You are on page 1of 29

BAB I

KONSEP DASAR

1.1 Pengertian Kelainan Katup Jantung
Kelainan katup jantung merupakan keadaan dimana katup jantung mengalami
kelainan yang membuat aliran darah tidak dapat diatur dengan maksimal oleh
jantung.
Katup jantung yang mengalami kelainan membuat darah yang seharusnya
tidak bisa kembali masuk ke bagian serambi jantung ketika berada di bilik jantung
membuat jantung memiliki tekanan yang cukup kuat untuk memompa darah ke
seluruh tubuh. Akibatnya orang tersebut tidak bisa melakukan aktifitas dalam
tingkat tertentu.
Kelainan katup jantung yang parah membuat penderitanya tidak dapat
beraktifitas dan juga dapat menimbulkan kematian karena jantung tidak lagu
memiliki kemampuan untuk dapat mengalirkan darah.
Kelainan katup jantung biasanya terjadi karena faktor genetika atau keturunan
dan terjadi sejak masih dalam kandungan. Kelainan pada katup jantung juga bisa
terjadi karena kecelakaan ataupun cedera yang mengenai jantung. Operasi jantung
juga dapat menyebabkan kelainan pada katup jantung jika operasi tersebut gagal
atau terjadi kesalahan teknis maupun prosedur dalam melakukan oeprasi pada
jantung.
Penyakit katup jantung menyebabkan kelainan-kelainan pada aliran darah yang
melintasi katup jantung. Katup yang terserang penyakit dapat mengalami dua
jenis gangguan fungsional: (1) regurgitasi-daun katup tidak dapat menutup rapat
sehngga darah dapat mengalir balik (sinonim dengan isufisiensi katup dan
inkompetensi katup) ; dan (2) stenosis katup-lubang katup mengalami
penyempitan shingga aliran darah mengalami hambatan. Isufisiensi dapat dan
stenosis dapat terjadi bersamaan pada satu katup, dikenal sebagai ”lesi campuran”
atau terjadi sendiri yang disebut sebagai lesi murni.” Berikut tipe-tipe gangguan
katub.

1.2 Tipe-Tipe Gangguan/Kelainan Katup Jantung

1.2.1 Sindrom Prolaps Katup Mitral
Katup Mitral (juga disebut sebagai katup bicuspid / katup
atrioventrikuler kiri) merupakan katup yang ada di dalam jantung yang terdiri
dari dua daun katup. Katup mitral merupakan katup jantung yang
memisahkan anatara serambi kiri dan bilik kiri). Katup mitral dan katup
trikuspid merupakan katup atrioventricular karena terletak diantara serambi
dan bilik jantung, dan keduanya mengendalikan laju aliran darah.
Sindrom prolaps katup mitral adalah disfungsi bilah – bilah katup
mitral yang tidak dapat menutup dengan sempurna dan mengakibatkan
regurgutasi katup, sehingga darah merembes dari ventrikel kiri ke antrium
kiri. Sindrom ini kadang tidak menimbulkan gejala atau dapat juga atau dapat
juga berkembang cepat dan menyebabkan kematian mendadak. Stenosis
Mitral.

1.2.2 Stenosis Mitral
Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah –
bilah katup mitral, yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan
progresif aliran darah. Secara normal pembukaan katup mitral adalah selebar
tiga jari. Pada kasus stenosis berat menjadi penyempitan lumen sampai
selebar pensil. Ventrikel kiri tidak terpengaruh, namun antrium kiri
mengalami kesulitan dalam menggosongkan darah melalui lumen yang
sempit ke ventrikel kiri. Akibatnya antrium akan melebar dan mengalami
hipertrofi karena tidak ada katup yang melindungi vena pulmonal terhadap
aliran balik dari antrium, maka sirkulasi pulmonal mengalami kongesti.
Akibatnya ventrikel kanan harus menanggung beban tekanan arteri pulmonal
yang tinggi dan mengalami peregangan berlebihan yang berakhir gagal
jantung.

yang pada giliranya menambah beban ke ventrikel kanan. terjadilah gagal jantung bila obsruksinya terlalu berat. akibatnya terjadilah regurgitasi aliran balik dari ventrikel kiri ke antrium kiri. yang mengakibatkan penebalann dinding otot. Chordate tendineae memendek. Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih lambat tapi dengan energi yang lebih besar dari normal. Obstruksi kalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke ventrikel kiri.4 Stenosis Katup Aorta Stenosis katup aorta adalah penyempitan lumen antara ventrikel kiri dan aorta. Pada orang dewasa stenosis bisa merupakan kelainan bawaan atau dapat sebagai akibat dari endokarditisrematik atau kalsifikasi kuspis dengan penyebab yang tidak diketahui. sehingga setiap denyut. 1. ventrikel kiri akan mendorong sebagaian darah kembali ke antrium kiri. Penyempitan terjadi secara progresif selama beberapa tahun atau beberapa puluh tahun. . sehingga bilah katup tidak dapat menutup dengan sempurna. mendorong darah melalui lumen yang sangat sempit.2. Mekanisme kompesansi jantung mulai gagal dan munculah tanda – tanda klinis. Maka meskipun kebocoran mitral hanya kecil namun selalu berakibat terhadap kedua paru dan ventrikel kanan.2. Aliran darah balik dari ventrikel akan menyebabkan darah yang mengalir dari paru ke antrium kiri menjadi berkurang. menyebabkan antrium kiri mengalami pelebaran dan hipertrofi. Aliran balik darah ini ditambah dengan darah yang masuk dari paru. Pemendekan atau sobekan salah satu atau kedua bilah katup mitral mengakibtakan penutupan lumen mitral tidak sempurna saat ventrikel kiri dengan kuat mendorong darah ke aorta. Otot jantung menebal (hipertrofi) sebagai respons terhadap besarnya obstruksi .3 Insufisiensi Mitral (Regurgitasi) Insufisiensi mitral terjadi bila katup mitral tidak dapat saling menutup selama systole.1. Akibatnya paru mengalami kongesti. Bilah – bilah katup aorta saling menempel dan menutup sebagaian lumen diantara jantung dan aorta.

Meskipun terjadi penurunan insidensi penyakit demam rematik .3.sehingga masing – masing bilah tidak bisa menutup lumen aorta dengan rapt selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri. maupun darah yang kembali dari aorta. Defek katup ini bisa disebabkan oleh endokarditis. maka sebagaian darah dalam aorta. namun penyakit rematik masih merupakan penyebab lazim deformitas katup yang membutuhkan koreksi bedah. 1. menyebabkan tekanan darah sistolik meningkat. Sistem kardiovaskuler berusaha mengkompesansi melalui refleks dilatasi pembul. Ventrikel kiri kemudian melebar dan hipertrofi untuk mengakomodasi peningkatan volume ini.2. Karena kebocoran katup aorta saat diastole . atau penyakit seperti sifilis dan pecahnya aneurisma yang menyebabkan dilatasi atau sobekan aorta asendens. yang biasanya bertekanan tinggi.5 Insufiensi Aorta (Regurgitasi) Insufisiensi aorta disebabkan oleh lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta.1 Stenosis Mitral .3 Etiologi Penyakit katup jantung dahulu dianggap sebagai peyakit yang hampir selalu disebabkan oleh rematik. Penyakit katup jantung yang paling sering dijumpai adalah penyakit katup degeneratif yang berkaitan dengan meningkatnya masa hidup rata- rata pada orang-orang yang hidup di negara industri dibandingkan dengan yang hidup di negara berkembang. demikian juga akibat tenaga mendorong yang lebih normal untuk memompa darah. tetapi sekarang telah lebih banyak ditemukan penyakit katup jenis baru. 1. 1.uh darah arteri perifer melemas sehingga tahanan perifer turun dan tekanan diastolic turun drastis. kelainan bawaan. sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya yaitu mengirim darah yang secara normal diterima dari atrium kiri ke ventrikel melalui lumen ventrikel. akan mengalir ke ventrikel kiri.

Pada orang yang lebih muda.3 Stenosis Aorta Berdasarkan etiologinya stenosis katup aorta merupakan penyakit utama pada orang tua. remaja dan kadang pada anak-anak. sementara jantung melebar dan mencoba untuk memompa sejumlah besar darah melalui katup yang kecil.3. yang merupakan akibat dari pembentukan jaringan parut dan penimbunan kalsium di dalam daun katup. lubang/pembukaan . Katup mungkin hanya memiliki dua daun yang seharusnya tiga. Di negara berkembang seperti Indonesia. katup aorta yang menyempit mungkin tidak menyebabkan masalah. daun katup mitral sebagian bergabung menjadi satu. Lama-lama. masalah baru muncul pada masa pertumbuhan anak. penyebab yang paling sering adalah kelainan bawaan. Stenosis katup aorta seperti ini timbul setelah usia 60 tahun. Pada keadaan ini biasanya disertai dengan kelainan pada katup mitral baik berupa stenosis. atau memiliki bentuk abnormal seperti corong.Penyakit Jantung Rematik 1. 1.3. demam rematik sering terjadi dan menyebabkan stenosis katup mitral pada dewasa. Ukuran katup tidak berubah. Stenosis katup aorta juga bisa disebabkan oleh demam rematik pada masa kanak-kanak. Pada masa bayi. trauma dan sebagainya). regurgitasi maupun keduanya. penyakit jantung koroner. penyebab terbanyak insufisiensi mitral adalah demam reumatik. endokarditis. Yang khas adalah jika penyebabnya demam rematik. Di bagian dunia lainnya. Berdasarkan etiologinya stenosis katup mitral terjadi terutama pada orang tua yang pernah menderita demam rematik pada masa kanak-kanak dan mereka tidak mendapatkan antibiotik. penyakit jantung bawaan.2 Insufisiensi Mitral Berdasarkan etiologinya insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat dibagi atas reumatik dan non reumatik (degenaratif. tetapi biasanya gejalanya baru muncul setelah usia 70-80 tahun.

Kelainan katub dan kanker aorta juga bias menimbulkan isufisiensi aorta. 1. karena itu akan meningkatkan tekanan kerja miokardium . Disfungsi katup akan meningkatkan kerja jantung. Stenosis katup memaksa jantung meningkatkan tekanannya agar dapat mengatasi resistensi terhadap aliran yang meningkat. Insufisiensi katup memaksa jantung memompa darah lebih banyak untuk menggantikan jumlah darah yang mengalami regurgitasi atau mengalir balik sehingga meningkatkan volume kerja jantung. .4 Isufisiensi Aorta Penyebab terbanyak adalah demam reumatik dan sifilis. katup tersebut. Terbentuknya sekat jaringan ikat tanpa pengapuran mengakibatkan lubang katub mitral pada waktu diastolic lebih kecil dari normal. Respon miokardium yang khas terhadap peningkatan volume kerja dan tekanan kerja adalah dilatasi ruang dan hipertrofi otot.3.1 Stenosis Mitral Stenosis mitral terjadi karena adanya fibrosis dan fusikomisura katub mitral pada waktu fase penyembuhan demam reumatik. 1. dengan atau tanpa kalsifikasi.4 Patofisiologi Demam reumatik – inflamasi akut dimediasi – imun yang menyerang katup jantung akibat reaksi silang antara antigen streptokokus hemolitik-α grup A dan protein jantung. Pada isufisiensi aorta kronik terlihat fibrosis dan retraksi daun-daun katub. 1. Dilatasi miokardium dan hipertrofi merupakan mekanisme kompensasi yang bertujuan meningkatakan kemampuan pemompa jantung. yang umumnya merupakan skuele dari demam reumatik. sering menjadi kaku dan menyempit karena terkumpulnya endapan kalsium.4. Penyakit dapat menyebabkan penyempitan pembukaan katup (stenosis) atau tidak dapat menutup sempurna (inkompetensi atau regurgitasi) atau keduanya.

Pecahnya vena bronkialis akan menyebabkan hemoptysis. sehingga timbul perbedaan tekanan antara atrium kiri dan ventrikel kiri waktu diastolik. Hal ini akan meningkatkan tekanan diruang atrium kiri. Perubahan pada katub meliputi klasifikasi.4. Tetapi konpensasi ini tidak selamanya menambah curah jantung karna pada tingkat tertentu akan mengurangi masa pengisian diastolic. kemudian terjadi pelebaran ventrikel kanan dan insufisiensi pada katub tricuspid atau pulmonal. Selain pemendekan kordatendinea mengakibatkan katub tertarik ke ventrikel terutama bagian posterior. 1.2 Isufisiensi Mitral Insufisiensi mitral akibat reumatik terjadi karena katub tidak biasa menutup sempurna waktu sistolik. Pada tahap selanjutnya tekanan arteri pulmonal akan meningakat. sedangkan aliran ke aorta berkurang pada saat diastolik. Kompensasi pertama tubuh untuk menaikkan curah jantung adalah takikardi. akan terjadi bendungan pada atrium kiri dan selanjutnya akan menyebabkan bendungan vena dan kapiler paru.darah mengalir dari atrium kiri ke ventrikel. Bendungan ini akan menyebabkan terjadinya sembab interstitial kemudian mungkin terjadi sembab alveolar. mengakibatkan gelombang v yang tinggi di atrium kiri. terjadi aliran regurgitasi ke atrium kiri. Selam fase sistolik.darah . Berkurangnya luas efektif lubang mitral menyebabkan berkurangnya daya alir katub mitral. Jika peningkatan tekanan ini tidak berhasil mengalirkan jumlah darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Regangan pada otot-otot atrium dapat menyebabkan gangguan elektris sehingga terjadi fibrilasi atrium. Hal ini mengakibatkan koaptasi yang tidak sempurna waktu sistolik. dapat juga terjadi dilatasi annulus atau rupture korda tendinea. Hal ini akan mengganggu pengisian ventrikel dari atrium dan memudahkan pembentukan thrombus di atrium kiri. Akhirnya vena-vena sistemik akan mengalami bendungan pula. Bendungan hati yang berlangsung lama akan menyebabkan gangguan fungsi hati. penebalan dan distorsi daun katub.

Kontraksi atrium menambah volume darah diastolik ventrikel kiri.jika terdapat darah regurgidan dari ventrikel kiri waktu sistolik sebelumnya. maka stenosis aorta sudah disebut berat.pada insufisiensi mitral kronik. Area katup aorta normal berkisar 2-4cm2.regurgitasi sistolik ke atrium kiri dan vena-vena pulmonalis dapat ditoleransi tanpa meningkatnya tekanan baji dan aorta pulmonal.menarik katup korda dan otot kapilaris. Bila area katup mitral <1cm2. yang dicoba diatasi dengan meningkatkan ketebalan dinding ventrikel kiri (hipertrofi ventrikel kiri). Gradien ventrikel kiri dengan aorta mulai trlihat bila area katup aorta <1.4.5cm2. Akhirnya beban ventrikel kiri yang terus menerus akan menyebabkan pelebaran ventrikel kiri dan menurunkan kontraktilitas miokard. Pelebaran ruang ventrikel kiri terjadi sampai kontraktilitas miokard menurun.hal ini menimbulkan vibrasi membentuk bunyi jantung ke tiga. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri meningkat. 1. Hambatan aliran darah pada stenosis katup aorta(progressive pressure overload of left ventricle akibat stenosis aorta) akan merangsang mekanisme RAA(Renin-Angiotensin-Aldosteron) beserta mekanisme lainnya agar miokard mengalami hipertrofi. Iskemia miokard timbul akibat kurangnya aliran darah koroner ke miokard yang hipertrofi. Hal ini akan mengakibatkan pembesaran atrium kiri.3 Stenosis Aorta Ukuran normal orifisium aorta 2-3 cm2.apeks bergerak ke bawah secara mendadak. Penambahan massa otot ventrikel kiri ini akan menigkatkan tekanan intra- ventrikel agar dapat melampaui tahanan stenosis aorta tersebut dan . Kemampuan adaptasi miokard menghadapi stenosis aorta meyebabkan manifestasi baru muncul bertahun tahun kemudian.tersebut selain yang berasal dari paru-paru melalui vena pulmonalis.ventrikel kiri cepat distensi. Peningkatan tekanan ventrikel kiri menghasilkan tekanan yang berlebihan pada ventrikel kiri. Stenosis aorta menyebabkan tahanan dan perbedaan tekanan selama sistolik antara ventrikel kiri dan aorta.

peningkatan secara tiba-tiba dari tekanan diastolik akhir ventriker kiri biasa timbul dengan sedikit dilatasi ventrikel. jantung melakukan penyesuaian dengan mengadakan pelebaran dinding ventrikel kiri.pada tahap kronik. Perubahan hemodinamid keadaan akut dapat dibedakan dengan keadaan kronik. tekanan arteri pulmonalis dan atrium kiri meningkat menyebabkan sesak nafas.faktor miokard primer atau klesi sekunder seperti penyakit coroner diastolik akhir serta penurunan fraksi ejeksi.4 Insufisiensi Aorta Insufisien kronik mengakibatkan peningkatan secara bertahap dari volume akhir diastolik ventrikel kiri.selanjutnya dapat meningkatkan tekanan atrium kiri dan hipertensi vena pulmonal.4.kerusakan akut timbul pada pasien tanpa riwayat insufisiensi sebelumnya. penurunan suplai oksigen akibat dari penurunan cadangan koroner.curah sekuncup ventrikel kiri juga meningkat. penurunan waktu perfusi miokard akibat dari tahanan katup aorta.penurunan cadangan diastolic. Angina timbul karena iskemia miokard akibat dari kebutuhan yang meningkat hipertrofi ventrikel kiri. akibat beban volume ini. iskemia sub-endokard yang menghasilkan angina dan berakhir dengan gagal miokard (gagal jantung kongestif). Gejala yang mencolok adalah sinkope.maka hipertrofi akan berkembang menjadi patologik disertai penambahan jaringan kolagen dan menyebabkan kekakuan dinding ventrikel. 1. Gradien trans- valvular menurun. penigkatan kebutuhan miokard dan iskemia miokard. Namun bila tahanan aorta bertambah. Pada akhirnya performa ventrikel kiri akan tergangu akibat dari asinkroni gerak dinding ventrikel dan after load mismatch.ventrikel kiri tidak punya cukup waktu untuk beradaptasi terhadap insufisiensi aorta. . Konpensasi yang terjadi berupa hipertrofi ventrikel kiri yang biasa menormalkan tekanan dinding sistolik. mempertahankan wall stress yang normal berdasarkan rumus Laplace: Stress (pressurexradius): 2xthickness.

menghembus.1 Stenosis Mitral Sangat capai. Pada awalnya. bronchitis. . selam systoll(pada apex) S3 nada rendah. berat badan turun. Tekanan tinggi pada vena paru-paru dapat menyebabkan vena atau kapiler pecah dan terjadi perdarahan ringan atau berat ke dalam paru-paru. murmur. sehingga terjadi gagal jantung. lemah. hemoptysis/batuk darah. sesak nafas terjadi hanya sewaktu melakukan aktivitas. lemah. peningkatan bunyi. rumbling/gemuruh. berdesis. batuk kering. dimana denyut jantung menjadi cepat dan tidak teratur. tetapi lama-lama sesak juga akan timbul dalam keadaan istirahat. dyspnea. 1. Murmur:lemah. Murmur: bernada tinggi. Pembesaran atrium kiri bisa mengakibatkan fibrilasi atrium. nada rendah. Tingkat lanjut: edema paru-paru.5. Auskultasi: terasa getaran pada raba apex. rales.5 Tanda dan Gejala Jika stenosisnya berat. Penderita yang mengalami gagal jantung akan mudah merasakan lelah dan sesak nafas. diastolic pada apex. nocturnal dyspnea. dimana cairan tertimbun di dalam paru-paru (edema pulmoner). paroxysma noktural dipsneu rales . capek bila ada kegiatan fisik. lemah.5. Sebagian penderita akan merasa lebih nyaman jika berbaring dengan disangga oleh beberapa buah bantal atau duduk tegak. 1. Warna semu kemerahan di pipi menunjukkan bahwa seseorang menderita stenosis katup mitral. napas sesak bila terjadi kegiatan fisik.2 Isufisiensi Mitral Sangat capi. Auskultasi: teraba getaran apex S1 memberondong. edema paru-paru. kegagalan jantung sebelah kanan. ortopneu. kegagalan pada sebelah kanan jantung. tekanan darah di dalam atrium kiri dan tekanan darah di dalam vena paru-paru meningkat.1. S1 tidak ada. kehabisan tenaga.

. 1. diaphoresis hebat. kasar seperti kerutan. syncope. paroxysmal noktural dyspnea. sesak napas saat ada kegiatan ortopneu. sesak napas bila beraktifitas ortopnew. Tingkat lanjut: kegagalan sebelah kanan jantung Murmur: nada rendah. Murmur: nada tinggi. sinus tacikardi. angina. lemah.4 Isufisiensi Aorta Palpitasi. capai. rales.5.5. edema paru-paru. menghembus diastole (sela iga ke-3) murmur desakan systoll pada basis.1. systoll(pada basis atau carctis) gemetar systoll pada basis jantung. paroxysmal nokturial. Tingkat lanjut: kegagalan jantung sebelah kiri dan kanan.3 Stenosis Aorta Angina.

Tanggal Lahir / Usia : c.1 Data Demografi A. Alamat : e.1 Pengkajian 2. BAB II ASUHAN KEPERAWATAN Kelainan Katup Jantung 2. Riwayat kesehatan sekarang : Kapan waktu timbulnya penyakit? Jam berapa? Bagaimana awal munculnya? Berangsur-angsur? Keadaan penyakit.1.2 Riwayat Kesehatan a. Jenis kelamin : d. No. Pekerjaan : j. Agama / keyakinan : i. Status pernikahan : h. Usia : c.1. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan. parah atau tetap sama dengan sebelumnya. Penanggung Jawab: a. Diagnosa medic : k. Biodata : a. Pekerjaan : e.Tlp : f. Tanggal masuk : m. Kondisi saat dikaji ’ P Q R S T . medical record : l. Therapy medic : B. Jenis kelamin : d. apakah sudah membaik. Suku / bangsa : g. Hubungan dengan klien : 2. Nama : b. Tanggal pengkajian : n. Nama : b. No.

hipertensi. dispnea. Serak. DM. secara lateral kuat dan perpindahan tempat (IA). hipertensi pulmonal. infeksi streptokokal. kondisi kongenital (contoh kerusakan Atrial-septal. hemopilia. Buat bagan dengan genogram. bendungan dengan pulsasi arteri terlihat (IA). palpitasi. Tanda:Sistolik TD menurun (AS lambat). dispnea paroksimal noktural. obat-obatan. trauma dada. hemoptisis. b. Dispenea karena kerja. pengobatan dini (konsumsi obat-obatan bebas). 2. Sirkulasi Gejala:Riwayat kondisi pencetus. .gangguan pada TD.Getaran systolik pada dasar (SA) Getaran systolik senjang batas sternal kiri. Gangguan tidur (ortopnea. keringatmalam hari. Batuk tanpa produksi sputum. penyakit jantung. hipertensi. luas(IA) Nadi karotid: lambat dengan volume nadi kecil (SA).1. c. TBC. migrain. Getaran: Getaran diastolik pada aspek (SM).3 Data Dasar Pasien a. b. Riwayat murmur jantung. Tekanan nadi: Penyempitan (SA). Dorongan: Dorongan apikal selama systolik(SA). nokturia. getaran systolik pada titik jagular dan sepanjang arteri karotis(IA). zat/substansi. textil). imunisasi yang pernah diberikan. kanker dan gangguan emosional. sindrom marfun). Pusing. anemia. stroke.) Tanda:Takikardi. kecelakaan yang pernah dialami. kelelahan. Takipnea. arthritis. Nadi apikal: PMI kuat dan terletak di bawah dan kekiri(IM). rasa berdenyut. Pingsan karena kerja. Riwayat kesehatan keluarga : Identifikasi berbagai penyakit keturunan yang umumnya menyerang. contoh: Demam reumatik. Riwayat kesehatan lalu : Penyakit pada masa anak-anak dan penyakit infeksi yang pernah dialami. prosedur operasi dan perawatan rumah sakit alergi (makanan. asma. Aktivitas / Istirahat Gejala:Kelemahan. Anggota keluarga yang terkena alergi. palpitasi. Endokarditis bakterial subakut.

nokturnal). fibrilasi atrial (SM dan IM). Bunyi napas adventisius ( krekels dan mengi). dsb). Penggunaan diuretik. c. Hepatomegali dan asites ( SM. lembab dan kemerahan (IA). Murmur sistolik pada dasar kiri batas sternal (SP) meningkat selama inspirasi (IT). Neurosensori Gejala: Episode pusing/ pingsan berkenaan dengan beban kerja. kemoterapi radiasi. Murmur: Murmur diastolik pada area pulmonalik (IP). bunyi robekan luas. angina (SA. Disritmia dan derajat pertama Blok AV (SA). ortopnea. pengisian. Penurunan atau tak ada S1. Kecepatan: Takikardi(MVP). Batuk menetap atau nokturnal ( sputum mungkin/ tidak produktif).IA) Nyeri dada non angina / tidak khas (MVP). Murmur diastolik pada dasar kiri strenal meningkat dengan inspirasi ( ST). IM. paroksismal. . ditonjolkan oleh berdiri/jongkok (MVP). Warna / Sianosis: Kulit hangat. Tanda: Takipnea. Nyeri / Kenyamanan Gejala: Nyeri dada . Pernafasan payah dan bising dengan terdengar krekels dan mengi. gemetar. pucat. pembukaan yang keras (SM). Makanan / Cairan Gejala: Disfagia (IM Kronis)Perubahan berat badan. Gelisah/ ketakutan ( Pada adanya edema pulmonal). Tanda: Perlu perawatan gigi / mulut. e.Bunyi jantung: S1 keras. fokus menyempit. bunyi tinggi dan terdengar baik pada dasar (IA). murmur diastolik gaduh (SM). Murmur diastolik (tiupan). Irama: Tak teratur. g. Tanda: Edema umum / dependen. Integritas Ego Gejala: Tanda kecemasan. h. Adanya perawatan gigi (pembersihan. berkeringat. Murmur sistolik terdengar baik pada apek(MR). adanya S3(IM berat). takikardi pada istirahat (SM). Bunyi ejeksi sistolik (SA). f. Bunyi rendah. Kapiler kemerahan dan pucat pada tiap nadi (IA). Contoh gelisah. Bunyi sistolik. Keamanan Gejala: Proses infeksi/ sepsis. kemerahan dan kulit lembab (IA). IT) Hangat. d. Sputum banyak dan berbecak darah ( Edema pulmonal). Pernafasan Gejala: Dispenia (Kerja. Murmur sistolik terdengar baik pada dasar dengan penyebaran ke leher (SA).

Obat-obat untuk memperlancar BAB/BAK. Kaji ketaatan klien beribadah dan menjalankan kepercayaannya : b. Bila tidak dapat tidur apa yang dilakukan. Frekuensi minum. Konsistensi.5 Riwayat Spiritual a. Pembatasan pola makanan. Nutrisi Selera makan. Cara makan (bersama keluarga. Ritual sebelum makan. Frekuensi? Kapan? Teratur?. C. Makanan yang disukai dan makanan pantangan. Eliminasi (BAB & BAK) Tempat pembuangan. Kebutuhan cairan dalam 24 jam. Tanggapan klien tentang penyakitnya : 2. Frekuensi makan dalam 24 jam. Tanggapan klien tentang beban biaya RS : e.1. Kesulitan dan cara menanganinya. Olahraga . dll. Ritual yang biasa dijalankan : 2. Kaji lingkungan rumah klien. E.1. Jam tidur (siang/malam). D. Support system dalam keluarga : c. alat makan yang digunakan). Menu makan dalam 24 jam.6 Aktifitas Sehari-hari A. hubungkan dengan kondisi RS : d. Apakah tidur secara rutin. Identifikasi hubungan klien dengan yang lain dan kepuasan diri sendiri : c.2.1. Istirahat Tidur Apakah cepat tertidur.4 Riwayat Psikososial a. Cairan Jenis minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam. B. Identifikasi klien tentang kehidupan sosialnya : b.

mood. Suara nafas (trakhea. Penampilan dihubungkan dengan usia. Gunting kuku. B. BB. bronchovesikular). D. Rekreasi Bagaimana perasaan anda saat bekerja?. Sistem pernafasan Hidung : kesimetrisan. Nadi. Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan transversi.barrel. Apakah minum minuman keras? berapa minum /hari/minggu? jenis minuman? apakah banyak minum ketika stress? G. Cuci rambut. Pernafasan.7 Pemeriksaan Fisik A. kesulitan. Apakah ada clubbing finger. apakah ada retraksi). Keadaan proxsesus xipoideus. bicara. Pengaturan jadwal harian. Penggunaan alat bantu untuk aktivitas. Kesulitan pergerakan tubuh. passase udara. pernafasan cuping hidung. mandiri/dibantu). Perasaan setelah melakukan olahraga. cara. Keadaan umum klien : Tanda-tanda dari distress.pigeon chest). Program olahraga tertentu. Tanda-tanda vital : Suhu. I. C. bronchial. Rokok / alkohol dan obat-obatan Apakah merokok? jenis? berapa banyak? kapan mulai merokok?. F. Berpakaian dan kebersihan umum. Berapa banyak waktu luang?. Apakah puas setelah rekreasi?. Personal hygiene Mandi (frekuensi. Gosok gigi. Berapa lama melakukan dan jenisnya. Dada : Bentuk dada (normal. adanya sekret / polip. tumor. Gerakan dada (kiri dan kanan. Sistem kardiovaskuler .1. Leher : Pembesaran kelenjar. Tinggi badan. Aktivitas / mobilitas fisik Kegiatan sehari-hari. Ekspresi wajah. H. Apakah ada suara nafas tambahan. Apakah anda dan keluarga menghabiskan waktu senggang? Bagaimana perbedaan hari libur dan hari kerja? 2. gaya berjalan. alat mandi. Tekanan darah.

Fungsi cerebellum (koordinasi dan keseimbangan) f. gerakan. gerakan peristaltik). gallop). kencing batu. daya ingat. tricuspidalis. perhatian dan perhitungan. Bicara (ekspresive dan resiptive) b. Mulut (stomatitis. ortolani/barlow test. Sistem perkemihan Edema palpebra. Kesadaran (eyes. Gaster (kembung. ROM). Fungsi cerebral : Status mental (orientasi. lasaque sign. Nocturia. bahasa). tonus dari kekuatan otot) d. bising aorta. ROM). Ballotement. spinkter ani. Sistem musculoskeletal Kepala (bentuk kepala). Fungsi kranial (saraf kranial I s/d XII) c. kernig sign. dysuria. getaran posisi dan diskriminasi) e. Tangan. nyeri. bawah dan superficial) g. gerakan lidah). verbal) dengan GCS. Fungsi motorik (massa. murmur. koordinasi). Sistem perncernaan Sklera (ikterus/tidak). Kaki (keutuhan ligamen. Fungsi sensorik (suhu. labio skizis). trendelenberg test. Abdomen (periksa sesuai dengan organ dalam tiap kuadran). E. Keadaan kandung kemih. Arteri carotis. Suara jantung (mitral. Anus (kondisi. Moon face. kering. pecah-pecah. bibir (pucat. Capillary retilling time. ROM). cyanosis). Sistem immune . motorik. F. apakah ada palatoskizis. Conjunctiva (anemia/tidak). Ukuran jantung.Refleks (ekstremitas atas. Iritasi meningen (kaku kuduk. H. Ictus cordis / apex. Sistem saraf a. Vertebrae (bentuk. I. jumlah gigi. S1. Lutut (Mc Murray Test. Edema anasarka. ROM). S2. brudzinski sign) G. Penyakit hubungan sexual. kemampuan menelan. Bibir (lembab. Tekanan vena jugularis. Pelvis (Thomas test. Bahu.

Kardiotinikum dan diuritik c. EEG.8 Test Diagnostik a.1. Penggantian katup mitral f. Allergi (cuaca.1. Laboratorium (tulis nilai normalnya) : b. MRI. USG. Penggantian katup aorta 2. Terapi antibiotic b. Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca. CT Scan : d. Riwayat transfusi dan reaksinya. 1. debu. Valvuloplasti translumnal perkutan e. Komisurotoomi d. DO : Odema Paru Gangguan ü Sianosis Pertukaran ü Dispnea Gas ü Tachikardia ü Gas darah arteri abnormal ü pH arteri abnormal DS : ü Pasien mengatakan . zat kimia).1. Ro foto : c. dll.10 Analisis Data No Data Etiologi Masalah . Immunisasi. 2. 2. bulu binatang.9 Penatalaksanaan a. ECG.

DO: Iskemia Nyeri dada ü Perubahan miokard denyut jantung ü Perubahan frekuensi pernafasan ü Kedok wajah (merengek. sakit kepala saat bangun. ü Nafas cuping hidung ü Warna kulit abnormal (pucat. Tinggi ü Brakikardia Ventrikel Kiri Menurunnya ü Perubahan Curah EKG ü Takikardia Jantung ü Penurunan tekanan vena ü Murmur DS: ü Pasien mengatakan mulai batuk- batuk ü Pasien terlihat letih 3. gelisah) ü Perubahan pola . kehitaman) 2. DO : Penurunan Risiko/Actual ü Aritmia Kontraktilitas.

ü Perilaku hiperbola . DS: Kurangnya Defisit ü Sering Informasi. Ansietas ü Mulut kering Takut akan DS: Kematian ü Pasien mengatakan tidak nafsu makan ü Pasien terlihat cemas ü Kontak mata buruk 5. DO: Situasi Kritis. Pengatahuan bertanya Keterbatasan ü Salah instruksi Kognitif. makan DS: ü Pasien mengatakan nyeri di area dada ü Pasien mengatakan pola tidur berubah 4.

2. Resiko tinggi menurunanya curah jantung b/d penurunan kontraktilitas ventrikel kiri ditandai dengan aritmia dan perubahan EKG. . Defisit pengetahuan b/d kurangnya informasi tentang katup jantung ditandai dengan permintaan informasi kepada perawat dan ahli profesi kesehatan lainnya. 5. Nyeri dada b/d iskemia jaringan myokard ditandai dengan perubahan denyut jantung dan ekspresi kesakitan.2 Diagnosa Keperawatan 1. Ansietas b/d situasi kritis ditandai dengan ketakutan dan peningkatan tegangan. 4. 2. Gangguan pertukaran gas b/d odema paru ditandai dengan sianosis dan dispnea. 3.

. terkait (sensorium DS: ekspa pasien. Dx Kep. Membantu dalam menu kembali dalam posisi. kanal/ masker sesuai miok mmHg. M ü Tekanan darah dalam menurunanya tindakan tambahan dengan nasal oksig batas normal (120/80 curah jantung keperawatan. . pola ü Sudah tidak terlihat mem nafas. .3 Tindakan Keperawatan No. efek hidung semu ü Warna kulit pasien obat). bunyi nafas pada data pengkajian peren - normal. fungs ventilasi/oksigenasi b/d odema paru keperawatan Gas kedalaman. Berikan oksigen . Gangguan Setelah dilakukan DO: . spirometer) wakt 2. Me dispnea 1 x 24 jam keefektian penggunaan tak ada sianosis. nadi b/d penurunan Penurunan curah dengan indikasi. mela 80x/menit). analisis gas darah pernafasan cuping dan arteri. suara nafas. Jelaskan pada pasien peng mengenai penggunaan sehin alat bantu yang meng diperlukan (oksigen. Resiko tinggi Setelah dilakukan DO: . dan usaha tingk sebagai bukti adalah ditandai dengan darah arteri normal nafa. . . batuk. Pantau tanda kelebihan vasok aritmia dan vital dalam batas . Kaji suara paru. meng ditandai dengan menunjukkan tanda CRT kurang dari 3. sputum. Awasi dan laporkan ahli aksesoris. lingkungan yang tenang. dan nafas secre keaadaan normal - dalam. dan produksi kebu frekuensi pernapasan sianosis dan dalam jangka waktu sputum sebagai indicator terap dalam rentang normal. penggunaaan otak. Berikan istirahat kontraktilitas jantung dapat hipok ü Tidak terjadi aritmia dan psikologi dengan - ventrikel kiri teratasi dan irama jantung teratur. In Menunjukan perbaikan pertukaran gas tindakan frekuensi nafas. Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasi 1.2. dan kolab alat penunjang. darur pengisap.

berperan obat. freku . perubahan yang dapat detik.Pe ü Denyut jantung dan iskemia jaringan tindakan 10 untuk rentang untuk frekuensi pernafasan myokard keperawatan. ventr dalam jangka waktu dalam aktivitas meno 3x24 jam. dalam jangka waktu berubah. Ba digun meni sekun kontr menu 3. Nyeri dada b/d Setelah dilakukan DO: .Pen . teknik nonfarmakologis menu ü Pasien mengatakan pola (misalnya : TENS. Gunakan skala nyeri 0. perubahan bahwa nyeri dada respon otomatis terhadap mem ü Pola makan pasien denyut jantung telah nyeri(berkeringat.TD deraj kembali dalam keadaan dan ekspresi hilang/terkontrol dan nadi ketid normal. Pemberian IV . Kolaborasi pemberian penin gejala gagal jantung dispnea. mengurangi beban volum kerja jantung. intensitas. diterima. . nyeri di area dada .. Ajarkan penggunaan akan sedah menghilang.peningkatan khus DS: 3x24 jam atau penurunan frekuensi meno ü Pasien mengatakan . cairan. . juga natriu meny caira kerja . kesakitan. dan p normal. yang tidur kembali normal. O hilang dan bebas penurunan episode Hindari cairan garam.Tek pernafasan). Catat ekspresi peny kembali dalam keadaan ditandai dengan Pasien mengatakan verbal atau non verbal . disritmia DS: pembatasan jumlah total tekan terkontrol atauü Klien akan melaporkan sesuai dengan indikasi. terka EKG.

menu . contoh napas ansit jam. keadaan normal. ü Kontak mata dengan progresif. Evaluasi respon menu terhadap obat. dll) yang . perubahan meni posisi. - meni oksig (cont stress terpa menc 4. interv DS: . M pasien kembali normal kenyamanan contoh. Koordinasikan waktu . kema . tidak pasien. kembali normal dalam. bimbingan perha ü Pasien tidak terlihat imajinasi. relaksasi relak cemas lagi. termasuk reaksi masa ketakutan dan Pasien merasa kering fisik pasien. dan tenang. ü Ekspresi wajah pasien hypnosis. jangka waktu 1x24 nafsu makan sudah relaksasi. Berikan lingkungan berhu istirahat dan batasi dada aktifitas sesuai angin kebutuhan. meng mandi. Ajarkan dan anjurkan - peningkatan tenang dalam ü Pasien mengatakan pasien melakukan teknik peng tegangan. Berikan tindakan . kema . gosokan meni punggung. Kaji dan dokumentai - situasi kritis tindakan ü Mulut kembali dalam tingkat kecemasan mend ditandai dengan keperawatan. peng . masase.Me istirahat dan aktivitas pasie saat senggang tepat bebe untuk kondisi. Ansietas b/d Setelah dilakukan DO: . relaksasi.

sebag . dosis.Pas pengetahuan b/d tindakan ü Pasien menyatakan abnormalitas katub. program sendi samping. mem perha arti mem 5. Defisit Setelah dilakukan DS: . pemahaman proses abno pengobatan. Jelaskan dasar patologi . dasar . obat obat . Jelaskan rasional kurangnya keperawatan. efek informasi Pasien mengerti penyakit. Libatkan orang aktiv terdekat dalam rencana priba perawatan dan dorong kelem partisipasi maksimum energ - pada rencan pengobatan.Ad frek mung toksi harus dokte . D kepada perawat pulang dengan digitalis. jantung ditandai katub jantung potensial komplikasi. kerja dan ahli profesi obat kesehatan peng lainnya. dan pentingnya tentang katup tentang kelainan pengobatan dan hemo minum obat sesuai resep. Anjurkan dan biarkan ü Pasien mampu dengan dalam jangka waktu rasio pasien menunjukkan mengenali kebutuhan permintaan 1x24 jam penje ketrampilan pemantauan untuk kerja sama dan informasi peng sendiri nadi bila pasien mengikuti perawatan. . .

. Bebas gejala gagal jantung O: .CRT kurang dari 3 detik.Pasien melakukan relaksasi . TTV normal. . ventilasi/oksigenasi membaik.2. .Irama jantung teratur. Diagnosa Evaluasi Paraf Keperawatan 1 S: Gas darah Arteri pasien normal O: . . A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan 3 S: Nyeri dada terkontrol O: Metode nyeri hilang A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan 4 S: Pasien terlihat tenang O: .Tidak terjadi aritmia. tak ada sianosis. A: masalah teratasi P: Intervensi dihentikan 2 S: Penurunan curah jantung teratasi.4 Evaluasi Tgl/Jam No. . . frekuensi pernapasan normal.Pasien tidak terlihat stres A: Masalah teratasi P: Intervensi di hentikan 5 S: Pasien telah mengerti tentang kelainan katup O: Pasien paham dengan proses penyakit yang dideritanya. bunyi nafas normal.

A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan .

3. Insufisiensi katup memaksa jantung memompa darah lebih banyak untuk menggantikan jumlah darah yang mengalami regurgitasi atau mengalir balik sehingga meningkatkan volume kerja jantung. Sirkulasi. Stenosis katup memaksa jantung meningkatkan tekanannya agar dapat mengatasi resistensi terhadap aliran yang meningkat. e. manajemen. Respon miokardium yang khas terhadap peningkatan volume kerja dan tekanan kerja adalah dilatasi ruang dan hipertrofi otot.2 Saran Kelainan katup di bagi menjadi beberapa kategori sehingga menimbulkan berbagai beberapa gejala yang berbeda. Penyakit katup jantung merupakan penyakit jantung yang masih cukup tinggi insidennya. Nyeri/ Kenyamanan. Neurosensori. BAB III PENUTUP 3. . Dalam pengkajian klien dengan disfungsi katup jantung. diagnosa keperawatan haruslah tepat sehingga bisa dilakukan suatu rencana dan tindakan keperawatan yang benar dan tepat sehingga menghasilkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan dari proses keperawatan tersebut. b. Disfungsi katup akan meningkatkan kerja jantung. Mempertahankan dan meningkatkan toleransi aktivitas. terutama dinegara-negara berkembang. Penyuluhan/ Pembelajaran. d. f. Dilatasi miokardium dan hipertrofi merupakan mekanisme kompensasi yang bertujuan meningkatakan kemampuan pemompa jantung. Menghilangkan nyeri serta memberikan informasi tentang proses penyakit. c. karena itu akan meningkatkan tekanan kerja miokardium . Makanan/ Cairan. tergantung beratnya dan mungkin memerlukan perbaikan secara bedah atau penggantian untuk mengoreksi masalah sehingga seharusnya proses keperawatan yang di awali dengan pengkajian. Pernapasan.Integritas Ego. Dalam kelainan ini Prioritas keperawatn adalah : Mempertahankan curah jantung adekuat. data dasar yang harus di kaji adalah : Aktivitas istirahat. dan pencegahan komplikasi.1 Simpulan a. Keamanan. Disfungsi katup di bagi menjadi 2 jenis yaitu : Insufisiensi katup dan Stenosis katup.

Jakarta: EGC. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 9. 2011. Jakarta: EGC. . Nancy R. T. Heather. 2012. dan Ahren. Wilkinson. Judith M. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. DAFTAR PUSTAKA Herdman.