baik setiap saat? Ya Tidak 6. SKALA DEPRESI GERIATRI Pilihan jawaban yang paling tepat. Anda merasa anda penuh semangat? Ya Tidak 14.Pasien lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah karena pasien juga harus membantu suaminya melakukan kegiatan sehari-hari. Waktu luang digunakan untuk menonton TV. Anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda? Ya Tidak 2. Anda lebih senang tinggal di rumah daripada keluar dan Ya Tidak mengerjakan sesuatu yang baru? 10. Anda sering merasa tidak berdaya? Ya Tidak 9. dan rekreasi. Anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri Ya Tidak anda? 7. memasak. Anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada harapan? Ya Tidak 8 . yang sesuai dengan perasaan anda dalam satu minggu terakhir: No Apakah. Anda merasa mempunyai banyak masalah dengan daya Ya Tidak ingat anda dibanding kebanyakan orang? 11. Anda merasa sering bosan? Ya Tidak 5. Anda merasa tidak berharga seperti perasaan anda saat Ya Tidak ini? 13.

Skor : Hitung jumlah jawaban yang bercetak tebal dan bergaris bawah  Tiap jawaban bercetak tebal dan bergaris bawah mempunyai nilai 1  Skor antara 1-4 menunjukkan keadaan baik/tidak depresi  Skor antara 5-9 menunjukkan kemungkinan besar depresi  Skor 10 atau lebih menunjukkan depresi Skor = 4 Kesan: keadaan baik/tidak depresi KUESIONER STATUS MENTAL No DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN 1 Tanggal berapakah hari ini? (bulan. tahun) B 2 Hari apakah ini B 3 Apakah nama tempat ini? B 4 Berapa nomor telepon atau alamat rumah Bapak/Ibu? B 5 Berapa umur Bapak/Ibu? B 6 Kapan Bapak/Ibu lahir? B 7 Siapakah nama presiden kita sekarang B 8 Siapakah nama presiden sebelum ini? B 9 Siapakah nama gadis ibu Anda? S 10 Hitung mundur 3-3 dari 20! B 0 – 2 kesalahan = baik 3 – 4 kesalahan = gangguan intelek ringan 5 – 7 kesalahan = gangguan intelek sedang 8 – 10 kesalahan = gangguan intelek berat Bila penderita tidak pernah sekolah. 15. T. nilai kesalahan diperbolehkan +1 dari nilai di atas Hasil =1 kesalahan Kesan =Baik SKOR MINI MENTAL STATUS Nama Responden: Ny. Semarang Pukul Mulai : 08. Anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya Ya Tidak daripada anda? Keterangan : Jawaban pasien yang bergaris bawah.30 Max Min 9 .W Nama Pewawancara: Nurul Umur Responden : 68 Tahun Tanggal Wawancara: 6-12-2014 Alamat : Sampangan.

Bacalah dan laksanakanlah perintah berikut: “ PEJAMKAN MATA ANDA” (1 nilai) e. ATENSI DAN KALKULASI 5 (5) Kurangi 100 dengan 7. Tirulah gambar ini (1 nilai ) Jumlah skor : 28 Kategori : Skor 24-30 : normal 17-23 : Probable gangguan kognitif 0-16 : definite gangguan kognitif Skor : 28 Kesan : normal B. provinsi) REGISTRASI 3 (3) Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda. DAN ATAU TAPI (1 nilai) c. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Fisik dilakukan tanggal6 Desember 2014 pukul 09. RECALL 3 (3) Tanyakan kembali nama tiga benda yang telah disebut di atas. Kemudian mintalah respon mengulang ketiga nama benda tersebut. ORIENTASI 5 (5) Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa? 5 (4) Sekarang kita berada dimana? (Nama rumah sakit. Keadaan umum : Baik 10 .00 di Poli Geriatri RSUP Dr. Apakah nama benda ini? Perlihatkan pensil atau arloji (2 nilai) b. BAHASA 9 (8) a. Laksanakanlah 3 buah perintah ini: Peganglah selembar kertas dengan tangan kananmu. Berikan nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. Ulangi hingga benar menyebutkan. Hentikan setelah 5jawaban. Atau disuruh mengeja terbalik kata “ WAHYU “ (nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan. Ulangi kalimat berikut : “ JIKA TIDAK. Kariadi Semarang.Hitung jumlah percobaan dan catat : 2 kali. nomor rumah. lipatlah kertas tersebut pada pertengahan dan letakkan di lantai (3 nilai ) d. Tuliskanlah sebuah kalimat (1 nilai) f. jalan.misalnya : satu detik untuk tiap benda. kota kabupaten. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. DATA OBJEKTIF 1.

reguler. gigi palsu (-) Tenggorok : T1-1. kuat angkat (-). faring hiperemis (-) Leher : trakeaditengah. nyeri tekan tragus (-/-) Hidung : discharge (-). retraksi suprasternal (-). thrill (-) Perkusi : Batas atas : SIC II linea parasternalis sinistra Batas kiri : SIC V 2 cm medial LMCS Batas kanan :SIC II linea parasternal dextra Pinggang jantung tak melebar Auskultasi : HR= 90x/menit.Kesadaran : Composmentis. sela iga melebar (-) Cor Inspeksi :Ictus cordis tidak tampak Palpasi :Ictus cordis teraba di SIC V 2 cm medial LMCS. JVP R+0 Thorax :bentuk normal. pucat (-) Mata :konjungtiva palpebra pucat(-/-). pulsasi parasternal (-) pulsasi epigastrial (-). GCS E4V5M6=15 Tanda vital : TD : 150/90 mmHg (tiduran) 140/90mmHg (berdiri) RR : 22x/menit N : 90x/menit. pembesaran nnll -/-. gusi berdarah (-). bising (-).70C (aksiler) Status gizi :BB : 65kg TB :154cm IMT :27. bibir sianosis (-). bibir pucat (-). nafas cuping hidung -/- Mulut : lidah tifoid (-). pursed lip breathing (-). bibir kering (-).reguler. gallop(-) Pulmo Anterior Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis Palpasi : stem fremitus kanan sama dengan kiri 11 . epistaksis (-).tinitus (-/-). BJ I-II normal . discharge (-/-). konjungtiva suffusion (-) Telinga :pendengaran cukup. retraksi supraklavikular(-) retraksi intercostal -/-. sklera ikterik (-/-). kerutan dahi simetris Kulit : turgor kulit cukup. isi dan tegangan cukup t : 36. obstruksi (-).4 kg/m2 Kesan : obesitas Kepala :mesosefal. sternal lift (-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG *Kimia Klinik (6 Desember 2014) Kolesterol total 217 mg/dL < 200 Trigliserid 71 mg/dL < 150 HDL kolesterol 71 mg/dL 40-60 LDL Direk 137 mg/dL 0-100 12 . -/- 2. Refill <2”/ <2” <2”/ <2” Refleks fisiologis + N +N Refleks Patologis -/.pekak sisi (+) normal. suara tambahan (-/-) Pulmo Posterior Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis Palpasi : stem fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor seluruh lapangan paru Auskultasi :suara dasar vesikuler. nyeri tekan (-). hepar dan lien tak teraba. bruit (-) Perkusi : timpani. Ekstremitas : superior inferior Oedem -/. nyeri ketok costovertebra (-) Palpasi :supel. area traube timpani. ballotement (-). suara tambahan (-/-) Anterior kanan-Kiri Posterior Kiri-Kanan vesikuler Abdomen : Inspeksi : datar. Perkusi : sonor seluruh lapangan paru Auskultasi :suara dasar vesikuler. -/- Akral dingin -/. -/- Clubbing finger -/. liver span 8 cm. -/- Sianosis -/. pekak alih (-). -/- Cap. venektasi (-) Auskultasi : bising usus (+) normal.

Ureum 39mg/dL 15-39 Kreatinin 0. 5. Leher tegang 3.4 kg/m2 7. Mual 4. Nyeri Kepala di kepala bagian belakang 2. AKS The 14 I Immobility Impaction Instability Iatrogenik Intelectual impairment Insomnia Inkontinensia Isolation 13 . HDL kolesterol 71 mg/dL. LDL direk 137 mg/dL V. RPD : Riwayat sakit darah tinggi dan hiperkolesterolemia sejak 1 tahun lalu tetapi teratur minum obat 6.5 mg/dL 2. IMT = 27.30 Asam Urat 4. Pandangan berkurang (+) jarak dekat. Kimia klinik : kolesterol total 217 mg/dL. TD = 150/90 mmHg (tiduran) TD = 140/90 mmHg (berdiri) 8.6-1. menggunakan kacamata sejak usia 50 tahun.8 mg/dL 0. Sindroma Geriatri  Sindroma serebral (-)  Konfusio (-)  Gangguan otonom (-)  Inkontinensia(-)  Jatuh (-)  Kelainan tulang atau patah tulang (-)  Dekubitus (-) B.6-6. DAFTAR MASALAH A. DAFTAR ABNORMALITAS 1.0 IV.

:-Memberikan penjelasan pada pasien tentang penyakitnya  Edukasi mengenai perubahan life style: (1) Mengurangi makanan yang banyak mengandung garam. X-Foto Thorax. Fibrinogen. factor von willebrand. : Ureum kreatinin. Sekunder . RENCANA PEMECAHAN MASALAH 1. USG Abdomen Ip. diet DASH -Simvastastin 1 x 10 mg 14 . tekanan darah setiap bulan Ip. PPT/PPTK. Mx. Komplikasi : HHD . hearing Impecunity C. Rx. Problem Medis 1. Hiperkolesterolemia Assessment : Komplikasi : . 7) 2. Etiologi : faktor psikososial Ip. Urin rutin. 2. 3) 5.Diet DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) 1700 kkal. Hiperkolesterolemia (5. diet rendah garam Ip. Obesitas (6) 4. smell. Impotence Imuno deficiency Infection Inaniaton Impairment of vision (+).Amlodipine 1 x 10 mg . Hipertensi Stage I (5. Hipertensi Stage I Assessment: . Presbiopi (4) VI. Tension Type Headache (1. Primer . Dx. : . 8) 3.Diet rendah lemak jenuh dan kolesterol.Hati yang berlemak -Hiperkoagulibilitas Ip Dx : Darah rutin. LFT IP Tx : . : keluhan nyeri Kepala. Garam tidak lebih dari 6 gram atau satu sendok teh garam dapur (2) Istirahat yang cukup  Edukasi untuk rutin kontrol ke dokter dan minum obat antihipertensi secara teratur 2.Ex.

Edukasi mengenai perubahan gaya hidup :  Mengurangi makanan berlemak dan mengurangi makanan yang banyak mengandung lemak. HbA1c Ip Rx : -Olahraga 5x seminggu @30 menit di tempat pusat olahraga yang memiliki disiplin waktu dan tempat -Diet 1700 kkal terbagi menjadi  karbohidrat kompleks  60% x 1700 kkal = 1020 kkal  diet rendah lemak jenuh  25% x 1700 kkal = 425 kkal  tinggi protein 15% x 1700 kkal = 255 kkal Ip Mx : Monitoring lingkar perut.Edukasi untuk mengenakan kacamata jika membaca. gula darah I/II. . berat badan tiap minggu Ip Ex : Edukasi mengenai perubahan gaya hidup :  Kendalikan tekanan darah. bersantan dan berminyak  Olahraga seperti jalan pagi atau senam -Edukasi pasien untuk minum obat secara teratur -Edukasi pasien untuk kontrol profil lipid secara teratur 3. 15 .Edukasi kepada pasien untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika terdapat keluhan Nyeri Kepala di kepala bagian belakang dan pandangan terasa lebih kabur secara tiba-tiba. IP Mx : Profil lipid 3 bulan lagi IP Ex : . Obesitas Assesment : -Sentral -Perifer Ip Dx : Ukur lingkar perut. gula darah dan kolesterol  Olahraga sedang seperti jalan pagi atau senam 4. Presbiopi Assesment : -Retinopati Hipertensi -Gangguan akomodasi mata (proses penuaan) Ip Dx : Konsul bagian Mata Ip Rx : Koreksi bila ada gangguan akomodasi sesuai vision Ip Mx : Kontrol mata tiap tahun Ip Ex :.

Proses menua dipengaruhi oleh faktor eksogen dan endogen yang dapat menjadi faktor risiko penyakit degeneratif. Teori Proses Menua Penuaan adalah proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan untuk memperbaiki diri. 5. MSCT Scan kepala IP Mx : Keluhan nyeri kepala IP Rx : - Ip. Ex : Konseling BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. ASPEK KESEHATAN LANJUT USIA1 A. Teori Genetika 16 . yaitu : 1. Teori proses menua ada bermacam-macam. Penuaan terjadi terus menerus dalam kehidupan yang ditandai dengan perubahan-perubahan anatomik. Home visit.Sekunder Problem 1 -Mencari etiologi : Neurologis = cephalgia Problem psikososial = depresi IP Dx : Konsul neurologi. biomekanisme dalam tubuh sehingga mempengaruhi fungsi sel. Tension Type Headache Assesment : . Yang dapat diusahakan adalah tetap sehat pada saat menua “Healthy Aging”. mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga lebih rentan terhadap penyakit dan tidak dapat memperbaiki kerusakan yang dideritanya. Menua atau menjadi tua merupakan proses yang dialami oleh semua orang dan tidak dapat dihindari. fisiologik.

Teori genetika berhubungan dengan DNA. Perubahan ini terjadi karena jaringan limfoid yang berubah. mutasi somatik. Teori Wear And Tear Teori ini mengemukakan bahwa akumulasi sampah metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA. faktor yang ada dalam lingkungan dapat membawa perubahan dalam proses penuaan. Teori Lipofusin dan Radikal Bebas 17 . Perubahan ini juga dapat menyebabkan penyakit autoimun. trauma dan infeksi. Struktur protein rantai silang ini merusak sel dan jaringan. Riwayat Lingkungan Menurut teori ini. mengakibatkan ketidakseimbangan sel T untuk memproduksi antibodi. Teori Imunitas Teori ini berdasarkan dari adanya penurunan sistem imun seiring dengan bertambahnya usia. 6. 3. Faktor-faktor tersebut merupakan karsinogen dari industri. 4. proses menua adalah hal yang tidak dapat dihindari dan akan semakin terlihat bila usia bertambah. 5. sehingga apabila terjadi kesalahan pengkodean DNA akan berdampak pada kerusakan tingkat seluler yang lama-kelamaan akan mengakibatkan malfungsi organ. Teori ini mengemukakan bahwa program genetik memiliki semacam jam biologis dimana program maksimal yang diturunkan adalah selama 110 tahun. Kematian sel terjadi karena jaringan yang sudah tua tidak beregenerasi. Teori Rantai Silang Teori rantai silang ini mengemukakan bahwa struktur protein normal yang seharusnya sudah terpisah diikat oleh suatu reaksi kimia. Teori ini berdasarkan pada fungsi DNA sebagai pembawa informasi aktivitas sel. Sel manusia normal secara genetik diprogram untuk berhenti membelah setelah 50 kali. yang menurunkan kekebalan tubuh. Teori genetika adalah teori yang mengemukakan bahwa penuaan merupakan proses alami yang telah diwariskan secara turun-temurun (genetik) dan mengubah sel dan struktur jaringan tubuh tanpa disadari. yang akan mengakibatkan gangguan pada fungsi sel itu. yang meningkatkan kemungkinan mengalami infeksi dan kanker. Sehingga menurut teori genetika. memperlambat kerja tubuh dan menyebabkan mutasi pada sel. teori ketepatan dan kesalahan. cahaya matahari. dan teori glikogen. 2.

perilaku yang memiliki tujuan. Peran lipofusin adalah mengganggu transportasi sel dan replikasi DNA. rutinitas yang dilakukan setiap hari. Orang meninggal karena penyakit yang menghentikan sebagian fungsi tubuh. Teori Neuroendokrin Teori neuroendokrin adalah teori yang menjelaskan proses penuaan melalui hormon. Teori Umur Panjang dan Penuaan (Longevity and Senescence Theories) Teori ini mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor tambahan berikut yang dapat berkontribusi untuk umur panjang : tertawa. Hal ini menyebabkan kemampuan hipotalamus dalam mengatur dan mendeteksi tingkatan hormon individu menjadi kurang sensitif. Normalnya akumulasi tidak terjadi karena radikal bebas dihancurkan oleh enzim pelindung. dan hidup positif. Lama-kelamaan kortisol dapat merusak hipotalamus yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengendalikan sistem. kematian tidak akan terjadi. Teori Organ Tubuh (Single Organ Theory) Teori ini berkaitan dengan kegagalan penyakit yang berhubungan pada suatu organ tubuh vital. Kortisol yang bertanggung jawab untuk menyebabkan stress tubuh jumlahnya meningkat dengan usia. terorganisir. Radikal bebas adalah produk sampah metabolisme yang dapat menyebabkan kerusakan bila terakumulasi. percaya pada Tuhan. 8. Radikal bebas dapat menyebabkan gangguan genetik dan menghasilkan sampah- sampah metabolik di dalam inti dan sitoplasma. walaupun sebagian tubuh lainnya masih mampu hidup. Perubahan Fisiologis dalam Proses Penuaan 18 . 9. Teori ini berasumsi bahwa jika tidak ada penyakit dan kecelakaan. B. Penuaan diperkirakan karena akumulasi kerusakan sel yang akan mengganggu fungsi. radiasi. 7. sinar ultraviolet. mengakibatkan perubahan pigmen dan kolagen pada proses penuaan. Penuaan terjadi karena adanya keterlambatan sekresi hormon tertentu sehingga berakibat pada sistem syaraf.Hormon tubuh berperan untuk mengatur organ-organ tubuh dalam melaksanakan tugasnya dan sebagai penyeimbang fungsi tubuh apabila terjadi gangguan. Zat yang mendukung teori ini adalah lipofusin. kebebasan dan kemerdekaan. sampah metabolik berpigmen yang kaya lemak dan protein. ambisi rendah. hubungan keluarga baik. yang kemampuannya menurun seiring dengan penambahan usia. Pengeluaran hormon diatur oleh hipotalamus. Radikal bebas terdapat di lingkungan seperti asap kendaraan bermotor.

Pada panca indera didapatkan perubahan degeneratif otot akomodasi. Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia akibat perubahan degeneratif. psikis).Fungsi telinga juga menurun akibat hilangnya sel rambut organo corti. degenerasi neuron kortikal sehingga visus dapat terganggu.Degenerasi katup jantung. Secara umum. perubahan nafsu makan. turunnya elastisitas otot dan tulang rawan laringsehingga timbul gangguan pengecapan. Dalam sistem pencernaan terjadi atrofi mukosa. serta penyakit pada usia lanjut. sindroma geriatri.3 Metabolisme pada lansia menurun akibat penurunan perubahan T4 menjadi T3. penurunan aliran darah. sosial. Sistem kardiovaskuler berubah dimana terjadi penebalan dan kekakuan dinding pembuluh darah. jaringan ikat periorbita. perubahan elastisitas lensa. estrogen yang menurun juga mempengaruhi tulang sehingga mempermudah terjadinya osteoporosis.3 C. dan noradrenalin terganggu sehingga lansia mudah mengalami hipotensi postural dan kesulitan regulasi suhu. terjadi degenerasi epitel. dan jaringan sendi membuat penurunan elastisitas dan mobilitas sendi yang menimbulkan kekakuan pada lansia. Assesment Kesehatan dan Penyakit pada Usia Lanjut Konsep kesehatan usia lanjut meliputi fungsi fungsional individu bermanifestasi pada aktivitas hidup sehari-hari (fisik.3 Kulit menjadi atrofi dan mengalami penipisan lemak subkutan sehingga elastisitasnya turun. Dengan ini lansia peka terhadap pneumonia dan mdah mengalami gagal respirasi.Degenerasi tulang rawan. turunnya reflex batuk dan menelan.2. malabsorpsi makanan.Hal ini menyebabkan lansia mudah terkena abrasi dan infeksi kulit. Perubahan dalam penuaan terdiri dari perubahan anatomi. Penanganan geriatrik dipusatkan pada strategi pencegahan meliputi pencegahan primer. dan psikososial akibat proses menua.Transmisi asetilkolin.Sistem imunologi menurun dengan hasil timbulnya penyakit autoimun dan kanker. dan kelemahan otot pernafasan sehingga kapasitas vital menurun dan reflex batuk menurun. dopamine. dan tersier lewat modifikasi perilaku dan gaya hidup. Sistem respirasi berubah dimana elastisitas alveolus menurun. Dengan ini lansia akan mudah tersedak dan mengalami kekurangan gizi.Penurunan hormon seksual menurunkan fertilitas. sehingga terjadi penurunan curah jantung dan mempengaruhi aliran darah otak. patologi. sekunder. kesulitan mencerna makanan. postur tubuh lansia juga akan menjadi bungkuksehingga mudah terjadi nyeri punggung. fungsi kelenjar lakrimalis. ligament. 19 .

menemukan adanya impairment. atau handicap yang perlu rehabilitasi. progresif. incontinence  “the 14 I” :Imobility. Sifat penyakit pada lansia memiliki perbedaan mendasar dengan penyakit dewasa umumnya menyangkut beberapa hal berikut : Parameter Usia Lanjut Usia Muda Etiologi  Endogen (dari dalam)  Eksogen (dari luar) Tersembunyi  Jelas. Allen et al dikenal istilah Geriatric Giants sebagai berikut : 1. Infection. smelling. Insomnia. Inanition. Impotence. disabilitas. instability. Immunodefficiency. Assesment ini bertujuan menegakkan diagnosis kelainan yang fisiologis maupun patologis. nyata Kumulatif/multipel  Spesifik. Impaction. Sindroma Geriatri Dalam menilai kesehatan lansia perlu dibedakan antara perubahan akibat penuaan dengan perubahan akibat proses patologis. incontinence. Sindroma Serebral Pada lanjut usia terjadi penurunan aliran darah otak sekitar 30 mL/100 gram jaringan otak/menit. Beberapa problema klinik dari penyakit pada lanjut usia yang sering dijumpai. Impairment of Vision. menilai sumber daya ekonomi. impaired homeostasis  “the big three” : intelectual failure. kronik  Florid (jelas sekali)  Tidak khas  Khas. Instability. Isolation. Sindroma geriatri antara lain adalah:  “the O complex” : fall. hearing. confusion. Penurunan ini dapat menimbulkan sindroma serebral. tunggal Lama terjadi  Recent Awitan Gejala  Insidious. Impecunity Menurut Brocklehurst. D. Iatrogenic. Incontinence. dan lingkungan pasien. iatrogenic disorders. Intelectual Impairment. sosial. memenuhi hukum Parsimoni (gejala dan tanda khas untuk masing- masing penyakit) Perjalanan Penyakit  Kronik/menahun.  Self-limiting  Memberi kekebalan menyebabkan cacat lama  Menjadi rentan penyakit lain Variasi individual  Beragam  Kecil Oleh karena itu penanganan penderita geriatri harus menyeluruh (holistik) dengan model analisis multi disiplin (Assesment Geriatri). yaitu 20 .

Beberapa gangguannya adalah hipotensi orthostatik. Inkontinensia Inkontinensia adalah pengeluaran urin (atau feses) tanpa disadari. 4.Gejala yang timbul dapat dapat berupa gejala umum (rigiditas. sulit berjalan) gejala klinis daerah yang diperdarahi carotis (TIA. Arteritis) dan vertebrobasiler (drop attack. batu. Gangguan Otonom Pada lansia terjadi penurunan kolin-esterase dan aktifitas reseptor kolin yang berakibat penurunan fungsi otonom. trauma medulla spinalis. Pada lansia dapat terjadi adanya penurunan elastisitas pembuluh darah. tendensi condong ke belakang. gangguan barorefleks akibat tirah baring lama. hipovolemia.Penyebab inkontinensia berasal dari kelainan urologik (radang. 3. pemeriksaan Mini Mental State Examination dan penyebab pastinya dengan pemeriksaan patologi.Perjalanannya bertahap dan tidak ada gangguan kesadaran. Dementia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan ingatan sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. gangguan pengaturan suhu. tumor). Gangguan regulasi suhu juga ditemukan pada lansia sehingga mereka rentan mengalami hipertermia maupun hipotermia. CVD. kelainan neurologik (stroke. perubahan patologik pembuluh darah otak. atau penyakit SSP maupun neuropati lain (Parkinson.Diabetes dan hipertensi menurunkan aliran darah otak dengan timbulnya angiopati. Karena autoregulasi sebagai mekanisme proteksi otak mengalami penurunan. Hipotensi orthostatik adalah penurunan tekanan sistolik/diastolik sebanyak 20 mmHg pada saat berubah dari posisi tidur ke posisi tegak setelah 1-2 menit. diabetes mellitus).Hal ini terjadi akibat penurunan isi sekuncup jantung dan perpindahan darah ke posisi bawah tubuh. atau 21 . hiponatremia. Kelainan vaskuler arteriosklerosis mengurangi perfusi otak yang menimbulkan infark lakuner.TIA). pemberian obat hipotensif. dementia). dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial. sedikit perubahan tekanan darah atau diameter arteri otak akan mengurangi aliran darah otak yang sulit dikompensasi oleh lansia. Konfusio Akut dan Dementia Konfusio akut adalah gangguan menyeluruh fungsi kognitif yang ditandai oleh memburuknya secara mendadak derajat kesehatan dan kewaspadaan dan proses berpikir yang berakibat terjadinya disorientasi. peningkatan reflex. kandung kemih. 2. Stroke.Diagnosis dementia ditegakkan dengan anamnesis. gerakan esophagus dan usus besar.

farmakologis. Pharmasi poliuri. efisiensi kapiler pada kulit berkurang.Jatuh menimbulkan komplikasi perlukaan jaringan lunak dan fraktur (terutama pelvis. kognisi. Pada penderita imobil. dan fungsi muskuloskeletal. 1995). Tekanan darah diukur dengan spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman. daya regang.5-1% dari berat tulang wanita pasca menopause dan pria >80 tahun menurun. posisi duduk punggung tegak atau terlentang paling sedikit selama lima menit sampai tiga puluh menit setelah merokok atau minum kopi. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. gesekan. proprioseptif). dan regangan dengan berpindah posisi.Kondisi jatuh dipengaruhi stabilitas badan yang ditunjang oleh sistem sensorik (penglihatan. Infection. susunan saraf pusat. sehingga timbul iskemi dan nekrosis. dan keganasan tulang. asupan gizi yang cukup. Kelainan tulang yang timbul dapat berupa osteoporosis. dan kelembaban. Tatalaksana inkontinensia urin meliputi behavioral training (bladder training. pembedahan. Physiologic factor. risiko meninggal. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan. Definisi Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg (Wilson LM. jaringan kolagen dan elastisitas berkurang. 5. Restricted mobility. tekanan jaringan akan melebihi tekanan kapiler. Atrophic vaginitis/uretheritis.Inkontinensia akut yang biasanya reversible data diformulasi dengan akronim DRIP yang merupakan Delirium. 6. lainnya (imobilisasi. Infeksi inflamasi impaksi feses. pelvic floor exercise). Pharmaceuticals. HIPERTENSI2 A. osteomalasia. mengrangi gesekan. vestibuler. Dekubitus Usia lanjut memiliki potensi dekubitus karena jaringan lemak subkutan berkurang. menjaga kelembaban kulit. lingkungan). II. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk membedakannya dengan 22 . Jatuh Sebanyak 30% lansia ≥65 tahun mengalami jatuh. kolum femoris). Stool impaction. Excess urine output. Kelainan Tulang dan Patah Tulang Setiap tahun 0. Pencegahan ulkus dapat dilakukan dengan membersihkan kulit. Juga dengan akronim DIAPPERS :Delirium. disabilitas. pendengaran. osteomielitis. imbilisasi. 7.Perlu diingat komplikasi ulkus decubitus adalah sepsis. Restriksi mobilitas retensi.

hipertensi derajat 1 dan derajat 2. Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention. Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal.hipertensi lain yang sekunder karena sebab-sebab yang diketahui. ACE memegang peran 23 . Patofisiologi Hipertensi6 Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). 4 Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VIII5 Tekanan darah Tekanan darah Klasifikasi tekanan darah sistolik (mmHg) diastolik (mmHg) Normal <120 Dan < 80 Prehipertensi 120 – 139 Atau 80-89 Hipertensi tahap I 140 – 159 Atau 90-99 Hipertensi tahap II > 160 Atau >100 C. Klasifikasi Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata dua kali atau lebih pengukuran pada dua kali atau lebih kunjungan. Detection.2.3 B. prahipertensi.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Komplikasi6 24 . Akibatnya. Selanjutnya oleh hormon. fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. D. volume sirkulasi darah. tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. asupan garam dalam diet. volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. kaliber vaskuler. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. 2009). sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis). renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. curah jantung. Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang kadang-kadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. 2008 dalam Anggreini AD et al. elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Dengan meningkatnya ADH. Progresifitas hipertensi dimulai dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun (dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 30-50 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60 tahun(Menurut Sharma S et al. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. jantung. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru. dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil. aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. retina dan susunan saraf pusat. hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi dengan komplikasi. Patogenesis hipertensi esensial dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik. Untuk mengencerkannya. angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. ginjal. Setelah periode asimtomatik yang lama. viskositas darah. aktivitas vaskuler.

Kelainan hemodinamik utama pada jenis ini adalah peningkatan resistensi perifer. gagal jantung kongestif. ras. sensitivitas pada natrium. Hipertensi sekunder Prevalensinya hanya sekitar 5-8% dari seluruh penderita hipertensi. riwayat keluarga. Penyebab hipertensi6 Berdasarkan etiologinya. stroke. alkohol yang berlebihan. b. hipertensi dibagi atas hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. dan resistensi insulin ) dan faktor lingkungan ( makan garam berlebihan. kepekaan terhadap stress. peningkatan reaktivitas vaskular terhadap vasokonstriktor. Dengan pendekatan sistem organ dapat diketahui komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi.Hipertensi ini dapat disebabkan oleh penyakit ginjal (hipertensi renal). dan obesitas). gangguan penglihatan dan penyakit ginjal. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. penyakit endokrin (hipertensi endokrin). a. Hipertensi yang tidak diobati akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. stress psikis. Yang menjadi penyebab jenis ini adalah faktor genetik ( terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskuler dari keluarga. F. faktor resiko hipertensi lain meliputi diabetes. Faktor risiko hipertensi6 Dengan perubahan fisiologis normal penuaan. obat dan lain-lain. faktor gaya hidup seperti obesitas. jenis kelamin. 25 . Hipertensi merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya penyakit jantung. asupan garam yang tinggi. yaitu: Sistem organ Komplikasi Hipertensi Jantung Gagal jantung kongestif Angina pectoris Infark miokard Sistem saraf pusat Ensefalopati hipertensif Ginjal Gagal ginjal kronis Mata Retinopati hipertensif Pembuluh darah perifer Penyakit pembuluh darah perifer E. Hipertensi esensial (primer/idiopatik ).

karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun. seperti riwayat keluarga (genetik kromosomal). Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun. Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol. c. Umur Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya. wanita : > 65 tahun). 26 .Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami. sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. antara lain: 1. b. yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. Tetapi pada kebanyakan kasus. umur (pria : > 55 tahun. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol: Faktor risiko yang tidak dapat diubah. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). a. Faktor Keturunan (genetik) Individu dengan orangtua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi. hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut.Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. hipertensi sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. jenis kelamin pria atau wanita pasca menopause.5%. Jenis kelamin Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.

Obesitas Pada usia ±50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. terutama tekanan darah sistolik. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku. b. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. hipertensi. semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan yang mendesak arteri. c. Kelompok lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis. dan akibat dari berkurangnya kelenturan. karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu. d. terutama aorta. Kurang Olahraga. 2. Kebiasaan Merokok Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih. Itu sebabnya berat badan meningkat. wanita : > 65 tahun. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Faktor resiko yang dapat dikontrol: a. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri- arteri utama. jantung dan pembuluh darah. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah. Mengkonsumsi garam berlebih 27 . Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.

Minum kopi Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg kafein. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar. Pengukuran tekanan darah berulang. Riwayat penyakit Riwayat penyakit yang seharusnya dicari adalah : . JNC 7 menyebutkan bahwa diagnosis hipertensi ditegakkan berdasarkan rata-rata dari 2 atau lebih pengukuran posisi duduk pada setiap 2 atau lebih kunjungan. Minum alkohol Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ- organ lain. Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi.4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. e. f. sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2. Lama dan level tekanan darah sebelumnya. 2. di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5-10 mmHg.langkah pemeriksaan meliputi :10 1. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi. Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. 28 . g. sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Stress Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Tekanan darah mengalami variasi yang besar baik dalam sehari maupuin di antara hari yang berbeda sehingga pengukuran tekanan darah harus dilakukan beberapakali pada keadaan yang berbeda. Jika tekanan darah hanya meningkat ringan maka pengukuran diulang selama beberapa bulan. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. termasuk pembuluh darah. Diagnosis7 Langkah. G.

bronkospasme. Arteri perifer : pulsasi yang hilang. . ekstremitas dingin dan lesi kulit iskemi. keluarga dan lingkungan. gallop. Pemeriksaan fisik Pengukuran tekanan darah juga dilakukan pada lengan kontralateral. . Gejala yang mengarah pada hipertensi sekunder dan obat yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah. 4. . Kelainan funduskopi. Tanda sindroma Cushing . . . 3. Pemeriksaan fisik harus mencari adanya tanda kerusakan target organ. merokok. garam dan alkohol. irama jantung. diabetes melitus. Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor – factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. anemia. Gaya hidup seperti diet lemak hewani. Riwayat penyakit dahulu : penyakit jantung koroner. Pemeriksaan Penunjang Hipertensi Pada Lansia a. . Tekanan darah femoral yang berkurang dan denyut yang terlambat dan mengurang ( koartasio aorta) Tanda kerusakan organ : . berkurang atau asimetri. atau penyakit lainnya dan obat yang dipakai. Murmur abdomen ( hipertensi renovaskular) . Riwayat pribadi. Otak : murmur di arteri leher. 29 . . faktor risiko ( obesitas sentral) dan kemungkinan penyebab hipertensi sekunder yaitu : Tanda hipertensi sekunder : . Palpasi pembesaran Ginjal ( ginjal polikistik) . defek motorik dan sensorik. dan udem. Jantung : tanda pembesaran jantung. . Stigmata kulit neurofibromatosis ( feokromositoma) . ronki basah. gagal jantung. Murmur precordial ( Koartasio aorta) . gout. aktifitas fisik dan penambahan berat badan sejak awal usia dewasa. Terapi antihipertensi sebelumnya. dislipidemi.

peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi. j.b. Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) g. IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim ginjal. k. EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. gangguan konduksi. Urinalisa Darah. Kalium serum Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik. m. Pemeriksaan tiroid. Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ). n. 30 . CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi. d. f. pola regangan. i. e. o. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi. batu ginjal / ureter. Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi. protein. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal c. Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. ensefalopati. Glukosa Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi). h. perbesaran jantung. Steroid urin Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme l.

TIA. sayur dan 8-14 mmHg makan rendah lemak . Rekomendasi terapi WHO/ISH tidak lagi terbatas pada hipertensi stage 1 dan 2 tetapi juga penderita dengan tekanan darah normal tinggi.9 5-20 mmHg/ 10 kg . meningkatkan efektifitas obat antihipertensi dan menurunkan risiko kardiovaskular. H.Modifikasi gaya hidup untuk mengatasi hipertensi9 Perkiraan Penurunan Modifikasi Rekomendasi Tekanan darah sistolik . Level tekanan sistolik dan diastolik.4 g 2-8 mmHg Na atau 6 g NaCl . Modifikasi gaya hidup Modifikasi gaya hidup dapat menurunkan tekanan darah. a. Total risiko kardiovaskuler 2. jika terapi farmakologi untuk hasil tekanan darah sistolik yang menurun (misal <140 mmHg) dan terapi sudah dapat ditoleransi dan tanpa efek merugikan pada kesehatan atau kualitas kehidupan.Pada populasi umum berumur ≥60 tahun.Diet rendah Natrium Diet Natrium tidak lebih dari 2. Terapi Pedoman untuk memulai terapi anti hipertensi berdasarkan dua kriteria yaitu : 1.Pemberian terapi pada penderita dengan tekanan darah normal tinggi terbatas pada penderita dengan risiko tinggi sedangkan penderita dengan risiko sedang dan rendah hanya dilakukan pengawasan ketat dan perubahan gaya hidup. perencanaan diet natrium 1600 mg mempunyai efek yang sama dengan pemberian terapi 1 macam obat.5-24. Pada populasi berumur ≥60 tahun. lakukan terapi farmakologi bila tekanan darah sistolik pada ≥150 mmHg atau tekanan darah diastolik pada ≥90 mmHg dan obati dengan tujuan tekanan darah sistolik <150 mmHg dan <90 mmHg. Tabel 1. Sebagai contoh.Aktivitas Fisik Aktifitas aerobik minimal 30 4-9 mmHg menit sehari 31 .Penurunan BB Pertahankan BMI 18. terapi tidak perlu dibuat ulang. Bukti-bukti penelitian menunjukkan bahwa penderita dengan tekanan darah < 140/90 dengan riwayat stroke.Perencanaan pola Konsumsi kaya buah. jika tidak diterapi memiliki insiden kejadian Kardiovaskular 17% dalam 4 tahun.

terapi dimulai bertahap. lacak. dan pada tekanan darah 140/90 mmHg untuk setiap orang lainnya. terapi dimulai dengan monoterapi. β blocker. Jika tekanan darah tujuan tidak tercapai dalam 1 bulan terapi. Dokter harus terus menilai tekanan darah dan menyesuaikan regimen terapi hingga tekanan darah tujuan tercapai. Strategi Terapi8 Pada kebanyakan pasien. Jangan gunakan ACE inhibitor dan ARB bersamaan pada pasien yang sama. angiotensin receptor blockers (ARBs). tidak jarang diperlukan kombinasi dengan beberapa obat. oleh karena itu target terapi adalah kurang dari 150/90 mmHg. bahwa keempat pilihan obat tersebut baik. Tujuan JNC VIII adalah ingin membuat pesan yang sangat simpel untuk dokter: terapi pada tekanan darah 150/90 mmHg untuk pasien berusia >60 tahun.. tambahkan dan titrasi obat ketiga dari daftar yang diberikan.Untuk mencapai target tekanan darah. Target Terapi Target penurunan tekanan darah adalah kurang 140/90mmHg yang dapat menurunkan komplikasi penyakit jantung. calcium chanel blocker dan thiazide akan mengurangi semua komplikasi hipertensi. dan pantau kembali pasien. Yang juga penting adalah pantau.Pada penderita hipertensi dengan diabetes dan penyakit ginjal maka targetnya juga kurang dari 140/90mmHg. dan target tekanan darah dicapai dalambeberapa minggu. Penelitian ALLHAT. tingkatkan dosis obat awal atau tambahkan dengan obat kedua dari salah satu golongan obat di atas. Penelitian HOT pada Hipertensi stage 2 dan 3 menunjukkan hanya 25-40% penderita yang 32 . juga menyederhanakan regimen obat.Konsumsi alkohol Konsumsi alkohol tidak lebih dari 2-4 mmHg sedang 2 gelas sehari.Tujuan utama terapi hipertensi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah tujuan. Pada lanjut usia penurunan tekanan sistolik di bawah 140 mmHg sulit dicapai. Terapi Farmakologi8 Bukti-bukti penelitian terbaru menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah dengan obat Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor. d. Jika tekanan darah tujuan tidak dapat tercapai dengan 2 obat. Selain itu.Pada Hipertensi Stage 1. c. yangmerekrut stage 1 dan 2 menunjukkan bahwa 60% penderita tetap menggunakan monoterapi. b.

Berdasarkan tingkat tekanan darah awal dan ada atau tidaknya komplikasi. Indapamide 2–4 1 . Chlortalidone 12.5 – 50 1 . masing-masing obat dapat diberi dengan dosis kecil sehingga efek samping minimal. Polythiazide 12.5 – 10 1 . Eplerenone 50 – 100 1 . Furosemide 20 – 80 2 .25 – 2. Nadolod .5 – 10 1 Diuretik hemat . Metalazone 1. Metaprolol 2. Pada penderita diabetes. kebanyakan penderita memerlukan sekurang-kurangnya 2 obat. Tabel 2. Timolol 40 – 160 2 60 – 180 1 20 – 40 2 33 .5 1 0. Sedangkan keuntungan terapi kombinasi adalah lebih besar kemungkinan mengontrol tekanan darah dan komplikasi. Spironolakton blocker 25 – 50 1 Beta blocker . Atenolol 25 – 100 1 .5 – 0. tampaknya baik monoterapi maupun kombinasi cukup beralasan. Amiloride 5 – 10 1–2 . Hidrochlorthiazide .1 1 Loop diuretic .5 – 25 1 . Klortihiazide 125 – 500 1-2 . Triamterene kalium 50 – 100 1–2 Aldosteron Reseptor . Bumetanide 0. Tosemid 2.5 – 1 2 . Metoprolol 50 – 100 1–2 . Propanolol 50 – 100 1 . Keuntungan menggunakan monoterapi adalah bila penderita ternyata tidak toleran dengan obat pertama maka dapat segera diketahui dan diganti obat lain. Bisoprolol . Propanolol long acting 40 – 120 1 . tetap monoterapi. Daftar obat Anti hipertensi Kelas Obat (nama generik) Dosis Frekuensi Penggunaan penggunaan (mg/ hari) per hari Diuretik Thiazide . Betaxolol 5 – 20 1 .

Nifedipine long acting .5 – 20 1 1–4 1 Angiotensinogen II . Acebutolol 200 – 800 2 .Beta blocker . Benazepril 10 – 40 1 . Valsartan 20 – 40 1 20 – 80 1 80 – 320 1–2 CCB – Non . Losartan 150 – 300 1 . Moexipril . Ramipril . Eprosartan Antagonis 400 -800 1–2 .5 – 10 1 .5 – 50 2 . Verapamil immediate 80 – 320 2 release . Telmisartan . Pindolol simpatomimetik 10 – 40 2 Kombinasi Alfa dan . Perindopril 10 – 40 1 . Trandolapril 4–8 1 10 – 80 1 2. Nisoldipine 30 – 60 1 34 . Lisinopril 10 – 40 1 . Quinapril 7.5 – 30 1 . Captopril 25 – 100 2 . Felodipine Dihidropiridin 2. Labetalol Beta Blocker 200 – 800 2 ACEi . Olmesartan 25 – 100 1–2 . Amlodipine 2. Penbutolol aktivitas 10 – 40 1 . Verapamil long acting . Nicardipine sustained 2. Fosinopril 5 – 40 1–2 . Verapamil 120 – 480 1–2 120 – 360 1 CCB . Candesartan 8 – 32 1 . Isradipine . . Diltiazem extended 180 – 240 1 Dihidropiridin release .5 – 20 1 .5 – 10 2 release 60 – 120 2 . Enalapril . Carvedilol 12. Irbesartan .

1– 0. Doxazosin 1 – 16 1 . Peningkatan TD sistolik akan meningkatkan beban kerja jantung dan pada akhirnya akan mengakibatkan penebalan dinding ventrikel kiri sebagai usaha kompensasi/adaptasi.8 2 . Diuretik dan β blocker .1 – 0.3 1 Minggu .1 – 0. Terazosin 1 – 20 1–2 Alpha 2 Agonis . Calcium antagonist dan B Blocker . Prazosin 2 – 20 2–3 . Hipertensi pada Lanjut Usia Dua pertiga penderita lanjut usia (>65 tahun) menderita hipertensi. 10 – 40 1 Alpha 1 Bloker . Kombinasi lain : obat efek sentral demham ACE inhibitor dan angiotensin receptor antagonist I.5 – 80 1–2 Kombinasi obat yang direkomendasikan adalah : . Guanfacine bekerja sentral 0.5 – 2 1 Vasodilator . Hydralazine 25 – 100 2 .  Hipertrofi ventrikel ini yang awalnya adalah untuk adaptasi lama-kelamaan malah akan menambah beban kerja jantung dan menjadi suatu proses patologis. Clonidine patch sentral dan obat 0. Calcium antagonis dan ACE inhibitor atau angiotensin receptor antagonis . 35 . Calcium antagonist dan diuretik . Diuretik dan ACE inhibitor atau angiotensin receptor antagonist . α blocker dan β blocker . Minoxidil langsung 2.25 1 0. Methyldopa lainnya yang . Clonidine 0. Reserpin 250 – 1000 2 . Patofisiologi hipertensi dan penyakit jantung hipertensif pada usia lanjut sedikit berbeda dengan yang terjadi pada usia yang lebih muda :  Akibat perubahan dinding aorta dan pembuluh darah akan terjadi peningkatan tekanan darah sistolik tanpa perubahan tekanan darah diastolik.

 Terjadi disfungsi endotel sehingga mengakibatkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer. infark miokard. Komplikasi Hipertensi merupakan penyakit primer yang memerlukan penanganan yang tepat sebelum berkomplikasi ke penyakit lainnya seperti gagal jantung. Hipertensi sistolik saja Hipertensi ini terdapat 6-12% penderita diatas usia 60 tahun. Reseptor α-adrenergik masih berespons tapi reseptor ß-adrenergik menurun responsnya.  Proses aterosklerosis yang terjadi juga dapat menyebabkan hipertensi. Sehingga sistem renin-angiotensin diduga bukan sebagai penyebab hipertensi pada lansia. Insiden meningkat dengan bertambahnya usia. Hipertensi sistolik-diastolik Terdapat antara 6-8%% penderita diatas usia 60 tahun lebih banyak pada wanita. penyakit jantung koroner. dan penyakit ginjal yang akhirnya dapat berakhir pada kerusakan organ. Hipertensi diastolik Terdapat antara 12-14% penderita diatas usia 60 tahun terutama pada pria.8 Jenis-jenis hipertensi pada usia lanjut5 1. Insiden meningkat dengan bertambahnya usia. Insidensi meningkat dengan bertambahnya usia 2. Keadaan hipertensi yang disertai dengan penyakit penyerta ini membutuhkan obat antihipertensi yang tepat yang berdasarkan pada beragam hasil 36 .  Terjadi perubahan pengendalian simpatis terhadap vaskular. J.  Terjadi penurunan fungsi ginjal akibat penurunan jumlah nefron sehingga kadar renin darah akan turun. terutama pada wanita. Ini terjadi akibat berkurangnya sensitivitas baroreseptor dan menurunnya volume plasma.  Terjadi kecenderungan labilitas tekanan darah dan mudah terjadi hipotensi postural (penurunan tekanan darah sistolik sekitar 20mmHg atau lebih yang terjadi akibat perubahan posisi dari tidur/duduk ke posisi berdiri). 2 Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi lini pertama pada terapi hipertensi sistolik terisolasi adalah diuretik dan Calcium antagonis dihydropyridine. 3. Terapi pada lanjut usia prinsipnya sama dengan terapi hipertensi golongan usia muda tetapi dengan dosis awal yang lebih rendah.

Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total. misalnya hiperkolesterolemia. percobaan klinis. Klasifikasi Klasifikasi dislipidemia dapat berdasarkan penyebab. 37 . trigliserida serta penurunan kadar kolersterol HDL. dan sekunder yang mempunyai penyakit dasar seperti pada sindroma nefrotik. Selain itu dislipidemia juga dapat dikelompokkan berdasarkan profil lipid yang menonjol. hipotiroidisme. 2012. tolerabilitas obat serta tekanan darah target yang harus dicapai. diabetes mellitus. primer yang tidak jelas sebabnya. DISLIPIDEMIA Definisi Kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. hipertrigliseridemi. dan Trigliserid menurut NCEP ATP III 2001 mg/dL Kolesterol Total <200 Optimal 200 – 239 Sedikit tinggi (borderline) ≥ 240 Tinggi Kolesterol LDL <100 Optimal 100 – 129 Mendekati optimal 130 – 159 Sedikit tinggi (borderline) 160 – 189 Tinggi ≥ 190 Sangat tinggi Kolesterol HDL < 40 Rendah ≥ 60 Tinggi Trigliserid <150 Optimal 150 – 199 Sedikit tinggi (borderline) 200 – 499 Tinggi ≥ 500 Sangat tinggi Sumber : Konsensus Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia PORKENI. kolesterol LDL. Klasifikasi acuan kadar Kolesterol Klasifikasi kolesterol total. isolated low HDL cholesterol.5 III. Penentuannya disesuaikan dengan penilaian pengobatan sebelumnya. Penanganan dengan kombinasi obat kemungkinan dibutuhkan. Tabel 3. kolesterol HDL. dan dislipidemia campuran. kolesterol LDL.

obat pilihan adalah golongan fibrat.Pasien sindroma metabolik diklasifikasikan sebagai risiko tinggi PJK.Sasaran kolesterol LDL harus <100 md/dL. Dislipidemia pada hipertensi Beberapa obat anti hipertensi dapat mempengaruhi kadar lipid serum. c. Dislipidemia pada Sindroma Metabolik Macam dislipidemia yang ditemukan pada sindroma metabolik adalah hipertrigliseridemia. Ketiga kondisi tersebut membuat pasien DM tipe 2 sangat berisiko tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskuler. Obat antihipertensi yang mempunyai efek kuat meningkatkan kadar lipid adalah peyekat 38 . Oleh karena itu. sedangkan kadar kolesterol LDL normal atau sedikit meningkat.Kadar kolesterol LDL sasaran adalah < 100 mg/dL. kadar kolesterol HDL rendah. dengan obat golongan statin sebagai lini pertama. b. Dislipidemia pada Diabetes Melitus Macam dislipidemia yang sering ditemukan pada pasien DM tipe 2 adalah hipertrigliseridemi dan kadar kolesterol HDL rendah. d. Dislipidemia pada orang lanjut usia Orang lanjut usia harus diperlakukan sebagai risiko tinggi. Dislipidemia pada keadaan khusus a. Ternyata pada orang lanjut usia penurunan kadar kolesterol LDL dapat mengurangi angka kematian koroner dan infark miokard non-fatal. Sasaran utama adalah menurunkan kadar kolesterol LDL. pada orang lanjut usia tetap perlu dilakukan pencegahan sekunder mengingat orang lanjut usia memiliki risiko tinggi. Diagnosis sindroma metabolic ditegakkan bila terdapat ≥ 3 kriteria berikut : Lingkar pinggang ≥ 90 cm (pria). kecuali dalam kondisi kadar trigliserida ≥ 400 mg/dL. dengan kadar sasaran setara dengan kadar kolesterol LDL ditambah 30 mg/dL. kecuali bila kadar trigliserid >400 mg/dL maka harus dimulai dengan fibrat. partikel LDL kecil padat meningkat. Pada pasien dengan kadar LDL normal maka kadar kolesterol non-HDL dapat dihitung dari kolesterol total dikurangi kolesterol HDL. Sebagai contoh bila kadar kolesterol LDL adalah 130 mg/dL maka kadar kolesterol non-HDL adalah 160 mg/dL. Pilihan obat pertama adalah golongan statin. <50 (wanita) Tekanan darah ≥ 135/85 mmHg Kadar kolesterol LDL sasaran harus disesuaikan dengan risiko PJK yang dimiliki pasien. ≥ 80 cm (wanita) Glukosa darah puasa ≥ 110 mg/dL Trigliserida ≥ 150 mg/dL Kolesterol HDL <40 mg/dL (pria).

f. bila terjadi peningkatan lebih dari tiga kali sebaiknya tidak diberikan fibrat maupun statin.Sedangkan pada penyakit hati kolestastik sering terjadi hiperkolesterolemia. Dianjurkan agar pemberian statin dimulai sejak saat pasien di ruang intensif karena terbukti mengurangi angka kematian. Sedangkan obat antihipertensi yang tidak mempengaruhi kadar lipid atau minimal efekya adalah calcium channel blocker.Tidak dianjurkan kombinasi antara golongan statin dan fibrat. Dislipidemia pada gagal ginjal Pemberian statin maupun fibrat harus hati-hati pada pasien gagal ginjal kronik. antara lain kadar trigliserid meningkat yang puncaknya pada minggu ke-3 pasca infark dan akan kembali sampai kadar semula pada minggu ke-6. dan kembali ke kadar semula setelah 8-12 minggu. pemeriksaan kadar kolesterol sebaiknya dilakukan 48 jam setelah kejadian serangan. Golongan asam nikotinat dapat memperkuat efek penurunan tekanan darah obat vasodilator. tiazid dosis rendah dan sartan (ARB). e. penghambat ACE. Tatalaksana Non Farmakologis  Nutrisi Medis Pada pasien dengan kadar kolesterol total atau kolesterol LDL tinggi maka perlu dikurangi asupan lemak total dan lemak jenuh serta meningkatkan asupan lemak tidak 39 . Pemantauan berkala sebaiknya dilakukan pada pasien dengan peningkatan fungsi hati kurang dari tiga kali. oleh karena itu obat antihipertensi diberi 1 jam sebelum atau 4 jam setelah pemberian obat golongan resin pengikat asam empedu. Golongan resin dapat mengganggu absorpsi obat-obat lain. Dislipidemia pada penyakit hati Penyakit sel hati sering berhubungan dengan hipertrigliseridemia dan penurunan kadar kolesterol HDL. Hal ini terjadi akibat penurunan aktifitas enzim hepatic trigliseride lipase (HTGL). Tatalaksana Dislipidemia a.Sebaiknya statin dimulai dengan dosis kecil dan selalu pantau fungsi ginjal dan enzim CPK. Oleh karena itu. Sebaliknya kadar kolesterol total dan kolesterol LDL menurun sampai kadar terendah pada minggu ke 1-2 pasca infark. beta. Sebelum pemberian obat sebaiknya diperiksa fungsi hati. g. kontraindikasi bila bersihan kreatinin (CCT) < 10 ml/menit.Pemberian fibrat terbatas pada pasien dengan gangguan ginjal ringan. Dislipidemia pada infark miokard akut Pada keadaan infark miokard akut lipid plasma akan mengalami perubahan.

25-35% kemudian ulkus peptic.Niasin 50-100 mg Flushing.5 intoleransi 25-40% gr 3x pemberian glukosa. meningkatkan sensitivitas insulin. 2 atau 3x asam empedu dan pemberian reseptor LDL HMG-CoA ↓ Sintesis kolesterol ↓ LDL-C Lovastatin 10-80 Gangguan reductase ↑ Reseptor LDL 25-45% mg/dL fungsi hati. pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktifitas fisik sesuai dengan kondisi dan kemampuan. jenuh rantai tunggal dan ganda. ↓ LDL-C tingkatkan 1. Pada pasien dengan kadar trigliserida tinggi maka dikurangi asupan karbohidrat. perut enterohepatik asam ↑ HDL-C.Fenofibrat 160 mg fungsi hati. alcohol dan lemak. meningkatkan kebugaran serta menurunkan berat badan. Tata laksana Farmakologis Tabel 4. ↑sintesis TG g. ↑ katabolisme LDL C 25-35% miositis ↑ HDL Asam ↓ sintesis VLDL dan ↓ TG 25. b. Mual. ↓ VLDL-C pemberian. Ringkasan obat untuk pengelolaan dislipidemia Jenis Cara Kerja Lipoprotein Dosis Efek Samping Bile acid Menghambat ↓ LDL-C Kolestiramin 8-12 Obstipasi. Kolestipol 10-15 tidak enak empedu. memperbaiki toleransi glukosa. inhibitors ↓ VLDL Pravastatin 10-40 miosis mg/dL Simvastatin 5-40 mg/dL Fluvastatin 20-40 mg/dL Atorvastatin 10-80 mg/dL Rosuvastatin 10- 20 mg/dL Derivat ↑ LPL dan ↑ ↓ TG 25. HDL gangguan mungkin ↑ fungsi hati 40 . nikotinik LDL 85% tiap kali takikardi.  Aktifitas Fisik Prinsipnya. hiperurisemia. sequestran sirkulasi 20-30% g.Gemfibrozil 600. 2-3x pemberian mual. Dari beberapa penelitian terbukti bahwa aktifitas fisik yang teratur dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL dan ApoA1 dan menurunkan kadar kolesterol LDL dan kolesterol trigliserida.0-2. asam fibrat hidrolisis TG 40% 1200 mg gangguan ↓ sintetis VLDL ↓/↑ VLDL.

0  Berisiko 23. Definisi dan Klasifikasi Obesitas Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik.5 Rendah (risiko Sedang menigkat pada masalah klinis lain Kisaran normal 18.5-22. OBESITAS A. dislipidemia.Keadaan obesitas ini. gangguan fibrinolisis. hiperuresemia.9 Meningkat Moderate  Obes I 25-29. di usus halus 16-18% nyeri perut. Ezetimibe ↓ absorbsi kolesterol ↓ LDL-C 10 mg/hari Sakit kepala.9 Moderate Berat  Obes II ≥30.9 Sedang Meningkat Berat badan lebih ≥23.0-24. terutama obesitas sentral.0 Berat Sangat berat 41 . Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Berdasarkan IMT dan Lingkar Perut Menurut Kriteria Asia Pasifik Risiko Ko-Morbiditas Lingkar Perut IMT (kg/m2) < 90 cm (laki-laki) ≥ 90 cm (laki-laki) Klasifikasi <80 cm ≥ 80 cm (perempuan) (perempuan) Berat badan kurang <18. intoleransi glukosa/diabetes mellitus. Mengukur lemak tubuh secara langsung sangat sulit dan sebagai pengukur pengganti dipakai body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh (IMT) untuk menentukan berat badan lebih dan obesitas pada orang dewasa.Obesitas didefinisikan sebagai sebagi suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan. Tabel 5. diare Asam ↓ sintesis VLDL ↓ 50-60% mual lemak pada hiper omega 3 TG berat IV. dan hipertensi. meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom metabolik dan sindrom resistensi insulin yang terdiri dari resistensi insulin/hiperinsulinemia. hiperfibrinogenemia.

dan tebal lemak di bawah kulit. dan sebagainya. meningkatkan asupan trigliserida dan glukosa.Semua hasil pengukuran tersebut harus dikontrol terhadap umur dan jenis kelamin. digunakan berbagai baku (standar) internasional maupun nasional seperti baku WHO. Perlu ditekankan disini bahwa pemeriksaan tinggi badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna oleh karena terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi tulang-tulang columna vertebral. Dislipidemia yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi trigliserida dan penurunan kolesterol HDL yang merupakan akibat dari pengaruh insulin terhadap Cholesterol Ester Transfer Protein (CETP) yang memperlancar transfer Cholesteryl Ester (CE) dari HDL ke VLDL 42 . Dalam melakukan interpretasi. Hubungan Obesitas Sentral dengan Resistensi Insulin dan Dislipidemia Lingkar perut menggambarkan lemak tubuh dan diantaranya tidak termasuk sebagian besar tulang atau massa otot yang besar yang mungkin akan bervariasi dan mempengaruhi hasil pengukuran.Pengukuran yang dilakukan meliputi berat badan.Insulin merangsang lipogenesis pada jaringan arterial dan jaringan adipose melalui peningkatan produksi acetyl-Co. Resistensi insulin dapat menyebabkan terganggunya proses penyimpanan lemak maupun sintesis lemak. Penentuan Status Gizi Lansia Pemeriksaan antropometrik adalah pengukuran variasi berbagai dimensi fisik dan komposisi tubuh secara umum pada berbagai tahapan umur dan derajat kesehatan. Ukuran lingkar perut berkorelasi baik dengan rasio lingkar perut dan pinggul (WHR) baik pada laik-laki maupun perempuan serta dapat memperkirakan luasnya obesitas abdominal yang tampaknya sudah mendekati deposisi lemak abdominal bagian visceral. NCHC. Untuk itu para ahli sepakat bahwa sebagai gantinya tinggi badan dapat dipakai panjang rentang tangan (armspan) dalam penentuan indeks massa tubuh (BMI). Harvard.Insulin mempunyai peran penting karena berpengaruh baik pada penyimpanan lemak mapun sintesis lemak dalam jaringan adiposa. Hubungan sebab-akibat antara resistensi insulin dan penyakit jantung koroner dan stroke dapat diterangkan dengan efek anabolik insulin.B. lingkar lengan atas. Resistensi insulin pada obesitas sentral diduga merupakan penyebab sindroma metabolik. tinggi badan. Untuk itu para ahli sepakat bahwa sebagai gantinya tinggi badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna oleh karena terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi tulang-tulang columna vertebral. C.

E. untuk decade antara 40-59 tahun.Sebab sekunder meliputi gangguan nafsu makan/selera. berat badan lebih ada 6. Keadaan kelebihan gizi yang dimulai pada awal usia 50 tahunan ini akan membawa lansia pada keadaan obesitas dan dapat pula disertai dengan munculnya berbagai penyakit metabolisme seperti diabetes mellitus dan dislipidemia. Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan 43 .Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kgBB dan untuk pria sebesar 30 kal/kg.  Aktivitas fisik atau pekerjaan Kebutuhan kalori dapat ditabah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. kebutuhan kalori dikurangi 5%.7% dan obesitas 3. berat badan kurang sebesar 28. D. komponen protein HDL. dan dikurangi 20% jika diatas 70 tahun.4%. Terjadi kekurangan gizi pada lansia disebabkan karena sebab yang bersifat primer maupun sekunder.3%. terjadi asupan makanan dan zat-zat gizi meliputi kebutuhan tubuh. gangguan indera.  Umur Untuk pasien di atas 40 tahun. isolasi sosial. berat badan ideal sejumlah 42.Utamanya dari sumber lemak. (trigliserida) dan mengakibatkan terjadinya katabolisme dari ApoA.4%. hidup seorang diri. Resistensi insulin dapat disebabkan oleh factor genetic dan lingkungan. Keadaan Gizi Lansia Lansia seperti juga tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami keadaan gizi lebih maupun kekurangan gizi. peningkatan kebutuhan zat gizi serta alkoholisme. baru kehilangan pasangan hidup.Sebab primer meliputi ketidaktahuan. gangguan mengunyah. gangguan fisik. Kecukupan Gizi Lansia Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kebutuhan kalori antara lain :  Jenis Kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kelebihan gizi pada lansia biasanya berhubungan dengan aflency dan gaya hidup pada usia sekitar 50 tahun. Boedhi Darmoyo (1995) melaporkan bahwa lansia di Indonesiadalam keadaan kurang gizi ada 3.4%.Jenis kelamin mempengaruhi sensitivitas insulin dan otot rangka laki-laki lebih resisten dibandingkan perempuan. Dengan kondisi ekonomi yang membaikdan tersedianya berbagai makanan siap saji yang enak dan kaya energi. gengguan mental. obat-obatan. dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69 tahun. kemiskinan dan iatrogenic. malabsorpsi.

30% dengan aktivitas sedang.5 gelas (2 x 1. serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) diantaranya.5 x 1 gls penuh sayur) 4 Buah 2 x 100 gr 2 x 100 gr (1 pt sedang) (1 pt sedang) 44 .Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200- 1600 kkal perhari untuk pria.5 x 100 gr 1.Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.5 x 100 gr (1.  Berat Badan Bila kegemukan. istirahat. siang (30%). dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan. Tabel 6.5 x 50 gr 2 x 50 gr daging/ikan tempe 5 x 50 gram (1 pt kecil) 4 x 25 gr (1 pt kecil) Tahu 5 x 50 gr 4 x 50 gr 3 Sayur 1. Makanan 1 Nasi 3 x 200 gr 2 x 200 gr (3 x 1.Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%). dan sore (25%).Kecukupan makanan satu hari (usia 60 tahun keatas) No Jenis Bahan Laki-laki Perempuan .5 gelas belimbing) belimbing) 2 Lauk 1. dan 50% dengan aktivitas sangat berat. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan.

Riwayat kulit pucat dan 45 . tidak terdapat tangga dan WC duduk walaupun tidak terdapat pegangan. Pada usia lain hal ini tidak terjadi. merupakan gambaran “kesehatan” secara luas pada usia lanjut. psikologik. dan sosial ekonomi. hiperkolesterolemia. Setelah dilakukan assesment yang mencakup 3 komponen tersebut. dan keadaan fisik. dan mual. Dari segi lingkungan rumah pasien cukup mendukung untuk keamanan pasien. pasien ini memiliki penyakit hipertensi stage I. dan sosial ekonomi seolah-olah tidak saling berkaitan. Pada anamnesis didapatkan informasi pasien datang untuk kontrol hipertensi rutin bulanan. tension type headache. + 2 hari sebelum datang ke Poli Geriatri RSDK. pasien mengeluh nyeri Kepala di kepala bagian belakang. psikis. Namun penyakit tersebut tidak membuat pasien menjadi cemas dan khawatir karena pasien selalu rutin memeriksakan diri setiap bulan di Poli Geriatri RSDK. BAB 3 PEMBAHASAN Pada geriatri tidak hanya dinilai dari aspek medik saja. namun juga melakukan assesment dari segi fisik. karena ventilasi yang cukup. dan presbiopi. yang dapat dimengerti. Interaksi dari 3 komponen tersebut menggambarkan keadaan fungsional organ/dan atau tubuh secara keseluruhan. obesitas. leher tegang.

dan LDL direk. pulsasi epigastrial (-). RR : 22x/menit. dan ekstremitas dalam batas normal. dengan tanda vital : TD 150/90 mmHg (tiduran) dan 140/90 mmHg (berdiri). nadi 90x/menit. batas kanan di SIC II linea parasternal dextra. tangan dan kaki dingin (-). melebar (-). pulmo. thrill (-). Batas jantung atas di SIC II linea parasternalis sinistra. gangguan penglihatan (+) jarak pendek. Pada pemeriksaan antropometri.4 kg/m2 dengan berat badan obesitas.4 kg/m 2. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan pasien menderita hipertensi stage I dan tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan organ target. ictus cordis tidak tampak. hiperkolesterolemia dengan kolesterol total 217 mg/dL. didapatkan kesan umum baik. nafas pendek (-). Pada pemeriksaan fisik tanggal 6 Desember 2014. BJ I-II normal. Pada palpasi ictus cordis teraba di SIC V 2 cm LMCS. nyeri dada (-). batuk dengan dahak putih. THT. sesak saat batuk (-). dan riwayat keluarga menderita hipertensi. Strategi terapi hipertensi tidak hanya menilai derajat tekanan darah namun juga mempertimbangkan faktor risiko kardiovaskular total. berdebar-debar (-). Pasien didiagnosis menderita hipertensi dan hiperkolesterolemia sejak 1 tahun yang lalu. Sehingga pasien memiliki risiko sedang-tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskular dan harus dilakukan pencegahan sekunder untuk mencegah atau menghambat kerusakan organ target. muntah (-). kelemahan separuh tubuh (-).dingin (-). pasien 46 . mata. encer(-). valsartan. biasanya diberikan amlodipin. berbuih. pulsasi parasternal (-). pingsan (-). kepala. Kulit. ingatan menurun (-). Dari anamnesis diketahui bahwa pasien memiliki banyak faktor risiko mengalami penyakit kardiovaskular yaitu usia ≥65 tahun pada wanita. kolesterol LDL direk 137 mg/dL. Pada inspeksi thorax. BAB tidak ada kelainan. kaki bengkak (-). sternal lift (-). kuat angkat (-). air liur berlebihan (-). dan simvastatin. batas kiri di SIC V 2 cm medial LMCS. sesak dalam melakukan aktivitas sehari-hari (-). abdomen. HDL kolesterol. BAK lancar warna kuning jernih. regular. obesitas dengan IMT 27. gallop (-). Pada auskultasi didapatkat HR= 90x/menit. Pasien diberikan terapi hipertensi diatas karena berdasarkan inisiasi pengobatan hipertensi dengan perubahan gaya hidup dan obat antihipertensi. bising (-).70C (aksiler). isi dan tegangan cukup. reguler. Pada pemeriksaan laboratorium darah tanggal 6 Desember 2014 didapatkan peningkatan kadar kolesterol total. Pasien rutin kontrol ke Poli Geriatri untuk memeriksakan tekanan darah dan kadar kolesterolnya. didapatkan BMI 27. obat diminum secara teratur. suhu 36.

Pada pasien ini. sampai saat ini kriteria yang paling sering digunakan adalah kriteria klinis dari NCEP ATP III. Ada beberapa kriteria untuk mendiagnosis sindroma metabolik. merokok. namun belum diketahui apakah pasien tergolong obesitas sentral 47 . mengkonsumsi makanan kaya serat. dalam hal ini pasien memiliki faktor risiko multipel yaitu umur ≥65 tahun dan hipertensi. Walaupun pasien tergolong obesitas. Sehingga pasien mendapat anjuran untuk merubah gaya hidup seperti menurunkan berat badan. sehingga sasaran kolesterol LDL yang ingin dicapai adalah <130 mg/dL. Terapi farmakologis dilakukan setelah enam minggu terapi non-farmakologis. Dari penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar kolesterol dapat menurunkan risiko penyakit vaskuler aterosklerosis. riwayat keluarga dekat menderita penyakit jantung koroner pada usia muda. Hubungan antara kolesterol dengan aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler memenuhi kriteria sebab akibat. Pasien didiagnosis menderita hiperkolesterolemia yang merupakan salah satu klasifikasi dari dislipidemia yang ditandai dengan pengingkatan kadar kolesterol total (217 mg/dL) dan LDL direk (137 md/dL). Selain itu pasien diberikan obat antihipertensi dengan TD target <150/90 karena pasien sudah berumur ≥60 tahun. dan berolahraga. Penurunan 10% kadar kolesterol plasma total akan diikuti dengan 25% penurunan kejadian penyakit jantung koroner. Terapi kombinasi memberikan keuntungan antara lain pencapaian penurunan target TD lebih besar dan memperkecil kemungkinan timbulnya efek samping dari masing-masing obat. Penatalaksanaan dislipidemia terdiri atas terapi non farmakologik dan penggunaan obat untuk memperbaiki dislipidemia. sedangkan pasien sudah sejak 1 tahun yang lalu sudah didiagnosis hiperkolesterolemia sehingga pasien diberikan terapi simvastatin dari golongan statin karena merupakan pilihan pertama untuk mencapai sasaran kadar kolesterol LDL. menurunkan asupan garam.memiliki ≥3 faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Faktor risiko penyakit jantung koroner sangat banyak tetapi NCEP-ATP III hanya mencantumkan lima faktor risiko utama yaitu umur. terdapat 1 dari 5 kriteria yang ada yaitu hipertensi. Hal penting yang selalu diingat sebelum memulai pengobatan dislipidemia adalah menentukan terlebih dahulu seberapa banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang. Amlodipine dan Candesartan dosis kecil dipilih sebagai terapi kombinasi antihipertensi mengikuti anjuran European Society Of Hypertension- European Society Of Cardiology (ESH-ESC) bahwa antagonis kalsium dapat dikombinasikan dengan angiotensin receptor blocker. hipertensi dan kadar koleterol HDL rendah. rendah lemak jenuh.

Tidak dijumpai sama sekali mual dan tumpah. Kriteria glukosa darah pasien juga belum diketahui sehingga selanjutnya diperlukan pemeriksaan kadar gula darah I/II. 4) tidak bertambah berat saat aktivitas rutin seperti: berjalan atau naik tangga. 3) dengan intensitas ringan sampai sedang. occupational therapist. ataupun psikis. Oleh karena sindroma metabolik merupakan suatu sindroma. injeksi. maka pada penatalaksanaannya harus diterapi juga semua kelainan yang ditemukan. Nyeri kepala tipe tegang umumnya dikeluhkan bersama keluhan lain yang menunjukkan hiperaktivitas otonom. dapat dijumpai sekali photophobia (takut sinar) atau phonophobia (takut suara). Manipulasi fisik dapat untuk merilekskan otot juga. dan psikologis. Faktor pencetus penting pada nyeri kepala tegang baik faktor fisik. dan partikel LDL kecil pada meningkat. Nyeri kepala tipe tegang paling sedikit harus mempunyai 2 dari karakteristik berikut: 1) lokasinya dua sisi. Pemicu lain nyeri kepala tipe tegang adalah aspek psikis yang terkait dengan stres. Stres mental atau pun stres fisik setelah diterima pusat-pusat penganalisis sensorik di otak. tergantung dari lokasi. Melalui jaras- jaras tertentu diproyeksikan lagi ke hipotalamus (sistem komando) yang akan meng- ekspresikannya lewat jalur otonom maupun kelenjar hormon dan jalur motorik. Pengobatan nyeri kepala tipe tegang mengacu pada keluhan pasien. 2) terasa seperti ditekan atau diikat sekeliling kepala (tidak berdenyut). 48 . Penanganan rasa nyeri ini harus dilakukan dengan assessment yang sering melibatkan disiplin lain : psikiater. Selain perubahan gaya hidup dan obat untuk dislipidemia. lamanya nyeri tersebut berlangsung dan berbagai factor lain yang mempengaruhi.yang termasuk dalam kriteria NCEP-ATP III sehingga selanjutnya pasien harus diukur lingkar pinggangnya. diproyeksikan ke sistim limbik (pusat untuk emosi). Faktor psikis tidak boleh dilupakan untuk dicoba diatasi. Pada pasien ini juga tidak memenuhi kriteria lipid pada NCEP ATP III. dan adanya faktor-faktor pencetus. harus diterapi juga keadaan hipertensi dan hiperglikemia yang ada. Obat ditujukan untuk relaksasi otot dan anti nyeri. yaitu dengan pemanasan dan pemijatan otot. fisik. Nyeri pada lansia dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Penanganan nyeri pada lansia. hasil pemeriksaan fisik. dan dibawah pimpinan seorang geriatrist dari penyakit dalam. dan dapat menjadi kronis. Stres fisik karena posisi tertentu berakibat otot menjadi lelah dan teregang peregangan ini lewat kumparan otot akan menimbulkan secara refleks ketegangan otot yang akan semakin meningkat. Terapi nyeri dapat dengan carapemberian obat secara oral. yaitu hipertrigliseridemia. kadar kolesterol HDL rendah.

Manado. 2009. Simposium Geriatri. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia PERKENI. Jakarta: CMP Medica Asia Pte Ltd. Arif M. Kris Pranarka. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH). 2006. Editorial. 1999. Major Geriatric Problems. 10. Geriatric’s Giants. Azis R. Sidartawam S. S. 3. 1987. Nafriadi. Edisi IV. hlm 168-70. patologi. 2014. DAFTAR PUSTAKA 1. 9. Ed. Jan 7. 6. degenerasi neuron kortikal sehingga visus dapat terganggu. C. 2. 35-117. 7. 8. Kris Pranarka. Temu Ilmiah Nasional I PERGEMI. Konseling anggota keluarga dan mereka yang merawat penderita mungkin bermanfaat bila penderitaan nyeri kronik dari salah seorang anggota keluarga menimbulkan stress pada keluarga dan perubahan dalam dinamika keluarga tersebut. Anna YZ. K. Panduan Pelayanan Medik. Geriatric Medicine For Student. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya presbiopi pada lansia. Ed. 2012. Hipertensi. 49 . Geriatric’s Giants. fungsi kelenjar lakrimalis. Dalam Boedhi-Darmojo.perilaku. 5. perubahan elastisitas lensa. 2008. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. F. editor. Semarang. 2014. 2011.com/article/241381- overview. Editorial. Ika PW. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. dan psikososial akibat proses menua. Kris Pranarka. Buku Antar Geriatri. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2014. Pada panca indera didapatkan perubahan degeneratif otot akomodasi. operasi dan lain-lain yang melibatkan disiplin ilmu lain. Konsensus Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia. 4. Tinjauan Umum Sindroma Geriatri. Diunduh dari:emedicine. Churcill-Livingstone. Dalam Symposium Geriatric Syndrome : Revisited. Sindroma Geriatri. 8. Sam Ratulangi. Semarang 2002. Hypertension. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Perubahan dalam penuaan terdiri dari perubahan anatomi.medscape. Univ. Obat Hipertensi. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Semarang 1-3 April 2011. Broclehurst J. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.. 3 RD. C. Allen. jaringan ikat periorbita.

50 .