You are on page 1of 14

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DI RUANG PERINATOLOGI RSUD BANGIL
PASURUAN

Oleh :

Gabriel Terryus Christie

1603.14901.084

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN WIDYAGAMA HUSADA

MALANG

2017

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. infeksi menular seksual. TORCH(Toxoplasma. c) Penyalahgunaan obat. Rubella. 2) Ibu a) Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. HIV/AIDS. . BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction) (Pudjiadi. seperti anemia. infeksi kandung kemih. dkk. bahkan dapat menggangu kelangsungan hidupnya (Prawirohardjo. ETIOLOGI Beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan lahir rendah (Proverawati dan Ismawati. LAPORAN PENDAHULUAN 1.. PENGERTIAN Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bila berat badannya kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). b) Aktivitas fisik yang berlebihan c) Perkawinan yang tidak sah. 2010). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru sehingga dapat mengakibatkan pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan. eklamsia. preekelamsi berat. Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus). danpenyakit jantung. hipertensi. Hal ini dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang kurang. 3) Keadaan sosial ekonomi a) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. c) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya. b) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun). merokok. 2006). perdarahan antepartum. yaitu: a. 2010). 2. Faktor ibu 1) Penyakit a) Mengalami komplikasi kehamilan. konsumsi alkohol. b) Menderita penyakit seperti malaria.

gawat janin. a. padahal bayi BBLR kebutuhan nutrisinya lebih tinggi karena target pencapaian BB nya lebih besar. infeksi janin kronik (inklusi sitomegali. d. 3. rubella bawaan). Hipoglikemia menyebabkan bayi kejang terutama pada bayi BBLR Prematur. anemia dan lain-lain. Faktor janin Faktor janin meliputi : kelainan kromosom. Bayi preterm mempunyai lebih sedikit simpanan garam empedu. Kehilangan panas ini akan meningkatkan kebutuhan kalori. c. Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. dan kehamilan kembar. c. hamper semua lemak. Faktor lingkungan Lingkungan yang berpengaruh antara lain : tempat tinggal di dataran tinggi. kalsium. koordinasi antara refleks hisap dan menelan belum berkembang dengan baik sampai kehamilan 32-34 minggu. e. serta terpapar zat beracun. Penundaan pengosongan lambung dan buruknya motilitas usus terjadi pada bayi preterm. glikogen dan mineral seperti zat besi. solutio plasenta. yang diperlukan untuk mencerna dan mengabsorpsi lemak dibandingkan dengan bayi aterm. Menurunnya simpanan zat gizi padahal cadangan makanan di dalam tubuh sedikit. b. Beberapa faktor yang memberikan efek pada masalah gizi. PATOFISIOLOGI Semakin kecil dan semakin premature bayi itu maka akan semakin tinggi resiko gizinya. Potensial untuk kehilangan panas akibat luas permukaan tubuh tidak sebanding dengan BB dan sedikitnya lemak pada jaringan di bawah kulit. Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. terkena radiasi. sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik). . Dengan demikian bayi preterm mempunyai potensi terhadap peningkatan hipoglikemia. b. d. plasenta previa. fosfor dan seng di deposit selama 8 minggu terakhir kehamilan. ketuban pecah dini. Paru yang belum matang dengan peningkatan kerja napas dan kebutuhan kalori yang meningkat. Faktor plasenta Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion.

Preterm: sama dengan bayi prematuritas murni b. Lingkar kepala kurang dari 33 cm e. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan jaringan lemak masih kurang p. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu b. mengakibatkan refleks hisap. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhanya. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakanya lemah n. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang j. Alat kelamin : pada bayi laki – laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang f. Batas dahi dan ujung rambut kepala tidak jelas f. Panjang kurang dari 45 cm c.4. Term dan posterm: 1) Kulit berselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada 2) Kulit pucat atau bernoda mekonium. MANIFESTASI KLINIS Menurut Jumiarni (2006). Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm d. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm g. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm h. Lingkar dada kurang dari 30 cm d. Berat kurang dari 2500 gram b. kuat. sehingga seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga k. untuk bayi perempuan klitoris menonjol. m. Berat badan sama dengan atau kerang dari 2500 gr c. Gambaran Klinis atau ciri. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu . Kuku panjangnya belum melewati ujung jarinya e. Rambut lanugo masih banyak i. kering keriput tipis 3) Jaringan lemak dibawah kulit tipis 4) Bayi tampak gesiy. telapak kaki halus l. dan aktif 5) Tali pusat berwarna kuning kehijauan Tanda dan gejala bayi prematur menurut Surasmi ( 2005) adalah : a. labia minora tertutup oleh labia mayora. manifestasi klinis BBLR adalah sebagai berikut: a. testis belum turun ke dalam skrotum. Fungsi syaraf yang belum atau kurang matang. o. menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisanya lemah. Tumit mengkilap.ciri Bayi BBLR : a. Verniks tidak ada atau kurang Menurut Proverawati (2010).

Kepala lebih besar h. Kulit tipis transparan. Ekstermitas : paha abduksi. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea l. telapak kaki halus. lemak kurang i. n. sendi lutut/ kaki fleksi-lurus. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya j. Otot hipotonik lemah merupakan otot yang tidak ada gerakan aktif pada lengan dan sikunya k. rambut lanugo banyak. Kepala tidak mampu tegak. tumit mengkilap.g. Pernapasan 40 – 50 kali/ menit dan nadi 100-140 kali/ menit . fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemah. m.

PATHWAYS (Proverawati. 2010) .5 5.

sehingga ASI-lah yang paling dahulu diberikan. Oleh karena itu. sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. c.6. PENATALAKSANAAN Penanganan dan perawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah menurut Proverawati (2010). e. karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik. Pengawasan Nutrisi atau ASI Alat pencernaan bayi premature masih belum sempurna. Ikterus . dan permukaan badan relatif luas. ASI merupakan makanan yang paling utama. dapat dilakukan tindakan sebagai berikut: a. dan pembentukan antibodi belum sempurna. Oleh karena itu. Reflek menghisap masih lemah. Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik. Mempertahankan suhu tubuh bayi Bayi prematur akan cepat kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Bila belum memiliki inkubator. Penimbangan Ketat Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Pencegahan Infeksi Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi. Permulaan cairan yang diberikan sekitar 200 cc/ kg/ BB/ hari. oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat. bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. kemampuan leukosit masih kurang. bayi prematuritas dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas atau menggunakan metode kangguru yaitu perawatan bayi baru lahir seperti bayi kanguru dalam kantung ibunya. sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. Sedangkan kebutuhan protein 3 sampai 5 gr/ kg BB (Berat Badan) dan kalori 110 gr/ kg BB. b. metabolismenya rendah. karena daya tahan tubuh yang masih lemah. lambung kecil. upaya preventif dapat dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas atau BBLR. enzim pecernaan belum matang. d. tetapi dengan frekuensi yang lebih sering. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung.

Tes kocok (shake test). kalau perlu dan tersedia faslitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah. harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur. dianjurkan untuk bayi kurang bulan merupakan tes pada ibu yang melahirkan bayi dengan berat kurang yang lupa mens terakhirnya. glokoa darah. Darah rutin. d. Ikterus dapat diperberat oleh polisetemia. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Pantiawati (2010) Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain : a. c. Foto dada ataupun babygram merupakan foto rontgen untuk melihat bayi lahir tersebut diperlukan pada bayi lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau dapat atau diperkirakan akan terjadi sindrom gawat nafas. memar hemolisias dan infeksi karena hperbiliirubinemia dapat menyebabkan kernikterus maka warna bayi harus sering dicatat dan bilirubin diperiksa bila ikterus muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat. KONSEP KEPERAWATAN . Pada penyakit ini tanda. 7. f. Pemeriksaan skor ballard merupakan penilaian yang menggambarkan reflek dan maturitas fisik untuk menilai reflek pada bayi tersebut untuk mengetahui apakah bayi itu prematuritas atau maturitas b.tanda gawat pernaasan sealu ada dalam 4 jam bayi harus dirawat terlentang atau tengkurap dalam inkubator dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobserfasi usaha pernapasan. Hipoglikemi Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir rendah. g. Pernapasan Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum matur dan bilirubin tak berkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari berlalu .

Riwayat penyakit keluarga Adanya penyakit tertentu yang menyertai kehamilan seperti DM. bayi kedinginan atau suhu tubuh rendah c.hidramnion f. Riwayat penyakit sekarang d.TB Paru. kemudian menurun sampai 40X/menit d) Suhu : kurang dari 36. SC umur kehamilan antara 24 sampai 37 minnggu . kemudian menurun sampai 120- 140X/menit c) RR : 80X/menit pada menit. dan 7-10 normal e. 4 sampai 6 kegawatan sedang. tumor kandungan. kista.berat badan kurang atau sama dengan 2. Pemeriksaan 1) Pemeriksaan Umum a) Kesadaran compos mentis b) Nadi : 180X/menit pada menit.5 C . 0 sampai 3 menunjukkan kegawatan yang parah. Lahir spontan. Keluhan utama Menangis lemah. ADL 1) Pola Nutrisi : reflek sucking lemah.kehamilan ganda. Riwayat penyakit dahulu Ibu memliki riwayat kelahiran prematur. daya absorbsi kurang atau lemah sehingga kebutuhan nutrisi terganggu 2) Pola Istirahat tidur: terganggu oleh karena hipotermia 3) Pola Personal hygiene: tahap awal tidak dimandikan 4) Pola Aktivitas : gerakan kaki dan tangan lemas 5) Pola Eliminasi: BAB yang pertama kali keluar adalah mekonium. Biodata Terjadi pada bayi prematur yang dalam pertumbuhan di dalam kandungan terganggu b. PENGKAJIAN a. volume lambung kurang. hipertensi g.1.500 gram. apgar pada 1 sampai 5 menit. produksi urin rendah h. reflek menghisap lemah.

panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm. warna. suhu lingkungan. BAB (jumlah. mengenggam. dan PH). ekstensi. kulit mengkilat).2) Pemeriksaan Fisik a) Sistem sirkulasi/kardiovaskular : Frekuensi dan irama jantung rata- rata 120 sampai 160x/menit. tanda lahir. posisi atau sikap bayi fleksi. lanugo pada punggung dan wajah. peristaltik usus. warna. tulang kartilago telinga belum tumbuh dengan sempurna. karakteristik. terkelupas. refleks moro. menghisap. pemasangan infus). warna kulit bayi sianosis atau pucat. tekstur dan turgor kulit kering. halus. urin (jumlah. berat jenis. muntah (jumlah. keadaan rambut tipis. (Pantiawati. bunyi pernapasan adalah stridor. konsistensi dan bau). frekuensi dan keteraturan pernapasan rata-rata antara 40-60x/menit. lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30cm. interkostal. d) Sistem genitourinaria : Abnormalitas genitalia.. tidak menggantung dan testis belum turun. pengisisan capilary refill (kurang dari 2- 3 detik). ukuran lingkar kepala kurang dari 33 cm. sedangkan pada laki-laki skrotum belum berkembang. bunyi jantung (murmur/gallop). respon pupil. lembut dan lunak. f) Sistem thermogulasi (suhu) : Suhu kulit dan aksila. pada wanita klitoris menonjol. b) Sistem pernapasan : Bentuk dada barel atau cembung. halus. hipospadia. lingkar perut. c) Sistem gastrointestinal : Distensi abdomen (lingkar perut bertambah. h) Pemeriksaan fisik : Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram. lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm. lingkar lengan atas. warna. nilai APGAR pada menit 1 dan ke 5. plantar. penggunaan otot aksesoris. e) Sistem neurologis dan musculoskeletal : Gerakan bayi. refleks menelan dan mengisap yang lemah. tanda iritasi. lesi. g) Sistem kulit : Keadaan kulit (warna. wheezing atau ronkhi. 2010) . kulitkeriput. cuping hidung. konsistensi dan bau).

keterbatasan perkembangan otot. Resiko gangguan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna nutrisi karena imaturitas. keterbatasan perkembangan otot. Sianosis (-) .2. penurunan energi/kelelahan. Observasi pola Nafas. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Proverawati (2010). . Ronchi (-) . Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2. Observasi frekuensi dan bunyi nafas . penurunan energi/kelelahan. ketidakseimbangan metabolik. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah. . Beri O2 sesuai program dokter . . b. RENCANA TINDAKAN a. Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi. Hipotermi berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan. diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada BBLR adalah: a. RR 30-60 x/mnt . d. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang kurang. . 3. ketidakseimbangan metabolik. Sesak (-) . c. 1) Tujuan: pola napas menjadi efektif 2) Kriteria hasil: . Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan. Whezing (-) 3) Rencana tindakan: . Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya . . Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien. Observasi adanya sianosis. .

Berat badan meningkat 15 gr/hr .b. Observasi reflek hisap dan menelan. . Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral . Tempatkan bayi pada incubator. Observasi adanya sianosis. Kulit hangat. . . . Timbang BB setiap hari. . Ekstremitas hangat 3) Tindakan keperawatan: . Kaji kesiapan ibu untuk menyusu. . Suhu 36-37C. . c. . 1) Tujuan : Nutrisi dapat terpenuhi 2) Kriteria hasil: . Sianosis (-) . Gangguan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna nutrisi karena imaturitas. Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan. Observasi intake dan output. BAB lancar . . Muntah (-) . Kembung (-) . Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada. 1) Tujuan: suhu tubuh dalam rentang normal 2) Kriteria hasil: . Monitor tanda-tanda Hipertermi. Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh. . . . Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral. . Hipotermi berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan. Reflek hisap dan menelan baik . Beri minum sesuai program . Turgor elastis 3) Tindakan keperawatan: . Observasi tanda-tanda vital. Ganti pakaian setiap basah .

. Leukosit 5. . 1) Tujuan: tidak terjadi infeksi 2) Kriteria hasil: . Gunakan masker setiap kontak dengan bayi. Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril. Kolaborasi dengan dokter. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang kurang. .000 3) Tindakan keperawatan: . Suhu 36-37C . . Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.000-10. Tidak ada tanda-tanda infeksi. Kaji tanda-tanda infeksi. Isolasi bayi dengan bayi lain. . . Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi. . . . Berikan antibiotic sesuai program.d.

Jakarta : YBP –SP Pantiawati. Yogyakarta: Nuha Medika Pudjiadi Antonius.Jakarta: EGC Prawirohardjo. Handayani S..2006. Asuhan Keperawatan Perinatal. Jakarta: EGC . Sarwono. C.. (2010). H. Kusuma H. Yogyakarta: Nuha Medika Surasmi A. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah...2005. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.2006.Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. DAFTAR PUSTAKA Jumiarni. Hegar Badriul.Jakarta: IDAI Proverawati. Ismawati. 2010. A. 2010. I. Berat Badan Lahir Rendah. dkk.