You are on page 1of 29

ABORTUS DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

Zulfahmi Alwi
UIN Alauddin Jl. Sultan Alauddin No. 63 Makassar
E-mail: elmahady79@yahoo.com

Abstract. Generally, abortion done in case of unwanted
pregnancy and was usually motivated by a variety of factors,
including economic, social, contraceptive failure in married
couples, as well as sex of unmarriad couples. Islam strictly
prohibits the act of abortion with social and economic motives.
Abortion has absolutely forbidden unless it’s motivation based on
justifiable reason in Islam. Perpetrators of abortion may be
punished by heavy penalty, which is to pay al-ghurrah or freeing
slave. If the penalty of al-ghurrah is applied in contemporary life,
the content of the sentence is determined by a court verdict.
Islam greatly appreciates human existence since the early stages
of events. Every effort to obstruct the growth of the fetus or to
remove it from the womb before the arrival time of the birth
naturally can not be tolerated.
Abstrak. Umumnya, aborsi dilakukan jika terjadi kehamilan yang
tidak diinginkan dan biasanya dimotivasi oleh berbagai faktor,
termasuk ekonomi, sosial, kegagalan kontrasepsi pada pasangan
yang sudah menikah, serta hubungan seks di luar nikah. Islam
melarang tindakan aborsi dengan motif sosial dan ekonomi.
Aborsi benar-benar dilarang kecuali jika motivasi didasarkan
pada alasan yang dapat dibenarkan dalam Islam. Pelaku aborsi
dapat dihukum dengan hukuman yang berat, yaitu untuk
membayar al-ghurrah atau membebaskan budak. Jika hukuman
al-ghurrah diterapkan dalam kehidupan kontemporer, isi kalimat
ditentukan oleh putusan pengadilan. Islam sangat menghargai
eksistensi manusia sejak tahap awal peristiwa. Setiap upaya
untuk menghambat pertumbuhan janin atau menghapusnya dari
rahim sebelum masa kelahiran alami tidak dapat ditoleransi.

Kata kunci: aborsi, al-ghurrah, janin, ruh, hukum Islam.

Vol. 10, No. 2, Desember 2013: 293-321

PENDAHULUAN
Secara kodrati manusia diciptakan berpasang-pasangan,
laki-laki dan perempuan.1 Penciptaan manusia yang berpasangan
membuat cenderung untuk melakukan hubungan biologis, guna
melahirkan keturunan yang akan meneruskan kelangsungan
eksistensi umat manusia. Namun tidak semua orang merasa
senang dan bahagia dengan setiap kelahiran, terutama bila
kelahiran itu merupakan kelahiran yang tidak diinginkan
(unwanted pregnancy), karena faktor kemiskinan, faktor
kegagalan kontrasepsi, akibat hubungan seks di luar nikah, dan
sebagainya.2 Hal ini mengakibatkan banyak di antara perempuan
yang menggugurkan kandungannya (aborsi) setelah terjadi
pembuahan dalam tuba fallopii.
Di beberapa negara seperti Denmark, Inggris, Swedia, dan
Amerika, ditemukan praktek aborsi untuk menghindari kelahiran
bayi yang tidak diinginkan dalam jumlah yang cukup tinggi. Pada
tahun 70-an, diduga praktek abortus illegal mencapai 100.000
kasus setiap tahunnya di Inggris. Sedangkan di Amerika
jumlahnya jauh lebih besar, yaitu antara 200.000 dan 1.200.000
kasus per tahun.3 Tindakan tersebut tidak hanya melenyapkan
keberadaan janin dalam rahim sehingga menghilangkan
kemungkinnan baginya untuk menikmati kehidupan dunia, tetapi
sekaligus mengancam jiwa sang ibu yang mengandungnya.
Mengingat besarnya bahaya yang timbul dari tindakan
tersebut, disamping abortus itu sendiri perbuatan asusila bila
dipandang dari sudut moral dan etika, maka para ulama berusaha

1
Q.S. al-H.ujurāt (49): 13.
2
Ali Ghufron dan Adi Heru Sutomo, Abortus, Bayi Tabung, Euthanasia,
Transplantasi Ginjal, dan Operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis, Hukum dan
Agama Islam (Yogyakarta: Aditya Media, 1993), h. 8.
3
David L. Sills (ed), International Encyclopedia of the Social Sciences, vol.
5 (New York: The Macmillan Company and the Free, 1972), h. 387; Martin Heller
(ed), International Family Health Encyclopedia (London: Orbis Publishing,
t.th.), h. 44.

294 Hunafa: Jurnal Studia Islamika

menjelaskan keberadaan abortus dalam perspektif hukum Islam. al-Nisā’ (4): 7. bahkan telah menjadi kasus moral yang tidak menutup kemungkinan akan menjadi norma baru dalam tatanan masyarakat. 7 Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā’il al-Bukhārī. Nūh (71): 14. Dalam kajiannya.). anak keturunan manusia diciptakan secara bertahap. Ṣahīḥ al-Bukhārī.6 Penjelasan Alquran tersebut disempurnakan oleh sejumlah hadis Nabi saw yang mengurai tentang tenggang waktu setiap tahapan kejadian manusia dalam rahim sebagaimana diriwayatkan antara lain oleh al-Bukhārī dan Muslim. t. juz IV (Indonesia: Maktabat Dahlān. 6 Q. al-Mu’minūn (23): 12-14. Abū al-Ḥusain Muslim bin al- Hajjāj al Qusyairī al-Naisābūrī. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 295 .S. hadis. termasuk hukum abortus yang dari waktu ke waktu terus menyeruak ke berbagai belahan bumi.). Abortus dalam Pandangan. h.th. t.. Lihat pula Ahmad Azhar Basyir. Refleksi atas Persoalan Keislaman.th. 166-167. Dalam banyak ayatnya.S. 5 Q.4 Pada penciptaan berikutnya. juz II (Indonesia: Maktabat Dahlan. h. yaitu makhluk manusia yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan insaniyah.5 Penciptaan tersebut bermula dari tahap al-nuft}ah. Masalah tersebut tidak hanya melahirkan pandangan pro dan kontra. 1994). Hukum Politik. hingga berbentuk lebih sempurna sebagai calon bayi yang lalu berkembang menjadi “makhluk lain” (khalqan ākhar). dan Ekonomi (Bandung: Mizan. 4 Q. Seputar Filsafat.7 Petunjuk Alquran dan hadis tersebut dijadikan dasar dan hujah oleh para ulama dalam menyelesaikan berbagai problematika hukum Islam. dan penemuan sains modern tentang proses kejadian manusia yang melalui beberapa tahapan kejadian. mereka berpedoman pada informasi Alquran. Ṣahīḥ Muslim. Zulfahmi Alwi. kemudian ‘alaqah. Alquran menandaskan bahwa manusia pertama-tama diciptakan berasal dari tanah liat.S. 2037. Alquran telah menggambarkan suatu kisah yang menakjubkan tentang proses penciptaan manusia. kemudian al-mud}ghah. h. 1302..

St.. 435. 2) keadaan terhentinya pertumbuhan yang normal (tentang makhluk hidup). h. 10 Ibrāhīm Anīs dkk. yaitu: 1) terpencarnya embrio yang tidak mungkin lagi hidup (sebelum habis bulan keempat dari kehamilan). 10. Ahmad Ramli dan K. taih. No. ilqā. Ibn Manżūr. 2. yaitu pengguguran janin dari kandungan sebelum mencapai kesempurnaannya./1979). Dalam bahasa Arab. keluron. 2.p.tp. 1968). berati dia (unta betina tersebut) telah meletakkan janinnya sebelum mencapai kesempurnaannya. Sedangakan Ibn Fāris dan Ibn Manz}ūr mengatakan bahwa akar kata tersebut berarti al-wuqū’ (pengguguran atau menjatuhkan). keguguran. 1379-1380. h. h. An Arabic-Englis Lexicon (Lebanon: Librarie Du Liban.10 Kata al-ijhād diartikan oleh Ibn Manzūr dengan al-izlāq (tergelincir). kata al-isqāt diartikan dengan upaya seorang wanita meletakkan janinnya antara bulan keempat dan bulan ketujuh (dari usia janin). 86.: Dār al-Fikr. KamusBesar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka. jika dikatakan ajhaḍat al-nāqat ijhādan. t. dan 3) guguran (janin). h. Desember 2013: 293-321 PENGERTIAN ABORTUS Kata ‘abortus’ dalam bahasa Inggris disebut abortion. Pendapat tersebut antara lain dilontarkan oleh Abū Zaid dan al- 8 Hassan Shadily dkk.Vol. barasal dari bahasa Latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran. 1990). jil. ijhāḍ. 296 Hunafa: Jurnal Studia Islamika .th. 163.: t.th. Mu’jam Maqāyīs al-Lugah. Kelima kata tersebut mengandung pengertian yang berdekatan.9 Para pakar hukum Islam menggunakan beberapa term untuk menyatakan tindakan abortus. Abū al- Husayn Ahmad bin Fāris bin Zakariyā. 1992). jilid II (Bairut: Dār Lisān al-‘Arab. Med. al-Mu’jam al-Wasīṭ (T. 1394 H.tp. 9 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Lisān al-‘Arab. Pamontjak. h.). I (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.h. dalam hal ini menggugurkan atau menjatuhkan janin dari kandungan sebelum mencapai masa kesempurnaannya. t.8 Kata tersebut kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia dengan tiga arti. 1980). dan inzāl. Kamus Kedokteran (Jakarta: Djambatan. h. Ensiklopedi Indonesia. Dalam al-Mu’jam al-Wasīṭ. Bandingkan dengan Edward William Lane. 254.. 60. seperti term isqāṭ.). juz III (T.

. An Arabic.. 430.12 Dalam hal ini kata ilqā’ dapat digunakan untuk pengertian umum. h. 477. Mu’jam. Lisān.A. Asma’ī.. 16 Masjfuk Zuhdi. Mu’jam. jatuh atau gugurnya sesuatu. h. 13 Ibn Fāris.. jilid III.. Ibrāhīm Anīs.11 Kata ilqā’ berarti al-tarḥ yang berarti melemparkan atau membuang. Pengertian serupa dapat dilihat dalam “Encyclopedia Americana”. 77. jilid I. . jilid I (U. . 12 Ibrāhīm Anīs.. Abortus dalam Pandangan.... Zulfahmi Alwi. h. 915. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 297 .. h. 619.. Ibn Manżūr. Lisān.. Ibn Manżūr. Masail Fiqhiyah (Jakarta: Haji Masagung. yang berakar kata dari kata nazala menunjukkan arti turun.. Ibn Fāris. jilid III.16 Pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi tersebut dilakukan sebelum masa gestasi 11 Ibn Manżūr.. Lisān. Kata al-taih} berasal dari kata tāḥa yatīḥu. kata tersebut dapat pula berarti hancur atau binasa.. 15 The Encyclopedia Americana.: Americana Corporaion).. Mu’jam. jatuh atau menjatuhkan... 143. h.. 418. h. Edward William Lane. Dalam penerapannya. Mu’jam..S. h.. juz V. 573. Pandangan yang lebih tegas dinyatakan oleh Ibrāhīm Anīs dengan mengatakan bahwa kata ijhāḍ berarti keluarnya janin dari rahim (uterus) sebelum mencapai usia empat bulan.. juz III. 14 Ibrāhīm Anīs. Ibn Fāris. al-Mu’jam. .. . . h.. yang berarti halaka (binasa atau hancur)...... sehingga mambuang atau meletakkan janin (sebelum mencapai masa kesempurnaannya) dapat diterjemahkan dengan ilqā’ al-janīn. . h. al-Mu’jam. al-Mu’jam.. h. . 523.. diartikan dengan pengguguran atau penghancuran hasil konsepsi (zygote) atau janin (fetus) sebelum masa kelahiran. 836. Lisān. h. Ibrāhīm Anīs. salah satu dari kelima kata tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan perbuatan abortus.. 1993). juz I.. Ibn Manżūr. 14 Berdasarkan penjelasan di atas. Abortus dalam Encyclopedia Americana. Ibn Fāris.. . . 260...... 389. 42. h.15 Pernyataan senada diungkapkan oleh Sardikin Ginaputra dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang memberikan pengertian abortus dengan pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. h.. . .. jilid III. jilid I. 489. juz V. al-Mu’jam. . 42. h. h..13 Adapun kata inzāl berasal dari kata anzala yunzilu. 622- 623. h.

). Rustam Mochtar. Jilid I. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Nugroho dkk. 114.18 Pada masa itu. No. bisa terjadi akibat keracunan. abortus provocatus dapat dibedakan pula atas abortus artificialis therapicus dan abortus provocatus criminalis. .. Pamoentjak. kaget. abortus spontaneous terjadi dengan sendirinya dan diluar kemampuan orang yang bersangkutan untuk menghindarinya.21 Dengan demikian. Jilid I. 20 Martin Heller (ed..20 Akan tetapi penyebab yang paling dominan (50-60%) adalah cacatnya bibit. Ensiklopedi Nasional. 234. 21 E.. terpukul atau penyakit yang diderita oleh calon ibu. 60. h. . 22.. h. h. Kamus Kedokteran. Bandingkan dengan beberapa defenisi para ahli dalam Rustam Mochtar. Abortus artificialis therapicus adalah abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis. baik fisik maupun mental. Masail Fiqhiyah. International Family. 232-233. 2. Ensiklopedi Indonesia. 15-17. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi. 1990). h. sifilis dan kencing manis. yakni telur atau sperma yang tidak sempurna. 42. E. Encyclopedia Americana. Misalnya.Vol. seperti penyakit cacar.. h. kehamilan yang membahayakan jiwa si ibu jika 17 Masa gestasi disebut juga dengan masa kehamilan. h. 77. 231. h.. Cipta Adi Pustaka.. Abortus jenis ini dilakukan untuk menjaga kepentingan ibu. kecelakaan. 10.. Ilmu Kedokteran membedakan antara abortus yang terjadi dengan sendirinya atau tanpa kesengajaan. 22 298 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . Ahmad Ramali dan K. Desember 2013: 293-321 (gestation)17 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1000 gr... 1990). h. h. Masjfuk Zuhdi.19 Abortus macam ini. yang disebut abortus spontaneous dan abortus yang terjadi dengan kesengajaan disebut abortus provocatus. Abortus Spontaneous adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medis. jilid I. Nugroho dkk. tetapi disebabkan semata-mata oleh faktor-faktor alamiah. Lihad Med... 18 Hassan Shadily.. jilid I (Jakarta: PT. Obstetri Patologi (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sementara itu.. 19 Ibid. . Sinopsis Obstetri. janin belum mampu hidup secara mandiri sehingga mengeluarkannya dari janin dapat mengakibatkan kematian atau terhentinya pertumbuhan janin. St. h..

1993). sedang ‘ayah’ dan ‘ibu’ si janin menghindarkan diri dari konsekuensi perbuatan mereka. 8 dan 11.22 Banyak pihak tidak menyetujui abortus jenis terakhir berdasarkan pertimbangan etika.. seperti penyakit TBC.. I. Hukum dan Agama Islam (Yogyakarta: Aditya Media. tindakan tersebut terkadang dilatarbelakangi oleh kegagalan kontrasepsi atau kekhawatiran pasangan suami istri tidak mampu membiayai sang anak. Transplantasi Ginjal dan Operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis. diteruskan. Sementara di dalam perkawinan. Nugroho dkk. Ensiklopedi . abortus sering terjadi sebagai akibat dari hubungan seks yang tidak sah. Abortus jenis ini terkadang dilakukan orang untuk meniadakan hasil hubungan seks di luar pernikahan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki karena alasan ekonomi dan lain-lain. Abortus... Hassan Shadily. namun di beberapa negara banyak yang melakukannya. h. dan penyakit ginjal. orang melakukan abortus apabila terjadi ‘kehamilan tidak dikehendaki’. jil. Abortus dalam Pandangan. Kebanyakan ulama menyandarkan persoalan abortus pada hadis- 22 Masjfuk Zuhdi. .. h. Bayi Tabung. Diluar perkawinan.. Perbincangan ulama tentang kedudukan hukum tindakan abortus sangat dipengaruhi oleh petunjuk Alquran dan hadis Nabi saw tentang tahap kejadian dan pertumbuhan janin dalam rahim.. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 299 . tindakan abortus yang dilakukan tanpa dasar medis atau alasan pembenaran dalam Islam mengandung konsekuensi hukum. Zulfahmi Alwi..23 Abortus yang terjadi tanpa disengaja atau karena alasan medis demi menjaga kemaslahatan tidak mengandung konsekuensi hukum dalam Islam. Masail Fiqhiyah. KEDUDUKAN HUKUM ABORTUS Pada dasarnya. 77. Namun sebaliknya. ibid. h. 60 23 Ali Gufran Mukti dan Adi Heru Sutomo. baik didalam perkawinan ataupun diluar perkawinan. E. Euthanasia. Sedangkan abortus provocatus criminalis adalah abortus yang dilakukan tanpa dasar medis. karena menderita penyakit-penyakit yang sudah berat.

pendapat yang mengatakan haram pada setiap tahap pertumbuhan dan kejadian manusia. Ketiga. 300 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . meskipun ada diantara ulama mazhab ini mengatakan hanya makruh bila dikeluarkan sebelum melalui masa 40 hari setelah pembuahan. 1980). Cairan sperma yang telah menyatu dengan ovum tersebut kemudian tumbuh sejalan dengan fisiologi 24 Lihat misalnya Ahmad al-Syirbāṣī. 25 Al-Azhar al-Syarīf.25 mengharamkan abortus sebelum ditiupkan ruh pada setiap tahap pertumbuhan janin (al-nuṭfah. Kedua.th. pendapat yang membolehkan pada salah satu tahap tetapi mengharamkan pada tahap lainnya. Desember 2013: 293-321 hadis yang menyebutkan bahwa proses perkembangan janin dalam kandungan memakan waktu 120 hari sebelum ditiupkan ruh.). Peniupan ruh tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan hukum abortus. h. No. 2. Disamping berpedoman pada hadis-hadis tentang reproduksi manusia. Pandangan ini merupakan pendapat terkuat dalam Mazhab al-Mālikī. 216. t. sebagaimana dikemukakan ulama al-Azhar.: al-Matba‘at al-Azhar.tp. juz II (t. Pendapat senada dikemukakan oleh sebagian ulama mazhab al-Syāfi’ī dan sebagian ulama mazhab al-Hanafī. Pertama.24 Perbedaan tersebut dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan. 256. Abortus Pra Peniupan Ruh Para ulama melontarkan pendapat yang berbeda terhadap tindakan abortus yang dilakukan sebelum janin diberi nyawa. tahap penciptaan dan pembentukan manusia dimulai setelah cairan sperma jatuh dan menetap dalam rahim. Yas’alūnaka fī al-Dīn wa al-Hayāh (Beirut: Dār al-Jail.Vol. h. pendapat yang membolehkan pada setiap tahap kejadian manusia. al-muḍghah dan al- ‘alaqah). Bayān li al-Nās. 10. menurut mereka. Ulama Mazhab al-Zhāhirī.

h. 328. Demikianlah keduanya telah mengharamkan penghancuran dan pengguguran janin pada setiap tahap pertumbuhannya. Mahmūd Syaltūt. Zulfahmi Alwi. t. Refleksi atas Persoalan Keislaman Seputar Filsafat. 1410 H/1990). 28 Abd al-Rahmān al-Jazīrī. Pendapat kedua adalah golongan yang membolehkan pengguguran pada tahap tertentu dan melarang pada tahap lainnya. Abortus dalam Pandangan. bila telah menjadi al-muḍghah dan al-‘alaqah. Sementara itu. Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn. 27 Al-Ghazālī. Lihat pula Ahmad Azhar Basyir. Menganiaya dan merusak pertumbuhan janin pada tahap awal tersebut adalah suatu kejahatan.th. Puncak kekejian kejahatan apabila ditujukan kepada anak yang telah lahir dalam keadaan hidup. Kitāb al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al-Arba‘ah. Karenanya. Abū al-Hasan ‘Alī bin Hunafa: Jurnal Studia Islamika 301 .tp. sedangkan pada tahap al-‘alaqah dan al-muḍghah hukumnya haram. Apabila janin telah diberi nyawa dan telah berbentuk manusia sempurna. Ulama Mazhab al-Mālikī memandang bahwa makruh hukumnya menggugurkan kandungan pada tahap al-nuṭfah. 290-291.th. Tahap awal bermula dari pertemuan sperma dan ovum yang dikenal dengan tahap al-nuṭfah. juz II (t. juz V (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Politik dan Ekonomi (Bandung: Mizan.). Hukuman baru dapat dijatuhkan jika janin telah memperoleh bentuknya pada tahap al-muḍghah. al-Māwardī dan sebahagian ulama al- Syāfi’ī tidak memberikan hukuman apapun bagi pelaku abortus apabila janin yang digugurkan pada tahap al-‘alaqah. petumbuhan janin menuju kepada hidup..26 Al-Gazali27 melontarkan pernyataan serupa bahwa pertumbuhan janin melalui tahap yang bertingkat-tingkat. Pandangan ini antara lain dikemukakan oleh ulama Mazhab al-Mālikī dan sebagian ulama Mazhab al-Syāfi’ī.. h. 53.).: Dār Ihyā’ al-Kutub al- ‘Arabiyyah. 170. h. h.28 Pernyataan tersebut menunjukkan 26 Ibid. maka merusaknya merupakan kejahatan yang lebih keji. maka merusaknya merupakan kejahatan yang bertambah lebih keji lagi. cairan tersebut tidak dapat dianiaya apalagi digugurkan. Hukum. t. al-Fatāwā (Kairo: Dār al-Qalam. 1994).

Mereka berpendapat bahwa menggugurkan kandungan sebelum janin diberi nyawa dibolehkan dan janin dipandang Muhammad bin Habīb al-Māwardī. daging dan tulang baru terjadi setelah melewati masa al-nuṭfah. sebagaimana telah menjadi ijma ulama.. 1414 H/1994). Desember 2013: 293-321 bahwa sebagian ulama al-Syāfi’ī masih mentolerir pengguguran pada tahap al-nuṭfah dan al-‘alaqah dan mengharamkannya ketika janin telah memasuki usia al-muḍghah. 29 Muslim. 30 Abū al-Hasan ‘Alī bin Muhammad bin Habīb al-Māwardī. kulit. al-Hāwī al- Kabīr. al-Hāwī al-Kabīr.Vol. Ṣaḥīḥ. h.. 2.30 Selanjutnya adalah golongan yang membolehkan abortus pada setiap tahap kejadian manusia sebelum pemberian ruh. juz XVI (Beirut: Dār al-Fikr. Sementara itu. 210. hadis tersebut memberi isyarat bahwa pada masa al-nuṭfah janin belum diberi bentuk dan masih berupa cairan. sehingga mengugurkannya tidak mengandung konsekuensi hukum. juz IV. al-Māwardī tidak memberikan hukuman bagi pelaku abortus pada tahap al-‘alaqah karena beliau menganggap keberadaan al-‘alaqah sama dengan keberadaan al-nuṭfah. Jika tidak ada hukuman bagi pelaku abortus pada tahap al-nuṭfah. 2037. 210. ulama Mazhab al-Zaydī dan sebagian ulama Mazhab al-Hanafī. penglihatan.29Kandungan hadis tersebut menunjukkan bahwa pembentukan janin. No. juz XVI (Beirut: Dār al- Fikr. 10.. penulis tidak menemukan alasan tegas yang dijadikan argument untuk memperkuat pendapat mereka kecuali pendapat yang membolehkan pengguguran pada tahap al-nuṭfah tetapi haram pada tahap al-‘alaqah dan al-muḍghah. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibn Hazm. penciptaan pendengaran. Mereka berpedoman kepada sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn Mas’ūdtentang pengutusan malaikat kedalam rahim setelah al-nuṭfah berusia 42 hari. maka demikian pula halnya dengan tahap al-‘alaqah. h. Bagi mereka. h. 302 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . 1414 H/1994). Secara umum.

. al-Muhalā. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 303 . 256-257. 176. Abū Muhammad ‘Alī bin Ahmad bin Sa‘īd bin Hazm. h. membolehkan seseorang melakukan abortus. 216. Uzur yang dimaksud antara lain terputusnya air susu ibu pada saat kehamilan sementara ayah si calon bayi tidak mampu menyusukannya kepada orang lain dan dikhawatirkan anak akan mati. h. Abortus dalam Pandangan. Sedangkan ulama Mazhab al-Hanbalī. Oleh karena keberadaannya tidak diperhitungkan. Keberadaan janin sebelum ditiupkan ruh tidak diperhitungkan. Yas’alūnaka. Mereka membolehkan pengguguran pada setiap tahap pertumbuhan janin sebelum ditiupkan ruh karena setiap yang belum diberi nyawa tidak tergolong sebagai manusia. bernyawa apabila telah melalui proses pertumbuhan selama 120 hari. h. 1391 H/1971). karena tidak dipandang sebagai janin. apakah mereka membolehkan atau mengharamkan tindakan abortus yang dimaksud. sebagaimana dikemukakan oleh Ibn Qudāmah. 386. 392...... juz VIII (Beirut:Dār al-Fikr. tetapi tidak adanya sanksi yang diberikan kepada pelaku mengisyaratkan bahwa mereka membolehkannya pada tahap tersebut. Hāsyiyah Ibn ‘Ābidīn. 33 Muwaffiq al-Dīn AbīMuhammad ‘Abdillāh bin Ahmad bin Qudāmah.. menurut sebagian ulama al-Hanafī tersebut. karenanya tidak dibangkitkan di hari Kemudian. Ibn Qudāmah tidak menjelaskan. maka tidak ada larangan untuk menggugurkannya... juz III (Mesir: Muṣṭāfā al-Bābī al-Halabī. Ahmad Azhar Basyir. 32 Al-Azhar al-Syarīf. 1386 H/1966). Zulfahmi Alwi. h.32 Kondisi seperti ini. Bayān li al-Nās.31 Akan tetapi sebagian ulama al-Hanafī lainnya memandang bahwa menggugurkan kandungan sebelum berumur 120 hari hukumnya makruh jika tidak ada uzur. 169-170. penulis lebih sependapat dengan pendapat pertama yang mengharamkan 31 Muhammad Amīn bin ‘Ābidīn. 1412 H/1992).. h. Memperhatikan ketiga pendapat tersebut di atas. Refleksi..33 berpendapat bahwa perempuan yang menggugurkan kandungannya sebelum membentuk manusia tidak dikenai sanksi. h. Lihat juga Ahmad al- Syirbāsī. juz XII (Mesir: Maktabat al-Jumhuriyyat al-‘Arabiyyah. al- Mughnīwa al-Syarh al-Kabīr ‘alā Matn al-Mughnī.

Hasil konsepsi kemudian tumbuh dan mengalami perkembangan secara berangsur-angsur hingga memperoleh bentuk dan diberi nyawa. bukan hidup secara biologis atau hidup ruh hayawani. al-Mu’minūn ayat 14. sejak tahap al-nuṭfah hingga janin berbentuk manusia sempurna. Membahas fenomena peniupan ruh. Pencipta Yang Paling Baik. Sedangkan ruh hidup hayawani sebenarnya telah dimiliki pada saat pembuahan terjadi. lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. menarik untuk dibahas QS. yaitu peristiwa pertemuan sel mani laki-laki (sperma) dan ovum perempuan pada tuba falopii. terlebih lagi jika bayi yang telah dilahirkan dibuang atau dibunuh. Ruh insaniah adalah pemberian Tuhan berupa keistimewaan- keistimewaan pada manusia dalam pertumbuhannya yang memungkinkan mampu memikul amanat Allah. Disini Sayyid Qutub mengartikan peniupan ruh pada janin setelah berbentuk manusia lengkap dengan ‘ruh insaniah’ secara metafisik. Desember 2013: 293-321 pengguguran kandungan pada setiap tahap kejadian manusia. lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. 2. yang kemudian disebut hasil konsepsi atau al-nuṭfah. sebab pembuahan secara biologis hanya mungkin apabila 304 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . 10. Maka Maha Sucilah Allah. menggugurkannya adalah suatu kejahatan sebab tindakan tersebut telah menghancurkan dan menghentikan pertumbuhannya menjadi manusia sempurna. yaitu ruh yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. tahap pertama kejadian manusia bermula setelah terjadi pembuahan (fertilisasi). Kadar kejahatan itu makin besar bila dilakukan setelah diberi nyawa. Oleh karena itu.Vol. yang justru harus dilindungi dan dihormati. dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.‫ﳊﻤﺎ ﰒ أﻧﺸﺄﻧﻪ ﺧﻠﻘﺎ آﺧﺮ ﻓﺘﺒﺎرك اﷲ أﺣﺴﻦ اﳋﻠﻘﲔ‬ Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. seperti berikut: ‫ﰒ ﺧﻠﻘﻨﺎ اﻟﻨﻄﻔﺔ ﻋﻠﻘﺔ ﻓﺨﻠﻘﻨﺎ اﻟﻌﻠﻘﺔ ﻣﻀﻐﺔ ﻓﺨﻠﻘﻨﺎ اﳌﻀﻐﺔ ﻋﻈﺎﻣﺎ ﻓﻜﺴﻮﻧﺎ اﻟﻌﻈﺎم‬ . Sebagaimana dikemukakan pada uraian dalam naqd al-matan terdahulu. No.

hingga ditiupkan ruh dan membentuk manusia sempurna.) h. Hadis-hadis tersebut secara implisit mengakui adanya pertumbuhan setelah sperma dan ovum bersatu. maka janin manusia masih dapat berkembang hingga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hewan.. Ungkapan lebih tegas tentang adanya pertumbuhan sejak masa al-nuṭfah dapat dilihat pada hadis-hadis tentang masa 40 hari bagi setiap tahap reproduksi manusia.. Jika janin manusia mengalami pertumbuhan jasadiyah yang mirip dengan janin hewan.35 Dalam hadis-hadis tersebut dijelaskan bahwa tahap awal kejadian manusia bermula dari pertemuan sperma dan ovum. Zulfahmi Alwi. juz IV (Kairo: Dār al-Masyrūq. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 305 . Lihat juga Ahmad Azhar Basyir. al-‘alaqah dan al- muḍghah. 1412 H/1992).. Refleksi. h. Akan tetapi.th. Abortus dalam Pandangan. 2459. kemudian mengalami pertumbuhan melalui fase-fase al-nuṭfah.302. Adapun pendapat golongan kedua di atas mengatakan bahwa pembentukan tulang. yang dalam bahasa hadis-hadis tersebut digunakan istilah yujma’. juz III (Indonesia: Maktabat. hadis tersebut tidak menafikan adanya pertumbuhan pada masa al-nuṭfah. memang mendapat dukungan secara eksplisit dari hadis Nabi saw. h. sehingga menghentikannya juga berarti menghambat pertumbuhannya. bibit laki-laki dan bibit perempuan merupakan bibit yang hidup pula.. t. 168-169. Fī Zilāl al-Qur’ān. daging dan lain-lain terjadi setelah melewati masa al-nuṭfah (42 hari). Sayyid Qutb membedakan proses kejadian dan perkembangan janin manusia dan janin makhluk lain (hewan). Dahlan. Sunan al-Tirmizī.. 35 Lihat misalnya riwayat Ibn Mas’ūd dalam Abū ‘Āsā Muhammad bin ‘Īsā al-Tirmizī. Demikian pula halnya dengan pendapat golongan ketiga yang menjelaskan implikasi pemberian nyawa terhadap 34 Sayyid Qutb. Selain itu.34 Penafsiran Sayyid Qutub ini memberi isyarat bahwa beliau telah mengakui adanya kehidupann secara biologis sejak terjadi pembuahan dan mengharamkan abortus sejak peristiwa tersebut.

No. tahap kejadian manusia telah dimulai sejak terjadi persatuan antara sel sperma laki-laki dan sel telur (ovum) perempuan. al-Halāl wa al-Harām fī al-Islām (Beirut: Maktab al-Islāmī.Vol. Pada kondisi tertentu. adalah perbuatann dosa. h. 2. Hal itu antara lain dapat diketahui dari hasil pemeriksaan medis yang menunjukkan bahwa jiwa sang ibu akan terancam bila janin dalam kanndungannnya tetap dipertahankan. Apabila janin telah diberi nyawa. 195. sehingga menggugurkannnya tanpa alasan yang dibenarkan dalam agama adalah haram.36 Menggugurkan kandungan setelah janin diberi nyawa tanpa ada alasan atau indikasi medis yang dibenarkan dalam agama. 289-290. 10. Refleksi.. Hanya saja. yaitu setelah janin melalui proses pertumbuhan selama empat bulan atau 120 hari. 36 Ahmad Syirbāsī. Ahmad Azhar Basyir. Demikianlah. seseorang yang sedang mengandung diperhadapkan oleh dua pilihan yang merugikan.. al-Islām ‘Aqīdah wa Syari’ah (Kairo: Dār al-Qalam. menyelamatkan jiwanya atau menggugurkan kandungannya. Desember 2013: 293-321 kebangkitan manusia di hari kemudian. 37 Mahmūd Syaltūt. Yūsuf al-Qardhāwī. berarti kelak dia pun akan dibangkitkan di hari kemudian.37 Inilah tindakan pengguguran yang dikenal dengan istilah abortus provocatus criminalis (‫)اﻹﺳﻘﺎط اﻹﺧﺘﯿﺎري‬. 216 . 306 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . sehingga membolehkan abortus sebelum janin diberi nyawa. Abortus Pasca Peniupan Ruh Para ulama sepakat untuk mengharamkan abortus yang dilakukan pada waktu janin telah diberi nyawa. Yas’alūnaka. 1966). Oleh karena itu.. sebagaimana telah dikemukakan.. h. dia akan tumbuh hingga diberi nyawa dan menjadi manusia yang lengkap anggotanya. h. h. jika hasil konsepsi dibiarkan berkembang dalam rahim.. 169. 1978). dipandang sebagai tindakan pidana yang disamakan dengan pembunuhan terhadap manusia yang telah sempurna wujudnya. menganiaya dan merusaknya sebelum diberi nyawa tanpa alasan hukum..

ibid. Uṣūl al-Fiqh (t. sehingga manusia itu dapat merasakan kenikmmatan dalam hidupnya. h. h. 195. 81. ada juga kaidah ushul fiqhi lainnya yang berbunyi:41 . ibid. h. ibid.: Dār al-Fikr al-‘Arabī. 40 Muhammad Shidqī bin Ahmad Burnū. Itu berarti jumhur ulama membolehkan abortus artificialis therapicus (‫ )اﻹﺳﻘﺎط اﻟﻀﺮوري‬untuk menyelamatkan jiwa sang ibu. al- hājiyyah dan tahsīniyyah..th. 41 Al-Burnū. 83.th.). t. h. maka yang lebih besar kemudaratannya harus diutamakan dengan mengorbankan yang lebih kecil kemudaratannnya.tp. al- Hunafa: Jurnal Studia Islamika 307 . yaitu al-ḍarūriyyah. keselamatan ibu lebih diutamakan daripada keselamatan bakal bayi. kemudaratan yang ditimbulkan akibat kematian sang ibu lebih besar dampaknya bila dibandingkan dengan kematian sang janin. t. 290. Menanggapi kenyataan tersebut.. Selengkapnya lihat Abū Ishāq al-Syātibī. 1440 H/1983).. apalagi bila kehidupan ibu benar-benar telah nyata sedangkan bakal bayi tidak dapat diyakinkan akan lahir dalam keadaan hidup. termasuk ulama-ulama kontemporer seperti Mahmūd Syaltūt38 dan Yūsuf al-Qardhāwī. Bandingkan Muhammad Abū Zahrah.‫إذا ﺗﻌﺎرض ﻣﻔﺴﺪﺗﺎن روﻋﻲ أﻋﻈﻤﻬﻤﺎ ﺿﺮرا ﺑﺎرﺗﻜﺎب أﺧﻔﻬﻤﺎ‬ Apabila bertemu dua mafsadah.39 membenarkan tindakan abortus guna menyelamatkan jiwa sang ibu. ‘Ilm Uṣūl al-Fiqh (t. ‘Abd al-Wahhāb Khallāf. al-maṣlaḥah ialah apa yang melandasi tegaknya kehidupan manusia dan terwujudnya kesempurnaan hidup. h.40 Disamping itu. Dalam hal ini.. Khallāf. 39 Yūsuf al-Qardhāwī. h. h. serta yangmemungkinkan manusia memperoleh keinginan-keinginan jasmaniah dan akliyah secara mutlak. 42 Menurut al-Syātibī.: Maktabat al-Da‘wat al-Islāmiyyah.. 377. al-Wajīz fīĪdhāh Qawā’id al-Fiqh al-Kulliyyah (Beirut: Mu’assasat al-Risālah. Dengan kata lain. al-Halāl. Selanjutnya al-Syātibī membagi al-maṣlaḥah yang menjadi tujuan diturunkannya syariat kedalam tiga macam...).tp. 207. 208. Abortus dalam Pandangan. jumhur ulama.. kemudaratan yang mengandung unsur al-maṣlaḥah42 lebih besar diutamakan 38 Mahmūd Syaltūt. Dalam hal seperti ini. Pandangan ini didasarkna atas kaidah ushul fiqhi yang mengatakan ‫ اﻟﻀﺮر ﯾﺰال‬atau kemudaratan harus dihilangkan. Zulfahmi Alwi.

).” Disertasi (Jakarta: Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. 43 QS. sosial dan rasa malu tersebut. tanpa dapat memberikan kegunaan untuk memperkuat kabilah. Desember 2013: 293-321 atas kemudaratan yang mengandung unsur al-maṣlaḥahnya lebih kecil.th. abortus dapat dibenarkan dalam hukum Islam untuk menyelamatkan jiwa sang ibu.43 Jika kecaman Tuhan terhadap kebiasaan bangsa Arab jahiliah dianalogikan dengan tindakan abortus yang didorong oleh faktor ekonomi. “Aspek-aspek Teologis dalam Konsep Maṣlaḥah Menurut al-Syātibī sebagai Terdapat dalam al-Muwāfaqāt. juz II (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. t. Oleh sebab itu. al-Najm (53): 38.Vol. Berbeda halnya dengan abortus yang dilakukan akibat ‘kehamilan yang tidak dikehendaki’ karena didorong oleh faktor- faktor lain. al-Isrā’ (17): 15. QS.44 Janin yang Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī’ah. Menurut anggapan mereka. sosial atau rasa malu karena kehamilan terjadi akibat hubungan diluar nikah (zina). Beberapa ulama dengan tegas mengharamkan abortus akibat hubungan seksual di luar nikah pada setiap tahap pertumbuhan janin. anak perempuan hanya akan menambah beban hidup. al-An‘ām (6): 164. No. QS. al-Zumar (39): 7. 1989). 2. 5-7 dan 297. QS. al-Nahl (16): 58-59. 308 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . dalam keadaan amat mendesak (darurat) seperti ini. 7-10. Fātir (35): 18. Kebiasaan ini dilakukan karena mereka merasa malu dan menjadi bahan ejekan masyarakat bila mempunyai anak perempuan. h. h. misalnnya faktor ekonomi. maka jelas hal tersebut tidak dibenarkan. Pendapat ini didasarkan atas firman Allah swt yang tidak membenarkan dosa seseorang dipikul kepada orang lain melainkan kembali kepada dirinya sendiri. Lihat juga Hamka Haq. dan QS. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab Jahiliah membunuh atau mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka sesaat setelah dilahirkan. 10. 44 Lihat misalnya QS. maka Islam tidak mentolerirnya. Allah mengabadikan kebiasaan buruk tersebut dan mengecam keras apa yang mereka lakukan terhadap anak perempuan.

Dosa yang dipikul ibunya tidak dapat dibebankan kepada janin yang tidak berdosa. yaitu larangan hubungan diluar nikah dan larangan menggugurkan kandungan. Dalam syariat. kejahatan abortus yang dilakukan dengan sadarsudah tentu mengandung konsekuensi hukuman bagi para pelakunya. secara sederhana dapat diperhadapkan dengan pernyataan Allah yang melarang membunuh anak karena takut miskin. Menganggapi hukuman yang harus diterima oleh pelaku abortus. al-jināyah adalah setiap perbuatan yang diharamkan oleh syariat. harta maupun yang lainnya. Wahbat al-Rakhīlī. maksiat atau segala kejahatan yang dilakukan oleh seseorang. Adapun abortus yang dilakukan atas pertimbangan khawatir tidak mampu mencukupi kebutuhan anak. 47 Al-Jināyah yang juga disebut al-jarīmah adalah dosa. tetap berhak untuk tumbuh dan lahir ke dunia. padahal Allah telah menjamin sumber- sumber rezki untuk si anak dan orang tuanya. 215. 46 QS.46 HUKUMAN BAGI PELAKU ABORTUS Berdasarkan pembahasan di atas. Dengan jelas Allah mengatakan bahawa tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang tidak disediakan sumber rezkinya oleh Allah. 1409 H/1989). al-Fiqh al- Islāmī wa Adillatuhu.. al-Isrā’ (17): 31. berarti dosanya pun berganda. al-jināyah dapat dibedakan atas pengertian umum dan khusus. menjadi korban hubungan seksual yang tidak sah. bila pengguguran tetap dilakukan untuk menutup rasa malu. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 309 . h. Zulfahmi Alwi. Bukan hanya itu. dengan menggugurkannya. penulis merujuk kepada ketetapan Rasulullah saw keatas 45 QS. diketahui bahwa abortus dalam pandangan Islam termasuk perbuatan keji dan merupakan suatu kejahatan (‫)اﻟﺠﻨﺎﯾﺔ‬. Abortus dalam Pandangan.. Secara umum.45 Membunuhnya adalah suatu dosa besar. yaitu dengan membunuh.47 Sebagaimana kejahatan lainnya. juz VI (Damaskus: Dār al-Fikr. Sedangkan al-jināyah secara khusus adalah kejahatan yang ditujukan kepada jiwa seseorang atau anggota badannya. maka yang bersangkutan telah melanggar larangan berganda. al-Hūd (11): 6. melukai atau memukul. baik terhadap jiwa.

juz VI (Beirut: Dār al-Fikr. dan Syams al-Dīn Muhammad bin Abī al-‘Abbās Ahmad bin Hamzah bin Syihāb al-Dīn al-Ramlī. 350-351. ‘Amrū bin ‘Alā menjadikan warna putih sebagai syarat bagi budak yang akan dijadikan bayaran.. diwajibkan membayar al-ghurrah49 berupa budak laki-laki atau budak perempuan. Kemudian wanita yang ditetapkan baginnya al-ghurrah meninggal dunia. Berdasarkan hadis di atas. juz V (Beirut: Dār al-Fikr. h. h.. seperti ‘Urwah. yang menyebabkan gugurnya janin dan matinya sang ibu. al-Hāwiī. Kasyf al-Qinā’ ‘an Matn al-Iqnā’. apalagi sulit mendapatkann budak yang berwarna putih. h.‫ﺼَﺒﺘَِﻬﺎ‬ َ ‫ْﺟ َﻬﺎ َوأَ ﱠن اﻟْ َﻌ ْﻘ َﻞ َﻋﻠَﻰ َﻋ‬ ِ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ َﻋَﻠْﻴ ِﻪ َو َﺳﻠﱠ َﻢ ﺑِﺄَ ﱠن ِﻣ َﲑاﺛـَﻬَﺎ ﻟَِﺒﻨِﻴﻬَﺎ َوزَو‬ َ Rasulullah saw menetapkan atas janin seorang wanita Bani Lahyān yang gugur dalam keadaan mati.. 49 Kata al-ghurrah memiliki arti dasar al-bayāḍ fī wajh al-fars (belang putih di dahi kuda). al-Māwardī. 369.. Mughnī al-Muhtāj ilā Ma‘rifat Ma‘ānī Alfāz al-Manhāj. 1386 H/1967). Ṣahīḥ . No. mayoritas ulama memandang pengguguran kandungan setelah ditiupkan ruh yang dilakukan dengan sengaja oleh si perempuan atau suaminya ataupun orang lain. Kadar al-ghurrah sama dengan lima ekor unta. 50 Al-ghurrah diartikan dengan budak laki-laki atau budak perempuan adalah pendapat mayoritas ulama. 1415 H/1993). Nihāyat al-Muhtāj ilā Syarh al- Manhāj. h. Syams al-Dīn Muhammad bin Muhammad al-Khatīb al-Syarbānī. Berdasarkan arti dasar tersebut. juz III.Vol.. Akan tetapi mayoritas ulama tidak menjadikannya sebagai syarat. Lihat Abū al-Ḥusain Muslim bin al-Hajjāj al Qusyairī al-Naisābūrī. 23.. Sebagian ulama. Abū Huriyrah menjelaskan:48 ‫ﲔ ْاﻣَﺮأٍَة ِﻣ ْﻦ ﺑ َِﲏ َﳊْﻴَﺎ َن َﺳ َﻘ َﻂ َﻣﻴﱢﺘًﺎ‬ ِ ِ‫ﺻﻠﱠﻰ اﻟﻠﱠﻪُ ﻋَﻠَْﻴ ِﻪ َو َﺳﱠﻠ َﻢ ِﰲ َﺟﻨ‬ َ ‫ُﻮل اﻟﻠﱠ ِﻪ‬ ُ ‫ﻗَﻀَﻰ َرﺳ‬ ‫ُﻮل اﻟﻠِﱠﻪ‬ ُ ‫َﺖ ﻓَـ َﻘﻀَﻰ َرﺳ‬ ْ ‫ﻀ َﻲ َﻋﻠَْﻴـﻬَﺎ ﺑِﺎْﻟﻐُﱠﺮِة ﺗـُ ُﻮﻓﱢـﻴ‬ِ ُ‫ﺑِﻐُﱠﺮٍة َﻋْﺒ ٍﺪ أ َْو أََﻣ ٍﺔ ﰒُﱠ إِ ﱠن اْﻟﻤَْﺮأََة اﻟ ِﱠﱵ ﻗ‬ . h. 1309.. 2. sedangkan diyat kematiannya (sang ibu) diberikan kepada as}abahnya. juz VII (Mesir: Muṣṭafā al-Bābī al-Halabī wa Awlāduh. Desember 2013: 293-321 pelaku pemukulan terhadap seorang wanita hamil dari Bani Lahyān. 10. dengan al-ghurrah berupa seorang hamba laki-laki atau seorang hamba perempuan. Tāwūs dan 310 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . Manṣūr Yūnus Idrīs al-Bahūtī. Dalam salah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. 212. maka Rasulullah saw menetapkan ahli warisnya kepada anak-anaknya dan suaminya.50 Kewajiban membayar al-ghurrah 48 Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abū Hurairah dalam berbagai versi. 1302 H/1982).

juz IV (t. 378. hukumannya menurut ijma’ ulama adalah qiṣaṣ.tp. Imam Mālik dan al- Hasan bin S{ālih. dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. 683-684. Lihat juga al-Syarbānī. Ibn Qudāmah. Perbedaan itu dapat dikalsifikasikan kedalam tiga golongan.). Akan tetapi pendapat tersebut ditolak oleh Ibn Qudāmah dengan mengatakan bahwa hadis yang digunakan sebagai dasar hukum terdapat cacat. Kewajiban membayar al- diyah hanya dibebankan kepada pelaku pembunuh alpa (al-qatl al-khaṭa’) atau semi sengaja (al-qatl syibh al-‘amd). sedangkan pembunuhan yang disengaja (al-qatl al-‘amd). hal tersebut dianggapnya sebagai wahm. menambahkan al-fars (kuda) dan al-bagl (keledai) disamping budak laki-laki dan budak perempuan sesuai dengan artinya. dukun. Zulfahmi Alwi. dokter ataupun lainnya. juz IX. Golongan pertama. Bila diyat tersebut diukur dengan selain unta. Abortus dalam Pandangan. al-Mughnīwa. 540-541. Kecacatannya terletak pada ‘Īsā bin Yūnus. Majmū‘āt Fatāwā Ibn Taimiyyah.. h. Untuk memperkuat pendapat mereka. para ulama berbeda pendapat tentang kriteria janin yang dibebankan membayar al-ghurrah bila digugurkan. Imam Mālik antara lain memberikan argumen yang menqiaskan hukuman bagi pembunuhan terhadap anak dan hukuman terhadap janin. h. Mughnī. h... 51 Al-Diyah dalam istilah agama adalah nama jenis pertanggungjawaban berupa harta yang dibebankan (kepada pelaku) akibat kejahatan yang dilakukan terhadap manusia atau anggota badannya. t. Jika pembunuhan terhadap seorang anak diwajibkan membayar diyat. baik dilakukan oleh sang ibu sendiri. tanpa ada alasan yang dibenarkan dalam agama. Fiqh al-Imām Abī Ṡaur (Beirut: Mu’assasat al-Risālah. dimana dia meriwayatkan sendiri hadis tersebut tanpa memperoleh dukungan dari siapapun... Adapun diyat al-qatl terhadap muslim merdeka. memandang bahwa kewajiban membayar al- ghurrah dibebankan kepada pelaku abortus sejak terjadi kehamilan. Menurut al-Māwardī.. tanpa membedakan usia mereka (kecil atau besar). 1403 H/1983).th.. Taqī al-Dīn bin Taimiyyah. h. maka ijma’ ulama menetapkannya senilai 100 ekor unta. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 311 . Ibrāhīm bin Khālid bin Abī al-Yamān al- Baghdādī. maka Mujāhid. Oleh Ibn Qudāmah. merupakan denda atau diyah51 al-janīn yang paling sempurna bagi janin yang telah lengkap bentuk fisiknya.: Dār al-Fikr. 182. yakni al-Sya’bī..

53 Abū Hanīfah menjadikan bentuk fisik janin tersebut sebagai pedoman dalam menentukan hukuman bagi pelakunya. bahwa sesungguhnya kehidupan manusia berada di antara dua keadaan. yakni Abū Hanīfah. Kewajiban al-ghurrah hanya dibenbankan kepada pelakunya. 330. Golongan ketiga adalah golongan yang membebaskan kewajiban membayar al-ghurrah bagi pelaku abortus.. 54 Al-Māwardī.54 52 Al-Māwardī. maka abortus terhadap janin yang belum sempurna bentuknya. Ibid. Pertama. Kitāb al-Fiqh.. h.. 326. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh al-Syāfi’ī dengan mengemukakan dua pertimbangan sebagai alasannya. 312 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . Jika abortus dilakukan terhadap janin yang telah sempurna bentuk fisiknya dibebankan membayar al-ghurrah. maka pelakunya tetap diberi hukuman. Akan tetapi. Ibid. Bandingkan dengan al-Jazīrī.Vol. bila janin tersebut telah berbentuk manusia sempurna.. diberikan hukuman yang lebih ringan dari al-ghurrah. jika janin belum sempurna bentuknya. 208-209. berpendapat bahwa jika abortus dilakukan terhadap janin yang belum sempurna bentuknya. maka demikian pula halnya dengan keadaan janin pada tahap awal kejadiannya.. No. h. Desember 2013: 293-321 sudah sepantasnya ketentuan al-ghurrah pun diterapkan bagi pelaku abortus. baik pada awal kehamilan maupun akhir. al-Māwardī. yaitu antara keadaan pada tahap awal penciptaannya dan keadaan setelah kematiannya.. ibid. Jika keadaannya setelah kematian tidak memperoleh konsekuensi hukum.. manakala janin yang digugurkan telah sempurna bentuk fisiknya. sedangkan janin yang belum mencapai kesempurnaannya tidak terdapat larangan di dalamnya dan masih dianggap sebagai al-nuṭfah. Kedua. al-Hāwiī. 2.52 Golongan kedua.. 10. bahwa adanya kewajiban membayar denda muncul karena adanya larangan (keharaman). 209. h. h. 53 al-Jazīrī. maka pelakunya dibebankan membayar al-ghurrah.

Para ulama juga memperbincangkan konsekuensi hukuman bagi pelaku abortus. Kewajiban membayar al-kaffārah ini antara lain dikemukan oleh al-Māwardī. ulama mazhab al-Syāfi‘ī dan Hanābilah. h. h.. Sedangkan ulama mazhab al-Hanafī dan al-Mālikī hanya menganggap al- kaffārah sebagai sunnah saja. apabila sang ibu dengan sengaja menggugurkan kandungannya - misalnya dengan meminum obat atau memukul perutnya dan lahir dalam keadaan hidup .baik laki-laki maupun perempuan. yaitu janin yang digugurkan dalam keadaan mati dan janin yang digugurkan dalam keadaan hidup.. 182 57 Al-Māwardī. diganti dengan puasa dua bulan berturut-turut. Ibn Taimiyyah. al-Syarbānī.. hukuman qisas lebih tepat diberikan kepada pelakunya bila kematian janin lebih dominan disebabkan oleh tindakan pelaku. 208. Bayān.55 Sebagian ulama menambahkan kewajiban membayar al-kaffārah. Kewajiban membayar al-kaffārah dimaksudkan sebagai hukuman agama (‫ )اﻟﺠﺰاء اﻟﺪﯾﻨﻲ‬sedangkan membayar al-ghurrah sebagai hukuman pidana (‫)اﻟﺠﺰاء اﻟﺠﻨﺎﺋﻲ‬. Wahbat al-Rakhīlī. h.. h. Mughnī. h....56 disampinng al-ghurrah. 362. 364- 365. h. al-Azhar al-Syarīf. 691-692. 56 Kewajiban membayar al-kaffārah adalah dengan memerdekakan budak. Majmū‘āt.. 368-369. Bila tidak mampu. yaitu al-ghurrah. Zulfahmi Alwi. Apabila pukulan tersebut hanya ditujukan kepada tangan atau kaki sang ibu. Lihat misalnya Wahbat al-Rakhīlī. maka dia dijatuhi kewajiban membayar diyat al-janin bagi pelakunya.. Al-Baghdādī.... Hunafa: Jurnal Studia Islamika 313 . ibid. Abortus dalam Pandangan. al-Hāwī... al-Azhar al-Syarīf. maka pelakunya hanya 55 Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Abū Ṡaur dan al-Syarbānī.. Menurut al-Mālikī.. maka diganti dengan memberi makan atau pakaian kepada 60 orang miskin. Fiqh al-Imām. Dalam hal ini keadaan janin tersebut dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok.. h. dengan melihat keadaan janin setelah digugurkan.57 Berbeda halnya dengan janin yang digugurkan dalam keadaan hidup kemudian mati karena kejahatan yang dilakukan dengan sengaja... seperti memukul perut atau punggung sang ibu. Dengan tetap berpedoman kepada hadis di atas... 256-257 . Bila inipun tidak mampu dilakukan. ibid. al-Fiqh al-Islāmī.

208-209 60 Ijma ulama menetapkan diyat pembunuhan yang disengaja dengan 100 ekor unta dan berbeda pendapat jika diukur dengan selain unta...Vol.. Kitāb al-Fiqh.61 Tampaknya ulama Mazhab al-Zāhirī menyamakan status janin yang telah diberi nyawa dan lengkap bentuk fisiknya dengan manusia sempurna. Apabila janin yang digugurkan dengan sengaja berjumlah dua buah. sebagaimana pula dikatakan al-Syāfi’ī dan al-Hanbalī.. maka bagi pelakunya diwajibkan membayar dua al-ghurrah dan demikianlah seterusnya. maka kewajiban itupun akan berlipat ganda sesuai dengan jumlah janin yang digugurkan. baik janin dalam keadaan hidup maupun mati. jika redaksi matan hadis 58 al-Azhar al-Syarīf. Desember 2013: 293-321 dibebankan membayar denda dan bukan al-ghurrah... Sedangkan ulama mazhab al-Hanafī. Bagi para ulama yang mewajibkan membayar al-kaffārah.. al-Jazīrī. jika pukulan tersebut mengakibatkan kematian janin dan ibunya. 2. 24.. No. h. sehingga hukuman bagi pelakunya disamakan dengan hukuman kejahatan pembunuhan dengan sengaja (‫)اﻟﻘﺘﻞ اﻟﻌﻤﺪ‬. secara umum para ulama melontarkan pendapat mereka masing-masing dengan berpedoman kepada hadis di atas atau yang semakna disamping nas Alquran. ibid. Al-Baghdādī. h. h. 314 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . Lebih dari itu. Memperhatikan perbendaan pandangan di atas. apabila janin yang digugurkan telah diberi nyawa dan berbentuk manusia sempurna.. 684. h. al-Hāwī.. Refleksi.. Fiqh al-Imām. 61 Ahmad Azhar Basyir. 366. mewajibkan membayar al-ghurrah. 327. maka bagi pelakunya dibebankan membayar diyat al-nafs atas kematian sang ibu dan al-ghurrah atas kematian janin. 59 Lihat misalnya Al-Māwardī.58 Hukuman terhadap pelaku abortus akan semakin meningkat dan berlipat ganda sesuai dengan jumlah janin yang digugurkan. h... karena penyebab dominan kematian janin bukan akibat pukulan. 10.59 Pernyataan lebih tegas dikemukan oleh ulama Mazhab al- Zāhirī dengan mengatakan bahwa pelaku abortus diancam hukuman qisas atau dengan diyat al-nafs60jika dimaafkan. Akan tetapi.

yaitu qisas. baik laki-laki maupun perempuan. Abortus dalam Pandangan. menurut hemat penulis.. Disamping itu. sementara keberadaan manusia di alam nyata sudah pasti. praktek perbudakan sendiri sudah tidak ditemukan dalam kehidupan sekarang dan tidak dibenarkan lagi keberadaannya dalam Islam. sebagaimana telah dijelaskan di atas. 216. sementara sebagian lainnya memandang dari sudut pertumbuhan janin pada masa yang akan datang sehingga mereka mengkategorikannya sebagai jiwa yang terpisah dari ibunya. Akan tetapi. berdasarkan vonis pengadilan.. Sebagian ulama menganggap janin sebagai bagian dari anggota tubuh sang ibu. h. Hal itu karena janin yang digugurkan kamungkinannya untuk hidup di alam nyata masih bersifat relatif. tersebut dianalisis lebih jauh. al-Fiqh al-Islāmī. hukuman bagi pelaku abortus tidak dapat disamakan dengan hukuman bagi pelaku pembunuhan manusia dengan sengaja. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 315 . Itu berarti ancaman hukuman al-ghurrah dapat diterapkan bagi pelaku abortus secara mutlak pada setiap tahap kejadian manusia. secara implisit dapat dipahami bahwa ancaman hukuman al-ghurrah berlaku secara umum. agaknya istilah tersebut lebih tepat diartikan dengan pembayaran sejumlah uang sebagai denda. Jika dipandang dari sisi korbannya... Para ulama sepakat menetapkan kadar al-ghurrah dengan seorang hamba sahaya laki-laki atau hamba sahaya perempuan. Ketentuan itu tidak dibatasi pada tahap tertentu dari proses kejadian manusia atau jenis kelamin janin. 62 Pada sisi lain.62 Oleh karena itu.. Hal itu didasarkan atas fleksibilitas ajaran Islam yang berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran dan peradaban manusia. Lihat Wahbat al- Rakhīlī. janin itu sendiri dipermasalahkan hukum keberadaannya oleh sebagian ulama. qisas hanya dapat diterapkan kepada pelaku pembunuhan sengaja terhadap manusia atau janin yang telah lahir dengan selamat. jika al-ghurrah diaplikasikan dalam kehidupan kontemporer. Zulfahmi Alwi.

baik langsung maupun tidak langsung. h. apabila abortus dilakukan dengan sengaja dan ditujukan kepada janin. maka dalam hal ini keluarga pelaku tidak dibebankan apapun karena tanggungan itu hanya dibebankan kepada pelakunya sendiri. dalam merealisasikan kejahatan tersebut. jika kejahatan tersebut dilakukan dengan sengaja terhadap si ibu. Kepada pelakunya dibebankan membayar al-kaffārah. Terlepas dari pandangan para ulama di atas. Sementara itu... Karenanya. tetapi alpa terhadap janin. Kitāb al-Fiqh. 10. h. sungguhpun mereka sepakat dengan jumhur ulama bahawa kejahatan terhadap janin bukanlah kejahatan disengaja. keluarga pelaku dibebankan membayar diyat atas jiwa si ibu dan al- ghurrah atas si janin. Pandangan ini didasarkan atas keterlibatan mereka. atau janinnya saja yang meninggal. Pendapat serupa dikemukakan oleh al- Māwardī bahwa kewajiban membayar al-ghurrah dibebankan kepada keluarga pelaku karena mereka dianggap terlibat secara tidak langsung dalam merealisasikan kejahatan tersebut. Namun demikian. baik dokter.Vol. No. dukun ataupun ibu janin itu sendiri. 208-209 316 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . jika abortus tersebut menewaskan janin dan ibunnya. Pertama. Allah sendiri 63 Al-Jazīrī. 2. 326. Desember 2013: 293-321 Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang menanggung denda kejahatan pengguguran. Kedua.63 Ulama Mazhab al-Hanbalī melihat hal tesebut dari dua sudut pandang. maka kejahatan itu dianggap sebagai kejahatan yang disengaja atau kejahatan semi sengaja. ulama al-Mālikī berpendapat bahwa al-ghurrah itu diwajibkan kepada pelaku karena kesamaannya dengan diyat pada kejahatan yang disengaja. ada kemungkinan sengaja terhadap ibunya. penulis berpendapat bahwa kewajiban membayar diyat al- janīndibebankan kepada pelaku yang terlibat.. suster. Ulama al-Syāfi’ī dan ulama al-Hanafī yang memandang abortus sebagai kejahatan pembunuhan alpa (‫ )اﻟﻘﺘﻞ اﻟﺨﻄﺄ‬atau kejahatan semi sengaja ( ‫اﻟﻘﺘﻞ ﺷﺒﮫ‬ ‫)اﻟﻌﻤﺪ‬... Lihat al-Māwardī.. berpendapat bahwa denda tersebut dibebankan kepada keluarga pelaku (‫ )ﻋﺎﻗﻠﺔ اﻟﺠﺎﻧﻲ‬bukan kepada pelaku (‫)اﻟﺠﺎﻧﻲ‬. al-Hāwī.

juz VII. Kewajiban menyelesaikan tanggungan diyat al-janīn baru dapat dibebankan kepada keluarga pelaku abortus.65 Ketentuan ini dapat diaplikasikan kepada al- ghurrah sebagai kejahatan pengguguran.. Wahbat al-Rakhīlī.. maka dia wajib membayar al- ghurrah dan tidak berhak mmenerima apa-apa meskipun dia termasuk ahli waris janin. telah menandaskan larangan untuk saling tolong menolong dalam kejahatan. Kasyf al-Qinā’ ‘an . maka jumhur ulama lebih dekat dengan pendapat yang menyamakan ahli waris al-ghurrah dengan ahli waris diyat al-qātil.. sementara kejahatan yang tidak disengaja dikenakan kepada keluarga pelaku. h. 331. melakukan kejahatan terhadap wanita hamil yang mengakibatkan gugurnya kandungan.. h... juz II (Indonesia: Dār Ihhyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.... al-Fiqh al-Islāmī. h. 363. Bidāyat al-Mujtahid. Al-Diyah atau denda kejahatan pembunuhan disengaja diwajibkan kepada pelakunya sendiri. 364.64 Disamping itu.66 Artinya. al-Mughnīwa.67 64 QS. 66 Ibn Rusyd. Akan tetapi. 312. al-Fiqh al-Islāmī.. jika pengguguran itu dilakukan dengan tidak sengaja.. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 317 .. Sejalan dengan matan hadis di atas. h. misalanya pengguguran yang dilakukan untuk menutup malu akibat perzinahan. al-Bahūtī.... 65 Wahbat al-Rakhīlī.. 67 Al-Jazīrī. 805.). Jika unsur kesengajaan lebih dominan daripada unsur ketidaksengajaan dalam suatu kejahatan pengguguran. Zulfahmi Alwi. dan Ibn Qudāmah.. al-ghurrah menjadi hak janin yang harus dibagikan kepada ahli warisnya. h.. 24. al-Jazīrī. kecuali jika diantara mereka ada yang terlibat. 384. h. maka tidak berlebihan jika kewajiban al-ghurrah pun dibebankan kepada seluruh pelaku yang terlibat didalamnya dan bukan keluarga pelaku. al-Muhalā. Kitāb al-Fiqh. tampaknya ada kesamaan dari segi kewajibannya kepada pelaku atau keluarga pelaku. bila al-ghurrah dianalogikan dengan al- diyah. al-Mā’idah (5): 2.. Abortus dalam Pandangan.. jika perempuan itu sendiri yang melakukan abortus. Ibn Hazm.th. h. t.

th. T. Jhon M.: al-Matba’at al-Azhar. Basyir.“ Disertasi. 318 Hunafa: Jurnal Studia Islamika . 1994. 2.. Al-Wajīz fī Īdhāh Qawā’id al-Fiqh al-Kulliyah.th. Hamka. t. Echols. Al-Azhar al-Syarīf. S{ahīh al- Bukhārī. t. DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’ān al-Karīm. dkk. Abū Zahrah. “Aspek-aspek Teologis dalam Konsep Maslahat menurut al-Syatibīsebagai terdapat dalam al-Muwafaqat. Uṣūl al-Fiqh. Ahmad Azhar. Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Jakarta: Proyek Penggandaan Kitab Suci Al- Quran Departemen Agama RI. 1994. 10. Abū ‘Abdullāh Muhammad bin Ismā‘īl. Seputar FilsafatHukum. Muhammad Sidqībin Ahmad. Al-Quran dan Terjemahnya.tp. Al-Burnū. Desember 2013: 293-321 Demikanlah Islam sangat menghormati eksistensi manusia sejak awal penciptaannya. Jakarta: PT.th.Vol.p. Ibrāhim. Al-Ghazālī.th. Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.tp. Penganiayaan terhadp janin dengan menghentikan pertumbuhannnya menjadi manusia sempurna tanpa alasan hukum tidak dibenarkan dalam agama. Politik dan Ekonomi. t. 1990. Perbuatan tersebut dikategorikan sebagai suatu kejahatan. t. t. Beirut: Mu’assasat al-Risālah.: Dar al-Fikr al-‘Arabī. dan Hasan Sadily. 1404 H/1983. Bandung: Mizan.th. Indonesia: Maktabat Dahlan. Gramedia. Haq. Muhammad. T. Al-Bukhārī. 1989. Kamus Inggris-Indonesia. T. No.. Departemen Agama Republik Indonesia. T. Anīs. Bayān li al-Nās. Refleksi Atas Persoalan Keislaman.: t.tp.: Dār Ihyā’ al-Kutub al- ‘Arabiyyah. sementara pelakunya diancam dengan hukuman yang sangat berat. Al-Mu’jam al-Wasīṭ.tp.

Mu’jam Maqāyīs al- Lugah. Obstetri Patalogi. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi. Hāsyiyah Ibn ‘Ābidīn. 1394 H. Mesir: Dār al-Mis}riyyah. Muhammad bin Mukarram. 1410 H/1990. Eutanasia. Bayi Tabung. 1968. t. Ali Ghufran dan Adi Heru Sutomo. Al- Hāwīal-Kabīr. An Arabic-Englis Lexicon.tp.. Ibn Qudāmah.: Dār al-Fikr.. Abortus dalam Pandangan. t. International Family Heart Encylopedia. T.. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. T.th. Transplantasi Ginjal dan Operasi Kelamin dalam Tinjauan Medis. Mesir: Maktabat al-Jumhuriyyat al-‘Arabiyyah. 1414 H/ 1994. Al-Muhallā. 1971. Muwaffiq al-Dīn AbīMuhammad ‘Abdillāh bin Ahmad. Al-Jazīrī. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 319 . Abū al-Husayn Ahmad bin Fāris. ‘Abd al-Wahhāb. 1386 H/1966. T. Ibn Zakariyā.: Dār al-Fikr. Ibn Hazm. Edwardd William. Lisān al-Arab. Beirut:Dār al-Fikr. Rustam. Ibn ‘Ābidīn. Muhammad Amīn. Abū al-Hasan ‘Alībin Muhammad bin Habīb.th. Mesir: Mus}tafā al-Bābī al-Halabī.tp. Kitāb al-Fiqh ‘alā al-Mazāhib al- Arba’ah./1979. Heller. 1993. ‘Ilm Us}ūl al-Fiqh. ‘Abd al-Rahmān. Lane. Khallāf. 1990. Al-Māwardī. Lebanon: Librarie Du Liban. Martin. 1412 H/1992.th. Zulfahmi Alwi. Abū Muhammad ‘Alībin Ahmad bin Sa’īd. London: Orbis Publising Ltd. Mukti. Ibn Manzhūr. Ibn Taimiyah. t. Mochtar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.: Maktabat al- Da’wat al-Islāmiyyah. Hukum dan Agama Islam. Taqīal-Dīn. Yogyakarta: Aditya Media. Abortus. 1391 H/1971. Beirut: Dār al-Fikr. Al-Mughnīwa al-Syarh al-Kabīr ‘alā Matn al- Mughnī. Majmū’āt Fatāwā Ibn Taymiyah.tp.

1990.th. 10. Mughnīal-Muhtāj ilā Ma’rifat Ma’ānī Alfāz al-Manhāj. Ramli. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 1412 H/1992. Yūsuf.Al-Muwāfaqāt fīUs}ūl al-Syarī’ah. Beirut: Dār al-Fikr. Wahbah.th. Indonesia: Dār Ihyā’ al-Kutub al- ‘Arabiyyah. Sayyid. Bidāyat al-Mujtahid. Abū Ishāq. FīZhilāl al-Qur’ān. Mahmūd. 1966. Mesir: Muṣṭafā al-Bābīal-Halabī wa Awlāduh. (ed. Hassan. juz IV. Al-Islām ‘Aqīdah wa Syari’ah.Vol. 1409 H/1989. Cipta Adi Pustaka. David L. E. Rusyd. Syams al-Dīn Muhammad bin Abīal-‘Abbās Ahmad bin Hamzah bin Syihāb al-Dīn. 1386 H/1967. 1415 H/1993. Syaltūt. Ibn. dkk. Damaskus: Dār al-Fikr. 2. New York: The Macmillan Company and The Free. Nihāyat al-Muhtāj ilā Syarh al- Manhāj. Sills. Al-Qardhāwī. Al-Ramlī. Kairo: Dār al- Qalam. Mesir: al- Maktabat al-Tijāriyyat al-Kubrā’. Med. Kamus Kedokteran. Sadily. Abū al-Husayn Muslim bin al-Hajjāj al-Qusyairī. St. 1992. International Encyclopedia of the Social Sciences. Beirut: Maktab al-Islāmī. dkk. Indonesia: Maktabah Dahlan. Jakarta: PT. Ensiklopedi Nasionnal Indonesia. Al-Syātibī. Jakarta: Djambatan. ṢahīhMuslim. Ahmad dan K. t. 1972. No. Nugroho. Ensiklopedi Indonesia. Syams al-Dīn Muhammad bin Muhammad al-Khatīb. Desember 2013: 293-321 Al-Naisābūrī. Al-Halāl wa al-Harām fī al-Islām. Qutb.th. 1978. t. Al-Fiqh al-Islāmīwa Adillatuh. Al-Rakhīlī. t.). Kairo: Dār al-Masyrūq. 1980. Pamoentjak. al-Syarbānī. 320 Hunafa: Jurnal Studia Islamika .

Zulfahmi Alwi.A.548. Abū Isā Muhammad bin ‘Īsā bin Saurat.S. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Zuhdi. 1993. Masail Fiqhiyah. Indonesia: Maktabat Dahlan.. t. 1980. jilid XIV. h. Ahmad. U. Hunafa: Jurnal Studia Islamika 321 . Sunan al- Tirmizī. Al-Syirbāsī.. Al-Tirmizī. The Encyclopedia Americana. 1990.: Americana Corporation. Yas’alūnaka fī al-Dīn wa al-Hayāh. Abortus dalam Pandangan. Jakarta: Balai Pustaka. Beirut: Dār al-Jayl. Jakarta: Haji Masagung. Masjfuk. KamusBesar Bahasa Indonesia.th.