You are on page 1of 13

Infeksi Tetanus dengan Gejala klinisnya sampai Pengobatannya

Victor Morando Nainggolan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara no. 6 – Jakarta Barat 11470

randezzz@rocketmail.com

Pendahuluan

Tetanus merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus
dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospamin, suatu toksin protein yang kuat yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani. Terdapat berbagai bentuk klinis tetanus termasuk di
dalamnya tetanus neonatorum, tetanus generalisa dan gangguan neurologis lokal. Tetanus
merupakan salah satu penyakit yang jika tidak segera diobati akan menyebabkan kematian.
Pada riwayat sebelumnya terdapat riwayat luka atapun kecelakaan.1

Untuk mengindentifikasi apakah seseorang terkena tetanus atau tidak diperlukan
beberapa tahapan yaitu dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, diagnosis kerja, diagnosis pembanding, etilogi penyakit, epidemiologi penyakit,
kemudian dilakukan penatalaksaan dan dilakukan prognosis.1

Anamnesis

Anamnesis adalah suatu wawancara medis yang merupakan tahap awal dari suatu
rangkaian pemeriksaan terhadap pasien. Baik bersangkutan dengan pasien maupun dengan
relasi terdekatnya.
Tujuan utama wawancara praktisi-pasien adalah meningkatkan kesejahteraan pasien.
Ada dua jenis anamnesis, yang pertama adalah autoanamnesis merupakan anamnesis terhadap
pasien itu sendiri. Sedangkan yang kedua adalah aloanamnesis yang merupakan anamnesis
terhadap keluarga atau relasi terdekat atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit atau
tempat praktek. Aloanamnesis dilakukan bila kita tidak dapat melakukan anamnesis terhadap
pasien itu sendiri.2

Bagan anamnesis terdiri atas:

1

hati. manifestasi yang berkaitan. bengkak pada daerah yang terluka dan bernanah. dapat juga keluhan penurunan kesadaran sangat jarang. Hygiene dan sanitasi lingkungan apakah bersih atau tidak. Keluhan-keluhan penyerta berupa kaku pada wajah.3 e.3 d. alamat lengkap. jenis kelamin. Informasi bisa didapat dari keluarga pasien. hepatitis.2. pendidikan. faktor yang makin memperburuk. kapan kejang terjadi. leher. riwayat pemberian ATS (anti tetanus toxoid). ginjal. apakah ada obat- obat yang pernah diminum apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran. Riwayat pemberian ulang vaksin DT (dipteri dan tetanus) pada saat dewasa umur 19 tahun. pernah melakukan pembedahan. Riwayat penyakit dahulu : merupakan pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi apakah pernah mengalami demam atau kejang sebelumnya. berapa lama. suku agama. berapa lama kejang terjadi. sudah berapa lama demam. umur. TBC. Menanyakan keluhan utama : keluhan utama pasien datang untuk berobat : demam tinggi. atau terjatuh dan ada luka ditempat yang kotor. Menanyakan riwayat penyakit sekarang : Faktor riwayat penyakit sekarang sangat penting diketahui untuk mengetahui predisposisi penyebab sumber luka. jantung. menggunakan apa untuk mengatasi kejangnya. 2. apakah panasnya naik turun atau panasnya tidak pernah turun. DM dan penyakit infeksi lain. alergi. kuantitas. apakah pernah menderita riwayat penyakit yang lain dan pernahkah dirawat dirumah sakit. 3 c. sakit menelan. ginjal. saat terjadi bagaimana. Tanyakan adakah riwayat alergi. riwayat penyakit jantung. bila ada keluhan kejang pada punggung.3 2 .a. perut dan anggota gerak. Adakah riwayat penyakit keluarga seperti epilepsi. frekuensi.lokasi. tempat dan tanggal lahir. Menanyakan identitas pasien : nama lengkap. kejang. Apakah sebelumnya pasien pernah terluka atau tertusuk. pekerjaan dan status perkawinan. mulut hanya bisa dibuka maksimal 2 jari. kapan. 3 b. keadaan rumahnya. Tanyakan gaya hidupnya. contohnya pada kasus yaitu keluarga pasien mengatakan bahwa pasien pernah tertusuk paku ditelapak kaki kanan dan tidak pernah diobati. Apakah penderita pernah mengalami riwayat kejang sebelumnya. kekakuan.kualitas. sudah berapa kali mengalami kejang. mengalami kecelakaan di jalan yg kotor dan terdapat luka yang penuh dengan debu dan kotoran. Menanyakan riwayat sosial : Bagaimana respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari – harinya.2.

dan otot yang berperan dalam proses menelan sehingga dapat menyebabkan terjadinya disfagia. risus sardonikus. kaku leher dan kaku punggung. sakit tenggorokan dan kesulitan dalam membuka mulut sering kali merupakan gejala awal. ataupun stimuli emosional.Pemeriksaan A. Selanjutnya dapat timbul gangguan pernapasan yang mengakibatkan anoksia dan kematian. Penyebab kematian merupakan kombinasi berbagai keadaan. pendengaran. berdebar dan berkeringat. Keluhan konstipasi. Kaku leher. mengakibatkan terjadinya gagal pernapasan. Kejang dapat berbeda dalam hal keparahan dan frekuensi tetapi dapat saja cukup kuat untuk menyebabkan fraktur. seperti bunyi-bunyian. Yang paling sering terjadi adalah tetanus umum. Tetanus dapat timbul bahkan dari luka sepele. dan cahaya. gejala pertama adalah kaku otot maseter yang mengakibatkan trismus. dan juka parah disfungsi autosomal. nyeri kepala. kejang otot. dan infeksi sekunder di paru yang menyebabkan kegagalan pernapasan serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Ada tiga triad klinis dari kekakuan. Kejang otot yang merupakan kekakuan karena hipertonus dan tidak bersifat klonus dapat timbul hanya karena rangsangan yang lemah. visual. nampak risus sardonikus karena kaku otot wajah. Selanjutnya timbul kejang opistotonus yang disebabkan oleh kaku duduk. Kontraksi ini memiliki penampilan menyerupai konvulsi yang mempengaruhi otot agonis dan antagonis bersamaan. Hal ini menyebabkan kesulitan menelan yang mengganggu pasien. Kekejangan dapat berkelanjutan. Kejang 3 . Kontraksi ini dapat aktif secara spontan ataupun dengan stimulant. Kadang pada trauma kepala timbul tetanus local tipe sefalik. Pada pasien tetanus. Kaku pada otot leher dapat mengakibatkan penarikan kepala. Pemeriksaan Fisik Gejalanya berupa kaku persisten pada kelompok otot dekat luka yang terkontaminasi bakteri tetanus. seperti kelelahan otot napas. seperti sentuhan. Dinding perut keras seperti papan.4 Tetanus biasanya dimulai dari luka yang terlihat/diketahui. Pada umumnya ditentukan demam serta bertambahnya frekuensi napas. dan kurang dari 50% kasus luka yang terjadi dianggap tidak cukup serius untuk mendapatkan pengobatan medis. Kekakuan pada batang tubuh dapat mengakibatkan opistotonus dan kesulitan pernapasan dengan berkurangnya penyesuaian dari dinding dada. mengakibatkan ekspresi wajah yang typical. juga terdapat kejang otot yang tak disengaja. Kejang otot masseter dapat menyebabkan trismus atau lockjaw. Kekejangan yang bersifat progresif dapat meluas ke otot wajah.

1. Banyak pasien yang menderita tetanus parah meninggal karena gagal pernapasan akut.4 Adapun karakteristik dari tetanus :  Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama. ditemukan peningkatan saraf simpatik menyebabkan takikardia dan hipertensi. mungkin leukositosis ringan. basal plasma katekolamin meningkat. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus.  Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus . Diagnosis Kerja Pasien mengalami infeksi sekunder dari vulnus laceratum akibat trauma yang di dapat dari 2 minggu yang lalu.  Setelah 2 minggu kejang mulai hilang. Infeksinya dari mikroba clostridium tetani yang tidak ditangani dengan bagus oleh petugas kesehatan di desanya.5 B. Dengan perkembangan dari perawatan intensif. c.4 Diagnosis A. adanya trismus. b. Lab darah : tidak spesifik. Menurut WHO . serum CK agak meningkat. Dalam pemeriksaan fisik.  Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya. 4 . nuchal rigidity ). atau risus sardonikus atau spasme otot yang nyeri serta didahului trauma terdahulu itu sudah cukup untuk menegakkan diagnosis terkenan tetanus.  Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher.pada bagian faring biasanya diikuti dengan kejang bagian laring dan biasanya berhubungan dengan pernapasan dan obstruksi jalur pernapasan akut yang berbahaya bagi nyawa. Pemeriksaan Penunjang Diagnosis cukup ditegakkan dengan gejalan klinis karena pemeriksaan kuman Clostridium belum tentu berhasil. Namun apabila tetap diinginkan maka pemeriksaan penunjang penyakit tetanus meliputi : a. Rekam EMG : hilangnya periode diam pada 50-100 ms setelah kontraksi reflek. dan menetap selama 5 -7 hari. Sistem saraf simpatis adalah yang berkemungkinan terbesar untuk terkena. Vasokonstriksi dan pyrexia juga terlihat. menjadi jelas bahwa tetanus yang parah berkaitan dengan ketidakstabilan otonom. Pada pemeriksaaan bakteriologik ditemukan clostridium tetani. lockjaw ) karena spasme Otot masetter.

biasanya kesadaran tetap baik. berbentuk oval.  Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus. menyerupai drumstick (Gambar 1). tungkai dengan eksistensi. dapat terjadi asfiksia dan sianosis. retensi urin.  Karena kontraksi otot yang sangat kuat. Meskipun sudah ditemui triad klinis tersebut. Diagnosis Pembanding 1) Meningitis Bacterial meningitis tetap menjadi penyakit tingkat dunia yang umum dijumpai dengan morbiditas dan mortilitas yang tinggi.1 B. Meningitis dapat terjadi pada usia berapapun dan dapat mengenai orang yang sehat sekalipun. dan perubahan mental. Triad klinikal dari meningitis antara lain adalah demam. Bakteri ini berspora dan bersifat obligat anaerob. bukan saja tidak bisa hidup dengan udara tapi bakteri ini juga selalu mati dengan adanya O2. Kaku leher terjadi dikarenakan oleh iritasi meningeal yang resisten terhadap gerakan flexi leher yang pasif. perubahan mental. bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ).  Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas. Tetapi semakin lama. Spora yang dihasilkan tidak berwarna. kecuali bila bakteri ini wujud dalam bentuk endospore. juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. tidak semua orang memiliki gejala demikian. sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah. lengan kaku dengan mengepal. kaku leher.6 Etiologi Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif. Selalu dijumpai di tanah dan pada tinja binatang terutama kuda. bibir tertekan kuat. dan sakit kepala. sering kali tidak ditemukan pertanda dan gejala yang spesifik. kaku leher. meskipun beberapa pasien memiliki resiko yang tinggi terkena penyakit ini. Diagnosis satu-satunya yang dapat dilakukan pada meningitis adalah analisis LCS. Clostridium tetani. Namun 95% penderita memiliki 2 dari 4 gejala yakni demam. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan 5 . hanya sekitar 44% yang memiliki ketiga gejala. termasuk pasien dengan immunosuppresed dan berumur tua.

benda daging atau bakteri lain. leher. Clostridium Tetani ( Todar K.net/normalflora. Tetanospasmin bertanggung jawab untuk menimbulkan manifestasi klinik dari tetanus yaitu kejang opistotonus dan kekakuan pada wajah. adanya garam kalsium. vaskularisasi yang tersumbat. 24 November 2014. tetanospasmin yang dilepaskan ketika sel lisis. Spora akan menjadi bentuk vegetatif dan eksotoksin akan dibentuk apabila keadaannya memungkinkan yaitu keadaan anaerob yang biasanya terjadi karena adanya jaringan nekrotik. atau dikenal dengan nama trismus dan spasme di daerah lokal terjadinya tetanus. Todar’s online textbook of bacteriology. perut dan anggota gerak. Clostridium tetani menghasilkan neurotoxin. tahan terhadap sinar matahari dan bersifat resisten terhadap berbagai disinfektan dan pendidihan selama 20 menit kecuali di didihkan dengan autoclave selama 15-20 menit ( suhu : 121°C ) Gambar 1. suatu eksotoksin. Diunduh dari http://www. Kumannya tetap berada di luka.8 Epidemiologi 6 .1 Patofisiologi Tetanus menyebabkan gangguan pada sistem saraf individu yang terinfeksi sehingga dapat menyebabkan kaku pada daerah mulut. dan bekas pemotongan tali pusat. adanya kuman piogenik lainnya.) Clostridium tetani tidak bersifat invasif.html. Edisi 2011.textbookofbacteriology. The normal bacterial flora of human.

Di amerika serikat peniliti meneliti tentang pelaporan tetanus dimana hasilnya sekitar 25% kasus tetanus tidak dlaporkan. tetanus masih merupakan masalah kesehatan publik.000 ribu pertahun. Kebanyakan kasus di negara berkembang adalah tetanus neonatorum. Progresivitas penyakit dan reaksi terhadap pengobatan dapat diukur dengan memberi angka pada empat gejala klinis yang timbul. Dilaporkan 1 juta kasus pertahun diseluruh dunia. menetralisirkan peredaran toksin. Penatalaksaan Umum Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani. dan menghilangkan kuman penyebab.1 A. 7 . debridement luka (eksisi jaringan nekrotik).dalam hal ini penatalaksanaan. Dan tujuan tersebut dapat diperinci seperti berikut: a.000-500.000 penduduk pertahun serta angka kematian 300. Dibawahnya terjadi pada orang dewasa yang disebabkan program imunisasi yang tidak adekuat.9%. Faktor yang dinilai adalah beratnya kekakuan. mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai pulih. dengan angka kematian akibat tetanus neonatarum sebesar 7. irigasi luka. angka kejadian tetanus 1.000 kelahiran hidup. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya. suhu badan. dan status pernapasan. karena angka cakupan imunisasi sudah cukup baik. menetralisasi toksin yang masih beredar dalam darah.8 per 10. Namun pada negara yang berkembang. terhadap luka tersebut dilakukan 1-2 jam setelah ATS dan pemberian Antibiotika. Data tentang tetanus di dunia sulit didapatkan karna jarang dilaporkan. Sedangkan di indonesia kejadian tetanus masih cukup tinggi. frekuensi kejang. penilaian dilakukan setiap 12 jam. Dari 1997 – 2000 di indonesia. Sekitar luka disuntik ATS. Pada negara maju angka kejadian penyakit tetanus kecil.6-1. dengan angka kejadian 18/100. membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 .1 Penatalaksanaan Prinsip pengobatan tetanus terdiri dari tiga upaya yaitu mengatasi akibat eksotoksin yang sudah terikat sistem saraf pusat. berupa: membersihkan luka.

Penghentian fenobarbital harus secara bertahap untuk mencegah kemungkinan meningkatnya frekuensi bangkitan kembali. kortikosteroid. dan antikoagulan (pada pasien yang 8 . Penggunaan fenobarbital menyebabkan berbagai efek samping seperti sedasi. metronizadol. verapamil.  Dosis pediatrik: 5mg/kg i. dan tingkat eliminasi dapat ditingkatkan secara signifikan oleh alkalinisasi dari urin. pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu pada hipoventilasi yang berkaitan dengan sedasi berlebihan atau laringospasme atau untuk mengindari aspirasi pasien dengan trismus.4. Bila ada trismus. digitoksin. atau malah bangkitan status epileptikus. gangguan kemampuan menelan atau disfagia.6 jam. e. Obat ini dapat menurunkan efek kloranfenikol.m dosis terbagi 3 atau 4 per hari. tidak melebihi 400mg/hari. Kombinasi dengan asam valproat akan menyebabkan kadar fenobarbital meningkat 40% . Jika pasien terpasang ventilator maka dosis yang lebih tinggi dibutuhkan untuk mendapatkan sedasi yang diinginkan. teofilin.v/i. gangguan fungsi hati.5-fenil-etil-barbiturat) merupakan senyawa organik pertama yang digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. d. karbamazepin. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap penderita. Interaksi fenobarbital dengan obat lain umumnya terjadi karena fenobarbital meningkatkan aktivitas enzim mikrosom hati. pasien nefritis. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas dan bangkitan dan menaikkan ambang rangsang . Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.m tiap 4. Fenobarbital diekskresikan tidak berubah dalam urin sampai batas tertentu (20-30% pada manusia). Fenobarbital Fenobarbital (asam 5. Kontraindikasi: hipersensitifitas.  Dosis dewasa: 1 mg/kg i.1 B. Fenobarbital juga merupakan obat pilihan utama untuk terapi kejang dan kejang demam pada anak.7 Dosis obat harus sedemikian rendah sehingga tidak menyebabkan depresi pernafasan. fenobarbital memiliki efek menenangkan dan penurunan kecemasan pada dosis yang relatif rendah serta efektif dalam pengobatan kejang tonik-klonik umum. Diet cukup kalori dan protein. c. Obat – Obatan a. penyakit paru – paru berat. karena fenobarbital adalah asam lemah dengan pKa 7. Oksigen. makanan dapat diberikan personde atau parenteral. Fenobarbital merupakan obat pilihan utama karena cukup efektif dan murah. dan agitasi. Hal ini sebagian karena ionisasi meningkat pada pH basa. psikosis akut. b. bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan.

fenothiazin. telah diberikan antikoagulan perlu disesuaikan dosisnya). glaukoma sudut sempit. anemia berat. tetapi kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagian dimediasi di medula spinalis. Dan apabila obat ini digunakan dalam jangka panjang.v apabila perlu. Hati – hati pada miastemia gravis dan miksedema.v tiap 4 sampai 8 jam.3 mg/kg/hari i. diinfuskan 40 mg per jam. karena efek samping dapat terjadi.  Dosis pediatrik: Spasme ringan: 0. ginjal. dilakukan monitor fungsi hati. dan sering kali dikombinasikan dengan agen lain. Obat ini bermanfaat untuk terapi bangkitan parsial sederhana misalnya bangkitan klonik fokal dan hipsaritmia yang refrakter terhadap terapi lazim. Spasme berat: 50 – 100 mg dalam 500 ml D5. Spasme sedang dan berat: 0. obat ini tidak aman. Induksi enzim mikrosomal dapat menurunkan efek kontrasepsi oral pada wanita. Tetapi obat ini dapat menyebabkan sedasi pada dosis yang diperlukan untuk mengurangi tonus otot. Kloramfenikol.7  Dosis dewasa: Spasme ringan: 5 – 10 mg oral tiap 4 – 6 jam apabila perlu. asam valproat dan MAOi dapat menyebabkan meningkatnya toksisitas fenobarbital.8 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiga atau 4 kali sehari. Hati – hati pada pasien dengan depresan sistem saraf pusat yang lain. Diazepam bekerja di semua jenis GABA di SSP. diabetes melitus. Diazepam Diazepam diberikan melalui intravena dalam hal anesthesia. Pada seseorang yang sedang hamil. misalnya status epileptikus.  Kontraindikasi: hipersensitifitas.1 b. Spasme sedang: 5 – 10 mg i. pasien dengan kadar albumin yang rendah atau gagal hati karena toksisitas diazepam dapat meningkat. dan MAOi. Pemberian obat ini bersama dengan alkohol dapat menyebabkan efek aditif ke sistem saraf pusat dan kematian. dan sistem hematopoitik. Baklofen Baklofen ialah suatu agonis GABAB yang menyebabkan relaksasi otot dengan cara meningkatkan konduksi K+ sehingga terjadi hiperpolarisasi ( di medula spinalis 9 .1 – 0. Pada kehamilan. Cisapride dapat meningkatkan kadar diazepam secara bermakna. barbiturat.1-0. Hati – hati pada demam. termasuk trauma otot lokal. Toksisitas benzodiapedin meningkat apabila digunakan bersamaan dengan alkohol.1 c. Diazepam terutama digunakan pada terapi konvulsi rekuren. tidak dianjurkan untuk memakai obat ini. Karena itu diazepam dapat digunakan pada spasme otot yang asalnya dari mana saja. Rimfamisin dapat menurunkan efek fenobarbital.

7  Dosis dewasa: 1 mg/kg i. Hati – hati pada pasien dengan disrefleksia otonomik.v 2 atau 4 kali sehari. Toksisitas meningkat apabila diberikan bersamaan dengan klofibrat dan warfarin. Dapat menyebabkan hepatotoksisitas. di medula spinalis.  Dosis pediatrik: 0.  Dosis dewasa: <55 th: 100 mcg IT >55 th: 800 mcg IT  Dosis pediatrik: <16 th: 500 mcg IT >16 th: seperti dosis dewasa  Kontraindikasi: hipersensitifitas. benzodiazepin. Dantrolen Dantrolen menyebabkan relaksasi otot rangka dengan cara menghambat penglepasan ion Ca dari retikulum sarkoplasmik. Guanabens.1 e. dengan tidak melebihi 100 mg 4 kali sehari. klindamisisn. Untuk wanita hamil belum diketahui apakah obat ini aman atau tidak.1 d. Dalam dosis terapi.v dua kali sehari pada permulaan. alkohol. yang menyebabkan inhibisi prasinaptik dengan akibat mengurangi influks kalsium. Pemberian bersamaan dengan estrogen dapat meningkatkan hepatotoksisitas pada wanita diatas 35 tahun. sirosis). baklofen mengurangi nyeri pada spastisitas dengan menghambat penglepasan neurotransmiter eksitasi. Keseluruhan dosis baklofen diberikan sebagai bolus injeksi. Pada kehamilan belum diketahui apakah aman atau tidak.5 mg/kg i. maupun otot polos. dapat ditingkatkan sampai 0. dan obat anti hipertensi dapat meningkatkan efek baklofen.80%. Hati – hati pada gangguan fungsi paru dan insufisiensi kardiak berat. Dosis dapat diulang setelah 12 jam atau lebih apabila spasme paroksismal kembali terjadi. dapat menyebabkan fotosensitifitas terhadap paparan matahari. Analgesik opiat. yakni substansi P. diulang tiap 4-6 jam apabila perlu. otot jantung.  Kontraindikasi: hipersensitifitas.5 mg/kg i. obat ini tidak memengaruhi saraf. TCAs. Kekuatan kontraksi otot menurun paling banyak 75. MAOi. penyakit hati aktif (hepatitis.v selama 3 jam. Penisilin G 10 . dan dalam otak).7 Baklofen intrathekal 600 kali lebih poten daripada baklofen per oral. Selain itu. dan juga tidak mempunyai kerja GABA-ergik.

m dosis terbagi 4 kali per hari. Dapat diabsorbsi ke dalam sel dan senyawa termetabolisme sebagian yang terbentuk mengikat DNA dan menghambat sintesis protein.7 Metronidazol aktif melawan bakteri anaerob dan protozoa. Pada kehamilan biasanya aman kecuali trimester pertama bila dalam dosis tepat. yang menyebabkan kematian sel. Penyesuaian dosis pada penyakit hati.  Dosis dewasa: 500 mg per oral tiap 6 jam atau 1 g i.v dapat menyebabkan anemia hemolitik dan neurotoksisitas.1 f.000 U/kg/hari i.  Dosis dewasa: 10 – 24 juta unit/ hari i. Direkomendasikan untuk terapi selama 10 – 14 hari. Diperlukan terapi 10 – 14 hari. Selain itu dapat juga terjadi henti jantung pada pasien yang mendapat dosis masif penisilin G. pemantauan kejang dan neuropati perifer. Metronidazol Metronidazol ialah 1-(β-hidroksi-etil)-2-metil-5-nitromidazol yang berbentuk kristal kuning muda dan sedikit larut dalam air atau alkohol.4 mg/kg/hari oral/i.\  Dosis pediatrik: 100.v terbagi dalam 4 dosis.  Dosis pediatrik: 15 – 30 mg/kgBB/ hari i.  Dosis pediatrik: <8 tahun: tidak direkomendasikan <45 kg: 4.000 – 250. Penggunaan ini harus diperhatikan pada gangguan fungsi ginjal. Dosis besar penisilin i.v tiap 12 jam.v terbagi tiap 8-12 jam tidak lebih dar 2 g per hari. tidak melebihi dari 4 g per hari.v dosis terbagi >45 kg: sama seperti dosis dewasa 11 . trimester pertama kehamilan.  Dosis dewasa: 100 mg per oral/i.  Kontraindikasi: hipersensitivitas Penisilin G ini biasanya aman untuk wanita hamil tapi dipergunakan apabila manfaatnya melebihi resiko yang mungkin terjadi. Doksisiklin Obat ini digunakan untuk menghambat sintesis protein dan pertumbuhan bakteri dengan pengikatan pada sub unit 30s dan 50s ribosomal dari bakteri yang rentan.1 g. metronizadol juga berefek amubisid dan efektif terhadap Giardia lamblia. Obat ini direkomendasikan untuk terapi selama 10 – 14 hari. Berperan dalam mengganggu pembentukan polipeptida dinding otot selama multiplikasi aktif. menghasilkan aktivitas bakterisidal terhadap mikroorganisme rentan. Selain memiliki efek trikomoniasid.  Kontradiksi: Hipersensitivitas.v tiap 12 jam.v /i.

1 tahun: 0.1 mg/kg i. disfungsi hati berat Bioavalibilitas obat ini akan menurun dengan antasida yang mengandung alumunium. Dosis pemeliharaan untuk paralisis: 0. Pada kehamilan obat ini belum dapat dipastikan keamanannya. blokade neuromuskuler diperkuat.v. Angka fatalitas kasus dan penyebab kematian bervariasi sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Fotosensitifitas dapat terjadi pada penggunaan obat yang lama. kalsium. Di negara berkembang.  Kontraindikasi: hipersensitifitas.1 Prognosis Penerapan metode untuk monitoring dan oksigenasi suportif telah nyata memperbaiki prognosis tetanus.1 mg/kg/hari i. Mortalitas sebesar 10% dianggap merupakan target yang dicapai di negara maju. Apabila terjadi pemakaian jangka panjang perlu dipertimbangkan untuk memeriksa kadar obat dalam serum. besi.05-0.  Dosis pediatrik: 7 minggu. dapat dikurangi menjadi 0.1 mg/kg tiap 1 jam apabila perlu. 12 . Vekuronium Merupakan agen pemblokade neuromuskular prototipik yang menyebabkan terjadinya paralisis muskuler. Pada kehamilan.1 h. Apabila dilakukan perawatan intensif sesuai penatalaksanaan maka angka mortalitas akan menjadi kecil.  Dosis dewasa: 0. Dosis pada gangguan ginjal disesuaikan. kematian akibat tetanus berat mencapai lebih dari 50% dengan obstruksi jalan napas. gagal hati dan gagal ginjal serta penggunaan steroid secara bersama – sama dapat menyebabkan blokade berkepanjangan meski obat distop.08 mg/kg/dosis diikuti dengan dosis pemeliharaan sebesar 0. Tidak direkomendasikan pada neonatus. atau subsalisilat bismuth.  Kontraindikasi: Hipersensitifitas.v. Untuk mempertahankan paralisis infus terus menerus dapat diterapkan. tidak dianjurkan mengkonsumsi obat ini. dapat dititrasi. gagal napas dan gagal ginjal merupakan penyebab utama. 1 – 10 tahun mungkin membutuhkan dosis awal yang besar dan suplementasi.05 mg/kg apabila pasien telah diterapi dengan suksinilkolin. Apabila vekuronium dipergunakan bersama dengan anestesi inhalasi. tetrasiklin dapat meningkatkan efek hipoprotrombinemik dari antikoagulan. dan sindroma yang berkaitan.025 – 0.08 – 0. miastenia gravis. Lebih dari 10 tahun diberikan dosis dewasa. tanpa fasilitas untuk perawatan intensif jangka panjang dan bantuan ventilasi.

2. 87:447-87.21-4. Kasim F. tetapi sebagai akibatnya pada kasus berat. anggota gerak dan perut serta memiliki riwayat tertusuk benda tajam sehingga bernanah dan tidak diobati. 185-6. Starke JR. Untuk saat ini angka mortalitas di negara berkembang akibat tetanus akut masih tinggi yaitu lebih dari 50%. 188. dan pasien dengan periode inkubasi pendek. Protheroe RT. 4. Perawatan intensif modern hendaknya dapat mencegah kematian akibat gagal nafas akut. Jasaputra DK. Nafrialdi. Setiati S.h. Cook TM. trismus. kaku pada wajah. Setiyohadi B. gangguan ototnomik menjadi lebih tampak. Edisi 5. 5.2009. Kliegman B. Gunawan SG. 8. Farmakologi dan terapi. Komplikasi dapat terjadi akibat perawatan di ICU yang meliputi infeksi nosokomial terutama pneumonia berkaitan dengan ventilator. 2014. 2005. Mortalitas dan prognosis juga tergantung status vaksinasi sebelumnya.Diktat kuliah penyakit infeksi kapita selekta. 2008. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran . 3. Jakarta: Salemba Medika. Pengantar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem persarafan.h.1 Kesimpulan Tetanus merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Jakarta: EGC. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. sulit makan/ menelan. Jakarta: EGC. Edisi 2. Edisi 15.882. Seseorang dapat diketahui terkena tetanus atau tidak dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dan dapat disertai dengan diagnosis penunjang. tromboembolisme. Prognosis buruk pada usia lanjut. Lana BW. Ilmu kesehatan anak volume 2. Bickley SL.116-7 13 . Muttaqin A.Universitas Indonesia. 2000. sepsis generalisata. Mortalitas bervariasi berdasarkan usia pasien.639-42. dan pendarahan gastrointestinal.15. Sjamsuhidajat R. Simadibrata M.111-2. Setiabudy R. Alwi I. Supriady FS. 7. Tetanus: a review of the literature. 2008. Edisi 6. Umumnya seseorang yang terkena tetanus memiliki keluhan kejang.h. terutama negara – negara beriklim tropis. 6. Jakarta: EGC. British Journal of Anaestaesia 2001. demam. 552. Jakarta: Interna Publishing. Jong WD.h.Bandung:Maranatha University Press. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Sudoyo AW. neonatus.h. Daftar Pustaka 1. Pengobatan pada pasien yang terkena tetanus harus dilakukan intensif dan diawasi perkembangannya.h. Edisi 5. Handel JM. Buku ajar ilmu bedah.118. 1005.h. Nelson A. 2007.