You are on page 1of 2

BAB IV

PEMBAHASAN

Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan
fisik serta pemeriksaan penunjang yang cermat. Pada kasus laki-laki, 65 tahun,
masuk Rumah Sakit Datoe Binangkang dengan keluhan nyeri pinggang kanan ± 5
bulan yang lalu. Nyeri dirasakan bertambah ketika berjalan, nyeri dirasakan hilang
timbul. Nyeri tidak menjalar ke paha. BAK lancar, sakit waktu kencing (-). BAB
biasa. Lemah badan (+). Pusing berputar (+). Mual (-) Muntah (-). Sesak napas (-).
Riwayat kurang minum air putih (+) sering duduk dalam waktu yang lama (+)
tahan kencing (+). Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan bahwa
prevalensi tiga kali lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita, dan
meningkat seiring dengan pertambahan usia (paling sering dialami oleh usia 30 –
50 tahun). Asupan air yang kurang juga merupakan salah satu penyebab
terbentuknya batu saluran kemih. Pasien juga lebih banyak duduk atau kurang
melakukan aktifitas.1,5,8
Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis +/+, nyeri ketok
pada sudut kostovertebra kanan. Hal ini dapat dikarenakan adanya batu pada
ginjal sehingga nyeri dapat bertambah ketika diketok.1
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan darah lengkap,
urinalisis lengkap, ureum, kreatinin, GDP, gambaran darah tepi, Fe, TIBC, USG
abdomen. Pada pemeriksaan gambaran darah tepi ditambah dengan kadar Fe yang
rendah, dapat disimpulkan terjadi anemia defisiensi besi dan pada hasil USG
abdomen kesan nefrolitiasis bilateral. USG abdomen dapat memperlihatkan
adanya batu pada ginjal beserta perkiraan ukuran batu ginjal, tetapi tidak dapat
diketahui jenis batunya.1,10
Diagnosis pada pasien ini yaitu nefrolitiasis bilateral dengan anemia
defisiensi besi ditentukan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
penunjang yang telah dilakukan pada pasien. Penatalaksanaan pada pasien ini
yaitu pemasangan infus, injeksi antibiotik, diberikan anti nyeri, alfa bloker
sebagai terapi konservatif batu ginjal, allopurinol untuk kenaikan kadar asam urat,
sulfas ferrosus untuk terapi Fe, transfusi PRC mengingat kadar Hb yang dibawah

39

trauma organ pencernaan.1 40 . Pada pasien yang ditangani dengan PNL. infeksi luka operasi. tetapi juga dipicu oleh reaksi inflamasi dari batu. hidro atau pneumotoraks.normal (<7 mg/dl). terutama yang melekat. stein strasse. Sedang yang termasuk kurang signifikan perforasi ureter. makin buruk prognosisnya. trauma vaskuler. dan adanya infeksi serta obstruksi. Yang termasuk komplikasi signifikan adalah avulsi ureter. kehilangan ginjal. Komplikasi akut yang sangat diperhatikan oleh penderita adalah kematian. Angka kejadian striktur kemungkinan lebih besar dari yang ditemukan karena secara klinis tidak tampak dan sebagian besar penderita tidak dilakukan evaluasi radiografi (IVP) pasca operasi. emboli paru dan urinoma. sisanya masih memerlukan perawatan ulang karena masih ada sisa fragmen batu dalam saluran kemihnya.1 Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan ESWL. sepsis. Striktur tidak hanya disebabkan oleh intervensi. hematom perirenal. Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi. kebutuhan transfusi dan tambahan intervensi sekunder yang tidak direncanakan. Hal ini sesuai kepustakaan bahwa penatalaksanaan pada nefrolitiasis bertujuan untuk mengurangi nyeri dan pemecahan batu sehingga dapat keluar bersama dengan urine. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. 80% dinyatakan bebas dari batu. Komplikasi akut dapat dibagi menjadi yang signifikan dan kurang signifikan. ileus.1.1 Terdapat komplikasi akut dan komplikasi jangka panjang. namun hasil yang baik ditentukan pula oleh pengalaman operator. Data kematian. letak batu. Komplikasi jangka panjang adalah striktur ureter.10 Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu. ISK dan migrasi stent. kehilangan ginjal dan kebutuhan transfusi pada tindakan batu ureter memiliki risiko sangat rendah. 60% dinyatakan bebas dari batu. Makin besar ukuran suatu batu.