You are on page 1of 9

BAB VII

SISTEM KOLOID

7.1. Tujuan percobaan
Mengatahui dan membedakan cara pembuatan koloid secara dispersi dan
kondensasi
7.2. Tinjauan Pustaka
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai zat yang sukar digolongkan
sebagai zat padat, zat cair atau gas. Zat-zat ini dalam ilmu kimia dinamakan koloid.
Thomas Graham (1805-1809), dalam penyelidikannya mengenai difusi larutan melalui
membran telah membedakan koloid dan kristaloid. dari pengamatannya ternyata
partikel zat dalam larutan ada yang berdifusi cepat dan lambat. Zat-zat yang mudah
berdifusi umumnya membentuk kristal dalam keadaan padat,sehingga ia menyebutnya
kristaloid. Sedangkan zat-zat yang sukar berdifusi seperti lem, agar-agar, putih telur
dinamakan koloid. Di dalam bahasa yunani kolla = perekat. Koloid memiliki
partikelnya antara 1 nm – 100 nm. Partikel koloid ukurannya terletek antara larutan dan
suspensi, sehingga masih cukup kecil menembus kertas saring biasa, tetapi cukup besar
untuk melewati membran atau filter ultra. Berbeda dengan larutan, partikel koloid dapat
terlihat dengan mikroskop ultra.
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara
larutan dan suspensinya ( + campuran kasar) (jurnal). Sistem koloid terdiri atas fase
terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi.
Koloid mempunyai beberapa sifat yang berbeda dengan larutan. Sifat khusus
koloid timbul akibat ukuran partikelnya lebih besar daripada larutan. Sifat-sifat tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Sifat fisika
Sifat-sifat fisika koloid berbeda-beda tergantung jenisnya. Pada koloid hidrofob
sifat-sifat seperti rapatan, tegangan muka dan viskositas hampir sama dengan
medium pendispersinya. Sedangkan koloid hidrofil karena terjadi hidrasi, sifat-
sifat fisikanya sangat berbeda dengan mediumnya. Viskositasnya lebih besar dan
tegangan mukanya lebih kecil.

2. Sifat koligatif

sinar matahari hampir sejajar dengan permukaan bumi dan karenanya partikel-partikel koloid besar yang terletak dekat permukaan bumi akan lebih memgang peranan. Menurut Eistein. 4. 3. Gerak brown Selain menunjukkan efek tyndall. Fenomena gerak brown ini dijelaskan oleh Albert Eistein pada tahun 1905. langit akan tampak biru. Partikel-partikel koloid yang mempunyai ukuran kecil. sehingga bila seberkas cahaya melewatinya akan dipantulkan. Sifat optis Ukuran partikel koloid lebih besar daripada larutan sejati. cenderung untuk menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek yaitu bagian biru pada spektrum cahaya. Sifat-sifat koligatif koloid umumnya lebih rendah daripada larutan sejati dengan jumlah partikel yang sama. Peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid ini disebut efek tyndall. Sifat ini hanya bergantung pada jumlah partikel koloid bukan pada jenisnya. Kecuali pengukuran tekanan osmosa. Arah pantulan ini tidak teratur. Suatu koloid dalam medium cair juga mempunyai sifat koligatif. Sifat koligatif berguna untuk menghitung konsentrasi atau jumlah partikel koloid. Karena itu. Sebaliknya partikel- partikel koloid yang mempunyai ukuran besar cenderung untuk menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang yaitu bagian jingga dan merah dari spektrum cahaya. seorang ahli botani Inggris. maka efek tyndall juga dapat digunakan untuk memperkirakan berat molekul koloid. udara dapat digolongkan sebagai dipersi koloid (padatan yang terdispersi dalam gas). Sifat kinetik a. dipakai untuk menetapkan berat molekul rata-rata koloid makromolekul. Tetapi pada waktu matahari terbit atau terbenam. sesuai nama penemunya Robert Brown (1773-1858). cahaya yang dihamburkan oleh partikel-partikel kecil lebih memegang peranan karena sinar matahari tegak lurus jatuh ke permukaan bumi. . sehingga pantulan cahaya itu berhambur (diserakkan) ke segala arah. Pada tengah hari. partikel koloid bila diamati dibawah mikroskop ultra nampak sebagai bintik-bintik bercahaya yang selalu bergerak secara acak dengan jalan berliku-liku.karena adanya debu dan polusi udara. dan langit akan tampak berwarna merah atau jingga. karena partikel-patikel koloid tersebar secara acak. Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi ini disebut gerakan brown. Karena intensitas hamburan cahaya bergantung pada ukuran partikel.

suatu partikel mikroskopik yang melayang-layang dalam suatu medium pendispersinya akan menunjukkan suatu gerak acak (zig-zag). Pengendapan Partikel-partikel koloid mempunyai kecendrungan untuk mengendapkan karena pengaruh gravitasi bumi. Waktu terjadinya koagulasi berbeda antara koloid yang satu dengan lainnya.terjadinya gerakan ini disebabkan oleh banyaknya tabrakan molekul-moleku medium pendispersi pada sisi-sisi partikel terdispersi tidak sama (tidak seimbang). Sifat listrik Permukaan partikel koloid mempunyai listrik disebabkan terjadinya ionisasi atau penyerapan ion-ion dalam larutan. Koagulasi spontan umumnya berlangsung lambat dan dapat dipercepat dengan alat ultrasentrifuge. Akibatnya partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik. sehingga dapat dianggap molekul-molekul atau partikel-partikel koloid mendifusi karena gerak brown. 6. Difusi Partikel zat terlarut akan mendifusi dari larutan yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya lebih rendah. maka partikel tersebut akan mengendap. 5. Sebaliknya yang bermuatan positif akan tertair ke elektoda negatif (katoda). maka partikel-partikel koloid yang bermuatan negatif akan bergerak menuju elektroda positif (anoda). Koagulasi Suatu koloid bila dibiarkan dalam waktu tertentu akan terpengaruh oleh gaya gravitasi bumi. Bergeraknya partikel-partikel koloid oleh pengaruh medan listrik ini disebut elektroforesis. Peristiwa penegndapan atau penggumpalan partikel-partikel koloid ini disebut koagulasi. b. Difusi erat kaitannya dengan gerak brown. Jika rapat massa partikel lebih besar dari mediumnya suspensinya. c. Hal tersebut bergantung pada rapat massa partikel terhadap mediumnya.bila kedalam sistem kolid dimasukkan sepasang elektroda yang dialiri arus listrik searah. Fakta adanya gerakan Brown menegaskan terhadap kebenaran teori kinetika materi bahwa gas atau cairan terdiri dari molekul-molekul yang terus-menerus bergerak. . Sebaliknya bila rapat massanya lebih kecil akan mengapung. sehingga antara partikel dapat saling bergabung membentuk gumpalan yang akan mengendap didasar wadah.

minyak dan air merupakan cairan yang tidak saling bercampur. Contoh:lem.ukaan disebut absorpsi. Contoh umum dari emulsi adalah susu dan mayonaise. Kedua emulsi ini terdiri dari minyak yang terdispersi dalam fasa air. 7. Sol Sol adalah dispersi koloid dimana partikel padat terdispersi dalam cairan. Emulsi Emulsi adalah dispersi koloid dimana zat terdispersi dan medium pendispersi merupakan cairan yang tidak saling bercampur. Jika pelarutnya air disebut sol hidrofil. Adsorpsi Partikel koloid mempunyai permukaan luas. sehingga mempunyai daya adsorpsi yang besar.sabun. . yaitu: . Sol dibagi menjadi dua. Sol liofob Pada sol liofob partikel-partikel padat tidak menyerap molekul cairan (tidak suka pelarut). Jika pelarutnya air disebut sol hidrofob. Seperti diketahui. Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan suatu zat. maka akan segera terbentuk dua lapisan yang terpisah.Sol liofil Pada sol liofil partikel-partikel padat akan menyerap molekul cairan (suka pelarut). maka harus ditambahkan suatu bahan yang disebut zat pengemulsi atau emulgator. Pada mayonaise. 2. sedangkan dalam susu adanya kasein mencegah penggumpalan dari tetes-tetes kecil lemak. Sol liofil lebih stabil dan tidak mengalami koagulasi jika ditambahkan sedikit elektrolit.protein dan gelatin. Sedangkan bila penyerapan sampai ke bawah perm. . pemisahan dapt dicegah dengan penambahan kuning telur. Jenis-jenis koloid 1. Contoh:sol- sol sulfida dan sol-sol logam. Agar terjadi suatu campuran koloid. sehingga sol liofil bersifat reversibel. Partikel-partikelnya dapat dipisahkan dari mediumnya dengan pengendapan atau penguapan dan dapat dibuat menjadi sol kembali dengan penambahan medium. Minyak dalam air juga dapat membentuk emulsi yang stabil bila sebelum pengocokan ditambahkan zat pengemulsi seperti sabun. Jika keduanya dicampur dan dikocok. ion atau molekul yang melekat pada permukaan.

bagian zat terdispersi. Cara dispersi Dilakukan dengan memecah atau menghaluskan butir-butir yang lebih besar (suspensi) menjadi butir-butir yang lebih kecil sesuai ukuran koloid. Butir-butir sebesar inib dapat diperoleh dengan dua cara. Perbedaan sistem dispersi dan kondensasi Pembuatan sol: Partikel koloid mempunyai diameter 1 nm sampai 100 nm. 3. adalah emuglator yang berfungsi sebagai penstabil koloid. Gel Gel adalah sol liofil berbentuk setengah padat. . Gel ini dibagi dua. Pembentukan gel dapat dianggap sebagi pengendapan sol yang tidak sempurna. Kedua. yaitu gel elastis dan non elastis. yaitu menggiling (menggerus) partikel besar kemudian mendispersikan dengan mediumnya sampai diperoleh ukuran koloid. . Gel non elastis (tak kenyal) Setelah didehidrasi gel ini tidak dapat diubah menjadi gel kembali dengan penambahan air. yaitu: Pertama. Stelah dingin akan terbentuk gel kenyal. contoh: sol belerang dibuat dengan menggerus belerang lalu mengaduknya bersama air. Perubahannya berlangsung secara perlahan. Cara ini dapat dilakukan dengan: a. yaitu: 1. biasanya terdiri dari butir-butir minyak. medium pendispersi yang dikenal juga sebagai continus phase. Pada emulsi biasanya terdapat tiga bagian utama. dimana partikel- partikel koloid bersatu membentuk rantai pendek atau jaringan kontinyu yang saling mengikat.agar-agar. sehingga viskositas sistem naik dan membentuk zat setengah padat. Gel kenyal dibuat dengan melarutkan sol liofil dalam air panas. . biasanya terdiri dari air.gelatin. Dehidrasi gel ini menghasilkan bubuk. Bagian ketiga. Contonya:silika gel. Gel tak kenyal dapat diperoleh dengan mencampurkan larutan garamsilikat dengan HCl.aluminium atau pektin dalam air. untuk menjaga agar butir-butir minyak tetap terdispersi dalam air.Gel elastis (kenyal) Gel ini setelah dihilangkan airnya (didehidrasi) dapat dibentuk kembali menjadi gel dengan penambahan air. Contohnya:selai. Mekanik.

FeCl3 + 3 H2O Fe(OH)3 (sol) + 3 HCl . yaitu menambahkan zat atau ion sejenis pada partikel kasar (endapan). Mengurangi polusi udara Berdasarkan prinsip elektroforesa gas-gas hasil buangan industri yang mengandung asap dan partikel berbahaya dapat diatasi. c. b. 2 Au Cl3 + 3 SnCl2 2 Au (sol) + 3 SnCl4 . Cara oksidasi Sol belerang dibuat dengan mengoksidasi H2S dengan SO2 2H2S + SO2 2H2O + 3 S (sol) . Reaksi kimia. 2. sehingga terbentuk koloid.endapan Al(OH)3 akan menjadi sol jika ditambahkan AlCl3. yaitu menambahkan pereaksi tetentu ke dalam larutan. Dekomposisi rangkap (metatesis) Melakukan pertukaran ion sehingga terbentuk senyawa yang sukar larut. Peptisasi. Cara ini dikenal dengan cara busur bredig.Sol AgCl dapat dibuat dengan penambahan air suling. As2O3 + 3 H2S As2S3 (sol) + 3 H2O Aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari: 1. Dispersi elektronik. Contonya: sol arsen (III) sulfida dibuat dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan jenuh Arsen (III) oksida. Asap buangan dimasukkan kedalam ruangan yang terdapat ujung-ujung tajam yang diberi tegangan tinggi. Partikel-partikel tersebut dapat digumpalkan menggunakan alat yang disebut pengendapan cottrell. Contoh: sol-sol platina. Cara kondensasi Pembuatan koloid dengan mengubah partikel-partikel kecil (larutan) menjadi partikel besar berukuran koloid.Cara reduksi Sol emas dapat dibuat dengan mereduksi emas klorida (AuCl3) dengan timah (II) klorida. Hidrolisis Sol Fe(OH)3 dibuat dengan menambahkan FeCl2 ke dalam air panas. Cara ini dapat dilakukan dengan: a. yaitu mengalirkan arus listrik tegangan tinggi melalui kedua elektroda logam yang akan dibuat koloid dan mencelupkannya ke dalam pelarut. Contoh: . . sehingga partikel-partikel tersebut terpecah menjadi ukuran koloid. sehingga elektron berkecepatan tinggi dapat mengionkan . emas atau perak dibuat dengan mencelupkan kedua elektroda dari logam-logam tersebut yang sebelumnya diberi tegangan tinggi ke dalam air. . Berukuran koloid.

Partikel asap akan menyerap ion-ion positifyang akan gtertarik ke elektoda negatif sehingga mengendap. bahan-bahan tersebut dikemas dalam bentuk koloid misalnya dalam bentuk gel atau emulsi. sehingga dapat diendapkan dengan penambahan tawas {KAl(SO4)2}. seperti body lotion. 3. molekul-molekul udara. Jika deodorant digosokkan pada anggota badan. Sebagai bahan makanan atau obat Bahan makanan atau obat-obatan ada yang dikemas dalam bentuk padatan. menggumpalkan dan mengendapkannya sehingga air menjadi jernih. Sabun akan terionisasi dalam air menjadi Na+ dan anion asam lemak. 7. 6. getah karet dapat digumpalkan dengan penambahan asam asetat atau asam format. Gas yang keluar akan terbebas dari polutan-polutan udara. Menghilangkan kotoran hasil industri . Misalnya pada air sungai mengandung partikel terdispersi tanah liat didalam air. Tetapi pemakaiannya terkadang kurang enak atau sulit ditelan. Lateks yang dihasilkan dapat dibentuk sesuai cetakan. Sol tanah liat dalam air sungai memiliki muatan negatif. banyak kosmetik yang dikemas dalam bentuk koloid. Bagian ujung lemak yang bermuatan negatif bersifat polar sehingga larut dalam air dan ujung lainnya bersifat non polar dan cenderung larut dalam minyak. Pembuatan lateks Getah karet merupakan sistem koloid. Bahan pencuci Sabun dan detergen dapat digunakan untuk membersihkan kotoran pada pakaian. 4. Sebagai deodoran Pada produk roll on deodorant digunakan bahan penyerap (adsorben) berupa aluminium stearat atau aluminium klorida. 5. zat ini dapat mengadsorpsi keringat yang menyebabkan bau badan. Pada pembuatan lateks. 2. Penjernihan air Air yang keruh karena mengandung partikel-partikel koloid yang terkadang tidak diinginkan. dan hand cream. Hal ini menyebabkan kotoran yang berupa tetesan-tetesan minyak larut dalam air sehingga mudah lepas pada saat pembilasan. Zat ini dapat membentuk koloid Al(OH)3 bermuatan positif yang dapat mengadsorpsi pengotor atau partikel-partikel tanah liat. Fungsi dari zat ini adalah sebagai pengemulsi minyak dalam air. 8. Sebagai kosmetik Meskipun ada yang berbentuk padat. Untuk mengatasinya.

penderita gagl ginjal dapat dibantu dengan alat cuci darah melalui proses dialisis yang berfungsi menghilangkan zat-zat beracun dalam darah. 400 ml . seperti urea dan keratin di dalam darah. Alat dan bahan A.Tabung reaksi -larutan sabun .4. amati hasilnya B. Pembuatan sol dengan cara kondensasi -memanaskan 50 ml aquadest dalam beakerglass 100 ml sampai mendidih . .Mendinginkan larutan tersebut selama 15 menit.larutan FeCl3 . Pembuatan sol dengan cara dispersi a. 7.3. Sol belerang dalam air . . Kegagalan membuang produk buangan ini dapat mengakibatkan kematian. Untuk menghilangkan pengotor tersebut dapat ditambahkan zat putih telur. b.Batang pengaduk . dan dihaluskan dalam cawan porselen.minyak tanah . Pada industri pembuatan sirup.Pipet tetes . sambil diaduk sehingga putih telur menggumpal dengan mengadsorpsi pengotor. Bahan . menambahkan 2 gram bagian gula dan dihaluskan dalam cawan porselen.gula pasir . Zat ini dimasukkan dalam larutan gula. 100 ml .agar-agar . Alat B.Cawan porselin . Selain putih telur dapat ditambahkan zat lain seperti tanah diatomae atau karbon aktif. Mengambil 2 gram dari campuran pertama.dialisi dapat pula digunakan untuk membantu pasien yang mengalami gagl ginjal atau ginjalnya tidak berfungsi. Mengulangi langkah nomor 2 sampai 4x pengulangan . Untuk menghindari hal otu. diamati hasilnya. Fungsi pokok ginjal adalah membuang produk buangan metabolisme alamiah.Mortar dan stampler .Mencampurkan 2 gram bagian gula dengan 2 gram bagian serbuk belerang. Mengambil 2 gram campuran ke empat dan dimasukkan dalam beakerglass 100 ml yang berisi 50 ml aquadest. gula yang digunakan biasanya masih mengandung pengotor sehingga larutannya kelihatan tidak jernih. 9.aquadest 7. Prosedur percobaan A. Membantu pasien gagal ginjal Selain untuk memurnikan koloid.Waterbath .Rak tabung .Menimbang agar-agar sebanyak 2 gram dan dilarutkan ke dalam beakerglass 400 ml yang berisi 250 ml aquadest mendidih .kalsium asetat .Gelas ukur 10 ml.Beakerglass 100 ml. Sol agar-agar dalam air .serbuk belerang .alkohol 95% .

-memasukkan 1 ml minyak tanah. Pembuatan emulsi -memasukkan 1 ml minyak tanah dan 5 ml air kedalam tabung reaksi. .Menambahkan larutan FeCl3 jenuh setetes demi stetes sambil diaduk hingga terjadi perubahan warna merah kecoklatan. 5 ml air dan menambahkan 15 tetes larutan sabun ke dalam tabung reaksi. C. Mengamati perubahannya. amati hasilnya. guncangkan tabung reaksi dengan keras setelah terlebih dahulu disumbat dengan tutup gabus atau karet. kemudian dibakar.Memasukkan 60 ml alkohol 95% kedalam gelas ukur 100 ml . . Diletakkan pada rak tabung. guncangkan tabung reaksi dengan keras setelah terlebih dahulu disumbat dengan tutup gabus atau karet.Menuangkan kedua gelas ukur secara bersamaan kedalam cawan porselin lain. Pembuatan gel kalsium asetat alkohol . diletakkan pada rak tabung.Memasukkan 10 ml larutan kalsium asetat jenuh kedalam gelas ukur 10 ml . D. -mengamati perubahan pada kedua tabung reaksi.