You are on page 1of 2

Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi (lihat al-Wajiiz) menyatakan bahwa seorang wanita haram dinikahi

karena tiga sebab, yaitu karena nasab (keturunan), persusuan, dan mushaharah (pernikahan). Oleh karena itu,
mahram wanita juga terbagi menjadi tiga macam yaitu: mahram karena nasab atau keluarga, persusuan, dan
pernikahan.
a. Mahram Karena Nasab
Mahram karena nasab adalah mahram yang berasal dari hubungan darah atau hubungan keluarga.
Allah ta‘aala berfirman dalam surat an-Nuur ayat 31 (yang artinya), “Katakanlah kepada wanita yang beriman,
‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke
dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara lelaki
mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka.’”
Menurut ahli tafsir, yang haram dinikahi bagi wanita menurut ayat ini adalah:
1. Ayah (termasuk kategori ayah di sini adalah ayah kandung, kakek baik dari ibu maupun ayah, dan juga
ayah-ayah mereka ke atas). Adapun bapak angkat tidak termasuk mahram.
2. Anak laki-laki (kategori ini meliputi cucu baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan).
3. Saudara laki-laki, baik saudara kandung, maupun saudara sebapak, ataupun saudara seibu saja.
Saudara angkat, anak kandung dari bapak atau ibu maka ia juga termasuk mahram.
4. Keponakan (baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak mereka).
5. Paman (baik paman dari ibu maupun dari bapak).
b. Mahram Karena Persusuan (ar-Radha’)
Menurut pendapat yang kuat dari para ulama, persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram
mempunyai beberapa persyaratan yaitu:
1. Telah terjadinya proses penyusuan selama 5 kali.
2. Penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya. (kajian Ustadz Aris
Munandar tanggal 22 Juni 2012).
Dalil yang menyatakan hubungan mahram dari persusuan yaitu “Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta
saudara-saudara kalian dari persusuan” (QS. an-Nisaa’: 23).
Disebutkan juga oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin
‘Abbasradhiyallaahu ‘anhu, beliau bersabda, “Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari
nasab” (HR. Bukhari 3/222/ 2645 dan Muslim 2/1068/ 1447).
Dari dalil tersebut yang termasuk mahram karena sebab persusuan yaitu bapak persusuan (suami dari
ibu susu), anak laki-laki dari ibu susu, saudara laki-laki sepersusuan, keponakan persusuan (anak saudara
sepersusuan), dan paman persusuan (saudara laki-laki dari bapak atau ibu susu). (Ahkaamu an-Nikaah wa az-
Zifaaf karya Abu ‘Abdillah Musthafa bin al-’Adawi hal 26).
c. Mahram Karena Mushaharah (Pernikahan)
Hubungan mahram yang berasal dari pernikahan ini disebutkan oleh Allah ta‘aala dalam firman-Nya
(yang artinya):
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,
atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka…” (QS. an-Nuur: 31).
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri)” (QS. an-Nisaa’: 22).
“Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam
pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan
sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu)” (QS.
an-Nisaa’: 23).

Yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan mahram karena persusuan yaitu: 1. saudara ipar. Tidak diperbolehkan menikah. Berdasarkan pernyataan di atas maka disimpulkan bahwa mahram bagi wanita karena sebab ini adalah: ayah mertua (ayah suami). 3) Wanita tidak boleh safar (bepergian jauh) kecuali dengan mahramnya. ayah tiri (suami ibu tapi bukan ayah kandungnya). Adapun yang bukan mahram bagi wanita adalah ayah dan anak angkat. . anak tiri (anak dari suami atau istri lain). 5. Tidak merdeka secara otomatis jika salah satunya menjadi budak. 8. Boleh berkhalwat (berduaan). Hukum wanita dengan mahramnya secara umum diantaranya: 1) Tidak boleh menikah dengan mahramnya. Persaksiannya tidak ditolak jika dia seorang yang benar dan menguntungkan. Tidak ada kewajiban menafkahi. 6) Tidak boleh berjabat tangan kecuali dengan mahramnya. kecuali bersama mahramnya. dan mahram titipan. 2. 7. Yang Boleh Dilakukan dengan Mahramnya Yang boleh dilakukan dengan mahram ini berbeda antara mahram karena nasab dan mahram karena persusuan. dan menantu laki laki. 2) Mahram boleh menjadi wali pernikahan. 5) Tidak boleh khalwat (berdua-duaan). 4. Boleh menjadi teman safar (bepergian jauh). Boleh saling melihat. sepupu (anak paman atau bibi). 6. 4) Tidak boleh menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada mahramnya. Keduanya tidak ada hubungan saling mewarisi. 3.