You are on page 1of 31

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

“IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN POLIFENOL DAN TANIN (Ekstrak Psidium
guajava )”

Nama : Noor Izzatil Faizah
NIM : 201410410311009
Kelompok :7
Tanggal Praktikum : Rabu, 22 Maret 2017
Dosen Pembimbing : Drs. Herra Studiawan, M.Si., Apt.
Siti Rofida, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017

I. Tujuan Praktikum
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan polifenol dan tannin dalam
tanaman.
II. Tinjaun Pustaka
2.1. Klasifikasi tanaman Psidium guajava
Jambu biji berasal dari Amerika tropis, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat,
pada tempat terbuka dan mengandung air cukup banyak.Tanaman jambu biji dapat
berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada
ketinggian 1-1.200 mdpl (Hapsoh dan Hasanah, 2011).
Secara botani, tanaman jambu biji diklasifikasikan sebagai berikut (Hapsoh dan
Hasanah, 2011):
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.
Tanaman jambu biji memiliki nama yang berbeda pada setiap daerah di Indonesia.
Daerah Bali menyebutnya sebagai sotong, Lombok menyebutnya nyambuk batu, Batak
Karo menyebutnya galiman, Jawa menyebutnya jambu klutuk, Sumatera menyebutnya
glima breueh, Maluku menyebutnya luhu hatu, Manado menyebutnya gayawas (Hapsoh
dan Hasanah, 2011).
2.2. Manfaat dan kandungan Psidium guajava
Tanaman jambu biji atau Psidium guajava L. termasuk familia Myrtaceae. Jambu biji
memiliki beberapa kelebihan, antara lain buahnya dapat dimakan sebagai buah segar, dapat
diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan minuman. Selain itu, buah jambu biji
bermanfaat untuk pengobatan (terapi) bermacam-macam penyakit, seperti memperlancar
pencernaan, menurunkan kolesterol, antioksidan, menghilangkan rasa lelah dan lesu,
demam berdarah, dan sariawan. Selain buahnya, bagian tanaman jambu biji seperti daun,
kulit akar maupun akarnya dapat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit disentri,

keputihan, sariawan, kurap, diare, radang lambung, gusi bengkak, dan peradangan mulut,
serta kulit terbakar sinar matahari (Cahyono, 2010).
Ekstrak etanol daun jambu biji juga telah diteliti sebagai antioksidan. Menurut Indriani
(2006), ekstraketanol dari daun jambu biji dapat berperan sebagai antioksidan. Daun jambu
biji mempunyai manfaat bagi kesehatan yaitu sebagai antiinflamasi, antidiare, analgesik,
antibakteri, antidiabetes, antihipertensi, mengurangi demam dan penambah trombosit
(Kirtikar dan Bashu., 1998). Daun jambu biji telah terbukti secara klinis menghambat
pertumbuhan rotavirus yang menyebabkan enteritis pada anak-anak dan menyembuhkan
kejang dan penyakit diare akut (Lozoya et al., 2002; Wei et al., 2000).
Kandungan kimia pada daun jambu biji (Psidium guajava L.) menurut Taiz dan Zeiger
(2002) yaitu terpen, fenolik, dan senyawa mengandung nitrogen terutama alkaloid.
Kandungan kimia tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan diri yang berperan
sebagai pelindung dari serangan infeksi mikroba patogen dan mencegah pemakanan oleh
herbivora. Hasil fitokimia dalam ekstrak daun jambu biji adalah senyawa flavonoid, tanin,
triterpenoid, saponin, steroid, dan alkaloid (Arya, et al.,2012).
2.3. POLIFENOL
Tumbuhan yang hidup disekitar kita memiliki kandngan kimia yang unk. Kimiabahan
alam yang merupakan hasil dari metabolisme sekunder. Bahan kimia yangsimaksud
biasanya di kunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya dalam bidangfarmasi. Salah
satu kelompok senyawa yang banyak memberikan manfaat bagi manusiaadalah polifenol.
Senyawa yng termasuk kedalam polifenol ini adalah semua senyawayang memiliki struktur
dasar berupa fenol. Fenol sendiri merupkan struktur yangterbentuk dari benzena tersubtitusi
dengan gugus –OH. Gugus –OH yang terkandungmerupakan aktivator yang kuat dalam
reaksi subtitusi aromatik elektrofilik (Fessenden,1982).
Polifenol dapat diklasifikasikan menjadi beberpa jenis berdasarkan unit
basanya(Wikipedia.com) antara lain Asam Galia, Asam Sinamat, dan Flavon. Selain itu
senyawa-senyawa polifenol jika berdasarkan komponen penyusun fenolnya dapaat dibagi
menjadiFenol, pyrocatechol, pirogallol, resorsinol, floroglucinol, dan hidroquinon. Jenis-
jenisdiatas akan dibahas dalam makalah ini. Selain itu juga makalah ini juga akan
membahassalah satu contoh senyawa polifenol yang ada didalam teh yang sering kita
konsumsi.Senyawa yang dimaksud antara lain epicatechin dan epigallocatechin. Senyawa ini

Senyawa ini tidak terlalu berperan didalam tumbuhan tetapi cukupmemberikan sumbangan manfaat bagi manusia khususnya dalam bidangkesehatan. Senyawa jenis ini telah diteliti dapat menghambat tumor. Contohnya seperti jenis hydrolyzabletannins yang merupakan jenis tanin yang dapat larut di dalam airmembentuk asam gallic dan asam protocatechuic dan gula.1. Jeniss polifenol ini yang apaling banyak terdapat dialam. 2000).4.1.4. 2009). anti-virus.4. 2002) dan anti cacing(Mori et. Contoh senyawa ini adalah epicatechin dan epigalocatechin. anti oksidasi.al.1.1. Contoh jenisini adalah gallotanin (Anonim. akandibahs tentang reaksi oksidasi dan biosintesis dari turunan epigallocatechin yang berupa senyawa Epigallocatechin gallate (EGCG). senyawaini terkandung di dalam teh yang memiliki fungsi sebagai antioksidan. Flavon. Flavon.2. 2. Senyawaini juga termasuk flavonoid yang telah dibahas dalam makalah bab yanglain. Berdasarkan Unit basa. Asam Galic Senyawa ini memiliki struktur benzen yang tersubtitusi dengan 3 gugu –OH dan satu gugus Karboksilat. 2.al. Itulah sebabnya kita akan membahastentang beberapa contoh dan fungsi-fungsi senyawa polifenol. asam sinamat.Kerena polifenol banyak dimanfaatkan oleh manusia dan sebagian telah diproduksidengan cara disintesis secara industri sebagai obat. 2. polivenol. anti deabetes (Hayashi et. . Polifenol jika diklasifikasikan berdasarkan unit basanya di bagi menjadikelompok 3 kelompok besar yaitu asam galic.4 Kasifikasi Polifenol 2.

senyawa ini meiliki fungsi sebagaipenghambat penuaan. 2. Kedua senyawa ini terdapat dalam buah apel dan daun teh. 2009).1. Berdasarkan Komponen Fenoliknya 2. Pyrogallol Senyawa ini memiliki fenolik berupa benzen tersubtitusi dengan 3gugus –OH yang berurutan.1. Asam sinamat Jenis ini memiliki struktur umum : Salah satu contoh jenis ini dalah lignin.2.2. 2.2. Myrecetin dapat dipakai sebagai penurun kolestrol darahsedangkan EGCG dapat digunakan sebagai antioksidan dan penangkalradikal bebas (Sudarma.2. Senyawa ini bruktur kompleks dan berat molekul lebih dadisebut monolignols. Contoh darisenyawa ini adalah Resveratrol.2. Lignin baebagai penyusun dinding sel.4.4.4. 2. Pyrocatechol Senyawa ini memiliki subkomponen dengan benzena yang tersubtitusi2 gugus –OH secara Orto. Senyawa ini terkandung dalam buah anggur dandaun teh.3. tetpai senyawaini belum diteliti pada manusia sehingga yang di sebutkan tadi hanyaberlaku pada beberapa jenis hewan saja. 2009).2.3. Contoh senyawa ini adalah quercetin dancatechin. . antikanker dan obat penyakit kulit.4.4. Contoh senyawa ini adalah myrecetin dangallocatechins ( EGCG ).masing-masing senyawa memiliki dapat digunakan sebagai antioksidan(Sudarma. Resorsinol Senyawa ini memiliki subkomponen fenol berupa benzen yangtersubtitusi debgan 2 gugu –OH yang terletak secara meta.

4. 2. Senyawa jenis ini memiliki fenol berupa benzen yangtersubtitusi dengan dua gugus –OH yang terletak pada possisi para. Reaksi Oksidasi . Contohsenyawa ini berupa glikosida yaitu arbutin. Reaksi esterfikasi. 1. Reasksi ini seperti pada reaksi fenol. 2. Reaksi yang terjadi pada polifenol biasanya terjadi pada gugus –OH yang terdapatdi dalam molekulnya. Senyawa yang mengandung subkomponen ini dapatmenyebabkan kanker sedangkan polifenol yang lain dapat berfungsisebagai antikanker. Floroglucinol Senyawa berikut memiliki phenol yang terdiri dari tiga subtituen OHyang terletak secara selang-seling.4. Hidroquinon Polifenol jenis ini berbeda dengan yang alain dalam hal aktivitasnyadalam tubuh. 2. Contoh senyawa ini adalah jenissenyawa flavonoid yang telah dibahas dalam bab yang lain.2.2.2.4.reaksi oksidasi dan reaksi reduksi.4. antara lain reaksi esterfikasi.5. REAKSI PADA POLI FENOL.

2.5. 2009). Biosintesis Polifenol Senyawa pada tanaman teh banyak mengandung jenis polifenol salah satunya EGCGatau Epigallocatechin gallat. Berikut reaksinya (Rohdiana. Reaksi oksidasi ini sering digunakan pada industri teh yang menghasilkanproduk berupa teh hitam yang bahan bakunya diperoleh dari daun the yang segar(the hijau) secara teori teh hijau mengandung senyawa poli fenol yang berupacatechin dan EGCG. . Senyawa ini jika di oksidasi dengan enzim oksidase makaproduk teh yang dihasilkan berupa teh hitam yang tidak lagi mengandung keduasenyawa tersebut melainkan mengandung hasil oksidasi senyawa tersebut yangberupa Theaflavin dan thearubugen. Senyawa ini penting dalam menangkal radikal bebas yang masuk kedalam tubuh kita sehingga banya manusia memanfaatkannya sebagai antioksidandengan cara mengkonsumsi teh tiap hari.

2005). 2. dan akar (Hagerman. Secara struktural tanin adalah suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk . Tanin ditemukan hampir di setiap bagian dari tanaman. daun. buah. tanin juga dibentuk dengan polimerisasi unit quinon (Anonymous.6. Tanin dibentuk dengan kondensasi turunan flavan yang ditransportasikan ke jaringan kayu dari tanaman. kulit kayu. 1998). suatu sifat yang dikenal sebagai astringensi. TANIN Tanin merupakan suatu nama deskriptif umum untuk satu grup substansi fenolik polimer yang mampu menyamak kulit atau mempresipitasi gelatin dari cairan.

dengan pengecualian beberapa struktur yang mempunyai berat molekul besar - Mampu berikatan dengan protein dan terbentuk kompleks tanin-protein yang larut dan tidak larut. tanin mempunyai karakteristik sebagai berikut (Giner-Chavez. 2001). 1987).Larut dalam air. . Tanin Terkondensasi Tanin terkondensasi secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Proantosianidin dapat dideteki langsung dalam jaringan tumbuhan hijau dengan mencelupkan ke dalam HCl 2M mendidih selama setengah jam. 1987). beberapa ikatan karbon penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin (Harborne. Tanin terkondensasi menghasilkan warna hijau kehitaman sedangkan tanin terhidrolisis memberikan biru kehitaman (Etherington. 2002). Kedua golongan tanin menunjukkan reaksi yang berbeda dalam larutan garam Fe (III). Bila terbentuk warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol.membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul (Horvart. 1981). Proantosianidin lebih banyak terdistribusi daripada tanin terhidrolisis. 2002). 1987). merupakan oligomer atau polimer satuan flavonoid (misalnya flavan-3-ol) yang terikat oleh ikatan karbon-karbon yang tidak mudah terpecah dengan adanya hidrolisis (Giner- Chavez. 2. Proantosianidin didefinisikan sebagai oligo atau polimer flavonoid (flavan-3-ol atau flavan-3-4-diol).Berat molekul antara 500 sampai 20. Sebagai salah satu tipe dari senyawa metabolit sekunder.6. Proantosianidin merupakan nama lain dari tanin terkondensasi karena jika direaksikan dengan asam panas.Senyawa oligomer dengan satuan struktur yang bermacam-macam dengan gugus fenol bebas . maka ini merupakan bukti adanya senyawa tersebut (Harborne. 2001): . Secara kimia terdapat dua jenis tanin yang tersebar tidak merata dalam dunia tumbuhan yaitu tanin terkondensasi (Proantosianidin) dan tanin terhidrolisis (Hydrolyzable tannin) (Harborne. dimana ikatan C-C tidak mudah untuk dihidrolisis (Etherington.000 .1.

alkaloid dan garam metalik memberikan endapan yang tidak larut. Beberapa asam gallat terikat pada satu molekul gula. Kelebihan air akan menggeser kesetimbangan ke arah sisi asam karboksilat (Solomons. kemudian eliminasi ROH yang disusul dengan deprotonasi. 1976). biasanya glukosa.2. Untuk reaksi hidrolisis dengan katalisis asam dalam air berlebih dan panas maka suatu ester menjadi asam karboksilat.6. dapat larut dalam air. kloroform. 1984 dalam skripsi Nuraini. Tanin terhidrolisis adalah pecahnya karbohidrat dan asam fenolik oleh asam lemah atau basa lemah (Hagerman.2001). Tanin terhidrolisis biasanya sedikit terdapat dalam tanaman (Giner-Chavez. Gallotanin merupakan suatu ester dimana dalam larutan gugus karbonil dari gugus esternya dapat diprotonkan. gelatin. Sifat kimia dari gallotanin adalah berwarna coklat jika terkena cahaya. eter dan petroleum eter. Mekanisme reaksi hidrolisis ester berkatalis asam mempunyai tahap-tahap yaitu tahap protonasi. dan sangat larut dalam alkohol. Asam gallat mungkin terikat bersama pada gugus ester yang terbentuk antara gugus karboksil molekul satu dan gugus hidroksi pada molekul lain (Luchner. tepung. 1947). karbon tetraklorida (Gohen. 1976). dengan albumin. 2002). Tanin Terhidrolisis Tanin terhidrolisis merupakan molekul dengan poliol (umumnya Dglikosa) sebagai pusatnya. gliserol. Gallotanin Gallotanin terbentuk dari asam gallat dan gula. kemudian karbon yang bermuatan positif parsial dapat diserang oleh nukleofil lemah seperti air. aseton. adisi H2O. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut: . 2. Gallotanin tidak larut dalam benzen. 1998). mempunyai bau spesifik. sedangkan dengan FeCl3 memberikan warna biru kehitaman.6. Sifat fisik dari gallotanin berupa polimer amorf.3. karbon disulfida. 2. berwarna putih kekuningan. pada suhu 215 °C akan terdekomposisi menjadi pirogalol dan CO2 (Tyler. Gugus hidroksi pada karbohidrat sebagian atau semuanya teresterifikasi dengan gugus karboksil pada asam gallat (gallotanin) atau asam ellagat (ellagitanin).

dimana akan memberikan warna merah yang lama kelamaan berubah menjadi biru. gliserol. Ellagitanin Ellagitanin terbentuk dari asam heksahidroksi difenil yang mungkin terbentuk dari terikatnya dua molekul asam gallat melalui reaksi oksidasi (Fieser.12. Bila ada udara dilingkungannya maka lama kelamaan berubah menjadi kuning (Bate.5 trihidroksibenzoat) merupakan senyawa turunan dari aromatik karboksilat. Hidrolisis dengan asam kuat akan menghasilkan asam ellagat. dengan FeCl3 memberikan warna biru kehitaman (Tyler. Dalam penentuan ellagitanin diperlukan reaksi warna dengan asam nitrat dalam lingkungan nitrogen.4. alkohol. sedikit larut dalam air panas.4. Asam ellagat memberikan reaksi warna spesifik dengan adanya asam nitrit (HNO2). Ellagitanin merupakan jenis tanin yang terhidrolisis. Asam gallat tidak larut dalam benzena. petroleum eter. dengan berat molekul 170.6. titik leleh 110 °C. 1972). etil asetat. 2. Reaksi ini digunakan mendeteksi jaringan tumbuhan yang terekstrak dan merupakan metode yang penting dalam penentuan ellagitanin (Bate. mempunyai titik didih 200 °C. 1961). 1972). 1947). Asam gallat (3. Reaksi hidrolisis dari ester ellagitanin dalam katalis asam menjadi asam ellagat adalah sebagai berikut: . kloroform.

Untuk analisis secara kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan metode: a. kemudian ungu. 2. Sn. Uji Identifikasi senyawa golongan Polifenol dan Tanin Berdasarkan sifat-sifat diatas maka untuk menganalisis tanin dapat dilakukan berbagai cara sesuai tujuannya. Asam ellagat membentuk kristal jarum hijau kuning dengan piridin. Galotanin + K-iodat → warna rosa d. Asam ellagat mewarnai katun chrominum-mordant hijau pudar (Fieser. Diberikan larutan FeCl3 berwarna biru tua/ hitam kehijauan. Asam galat bebas + K-iodat → warna jingga e. Tanin terkondensasi + vanilin + HCl → merah . dan larutan Kalium Bikromat berwarnacoklat(Najib. Elagitanin + garam Feri → hitam kebiruan b. Pb. Diendapkan dengan garam Cu.7. Tanin terkondensasi + garam Feri → coklat kehijauan c. sedikit larut dalam air dan larut dalam alkali/ basa dengan warna kuning yag kuat. b. 1961). lalu biru f. tidak larut dalam eter. Ditambahkan Kalium Ferrisianida + amoniak berwarna cokelat. Galotanin. meleleh pada 360 °C. c.2009) Berikut adalah indikator yang dapat digunakan ketika mengidentifikasi senyawa tanin secara kualitatif: a. Elagitanin + asam nitrit → mula-mula rosa.

0 mL larutan sampel dikocok beberapa menit. b. Penapisan fitokimia metabolit sekunder daun maja meliputi analisis golongan- golongan senyawa: .0 mL sampel ditambah dengan 2-3 tetes pereaksi Dragendorf. bila bereaksi positif akan terbentuk busa yang stabil selama 15 menit. atau jingga.0 mL pereaksi Lieberman. hijau. maka akan terbentuk endapan (Farnsworth. Polifenol: 1. Uji kromatografi lapis tipis dengan menggunakan pereaksi FeCl3. Untuk pengujian identifikasi terhadap senyawa golongan Polifenol itu sendiri dapat dilakukan dengan cara : a. . Saponin: 2. . 2. Silika gel Silika gel . Glikosida: 2-3 mg sampel ditambahkan ke dalam 2 mL pereaksi Baljet. kiselgur. Larutan ekstrak/Larutan uji ditambahkan dengan FeCl3 terjadi perubahan warna menjadi hijau biru hingga hitam. 2006). bila bereaksi positif akan menghasilkan warna jingga sampai merah(Djalil et al. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) KLT adalah kromatografi serapan. akan menghasilkan larutan berwarna jingga. Adanya tannin dalam bahan uji dapat diidentifikasi dengan menambahkan garam gelatin dalam ekstrak etanol bahan uji. .8.Buchard.0 mL larutan sampel alkoholik ditambahkan sedikit serbuk magnesium dan beberapa tetes HCl pekat (pereaksi Shinoda). . dimana sebagai fasa tetap (diam) berupa zat padat yang disebut adsorben (penyerap) dan fasa gerak adalah zat cair yang disebut larutan pengembang (Gritter. dan selulosa. 1991) Penyerap untuk KLT ialah silika gel. merah.0 mL larutan sampel ditambah dengan beberapa tetes larutan feri klorida 5%. Alkaloida: 1. bila bereaksi positif akan menghasilkan endapan coklat.0 mL sampel ditambah dengan 1. Jika timbul warna warna hitam maka menunjukkan bahwa sampel positif mengandung polifenol. merah muda atau merah. . alumina. 1966). Flavonoid: ke dalam 1. bila bereaksi positif akan menghasilkan larutan berwarna biru. Steroid: 1. bila bereaksi positif akan menghasilkan endapan jingga. Penyerap biasanya mengandung pengikat atau mengandung zat tambahan lain. bila bereaksi positif.

metanol dan air. 2. Indeks polaritas pelarut KLT Pelarut-pelarut yang biasanya digunakan atau sering dikombinasikan dalam kromatografi lapis tipis adalah n-heksana. asam asetat glasial. 1. Senyawa netral yang mempunyai gugusan sampai tiga pasti dapat dipisahkan pada lapisan yang diaktifkan dengan memakai pelarut organik atau campuran pelarut yang normal.8.2. merupakan penyerap yang paling banyak dipakai dalam KLT. 2. Silika Gel Pada umumnya sebagai fase diam digunakan silika gel. Memilih pelarut pengembang Umumnya fase gerak yang sering digunakan dalam kromatografi lapis tipis adalah berupa campuran dari pelarut organik dengan tujuan untuk memperoleh pemisahan yang lebih baik. jadi meminimumkan reaksi asam-basa antara penyerap dengan senyawa yang dipisahkan. Karena sebagian besar silika gel bersifat sedikit asam. Kombinasi pelarut berdasarkan atas kepolaritasannya. 1991). Alumina Berbeda dengan silika gel. Urutan ini berdasarkan bertambahnya sifat kepolaran dari pelarut tersebut. maka asam sering agak mudah dipisahkan.8. karbohidrat. tetapi juga pori- . KLT pada alumina sering dipakai sebagai cara kualitatif cepat. Kromatografi jenis ini selalu dipakai untuk pemisahan senyawa polar seperti asam amino. etanol. etil asetat. eter minyak tanah. dan lapisan tipis selulosa berkaitan erat dengan kromatografi kertas klasik. sehingga akan diperoleh sistem pengembang yang cocok. Tinjauan Eluen Untuk KLT 2. Keistimewaan KLT adalah lapisan tipis fase diam dan kemampuan pemisahnya. alumina bersifat sedikit basa dan sering dipakai untuk pemisahan basa.1. FASE DIAM Fase diam dalam KLT harus mudah didapat. Kiselgur dan selulosa Kiselgur dan selulosa merupakan bahan penyangga lapisan zat cair yang dipakai dalam sistem KCC.2. Dalam beberapa percobaan pelarut tunggal memberikan hasil yang memuaskan. eter. dan berbagai senyawa hidrofil alam lainnya. Untuk penggunaan dalam suatu tipe pemisahan perbedaan tidak hanya pada struktur. aseton. nukleotida.8. karbon tetraklorida.1.akan tetapi pada sebagian percobaan pelarut tunggal dapat menggerakkan bercak terlalu jauh sehingga kombinasi pelarut yang mempunyai polaritas berbeda sering dikombinasikan dalam kromatografi lapis tipis (Gritter. kloroform.

Pada kelembapan relatif 45-75% dapat mengikat air 7-20%. di samping pemilihan fase gerak. Ada beberapa macam silika gel yang beredar diantaranya: . Dalam perdagangan silika gel mempunyai ukuran 10-40µ. Luas permukaan silika gel bervariasi dari 300- 1000m2/g.porinya dan struktur lubangnya menjadi penting. Kandungan air yang ideal adalah antara 11-12% b/b. tetapi deaktivitas silika gel merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Silika gel berpori 80- 150 dinamakan berpori besar. Beberapa prosedur kromatografi terutama pemisahan yang menggunakan larutan pengembang anhidrat. Silika gel sangan higroskopis. Ukuran ini terutama dipengaruhi oleh ukuran porinya yang bervariasi dari 20-50Å. Masalah aktivitasi silika gel tidak begitu mempengaruhi kebanyakan jenis pemisahan. Derajat deaktivitasi ditentukan oleh kelembapan relatif kamar dimana pemisahan dilakukan dan lempeng silika gel disimpan. mensyaratkan adanya kontrol kandungan air dalam silika.

e. Jenis ini dikenal misalnya Silica Gel GF atau GF254.2. Silika gel tanpa pengikat tetapi dengan indikator Fluoresensi. Sebagai indikator biasanya digunakan timah kadmium atau mangan- timah silika aktif. c. Silika gel dengan pengikat dan indikator fluoresensi. terutama jika penentuan lokasi bercak dengan asam sulfat. Lempeng fase terbalik jenis ini digunakan untuk identifikasi hormon- hormon steroid.8. Jenis silika gel ini biasanya berfluoresensi kehijauan jika dilihat pada sinar ultraviolet panjang gelombang pendek. Jenis ini dinamakan Silica Gel G. atau dengan lemak. Silika gel untuk keperluan pemisahan prepartif. Disamping itu ada juga pati sebagai pengikat dan dikenal sebagai Silica Gel S. Umumnya sebagai pengikat adalah CaSO4 (5-15%). Kemurnian dari pelarut adalah lebih penting dalam KLT daripada bentuk-bentuk kromatografi lain. tetapi sebaiknya dicegah sejauh mungkin mencampur lebih dari dua komponrn terutama karena campuran yang lebih kompleks cepat mengalami perubahan fase terhadap perubahan suhu. Sebaiknya menggunakan campuran pelarut organik yang mempunyai polaritas serendah mungkin karena mengurangi serapan dari setiap komponen dari campuran pelarut. karena disini digunakan sejumlah materi yang sedikit. a. b. Silika gel dengan pengikat. Minyak silikon. Beberapa produk dinamakan Silica Gel H atau Silica Gel N.2. Campuran yang baik memberikan fase-fase bergerak yang mempunyai kekuatan bergerak sedang. Sistem yang paling sederhana adalah dengan menggunakan campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua . 2. Untuk keperluan Pemisahan preparatif dapat digunakan Silica Gel PF254 + 366. Silika gel tanpa pengikat. FASE GERAK Pemilihan dari fase bergerak tergantung pada faktor-faktor yang sama seperti dalam pemisahan kromatografi kolom serapan. Tetapi penggunaan pasti mempunyai kelemahan. d. Lempeng silika gel dapat dimodifikasi untuk membentuk penyerap fase terbalik dengan cara menbacemnya menggunakan parafin cair. Lapisan ini dibanding dengan yang mengandung CaSO4 menunjukkan lebih stabil. Jika komonen-komponen yang mempunyai sifat polar yang tinggi (terutama air) dalam campuran cukup akan merubah sistem menjadi sistem partisi.

c. 1. 2. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena KLT merupakan teknik yang sensitif. Sebagian besar teori kromatografi kolom juga dapat diterapkan pada KLT. Identifikasi dan Harga Rf Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada KLT lebih baik dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi-reaksi warna. polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti juga menentukan nilai Rf. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuaran pelarut sebagai fase geraknya seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu. pelarut ini dapat dengan mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. d. Berikut ini adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimalkan fase gerak: a. Derajat retensi pada klomatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor retensi Rf. Terjadi proses penyebaran molekul cuplikan karena proses nonideal. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan. .2-0. b.Tetapi lazimnya untuk identifikasi menggunakan harga Rf meskipun harga-harga Rf dalam KLT kurang tepat bila dibandingkan pada kertas. satu diantaranya bergerak terhadap yang lainnya. Penambahan sedikit asam etanoat atau amonia masing-masing akan meningkatkan elusi solut-solut yang bersifat basa dan asam.8 untuk memaksimalkan pemisahan. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzen akan meningkatkan harga RF secara signifikan. Konsep ” lempeng teori” lebih sukar digambarkan disini. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf solut terletak antara 0.9. Faktor-faktor yang mempengaruhi gerak noda dalam KLT yang juga mempengaruhi harga Rf. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel. tetapi jelaslah bahwa pemisahan itu dilakukan oleh keseimbangan berturutan cuplika dalam dua fase.

Jumlah cuplikan yang digunakan. 6. Derajat kejenuhan dari uap dalam bajana pengembang yang digunakan. (Metode aliran penaikan yang hanya diperhatikan. 7. karena cara ini yang paling umum meskipun teknik aliran penurunan dan mendatar juga digunakan). 3. 2. Bahan Bahan Jumlah yang dibutuhkan . hal ini terutama untuk mencegah perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut yang disebabkan oleh penguapan atau perubahan-perubahan fase. Keadaan ini harus dicegah. Perbedaan penyerap akan memberikan perbedaan yang besar terhadap harga-harga Rf meskipun menggunakan fase bergerak dan solute yang sama. tetapi perlu diusahakan tebal lapisan yang rata. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase gerak. Meskipun dalam praktiknya tebal lapisan tidak dapat dilihat pengaruhnya. Suhu. 5. bila digunakan pelarut campuran. Arah dalam mana pelarut bergerak diatas plat. hanya akan diperoleh jika menggunakan penyerap yang sama juga ukuran partikel tetap dan jika pengikat (kalau ada) dicampur hingga homogen. hal ini akan mengeringkan molekul-molekul air yang menempati pusat-pusat serapan dari penyerap. 4. III. Ternyata bahwa keseimbangannya dalam lapisan tipis lebih penting dalam kromatografi kertas. tetapi hasil akan dapat diulang dengan hasil yang sama. Biasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan dalam oven. hingga perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana tidak jenuh dengan uap pelarut. 8. Ketidakrataan akan menyebabkan aliran pelarut menjadi tidak rata pula dalam daerah yang kecil dari plat. Teknik percobaan. Bahan dan Alat A. Penetesan culikan dalam jumlah yang berlebihan memberikan tendensi penyebaran noda-noda dengan kemungkonan terbentuknya ekor dan efek tak keseimbangan lainnya hingga akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada harga-harga Rf. makan akan terjadi pengembangan dengan permukaan pelarut yang terbentuk cekung dan fase bergerak lebih cepat pada bagian tepi-tepi daripada dibagian tengah. Kemurnian dari pelarut yang digunakan sebagai fase gerak dalam KLT adalah sangat penting dan bila campuran pelarut digunakan maka perbandingan yang dipakai harus betul-betul diperhatikan. Keseimbangan. Tebal dan keratan dari lapisan penyerap. Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu tetap. 9. Sifat dari penyerap dan derajat aktivitasnya.

3 gram NaCl Sesuai yang dibutuhkan Larutan gelatin secukupnya Larutan FeCl3 Sesuai yang dibutuhkan Aquadest 10 ml Klorofom : Etil Asetat : Asam ( 0. Alat Alat Jumlah yang dibutuhkan Kromatografi Lapis Tipis 1 Kiesel gel GF 254 1 Vial Sesuai yang dibutuhkan Beker gelas Sesuai yang dibutuhkan Tabung reaksi Sesuai yan dibutuhkan Pipet Pasteur panjang Sesuai yang dibutuhkan . Ekstrak Psidium guajava 0.5) formiat B.5 : 9 : 0.

B. Preparasi Sampel 1. Uji Gelatin 1. Larutan IV A digunakan sebagai blanko. Uji Ferri Klorida 1. diaduk dan disaring. Jika terjadi warna hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin. 2. Sebagai larutan IV C diberi beberapa tetes larutan FeCl3. Aluminium foil Secukupnya Kertas saring Whatmann Sesuai dengan yang dibutuhkan Batang pengaduk Sesuai yang dibutuhkan Penangas air 1 IV. C. 0. . Jika terjadi endapan putih menunjukkan adanya tanin. 2. lalu tambahkan 3-4 tetes 10 % NaCl. Filtrate dibagi menjadi tiga bagian masing-masing ± 3 ml dan disebut sebagai larutan IVA. Prosedur Kerja A. kemudian diamati terjadinya perubahan warna. diaduk dan dibiarkan sampai temperature kamar. 2. IV B dan IV C. larutan IV B ditambahkan dengan sedikit larutan gelatin dan 5 ml larutan NaCl 10%.3 gram ekstrak ditambah 10 ml Aquadest panas.

IVC masing-masing lebih kurang 3ml b. menunjukkan adanya senyawa polifenol FeCl3 positif. larutan IVB ditambahkan dengan sedikit larutan gelatin 1-2 tetes dan 5ml larutan NaCl 10% Endapan putih menunjukan adanya tanin c. Uji Ferri Klorida Sebagai larutan IVC diberi beberapa tetes larutan FeCl3 1-2 tetes. tannin (-) D. Jika pada penambahan gelatin dan NaCl tidak timbul endapan putih. Jika timbul warna hitam menunjukkan adanya polifenol dalam sampel. Bagan Alir dan Skema Prosedur Kerja a. uji gelatin positif  tanin (+) FeCl3positif. uji gelatin negative  polifenol (+) FeCl3negatif  polifenol (-). Preparasi sampel 0. 3. kemudian diamati terjadinya perubahan warna Warna hijau kehitaman menunjukan adanya tanin . IVB.3 gram ekstrak ditambah 10ml aquadest panas. diaduk dan biarkan sampai temperatur kamar Tambahkan 3-4 tetes 10% NaCl. Uji gelatin Larutan IVA digunakan sebagai blanko. Uji Kromatografi Lapis Tipis ini menggunakan : Fase diam : Kiesel gel GF 254 Fase gerak : Kloform : Etil Asetat : Asam Formiat (0. diaduk dan disaring Filtrat dibagi menjadi tiga bagian IVA. Kromatografi Lapis Tipis 1. Bagan Alir a.5) Penampak noda : Pereaksi FeCl3 3. V. tetapi setelah ditambah dengan larutan FeCl3 terjadi perubahan warna menjadi hijau biru hingga hitam.5 : 9 : 0. Sebagai larutan IV C digunakan untuk pemeriksaan dengan KLT. 2.

Fase diam : Kiesel Gel 254 Fase gerak : Klorofrom-Etil asetat-Asam formiat (0. uji gelatin (+) = tanin (+) FeCl3 (+).5) penampak noda : Pereaksi FeCl3 Jika timbul warna hitam menunjukkan adanya polifenol dalam sampel 2. tetapi setelah ditambahkan dengan larutan FeCl3 terjadi perubahan warna menjadi hijau biru hingga hitam. Preparasi Sampel + 10 ml aquadest 0.3 g ekstrak Diaduk dan dibiarkan panas sampai temperatur kamar .5 : 9 : 0. Kromatografi Lapis Tipis Sebagai larutan IVC digunakan untuk pemeriksaan dengan KLT. uji gelatin (-) = polifenol (+) FeCl3 (-). Skema a. polifenol (-) =tanin (-) d. Jika pada penambahan gelatin dan NaCl tidak timbul endapan putih. menunjuka adanya senyawa polifenol. FeCl3 (+).

Uji Gelatin Larutan IVA digunakan sebagai blanko + → Larutan IVB Sedikit larutan Endapan putih gelatin dan 5 menunjukkan ml larutan NaCl adanya tanin 10% . aduk bagian. Beri homogen. + + 3-4 etes 10% Bagi menjadi 3 NaCl. ±3ml. IVC kemudian saring b. IVB. label IVA.

menunjukkan adanya senyawa polifenol c. Uji Ferri klorida + → d.asetat-as.5:9:1) Penampak noda : pereaksi FeCl3 Jika timbul warna hitam menunjukkan adanya polifenol dalam sampel .Larutan IV C Lapis Tipis Beberapa tetes Kromatografi Warna hijau larutan FeCl3 kehitaman menunjukkan adanya Sebagian larutan IVC Totolkan larutan Fase diam : kiesel gel 254 diambil untuk pada plat KLT Fase gerak : kloroform- pemeriksaan KLT etil. + → Jika pada Larutan FeCl3 Jika terjadi perubahan penambahan warna larutan menjadi gelatin dan NaCl hijau biru hingga tidak timbul hitam.formiat (0.

VI.9  8 = 0.6  8 = 0.4  8 = 0. PERHITUNGAN 2.41 4.9  8 = 0.74 .67 5.58 5.1  8 = 0.3  8 = 0.26 2.36 3.

menghasilkan endapan putih Noda dilihat di lampu UV 254 nm sebelum proses eluasi Larutan IVC Perbandingan dgn ditambahkan dengan larutan blanko 1 tetes FeCl.VII. HASIL PRAKTIKUM Ekstrak + 3 tetes Larutan IVEkstrak dibagi2 B ditambah NaCl 10% menjadi tetes gelatin+ 5 ml3 tetes NaCl 10%. menghasilkan larutan yang berwarna hijau .

Hasilnya positif yaitu terbentuknya endapan putih. Noda dilihat dilampu UV 360nm setelah eluasi Noda yang timbul Noda dilihat dilampu setelah proses eluasi UV 254nm setelah eluasi Noda yang terlihat setelah diberi penampak noda VIII. Uji fitokimia yang kedua yaitu dengan menambahkan gelatin dalam ekstrak dan ditunjukkan dengan adanya endapan putih Dalam Uji fitokimia pada Psidium guajava dengan menggunakan larutan gelatin merupakan mengujian awal untuk memperkuat dugaan adanya senyawa tanin dalam ekstrak daun Psidium guajava. Uji fitokimia yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menambah ekstrak dengan aquadest panas terlebih dahulu lalu dibagi menjadi 3 IVA sebagai blanko. Menguji fitokimia senyawa tanin dari ekstrak daun Psidium guajava dengan menambahkan 2 tetes larutan gelatin dan tambahkan 5 ml NaCl. IVB untuk uji dengan gelatin + NaCl sedangkan IVC untuk uji dengan FeCl3. Dengan penambahan reagen seperti larutan FeCl3 1 % yang hasil positifnya ditunjukkan dengan perubahan warna yaitu warna hijau kehitaman atau biru tinta. PEMBAHASAN Uji fitokimia merupakan uji kualitatif untuk menduga adanya senyawa tanin pada ekstrak daun Psidium guajava. .

Adanya gugus fenol ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman atau biru tua setelah ditambahkan dengan FeCl3. Ikatan hidrogen terjadi apabila atom hidrogen terikat oleh dua atau lebih atom lain yang memiliki keelektronegatifan tinggi seperti atom N. Reaksi ini melibatkan terjadinya ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen yang terjadi dalam reaksi di atas adalah ikatan hidrogen jenis intermolekul. Uji fitokimia dengan menggunakan FeCl3 digunakan untuk menentukan apakah sampel mengandung gugus fenol. Penggumpalan protein biasanya didahului oleh proses denaturasi yang berlangsung dengan baik pada titik isolistrik protein tersebut (Poedjiadi.1994). Perubahan konformasi alamiyah menjadi konformasi yang tidak menentu merupakan suatu proses denaturasi yang berlangsung secara reversibel. . Reaksi antara tanin dan gelatin menghasilkan endapan berwarna putih. Ekstrak pada tabung IVC lalu ditambahkan 1 tetes FeCl3 terbentuknya warna hijau kehitaman pada ekstrak setelah ditambahkan dengan FeCl3 karena tanin akan membentuk senyawa kompleks dengan ion Fe3+. Apabila suatu protein bereaksi dengan senyawa kimia maka akan terjadi perubahan konformasi protein. 2006). karena atom H yang terikat dengan atom O dan N berasal dari dua molekul. O dan F (Effendy. Atom H dari molekul tanin terikat dengan atom O pada gelatin dan atom H dari molekul gelatin terikat dengan atom O pada tanin. sehingga apabila uji fitokimia dengan FeCl3 memberikan hasil positif dimungkinkan dalam sampel terdapat senyawa fenol dan dimungkinkan salah satunya adalah tanin karena tanin merupakan senyawa polifenol.

Noda yang terbentuk tidak . Atom donor terdapat pada suatu ion atau molekul netral.5 : 9 : 0. Pada Praktikum tabung IVA yang berisi blanko ditotolkan pada plat KLT dan dieluasi dengan penggunakan fase gerak yaitu Klorofrom-Etil:asetat:Asam formiat (0. Suatu molekul dikatakan sebagai ligan jika atomnya memiliki pasangan elektron bebas. KLT merupakan suatu metode pemisahan suatu senyawa berdasarkan perbedaan distribusi dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.5) fase diamnya Kiesel Gel 254 dan penampak noda pereaksi FeCl3. Senyawa tanin pada ekstrak Psidium gajava dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT). sterol dan terpenoid. alkaloid. atom atau ion logam disebut sebagai atom pusat. Senyawa kompleks adalah senyawa yang pembentukannya melibatkan pembentukan ikatan kovalen koordinasi antara ion logam atau atom logam dengan atom non logam. Eluen yang baik adalah eluen yang bisa memisahkan senyawa dalam jumlah yang banyak ditandai dengan munculnya noda.2007). fenol. sedangkan atom yang mendonorkan elektronnya ke atom pusat disebut atom donor. memiliki elektron tak berpasangan. asam lemak. KLT ini digunakan untuk mencari eluen terbaik dari beberapa eluen yang baik dalam pemisahan senyawa tanin. KLT yang digunakan terbuat dari silika gel. atau atom yang terikat melalui ikatan π (Effendy. Ion atau molekul netral yang memiliki atom-atom donor yang dikoordinasikan pada atom pusat disebut ligan. Penggunaan bahan silika karena pada umumnya silika digunakan untuk memisahkan senyawa asam-asam amino. Dalam pembentukan senyawa kompleks.

Diperkuat oleh Harborne (1987) bahwa tanin dapat dideteksi dengan sinar UV pendek berupa noda yang berwarna lembayung.62.5 : 9 : 0. 0. Senyawa tanin yang dipisahkan adalah senyawa yang bersifat polar.5 ) dapat memisahkan senyawa tannin karena dimungkinkan eluen yang digunakan mempunyai kepolaran yang sama. Namun dapat diidentifikasi lagi dengan ditambahkan 1 tetes FeCl3 terbentuknya warna hijau kehitaman pada ekstrak setelah ditambahkan dengan FeCl3. Hal ini memperkuat bahwa pada ekstrak ini merupakan tannin. 0.74 yang mana ini digunakan untuk mencari eluen terbaik dari beberapa eluen yang baik dalam pemisahan senyawa tanin. 0. karena senyawa tanin bersifat polar. Pada pasil pemisahan senyawa tanin dengan KLT analitik menunjukkan bahwa Eluen dengan campuran Klorofrom-Etil:asetat:Asam formiat (0. dan 0.41 . Hasilnya positif yaitu terbentuknya endapan putih. Eluen yang baik adalah eluen yang bisa memisahkan senyawa dalam jumlah yang banyak ditandai dengan munculnya noda .5 : 9 : 0. Sehingga penggunaan beberapa eluen diharapkan mampu memisahkan komponen senyawa tanin yang terdapat dalam ekstrak daun Psidium guajava dengan baik. Maka dapat diketahui bahwa itu merupakan tannin.36.67 . Setelah dilihat menggunakan dengan sinar UV dihitung nilai Rf nya dan yang diduga tannin adalah dengan nilai Rf 0. KESIMPULAN Pada saat dilakukan uji fitokimia tannin pada ekstran Psidium guajava dengan menambahkan 2 tetes larutan gelatin dan tambahkan 5 ml NaCl. sehingga terjadi pemisahan dan memberikan warna hijau kehitaman pada saat dilihat dibawah sinar UV 256 nm dan 360 nm. tetapi masih lebih polar fasa gerak sehingga senyawa tanin yang dipisahkan terangkat mengikuti aliran eluen. sedangkan kepolaran eluen yang digunakan hampir sama dengan senyawa yang akan dipisahkan. Dan pada saat dieluasi dengan fase gerak Klorofrom-Etil:asetat:Asam formiat (0.67 karena pada saat dilihat Hal ini warna noda saat disinari dengan lampu UV 366 berwarna lembayung.58 dan Rf 0.26 .5 ) mempunyai 6 harga Rf yaitu 0. Kepolaran fasa diam dan fasa gerak hampir sama. berekor dan jarak antara noda satu dengan yang lainnya jelas. 0. IX. Fasa diam yang digunakan adalah plat silika gel yang bersifat polar.58 . sedangkan eluen yang digunakan bersifat sangat polar karena mengandung air. selain itu didukung dengan Rf dari ekstrak tanaman mimosa (memiliki kadar tanin yang tinggi) yang dielusi dengan eluen yang sama dengan nilai Rf sebesar 0.

Bandung Sa’adah.skripsi. Skripsi. ITB.2010. Z. Surakarta.). N. 1987.pikrilhidrazil (DPPH). Surakarta. B. 2004. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. 1976. Universitas Muhammadiyah Surakarta.. The Mac Million Company. Lailis. UIN. Efek Antiinflamasi Infusa Daun Jambu biji (Psidium guajava Linn. N. 70. Aktivitas Antioksidan Fraksi Eter dan Air Ekstrak Metanolik Daun Jambu biji (Psidium guajava Linn. Malang.) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan..Fakultas Sains dan Teknologi.. DAFTAR PUSTAKA Aisah. Metode Fitokimia. K. Geisman. 584. The Chemistry of Flavonoid Compound. Fakultas Farmasi.1- difenil 2. diterjemahkan oleh Padmawinata. USB.. Fakultas Farmasi. 2007. New York. D. Harbone.) (Psidium Guajava L. Skripsi. R.) terhadap Radikal Bebas 1.. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA TANIN DARI DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.. J. Atmaja. .