You are on page 1of 9

Peristiwa Kemudian, Kesinambungan Usaha

,
Audit Kelompok Usaha, dan Audit Plus

Tugas Mata Kuliah
Auditing 1

Oleh:
Nama: Triana Novitasari
Nim: 150810301044

Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Jember
2017

Hal ini tentu dapat mengganggu auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan induk. Pada proses audit ini. laporan keuangan antara induk dan cabang perusahaan dapat diaudit oleh auditor yang berbeda. mengenai kesinambungan usaha juga perlu dibahas lebih lanjut bagaimana prosedur penilaian auditor pada usaha yang berkesinambungan. Sedangkan salah saji ini diindikasikan berasal dari laporan keuangan anak perusahaan yang diaudit oleh auditor lain. Selain itu. Karena diaudit oleh auditor yang berbeda. . untuk audit plus. maka auditor perlu melakukan audit plus atau prosedur audit lanjutan. Apabila auditor menemukan salah saji material yang dinilai tinggi akibat fraud. Pada audit kelompok usaha juga perlu dibahas lebih lanjut mengenai apa sajakah tindakan yang wajib dilakukan oleh auditor. jika fraud memiliki sifat kesengajaan sedangkan error memiliki sifat sebaliknya. Ada pula kondisi pada perusahaan yang memiliki anak perusahaan atau cabang perusahaan. Terakhir. risiko salah saji bisa muncul dari error maupun fraud. sehingga auditor harus menilai apakah perusahaan yang diaudit akan berkesinambungan atau tidak. sehingga auditor harus menjelaskan ini dalam laporan auditnya.. karena peristiwa kemudian dapat mempengaruhi opini audit sehingga perlu dibahas lebih lanjut peristiwa seperti apa yang termasuk dalam peristiwa kemudian. Topik ini menarik untuk dibahas.PENDAHULUAN: Proses audit membutuhkan bukti-bukti sebagai dasar auditor dalam menentukan opininya. Pada perusahaan yang demikian. Namun hal ini sifatnya belum tentu. Kemudian perusahaan pada umumnya dianggap akan mempunyai usaha yang berkesinambungan. Terakhir. Perbedaan keduanya ialah terletak pada sifat kesengajaannya. perlu pembahasan lebih lanjut mengenai bagaimana kerangka berpikir auditor dalam melaksanakan audit plus. Misalnya ada peristiwa yang terjadi setelah masa audit. nyatanya ada beberapa hal yang membuat proses audit harus ditambah atau dimodifikasi. kemungkinan permasalahan muncul ketika auditor laporan keuangan induk perusahaan mendapati risiko salah saji material.

pemakai laporan keuangan akan melakukan keputusan yang salah. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai apakah peristiwa antara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor yang memerlukan penyesuaian atau pengungkapan telah ditunjukkan dengan benar dalam laporan keuangan. Jurnal penyesuaian yang luar biasa yang sudah direncanakan atau akan dibuat h. Setiap peristiwa yang sudah atau sangat mungkin akan terjadi yang menimbulkan keraguanmengenai asumsi kesinambungan usaha (unusual . PERISTIWA KEMUDIAN Peristiwa kemudian atau subsequent event atau post-statement event adalah peristiwa kemudian yang terjadi dalam periode sejak tanggal neraca sampai dengan tanggal selesainya pekerjaan lapangan. Dalam periode peristiwa kemudian kemungkinan dapat terjadi peristiwa yang mempunyai pengaruh material terhadap penyajian informasi dalam laporan keuangan. fakta yang diketahui auditor sesudah tanggal laporan auditor yang jika diketahui sebelumnya dapat menyebabkan auditor mengubah laporan auditornya. Litigasi. Peningkatan modal atau penerbitan instrumen uang d. b. atau hancur karena bencana f. Penjualan dan akusisi aset yang direncanakan atau telah terjadi c. yakni: a. Tujuan Audit Peristiwa Kemudian ISA 560 alinea 4 merinci tujuan auditor dalam mengaudit peristiwa kemudian. Auditor berkepentingan untuk menjelaskan terjadinya peristiwa kemudian ini di dalam laporan auditornya. dan berbagai contigencies g. jika dampak peristiwa tersebut terhadap laporan keuangan auditan adalah material. Komitmen baru/tambahan dalam bidang keuangan seperti peminjaman. restrukturisasi b. sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Contoh Peristiwa Kemudian Berikut merupakan beberapa contoh peristiwa kemudian yang terjadi diantara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor: a. Perjanjian untuk penggabungan atau pembubaran usaha e. penegak hukum.PEMBAHASAN: A. Diperkirakan jika auditor tidak berbuat demikian. Menanggapi dengan tepat. penjaminan. tuntutan hukum lainnya. Penyitaan aset oleh lembaga keuangan.

pekerjaan audit tambahan dapat dibatasi hanya pada perubahan laporan keuangan seperti dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan terkait. Dalam situasi ini (jika ketentuan perundang-undangan memperbolehkannya). . dan berbagai pengungkapan dalam laporan keuangan. Hal ini dikarenakan peristiwa kemudian itu berdampak pada saldo akun. Dalam situasi seperti itu. penyisihan. menggunakan tanggal laporan auditor semula sehingga ada dua tanggal laporan auditor. Pemberian dua tanggal (dual dating) menginformasikan kepada pembaca bahwa prosedur audit sesudah laporan tanggal laporan auditor semula terbatas pada perubahan yang dibuat kemudian. accounting adjustments) atau keraguan terhadap penggunaan kebijakan lainnya. untuk peristiwa kemudian tertentu. tidak diberi tanggal lebih awal dari tanggal persetujuan laporan keuangan. estimasi akuntansi. Setiap peristiwa yang relevan dengan recoverability of assets. j. Pemberian Dua Tanggal (Dual Dating) Peristiwa kemudian yang diketahui sesudah tanggal laporan auditor seringkali menyebabkan pekerjaan tambahan. i. Namun. laporan auditor yang baru akan diterbitkan. Setiap peristiwa yang relevan untuk mengukur estimasi atau penyisihan (provisions) dalam laporan keuangan.

suatu entitas dianggap mempunyai usaha yang berkesinambungan dalam waktu dekat di masa mendatang. Risk Assessment (Penilaian Risiko) a. c. b. Laporan keuangan yang bertujuan khusus dapat atau dapat tidak dibuat dengan kerangka pelaporan keuangan dimana dasar kesinambungan usaha itu relevan. Laporan keuangan yang bertujuan umum dibuat dengan dasar kesinambunagan usaha. apakah ada ketidakpastian material mengenai peristiwa atau kondisi yang mungkin menimbulkan keragaman mengenai kemampuan entitas untuk melanjutkan usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan c. Menyimpulkan. Tetap waspada terhadap peristiwa atau kondisi yang berpotensi mengancam kesinambungan usaha selama berlangsungnya audit . KESINAMBUNGAN USAHA Pada asumsi usaha kesinambungan. Menentukan implikasinya terhadap laporan auditor Tahapan Proses Audit Atas Kesinambungan Usaha Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan audit atas kesinambungan usaha. atau berhenti beroperasi. Telaah penilaian yang dilakukan manajemen (management assessment) tentang kemungkinan adanya peristiwa atau kondisi tersebut diatas.B. yakni: Tahap 1. berdasarkan bukti audit yang diperoleh. dan tanggapan atau rencana manajemen menghadapi peristiwa atau kondisi tersebut. atau tidak ada alternatif yang realistis kecuali membubarkannya. kecuali jika manajemen mempunyai rencana melikuidasi entitas itu.9 a. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang tepat/tidaknya penggunaan asumsi kesinambungan usaha manajemen dalam membuat laporan keuangan b. Pertimbangkan dan tanya kepada manajemen apakah ada peristiwa atau kondisi yang mungkin menimbulkan keraguan mengenai kemampuan entitas uantuk melanjutkan usahanya sebagai usaha yang berkesinambungan. Tujuan Audit Kesinambungan Usaha Tujuan auditor dalam Audit Kesinambungan Usaha berdasarkan ISA 570.

. Tanya kepada manajemen tentang peristiwa atau kondisi diluar/sesudah periode penilaian yang dilakukan manajemen. Peroleh representasi manajemen (Management representatiion) C. Reporting (Pelaporan)  Menentukan apakah: (a) ketidakpastian material terjadi. Berkaitan dengan audit. Hal ini tentu dapat mengganggu auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan induk. Pertimbangkan fakta atau informasi tambahan yang masuk secara bertahap (kewaspadaan selama audit berlangsung) Tahap 3. berkenaan dengan peristiwa atau kondisi yang diidentifikasi. Risk Response (Menanggapi Risiko) a. Dalam tatanan kelompok usaha tersebut. dan (b) penggunaan asumsi kesinambungan usaha masih tepat. Potensi permasalahan yang terjadi dalam kasus ini adalah ketika auditor yang mengaudit laporan keuangan konsolidasian induk perusahaan mendapati risiko salah saji material. Setiap component (anak perusahaan atau masing-masing cabang) membuat laporan keuangan yang nantinya akan dikonsolidasikan ke pusat atau induk agar menjadi laporan keuangan konsolidasian atau laporan keuangan kombinasi (grup financial statements). Sedangkan salah saji ini diindikasikan berasal dari laporan keuangan anak perusahaan atau component yang diaudit oleh auditor lain. atau suatu kantor pusat beserta cabang- cabangnya.Tahap 2. Apakah laporan keuangan menjelaskan secara utuh “kekhawatiran” akan peristiwa atau kondisi dan mengungkapkan setiap ketidakpastian yang material ? b. b. anak perusahaan atau kantor cabang perusahaan disebut sebagai component. AUDIT KELOMPOK USAHA Adapun yang dimaksud dengan kelompok usaha adalah suatu induk perusahaan beserta anak-anak perusahaannya. a. laporan keuangan yang dihasilkan oleh induk dan cabang perusahaan dapat diaudit oleh auditor yang berbeda.

dan luasnya didasarkan atas dan bersifat responsif terhadap risiko salah saji material yang dinilai pada tingkat asersi. Auditor kali pertama harus memastikan adanya potensi terjadinya manipulasi (fraud). bahwa audit dilaksanakan oleh dua pihak yakni grup auditor perusahaan induk dan grup auditor perusahaan anak/cabang. Mengenai audit kelompok usaha. AUDIT PLUS – PAS YANG DAHSYAT Definisi dari audit plus merupakan amanat dari ISA 330 yang berbunyi: “Auditor wajib merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya yang sifatnya. Kerangka Berpikir Auditor dalam Audit Plus Berikut merupakan kerangka berpikir auditor dalam melaksanakan audit plus: a. sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.” Risiko salah saji material pada tingkat asersi yang dimaksud adalah salah saji yang dilihat dari saldo akun. Tindakan yang Harus Dilakukan oleh Auditor Untuk prosedur audit kelompok usaha. Sifat PAS yang dimaksud artinya auditor harus merespon cepat temuan risiko baik kecil maupun besar dalam auditnya. dan b. waktu. auditor harus merancang dan melaksanakan PAS yang dahsyat. terdapat risiko bahwa tim perikatan grup kemungkinan tidak memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang menjadi basis opini audit grup. ISA mengaturnya dalam ISA 600. jenis transaksi. Jika risikonya besar. Fraud atau manipulasi memiliki sifat kesengajaan sedangkan error atau kekeliruan memiliki sifat sebaliknya. Risiko yang muncul bisa berasal dari error maupun fraud. Dalam menyelediki potensi fraud auditor harus: . Perbedaan keduanya ialah terletak pada apakah perbuatan yang menyebabkan risiko salah saji pada laporan keuangan dilakukan secara sengaja atau tidak. yang dalam buku digunakan istilah Audit Plus. Untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai informasi keuangan komponen dan proses konsolidasi untuk menyatakan suatu opini apakah laporan keuangan grup telah disajikan. Untuk berkomunikasi secara jelas dengan auditor komponen mengenai ruang lingkup dan waktu pekerjaan mereka atas informasi keuangan yang berkaitan dengan komponen serta temuan-temuan mereka. Kedua pihak auditor ini harus saling berkomunikasi dan bekerja sama dalam melaksanakan audit terhadap kelompok usaha. Jika tidak ada komunikasi dua arah yang efektif antara tim perikatan grup dengan auditor komponen. dalam semua hal yang material. maka diperlukan audit plus sebagai bagian dari prosedur audit selanjutnya. maka auditor diwajibkan: a. D. dan pengungkapan atau disclosure. Dalam melaksanakan proses audit. Dalam menanggapi resiko salah saji material karena fraud yang dinilai tinggi.

 Memahami untuk apa dan siapa laporan keuangan dibuat. auditor harus menerapkan sikap yang kondusif dalam menjalankan audit plus seperti:  Meningkatkan kewaspadaan profesional. auditor juga dapat memanfaatkan lingkungan pengendalian internal untuk mengendus dan menemukan fraud.  Berkomunikasi dengan TCWG. Dalam buku dicontohkan kejanggalan seperti anjing yang tidak menggonggong saat terjadi kejahatan. kapan dan dimana terjadinya (when dan where).  Memanfaatkan tip untuk menemukan fraud.  Pengembangan kasus. Memanfaatkan lingkungan pengendalian internal dapat dilakukan dengan:  Memahami management override.  Menyiapkan senjata pamungkas untuk menghadapi pelaku fraud .  Melibatkan audit internal. apa motifnya (Why). apa yang terjadi (What). Berdasarkan rumus ini auditor harus siapa pelakunya (Who). berapa besar kerugian (How Much) dari fraud yang terjadi. (The Dog That Didn’t Bark)  Memberantas penyakit auditor degan rumus 5W2H. Setelah melakukan hal-hal diatas. auditor dapat menerapkan teknik audit forensik seperti:  Inspeksi mendadak ke lokasi. Setelah memastikan adanya potensi fraud.  Memperhatikan segala kejanggalan yang terjadi. c.  Analisis Data e. b.  Penggalian dan pendalaman keterangan dari saksi melalui proses bertanya. Memahami bisnis dan industri klien secara mendalam  Memahami gelaja fraud. Langkah terakhir auditor dalam menghadapi fraud yang muncul yaitu:  Melakukan dokumentasi terhadap seluruh audit plus dan temuan yang ada. bagaimana bisa terjadi (How). Sebagaimana penyakit. Selain menerapkan sikap yang kondusif. manipulasi dapat terindikasi dari gejala-gejala yang terjadi pada klien. d.

atau audit plus untuk laporan keuangan perusahaan yang ditemui memiliki salah saji material akibat fraud. Salemba Empat. diperlukan proses audit lanjutan. M. dibutuhkan bukti-bukti sebagai dasar penentuan opinin setiap auditor. 2016. . Dalam praktek lapang.KESIMPULAN: Pada kegiatan audit. REFERENSI: Tuanakotta. Misalnya akibat adanya peristiwa yang terjadi setelah masa audit. Kemudian untuk perusahaan yang harus dinilai kesinambungannya. Selain itu. T. ada beberapa hal yang membuat proses audit harus ditambah atau dimodifikasi. Jakarta. dan perusahaan yang memiliki anak atau cabang perusahaannya. Audit Kontemporer.