You are on page 1of 10

TUGAS SEJARAH INDONESIA

“candi mndut”

DISUSUN
oleh :

MANAON SAPUTRA
Kelas X MIPA.2

SMA NEGERI 01 RANAH BATAHAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Candi Mendut

Candi Mendut

Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di Jalan Mayor
Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya berada sekitar 3
kilometer dari candi Borobudur.7°36′17,17″LU 110°13′48,01″BT

Daftar isi
 1 Masa pembuatan

 2 Arsitektur candi

 3 Hiasan pada candi Mendut

 4 Relief-relief

 5 Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting) =

o 5.1 Relief 2 (Angsa dan kura-kura)

o 5.2 Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi)

o 5.3 Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda)

 6 Vihara Buddha Mendut

 7 Referensi

 8 Pranala Luar

Masa pembuatan
Reruntuhan candi Mendut sebelum dipugar, tahun 1880.

Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam
prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah
membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang
ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.

Arsitektur candi
Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan
ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga
naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang
mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah
stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah.Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.

Hiasan pada candi Mendut

Tiga arca di dalam candi Mendut, arca Dhyani Buddha Wairocana diapit Boddhisatwa
Awalokiteswara dan Wajrapani.

Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan
ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor
kera dan seekor garuda.

Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.

Hariti.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan
Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi
yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Buddha dalam posisi dharmacakramudra.

Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha
Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat
relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca
Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.

Candi Mendut, Letak Dan Sejarahnya
Candi Mendut- Jika dilihat dari ukuranya memang tak sebesar Candi Borobudur,
namun Candi Mendut jauh lebih dulu dibangun dari pada Candi Borobudur.
Lokasinya sangat mudah diakses karena terletak dipinggir jalan dan tak jauh dari
Candi Borobudur. Di Candi Mendut yang terletak di daerah Mungkid kabupaten
Magelang, Provinsi Jawa Tengah ini terdapat beberapa relief yang menceritakan
beberapa tokoh dan mengandung pesan moral tertentu. Candi bercorak Buddha ini
juga disebut sebagai candi bertuah, sehingga banyak para pasangan yang belum
dikaruniai anak datang ke tempat ini.

Sejarah Candi Mendut

Dari sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Karanganyar yaitu prasasti
Kayumwungan, Candu Mendut diketahui dibangun oleh Raja Indra dari dinasti
Syailendra. Namun hingga kini belum diketahui secara pasti mengenai tahun
pembuatan atau pembangunan Candi Mendut. Awalnya Candi Mendut ditemukan
oleh seorang dari Belanda yang bernama J.G. de Casparis pada tahun 1836.
Kemudian dari tahun 1897 hingga 1904 dilakukan perbaikan pada candi yang
meliputi bagian kaki dan tubuh candi. Theodoor van Erp Kembali memeperbaiki
candi hingga bagian puncaknya pada tahun 1908 sampai 1925.

Bangunan candi yang terbuat dari batu Andesit ini mempunyai luas secara
keseluruhan mencapai 13,7 meter persegi dan mempunyai tinggi 26,4 meter. Pada
bagian atas candi terdapat 48 buah stupa. Akan tetapi puncak candi sudah tak
tersisa sehingga tak diketahui bentuk aslinya seperti apa. Selain untu obyek wisata
Candi Mendut digunakan sebagai tempat upacara waisak pada bulan mei saat bulan
purnama. Candi Mendut buka dari jam 07.00 hingga 18.00 untuk setiap harinya.

Relief Di Candi Mendut
Pada bagian kaki tubuh hingga atapnya Candi Mendut dihiasi dengan beberapa
relief yang mengandung cerita moral dan digambarkan dengan tokoh binatang.
Beberapa relief tersebut diantaranya Brahmana dan Kepiting yang menceritakan
tentang Brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting dan kemudian si kepiting
membalas budi dengan cara menyelamatkan Brahmana saat mendapat gangguan
dari ular dan gagak. Ada juga cerita tentang Dua ekor burung betet yang
mempunyai karakter berbeda karena dibesarkan oleh Brahmana dan satunya
dibesarkanoleh seorang penyamun. Relief terbesar terlihat di bagian belakang candi
yang menceritakan tentang Buddha Avalokitesvara.

Candi Mendut, Candi Bertuah
Di bagian Candi Mendut ada relief Hariti yang juga disebut sebagai dewi kesuburan.
Relief ini digambarkan Hariti sedang duduk dan memangku seorang anak serta
beberapa anak lain yang sedang asyik bermain di sekitar Hariti. Karena inilah tak
sedikit pasangan suami istri yang belum dikarunai anak datang untuk memohon
kepada dewi kesuburan
Relief-relief
Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief :

Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting)

Brahmana dan seekor kepiting.

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka.
Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:

Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama
Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.
Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor
kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata
sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun
berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu
dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan
sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.
Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi
sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang
ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”
Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya:
“Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.
Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam
hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk
kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang
brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan
berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan
kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang
brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, <laksanakanlah> dengan segera.” Begitulah
kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan
disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika.
Matilah si gagak dan si ular.

Relief 2 (Angsa dan kura-kura)
Angsa dan kura-kura

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka.
Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak
berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai,
banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal
airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa
jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga
Kumudawati.
Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan,
sedangkan si Kacapa (nama) si betina.
Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin
mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada
kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab
semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah
kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah
danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening
dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami
kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan
meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun
anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami
dengan kalian.
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu
tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah
kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi
jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti,
janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab.
Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda
tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan
berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk
oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa,
akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh
terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan
betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si
Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang,
keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah
itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa
sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak
kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi
kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!”
Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah
mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah
dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi
nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi)

Dharmabuddhi dan Dustabuddhi

Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi
menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua
menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang,
Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan
suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan
menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda)

Dua burung betet yang berbeda.

Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena
yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta.

Vihara Buddha Mendut

Arca Buddha sumbangan Jepang.

Persis di sebelah candi Mendut terdapat vihara Buddha Mendut. Vihara ini dahulunya adalah
sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an.
Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara.
Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha. Beberapa
di antaranya adalah sumbangan dari Jepang.

_________________________________________________________________________

Reperensi

 (Inggris) Marijke J. Klokke, 1993, The Tantri Reliefs on Ancient Javanese Candi. Leiden:
KITLV Press.

 (Belanda) N.J. Krom, 1918, ‘De Boddhisatwa’s van den Mĕndut’, Bijdragen to de Taal-,
Land- en Volkenkunde 74:419-37.

 (Indonesia) L. Mardiwarsito, 1983, Tantri Kāmandaka. Ende: Nusa Indah/Kanisius.