You are on page 1of 21

Abstract

Bidang kedokteran gigi telah berkembang pesat selama abad terakhir
berdasarkan prinsip-prinsip Hippocrates. Penelitian dalam kedokteran gigi
bertujuan untuk menyelidiki penyebab dan penanganan penyakit gigi dan
didasarkan pada standar etika yang sama yang mengatur di bidang kedokteran.
sangat sedikit penelitian yang telah menyelidiki sikap profesional dokter gigi
terhadap konsep etika penelitian dan penerimaan etika komite penelitian, sesuai
studi cross sectional dirancang pada sebuah institusi. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menilai kesadaran pengetahuan dan sikap fakultas kedokteran gigi
mengenai komite etika riset dan etika penelitian.
Sebuah survei cross sectional dilakukan di lembaga kami dengan
persetujuan dari komite etik. Penelitian ini dirancang dalam bentuk kuesioner
yang digunakan untuk menilai sikap, kesadaran gigi profesional mengenai etika
penelitianPanitia dan pengetahuan dalam praktek etika penelitian. Sebanyak 115
proforma didistribusikan dan 100 proforma terisi penuh dianalisis.

Fakultas kedokteran gigi menguntungkan terhadap pelatihan etika
penelitian dan peran penelitian komite etik dalam melakukan kualitas penelitian
gigi. Tentang lebih dari setengah dari peserta (51%) memiliki pengalaman
sebelumnya dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia. Di antara orang-
orang yang terlibat dalam penelitian sebelumnya sekitar 49% peserta telah
dilakukan <OR = 3 proyek, sedangkan 2-3% dari orang-orang yang terlibat
dalam> 3 proyek penelitian. Sikap terhadap praktek-praktek dalam etika
penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90% (94-98%) dari pasien merespon
positif. Hasil dari survei tersebut merekomendasikan otoritas kelembagaan tentang
perlunya pelatihan etika penelitian dengan penekanan khusus , aspek yang
berhubungan dengan peran dan fungsi komite etika penelitian. Pengetahuan yang
memadai dari para dokter gigi tentang etika penelitian dan sikap mereka terhadap
praktek-praktek dari prinsip-prinsip etika dan komite etika akan mendukung
penelitian yang berkualitas dan memberikan masyarakat peduli

BAB 1
Pendahuluan
1.1 Introduction
Bidang kedokteran gigi dan kedokteran sama-sama berada didalam naungan
Sumpah Hipokrates yang saat ini digunakan untuk pengembangan penelitian dan
meningkatan tingkat kesehatan pasien.(1) Berdasarkan Sumpah Hipokrates bidang
kedokteran gigi berkembang sangat cepat pada abad terakhir ini. Penelitian di
bidang kedokteran gigi bermanfaat dalam meneliti penyebab dan perawatan
penyakit dalam bidang kedokteran gigi, dan landasan standar etik penelitiannya
sama dengan standar etik penelitian di bidang kedokteran.(2)
Penelitian dapat didefinisikan sebagai "studi rinci dari seorang subjek, terutama
untuk mendapatkan informasi yang baru atau memperoleh pengertian yang baru
dari suatu hal". Hipokrates menyatakan 3 hal yang harus ada dalam sistem
pelayanan praktik kesehatan (Lloyd, 1978): Pertama, adalah keterampilan yang
dipelajari pada masa belajar seseorang praktisi dan diperoleh dari kasus yang
terjadi di lapangan. Kedua, adanya penelitian terhadap suatu penyakit dan
kemauan untuk mencoba membangun pemahaman ilmiah yang kemudian dapat
menjelaskan keterampilan seseorang. Ketiga, adanya etos kepedulian dan hormat
terhadap kehidupan manusia.
Dua bagian pertama dibuat sebagai pondasi dalam pelayanan kesehatan untuk
melanjutkan era penelitian saat ini. Keterampilan berbasis kasus, dijelaskan dari
penelitian modern dikombinasikan dengan fakta yang ada dilapangan dengan tetap
berpegang pada komitmen etik.(1) Mengikuti standar etik yang telah ditetapkan
sangatlah penting karena akan melindungi seorang praktisi kesehatan dari
anjaman penggunaan ilmu pengetahuan secara tidak bermoral, dan dapat
memastikan sebuah penelitian akan memberikan dampak yang baik bagi
kehidupan manusia.(3,4)
Mengetahui etika penelitian sangatlah penting bagi setiap orang yang melakukan
penelitian dan juga orang yang hanya memanfaatkan/ menggunakan hasil
penetian, hal ini dimaksudkan untuk memastikan keamaanan dan kerahasiaan
subjek penelitian dan mencegah terjadinya kecerobohan dan sikap tidak
bertanggung jawab dari peneliti. Karena itu, tanggung jawab besar ada ditangan

From Belmont Report Psychology 6018). asisten professor. jenis kelamin. Partisipan pada penelitian ini meliputi seluruh jajaran fakultas meliputi professor. beserta alumni-alumninya ikut terlebih dalam penelitian ini. individu maupun sebuah institusi dalam meninjau keberadaan etika penelitian Ada pertanyaan mengenai fungsi dari keberadaan komite etika penelitian dan (6) tantangan yang harus mereka hadapi. 1. Bagian pertama terdiri dari informasi mengenai demografi partisipan yaitu umur. dan sikap yang dimiliki oleh dental professional mengenai etik penelitian. dan banyak negara lainnya.3 Materials and Methods Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu cross sectional survey untuk mengevaluasi pengetahuan. (Ethics. 1. mahasiswa. kesadaran dan sikap terkait etika penelitian.(7-9) Sangat sedikit penelitian mengenai sikap praktisi kedokteran gigi yang profesional mengenai etika penelitian termasuk penerimaan dari komite etika penelitian.4) Sebuah penelitian dikatakan berhasil apabila hasilnya adalah sesuatu yang bermanfaat dan dapat diterima secara sepenuhnya oleh publik. Walaupun tidak diaturnya regulasi pedoman etika penelitian di negara berkembang dan adanya kekhawatiran mengenai sejauh mana kapasitas seorang (5).peneliti untuk mencari dan memahami nilai serta teori untuk dapat melaksanakan penelitian yang baik. 2. kesadaran.(3.2 Aim and Objectives Adapun tujuan penelitian ini yaitu : 1. dan keinginan mereka untuk latihan mengenai etika penelitian. Hal tersebut juga dihadapi oleh bagian dunia yang berkembang seperti negara di belahan bumi timur. Etika penelitian adalah landasan yang akan selalu membantu peneliti dalam mengambil keputusan yang sulit dalam penelitiannya. berdasarkan studi cross sectional. Adapun instrument penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuisioner yang terdiri dari 5 bagian. . tingkat pendidikan. Mesir. Untuk mengevaluasi pengetahuan. Sebagai laporan perkembangan program – program mengenai etika penelitian oleh institusi yang berwenang sehingga dapat meningkatkan kualitas penelitian dalam bidang kedokteran gigi khususnya.

penelitian yang melibatkan anak – anak. dan pengetahuan mengenai etika penelitian untuk menentukan variabel independen dan variabel dependen.sangat setuju. dan kerahasiaan penelitian medis. Pada bagian kelima dari kuisioner berisi pertanyaan – pertanyaan untuk menguji pengetahuan berdasarkan scenario kasus yang diberikan meliputi informed consent yang mendeskripsikan risiko dan keuntungan dari penlitian. Setelah mengisi kuisioner. 2 – setuju. penelitian restrospektif. 3 – tidak setuju. Pada bagian ketiga dari kuisioner tersebut partisipan disuruh untuk memberi penilaian mengenai komite etik penelitian melalui 5 pilihan yang disajikan yaitu 1 . Bagian kedua dari kuisioner tersebut bertujuan untuk menggali kesadaran partisipan mengenai etika penelitian dan fungsi dari komite etik penelitian. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan SPSS -16 software yang akan ditampilkan dalam bentuk persen. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh hasil tidak signifikan dengan odd ratio dan tingkat keyakinan dinyatakan dengan nilai P < 0. partisipan akan mengembalikan kuisioner yang telah diisi tanpa menyertakan nama. 4 – tidak setuju. 5 – sangat tidak setuju. keikutsertaan sukarela dari partisipan. kerahasiaan dan responsibilitas dalam melakukan penelitian. partisipan akan disuruh untuk memberikan penilaian mengenai sikap-sikap dalam melakukan penelitian seperti melakukan informed consent. sikap. Kuisioner yang telah diisi tersebut akan dimasukan kedalam suatu boks yang diletakkan didalam gedung fakultas tersebut. 15 dikeluarkan sebagai instrument penelitian karena tidak terisi sempurna. Pada bagian keempat dari kuisioner.0001. Dari 115 kuisioner yang diperoleh. Total kuisioner yang disebarkan berjumlah 115 kuisioner. serta jumlah partisipasinya terhadap suatu penelitian maupun pelatihan tertentu mengenai etika penelitian. Hanya kuisioner yang terisi secara lengkap yang kemudian akan dianalisis.partisipasi dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya yang subjeknya adalah manusia. BAB 2 . Multivariable logistic regression model digunakan untuk menganalisis kesadaran.

1 Result Table 1 menunjukan rincian demografi dari peserta penelitian. Di antara orang-orang yang terlibat dalam penelitian sebelumnya sekitar 49% peserta telah melakukan proyek <OR = 3. Persentase subjek berdasarkan kualifikasi pendidikan menunjukan bahwa persentase peserta terbesar adalah pascasarjana (59%) diikuti oleh dosen senior ( 21%). sex and qualification expressed in terms of N% AGE N% 20-30 yrs 67% 30-40 yrs 26% 40-50 yrs 07% Qualification N% Post graduates 59 Senior lecturers 21 Readers 03 Professors 17 Sex N% Male 56 Female 44 Tabel. tapi tetap lebih besar dari setengah jumlah peserta. dan pembaca ( 3%). Sehubungan dengan pelatihan sebelumnya dalam etika penelitian meskipun lebih besar dari setengah jumlah peserta. sedangkan 2-3% dari orang-orang yang terlibat dalam proyek penelitian > 3. 61% setuju bahwa . Rentang umur dari peserta adalah antara 20-50 tahun dengan persentase rentang umur terbesar adalah antara 20-30 tahun ( 67%) dari umlah seluruh peserta sekitar 56% adalah pria sedangkan 46% adalah wanita. Lebih dari setengah peserta (51%) memiliki pengalaman sebelumnya dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia. 67% pernah menjalani pelatihan tentang etika penelitian.1 Tabel 2 menunjukkan persentase orang dan pengalaman penelitian mereka. Table 1: Showing demographic details of participants – age. Pembahasan 2. profesor ( 17%).

diwakili dengan sangat setuju. kebutuhan untuk penelitian akan ditinjau oleh komite etik. pelatihan untuk para peneliti dan aspek yang termasuk dalam etika penelitian termasuk dalam modul pascasarjana. research involving human 51 49 Subjects Prior training in research ethics 67 33 Familiarity with ethical principles 39 61 Awareness of functions of ethical committee 54 46 Tabel. setuju) sehubungan dengan tujuan dari komite etik penelitian yang memerlukan hal tersebut.2 Meskipun analisis Awareness mengenai fungsi dari komite etik penelitian (Tabel 3) dan pendidikan etika penelitian – lebih dari 80% (80-95%) dari peserta merespon positif ( yaitu. 46% tidak sepenuhnya mengetahui tentang hal tersebut.mereka tidak sepenuhnya mengetahui tentang etika penelitian. Table 2: Showing details about involvement in prior research ethics expressed as % yes or % no Variable % Yes % NO Participation in. Table 3: Attitudes of participants regarding research ethics committees and research ethics education Variable Strongly Agree Not sure Disagree Strongly agree disagree Research ethics committee is helpful 69 27 04 00 00 Need for research ethics committee 72 23 04 01 00 Research with human subjects must be reviewed by a research ethics 67 28 02 03 00 committee Ethical review of research is only 10 08 19 41 22 necessary for international collaborative . Walaupun 54% mengetahui tentang fungsi komite etik. Ada tanggapan yang 6amper sama mengenai kesadaran fungsi dari komite etik diantara peserta.

diwakili dengan sangat setuju. setuju ) berkaitan dengan berbagai aspek untuk melindungi data dari accidental exposure dan aspek informed consent tapi ada variasi yang luas dalam kaitannya dengan aspek seperti – apakah pasien harus diberitahu tentang resiko potensial dari studi yang dilakukan karena mereka mungkin tidak mengikuti studi – dalam aspek ini 70% menentang hal tersebut tapi sekitar 25% setuju dengan hal tersebut sedangkan 7% tidak yakin dengan hal tersebut.research Ethical review of research by an REC would delay research and make it harder 05 21 27 31 16 for the researcher The members of a research ethics committee should receive training in 53 30 10 06 01 research bioethics Research ethics should be taught as a 39 44 13 03 01 mandatory postgraduate module All investigators should have some 42 49 07 02 00 training in research ethics Tabel. sedangkan 47% tidak setuju dengan hal tersebut. Attitudes terhadap praktek dalam etika penelitian (tabel 4) menunjukan bahwa lebih dari 90% (94%-98%) dari pasien merespon positif ( yaitu. Demikian pula mengenai keterlambatan penelitian disebabkan oleh komite etik penelitian 26% setuju dengan hal tersebut. 19% tidak yakin dengan hal tersebut.3 Ada tanggapan yang beragam mengenai beberapa aspek seperti – apakah peninjauan etik hanya diperlukan untuk penelitiaan kolaboratif internasional – sementara 18% setuju bahwa hal tersebut hanya diperlukan untuk penelitian kolaboratif internasional. Dalam memperoleh informed consent dari kelompok beresiko – peserta hampir setuju . Dalam aspek memperoleh informed consent dari sampel darah untuk pemeriksaan klinis – 10% tidak yakin sedangkan 5% tidak setuju dengan hal tersebut. 27% tidak yakin. 66% tidak setuju dengan hal tersebut.

dan tidak setuju dengan hal tersebut sedangkan 10% tidak yakin dengan kondisi ini. Ketika ditanya apakah data dapat dibuat dalam rangka untuk meningkatkan hasil dari penelitian selama tidak membahayakan pasien – jumlah peserta yang setuju dan tidak setuju terhadap hal tersebut sama (masing . dan setengah jumlah peserta yang tersisa tidak setuju untuk memasukan subjek yang beresiko tanpa informed consent dari pengganti dalam penelitian. Sehubungan dengan permasalahan termasuk subjek yang berisiko karena tidak dapat digantikan.masing sekitar 40%) sedangkan 13% tidak yakin apakah hal tersebut bisa dikalukan atau tidak. Table 4: Attitudes regarding practices in research ethics Variable Strongly Agree Not sure Disagree Strongly agree disagree There should be measures to protect patient data from being accidentally 57 37 05 01 00 exposed Patients should be informed of the full details of research including risks and 71 26 03 00 00 benefits Informed consent from patients is necessary for use of their biological 76 18 03 03 00 samples in research Informed written consent should 75 23 01 01 00 always include patients signature When involving patients with invasive procedures informed consent must be 75 23 02 00 00 sought from each patient Patients should be told about potential risks of a study because they may not 14 09 07 37 33 enroll in the study No need to obtain research informed 00 05 10 24 20 consent for blood samples obtained . seperempat dari jumlah peserta berpendapat bahwa subjek ini dapat dimasukan ke dalam penelitian sedangkan seperempat jumlah peserta yang lain tidak yakin apakah subjek ini dapat dimasukan ke dalam penelitian .

salah) Table 5: Knowledge involving various aspects of research Variable Correct Wrong Informed consent describing risks and benefits 86 14 Research involving children 67 33 Retrospective research on stored samples 30 70 originally collected for clinical purposes Confidentiality in medical research 56 44 Tabel. 70% .for clinical tests Vulnerable groups such as children and the mentally ill could provide 19 24 13 24 20 informed consent If no surrogate is available to give informed consent for vulnerable 10 14 27 29 20 groups they could still be included Is it okay to fabricate data to improve outcome of research 12 30 13 15 30 as long as there is no harm to the patients Tabel.4 Dalam menganalis tujuan terakhir dari penelitian kami. Dalam aspek penelitian yang melibatkan anak – 67% memiliki pengetahuan yang akurat. Dari data yang diperoleh.benar. yaitu untuk menilai Knowledge (tabel 5) – hasil yang bervariasi diperoleh dari para peserta.5 . Para peserta menunjukan pengetahuan yang lebih baik mengenai informed consent dalam menjelaskan resiko dan manfaat ( 86% benar dan 14% salah). diamati bahwa peserta yang memiliki pengetahun yang kurang mengenai penggunaan sampel yang awalnya disimpan dikumpulkan untuk tujuan klinis (30% . Mengingat kerahasiaan dalam medical research lebih dari setengah jumlah peserta (56%) memiliki pengetahuan yang akurat.

Temuan serupa yang diidentifikasi dari Negara-negara barat dimana ia berpendapat bahwa birokrasi menyebabkan penelitian ditunda.0001 . pengetahuan dan sikap professional gigi di sekolah kedokteran gigi. Timur Tengah. hasil yang sama diperoleh dari sikap terhadap praktek dalam etika penelitian dimana wanita menunjukan nilai yang signifikan melebihi pria dengan P < 0. ditemukan bahwa wanita secara signifikan memiki kesadaran lebih tinggi dibandingkan pria dengan P < 0. 95% confidence interval antara 1. 2. confidence interval antara 1.prinsip etika.sikap dinilai dengan memandang pada kualifikasi akademik.68 dan odds ratio 2.66. Meskipun sekitar 67% dari populasi telah menunjukkan bahwa mereka mempunyai pelatihan sebelumnya dalam etika penelitian. Temuan serupa yang telah diamati mengenai fungsi dari komite etik yang menekankan peninjauan etik dan yang berfungsi di dalam lembaga.56. 67-3.39. saat sikap . Sudan.55 dan odds ratio 2.saat model regresi logistic multivariable dilakukan untuk kesadaran diri terhadap prinsip .0001. ini adalah korelasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan di berbagai Negara lain seperti. Mesir. dosen senior memiliki sikap terhadap praktek dalam etika penelitian dengan P-value <0.27-4. Sedangkan fakultas di dalam penelitian ini mendukung keberadaan komite etika penelitian.0001 confidence limit antara 1.29-4. hampir seperempat dari mereka memegang opini bahwa komite tersebut akan menunda penelitian dan membuatnya lebih sulit untuk melakukan penelitian.44 dan odds ratio 2.2 Discussion Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa fakta yang menarik mengenai kesadaran. Peserta dari survey ini menunjukkan dukungan yang besar untuk keberadaan komite etik penelitian dan pendapat umum bahwa komite etik ini akan membantu untuk mempromosikan penelitian serta diperlukan untuk meninjau rencana-rencana penelitian. Ini menunjukkan kekosongan di kesadaran menyeluruh terkait etika penelitian. tetapi mereka sepakat bahwa mereka tidak benar-benar mengetahui pedoman etika yang mengatur penelitian manusia. Sementara seperempat yang lainnya tidak menyadari hal itu. Dalam penelitian kami ini mungkin alasan yang mungkin di balik pendapat ini adalah mereka mungkin tidak memahami mengenai sejauh mana proses yang diperlukan untuk .

Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian kualitatif melibatkan wawancara mendalam dijamin lebih mengeksplorasi sikap dasar dosen mengenai proses tinjauan penelitian oleh komite etik penelitian. Hasil ini semakin signifikan dengan menemukan temua studi lain yang menunjukka bahwa peserta penelitian yang berpartisipasi dalam studi tentang kesehatan mulutu di Nigeria memiliki pemahaman yang buruk tentang beberapa elemen penting dari proses informed consent.meninjau penelitian atau karena pengalaman yang tidak menguntungkan bersama komite. Perhatian lain kami mengenai informed consent adalah hampir 40% fakultas percaya bahwa subjek tertentu yang rentan (misalnya. Persentase ini mirip dengan studi yang sebelumnya dimana sekitar 27% adalah bersedia untuk memilih ataumenghilangkan data untuk meningkatkan hasil. Pertimbangan untuk perdebatan ini dinyatakan tidak memiliki pendekatan yang positif terhadap penelitian dan ini perlu ditangani dengan benar. Hal ini berbeda dengan yang diidentifikasi dari dunia bagian lain seperti Mesir. termasuk isu-isu yang terlibat dengan konsep pemahaman dan kerentanan Sebagian. Memang kurang dari setengah peserta (46%) tidak sepenuhnya menyadari fungsi komite etik penelitian menyoroti upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kesadaran akan operasi komite etik penelitian. Studi kami juga menghasilkan fakta menarik sehubungan dengan sikap praktek dalam etika. namun sejumlah besar dari peserta (sekitar 40%) berpikir diperbolehkan untuk mengarang data selama itu tidak merugikan pasien. Dengan demikian. anak-anak dan sakit mental) dapat memberikan informed consent untuk berpartisipasi dalam penelitian. Hasil ini mendasari timbulnya masalah bagaimana “informasi” persetujuan dapat diambil dari subjek yang kurang dalam pengambilan keputusan. Para professional gigi di lembaga tampaknya menyadari praktek tentang perlindungan kerahasiaan dan beberapa aspek tentang proses informed consent. . kita menyarankan upaya pelatihan di masa depan untuk fakultas kedokteran gigi difokuskan pada isu-isu informed consent.

. ukuran sampel yang kecil. Akhirnya kami merekomendasikan penelitian kualitatif untuk lebih mengembangkan sikap fakultas terhadap komite etik penelitian dan praktek di komite penelitian.Dalam menilai pengetahuan dari peserta terhadap etik penelitian. professional gigi diuntungkan dengan pelatihan etika penelitian dan peranan komite etik dalam mengadakan penelitian gigi. sementara dalam penelitian retrospektif sampel awalnya dikumpulkan untuk tujuan klinis. Dalam aspek kerahasiaan di dalam penelitian medis hampir kurang dari setengah salah. kami menemukan bahwa peserta memiliki pengetahuan yang baik mengenai berbagia aspek etik seperti informed consent menggambarkan resiko dan keuntungan penelitian yang melibatkan anak-anak. Meskipun keterbatasan survey kami ini mengungkapkan bahwa ada kesenjangan dalam etika penelitian. bertanggung jawab atas pelaksanaan penelitian dan peran serta fungsi komite etik penelitian. leih dari tiga perempat tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Survey tersebut juga merekomendasikan pengembangan lanjut dalam pendidikan etika penelitian dengan penekanan khusus pada peserta yang rentan. jenis pertanyaan yang digunakan untuk menilai pengetahuan mungkin tidak benar-benar mewakili berbagai topic dalam etika penelitian dan kami tidak mendapatkan rinci informasi mengenai jenis pelatihan dan lokakarya yang telah dihadiri fakultas serta metode pengajaran dalam pelajaran mereka. Hasil ini mengangkat isu di daerah mana program pelatihan saat ini harus difokuskan dan penyelidikan penelitian lebih lanjut untuk factor yang memperhitungkan setiap perbedaan kesenjangan pengetahuan Keterbatasan penelitian kami meliputi convenience sampling.

Jika kita tidak bisa berbuat baik kepada seseorang.1 Medical professionalism principle Prinsip dasar etika kedokteran meliputi tidak merugikan (nonmaleficence). Prinsip tidak merugikan (non maleficence). BAB 3 Kaitan dan Teori 3. dan berkeadilan (justice). Dalam bidang . merupakan prinsip dasar menurut tradisi Hipocrates. paling tidak kita tidak merugikan orang tersebut. primum non nocere. berbuat baik atau bermanfaat (beneficence). menghormati otonomi pasien (autonomy).

sehingga kita dapat memperkirakan sejauh mana suatu kewajiban bersifat mengikat: Pertama apakah orang yang perlu bantuan itu mengalami suatu bahaya besar atau risiko kehilangan sesuatu yang penting. tanpa pertimbangan perbedaan suku. agama.2 Awareness Sebuah survei cross sectional dilakukan di lembaga dengan persetujuan dari dewan peninjau etik lembaga. merupakan segi positif dari prinsip nonmaleficence. Prinsip berbuat baik (beneficence). ras. Dalam hubungan dokter-pasien ada otonomi klinik atau kebebasan professional dari dokter dan kebebasan terapetik yang merupakan hak pasien untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya. ketiga apakah tindakan penolong dapat mencegah terjadinya kerugian itu. Ada 4 (empat) langkah sebagai proses untuk menilai risiko.medis. pembaca. kekayaan dan kedudukan sosial. dan anggota fakultas (asisten profesor. Peserta penelitian termasuk mahasiswa pasca sarjana. menimbulkan efek yang tidak menyenangkan. Kuesioner terdiri dari bagian . yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan terhadap suatu rencana tertentu dan kemampuan untuk mewujudkan rencananya menjadi kenyataan. artinya menekankan persamaan dan kebutuhan. profesi kedokteran harus memberikan pelayanan yang sama terhadap semua orang. berupa perlakuan yang sama untuk orang-orang dalam situasi yang sama. dan keempat apakah manfaat yang diterima orang itu melebihi kerugian bagi penolong dan membawa risiko minimal.Dalam memberikan pelayanan medik. Penelitian ini dirancang dalam bentuk kuesioner berdasarkan Tujuan dari penelitian kami (penilaian pengetahuan. 3. Tetapi kewajiban berbuat baik ini bukan tanpa batas. setelah mendapatkan informasi yang benar selengkaplengkapnya. kedua apakah penolong sanggup melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya bahaya atau kehilangan itu. baik untuk diagnosis atau terapi. Dalam hal ini terdapat 2 unsur penting. Prinsip keadilan (justice). seringkali kita menghadapi situasi dimana tindakan medis yang dilakukan. merupakan suatu kebebasan bertindak dimana seseorang mempunyai hak mengambil keputusan sesuai dengan yang diyakini dan diinginkannya. Prinsip menghormati otonomi pasien (autonomy). profesor). kesadaran dan sikap).

jabatan akademik. bagi mereka asosiasi yang signifi ratio tidak bisa odds dan dence kerahasiaan batas diungkapkan. Tanggapan diwakili dalam bentuk persentase tanggapan. 4-tidak setuju dan 5-sangat tidak setuju).penelitian yang melibatkan anak-anak. partisipasi sebelumnya dalam manusia subjek penelitian. logistik multivariabel model regresi dilakukan untuk kesadaran diri terhadap etika prinsip dan sikap dan pengetahuan untuk menentukan prediktor independen dari tanggapan tergantung.0001. 3-tidak yakin. Data yang diperoleh menjadi sasaran analisis statistik menggunakan SPSS -16 software. P-nilai yang telah ditetapkan tidak bisa signifi di 0. Dalam bagian ketiga dari kuesioner responden diminta untuk memilih tentang komite etika penelitian dari 5 poin skala Likert mulai dari 1 sampai 5 (1-sangat setuju. 2-setuju.berikut: bagian pertama terdiri dari informasi demografi peserta: usia. kelima bagian dari kuesioner yang terlibat pertanyaan tentang penilaian pengetahuan yang berdasarkan skenario kasus yang melibatkan persetujuan menggambarkan risiko dan benefi ts. pendaftaran individu yang rentan. atau suatu filosofi yang mendasari prinsip tersebut. Etika penelitian berarti aturan yang dipegang oleh peneliti dalam melakukan riset dan oleh karenanya para peneliti harus mengetahui dan paham tentang etika ini sebelum melakukan penelitian. bagian responden keempat diminta untuk kembali memilih dari 5 point skala Likert mengenai sikap terhadap praktek-praktek tertentu dalam melakukan penelitian seperti informed consent. retrospektif Penelitian sampel disimpan awalnya dikumpulkan untuk klinis tujuan dan akhirnya kerahasiaan kerahasiaan dalam penelitian medis. kerahasiaan kerahasiaan dan bertanggung jawab melakukan penelitian. Bagian kedua dari kuesioner menilai kesadaran peserta diri menuju prinsip-prinsip etika dan fungsi dari komite etik.3 Knowledge on research ethics Etika merupakan seperangkat prinsip yang harus dipatuhi agar pelaksanaan suatu kegiatan oleh seseorang atau profesi dapat berjalan secara benar (the right conduct). [1] . 3. jenis kelamin. sejumlah proyek penelitian yang terlibat dalam dan pelatihan sebelumnya dalam etika penelitian.

Ketiga.2 Penelitian yang Melibatkan Anak-Anak Partisipasi anak-anak sangat penting dalam penelitian penyakit anak dan kondisi-kondisi yang rentan bagi anak. para peneliti harus mempertimbangkan secara mendalam mengenai apa saja yang dapat memungkinkan terjadinya bahaya atau penyalahgunaan dalam penelitian dan juga perlindungan subyek. mafaat. yang menekankan bahwa semua subyek penelitian harus diperlakukan denegan baik serta adanya keseimbangan antara manfaat dan juga resiko. Peneliti harus memberikan semua keterangan yang dimilikinya mengenai penelitian yang akan dilaksanakan.3. [2] Selain mengetahui prinsip dasar etika penelitian. sangat penting untuk mengetahui beberapa pengetahuan-pengetahuan lain mengenai etika penelitian seperti. [2] 3. Terdapat 4 prinsip dasar etika penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyek. manfaat (beneficence).1 Informed Consent Salah satu yang harus diperoleh peneliti dari subyek penelitian adalah informed consent yang merupakan salah satu bagian penting dari persyaratan dalam penelitian yang melibatkan manusia dan organ manusia. pertama. Kedua. tidak membahayakan subyek penelitian (non-maleficence). dan juga resiko yang akan terjadi selama penelitian. orang tua atau wali dari setiap anak yang akan diteliti telah menyetujui penelitian. penelitian yang mungkin dapat dilakukan oleh orang dewasa maka anak-anak tidak boleh dilibatkan. Dengan demikian akan terjadi semacam transaksi antara pemberi dan penerima informasi yangdalam hal ini antara peneliti dengan subyek penelitian. 3.3. menghormati orang (respect for person). yang berarti mengusahakan manfaat yang maksimal dan kerugian yang minimal bagi subyek penelitian. Keempat. penggunaan data sekunder pada penelitian retrospektifdan dan kerahasiaan dalam penelitian medis. dan terakhir resiko yang ditimbulkan oleh intervensi . persetujuan setiap anak telah diperoleh sejauh kemampuan anak. penolakan anak untuk berpartisipas dalam penelitian harus selalu dihargai kecuali menurut protocol penelitian anak tersebut akan menerima terapi yang secara medis tidak ada alternatifnya. yaitu dengan mengurangi bahaya dan juga melindung subyek penelitian. yaitu. keadilan (justice). Peneliti harus memastikan beberapa hal seperti. informed consent¸penelitian yang melibatkan anak-anak. Sebelum melakukan penelitian yang melibatkan anak-anak. Tujuan dari penelitian tersebut harus relevan dengan kebutuhan kesehatan anak.

biasanya tidak praktis untuk memperoleh informed consent dari setiap pasien. komisi etik dapat meniadakan persyaratan informed consent. Dalam ranah penelitian. namun harkat dan martabat kemanusiaan haruslah dipertimbangkan dalam penelitian (Jacob. [3] 3. atau dengan cara-cara lain. maka dari itu.3. sebaiknya memberitahukan pada pasien secara umum tentang adanya kemungkinan penggunaan data.3. Pada lembaga- lembaga dimana catatan-catatan dapat digunakan untuk tujuan penelitian tanpa adanya informed consent. Etika membantu seseorang dalam melihat secara kritis terkait moralitas yang diterapkan dalam masyarakat. Para subyek harus diberitahu mengenai batas-batas kemampuan peneliti untuk melindungi kerahasiaan serta konsekuensi jika adanya pelanggaran mengenai rahasia data tersebut. [3] 3.4 Attitude research ethics Etika mencakup perilaku terkait apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. dalam subjek peneliti. guna menciptakan suasana yang bersabahat dan menimbulkan rasa nyaman selama penelitian dilakukan. Penelitian yang melibatkan individu maupun kelompok dapat memiliki data-data yang jika diungkapkan ke pihak ketiga dapat menimbulkan tekanan maupun kerugian.4 Kerahasiaan dalam Penelitian Medis Seorang peneliti harus melindungi dan menjaga kerahasiaan data secara aman. seorang peneliti harus memegang teguh sikap ilmiah (scientific attitude) serta menerapkan prinsip-prinsip penelitian. Meskipun dalam penelitian tidak memerlukan intervensi yang tinggi serta tidak membahayakan subyek penelitian. Menurut Singleton (1997) dalam menerapkan etika penelitian terdapat beberapa hal yang perlu kita tanamkan dalam diri kita sebagai peneliti. serta komunitas di sekitar. Cara peneliti untuk melindungi data tersebut dapat dilakukan dengan cara meniadakan informasi yang dapat mengidentifikasi subyek individu. membatasi akses terhadap data tersebut.3 Penggunaan Data Sekunder Pada Penelitian Retrospektif Dalam penelitian yang menggunakan data dari rekam medis.yang tidak dimaksudkan untuk memberikan manfaat kepada subyek anak adalah rendah dan setara dengan pentingnya pengetahuan yang akan dicapai. . 2004). [3] 3.

3. maupun psikologis.1 Peneliti Sebagai seorang peneliti haruslah menerapkan beberapa prinsip.4. secara fisik.  Informed Consent Informed consent merupakan kesediaan yang disadari. Etika yang harus diterapkan adalah :  Kejujuran Jujur merupakan sikap atau sifat yang menyatakan sesuatu dengan segungguhnya. Tidak merugikan pertisipan secara material.4. Jujur pada kekurangan ataupun kegagalan metode yang dilakukan serta selalu menghargai rekan peneliti lain dengan tidak mengklaim pekerjaan orang lain sebagai pekerjaan kita. Etika penelitian mensyaratkan adanya kesediaan subjek penelitian untuk diteliti. Sikap ilmiah pada umumnya merupakan sikap atau landasan etika moral yang harus diperlihatkan oleh peneliti saat menulis laporan penelitian maupun saat melakukan penelitian. apa adanya tanpa rekayasa.3 Komunitas  Terkait dengan lingkungan sekitar peneliti. publikasi hasil. 3. oleh karena itu subyek penelitian memiliki hak untuk menolak sehingga tidak diperbolehkan ada unsur paksaan dalam penelitian.4. 3. Dalam penelitian jujur ditetrapkan dalam pengumpulan bahan pustaka. yaitu perlindungan partisipan serta informed consent. diantaranya :  Misconduct Seorang peneliti tidak boleh melakukan penipuan dalam menjalankan proses penelitian.  Plagiarism Seorang peneliti tidak boleh melakukan pemalsuan hasil penelitian.  Obyektivitas . pengumpulan data. Dalam hal ini etika penelitian menekankan pada kebenaran data yang didapat dari hasil penelitian. pelaksanaan metode dan prosedur penelitian.  Perlindungan Partisipan Dalam etika penelitian peneliti dianjurkan utuk melakukan penelitian yang tidak merugikan partisipan.  Research Fraud Seorang peneliti tidak boleh melakukan pemalsuan data.2 Subjek Peneliti Membahas mengenai dua hal.

serta terbuka terhadap kritikan. penilaian ahli atau rekan. memudahkan kehidupan. alat.  Legalitas . catatan kriminal ataupun data yang lain yang dianggap responden sebagai rahasia. dan interpretasi data. sumber daya.  Penghargaan terhadap kerahasiaan (Responden) Apabila dalam melakukan penelitian menyangkut data pribadi. meringankan beban.  Penghargaan terhadap rekan kerja Hargai dan perlakukan kolega sebagai mana kita sebagai peneliti ingin diperlakukan.  Penghargaan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Perhatikan paten. copyrights.  Tidak melakukan diskriminasi Tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap responden maupun rekan kerja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kompetenssi dan integritas ilmiah  Kompetensi Meningkatkan kemampuan dan keahlian melalui pendidikan dan pembelajaran seumur hidup. dan bentuk hak-hak intelektual lainnya.  Integritas Menepati janji dan perjanjian. analisis.  Tanggung jawab sosial Mengupayakan agar penelitian yang dilakukan dapat berguna di masyarakat. upayakan selalu menjaga konsistensipikiran dan perbuatan. lakukan penelitian dengan tulus.  Ketelitian Selalu teliti dengan mencatat secara teratur perkerjaan yang dilakukan. Tidak boleh menggunakan data metode atau hasil yang belum dipublikasikan tanpa ijin penelitinya. pengaruh pemberi dana dalam peneltian. keputusan pribadi. Maka peneliti harus menjaga kerahasiaan data tersebut sebagai bentuk penghargaan.Mengupayakan minimalisasi kesalahan rancangan percobaan. Serta dapat bertanggung jawab dalam melakukan pendampingan bagi masyarakat yang ingin menghasilkan dari penelitian kita. kesehatan.  Keterbukaan Saling berbagi terhadap ide. selalu mevantumkan narasumber dan jangan pernah melakukan plagiasi. serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Menghormati harkat dan martabat subyek peneliti. efek negative harus diminimalkan.  Mengutamakan keselamatan manusia Rancangan penelitan harus dibuat dengan teliti. manfaat harus dimaksimalkan. .Pahami dan patuhi peraturan institusional dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan rancangan penelitian yang dibuat.

Milton.litbang. dr. Jr. Prof. Etika Penelitian Ilmiah. Pdf 93 4. C.depkes. Buku dr dewa Sukarya. “Standar Pendidikan Profesi Dokter Indonesia” . Konsil Kedokteran Indonesia . Nursing Science Quarterly. 1988. et.S. 2012.google. 2014.edu%2F2522%2F3%2FMetlit%2520BAB %2520II. Oxford University Press.maranatha. 1. Daftar pustaka Jacob. al. (K)) 2011. diakses pada 21 Mei 2016 dari https://www.co. New York.pdf&usg=AFQjCNE4q49rwN_0tdBm6lnlYYQv29q2iw&sig2=mXV- WVVcv1git-Wkl6ngBQ&bvm=bv.id/url? sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCEQFjA BahUKEwj1uKXAwszIAhXDwY4KHXIxCO4&url=http%3A%2F %2Frepository. Dr.L.ke. 60-63. SpFK. W.id/kom14/?p=82) 2.c2E 3. H. 2004. Singleton. Warta Penelitian Universitas Gadjah Mada (Edisi Khusus)..105454873. “Approaches to Social Research”. Komisi Etik Penelitian Kesehatan. Diakses pada 21 Mei 2016 dari (http://www.go. T. Etika Penelitian.Muchtan Sujatno. Royce.d. 1999. “Ethical Issues From Nursing Theoretical Perspectives”.