You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gagal nafas akut adalah ketidakmampuan system pernafasan untuk mempertahankan
suatu keadaan pertukaran udara antara atmosfer dengan sel-sel tubuh yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh normal (Zulkifli,2006)
Gagal nafas adalah suatu kondisi dimana system respirasi gagal untuk melakukan
fungsi pertukaran gas, pemasukan oksigen dan pengeluaran karbondioksida.
Keadekuatan itu dapat dilihat dari kemampuan jaringan untuk memasukkan oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida. Manifestasi klinis gagal nafas yaitu pasien terlihat seperti
tidur dalam, fatigue (kelelahan), sianosis, takikardia, takipneu, diaphoresis dan
perubahan status mental dikarenakan kegagalan fungsi respirasi, dimana PaO2 terlalu
rendah atau PaCO2 terlalu tinggi. Indikasi gagal nafas adalah PaO2 < 60 mmHg atau
PaCO2 > 45 mmHg atau keduanya. Yang lain mengatakan bahwa gaga nafas terjadi
ketika PaO2 < 50-60 mmHg dan atau PaCO2 > 49 – 50 mmHg pada kombinasi yang
berbeda. Perlu dicatat bahwa semuanya diindikasikan dari PaO2 yang lebih rendah dari
nilai normal (Nicolaos dkk, 2004)
Gagal nafas terjadi bila pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-
paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida
dalam sel-sel tubuh (Brunner and Suddarth, 2001).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar
mahaasiswa mampu mengetahui tentang asuhan keperawatan
gagal nafas akut (ARF)

2. Tujuan Khusus
Setelah pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa dapat :
a. mengetahui Anatomi fisiologi gagal nafas akut
b. mengetahui pengertian gagal nafas akut
c. mengetahui klasifikasi gagal nafas akut
d. mengetahui etiologi gagal nafas akut
e. mengetahui patofisiologi dari gagal nafas akut
f. mengetahui tanda dan gejala gagal nafas akut
g. mengetahui penatalaksanaan pada klien gagal nafas akut
h. mengetahui pengkajian pada pasien gagal nafas akut
i. merumuskan diagnosa pada pasien gagal nafas akut
j. rencana intervensi pada pasien gagal nafas akut
k. melakukan implementasi dan evaluasi pada pasien gagal nafas akut
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR KOMUNIKASI
Istilah komunikasi berasal dari perkataan communicare yang artinya berpartisipasi
atau memberitahu. Selain itu dapat berasal dari kata communis yang artinya milik
bersama atau berlaku dimana-mana. Pada saat ini pengertian komunikasi banyak
macamnya, diantaranya sebagai berikut. (Taufik, 2007)
1. Komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka
menciptakan rasa saling mengerti serta saling percaya demi terwujudnya hubungan
yang baik antara seseorang dengan orang lainnya.
2. Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi atau proses pemberian arti
sesuatu antara dua orang atau lebih dan lingkunagnnya, dapat melalui symbol, tanda,
atau perilaku yang umum, biasanya terjadi dua arah.
3. Komunikasi adalah pertukaran fakta, gagasan, opini, atau emosi antara dua orang atau
lebih.
4. Komunikasi adalah suatu hubungan yang dilakukan melalui surat, kata-kata, symbol,
atau pesan yang bertujuan agar setiap manusia yang terlibat dalam proses dapat saling
tukar-menukar arti dan pengertian terhadap sesuatu.

Beberapa ahli menyampaikan pengertian atau definisi komunikasi :
1. Taylor (1993) mengemukakan komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau
proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi
terjadi penambahan pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi
sehingga mendapatkan pengetahuan.
2. Burgess (1988) mengemukakan komunikasi adalah penyampaian informasi, makna,
dan pemahaman dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Hal ini berarti
penerusan informasi dari pengirim pesan kepada penerima pesan dalam komunikasi.
3. Yuwono (1985) mengemukakan komunikasi adalah kegiatan mengajukan pengertian
yang diinginkan dari pengirim informasi kepada penerima informasi dan
menimbulkan tingkah laku yang diinginkan penerima informasi.
Dari ketiga pengertian diatas intinya adalah komunikasi merupakan seni
penyampaiaan informasi (pesan, ide, sikap, atau gagasan) dari komunikator atau
penyampaian berita, untuk mengubah serta membentuk perilaku komunikasi atau
penerima berita (pola, sikap, pandangan, dan pemahamannya) dan pemahaman yang
dikehendaki bersama.
B. FUNGSI KOMUNIKASI
1. Informasi: pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data,
gambar, fakta dan pesan opini dan komentar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti
dan beraksi secara jelas terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar dapat
mengambil keputusan yang tepat.
2. Sosialisasi (pemasyarakatan): penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang
memungkinkan orang bersikap dan berpengetahuan yang memungkinkan orang
bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif sehingga ia sadar
akan fungsi sosialnya sehingga ia dapat aktif di dalam masyarakat.
3. Motivasi: menjelaskan tujuan setiap masyarakat jangka pendek maupun jangka
panjang, mendorong orang menentukan pilihannya dan keinginannya, mendorong
kegiatan individu dan kelompok berdasarkan tujuan bersama yang akan dikejar.
4. Perdebatan dan diskusi: menyediakan dan saling menukar fakta yang diperlukan
untuk memungkinkan persetujuan atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai
masalah publik, menyediakan bukti-bukti yang relevan yang diperlukan untuk
kepentingan umum agar masyarakat lebih melibatkan diri dalam masalah yang
menyangkut kepentingan bersama di tingkat nasional dan lokal.
5. Pendidikan: pengalihan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan
intelektual, pembentuk watak dan pendidikan ketrampilan dan kemahiran yang
diperlukan pada semua bidang kehidupan.
6. Memajukan kebudayaan: penyebaran hasil kebudayaan dan seni dengan maksud
melestarikan warisan masa lalu, perkembangan kebudayaan dengan memperluas
horison seseorang, membangun imajinasi dan mendorong kreativitas dan kebutuhan
estetikanya.
7. Hiburan: penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan image dari drama, tari, kesenian,
kesusasteraan, musik, olah raga, permainan dan lain-lain untuk rekreasi kesenangan
kelompok individu.
8. Integrasi: Menyediakan bagi bangsa, kelompok dan individu kesempatan untuk
memperoleh berbagai pesan yang merka perlukan agar mereka dapat saling kenal dan
mengerti dan menghargai kondisi, pandangan dan keinginan orang lain.

C. UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
Komunikasi telah didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar manusia,
sehingga untuk terjadinya proses komunikasi minimal terdiri dari tiga unsur yaitu :
1. Penerima Pesan/Komunikator (Sender).
Pemberi pesan adalah orang/individu yang bertugas mengirimkan
pesan/mengeluarkan stimulus dalam bentuk informasi-informasi yang harus
disampaikan kepada pihak atau orang lain, dengan harapan orang/pihak lain tersebut
dapat memberikan suatu respons/jawaban. Sumber (pengirim berita atau
Komunikator) adalah tempat asalnya pesan.
2. Penerima Pesan (Receiver).
Penerima pesan adalah seseorang yang menerima pesan/stimulus serta
memberikan respons. Bisa dalam bentuk pesan yang diterima maupun pesan yang
sudah diinterpretasikan. Dalam hal ini respons yang diberikan tersebut dapat bersifat
pasif dengan memahami/mengerti sesuatu yang dimaksud oleh pemberi pesan.
3. Pesan (Message).
Pesan merupakan informasi yang diterima/stimulus yang dikeluarkan oleh
pemberi pesan (sender) kepada penerima pesan (receiver).
Unsur dari proses komunikasi meliputi unsur sosial, politik, bisnis dan terapeutik
1. Sosial.
Yaitu komunikasi yang mengandung unsur hubungan antarmanusia (HAM) dan
lingkungannya.
2. Politik.
Yaitu unsure komunikasi yang berkaitan dengan politik dan bisanya digunakan dalam
kehidupan bernegara.
3. Bisnis.
Yaitu komunikasi yang didasarkan ada perhitungan untung dan rugi.
4. Terapeutik.
Yaitu unsur yang digunakan dalam bidang kesehatan dengan tujuan untuk membantu
pemecahan masalah, penyembuhan, dan pemberdayaan klien.

D. KONTEKS KOMUNIKASI.
Komunikasi antar manusia hanya bisa terjadi, jika ada seseorang yang
menyampaikan pesan kepada orang lain tujuan tertentu, artinya komunikasi hanya bisa
terjadi kalau didukung oleh adanya sumber, pesan, media, penerima, dan efek .
Komponen-komponen atau elemen komunikasi tersebut sebagai berikut :
1. Pemberi Pesan/Komunikator (Sender)
Komunikator adalah orang yang mau berkomunikasi dengan orang lain, disebut juga
pembawa berita/pengirim berita/sumber berita. Komunikator bisa individu, keluarga
ataupun kelompok yang mengambil inisiatif penyelenggaraan komunikasi dengan
individu atau kelompok lain.
Dalam proses komunikasi, pengirim berita menggunakan gagasan yang diwujudkan
dalam lambing yang berbentuk kata kata yang kemudian disampaikan dengan
menggunakan media yang berbentuk ucapan, gerak tangan, telepon. Penyampaian
langsung dengan cara tatap muka dan saluran telepon walaupun kedua penyampaian
pesan tersebut dilaksanakan secara langsung, namun ada perbedaan mendasar yang dapat
mempengaruhi makna komunikasi. Perbedaannya adalah ketika komunikator berbicara
dengan komunikasi, indera yang aktif adalah pendengaran. Para pembicara hanya
mampu mendengarkan suara tanpa melihat ekspresi wajah atau sikap dua belah pihak.
Pembicaraan yang berlangsung dengan menggunakan komunikasi kebahasaan
dengan lisan, sedangkan proses komunikasi langsung dengan cara tatap muka selain
menggunakan komunikasi kebahasaan dengan jalinan lisan, juga dapat dipahami
komunikasi pengiring yang sifatnya nonverbal, misalnya bahasa kial, bahasa sikap, yang
semuanya akan memperjelas isi pesan.
2. Penerima Pesan (Receiver)
Penerima pesan adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber,
dapat terdiri atas satu orang atau lebih, bentuk kelompok, organisasi atau negara. Selain
itu, penerima juga biasa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak,
sasaran, atau komunikan. Dalam proses komunikasi telah dipahamai bahwa keberadaan
penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak pernah ada penerima jika tidak ada
sumbernya.
Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena penerima menjadi
sasaran dari komunikasi. Jika pesan tidak diterima oleh penerima, maka akan
menimbulkan berbagai macam masalah yang sering kali menuntut perubahan, apakah
pada sumber, pesan atau saluran.
Mengenal khalayak adalah merupakan prinsip dasar dalam berkomunikasi. Oleh
karena itu mengetahui dan memahami karakteristik penerima (khalayak) berarti suatu
peluang untuk mencapai keberhasilan komunikasi.
3. Pesan (Message)
Komponen kedua yang tidak kalah penting adalah pesan. Pesan atau amanat adalah
berita yang disampaikan oleh komunikator melalui keterangan mengenai kejadian atau
peristiwa yang hangat dan akurat. Kedua sarana, yaitu komunikator dan pesan, lazim
digunakan bersama dalam kominkasi. Artinya, konikasi akan berlansung jika ada
komunikator dan pesan. Sedangkan unsur lain seperti saluran komunikasi, metode
komunikasi, lingkungan, dan umpan baik yang merupakan fantor pendukung. Pesan
adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambang atau gerakan.
Pesan yang dimaksudkan dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang
disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatp muka
atau melalui komunikasi. Isinya dapat berupa ilmu pengetahuan, informasi dan
informasi.
4. Saluran (Media)
Media merupakan alat atau sarana yang digunakan oleh pemberi pesan (sender)
dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada si penerima pesan (receiver). Media
yang dimaksud disini ialah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber
kepada penerima. Terdapat beberapa pendapat mengenai saluran atau media. Ada yang
menilai bahwa media bisa bermacam-macam bentuknya, misalnya dalam komunikasi
antarpribadi, panca indra dianggap sebagai media komunikasi.
Media yang digunakan dalam penyampaian pesan sangat bervariasi, mulai dari yang
bersifat tradisional yaitu melalui mulut (diucapkan secara lisan), bunyi-bunyian
(kentongan), secara tertulis (cetakan), sampai dengan penggunaan teknologi tinggi yaitu
telivisi dan internet.
Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan antara
sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat,
membaca, dan mendengarnya. Media dalam komunikasi massa dapat dibedakan atas dua
macam, yakni media cetak dan elektronik. Media cetak seperti halnya surat kabar,
majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, bulletin, poster, spanduk dan sebagainya. Media
elektronik antara lain : radio, film, video recording, audio cassette, dan sejenisnya.

5. Umpan Balik (Feed Back)
Umpan balik (feed back) adalah reaksi dari sasaran terhadap pesan yang
disampaikan dan dimanfaatkan oleh sumber untuk memperbaiki ataupun
menyempurnakan komunikasi yang dilakukan. Penerima pesan memberikan
informasi/pesan kembali kepada pengirim pesan dalam bentuk komunikasi yang efektif.
Dengan adanya reaksi ini, sumber akan menegetahui apakah komunikasi berjalan dengan
baik atau tidak. Jika hasilnya baik, maka akan disebut positif dan jika hasilnya buruk,
maka disebut negative.
Komunikasi dinyatakan berhasil apabila komunikasi mampu memberikan umpan
balik yang berbentuk tanggapan atau respons. Umpan balik adalah harus umpan balik
dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi. Umpan balik merupakan hasil atau
akibat yang berbalik-guna bagi rangsangan atau dorongan untuk bertindak lebih lanjut
atau merupakan tanggapan langsung dari pengamatan sebagai hasil kelakuan individu
terhadap individu alain. Jenis umpan balik berdasarkan sikap komunikan terdiri atas
empat macam jenis umpan balik, antara lain zero umpan balik, umpan balik positif,
umpan balik netral, dan umpan balik negatif.
Zero umpan balik berarti tidak ada kejelasan umpan balik dari komunikan,
komunikasi bersifat dingin yang disebabkan pesan kurang jelas, lambang bahasa yang
digunakan tidak dipahami, dan waktu ataupun tempat tidak tepat sehingga komunikasi
tidak bermakna.
Umpan balik positif adalah umpan balik dari kominikan dapat dimengerti oleh
komunikator. Komunikan berpartisipasi memenuhi ajakan komunikator. Terjadi
persetujuan antara komunikator dengan komunikan.
Umpan balik netral adalah tanggapan yang disampaikan oleh komunikan tidak
mempunyai relevansi dengan pesan yang disampaikan.
Umpan balik negatif adalah umpan balik yang disampaikan oleh komunikan tidak
mendukung komunikator. Komunikasi bersifat tidak ada persetujuan dan dapat bersifat
kritik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa umpan balik merupakan kebalikan dari
proses stimulus-respons.
6. Akibat (Impact)
Akibat (Impact) adalah hasil dari suatu komunikasi, yakni terjadinya perubahan pada
diri sasaran. Perubahan dapat ditemukan pada pengetahuan, sikap, ataupun perilaku.
Terjadinya perubahan perilaku adalah tujuan akhir dari kegiatan komunikasi.

7. Lingkungan
Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi
jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam, yakni lingkungan
fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.
Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi
kalau tidak terdapat rintangan fisik, misalnya geografis. seringkali sulit dilakukan
karenafaktor jarak yang terlalu jauh, dimana tidak tesedia fasilitas komunikasi sperti
telepon, kanto pos atau jalan raya.
Lingkungan sosial menunjukkan faktor sosial budaya, ekonomi dan politik yang bisa
menjadi kendala terjadinya komunikasi, misalnya kesamaan bahasa, kepercayaan, adat
istiadat, dan status sosial.
Dimensi psikologis adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam
berkomunikasi. Misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan oang lain,
menyajikan materi yang sesuai dengan usia khalayak. Dimensi psikologis ini biasa
disebut dimensi internal (Vora, 1979 dalam Cangara, 2005: 27).
Sedangkan dimensi waktu menunjukkan situasi yag tepat untuk melakukan kegiatan
komunikasi. Banyak proses komunikasi tertunda karena pertimbangan waktu, misalnya
musim. Namun perlu diketahui karena dimensi waktu maka informasi memiliki nilai.
Jadi, setiap unsur memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun proses
komunikasi. Bahkan ketujuh unsur ini saling bergantung satu sama lainya. Artinya, tanpa
keikuutsertaan satu unsur akan memberi pengaruh pada jalannya komunikasi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari makalah yang kami buat, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan hal
yang penting dan sangat dibutuhkan bagi seorang perawat. Bahkan para ahlipun
menyebutkan bahwa komunikasi itu merupakan proses pertukaran informasi antara satu
orang dengan orang lainnya. Didalamnya pun ada unsur, komponen dan proses dalam
berkomunikasi. Tidak semua orang dapat berkomunikasi dengan cara yang baik. Namun
kita sebagai calon bidan harus mampu berkomunikasi dengan semua orang. Baik itu
antara individu dengan individu, dengan orang yang lebih tua ataupun dengan
masyarakat luas.

B. SARAN
Dari makalah yang telah kami buat, diharapkan semua mahasiswa mampu menyerap
informasi dan isi makalah ini. Baik itu sebagai referensi maupun sebagai bahan acuan
untuk mengerjakan tugas selanjutnya.