You are on page 1of 52

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. RANCANGAN PENELITIAN
A.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental rancang acak
lengkap yang dilakukan secara in vivo dengan desain “pre and post-test
only control group.”
A.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Non-Mikroskopik dan
Laboratorium Teknologi Farmasi dan Farmasi Klinis Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura dari bulan September 2015 - Januari 2016.

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

Waktu Pelaksanaan
Kegiatan
September Oktober November Desember Januari
2015 2015 2015 2015 2016
Penyusunan proposal

Seminar proposal

Persiapan hewan uji
Pengujian terhadap tikus
Pengolahan data
Penyusunan laporan

B. SUBJEK PENELITIAN
B.1. Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus)
jantan galur wistar.
B.2. Besar Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 5 kelompok penelitian yaitu:
1 Kelompok kontrol normal (K0)

29

30

2 Kelompok kontrol negatif (K(-))
3 Kelompok perlakuan dosis 1 (K1)
4 Kelompok perlakuan dosis 2 (K2)
5 Kelompok perlakuan dosis 3 (K3)
Besar sampel tiap kelompok didapat dengan rumus Federer, dimana
(t) adalah jumlah kelompok perlakuan dan (n) adalah jumlah ulangan
untuk tiap perlakuan. 83
(t-1)(n-1) > 15
(5-1)(n-1) > 15
4n - 4> 15
4n > 19
n > 4,75 = 5
Hasil perhitungan dengan rumus Federer diperoleh hasil, bahwa
dalam tiap kelompok harus mengandung sampel sebanyak 5 subyek.
Untuk mengantisipasi kematian pada subjek penelitian, maka digunakan
20% drop out rate dengan perhitungan sebagai berikut : 83

20% x 5 = 1

Jadi jumlah subjek yang digunakan adalah Jumlah federer + jumlah
drop out rate:
5+1=6
Tiga puluh ekor tikus jantan galur wistar (Rattus norvegicus) dibagi
secara acak (randomisasi kelompok subjek) dalam 5 kelompok perlakuan
yang masing-masing terdiri atas 6 ekor tikus jantan galur wistar (Rattus
norvegicus).
B.3. Cara Pengambilan Sampel
Sampel hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus yang
memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Sampel
diambil dengan teknik simple random sampling, yaitu pengambilan
sampel dengan cara mengambil anggota populasi yang kebetulan ada atau
tersedia secara acak. Pada penelitian ini sampel diperoleh dengan cara

31

memesan/membeli sejumlah Rattus norvegicus galur wistar dari populasi
yang kriterianya telah ditentukan seperti pada subjek penelitian di atas.
Besar sampel adalah 30 ekor tikus putih, yang dibagi menjadi 5 kelompok
secara random.83
a. Kriteria Inklusi
1. Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dewasa galur wistar
2. Umur 2-3 bulan
3. Berat badan tikus 180-200 gram
4. Kesehatan umum baik

b. Kriteria Eksklusi

1. Tikus tidak mau makan
2. Tikus yang mati selama diberikan periode penelitian

C. VARIABEL PENELITIAN
C.1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dosis astaxanthin bertingkat
yang diberikan.
C.2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas enzim ALT pada
serum tikus Rattus norvegicus galur wistar yang diinduksi formaldehid
secara oral.

D. DEFINISI OPERASIONAL
D.1. Astaxanthin
Astaxanthin merupakan sari perasan kering murni algae H. pluvialis yang
terdapat dalam bentuk tablet dengan mutu farmasetik dengan Certificate of
analysis dari Pt.Futamed.84 Astaxanthin dibagi menjadi 3 kelompok dosis
(Dosis 1 = 0,216 mg, Dosis 2 = 0,432 mg, Dosis 3 = 0,864 mg per hari)
dengan satuan mg/KgBB atau mg/200gBB. Skala yang digunakan adalah
skala ordinal.

32

D.2. Aktivitas Enzim Alanin Aminitransferase (ALT) Serum
ALT (Alanin aminotrasnferase) merupakan grup transaminase yang dapat
mengakatalisis konversi asam amino menjadi α-ketoacid melalui transfer
gugus amino. ALT juga mengkatalisis reaksi sebaliknya. Aktivitas tertinggi
ALT terdapat di hepar dan ditemukan pula dengan aktivitas rendah pada
ginjal, jantung, otot rangka, pankreas, limpa, dan paru. Prinsip pemeriksaan
pada tes ini berdasarkan metode yang telah ditetapkan oleh International of
Clinical Chemistry (IFCC) yaitu mengoptimalkan konsentrasi substrat
menggunakan Tris(hydroxymethyl)-aminomethan. Pemeriksaan ini
menggunakan reagen Analyticon Fluitest® Berikut prinsip reaksi ALT pada
penelitian ini:

ALT
2-oxoglutarate + L-alanine L-glutamate + pyruvate
ALT merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi ini. Peningkatan
piruvat diukur pada reaksi indikator berikut yang dikatalisis oleh laktat
dehydrogenase.

LDH
Pyruvate + NADH + H+ L-lactate + NAD+
Pada reaksi kedua, NADH dioksidasi pada NAD. Rasio penurunan pada
NADH (diukur secara fotometri) berbanding lurus dengan laju pembentukan
piruvat, begitu pula dengan aktivitas ALT. Skala yang digunakan adalah
skala numerik.

E. INSTRUMEN PENELITIAN
E.1. Alat
a. Kandang Tikus
b. Spuit Injeksi dan oral
c. Sonde lambung
d. Spektrofotometer

33

e. Sentrifuge
f. Timbangan obat
g. Timbangan hewan
h. Tabung Maserator
i. Mikropipet
j. Gelas ukur
k. Alat pengocok
l. Corong pisah
m. Tabung reaksi
n. Handscoon
o. Microtube
E.2. Bahan
a. Tikus putih jantan putih galur wistar, berumur 3 bulan, dengan berat
badan ± 200 gram.
b. Astaxanthin
c. Formaldehid 37%
d. Aquades 100ml
e. Makanan standar
f. Serbuk kayu
g. Reagen Analyticon Fluitest®

F. PROSEDUR PENELITIAN
F.1. Persiapan Penelitian
F.1.a. Pembuatan Suspensi CMC (Carboxymethylcellulose) 0,5 %
CMC sebanyak 0,5 g ditimbang, kemudian ditaburkan di atas air
corpus (aquades) sebanyak 10 kalinya, dibiarkan hingga mengembang.
Setelah mengembang tambahkan akuades hingga 100 mL, diaduk
homogen (jika perlu dilakukan pemanasan).85

018 sehingga: 1) Dosis I = 12 x 0.864 mg/200gBB Jadi.024 mg/ 14 mL Dosis 2 = 6.432 mg/200gBB 3) Dosis III = 48 x 0.432 mg × 14 = 6.2 gram/kgBB (1 ekor tikus) = 5 mg .024 mg Astaxanthin dosis 2 = 0.048 mg Astaxanthin dosis 3 = 0.5% = 14 x 1 = 14 ml Astaxanthin dosis 1 = 0.216 mg untuk kelompok perlakuan I.432 mg untuk kelompok perlakuan II.018 = 0.864 mg × 14 = 12. 24 mg. dosis astaxanthin total yang diberikan per tikus selama 14 hari sebanyak 21.018 = 0.018 = 0. 0. Adapun perhitungan dosis formaldehid yang diberikan pada tiap tikus sebagai berikut: 86 Dosis = 25 mg/kgBB = 25 x 0.1. 34 F. Perhitungan Dosis Astaxanthin Dosis astaxanthin yang diberikan sehingga dapat berperan sebagai antioksidan adalah sebesar 12 mg.096 mg Artinya: Dosis 1 = 3. Adapun cara perhitungan dosis suspensi ekstrak yang diberikan pada masing-masing tikus adalah sebagai berikut: Pemberian suspensi astaxanthin 1×1 selama 14 hari = 14 × pemberian Stok CMC 0.048 mg/ 14 mL Dosis 3 = 12. F. dan 48 mg per hari.168 mL dalam 14 hari.216 mg/200gBB 2) Dosis II = 24 x 0.864 mg untuk kelompok perlakuan III pada setiap tikus putih /hari secara oral.096 mg/ 14 mL Jadi.216 mg × 14 = 3. Perhitungan Dosis Formaldehid Dosis toksis formaldehid terjadi pada pemberian sebanyak 25mg/kgBB.b.84 Faktor konversi menurut Laurence & Bacharach adalah 0. dan 0.c.1. dosis astaxanthin yang akan diberikan sebesar 0.

000 mg dalam 100 cc Perhitungan: 37. terdiri dari 6 tikus putih yang diberikan diet standar dan CMC 0.5% selama 2 minggu. F. terdiri dari 6 ekor tikus putih yang diberi diet standar. K1: sebagai kelompok perlakuan I.2. terdiri dari 6 tikus putih yang diberikan diet standar dan diberi suspensi formaldehid sebanyak 0. dosis suspensi formaldehid yang akan diberikan sebesar 0.01 mL/tikus putih secara per oral. K(-): sebagai kelompok kontrol negatif. 35 Formaldehid = 37 gram dalam 100 cc = 37.000 ?? 5 ?? = 100 ?? ? 1 ?= = 0.b. F. .01 mL / tikus 37 Jadi. Pengelompokan subjek: K0: sebagai kelompok kontrol. Pengujian Efek Astaxanthin F. Tikus diberi suspensi formaldehid sebanyak 0.03 cc per oral selama 2 minggu dilanjutkan dengan pemberian astaxanthin dosis 2 selama 14 hari. Formaldehid diberikan dalam dosis tunggal selama 14 hari. K2: sebagai kelompok perlakuan II. terdiri dari 6 ekor tikus putih yang diberi diet standar.03 cc per oral selama 2 minggu dilanjutkan dengan pemberian astaxanthin dosis 1 selama 14 hari. Tikus diberi suspensi formaldehid sebanyak 0.2.03 cc per oral.a Aklimasi Hewan Uji Tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar yang memenuhi kriteria inklusi diaklimatisasi dengan lingkungan laboratorium selama 2 minggu dan diberi makan pakan standar dan minum ad libitum. Uji Efek Astaxanthin Percobaaan mulai dilakukan setelah dilakukan aklimasi selama 14 hari dan percobaan berlangsung selama 14 hari.2.

Pengukuran Aktivitas Enzim Menggunakan Reagen Fluitest® Analyticon Pengukuran hasil ALT dilakukan 3 kali. Kemudian pengukuran pada saat induksi hari pertama setelah perlakuan dilakukan untuk mengetahui efek terapi astaxanthin sebagai antioksidan setelah diberikan induksi hepatotoksik formaldehid. Pengukuran setelah perlakuan (post-test) dilakukan untuk mengetahui kemampuan antioksidan terhadap induksi hepatotoksik formaldehid saat astaxanthin mencapai kondisi steady state concentration.03 cc per oral selama 2 minggu dilanjutkan dengan pemberian astaxanthin dosis 3 selama 14 hari.c Pengukuran Aktivitas Enzim ALT dalam Serum A. hari pertama sebelum diberi perlakuan dan hari pertama tepat setelah selesai diberi perlakuan semua tikus putih jantan galur wistar diambil darahnya melalui vena retro orbita menggunakan tabung mikrokapiler sebanyak 2 ml dan darah ditampung didalam microtube. Pembuatan Serum Darah Tikus diambil dari kandang kemudian dimasukkan ke dalam tabung transparan tertutup berisi kapas yang diberi etil eter hingga tikus mengalami efek anestesi. 36 K3: sebagai kelompok perlakuan III. Pengukuran hari kelima belas setelah adaptasi dilakukan sebagai pretest dan untuk mengetahui kadar normal ALT tikus pada tiap kelompok sebelum diberikan perlakuan. terdiri dari 6 ekor tikus putih yang diberi diet standar. Pada saat pengukuran kadar enzim ALT pada hari pertama setelah adaptasi. F. Reagen yang digunakan untuk mengukur aktivitas . yaitu saat sebelum perlakuan (pre-test).2. dan setelah perlakuan (post-test). Darah sampel dibiarkan membeku selama 30-60 menit. Kemudian disentrifuge dengan kecepatan 4000 rpm selama 15 menit untuk memisahkan serum dari darah. Serum kemudian dipisahkan ke microtube yang baru untuk pengukuran aktivitas spesifik enzim ALT. B. Tikus diberi suspensi formaldehid sebanyak 0.

Ulangi pembacaan pada detik ke-0. 37 enzim ALT pada kelompok perlakuan adalah reagen Fluitest® Analyticon dan serum yang telah ditambahkan reagen dibaca pada panjang gelombang 340 nm. Berikut prosedur pemeriksaannya: Tabel 3. 90.2 Prosedur Pemeriksaan ALT menggunakan reagen Fluitest® Analyticon R1 1000 ul Serum 100 ul Mix dan inkubasi selama 1 menit R2 200 ul Campur dan baca absorbansi pada panjang gelombang 340 nm. Reagen prinsipnya mengoptimalkan konsentrasi substrat menggunakan Tris(hydroxymethyl)-aminomethan yang merupakan metode yang telah ditetapkan oleh International of Clinical Chemistry (IFCC). 30. Hitung ΔA/min Perhitungan: Hg 340 nm 2063 x ∆E/min Satuan hasil perhitungan adalah IU/liter . 60. dan 120.

1 Alur Penelitian .5 % CMC 0. 2-3 bulan Populasi Sampel (S)N = 30 Randomisasi Aklimasi selama 7 hari Subjek K0 = Kelompok K1 = Kelompok K2 = Kelompok K3 = Kelompok K4 = Kelompok Kontrol Normal Kontrol negatif Uji Dosis I Uji Dosis II Uji Dosis III n0 = 6 n1 = 6 n2 = 6 n3 = 6 n4 = 6 Makanan Makanan Makanan Makanan Makanan standar + standar + standar + standar + standar formaldehid formaldehid formaldehid formaldehid selama 14 sebanyak 0.01 hari mL (14 hari) mL (14 hari) mL (14 hari) mL (14 hari) Pengukuran Aktivitas Spesifik Enzim ALT induksi hari ke-14 perlakuan uji efektivitas antioksidan Makanan Makanan Makanan Makanan Makanan standar dan standar dan standar + standar + standar + CMC 0.01 sebanyak 0.01 sebanyak 0. Rattus norvegicus galur wistar.01 sebanyak 0. 38 G. ALUR PENELITIAN Tikus putih jantan.5 % (14 astaxanthin astaxanthin astaxanthin (14 hari) hari) dosis I (14 hari) dosis 2 (14 hari) dosis 3 (14 hari) Pengukuran Aktivitas Spesifik Enzim ALT setelah perlakuan uji efektivitas antioksidan (posttest) Analisis Data Gambar 3.

Replacement adalah keperluan memanfaatkan hewan percobaan sudah diperhitungkan secara seksama. harus diterapkan prinsip 3R dalam protocol penelitian. Uji statistik T berpasangan. Replacement terbagi menjadi dua bagian. jaringan. c. dan refinement. untuk menguji rata-rata perbandingan data masing-masing kelompok sebelum perlakuan dan setelah perlakuan I. Hasil yang diharapkan dalam uji ini adalah adanya perbedaan bermakna atau terdapat perbedaan aktivitas enzim ALT hepar pada serum tikus putih pada setiap kelompok. ETIKA PENELITIAN Dalam penelitian kesehatan yang memanfaatkan hewan coba. reduction. Uji statistic Post hoc test menggunakan analisa LSD untuk mengetahui letak adanya perbedaan dalam populasi. ANALISIS DATA Data yang diperoleh kemudian diolah dengan program komputer SPSS (Statistical Producct and Service Solution) 22. Uji statistic One Way Anova.0 for Windows dengan menggunakan uji parametrik One Way Anova dan bila ada perbedaan yang bermakna dilanjutkan dengan Post hoc test menggunakan analisis Least Significant Differences (LSD) dengan taraf kepercayaan 95% atau tingkat kemaknaan (α) 0. . yaitu: relative (mengganti hewan percobaan dengan memakai organ/jaringan hewan. atau sebuah program komputer). yaitu: replacement. b. a. 39 H.05. baik dari pengalaman terdahulu maupun literatur untuk menjawab pertanyaan penelitian dan tidak dapat digantikan oleh makhluk hidup lain. hewan dari ordo lebih rendah) dan absolute (mengganti hewan percobaan dengan kultur sel. untuk mengetahui adanya perbedaan dalam kelompok populasi.

tidak menyakiti hewan. Penelitian ini juga menggunakan sampel berupa serum tikus yang digunakan untuk pengukuran aktivitas enzim alanin aminotransferase (ALT). Penelitian ini telah mendapatkan keterangan lolos kaji etik (ethical approval) dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura dengan nomor 5212/UN22. tetapi mendapatkan hasil yang optimal. 40 Reduction diartikan sebagai pemanfaatan hewan dalam penelitian sedikit mungkin. Jumlah minimum yang digunakan dapat dihitung menggunakan rumus Federer. memelihara hewan dengan baik. memerlukan perlakuan pada hewan coba tikus dan dapat menimbulkan permasalahan etik.9/DT/2015 (lampiran 1). Refinement adalah memperlakukan hewan percobaan secara manusiawi. . serta meminimalisasi perlakuan yang menyakitkan. Penelitian yang menggunakan sampel berupa serum tikus untuk pemeriksaan aktivitas enzim alanin aminotransferase (ALT).

serta kelompok uji dosis I. sehingga hasil yang diamati dari penelitian ini adalah aktivitas enzim ALT pada hepar yang diinduksi oleh formaldehid sebelum diberikan astaxanthin (pre-test) dan setelah diberikan astaxanthin (post-test). Penelitian ini menggunakan lima kelompok perlakuan.01 mL selama 14 hari kemudian dilanjutkan dengan perlakuan astaxanthin dosis 0.01 mL selama 14 hari kemudian diberikan perlakuan CMC 0. yang terbagi atas kelompok kontrol negatif yang diberikan induksi formaldehid 37% secara oral sebanyak 0. 41 . Adanya kerusakan pada hepar yang disebabkan oleh formaldehid tersebut dapat diperbaiki dengan adanya pemberian astaxanthin yang dapat menurunkan aktivitas enzim ALT. dan III yang diberikan induksi formaldehid 37% secara oral sebanyak 0. Tikus yang digunakan berjumlah 6 ekor di tiap kelompok perlakuannya sesuai dengan rumus Federer dengan aktivitas enzim ALT yang diukur menggunakan metode International of Clinical Chemistry (IFCC) dengan pengukuran aktivitas enzim ALT dilakukan saat pretest (sebelum perlakuan) dan saat posttest (setelah perlakuan). 0.864 mg/200gBB. Rerata dan + SD aktivitas enzim ALT saat pretes dan posttest ditampilkan pada tabel 4. sehingga terjadinya peningkatan aktivitas enzim ALT. 41 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Selanjutnya kelompok kontrol normal yang hanya diberi pangan standar selama 14 hari kemudian diberikan perlakuan CMC 0.5% selama 14 hari berikutnya. II.1 di bawah ini.432 mg/200gBB.216 mg/200gBB. HASIL Pemberian formaldehid secara oral pada hewan coba dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kematian sel hepar.5% selama 14 hari berikutnya. dan 0.

338 + 0.56130 20.216 mg/200gBB.729 + 0.536 + 0. *p<0.43513 40. p=0.729 Gambar 4.51791 20. Rerata Aktivitas Enzim Alanin Aminotransferase (ALT) Serum Sebelum Perlakuan (Pretest) (ANOVA.56146 Kelompok Uji Dosis III 65.057 + 0.000 0.615 65.229 + 0.1.000 Uji Kontrol Kontrol Uji Uji Dosis Normal Negatif Dosis I Dosis II III Rerata Aktivitas ALT 20.000 50.672 66. Hasil rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) disajikan dalam bentuk kurva pada gambar 4. LSD.057 65. dan kelompok uji dosis III sedangkan pada kelompok normal tidak diberikan induksi formaldehid melainkan hanya diberikan pangan standar saja.56146 Kelompok Uji Dosis II 65.000 20. kelompok uji dosis I.48607 Kelompok Uji Dosis I 66. Dosis II = Dosis astaxanthin 0.615 + 0.672 + 0. Pengukuran aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) dilakukan setelah 14 hari pemberian induksi formaldehid 37% pada kelompok negatif. 42 Aktivitas enzim ALT Tikus (Mean±SD) Kelompok Aktivitas enzim ALT Aktivitas enzim ALT Pretest Posttest Kelompok Normal 20.59218 18. Pada gambar 4.35496 Kelompok Negatif (-) 65.864 mg/200gBB.131 65.000 30.172 + 0.401 + 0.000.000 * * * * Aktivitas Enzim ALT (U/L) 60.000 40.131 + 0.1 . Dosis III = Dosis astaxanthin 0. kelompok uji dosis II.432 mg/200gBB.50606 17.05).000 10.1 di bawah ini Rerata Aktivitas ALT Sebelum Perlakuan (Pre-Test) 70.48607 Dosis I = Dosis astaxanthin 0.

057 + 0. dan kelompok uji dosis III.56130) yang masih dalam rentang normal sesuai dengan standar IBIS tahun 2003 yaitu 7.05). . Namun rerata aktivitas antar kelompok negatif.43513).0 IU/L (lampiran 2) dan hasil rerata aktivitas enzim ALT pretest kelompok negatif (65. uji dosis II (65. 43 menunjukkan hasil rerata aktivitas enzim ALT pretest (sebelum perlakuan) dengan kelompok kontrol normal (20.615 + 0. Berikut ini gambar 4. kelompok uji dosis II.05) dilanjutkan post hoc test analisis LSD dengan tingkat kepercayaan 95%. dan uji dosis III (65.05) dan anova (p<0. kelompok perlakuan uji dosis I. didapatkan data terdistribusi normal (Shapiro wilk p>0. dan kelompok uji dosis III. Hasil statistik menunjukkan bahwa aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) pada kelompok kontrol normal memliki perbedaan bermakna terhadap kelompok kontrol negatif. Namun perbedaan yang tidak bermakna ditunjukkan antar kelompok negatif. Berdasarkan hasil uji statistik.50606) yang mengalami peningkatan apabila dibandingan dengan aktivitas kelompok normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian induksi formaldehid pada kelompok kontrol negatif.0 – 46.729 + 0. kelompok uji dosis I.2 yang menyajikan data rerata aktivitas enzim ALT serum tikus setelah perlakuan (posttest).51791).131 + 0. kelompok uji dosis I. varians data homogen (test of homogenity of variance p>0. dan kelompok uji dosis III yang sama-sama diberikan induksi formaldehid tidak terlalu berbeda jauh antar satu dengan lainnya. kelompok uji dosis II. kelompok perlakuan uji dosis II.59218). kelompok uji dosis I. kelompok uji dosis II. serta kelompok perlakuan uji dosis III menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas enzim ALT dibandingkan aktivitas enzim ALT pada kelompok kontrol normal yang tidak diberikan formaldehid dan hanya diberikan pangan standar. uji dosis I (66.672 + 0.

05) dan anova (p<0. Namun kelompok kontrol .05) dilanjutkan post hoc test analisis LSD dengan tingkat kepercayaan 95%.338 17. kelompok uji dosis II.2 menunjukkan penurunan rerata aktivitas enzim ALT posttest (setelah perlakuan) pada kelompok uji dosis I.000 10. kelompok uji dosis II.229 20.05). Pada gambar 4. dan kelompok kontrol negatif.5% dan pangan standar tidak mengalami adanya perubahan yang berarti pada aktivitas enzim ALT setelah perlakuan yang masih dalam rentang normal. p=0. *p<0.000 0. LSD.536 (Postest) Gambar 4. 44 Rerata Aktivitas ALT Setelah Perlakuan (Post-Test) 50. Rerata Aktivitas Enzim Alanin Aminotransferase (ALT) setelah perlakuan (posttest) (ANOVA.2.000 Kontrol Uji Kontrol Uji Uji Negatif Dosis Normal Dosis I Dosis II (-) III Rerata Aktivitas ALT Setelah Perlakuan 20.5% dan pangan standar.000 Aktivitas Enzim ALT (U/L) 40.000 20. varians data homogen (test of homogenity of variance p>0. didapatkan data terdistribusi normal (Shapiro wilk p>0. Hasil statistik pada kelompok kontrol normal menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kelompok kontrol negatif.179 40. kelompok perlakuan uji dosis II. Berdasarkan hasil uji statistik. dan kelompok uji dosis III yang diberikan astaxanthin maupun pada kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan CMC 0. dan kelompok perlakuan uji dosis III.5% pada kelompok kontrol normal. Pengukuran aktivitas enzim ALT setelah perlakuan (posttest) dilakukan setelah 14 hari pemberian astaxanthin pada kelompok uji dosis I.000 30.000.401 18. sedangkan pada kelompok kontrol normal yang hanya diberikan CMC 0. dan kelompok uji dosis III serta pemberian CMC 0.05).

536 + 0. dan kelompok uji dosis III saat sebelum perlakuan (pretest) dan setelah perlakuan (posttest).48607) meskipun hanya diberikan CMC dan pangan standar saja.216 mg/200gBB (20.35496). Selanjutnya.56146) yang hampir sama dengan rerata aktivitas enzim ALT posttest pada kelompok normal (20.172 + 0.432 mg/200gBB yang juga mengalami penurunan rerata aktivitas enzim ALT (18. Apabila dibandingkan antar masing-masing kelompok pada saat sebelum perlakuan (pretest) dengan setelah perlakuan (posttest). kelompok uji dosis II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada saat posttest (setelah perlakuan). 45 normal tidak memiliki perbedaan bermakna dengan kelompok perlakuan uji dosis I saat perlakuan posttest. Berikut ini gambar 4.338 + 0. terlihat adanya perbedaan yang bermakna pada kelompok kontrol negatif.401 + 0. Sedangkan pada kelompok kontrol normal tidak menunjukkan adanya perbedaan bermakna saat sebelum perlakuan (pretest) dengan setelah perlakuan (posttest). Sedangkan penurunan terendah terjadi pada rerata aktivitas enzim ALT dosis I yang diberikan dosis astaxanthin 0.864 mg/200gBB (17. Penurunan rerata aktivitas enzim ALT tertinggi terjadi pada kelompok dosis III yang diberikan dosis astaxanthin 0. kelompok uji dosis I. kelompok yang juga mengalami penurunan rerata aktivitas enzim ALT saat posttest (setelah perlakuan) yaitu kelompok kontrol negatif (40. disajikan rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest).229 + 0. dan setelah perlakuan (posttest).56146).48607).3. Sedangkan. . diikuti oleh kelompok uji dosis II dengan dosis astaxanthin sebesar 0. rerata aktivitas enzim ALT kelompok kontrol negatif (-) juga mengalami penurunan walaupun tidak diberikan astaxanthin. Kemudian. kelompok dosis III merupakan kelompok yang memiliki kemampuan menurunkan aktivitas enzim ALT paling baik dibandingkan kelompok yang lainnya.

000 30.000 Uji Kontrol Kontrol Uji Uji Dosis Normal Negatif Dosis I Dosis II III Rerata Aktivitas ALT (Pre- 20.35496) dan masih dalam rentang kisaran normal.672 + 0. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji T berpasangan pada kelompok kontrol normal menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) dengan sesudah perlakuan (posttest). rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) (20. 46 Perbandingan Rerata Aktivitas Enzim ALT 70.172 + 0.729 Test) Rerata Aktivitas ALT (Post- 20.179 40. rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) (65.229 + 0.48607). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian formaldehid selama 14 hari dapat meningkatkan aktivitas enzim . Pada kontrol normal.536 Test) Gambar 4.131 65.000 0. Hal ini diduga bahwa pada kelompok kontrol normal tidak diberikan paparan formaldehid sama sekali sehingga tidak merusak kondisi hepar dari tikus kelompok normal. dan setelah perlakuan (posttest) (tes T berpasangan.3.229 20. *p<0.000 Aktivitas Enzim ALT (U/L) 60. Kemudian pada kelompok kontrol negatif.000 40.000 10.05).057 65. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji T berpasangan pada kelompok kontrol normal menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna antar aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) dengan sesudah perlakuan (posttest).000 50.56130) tidak berbeda jauh dibandingkan dengan rerata aktivitas enzim ALT setelah perlakuan (posttest) (20.338 17. Rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest).43513) saat diberikan paparan formaldehid mengalami kenaikan sedangkan saat setelah perlakuan (posttest) rerata aktivitas enzim ALT mengalami penurunan (40.615 65.000 20.401 18.057 + 0.672 66.

131 + 0. 47 ALT dan aktivitas enzim ALT saat setelah perlakuan juga mengalami penurunan walaupun tidak diberikan astaxanthin sama sekali. dan dosis III dapat menurunkan aktivitas enzim ALT hingga dalam kisaran normal sehingga dapat disimpulkan bahwa formaldehid memang dapat meningkatkan aktivitas enzim ALT dan pemberian astaxanthin dapat menurunkan aktivitas enzim ALT.59218) dan kelompok uji dosis III (65.48607). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji T berpasangan pada kelompok uji dosis I. Kerusakan pada sel hepar menyebabkan enzim dalam sel hepar dapat keluar dalam jumlah yang cukup banyak menuju ruang ekstraseluler. Pemberian astaxanthin dosis I. dosis II. Kemudian saat setelah perlakuan (posttest). uji dosis II. Kenaikan aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) juga terjadi pada kelompok uji dosis II (65. dan kelompok uji dosis III (17. aktivitas enzim ALT mengalami penurunan pada kelompok uji dosis I (20.56146).401 + 0. rerata aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) (66. kelompok uji dosis II (18.729 + 0.sehingga pada .615 + 0.50606). Kerusakan pada jaringan hepar akibat dari paparan formaldehid terlihat dari kenaikan aktivitas spesifik dari enzim ALT pada serum yang bermakna secara statistik.536 + 0. Pada kelompok uji dosis I.51791) juga mengalami kenaikan sama seperti yang terjadi pada kelompok kontrol negatif.56146). Enzim ALT merupakan enzim yang spesifik terdapat pada hepar karena banyak terdapat pada hepatosit dan konsentraasinya cenderung relatif lebih rendah di jaringan lain.338 + 0. B. dan uji dosis III menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar aktivitas enzim ALT sebelum perlakuan (pretest) dengan sesudah perlakuan (posttest). PEMBAHASAN Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pemberian formaldehid dengan pemberian dosis 25 mg/KgBB selama 14 hari pada hewan coba memberikan hasil yang bermakna secara statistik antara kelompok kontrol normal dengan kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan pada penelitian ini. kemudian enzim- enzim tersebut akhirnya akan masuk kedalam peredaran darah.

pada saat formaldehid telah dimetabolisme menjadi asam format justru format tersebut akan dimetabolisme lebih lambat.34 Proses eksresi dan metabolisme asam format tergolong reaksi yang lambat. Konjugat S- formylglutathione dihidrolisis oleh S-formylglutathione hydrolase untuk menghasilkan format dan terjadi deplesi GSH. contohnya adalah hepatosit. Namun.87 Tubuh manusia sebenarnya telah memiliki beberapa pertahanan terhadap adanya kehadiran radikal bebas seperti beberapa sistem enzimatik dan non- .20 Metabolisme formaldehid menjadi asam format berlangsung di hepar dengan cepat sehingga pemberian formalin yang berlebihan akan mempengaruhi proses fisiologis sel-sel yang berada di jaringan hepar. Penumpukan asam format yang berlebihan akan menghambat langsung aktivitas dari enzim sitokrom oksidase. GSH bereaksi dengan formalin untuk membentuk S-hydroxymethylglutathione yang kemudian digunakan sebagai substrat ADH3 untuk menghasilkan S-formylglutation. Penghambatan aktivitas dari enzim sitokrom oksidase akan menyebabkan penurunan sintesis dari adenosine triphosphate (ATP) yang akan menyebabkan terjadinya penumpukan Na+ intraseluler akibat kegagalan pompa Na+K+ ATPase dalam mempertahankan keseimbangan ion sehingga menyebabkan pembengkakan sel dan juga disertai dengan penurunan kerja Ca2+ ATP dependent. seperti kuning (ikterus). sehingga dapat terjadi penumpukan asam format di dalam hepar. Tahap pertama. Alcohol dehydrogenase 3 (ADH3). formaldehid yang masuk ke hepar akan diubah dengan cepat menjadi asam format melalui enzim formaldehid dehidrogenase yang berada di Aldehyde dehydrogenase 2 family (ALDH2) mitokondria dan (ADH3) sitosol. 48 serum dapat ditemukan adanya peningkatan pada enzim ALT yang mendahului gejala lainnya. sehingga dapat terakumulasi di dalam darah. Hal ini menyebabkan penurunan kadar bikarbonat dan penurunan pH dalam tubuh. juga disebut sebagai glutathione (GSH)-dependent formaldehyde dehydrogenase. Sedangkan pada hepar sendiri.33. dan mengakibatkan asidosis metabolik. yang mengoksidasi formalin menjadi asam format dalam dua tahapan.

49 enzimatik untuk menonaktifkan radikal bebas tersebut.8 Pada hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas spesifik enzim ALT dengan rentang peningkatan yang sama pada kelompok kontrol negatif. Radikal hidroksil tersebut menyebabkan peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid menyebabkan kerusakan membran sel dan kemudian mengakibatkan struktur sel menjadi tidak normal dan merusak fungsi sel. Perubahan tersebut dapat bersifat subletal yaitu degeneratif atau pun letal berupa nekrotik. uji dosis II. Hal ini menujukkan bahwa memang pada kelompok yang diberikan pajanan formaldehid telah terjadi kerusakan pada jaringan heparnya yang menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas enzim ALT . Namun pada kelompok kontrol normal yang tidak diberikan formaldehid tidak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas enzim ALT pada serum dan rentang aktivitas enzimnya juga masih dalam batas rentang normal. dan antioksidan endogen lainnya. Pajanan formaldehid yang berlebihan menyebabkan meningkatnya produksi ROS secara terus menerus dalam tubuh. Apabila kondisi ini berlanjut secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kematian sel hepar. akibatnya sistem enzimatik yang berperan sebagai antioksidan alami mengalami penurunan. katalase. Apabila suatu sel mengalami jejas yang disebabkan oleh berbagai faktor. Ketidakseimbangan antara ROS dan antioksidan di dalam tubuh disebut sebagai stres oksidatif. dan uji dosis III yang diberikan pajanan formaldehid. yang meliputi superoksida dismutase (SOD). sehingga terjadinya peningkatan aktivitas spesifik ALT. glutation (GSH). Melalui mekanisme tersebut saat ini ALT menjadi salah satu enzim yang menjadi indikator kerusakan hepar. maka akan terjadi serangkaian perubahan morfologi pada sel. kelompok perlakuan uji dosis I.6 Rusaknya membran sel hepar menyebabkan bocornya protein-protein dan molekul-molekul lain keluar kemudian masuk dalam darah termasuk protein spesifik yang terdapat pada jaringan hepar seperti enzim transaminase.86 Salah satu ROS seperti hidrogen peroksida dapat beraksi dengan senyawa dalam tubuh dan membentuk radikal hidroksil yang sangat reaktif. salah satunya adalah enzim ALT.

berbeda halnya seperti jaringan hepar yang sampai menimbulkan nekrosis akibat pemberian formaldehid sehingga menyebabkan enzim spesifik yang terdapat pada jaringan tersebut juga ikut dilepaskan menuju peredaran darah. Hasilnya menunjukkan bahwa pajanan formaldehid pada kedua dosis tersebut sudah menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan hepar tikus yang dilihat dari indikator enzim SOD. dan terlihat nekrosis di beberapa tempat pada jaringan hepar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdulqader dan Mustafa (2014) yang mengamati kerusakan yang terjadi setelah pajanan formalin dengan dosis 1 ml/hari selama 7 hari secara inhalasi. tetapi juga terdapat pada jantung. enzim glutation peroksidase (GSH-Px). antibodi. Namun efek yang diberikan akibat pemberian formaldehid pada jantung tidak menyebabkan jantung mengalami nekrosis. infiltrasi dari leukosit. maupun protein pembentuk matriks sitoskeleton. enzim xanthine oksidase (XO). Sehingga dapat disimpulkan bahwa paparan formaldehid pada dosis 25 mg/KgBB dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan hepar. dan malondialdehyde (MDA). Akibatnya terdapat beberapa protein penting yang hilang dalam sel seperti enzim. Formaldehid yang masuk dalam tubuh akan dimetabolisme terutama di jaringan hepar menjadi asam format dan akumulasinya dapat menyebabkan . dan XO yang menurun dan indikator kadar MDA yang meningkat.88 Hasil pada penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidir Pekmez et al (2008) yang mengamati kerusakan pada jaringan hepar setelah diberikan pajanan formaldehid dengan dosis 10 mg/KgBB dan 25 mg/KgBB secara intraperitoneal dengan indikator kerusakan adalah enzim superoksida dismutase (SOD).6 Enzim ALT sebenarnya bukan hanya terdapat di jaringan hepar. CA. GSH-Px.89 Selanjutnya berdasarkan penelitian Mahdi et al (2007) yang memberikan paparan formaldehid secara inhalasi. Kehilangan beberapa protein tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan kematian pada sel hepar. Kerusakan yang terjadi berupa perubahan nukleus hepatosit. 50 tersebut. paparan formaldehid tersebut menyebabkan terekspresinya pita protein pada suatu sel. enzim katalase (CA).

Astaxanthin juga mempunyai gugus hidroksil pada 3 dan 3’. yang tidak ditemukan pada antioksidan lain. Astaxanthin memiliki 13 rantai ganda terkonjugasi dan kelompok OXO pada 4 dan 4’ pada lingkar sikloheksana yang secara signifikan meningkatkan aktivitas antioksidan dari astaxanthin. heart rate. formaldehid akan menyebabkan terganggunya penanganan dan keseimbangan ion Ca2+ serta mengganggu kontraksi coupling dari eksitasi jantung. 51 nekrosis pada jaringan hepar.8-dihydro-β-ionone oleh sel-sel hepatosit dan dapat meningkatkan kadar enzim sitokrom P450 (CYP) pada sel hepatosit. Kombinasi dari modifikasi tersebut meningkatkan aktivitas fungsi membran dan aksi mekanisme lainnya untuk melindungi dari kondisi degeneratif. Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Daisuke Takeshita et al (2009) yang meneliti efek dari formaldehid pada sistem kardiovaskular dengan pemberian secara intravena menunjukkan penurunan signifikan tekanan sistolik. yang membuat molekulnya sangat polar. dan kardiak output yang mengindikasikan terjadinya gagal jantung akut. sehingga menimbulkan efek pada tekanan darah arteri dan cardiac output dari jantung.90 Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas enzim ALT yang meningkat dalam serum memang benar berasal dari jaringan hepar yang mengalami nekrosis. dan stroke volume pada jantung. kardiak output. Pemberian terapi dengan menggunakan astaxanthin yang merupakan salah satu antioksidan dapat memutuskan dan menetralkan reaksi berantai dari radikal bebas yang terdapat dalam tubuh dengan cara memberikan satu elektronnya kepada radikal bebas sehingga menjadi non-radikal.65 . Astaxanthn yang masuk dalam tubuh akan langsung dimetabolisme menjadi 3-hydroxy-4-oxo-β- ionone dan 3-hydroxy-4-oxo-7. Kemudian pada kelompok tikus yang mengalami hipertrofi juga menunjukkan hasil yang sama pada penurunan tekanan sistolik. Jaringan hepar yang rusak akibat pajanan formaldehid dapat diperbaiki dengan suatu terapi yang bertujuan untuk mengurangi efek buruk dari peningkatan radikal bebas tersebut. Formaldehid akan mengaktifkan ryanodine reseptor (RyR2) untuk mengganggu fungsi dari kerja otot jantung. Sedangkan pada jantung.

Peningkatan dari material- material tersebut dapat menekan produksi ROS dan meningkatkan ekspresi enzim antioksidan pada sel-sel hepatosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dosis astaxanthin 12 mg/hari. 72 Astaxanthin mengikat radikal bebas spektrum luas dan spesies oksigen reaktif serta memicu nuclear factor E2 related factor 2 (NRF-2) dalam memediasi sistem antioksidan endogen dalam tubuh. Semakin besar dosis astaxanthin yang diberikan. dan uji dosis III sebesar 48 mg/hari sedangkan pada kelompok kontrol normal dan negatif hanya diberikan pangan standar dan CMC 0. maka . dengan demikian mengakhiri reaksi tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh dosis astaxanthin yang diberikan pada tikus. sehingga astaxanthin dapat mencegah kerusakan oksidatif dan dapat mengembalikan fungsi normal pada sel-sel hepatosit yang tadinya rusak.74 Aktivasi dari siklus NRF2 dapat meningkatkan ekspresi dari enzim antioksidan. sebuah enzim yang mengembalikan kapasitas reduksi dari GSH. seperti glutation peroksidase. dan III. II. dan III berbeda-beda untuk tiap-tiap kelompoknya. dengan cara meningkatkan regulasi ekspresi dari glutation reduktase. dan heme oksigenase 1. II. suatu molekul antioksidan yang sangat penting untuk mempertahankan reaksi redoks seluler.5%. selain itu astaxanthin juga memiliki ujung polar yang dapat bereaksi dengan kepala fosfolipid pada lingkungan yang encer untuk melawan radikal bebas dari permukaan atau di dalam membrane lipid bilayer.75. NRF2 dapat meningkatkan jumlah glutation (GSH). uji dosis II sebesar 24 mg/hari. Penurunan aktivitas spesifik enzim ALT pada kelompok uji dosis I. 52 Astaxanthin dapat mempertahankan integritas membran dan secara efektif menghambat formasi peroksidasi lipid serta dapat menangkap ROS tunggal dan menyisipkannya lewat rantai polyene berikatan rangkap. 24 mg/hari.76 Selain itu.58 Pemberian astaxanthin selama 14 hari dalam penelitian ini diberikan dalam tiga jenis dosis pada kelompok uji dosis I sebesar 12 mg/hari. dan 48 mg/hari mengalami adanya penurunan aktivitas pada enzim ALT demikian pula pada kelompok kontrol negatif walaupun tidak sesignifikan seperti kelompok uji dosis I. glutation S-transferase.

Pemberian astaxanthin menunjukkan hasil terjadinya penurunan dari aktivitas enzim ALT dan xanthine oksidase (XO). Pada penelitian tersebut didapat hasil bahwa pemberian astaxanthin dapat menurunkan produksi ROS dan menghambat translokasi serta aktivasi NF-kB pada tingkat mitokondria. . Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Menabe et al (2007) yang menggunakan astaxanthin untuk melindungi dari stress oksidatif yang disebabkan oleh kondisi hiperglikemia.91 Sehingga dapat disimpulkan bahwa astaxanthin dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi pada jaringan hepar yang diberikan pajanan formaldehid dengan kelompok uji dosis III sebesar 0. hal ini dikarenakan adanya regenerasi yang terjadi pada jaringan hepar sehingga dapat menurunkan aktivitas dari enzim ALT tersebut.864 mg/hari merupakan dosis terbaik untuk memperbaiki kerusakan pada sel-sel hepar. Curek et al (2009) yang memakai astaxanthin dengan dosis 5 mg/kg/hari untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada jaringan hepar yang rusak akibat luka iskemik reperfusi. Sedangkan pada kelompok kontrol negatif yang tidak berikan apapun juga mengalami penurunan aktivitas enzim ALT walaupun tidak diberikan astaxanthin. 53 efek yang ditimbulkan dalam memperbaiki kerusakan jaringan juga akan semakin baik pula.11 Kemudian sesuai juga dengan penelitian Gulten D.

3. disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk : 1. 54 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. B. 2. 54 . Melakukan penelitian dengan cara memberikan kombinasi dari astaxanthin dengan antioksidan lain untuk melihat sinergisitas dari kedua bahan tersebut. dapat disimpulkan bahwa : 1.864 mg/hari memperbaiki kerusakan jaringan hepar melalui penurunan aktivitas spesifik enzim ALT pada serum Rattus norvegicus galur wistar yang diinduksi formaldehid secara oral. Melakukan penelitian menggunakan parameter organ yang berbeda dengan teknik pemeriksaan histopatologi untuk melihat derajat perbaikan dari efek pemberian astaxanthin . 0. Kesimpulan Berdasarkan data.432 mg/hari. Dosis terbaik pemberian astaxanthin pada Rattus norvegicus galur wistar yang diinduksi formaldehid secara oral berdasarkan aktivitas spesifik enzim ALT adalah 0. analisis.864 mg/hari. dan 0. Pemberian astaxanthin dengan dosis 0. 2.216 mg/hari. Melakukan penelitian kembali dengan cara melakukan peningkatan dosis astaxanthin untuk menentukan rentang dosis efektif astaxanthin. dan pembahasan dalam penelitian. Saran Dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini.

55 DAFTAR PUSTAKA 1 Price SA. Jakarta: EGC. Akagiri S. 102: 732-37. Robbins SL. Oxidative Signaling. MA Widodo. 2 Sherwood L. 2(2). Mizushima K. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC. 3(3). Sundaramahalingam M. Cotran RS. Naito Y. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Sumarno/ Yoghurt sebagai Detoksikan yang Efektif Terhadap Toksisitas Formalin yang Terpapar Dalam Makanan. 55 . et al. 15(1). J Cellular Biochem. 7th Ed. Ed 6. 6 Mahdi C. 2007. 2014. Jakarta: EGC. Antioxidant Activities of Barley Seeds Extracts. 9-16. Food Chemistry. 12 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Balai Besar BPOM Kalimantan Barat. International Journal of Health & Allied Sciences. Buku Ajar Patologi. 2014. 147-53. 272-8. 11 Manabe E. 2010. 8 Sacher and McPherson. Rathinasamy SD. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V Jilid I. Methanol-Induced Oxidative Stress in Rat Lymphoid Organs. 2006. 2009. 2004. 211-17. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 1. Oxidative Stress and Astaxanthin: The Novel Supernutrient Carotenoid. Astaxanthin Protect Mesangial Cells from Hyperglycemia Induced. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Huiyuan Y. 2007. Jakarta: Interna Publishing. Jurnal Protein. 2007. 2 4 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Wilson. 2. Vol. Aulaniam. 7 Data primer: Laporan hasil sampling dan uji bahan makanan yang mengandung formalin di pasar tradisional percontohan. 2006. Adachi S. Lorraine M. Ramasundaram SK. Handa O. Jakarta: EGC. 48: 7-20. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. 3 Kumar V. 2007. Journal of Ocupational Health. 9 Biswal S. 5 Narayanaperumal JP. 10 Liu Q. 2011. 1-20.

Jackson EM. 274-8. Jilid I. Davis Co. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 22 WHO. Zararsiz I. Rodwell. 363-9. Ozen OA. E. 18th Edition. Stick S. Raised exhaled nitric oxide in healthy children is associated with domestic formaldehyde levels. Boston: McGraw Hills. Person. 2009. 24 Franklin P. Daryl K. 18 Murray. 2009. Inhalation exposure to formaldehyde and toluene in the same occupational and consumer setting. A. 2009. 2000. 2000. 2007. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Kus I. Kelainan Hati Akibat Obat. 25 Songur A. Dingle P. Kelainan Enzim pada Penyakit Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 21 Podolsky dan Isserlbacher. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009.A. Widmann's Clinical Interpretation of Laboratory Tests. 578-89. 11th edition. 221-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 5. 426.27. Saluran Empedu. 19 Sacher. 2008. 14 Husadha. 17 Wenas NT. Granner. Biokimia Harper. Harrison's Principles of Internal Medicine. Ronald A dan Mc. 56 13 Sloane. Victor W. 20 Akbar N. World Health Organization. 15 Wilson dan Lester. Y. R. The effects of the inhaled formaldehyde during the early postnatal period in the . Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses penyakit. Dalam: Buku Ajar Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi 5. 19: 573-6. Ed. Am J Respir Crit Care Med. Geneva. 23 Mcnary JE. 16 Guyton dan Hall. KR. Edisi kelima. Akpolat N. Inhal Toxicol. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. dan Pankreas. Concise International Chemical Assessment Document 40: Formaldehyde. 2007. 2011. 2004. Boston: F. Hati. Fisiologi dan Pemeriksaan Hati. Sarsilmaz M. 2000. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

2nd ed. 2006. Ed. 29 A Khan. White. IARC Monogr Eval Carcinog Risks Hum. 28 Heck. D’A. 2-butoxyethanol and 1-tertbutoxypropan. Disteldorf. The metabolism of glycine and serine. Determinationof formaldehyde in biological tissues by gas chromatographyimassspectrometry. Denmark. 2001.O. In: Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry. and Casanova-Schmitz. 9: 347. Effects of formaldehyde and xylene inhalations on fatty liver and kidney in adult and developing rats. 2-butoxyethanol and 1-tertbutoxypropan-2-ol. 1984. Final report on the safety assessment of formaldehyde. Coll. 1982.. 34 IARC. 257-303.2-ol. 2003. 85: 1513-19. G. W. 1981. editors. Effect of formalin feeding or admisnistering into the crops of white leghorn cockerels on hematological and biochemical parameters. WHO Regional Office for Europe. M. In: Neuberger A. 30 Sadiye Kum. A. Copenhagen. 31 Cosmetic Ingredient Review Expert Panel. 33: 168-78. van Deenen LLM. Gamer. Medwell Journal.. 88. Amsterdam: Elsevier. NursalMetin. 6th rev. 35 Neuberger A. . A.. J. SM Husain dan MZ Khan. Neurosci Res Commun. Comprehensive biochemistry. Formaldehyde. 32 Reuss. Wiley-VCH Verlag GmbH &Co. UlkerEren. In: Air Quality Guidelines. Weinheim. 26 IARC. Mustafa Sandikei.. 2006. 2003. 19A. 31-4. 88: 471-8. Vol. Vol. 396-401. 27 WHO. Casarett and Doull’s Toxicology the basic science of poisons. Formaldehyde. 2010. L. Mass Spectrometr. 57 hippocampus of rats: A morphological and immunohistochemical study. Amino acid metabolism and sulphur metabolism. 2001. Formaldehyde. Toxicol. Am. Formaldehyde.. 15. E. Biomed. 9(2). 33 Klaassen CD. 2006.. & Hilt. 3: 157-184. H. IARC Monogr Eval Carcinog Risks Hum. New York: Mc Graw Hill. Poult sci.

FEBS Lett. 2000. dan Maureen MD. 1979. L. & Koivusalo. Biol. Office of Research and Development. 2009. exp. DC. 37 Uotila. 42 Marks AD. 45 Aoyama K. 1995. Agarawal A. Radical-free biology of oxidative stress. Am J Physiol Cell Physiol. Lyon. Jakarta: EGC. Formaldehyde. Integrated Risk Information System (IRIS) on Formaldehyde. 40 Anna P. 257: 105–9. 2007. 47: 425-6. Environmental Protection Agency. Smith C. Biokimia Harper Edisi 27 Alih bahasa Brahm UP. Biokimia Harper Edisi 25. M. 295: 849-68. 2013. M. M. 2007. Toxicity of ingested formalin and its management. Lieberman M. 1999. In: Wood dust and formaldehyde. . National Center for Environmental Assessment. 46 Dale MM. 1989. Tiara M (editor). Med. Alih Bahasa Yulimah S. Sci. L. Impaired Glutathione Synthesis in Neurodegeneration. Jakarta: EGC. 47 Murray RK. 44 Chow CK. Marks’ Basic Medical Biochemistry: A Clinical Approach.S. Singh N. 38 U. Mol. 48 Laurence LB. Rang & Dale's Pharmacology. 43 Jones DP. Rang. IARC. Int. Evidence for the identity of glutathione-dependent formaldehyde dehydrogenase and class III alcohol dehydrogenase. Edinburgh: Churchill Livingstone. 2003. Washington. Nakaki T. 41 International Agency for Research on Cancer. 414: 365–71. Nutritional influence on cellular antioxidant defense systems. 65: 216–362. Expression of formaldehyde dehydrogenase and S-formylglutathione hydrolase activities in different rat tissues. 39 Pandey CK. 2008. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Jakarta: EGC. Goodman dan Gilman: Manual Faramakologi dan Terapi. & Uotila. 2012. J.. 2nd edition. 19: 360-66. Am J Clin Nutr. Human Exp Toxicol. 1997. Adv. 58 36 Koivusalo. Baumann. Barinia A.

55 Higuera-Ciapara I. 56 Hussein G. 2002. Tripathi. Olaizola M. Astaxanthin: a review of its chemistry and applications. Fang YZ. Lee JY. J Nutr. R. Yang S. Commercial Potential for Haematococcus Microalgae as a Natural Source of Astaxanthin. 2011. 1999. Raghunath Reddy RL. Antioxidant activities of astaxanthin and related carotenoids. 2006. 2003. HaematococcusAstaxanthin: applications for human health and nutrition. Characterization of metabolites of astaxanthin in primary cultures of rat hepatocytes. J Agric Food Chem. 59 Ranga Rao A.Wang JH. 57 Yang Y.Trend In Biotechnology. 46: 185-96. Turner ND. 51 Cysewski GR. Trends Biotechnol. 58 Wolz E. 2006.Ravishankar GA. 18: 160-67. 21: 210-16. Process Biochemistry. Sankawa U. and G. Baskaran V. Goto H. Ravishankar. and Health Benefits. Oesterhelt G. Astaxanthin Structure. a carotenoid with potential in human health and nutrition.Goycoolea FM. Mol Nutr Food Res. 50 Sarada. U.Watanabe H. Characterization of microalgal carotenoids by mass spectrometry and . J Hum Nutr Food Sci. 69: 443-9. 2000. Potential health-promoting effects of astaxanthin: a high-value carotenoid mostly from microalgae. Matsumoto K. 2004. 59 49 Wu GY. 54 Yuan JP. Drug Metab Dispos. 37(6): 623-7. 52 Guerin M. Sarada R. Félix-Valenzuela L. Peng J. Huntley ME.A. 2000. Lorenz RT. Crit Rev Food Sci Nutr. Notter B. Yin K. Influence of stress on astaxanthin production in Haematococcuspluvialis grown under different culture conditions. Lupton JR. J Nat Prod. Liechti H. 53 Naguib YM. 27: 456-62.Kistler A. Metabolism. Kim B. 55: 150-65. 2013. Astaxanthin.. Glutathione Metabolism and Its Metabolism and Its Implications for Health.

J. E. Comparative Biochemistry and Physiology Part C: Toxicology & Pharmacology. Carotenol fatty acid esters: easy substrates for digestive enzymes? Comp Biochem Physiol B Biochem Mol Biol. Williams DL. Pettersson A. 2007. Mastrofrancesco A.Wirt U. and ABCA1 is downregulated in Caco-2 cells treated with ezetimibe. Kato Y. 2003. Picardo M. Lignell A. Carotenoid transport is decreased and expression of the lipid transporters SR-BI. Takanami Y.Dewell A. 2003. Ishii T. Akagiri S. Len PA. 2003. J Med Food. 6: 51-6. Biochemistry. Yoshikawa T. 62 Petri D. Class B scavenger receptor-mediated intestinal absorption of dietary beta-carotene and cholesterol. 5(1): 139- 44. Food Chem. Thuahnai ST. 60 their bioavailability and antioxidant properties elucidated in rat model. Safety of an astaxanthin-rich Haematococcus pluvialis algal extract: a randomized clinical trial. 2005. 2008. Osawa T. Fabbri C. Safety assessment of astaxanthin rich microalgae biomass: Acute and subchronic toxicity studies in rats. 2005. 67 Aoi W. Daubrawa F. 19: 299. Tissue distribution of astaxanthin in rats following exposure to graded levels in the feed. J Agric Food Chem. Pharma. 60 Breithaupt DE. 61 Stewart JS. Lundebyea AK. Werder M. 63 Spiller GA. 68 Camera E. Oral bioavailability of the antioxidant astaxanthin in humans is enhanced by incorporation of lipid based formulations. Soni MG. Höglund P. Bamedi A. 2002. 145(2): 202-9. J Nutr. Astaxanthin. 66 Van Bennekum A. Naito Y. Antioxid Redox Signal. Lignell Å. Elfving E. 132: 721-28.Harrison EH. 65 During A. Sci. Han CH. 2010. Sies H. NPC1L1. 64 Odeberg JM. canthaxanthin and beta-carotene differently affect UVA- . Tox. Astaxanthin limits exercise-induced skeletal and cardiac muscle damage in mice. Duong P. Kawai Y. Dawson HD.

77 International Agency for Research on Cancer. 2011. 74 Kaspar JW. 2009. Park HJ. Exp Dermatol. 65: 217–362. Niture SK. Mutation Research/Genetic Toxicology and Environmental Mutagenesis. 61 induced oxidative damage and expression of oxidative stress-responsive enzymes. Nrf2:INrf2 (Keap1) signaling in oxidative stress. 696(1): 69-80.8- tetrachlorodibenzo-p-dioxin in cultured rat hepatocytes. Nguyen A.Geneva. Astaxanthin attenuates the UVB-induced secretion of prostaglandin E2 and interleukin- 8 in human keratinocytes by interrupting MSK1 phosphorylation in a ROS depletion-independent manner. Seo JM. 75 Tripathi DN. p38 and phase-II enzymes. Astaxanthin intervention ameliorates cyclophosphamide-induced oxidative stress. Nishida Y. 2012. . Astaxanthinrich extract from the green alga Haematococcus pluvialis lowers plasma lipid concentrations and enhances antioxidant defense in apolipoprotein E knockout mice. IARC. Jena GB. Comparison of Astaxanthin’s Singlet Oxygen Quenching Activity with Common Fat and Water Soluble Antioxidants. Geyikoglu F. Togar B. Shingo M. 73 Cederbaum A. Yamashita E. 21 Suppl 1: 17-1. 1989. 2010. DNA damage and early hepatocarcinogenesis in rat: Role of Nrf2. Lyon. 1995. 71 Miki W. Switzerland: World Health Organization. 2009. In: Wood dust and formaldehyde.7. 30(2): 111-12. 18: 222-31. Gurbuz H. Pham TX. 2009.Jaiswal AK. Expert Opin Drug Metab Toxicol. 2007. Celik K. Free Radic Biol Med. 2012.com/pdfs/bioastin/batl38. et al.Imokawa G.pdf [18 Juli 2015] 72 Yang Y. Diakses di: http://www. Toxicol Ind Health.cyanotech. Nrf2 and antioxidant defense against CYP2E1 toxicity. J Nutr. 76 WHO. Formaldehyde. Hepatoprotective potential of astaxanthin against 2. p53. Formaldehyde. Exp Dermatol. 70 Turkez H. 69 Terazawa S. Niwano T.3. Park Y. Nakajima H. Yousef MI.

Berlin: 2006. Formaldehyde: an analysis of its respiratory. 18: 160-67. Kirkwood. Stuttgart: Fraunhofer IRB Verlag. 82 Andriani. Universities Federation for Animal Wellfare: USA. 66(6): 441–58. . Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. cutaneous. 83 Dahlan. Commercial potential for Haematococcus Microalgae as a natural source of astaxanthin. James. 2007. The Laboratory Rat.Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. 79 Bardana EJ. Bernauer S. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Edisi ketiga. In: Crucial Issues in Inhalation Research — Mechanistic.The UFAW Handbook on The Care and Management of Laboratory and Other Research Animal. Tampilan Anak Tikus (Rattus norvegicus) dari Induk yang Diberi Bovine Somatotropin (bST) pada Awal Kebuntingan [skripsi]. 1991. 85 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Mielke U. Eight Edition. Heinrich U. 2013. 62 78 Hedberg JJ. Ann. Dampak Hipoksia Sistemik Kronik Terhadap Kerusakan Jaringan Otak [Tesis]. Trend In Biotechnology. Jakarta: Salemba Medika. 80 Adnan NF. 2002. Assessment of the carcinogenicity of formaldehyde. and immunologic effects. Allergy. 84 Cysewski GR. Herbst H. Hoog JO. In: Hubrecht. Sopiyudin M. Grafstrom RC. editors. Assessment of Formaldehyde Metabolizing Enzymes in Human Oral Mucosa and Cultured Oral Keratinocytes Indicate High Capacity for Detoxification of Formaldehyde. 2010. 87 Schulte U. Madle H. 86 Pramono S. Farmakope Indonesia Edisi IV. 1995. Semarang: Universitas Diponegoro. Mohr U. Jakarta: FK UI. 81 Koolhaas JM. Montanaro A. 2012. Robert. Clinical and Epidemiologic (INIS Monographs). Pengaruh formalin peroral dosis bertingkat selama 12 minggu terhadap gambaran histopatologis hepar tikus wistar. 2010. Lorenz RT. 2000. 311-26.

Hattori H. . 89 Pekmez H. Kuş İ. Effect of Astaxanthin on Hepatocellular Injury Following Ischemia / Reperfussion: Toxicology Study. İsmail Z. Shimizu J. 9(4): 21–26. Issue 4. 2014. Aslan M. The Effect of Melatonin Hormone on Formaldehyde-Induced Liver Injury: A Light Microscopic and Biochemical Study. The protective role of vitamin c against formaldehyde induced-hepatotoxicity and nephrotoxicity in male rats. 63 88 Abdulqader S. 90 Takeshita D. Nakajima-Takenaka C. Nakashima T. IOSR J Pharm Biol Sci. Yucel G. Cort A. Vol. Effects of Formaldehyde on Cardiovascular System in In Situ Rat Hearts: Basic & Clinical Pharmacology And Toxicology. Kikuta A. Ozturk S. Savas B. 13(2): 92– 97. 2008. 91 Curek G. Takaki M. Çolakoğlu N. Ögeturk M.105. Firat Univ. Mustafa I. Elsevier. Ramazan H. Demir N. 2009. Elpek G. 2009. Matsuyoshi H.

64 LAMPIRAN 1 KAJI ETIK PENELITIAN .

0-35.0-40.0-33. 2003) Nilai Aktivitas Normal Jantan (IU/L) Betina (IU/L) AST 5.0 5. 65 LAMPIRAN 2 TABEL NILAI ACUAN STANDAR AKTIVITAS ENZIM TIKUS WISTAR Intergrative Body Mind Information System (IBIS.0-46.0 .0 ALT 7.0 4.

66 LAMPIRAN 3 SURAT KETERANGAN TIKUS GALUR WISTAR .

67 LAMPIRAN 4 DOKUMENTASI PENELITIAN Tikus Putih Menjadi Sampel Penelitian Tikus Putih Jantan (Rattus Disusun di Laboratorium Hewan FK norvegicus) Galur Wistar UNTAN Pembuatan Sediaan Astxanthin .

68 Pemberian Perlakuan pada Hewan Coba Penimbangan Berat Badan Hewan Coba Proses Anastesi Tikus Putih Menggunakan Dietil Eter Pengambilan Darah Sinus Retroorbita Pada Tikus Putih .

69 Alat Dan Bahan Uji Aktivitas Alanin Spektofotometer Genesys 10S UV-SIS Aminotransferase (ALT) Reagen ALT Fluitest Analyticon Kuvet Berisi R1 dan R2 Reagen ALT serta Serum Darah Tikus Dimasukkan Dalam Spektrofotometer Dibaca Pada ƛ = 340 nm .

879 .672 18.630 4 65.360 20. 70 LAMPIRAN 5 DATA AKTIVITAS ENZIM ALANIN AMINOTRANSFERASE (ALT) Aktivitas ALT Aktivitas ALT Kelompok Tikus (Pretest) (IU/L) (Posttest) (IU/L) Kontrol Normal 1 19.974 3 66.286 5 65.286 40.599 2 65.328 20.599 6 66.942 2 67.541 6 20.016 19.572 3 19.016 20.885 4 19.328 18.599 40.911 4 66.229 Kontrol Negatif (-) 1 66.672 20.048 20.567 3 64.286 Perlakuan Dosis I 1 66.328 20.672 19.630 6 65.942 4 65.016 19.360 20.328 20.641 18.255 40.016 17.630 40.229 2 20.672 19.286 3 65.286 5 66.974 Perlakuan Dosis II 1 65.223 2 65.916 5 20.630 39.942 39.

192 5 65.879 2 66.360 18.536 .360 17.672 17.536 4 66.911 Perlakuan Dosis III 1 66.848 6 65.016 17.985 17. 71 5 66.536 6 65.328 16.016 17.223 3 64.672 18.

961 6 . Lilliefors Significance Correction Test of Homogeneity of Variances Aktivitas_ALT Levene Statistic df1 df2 Sig.698 9097.831 * Kelompok Perlakuan III .505 * Kelompok Perlakuan I .205 6 . a.958 6 .200 . Between Groups 10038.138 .920 6 .897 25 . 72 LAMPIRAN 6 HASIL UJI STATISTIK AKTIVITAS ALANIN AMINOTRANSFERASE (ALT) SERUM Aktivitas ALT Pretest (Sebelum Perlakuan) Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Kelompok Statistic Df Sig. Statistic df Sig.794 4 2509.254 6 .866 6 .804 *.200 .100 .200 .691 29 Multiple Comparisons Dependent Variable: Aktivitas_ALT .214 6 .200 .134 4 25 .285 6 .212 * Kelompok Perlakuan II .000 Within Groups 6. Aktivitas_ALT Kontrol Negatif . .276 Total 10045.831 6 .968 ANOVA Aktivitas_ALT Sum of Squares df Mean Square F Sig.110 * Kontrol Normal . This is a lower bound of the true significance.180 6 .

Bound Bound * Kontrol Negatif Kontrol Normal 45.101 -.40117 .0832 .1659 Kelompok Perlakuan II .30325 .101 -1.000 44.6982 -45.40117 .05717 .000 44.30325 .000 45.30325 .9904 46.851 -.1404 Kelompok Perlakuan III .30325 .1824 -44.852 -.000 45.30325 .000 -46.05750 .9333 * Kelompok Perlakuan III -45.6821 * Kontrol Normal 45.198 -1.0479 Kelompok Perlakuan I Kontrol Negatif .1824 Kelompok Perlakuan I -.6817 Kelompok Perlakuan III -.30325 .2234 Kelompok Perlakuan II .000 -46.45867 .5674 .709 -. 73 LSD 95% Confidence Interval Mean Lower Upper (I) Kelompok (J) Kelompok Difference (I-J) Std.000 -46.0257 Kelompok Perlakuan II Kontrol Negatif -.30325 .1087 1.11467 .4491 46.143 -1.198 -.0832 * Kontrol Normal 46.6982 Kelompok Perlakuan II .9904 * Kelompok Perlakuan I -46.143 -.55783 .2234 1.1087 Kelompok Perlakuan III -.0257 .11467 .30325 .5099 .852 -.709 -.4491 * Kelompok Perlakuan II -45.67250 .6817 .30325 .30325 .30325 .5674 * Kontrol Normal 45.9333 46.851 -.0479 46.30325 .7392 *.07367 .51583 .67250 .5671 * Kontrol Normal Kontrol Negatif -45.5099 Kelompok Perlakuan III Kontrol Negatif .61500 . The mean difference is significant at the 0.51583 .2971 -45.07367 . .2396 -44.5671 .1659 1.61500 .45867 .30325 .30325 . Error Sig.6821 .30325 .7392 .1404 .05750 .000 -46.30325 .30325 .2971 Kelompok Perlakuan I -.05717 .30325 .05 level.30325 .2396 Kelompok Perlakuan I -.30325 .55783 .

This is a lower bound of the true significance.200 . Lilliefors Significance Correction Test of Homogeneity of Variances Aktivitas_ALT Levene Statistic df1 df2 Sig.167 6 .474 * Kelompok Perlakuan I .920 6 .982 6 .117 .925 2212.702 4 543.180 6 . Between Groups 2175. 74 Aktivitas ALT Posttest (Setelah Perlakuan) Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Kelompok Statistic df Sig.960 Kontrol Normal .960 *.145 25 .505 * Kelompok Perlakuan III . a.246 Total 2181.200 .180 6 .000 Within Groups 6. * Aktivitas_ALT Kontrol Negatif . Statistic df Sig.881 .167 6 .200 .200 .505 * Kelompok Perlakuan II .982 6 .581 4 25 .847 29 Multiple Comparisons Dependent Variable: Aktivitas_ALT LSD .679 ANOVA Aktivitas_ALT Sum of Squares df Mean Square F Sig. .920 6 .293 6 .916 6 .

2441 * Kelompok Perlakuan I -2.28624 .8189 .6467 * Kelompok Perlakuan I 19.1035 23.28624 .28624 .010 -1.28624 .2383 20.4804 * Kelompok Perlakuan III 22.05717 .0463 3.2126 *.3602 * Kelompok Perlakuan II 1.22933 .000 1.28624 .000 22. Bound Bound * Kontrol Negatif Kontrol Normal 20.28624 .000 2.69300 .28624 .000 -23.3013 * Perlakuan II Kontrol Normal -1. .4174 * Kelompok Perlakuan II 21.63583 .3602 .000 -20.000 19.89083 .431 -.05717 .000 1.2825 -22.80217 .05 level.4232 -1.86517 .28624 .28624 . Error Sig.4676 20.000 -2.2756 3.2756 * Kelompok Perlakuan II -.2825 * Kontrol Normal Kontrol Negatif -20.4735 * Kelompok Perlakuan III .4547 * Kelompok Kontrol Negatif -21.1035 Perlakuan III * Kontrol Normal -2.2254 * Kelompok Kontrol Negatif -19.80217 .83367 .28624 .28624 .63583 .000 -22.89083 .28624 .6467 -19.3013 22.4174 -19.2383 Perlakuan I Kontrol Normal .4735 2.28624 .000 21.06300 .000 -2.06300 .6525 -1.000 -3.69300 . 75 95% Confidence Interval Mean Difference Lower Upper (I) Kelompok (J) Kelompok (I-J) Std.000 -20.4232 * Kelompok Perlakuan III 2.28624 .28624 .86517 .82783 .000 19.82783 .2441 2.8189 * Kelompok Perlakuan II 2.2254 -2.0463 * Kelompok Perlakuan I -2.4804 -21.28624 .4676 Kelompok Perlakuan I -.4547 -2.3917 * Kelompok Kontrol Negatif -22.22933 .28624 .28624 .6525 * Kelompok Perlakuan III 2.000 -3.2126 1.28624 .431 -. The mean difference is significant at the 0.83367 .000 2.010 .3917 -.28624 .

576 Aktivitas ALT Posttest Kelompok Normal .144911 Kelompok Normal Paired Samples Correlations N Correlation Sig. 76 Aktivitas ALT Kontrol Normal Terhadap Waktu Perlakuan Paired Samples Statistics Mean N Std.354959 .597 5 .255 Aktivitas ALT Posttest Kelompok Normal Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Std. Pair 1 Aktivitas ALT Pretest Kelompok Normal & 6 . (2- Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed) Pair 1 Aktivitas ALT Pretest Kelompok Normal - -. Interval of the Std.561301 .229150 Kelompok Normal Aktivitas ALT Posttest 20.469603 .553 . Error Mean Pair 1 Aktivitas ALT Pretest 20.114500 .05700 6 .607318 .17150 6 .191715 -.378318 -. Deviation Std. Error Difference Sig.

783 .67200 6 . Error Mean Pair 1 Pretest Kontrol Negatif 65.198435 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Deviation Std.530467 26.000 Posttest Kontrol Negatif . Pair 1 Pretest Kontrol Negatif & 6 -.355120 24. 95% Confidence Interval Std. Error of the Difference Sig.443333 .066 Posttest Kontrol Negatif Paired Samples Test Paired Differences Std.177641 Posttest Kontrol Negatif 40. 77 Aktivitas ALT Kontrol Negatif (-) Terhadap Waktu Perlakuan Paired Samples Statistics Mean N Std.486065 .22867 6 .435129 .647 5 .869864 . (2- Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed) Pair 1 Pretest Kontrol Negatif - 25.356199 71.

229217 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Error of the Difference Sig.211435 Posttest Uji Dosis I 20.729833 .434971 .40083 6 . Error Mean Pair 1 Pretest Uji Dosis I 66.561464 .522 5 . Pair 1 Pretest Uji Dosis I & Posttest 6 . (2- Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed) Pair 1 Pretest Uji Dosis I - 45.273359 46.186308 257.678 .13067 6 .139 Uji Dosis I Paired Samples Test Paired Differences Std.000 Posttest Uji Dosis I .177576 45. 78 Aktivitas ALT Perlakuan Dosis I Terhadap Waktu Perlakuan Paired Samples Statistics Mean N Std. 95% Confidence Interval Std. Deviation Std.517908 .

141722 48.561464 .080 Posttest Uji Dosis II Paired Samples Test Paired Differences Std.081799 .277000 1.441642 46.61483 6 .758 . Error Mean Pair 1 Pretest Uji Dosis II 65.000 Posttest Uji Dosis II . 79 Aktivitas ALT Perlakuan Dosis II Terhadap Waktu Perlakuan Paired Samples Statistics Mean N Std.229217 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 Pretest Uji Dosis II & 6 -.412278 107. 95% Confidence Interval Std.048 5 . (2- Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed) Pair 1 Pretest Uji Dosis II - 47.241755 Posttest Uji Dosis II 18. Error of the Difference Sig.592177 .33783 6 . Deviation Std.

231 Posttest Uji Dosis III Paired Samples Test Paired Differences Std.506060 . 80 Aktivitas ALT Perlakuan Dosis III Terhadap Waktu Perlakuan Paired Samples Statistics Mean N Std.000 Posttest Uji Dosis III . (2- Mean Deviation Mean Lower Upper t df tailed) Pair 1 Pretest Uji Dosis III - 48. Deviation Std.456855 .486065 . Pair 1 Pretest Uji Dosis III & 6 .398 5 .577 .198435 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Error Mean Pair 1 Pretest Uji Dosis III 65.186510 47. 95% Confidence Interval Std. Error of the Difference Sig.673273 258.714393 48.193833 .72950 6 .53567 6 .206598 Posttest Uji Dosis III 17.