You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHLUAN

A. Latar Belakang
Gigitan dan cakaran binatang yang sampai merusak kulit kadang kala
dapat mengakibatkan infeksi. Beberapa luka gigitan perlu ditutup dengan
jahitan, sedangkan beberapa lainnya cukup dibiarkan saja dan sembuh dengan
sendirinya. Dalam kasus tertentu gigitan binatang (terutama oleh binatang liar)
dapat menularkan penyakit rabies, penyakit yang berbahaya terhadap nyawa
manusia. Kalelawar, musang juga anjing menularkan sebagian besar kasus
rabies. Sebagian binatang memiliki bisa (racun) yang berfungsi untuk
melindungi dirinya dan berfungsi untuk menaklukkan mangsanya, banyak
kasus terkena racun dari binatang berbisa ini dapat diatasi dengan baik apabila
berhasil ditangani sejak dini, diantara binatang berbisa itu adalah, ular, liapan,
ikan terutama sejenis ikan lele (sembilang).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian gigitan binatang ?
2. Apa saja macam-macam gigitan binatang ?
3. Apa saja tanda dan gejala gigitan binatang ?
4. Bagaimana penatalaksanaan gigitan binatang ?
5. Bagaimana patofisiologi gigitan binatang ?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang gigitan binatang ?
7. Apa saja komplikasi gigitan binatang ?
8. Bagaimana konsep asuhan keperawatan gigitan binatang ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian gigitan binatang
2. Untuk mengetahui macam-macam gigitan binatang
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala gigitan binatang
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan gigitan binatang
5. Untuk mengetahui patofisiologi gigitan binatang
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang gigitan binatang
7. Untuk mengetahui komplikasi gigitan binatang
8. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan gigitan binatang
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Teori
1. Pengertian Gigitan Binatang
Gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang
tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang
mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi
dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada
umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada
luka biasa. Seseorang yang tergigit mempunyai resiko terinfeksi. Pada
umumnya bila tergigit binatang, perlu mendapatkan pemeriksaan
medis,Gigitan binatang termasuk dalam kategori racun yang masuk
kedalam tubuh melalui suntikan. Gigitan bintang atau engatan
serangga dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan/ atau
pembengkakan. Gigitan dan sengatan berbagai binatang walaupun
tidak selalu membahayakan jiwa dapat menimbulkan reaksi alergi
yang hebat dan bahkan kadang-kadang dapat berakibat fatal.
Kesadaran akan penyebab dari gigitan dan sengatan ini dapat
mengurangi atau mencegah timbulnya korban. Pengetahuan tentang
penanganan yang cepat dari tindakan pertolongan pertama dapat
mengurangi parahnya cedera akibat gigian dan sengatan tersebut dan
menjaga penderita dari sakit yang parah.

2. Macam-macam Gigitan Binatang


a. Gigitan Binatang Darat
1) Gigitan Anjing, Kucing, Kera, tikus, dll
Bahaya rabies (penyakit anjing gila) tidak segera mengancam
kecuali bila gigitan terjadi di kepala atau di leher. Gigitan anjing
biasanya lebih bersih dibandingkan dengan gigitan binatang
lainnya. Bekasnya tidak begitu dalam dan mudah
dibersihkan.Dapat menyebabkan luka memar yang hebat dan
infeksi, serta robekan dari jaringan.
Gigitan kucing dapat membawa akibat yang lebih serius.
Bahaya infeksi jauh lebih besar daripada gigitan anjing. Bekas
gigitan kucing biasanya dalam dan dapat mengenai urat-urat, atau
masuk rongga sendi, terutama kalau di tangan. Maka infeksi yang
ditimbulkannya akan lebih hebat.
Gigitan tikus dapat menjalarkan beberapa jenis penyakit,
antara lain demam tinggi. Orang Jepang mengatakannya demam
Sodoku.
Tanda dan gejala:
- Sakit kepala
- Demam
- Kejang-kejang
- Kemungkinan rabies

Penanganan
- Amankan iri dan lingkungan sekitar.
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).
- Cuci luka dengan air mengalir dan sabun atau larutan deterjen.
- Imobilisasikan bagian yang di gigit/ luka tersebut.
- Berikan SAR(serum anti rabies) bila ada.
- Bila dapat lakukan penangkaan binatang yang menggigit untuk
identifikasi.
- Segera bawa penderita ke Rumah Sakit.

2) Gigitan Arthropoda (laba-laba, Tawon, Kelabang, Kala)


Gigitan atau sengatan dari berbagai jenis serangga, laba-laba, kala
dan kelabang, walaupun tidak selalu membahayakan jiwa, dapat
menimbulkan reaksi alergi yang gawat dan bahkan kadang-
kadang dapat berakibat fatal.
Musibah yang diderita dapat akibat dari gigitan, pagutan,
sengatan, atau mungkin hanya sentuhan binatang atau bagian
tubuhnya.
Tanda dan gejala
- Bengkak dan keerahan di daerah gigitan
- Gatal-gatal
- Nyeri dan terasa panas
- Demam, menggigil, kdang disertai sulit tidur
- Dapat terjadi syok
Penanganan
- Aman diri dan lingkungan sekitar
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).
- Tenangkan penderita
- Ambil segatnya kalau nampak (hati-hati saat mencabut jangan
sampai menekan kantung bias/kelenjar bias).
- Cuci daerah gigitan dengan air sabun atau alcohol 70 % atau
antiseptic.
- Kompres dingin (kompres es).
- Imobilisasikan daerah yang tergigit
- Berikan antihistamin jika reksi ringan.
- Berikan Adrenalin 0,5 mg IM, jika reaksi berat.
- Dapat berikan penawar sakit (ponstan atau tramadol dsb)
- Bawa segera ke Rumah Sakit.
3) Gigitan kelelawar
Kelelawar dapat membawa kuman rabies. Oleh karena itu, jika digigit
kelelawar bahaya rabies juga harus dipikirkan.
Tindakan pertolongan :
Kalau mungkin, tangkaplah binatang yang menggigit untuk
diobservasi selama satu minggu, apakah terjangkit rabies atau tidak.
Kalau binatangnya mati, kirimlah ke Lembaga Pasteur Bandung untuk
diperiksa (melalui Dinas Kesehatan Kota setempat).
Basuhlah luka gigitan itu dengan air mengalir dan sabun atau
obat antiseptik (pembunuh kuman). Tutuplah dengan kasa steril.
Bekas gigitan kelelawar tidak boleh terlalu banyak digerak-gerakkan
dan harus segera mendapat suntikan antibiotika.
4) Gigitan ular
Karena gigitan ular yang berbisa, yang terdapat pada 3 famili ular
yang berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae, dan Viperidae. Bisa ular
dapat menyebabkan perubahan local, seperti edema dan pendarahan.
Banyak bisa yang menimbulkan perubahan local, tetapi tetap dilokasi
pada anggota badan yang tergigit. Sedangkan beberapa bisa Elapidae
tidak terdapat lagi dilokasi gigitan dalam waktu 8 jam
Tanda dan gejala
- Kesakitan pada tempat gigitan dalam setengah jam
- Bagian gigitan membengkak selepas 1 jam.
- Lemah badan
- Pengelueran air liur yang berlebihan
- Mengantuk
- Lumpuh pada otot muka,bibir,lidah,dan saluran pernapasan
- Tekanan darah menurun
- Hipotensi
- Sakit pada bagian perut
- Gangguan pernafasan`
Penanganan
- Pertolongan pertama, jangan menunda pengiriman
kerumah sakit. Apabila penanganan medis tersedia dalam beberapa
jam, satu-satunya tindakan dilapangan adalah immobilisasi pasien
dan pengiriman secepatnya. Jika penanganan lebih dari 3-4 jam
dan jika envenomasi sudah pasti, melakukan pemasangan torniket
limfatik dengan segera dan insisi dan penghisapan dalam 30 menit
sesudah gigitan, immobilisasi, dan pengiriman secepatnya, lebih
baik pada suatu usungan, merupakan tindakan yang paling
berguna. Bila memungkinkan, pertahankan posisi ekstremitas
setinggi jantung. Jika dapat dikerjakan dengan aman, bunuhlah
ular tersebut untuk identifikasi.
- Lakukan evaluasi klinis lengkap dan pesanlah untuk pemeriksaan
laboratorium dasar, hitung sel darah lengkap, penentuan golongan
darah dan uji silang, waktu protombin, waktu tromboplastin
parsial, hitung trombosit, urinalisis, dan penentuan gadar gula
darah, BUN, dan elektrolit. Untuk gigitan yang hebat, lakukan
pemeriksaan fibrinogen, fragilitas sel darah merah, waktu
pembekuan, dan waktu retraksi bekuan.
- Derajat envenomasi harus dinilai, dan observasi 6 jam untuk
menghindari penilaian keliru dan envenomasi yang berat.
- Mulai larutan salin IV pada semua pasien; berikan oksigen, dan
tangani syok jika ada.
- Pertahankan posisi ekstremitas setinggi jantung; turniket di lepas
hanya bila syok sudah diatasi dan anti bisa diberikan.
- Beberapa sumber menganjurkan eksplorsi bedah dini untuk
menentukan kedalaman dan jumlah jaringan yang rusak.
- Pengobatan gigitan ular melibatkan administrasi antivenin setelah
dosis uji sensitivitas serum kuda dilakukan. Jika sensitivitas ini
hadir, diphenhydramine dapat diberikan sebelum antivenin
tersebut. Pembengkakan mungkin memerlukan intervensi bedah
untuk mengurangi tekanan dan mencegah kerusakan pembuluh
darah lebih lanjut, dan komplikasi berikutnya biasanya
berhubungan dengan infeksi sekunder, gagal ginjal, koagulasi
intravaskular diseminata, atau gangrene.

5) Sengatan kalajengking
Binatang ini tergolong serangga yang mempunyai racun pada
ujung ekornya. Racun dimasukkan oleh ekor serangga ke kulit,
sehingga pada saat itu juga, orang yang disengat kalajengking atau
lipan merasa kesakitan.
Beberapa jam kemudian racun itu dierap dan masuk ke dalam
darah, sehingga menimbulkan.
Tanda dan Gejala
- Gelisah,
- Mual,
- Muntah,
- Haus,
- Sakit perut.
Bila kalajengking menyengat anak-anak, dapat menimbulkan
kematian, yamg di dahului dengan sesak napas, sianosis, kelumpuhan,
kejang-kejang, syok, mengigau, dan pingsan.
Akibat sengatan kalajengking pada orang dewasa biasanya tidak
begitu hebat. Pengobatannya hanya simtomatis. Pada luka bekas
gigitan di beri kompres ammonia, bikarbonas natrikus atau kalamin
lasio. Bila ada kejag-kejang, di beri sedative, misalnya valium atau
luminal.
b. Gigitan Binatang Air
1) Gigitan Trigonid
Terdapat di perairan laut dangkal. Biasanya penderita terkena
sangat trigonid di sebabkan menginjak atau bersentuhan dengan bahan
dengan bahan dengan bagian tubuh binatang tersebut
Tanda dan gejala
- Timbul rasa nyeri dalam 90 menit
- Rasa panas di iaerah gigitan
- Pusing bahkan terkadang sampai tidak sadar (pingsan).
Penanganan
- Aman diri dan lingkungan sekitar
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).
- Tenangkan penderita
- Cabut duri babi yang menusuk.
- Rendam bagian yang tergigit dalam air hangat.
- Bersihkan luka dan imobilisasi daerah luka.
2) Gigitan ubur-ubur
Kelompok hewan-hewan laut ini menimbulkan cedera dengan
sengatan dari sel-sel penyengat dari alat-alat penangkap (tentakel-
tentakel)-nya yang menyebabkan rasa panas terbakar dan sedikit
perdarahan ada kulit. Ubur-ubur ada banyak jenisnya dan hidup di
daerah tropis. Racun ubur-ubur di buat oleh beribu-ribu duri halus
yang terdapat di permukaan badannya. Bila duri halus itu di sentuh
oleh perenang di laut, ubur-ubur akan menyuntukkan racun melalui
duri halus itu.
Kulit yang bersentuhan dengan duri ubur-ubur, akan merasa
gatal bercampur panas. Beberapa menit kemudian akan timbul
urtikaria yang dapat berubah menjadi (lepuh-lepuh visikel). Perasaan
sakit biasanya akan hilang sendiri dalam beberapa jam, tetapi dapat
kambuh lagi beberapa hari kemudian.
Tanda dan gejala
- Rasa panas dan terbakar serta sedikit perdarahan pada kulit.
- Urtikaria
- Mual
- Muntah
- Kejang otot
- Syok
- Kesulitan bernafas
- Keluar air mata terus-menerus
- Mata menjadi merah bengkak, pupil melebar
Penanganan
- Aman diri dan lingkungan sekitar
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).
- Bebaskan anggota badan yang cedera dari tentakel-tentakel dengan
handuk basah.
- Cuci luka dengan larutan Aromatic Ammonia Spirit atau alcohol
70%
- Berikan 10 ml larutan Na Glukonat.
- Asang tourniket dan berikan antidote Sea Wasp Antivenome (SWA)
bila ada
- Bawa segera ke rumah sakit
3) Gigitan ikan pari (Sting ray)
Kelompok hewan-hewan laut ini menyuntikkan racunnya
dengan menusukkan duri-duri /jarum-jarumnya. Ikan pari termasuk
klas Elasmobrachil mempunyai tulang rawan. Jenis ikan pari yang
terkenal adalah pari kembang, pari bendera, pari pasir, dan pari
burung.
Bentuk badannya pipih seperti cakram dengan ekor menyerupai
cambuk. Pada ekor itu terdapat satu atau lebih duri yang berbisa. Ikan
ini hidup di sekitar pantai. Ikan pari pasir biasanya berbaring di dasar
laut dan tertimbun pasir atau lumpur. Bila ada orang yang menginjak
badan ikan pari, ekornya akan memecut sambil memasukkan durinya.
Orang yang terkena duri ikan pari dalam 10 menit merasa sakit
di sekitar tusukan itu. Makin lama perasaan sakit itu akan makin
bertambah hebat dan menjalar keseluruh anggota badan yang tertusuk.
Perasaan sakit biasanya berlangsung antara 6 48 jam, lalu berkurang.
Luka yang ditimbulakan berupa luka tusuk atau lasersi. Untuk
mengeluarkan duri dalam daging, biasanya diperlukan insisi. Setelah
duri di keluarkan biasanya luka akan membengkak, maka dari itu
jangan dilihat langsung, cukup di kompres dengan antiseptic (betadin).
Bila peradangan telah tenang, barulah dilakukan penjahitan sekunder.
Tanda dan gejala
- Pembengkakan
- Mual, muntah dan diare
- Tekanan darah menurun,
- Berkeringat
- Jantung berdenyut tidak teratur
- Kadang-kadang bisa menimbulakan kematian.
- Kejang-kejang bahkan terkadang di sertai kelumpuhan otot-otot.
Penanganan
- Aman diri dan lingkungan sekitar
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).\
- Bersihkan luka dengan sabun dalam air hangat selam 30-60 menit.
Cara ini efektif untuk me-nonaktifkan racun yang tidak panas
- Bawa segera ke rumah sakit
4) Gigitan Gurita (Blue Ringed Octopus)
Gurita tidak akan menggigit kecuali terinjak atau di ganggu.
Gigitannya sangat beracun dan seringkali menimbulakan kematian.
Tanda dan gejala
- Kegagalan nafas secara progresif terjdi dalam 10-15 menit.
- Luka bekas gigitan kecil, tidak terasa nyeri yang mungkin berwarna
merah dan benjolan (tampak seperti meleuh berisi darah).
- Kehilangan rasa raba (di mulai sekitar mulut dan leher).
- Mual, muntah
- Kesulitan menelan
- Kesulitan bernafas
- Gangguan penglihatan
- Inkoordinasi
- Kelumpuhan otot
- Pernapasan berhenti
- Denyut nadi berhenti
- Dapat diikuti kematian
Penanganan
- Aman diri dan lingkungan sekitar
- Nilai keadaan dari airway, breating, dan sirkulasi (ABC).
- Tenangkan penderita
- Bersihkan/cuci luka bekas gigitan dengan air hangat
- Lakukan pressure imobilisasi pada bagian yang cidera
- Monitor tanda-tanda vital
- Lakukan RJP jika diperlukan

5) Gigitan lintah
Ludah lintah mengandung zat anti pembekuan darah. Darah
akan terus mengalir keluar dan masuk ke perut lintah.
Tanda dan Gejala
- Pembengkakan
- Gatal
- Kemerahan.
Tindakan pertolongan
- Dengan hati-hati lepaskanlah lintah dari tempat ia menggigit.
- Menyiram minyak atau air tembakau ke tubuh lintah, akan
membantu mempercepat usaha melepaskan gigitan lintah.
- Apabila ada tanda-tanda reaksi kepekaan seperti tersebut di atas,
cukup digosok dengan obat atau salep anti gatal biasa.
6) Ikan Hiu
Ikan hiu, disamping dapat menggigit manusia, ada pula yang
mengeluarkan racun. Ikan hiu yang beracun mempunyai sirip di
punggungnya.
Ikan hiu yang mengandung racun adalah born shark, memunyai
sirip di punggung yang berhubungan dengan kelenjar pembuat racun.
Orang yang tertusuk sirip beracun ikan hiu ini,
Tanda dan Gejala
- Sakit yang berlangsung beberapa jam
- Daerah tusukan itu menjadi merah dan bengkak
- Dapat menimbulkn kematian.
Pengobatan hanya simptomatis dan luka gigitan dirawat seperti
luka gigitan lainnya.

3. Patofisiologi

Etiologi vulnus
morsum ( gigitan manusia,
binatang, dll )

Traumatik jaringan

Terputusnya kontinuitas
jaringan

Kerusakan syaraf perifer

Kerusakan kulit Menstimulasi pengeluaran Perdarahan berlebih


neurotransmitter
Rusaknya barier tubuh (prostaglandin, histamine, Perpindahan cairan
bradikinin, serotonin) intravaskuler ke
Terpapar dengan lingkungan ekstravaskuler
Serabut eferen
Resti infeksi Keluarnya cairan tubuh
Medula spinalis (ketidakseimbangan)

Korteks serebri Kekurangan volume cairan

Serabut aferen Resti syok hipovolemik

Nye Aktifitas motorik
ri

terbatas
Kemempuan ambang batas

tubuh tidak menahan
Kekuatan otot menurun


Syok neurogenik
Gangguan mobilisasi fisik
Stress

Ansietas

4. Prinsip Penatalaksanaan Gigitan Binatang


Prinsip penatalaksanaan ada penderita dengan gigitan binatang sama
dengan pentalaksanaan pada penderita keracunan.
Yang harus selalu diperhatikan pada penderita keracunan maupun
gigitan binatang hendaknya selalu monitor dan catat setiap perubahan-
perubahan yang terjadi (ABC).

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium :
1) Penghitungan jumlah sel-sel darah
2) Prothrombin time dan activated partial thromboplastin time.
3) Fibrinogen dan produk-produk pemisahan darah
4) Tipe dan jenis golongan darah
5) Kimia darah, termasuk elektrolit, BUN, kreatinin
6) Urinalisis untuk myoglobinuria
7) Analisa gas darah untuk pasien dengan gejala sistemik
b. Pemeriksaan penujang lainnya:
1) Radiografi thoraks pada pasien dengan edema pulmoner

6. Komplikasi
a. Syok hipovolemik
b. Edema paru
c. Kematian
d. Gagal napas
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Primery survey
1) Airway (jalan nafas)
Pada airway yang perlu diperhatikan adalah memperthankan
kepatenan jalan napas, memperhatikan suara nafas, atau apakah
ada retraksi otot pernapasan. Pada kasus gigitan binatang
(rabies) ditemukan kekakuan otot tenggorokan dan pita suara
bisa menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Kejang ini terjadi
akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses
menelan dan pernafasan.
2) Walaupun terkadang jalan nafas dapat ditangani tapi belum
tentu pola nafasnya sudah teratur. Lihat pergerakan dada klien
dan lakukan auskultasi untuk mendengarkan suara nafas klien.
Pada kasus ini dapat terjadi gagal nafas yang disebabkan oleh
kontraksi otot hebat otot-otot penafasan atau keterlibatan pusat
pernafasan.
3) Pada kasus ini terjadi disfungsi otonomik yang menyebabkan
hipertensi, hipotensi, aritmia, takikardi dan henti jantung.
Kejang dapat lokal maupun generalisata dan sering bersamaan
dengan aritmia.

b. Secondary Survey
1) Observasi TTV secara continue
2) Lakukan pemeriksaan EKG dan EEG
3) lanjutkan pemberian vaksinasi dan serum anti rabies
4) pantau kesadaran pasien apakah pasien masih sadar penuh atau
pasien jatuh pada fase coma terutama pantau pernafasannya.
5) Pantau ingkah laku atau mental pasien

c. tersier survey
1) Aktivitas dan Istirahat
Gejala: Malaise.
2) Sirkulasi
Tanda: Tekanan darah normal/sedikit di bawah jangkauan
normal (selama hasil curah jantung tetap meningkat). Denyut
perifer kuat, cepat, (perifer hiperdinamik),
lemah/lembut/mudah hilang, takikardi, ekstrem (syok).

3) Integritas Ego
Gejala: Perubahan status kesehatan.
Tanda: Reaksi emosi yang kuat, ansietas, menangis,
ketergantungan, menyangkal, menarik diri.
4) Eliminasi
Gejala: Diare.
5) Makanan/cairan
Gejala: Anoreksia, mual/muntah.
Tanda: Penurunan berat badan, penurunan lemak
subkutan/massa otot (malnutrisi).
6) Neorosensori
Gejala: Sakit kepala, pusing, pingsan.
Tanda: Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientasi,
delirium/koma.
7) Nyeri/Kenyamanan
Gejala: Kejang abdominal, lokalisasi rasa nyeri,
urtikaria/pruritus umum.
8) Pernapasan
Tanda: Takipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan.
Gejala: Suhu umunya meningkat (37,95oC atau lebih) tetapi
mungkin normal, kadang subnormal (dibawah 36,63oC),
menggigil. Luka yang sulit/lama sembuh.
9) Seksualitas
Gejala: Pruritus perianal, baru saja menjalani kelahiran.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan pembersihan jalan nafas b/d kekakuan otot


kerongkongan, gangguan daerah otak yang mengatur proses
menelan dan pernafasan.
b. Ketidakefektifan pola napas b/d kekakuan otot pernapasan/otot
tenggorokan
c. Penurunan curah jantung b/d aritmia
d. Nyeri akut berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa
gaster, rongga oral, respon fisik, proses infeksi, misalnya gambaran
nyeri, berhati-hati dengan abdomen, postur tubuh kaku, wajah
mengkerut, perubahan tanda vital.
e. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan tingkat
metabolisme, penyakit, dehidrasi, efek langsung dari sirkulasi
endotoksin pada hipotalamus, perubahan pada regulasi temperatur,
proses infeksi.
f. Ketakutan/ansietas berhubungan dengan krisis situasi, perawatan di
rumah sakit/prosedur isolasi, mengingat pengalaman trauma,
ancaman kematian atau kecacatan.
g. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun,
kegagalan untuk mengatasi infeksi, jaringan traumatik luka.

3. Perencanaan

Diagnosa I :

Ketidakefektifan pembersihan jalan nafas b/d kekakuan otot


kerongkongan, gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan
dan pernafasan.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

Menunjukkan bunyi napas jelas, frekuensi pernapasan dalam rentang


normal, bebas dispnea/sianosis.

Intervensi:

1) Kaji tingkat kesadaran pasien


Rasional : dengan melihat, mendengar, dan merasakan dapat
dilakukan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.
2) Observasi keadaaan umum pasien
Rasional :mengetahui tingkat kesadaran pasien sehubungan dengan
kepatenan jalan napas pasien.
3) Kaji atau pantau pernapasan klien
Rasional :Mengetahui frekuensi pernapasan klien sebagai indikasi
dasar gangguan pernapasan.
4) Berikan posisi yang nyaman misalnya posisi semi fowler
Rasional :posisi semi fowler memungkinkan ekspansi paru lebih
maksimal.
5) Brikan terapi O2 sesuai kebutuhan pasien
Rasional :memenuhi asupan oksigen yang adekuat pada pasien.
6) Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga ke mulut
pasien.
Rasional :mengetahui tingkat pernapasan pasien dan mengetahui
adanya penumpukan secret.

Diagnosa II :

Ketidakefektifan pola napas b/d kekakuan otot pernapasan/otot


tenggorokan

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

Dapat bernapas normal, tidak ada tarikan dinding dada, tidak ada cuping
hidung, tidak ada sianosis, RR dalam batas normal 16-20x/menit.

Intervensi

1) Observasi warna kulit,membran mukoasa dan kuku,catat adanya


sianosis
Rasional : perubahan warna kulit dan membrane mukosa menandakan
terjadinya kekurangan oksigen
2) Pertahankan istirahat tidur
Rasional :mencegah kelelahan dan menurunkan kebutuhan oksigen
untuk kemudahan perbaikan infeksi.
3) Kaji usaha dan frekuensi napas pasien
Rasional :mengetahui tingkat usaha napas pasien
4) Auskultasi bunyi napas dengan mendekatkan telinga pada hidung
pasien serta pipi ke mulut pasien
Rasional :mengetahui masih adanya usaha napas pasien
5) Pantau ekspansi dada pasien
Rasional : mengetahui masih adanya pengembangan dada pasien
6) Kaji frekwensi dan kedalaman pernafasan pasien
Rasional : Frekwensi dan kedalaman pernafasan menunjukkan usaha
klien dalam memenuhi kebutuhan oksigenasinya.
7) Auskultasi dan dengarkan bunyi napas
Rasional :mengetahui adanya bunyi nafas tambahan

Diagnosa III :

Penurunan curah jantung b/d aritmia.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

RR 30-60 x/mnt, Nadi 120-140 x/mnt. Suhu 36,5-37 C, Sianosis (-),


Ekstremitas hangat.

Intervensi :

1) Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna


dan kehangatan kulit.
Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukan menurunnya
nadi perifer. Pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer sekunder
terhadap tidak adekuatnya curah jantung.
2) Berikan posisi terlentang, bila tekanan darah dalam rentang lebih
rendah dari biasanya.
Rasional :memudahkan sirkulasi darah ke jantung.
3) pantau tanda tanda vital (nadi, warna kulit) dengan menyentuh nadi
jugularis
Rasional : mengetahui masih adanya denyut nadi yang teraba
4) pantau tanda-tanda syok
R/memantau penemuan tanda syok secara dini dapat menjadi dasar
untuk melakukan tindakan secara cepat dan tepat,
5) kolaborasi dalam pemberian cairan parienteral
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan klien
6) Kolaborasi dalam pemberian antikoagulan untuk mencegah
pembentukan thrombus.
Rasional : antikoagulan mencegah terjadinya pembekuan darah akibat
adekuatnya curah jantung

Diagnosa IV:

Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, menunjukkan ekspresi


wajah/postur tubuh tubuh rileks, berpartisipasi dalam aktivitas dan
tidur/istirahat dengan tepat.

Intervensi:

1) Kaji tanda-tanda vital.


Rasional: Mengetahui keadaan umum klien, untuk menentukan
intervensi selanjutnya.
2) Kaji karakteristik nyeri.
Rasional: Dapat menentukan pengobatan nyeri yang pas dan
mengetahui penyebab nyeri.
3) Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
Rasional: Membuat klien merasa nyaman dan tenang.
4) Pertahankan tirah baring selama terjadinya nyeri.
Rasional: Menurunkan spasme otot.
5) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik.
Rasional: Memblok lintasan nyeri sehingga berkurang dan untuk
membantu penyembuhan luka.

Diagnosa V :

Hipertermia berhubungan dengan peningkatan tingkat metabolisme,


penyakit, dehidrasi, efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada
hipotalamus, perubahan pada regulasi temperatur, proses infeksi.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:


Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal (36-37,5oC), bebas dari
kedinginan.

Intervensi:

1) Pantau suhu klien.


Rasional: Suhu 38,9-41,1oC menunjukkan proses penyakit infeksi
akut.
2) Pantau asupan dan haluaran serta berikan minuman yang disukai untuk
mempertahankan keseimbangan antara asupan dan haluaran.
Rasional: Memenuhi kebutuhan cairan klien dan membantu
menurunkan suhu tubuh.
3) Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahan linen tempat tidur sesuai
indikasi.
Rasional: Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk
mempertahankan suhu mendekati normal.
4) Berikan mandi kompres hangat, hindari penggunaan alkohol.
Rasional: Dapat membantu mengurangi demam, karena alkohol dapat
membuat kulit kering.
5) Berikan selimut pendingin.
Rasional: Digunakan untuk mengurangi demam.
6) Berikan Antiperitik sesuai program.
Rasional: Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya
pada hipotalamus.

Diagnosa VI :

Ketakutan/ansietas berhubungan dengan krisis situasi, perawatan di rumah


sakit/prosedur isolasi, mengingat pengalaman trauma, ancaman kematian
atau kecacatan.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

Menyatakan kesadaran perasaan dan menerimanya dengan cara yang


sehat, mengatakan ansietas/ketakutan menurun sampai tingkat dapat
ditangani, menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
dengan penggunaan sumber yang efektif.
Intervensi:

1) Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang prosedur


perawatan.

Rasional: Pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan ketakutan


dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep dan meningkatkan kerja
sama.

2) Tunjukkan keinginan untuk mendengar dan berbicara pada pasien bila


prosedur bebas dari nyeri.

Rasional: Membantu pasien/orang terdekat untuk mengetahui bahwa


dukungan tersedia dan bahwa pembrian asuhan tertarik pada orang
tersebut tidak hanya merawat luka.

3) Kaji status mental, termasuk suasana hati/afek.

Rasional: Pada awal, pasien dapat menggunakan penyangkalan dan


represi untuk menurunkan dan menyaring informasi keseluruhan.
Beberapa pasien menunjukkan tenang dan status mental waspada,
menunjukkan disosiasi kenyataan, yang juga merupakan mekanisme
perlindungan.

4) Dorong pasien untuk bicara tentang luka setiap hari.

Rasional: Pasien perlu membicarakan apa yang terjadi terus menerus


untuk membuat beberapa rasa terhadap situasi apa yang menakutkan.

5) Jelaskan pada pasien apa yang terjadi. Berikan kesempatan untuk


bertanya dan berikan jawaban terbuka/jujur.

Rasional: Pernyataan kompensasi menunjukkan realitas situasi yang


dapat membantu pasien/orang terdekat menerima realitas dan mulai
menerima apa yang terjadi.
Diagnosa VII :

Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun, kegagalan


untuk mengatasi infeksi, jaringan traumatik luka.

Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan:

Mencapai penyembuhan luka tepat waktu bebas eksudat purulen dan tidak
demam.

Intervensi:

1) Kaji tanda-tanda infeksi.

Rasional: Sebagai diteksi dini terjadinya infeksi.

2) Lakukan tindakan keperawatan secara aseptik dan anti septik.

Rasional: Mencegah kontaminasi silang dan mencegah terpajan pada


organisme infeksius.

3) Ingatkan klien untuk tidak memegang luka dan membasahi daerah


luka.

Rasional: Mencegah kontaminasi luka.

4) Ajarkan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien.

Rasional: Mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi.

5) Periksa luka setiap hari, perhatikan/catat perubahan penampilan, bau


luka.

Rasional: Mengidentifikasi adanya penyembuhan (granulasi jaringan)


dan memberikan deteksi dini infeksi luka.

6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik.


Rasional: Untuk menghindari pemajanan kuman.

4. Implementasi

Implementasi keperawatan merupakan tindakan yang sudah


direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan yang mencakup
tindakan tindakan independen (mandiri) dan kolaborasi. Akan tetapi
implementasi keperawatan disesuaikan dengan situasi dan kondisi
pasien. Tindakan mandiri adalah aktivitas perawatan yang didasarkan
pada kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan
petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain. Tindakan
kolaborasi adalah tindakan yang didasarkan hasil keputusan bersama
seperti dokter dan petugas kesehatan lain. (Tarwoto Wartonah, 2004: 6

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan


cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak. Jika tujuan tidak tercapai, maka perlu
dikaji ulang letak kesalahannya, dicari jalan keluarnya, kemudian catat
apa yang ditemukan, serta apakah perlu dilakukan perubahan
intervensi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang
tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang
mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua
jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada
umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka
biasa.
Macam-macam Gigitan Binatang :
a. Gigitan Binatang Darat Gigitan Anjing, Kucing, Kera, tikus, dll
Gigitan Arthropoda (laba-laba, Tawon, Kelabang, Kala)
b. Gigitan Binatang Air : Gigitan Trigonid, Gigitan ubur-ubur, Gigitan
ikan pari (Sting ray), Gigitan Gurita (Blue Ringed Octopus), Gigitan
lintah, Ikan Hiu

Prinsip Penatalaksanaan Gigitan Binatang

Prinsip penatalaksanaan ada penderita dengan gigitan binatang sama


dengan pentalaksanaan pada penderita keracunan.

Yang harus selalu diperhatikan pada penderita keracunan maupun gigitan


binatang hendaknya selalu monitor dan catat setiap perubahan-perubahan
yang terjadi (ABC).

B. Saran
Diharapkan kemampuan dan keterampilan perawat dalam penanganan
gawat darurat dengan kasus gigitan binatang sehingga dapat melakukan
tindakan yang sesuai dengan SOP dan jenis gigitan binatangnya.
DAFTAR PUSTAKA

Diane C. Baugman, Joann C. Hackley, Medical Surgical Nursing,


Lippincott, 1996

Donna D. Ignatavicius, at al., Medical Surgical Nursing : A Nursing


Process Approach, 2nd Edition, WB. Saunders Company,
Philadelphia, 1991.

Hugh A. F. Dudley (Ed), Hamilto Bailey, Ilmu Bedah, Edisi XI, Gajah
Mada University Press, 1992

Joice M. Black, Esther Matassarin Jacobs, Medical Surgical Nursing :


Clinical Management for Contuinity of Care, 5th Edition, WB.
Saunders Company, Philadelphia, 1997.

Susan Martin Tucker, at al., Standar Perawatan Pasien : Proses


keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Volume 2,
EGC, Jakarta, 1998.

Soeparman, Sarwono Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai


Penerbit FKUI, Jakarta, 1990