You are on page 1of 6

Jurnal Veteriner Desember 2015 Vol. 16 No.

4 : 483-488
pISSN: 1411-8327; eISSN: 2477-5665 DOI: 10.19087/jveteriner.2015.16.4.483
Terakreditasi Nasional SK. No. 15/XI/Dirjen Dikti/2011 online pada http://ejournal.unud.ac.id/php.index/jvet.

Deteksi Bovine Herpesvirus-1 Secara Immunohistokimia
pada Membran Korioallantois Telur Ayam Berembrio
(IMMUNOHISTOCHEMISTRY DETECTION OF BOVINE HERPESVIRUS-1
IN CORIOALLANTOIC MEMBRANE OF CHICKEN EMBRYONATED EGG)

Yuli Purwandari Kristianingrum1, Charles Rangga Tabbu1,
Bambang Sutrisno1, Sitarina Widyarini1, Kurniasih1, Tri Untari2,
Asmarani Kusumawati3

1
Bagian Patologi, 2Bagian Mikrobiologi, 3Bagian Reproduksi
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada
Jl. Fauna No.2, Karangmalang, Yogyakarta 55281
Telp: 0274 560682; Email : yuli.purwandari@yahoo.co.id

ABSTRAK

Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) adalah penyakit yang disebabkan oleh Bovine Herpes virus-1
(BHV-1) pada sapi dengan gejala klinis depresi, anoreksia, pembengkakan vulva, kemerahan pada
vestibula, pustula pada mukosa yang bisa melanjut menjadi ulserasi. Berdasarkan penelitian sebelumnya
virus IBR yang berasal dari swab nasal ini dapat ditumbuhkan dalam membrana korioallantois telur
ayam berembrio. Penelitian ini bertujuan untuk meneguhkan diagnosis infeksi virus IBR pada sapi yang
ditumbuhkan dalam telur ayam berembrio sebagai pengganti kultur sel. Lima sampel swab nasal dari
sapi yang didiagnosis positif menderita IBR dengan peneguhan secara Polymerase Chain Reaction dan
kultur sel, diinjeksikan pada membran korioallantois telur ayam berembrio umur 9-10 hari. Pengamatan
lesi dilakukan 3-5 hari setelah inokulasi. Penanaman kembali (pasase) dilakukan sebanyak tiga kali.
Lesi karakteristik berupa pock dapat diamati pada membran korioallantois dengan ukuran 5-7 mm,
berbentuk bulat, tepi opak dengan area sentral nekrosis. Selanjutnya lesi pock diproses jaringan untuk
pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (HE) dan immunohistokimia. Berdasarkan hasil pewarnaan dengan
menggunakan HE ditemukan bentukan badan inklusi intranuklear, dan vakuolisasi epitel sel membran.
Hasil pewarnaan immunohistokimia menunjukkan reaksi positif terhadap antibodi BHV-1 pada sel
epitel membran korioallantois. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa telur ayam
berembrio dapat digunakan sebagai media untuk deteksi virus penyebab IBR.

Kata-kata kunci : bovine herpes virus-1, lesi pock, membran korioallantois

ABTRACT

Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) is caused by Bovine Herpes virus-1 in the cattle. The clinical
signs demonstrate depression, anorexia, swelling of the vulva, redness of the vestibule, pustule and ulcer
on the vaginal mucosal. Based on previous research, IBR virus from the nasal swab could be grown in
chorio-allantoic membrane of embryonated chicken eggs. This study aim was to confirm whether IBR virus
in cattle could be grown in embryonated chicken eggs as a substitute for cell culture. A total of five nasal
swab samples from the cows that were positive for IBR infection (diagnosed by Polymerase Chain Reaction
and cell culture) were inoculated on the chorio-allantois membrane of embryonated chicken eggs.
Observation of lesions performed at 3-5 days after inoculation. Re-inoculation (passage) was done three
times. Pock characteristic lesions were observed on the corioallantoic membrane with the size of 5-7 mm,
rounded shape, opaque edge, with necrosis in the central area. Furthermore, pock lesions were processed
for hematoxylin and eosin staining and immuno-histochemistry. The result of hematoxylin and eosin
staining showed that the formation of intranuclear inclusion bodies and vacuolization of the epithelial cell
of membrane was observed. Immuno-histochemistry staining showed positive reaction for antibodies
against BHV-1 in the epithelial cells membrane. In conclusion, embryonated chicken eggs could be used
as a medium for detection of IBR.

Keywords: bovine herpes virus-1, pock lesions, chorio-allantoic membrane

483

Yuli Purwandari Kristianingrum. antigen retrieval dengan merendam slide 484 . Wilayah III Lampung bekerjasama dengan dan inti sel mengalami marginasi kromatin JICA. Penyakit ini badan inklusi intranuklear eosinofilik pada sel- pertama kali di Indonesia dilaporkan pada tahun sel epitel. (2009) diharapkan dapat meneguhkan diagnosis IBR. sedangkan gambaran Gejala klinis IBR yang terlihat berupa histopatologi dari nodul pock membran rhinotrakheitis. Sel-sel epitel mengalami kebengkakan 1982 oleh Balai Penyidikan Penyakit Hewan dengan ruang-ruang kosong pada sitoplasma. area nekrosis yang disertai adanya bentukan kluron. kehilangan bobot Nodul besar berukuran 3-5 mm dan nodul kecil badan. 2006). tersebut disebabkan karena virus merupakan dilakukan penanaman kembali (pasase) 3-5 kali. membrana korioallantois. Penelitian ini bertujuan untuk Balai Besar Penelitian Veteriner. berembrio tersebut diinkubasi selama tiga hari Pertumbuhan virus memerlukan hewan dalam inkubator suhu 37oC. slide jaringan yang telah walaupun dalam pertumbuhan harus dilakukan dideparafinasi dan rehidrasi.8% kasus kluron pada sapi perah nohistokimia. et al Jurnal Veteriner PENDAHULUAN buhkan pada membrana korioallantois telur ayam berembrio setelah dilakukan pasase 3-5 Bovine Herpesvirus-1 (BHV-1) pada sapi kali. Sumatera Barat dapat diisolasi virus BHV-1 dengan menggunakan teknik isolasi virus pada kultur sel Mardin Darby Bovine Kidney Cell METODE PENELITIAN (MDBK) dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). terhadap virus yang akan ditumbuhkan. Gambaran patologi makroskopik yang dapat menyebabkan penyakit Infectious Bovine terlihat pada membran korioallantois berupa Rhinotracheitis (IBR) yang ditandai dengan nodul pock dengan ukuran yang bervariasi. infectious pustular vulvo.5 mL pada like cluster dan bentukan syncitia yang teramati membran korioallantois. telur mulai muncul 24 jam setelah infeksi. virus campak dan korioallantois dipotong setebal 4 µm masing- virus herpes. balanofostitis. antara lain: virus tetelo (Newcastle disease Pewarnaan immunohistokimia menggu- virus). 2007). Beberapa dalam buffer formalin 10% untuk proses virus yang secara alami tidak tumbuh pada histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin ayam. virus flu burung. Hasil penelitian ini Laporan Kristianingrum et al. nakan modifikasi teknik yang dilakukan oleh virus bronchitis (Infectious Bronchitis) Keuser et al. misalnya virus BHV-1. korioallantois tersebut menunjukkan adanya vaginitis. pengganti sel kultur MDBK. enteritis. Telur ayam MDBK sebagai penyebab IBR pada sapi. Bogor juga meneguhkan diagnosis histopatologi dari nodul melaporkan IBR secara serologi pada tahun 1985 pock membran korioallantois akibat infeksi virus pada sapi impor dan kerbau. penurunan produksi susu. masing selama lima menit. phosphate buffer saline (PBS) tiga kali. Pada penelitian tersebut dapat diamati Pada penelitian ini digunakan lima sampel adanya gambaran cytopathologic effect (CPE) swab nasal dari sapi-sapi positif didiagnosis IBR dari BHV-1 yang ditumbuhkan pada kultur sel di BPTU Padang Mengatas. Parameter yang diamati adalah terjadi di Jawa Tengah karena terinfeksi virus reaksi ikatan antigen-antibodi virus BHV-1 pada IBR (Deptan. Hal Jika belum terlihat adanya perubahan. Padang Mengatas. Selanjutnya proses (2011) diketahui bahwa virus IBR dapat ditum. Membran korio- percobaan atau media pertumbuhan yang peka allantois dan embrio diamati perubahannya. menunjukkan bahwa dari pemeriksaan sampel bahwa telur ayam berembrio dapat digunakan swab nasal dan semen sapi di Balai Pembibitan sebagai media pertumbuhan virus IBR sebagai Ternak Unggul (BPTU). umur 9-10 hari diinjeksi dengan Gambaran CPE dari virus tersebut berupa grape sampel swab nasal sebanyak 0. menggunakan uji serologi netralisasi. keratokonjungtivitis. Paraffin block dari jaringan membran distemper anjing dan kucing. berembrio.. parasit obligat intraseluler yang hanya dapat Bentukan pock pada membran dimasukan memperbanyak diri dalam sel hidup. berukuran 1-2 mm. IBR pada telur ayam berembrio secara immu- sekitar 44. dan ensefalitis. dicuci dengan pasase terlebih dulu supaya dapat tumbuh. Virus pada ayam juga dapat masing dua buah untuk pewarnaan HE dan ditumbuhkan pada telur ayam berembrio immunohistokimia. pada tepi inti sel. tetapi dapat tumbuh dan memperbanyak dan Eosin (HE) dan immunohistokimia terhadap diri pada telur ayam berembrio. virus penyakit Marek. masing- Berdasarkan laporan Kristianingrum et al. Di Indonesia. dan kluron/abortus (Thiry et al. (2004). Selanjutnya.

Karakteristik dari lesi pock tersebut juga sesuai dengan penelitian yang Analisis Data dilaporkan oleh Madbouly dan Hussein (2007). kebengkakan disertai adanya bentukan ruang- 485 . (2008). reduksi pock. seperti yang dilaporkan membran korioallantois menunjukkan adanya oleh Kristianingrum et al. Proses nekrosis yang berwarna keabuan. Hasil pewarnaan histopatologi jaringan Dalam penelitian tersebut telah berhasil membran korioallantois dengan metode HE dan dilakukan isolasi virus BHV-1 dari sampel- immunohistokimia terhadap antibodi BHV-1 sampel yang berasal dari sapi yang menun- diamati dengan mikroskop binokuler (Olympus jukkan gejala klinis dari infeksi IBR bentuk DP12) dan data yang diperoleh dianalisis secara genital. Untuk mengidentifikasi isolat virus tersebut HASIL DAN PEMBAHASAN dilakukan dengan menggunakan teknik Agar Gel Presipitasi Test. masing-masing selama tiga menit. Selanjutnya diberi antibodi sekunder membutuhkan proses adaptasi. Hasil penelitian ini sejalan de. selama 30 menit. Peroxidase (HRP) diberikan selama 30 menit. kemudian dicuci dengan air mengalir dari pock tersebut adalah berukuran besar selama dua menit. membran korioallantois tersebut menunjukkan adanya satu isolat virus atau dua isolat virus. pertumbuhan virus tersebut dan dicuci dengan PBS sebanyak tiga kali. Ukuran dari lesi pock yang tampak pada deskriptif kualitatif. 4 : 483-488 jaringan ke dalam buffer sitrat suhu 90-95oC tianingrum et al. sehingga (Dako LSAB+System-HRP. pada embrio ayam tidak menimbulkan masing-masing selama lima menit. Substrat kematian dan perubahan patologi pada embrio atau kromogen 3-3 diaminobenzidine (DAB) ayam. VMRD. Pertumbuhan virus tersebut lima menit. USA) (1:500) jukkan adanya pertumbuhan BHV-1 yang selama 24 jam atau overnight. Gambaran makroskopik dan H202 0. Foki pock clearing dalam xylol dengan ulangan tiga kali tersebut berukuran diameter antara 3-5 mm. Lesi pock area nekrosis disertai dengan adanya bentukan dengan ukuran berkisar antara 5-7 mm badan inklusi intranuklear yang berwarna terbentuk setelah tiga kali pasase virus eosinofilik pada sel-sel epitel yang mengalami (penyuntikan). menimbulkan lesi pock dengan ukuran yang Blocking endogenous activity dilakukan pada bervariasi. Perubahan 1. Isolat-isolat virus dari lesi membran korioallantois dari telur ayam pock yang berukuran besar maupun kecil berembrio. dicuci dengan tumbuh pada membran korioallantois telur PBS sebanyak tiga kali masing-masing selama ayam berembrio. masing-masing selama lima menit. (2011). (2011) bahwa virus IBR pada selama 30 menit. virus tersebut pada telur ayam berembrio agar masing lima menit. Namun demikian. Karakteristik celup. dan dicuci dengan PBS tiga membran korioallantois telur ayam berembrio kali. Dot-ELISA. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap dan uji netralisasi virus dengan menggunakan infeksi BHV-1 sebagai penyebab dari IBR pada spesifik anti BHV-1. 16 No. bahwa diberikan selama 2-5 menit kemudian dicuci isolasi BHV-1 yang berasal dari swab preputium pada aquades. Streptavidin Horse Radish dapat tumbuh pada membrana korioallantois. keabuan dengan ukuran yang bervariasi di Berdasarkan gambaran histopatologi sekitar lokasi injeksi virus dan tersebar pada dengan pewarnaan HE pada nodul pock pada membran korioallantois. menunjukkan adanya bentukan lesi tersebut bereaksi sangat baik dengan anti-BHV- pock dengan ukuran bervariasi. masing-masing korioallantois dari telur ayam berembrio selama lima menit.Jurnal Veteriner Desember 2015 Vol. perubahan degeneratif. dilanjutkan dengan proses dengan tepi opak rata dan adanya area sentral dehidrasi pada alkohol bertingkat. diameter antara 1-2 mm.3% dalam metanol selama 20 menit. Setelah itu dilakukan tersebut dengan pewarnaan HE dan inkubasi pada Fetal Bovine Serum (FBS) 1% immunohistokimia disajikan pada Gambar 1. Sel-sel mengalami ngan penelitian yang dilaporkan oleh Kris. dan diinkubasi dalam antibodi Gambaran nodul pock tersebut menun- primer BHV-1 (IB8-F11. dan dicuci dengan PBS tiga kali masing. kemudian sedangkan yang berukuran kecil memiliki ditutup dengan entellan. dan spesifik pada uji serologi untuk tersebut berupa bentukan nodul-nodul putih identifikasi virus. USA) selama 30 diperlukan beberapa kali penanaman (pasase) menit. Menurut Madbouly et al. dan histopatologi nodul pock pada membran dicuci dengan PBS tiga kali. dan dilakukan counterstain menghasilkan bentukan lesi pock yang spesifik dengan larutan hematoksilin sebanyak 10-15 pada membrana korioallantois.

Reaksi positif terhadap antibodi BHV-1 pada epitel membran korioallantois (anak panah) (200x). 11B8-F11. mengalami marginasi kromatin yang berada Perubahan histopatologi jaringan secara di tepi dari inti sel. Perubahan intranuklear berwarna eosinofilik yang tersebut berupa sekumpulan sel yang terinfeksi disebabkan oleh infeksi BHV-1 secara virus dan berbentuk bulat serta spesifik dengan immunohistokimia dapat dideteksi pada epitel bentukan benda inklusi intranuklear yang kulup/preputium dan vulva kambing yang berwarna eosinofilik dengan kondensasi mengalami pustula multifokus dan ulserasi marginasi kromatin pada tepi membran inti vulvovaginitis. Reaksi positif terhadap BHV-1 486 . C.3 kultur sel. A. Perubahan tersebut ditandai ditandai dengan sel-sel yang mengalami kariolisis adanya reaksi positif dengan warna kecoklatan (vakuolisasi). Laporan Aranda et fusi sel. Hasil penelitian ini sesuai dengan pada epitel membran korioallantois dan inti sel. 2007. serta bentukan giant cell dan al.Yuli Purwandari Kristianingrum. (2011) menunjukkan bahwa badan inklusi multinucleated sel syncytial. yang telah dilaporkan oleh Garcia et al. 2012). Gambaran area nekrosis tersebut virus BHV-1. et al Jurnal Veteriner Gambar 1. B. 400x) ruang kosong pada sitoplasma sel. Marin et al. Reaksi positif pada badan inklusi intranuklear terhadap BHV-1 (anak panah) (BHV- 1. menyebabkan kebengkakan sel dan diaminobenzidine (DAB). Lesi pock pada membran korioallantois. D. (2013) Hal tersebut disebabkan karena adanya ikatan yang menyatakan bahwa isolasi virus BHV-1 enzim Streptavidin Horse Radish Peroxidase.. Bentukan badan inklusi intranuklear yang berwarna asidofilik pada sel epitel membran korioallantois (anak panah) (HE. Nodul pock pada membran korioallantois dengan diameter 5 mm. 400x). Inti sel (Cardoso et al. menghasilkan cytopathological effect pada antigen dan antibodi dengan kromogen 3.. Selain itu juga tampak immunohistokimia dari membran korioallantois adanya daerah epitel membran yang mengalami tersebut menunjukkan adanya perkembangan nekrosis.

Silva-Frade terjadi karena komponen virus dibentuk dengan C.. Interferon mempunyai daya mencegah pemasukan dan perkembangbiakan Terima kasih kami ucapkan kepada virus lain. arah kematian sel.. Marin LC. sitoplasma dan inti sel. f) Sel dapat mengalami perubahan yang 2011. Cervantes AS. variasi unit transkripsi (kelompok allantois. akan membentuk komponen baru Aranda EC.Jurnal Veteriner Desember 2015 Vol.. Berbeda dengan 130 mikroorganisme lain. Virus meru. Uzal et al. 2007). 2007. Garrido yang diperlukan untuk pembentukan virus GS. Cardoso TC. Jika virus memasuki dalam menginfeksikan sampel virus BHV-1 pada sel hidup maka akan terjadi: a) Membentuk membran korioallantois telur ayam berembrio inclution bodies (badan inklusi) yang letaknya agar tidak terjadi kerusakan membran dan di dalam sitoplasma sel. Ferrarezi MC. Hal tersebut Garcia AF. dan berkembangbiak pada media pertumbuhan Laporan Departemen Pertanian. Am J Biochem Biotechnol 3: 125- dapat hidup di dalam sel inang. Organisme BHV-1 Pertumbuhan virus BHV-1 dapat dilakukan merupakan golongan virus yang bereplikasi pada pada telur ayam bertunas umur 9-10 hari yang inti sel dari inang. Garcia MS. Virus dapat melakukan replikasi pada sel SIMPULAN yang hidup baik di dalam inti maupun sitoplasma dari sel inang. Dalam melakukan replikasi. 2007.. 4 : 483-488 secara immunohistokimia dapat juga diamati membran korioallantois merupakan lesi dari pada sapi dan kambing yang mengalami BHV-1 penyebab IBR. 2007). 2012). Flores EF. intranuklear. d) Sel mengalami perubahan bentuk atau transformasi yang menjurus ke arah pembentukan pembengkakan sel. virus tak dapat tumbuh Deptan (Departemen Pertanian). kemudian virus herpesvirus-1 infection in goats. Hal (BoHV-5) using an alternative serum-free tersebut menunjukkan bahwa virus tersebut medium. dan reaksi positif terhadap Terdapat dua atau lebih siklus dalam proses antibodi BHV-1 pada epitel membran korio- transkripsi. bantuan peralatan sel inang yang diserangnya. Ferrari HF. 2004). Novais JB. e) Sel DAFTAR PUSTAKA yang tidak mengalami transformasi ataupun degenerasi. Genet and Mol bahwa nodul pock yang terbentuk pada Research 12(3): 3897-3904 487 . Bernal AM. struktur inti menjadi kasar dan CW. 16 No. tergantung dari jenis virusnya. Bovine herpesvirus type 5 infection Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan regulates Bax/BCL-2 ratio. Pustular vulvovaginitis and disebut cytopathic effect yaitu pada awalnya sel balanoposthitis suggestive of caprine berbentuk kumparan berinti. benda inklusi melalui cellular dependent RNA polymerase II. baru. gen di bawah kontrol promotor tunggal) yang akan ditranskripsikan pada suatu sekuens temporal (Murphy et al. Universitas degenerasi dalam metabolisme karena virus Gadjah Mada melalui dana penelitian Hibah dapat mengubah metabolisme untuk Kompetisi 2014 yang telah membiayai membentuk virus baru yang akan menuju ke pelaksanaan penelitian ini. Vet Mex masuk ke dalam sel tersebut dan berubah 42(3): 233-243 menjadi bulat berkelompok dengan inti yang Cardoso TC. yang mati dan perkembangannya memerlukan sel hidup (Murphy et al. 2008 . Jakarta. Luvizotto MCR. Antello TF. c) Sel mengalami kerusakan atau Fakultas Kedokteran Hewan. ditandai dengan pembentukan lesi nodul pock DNA virus BHV-1 ditranskripsikan oleh inti pada membran korioallantois. Bio-safety technology in inti kelihatan menjadi lebih gelap jika dilihat di production if bovine herpesvirus type 5 bawah mikroskop (Marin et al. vulvovaginitis dan balanopostitis (Thiry dan Thiry. Ramirez LA. inti sel atau dalam infeksi sekunder oleh bakteri. SARAN pakan parasit obligat intraseluluer yang dapat berkembang biak di dalam tubuh inang dan jika Diperlukan ketelitian dan kehati-hatian di luar tubuh akan inaktif. Arm menjadi besar. b) Merangsang sel yang dimasuki untuk membentuk suatu zat yang disebut UCAPAN TERIMA KASIH interferon. 2013.

2004. Sahara A. Horzinek MC. 2006. 2004. herpesvirus caprin 1 dans le sud-ouest de 303-307 l’Europe. Isolasi dan Identifikasi Thiry J. Robert of foreign breeds bulls. Leunda MR. El Herpesvirus es virus Infectious Bovine Rhinotracheitis altamente prevalente. 1997. Academic Press. Schynts F. 2009. valence serologique de Infection a Third ed. 488 . Tempesta M. BS Vet Med J 18(2): B. J Virol Methods 181: 80-85 Thiry J. Thiry E. Sitarina W. Rohayati ES. J Vet Diagn Invest 16: 478-484. Woods L. Epidemiol et Sante Anim 49: 55- Kristianingrum YP. J Clin Microbiol 42: 1228-1235 herpesvirus types 1 and 5. Schynts F. 58 Sutrisno B. Mundo Vet 214 pada sapi di Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2007. Saegerman Murphy FA. 2008. Untari T. bovine herpes virus-1 (BHV-1) from a dairy Sutrisno B. Detry B. Abd-El-Gaid Vet Ind 4(1): 1-6 AM. Isolation of Kristianingrum YP. Alex cytopathological effect Bovine Herpes Virus J Vet Sci 13(4): 439-446. Nordhausen R. herpesviruss related to bovine herpes virus 2012. and ulcerative posthitis associated with caprine herpesvirus-1 infection in goats in California. 1 penyebab Infectious Bovine Rhinotracheitis dari sapi pada telur ayam berembrio. Chartier C. Vanderplasschen A. and C. Studi pathologis herd showing genital from of infection. Stillian M. 2011. Hibah Kompetitif Sesuai prioritas Nasional Deryck HR. 2008 . Laporan Penelitian Uzal FA. Keuser V. et al Jurnal Veteriner Madbouly HM. California. Collard A. Hussein MM. Thiry E. In vitro replication of bovine 1. Gibbs EJ. Abortion Batch III. caprine. Isolation and identification of bovine herpes virus-1 (BHV-1) from semen Keuser V. Espejo-Serrano J. Veterinary Virology. Van Kampen H. J Patol Madbouly HM and Tamam SM. Hlm. Improved 22-27 antigenic methods for differential diagnosis of bovine. Verna AE. and cervine alpha- Marin MS. Evaluation de la pre- Studdert MJ.Yuli Purwandari Kristianingrum. Faverin C.