You are on page 1of 17

TUGAS

KEPERAWATAN TRAUMA
(ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR)

OLEH :

1. ADE IRAWAN
2. IRMA INDRIATIN
3. JOHARDI
4. WIDIA RANI
5. YUSRIANTO

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2016
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR

A. LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi

Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak
mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya. (Doenges, 2000:625)
2. Etiologi

Faktor risiko terjadinya fraktur meliputi :

1. Kejadian terjatuh
2. Kecelakaan kendaraan bermotor
3. Olahraga
4. Pemakaian obat yang mengganggu kemampuan penilaian atau mobilitas
5. Usia muda (immaturitas tulang)
6. Tumor tulang
7. Penyakit metabolic (seperti hipoparatiroidisme atau hiperparatiroidisme)
8. Obat-obat yang menyebabkan osteoporosis iatrogenic seperti preparat steroid
3. Patofisiologi

Ketika terjadi fraktur pada sebuah tulang, maka periosteum serta pembuluh darah
di dalam korteks, sumsum tulang, dan jaringan lunak di sekitarnya akan mengalami
disrupsi. Hematoma akan terbentuk di antara kedua ujung patahan tulang serta di bawah
periosteum, dan akhirnya jaringan granulasi menggantikan hematoma tersebut.
Keurasakan jaringan tulang memicu respons inflamasi intensif yang menyebabkan sel-sel
dari jaringan lunak di sekitarnya serta dari rongga sumsum tulang akan menginvasi
daerah fraktur dan aliran darah ke seluruh tulang akan mengalami peningkatan. Sel-sel
osteoblas di dalam periosteum, endosteum, dan sumsum tulang akan memproduksi
osteoid (tulang muda dari jaringan kolagen yang belum mengalami klasifikasi, yang juga
disebut kalus). Osteoid ini akan mengeras di sepanjang permukaan luar korpus tulang dan
pada kedua ujung patahan tulang. Sel-sel osteoklast mereabsorpsi material dari tulang
yang terbentuk sebelumnya dan sel-sel osteoblast membangun kembali tulang tersebut.
Kemudian osteoblast mengadakan transformasi menjadi osteosit (sel-sel tulang yang
matur).

4. Klasifikasi fraktur
Salah satu system yang sudah dikenal dengan baik untuk klasifikasi fraktur
menggunakan gabungan istilah yang menyatakan klasifikasi umum, posisi fragmen, dan
garis fraktur, seperti simpleks, nondislokata, dan oblik, untuk mendeskripsikan fraktur.

a. Klasifikasi umum fraktur
1) Simpleks (tertutup) : fragmen tulang tidak menembus kulit
2) Compound (terbuka) : fragmen tulang menembus kulit
3) Inkompleta (parsial) : kontinuitas tulang belum terputus seluruhnya
4) Kompleta (total): kontinuitas tulang sudah terputus seluruhya
b. Kalsifikasi berdasarkan posisi fragmen
1) Kominutiva (communited, remuk) : tulang pecah menjadi sejumlah potongan
kecil-kecil
2) Impakta (impacted) : salah satu fragmen fraktur terdorong masuk ke dalam
fragmen yang lain
3) Angulata (angulated, bersudut): kedua fragmen fraktur berada pada posisi yang
membentuk sudut terhadap yang lain
4) Dislokata (displaced) : fragmen fraktur saling terpisah dan menimbulkan
deformitas
5) Nondislokata (nondisplaced): kedua potongan tulang tetap mempertahankan
kelurusan (aligment) tulang yang pada dasarnya masih normal
6) Overriding : fragmen fraktur saling menumpuk sehingga keseluruhan panjang
tulang memendek.
7) Segmental : fraktur terjadi pada dua daerah yang berdekatan dengan segemn
sentral yang terpisah
8) Avulse (avulsed) : fragmen fraktur tertarik dari posisi normal karena kontraksi
otot atau resistensi ligament
c. Klasifikasi berdasarkan garis fraktur
1) Linier : garis fraktur berjalan sejajar dengan sumbu tulang
2) Longitudinal : garis fraktur membentang dalam arah longitudinal (tetapi tidak
sejajar) di sepanjang sumbu tulang
3) Oblik : garis fraktur menyilang tulang pada sudut sekitar 45 derajat terhadap
sumbu tulang
4) Spiral : garis fraktur menyilang tulang pada sudut yang oblik sehingga
menciptakan pola spiral
5) Transversal : garis fraktur membentuk sudut tegak lurus terhadap sumbu tulang
5. Tanda dan gejala
1. Deformitas akibat kehilangan kelurusan (aligment) yang alami
2. Pembengkakan akibat vasodilatasi dan inflamasi leukosit serta sel-sel mati
3. Spasme otot
4. Nyeri tekan
5. Kerusakan sensibilitas di sebelah distal lokasi fraktur akibat unsure-unsur
neurovaskuler terjepit atau tertekan oleh trauma atau fragmen tulang
6. Kisaran gerak yang terbatas
7. Krepitasi atau bunyi berderik ketika bagian fraktur digerakkan; bunyi ini disebabkan
oleh gesekan fragmen tulang
6. Komplikasi

Komplikasi fraktur yang mungkin terjadi meliputi :

a. Deformitas dan disfungsi permanen jika tulang yang fraktur tidak bisa sembuh
(nonunion) atau mengalami kesembuhan yang tidak sempurna (malunion)
b. Nekrosis aseptic (bukan disebabkan oleh infeksi ) pada segmen tulang akibat
gangguan sirkulasi
c. Syok hipovolemik akibat kerusakan pembuluh darah (khususnya pada fraktur femur)
d. Konraktur otot
e. Sindrom kompartement
f. Batu ginjal akibat dekalsifikasi yang disebabkan oleh imobilisasi yang lama
g. Emboli lemak akibat disrupsi sumsum tulang atau aktivasi system saraf simpatik
pascatrauma (yang dapat menimbulkan distress pernapasan atau system saraf pusat)

7. Proses Penyembuhan Tulang

a. Tahap Hematoma.
Pada tahap terjadi fraktur, terjadi kerusakan pada kanalis Havers sehingga masuk ke
area fraktur setelah 24 jam terbenutk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area
fraktur, terbenuklah hematoma kemudian berkembang menjadi jaringan granulasi.
b. Tahap Poliferasi.
Pada aerea fraktur periosteum, endosteum dan sumsum mensuplai sel yang berubah
menjadi fibrin kartilago, kartilago hialin dan jaringan panjang.
c. Tahap Formiasi Kalus atau Prakalus.
Jaringan granulasi berubah menjadi prakalus. Prakalus mencapai ukuran maksimal
pada 14 sampai 21 hari setelah injuri.
d. Tahap Osifikasi kalus, Pemberian osifikasi kalus eksternal (antara periosteum dan
korteks), kalus internal (medulla) dan kalus intermediet pada minggu ke-3 sampai
dengan minggu ke-10 kalus menutupi lubang.
e. Tahap consolidasi, Dengan aktivitas osteoblasi dan osteoklas, kalus mengalami proses
tulang sesuai dengan hasilnya.
Faktor – faktor yang mempengaruhi proses pemulihan :
a. Usia klien
b. Immobilisasi
c. Tipe fraktur dan area fraktur
d. Tipe tulang yang fraktur, tulang spongiosa lebih cepat sembuh dibandingkan
dengan tulang kompak.
e. Keadaan gizi klien.
f. Asupan darah dan hormon – hormon pertumbuhan yang memadai.
g. Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang.
h. Komplikasi atau tidak misalnya infeksi biasa menyebabkan penyembuhan lebih
lama.
i. Keganasan lokal, penyakit tulang metabolik dan kortikosteroid. (Doenges,
2000:632-633)

8. Pemeriksaan Penunjang
a. X.Ray
b. Foto Ronsen
c. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
d. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
e. CCT kalau banyak kerusakan otot.(Carpenito 2000:50)
9. Diagnosis

Diagnosis fraktur ditegakkan berdasarkan :

1. Riwayat cedera traumatic dan hasil pemeriksaan fisik, termasuk palpasi secara
perlahan-lahan dan upaya pasien yang dilakukan dengan hati-hati untuk mengerakkan
bagian tubuhnya di sebelah distal lokasi cedera
2. Foro rontgen bagian tubuh yang dicurigai mengalami fraktur dan sendir di atas serta
di bawah tempat fraktur (untuk memastikan diagnosis); sesudah reposisi dilakukan,
untuk memastikan kelurusan atau aligment tulang
10. Penanganan

Untuk fraktur lengan atau tungkai, tindakan kedaruratan terdiri atas :

1. Pembidaian anggota gerak di atas dan di bawah bagian yang dicurigai mengalami
fraktur; pembidaian ini bertujuan untuk imobilisasi
2. Kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan edema
3. Elevasi anggota gerak tersebut untuk mengurangi rasa nyeri dan edema

Penanganan fraktur berat yang menyebabkan kehilangan darah meliputi :

1. Penekanan langsung untuk mengendalikan perdarahan
2. Penggantian cairan dengan memasang infuse secepat mungkin untuk mencegah atau
mengatasi syok hipovolemik

Sesudah memastikan diagnosis fraktur, penanganan dimulai dengan reposisi.
Reposisi tertutup meliputi :

1. Manipulasi manual
2. Anestesi local (seperti lidokain [Xylocaine])
3. Obat analgetik (seperti penyuntikan morfin IM)
4. Obat relaksan otot (seperti diazepam [valium] IV) atau sedative (seperti midazolam
[versed]) untuk memudahkan peregangan otot yang diperlukan untuk meluruskan
tulang yang patah

Kalau reposisi tertutup tidak mungkin dikerjakan, maka tindakan reposisi terbuka
dengan pembedahan meliputi :

1. Imobilisasi fraktur dengan bantuan paku, plat atau skrup, dan pemasangan gips
2. Terapi profilaksis tetanus
3. Terapi profilaksis antibiotic
4. Pembedahan untuk memperbaiki kerusakan pada jaringan lunak
5. Pembersihan atau debridement luka secara cermat
6. Fisioterapi sesudah gips dilepas untuk memulihkan mobilitas anggota gerak

Kalau pemasangan bidai atau gips tidak berhasil mempertahankan reposisi maka
kita dapat melakukan imobilisasi yang memerlukan traksi kulit atau skeletal
dengan menggunakan serangkaian beban dan katrol. Tindakan ini dapat meliputi :

1. Pemasangan pembalut elastic dan tutup kulit domba untuk memasang alat traksi pada
kulit pasien (traksi kulit
2. Pemasangan pen atau kawat pada ujung tulang disebelah distal fraktur yang kemudian
disambung dengan beban untuk memungkinkan traksi dalam waktu lama (traksi
skeletal)

Pertimbangan khusus
1. Awasi timbulnya tanda-tanda syok pada pasien fraktur terbuka tulang panjang yang
parah, seperti fraktur terbuka femur.
2. Pantau tanda-tanda vital dan waspadai khususnya denyut nadi yang cepat, tekanan
darah yang menurun, pasien yang tampak pucat, serta kulit yang teraba dingin dan
basah. Semua gejala ini dapat menunjukkan bahwa pasien berada dalam keadaan syok
3. Beri infuse cairan sebagaimana diinstruksikan dokter
4. Tenteramkan kekhawatiran pasien yang mungkin merasa takut dan nyeri
5. Redakan rasa nyeri dengan obat analgetik jika diperlukan
6. Bantu pasien menetapkan tujuan pemulihan yang realistis
7. Jika fraktur tersebut memerlukan imobilisasi yang lama dengan pemasangan traksi,
atur kembali posisi tubuh pasien dengan sering untuk meningkatkan kenyamanannya
dan mencegah dekubitus. Bantu pasien melakukan latihan RPS aktif untuk mencegah
atrofi otot. Dorong pasien agar mau bernapas dalam dan batuk untuk menghindari
pneumonia hipostatik.
8. Anjurkan pasien agar mau minum dengan jumlah cukup untuk mencegah stasis urine
dan konstipasi. Awasi kemungkinan timbul tanda-tanda batu ginjal (sakit pinggang,
mula, dan muntah)
9. Lakukan perawatan gips yang baik dan sangga anggota gerak yang digips itu dengan
bantal. Amati kemungkinan iritasi kulit dekat bagian tepi gips dan periksa apakah
tercium bau busuk atau terlihat secret. Beri tahu pasien untuk segera melaporkan
tanda atau gejala yang menunjukkan gangguan sirkulasi (kulit dingin, mati rasa
(baal), kesemutan, atau perubahan warna kulit). Ingatkan agar jangan membasahi gips
dan menyisipkan benda asing di balik gips.
10. Dorong pasien untuk secepat mungkin mulai bergerak menurut kemampuannya.
Bantu pasien berjalan (ingat pasien telah berbaring selama beberapa lama di tempat
tidur sehingga mungkin saja ia merasa pening ketika pertama kali berdiri).
Perlihatkan cara menggunakan kruk (tongkat penopang ) dengan benar
11. Sesudah gips dilepas, rujuk pasien kepada petugas fisioterapi untuk memulihkan
mobilitas anggota gerak.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Tanda : keterbatasan/kehilangan fungsi bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur
itu sendiri, atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri).
b. Sirkulasi
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas)
atau hipotensi (kehilangan darah), takikardia (respons stress, hipovolemia),
penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cedera; pengisian kapiler lambat,
pucat pada bagian yang terkena, pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada
sisi cedera.
c. Neurosensori
Gejala : hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas/kesemutan (parestesis).
Tanda : deformitas local; angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, terlihat
kelemahana/hilang fungsi, agitasi (mungking berhubungan dengan nyeri/ansietas atau
trauma lain).
d. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada nyeri akibat kerusakan,
spasme/kram otot (setelah imobilisasi).
e. Keamanan
Tanda : laserasi kulit, avulse jaringan, perdarahan, perubahan warna, pemengkakan
local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
f. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : lingkungan cedera
Pertimbangan rencana pemulangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat: Femur
7,8 hari; panggul/pelvis 6,7 hari; lainnya 4,4 hari bila memerlukan perawatan di
rumah sakit. Memerlukan bantuan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dan
tugas pemeliharaan perawatan rumah.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan
cedera pada jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi, stress, ansietas.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler;
nyeri/ketidaknyamanan; terapi restriktif (imobilisasi tungkai).
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk; fraktur terbuka; bedah
perbaikan; pemasangan traksi pen, kawat, skrup, perubahan sensai, sirkulasi,
akumulasi eksresi/secret, imobilisasi fisik
d. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
primer; kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan lingkungan, prosedur invasif, traksi
tulang

3. Intervensi
No Tujuan dan Kriteri Hasil Intervensi Rasional
1 Setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan 1. Menghilangkan nyeri
selama 3x24 jam diharapkan imobilisasi yang sakit dan mencegaha
klien menyatakan nyeri hilang dengan tirah baring, kesalahan posisi
dengan kriteria hasil : gips, pembebat, traksi tulang/tegangan jaringan
2. Tinggikan dan dukung
a. Menunjukkan tindakan yang cedera
ektremitas yang 2. Meningkatkan aliran
santai
b. Mampu berpartisipasi terkena balik vena,
3. Hindari penggunaan
dalam menurunkang edema,
sprei/bantal plastic di
aktivitas/tidur/istirahat dan menurunkan nyeri
bawah ekstremitas 3. Dapat menigkatkan
dengan tepat
c. Menunjukkan penggunaan dalam gips ketidaknyamanan karena
4. Tinggikan penutup
keterampilan relaksasi dan peningkatan produksi
tempat tidur;
aktivitas terapeutik sesuai panas dalam gips yang
pertahankan linen
indikasi untuk situasi kering
terbuka pada ibu jari 4. Mempertahankan
individual
kaki kehangatan tubuh tanpa
5. Evaluasi keluhan
ketidaknyamanan karena
nyeri/ketidaknyamana,
tekanan selimut pada
perhatikan lokasi dan
bagian yang sakit
karakteristik, termasuk 5. Mempengaruhi
intensitas (skala 0-10) pilihan/pengawasan
perhatikan petunjuk keefektifan intervensi.
nyeri nonverbal Tingkat ansietas dapat
(perubahan pada tanda mempengaruhi
vital dan persepsi/reaksi terhadap
emosi/perilaku) nyeri
6. Jelaskan porsedure 6. Membantu untuk
sebelum memulai menghilangkan ansietas.
7. Beri obat sebelum
Pasien dapat merasakan
perawatan akitvitas
kebutuhan untuk
8. Lakukan dan awasi
menghilangkan
latihan rentang gerak
pengalaman kecelakaan
pasif/aktif
7. Memungkinkan pasien
9. Berikan alternative
untuk siap secara mental
tindakan kenyamanan,
contoh pijatan, pijatan untuk aktivitas juga
punggung, perubahan berpartisipasi dalam
posisi mengontrol tingkat
10. Dorong menggunakan
ketidaknyamanan
teknik manajemen 8. Meningkatkan relaksasi
stress, contoh relaksasi otot dan meningkatkan
progresif, latihan partisipasi
9. Mempertahankan
napas dalam, imajinasi
kekuatan/mobilitas otot
visualisasi, sentuhan
yang sakit dan
terapeutik
11. Identifikasi aktivitas memudahkan resolusi
terapeutik yang tepat inflamasi pada jaringan
untuk usia pasien, yang cedera
10. Meningkatkan sirkulasi
kemampuan fisik, dan
umum; menurunkan area
penampilan pribadi
12. Selidiki adanya tekanan local dan
keluhan nyeri yang tak kelelahan otot
11. Memfokuskan kembali
biasa/tiba-tiba atau
perhatian, meningkatkan
dalam, lokasi
rasa control dan dapat
progresif/buruk tidak
meningkatkan
hilang dengan
kemampuan koping
analgesic.
dalam manajemen nyeri,
Kolaborasi :
yang mungkin menetap
a. Lakukan kompres
untuk periode lebih lama
dingin/es 24-28 jam
12. Mencegah kebosanan,
pertama dan sesuai
menurunkan tegangan,
keperluan
dan dapat meningkatkan
b. Berikan obat sesuai
kekuatan otot; dapat
indikasi narkotik dan
meningkatkan harga diri
analgesic non
dan kemampuan koping
narkotik: NSAID
13. Dapat menandakan
injeksi contoh
terjadinya komplikasi
ketoralak (Toradol): Kolaborasi :
dan/atau relaksan otot, a. Menurunkan
contoh siklobenzaprin edema/pembentukan
(Flekseril), hidroksin hematoma, menurunkan
(Vistaril). Berikan sensasi nyeri
b. Diberikan untuk
narkotik sekitar pada
menurunkan nyeri dan
jamnya selama 3-5
atau spasme otot
hari.
c. Pemberian rutin ADP
c. Berikan/awasi
mempertahankan kadar
analgesic yang
analgesic darah adekuat,
dikontrol pasien
mencegah fluktuasi
(ADP) bila indikasi
dalam penghilangan
nyeri sehubungan
dengan tegangan
otot/spasme
2 se setelah dilakukan tindakan 1. Kaji derajat 1. Pasien mungkin
selama 3x24 jam diharapakan imobilitas yang dibatasi oleh pandangan
dapat meningkatkan mobilitas dihasilkan oleh diri/persepsi diri
pada tingkat paling tinggi cedera/pengobatan tentang keterbatasan
dengan kriteria hasil : dan perhatikan fisik actual,
a. Mempertahankan posisi persepsi pasien memerlukan
fungsional terhadap imobilisasi informasi/intervvensi
b. Meningkatkan 2. Dorong partisipasi
untuk meningkatkan
kekuatan/fungsi yang pada akitvitas
kemajuan kesehatan
sakit dan terapeutik/rekreasi. 2. Memberikan
mengkompensasi bagian Pertahankan rangsang kesempatan untuk
tubuh lingkungan mengeluarkan energy,
c. Menunjukkan teknik yang 3. Instruksikan pasien
memfokuskan kembali
memampukan melakukan untuk /bantu dalam
perhatian,
aktivitas rentang gerak
meningkatkan rasa
pasien/aktif pada
control diri/harga diri,
ekstremitas yang sakit
dan yang tak sakit dan membantu
4. Dorong penggunaan
menurunkan isolasi
latihan isometric
social
mulai dengan tungkai 3. Meningkatkan aliran
yang tak sakit darah ke otot dan tulang
5. Berikan papan kaki,
untuk meningkatkan
bebat pergelangan,
tonus otot,
gulungan
mempertahankan gerak
trokanter/tangan yang
sendi, mencegah
sesuai
kontraktur/atrofi, dan
6. Tempatkan dalam
resorpsi kalsium karena
posisi telentang
tidak digunakan
secara periodic bila
4. Kontraksi otot isometric
mungkin, bila traksi
tanpa menekuk sendi
digunakan untuk
atau menggerakkan
menstabilkan fraktur
tungkai dan membantu
tungkai bawah
mempertahankan
7. Instruksikan/dorong
kekuatan dan masa otot.
menggunakan trapeze
5. Berguna dalam
dan pasca posisi
mempertahankan posisi
untuk fraktur tungkai
fungsional ekstremitas,
bawah
tangan/kaki, dan
8. Bantu/dorong
mencegah komplikasi
perawatan
6. Menurunkan resiko
diri/kebersihan
kontraktur fleksi
9. Berikan/bantu dalam
panggul
mobilisasi dengan
7. Memudahkan gerakan
kursi roda, kruk,
selama
tongkat, sesegera
hygiene/perawatan
mungkin.
kulit, dan penggantian
Instruksikan
linen; menurunkan
keamanan dalam
ketidaknyamanan
menggunakan alat
dengan tetap datar
mobilitas ditempat tidur, pasca
10. Awasi TD dengan
posisi melibatkan
melakukan aktivitas.
penempatan kaki yang
Perhatikan keluhan
tak sakit datar di tempat
pusing
tidur dengan lutut
11. Ubah posisi secara
menekuk sementara
periodic dan dorong
menggenggam trapeze
untuk latihan
dan mengangkat tubuh
batuk/napas dalam
12. Auskultasi bising dari tempat tidur.
8. Meningkatkan kekuatan
usus. Awasi kebiasaan
otot dan sirkulasi,
eliminasi dan berikan
meningkatkan control
keteraturan defekasi
pasien dalam situasi
rutin. Tempatkan
dan meningktkan
pada pispot, bila
kesehatan diri langsung
mungkin, atau
9. Mobilisasi dini
menggunakan bedpan
menurunkan komplikasi
fraktur. Berikan
tirah baring dan
privasi
meningkatkan
13. Dorong peningkatan
penyembuhan dan
masukan cairan
normalisasi fungsi
sampai 2000-3000
organ. Belajar
ml/hari, termasuk air
memperbaiki cara
asam
14. Berikan diet tinggi menggunakan alat
protein, karbohidrat, penting untuk
vitamin dan mineral. mempertahanakn
Pertahankan mobilisasi optimal dan
penurunan kandungan keamanan pasien
10. Hipotensi postural
protein sampai
adalah masalah umum
setelah defekasi
menyertai tirah baring
pertama
15. Tinggikan jumlah diet lama dan dapat
kasar. Batasi memerlukan intervensi
makanan pembentuk khusus
11. Mencegah/menurunkan
gas
insiden komplikasi
Kolaborasi :
kulit/pernapasan
a. Konsul dengan ahli
12. Tirah baring,
terapi fisik/okupasi
penggunaan analgesic,
dan/atau rehabilitasi
dan perubahan dalam
spesialis
kebiasaan diet dapat
b. Lakukan program
memperlambat
defekasi
c. Rujuk ke perawat peristaltic dan
spesialis psikiatrik menghasilkan
klinikal/ahli terapi konstipasi. Tindakan
sesuai indikasi keperawatan yang
memudahkan eliminasi
dapat
mencegah/membatasi
komplikasi. Bedpan
fraktur membatasi
fleksi panggul dan
mengurangi tekanan
lumbal/gips ektremitas
bawah
13. Mempertahankan
hidrasi tubuh,
menurunkan risiko
infeksi urinarius,
pembentukan batu dan
konstipasi
Pada adanya cedera
musculoskeletal nutrisi
yang diperlukan untuk
penyembuhan
berkurang dengan
cepat, sering
mengakibatkan
penurunan berat badan
sebanyak 20-30 pon
selama traksi tulang. Ini
dapat mempengaruhi
massa otot, tonus, dan
kekuatan
14. Penambahan bulk pada
infeksi membantu
mencegah konstipasi.
Makanan pembentuk
gas dapat menyebabkan
distensi abdominal,
khususnya pada adanya
penurunan motilitas
usus.
Kolaborasi :
a. Berguna dalam
membuat aktivitas
individual/program
latihan. Pasien dapat
memerlukan bantuan
jangka panjang dengan
gerakan kekuatan, dan
aktivitas yang
mengandalkan berat
badan, juga penggunaan
alat
b. Dilakukan untuk
meningkatkan evakuasi
usus
c. Pasien/orang terdekat
memerlukan tindakan
intensif lebih untuk
menerima kenyataan
kondisi/prognosis,
imobilisasi lama,
mengalami kehilangan
kontrol

DAFTAR PUSTAKA