Penerapan Kolaborasi Pendidikan dan Praktik Antar Profesi Kesehatan

Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk
menggambarkan suatu hubungan kerja sam yang dilakukan pihak tertentu.
Sekian banyak pengertian yang dikemukakan dengan sudut pandang beragam
namun didasari prinsip yang sam yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama,
berbagi tugas, kesetaraan, tanggung jawab dan tanggung gugat. Namun
demikian kolaborasi sulit didenifisikan untuk menggambarkan apa yang
sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. Definisi Kolaborasi menurut
ANA (1980) adalah sebagai hubungan rekanan sejati, dimana masing – masing
pihak menghargai kekuasaan pihak lain, dengan mengenal dan menerima
lingkup kegiatan dan tanggungjawab masing – masing yang terpisah maupun
bersama, saling melindungi kepentingan masing masing dan adanya tujuan
bersama yang diketahui kedua belah pihak.

Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan
atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator. Efektifitas
hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik setuju atau
ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Partnership kolaborasi
merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan outcome yang lebih
baik bagi pasien dalam mecapai upaya penyembuhan dan memperbaiki kualitas
hidup.

Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing pengetahuan
yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat
pasien. Bekerja bersama dalam kesetaraan adalah esensi dasar dari kolaborasi
yang kita gunakan untuk menggambarkan hubungan perawat dan dokter.
Tentunya ada konsekweksi di balik issue kesetaraan yang dimaksud. Kesetaraan
kemungkinan dapat terwujud jika individu yang terlibat merasa dihargai serta
terlibat secara fisik dan intelektual saat memberikan bantuan kepada pasien.

Pada saat ini setiap profesi kesehatan di tuntut untuk dapat berkolaborasi. Bukan
seperti dahulu dokter mengganggap dirinya tidak perlu berkolaborasi,perawat
dan farmasi juga berfikiran sama. Pada saat ini, prinsip kolaborasi telah berlaku
hampir di seluruh institusi keperawatan di Indonesia. Perawat tidak lagi hanya
belajar tentang asuhan kepeawatan, tetapi perawat juga belajar tentang obat-
obatan,anatomi, dan beberapa hal yang merupakan bukti bahwa kolaborasi juga
telah terjadi di bidang pendidikan. Pada saat sekarang dihadapkan pada
paradigma baru dalam pemberian pelayanan kesehatan yang menuntut peran
perawat yang lebih sejajar untuk berkolaborasi dengan dokter.

Pada kenyataannya profesi keperawatan masih kurang berkembang
dibandingkan dengan profesi yang berdampingan erat dan sejalan yaitu profesi
kedokteran. Kerjasama dan kolaborasi dengan dokter perlu pengetahuan,
kemauan, dan keterampilan, maupun sikap yang professional mulai dari
komunikasi, cara kerjasama dengan pasien, Maupun dengan mitra kerjanya,
sampai pada keterampilan dalam mengambil keputusan.

fisioterapi. Saat ini masih banyak Perawat bekerja memberikan pelayanan kepada pasien hanya berdasarkan intruksi medis yang juga didokumentasikan secara baik. sementara dokumentasi asuhan keperawatan yang meliputi proses keperawatan tidak ada. manager. perawat. Anggota tim kesehatan meliputi : pasien. cara kerjasama dengan pasien maupun dokter sampai kepada ketrampilan perawat dalam membuat keputusan Pertanyaannya apakah kolaborasi dokter dan perawat telah terjadi dengan semestinya? Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat profesional dan institusional. serta kebijakan rumah sakit yang kurang mendukung menyebab kan prinsip kolaborasi tidak dapat berjalan dengan baik. Salah satu syarat yang paling penting dalam pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang bermutu. melainkan juga berorientasi pada komunikasi karena pelayanan melalui komunikasi sangat penting dan berguna bagi pasien. perawat sebagai asistennya. ahli gizi. Inti sesungguhnya dari konflik perawat dan dokter terletak pada perbedaan sikap profesional mereka terhadap pasien dan cara berkomunikasi diantara keduanya. Kepuasan pada pasien dalam menerima pelayanan kesehatan mencakup beberapa dimensi. Praktek kolaborasi perawat dengan dokter memerlukan pengetahuan. Salah satunya adalah dimensi kelancaran komunikasi antaran petugas kesehatan (termasuk dokter) dengan pasien. pekerja sosial. Suatau pelayanan dikatakan bermutu apabila memberikan kepuasan pada pasien. sikap yang profesional mulai dari komunikasi. dokter.Selama ini proses perawatan pasien baik di Rumah Sakit maupun di layanan praktek kedokteran yang lain cenderung intruksional antara dokter dengan perawat. sehingga iklim dan kondisi sosial masih medukung dominasi dokter. Tim akan berfungsi baik jika terjadi adanya konstribusi dari anggota tim dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Selain itu. Kecenderungan ini lebih banyak dipengaruhi oleh masih belum adanya kolaborasi interdisipliner sejak masih di lingkungan akademis. pandangan dokter yang selalu menganggap bahwa perawat merupakan tenaga vokasional. Hal ini berarti pelayanan kesehatan bukan hanya berorientasi pada pengobatan secara medis saja. serta sangat membantu pasien dalam proses penyembuhan. Setiap anggota tim memiliki kewenangan intervensi yang berbeda-beda sesuai skill dan kompetensi dalam mengelola sakit pada pasiennya. tujuan umum dan berbeda keahlian. dan . farmasis dan ahli gizi. Dalam rangka meningkatkan kepuasan pasien (patient satisfation) baik di rumah sakit maupun di tempat praktek perlu dibudayakan sebuah team work antar disiplin ilmu dengan mendedepankan tujuan bersama yaitu menurunnya morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian). Dokter cenderung pria. Perbedaan status dan kekuasaan tetap menjadi sumber utama ketidaksesuaian yang membatasi pendirian profesional dalam aplikasi kolaborasi. Tim pelayanan kesehatan interdisiplin merupakan sekolompok profesional yang mempunyai aturan yang jelas. dari tingkat ekonomi lebih tinggi dan biasanya fisik lebih besar dibanding perawat.

berbagi tanggung jawab. hubungan yang positif dan sikap saling menghargai peran masing-masing sesungguhnya dapat berkembang. Kolaborasi yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi terselenggaranya pelayanan pasien yang berkualitas. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama. Banyaknya faktor yang berpengaruh seperti kerjasama. Perkembangan profesi Gizi dan Keperawatan perlu upaya penataan sistem pendidikan. Dokter memiliki peran utama dalam mendiagnosis. Partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan akan menambah kemungkinan suatu rencana menjadi efektif. Mereka sering berkonsultasi dengan anggota tim lainnya sebagaimana membuat referal pemberian pengobatan. Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan kompak dalam mencapai tujuan. Masing-masing profesi memiliki kompetensi profesional yang berbeda sehingga ketika digabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk mencapai pelayanan yang efektif maka perawat. dokter dan tim kesehatan harus berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif. Perawat berperan sebagai penghubung penting antara pasien dan pemberi pelayanan kesehatan. Pasien secara integral adalah anggota tim yang penting. Pada situasi ini dokter menggunakan modalitas pengobatan seperti pemberian obat dan pembedahan. mengobati dan mencegah penyakit. . tanggung jawab. Oleh karena itu perlu dikembangkan catatan status kesehatan pasien yang memungkinkan komunikasi dokter dan perawat terjadi secara efektif. asertifitas. hal tersebut perlu ditunjang oleh sarana komunikasi yang dapat menyatukan data kesehatan pasien secara komfrenhensif sehingga menjadi sumber informasi bagi semua anggota team dalam pengambilan keputusan. Pew Health profession commission (1991 ) menyarankan calon tenaga kesehatan seharusnya mempelajari kolaborasi sejak masa pendidikan.apoteker. sikap saling menerima. Perawat memfasilitasi dan membantu pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari praktek profesi kesehatan lain. Tidak ada kelompok yang dapat menyatakan lebih berkuasa diatas yang lainnya. komunikasi efektif sangat menentukan bagaimana suatu tim berfungsi. Oleh karena itu tim kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi yang efektif. sehingga menghasilkan profesional Gizi dan Perawat yang bisa meningkatkan hubungan kemitraan antara kedua profesi ini dalam pengabdian kepada Masyarakat di bidang kesehatan. komunikasi. karena pada masa itulah peran sosialisasi. Tercapainya tujuan kesehatan pasien yang optimal hanya dapat dicapai jika pasien sebagai pusat anggota tim. otonomi dan kordinasi. bertanggung jawab dan saling menghargai antar sesama anggota tim. Perawat sebagai anggota membawa persfektif yang unik dalam interdisiplin tim.

Perawat juga diharap kan mempelajari hal hal yang berkaitan dengan profesi kesehatan lain nya sehingga nanti nya dapat berkolaborasi dengan baik dengan profesi kesehatan yang lain .Dibeberapa institusi keperawatan telah di pelajari tentang prinsip kolaborasi. Hal ini diharapkan dapat membangun profesionalisme calon perawat sehingga nanti nya dapat berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain nya daam menangani pasien.