You are on page 1of 26

PRESENTASI KASUS

PNEUMONIA

PEMBIMBING :

dr. Shelvi Herawati Tamzil, Sp.A

Disusun oleh :

Nurunnisa Isny, S.Ked

1102012208

KEPANITRAAN DEPARTEMEN ANAK

RSUD DR DRAJAT PRAWIRANEGARA SERANG

MARET 2017

STATUS PASIEN

Nama : By. B

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal Lahir : 3 Oktober 2016 pukul 05.08 WIB

Ruang Perawatan : Flamboyan 3

Nama Ayah : Tn. A

Usia Ayah : 36 tahun

Pendidikan : Tamat SD

Alamat : Ciomas

Nama Ibu : Ny. J

Usia Ibu : 32 tahun

Pendidikan : Tamat SD

Alamat : Ciomas

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Sesak nafas

Keluhan Tambahan : Batuk, pilek, Demam

2

dan DPT 1.800 gram Panjang badan : 62 cm 3 . pilek masih ada. Pemeriksaan Fisik (26 Februari 2017) Keadaan Umum : Sakit berat Kesadaran : Somnolen Heart Rate : 180 x/menit Respirasi : 60 x/menit Suhu : 37. Pasien sebelumnya sempat dibawa ke dokter dan puskesmas. Keluhan demam sudah tidak ada sejak 1 hari SMRS. Drajat Prawiranegara dengan keluhan sesak nafas. Drajat Prawiranegara Riwayat Kelahiran Pasien merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara. dan semakin memberat sejak 14 jam SMRS. Sesak nafas dirasakan sejak 2 hari SMRS.8 C Status Gizi (Weight for length) Berat badan : 6. batuk dan pilek sejak 3 hari SMRS. Ketika di puskesmas pasien diberikan infuse RL dan dipasangkan oksigen. BCG. Polio 1.Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke IGD RSUD dr. Pasien lahir ditolong oleh dukun. Riwayat Imunisasi Pasien sudah pernah melakukan imunisasi hepatitis B0. namun keluhan batuk. dan langsung menangis. Keesokan harinya pasien dibawa oleh ibunya ke bidan. Sebelumnya pasien juga sempat demam. kemudian di rujuk ke RSUD dr. Saat di bidan pasien hanya diberikan obat penurun panas dan anti mual.

supel 7. THT Pernafasan cuping hidung (+). Abdomen Bising usus (+). CRT < 2” 8. wheezing (+/+). Pulmo : Vesikuler (+/+).5 % Trombosit : 675. Drajat Prawiranegara (1 Maret 2017) 4 . Mata Konjungtiva anemis (-/-).600 /uL Ht : 28. reflek cahaya langsung (+/+) reflek cahaya tidak langsung (+/+) 3.S2 regular.1 > SD > 0 Gizi baik Status Generalis 1.1 g/dl Leukosit : 23. murmur (-) gallop (-) 6. bibir sianosis (-) 4.000 /uL GDS : 137 mg/dl Laboratorium RSUD dr. Kulit Ikterik (-) Laboratorium RSUD dr. Thorax Simetris. rhonki (+/+) Cor : S1. Drajat Prawiranegara (25 Februari 2017) Hb : 9. retraksi (+). sclera ikterik (-/-). Leher Tidak tampak pembesaran KGB 5. Kepala Normocephale 2. Ekstremitas Akral hangat (+).

800 gr O/ 5 .5 % Trombosit : 735.000 /uL Hasil Foto Rontgen (25 Februari 2017) Kesan : Bronkhopneumonia Diagnosis Kerja : Pneumonia berat Tatalaksana Kerja : O2 NRBM 8-10 liter Vicillin SX 4 x 300 mg Cefotaxime 3 x 350 mg Prognosis Ad vitam : ad bonam Ad fungsionam : ad bonam Ad sanationam : ad bonam Follow Up Tanggal Follow Up 27/02/2017 S/ Sesak nafas (+) BB : 6.7 g/dl Leukosit : 5.Hb : 10.100 /uL Ht : 31.

5 mg Paracetamol inj 3 x 75 mg Dexamethasone 3 x 1.Usia: 4 bulan KU : Lemah KS : Somnolen T : 37. CRT < 2’’ A/ Pneumonia berat P/ IUFD 2A 700 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7.5 mg Paracetamol inj 3 x 75 mg 02 NRBM 5-8 liter NGT untuk dekompresi Puasa Observasi TTV Pro ICU 28/02/2017 S/ Demam (+). murmur (-) Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat. retraksi (+) Pulmo : Ves +/+ Rh +/+ Wh +/+ Cor : S1 S2 reguler Gallop (-). Rh +/+.Si -/- THT : POC (-) PCH (+) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD.4oC HR : 135 x/menit RR : 57 x/menit Kepala : UUB datar Mata : Ca -/. retraksi (+) Pulmo : Ves +/+. CRT < 2’’ A/ Pneumonia dd/ Bronkhitis P/ IUFD 2A 700 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7.9o C KS : Somnolen RR : 52 x/menit Kepala : UUB datar Mata : Ca -/.Si -/- THT : POC (-) PCH (+) Thorax: SSD. Wh +/+ Cor : S1 S2 reguler.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Lemah HR : 120 x/menit T : 37. batuk (+) BB: 6.5 mg 02 NRBM 5-8 liter NGT untuk dekompresi Puasa 6 . gallop (-). sesak nafas (+). Murmur (-) Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat.

BAK (+). Gallop (-) Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat.7 g/dl Leukosit : 5. Trombosit 2/03/2017 S/ BAB (-). Leukosit.5oC KS : Composmen tis RR : 45 x/menit Kepala : Normocephale Mata : Ca -/. murmur (-) Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat. Batuk (+) BB : 6. retraksi (-) Pulmo : Ves +/+ Rh +/+ Wh -/- Cor : S1 S2 Reguler. murmur(-).Si -/- THT : POC (-) PCH (+) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD.Si -/- THT : POC (-) PCH (+) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Lemah HR : 127 x/menit KS : Somnolen RR : 58 x/menit T : 37o C Kepala : Normocephale Mata : Ca -/.100 /uL 7 . HR : 111 x/menit T : 36. Observasi TTV Pro ICU 1/03/2016 S/ Sesak nafas (+) BB : 6.5 mg Paracetamol inj 3 x 75 mg bila suhu >38oC Dexamethasone 3 x 1. CRT < 2’’ A/ Pneumonia berat P/ IUFD KaEN 3B 680 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7. retraksi (+) Pulmo : Ves +/+ Rh +/+ Wh -/- Cor : S1 S2 reguler. Ht.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Sedang. CRT < 2’’ Hasil lab (1 Maret 2017) Hb : 10. gallop (-).5 mg 02 NRBM 5-8 liter Asi 8 x 5 cc per oral Cek lab Hb.

Wh -/- Cor : S1 S2 Reguler.Si -/- 8 . HR : 85 x/menit T : 36. CRT < 2’’ A/ Pneumonia berat P/ IUFD KA-EN 3B 440 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7.5 mg 02 nasal 1-2 liter Nebu bila perlu Asi 8 x 10-15 cc per oral 3/03/2017 S/ Batuk (+).5 C Kepala : UUB datar Mata : Ca -/. BAB (+) BAK (+).8 mg bila perlu 02 nasal 1-2 liter Nebu bila perlu Asi 8 x 30 cc per oral 4/03/2017 S/ Batuk (+).000 /uL A/ Pneumonia Berat P/ IUFD KA-EN 3B 600 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7. Sesak (-). muntah (-) BB : 6. Ht : 31. HR : 132 x/menit KS : Composmentis RR : 30 x/menit T : 36. gallop (-) Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Sedang.9o C KS : Composmentis RR : 34 x/menit Kepala : UUB datar Mata : Ca -/.5 % Trombosit : 735. muntah (-) BB : 6.5 mg Paracetamol inj 3 x 75 mg bila suhu >38oC Dexamethasone 3 x 1. sesak (-). BAB (+) BAK (+). Edema. murmur (-).Si -/- THT : POC (-) PCH (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD.5 mg Paracetamol drop 3 x 0. retraksi (-) Pulmo : Ves +/+ Rh +/+.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Sedang.

Edema.5 C Kepala : UUB datar Mata : Ca -/. murumur -.6oC KS : Composmentis RR : 32 x/menit 9 . murmur - Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat.+ Wh -/- Cor : S1 S2 Reguler gallop-. CRT < 2’’ A/ pneumonia berat P/ IUFD KA-EN 3B 300 CC/ 24 jam Gentamycin inj 2 x 20 mg Cefotaxime inj 3 x 350 mg Ranitidine inj 2 x 7. THT : POC (-) PCH (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD.5 mg Paracetamol drop 3 x 0. retraksi (-) Pulmo : Ves +/+ Rh +/+ Wh -/- Cor : S1 S2 Reguler. HR : 130 x/menit KS : Composmentis RR : 31 x/menit T : 36.800 gr O/ Usia : 5 bulan KU : Sedang HR : 129 x/menit T : 36.5-1 liter Nebu 3 x/ hari Asi 8 x 50 cc per oral Pindah flamboyan 3 6/03/2017 S/ BAB (+) BAK (+). retraksi (-) Pulmo : Ves +/+ Rh +/.Si -/- THT : POC (-) PCH (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Thorak: SSD. muntah (-) BB : 6. batuk (+). gallop - Abd : BU (+) Supel Ext : Akral Hangat. Sesak (-) BB : 6. Edema.8 mg bila perlu 02 nasal 0.800 gr O/ Usia : 4 bulan KU : Sedang. CRT < 2’’ A/ Pneumonia P/ Gentamycin stop Minum 8 x 60 cc Terapi lain lanjut 7/03/2017 S/ Batuk (-).

retraksi (-) Pulmo : Ves +/+.SI -/- THT : PCH. Rh +/+. murmur (-). CRT <2” A/ Pneumonia P/ cefotaxime 3 x 350 mg Minum 8 x 75 cc Nebulisasi stop Terapi lain lanjut TINJAUAN PUSTAKA Definisi 10 . gallop (-) Abd : BU (+) Extr : akral hangat. Wh -/- Cor : S1S2 reguler.POC – Thorax : SSD. Kepala : Normocephale Mata : Ca -/.

3 Menurut WHO adalah suatu bentuk infeksi pernafasan akut yang mempengaruhi paru-paru. Di dalam alveoli terdapat kapiler- kapiler pembuluh darah dimana terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. yang tiap-tiap ujungnya berakhir pada alveoli. imunisasi tidak lengkap. Haemophilus influenza. Beberapa factor resiko kejadian dan derajat pneumonia. sedangkan di Negara berkembang 10-20 kasus/ 100 anak/ tahun. adanya saudara serumah yang menderita batuk. Ketika seseorang menderita pneumonia. paru akan bertambah kaku dan timbul tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. tidak mendapatkan air susu ibu (ASI). GER (Gastroesophageal reflux). Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian per tahun pada anak balita di Negara berkembang. dan kamar tidur yang terlalu padat penghuninya. serta 11 . gizi buruk. Staphylococcus aureus. aspirasi. deficit imunologi. polusi. Streptococcus group B.2 Paru-paru terdiri dari ribuan bronkhi yang masing-masing terbagi lagi menjadi bronkhioli. Antara lain defek anatomi bawaan. 3 Etiologi Secara umum bakteri yang berperan penting pada pneumonia adalah Streptococcus pneumonia. Insidens pneumonia pada anak dibawah 5 tahun di Negara maju adalah 2-4 kasus/ 100 anak/ tahun.1 Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai Negara terutama di Negara berkembang termasuk Inonesia. Anak dengan pneumonia dapat meninggal karena hipoksia atau sepsis (infeksi menyeluruh). Apabila pneumonia bertambah parah. Anak yang menderita pneumonia. berat badan lahir rendah. nanah (pus) dan cairan mengisi alveoli tersebut dan menyebabkan kesulitan penyerapan oksigen sehingga terjadi kesukaran bernapas. kemampuan paru-paru untuk mengembang berkurang sehingga tubuh bereaksi dengan bernapas cepat agar tidak terjadi hipoksia (kekurangan oksigen).

pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumonia. Usia 12 bulan hingga kurang dari 5 tahun = ≥ 40 x/ menit  Bukan pneumonia : tidak didapatkan adanya TDDK maupun napas cepat. Spectrum mikroorganisme penyebab pada neonates dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih besar. Walaupun pneumonia viral dapat ditatalaksana tanpa antibiotic tapi umumnya sebagian besar pasien diberikan antibiotic karena infeksi bakteri sekunder tidak dapat disingkirkan. tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat (TDDK Kuat)  Bukan pneumonia : tidak didapatkan adanya TDDK kuat dan napas cepat 2. Usia 2 bulan hingga kurang dari 12 bulan = ≥ 50 x/ menit . selain bakteri tersebut.kuman atipik klamidia dan mikoplasma. colli. terutama dalam spectrum etiologi. Patofisiologi 12 . gambaran klinis. Usia merupakan factor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak. ≥ 60 x / menit. namun terdapat napas cepat . sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumonia. Etiologi pneumonia pada neonates dan bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan bakteri gram negative seperti E. dan Staphylococcus aureus. Pada bayi yang lebih besar dan anak balita.4 Klasifikasi Pneumonia berdasarkan umur dibagi menjadi 2:1 1. Pseudomonas sp. Usia 2 bulan hingga kurang dari 5 tahun  Pneumonia berat : ditandai dengan adanya TDDK  Pneumonia : tidak didapatkan adanya TDDK. Haemophillus influenza tipe B. dan strategi pengobatan. atau Klebsiella sp. sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja. Usia kurang dari 2 bulan  Pneumonia berat : ditandai dengan napas cepat yaitu.

Infeksi Streptococcus pneumonia biasanya bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata di seluruh lapang paru (bronkhopneumonia) dan pada anak besar atau remaja dapat berupa konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru-paru bagian prifer melalui saluran respiratori. Beberapa bakteri tertentu sering menimbulkan gambaran patologis tertentu bila dibandingkan dengan bakteri lain. perdarahan dan kavitasi. terbatasnya penggunaan prosedur diagnostic invasive. Antibiotic yang diberikan sedini mungkin dapat memotong perjalanan penyakit. Terdapat korelasi antara produksi koagulase dan virulensi kuman. 13 . mikroorganisme penyebab yang luas. yaitu terjadi sebukan sel PMN. Fibrin. eritrosit. Hanya sebagian kecil yang berat. sehingga dapat berobat jalan saja. sehingga terjadi eksudat fibrinopurulen. sel akan mengalami degenerasi. Koagulase berinteraksi dengan factor plasma dan menghasilkan bahan aktif yang mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin. Selanjutnya dideposisi fibrin semakin bertambah.4 Manifestasi Klinik Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga sedang. Pneumotokel dapat menetap hingga berbulan- bulan.stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. System bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan tetap normal. kuman dan debris menghilang. fibrin menipis. gejala kliis yang kadang tidak khas terutama pada bayi. Selanjutnya jumlah makrofag meningkat di alveoli. cairan edema dan ditemukannya kuman di alveoli. lekosidin. karena staphylococcus aureus menghasilkan berbagai toksin dan enzim seperti hemolisin. dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan di RS. sehingga stadium khas tidak terjadi. terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat. Staphylococcus yang tidak menghasilkan koagulase jarang menimbulkan penyakit yang serius. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi. Pneumotokel atau abses-abses kecil sering disebabkan oleh staphylococcus aureus pada neonates atau bayi kecil. Beberapa factor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomic dan imulnologik. Toksin dan enzim ini menyebabkan nekrosis. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah poliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Stadium ini disebut sebagai stadium hepatisasi merah. mengancam kehidupan. Stadium ini disebut stadium resolusi. stafilokinase dan koagulase. tetapi biasanya tidak memerlukan terapi lebih lanjut.

dan demam. air hunger. umunya terlihat tanda-tanda hiperinflasi bilateral dengan berbagai bentuk infiltrate difus. namun jarang terjadi setelah usia 4 bulan. dikenal juga sebagai sindrom pneumonitis. sakit kepala. tidak mau minum . dan ronki. terkadang ditemukan gejala ekstrapulmoner  Gejala gangguan respiratori. dan factor pathogenesis. penurunan nafsu makan. yaitu batuk. dan sianosis Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi. Gambaran klinis tersebut sulit dibedakan dengan sepsis atau meningitis. napas cuping hidung. bronkopneumonia. kelompok usia pada anak merupakan factor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda sehingga perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia. malaise. retikulonoduler. takipnea. dan sianosis. Disamping itu. 2. gelisah. keluhan gastrointestinal seperti mual. takipneu. suara napas melemah. Akan tetapi pada neonates dan bayi kecil. takikardi atau bradikardi.etiologi noninfeksi yang relative lebih sering. dan gabaran milier. 1. Pada bayi BBLR sering terjadi hipotermi. Pneumonia pada neonates dan bayi kecil Gambaran klinis pada neonates dan bayi kecil tidak khas. Sepsis pada pneumonia neonates dan bayi kecil sering ditemukan sebelum 48 jam pertama. Pada foto torak tidak khas. yang ditndai dengan batuk staccato (inspirasi diantara setiap satu kali batuk). beberapa kasus terjadi pada usia 2 minggu. retraksi subkosta. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat-ringannya infeksi. Gejala klinis meliputi rhonki atau mengi. mencakup serangan apnea. gejala dan tanda pneumonia lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. kadang disertai muntah. sianosis. muntah atau diare. merintih.sekitar 30 % dari infeksi Chlamydia trachomatis berkembang menjadi pneumonia berat. atelektasis. takipneu. napas cuping hidung. sesak napas. Umumnya bayi mendapatkan infeksi dari ibu pada masa persalinan. Gejala umumnya berupa gejala infeksi respiratori ringan-sedang. dan memerlukan perawatan. Awitan gejala timbul perlahan dan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Namun gejala baru timbul saat usia 4-12 minggu. letargi. retraksi dada. Pneumonia pada balita dan anak yang lebih besar 14 . yaitu demam. seperti infiltrate intersisial. tetapi secara umum adalah sebagai berikut:  Gejala infeksi umum. umumnya pasien tidak demam. muntah. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis merupakan infeksi perinatal dan dapat menyebabkan pneumonia pada bayi berusia 2 bulan. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan.

Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan konjungtivitis. Mikroorganisme penyebabnya adalah Mycoplasma pneumonia. Abdomen mengalami distensi akibat dilatasi lambung yang disebabkan oleh aerofagi atau ileus aralitik. retraksi subkosta (chest indrawing). napas cuping hidung. Anak besar dengan pneumonia lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. menggigil. Secara klinis ditemukan gejala respiratori seperti takipnea . gerakan ekskursi dada tertinggal di daerah efusi. Infeksi oleh mycoplasma pneumonia 15 . legionnela pneumofila dan ureaplasma urealyticum. Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrate alveolar. Mycoplasma pneumonia merupakan etiologi pneumonia atipik yang cukup signifikan. Chlamydia pneumonia. 4. Bila efusi pleura bertambah. Chlamydia spp. 3. Spectrum etiologi pneumonia pada anak meliputi Streptococcus pneumonia. Mycoplasma pneumonia. dan bersama dengan Chlamydia peumoniae diperkirakan prevalensinya mencapai 40%. Peningkatan kewaspadaan pada Mycoplasma dan Chlamydia pneumonia sebagai penyebab potensial pneumonia atipik pada anak disertai dengan perkembangan metode deteksi yang lebih akurat diharapkan akan menurunkan morbiditas penyakit. Pneumonia atipik Istilah pneumonia atipik digunakan untuk membedakan dengan gambaran pneumonia yang lazim dikenal. Suatu penelitian melaporkan pneumonia mikoplasma pada anak berusia > 5 th mencapai 20%. anoreksia. Chlamydia trachomatis sering ditemukan sebagai penyebab infeksi akut respiratori pada bayi melalui transmisi vertical dari ibu pada masa persalinan dan merupakan etiologi infeksi perinatal yang penting. Pada anak yang lebih besar dan remaja. ronki dan sianosis. Bila terjadi efusi pleura atau empiema. Keluhan meliputi demam. dan kadang keluhan gastrointestinal seperti muntah dan diare. faringitis dan larigitis. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia pneumonia merupakan penyebab potensial infeksi respiratori dan pneumonia anak. akhir-akhir ini banyak laporan tentang prevalens infeksi Mycoplasma pneumonia yang dapat dipercaya. batk. sesak napas akan semakin bertambah. Gerakan dada juga akan terganggu bila terdapat nyeri dada akibat iritasi pleura. sakit kepala. atau memang membesar karena terjadi gagal jantung kongestif sebagai komplikasi pneumonia. Namun dengan berkembangnya metode deteksi seperti microimmunofluorescence (MIF) dan polymerase chain reaction (PCR). Nyeri abdomen dapat menyebar ke kuadran kanan bawah dan menyerupai appendicitis. Haemophillus influenza tipe B. Retraksi dan takipea merupakan tanda klinis pneumonia yang bermakna. Hati mungkin teraba karena tertekan oleh diafragma. Deteksi keduanya sulit dilakukan. Kadang-kadang timbul nyeri abdomen bila terdapat pneumonia lobus kanan bawah yang timbulkan iritasi pada diafragma. Mikroorganisme penyebabnya adalah Mycoplasma pneumonia yang lazim dikenal. di samping berbagai virus respiratori. Staphylococcus aureus. otitis media. tetapi nyeri pleura semakin berkurang dan berubah menjadi nyeri tumpul.

dan eritema nodosum.oleh karena itu. Sering terjadi underdiagnosis pada infeksi Mycoplasma pneumonia. Chlamydia pneumonia juga dihubungkan dengan penyakit lain seperti arteri koroner. retikuler. rinosinusitis dan otitis. kadang dapat juga berlanjut menjadi bronchitis. Gambaran foto rontgen toraks menunjukkan infiltrate difus atau gambaran peribronkial nonfokal yang jauh lebih berat dari gejala klinis. Pneumonia ini ditemukan di seluruh dunia. Meskipun umumnya gejala klinis ringan. Geala klinis awalmya berupa gejala seperti flu. malaise. 16 . bronkiolitis dan pneumonia. yaitu batuk kering. Umumnya gejala klinis infeksi Mycoplasma pneumonia adalah ringan dan kadang-kadang dapat sembuh sendiri. Leukosit darah tepi biasanya normal. Kultur memerlukan waktu selama 2 minggu dan uji serologis hanya bermanfaat bila telah teradi pembentukan antibodi. Mengi ditemukan pada 30-40% kasus pneumonia mikoplasma dan lebih sering ditemukan pada anak yang lebih besar. dan batuk. mialgia. Seperti infeksi virus. tetapi kasus berat seperti severe necrotizing pneumonitis dengan konsolidasi luas pada jaringan paru dan efusi pleura juga pernah dilaporkan. Penularan dalam rumah tangga dapat terjadi dalam jangka waktu berbulan- bulan. Gambaran foto torak pneumonia mikoplasma bevariasi.umumnya perjalanan penyakit dan gejala klinis sulit dibedakan dengan pneumonia mikoplasma. bercak konsolidasi. yaitu ketika penyakit sudah sangat berkembang. dan demam yang tidak tinggi. mialgia. Sputum mjungkin bercak arah dan batuk dapat menetap hingga berminggu-minggu.5 oC. Gejala respiratori umumnya tidak mencolok. Batuk terjadi 3-5 hari setelah awitan penyakit. malaise. Guillan Barre . Hasil pemeriksaan auskultasi paru bervariasi. sakit kepala. oleh karena itu tidak dikerjakan secara rutin. Masa inkubasi lebih kurang 3 minggu. namun lebih sering di daerah tropis. infeksi Chlamydia pneumonia dapat berperan dalam pathogenesis asma. Akan tetapi. 5. Suhu tubuh jarang mencapai lebih dari 38. dapat juga menyebabkan bronchitis dan pneumonia. arteritis. sakit kepala. Diduga adanya hubungan antara infeksi Chlamydia pneumoniae kronis denganeksaserbasi asma pada anak. pembesaran kelenjar hillus. dan kadang disertai efusi pleura. digagnosis klinis pneumonia mikoplasma tanpa pemerikaan rdiologis dapat dikacaukan dengan asma. sind. terutama terjadi di asrama atau keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang besar. Gambaran klinis pneumonia atipik didahului dengan gejala menyerupai influenza (influenza like syndrome) seperti demam. Infeksi ini diperoleh melalui droplet dari kontak dekat. Pada pemeriksaan auskultasi dada tidak ada kelainan. meliputi gambaran infiltrate interstisial. pilek. Hal ini karena uji mikrobiologis tidak dapat dipakai sebagai alat diagnostic. awalnya tidak produktif kemudian menjadi produktif. tenggorokan gatal. tapi kasus berat yag fatal dan mengancam jiwa dapat terjadi. endokarditis. Infeksi oleh Chlamydia pneumonia Chlamydia pneumonia merupakan penyebab tersering IRA-atas seperti faringitis. retikulonoduler.

diberikan antibiotic oral  Bukan pneumonia 17 . sesak napas dan berbagai tanda bahaya agar anak segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Sesak napas dinilai dengan melihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam ketika menarik napas (retraksi epigastrium). tanda bahayauntuk bayi berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum. serta gambaran radiologis. stridor. dan suara napas melemah. Akibat tingginya angka mobiditas dan mortalitas pneumonia pada balita. Tanda bahaya pada anak berusia 2 bulan. > 50 x/menit untuk usia 2 bulan-1 tahun . kesadaran menurun. Predictor paling kuat adanya pneumonia adalah demam. dan menentukan dasar pemakaian antbiotik. Berikut klasifikasi pneumonia : Bayi dan anak usia 2 bulan – 5 tahun  Pneumonia berat : Bila ada sesak napas Harus dirawat diberikan antibiotik  Pneumonia Bila tidak ada sesak napas Napas cepat (+) . kejang. ronki. retraksi. dan gizi buruk. Oleh karena itu. maka dalam penanggulangannya WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana yang sederhana. batuk. penemuan bakteri penyebab tidak terlalu mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai.5 tahun adalah tidak dapat minum. pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan system respiratori. >40 x/ menit untuk anak > 1-5 tahun Tidak perlu dirawat. kejang. Pedoman ini bertujuan untuk menyederhanakan kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dapat langsung di deteksi. Gejala klinis sederhana meliputi napas cepat. Napas cepat dinilai dengan menghitung frekuensi napas selama 1 menit penuh saat bayi dalam keadaan tenang. dan demam/ badan terasa dingin.Diagnosis Diagnosis etiologic berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan/atau serologis merupakan dasar terapi yang optimal. sianosis. mengi. kesadaran menurun. dan lebih dari satu gejala respiratori seperti takipneu. menetapkan klasifikasi penyakit. Akan tetapi. nafas cuping hidung. stridor.

sakit kepala kuduk kaku terutama bila lobus kanan yang terkena. 18 . mudah terjadi komplikasi. Ulangan foto torak hanya diperlukan bila gejala klinis menetap. dan sering menyebabkan kematian. ulang foto rontgen torak tidak diperlukan. resolusi infiltrate sering memerlukan waktu yang lebih lama setelah gejala klinis menghilang. Pada pasien pneumonia tanpa komplikasi. nyeri dada Pemeriksaan Penunjang 1. sakit perut. Respiratorik : batuk. diare. letargi. Namun. penyakit memburuk atau untuk tindak lanjut. Kadang bercak sudah ditemukan pada gambaran radiologis sebelum timbul gejala klinis. dan disteni abdomen terutama pada bayi. Radiologis Foto rontgen tidak rutin dilakukan pada pneumonia ringan. 2.  Pneumonia Napas cepat > 60 x /menit atau sesak napas Harus dirawat dan diberikan antibiotik  Bukan pneumonia Tidak ada napas cepat atausesak napas Tidak perlu dirawat. cukup berikan pengobatan simptomatis Anamnesis 1. Nonrespiratorik: demam. muntah. Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotic. anoreksia. hanya diberikan pengobatan simptomatis seperti penurun panas. Bayi berusia di bawah 2 bulan Pada bayi dibawa 2 bulan. Kelainan foto rontgen torak pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. biasanya di rekomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. perjalanan penyakitnya lebih bervariasi.

19 . Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut pneumonia lobaris. batuk. Tambahan posisi lateral pada foto rontgen torak tidak eningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan diagnosis pneumonia pada anak. Foto rontgen torak AP dan lateral hanya dilakukan pada pasien dengan tanda dan gejala klinis distress pernafasan seperti takipnea. disertai dengan peningkatan corak peribronkial.  Bronkopneumonia. dikenal sebagai round pneumonia. Secara umum gambaran foto torak terdiri dari:  Infiltran interstisial. Gambaran foto rontgen torak pneumonia pada anak meliputi infiltrate ringan pada satu paru hingga konsolidasi luas pada kedua paru. bronkopneumonia. atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar. maka hal itu merupakan predikor perjalanan penyakit yang lebih berat dengan resiko terjadinya pleuritis lebih meningkat. peribronchial cuffing dan hiperaerasi  Infiltrate alveolar. dan menyerupai lesi tumor paru. Pada pneumonia staphylococcus sering ditemukan abses-abses kecil dan pneumatokel dengan berbagai ukuran. dengan atau tanpa suara napas yang melemah. Gambaran foto rontgen torak dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi pneumonia. dan terbayak di lobus bawah. berupa bercak-bercak infiltrate yang dapat meluas hingga perifer paru. Penebalan peribronkial. Menurut Lynch dkk. merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Umumnya pemeriksaan yag diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia di IGD hanyalah pemeriksaan torak posisi AP. Infiltrate alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar. Pada suatu penelititan ditemukan bahwa lesi pneumonia pada anak terbanyak berada pada paru kanan. dan ronki. ditandai dengan peningkatan corak bronkovaskular. dan air bronchogram sangat ungkin disebabkan oleh bakteri. ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru. terutama di lobus atas. berbatas yang tidak terlalu tegas. berbentuk sferis.. Bila ditemukan di paru kiri. infiltrate interstisial merata dan hiperinflasicenderung terlihat pada pneumonia virus.

Sebagai respon infeksi atau inflamasi jaringan. dan resiko terjadinya komplikasi lebih tinggi. infeksi virus dan bakteri atau infeksi superisialis atau profunda. protein> 2.000/mm3) menunjukan prognosis yang buruk. pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15. Sedangkan gambaran pneumonia klamidia sulit dibedakan dengan pneumonia mikoplasma. Meskipun fungsi pasting belum diketahui. infiltran interstisial retikulonodular bilateral. Darah perifer lengkap Pada pneumonia virus dan juga pada pneumonia mikplasma umumnyya ditemukan leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat. tetapi bila didapatkan gambaran retikulonodular fokal pada satu lobus. Leukositosis hebat (> 30. 3. produksi CRP secara cepat distimulasi oleh sitokin..000/mm3 dengan predominan PMN. dapat juga ditemukan gambaran bronkopneumonia terutama di lobus bawah. kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan bakteri 20 . Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnosis untuk membedakan antara factor infeksi dengan non infeksi.mm 3.000-40. Leucopenia (<5. Meskipun tidak terdapat gambaran foto toraks yang khas.5 g/dl. Namun. selain itu. pada beberapa kasus terlihat sangat mirip dengan gambaran foto rontgen torak virus. IL-1 dan tumor necrosis factor (TNF). terutama interleukin (IL)-6. C-Reactive Protein (CRP) CRP merupakan suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Pada infeksi Chlamydia pneumonia kadang ditemukan eosinofilia. Kadang- kadang terdapat anemia ringan dan LED yang meningkat. dan glukosa relative lebih rendah daripada glukosa darah. hal ini cenderung disebabkan oleh pneumonia mikoplasma. Secara umum hasil pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat membedakan penyebab infeksi secara pasti. CRP sangat mungkin berperan dalam opsonisasi mikroorganisme atau sel yang rusak. Biasanya lesi foto rontgen torak lebih berat daripada gambaran klinisnya. Gambaran foto rontgen toraks pada pneumonia mikoplasma sangat bervariasi . sering ditemukan pada bakteremi. Efusi pleura merupakan cairan eksudat dengan sel PMN berkisar antara 300-100. dan yang jarang adalah konsolidasi segmen atau subsegmen.000. 2.000/mm3) hampir selalu menunjukan adanya infeksi bakteri.

specimen didapatkan dari usap tenggorok. 21 . Kecuali pada masa neonates. specimen untuk pemeriksaan mikrobiologis dapat berasal dari sputum. 4. sitomegalo dan campak. atau aspirasi paru. influenza A dan B dan adeno. Secara umum uji ini tidak terlalu bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi bakteri tipik. Pada pneumonia anak hanya dilaporkan 10-30% yang ditemukan bakteri pada kultur darah. Untuk konfirmassinya diperlukan serum fase akut dan serum fase konvalesen (paired sera). peningkatan titer juga berarti adanya infeksi terdahulu. Kultur darah jarang positif pada infeksi mikoplasma dan klamidia. bilasan bronskus. Uji Serologis Uji serologic untuk mendeteksi antigen dan antibody pada infeksi bakteri tipik mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang rendah.2. Diagnosis dikatakan definitive bila kuman ditemukan dari darah. pungsi pleura atau aspirasi paru. namunn untuk deteksi bakteri atipik seperti mikoplasma dan klamidia serta beberpa virus seperti RSV. Specimen dari nasofaring untuk kultur maupun untuk deteksi antigen bakteri kurang bermanfaat karena tingginya prevalens kolonisasi bakteri di nasofaring. Basanya hanya pada pneumonia berat yang dirawat di RS. secret nasofaring.3. Untuk pemeriksaan mikrobiologik. baik untuk pewarnaan gram maupun kultur. Namun CRP belum terbukti dapat membedakan secara konklusif infeksi bakteri dengan virus. kejadian bakteremia sangat rendah. darah. sehingga kultur jarang positif. Namun diagnosis infeksi streptococcus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibody seperti antistreptolisin O. cairan pleura. Pemeriksaan mikrobiologis Pemeriksaan mikrobiologik anak tidak rutin dilakukan. Specimen memenuhi syarat jika mengandung lebih dari 25 leukosit dank rang dari 40 sel epitel/lapangan pada pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran kecil. 5. parainfluenza 1. peningkatan antibody IgM dan IgG dapat mengkonfirmasi diagnosis. superfisialis daripada infeksi profunda. CRP kadang juga digunakan untuk evaluasi respon antibiotic. streptozim atau antiDnase B. Pada anak besar dan remaja.

Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan adekuat.Jangan memberikan antibiotik bila anak atau bayi memiliki riwayat anafilaksis atau reaksi alergi sebelumnya terhadap jenis obat tersebut. Antibiotik pilihan kedua (amoksisilin) diberikan hanya apabila obat pilihan pertama tidak tersedia atau apabila dengan pemberian obat pilihan pertama tidak memberi hasil yang baik. Dasar tatalaksana rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotic yang sesuai. Kalau tidak mempunyai antibiotik yang lain maka rujuklah. Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif.Antibiotik diberikan selama 3 hari dengan jumlah pemberian 2 kali per hari. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/ antipiretik. elektrolit dan gula darah. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan intravena. terapi oksigen. terapi antibiotic harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri. Indikasi perawatan didasari dari berat-ringannya penyakit. serta tindakan suportif. . 22 . Gunakan jenis antibiotik lain. Ini dipilih karena sangat efektif. komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan diatasi. cara pemberiannya mudah dan murah. koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa. Untuk menentukan dosis antibiotik yang tepat: . Penggunaan antibiotic yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan . Antibiotik oral pilihan pertama (kotrimoksazol) bila tersedia.Tatalaksana Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Neonates dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap.

seperti kombinasi beta-laktam/ klavulanat dengan aminoglikosid. misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol. Pemberian antibiotic oral 1 1. Pada neonates dan bayi kecil. Pneumonia rawat jalan Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotic lini pertama secara oral. 2. Pada pneumonia ringan berobat jalan. terapi awal antibiotic intravena harus dimulai sesegera mungkin. amikasin atau sefalosporin. Tabel 1. antibiotic yang direkomendasikan adalah spectrum luas. Terapi antibiotic diteruskan selama 7-10 hari pada pneumonia tanpa komplikasi. sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan. atau sefalosporin generasi 23 . Pada pneumonia yang tidak responsive terhadap beta- laktam dan kloramfenikol. baik eritromisin maupun makrolid abaru. dapat digunakan sebagai terapi alternative beta-laktam untuk pengobatan inisial pneumonia. dengan pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S pneumonia dan bakteri atipik. kotrimoksazol 4 mg/kgbb TMP – 20 mg/kgbb sulfametoksazole) Makrolid. dapat diberikan antibiotic tunggal oral dengan efektifitas mencapai 90 %. Dosis: amoksisilin 25 mg/kgbb. Oleh Karena itu pada neonates dan bayi kecil sering terjadi sepsis dan meningitis. Pneumonia rawat inap Pilihan antibiotic lini pertama dapat menggunakan antibiotic golongan beta- laktam atau kloramfenikol. dapat diberikan antibiotic lain seperti gentamisin. meskipun tidak ada studi mengenai lama terapi antibiotic yang optimal.

Sumber oksigen berupa konsentrator oksigen walaupun memerlukan aliran listrik tetapi memiliki beberapa kelebihan karena lebih kecil. lebih ringan dan lebih murah dibandingkan dengan oksigen tabung. Indikasi pengobatan dengan oksigen: . Pemberian oksigen dapat mempertahankan agar pasien tetap hidup sehingga daya tahan tubuh dan antibiotic mendapatkan cukup waktu untuk membunuh kuman penyebab penyakit.Sesuaikan aliran oksigen dengan umur bayi/anak 24 .Alat yang direkomendasikan untuk pemberian oksigen pada bayi/anak adalah melalui selang hidung (nasal prong). Pada anak dengan pneumonia berat atau pneumonia sangat berat yang dapat meninggal karena kekurangan oksigen sangat tepat untuk memberikan oksigen. . . Bila keadaan sudah stabil antibiotic dapat diganti dengan antibiotic oral selama 10 hari. ketiga. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah stabil. atau sefalosporin generasi ketiga. Diperlukan waktu 10 menit untuk menghasilkan konsentrasi oksigen yang diperlukan (90-95%).Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat .Merintih/grunting pada bayi berumur <2 bulan . antibiotic diganti dengan antibiotikoral dan berobat jalan. Tetapi sianosis muncul lambat sehingga relatif kurang sensitif.Sianosis sentral (kebiruan pada wajah di sekitar mulut dan hidung) Merupakan gejala klinik yang terpenting sebagai tanda hipoksemia (kekurangan oksigen dalam darah). pada kasus yang lebih berat diberikan beta-laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena. .Kegelisahan (yang membaik dengan pemberian oksigen) Pemberian Oksigen : . Pada balita dan anak lebih besar.Tidak dapat minum . antibiotic yang direkomendasikan adalah antibiotic beta-laktam dengan atau tanpa klavukanat.<5 tahun .Frekuensi napas lebih dari 70 kali/menit pada anak 2 bulan .

Ilten F. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal. pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta. perikarditis purulenta. Pemberian Oksigen 1 Komplikasi Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis. Tabel 2.Bayi muda berumur <2 bulan dengan pneumonia lebih mudah meninggal dibanding bayi yang lebih tua sehingga pemberian oksigen secara tepat merupakan hal penting. 25 . Jagalah sungguh-sungguh pada bayi prematur untuk menghindari pemberian oksigen terlalu banyak karena dapat mengakibatkan kebutaan. dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. kreatinin kinase meningkat . maka dianjurkan untukmelakukan deteksi dengan teknik non invasive seperti EKG. melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik ventrikel kanan meningkat . Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri. dkk. ekokardiografi dan pemeriksaan enzim..

2. 2012. dkk. Antonius H. Pneumonia. N. In: Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama.who. Kemenkes RI. 4. Modul Tatalaksana Standar Pneumonia. Pudjiadi. Jakarta. 2009. World Health Organization. Pneumonia. UKK Respirologi IDAI: pp 350-365. DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.int/mediacentre/factsheets/fs331/en/ accessed 5 Maret 2017. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.dkk. 2013. 3. Rahajoe. 26 . 2016. Available from: http://www.