You are on page 1of 24

DAFTAR ISI

MAKALAH KIMIA PEMISAHAN

IMPLEMENTASI GREEN CHEMISTRY DALAM
PENGGUNAAN PELARUT RAMAH LINGKUNGAN

Disusun Oleh:
Kelompok 5

Dyan Septyaningsih H HP (4301415048)
Lia Ningrum (4301415066)
Nava Auralita (4301415077)
Tata Nur Hepyana (4301415096)

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

SEMARANG

2017

DAFTAR ISI

HALAMAN AWAL .........................................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................................2
KATA PENGANTAR..........................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................4
1.1 Latar Belakang...........................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................5
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................6
2.1 Pelarut yang Dapat Digunakan Untuk Skstraksi simplisia………….6
2.2 Dampak Negatif Penggunaan Pelarut Organik………………………10
2.3 Pelarut Ramah Lingkungan……………………………………………11
2.4

BAB III PENUTUP.............................................................................................17
3.1 Simpulan....................................................................................................17
3.2 Saran..........................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

KATA PENGANTAR

2

Oleh karena itu. Semarang. kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca dan dosen pengampu agar ke depan kami dapat membuat makalah yang lebih baik. tapi kami berhasil menyelesaikannya dengan baik. Terlepas dari semua itu. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya. Semoga makalah ini bermanfaat sebagai penambah wawasan pengetahuan kepada pembaca. penulis berhasil menyelesaikan pembuatan makalah yang bejudul “MACAM-MACAM DESTILASI”. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya. 1 Mei 2017 Penulis 3 . Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kimia Pemisahan. khususnya bagi mahasiswa Univeritas Negeri Semarang. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari berbagai sumber dan literatur. Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat memperluas ilmu pengetahuan berkenaan dengan proses pemisahan campuran dalam kimia.

1986). BAB I PENDAHULUAN 1. Menurut Prabowo et al (2014) bahwa senyawa bioaktif digunakan untuk kesehatan manusia seperti digunakan sebagai suplemen dan lain-lain. Ekstraksi ada beberapa macam. Perkolasi Perkolasi merupakan proses melewatkan pelarut organik pada sampel sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama-sama pelarut. Sedangkan Bintang et al (2007) menyatakan bahwa senyawa bioaktif dapat digunakan sebagai antibakteri. Sedangkan menurut Voight (1994) bahwa proses ekstraksi merupakan penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dengan zat yang diinginkan larut. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam. Penggunaan metode sokletasi adalah dengan 4 . 3. Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam pelarut tersebut. Jadi pada dasarnya senyawa bioaktif sangat berguna dan bermanfaat untuk kesehatan manusia. pelarut menjadi dingin sehingga tidak melarutkan senyawa dari sampe secara efisien. Kerugian dari metode maserasi antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama. Menurut Harboner (1996) bahwa simplisia diektraksi secara berturut-turut dengan pelarut yang memiliki polaritas yang berbeda. cairan penyari yang digunakan lebih banyak. 2. Sokletasi Sokletasi merupakan proses ekstraksi yang menggunakan penyarian berulang dan pemanasan. Kerugiannya adalah selama proses tersebut. antiinflamasi. dan lain-lain. Pengambilan senyawa bioaktif dari tumbuhan atau dari hewan dapat digunakan cara ekstraksi. tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin dan lilin (Sudjadi.1 LATAR BELAKANG Senyawa bioaktif merupakan senyawa yang terkandung dalam tumbuhan ataupun hewan. Maserasi Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang digunakan pada suhu ruangan. Rincian dari ekstraksi akan dijelaskan di bawah ini: 1. Prinsip dari ekstraksi sendiri yaitu melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non-polar dalam pelarut non-polar.

Kerugian dari kedua metode ini adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi (Seidel V 2006). Dengan pelaksanaan ke-12 prinsip tersebut. Untuk mengetahui jenis-jenis pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi simplisia 2. Hal ini akan bertujuan untuk tercapainya kimia hijau atau yang sering disebut dengan green chemistry. cara memanaskan pelarut hingga membentuk uap dan membasahi sampel. 1996). Refluks dan Destilasi Uap Pada metode refluks. (6) perancangan efi siensi energi.2 RUMUSAN MASALAH 1. (4) perancangan produk kimia yang aman. Proses ini sangat baik untuk senyawa yang tidak terpengaruh oleh panas. Penerapan green chemistry akan memberikan keuntungan keseimbangan antara aspek lingkungan. Apa saja jenis pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi simplisia ? 2. Ketika akan mengekstrak senyawa bioaktif perlu diperhatikan tata cara yang benar sehingga ketika mengekstrak senyawa bioaktif tidak secara sembarangan. 4. ekonomi. Untuk mengetahui dampak pelarut organik yang digunakan secara terus menerus 3. toksis. 2002). Jika suatu proses industri berbasis green chemistrty. (9) penggunaan katalis untuk mempercepat proses. (2) ekonomi atom. (12) menghindari penggunaan bahan kimia yang berbahaya. (10) perancangan produk terbarukan yang ramah lingkungan. 1. Apa saja tindakan/alternatif yang diberikan untuk menggantikan pelarut organik ? 1. (5) pemakaian bahan pelarut dan pembantu yang aman. Kerugiann-ya adalah senyawa yang bersifat termolabil (Harbone. Uap terkondensasi dan kembali ke da-lam labu. Pel-arut dipanaskan hingga mencapai titik did-ih. Bagaimana dampak pelarut organik yang digunakan secara terus menerus? 3. (3) sintesis kimia yang tidak berbahaya. dan sosial. (11) analisis real time untuk pencegahan polusi. Sedangkan destilasi uap merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. (7) penggunaan bahan baku terbarukan. maka industri tersebut akan menjalankan 12 berikut (1) pencegahan terbentuknya limbah. Untuk mengetahui tindakan/alternatif yang diberikan untuk menggantikan pelarut organik BAB II 5 . sampel dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. (8) pengurangan langkah proses. berarti green chemistry dapat dipandang sebagai suatu langkah penting menuju kelestarian lingkungan atau pembangunan berkelanjutan. dan tak ramah lingkungan (Hazel.3 TUJUAN PENULISAN 1.

Contoh pelarut ini adalah: aseton. ukuran molekul kecil.2004).perekat. cyclopropane. (Gilbert. dan lain- lain. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. metanol. tinta mesin cetak. pernis (vernish). obat-obatan. hampir sama sekali tidak polar. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. pemoles sepatu. Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar. tinta spidol. etanol. wax. pestisida. Penggunaan pelarut mulai banyak dipakai secara luas seirung dengan terjadinya Revolusi Industri yang mengakibatkan pelepasan pelarut ke lingkungan ikut menyebar. meminum alcohol. agen pembersih. kelarutan tinggi lemak (lipofil). tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. terdapat tiga golongan pelarut yaitu: 1. Beberapa ahli fisika dan dokter gigi yang pertamakali menyadari efek eter “eter grolics’. yang menghasilkan sebuah larutanPelarut (solvent) merupakan senyawa kelas luas yang umum memajan kita ketika di stasuin pengisian bahan bakar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut 6 . Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. atau menggunakan anastesi saat melakukan pembedahan. paint revomer. Kemudian banyak macam pelarut digunakan agen anastesi seperti nitrous oxide. 2. cair atau gas.1 Pelarut yang Dapat Digunakan Untuk Skstraksi simplisia Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air. asam asetat. Pelarut polar Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi. chloroform. mengecat rumah. Pelarut volatile organic compound (VOC) mudah menguap ke udara. Karakteristik pelarut (VOC) adalah mudah menguap. mengganti oli mobil. Contohnya minyak berbahan dasar minyak mudah mongering. 3.2004) Pelarut ditemukan berabad-abad lalu tetapi tidak digunakan untuk pembedahan sampai tahun 1840-an. Produk rumahan yang mmungkin mengandung pelarut seperti cat. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. etil asetat. (Gilbert. kosmetik dan bahan bakar. PEMBAHASAN 2. pewarna. merekatkan sesuatu menggunakan lem. kloroform . cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut nonpolar. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut.

tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. damar. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. minyak lemak dan minyak atsiri. Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. Contoh: heksana. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. garam glauber dll. karena efek farmakologinya. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan.XI) 7. zat warna dan garam-garam mineral. 6. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. 2. polar. minyak atsiri. misalnya strychni. Pelarut anorganik (tidak mengandung karbon) yang paling 7 . glikosida. 4. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. eter. asam tumbuh-tumbuhan. Solvent Hexane. Gycerinum (Gliserin) terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Eter sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Acetonum tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. damar. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. glikosida. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar.F. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. gula dan albumin. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. Karena cairan ini tidak atsiri. 5. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Etanol juga menyebabkan enzim- enzim tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. 3. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. Macam – macam cairan penyari : 1. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. Ca hidrat. secale cornutum. Selain itu pelarut juga diklasifikasikan dalam 2 tipe yaitu pelarut organik dan pelarut anorganik. damar-damar. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik.

Pelarut Anorganik biasanya adalah molekul polar yang dapat mensolvasi ion-ion menjadi interaksi ion dipole dan melemahkan. yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1. Konduktifitas tertentu dari BrF3 adalah 8 x 10- 3 ohm-1 cm-1 pada 250C. buffer PH. Proses ionisasi terjadi sesuai dengan persamaan sebagai berikut : 2BrF3 BrF2+ + BrF4- 3. 2. Amonia (NH3) Selain air. Pelarut Anorganik memisahkan diri ke dalam ion-ion murni sehingga mempunyai konduktor elektrisitas lemah.lven protonik karena adanya ikatan hydrogen dan mengarah ke titik didih yang lebih tinggi sehingga meningkatkan ranah larutan 5. dan Reaksi Penguraian. daya tarik antar ion yang ada dalam Kristal padatan. Ada beberapa reaksi yang dapat dilakukan dengan menggunakan amonia. Pelarut Anorganik mempunyai konstanta dielektrik tinggi (momen dipole tergantung pada jarak antara ujung muatan yang berlawanan dalam suatu molekul. dipastikan bahwa pengklasifikasi pada reaksi yang menggunakan pelarut amonia memiliki kemiripan dengan air. amonia juga sebagai pelarut yang digunakan untuk reaksi kimia. yaitu dengan cara Reaksi asam dan basa. Permitivitas relatif sekitar 107. Pelarut Anorganik seharusnya tersedia dengan mudah dan harus mempunyai ranah (range) cairan yang cukup baik Pelarut anorganik lainnya yaitu: 1. Solven pengion adalah solven atau pelarut dimana spesies ionic menjadi stabil. Pelarut Anorganik cenderung untuk berasosiasi karena adanya interaksi dipol-dipol. inhibitor). deterjen. BrF3 hanya terdapat pada pelarut aprotik untuk dipostulasikan secara ionisasi pada BrF3 yang didukung oleh isolasi dan karakterisasi dengan difraksi sinar-X asam dan basa. sedangkan konstanta dielektrik tergantung pada tingkat orientasi antar molekul itu sendiri dalam medan listrik untuk merusak medan) 4. dan menggunakan titrasi konduktimetrik pada BrF3. 3. Bromin Trifluorida (BrF3) Bromin Trifluorida adalah pelarut anorganik pengion yang kuat dan merupakan padatan berwarna kuning yang memiliki titik beku pada suhu 90C serta titik didih 1260C. Reaksi Pembentukan/mempercepat reaksi. Asosiasi ini lebih banyak dalam so.populer adalah air (H2O) dan larutan berair yang mengandung aditif khusus (surfaser. Dinitrogen Tetroksida (N2O4) 8 . 2.

kosmetik. toluene. Pelarut beroksigen banyak digunakan di cat. 5. tinta. HF. tiner. farmasi. kira- kira 25 x dibanding air) menyebabkan kelarutan dan kristalisasi solute merupakan proses yang lambat. kosmetik. sektor wewangian. dengan bau yang mengiritasi. Pelarut hidrokarbon Molekul pelarut hidrokarbon hanya terdiri dari atom hidrogen dan karbon. Pelarut organik (organic solvent) terdiri dari berbagai jenis zat organic seperti hidrokarbon aromatic (misalnya benzene. Karena permitivitasnya yang tinggi. dan glikol eter / ester. Pelarut beroksigenasi Pelarut beroksigenasi adalah pelarut organik. Pelarut N2O4 adalah pelarut aprotik non-air yang memiliki titik lebur -120C-210C dan permitivitas relatif hanya 2. alcohol atau glikol dan eternya. hidrokarbon alifatik . keton. berasap. Reaksi persamaan asam-basa dari pelarut N2O4 adalah : N2O4 NO+ (nitrosonium) + NO3.5o C). molekulnya mengandung oksigen. Contoh pelarut beroksigen: alkohol.(nitrat) (asam) (basa) 4. 2.2006). Hidrogen Fluorida (HF) Hidrogen fluorida.4 milipoise. bahan perekat. perekat. Demikian juga adanya kesulitan untuk memindahkan solven yang menempel pada kristal. deterjen. 9 . tetapi tingginya visikositas (245. eter glikol. farmasi. ester. senyawa ini dapat digunakan sebagai pelarut non-air yang khusus. metil asetat. Asam sulfat Lebih tingginya konstanta dielektrik asam sulfat (€r = 100 ± 10) seharusnya menyebabkan asam sulfat lebih baik dari pada air untuk melarutkan solute ionic. Zat-zat kimia ini digunakan secara luas dalam cat. industri makanan. Pelarut organic dibagi lagi dalam kelas-kelas yang lebih spesifik seperti dibawah ini : 1.4 (sehingga merupakan pelarut yang buruk untuk sebagian besar senyawa anorganik). xylene). Gas ini biasa digunakan untuk mempreparasi senyawa anorganik dan organik yang mengandung fluor. dan lain-lain (Lu. tinta. Larutan dalam air gas ini disebut asam fluorat dan disimpan dalam wadah polietilen karena asam ini menyerang gelas. etil asetat. adalah gas tak bewarna. bertitik didih rendah (mp -83o C dan bp 19.

Oleh karena itu. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan yaitu: 1.1. tetrafluoromethane (freon 14. CHCl2F). CH2Br). CH2BrCl).benzene) : Depresi susunan saraf pusat. fluorin (F). difluorodichloromethane (freon 12. Umumnya inert. Pelarut fluorokarbon Contoh pelarut fluorokarbon: diklorofluorometana (freon 21. Pelarut alifatik Molekul pelarut alifatik memiliki struktur rantai lurus. molekulnya mengandung atom halogen: klorin (Cl). Cl2C-CCl2). Pelarut terklorinasi Pelarut terklorinasi umum adalah trikloretilena (ClCH-CCl2). bromin (Br) atau iodin (I). CF4). 4. kerusakan dapat terjadi pada eksposur pertama. metilen klorobromida (bromoklorometana. hydrochlorofluorocarbon (freon 22. 2. Dampak negatif tersebut ju8ga bias menjadi efek untuk kesehatan kita. toluene. b. Toluena dan xylena yang tercampur metil-etil-keton dapat menyebabkan mual dan pusing.trikloretana (metil kloroform. c.2-dibromoetana. metil iodida. Pada hewan percobaan. CHCl2F2). Hexane. metil bromin (bromometana. d. Hidrokarbon Siklik (siklohexane. 2. Bila terinhalasi dalam jumlah banyak akan terjadi kelainan paru-paru yang parah. Hidrokarbon Alifatik (hexane. karbon tetraklorida (CCl4) ). Pelarut Brominated Contoh pelarut brominated: etilena dibromida (1. bensin. Hidrokarbon aromatic (Benzene. turpentine) : Efek hampir sama dengan aliphatic. xylene) : Benzene sangat toksik terhadap jaringan pembuat sel darah. BrCH2-CH2Br). HC Aromatic cair menyebabkan iritasi lokal dan vasodilatasi (pelebaran saluran darah). perchlorethylene (tetrachloroethylene. triklorofluorometana (freon 11. CH3CH2CH2CH2I). hanya tidak terlalu inert. Efek lain: dermatitis & SSP. HCFC). Pelarut berinodinat Contoh pelarut iodinat: n-butil iodida (1- iodobutana. CH3-CCl). paling tidak reaktif. minyak tanah adalah pelarut alifatik. Benzene dapat diabsorpsi lewat kulit dan inhalasi. CCl3F). Efek utama adalah dermatitis Berbagai HC cyclic yang terinhalasi dapat dimetabolisme oleh tubuh menjadi zat yang kurang toksik. Kloroform (CHCl3).1. seringkali dilarang dipakai bila pencucian menyebabkan terjadinya kontak kulit dan inhalasi. Sesuai dengan jenis pelarut halogenasi halogen diklasifikasikan ke dalam kategori berikut: a. dermatitis. 3. 10 . Pelarut terhalogenasi Halogenasi pelarut terhalogenasi adalah pelarut organik. 1. metilen klorida (CH2Cl2). 3.2 Dampak Negatif Penggunaan Pelarut Organik Pelarut organik yang digunakan secara terus menerus juga akan menimbulkan dampak negatif juga.

2010). yang sebagian besar menggunakan karbon dioksida (CO2). SSP. Gorke et al. Wood dan Stephens 2010). 2010. jenis anion yang reaktif terhadap adanya uap air 11 . Eksposur kronis CCl4 menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Alkohol : Sangat berpengaruh thd SSP dan hati. Trikloro-etilen-> SSP. Yang paling toksik: CCl4 dengan efek terhadap ginjal. mrp alcohol yang paling tidak toksik. dan pelarut eutektik (Deep Eutectic Solvent. 2011. Oleh karenanya. dermatitis. dan anion seperti chloroaluminate dan logam halida lainnya (Domínguez de María dan Maugeri. HC terklorinasi umumnya lebih toksik daripada HC terfluorinasi. Hidrokarbon terhalogenasi Efek bergantung pada Halogen yang terikatnya.3 Pelarut Ramah Lingkungan 1. 2. cairan ionik (Ionic Liquids. Domínguez de María dan Maugeri. 5. Trifluorotrikloro-etan di lain pihak. mudah termetabolisme menjadi metabolit yang >> toksik. Pelarut ini telah diberi label sebagai "green" karena tekanan uapnya diabaikan dan tidak mudah terbakar dibandingkan penggunaan solvent dari golongan volatile organic compounds (VOCs) (Deetlefs dan Seddon. 2011). 2010. kerusakan hati. Methanol menyebabkan gangguan ketajaman penglihatan. dimetabolisme secara lambat. methanol >>toksik ethanol Ethanol: cepat diuraikan dan diubah menjadi CO2. maka digunakan secara umum sebagai substitute material yang lebih berbahaya. Propanol lebih toksik.. TLV: 10 ppm. dan pembuangan (Deetlefs dan Seddon. Green solvent memiliki efek minimal terhadap kesehatan manusia. toksisitasnya rendah (TLV: 1000 ppm). Taraf toksisitas HC terklorinasi: menengah. DES) merupakan kandidat green solvent. Karena sifatnya yang tidak mudah terbakar dan toksisitas rendah. ILs). Homolog yang lebih tinggi akan lebih iritatif dan toksik dibanding dengan homolog yang lebih rendah. perubahan kepribadian pernah dideteksi. Cairan ionik terdiri dari kation sintetis khas seperti dialkylimidazolium dan derivatif alkylpyridium. SFS). dan pencernaan. Cairan ionik dan DES adalah campuran dari garam yang berbentuk cair pada suhu kamar dan memiliki sifat fisik-kimia yang dapat disesuaikan dengan selektivitas yang diharapkan hanya dengan menggabungkan jenis kation dan anion yang berbeda. aman dan ramah lingkungan dalam hal pemanfaatan. Bila perlu. 4. dan menghasilkan metabolity yang juga toksik. Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) Cairan superkritis (Supercritical Fluids. hati.

basa organik. alkohol. (3) NADES yang bersifat basa. terdiri dari senyawa-senyawa netral (glukosa. glisin. 2013): (1) Cairan ionik.. Selain itu. NADES terbukti menjadi pelarut yang sangat baik untuk berbagai metabolit dengan polaritas rendah sampai menengah yang tidak atau sukar larut dalam air. dll. Campuran metabolit primer seperti gula. agrokimia dan industri farmasi sebagai media baru Green Technology (Dai et al. tidak ada konstituen ionik. NADES dibagi dalam tipe-tipe sebagai berikut (Dai et al.. atau senyawa. terdiri dari asam-asam organik (asam sitrat. basa dan asam organik. yang terdiri dari senyawa-senyawa netral dan senyawa-senyawa basa. asam maleat. polyalkohol. asam organik. fruktosa. poli-alkohol. b- Alanine) dan gula. (3) NADES yang bersifat asam. gula alkohol. Meskipun memiliki viskositas tinggi. protein dan polisakarida juga larut dalam NADES. polyalcohol. asam laktat) dan senyawa-senyawa basa (choline chloride.. NADES memiliki cakupan polaritas dalam rentang yang lebar. mulai lebih polar daripada air hingga polaritas sama dengan metanol. Kelebihan NADES a) Campuran eutektik bertitik leleh lebih rendah dari masing-masing komponen penyususnnya. NADES masih berwujud cair pada suhu kamar dan bahkan pada suhu rendah. trehalose) dan senyawa-senyawa asam. kosmetik. dan asam amino dapat membentuk DES dan disebut sebagai Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) (Choi et al. 2. dapat diganti dengan halida atau anion (BF4 atau PF4) yang lebih stabil terhadap kehadiran air dan udara (Gorke et al.senyawa asam. seperti campuran polyalcoho (gliserol. seperti gula. Viskositas akan menurun secara signifikan dengan penambahan sejumlah kecil air. (2) NADES netral. 12 . 2013). (4) NADES yang bersifat amfoter. kombinasi dari asam amino (a-Proline. Makromolekul seperti DNA. 1-2-propandiol). maltosa. dan betaine). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. NADES yang tidak beracun dan ramah lingkungan digunakan untuk berbagai aplikasi pada bidang makanan. asam amino. 2011). 2010).. b) Campuran terbentuk dari senyawa metabolit primer yang ada di alam. protein. sukrosa.

dan pati. NADES yang dihasilkan (kiri ke kanan) FS-H2O (2:1:32) dan FG-H2O (1:1:10) 13 . Metode pemanasan kombinasi freeze-dry dipilih untuk pembuatan NADES. carthamin. c) Aplikasi NADES untuk ekstraksi metabolit sekunder dilakukan pada pengolahan biodesel (Huang et al. a) Komponen-komponen penyusun (misal: fruktosa. asam sinamat. dan waktu penyimpanan yang lama.. c) Campuran liquid yang diperoleh dimasukkan ke dalam freeze-dry hingga beratnya konstan (+. Pembuatan Natural Deep Eutectic Solvents (NADES) Metode yang digunakan berdasarkan Dai et al (2013). dan air untuk FGH2O) dicampurkan sesuai dengan mol ratio yang telah ditentukan pada botol tertutup. 3. 2013) d) NADES memberikan kelarutan lebih baik pada senyawa bioaktif seperti rutin. b) Campuran tersebut diaduk pada suhu 70 oC menggunakan magnetic stirrer dalam water bath hingga diperoleh campuran berbentuk liquida yang bening. quercetin. 2017 Gambar 1. maka selanjutnya campuran liquida tersebut disebut sebagai NADES. suhu yang lebih tinggi.3 hari). tidak berubah warna ataupun mengkristal). jika tetap berbentuk cairan liquida yang bening (tidak mengendap. Daripada kelarutan senyawa tersebut dalam air. taxol. Penggunaan NADES dalam Ekstraksi senyawa bioaktif dari rimpang Curcuma Mangga A. d) Campuran liquida yang keluar dari freeze-dry diamati. ginkgolide B serta beberapa makromolekul seperti gluten. DNA. e) NADES berbasis gula stabil untuk pigmen fenolik alami ketika terkena cahaya. Sumber: Nurhasanah. glukosa.

. 2013). Dai et al. NADES adalah suatu liquid kristal yang mana semua molekulnya tersusun melalui ikatan hidrogen dan gaya antar molekul lainnya (Dai et al. NADES dapat diencerkan (dengan penambahan air dalam molar tertentu) 25% hingga maksimum 50% tanpa kehilangan sifatnya sebagai NADES. dapat Perbedaan mol ratio dari komponen-komponen mempengaruhi stabilitas NADES.. Sumber: Nurhasanah.. Dai et al. peningkatan rasio molar air dilakukan dengan cara penambahan/pengenceran NADES dan jika ingin mengurangi rasio molar air dilakukan freeze dry kembali hingga diperoleh NADES yang stabil. 2011... Dai et al. Skema Pembuatan NADES dengan Metode Pemanasan Kombinasi Freeze-dry pembentuk NADES. 2011. 2013. Pengenceran lebih lanjut (>50%) akan menyebabkan hilangnya sifat NADES. 2017 Gambar 2.. Penambahan jumlah air ataupun pengenceran terhadap NADES akan menimbulkan perubahan drastis dari stuktur NADES. NADES dapat terbentuk karena adanya ikatan hidrogen antar molekul dari komponen-komponen pembentuknya. 2013a). Untuk memperoleh kestabilan dari NADES maka dilakukan percobaan dengan mengubah rasio molar dari air. kemungkinan besar karena putusnya ikatan hidrogen yang terbentuk (Choi et al. akibat hilangnya ikatan hidrogen pada larutan (Choi et al. 2013) B. Ekstraksi Senyawa Bioaktif Menggunakan Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) a) Menambahkan serbuk Curcuma mangga sebanyak 2 mg kedalam 14 .

2017 Gambar 3.4 nm. demethoxycurcumin (DMC) dan bisdemethoxycurcumin (BDMC)) yang berhasil terekstrak oleh NADES. Skema Ekstraksi Senyawa bioaktif dari Curcuma mangga menggunkan NADES C. Pengadukan 1x24 jam c) Sampel diambil untuk diketahui kandungan curcuminoid yang telah terekstrak d) Simpan sampel pada suhu ruang dan tempat gelap e) Analisa HPLC Sumber: Nurhasanah. Analisa HPLC dilakukan untuk mengkuantifikasi senyawa bioaktif (curcumin (C). Analisa Kuantitatif secara High Performance Liquid Chromatography (HPLC) a) Ekstrak sampel 100 μL ditimbang secara akurat dan diencerkan hingga 1 mL dalam labu takar yang bersesuaian dengan metanol p.2 μm nylon membran syringe filter d) Sampel siap diinjeksikan ke HPLC dan dianalisa pada 421. 15 . NADES 2 g. Diletakkan pada 5 ml botol sampel amberlite tertutup b) Botol sampel dimasukkan dalam beaker glass besar yang dipanaskan dengan hot plate pada suhu 400C dan diaduk menggunakan magnetic stirer.a HPLC grade b) Sampel di ultrasonik selama 5 menit c) Saring sampel tersebut dengan 0.

5 cm dari bagian atas lempeng b) Pada lembeng silika diberi larutan sampel secukupnya (200 mg cride extract yang dilarutkan dalam 1 ml diklorometan:metanol = 99:1dan sertakan larutan standar curcuminoid sebagai pembanding bercak (1mg/mL) c) Dibiarkan 1 menit untuk pengeringan Sumber: Nurhasanah. Diagram Alir Analisa Kuantitatif D. Sumber: Nurhasanah. 2017 16 . 2017 Gambar 4. Analisis Kualitatif secara Thin layer Chromatography (TLC) a) Potong lempeng KLT-silica ukuran (5 cm x 6 cm). tandai dengan pensil pada 1 cm dari batas bawah dan 0.

pastikan KLT-chamber jenuh dengan mobile phase dan ruang tertutup rapat. keluarkan plat dan biarkan kering. Sumber: Nurhasanah. Analisa Senyawa Bioaktif menggunakan Thin Layer Chromatography 17 . i) Tunggu beberapa saat hingga mobile phase mencapai batas atas lempeng. T j) erakhir. e) Letakkan filter paper ke dalam KLT-chamber. f) Tuangkan mobile phase secukupnya. Ketika solvent mencapai tanda garis. Preparasi Sampel untuk Analisis secara Thin Layer Chromatography d) Siapkan sekitar 20 mL 5% metanol dalam diklorometan (mobile phase). h) Pastikan lempeng diletakkan secara bersamaan dalam posisi vertikal dan ruang chamber tertutup rapat. amati kromatogram (plat) dibawah cahaya putih kemudian pigmen dipisahkan dengan mengekspos plate ke radiasi cahaya radiasi UV (365 nm dan 254 nm) atau setelah penyemprotan plat dengan 20% larutan H2SO4 dalam etanol. Tandai bercak yang timbul dan hitunglah nilai Rf dari tiap-tiap bercak. 2017 Gambar 6. g) Lempeng yang telah diberi sampel diletakkan dalam ruang kromatografi/ KLTchamber secara vertikal. Gambar 5.

15- 18 . dan sisanya BDMC. ekstraksi dilakukan pada titik didih pelarut terpilih (etanol. Salem et al. Abdul (2012) menjelaskan bahwa kandungan C. Rohman. Selain itu pada metode ekstraksi soxhlet. E. yang mana etanol hanya mampu mengektrak 60-61% curcumin. 78oC). DMC. 22-23% DMC. (2014) menginformasikan bahwa curcumin stabil pada 10-55 oC dan akan terdegradasi pada 70 oC selama 24 jam. memungkinkan terjadinya degrdasi curcuminoid khususnya curcumin. dan BDMC berturut-turut 60-80%. dan C. DMC. Hasil Ekstraksi Curcuma Mangga (Nurhasanah. Selain itu. Kemungkinan terdegradasinya curcumin juga didukung dengan rendahnya yield curcuminoids yang diperoleh. Perbandingan hasil yield Curcuminoid (mg/g) yang diekstrak menggunkan Metode Konvensional dengan menggunakan NADES Tabel 1. Kekurangan dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu dan memerlukan lebih banyak jumlah pelarut dibandingkan metode soxhlet. Terlihat bahwa NADES (FS-H2O = 2:1:32) sebagai pelarut dapat mengekstraksi curcuminoid lebih banyak dibandingkan etanol (96%) baik secara ekxtraksi-soxhlet ataupun maserasi. Sedangkan BDMC dan DMC kurang selektif terekstrak pada penggunaan FS-H2O (2:1:32) sebagai pelarut. FS-H2O (2:1:32) memberikan selektifitas curcumin yang lebih tinggi (96%-berat) dibandingkan etanol (96%). 2017) Hasil analisa menunjukkan bahwa metode perendaman (maserasi) yield yang diperoleh lebih besar dibandingkan ekstraksi soxhlet baik yield untuk BDMC.

2. Ekstraksi dilakukan 19 . Curcumin (C) bersifat ionik. 2014) curcumin dapat larut dan terektrak pada FS-H2O (2:1:32) yang memiliki pH = 6 (netral) dan benar curcumin tidak didapatkan pada ekstrak NADES MAG-H2O. etanol). kelarutan curcumin akan meningkat dengan meningkatnya pH larutan. Dalam kondisi demikian sifat kelarutan solut oleh solvent menjadi meningkat disamping itu molekul-molekul air akan bergerak bebas ke/dari jaringan tanaman yang diekstrak. sehingga pada pH asam dan netral curcumin tidak larut dalam air (Salem et al. dan 2-6%-berat terhadap total curcuminoid di dalam rimpang Curcuma longa. Prinsip dasar ekstraksi dengan teknik subcritical water adalah untuk menurunkan polaritas solvent air sehingga mendekati polaritas solut antosianin. 2014) maka tingkat keasaman/kebasaan (pH) NADES juga diukur. Hal ini menunjukkan bahwa NADES memiliki karakteristik lain yang tidak sama dengan komponen- komponen pembentuknya. MAS-H2O.. yang mana bentuknya didalam suatu pelarut tergantung pada pH lingkungannya (Salem et al. Subcritical Water Metode ekstraksi Subcritical water adalah pengunaan air sebagai pelarut dengan temperatur diantara titik didih (10 oC) dan temperatur kritis air (37 oC) dengan tekanan di atas 1 atm (Anonymous. dan CAS-H2O yang memiliki pH asam (pH = 2). 2009). Penggunaan Subcritical Water Pada Ekstraksi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu Metode konvensional untuk ekstraksi antioksidan alami (antosianin) dari tanaman umumnya dilakukan dengan pelarut organik (metanol. dilain fihak juga menyebabkan penurunan tegangan permukaan air sehingga meningkatkan difusitasnya. A. 30%. Namun penggunaan pelarut ini kemungkinan akan menyebabkan masalah residu dan mempunyai pengaruh yang merusak/buruk terhadap unsur pokok dalam pangan dan lingkungan. Metode subcritical water dapat digunakan untuk ekstraksi senyawa bioaktif (antosianin) dari bahan tanaman. aseton..

Hal ini disebabkan setelah pembengkakan maksimum. maka akan terjadi penurunan viskositas akibat proses degradasi molekul pati (amilosa dan amilopektin) dalam kondisi demikian kemampuan mengikat air juga melemah. Penggunakan suhu tinggi dalam proses ekstraksi antosianin dimaksudkan untuk menurunkan polaritas air.. kemudian pemanasan tetap dilanjutkan. pelarut yang telah ditentukan akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif (misal antosianin). tekanan (Pabs) 24. dan granula pati pecah.7 Lb/in2. Viskositas berpengaruh negatif terhadap efisiensi ekstraksi antosianin artinya menurunnya viskositas menyebabkan meningkatnya antosianin terekstrak. 20 . dan perbandingan pelarut dengan sampel (S/F) 5:1. Namun pada suhu yang terlalu tinggi (125oC) efisiensi ekstraksi antosianin menurun karena pada suhu tersebut diduga kerusakan antosianin paling tinggi. Meningkatnya efisiensi ekstraksi antosianin secara tajam terutama pada suhu 115oC disebabkan rendahnya viskositas larutan. (2009) proses pengekstrasian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu. Menurut Chan et al. Dengan metode subcritical water terlihat viskositas larutan mengalami penurunan dengan meningkatnya suhu. Zat aktif ini akan larut dalam pelarut karena kesamaan polaritas dan hal ini akan menyebabkan larutannya menjadi pekat (konsentrasi meningkat).pada suhu 115oC.

2. 4. BAB 3 PENUTUP 3. alcohol atau glikol dan eternya. Efek penggunaan pelarut organik secara terus menerus yaitu bias berdamppak pada kesehatan kita juga. Ekstraksi adalah proses ekstraksi merupakan penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dengan zat yang diinginkan larut. 3. Pelarut organik yang biasa digunakan yaitu hidrokarbon alifatik . Pelarut yang memiliki sifat ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai pelarut yaitu NADES dan Subcritical Water.1SIMPULAN 1. 21 .

Jenis Pelarut. C. C. JITV 12(1) :1- 5.wordpress. 2011. the free encyclopedia.Yap.M. and C. Chan. F. and Isabel W. Bintang I. d. from http://www.S. (1989).Wan Aida. (2013). International Food Research Journal 16: 203-213 Choi. Dipetik Oktober 14. Kimia Anorganik Dasar. dari http://santrinitas. Jaap van Spronsen. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 2014.chem-is-try.K.P. Purwadaria T. http://en. Young Hae. (1989). Jakarta: Universitas Indonesia Press.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/asam- basa Anonymous. Marianne Verberne. Frank Hollmann. 2009..org/wiki/Superheated_water"Category: Water. diakses pada 1 Mei 2017. Cotton. Kimia Anorganik Dasar. Sinurat A.W. Yuntao Dai. Arends. Optimisation of Extraction Condition for Phenolic Compounds from Limau Purut (Citrus hystrix) Peels. C.C.F.A. G. Anonim. 22 .W.Y. & Wilkinson. Pukul 21:54. Superheated water.wikipedia.E.Ho. DAFTAR PUSTAKA Albert. Wikipedia..Lee. Materi Kimia Kelas X Asam Basa. Penambahan ampas mengkudu sebagai senyawa bioaktif terhadap performans ayam broiler. 2007. 2014. (2013). W. Retrieved Oktober 14. ‘Are Natural Deep Eutectic Solvents the Missing Link in Understanding Cellular Metabolism and Physiology?’ American Society of Plant Biologists 156: 1701–1705. 2009.com Anonim.

B. ITS Surabaya. T. Estiasih. and Zaira Maugeri. Natural Products Isola-tion. Kosasih Padmawinata. Metode Pemisahan. 2013. Green Chemistry 12:17–30. ‘Ionic Liquids in Biotransformations: From Proof-of-Concept to Emerging Deep- Eutectic-Solvents’. A. Deetlefs. Hasanah. 31-5. & Gray AI. 2nd ed. Polar. Shaokun Tang. Maggel. Analytical Chemistry. Enzyme-Friendly Solvents for Biocatalysis’. Terbitan ke-II. Jakarta: PT.1039/b915049h. and Kenneth R Seddon. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi 5. Wei. (1979). Johnathan. doi:10.b. Buku Ajar Vogel: Analisa Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro. Jurnal Pangan dan Agroindustri 2 (3):129-135. Geert-Jan Witkamp. Sudjadi. Gorke. and Young Hae Choi. R. 2013a.cbpa.'Natural Deep Eutectic Solvents as A New Extraction Media for Phenolic Metabolites in Carthamus tinctorius L'. Bandung.doi:10. Initial and bulk extrac-tion. Ekstraksi Senyawa Bioaktif Dari Rimpang Curcuma Mangga Menggunakan Pelarut Ramah Lingkungan Natural Deep Eutectic Solvent (Nades).2010. a. hal. 2011.. 2014. Voigt. 1996. ‘Activation of Commercial CaO for Biodiesel Production from Rapeseed Oil Using a Novel Deep Eutectic Solven’. Umbi gembili (Dioscorea esculenta L. Current Opinion in Chemical Biology. Domínguez de María. 1986. Prabowo. Yogyakarta 23 . Friedrich Srienc. and Songjiang Tian. 2010. J. 2006. Harborne. In: Sarker SD. Industrial & Engineering Chemistry Research 52: 11943−11947. Hua Zhao. Purwatiningrum. 2017. Kalman Media Pusaka. ‘Toward Advanced Ionic Liquids. Penerbit ITB. Biotechnology and Bioprocess Engineering 15: 40–53. Pablo. Robert Verpoorte. Gadjah Mada University Press.Dai. ‘Assessing the Greenness of Some Typical Laboratory Ionic Liquid Preparations’. editors. 6272-6278. I. Kanisius. Metode Fitokimia.1016/j. Latif Z.Y.008. Totowa (New Jersey). Biocatalysis and Biotransformation/Bioinorganic Chemistry. 2010. Huang. Yogyakarta Svehla. Skripsi. 1994.11. Seidel V. Yuntao. Humana Press Inc.) sebagai bahan pangan mengandung senyawa bioaktif: kajian pustaka. and Romas Kazlauskas. 15 (2): 220–25.

Physical Chemistry Chemical Physics 12: 1670–74 24 . Nicola. 2010. ‘Accelerating the Discovery of Biocompatible Ionic Liquids’. and Gill Stephens.Wood.