You are on page 1of 18

2.1.

1 Sejarah Sabun
Sejarah sabun mandi pertama diketahui sejak abad ke 12 dan mulai
dikembangkan pada abad ke 17 oleh orang-orang inggris menggunakan
soda abu, pada awalnya orang mengenal bahan pembersih alami yang
ada disekitar tempat tinggal seperti air, lumpur, abu, batu apung dan lain-
lain dengan kemampuan yang tidak maksimal untuk membersihkan
kotoran karena hanya bisa menghilangkan kotoran diluar (Herbamart,
2011).
Dibeberapa Negara seperti maroko penggunaan lumpur untuk
membersihkan badan sudah menjadi sebuah tradisi dikalangan
bangsawan untuk merawat kesehatan dan kehalusan kulit serta menjaga
kulit tetap kencang dan awet muda, salah satu produk ini masih
digunakan dan beredar diklinik-klinik perawatan kecantikan dengan nama
ghassoul sebagai masker dan lulur mandi serta rambut lumpur. Orang
Yunani kuno menggunakan lilin untuk membersihkan tubuh dan mengolesi
minyak serta mencuci pakaian mereka hanya cukup dengan air di sungai
tanpa sabun (Herbamart, 2011).
Dikalangan masyarakat Indonesia sendiri nenek moyang kita sudah
menggunakan sabun alami untuk membersihkan badan dan pakaian
menggunakan produk nabati dari cairan buah klerak dan sudah tak
praktekan sendiri memang bisa membersihkan kotoran untuk mandi
(Herbamart, 2011).
Sebagaimana dalam sejarah perkembangannya sabun mulai
diproduksi secara besar-besaran sekitar tahun 1622, di amerika produk
sabun mulai memasyarakat sejak kedatangan pendatang dari inggris yang
bisa membuat sabun dan pada masa sebelum itu sabun merupakan
produk mewah yang menghasilkan pajak bagi pemerintah inggris pada
masa pemerintahan raja james 1 pada abad ke 19 dan setelah pajak
dihapuskan, sabun menjadi lebih banyak digunakan masyarakat kelas
bawah (Herbamart, 2011).
Produksi sabun skala komersial terjadi pada tahun 1791 sejak
kimiawan dari Prancis mematenkan produk soda abu sebagai bahan baku
utama sabun mandi. Saat ini banyak produk sabun yang beredar di
pasaran yang masih menggunakan soda abu dan beberapa produsen
menggunakan bahan alternative selain soda abu untuk menghemat biaya
dan ramah lingkungan serta aman bagi kulit seperti KOH, SLS, ABS, dan
lain-lain (Herbamart, 2011).
Produk-produk tambahan dalam sabun tersebut ada yang sudah
dilarang penggunaanya di luar negeri seperti ABS yang tidak mudah
terurai oleh bakteri pengurai, sebagian produsen sabun juga masih
menggunakan soda abu atau soda api/kaustik soda untuk menghemat
biaya akan tetapi produk ini menyebabkan kulit menjadi mengelupas dan
perih jika mengenai kulit yang sensitive, untuk mengujinya Anda bisa
mengusapkan ke wajah dan biarkan beberapa menit, jika merasa perih
bisa jadi bahan baku sabun tersebut menggunakan kaustik soda, hal ini
jarang terjadi terhadap produk sabun herbal karena sabun herbal selain
menggunakan bahan pilihan juga banyak mengandung herbal yang
mampu merawat kulit dan memberi kelembaban seperti minyak zaitun
dan lain-lain (Herbamart, 2011).
2.1.2. Pengertian Sabun
Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau
minyak dengan Alkali. Sabun juga merupakan garam-garam Monofalen
dari Asam Karboksilat dengan rumus umumnya RCOOM, R adalah rantai
lurus (alifatik) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara
C12-C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau ion ammonium
(Diah Pramushinta, 2011).
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci
dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang
disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair
juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu
permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh
air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan
sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan (Anonim,2013).
Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari
asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan
direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada
suhu 80100 C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi.
Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun
mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang
dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat
dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun (Ralph J.
Fessenden, 1992).
Sifat sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan
kimiawi adalah sebagai berikut menurut (Diah Pramushinta, 2011) :
1.Viskositas
Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan
dihasilkan sabun yang memiliki viskositas yang lebih besar dari pada
minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75oC viskositas sabun tidak dapat
meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75 oC viskositasnya dapat
meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada
temperature sabun dan komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan.
2. Panas Jenis
Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g.
3.Densitas
Densitas sabun murni berada pada range 0,96g/ml 0,99g/ml.
2.2 Sifat Sifat Sabun

a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak
suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu
larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH

b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air
diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan
terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih
setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses
kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan
untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar,
karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun
mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai
ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat
organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik
(suka air) dan larut dalam air (Vii afida, 2012).

Berikut merupakan proses penghilangan kotoran menurut (Vii afida,


2012):
1. Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan
tegangan permukaan sehingga aii kain sehingga kain menjadi bersih.
meresap lebih cepat kepermukaan kain.
2. Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dengan ekornya dan mengikat molekul
kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun
membentuk suatu emulsi.
3. Sedangkan bagian kepala molekul sabun didalam air pada saat
pembilasan menarik molekul kotoran keluar dari kain sehingga kain
menjadi bersih.

2.3 Bahan Dasar Pembuatan Sabun


Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun
demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah untuk
membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara lain
(Diah Pramushinta, 2011) :
2.3.1 Minyak atau Lemak
Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari
gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah
minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud
keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang ( 28C),
sedangkan lemak akan berwujud padat. (Vii afida, 2012).
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi
karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah
teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau
lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya (Irdoni dan Nirwana,
2013) :
Tallow (Lemak Sapi)
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging
sebagai hasil samping. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan
sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci.
Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA
dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer point pada tallow umumnya di atas 40C. Tallow
dengan titer point di bawah 40C dikenal dengan nama grease. Kandungan utama dari tallow
yaitu : asam oleat 40-45%, asam palmitat 24-37%, asam stearat 14-19%, asam miristat 2-8%,
asam linoleat 3-4%, dan asam laurat 0,2%.
Lard (Lemak Babi)
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti
asam oleat (60-65%) dan asam lemak jenuh seperti asam stearat (35-40%). Jika digunakan
sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi
ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.

Palm Oil (Minyak Sawit)


Minyak sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid
sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih
dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa.
Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak sawit harus
dicampur dengan bahan lainnya. Kandungan asam lemaknya yaitu asam palmitat 42-44%,
asam oleat 35-40%, asam linoleat 10%, asam linolenat 0,3%, asam arachidonat 0,3%, asam
laurat 0,3%, dan asam miristat 0,5-1%.
Coconut Oil (Minyak Kelapa)
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan
sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah
yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang
tinggi, terutama asam laurat sekitar 44-52%, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi
yang menimbulkan bau tengik.
Palm Kernel Oil (Minyak Inti Sawit)
Minyak inti sawit diperoleh dari biji buah sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam
lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti
minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan
asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa. Kandungan asam lemak
yang terdapat pada palm kernel oil yaitu : asam laurat 40-52%, asam miristat 14-18%, asam
oleat 11-19%, asam palmitat 7-9%, asam kaprat 3-7%, asam kaprilat 3-5%, asam stearat 1-
3%, dan asam linoleat 2%.
Palm Oil Stearine (Minyak Sawit Stearin)
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari
minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam
minyak ini adalah asam palmitat 52-58% dan asam oleat 27-32%. Selain itu juga terdapat
asam linoleat 6,6-8,2%, asam stearat 4,8-5,3%, asam miristat 1,2-1,3%, asam laurat 0,1-
0,4%
7. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan
asam lemak tak jenuh (asam oleat) yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial
terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
8. Castor Oil ( Minyak Jarak )
Minyak jarak berwarna bening dan dapat dimanfaatkan sebagai kosmetika, bahan baku
pembuatan biodisel dan sabun. Minyak jarak mempunyai massa jenis 0,957-0,963 kg/liter,
bilangan iodium 82-88 g I2/100 g, bilangan penyabunan 176-181 mg KOH/g. Minyak jarak
mengandung komponen gliserida atau dikenal sebagai senyawa ester. Komposisi asam lemak
minyak jarak terdiri dari asam riccinoleat sebanyak 86%, asam oleat 8,5%, asam linoleat
3,5%, asam stearat 0,5-2,0%, asam dihidroksi stearat 1-2% (G. Brown, 1973).
9. Olive Oil ( Minyak Zaitun )
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi
memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang
keras tapi lembut bagi kulit. Zaitun secara alami mengandung beberapa senyawa yang tak
tersabunkan seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, dan squalen. Minyak zaitun juga
mengandung triasil gliserol yang sebagian besar di antaranya berupa asam lemak tidak jenuh
tunggal jenis oleat. Kandungan asam oleat tersebut dapat mencapai 55-83 persen dari total
asam lemak dalam minyak zaitun.
Campuran Minyak dan Lemak
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan
lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat
yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang
tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan
palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.
2.3.2 Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3,
NH4OH, dan ethanolamines (sinonim: 2-Aminoethanol, monoethanolamine, dengan rumus
kimia C2H7NO, dan formulasi kimia NH2CH2CH2OH). NaOH, atau yang biasa dikenal
dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan
dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena
sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali
yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida
dari minyak atau lemak (Ketaren, 1986).

2.4 Bahan Pendukung


Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil
saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk
yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif
(Rudianto, 2007).
Garam (NaCl)
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada
produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat
memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine)
atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin.
Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar
diperoleh sabun yang berkualitas (Rudianto, 2007)
Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan
untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif
tersebut antara lain: builders, fillers inert, antioksidan, pewarna,dan parfum.
Builders (Bahan Pembentuk / Penguat)
Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral yang
terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan
membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu
menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih
baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas
(Rudianto, 2007).
Filler (Bahan Pengisi)
Filler (bahan pengisi) ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan
bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspekekonomis. Pada
umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan
pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air (Rudianto, 2007).
Bahan Antioksidan
Bahan antioksidan pada sabun juga dapat menstabilkan sabun terutama pada bau tengik atau
rancid. Natrium Silikat, natrium hiposulfid, dan natrium tiosulfat diketahui dapat digunakan
sebagai antioksidan. Stanous klorida juga merupakan antioksidan yang sangat kuat dan juga
dapat memutihkan sabun atau sebagai bleaching agent (Perdana, F.K, 2009).

Bahan Pewarna (Coloring Agent)


Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar memberikan
efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan
warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau
maupun orange (Rudianto, 2007).
Bahan Pewangi (fragrances)
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar dalam
hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang
ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal. Beberapa nama
parfum yang digunakan dalam pembuatan sabun diantaranya bouquct deep water, alpine, dan
spring flower (Rudianto,2007).
2.5 Karakteristik Bahan Baku Pembuatan Sabun
Ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan dalam memilih
bahan dasar pembuatan sabun, diantaranya (Diah Pramushinta, 2011) :

a. Warna
Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk digunakan
sebagai bahan pembuatan sabun.
b. Angka Penyabunan
Angka Saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium
hidroksida yang digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu
gram minyak. Angka saponifikasi digunakan untuk menghitung alkali yang
dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada lemak atau minyak.
c. Bilangan Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung ketidakjenuhan minyak atau
lemak, semakin besar angka iod, maka asam lemak tersebut semakin
tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan iod menjadi sangat penting
yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.

2.6 Sulfaktan
Surfaktan adalah senyawa yang molekul-molekulnya mempunyai dua ujung yang berbeda
interaksinya dengan air, yakni ujung satu (biasa disebut kepala) yang suka air dan ujung
satunya (yang disebut ekor) yang tidak suka air (Rieger, 2010).
Keberadaan kedua gugus dalam struktur surfaktan biasa diistilahkan kepala dan ekor.
Gugus polar biasa disebut kepala dan ekornya adalah gugus non polar. Filosofinya karena
gugus non polarnya berupa rantai panjang sehingga biasa diibaratkan ekor. Sedangkan gugus
polarnya hanya gugus karboksilat sehingga diibaratkan kepala (Rieger, 2010).

Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar berdasarkan kelarutannya,


yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air (Rieger, 2010).
1. Surfaktan yang larut dalam minyak
Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa
fluorokarbon, dan senyawa silikon.
2. Surfaktan yang larut dalam air
Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat
pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat
yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan
yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan
amfoter yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.
Berdasarkan muatannya terdapat empat kategori surfaktan yaitu (Vii afida, 2012) :
a. Surfaktan Anionik
Surfaktan anionik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion negatif atau anion.
Contohnya adalah Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS),
Alpha Olein Sulfonate (AOS).
b. Surfaktan Kationik
Surfaktan kationik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif atau kation.
Contohnya adalah garam amonium.
c. Surfaktan Non ionic
Surfaktan non ionik merupakan surfaktan yang tidak membentuk ion negatif maupun positif
sehingga bersifat netral. Contohnya adalah Nonyl Phenol Polyethoxyle.
d. Amfoter
Surfaktan amfoter merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif maupun negatif.
Contohnya adalah Acyl Ethylenediamines.
Berdasarkan struktur kimianya, surfaktan dapat dibagi sebagai berikut (Vii afida, 2012) :
a. Sabun, contohnya adalah Na-laurat, Na-palmitat, Na-stearat, Na-oleat, dsb.
b. Minyak-minyak yang disulfatkan/disulfonkan, contohnya adalah minyak jarak yang
disulfatkan (TRO).
c. Parafin atau olefin yang disulfurkan, contohnya adalah senyawa sulfochlorida yang
disabunkan, olefin yang disulfatkan .
d. Aralkil sulfonat, contohnya adalah alkil benzo sulfonat, naftalin sulfonat seperti 1-iso
propil natalin 2-sulfonat-Na , dsb.
e. Alkil sulfat, contohnya adalah Alkil sulfat primer/ dari alkil alkohol primer seperti asam
malonat anhidrat + alkohol dengan Na-bisulfit , Alkil sulfat sekunder/ dari alkil alkohol
sekunder.
f. Kondensat asam lemak, contohnya adalah kondensat dengan gugus amino, kondensat
mengandung gugus oksi , kondensat dengan gugus inti aromatik .
g. Persenyawaan polietilenaoksida (poliglikoeter), contohnya adalah Alkil amin poliglikol
eter, Dispersol E.
Surfaktan memiliki beberapa sifat, diantaranya adalah sebagai berikut (Vii afida, 2012) :
1. Sebagai larutan koloid
Pada konsentrasi tinggi partikel koloid akan saling menggumpal, gumpalan ini disebut misel
atau agregat baik berbentuk sferik (daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar (daya hantar
listriknya kecil disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan dengan sekitarnya
(pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan mencapai konsentrasi kritik misel.
2. Adsorpsi
Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil daripada pelarut murni, zat
terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi
negatif menunjukkan bahwa molekul-molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga
larutan daripada di permukaan. Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan tegangan
permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.
3. Kelarutan dan daya melarutkan
Partikel-partikel tunggal dari surfaktan relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai
kelarutan tinggi. Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik
larutan.
4. Pembasahan
Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai proses pembasahan dinyatakan oleh
Hukum Dupre.
5. Daya Busa
Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan memperkecil tegangan
antarmuka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktan mempunyai daya busa.
6. Daya Emulsi
Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain, yang tidak saling
melarutkan. Surfaktan akan menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang
stabil. Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami
yang ada pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar. Hasil
pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia hanya mampu memiliki toleransi kontak
dengan bahan kima dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan akibat iritasi sedang pada
kulit.
2.7 Perbedaan Sabun Dan Deterjen
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci
dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang
disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun
cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika
diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat
partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara
berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat
bantu mencuci (Diah Pramushinta, 2011).

Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari


asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan
direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada
suhu 80100 C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi.
Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun
mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang
dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat
dibuat pula dari minyak tumbuhan, seperti minyak zaitun (Diah
Pramushinta, 2011).
Beda sabun dan deterjen yaitu deterjen tidak terbuat dari garam
karboksilat sementara sabun terbuat dari garam karboksilat. Deterjen
terbuat dari bahan-bahan yang sukar diuraikan mikroorganisme
sementara sabun dapat diuraikan mikro-organisme (Diah Pramushinta,
2011).
2.8 Macam-Macam Sabun
Ada beberapa macam sabun, diantaranya (Diah Pramushinta, 2011) :
1. Shaving Cream
Shaving Cream disebut juga dengan sabun kalium. Bahan dasarnya
adalah campuran minyak kelapa dengan asam stearat dengan
perbandingan 2:1.
2. Sabun Cair
Sabun cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan
minyak jarak serta menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan
kejernihan sabun, dapat ditambahkan gliserin atau alkohol
3. Sabun Kesehatan
Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar
parfum yang rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptik dan
bebas dari bakteri adiktif. Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini
adalah tri-salisil anilida, tri-klor carbanilyda, irgassan Dp300 dan sulfur.
4. Sabun Chip
Pembutan sabun chip tergantung pada tujuan konsumen dalam
menggunakan sabun yaitu sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan
beberapa pilihan komposisi tertentu. Sabun chip dapat dibuat dengan
berbagai cara yaitu melalui pengeringan, atau menggiling atau
menghancurkan sabun yang berbentuk batangan.
5. Sabun Bubuk untuk mencuci
Sabun bubuk dapat diproduksi melalui dry-mixing. Sabun bubuk
mengandung bermacam-macam komponen seperti sabun, sodium
metaksilat, sodium karbonat, sodium sulfat, dan lain-lain.
2.9 Teknologi Pembuatan Sabun
Sabun dapat dibuat melalui 2 metode yaitu; proses batch dan kontinu. Hal ini dilakukan
untuk menghasilkan sabun yang berkualitas (Yuda Prawira, 2008) :
Proses Batch
Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih
dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam-garam ditambahkan untuk
mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengandung garam, gliserol dan kelebihan alkali
dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang
bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan
diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya
untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen
dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih. lanjut, yaitu sebagai
sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu
apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun
gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair
dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).

Proses Kontinu
Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis
dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak
atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan
gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan.
Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun. Pada umumnya,
alkali yang digunakn dalam pembuatan sabun hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga
menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air
dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan (Luis Spitz,


1996) antara lain:
1. Konsentrasi larutan KOH/NaOH
Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri
reaksinya, dimana penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak
agar tersabunnya sempurna. Jika basa yang digunakan terlalu pekat akan
menyebabkan terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak
homogen., sedangkan jika basa yang digunakan terlalu encer, maka
reaksi akan membutuhkan waktu yang lebih lama.
2. Suhu (T)
Ditinjau dari segi thermodinamikanya, kenaikan suhu akan menurunkan
hasil, hal ini dapat dilihat dari persamaan Van`t Hoff :
Karena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (H negatif),
maka dengan kenaikan suhu akan dapat memperkecil harga K (konstanta
keseimbangan), tetapi jika ditinjau dari segi kinetika, kenaikan suhu akan
menaikan kecepatan reaksi. Hal ini dapat dilihat dari persamaan Arhenius
berikut ini (Smith 1987) :

Dalam hubungan ini, k adalah konstanta kecepatan reaksi, A adalah


faktor tumbukan, E adalah energi aktivasi (cal/grmol), T adalah suhu (K),
dan R adalah tetapan gas ideal (cal/grmol.K).
Berdasarkan persamaan tersebut maka dengan adanya kenaikan suhu
berarti harga k (konstanta kecepatan reaksi) bertambah besar. Jadi pada
kisaran suhu tertentu, kenaikan suhu akan mempercepat reaksi, yang
artinya menaikan hasil dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika kenaikan
suhu telah melebihi suhu optimumnya maka akan menyebabkan
pengurangan hasil karena harga konstanta keseimbangan reaksi K akan
turun yang berarti reaksi bergeser ke arah pereaksi atau dengan kata lain
hasilnya akan menurun. Turunnya harga konstanta keseimbangan reaksi
oleh naiknya suhu merupakan akibat dari reaksi penyabunan yang
bersifat eksotermis (Levenspiel, 1972).
3. Pengadukan
Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan
molekul-molekul reaktan yang bereaksi. Jika tumbukan antar molekul
reaktan semakin besar, maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin
besar pula. Hal ini sesuai dengan persamaan Arhenius dimana konstanta
kecepatan reaksi k akan semakin besar dengan semakin sering terjadinya
tumbukan yang disimbolkan dengan konstanta A (Levenspiel, 1987).
4. Waktu
Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula
minyak yang dapat tersabunkan, berarti hasil yang didapat juga semakin
tinggi, tetapi jika reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya,
penambahan waktu tidak akan meningkatkan jumlah minyak yang
tersabunkan (Perdana F.K, 2009).
2.9 Kesadahan Air
Air sadah adalah air yang mengandung ion Ca 2+ dan Mg2+. Air sadah menyebabkan sabun
sukar berbuih, karena ion-ion Ca2+ dan Mg2+ mengendapkan sabun.
Ca2+(aq) + 2 CH3(CH2)16COO-(aq) Ca(CH3(CH2)16COO)2 (s)

Ion stearat dari sabun endapan sabun


Kesadahan air dibedakan atas (Vii afida, 2012) :
Kesadahan sementara
Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam-garam hidrogen karbonat yaitu Ca(HCO 3)2 atau
Mg(HCO3)2. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan (mendidihkan air).
Ca(HCO3)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(g)

Apabila CaCO3 sudah berikatan dengan ion hidrogen karbonat maka ion Ca2+ tidak ada yang
berkeliaran sehingga kesadahan bisa dihilangkan.
b) Kesadahan Tetap
Yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam-garam selain garam hidrogen karbonat seperti;
CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2.Kesadahan tetap ini sulit dihilangkan,bahkan tidak hilang
walaupun dididihkan, namun ada beberapa cara untuk mengurangi kesadahan air,
diantaranya; Proses Soda Kapur (mengendapkan Ca2+ dan Mg2+)

Air sadah direaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2.


MgSO4(aq) + Ca(OH)2(aq) Mg(OH)2 + CaSO4
CaSO4(aq) + Na2CO3(aq) CaCO3(s) + Na2SO4(aq)
MgCl2(aq) + Na2CO3(aq) MgCO3(s) + 2NaCl(aq)
Endapan yang terbentuk dipisahkan dengan cara penyaringan.
Proses Zeolit (Na Zeolit dalam bentuk endapan)
Air sadah dialirkan melalui Natrium Zeolit, sehingga ion Ca2+ dan Mg2+ akan diikat oleh
zeolit menggantikan ion Na+ membentuk kalsium/magnesium zeolit.
Kerugian yang ditimbulkan air sadah diantaranya (Vii afida, 2012) :
Memboroskan sabun
Air sadah menyebabkan sabun sukar berbuih sebelum semua ion Ca2+ dan Mg2+ mengendap,
sehingga dapat mengurangi daya pembersih pada sabun.

Menimbulkan Batu Ketel


Batu ketel adalah sejenis karang yang terbentuk pada dasar ketel. Batu ketel ini
mengakibatkan penghantaran panas dari ketel ke air berkurang.
2.10 Metode Pembuatan Sabun
Berdasarkan reaksi yang terjadi, ada 4 metode proses pembuatan sabun yaitu sebagai berikut
(Y.H.Hui, 1996) :
Proses pendidihan penuh
Proses pendidihan penuh pada dasarnya sama dengan proses batch yaitu minyak/lemak
dipanaskan didalam ketel dengan menambahkan NaOH yang telah dipanaskan, selanjutnya
campuran tersebut dipanaskan sampai terbentuk pasta kira-kira setelah 4 jam pemanasan.
Setelah terbentuk pasta ditambahkan NaCl (10-12%) untuk mengendapan sabun. Endapan
sabun dipisahkan dengan menggunakan air panas dan terbentuklah produk utama sabun dan
produk samping gliserin.
Proses semi pendidihan
Pada proses semi pendidihan, semua bahan yaitu minyak/lemak dan alkali langsung dicampur
kemudian dipanaskan secara bersamaaan. Terjadilah reaksi saponifikasi. Setelah reaksi
sempurna ditambah sodium silikat dan sabun yang dihasilkan berwarna gelap.

Proses dingin
Pada proses dingin semua bahan yaitu minyak, alkali, dan alkohol dibiarkan didalam suatu
tempat/bejana tanpa dipanaskan (temperatur kamar,25oC). Raksi antara NaOH dan uap air
(H2O) merupakan reaksi eksoterm sehingga dapat menghasilkan panas. Panas tersebut
kemudian digunakan untuk mereaksikan minyak/lemak dan NaOH/alkohol. Proses ini
memerlukan waktu untuk reaksi sempurna selama 24 jam dan dihasilkan sabun berkualitas
tinggi.
Adapun syarat-syarat terjadinya proses dingin adalah sebagai berikut :
Minyak/lemak yang digunakan harus murni
Konsentrasi NaOH harus terukur dengan teliti
Temperatur harus terkontrol dengan baik
Proses netral
Prinsip dasar dari proses netral adalah minyak/lemak ditambah NaOH sehingga terjadi reaksi
saponifikasi dan dihasilkan sabun dan gliserin. Sabun yang dihasilkan tidak bersifat netral
sehingga tidak dapat menghasilkan busa yang banyak.Oleh karena itu, perlu dilakukan
penetralan dengan menambahkan Na2CO3.
2.11 Kegunaan Sabun
Sabun berkemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan
pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun :
Rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun bersifat nonpolar sehingga larut dalam zat non
polar, seperti tetesan-tetesan minyak.
Ujung anion molekul sabun, yang tertarik dari air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul
sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak menolak antara tetes sabun-
minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tersuspensi (Ralph J.
Fessenden, 1992)

Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk
lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C12 sampai C18) yang
berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena
menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester
dengan alkali (NaOH atau KOH). Range atom C diatas mempengaruhi sifat-sifat sabun
seperti kelarutan, proses emulsi dan pembasahan. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif
dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan kemurnian lainnya. Semua minyak atau lemak
pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak merupakan campuran ester
yang dibuat dari alkohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam
palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak,
seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat (Fessenden, 1982).
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami.
Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor
bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak)
dari badan dan pakaian. Selain itu, pada larutan, surfaktan akan menggerombol membentuk
misel setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut konsentrasi kritik misel. Sabun juga
mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan melembutkan kulit,
menyejukan dan meminyaki sel-sel kulit juga. Oleh karena itu dilakukan percobaan
pembuatan sabun dan pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat sabun yang
berkualitas (Levenspiel, 1972).
Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang
bersifat hidrofobik (tidak suka ait) dan larut dalam zat organik sedangkan COONa+ sebagai
kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air. Dalam proses pencucian, lapisan
minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung lipofilik sabun, kemudian kotoran yang
telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain (hidrofilik) dari sabun larut dalam air
(Herbamart, 2011).