BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kimia dan bidang-
bidang yang berhubungan dengannya. Titrasi sampai sekarang masih banyak dipakai di
laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat dan tidak membutuhkan banyak
reagen.Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan
untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan
suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume
dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini
banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.

Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui
konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau
titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di
Erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit
pada analit sampai diperoleh keadaan dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit,
artinya semua titran habis bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen.
Titik equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum adalah
dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan adanya penambahan
sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita dapat langsung menghentikan proses
titrasi.Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan adanya berubahan warna indicator disebut
sebagai titik akhir titrasi. Titrasi yang bagus memiliki titik equivalent yang berdekatan
dengan titik akhir titrasi dan kalau bisa sama.

Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus
memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan
dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam
peralatan yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan
teknik titrasi. Terdapat bermacam-macam titrasi, salah satunya adalah “TITRASI
KOMPLEKSOMETRI” yang akan dibahas dalam makalah ini.

1

Mengetahui indikator-indikator yang dapat digunakan dalam Titrasi Kompleksometri 3. dapat dikemukakan permasalahannya adalah: 1. Senyawa ini dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1. Bagaimana penggunaan kompleksometri pada bidang farmasi ? C. Pengertian Titrasi Kompleksometri Titrasi kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya. Mengetahui cara praktikum kompleksometri BAB II PEMBAHASAN A. dll ). Apa saja Indikator yang tepat dalam Titrasi Komplesometri! 3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan ini adalah 1. Apa yang dimaksud dengan Titrasi Kompleksometri? 2.B.+ 2 H+ M3+ + (H2Y)= (MY). Beberapa valensinya: M2+ + (H2Y)= (MY)2. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang. Mengetahui pengertian dan gambaran Titrasi Komplesometri 2. Apa saja Kesalahan dari Titrasi Kompleksometri 4.+ 2 H+ 2 . yang umum di indonesia EDTA ( disodium ethylendiamintetraasetat/ tritiplex/ komplekson. Mengetahui Penggunaan-Penggunaan Titrasi Kompleksometri diLaboratorium 4.

dengan sebuah anion atau molekul netral. dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri. Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks dalam mana ligan itu terlibat. sebuah kation. seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. membentuk hasil berupa kompleks. disebut ligan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas. Ciri-ciri khas ligan itu.=HgCl2 Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan dengan baik menurut klarifikasi Schwarzenbach. b.M4+ + (H2Y)= (MY) + 2 H+ Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks. sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Gugus-yang terikat pada ion pusat.=Ag(CN)2 Hg2+ + 2Cl. Kemampuan mengkompleks logam-logam. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan : M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan kompleks. adalah : 3 . Contoh reaksi titrasi kompleksometri: Ag+ + 2 CN. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam. tidak hanya dalam titrasi. dan dalam larutan air. yaitu : a. yang dalam garis besarnya didasarkan atas pembagian logam menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan kelas B. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak.

Ligand polidentat : terdapat lebih dari 1 atom donor di dalamnya Contoh beberapa komplekson : 1. yaitu diantaranya : 1. biasanya membentuk kompleks-kompleks labil. Unsur transisi baris kedua dan baris ketiga. Unsur grup utama.) Asam nitrilotriasetat(III) Nama lainnya adalah :  NITA 4 . Suatu reaksi kompleks dapat dipakai dalam penitaran apabila:  Kompleks cukup memberikan perbedaan pH yang cukup besar pada daerah titik setara. Ligand monodentat : terdapat 1 atom di dalamnya 2. Beberapa jenis senyawa Kompleks Ada 2 jenis lignand dilihat dari jumlah atom donor di dalamnya : 1. sifat-sifat penyepitan (jika ada). 3. cenderung membentuk kompleks-kompleks inert. 2. 2. kebanyakan unsur transisi baris-pertama. efek-efek sterik (ruang). Dengan kekecualian Cr(III) dan Co(III). Keinertan atau kelabilan kinetik dipengaruhi oleh banyak faktor.  Terbentuknya cepat. membentuk kompleks-kompleks labil. 1. tetapi pengamatan umum berikut ini merupakan pedoman yang baik akan perilaku kompleks-kompleks dari berbagai unsur. dan 3. kekuatan basa dari ligan itu.

EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil- nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul.2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat.) Asam trans-1.  NTA  Komplekson I 2 .N.N’.N”’-heksaasetat (TTHA) Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA. dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut.N.N”’. yang menghasilkan spesies seperti CuHY-.N-tetraasetat(EGTA) 4. Dengan mengendalikan pH larutan dengan sesuai 5 .N’.yaitu : 1.N”. Dalam larutan yang agak asam. merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat.2’2etilenadioksibis(etiliminodiasetat) (V) Nama lainnya:  Asam etilenaglikolbis (2-aminoetil eter) N. misalnya asam 1.) Asam trietilenatetramina-N. Faktor-faktor yang akan membantu menaikkan selektivitas.penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.N’-tetraasetat(IV) Nama lainnya adalah:  EDTA  DcyTA  DCTa  Komplekson IV 3.) Asam 2.N. EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen .2-diaminosikloheksana-N.N’. Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif.

engan sebuah anion atau molekul netral ( Basset. sebuah kation. magnesium dan zink dengan cara gravimetri memakan waktu yang lama. Kompleks-kompleks sianida 4. Dengan menggunakan zat-zat penopeng 3. 6 . 1979 ). Ekstraksi pelarut 6. Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik dan melibatkan pembentukan ( formasi ) kompleks atom atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. karena prosedurnya lama. Indikator 7. 2002 ).2. Pemisahan secara klasik 5. penyaringan. tidak hanya dalam titrasi karena itu perlu pengertian yang cukup luas untuk kompleks. Kompleks yang dimaksud disini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam. bismuth. Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengompleks. Reaksi – reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak. Prosedurnya meliputi pengendapan. dan pengeringan atau pemijaran sampai bobot tetap ( Susanti dan Wunas. kalsium. pencucian. Anion-anion 8. membentuk hasil berupa kompleks. 1994 ). ‘Penopengan Kinetik’ Analisa kimia farmasi kuantitatif untuk zat –zat yang mengandung ion – ion logam seperti aluminium. Sekalipun disini pertama – tama akan diterapkan pada titrasi.Hgc ( Khopkar.Ag ( + 2cl . Contoh reaksi titrasi kompleksometri : + 2CN .

sedangkan dengan ion nikel membentuk nikel – sianida. 1995 ). Dengan ion perak. lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu ( Rivai.2 – diaminoetana. sedangkan kendala yang membatasi pemakaian – pemakaian ion sianida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap dengan ion – ion logam. kareka sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. 7 . Misalnya asam 1. EDTA ) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbangg dalam molekul ( Rivai. Satu – satunya ligan yang lazim dipakai pada pemerikasaan kimia adalah ion sianida. Asam Etilen Diamin Tetra Asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA. Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksilnya atau disebut ligan multidental yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi permolekul. 1995 ). ion sianida membentuk senyawa kompleks perak – sianida.tetraasetat ( asam etilenadiamina tetraasetat. Kedua reaksi itu haruslah spesifik ( khusus ). bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA. yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ada lima syarat suatu radikator nonlogam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik – titik akhir. Dalam larutan yang agak asam. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion yang ada dalam larutan tersebut ( Harjadi. atau setidaknya selektif. merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. dapat terjadiprotonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam. Suatu EDTA dapat membentuk suatu senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. larutan akan berwarna kuat. 1993 ). reaksi warna harus sedemikian sehingga sebeblum titik akhir.

Kelima. Sebagian ittrasi kompleksometri menggunakan indikator juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna 8 . Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH misal Mg. pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator EBT. Cr dan Ba dapat dititrasi dengan pH 11 EDTA. Terakhir. penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengantitrasi EDTA. kompleks logam itu harus kurang stabil dibandingkan dengan logam – EDTA untuk mennjamin agar pada titik akhir. 1994 ) 1. EDTA memindahkan ion . Namun. kompleks – kompleks indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup. dapat diperoleh dalam keadaan murni. karena adanya sejumlah titik tertentu air. kontras antara warna indikator bebas dan kompleks – indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. 1994 ). Titrasi subsitusi 4. sebaliknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan kadmium ( Harjadi. ion logam kompleks dari indikator logam dari kompleks – indikator logam ke kompleks logam EDTA harus tajam dan cepat. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air. Bahan pengkelat yang mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks – kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam. Titrasi kembali 3. sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan kompleksometri. Cara – cara titrasi EDTA ( Underwood. Kesulitan ynag timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Namun. Titrasi secara alkalimetri. Titrasi secara tidak langsung 5. Ketiga. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekivalen. kalau tidak . Pada pH 12 Mg( akan mengendap sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh dengan indikator mureksid ( Basset. Ca. Titrasi langsung 2.karena disosiasi. 1994 ). tidak akan diperoleh perubahan warna yang tajam.

Karenanya. perlu oengertian yang cukup luas tentang kompleks. disebut ligan ( polidentat ) ( Khopkar. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu : 9 . Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks adalah tingkat kelarutan tinggi. 1990 ). Indikator demikian disebut indikator metalokromat. B. Indikator Titrasi Kompleksometri Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. tidak hanya dalam titrasi. Xylenol orange. calmagit. Karena itu. 1 – ( 2-piridil – azonaftol ). Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome Black – T. 2002 ). metafalein dan calcein blue ( Khopkar. Pyrocatechol. Logam – logam alkali tanah seperti lkalsium dan magnesium membentuk kompleks yang tidak stabil dengan EDTA pada pH rendah. yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. sekalipun disini pertama – tama akan diterapkan pada titrasi ( Underwood. titrasi logam ini dengan EDTA dilakukan pada larutan buffer amonia ( Gandjar. 1994 ). dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai kelatometri seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Titrasi kompleksometri merupakan titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks ( ion kompleks atau garam yang sukar mangion ). Gugus yang terikat pada atom pusat. EDTA akan membentuk kompleks 1 : 1 yang stabil dengan semua logam kecuali logam alkali seperti natrium dan kalium. PAN. Zincon. Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimanan titran dan titrat saling mengompleks. membentuk hasil berupa kompleks reaksi – reaksi pembentuk kompleks dan menyangkut kompleks banyak banyak sekali serta penerapannya jugag banyak. Selain titrasi kompleks seperti sebelumnya. 2012 ). asam salisilat.

Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah: a. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah. atau sedikitnya selektif. C. . Biru Hidroksi Naftol Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 12 – 13danmenjadi biru jernih jika terjadi kelebihan edetat. Pada pH 8 -10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. c. 4. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10. Kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir. karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam. 5. terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup. Reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus). Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator. 3. EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. 2. b. sehingga titik akhir sukar diamati. sedangkan yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali. larutan akan berwarna kuat. 1. Kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Jingga xilenol Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir. bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA. demikian juga pada pH 12. karena disosiasi. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah. Hitam eriokrom Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. kalau tidak. Kesalahan Titrasi Kompleksometri 10 . 6.Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks.

kesalahan titrasi dihitung dengan cara yang sama pada titrasi pengendapan. dan menujukkan komposisi kimiawi yang tertentu. Ti. Kegunaan Titrasi Kompleksometri dalam Farmasi 1. Cu. Mg dalam contoh dapat bereaksi dengan EDTA dan menggunakan indicator EBT. Ca. disebabkan oleh kandungan garam Kalsium atau Magnesium. Ti. dan Th dapat dititirasi pada 11 . mudah larut. Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH.05 M. misal Mg. Analisis Kadar Attapulgite dalam Tablet A Attapulgite dalam tablet A dapat ditetapkan dengan cara titrasi kompleksometri. Pertama. Kedua. dideteksi. digunakan senyawa yang membentuk senyawa kompleks yang berwarna tajam dengan logam yang ditetapkan. Larutan ion Mg2+ dan ion Ca2+ dititar secara kompleksometri dengan larutan EDTA dan digunakan petunjuk EBT. Cd. Mg dapat ditetapkan secara kompleksometri. Zn. 2. Misalnya EDTA. Fe.kemudian dengan ion Mg2+ dan akhirnya dengan senyawa rangkai Mg-EBT yang berwarna merah anggur. dan V dapat dititrasi pada pH 4-7. dan Ba dapat dititrasi pada pH 11. V. In. Mg dan EBT membentuk senyawa rangkai yang berwarna merah anggur. Bi. Warna ini hilang atau berubah sewaktu logam telah diikat menjadi kompleks yang lebih stabil. Pb. Fe. Penetapan kadar Mg dan MgCl2 2+ Pada pH 10. Ni. Penetapan Total Kesadahan Air Pada umumnya kesadahan jumlah air. Titik akhir pada pH 7-11. Kesalahan titrasi kompleksometri tergantung pada cara yang dipakai untuk mengetahui titik akhir. terakhir logam seperti Hg. Cr. dengan adanya perubahan warna dari merah anggur menjadi biru yang berasal dari larutan penunjuk yang bebas.Larutan penunjuk yang bebas berwarna biru pada pH 7- 11 warna larutan pada titik akhir berubah dari merah menjadi biru. yaitu kelebihan titran yang pertama ditunjukkam atau berkurangnya konsentrasi komponen tertentu sampai batas yang ditentukan. Sc. Pada prinsipnya ada dua cara. Dengan indikator EBT akan menghasilkan titik akhir berwarna biru kecoklatan. Pertama-tama EDTA akan bereaksi dengan ion Ca 2+ . Co. Ca. Al. Kelebihan Titrasi Kompleksometri EDTA stabil. D. Cr. Attapulgite dapat dititar dengan EDTA 0. Co. 3. Mn2+.

Titrasi kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya. Na2H2Y sendiri merupakan standar primer sehingga tidak perlu distandarisasi lebih lanjut. Simpulan Berdasarkan Pembahasan tersebut maka dapat simpulan yang dapat diambil adalah: 1. 2. Biru Hidroksi Naftol 3. Hitam eriokrom b. Penetapan total kesadahan air b. BAB III PENUTUP A. pH 1-4. Jingga xilenol c. EDTA sebagai natrium. Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah: a. 12 . Kegunaan Titrasi Kompleksometri diantaranya adalah: a. Penetapan kadar Mg dan MgCl2 c. Kompleks yang mudah larut dalam air ditemukan. Analisis kadar Attapulgite dalam tablet A B. Suatu titik ekivalen segera tercapai dalam titrasi dan akhirnya titrasi kompleksometri dapat digunakan untuk penentuan beberapa logam pada operasi skala semi-mikro. Saran Adapun saran dari makalah ini yaitu diharapkan makalah ini dapat dijadikan referensi dan dipergunakan seperlunya dan diharapkan untuk pemakalah berikutnya agar lebih mengembangkan isi dari makalah ini.

JR dan Underwood. 2014. ECG : Jakarta Day. Depatment Kesehatan RI : Jakarta Harjadi. 1993. UI Press : Jakarta Rivai. W. Erlangga : Jakarta Khopkar S. 1979. Erlangga : Jakarta Ditjen POM. Konsep Dasar Kimia Analitik. Farmakope Indonesi Edisi III. 2002. S. M. Analisis Kimia Kuantitatif. Rohma dan Ibni Gholib Gandjar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Wunas Y. 1995. DAFTAR PUSTAKA Abdul.J. Penuntun Kimia Analisis Farmasi. Universitas Muslim Indonesia : Makassar Basset. 2012. 1979. Asas Pemeriksaan Kimia. UI Press : Jakarta Khopkar S. UI Press : Jakarta Susanti. Pustaka Pelajar : yogyakarta Anonim. Ilmu Kimia Analitik Dasar.dkk. Kimia Farmasi Analisis. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. 1994. Harrizul. M. Lembaga Penerbitan UNHAS : Makassar 13 . Analisis Kimia Farmasi Kuantitatif. 1994.

kenapa harus di tambahkan dalam titrasi kompleksometri? Jawab : larutan dapar atau dapar ph adalah larutan yang mengandung campuran asam lemah dan bas konjugatnya atau sebaliknya. titrasi kompeksometri jenis apa yang anda gunakan dalam penentuan kesadahan air minum ? kenapa di gunakan titrasi itu ! Jawab : titrasi langsung alasannya tirasi yang biasa di gunakan untuk ion ion yang tidak mengendap pada ph titrasi dan reaksi pembentukan kompleksnya berjalan cepat. ada yang titrasi subtitusi. Karena setiap kompleks memiliki kestabilan yang berfariasi. Contoh penentuan ion Mg. LAMPIRAN Pertanyaan dari alief : Dalam ppt anda. Pertanyaan dari binti : Apa yang di maksud dengan larutan dapar. Pertanyaan dari riska : Cara cara titrasi EDTA. Titrasi subtitusi bagaimana maksudnya? 14 . Larutan dapar di gunakan untuk mempertahankan ph pada nilai tertentu dalam berbagai aplikasi kimia.Ca. dan Fe.

analisis kadar Attapulgite dalam tablet 15 .Jawab : titrasi subtitusi atau titrasi penggantian adalah titrasi yang di gunakan untuk ion ion logam yang tidak bereaksi sempurna dengan indikator logam yang membentuk kompleks ion ion logam lainnya. Pertanyaan dari voni : Selain menentukan kesadahan total air EDTA di gunakan sebagai apa ? Penetapan kadar Mg dan MgCl2. Contoh penentuan Ca dan Mg.