You are on page 1of 14

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dangue Haemoragic Fever (DHF) atau demam berdarah dangue
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang di
bawa oleh Aedes aegypti (Nurarif & Kusuma, 2015). Menurut WHO
(2011) yang dikutip dari (Andriani, Tjitrosantoso, & Yamlean, 2014)
terdapat sekitar 2,5 milyar orang di dunia beresiko terinfeksi virus dengue,
terutama di daerah tropis maupun subtropis yang penderitanya kebanyakan
ialah anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun.
Indonesia ialah negara yang termasuk berdaerah tropis dan juga
penduduknya memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi virus dengue ini
sehingga dapat menyebabkan peduduknya menderita dangue haemoragic
fever. Olehnya itu, penting bagi kita untuk memahami beberapa konsep
tentang DHF ini, mulai dari pengertian sampai kepada masalah
keperawatan yang dapat muncul, sehingga untuk kedepannya kita para
calon perawat memiliki pengetahuan untuk disebarluaskan ke masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Dengue Haemoragic Fever (DHF) ?
2. Apa saja etiologi dari DHF ?
3. Apa tanda dan gejala dari DHF ?
4. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh pasien
dnegan DHF ?
5. Apa saja penatalaksanaan yang dapat dilakukan ketika seseorang
mengalami DHF ?
6. Bagaimana patofisiologi dari penyakit DHF ?
7. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi ketika seseorang menderita
DHF ?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF ?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Dangue Haemoragic Fever (DHF)
2. Mengetahui etiologi sehingga dapat terjadi DHF.
3. Mengetahui tanda dan gejala dari DHF

Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi ketika seseorang menderita DHF 8. BAB II ISI/PEMBAHASAN A. Memahami patofisiologi terjadinya penyakit DHF 7. 2 4. Mengetahui penatalaksanaan ketika menderita DHF 6. Mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF. Mengetahui pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh pasien DHF 5. Pengertian Dangue Haemoragic Fever (DHF) .

ruam. 2008). trombositopenia. 2009). 2015). Etiologi DHF Menurut Sudoyo Aru. keluarga flaviridae. yaitu nadi cepat dan lembut. Ada beberapa klasifikasi derajat DBD menurut WHO yang dikutip dalam Nurarif & Kusuma (2015). Derajat 4 : Syok berat. DEN-2. edema. B. Derajat 2 : Derajat 1 disertai dengan perdarahan spontan dikulit dan/atau perdarahan lain. Manifestasi Klinis DHF . dan efusi (Kwiatkoski. Nimmannitya. lembab dan klien gelisah. & Warrel. Keempatnya ditemukan di Indonesia dan yang paling banyak ialah DEN-3. C. termasuk genus Flavivirus. dkk (2009) yang di kutip dalam Nurarif & Kusuma (2015) penyebab dari DHF ini ialah virus dengue. diantaranya : Derajat 1 : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi yang dapat mengarahkan ke DBD ialah uji tornoquet positif. 2005). limfadenopati dan ditesis hemoragic (Nurarif & Kusuma. 3 Dangue Haemoragic Fever (DHF) atau demam berdarah dangue merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala nyeri otot disertai leukopenia. tekanan nadi menurun atau hipotensi disertai kulit dingin. Derajat 3 : Ditemukannya tanda kegagalan sirkulasi. Virus dengue ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui nyamuk Aedes (Ae. demam. Ada 4 serotipe virus yakni DEN-1.) dari subgenus Stegomyia (WHO. Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan manusia. DEN 3 dan DEN-4. DHF juga dikarakteristikkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler yang masif sehingga mendorong kebocoran plasma dan mengakibatkan elevasi hematokrit. nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. Yorston. virus dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk (Satari & Meiliasari.

Kriteria diagnosis: 1. Menurut hasil penelitian Ashis & Shibendu (2013) yang dilakukan pada 233 bayi dan anak-anak dengan usia antara 1-18 tahun di Rumah Sakit dan yang menderita DHF ada 182 orang ditemukan tanda dan gejala yang muncul seperti demam. Pembesaran hati. Kriteria laboratories: a. ruam (15. mulai dari petekie (+) sampai perdarahan spontan seperti mimisan. 4.000/mm3) b. Kriteria klinis: a. Penelitian di atas sama dengan gejala yang ditemukan pada penelitian Bhave. 2. anoreksia (13. tidak sadar (DSS. & Bhave (2015) yang juga melakukan penelitian pada kelompok usia pediatrik. Rajput.73%). loose motion (18. Manifestasi perdarahan dengan tes rumple leede (+). d. Akral dingin. gelisah. mual muntah (47. Syok. Sedangkan yang memiliki hasil tourniquet test positif ialah 76.76%). sakit kepala (30. sakit punggung (30. diantaranya sebagai berikut : Manifestasi klinis . 4 Ada beberapa manifestasi klinis dan hasil laboratorium dari penderita DHF menurut Kunoli (2012). Demam selama 2-7 hri tanpa sebab yang jelas.76%). muntah dan nyeri .68%). Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal 150. 1.93 %). Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan diatas maka pasien dinyatakan menderita demam dengue. ruam. 2. Hemokonsentrasi (Ht meningkat > 20%) Seorang pasien dinyatakan menderita penyakit DBD bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif dan satu hasil laboratorium yang positif.000).000-400. hematokrit meningkat (pria < 45 dan wanita < 40). 3. Terdapat manifestasi perdarahan. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus-menerus selama 3-7 hari. Dia juga menemukan gejala demam. c.25%). dengue shock syndrome). b. atau berak darah hitam. Trombositopenia (> 100. muntah darah.92%.

overload dan respon pemberian cairan . yaitu terapi supportif dan terapi simptomatik.86%. atau memperlihatkan tanda-tanda perarahan spontan selain ptekia harus dirawatinapkan. EKG. D. & Yamlean (2014) secara retrospektif dengan menganalisis data rekam medik secara deskriptif. Isolasi virus 5. pemberian diuretik sebanyak 5. diantaranya menurut Nurarif & Kusuma (2015) ialah : 1.000/mm3) 2. Tjitrosantoso. E. 5 abdomen. denyut nadi lemah.000/mm3. R. pemberian antiemetika sebanyak 14. Hb & PCV (meningkat 20%) 3. Circulation : Cairan kristaloid dan/atau koloid 10-20 ml/kgBB secepatnya (jika bisa <10 menit) Perhatikan : tanda-tanda hipovolemia. Foto dada.38%. hitung trombosit sampai di bawah 50. asites dan efusi pleura. Trombositopenia (100. FDP. Untuk mengatasi demam antipiretik dapat diberikan tetapi salisilat harus dihindari. Terapi suportif ialah pemberian cairan elektrolit sebanyak 100%. Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis) 4. hepatomegali. Penatalaksanaan Pada hasil penelitian Andriani. perdarahan.70%. Serologi (Uji H) : respon antibody sekunder 6. Pada renjatan yang berat. creatinin serum. CRT>3. periksa : Hb.D Kandou Manado tahun 2013. Sedangkan pada tanda klinis dari dengue ditemukan demam. hipotensi.40% dan pemberian sedatif 2. Terapi simptomatik terdiri dari pemberian antipiretik sebanyak 78. hipervolemia. Pasien yang hematokritnya semakin meningkat. Sejumlah cairan juga penting untuk diberikan secara oral sampai ke tingkat yang masih ditoleransi karena demam. Bila lebih dipakai sungkup muka.27%. anoreksia dan muntah dapat menyebabkan pasien dehidrasi. Dr. pemberian antasida dan antiulcer sebanyak 20. PCV berulang kali (setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan perbaikan). Pemeriksaan Penunjang Ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita DHF atau DBD. faal hemostasis. BUN. terdapat dua terapi yang diberikan untuk penatalaksanaan terapi DBD pada anak di RSUP Prof. Sedangkan menurut WHO (2005) pada kasus DHF ringan sampai sedang (tingkat I dan II) dapat diberikan terapi cairan IV dalam periode 12-24 jam pada pasien rawat jalan. Airway Tatalaksana sindrom syok dengue pada dewasa : Breathing : 02 (1-2 liter/menit dgn kateter nasal).

30 ml/kg. Koreksi gangg. 6 PERBAIKAN TETAP SYOK Kristaloid 7 Kristaloid Guyur 20- ml/kg/jam dalam 1 PERBURUKAN 30 ml. deuresis cukup cepat 10-15 menit diulang sesuai kebutuhan Stop infus PERBAIKAN TETAP SYOK Koloid hingga maksimal 30 ml/kgBB Koloid. Vasodilatorinfeksi sekunder 10-15 kristaloid Vasopresor menit Hipovolemik TETAP SYOK PERBAIKAN Normovolemik . AsamPasang dapat basa. central Kombinasi Perbaikan Kristaloid dipantau koloid bertahap Vasopresor Kusuma (2015) anemia. vena sentral 15-18 smHo. Nurarif kateter & vena Inotropik diulang sampai eliktrolit. Ht ml/kgBB.kgBB 20-30 jam menit PERBAIKAN TETAP SYOK Kristaloid 5 Ht meningkat Ht menurun ml/kg/jam dalam 1 jam 24-48 jam setelah syok Koloid 10-20 Transfusi darah 10 teratasi. Tetes ml/kgBB dapat stabil. bila dosis maksimal belum dicapai PERBAIKAN TETAP SYOK atau kristaloidgelatin (bila koloid sebelumnya telah mencapai dosis maksimal) 10 ml/kg dalam 10 menit. sasaran tekanan hipoglikemia. tanda vital.

7 F. Patofisiologi DHF Arbovirus (melalui Beredar dalam aliran Infeksi virus dengue nyamuk aedes darah (viremia) aegypti) Membentuk dan Mengaktifkan sistem PGE2 Hipothalamus melepaskan zat C3a. komplemen C5a Hipertermi Pelepasan peptida Peningkatan Kebocoran plasma permeabilitas Pembebasan histamin membran Cairan ke ekstraseluler Agregasi trombosit Trombositopenia Abdomen Hepar Paru-paru Perdarahan Resiko Perdarahan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari Mual Hepatomeg Ketidakefektifan Efusi PerfusiResiko jaringansyok tidak Hipoksia Asidosis kebutuhan Asites muntah ali polapleura napas (hipovolemi) efektif metabolik jaringan .

Komplikasi Pada anak yang menderita DBD dapat mengeluh lemah/lelah (fatigue) saat fase pemulihan. Hipertermi b/d sepsis b. 2015) G. Resiko syok (hipovolemik) c. 8 (Nurarif & Kusuma. Komplikasi berat pada DBD yaitu ensefalopati dengue. Intervensi . gagal ginjal akut. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang tidak adekuat d. H. Data Objektif : suhu tubuh tinggi. nadi cepat & lemah. Identitas Klien b. nyeri tekan pada epigastrik. 2. Pengkajian a. pada palpasi teraba adanya pembesaran hati & limpa. Anamnesis c. ptekie. mual/muntah d. Data Subjektif : lemah. sakit kepala. Asuhan Keperawatan 1. 2010). Resiko perdarahan 3. Diagnosa Keperawatan a. hipotensi. atau edema paru akut (Anto. perdarahan gusi.

nadi. 9 Dx 1 : Hipertermi b/d sepsis Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . x 24 jam suhu tubuh pasien kembali normal/turun Kriteria Hasil : 1) Suhu tubuh dalam rentang normal 2) Nadi dan RR dalam rentang normal 3) Infeksi berkurang Intervensi : 1) Fever management a) Monitor suhu sesering mungkin b) Monitor warna dan suhu kulit c) Monitor TD... warna dan kelembaban kulit 4) Infection control 5) Infection protection Dx 2 : Resiko syok (hipovolemik) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . nadi. x 24 jam aliran darah ke jaringan tercukupi Kriteria Hasil : 1) Nadi dalam batas normal 2) Frekuensi nafas normal 3) Irama jantung dalam batas normal Intervensi : 1) Syok prevention .. RR d) Berikan antipiretik (kolaborasi) e) Lakukan tapid sponge f) Kolaborasi pemberian cairan intravena 2) Temperature regulation a) Monitor suhu minimal tiap 2 jam b) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 3) Vital sign monitoring a) Monitor TD. suhu dan RR b) Catat adanya fluktuasi TD c) Monitor TTV saat pasien berbaring.. duduk atau berdiri d) Monitor kualitas dari nadi e) Monitor frekuensi dan irama pernapasan f) Monitor suhu..

status metabolik. 10 a) Monitor awal respon syok b) Monitor statur sirkulasi (mis. penurunan pengeluaran urin. perubahan respirasi) c) Memberikan cairan intravena seperti kristaloid atau koloid isotonic. suhu. fibrinogen.. TD. Ht. Keseimbangan asam basa. AGD. elektrolit. status gumpalan ) e) Berikan cairan intravena dan/atau oral yang tepat 2) Shock management a) Monitor kehilangan darah yang mendadak b) Monitor tanda dan gejala dari syok hipovolemik ( cepat haus. platelet.. termasuk protrombin time. partial thromboplastin time. kualitas nadi) c) Monitor temperatur dan status respirasi d) Monitor nilai laboratorium (Hb. peningkatan HR. e) Monitor hasil lab (mis. bunyi jantung. d) Monitor hasil koagulasi.. x24 jam. warna kulit. dan elektrolit) Dx 3 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang tidak adekuat Tujuan : Setelah melakukan tindakan keperawatan selama . perubahan status mental. asupan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria Hasil : 1) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 2) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti Intervensi : 1) Nutrition management a) Kaji adanya alergi makanan b) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori & nutrisi yang dibutuhkan pasien c) Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan d) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 2) Nutrition monitoring a) BB pasien dalam batas normal .

11 b) Monitor mual dan muntah c) Monitor kalori dan intake nutrisi Dx.. PTT. sakit kepala dan mual muntah Objektif : TTV dalam batas normal . trombosit d) Kolaborasi pemberian produk darah (platelet atau fresh frozen plasma) e) Lindungi pasien dari trauma yang dapat menyebabkan perdarahan f) Hindari pemberian aspirin dan antikoagulan g) Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake makanan yang banyak mengandung vitamin K h) Pertahankan cairan yang adekuat 2) Bleeding reduction a) Monitor status cairan yang meliputi intake dan output b) Monitor penentu pengiriman oksigen ke jaringan (PaO2. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi 5. Faktor pembekuan darah normal . 4 : Resiko perdarahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . PT. BB tidak turun drastis Analisis : Mencakup masalah teratasi... pasien tidak mengalami perdarahan Kriteria hasil : 1) Plasma... Evaluasi Subjektif : Pasien tidak mengeluh demam.. PTT dalam batas normal 2) Hb dan Ht dalam batas normal Intervensi : 1) Bleeding precautions a) Monitor tanda-tanda perdarahan b) Catat nilai Hb dan Ht c) Monitor nilai lab (koagulasi) meliputi PT. x 24 jam.. SaO2 dan level Hb dan cardiac output) c) Pertahankan patensi IV line 4. ... Planning : Lanjutkan intervensi .. teratasi sebagian atau tidak teratasi.

Nurarif & Kusuma. DHF terdiri dari derajat 1-4 dan memiliki manifestasi masing-masing. termasuk genus Flavivirus. 2015 ) BAB III PENUTUP A. Jhonson. Bulechek. keluarga flaviridae. DEN-2. Butcher. ruam. Dochterman. ptekie. 2013 . & Wagner. 12 (NANDA. limfadenopati dan ditesis hemoragic. Kesimpulan Dangue Haemoragic Fever (DHF) atau demam berdarah dangue merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala nyeri otot disertai leukopenia. . trombositopenia. Maas. Ada beberapa tanda dan gejala dari penyakit DHF ini yaitu demam. demam. hipotensi. Moorhead. sakit punggung. 2015. Adapun penyebab dari DHF ini ialah virus dengue. Ada 4 serotipe virus yakni DEN-1. & Swanson. dll. Penatalaksanaan yang bisa diberikan mulai dari pemberian cairan per oral. bisa timbul asites. 2013 . DEN 3 dan DEN-4. hepatomegali.

Retrieved 02 16. resiko perdarahan dan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.. P.2 . resiko syok (hipovolemi). 59-64. & Shibendu.. B. DAFTAR PUSTAKA Andriani.milissehat. International Journal of Medical Research & Health Science . (2014).. Masalah keperawatan yang dapat muncul pada kasus DHF ialah hipertermi. C. S. International Journal of Advanced Research. Anto. . Saran Saran untuk penulisan makalah selanjutnya agar lebih menambahkan intervensi yang dapat diberikan dari setiap diagnosa keperawatan yang muncul. & Bhave. (2010. V. Demam berdarah dan demam berdarah dengue. Volume 3 . Kajian penatalaksanaan terapi pengobatan demam berdarah dengue (DBD) pada penderita anak yang menjalani perawatan di RSUP Prof. W. 2016. K. from Milis sehat: http://www. N. 196-201. & Yamlean.3 No. (2015). Dr. S. H. Tjitrosantoso. Bhave. Rajput. 57-61. S.. 13 intravena sampai dengan pemberian obat dengan kolaborasi. 01 11). Clinico-pathological profile in the infants and children in dengue 2012 epidemic. Kolkata. (2013). Pharmacon.D Kandou tahun 2013. R.id/? p=134&wpmp_tp=1 Ashis. Jurnal Ilmiah Farmasi Vol.web.. Clinical profile and outcame of dangue fever and dangue haemorrhagic fever in paediatric age group with special reference two who guidelines (2012) on fluid management of dangue fever. G.

& Swanson. M.. E. (2008). G. Nursing interventions classification (NIC) Sixth edition. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis & Nanda Nic-Noc. (2005). Kwiatkoski. Diagnosis keperawatan : Definisi & klasifikasi 2015-2017.. 14 Bulechek. NANDA international inc. (2009).. Jogjakarta: MediAction. C. Missouri: Elsevier Mosby. WHO. H. & Meiliasari. L. D.. Jakarta: Trans Info Media.. 10. F. Fifth edition. M. Moorhead. & Kusuma.. St. J. Yorston. (2013). . H. (2013). H. Louis Missouri: Elsevier Mosby.. Jhonson. M. K. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. H.. M. (2015). Kunoli. Nurarif. NANDA. ed. Satari. Panduan lengkap pencegahan & pengendalian dengue & demam berdarah dengue. D. A. S. (2012). Butcher.. Nimmannitya. Dochterman. Nursing outcomes classification (NOC) Measurement of health outcomes. I. Louis. M. S. Tropical desease. Saunders Elsevier. J. D. (2015). & Wagner. Demam berdarah. Jakarta: Puspa Swara. Maas. St.. & Warrel. Asuhan keperawatan penyakit tropis. Perawatan di Rumah & Rumah Sakit. M..