You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari
kegiatan di rumah sakit. Namun mengingat bahwa rumah sakit merupakan
tempat tindakan dan perawatan orang sakit, maka kualitas dan
kuantitasnya perlu dipertahankan setiap saat agar tidak mengakibatkan
sumber infeksi baru bagi penderita.
Rumah sakit memerlukan mutu air lebih dari mutu untuk keperluan
sehari-hari. Air sumur atau PAM mungkin cukup untuk kebutuhan air pada
umumnya tetapi untuk keperluan khusus perlu diperlakukan pengolahan
tambahan. Unit-unit pelayanan yang memerlukan mutu air secara khusus
antara lain: laboratorium, farmasi, CSSD, unit perawatan, bedah, laundry
dan peralatan mekanis tertentu (misalnya: unti pembuatan larutan
intravenous, cairan irigasi, pencucian gelas dan perlengkapan
laboratorium, irigasi selama prosedur bedah, melembabkan incubator
perawatan bayi), dan lain-lain.
Tergantung pada kelas rumah sakit dan berbagai jenis pelayanan
yang diberikan mungkin beberapa rumah sakit harus melakukan
pengolahan tambahan terhadap air minum dan air bersih yang telah
memenuhi standar nasional, misalnya bila air bersih digunakan sebagai
bahan baku air untuk dianalisa pada proses mesin pencuci ginjal
.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum adalah sebagai penunjang pembelajaran sanitasi air
bersih Rumah Sakit.

1

dan Sanitasi Rumah Sakit. Instrumen Instalasi sanitasi Air Bersih Rumah Sakit. b. Ruang Lingkup Pembahasan dalam makalah ini meliputi : 1. Kebutuhan Air Minuman dan Air Bersih Rumah Sakit. Tujuan Khusus Tujuan khusus adalah : 1. Pengertian Sanitasi. 8. Rumah Sakit. Terselenggaranya peningkatan Sanitasi di Rumah Sakit terutama pada penyedian Air Bersih. 2 . 2. 4. Pengelolaan Air Bersih Rumah Sakit. C. Pengawasan Kualitas Air di Rumah Sakit 6. Sistem Distribusi Air dalam Bangunan Rumah Sakit 7. Sumber Air Bersih Rumah Sakit. Sistem Pendataan Sanitasi Air Bersih Rumah Sakit . 5. Sebagai pedoman dalam upaya peningkatan Sanitasi Air Bersih di Rumah Sakit 2. 3.

penderita. Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang di dalamnya terdapat bangunan. sanitasi berarti upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik. sanitasi lingkungan (environmental sanitation) adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkem. tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat. pasien dan pengunjung) dan kegiatan pelayanan kesehatan. Menurut WHO. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Sanitasi. Dalam lingkup Rumah Sakit (RS). seperti sampah dan limbah rumah sakit yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. sumber penularan penyakit dan menghambat proses penyembuhan serta pemulihan penderita. pengunjung maupun bagi masyarakat di sekitar RS. atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan (Depkes RI. kimiawi dan biologik di RS yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas.bangan fisik. kesehatan dan daya tahan hidup manusia. 3 . peralatan. 2004). Rumah sakit (RS) adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan. manusia (petugas. menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai 'pemelihara kesehatan'. selain dapat menghasilkan dampak positif berupa produk pelayanan kesehatan yang baik terhadap pasien dan memberikan keuntungan retribusi bagi pemerintah dan lembaga pelayanan itu sendiri. rumah sakit juga dapat menimbulkan dampak negatif berupa pengaruh buruk kepada manusia.

C. danau. Di lain pihak. pilihan yang ada sebaiknya air tanah menjadi pilihan utama terutama bila keadaan geologi cukup baik karena air tanah tidak banyak memerlukan pengolahan dan lebih mudah didesinfeksi dibanding air permukaan disamping juga kualitasnya relatif lebih stabil. Jumlah kebutuhan air minum dan air bersih untuk rumah sakit masih belum dapat ditetapkan secara pasti. 4 . B. mata air. Jumlah ini tergantung pada kelas dan berbagai pelayanan yang ada di rumah sakit yang bersangkutan. terpaksa harus menyediakan pengolahan air permukaan. semakin besar jumlah tempat tidur. pengawasan kualitas dan kuantitas. semakin besar jumlah kebutuhan air. Sebaiknya rumah sakit mengambil air PAM karena akan mengurangi beban pengolahan sehingga tinggal beban pengawasan kualitas airnya. kemudahan pengolahan. biaya operasi dan kecukupan supply baik dari segi jumlah maupun mutu air yang dihasilkan. Kebutuhan minimal air bersih 500 liter per tempat tidur per hari. Makin banyak pelayanan yang ada di rumah sakit tersebut. Secara umum. perkiraan kebutuhan air bersih didasarkan pada jumlah tempat tidur. kebutuhan tenaga untuk mengoperasikan sistem. Sumber Air Bersih Rumah Sakit. Untuk membangun sistem pengolahan perlu mempertimbangkan segi ekonomi. Kebutuhan Air Minuman dan Air Bersih Rumah Sakit. baik dari segi konstruksi sarana. pengolahan. Bila PAM tidak tersedia di daerah tersebut. pemeliharaan. air tanah dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan rumah sakit dengan ketentuan harus memenuhi persyaratan. Bila air tanah juga tidak mungkin. semakin rendah proporsi kebutuhan air per tempat tidur. Dari pengertian di atas maka sanitasi RS merupakan upaya dan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan di RS dalam memberikan layanan dan asuhan pasien yang sebaik-baiknya. Berbagai sumber untuk penyediaan air bersih antara lain sungai.

b. c. yaitu dengan chlorinasi sampai cara yang lebih rumit. 146 tahun 1990 semakin rumit pengolahan yang dilakukan. Perlindungannya ditujukan kepada mulai dari PDAM dan air baku yang akan diolah (apabila rumah sakit membuat pengolahan sendiri) sampai air yang keluar dari kran-kran dimana air diambil. Pengelolaan Air Bersih Rumah Sakit. Pra-pengolahan →Koagulasi →Flokulasi →Sedimentasi →Filtrasi →Chlorinasi (sungai yang sangat keruh). Filtrasi pasir lambat (FPL) dan chlorinasi (sungai daerah pegunungan). Pengolahan secara kimiawi dan chlorinasi (landon air). d. Chlorinasi. h. g. pengunjung). Tanpa pengolahan (mata air yang dilindungi). Inspeksi Sanitasi Yang dimaksud inspeksi sanitasi adalah suatu kegiatan untuk menilai keadaan suatu sarana penyediaan air bersih guna mengetahui berapa besar kemungkinan sarana tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya yang 5 . Adapun sasaran pengawasan kualitas air ini terutama ditujukan kepada semua sarana penyediaan air bersih yang ada di rumah sakit beserta jaringan distribusinya baik yang berasal dari PDAM/BPAM maupun dikelola oleh rumah sakit yang bilamana timbul masalah akan memberi risiko kepada orang-orang yang berada dalam lingkup rumah sakit (pasien. Pengawasan Kualitas Air di Rumah Sakit Tujuan pengawasan kualitas air di rumah sakit adalah terpantau dan terlindungi secara terus menerus terhadap penyediaan air bersih agar tetap aman dan mencegah penurunan kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu/membahayakan kesehatan serta meningkatkan kualitas air. Pengolahan air bervariasi tergantung pada karakteristik asal air dan kualitas produk yang diharapkan. f. Kegiatan pokok pengawasan kualitas air adalah sebagai berikut : a. k. Makin jauh penyimpangan kualitas air yang masuk terhadap Permenkes No. E. Aerasi →Koagulasi →Flokulasi →Sedimentasi →Filtrasi →Chlorinasi (sungai/danau dengan kadar oksigen terlarut rendah). mulai dari cara paling sederhana. i.D. Pra-pengolahan → FPL → Chlorinasi (air danau/waduk). Pelunakan dan chlorinasi (air tanah). Penurunan kadar besi dan chlorinasi (air tanah). j. karyawan. Koagulasi →Flokulasi →Sedimentasi →Filtrasi →Pelunakan →Chlorinasi (sungai). Koagulasi → Flokulasi → Sedimentasi →Filtrasi →Chlorinasi (sungai). e. Pengolahan-pengolahan yang mungkin dipertimbangkan adalah sebagai berikut a.

c. frekuensi pengambilan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Mengingat fungsi rumah sakit sebagai tempat pengobatan dan perawatan orang sakit dengan berbagai aktivitasnya maka frekuensi pengambilan sampel untuk pemeriksaan bakteriologik air dapat dilakukan setiap bulan sekali sedangkan untuk unit- unit yang dianggap cukup rawan seperti kamar operasi.  Menentukan kran-kran terpilih dari setiap unit bangunan yang ada di rumah sakit untuk pengambilan sampel dan penetuannya berdasarkan hasil pengamatan dari poin b. Langkah-langkah inspeksi sanitasi di rumah sakit adalah sebagai berikut :  Membuat peta/maping mulai dari reservoir/unit pengolahan sampai sistem jaringan distribusi air yang terdapat dalam bengunan rumah sakit. mengakibatkan kesehatan masyarakat menurun.  Menentukan frekuensi inspeksi sanitasi. Pengambilan Sampel Sampel diambil dari sistem penyediaan air bersih guna mengetahui apakah air aman bagi konsumen di rumah sakit dan sampel ini harus dapat mewakili air dari sistem secara keseluruhan. Inspeksi sanitasi dilaksanakan sebagai bagian dari pengawasan kualitas air dan mencakup penilaian keseluruhan dari banyak faktor yang berkaitan dengan sistem penyediaan air bersih. 6 . ICCU serta dapur (tempat pengolahan makanan dan minuman) maka pengambilan sampel dapat dilakukan setiap seminggu sekali. Inspeksi sanitasi dapat memberikan informasi sedini mungkin pencemaran sumber air yang disebabkan oleh kegiatan manusia atau makhluk lainnya yang dekat dengan sumber.  Melakukan pengamatan dan menentukan titik-titik rawan pada jaringan distribusi yang diperkirakan air dalam pipa mudah terkontaminasi. Pemeriksaan Sampel Sampel air setelah diambil segera dikirim ke laboratorium yang terdekat untuk pemeriksaan bakteriologik air dapat memanfaatkan laboratorium yang ada di rumah sakit (bagi rumah sakit yang telah dilengkapi peralatan laboratorium pemeriksaan air) atau Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) sedang untuk pemeriksaan kimia air dapat diperiksa ke BLK atau BTKL (Balai Teknik Kesehatan Lingkungan). unit IGD. b. Untuk pengambilan sampel pemeriksaan kimiawi.

 Pengawasan dengan tugas mengawasi tenaga pelaksana pengelolaan air bersih dengan kualifikasi D3 dan latihan khusus. Dengan cara ini mungkin bisa melayani sampai tingkat 2 atau 3.  Sambungan Langsung dari Sumber Sambungan paling sederhana adalah sambungan langsung dari sumber. Adanya penyimpangan dari kualitas air maka segera dilakukan pengecekan kembali/inspeksi ulang dan tindakan perbaikan dapat dilaksanakan. F. d.  Sistem Reservoir 7 . Pencatatan dan Analisis Setiap kegiatan yang telah dilaksanakan dilakukan pencatatan kemudian dianalisis. Kapasitas pompa harus cukup besar sehingga memenuhi kebutuhan dan bila booster dijalankan tidak sampai terjadi tekanan negatif. Bila pompa booster dipasang tanpa tangki penampung booster maka harus dipasang saklar yang akan menjalankan pompa bila tekanan turun sampai tingkat yang telah distel (misalnya 30 psi). pH dan sisa chlor. Untuk menghindari tekanan negatif itu perlu disediakan tangki penampung booster. kejernihan. Tangki ini juga bermanfaat untuk kebutuhan darurat. rasa. Jenis Sistem Distribusi Air dalam rumah sakit didistribusikan secara horizontal dan vertikal. 416 tahun 1990. suhu air. Bila tekanan tidak memadai atau bangunan bertingkat jamak maka perlu tekanan tambahan (booster). kekeruhan. Tenaga Pengelola Tenaga pengelola air bersih terdiri dari :  Tenaga pelaksana dengan tugas mengawasi plambing dan kualitas air dengan kualifikasi D1 dan latihan khusus. Sistem Distribusi Air dalam Bangunan Rumah Sakit a. Tolak ukur pengawasan kualitas air adalah Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Kran biasanya dipasang pada tiap dasar sambungan vertikal atau sambungan horizontal sehingga saluran bisa ditutup bila sedang diadakan perbaikan.  Sambungan Langsung dan Booster Untuk sistem ini dapat dikombinasikan antara pompa dan booster. dimana tekanan air dari pipa induk digunakan sebagai sumber tekanan untuk mendistribusikan air ke seluruh gedung rumah sakit. e. Parameter yang diperiksa di lapangan meliputi bau. warna.

anti serangga. Tangki harus tertutup rapat kedap air.  Sistem Tangki Bertekanan Sistem ini terdiri dari pompa air kompresor udara dan tangki tertutup. Kadang-kadang perlu dipasang penahan tekanan untuk mencegah tekanan berlebihan pada jaringan distribusi di lantai bagian bawah. Karena efek tersebut. Bila menggunakan sistem ini di bangunan yang tinggi. dipasang pada dasar tangki sehingga bisa dikuras habis. Sistem ini biasanya digunakan bila tidak mungkin menggunakan sistem reservoir atau jumlah air yang diperlukan kurang dari 100 gram. Distribusi sistem gravitasi bisa untuk semua gedung atau hanya lantai atas yang tidak terjangkau oleh tekanan air dari saluran induk. Pipa masuk ke dalam tangki harus disediakan “air gap” atau pipa inlet dipasang kira-kira 10 cm diatas pipa tumpahan. b. Dipasang pipa ventilasi yang dilengkapi dengan penutup dari anyaman untuk mencegah pengotoran dan masuknya serangga. Pipa penguras bisa dijadikan satu dengan pipa tumpahan. lamanya kebutuhan puncak dalam gedung dan kecepatan supply air ke dalam gedung selama penggunaan puncak. Demikian pula pada pipa tumpahan. tekanan udara tinggi dalam tangki menyebabkan air mengabsorpsi udara yang akan kemudian dilepaskan dalam sistem air panas. Sistem Air Panas  Jumlah 8 . Air dipompa ke reservoir dan didistribusikan secara gravitasi. Reservoir bisa dipasang menjadi satu dengan gedung atau terpisah. Air dari tangki langsung didistribusikan. tahan terhadap korosi dan terhadap tekanan. siklus pemompaan. Kira-kira 2/3 tangki berisi air dan seperti berisi tekanan udara. outlet untuk keperluan air bersih dipasang agak ke atas dari dasar reservoir sehingga reservoir akan tetap tersedia air untuk keperluan pemadam kebakaran. sistem ini kurang disukai. Tinggi tangki ditetapkan berdasarkan tekanan minimum yang diperlukan pada outlet tertinggi/terjauh. Bila tangkai juga disediakan untuk pemadam kebakaran. Ukuran tangki reservoir tergantung pada jumlah yang ingin ditandon untuk keperluan sehari-hari dan pemadam kebakaran.

Untuk ini dimohonkan dapat berkonsultasi lebih lanjut pada tenaga ahli sistem air panas. menyarankan sekitar 300 – 400 liter per tempat tidur). Fasilitas penyediaan air minum dan air bersih  Harus tersedia air minum dan air bersih  Tersedia minimal 500lt/tempat tidur/hari  Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatanyang membutuhkan secara berkesinambungan  Distribusi air minum dan air bersih di setiap ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif b. jenis dan kapasitas mesin/sistem pemanas air dan tipe sistem pemanas air yang diinginkan. Angka ini sangat bervariasi untuk setiap rumah sakit (American Society of Heating. perlu dipasang sistem air lain atau ditambah booster pemanas. Disarankan suhu air panas tidak melebihi 60°C. Refrigerator and Air Condition Engineers 1967. suhu air pada kran. G. 60 % merupakan air panas. Pada setiap sistem air panas harus dipasang sistem pengaman untuk mencegah terjadinya pecah atau ledakan saluran. Cucian. Instrumen Instalasi sanitasi Air Bersih Rumah Sakit a. Perlu diperkirakan jumlah air bersih dan jumlah air panas yang dibutuhkan. Bila diperlukan air lebih panas misalnya untuk keperluan dapur dan laundry. Fasilitas toilet dan kamar mandi  Harus tersedia dan selalu terpelihara serta dalam keadaan bersih 9 .  Persyaratan untuk Dapur dan Laundry Satu sumber memperkirakan bahwa laundry rumah sakit menggunakan air 40 liter per kg. Juga diperkirakan 5 liter air panas per orang per sekali makan untuk dapur di Indonesia belum ada standar yang pasti. lamanya penggunaan puncak air panas. Bila suhu air yang disediakan melebihi 40°C harus dipasang kran pengendali dan kran pencampur air panas dan dingin. 40°C merupakan suhu maksimal untuk bathtubs dan shower.  Persyaratan Suhu Untuk kebutuhan normal. Secara umum untuk memperkirakan kebutuhan air panas untuk dapur dan laundry dapat didasarkan pada tipe dan jenis alat cuci yang digunakan. jumlah air panas diperlukan untuk kegunaan umum.

bewarna terang. peturasan. Melakukan inspeksi sanitasi sarana air minum dan air bersih rumah sakit minimal 1 tahun sekali.  Lantai terbuat dari bahan yang kuat. Sistem Pendataan Sanitasi Air Bersih Rumah Sakit Tata laksana a.unit rawat inap. dan karyawan. dan ruang khusus lainnya  Lubang penghawaan harus berhubungan dengan udara luar  Toliet harus terpisah antara toilet pria dan wanita. Petunjuk teknis inspeksi sanitasi 10 . tidak licin .. pengiriman. b. Kegiatan pengawasan kualitas air dengan pendekatan survei kualitas air antara lain :  Inspeksi sanitasi terhadap air minum dan air bersih  Pengambilan.kamar operasi. kedap air. Sumur bor. dan mudah dibersihkan  Pada setiap unit ruangan harus tersedia toliet ( jamban.dan pemeriksaan air bersih  Melakukan analisis hasil inspeksi sanitasi pemeriksaan laboraturium dan  Tindak lanjut berupa perbaikan antara sarana dan kualitas air. Kualitas air yang digunakan di ruang khusus  Ruang Operasi Bagi rumah sakit yang menggunakan air yang sudah diolah seperti air PDAM. H. dan tempat cuci tangan )tersedia khususnya unit rawat inap dan kamar karyawan harus tersedia kamar mandi  Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan bau (water seal)  Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dapur .dan sumber lain untuk keperluan operasi dapat melakukan pengolahan dengan catridge filter dan dilengkapi dengan desinfeksi menggunakan ultraviolet (UV)  Ruang Farmasi dan hemodialis Air yang digunakan untuk penyiapan obat penyiapan Injeksi dan pengenceran dalam hemodialisis.karyawan dan toilet pengunjung  Tidak terdapat genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk c.

11 . c. sarana penyediaan air sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan Direktorat Jendral PPM dan PL Departemen Kesehatan. Pengambilan sampel air pada sarana penyediaan air minum dan atau air bersih rumah sakit tercantum dalam tabel.

pada sumber air. h.pH. i. Sampel air pada butir c dan d tersebut diatas dikirim dan diperiksakan pada laboraturium berwenang atau yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atau Pemerintahan Daerah setempat.kamar bayi. dan tempat penampungan (reservoir). Trik pengambilan sampel air untuk pemeriksaan mikrobiologik terutama pada keran air dari ruang dapur. ruang makan. Pengambilan dan pengiriman sampel air dilaksanakan sendiri oleh pihak ketiga yang direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan. secara acak pada keran keran sepanjang sistem ditribusi.1 Jumlah sampel air untuk pemeriksaan mikrobiologik menurut jumlah tempat tidur Jumlah Minuman Sampel Air per Bulan untuk Jumlah Tempat Tidur Pemeriksaan Mikrobiologik Air Minum Air Bersih 25-100 4 4 1001-400 6 6 401-1000 8 8 ˃1000 10 10 d. Pemeriksaan kimia air minum dan atau air bersih dilakukan minimal 3 bulan dan titik pengambilan sampel masing masing pada tempat penampungan (reservoir) dan keran sejauh reservoir. Kabupaten/kota dalam rangka pengawasan (ujipetik) penyelenggaraan penyehatan lingkungan rumah sakit. Sewaktu-waktu Dinas Kesehatan Provinsi. f. Setiap 24 jam sekali rumah sakit harus melakukan pemeriksaan kualitas air untuk pengukuran sisa klor bila menggunakn desinfektan kaporit. ruang operasi. dan titik lain yang rawan pencemaran. e.Tabel 2. Pemeriksaan Bakterioligi 1 bulan sekali. dapat mengambil langsung sampel air pada sarana penyediaan air minum dan atau air bersih rumah sakit untuk diperiksakan dalam laboraturium. g. kamar bersalinan.dan kekeruhan air minum atau air bersih 12 .

maka harus dilakukan pengolahan sesuai parameter menyimpang.5 Variabel Upaya Komponen yang No Bobot Nilai Skor Kesling Dinilai IV Penyehatan air (Jumlah Bobot 16) 1. Air minum 30 tersedia pada setiap tempat kegiatan 2. j. Bakteriolog 80 is 13 . Kuantitas 8 a. Kualitas 5 a. Apabila dalam hasil pemeriksaan kualitas air terdapat parameter yang menyimpang dari standar. Tersedia air 70 bersih ˃ 500 lt/tempat tidur/hr dan tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan b. yang berasal dari sistem perpipaan atau pengolahan air pada titik/tempat yang dicurigai rawan pencemaran. Penilaian dan Pendataan dilakukan dengan mempertimbangkan indikator seperti berikut. Petugas sanitasi atau penanggung jawab pengelolaan kesehtan lingkungan melakukan analisis hasil inspeksi sanitasi pemeriksaan laboraturium. Apabila ada hasil Inspeksi sanitasi menunjukkan tingkat resiko pencemaran amat tinggi harus dilakukan perbaikan sarana. l. k.

b. Fisika 5 3. 55. air 50 tanah diolah b. Sumber PDAM. Penampung 20 an tertutup 5 Keputusan Menteri Kesehatan RI. Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Sarana 3 a. Kimia 15 c.hlm . No RI No 1204/MENKES/SK/X/2004. 14 . Distribusi 30 tidak bocor c.

penderita. No RI No 1204/MENKES/SK/X/2004. namun pada realita dan kenyataannya sebagaian Rumah Sakit masih mengesampingkan peraturan tersebut. B. Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Saran Sudah seharusnya sanitasi Rumah Sakit mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI. Kesimpulan Dalam lingkup Rumah Sakit (RS). BAB III PENUTUP A. kimiawi dan biologik di RS yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas. 15 .maupun petugas kesehatan.pengunjung. sanitasi berarti upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik. seperti masih ditemukan bakteri coli diatas nilai ambang batas pada air bersih Rumah Sakit yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan baru pada pasien. pengunjung maupun bagi masyarakat di sekitar RS.

blogspot. DAFTAR PUSTAKA Sabarguna. Sanitasi Air dan Limbah Pendukung Keselamatan Pasien Rumah Sakit.com/2011/09/hygiene-sanitasi-rumah-sakit.com/2013/12/sanitasi-rs.ac.2011.ui..html http://nurjanahmatkul.dkk.id/mod/resource/view.html http://verawatyawaludin.blogspot. http://izhalruztam.blogspot. 16 .php?id=255. Jakarta:Salemba Medika. B.html http://ocw.S.com/2012/02/sanitasi-rumah-sakit.