You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN
Otak terletak dalam rongga cranium (tengkorak), terdiri atas semua bagian
Sistem Saraf Pusat (SSP) diatas korda spinalis. Secara anatomis terdiri dari
cerebrum (otak besar), cerebellum(otak kecil), brainstem ( batang otak) dan limbic
system (sistem limbik). 1

Traktus piramidalis merupakan kelompok serabut yang membawa pesan
untuk pergerakan motor volunter ke lower motor neuron di batang otak dan korda
spinalis. 1

Traktus piramidalis berasal dari korteks sensorimotor di sekitar sulcus
sentralis. Sekitar 55% berasal dari lobus frontalis yaitu pada girus presentralis
pada area sitoarsitektonik Broadmann 4 yang memanjang sepanjang fisura
sentralis dari lateral atau fisura sylvii ke arah dorsomedial ke tepi dorsal hemisfer
lalu ke bagian anterior lobulus parasentralis pada sisi medial hemisfer dan berjalan
tepat di depan korteks sensorik girus postsentralis, dan area 6, sekitar 35%
berasal dari area 3,1 dan 2 pada girus postsentralis dari lobus parietalis. Sekitar
10% serat-serat yang berasal dari area lain selain frontal dan parietal.2

Macam-macam lesi pada traktus piramidalis adalah lesi kortikal, lesi kapsula
interna, lesi pedunkel, lesi pons, lesi pyramidal, lesi servikal, lesi torakal, lesi
radiks anterior.3,5
Gangguan pada traktus kortikobulbar : Korteks Serebri (Tumor, infark,
hematom), kapsula interna, Batang Otak (Hemiplegic Alternans Syndrome,
Sindrom Batang Otak), Sindrom Benedikt, Sindrom Claude, Sindrom Hemiplegic
Alternans N.Abdusen, Sindrom Millard Gubler, Sindrom Foville, Sindrom
Raymond-Cestan, Medula Oblongata.4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak terletak dalam rongga cranium (tengkorak), terdiri atas semua bagian
Sistem Saraf Pusat (SSP) diatas korda spinalis. Secara anatomis terdiri dari
cerebrum (otak besar), cerebellum(otak kecil), brainstem ( batang otak) dan limbic
system (sistem limbik). 1, 5

Otak memiliki kurang lebih 15 miliar neuron yang membangun substansia
alba dan substansia grisea. Otak merupakan organ yang sangat kompleks dan
sensitife. Fungsinya sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, seperti :
gerakan motorik, sensasi, berpikir, dan emosi. Sel-sel otak bekerja bersama -
samadan berkomunikasi melalui signal-signal listrik. 1, 5

Otak terbagi menjadi beberapa bagian antara lain:

1. Serebrum

Serebrum adalah bagian terbesar dari otak yang terdiri dari dua
hemisfer. Hemisfer kanan berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah
kiri dan hemisfer kiri berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah
kanan. Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus. Bagian lobus yang
menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut
sulkus. Keempat lobus tersebut masing-masing adalah lobus frontal, lobus
parietal, lobus oksipital dan lobus temporal. 1, 2

a. Lobus parietal merupakan lobus yang berada di bagian tengah serebrum.
Lobus parietal bagian depan dibatasi oleh sulkus sentralis dan bagian
belakang oleh garis yang ditarik dari sulkus parieto-oksipital ke ujung
posterior sulkus lateralis (Sylvian). Daerah ini berfungsi untuk menerima
impuls dari serabut saraf sensorik thalamus yang berkaitan dengan segala
bentuk sensasi dan mengenali segala jenis rangsangan somatic. 1

b. Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada dibagian paling depan
dari serebrum. Lobus ini mencakup semua korteks anterior sulkus sentral

2

dan area prefrontal (area asosiasi) yang mengontrol aktivitas intelektual. pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara. 1. Anatomy cerebrum 2 2. area broca sebagai pusat bicara. Lobus temporal berada di bagian bawah dan dipisahkan dari lobus oksipital oleh garis yang ditarik secara vertikal ke bawah dari ujung atas sulkus lateral. 1 c. gerakan bola mata. 1 d. berada dibelakang 3 . Lobus ini berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata. Lobus oksipital berada dibelakang lobus parietal dan lobus temporal. Serebelum terletak di bagian bawah belakang kepala. Pada daerah ini terdapat area motorik untuk mengontrol gerakan otot-otot. Cerebellum Serebelum atau otak kecil adalah komponen terbesar kedua otak. 2 Gambar 1. Lobus temporal berperan penting dalam kemampuan pendengaran. dari Rolando.

Batang otak bertugas untuk 4 . Batang otak Batang otak berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai medulla spinalis. koordinasi otot dan gerakan tubuh. Anatomy cerebellum 2 3. 2 Gambar 2. dekat dengan ujung leher bagian atas. Selain itu. batang otak dan dibawah lobus oksipital. gerakan tangan saat menulis. Serebelum juga mengontrol banyak fungsi otomatis otak. 1. mengontrol keseimbangan. diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh. gerakan mengunci pintu dan sebagainya. Serebelum berfungsi menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil. Serebelum adalah pusat tubuh dalam mengontrol kualitas gerakan.

c) Medulla oblongata adalah bagian paling bawah belakang dari batang otak yang akan berlanjut menjadi medulla spinalis. sedangkan CN VI dan VIII berada pada perhubungan dari pons dan medulla. X. pernafasan. kesadaran. dan XII disosiasikan dengan medulla. b) Pons merupakan bagian dari batang otak yang berada diantara midbrain dan medulla oblongata. Saraf kranial III dan IV diasosiasikan dengan otak tengah. Medulla oblongata terletak juga di fossa kranial posterior.mengontrol tekanan darah. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan. denyut jantung. kelemahan otat wajah baik satu maupun dua sisi. Saraf Kranial (CN) V diasosiasikan dengan pons. pembesaran pupil mata. diplopia. 1. dan sakit kepala ketika bangun. Bila terdapat massa pada batang otak maka gejala yang sering timbul berupa muntah. gerakan mata. CN IX. 1 Batang otak terdiri dari 3 bagian: a) Mesensefalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian teratas dari batang otak yangmenghubungkan serebrum dan serebelum. kesulitan menelan. mengatur gerakan tubuh dan pendengaran. 2 5 . serta pola makan dan tidur. Pons terletak di fossa kranial posterior.

1. Anatomy brainstem 2 B. Cabang-cabang dari arteri vertebralis dan arteri karotis interna bersatu membentuk sirkulus willisi. Arteri vertebralis menyuplai darah ke area belakang dan area bawah dari otak. Gambar 3. yaitu arteri vertebralis (kanan dan kiri) dan arteri karotis interna (kanan dan kiri). Peredaran Darah Otak Suplai darah ke otak melalui dua pasang arteri. Sistem ini memungkinkan pembagian darah di dalam kepala untuk mengimbangi setiap gerakan leher jika aliran darah dalam salah satu pembuluh nadi leher mengalami kegagalan. 2 6 . sampai di tempurung kepala dan arteri karotis interna menyuplai darah ke area depan dan area atas otak.

Ini berarti lesi traktus piramidalis unilateral di atas titik persilangan pada piramid akan menyebabkan paralisis otot yang dipersarafi nervus spinalis di sisi berlawanan dari tubuh. Traktus kortikospinalis Serabut yang berasal dari korteks motorik akan berjalan secara konvergen melalui corona radiata massa putih serebri menuju tungkai posterior capsula interna. Serat- serat yang merupakan berkas padat berjalan turun ke bawah di tengah pons dan kemudian muncul melewati piramid. Traktus kortikospinal menstimulasi motor neuron pada medulla spinalis yang bertugas menggerakkan otot-otot aksial tubuh. Traktus kortikospinal lateral berakhir di motor neuron yang bekerja untuk pergerakkan sebagian besar segmen distal tangan dan tungkai. Lalu berkumpul merapat dalam susunan somatotropik dan memasuki bagian tengah pedunculus otak tengah. Sebagai contoh.2. serabut saraf kortikospinal terlihat seperti gambaran piramid. Nervus spinalis hanya menerima inervasi kontralateral dari traktus kortikospinalis. Dari bagian ventral medula oblongata. 1 dan 2). Sedangkan traktus kortikospinal medial berakhir di motor neuron untuk pergerakkan otot aksial tubuh dan segmen proksimal tangan dan tungkai. 5 Sepertiga akson-akson dari jaras kortikospinalis berasal dari korteks motorik primer (area 4 dan 6) sepertiga lainnya dari area promotor dan area motorik tambahan. Traktus kortikospinalis kemudian berjalan kedistal yang kemudian terbagi menajdi traktus kortikospinalis lateralis (90%) dan 7 . tangan dan tungkai. dan sepertiga sisanya berasal dari lobus parietalis (area 3. lesi di sisi kiri traktur piramidalis di atas titik persilangan dapat menyebabkan paralisis sisi kanan tubuh. Inilah yang menyebabkan penamaan traktus piramidalis. 3.C. Traktus Piramidalis Merupakan kelompok serabut yang membawa pesan untuk pergerakan motor volunter ke lower motor neuron di batang otak dan korda spinalis. 1.

Aktivasi traktus kortikospinalis umumnya menimbulkan potensial eksitatorik postsinaptik pada interneuron dan motorneuron dari otot-otot pleksor dan potensial inhibitorik postsinaptek pada otot-otot ekstensor. dan τ motor neuron pada lamina IX. Traktus kortikospinalis menimbulkan pengaruh fasilitasi dan inhibisi pada interneuron spinal dan motor neuron. 5. 9 Gambar 4. Traktus kortikospinalis laterralis berjalan pada funikulus lateralis medula spinalis dan mengadakan sinaps pada aspek lateral lamina IV hingga VIII. Banyak sel-sel pada lamina ini adalah interneuron yang mengadukan sinaps dengan α. 3. 2. Traktus piramidalis 2 8 .traktus kortikospinalis ventralis.

berjalan dalam dua jaras : a. Sekitar 55% berasal dari lobus frontalis yaitu pada girus presentralis 9 . 7 Traktus piramidalis merupakan kelompok serabut yang membawa pesan untuk pergerakan motor volunter ke lower motor neuron di batang otak dan korda spinalis. 7 Gambar 5.7 Upper Motor Neuron (UMN) merupakan sistem descending yang menyalurkan impuls dari korteks motorik serebri ke kornu anterior dari medulla spinalis. Lower Motor Neuron (LMN) menyalurkan impuls dari kornu anterior medulla spinalis atau sel motor nervi kranialis ke motor end plate. 4. D. 7 Impuls dalam sel piramida korteks motorik. LMN terdiri dari saraf-saraf kranial dan saraf-saraf spinal. 4. Impuls pada traktus piramidalis 4 Traktus piramidalis berasal dari korteks sensorimotor di sekitar sulcus sentralis.4. b. Traktus Kortikobulbar Untuk mencapai otot tubuh. Traktus kortikonuklear atau kortikobulbar berakhir pada nuklei saraf kranialis motorik dalam pusat otak. pusat perintah motorik di sistem saraf pusat harus melewati upper motor neuron dan bersinaps dengan lower motor neuron. UMN terdiri atas sistem piramidal dan ekstrapiramidal. 4. Traktus kortikospinalis yang jauh lebih tebal berakhir pada kornu anterior medulla spinalis (motorneuron).

4 -4% dari semua serat yang membuat traktus piramidalis. Tidak menyilang. Akson- akson yang berasal dari sel piramida raksasa dari Betz (area 4) dengan selubung myelin tebal hanya mewakili 3. 5. nuclei trigeminus (V). pars kaudal nucleus fascialis (VII). Pada mesensefalon ini serabut-serabut traktus kortikobulbar meninggalkan traktus piramidalis dan berada di pertengahan pedunkulus serebri. Kemudian di pons. Kemudian memasuki bagian tengah pedunkulus mesensefalon. sisanya berasal dari daerah region sensorimotor lainnya. 7 Serabut-serabut traktus kortikobulbar bersama-sama dengan traktus kortikospinalis meninggalkan kortek motorik lalu bergabung melewati korona radiata substansia alba serebrum ke arah ekstremitas posterior kapsula interna. 5. Bilateral. 2. sekitar 35% berasal dari area 3. Kebanyakan serat traktus piramidalis berasal dari sel piramida kecil atau sel fusiformis dalam area motorik 4 dan 6. Nuclei Ambigus (X) b. nuclei oculomotorius (III).1 dan 2 pada girus postsentralis dari lobus parietalis. dan area 6. Jaras kortikobulbar terletak pada bagian medial. 2. serabut ini berputar sehingga jaras kortikobulbar berada di dorsal. nuclei Abdusen (VI). Serat yang berasal dari area 4 mewakili sekitar 40% dari serat traktus. Menyilang kontralateral.pada area sitoarsitektonik Broadmann 4 yang memanjang sepanjang fisura sentralis dari lateral atau fisura sylvii ke arah dorsomedial ke tepi dorsal hemisfer lalu ke bagian anterior lobulus parasentralis pada sisi medial hemisfer dan berjalan tepat di depan korteks sensorik girus postsentralis. Serabut ini berakhir di nuklei motor nervi kranial setinggi medula oblongata. pars rostralis nucleus fascialis (VII) dan nucleus hipoglossus (XII) c. 7 Traktus kortikobulbar berakhir di inti saraf kranial secara : a. Nuclei Troklearis (IV). 4. Sekitar 10% serat-serat yang berasal dari area lain selain frontal dan parietal. nuclei Accesorius (N XI) 4 10 . 4.

Jika terdapat tumor di sekitar falks serebri maka akan menekan kedua sisi korteks piramidalis sehingga kedua daerah somatotopik kedua tungkai dapat mengalami gangguan sehingga terjadi 11 . Perjalanan traktus piramidalis 2 Gangguan pada traktus kortikobulbar : a. sindrom sensorik Dejerine atau afasia. Gambar 6. 8 Pada hemiparesis karena lesi kortikal sesisi. Kerusakan yang menyeluruh tapi belum meruntuhkan semua neuron korteks piramidalis sesisi.6. Korteks Serebri (Tumor. otot-otot wajah diatas fisura palpebrae masih dapat digerakkan secara wajar. kesukaran menelan (karena kelumpuhan sesisi pada otot- otot yang dipersarafi oleh N. lidah menunjukkan kelumpuhan pada sisi kontralateral. hematom) Kerusakan pada seluruh korteks piramidalis sesisi menimbulkan kelumpuhan UMN pada belahan tubuh sisi kontralateral (hemiparalisis atau hemiplegi).IX). menimbulkan kelumpuhan pada belahan tubuh kontralateral (hemiparesis).X dan N. infark.

deviasi konjugae (area 8). atetosa. Gejala lain: Hipestesia (gyrus presentralis) dan gangguan berbahasa (temporal). hemianestesia. m. Bila lesinya cukup besar maka dapat timbul hemiplegi dan hemianestesia. 8 Gejala yang ditemukan Paralisis N. Iritasi pada korteks serebri dapat menimbulkan suatu bangkitan kejang tonik-klonik. 6. Karena berdekatan dengan sistem ekstrapiramidalis maka dapat terjadi hipertonia (spastisitas) dan dapat terjadi hemiplegi spastis kontralateral. 6. Pada lesi yang luas dapat dijumpai trias kapsula interna yaitu hemiplegia. Batang Otak (Hemiplegic Alternans Syndrome. oblikus inferior serta m. Hemiplegi akibat lesi kapsular (nucleus kaudatus dan putamen) juga memperlihatkan tanda-tanda kelumpuhan UMN yang dapat disertai oleh rigiditas. dan hemianopia. diplopia jika melihat ke seluruh jurusan mata dan ptosis).Oculomotorius). levator palpebra (strabismus divergen. 8 c. distonia dan tremor.Sfingter pupilae (midriasis). Kapsula Interna Gejala yaitu Kelumpuhan otot kontralateral.III ipsilateral: rektus medialis. 6. rektus inferior. 12 . hipertonia. m. 6. m. 8 Bila lesinya kecil (misalnya infark lakunar) dapat timbul pure motor hemiplegia. 8 b. m. Bila lesinya kecil maka dapat timbul suatu monoplegia di sisi kontralateral (atau mis: paralysis pada kaki kanan dan paresis pada lengan kanan). rektus superior. Jika mengenai radiatio optik maka akan terjadi hemianopia. Lidah juga ikut terkena hemiparesis sehingga artikulasi kata-kata terganggu (disartria). Sindrom Batang Otak) Dapat terjadi pada Lesi pada Pedunkulus serebri dan N.kelumpuhan UMN pada kedua tungkai (paraplegia). forced crying atau forced laughing (korteks motorik primer).III yang berjalan di sebelah ventralnya yang menyebabkan Weber’s Syndrome(Sindrom hemiplegic alternans N.

IX. lesi paramedian akibat penyumbatan salah satu cabang dari rami perforantes medialis a. Sewaktu-waktu ada pula hemihipestesia di sisi kontralateral Pons6 Sindrom hemiplegi alternans di pons disebabkan oleh lesi vascular unilateral. Hemiplegi spastic kontralateral 2. basilaris tersumbat. Kemungkinan terlibatnya saraf kranialis karena interupsi jaras supranuclear ke saraf VII. Hemiataksia kontralateral (karena adanya lesi dari traktus dentato rubro talamikus) 3. Paralisis N. 6 d. Distaksia kontralateral (traktus kortikopontin) 4.III ipsilateral 2. sehingga infark akan ditemukan di daerah yang mencakup dua pertiga bagian lateral pedunkulis serebri dan daerah nucleus ruber. Gerakan involunter pada lengan dan tungkai yang paretic ringan di sisi kontralateral (hemikorea.III ipsilateral 2. sewaktu-waktu ada pula Parkinson) e. Tumor lobus temporalis. substansia nigra) 3. Sindrom Claude Gejala-gejalanya : 1. Paralisis N.6 Gejala yang ditemukan : 1. 1. Sindrom Benedikt Dapat terjadi jika salah satu cabang dari rami perforantes paramedialis a. Basilarisbersifat unilateral dan luas : jaras 13 .6 Penyebab : stroke (perdarahan atau infark) di pes pedunkuli 1. Lesi vascular di pons dapat dibagi dalam : 1. hemiatetosis. X dan XII. Hematoma epiduralis 2. Rigor kontralateral (Parkinsonisme.

Serebeli superior 4.VII. kelumpuhan LMN (ipsilateral) yang melanda otot-otot yang dipersarafi oleh N. Manifestasinya ialah hemiplegia kontralateral yang pada lengan lebih berat daripada tungkaibersifat bilateral : kelumpuhan pada kedua tubuh. deviation conjugee pontin 14 . Gejala : 1. sesuai dengan kawasan perdarahan cabang sirkumferens panjang. VII 2. X. kelumpuhan LMN N. sesuai dengan kawasan perdarahan cabang sirkumferens yang pendek 3. Gejala: 1.VI dan N.VI ikut terlibat. XI. VI terlibat. Sindrom Millard Gubler Lesi unilateral di pes pontis yang meluas ke samping sehingga melibatkan daerah yang dilintasi N.VII. kelumpuhan UMN anggota gerak atas dan bawah kontralateral dengan otot-otot yang dipersarafi oleh : N. lesi di tegmentum bagian kaudal pons. 2. hemiplegi kontralateral 6 h. IX.VI (strabismus konvergen ipsilateral) 6 g. lesi lateral. lesi di tegmentum bagian rostral pons akibat penyumbatan a. 6 f. XII 2. Sindrom Hemiplegic Alternans N. Tegmentum pontis tidak terlibat. Sindrom Foville Lesi pons di daerah paramedian dimana serabut-serabut kortikobulbar untuk nucleus N. Gejala –gejala : 1. sehingga akar N. hemiplegi sisi kontralateral 2.Abdusen Lesi paramedian pada bagian kaudal pons. kortikobulbar/kortikospinal berikut dengan inti-inti pes pontis serta serabut-serabut pontoserebelar akan terusak.

X) sehingga terjadi kesulitan menelan. Gejala yang timbul : 1.IX dan N. Ataksia ipsilateral (lesi pada traktus spinoserebellaris) 5. Gangguan vestibular (lesi nukleus vestibularis) sehingga terjadi vertigo 4. Perasa propioseptif di sisi kontralateral terganggu (lesi lemniskus medialis) 3. Kelumpuhan UMN anggota gerak atas dan bawah kontralateral dibawah tingkat leher 2. hemihipestesi di sisi kontralateral. 3. deviation conjugee pontin. 6 j.XII (paralisis flaksid) ipsilateralSindrom Medular lateral (Sindrom Wallenberg) 6 Karena penyumbatan sesisi pada a. 6 i. hemihipestesia di sisi kontralateral. dengan gejala: 1. Kelumpuhan LMN N. 3. hemihipalgesi dan hemitermestesia alternans (karena lesi traktus spinotalamikus dan traktus spinalis nervi trigemini) 2. Lesi unilateral kawasan piramis sesisi yang dilintasi oleh radiks N. Gejala yang tampak : 1.XII. Serebeli posterior inferior terjadi infark di korpus restiforme ipsilateral berikut kawasan lintasan spinotalamik dan traktus spinalis nervi trigemini. Tanda-tanda Horner ipsilateral (akibat kerusakan pada substansia retikularis lateralis yang mengenai jaras simpatik sentralis) gejalanya : 15 .VI dan VII (di sisi kanan atau kiri). Sindrom Raymond-Cestan Lesi pada tegmentum pontis di daerah rostral nuclei N. ataksi serebellar ipsilateral (karena lesi di brachium pontis) 2. paresis dari lengkung langit-langit (dan otot-otot laring) ipsilateral (lesi N. Hemiplegi alternans nervus abdusens et fasialis yang disertai sindrom foville disebut sindrom foville-millard-gubler. Medula Oblongata Sindrom Medular medial (Sindrom Hemiplegic Alternans Nervus Hipoglossus).

atrofi otot-otot bersangkutan yang progresif dan fasikulasi.5 vasodilatasi separuh wajah yang berkaitan.3 anhidrosis 5. hipotonia.4 ptosis (fissura palpebrae menyempit karena paralisis dari otot trasalis superior dan inferior) 5. Refleks patologis yang sering didapatkan adalah refleks Babinski.6. Sedangkan lesi LMN memberikan gambaran paralisis flaksid.6.2 enoftalmus (paralisis otot-otot orbita) 5. refleks patologis dan klonus positif. predominasi dari persarafan parasimpatikpada sfingter pupil) 5.8 16 . 5.1 miosis (paralisis dilator pupil. reflex patologis negatif. lesi-Lesi Pada Gangguan Traktus Piramidalis Pada lesi UMN terjadi paralisis spastik. hiporefleks. hiperrefleks. hipertonia. 10 E.

Lesi kortikal Lesi pada daerah ini merupakan penyebab utama paresis anggota gerak atas bagian distal. Sindroma spesifik berdasarkan lokasi lesi di sepanjang perjalanan traktus kortikospinal8 Keterangan gambar 7 yaitu: a. Lesi pada bagian ini mengenai traktus piramidal dan nonpiramidal karena pada daerah ini kedua traktus tersebut sangat berdekatan. Kelemahannya berupa paresis flaksid karena jalur nonpiramidal menyebar luas. memberikan gambaran berupa kelumpuhan wajah kontralateral yang mungkin disertai oleh kelumpuhan nervus hipoglosus. Lesi pada bagian (a) ini dapat menyebabkan kejang fokal (jaksonian).8 17 . Traktus kortikobulbar juga terkena. Gambar 7. Lesi kapsula interna Lesi pada kapsula interna. 6. 6. sebab adanya persarafan bilateral. seperti perdarahan atau iskemia menyebabkan hemiplegia spastik kontralateral.8 b. yang mengakibatkan kelemahan fungsional kontrol motorik. Tidak terlihat defisit saraf kranial yang lain. Awalnya kelemahan berupa flaksid dan menjadi spastik setelah beberapa jam atau beberapa hari.

6. akibat kerusakan motor neuron bawah atau perifer.8 e. mielitis atau trauma) menyebabkan hemiplegia spastik ipsilateral.c. sehingga lesi sentral nervus fasialis atau hipoglosus jarang terjadi. 6.8 d. Lesi pons Lesi pons seperti tumor. Lesi torakal Lesi ini (akibat trauma atau mielitis) menyebabkan monoplegia spastik ipsilateral tungkai. Lesi radiks anterior Kelumpuhan akibat lesi ini adalah ipsilateral dan flaksid. Kerusakan bilateral menyebabkan paraplegia. Lesi pedunkel Lesi pedunkel seperti proses vascular.8 f.8 18 . 8 g. Nervus fasialis dan hipoglosus telah berjalan ke arah dorsal sebelum mencapai level ini. tetapi dapat menyertai kelumpuhan nervus trigeminus atau abdusen ipsilateral.8 h. perdarahan atau tumor menghasilkan hemiparese spastik kontralateral yang dapat disertai oleh kelumpuhan nervus okulomotorius ipsilateral. Lesi pyramidal Lesi pyramidal memberikan gambaran hemiparesis flaksid kontralateral. iskemia otak atau perdarahan dapat menyebabkan hemiparesis kontralateral atau bilateral. Lesi bilateral di atas servikal menyebabkan kuadriparesis atau kuadriplegi. Lesi servikal Kelumpuhan pada lesi ini (akibat tumor.

56-69 3. sobotta. Edisi 2. Edisi 22. R Pabst. 487-537 19 . 1996. Jakarta: EGC. 2005. Jakarta: EGC. 2007. Baehr M. R Putz. Neuroanatomi Klinik. DAFTAR PUSTAKA 1. New York: Thieme Stuttgart. Atlas anatomi manusia. 258-310 2. Snell RS. Anatomy- Physiology-Signs-Symptoms. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology. Frotscher M.

20 . Jakarta. mahar. Hal 23-35. Sidharta. 2012. 1994. Dian Rakyat. 2012. Mahar. 7. NewYork. Jakarta.EGC. Stephen G. Tanda. 2004. New York: Thieme Stuttgart. Edisi ke 2. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi. USA: CRC Press. Dian Rakyat. Mardjono. Fisiologi. Cetakan ke 15. Rohkamm R. Mardjono. Pemeriksaan keterampilan Klinis. Atlas of Functional Neuroanatomy. 2006. Edisi ke 24. Sidharta. McGraw-Hill. Waxman. 44-53 5. Hal 2-5 10. Nerologis Klinis Dasar.4. hal 31-41. hal 189. Duus P. Jakarta. 8. Edisi ke 11. 2nd edition. Dian Rakyat. mahar. priguna. Color Atlas of Neurology. priguna. Correlative Neuroanatomy. Mardjono. 9. Jakarta. Neurologi Klinis Dasar. Gejala.190.2006. 2000. 120-1 6. Edisi 1. Hendelman WJ.