You are on page 1of 12

PEDOMAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN

KERJA (K3) LABORATORIUM KESEHATAN

PUSKESMAS KENANGA

Jl.Gajah Mada no 27, Simpang Rebo, Kenanga, SungaiLiat Bangka,Provinsi Kep. Bangka
Belitung,33215 Telp.07174297733

. atau pasien dan lingkungan di semua jenis dan jenjang pelayanan laboratorium. penyakit akibat kerja. ergonomik dan psikososial dengan akibat dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan petugas laboratorium serta lingkungannya Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. bahaya peledakan. Meningkatkan pengetahuan petugas terhadap risiko terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan akibat kegiatan laboratorium.identifikasi ancaman bahaya dan pencegahannya penerapan K3 jika terjadi bahaya. C. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063). waKu dan harta benda bagi. Paska umumnya petugas laboratorium belum memahami risiko yang ditimbulkan akibat pekerjaan di laboratorium. biologi. Acuan dalam melaksanakan tugas di laboratorium. kimia. keb:karan. pengelolaan limbah. Tujuan Pedoman 1. BAB I PENDAHULUAN A. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja meiliputi upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan kecelakaan atau gangguan kesehatan petugas laboratorium termasuk pengunjung atau pasien dan lingkungannya di semua jenis dan jenjang pelayanan laboraturium. tata ruang dan fasilitasi laboratorium kesehatan. maka risiko yang dihadapi laboratorium kesehatan ini akan semakin meningkat. 2. baik dalam pencegahan maupun penanggulangannya Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan petugas sarana dan prasarana untuk perlu disusun Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Laboratorium kesehatan dengan mengacu pada berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan acuan lainnya. pengunjung. oencernaran lingkungan yang pada urnumnya menimbulkan kerugian nyawa. Menjamin mutu pekerjaan di laboratorium. Sasaran Pedoman Petugas laboratorium. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Landasan Hukum 1. D. pekerja dan masyarakat yang berada dilingkungannya F. Batasan operasional Keselamatan Keria adalah upaya untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan. dalam buku pedoman ini akan dibahas manajemen K3. B. Latar Belakang Kegiatan Laboratorium kesehatan mempunyai risiko baik yang berasal dari faktor fisik. khususnya kemajuan bidang teknologi laboratorium. peralatan K3. E.

8. identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat. 5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 658/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Jejaring Laboratorium Diagnosis Penyakit Infeksi New Emerging dan Re- Emerging. kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan . Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya. pelaporan dan analisis insiden. Materi Biologik dan Muatan Informasinya. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 657/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Pengiriman dan Penggunaan Spesimen Klinik. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 585). 3. 2. BAB II KESELAMATAN PASIEN Keselamatan pasien puskesmas adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364/MENKES/SK/III/2003 tentang Laboratorium Kesehatan. 6. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1647/MENKES/SK/XII/2005 tentang Pedoman Jejaring Pelayanan Laboratorium Kesehatan. 7.

akan mengurangi kesalahan. klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan. Puskesmas secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah. peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6. dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat.mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu: 1. atau tertulis. SASARAN I : KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik. jelas. . tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien. penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien 5. lengkap. mendidik pasien dan keluarga 3. dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien tindakan yang seharusnya diambil SASARAN KESELAMATAN PASIEN Sasaran keselamatan di area pelayanan laboratorium adalah. yang tepat waktu. dan yang dipahami oleh pasien. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis SASARAN II : PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF Komunikasi efektif. mendidik staf tentang keselamatan pasien 7. hak pasien 2. akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD Elemen Penilaian Sasaran II 1. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima perintah. 2. keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 4. seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah. lisan. kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis.

Puskesmas mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di puskesmas. dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. SASARAN V : PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN Puskesmas mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan Maksud dan Tujuan Sasaran V Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan. Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. mulai dari persiapan pasien sampai selesai dapat menimbulkan bahaya/risiko terhadap petugas yang berada di dalam laboratorium. Elemen Penilaian Sasaran V 1. setiap petugas laboratorium harus melaksanakan pekerjaan dengan hati-hati mengenali bahan potensial berbahaya dan . 3. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait pelayanan kesehatan. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO. Puskesmas menerapkan program hand hygiene yang efektif. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan 4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten. 2. 3. BAB III KESELAMATAN KERJA Setiap kegiatan yang dilakukan di laboratorium puskesmas. Untuk mengurangi/mencegah bahaya yang terjadi. dan berbagai organisasi nasional dan internasional. infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Puskesmas mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.dari WHO Patient Safety).

Jaga kebersihan ruang laboratorium dan bersihkan dengan desinfektan. tanggal penerimaan. 1) Jangan menggunakan cairan atau gas yang mudah terbakar di sekitar peralatan listrik. 3) Pembuangan bahan kimia yang mudah terbakar dan mudah menguap dikumpulkan dalam kaleng yang aman dan jangan dibuang kedalam pipa saluran umum. a. yang bersifat corrosive harus diletakkan di tempat rendah. 2) Bahan kimia disimpan pada ruang yang terang tidak kena sinar matahari langsung. dalam lemari/rak secara rapi dan teratur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi: 1. sarung tangan dan masker (infeksius) di ruangan laboratorium. yang berisi bahan infeksius. 3) Jangan menuangkan cairan yang telah terkontaminasi langsung kedalam pipa saluran. d. . c. 2) Jangan meniup pipet. Yang berkaitan dengan mikroorganisme 1) Jangan memipet dengan mulut. Tidak boleh menyimpan. b. 2. a. Tidak diperbolehkan makan minum dan merokok di dalam ruang laboratorium. Yang berkaitan dengan peralatan listrik. keterangan/ peringatan tentang bahaya bahan. gunakan alat bantu pipet. Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang bersifat umum. d. Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang bersifat khusus. tanggal pembuatan dan tanggal kadaluarsa. Setiap petugas diwajibkan memakai jas laboratorium. c. Kegiatan tersebut merupakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium. Anggap semua spesimen mengandung bahan infeksius. konsentrasi. b. Yang berkaitan dengan bahan kimia 1) Beri label pada semua bahan kimia meliputi nama. Yang berkaitan dengan limbah 1) Pengumpulan dan pembuangan limbah infeksius (sisa sampel dan barang/alat bekas pakai dan tidak infeksius (cair dan padat) sesuai ketentuan yang berlaku.penanggulangannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. e. 2) Peralatan listrik harus dirawat dan dipelihara. makanan dan minuman di dalam lemari es bersama reagen.

.  Pencahayaan cukup dan nyaman. Sanitasi Lingkungan  Semua ruangan harus bersih. serta mengetahui 2. Bahan dan Peralatan Kerja 1. keringkan. e. Tersedia fasilitas laboratorium untuk kesehatan dan keselamatan kerja.  Tempat kerja disesuaikan dengan posisi atau cara kerja. seperti tempat cuci tangan dengan air yang mengalir dan alat pemadam kebakaran. buang ke saluran pembuangan. Desain Tempat Kerja Yang Menunjang K3  Ruang kerja dirancang khusus untuk memudahkan proses kerja di laboratorium. maka bak pencuci harus terpisah atau mempunyai penyedot udara. 2) Ruangan laboratorium tidak diperkenankan menggunakan kipas angin. 2) Lakukan desinfeksi sisa sample. alas kaki tertutup) yang sesuai selama bekerja. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: A. 3) Naturalisasi sisa reagen dengan pengenceran yaitu penambahan air sampai netral (tidak bersifat asam/basa kuat) 4) Rendam alat habis pakai selama 12 jam dengan larutan desinfektan (kaporit). Petugas wajib memakai alat pelindung diri (jas laboratorium. cuci bersih dengan air dan sabun. diamkan 12 jam.  Sediakan tempat cuci tangan dengan air yang mengalir dan dibersihkan secara teratur. terutama untuk ruangan laboratorium mikrobiologi atau kimia dengan menggunakan bahan mudah menguap. kering dan higienis. 2.  Dilarang meletakkan hiasan dalam bentuk apapun di dalam laboratorium. sarung tangan.  Dipasang tanda peringatan untuk daerah berbahaya. masker. Proses Kerja.  Prosedur kerja tersedia di setiap ruangan dan mudah dijangkau jika diperlukan. Yang berkaitan dengan ruangan laboratorium 1) Bila ruangan laboratorium menggunakan AC.  Tata ruang laboratorium harus baik sehingga tidak dapat dimasuki/ menjadi sarang serangga atau binatang pengerat. .  Sediakan tempat sampah yang sebelah dalamnya dilapisi dengan kantong plastik dan diberi tanda khusus. Di Tempat Kerja dan Lingkungan Kerja 1.  Petugas laboratorium dilarang makan dan minum dalam laboratorium. dapat menggunakan setiap peralatan laboratorium dan peralatan kesehatan dan keselamatan kerja dengan benar. tampung dalam wadah berisi kaporit. Melaksanakan praktek laboratorium yang benar setiap petugas laboratorium harus mengerti dan melaksanakan upaya pencegahan terhadap bahaya yang mungkin terjadi. 3. B.  Ventilasi cukup dan sesuai.

Tas/kantong/tempat sampah harus ditempatkan di tempat yang ditentukan.  Harus mempunyai loket khusus untuk penerimaan spesimen. bahan kimia yang tidak boleh tercampur. Peralatan yang rusak atau pecah harus dilaporkan kepada penanggung jawab Laboratorium. karet pengaman untuk mencegah kebocoran ketika dipindahkan.  Semua spesimen darah dan cairan tubuh harus disimpan pada wadah yang memiliki konstruksi yang baik. efek toksik dan persyaratan penyimpanannya).  Setiap petugas harus mengetahui dan melaksanakan cara pengambilan. Setiap petugas harus mengenal bahaya bahan kimia dan mempunyai pengetahuan serta keterampilan untuk menangani kecelakaan. Semua tumpahan harus segera dibersihkan. Dilarang menggunakan mulut pada waktu memipet. Pengelolaan spesimen  Setiap spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius. 15. Tempat kerja harus selalu dalam keadaan bersih. Untuk menghindari kecelakaan.  Jarum yang telah digunakan harus diperlakukan sebagai limbah infeksius dan dikelola sesuai ketentuan yang berlaku. 14. Dilarang makan.Semua petugas harus mengetahui cara pengelolaan bahan kimia yang benar (antara lain penggolongan bahan kimia. minum (termasuk minum dari botol air) dan merokok di tempat kerja.  Saat mengumpulkan spesimen harus berhati-hati guna menghindari pencemaran dari luar kontainer atau laboratorium. 8. 11. 13. Jas laboratorium yang bersih harus dipakai terus menerus selama bekerja dalam laboratorium dan harus dilepaskan serta ditinggalkan di laboratorium (hati-hati dengan jas laboratorium yang berpotensi infeksi). 12.  Permukaan meja laboratorium dan alat laboratorium harus Didekontaminasi dengan desinfektan setelah selesai melakukan kegiatan laboratorium. Petugas harus mencuci tangan secara higienis dan menyeluruh sebelum dan setelah selesai melakukan aktifitas laboratorium dan harus melepaskan baju proteksi sebelum meninggalkan ruang laboratorium. 5. pengiriman dan pengolahan spesimen dengan benar. 10. 9. . 16.4. Dilarang melakukan kegiatan percobaan laboratorium tanpa ijin pejabat yang berwenang.  Setiap orang yang memproses spesimen darah dan cairan tubuh (contoh: membuka tutup tabung vakum) harus menggunakan sarung tangan dan masker. jarum atau benda tajam dan barang sisa laboratorium harus ditempatkan di bak/peti dalam laboratorium dan diberi keterangan. Sarung tangan bekas pakai harus ditempatkan dalam bak/ peti kuning (menjadi limbah medis/ infeksius) yang diberi tanda khusus. . rambut panjang harus diikat ke belakang dengan rapi. Pengelolaan bahan kimia yang benar . gunakan karet penghisap. Kaca pecah. 6.  Setelah memproses spesimen-spesimen tersebut harus cuci tangan dan mengganti sarung tangan. 7.

kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya. minimal terdapat satu buah untuk masing-masing kegiatan. limbah B3 dan limbah plastik. Setiap tempat pengumpulan sampah harus dilapisi plastik sebagai pembungkus sampah dengan label dan warna seperti digambarkan pada tabel 7 sebagai berikut: 2) Tempat Penampungan Sampah Sementara Tersedia tempat penampungan sampah yang tidak permanen. 3) Tempat Pembuangan Sampah Akhir i. cukup ringan. limbah sitotoksik. Tempat penampungan sampah sementara dikosongkan dan dibersihkan sekurang- kurangnya satu kali dalam 24 jam. tahan karat. Fasilitas Pembuangan Limbah Padat: 1) Tempat Pengumpulan Sampah Terbuat dari bahan yang kuat. Sampah infeksius. . Semua bahan kimia yang ada harus diberi label/etiket dan tanda peringatan yang sesuai. . limbah toksik. Kantong plastik diangkat setiap hari atau apabila 2/3 bagian telah terisi sampah. Limbah Padat Limbah padat terdiri dari limbah/sampah umum dan limbah khusus seperti benda tajam. Pengelolaan Limbah a. limbah kimia. sampah toksik dan sitotoksik dikelola sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku. - 17. limbah infeksius. yang diletakkan pada lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pengangkut sampah. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup.

Identifikasi Ancaman bahaya dan Penceghannya A. Limbah Cair Limbah cair terdiri dari limbah cair umum/ domestik.Kimia a. 1. limbah cair infeksius dan limbah cair kimia. 1.Identifikasi ancaman bahaya. b. 2) Limbah cair infeksius dan Kimia dikelola sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku C.Penggologan No Penggolongan Bahan kimia yang Karsinogen mengakibatkan gangguan Korosif kesehatan {H} Toksik Iritan Sensitizer Merusak organ tubuh tertentu Bahan kimia yang Padat Cair mengakibatkan Kebakaran {F} Gas Bahan kimia yang mudah meledak {R} Bahan kimia dengan sikap oksidator khususnya {S/N} Reaktiv terhadap air Reaktif terhadap asam Bahan radioaktif Bahan kimia yang tidak boleh tercampur b.Pelabelan . ii. Cara menangani limbah cair: 1) Limbah cair umum/domestik dialirkan masuk ke dalam septik tank. Sampah umum (domestik) dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir yang dikelola sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.Manajemen Resiko di Pelayanan Laboratorium Puskesmas.

No Penggolongan Warna Angka label Bahan kimia yang BIRU 4 Dapat menyebabkan kematian mengakibatkan gangguan walapun sudah diobati 3 Dapat menyebabkan luka serius kesehatan {H} meskipun sudah mendapat pengobatan 2 Dapat menyebabkan luka dan membutuhkan pengobatan segera 1 Dapat menyebabkan iritasi jka tidak diobati Tidak berbahaya 0 Bahan kimia yang MERAH 4 3 mengakibatkan Kebakaran 2 {F} 1 0 Bahan kimia yang mudah 4 meledak {R} 3 2 1 0 Bahan kimia dengan sikap oksidator OKS khususnya {S/N} Reaktiv W terhadap air Reaktif acid terhadap asam Bahan Rad radioaktif Bahan ALK kimia yang tidak boleh tercampur .

BAB IV PENUTUP Pedoman ini sebagai acuan bagi karyawan puskesmas dalam melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium di Puskesmas .