You are on page 1of 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Persaingan harus dipandang sebagai hal yang positif dan
sangat esensial dalam dunia usaha. Dengan persaingan, para pelaku
usaha akan berlomba-lomba untuk terus menerus memperbaiki
produk dan melakukan inovasi atas produk yang dihasilkan untuk
memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Dari sisi konsumen,
mereka akan mempunyai pilihan dalam membeli produk dengan
harga murah dan kualitas terbaik.

Seiring dengan berjalannya usaha para pelaku usaha mungkin
lupa bagaimana bersaing dengan sehat sehingga munculah
persaingan-persaingan yang tidak sehat dan pada akhirnya timbul
praktek monopoli.

Dengan adanya praktik monopoli pada suatu bidang tertentu,
berarti terbuka kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang
sebesar-besarnya bagi kepentingan pribadi. Disini monopoli diartikan
sebagai kekuasaan menentukan harga, kualitas dan kuantitas produk
yang ditawarkan kepada masyarakat. Masyarakat tidak pernah diberi
kesempatan untuk menentukan pilihan, baik mengenai harga, mutu
maupun jumlah. Kalau mau silakan dan kalau tidak mau tidak ada
pilihan lain. Itulah citra kurang baik yang ditimbulkan oleh
keserakahan pihak tertentu yang memonopoli suatu bidang.

Dengan demikian, praktik monopoli akan menguasai pangsa
pasar secara mutlak sehingga pihak-pihak lain tidak memiliki
kesempatan lagi untuk berperan serta. Apalagi kalau produk yang
dimonopoli itu merupakan kebutuhan primer, dapat dipastikan
mereka akan mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Dalam
kondisi yang demikian, masyarakat tidak mempunyai alternatif lain

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 1

kecuali membeli produk yang dimonopoli tersebut dan akan terjadi
pula inefisiensi dalam menghasilkan produk.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian praktik monopoli dan persaingan tidak sehat?
2. Apa saja yang termasuk pada praktik monopoli?
3. Hal - hal apa saja yang tidak tergolong dalam praktik monopoli?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian praktik monopoli dan persaingan tidak
sehat
2. Mengetahui hal yang termasuk dalam praktik monopoli
3. Memahami hal yang tidak termasuk praktik monopoli
4. Mengetahui hal-hal apa saja yang diperbolehkan dan dilarang
dalam melakukan suatu usaha.
5. mengetahui hal-hal yang dilarang dalam menjalankan bisnis
dan akibatnya apabila aturan tersebut dilanggar

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan
wawasan mengenai Apa itu Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat.

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 2

BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak
Sehat
Pengertian Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat menurut
UU no.5 Tahun 1999 tentang praktek monopoli adalah pemusatan
kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang
mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas
barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan
tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.
Persaingan Tidak Sehat adalah persaingan antar pelaku usaha
dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang
atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan
hukum atau menghambat persaingan usaha.
Undang-Undang Anti Monopoli No. 5 Tahun 1999 memberi arti
kepada monopolis sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu
pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal 1 ayat (1) Undang-
undang Anti Monopoli). Sementara yang dimaksud dengan “praktek
monopoli” adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu
atau lebih pelaku yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau
pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga
menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat
merugikan kepentingan umum. Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2)
Undang-Undang Anti Monopoli.
Monopoli diindikasikan sebagai sesuatu yang netral, bukan positif
maupun negatif dikarenakan ada beberapa hal yang mempengaruhi
terjadinya monopoli, antara lain :
• Monopoli terjadi sebagai akibat dari “superior skill”, yang salah
satunya dapat terwujud dari pemberian hak paten secara
eksklusif oleh negara.

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 3

• Monopoli terjadi karena pemberian negara. Di Indonesia
terlihat dari pelaksanaan pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945
yang dikutip kembali dalam pasal 51 UU ini.
• Monopoli merupakan suatu “historical accident” dimana
monopoli terjadi karena tidak sengaja dan berlangsung karena
proses alamiah yang ditentukan oleh berbagai faktor terkait
dimana monopoli tersebut terjadi. Dalam hal ini penilaian
mengenai pasar bersangkutan yang memungkinkan terjadinya
monopoli sangat relevan.
• Jenis-jenis Monopoli Berdasarkan Penyebabnya :
1. Monopoli sewajarnya/masyarakat, yaitu monopoli yang timbul
akibat tumbuhnya kepercayaan masyarakat akan produk
tertentu.
2. Monopoli karena modal raksasa, yaitu monopoli yang timbul
akibat seseorang yang memilki modal yang sangat besar.
3. Monopoli alamiah, yaitu monopoli yang timbul karena alam
yang mendukung.
4. Monopoli akibat lindungan hukum, yaitu monopoli yang di
lindungi oleh UU.

2.2 Azas dan Tujuan
Dalam melakukan kegiatan usaha di Indonesia, pelaku usaha harus
berasaskan demokrasi ekonomi dalam menjalankan kegiatan
usahanya dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan
pelaku usaha dan kepentingan umum.
Tujuan yang terkandung di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999, adalah sebagai berikut :
1. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi
ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan
persaingan usaha yang sehat, sehingga menjamin adanya
kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha
besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil.

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 4

Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila: a. 2. jika tujuan UU Antimonopoli tersebut dapat dicapai. Terciptanya efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.3 Kegiatan yang Dilarang Bagian Pertama Monopoli Pasal 17 adalah : 1. Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Tujuan di Tetapkan UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 5 . Barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya. bagi pelaku usaha besar. Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha yang tidak sehat. Berhasil tidaknya pelaksanaan UU Antimonopoli tersebut dapat diukur. Terwujudnya iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha. 3. 4. 2. maka perlulah dilihat tujuan dari UU Antimonopoli. Dari kacamata pelaku usaha tujuan UU Antimonopoli yang ditetapkan di dalam pasal 3 tersebut adalah menjadi harapan para pelaku usaha. Untuk mengetahui dampak UU Antimonopoli terhadap dunia bisnis. Terciptanya efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha. menengah dan pelaku usaha kecil 2. Mencegah praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha. dan yang terakhir sebagai akibat dari tiga tujuan sebelumnya adalah 4. 3. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu: 1.

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 6 . yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa: a. Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan. atau c. Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama. Mematikan usaha pesaingnya di pasar bersangkutan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Bagian Kedua Monopsoni Pasal 18 adalah : 1. Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. Pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan atau jasa dalam pasar bersangkutan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. b. Bagian Ketiga Penguasaan Pasar Pasal 19 adalah : 1. baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain. Pasal 21 Pelaku usaha dilarang melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya yang menjadi bagian dari komponen harga barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Pelaku usaha patut diduga atau dianggap menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. b. 2.

2. 2. Pasal 23 Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mendapatkan informasi kegiatan usaha pesaingnya yang diklasifikasikan sebagai rahasia perusahaan sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. kualitas. antara lain : a. pelaku usaha dilarang membuat perjanjian. b. sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat mempengaruhi harga pasar. Pasal 24 Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk menghambat produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa pelaku usaha pesaingnya dengan maksud agar barang dan atau jasa yang ditawarkan atau dipasok di pasar bersangkutan menjadi berkurang baik dari jumlah. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 7 . Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama . maupun ketepatan waktu yang dipersyaratkan. Oligopoli Oligopoli adalah keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang hanya berjumlah sedikit. Bagian Keempat Persekongkolan Pasal 22 adalah : 1.4 Perjanjian yang Dilarang 1. Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat. Penetapan Harga Dalam rangka penetralisasi pasar. Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama .

dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup tiap- tiap perusahaan atau perseroan anggotanya. 7. 8. baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. 5. Kartel Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa. Trust Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar. Pemboikotan Pelaku usaha dilarang untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama. 4. Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang diterimanya dengan harga lebih rendah daripada harga yang telah dijanjikan. Oligopsoni Keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar komoditas. c. d. 6. 3. Integrasi Vertikal Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 8 . Pembagian Wilayah Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan atau jasa. yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah harga pasar .

2. Dengan market power tersebut. perusahaan dominan dapat melakukan tindakan/strategi tanpa dapat dipengaruhi oleh perusahaan pesaingnya. Mengapa? Karena hampir pada setiap Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 9 . Perjanjian Tertutup Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu. Dengan pangsa pasar yang besar tersebut perusahaan memiliki market power. 9. Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.5 Posisi Dominan Dalam perspektif ekonomi.5/1999. posisi dominan adalah posisi yang ditempati oleh perusahaan yang memiliki pangsa pasar terbesar. Dalam UU No. Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung. Posisi dominan dapat dikatakan salah satu kunci pokok (pusat) dari persaingan usaha. 10. akses pada pasokan atau penjualan serta kemampuan menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu. posisi dominan didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti atau suatu pelaku usaha mempunyai posisi lebih tinggi daripada pesaingnya pada pasar yang bersangkutan dalam kaitan pangsa pasarnya. kemampuan keuangan.

maka yang akan dilakukan adalah tinggal membuktikan. menjadi perhatian pertama lembaga persaingan usaha. dalam hal ini di Indonesia. Kalau pelaku usaha (terlapor) tidak mempunyai posisi dominan. Dari ketentuan Pasal 25 ayat 1 pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan dapat menyalahgunakan posisi domiannya baik secara langsung maupun tidak langsung untuk: a. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (UU No. bagaimana pelaku usaha tersebut melakukan penyalahgunaan posisi dominannya.kasus hukum persaingan usaha. 5/1999) sehingga mempermudah pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan posisi dominan dan penyalahgunaannya. Bentuk pasar terdistorsi misalnya pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke pasar yang bersangkutan. karena adanya hambatan- hambatan pasar (entry barrier) atau apakah terlapor mempunyai hubungan terafiliasi dengan pelaku usaha lain sehingga dapat melakukan hambatan-hambatan persaingan usaha? Pertanyaan- pertanyaan inilah yang akan dielabolarasi dalam bab ini. Baik Dari Segi Harga Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 10 . bagaimana terlapor dapat melakukan persaingan usaha tidak sehat di pasar yang bersangkutan? Dan hal yang perlu dicari tahu dan dibuktikan adalah apakah pasar yang bersangkutan terdistorsi atau tidak. apakah pelaku usaha tersebut benar-benar melakukan penyalahgunaan posisi dominannya dan bagaimana pelaku usaha tersebut melakukan penyalahgunaan posisi dominannya. Mencegah Dan Atau Menghalangi Konsumen Memperoleh Barang Dan Atau Jasa Yang Bersaing. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah terhadap posisi dominan suatu perusahaan pada pasar yang bersangkutan. ditinjau dari aspek UU No. Siapa yang mempunyai posisi dominan pada pasar yang bersangkutan? Atau kalau suatu kasus dilaporkan ke KPPU apakah terlapor mempunyai posisi dominan? Kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan ya.

yaitu pada waktu konsumen/ pembeli mengadakan hubungan bisnis dengan pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan tersebut. Membatasi Pasar dan Pengembangan Teknologi Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 11 . Mengapa pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan dapat mengontrol konsumen/pembeli tersebut? Karena pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan menetapkan syarat-syarat perdagangan di depan. Dikatakan sangat kuat. Yang sering terjadi adalah bahwa pelaku usaha posisi dominan menolak pelaku usaha yang lain (pembeli) untuk mendapatkan barang dari pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan tersebut (refusal to deal). Posisi dominan pelaku usaha yang dapat mencegah konsumen untuk tidak memperoleh barang atau jasa dari pesaing pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan adalah sangat kuat. Hal ini memang agak jarang ditemukan di dalam aturan hokum persaingan usaha negara lain. Pertanyaannya adalah mengapa pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan dapat mengontrol konsumen atau pembeli untuk tidak membeli barang dari pesaingnya? Biasanya konsumen tersebut ada ketergantungan terhadap pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan. karena pelaku usaha tersebut dapat mengontrol perilaku konsumen tersebut untuk tidak membeli barang yang bersaing dari pesaing pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan tersebut. Maupun Kualitas Dengan Menetapkan Syarat-Syarat Perdagangan Syarat utama yang harus dipenuhi oleh ketentuan Pasal 25 ayat 1 huruf a adalah syarat perdagangan yang dapat mencegah konsumen memperoleh barang yang bersaing baik dari segi harga maupun dari segi kualitas. Dapat disimpulkan bahwa konsumen telah mempunyai hubungan bisnis dengan pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan. b.

Penyalahgunaan yang lain yang diatur di dalam 25 ayat 1b adalah membatasi pengembangan teknologi. Bentuk-bentuk membatasi pasar dapat dilakukan berupa melakukan hambatan masuk pasar (entry barrier). dan pihak lain pelaku usaha lain tidak boleh menikmati keistimewaan tersebut. atau ditolak. Termasuk melakukan perjanjian tertutup dan praktek diskriminasi dapat dikategorikan suatu tindakan membatasi pasar. Tentu pelaku usaha yang menikmati jaringan teknologi harus membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi penggunaan jaringan tersebut. Pengertian membatasi pasar yang dilakukan oleh pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan sebagai penjual atau pembeli dapat diartikan dimana pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan mempunyai kemungkinan besar untuk mendistorsi pasar yang mengakibatkan pelaku usaha pesaingnya sulit untuk dapat bersaing di pasar yang bersangkutan. Pengertian membatasi pasar di dalam ketentuan ini tidak dibatasi. 5/1999. Secara umum tindakan diskriminasi dapat diartikan bahwa seseorang atau pelaku usaha memperlakukan pelaku usaha lain secara istimewa. mengatur pasokan barang di pasar atau membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa di pasar yang bersangkutan dan melakukan jual rugi yang akan menyingkirkan persaingnya dari pasar. Atau pelaku usaha yang menguasai suatu fasilitas jaringan teknologi tertentu (essential facilities doctrine) yang seharusnya dapat dibagikan kepada pelaku usaha pesaingnya asalkan tidak mengganggu sistem jaringan teknologi tersebut jika dibagikan kepada pelaku usaha pesaingnya. Sebenarnya pengembangan teknologi adalah merupakan hak monopoli pelaku usaha tertentu yang menemukannya menjadi hak atas Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 12 . Misalnya definisi diskriminasi tidak ada ditetapkan di dalam UU No.Pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan dapat membatasi pasar.

Hambatan masuk pasar secara struktur adalah dalam kaitan sistem paten dan lisensi. yaitu hambatan masuk pasar secara struktur dan strategis. Oleh karena itu. pengertian pembatasan pengembangan teknologi harus diinterpretasikan sebagai upaya pelaku usaha tertentu terhadap pengembangan teknologi yang dilakukan oleh pelaku usaha pesaingnya untuk meningkatkan produksi barang baik segi kualitas maupun kuantitas. kekayaan intelektual penemunya. Sedangkan hambatan masuk pasar secara strategis adalah kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan atau perlakuan khusus bagi pelaku usaha tertentu. Pesaing faktual adalah pelaku usaha-pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha yang sama di pasar yang bersangkutan. baik oleh pelaku usaha dalam negeri maupun pelaku usaha dari luar negeri. akibatnya Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 13 .214 Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 50 huruf b UU No. Menghambat Pelaku Usaha Lain Yang Berpotensi Menjadi Pesaing Untuk Memasuki Pasar Bersangkutan Di dalam hukum persaingan usaha dikenal apa yang disebut dengan pesaing faktual dan pesaing potensial. c. 5/1999 yang mengecualikan hak atas kekayaan intelektual. Hambatan masuk pasar oleh pelaku usaha posisi dominan swasta adalah penguasaan produk suatu barang mulai proses produki dari hulu ke hilir hingga pendistribusian – sehingga perusahaan tersebut demikian kokoh pada sektor tertentu mengakibatkan pelaku usaha potensial tidak mampu masu ke pasar yang bersangkautan. Sedangkan hambatan masuk pasar akibat kebijakan negara atau pemerintah ada dua. Hambatan masuk pasar bagi pesaing potensial yang dilakukan oleh perusahaan swasta dan hambatan masuk pasar oleh karena kebijakan-kebijakan Negara atau pemerintah. Sedangkan pesaing potensial adalah pelaku usaha yang mempunyai potensi yang ingin masuk ke pasar yang bersangkutan.

pesaing potensial tidak dapat masuk ke dalam pasar. 1.perusahaan tersebut. Jika perusahaan melakukan pengambilalihan saham perusahaan yang lain. Jabatan rangkap Pasal 26 melarang komisaris dan direksi suatu perusahaan merangkap jabatan di perusahaan yang lain apabila perusahaan . maka dinilai kembali melalui besarnya saham yang dimiliki dan pangsa pasar yang Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 14 . atau c) secara bersama dapat menguasai pangsa pasar barang dan atau jasa tertentu. Jadi. di dalam hukum persaingan usaha ukuran yang sangat penting adalah bahwa pesaing potensial bebas keluar masuk ke pasar yang bersangkutan. Pertanyaannya adalah apakah jabatan rangkap tersebut dapat diawasi di depan (pencegahan) atau kemudian (repressif)? Penilaian terhadap jabatan rangkap biasanya dilakukan pada proses merger atau akuisisi saham perusahaan. baik diskriminasi harga dan non harga dan jual rugi (predatory pricing). atau b) memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha. yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. maka penempatan tersebut dapat dinilai. pelaku usaha tersebut dapat juga melakukan perilaku yang diskriminatif. Hubungan Afiliasi Dengan Pelaku Usaha yang Lain a. a) berada dalam pasar bersangkutan yang sama. apakah nanti dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat di pasar yang bersangkutan atau tidak. Selain pelaku usaha yang dominan dapat melakukan penyalahgunaan posisi dominannya sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 25 ayat 1 tersebut. Jabatan rangkap baru dilarang apabila akibat jabatan rangkap tersebut dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (rule of reason). dan akibat pengambilalihan saham tersebut ditempatkan Komisaris atau Direksi. Prinsip ketentuan Pasal 26 tersebut tidak melarang mutlak jabatan rangkap.

Pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar yang bersangkutan yang sama. Jika pelaku usaha sudah terbukti mempunyai posisi dominan. melainkan adanya keterkaitan usaha dalam proses produksi barang terebut dari pasar hulu sampai ke pasar hilir.) Dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.dikuasai oleh pelaku usaha yang mengambilalih dan pangsa pasar yang diambilalih (secara horizontal). b. Ini disebut perusahaan-perusahaan memiliki keterkaitan yang erat dalam bidang dan atau jenis usaha. baru dibuktikan apakah menguasai pangsa pasar lebih dari 50% atau lebih dari 75%.) Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. kemudian dengan pembuktian penguasaan pangsa pasar di pasar yang bersangkutan. Selain itu jabatan rangkap juga dapat terjadi di dua perusahaan yang tidak bergerak dibidang usaha yang sama. Kempemilikan saham mayoritas yang dimiliki oleh satu pelaku usaha di beberapa perusahaan harus dibuktikan terlebih dahulu. b. pelaku usaha yang mengambilalih dan yang diambilalih berada pada pasar bersangkutan yang sama. Artinya. yaitu apa yang disebut dengan posisi dominan. Berdasarkan ketentuan Pasal 27 tersebut pelaku usaha yang menguasai saham mayoritas dibeberapa pelaku usaha dan mengakibatkan penguasaan pangsa pasar lebih dari 50% untuk monopolis dan lebih dari 75% untuk oligopolis dapat mengakibatkan posisi dominan. maka langkah Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 15 . Kepemilikan saham silang Ketentuan Pasal 27 menetapkan bahwa pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas. Setelah pelaku usaha menguasai saham mayoritas. atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang apabila mengakibatkan: a.

2. 40/2007 Pasal 1 butir 11 ”Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Perseroan tersebut”.  Ketentuan UU No. 40/2007 Pasal 1 butir 10 ”Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Perseroan atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Perseroan baru yang karena hokum memperoleh aktiva dan pasiva dari Perseroan yang meleburkan diri dan status badan hukum Perseroan yang meleburkan diri berakhir karena hukum”. 40/2007 Pasal 1 butir 9 “Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum”.  Ketentuan UU No. merger. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 16 .6 Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang no.  Ketentuan UU No. Merger. c. atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipakai dalam peraturan perundang-undangan dengan istilah penggabungan. akuisisi dan konsolidasi. peleburan. akuisisi & konsolidasi Secara sederhana. berikutnya adalah membuktikan apakah posisi dominan tersebut disalahgunakan yang mengakibatkan pasar menjadi terganggu. dan pengambilalihan.

kartel. KPPU menjalankan tugas untuk mengawasi tiga hal pada UU tersebut: 1. Kegiatan yang dilarang. predatory pricing. Dalam pembuktian. Posisi dominan. yaitu melakukan kontrol produksi dan/atau pemasaran melalui pengaturan pasokan. KPPU menggunakan unsur pembuktian per se illegal. boikot. Jika masih keberatan dapat mengajukan kasasi ke MA dalam waktu 14 hari setelah putusan dibacakan. Setiap orang yang mengetahui telah terjadi atau patut diduga telah terjadi pelanggaran UU ini dapat melaporkan secara tertulis kepada KPPU dengan menyertakan identitas pelapor. Keberatan terhadap putusan KPPU diajukan ke PN paling lambat 14 hari setelah pemberitahuan putusan. oligopoli. perjanjian tertutup. yaitu sekedar membuktikan ada tidaknya perbuatan. trust (persekutuan). yaitu melakukan perjanjian dengan pihak lain untuk secara bersama-sama mengontrol produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat menyebabkan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat seperti perjanjian penetapan harga. pembagian wilayah.dan persaingan usaha tidak sehat. dan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 17 . pelaku usaha yang menyalahgunakan posisi dominan yang dimilikinya untuk membatasi pasar. KPPU bertanggung jawab kepada Presiden. menghalangi hak-hak konsumen. 2. diskriminasi harga. KPPU merupakan lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah serta pihak lainnya. atau menghambat bisnis pelaku usaha lain. pengaturan pasar yang dapat menyebabkan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat. dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang dapat menyebabkan persaingan usaha tidak sehat. 3. Perjanjian yang dilarang.

7 Sanksi dalam Anti Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat Pasal 36 UU Anti Monopoli. salah satu wewenang KPPU adalah melakukan penelitian. Konsumen tidak lagi diperdaya dengan harga tinggi tetapi kualitas seadanya. Kebutuhan konsumen dapat dipenuhi karena produsen telah meningkatkan kualitas dan layanannya 6. yang selain mempertanyakan eksistensi perbuatan juga melihat dampak yang ditimbulkan. Menjadikan harga barang dan jasa ideal. Membuka pasar sehingga kesempatan bagi pelaku usaha menjadi lebih banyak 8. Keberadaan KPPU diharapkan menjamin hal-hal berikut di masyarakat: 1. Keragaman produk dan harga dapat memudahkan konsumen menentukan pilihan 3. Apa saja yang termasuk dalam sanksi administratif diatur dalam Pasal 47 Ayat (2) UU Anti Monopoli. secara kualitas maupun biaya produksi 7. KPPU juga berwenang menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar UU Anti Monopoli. Menciptakan inovasi dalam perusahaan 2. penyelidikan dan menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai ada tidaknya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. Masih di pasal yang sama. Konsumen tidak lagi menjadi korban posisi produsen sebagai price taker 2.pembuktian rule of reason. Meski KPPU hanya diberikan kewenangan menjatuhkan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 18 . yang lazim ditemui pada pasar monopoli 5. Efisiensi alokasi sumber daya alam 4.

000.000.000. 2) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan Pasal 8. dan Pasal 28 diancam pidana denda serendah- rendahnya Rp25.  Pasal 48 1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4.000 (seratus miliar rupiah).000.  Pasal 49 Dengan menunjuk ketentuan Pasal 10 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. UU Anti Monopoli juga mengatur mengenai sanksi pidana. atau pidana kurungan pengganti denda selama- lamanya 6 (enam) bulan. Pasal 16 sampai dengan Pasal 19. atau c) Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain.000. dan Pasal 26 Undang-Undang ini diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp5.000 (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp5.000. Sementara pidana tambahan dijelaskan dalam Pasal 49. atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 3 (tiga) bulan.000. Pasal 9 sampai dengan Pasal 14. Pasal 48 menyebutkan mengenai pidana pokok.000.000.000. atau b) Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris sekurang- kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5 (lima) tahun.000 (dua puluh lima miliar rupialh). Pasal 15. 3) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41 Undang-undang ini diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp1. Pasal 25.sanksi administratif. terhadap pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa: a) Pencabutan izin usaha.000 ( lima miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp25.000 (dua puluh lima miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp100. atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 5 (lima) bulan.000.000. Pasal 20 sampai dengan Pasal 24. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 19 . Pasal 27.000 (lima miliar rupiah).

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 20 .Aturan ketentuan pidana di dalam UU Anti Monopoli menjadi aneh lantaran tidak menyebutkan secara tegas siapa yang berwenang melakukan penyelidikan atau penyidikan dalam konteks pidana.

batu bara. PLN) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kewajiban untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia. o Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. tenaga angin maupun tenaga surya. Perusahaan Listrik Negara Persero (PT.1 Profil PT PLN PT. Untuk menjalankan usahanya perusahaan membutuhkan bahan bakar minyak.  Visi : Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang. gas dan panas bumi. o Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani. komersial. PLN) 3. PLN menyediakan dan mendistribusikan tenaga listrik dari pusat-pusat pembangkit listrik yang bertenaga air. BAB III Tinjauan Kasus Kasus Monopoli Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Listrik Negara (Pt.  Maksud dan Tujuan Perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah dan mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 21 . Listrik yang dihasilkan kemudian dikonsumsi oleh industri. berorientasi pada kepuasan pelanggan. uap. anggota perusahaan dan pemegang saham. diesel.  Misi o Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait. o Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. pemukiman dan sarana publik.

2 Kasus PT PLN Terhadap Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat PT PLN (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (“BUMN”) yang bergerak dalam bidang penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Pengembangan teknologi peralatan yang penunjang penyediaan tenaga listrik. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perseroan dapat: 1. 2. Masih banyak orang yang menganggap PT PLN (Persero) sebagai satu-satunya institusi yang paling bertanggungjawab terhadap ketenagalistrikan di Indonesia dan menilai PT PLN (Persero) melakukan praktek monopoli. Konsultasi yang berhubungan dengan ketenagalistrikan. Penyaluran dan Distribusi. Menjalankan usaha penyediaan tenaga listrik. b. serta melakukan perencanaan dan pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik serta pengembangan penyediaan tenaga listrik. Pembangunan dan pemasangan peralatan ketenagalistrikan. Selain melakukan usaha-usaha tersebut diatas. Hal tersebut disebabkan karena hingga saat ini PT PLN (Persero) adalah satu-satunya perusahaan yang secara langsung dikenal masyarakat dalam mendistribusikan tenaga listrik. yang meliputi kegiatan: Pembangkit. Ikut dalam kegiatan usaha dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber energi lainnya yang terkait dengan penyediaan ketenagalistrikan antara lain: energi tidak Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 22 . c. padahal secara keseluruhan PT PLN (Persero) bergerak dari hulu hingga hilir yaitu : 1. d. menjalankan usaha penunjang tenaga listrik yang meliputi kegiatan: a. Pemeliharaan peralatan ketenagalistrikan.3.

sumber daya manusia. Melakukan usaha jasa yang menyangkut bidang ketenagalistrikan termasuk konsultasi. Menjalankan kegiatan perindustrian perangkat keras dan perangkat lunak di bidang ketenagalistrikan dan peralatan lain yang terkait dengan listrik. matahari. angin biomasm bahan bakar nabati. energi terbarukan (antara lain air. operasional telekomunikasi dan informasi yang berkaitan dengan ketenagalistrikan. kerja sama bagi hasil. penelitian dan pengembangan sesuai dengan lapangan usahanya ataupun bidang-bidang lain yang dianggap perlu untuk menunjang usaha Perseroan. 5. 3. 4. distribusi dan retail tenaga listrik. terbarukan (antara lain batubara. minyak bumi). sesungguhnya telah banyak sektor swasta yang turut berperan serta dalam sektor ketenagalistrikan di Indonesia yaitu sebagai Pengembang Independence Power Producer dari perusahaan swasta yang Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 23 . pendidikan dan pelatihan manajemen bidang enjinering. gas alam. panas bumi. keuangan. kontrak manajemen dan bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. baik dalam bentuk kerja sama usaha patungan. Melakukan kerjasama dengan badan lain atau pihak lain atau badan penyelenggara bidang ketenagalistrikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri di bidang pembangunan. konstruksi. 2. hibrida. Dari kegiatan usaha pembangkitan. penelitian dan pengembangan teknik ketenagalistrikan dan jasa lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan sumber energi lainnya seperti nuklir yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang seiring dengan perkembangan teknologi dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. gelombang air laut). penyaluran. Melakukan pemberian jasa operasi dan pengaturan (dispatcher) pada bidang pembangkitan.

membentuk Special Purposes Company (SPC) melalui Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (Power Purchase Agreement). Belakangan juga sudah mulai bermunculan perusahaan swasta yang mulai bergerak di kegiatan usaha transmisi dalam sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Walaupun PT PLN (Persero) bukan sebagai PKUK. PT PLN (Persero) saat ini adalah masih satu-satunya BUMN di bidang ketenagalistrikan yang mempunyai wilayah usaha di seluruh Indonesia. misalnya Cikarang Listrindo. dikarenakan belum ada sektor swasta yang bergerak langsung dalam pendistribusian listrik yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat. PT PLN (Persero) tidak lagi menjadi Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) tetapi menjadi pemegang Ijin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL). Disisi lain. kecuali beberapa lokasi yang sudah Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 24 . Dan tidak sedikit pula dari perusahaan swasta dan industri tersebut yang menjual kelebihan kapasitas energi listriknya kepada PT PLN (Persero) melalui konsep excess power agreement untuk kemudian oleh PT PLN (Persero) didistribusikan kepada masyarakat seperti misalnya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP). 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan telah disahkan pada tanggal 23 September 2009. Bekasi Power dan juga Bandara Soekarno Hatta oleh PT Angkasa Pura II. Sesuai Undang- Undang tersebut. banyak pula perusahaan swasta maupun industri yang membangun sendiri unit pembangkitnya untuk dipergunakan di kalangan sendiri dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya. akan tetapi hingga saat ini secara faktual fungsi PT PLN (Persero) masih seperti PKUK. maka masyarakat luas masih memiliki persepsi bahwa PT PLN (Persero) adalah perusahaan yang melakukan praktek monopoli di sektor usaha ketenagalistrikan. karena: a. sama seperti pemegang IUPTL lain. Namun. Undang-Undang No.

5 Tahun 1999. tetapi Undang-Undang tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada 21 Desember 2004. 30 tahun 2009. dan dengan demikian juga terhadap penentuan harganya. yang mengatur dan memberikan arah bagi restrukturisasi sektor ketenagalistrikan membawa perubahan yang besar dalam bisnis Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 25 . b. Cikarang Listrindo. Sebagai BUMN. Undang-Undang No. khususnya ketika belum terbitnya Undang-Undang No. Selama ini masyarakat mengklaim PT PLN (Persero) telah melakukan praktek monopoli yang artinya PT PLN (Persero) melakukan pelanggaran terhadap Undang. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mengatur mengenai larangan bagi pelaku usaha melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan merupakan pedoman bagi bisnis PT PLN (Persero) kedepan. Sebelum Undang-Undang No. Monopoli terbentuk jika hanya satu pelaku mempunyai kontrol ekslusif terhadap pasokan barang dan jasa di suatu pasar. Tarakan. memiliki IUPTL (IUKU) seperti Batam. pemerintah pernah mengesahkan Undang-Undang No 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan menggantikan Undang-Undang No 15 Tahun 1985. PT PLN (Persero) mempunyai prioritas utama melistriki suatu wilayah (pasal 11 ayat 2) dan juga sebagai last resort apabila tidak ada badan usaha yang bersedia melistriki suatu daerah (pasal 11 ayat 4). 30 Tahun 1999. dan lain-lain. Undang-Undang yang lama yaitu Undang-Undang No. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan menyebabkan PT PLN (Persero) menjadi yang pihak dipersalahkan oleh masyarakat karena mengkondisikan PT PLN (Persero) menjadi bersifat monopolis.Undang No.

15 Tahun 1985 Sebelum Undang-Undang No. yang dimuat dalam Staatsblad tahun 1890 No. rasionalisasi partisipasi swasta. implementasi mekanisme pasar. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan diterbitkan.190 yang telah beberapa kali diubah. energi khususnya tenaga listrik ke depan. dan redefinisi peran pemerintah. 15 Tahun 1985 pada tanggal 30 Desember 1985. sebagaimana tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) sebagai berikut: Usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan oleh Negara dan diseleng. reformasi tariff listrik. ketentuan yang mengatur mengenai bisnis ketenagalistrikan di Indonesia masih mengikuti pada ketentuan dalam Ordonansi tanggal 13 September 1890 tentang ketentuan mengenai pemasangan dan penggunaan saluran penerangan listrik dan pemindahan tenaga listrik di Indonesia (“Bipalingen Omtrent dan aanleg en het gebruik van geleidingen voor electrische verlichting en het verbrengen van kracht door middle van electriciteit in Nederlandsch-Indie”). Sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan pembangunan di bidang ketenagalistrikan diterbitkanlah Undang-Undang No. Undang-Undang No. Berdasarkan Undang-Undang ini usaha penyediaan tenaga listrik diselenggarakan oleh BUMN sebagai satu-satunya Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK). melalui restrukturisasi industri. terakhir diubah dengan Ordonansi tanggal 8 Pebruari 1934 Staatsblad Tahun 1934 No. 63.garakan oleh badan usaha milik negara yang didirikan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 26 . 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN 1. KEGIATAN USAHA PT PLN (PERSERO) SEBELUM BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NO.

Hal tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan listrik secara merata. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. mengingat kebutuhan akan tenaga listrik untuk kebutuhan pembangunan yang terus meningkat. baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan sendiri. berdasarkan Pasal 7 ayat (2) yaitu sebagai berikut: Dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik secara lebih merata dan untuk lebih meningkatkan kemampuan negara dalam hal penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Monopoli di bidang ketenagalistrikan berdasarkan Undang-Undang No. dapat diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada koperasi dan badan usaha lain untuk menyediakan tenaga listrik berdasarkan Izin Usaha Ketenagalistrikan. 5 Tahun 1999 tersebut disebutkan bahwa : Monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 27 . Namun demikian koperasi dan badan usaha lain diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menyediakan tenaga listrik berdasarkan Izin Usaha Ketenagalistrikan. 15 tahun 1985 tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. Dalam hal ini PT PLN (Persero) sebagai BUMN di bidang ketenagalistrikan merupakan PKUK sehingga terjadi monopoli dalam bidang ketenagalistrikan. karena dalam Pasal 51 Undang-Undang no. sepanjang tidak merugikan kepentingan negara.

tersedianya sumber dana untuk investasi. sehingga BUMN di bidang ketenagalistrikan. 2. 15 Tahun 1985 Pemerintah mengatur harga jual tenaga listrik. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 28 . Berdasarkan Pasal 16 Undang-undang No. dalam hal ini PT PLN (Persero) tidak memiliki kewenangan untuk menentukan tarif tenaga listrik nya sendiri. Dalam mengatur dan menetapkan harga jual tenaga listrik. 3. Lebih lanjut mengenai pengecualian kegiatan usaha yang bersifat monopoli di bidang ketenagalistrikan ini diatur dalam Keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. skala pengusahaan dan interkoneksi sistem yang dipakai. 89/KPPU/Kep/III/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Ketentuan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pemerintah senantiasa memperhatikan kepentingan rakyat serta kemampuan dari masyarakat. maka monopoli kegiatan usaha ketenagalistrikan merupakan salah satu bentuk pengecualian dari larangan monopoli sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. Mengingat sektor ketenagalistrikan merupakan kegiatan usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Atas dasar biaya produksi dengan memperhatikan efisiensi pengusahaan. menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang-cabang produksi yang penting bagi negara diatur dengan undang-undang dan diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara dan atau badan atau lembaga yang dibentuk atau ditunjuk oleh Pemerintah. Tingkat harga berpedoman pada kaidah-kaidah industri dan niaga yang sehat dengan memperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut: 1. Kelangkaan sumber energi primer yang digunakan. 4. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

sebagai konsekuensi penetapan tarif regional tersebut pemerintah daerah harus menyediakan anggaran untuk misi sosial. yaitu dengan melalui restrukturisasi industri. rasionalisasi partisipasi swasta. reformasi tarif listrik. Selanjutnya juga dituangkan aturan bahwa pemerintah daerah merupakan leader formal dalam merancang kebijakan ketenagalistrikan di daerah. Undang-Undang No. Dengan dibukanya pasar sektor ketenagalistrikan maka PT PLN (Persero) tidak lagi memonopoli pemegang kuasa usaha di bidang ketenagalistrikan. baik dari sisi penanggungjawab pemberi subsidi. maupun target subsidi. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 29 . bentuk subsidi. Untuk memenuhi permintaan tenaga listrik dari semua kelompok pemakai menurut sifat dan penggunaannya diadakan berbagai macam golongan pemakai berdasarkan sifat pemakaiannya. yang berupa subsidi untuk investasi dan subsidi untuk operasi. Selain itu. termasuk penerapan tariff regional. Sehingga arah kebijakan subsidi listrik mengalami perubahan yang cukup drastis. Harga jual tenaga listrik antara Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan ditetapkan oleh Pemerintah atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang sempat diterbitkan pada tanggal 23 September 2002. dan redefinisi peran pemerintah. Di samping itu juga diatur kewajiban pemerintah (pusat dan daerah) dalam melaksanakan misi sosial di sektor ketenagalistrikan di daerah. 20 Tahun 2002 mengatur keterlibatan pemerintah daerah dalam hal penyusunan rencana umum ketenagalistrikan daerah (RUKD). yaitu penyediaan anggaran subsidi listrik. sehingga dimungkinkan terjadinya tarif yang berbeda-beda antar daerah. sesungguhnya dapat membawa perubahan besar dalam bisnis ketenagalistrikan. implementasi mekanisme pasar. Undang-Undang No 20 Tahun 2002 Undang-undang No. 2.

Center for Energy and Power Studies.Namun demikian. b. Menciptakan hambatan masuk pasar bagi Badan Usaha lainnya. Menguasai sebagian besar kapasitas pembangkitan tenaga listrik pada posisi beban puncak. ” Kajian Mengenai Implikasi Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 Terhadap Kebijakan Subsidi Listrik (Tahun 2004)”. 3. Usaha Pembangkitan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a dilakukan berdasarkan kompetisi. Menguasai kepemilikan. Undang-undang No. Larangan penguasaan pasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) meliputi segala tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat antara lain meliputi: a. Menguasai sebagian besar kapasitas terpasang pembangkitan tenaga listrik dalam satu wilayah kompetisi. 2. PT PLN. d. 20 tahun 2002 yang menjadi pembahasan dalam Mahkamah Konstitusi adalah Pasal 16 yang berbunyi: Usaha Penyediaan Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dilakukan secara terpisah oleh Badan Usaha yang berbeda. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 30 . Badan Usaha di bidang pembangkitan tenaga listrik di satu wilayah kompetisi dilarang menguasai pasar berdasarkan Undang-undang ini. Dan Pasal 17 yang berbunyi: Badan Analisa Fiskal Departemen Keuangan . 20 Tahun 2002 kemudian di batalkan oleh Mahkamah Konstitusi pada tanggal 15 Desember 2004 melalui Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perkara Nomor 001-021- 022/PUU-I/2003 karena dianggap terlalu liberal dan bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945 ayat (3) yang berbunyi: Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Salah satu pasal dalam Undang-Undang No. c. 1.

20 Tahun 2002. 6. Satu hal yang baru di dalam Undang-Undang No. harga telah mencapai nilai keekonomian. g. Transmisi Tenaga Listrik. 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai larangan penguasaan pasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur dengan PeraturanPemerintah. Melakukan persekongkolan dengan pihak lain. bisnis ketenagalistrikan tidak lagi menjadi sektor usaha untuk dimanfaatkan sebesar. Melakukan jual rugi dengan maksud menyingkirkan usaha pesaingnya. 3. e. melainkan menjadi suatu lahan bisnis yang didalamnya berlaku kompetisi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. Dengan adanya ketentuan dalam Pasal 16 dan Pasal 17 tersebut diatas. dan lain sebagainya. Ketentuan dalam Undang-Undang No.Undang No. dan/atau i. seperti sudah adanya kebebasan dalam membeli energy primer. Melakukan praktik diskriminasi. Penjualan Tenaga Listrik. Pengelola Sistem Tenaga Listrik. Jika suatu daerah sudah memenuhi kriteria yang ada di dalam Undang. Pengelola Pasar Tenaga Listrik. 4. Agen Penjualan Tenaga Listrik. sebagaimana dituangkan dalam Pasal 8 ayat (2) sebagai berikut: Usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi jenis usaha: 1. h. 20 Tahun 2002 telah memecah- mecah bisnis ketenagalistrikan menjadi beberapa jenis sehingga bisnis ketenagalistrikan tidak lagi pekerjaan dari hulu hingga hilir. 4. dan 7. besarnya untuk kemakmuran rakyat. maka dimungkinkan bagi daerah tersebut untuk menerapkan kompetisi. Distribusi Tenaga Listrik. 20 Tahun 2002 adalah diperkenalkannya kompetisi di bidang pembangkitan tenaga listrik dan bidang penjualan. Melakukan kecurangan usaha. Membatasi produksi tenaga listrik dalam rangka mempengaruhi pasar. 5 Tahun Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 31 . 2. Pembangkitan Tenaga Listrik. f.

Amar putusan Mahkamah Konstitusi tersebut antara lain berbunyi sebagai “UU No 20/2002 tentang Ketenagalistrikan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat” BAB IV Analisis Kasus Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 32 .1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat.

17 dan 68 yang menjiwai dari UU ketenagalistrikan tersebut. 20 Tahun 2002 adalah pada Pasal 16. Data statistik menunjukkan bahwa PLN adalah salah satu perusahaan listrik terbesar di dunia dengan total pelanggan 22 juta dan lebih dari 50. 20 Tahun 2002 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.000 karyawan serta hampir seluruh bagian masyarakat adalah stakeholders bagi PLN. Permasalahan inti dari persoalan UU No. keadaan geografis. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan dan pada tahun 2002 UU No. 20 Tahun 2002. namun pemerintah nasional mengambil peranan dalam pembangunan sektor ini selama 50 tahun terakhir. Meskipun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda dan setelah kemerdekaan telah ada perusahaan swasta komersial yang memproduksi listrik. Larangan penguasaan pasar ini meliputi segala tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat antara lain: Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 33 . Pasal 16 menyatakan bahwa usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan secara terpisah oleh Badan Usaha yang berbeda. Pasal 17 menyatakan bahwa usaha pembangkitan listrik dilakukan berdasarkan kompetisi dan dilarang menguasai pasar. dan keteresediaan sumber daya alam dari zaman dahulu. PLN berdiri dilandaskan pada UU No.Kelistrikan di Indonesia adalah bentukan sejarah.15 Tahun 1985 dinyatakan tidak berlaku oleh UU No. Dalam perjalanannya. Namun kemudian melalui Putusan MK No 001-021-022/PUU-I/2003 yang dibacakan pada hari Rabu tanggal 15 Desember 2004 menyatakan bahwa UU No. pemerintah selalu mengambil peran yang sempurna dalam penyediaan listrik bagi rakyat yang didasarkan pada Pasal 33 UUD 1945. Perusahaan Umum Listrik Negara yang didirikan pada 1950 telah menjadi pemain kunci dalam cepanya pembangunan sektor kelistrikan.

5. Menguasai sebagian besar kapasitas terpasang pembangkitan tenaga listrik dalam satu wilayah kompetisi. distribusi. Meskipun yang berlawanan hanya tiga pasal tersebut. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan berlawanan dengan UUD 1945 dan oleh karenanya harus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Menguasai sebagian besar kapasitas pembangkitan tenaga listrik pada posisi beban puncak. Menciptakan hambatan masuk pasar bagi badan usaha lainnya. dan penjualan tenaga listrik dengan tetap melaksanakan tugas dan kewajiban penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum sampai dengan dikeluar-kannya Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik berdasarkan Undang-undang ini. 4. akan tetapi karena pasal-pasal tersebut merupakan jantung dari UU No. Membatasi produksi tenaga listrik dalam rangka mempengaruhi pasar. Sedangkan Pasal 68 menyatakan bahwa Pada saat Undang-undang ini berlaku. 8. 6.20 Tahun 2002 padahal seluruh paradigma yang mendasari UU Ketenagalistrikan adalah kompetisi atau persaingan dalam pengelolaan dengan sistem unbundling dalam ketenagalistrikan tidak sesuai dengan jiwa dan semangat Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 yang merupakan norma dasar perekonomian Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 34 . 1. dan/atau 9. Melakukan persekongkolan dengan pihak lain. Menguasai kepemilikan. 17 ayat (3). Melakukan jual rugi dengan maksud menyingkirkan usaha pesaingnya. Keputusan MK dalam hal ini menyatakan bahwa Pasal 16. Melakukan praktik diskriminasi. 7. serta 68 UU No. terhadap Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan dianggap telah memiliki izin yang terintegrasi secara vertikal yang meliputi pembangkitan. 2. 3. Melakukan kecurangan usaha. transmisi.

ayat. PLN yang selama ini merupakan satu-satunya BUMN yang mengelola sektor ketenagalistrikan dan telah memberikan sumbangsih bagi bangsa. 15 Tahun 1985 terlebih lagi harga listrik diserahkan kepada pasar sehingga tidak mempertimbangkan daya beli atau kondisi sosial ekonomi masyarakat. Akibat adanya pertentangan antara UU No.nasional Indonesia.20 Tahun 2002 secara keseluruhan tidak dapat dipertahankan. berdasarkan UU No. Negara. 20 Tahun 2002 menyatakan bahwa dalam UU No. Negara dan masyarakat (publik) Indonesia. menimbulkan dampak yang merugikan kepentingan bangsa. 20 tahun 2002 tidak lagi merupakan cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak. 20 Tahun 2002 terlihat bahwa negara tidak lagi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum dan tidak ada lagi ketentuan yang menyebutkan agar harga listrik terjangkau oleh masyarakat sebagaimana semula ditetapkan dalam UU No. atau bagian dari ayat tertentu saja dalam undang-undang a quo yang dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengkiat akan tetapi hal tersebut mengakibatkan UU No. MK berpendapat bahwa cabang produksi dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 di bidang ketenagalisrikan harus ditafsirkan sebagai satu kesatuan antara pembangkit transmisi dan distribusi sehingga dengan demikian meskipun hanya pasal.20 Tahun 2002 dengan UUD Pasal 33. PLN juga terkena dampaknya. negara dan rakyat Indonesia (merugikan kepentingan publik). dan masyarakat yang telah menjalankan fungsi untuk menyediakan tenaga listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan harga terjangkau dan juga telah memberikan peran yang besar bagi perekenomian nasional. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 35 . Dalam siaran Pers Koalisi Masyarakat Anti Kenaikan Harga sebagai pihak yang mengajukan Judicial Review atas UU No. karena akan menyebabkan kekacauan yang menimbulkan ketidakpastian hukum dalam penerapannya. Hal ini sangat merugikan kepentingan bangsa.

Sejumlah negara baik negara maju dan berkembang telah menerapkan restrukturisasi namun memberikan hasil yang serupa yaitu kenaikan tarif listrik. produsen akan berlomba-lomba menarik konsumen dengan menurunkan harga dan meningkatkan kualitas barang/jasa yang dijualnya. Hanya barang/jasa dengan harga yang rendah dengan kualitas terbaik yang akan dibeli oleh konsumen.Akibatnya. tidak adanya jaminan dan kepastian bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh tenaga listrik dengan harga terjangkau dan justru akan merugikan perekonomian Negara yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. penguasaan sektor listrik oleh sebagian kecil perusahaan energi multinasional dan kegagalan negara melindungi kepentingan ekonomi dan kepentingan masyarakat. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 36 . Putusan MK ini sejalan dengan pengalaman dunia akan tenaga kelistrikan yang telah membuktikan bahwa keberhasilan restrukturisasi sektor tenaga listik adalah mitos belaka. Secara ekonomi. menurunnya tingkat kehandalan. Secara umum. iklim kompetensi dan persaingan yang sehat dapat menghemat miliaran atau bahkan terilyunan rupiah uang konsumen yang harus dibayarakan ke produsen karena harga yang tidak wajar (overcharge) sebagai akibat kenaikan harga yang artifisial. Harga yang wajar dilihat dari kualitas. Dalam iklim persaingan. terdapat beberapa manfaat yang didapat perekonomian jika pada sektor ketenagalistrikan terjadi kompetisi dan persaingan yang sehat. terjadinya pemadaman. di antaranya adalah: 1. Bahkan dapat pula mengganggu keamanan negara dan kedaulatan negara karena negara tidak lagi berkewajiban mengelola cabang produksi terpenting untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat.

jika ada pesaing lain bagi PLN. Produsen dituntut untuk sensitif terhadap daya beli dan perubahan selera konsumen. Setiap konsumen pada dasarnya memiliki daya beli dan selera yang berbeda-beda. Terkait dengan sektor ketenagalistrikan. Hal ini secara positif akan mendorong PLN pada efisiensi kinerja dan inovasi teknologi. Inovasi akan terus berkembang karena dalam pasar yang bersaing hanya pelaku usaha inovatif yang dapat bertahan dan bersaing. inovasi teknologi maupun inovasi metode produksi yang lebih efisien. baik inovasi produk untuk memenuhi selera konsumen. kompetisi yang dikehendaki agar dapat tercapai suatu iklim usaha yang sehat tidak dapat dilakukan dalam bidang ketenagalistrikan. Persaingan usaha akan merangsang pelaku usaha berlomba- lomba membuat inovasi. tentunya akan mendorong PLN berpikir dan melakukan yang terbaik dalam menentukan harga dan memberikan pelayanan. Meskipun demikian usaha penyediaan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 37 . Pada dasarnya usaha penyediaan ketenagalistrikan dilakukan secara monopoli. Pasar yang kompetitif akan menghasilkan barang/jasa yang ditawarkan pelaku usaha dengan pilihan harga dan kualitas yang bervariasi. 2. Namun. Pelaku usaha yang tidak tanggap terhadap perubahan daya beli dan perubahan selera konsumen lambat laun akan tersingkir di pasar. Hal ini dikarenakan segmen yang bersifat monopoli alamiah tidak dikompetisikan dan diprioritaskan untuk dikelola oleh BUMN. Karakteristik konsumen untuk memproduksi barang/jasa sesuai dengan kemampuan dan keinginan konsumen. harga jual juga tetap dilakukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah berdasarkan kewenangan dalam memberi izin tersebut. Konsumen memiliki banyak pilihan dalam membeli barang/jasa. Persaingan memungkinkan timbulnya inovasi. 3.

Keterlibatan swasta dalam penguasaan listrik tidak dapat dilakukan melalui mekanisme pasar dikarenakan ketenagalistrikan merupakan sektor yang unik dan perlu penanganan khusus demi untuk tersedianya listrik yang relatif murah bagi seluruh rakyat Indonesia. apakah usaha yang dilakukan oleh PLN adalah tindakan monopoli yang diperbolehkan atau tidak. Namun karena PLN adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maka diberi hak untuk diprioritaskan dalam memenuhi ketenagalistrikan. Kerugian ini diduga karena kurang optimalnya kinerja PLN dalam penyedia listrik masyarakat. monopoli yang dilakukan PLN merupakan persaingan usaha yang tidak sehat karena mulai adanya pihak swasta yang juga menyediakan tenaga listrik di Indonesia. Oleh karena itu. sedangkan dalam hal ini PLN malahan menghalangi perusahaan lain untuk bersaing di bidang ketenagalistrikan ini. Hasil Analisis : Pendekatan Illegal Per Se dan Rule of Reason Secara eksplisit dalam Undang-Undang No. Namun melihat dari kerugian yang diterima oleh masyarakat. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak menyebutkan prinsip rule of reason dan illegal per se. secara hukum masih terdapat berbagai perdebatan. Sedangkan dari segi persaingan usaha. Penafsiran yang dilakukan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menentukan suatu perjanjian atau kegiatan yang dilarang termasuk dalam kategori rule of reason dan illegal per se didasarkan pada analisis redaksional atau kalimat yang terdapat dalam setiap pasal Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 38 . Persaingan ini dianggap sehat apabila PLN tidak menghalangi usaha perusahaan listrik swasta lainnya untuk menyediakan listrik bagi masyarakat. seharusnya tindakan monopoli ini tidak boleh dilakukan. Dengan demikian ketersediaan listrik sesungguhnya merupakan tugas Pemerintah untuk menenuhinya.ketenagalistrikan juga dapat dilakukan secara terintegrasi atau satu jenis usaha saja.

tanpa pembuktian lebih lanjut atas dampak yang ditimbulkan dari perjanjian atau kegiatan usaha tersebut. guna menentukan apakah suatu perjanjian atau kegiatan tersebut bersifat menghambat atau mendukung persaingan. serta tidak diperlukan pembuktian apakah tindakan tersebut memiliki dampak negatif terhadap persaingan usaha. Illegal per se ditujukan pada suatu perbuatan atau tindakan yang secara inhern bersifat dilarang atau ilegal. dapat diartikan juga suatu tindakan dinyatakan melanggar hukum dan dilarang secara mutlak. Melalui pendekatan rule of reason ini apabila suatu perbuatan dituduh melanggar hukum persaingan. apakah suatu perbuatan baik berupa perjanjian maupun kegiatan telah melanggar undang-undang atau tidak yaitu dengan pendekatan rule of reason dan illegal per se. Pendekatan rule of reason merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh lembaga otoritas persaingan usaha untuk membuat evaluasi mengenai akibat perjanjian atau kegiatan usaha tertentu. Pendekatan rule of reason. pendekatan illegal per se adalah menyatakan setiap perjanjian atau kegiatan usaha tertentu sebagai ilegal. maka pencari fakta harus mempertimbangkan dan menentukan apakah perbuatan tersebut menghambat persaingan dengan menunjukkan akibatnya Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 39 . Untuk menerapkan prinsip ini tidak hanya diperlukan pengetahuan ilmu hukum tetapi penguasaan terhadap ilmu ekonomi. yaitu penerapan hukum dengan mempertimbangkan alasan-alasan dilakukannya suatu tindakan atau suatu perbuatan oleh pelaku usaha. Dalam hukum persaingan usaha secara yuridis dikenal dua macam dasar pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis. Hal tersebut nampak ketika membandingkan diantara pasal-pasal tertentu yang termasuk dalam kategori rule of reason maupun illegal per se.dari undang-undang. Sebaliknya.

perlindungan terhadap golongan ekonomi tertentu dan fairness. efisiensi.terhadap proses persaingan dan apakah perbuatan itu tidak adil atau mempunyai pertimbangan lainnya. Pertimbangan atau argumentasi yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah aspek ekonomi. Setelah mempertimbangkan faktor-faktor tersebut barulah dapat ditentukan apakah suatu tindakan bersifat ilegal atau tidak. Terutama. PLN melanggar Undang- undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Pasal 17 ayat 1 dan Pasal 19. jika di dalam pendekatan illegal per se tidak perlu terlalu jauh melihat akibat yang ditimbulkan suatu tindakan terhadap persaingan karena tindakan semacam itu selalu dianggap membawa akibat negatif sedangkan di dalam pendekatan rule of reason pengadilan disyaratkan untuk mempertimbangkan faktorfaktor seperti latar belakang dilakukannya tindakan. Namun. alasan bisnis dilakukannya tindakan serta posisi si pelaku tindakan dalam industri tertentu. Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah melakukan tindakan monopoli. keadilan. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Tindakan PT. akan dilakukan analisa terhadap Undang-Undang No. PLN ini telah melanggar Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. yang menyebabkan kerugian pada masyarakat. Dengan demikian. UU Ketenagalistrikan. monopoli yang dilakukan oleh PLN dalam sektor ketenagalistrikan memiliki landasan yuridis yang kuat yakni melalui konstruksi hukum Pasal 33 UUD 1945. PT. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan untuk memberikan penafsiran dan menentukan terhadap peraturan tersebut apakah termasuk kedalam kegiatan yang dilarang didasarkan pada analisis redaksional atau kalimat yang terdapat dalam setiap pasal dari Undang-Undang No. Berdasarkan pendekatan rule of reason dan illegal per se tersebut. Hanya Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 40 .

001-021-022/PUU-I/2003 pun menyatakan bahwa UU No. Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat secara adil dan merata. sebaiknya pemerintah juga membuka kesempatan yang luas bagi penyedia listrik lain baik investor swasta maupun internasional dalam persaingan usaha ketenagalistrikan. sehingga tidak terjadi penyimpangan yang merugikan masyarakat. Putusan Mahkamah Konstitusi No. sehingga menjadi lebih baik demi tercapainya kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat banyak sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33. 5 Tahun 1999 menyebutkan sebagai berikut : Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 41 . Keputusan MK tersebut sudah benar karena kepentingan masyarakat adalah hal yang utama. Demikian ini merupakan suatu hal yang dilematis bagi penyelenggaraan ketenagalistrikan di Indonesia mengingat kedudukan PLN yang kuat secara yuridis tersebut. 20 tahun 2002 kekuatan hukumnya tidak mengikat karena bila dilihat dari UU tersebut tidak adanya jaminan dan kepastian bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh tenaga listrik dengan harga terjangkau dan justru akan merugikan perekonomian Negara yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.saja. PLN belum mampu menunjukkan kinerjanya secara optimal sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi seluruh rakyat Indonesia secara layak. Akan tetapi. Pemerintah harus tetap mengontrol dan memberikan batasan bagi investor tersebut. Pasal 19 Undang-Undang No. Selain itu. Bahkan dapat pula mengganggu keamanan negara dan kedaulatan negara karena negara tidak lagi berkewajiban mengelola cabang produksi terpenting untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat yang sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Pemerintah hendaknya dapat memperbaiki kinerja PLN saat ini.

Menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya itu. atau 2. Pihak yang dapat melakukan penguasaan pasar adalah para pelaku usaha yang mempunyai market power. Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan. atau 3. Melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu. atau 4. yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa: 1. penguasaan pasar sebesar 50% atau 75% sudah dapat dikatakan mempunyai market power. BAB V Kesimpulan dan Saran Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 42 . Kriteria pernguasaan pasar tersebut tidak harus 100%. yaitu pelaku usaha yang dapat menguasai pasar sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa yang di pasar bersangkutan. Membatasi peredaran dan/atau penjualan barang dan/atau jasa pada pasar bersangkutan. baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain. Menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan.

1 Kesimpulan Persaingan Tidak Sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. Undang-Undang Anti Monopoli No 5 Tahun 1999 memberi arti kepada monopolis sebagai suatu penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha (pasal 1 ayat (1) Undang- undagn Anti Monopoli ). 5.2 Saran Dengan adanya Makalah ini diharapkan dapat membantu dalam memahami apa itu Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sementara yang dimaksud dengan “praktek monopoli” adalah suatu pemusatan kekuatan ekonomi oleh salah satu atau lebih pelaku yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan suatu persaingan usaha secara tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 43 . Sesuai dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Anti Monopoli. Dan apabila terdapat keselahan dan kekurangan pada Makalah ini mohon dimaafkan karena tidak ada gading yang tak retak dan tak ada manusia yang sempurna. kesempurnaan itu hanya milik sang pencipta dan kekurangan hanya milik kita semua makhluknya.5.

DAFTAR PUSTAKA Hardjan ruslie. 5 Tahun 1999 LN No. TLN No. ”Hukum Persaingan di Indonesia: UU No. Cet II. Ningrum N. Indonesia. Hukum perjanjian indonesia dan common law. Undang-undang Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Medan: Pustaka Bangsa Press. 3817 Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 44 . 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat”. Jakarta : Pustaka sinar Harapan. 1996 Sirait. UU No. Cet. 33 Tahun 1999. I. 2004.