You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi KDRT
Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap

seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan

atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran

rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,

atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup

rumah tangga (UU Peghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga No. 23

Tahun 2004 Pasal 1 angka 1 (UU PKDRT) (Purwati, 2015).

Menurut UU PKDRT No. 23 Tahun 2004 Pasal 2 lingkup rumah

tangga meliputi : (Purwati, 2015).

a. Suami, isteri, dan anak

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang

suami, istri, dan anak karena hubungan darah, perkawinan,

persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam

rumah tangga; dan/atau

c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam

rumah tangga tersebut.

2. Epidemiologi KDRT
Komnas Perempuan mencatat pada tahun 2005, kekerasan terhadap

perempuan sebanyak 20.391 kasus yang ditangani oleh lembaga layanan di

29 propinsi. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 45%, jika


dibandingkan tahun 2004 yaitu 14.020 kasus, diantaranya 2470 (dua ribu

empat ratus tujuh puluh) termasuk kasus KDRT (Kussunaryatun, 2006:

60). Sedangkan data pemerintah sebagaimana dikutip oleh Djannah (2006:

26) tentang kasus kekerasan yang terjadi di seluruh Indonesia dalam tahun

1997-1999 berjumlah 835 kasus. Dari jumlah tersebut, 673 merupakan

kasus perkosaan, 96 kasus pelecehan seksual, dan 66 adalah kasus

kekerasan dalam rumah tangga (Rahmawati, 2014).


Data komnas Perempuan (2005), menunjukkan bahwa dari tahun

2001 terjadi 258 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Tahun 2002 terjadi

sebanyak 226 kasus, pada tahun 2003 sebanyak 272 kasus, tahun 2004

terjadi 328 kasus dan pada tahun 2005 terjadi 455 kasus kekerasan dalam

rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi kasus yang tak

pernah habis dibahas karena meskipun berbagai instrumen hukum, mulai

dari internasional sampai pada tingkat nasional belum mampu menekan

angka kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi. Dari data di atas

dapat kita ketahui bahwa dari tahun ke tahun kekerasan dalam rumah

tangga cenderung meningkat dan kekerasan yang dihadapai perempuan

juga meningkat. Sedangkan dari sumber yang sama Menurut Departemen

Kehakiman Amerika Serikat, antara tahun 1998 dan 2002 : dari 3,5 juta

kejahatan kekerasan yang dilakukan terhadap anggota keluarga, tercatat 49

% di antaranya merupakan kejahatan terhadap pasangan, 84 % dari

pasangan korban pelecehan adalah perempuan.


Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada awal tahun

2004 menunjukkan peningkatan serius dalam jumlah kasus kekerasan


berbasis gender yang menimpa perempuan. Pada tahun 2001 terdapat

3.169 kasus yang dilaporkan ke lembaga pengada layanan tersebut. Pada

tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 5.163 kasus dan tahun 2003

terdapat 5.934 kasus. Sedangkan tahun 2006, catatan dari Ketua Komnas

Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Kamala Chandrakirana)

menunjukkan kekerasan terhadap perempuan (KTP) sepanjang tahun

2006, mencapai 22.512 kasus, dan kasus terbanyak adalah kekerasan

dalam rumah tangga sebanyak 16.709 kasus atau 76% (Komnas

Perempuan tahun 2005 dalam Purwati, 2015).


3. Bentuk-Bentuk KDRT:

Mengacu kepada UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 5 tentang

Penghapusan Kekerasan dalam Rumah tangga, kekerasan dalam rumah

tangga dapat berwujud :

1. Kekerasan Fisik
2. Kekerasan Psikis
3. Kekerasan Seksual
4. Penelantaran rumah tangga

1. Kekerasan fisik menurut UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 6

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit,

jatuh sakit, atau luka berat. Kekerasan fisik yang dialami korban seperti:

pemukulan menggunakan tangan maupun alat seperti (kayu, parang),

membenturkan kepala ke tembok, menjambak rambut, menyundut dengan

rokok atau dengan kayu yang bara apinya masih ada, menendang,

mencekik leher.
2. Kekerasan psikis menurut UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 7

Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,

hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa

tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Kekerasan psikis berupamakian,ancaman cerai, tidak memberi nafkah,

hinaan, menakut-nakuti, melarang melakukan aktivi- tas di luar rumah.

3. Kekerasan seksual menurut UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 8


Kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang

dilakukan terha- dap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga

tersebut, maupun pemak- saan hubungan seksual terhadap salah seorang

dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial

dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan sek- sual seperti memaksa isteri

melakukan hubungan seksual walaupun isteri dalam kondisi lelah dan

tidak siap termasuk saat haid, memaksa isteri melakukan hubungan seks

dengan laki-laki lain.


4. Penelantaran rumah tangga menurut UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 9
Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan

orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang

berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib

memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang

tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang

mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau

melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga

korban berada di bawah kendali orang tersebut. Penelantaran seperti


meninggalkan isteri dan anak tanpa memberikan nafkah, tidak

memberikan isteri uang dalam jangka waktu yang lama bahkan bertahun-

tahun.

8. Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rmah Tangga

Untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:

(Jamaa, 2014).

Tenaga Kesehatan; Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai

dengan standar profesi, dan dalam hal korban memerlukan perawatan,

tenaga kesehatan wajib memulihkan dan merehabilitasi kesehatan

korban.
Pekerja Sosial;
Relawan Pendamping; dan/atau
Pembimbing Rohani. Pekerja Sosial, Relawan Pendamping, dan/ atau

Pembimbing Rohani wajib memberikan pelayanan kepada korban

dalam bentuk pemberian konseling untuk menguatkan dan/atau

memberikan rasa aman bagi korban.


UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 401

Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar

profesinya2.Dalam hal korban memerlukan perawatan, tenaga

kesehatan wajib memulihkan danmerehabilitasi kesehatan korban.

UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 42

Dalam rangka pemulihan terhadap korban, tenaga kesehatan,

pekerja sosial, relawan pendamping dan/atau pembimbing rohani dapat

melakukan kerja sama.

Yan g d i m a k s u d d e n g a n u p a y a p e m u l i h a n k o r b a n P e r a t u r a n

P e m e r i n t a h R I N o . 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan

Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga pada Pasal

1 ayat 1 ialah :

Segala upaya untuk penguatan korban kekerasan dalam rumah

t a n g g a a g a r l e b i h berdaya baik secara fisik maupun psikis.

PP PKPKKDRT Pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa Penyelenggaraan pemulihan

ialah:

Segala tindakan yang meliputi pelayanan dan pendampingan korban KDRT.

PP PKPKKDRT Pasal 2 ayat 1 menyebutkan :

Bahwa penyelenggaraan pemulihan terhadap korban

dilaksanakan oleh i n s t a n s i pemerintah dan pemerintah daerah serta


lembaga sosial sesuai dengan tugas danf u n g s i m a s i n g - m a s i n g , t e r m a s u k

m e n y e d i a k a n f a s i l i t a s y a n g d i p e r l u k a n u n t u k pemulihan korban.

Hal yang sama disebutkan dalam PP RI Pasal 19 yang menyebutkan :

Untuk penyelenggaraan pemulihan, pemerintah dan pemerintah daerah sesuai

dengantugas dan fungsi masing-masing dapat melakukan kerjasama dengan

masyarakat ataul e m b a g a sosial, baik nasional maupun

i n t e r n a s i o n a l y a n g p e l a k s a n a a n n y a s e s u a i dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.D a r i k e t e n t u a n i n i , l e m b a g a s o s i a l m e n d a p a t

k e s e m p a t a n u n t u k b e r p e r a n d a l a m melakukan upaya pemulihan korban

KDRT.

PP PKPKDRT Pasal 4 menyebutkan Penyelenggaraan kegiatan pemulihan korban

meliputi : (Jamaa, 2014).

a) Pelayanan kesehatan
b) Pendampingan korban
c) Konseling
d) Bimbingan rohani
e) Resosialisasi

9. Perlindungan Saksi dan Korban KDRT

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan

Kekerasan dalam Rumah Tangga Pasal 10, korban berhak mendapatkan :

a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan,

advokat, lembaga sosial atau pihak lainnya baik sementara maupun

berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan


b. Pelayanan kesehatan perintah perlindungan dari pengadilan
c. Penanganan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
d. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap

tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan
e. Pelayanan bimbingan rohani

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan

Kekerasan dalam Rumah Tangga Pasal 15, setiap orang yang mendengar, melihat,

atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan

upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk:

a. Mencegah berlngsungnya tindak pidana


b. Memberikan perlindungan kepada korban
c. Memberikan pertolongan darurat, dan
d. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan

Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan

Korban yang selanjutnya disebut dengan UU PSK berlaku sejak tanggal 11

Agustus 2006 setelah diundangkan di Lembaran Negara RI nNo. 64 Tahun 2006.

Pokok amateri UU PSK ini meliputi perlindungan dan hak asasi dan korban,

lembaga perlindungan saksi dzn korban, syarat dan tata cara pemberian

perlindungan dan bantuan, serta ketentuan pidana. UU PSK ini dikeluarkan karena

pentingnya saksi dan korban dalam proses pemeriksaan d pengadilan sehingga

membutuhkan perlindungan yang efektif, profesonal, dan proporsional terhadap

saksi dan kprban. Perlindungan saksi dan korban dilakukan berdasarkan asas

pernghargaan atas harkat dan martabat manusia, raaa aman, keadila, tindak

kriminatif, dan kepastian hukum. Perlindungan saksi dan korban berlaku pada

semua tahap proses peradilan pidana dalam lingkungan peradilan yang bertujuan
untuk memberikan rasa aman pada saksi dan/ atau korban dalam memberikan

keterangan pada setiap proses peradilan pidana.

Perlindungan saksi dan korban !uga dilakukan karena adanya

hak2hak seorangsaksi dan korban yang harus dilindungi seperti :

a. M e m p e r o l e h perlindungan atas keamanan

p r i b a d i , k e l u a r g a , d a n h a r t a bendanya, serta bebas

dari 1ncaman yang berkenaan dengan kesaksianyang akan,

sedang, atau telah diberikannya


b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk

perlindungan dandukunga keamanan


c. Mem b e r i k a n k e t e r a n g a n t a n p a t e k a n a n
d. Pe n d a p a t p e n e r j e m a h
e. B ebas dari pertanyaan yang menjerat
f. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan

kasus
g. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan
h. Mengetahui dalam hal terpidana dibebaskani
i. Mendapat identitas baru
j. M endapatkan tempat kediaman baru
k. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesu ai

dengan kebutuhan
l. M e n d a p a t n a s i h a t h u k u m
m. Memperoleh bantuan biaya hidup

sementara sampai batas w a k t u perlindungan

berakhir, dan/atau
n. Ba n t u a n m e d i s d a n r e h a b i l i t a s i p s i k o s o s i a l d a l a m

h a l s a k s i d a n k o r b a n mengalami pelanggaran hak asasi

manusia yang berat

10. Pengertian Delik


Kata delik berasal dari Bahasa Latin, yakni delictum, yang dirialam

Wetboek van Strafbaar felt Nederland dinamakan Strafbaar felt. DalamBahasa

jerman disebut delict, dalam Bahasa Perancis disebut delit,dan dalam Bahasa

Belanda disebut delict (Marpaung, 2005).

dalam Kamus Bahasa Indonesia, arti delik diberi batasan sebagai berikut:

Perbuatan yang dapat dikenakan hukum karena merupakan pelanggaran terhadap

undang-undang ; tindak pidana.

Dalam hukum pidana diperlukan pemenuhan unsur-unsur delik sebagai

acuan untuk mengukur kesalahan seseorang atau badan hukum (subjek hukum

pidana). Setiap perbuatan harus memenuhi unsur delik (kejahtan dan pelanggaran)

yang dasarnya terikat pada asas legaliatas sebagaimana dirumuskan dalam pasal 1

ayat (1) kitab Undang-Undang Hukum Piadana, sebagai berikut: tiada suatu

perbuatan pidana yang dapat dihukum melainkan atas kekuatan ketentuan

perundang-undangan dan pidana secara tertulis yang ada terdahulku dari pada

perbuatan itu.

Dengan demikian, apabila salah satu unsur dari perbuatan tersebuttidak

terpenuhi unsurnya, maka tidak dapat dikategorikan ke dalam delikatau perbuatan

pidana.

Unsur mutlak delik adalah melawan hukum, dimana perbedaanajaran

formil dengan materiil yaitu :


1. Materiil, sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap-tiaptindak

pidana, juga bagi yang dalam rumusannya tidak menyebut unsur-unsur.

2. Formil, sifat tersebut tidak selalu menjadi unsur delik, hanya jika dalam

rumusan delik disebutkan dengan nyata-nyata barulah menjadi unsur delik.

Unsur-unsur melawan hukum formil meliputi (Andi Hamzah, 2009:58)

a) Perbuatan manusia, yaitu perbuatan dalam arti luas, artinya tidak

berbuat yang termasuk perbuatan dan dilakukan oleh manusia.

b) Melanggar peraturan pidana dalam artian bahwa sesuatu akandihukum

apabila sudah ada peraturan pidana sebelumnya yangtelah mengatur

perbuatan tersebut, jadi hakim tidak dapatmenuduh suatu kejahatan yang

telah dilakukan dengan suatu peraturan pidana, maka tidak ada tindak

pidana.

c) Diancam dengan hukuman, hal ini bermaksud bahwa KUHPmengatur

tentang hukuman yang berbeda berdasarkan tindakpidana yang telah

dilakukan.

d) Dilakukan oleh orang yang bersalah, dimana unsur-unsurkesalahan

yaitu harus ada kehendak, keinginan atau kemauan dari orang yang

melakukan tindak pidana serta orang tersebutberbuat sesuatu dengan

sengaja, mengetahui dan sadarsebelumnya terhadap akibat perbuatannya.

Kesalahan dalamarti sempit dapat diartikan kesalahan yang disebabkan


karena si pembuat kurang memperhatikan akibat yang tidak

dikehendakioleh undang-undang.

e) Pertanggungjawaban yang menentukan bahwa orang yangtidak sehat

ingatannya tidak dapat dimintapertanggungjawabannya. Dasar dari

pertanggungjawaban seseorang terletak dalam keadaan jiwanya.

Unsur material meliputi:

a) Perbuatan atau kelakuan manusia, dimana perbuatan ataukelakuan

manusia itu ada yang aktif (berbuat sesuatu), misalmembunuh (Pasal 338

KUHP), menganiaya (Pasal 351 KUHP).

b) Akibat yang menjadi syarat mutlak dari delik. Hal ini terdapatdalam

delik material atau delik yang dirumuskan secaramaterial, misalnya

pembunuhan (Pasal 338 KUHP),penganiayaan (Pasal 351 KUHP), dan

lain-lain.

c) Ada unsur melawan hukum. Setiap perbuatan yang dilarang dandiancam

dengan pidana oleh peraturan perundang-undanganhukum pidana itu harus

bersifat melawan hukum, meskipununsur ini tidak dinyatakan dengan

tegas dalam perumusan.

Menurut Satochid Kartanegara (Leden Marpaung, 2005:10)

bahwa:"Unsur delik terdiri atas unsur objektif dan unsur subjektif.

Unsurobjektif adalah unsur yang terdapat di luar diri manusia,

yaituberupa:
1. Suatu tindakan;

2. suatu akibat dan;

3. keadaan(omstandigheid)

Kesemuanya itu dilarang dan diancam dengan hukuman

olehundang-undang. Unsur subjektif adalah unsur-unsur dari perbutan

yangdapat berupa :

1. Kemampuan (toerekeningsvatbaarheid );

2. Kesalahan (schuld)".