You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pengolahan bahan galian adalah suatu proses pemisahan mineral berharga
secara ekonomis berdasarkan teknologi yang ada sekarang. Berdasarkan tahapan
proses, pengolahan bahan galian dapat dibagi menjadi tiga tahapan proses, yaitu
Tahap Preparasi, Tahap Pemisahan, dan Tahap Dewatering.
Kegiatan pengolahan bahan galian ini bertujuan untuk membebaskan dan
memisahkan mineral berharga dari mineral yang tidak berharga atau mineral
pengotor sehingga setelah dilakukan proses pengolahan bahan galian dihasilkan
konsentrat yang bernilai tinggi dan tailing yang tidak berharga. Metode
pengolahan bahan galian yang dipakai bermacam-macam tergantung dari sifat
kimia, sifat fisika, sifat mekanik dari mineral itu sendiri.
Di dalam makalah pengolahan bahan galian ini kami memilih zeolit,
bentonit dan kapur sebagai bahan pembahasan kami. Ketiga bahan galian ini
tergolong sebagai bahan galian strategis.
Zeolit merupakan senyawa alumina-silikat terhidrasi yang secara fisik dan
kimia memiliki daya sebagai bahan penyerap (adsorpsi), penukar kation, dan
katalis. Terdapat dua jenis zeolit, yaitu zeolit alam dan zeolit sintetis. Di dalam
makalah ini, akan dijelaskan mengenai pengolahan zeolit alami.
Penelitian dan pengembangan terhadap mineral zeolit untuk berbagai
keperluan masih berlanjut. Di negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, zeolit
telah digunakan secara luas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri
manufaktur, dan konstruksi. Sementara itu di Indonesia, zeolit baru sekitar 10
tahun dikenal untuk diusahakan dan dimanfaatkan.
Sementara itu, Bentonit adalah suatu istilah perdagangan dari lempung
yang mengandung montmorilonit kurang 80%, diperkenalkan pertama kali oleh
Knight (1898) dengan nama Taylorite, suatu tempat dekat Rock River Wyo. Nama
bentonit adalah nama tempat lempung itu didapat. Pada abad 20, dimana bentonit
ditemukan merupakan tubuh dalam batuan berumur Kapur dan Tersier. Geologi

1

dan definisi bentonit dibuat oleh Ross dan Shannon (1926) yang menyatakan
bahwa bentonit adalah sejenis lempung hasil devitrifikasi dari kaca debu volkanik
(tuff ash glass). Sifat materialnya tidak menyerap air. Banyak digunakan sebagai
bahan kosmetik, keramik, semen, adhesives, cat dan lain sebagainya. Bentonite
dipergunakan juga untuk penahan longsor tanah pada saat melakukan pengeboran
pada pekerjaan borepile, masukan bentonite pada lubang yang di bor kemudian
tunggu berapa saat dan lakukan kembali supaya bentonitenya bisa mempekeras
permukaan dinding tanah yang di bor. Terdapat banyak jenis bentonit bedasarkan
unsur penyusun dominannya, seperti kalium (K), sodium (Na), kalsium (Ca), dan
aluminium (Al).
Terakhir adalah kapur. Kapur (bahasa Inggris: lime) adalah sebuah batuan
sedimen terdiri dari mineral calcite (kalsium karbonat). Sumber utama dari calcite
ini adalah organisme laut. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk
yaitu CaO dan Ca(OH)2. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan
menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. yang bersifat basa dan disertai
keluarnya panas yang tinggi. Menurut Tarmiji, 1986, penggunaan dari kapur
antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor, air limbah
maupun industri lainnya. Pada pengolahan air kotor, kapur dapat mengurangi
kandungan bahan-bahan organik. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk
mereaksikan alkali bikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga
menyebabkan pengendapan. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif
apabila pH air antara 6 – 8.

2

Memberikan informasi mengenai cara pengolahan bentonit. dan tujuan penulisan. 2. gagasan. Manfaat Edukatif Manfaat edukatif adalah manfaat yang memberikan kontribusi pengetahuan bagi pembacanya sehingga makalah ini sangat disarankan untuk dibaca berbagai kalangan. Manfaat Berdasarkan latar belakang. Bagaimana cara pengolahan kapur? BAB II PEMBAHASAN 3 . 1. . I. ide. Bagaimana cara pengolahan zeolit? 2.3.2. a.I. Manfaat dari penulisan makalah ini dapat dikelompokan menjadi. Memberikan informasi mengenai cara pengolahan kapur. Rumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah: 1. Manfaat Informatif Manfaat informatif adalah bagaimana makalah ini dapat memberikan informasi mengenai berbagai permasalahan yang sesuai dengan pembahasan. c.3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. dan perencanaan dengan harapan disambut baik oleh berbagai pihak. 3. Memberikan informasi mengenai cara pengolahan zeolit. b. Bagaimana cara pengolahan bentonit? 3. Manfaat Apresiasi Manfaat apresiasi adalah manfaat yang diberikan bagi penulis untuk mengemukakan pendapat.

Jika berhasil maka dapat dilakukan aktifasi.1. Ketidak mampuan siklun dalam memisahkan menjadi fraksi menyebabkan masih diperlukannya pengayakan. Zeolit Zeolit merupakan suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari proses hidrotermal pada batuan beku basa.2. dari penggunaan dalam industri kecil hingga dalam industri berskala besar. Selain itu zeolit juga merupakan endapan dari aktivitas vulkanik yang banyak mengandung unsur silika. Pengolahan Zeolit Pada prinsipnya pengolahan dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap preparasi dan tahap aktivasi. Selanjutnya zeolit siap diaplikasikan sesuai dengan keinginan. Pada saat ini penggunaan mineral zeolit semakin meningkat.  Tahap preparasi Dengan mempertimbangkan zeolit mempunyai tingkat kekrasan yang rendah maka preparasi dengan menggunakan mesin giling (mill) yang mampu memproduksi sampai ukuran lebih kecil dari 100 mesh dan menkombinasikan dengan siklun (alat sentrifugasi) untuk dapat mengelompokkan fraksinya.  Tahap aktivasi Tahap ini dilakukan dengan pemanasan atau dengan pereaksi zat yang digunakan sebagai pereaksi adalah NaOH dan H2SO4 agar kapasitas adsorpsi maupun sifat katalisis dari zeolit meningkat. 4 . Umpan untuk mesin giling ini dapat berupa hasil pemecahan secara manual yang berukuran 3 cm ataupun dapat dilakukan dengan mesin pemecah. Mineral ini biasanya dijumpai mengisi celah- celah ataupun rekahan dari batuan tersebut.

Diagram Alir Pengolahan Zeolit 5 .

Nama monmorilonit itu sendiri berasal dari Perancis pada tahun 1847 untuk penamaan bahan galian sejenis lempung yang terdapat di Monmorilon. kalsit.5SiO2. dolomit.2.Al2O3. masukan bentonite pada lubang yang di bor kemudian tunggu berapa saat dan lakukan kembali agar bentonit bisa memperkeras permukaan dinding tanah yang di bor. dan mineral lainnya. Diagram Alir Pengolahan Bentonit 6 . Prancis.nH2O.Ca)O. Montmorillonit merupakan bagian dari kelompok smectit dengan komposisi kimia secara umum (Mg. Bentonit Bentonit adalah lempung yang sebagian besar terdiri dari montmorillonit dengan mineral-mineral seperti kuarsa. feldspar.2. Bentonite dipergunakan juga untuk penahan longsor tanah pada saat melakukan pengeboran pada pekerjaan borepile.

K. Sedangkan material tertahan +10 mm kemudian di keringkan lebih lama selama 1.5 jam menggunakan burner. Pengaktifan bertujuan untuk melarutkan unsur penganggu seperti : Ca. Material +200 yang tertahan mesh 200 selanjutnya kembali di lakukan penggilingan. Dari proses penggilingan ini selanjutnya di lakukan Pemisahan(Classifier) untuk memisahkan material yang lolos mesh 200 dan tertahan mesh 200 untuk siap di olah ke tahap berikutnnya. sedangkan meterial yang masih tertahan di lakukan proses penggilingan untuk selanjutnya di ayak pada mesh 200. Al. Seperti diketahui di alam dikenal Na-bentonit dan Ca-Mg bentonit.Penjelasan diagram alir : Bongkahan bentonit yang di temukan di alam berupa bentonit Na & bentonit Ca-Mg kemudian di lakukan penambangan. Mg. Hasil proses bentonit ini dipakai untuk menjernihkan minyak kelapa. Sedangkan material yang tertahan. dilakukan kembali proses penggilingan hingga di peroleh produk -200 mesh. Material -200 yang lolos mesh 200 merupakan produk bentonit yang siap diolah ke tahap pengolahan lanjutan berikutnya. 7 . Selanjutnya di lakukan pengayakan 10 mm untuk memperoleh material yang lolos -10 mm dan tertahan +10 mm. Fe. Material yang lolos -10 mm selanjutnya di lakukan pengayakan 5 mm. Material tersebut kemudian jika telah di peroleh ukuran butir yang halus. Na. lalu di ayak pada mesh 200. Material yang lolos dan tertahan langsung kemudian di keringkan selama 1 jam menggunakan burner. Selanjutnya diremukan menggunakan proses penggilingan untuk selanjutnya di ayak pada mesh 200. Produk yang di hasilkan berupa Na-bentonit dan Ca-Mg bentonit. Bentonit hasil penambangan tersebut kemudian di timbun untuk selanjutnya di lakukan preparasi atau proses penyiapan bahan galian untuk memisahkan mineral yang akan diolah. Proses pengaktifan dilakukan khusus untuk jenis bentonit yang tidak mengembang yaitu Ca-Mg bentonit jenis ini dibagi 2 macam yaitu yang aktif dan tidak aktif. dll. Dengan memakai media pengaktif H2SO4 (5%) & HCl (5 %) kemudian dipanaskan pada suhu 1000 C dalam selang waktu 2-4 jam.

bila mengandung magnesium karbonat > 30 % tetapi < 44 %. silica dan besi.  Batu kapur dolomite. bentuk kristal berbeda-beda dan keadaannya padat dan keras. Kapur Kapur telah dikenal dan dipergunakan orang sejak ribuan tahun lalu sebagai bahan adukan pasangan dan plesteran untuk bangunan. Pada saat ini. industri baja. industri kimia pharmasi. A. industri kertas. Jenis-jenis Batu Kapur Sifat-sifat batu kapur sangat dipengaruhi oleh pengotoran atau tercampurnya unsur-unsur lain. industri semen. Batu kapur ini mengandung bermacam- macam senyawa lain yang mengalami metamorphose sehingga mempunyai warna bermacam-macam. Oleh karena itu jenis batu kapur dibedakan menurut kemurniaannya. batu kapur yang tercampur tanah liat didapat dalam bentuk gumpalan lunak dan mudah terlepas. Untuk membedakan batu kapur dengan batuan lainnya dapat dilakukan dengan cara meneteskan asam chloride (HCL) pada permukaan batuan tersebut. dll. Asam klorida akan bereaksi dengan batu kapur. Zaman dahulu pembuatan kapur dilakukan dengan cara membakar batu kapur pada tungku- tungku sederhana. yaitu :  Batu kapur kalsium (CaCO3) dengan kemurnian tinggi. Batu kapur jenis ini biasanya digunakan sebagai bahan dasar semen. industri gula.  Batu kapur hidrolis.2.  Marmer dan batu kapur padat.  Margel. industri karet. bila unsur lain < 5%  Batu kapur Magnesia (CaCO3MgCO3) bila mengandung 5 – 20 % magnesia magnesium karbonat. Hasil pembakaran ini kemudian dicampur dengan air dan terbentuklah bahan perekat.3. reaksi yang terjadi adalah : 8 . bila mengandung > 5 % senyawa lain yang terdiri dari alumina. kapur banyak digunakan dalam bidang pertanian.

efisiensi tungku. secara teoritis diperlukan 1. sifat batu kapur dan kecermatan dalam pelaksanaan pembakaran dalam tungku. Pengolahan Batu Kapur menjadi Kapur Untuk menghasilkan 1 ton kapur tohor. Diagram alir proses pengolahan kapur 9 .79 ton batu kapur kalsium atau 1. CaCO3 + 2HCL → CaCl2 + H2O + CO2(g) B. Hal ini tergantung dari jenis tungku pembakar. Tetapi dalam prakteknya diperlukan minimal 2 ton batu kapur untuk menghasilkan kapur tohor.9 ton batu kapur magnesium.

Pada suhu ini. Suhu pembakaran batu kapur yang ideal 1000°C- 1350°C. hanya menguapkan air yang dikandungnya saja. Pada suhu ini penguraian belum sempurna. Jika dipanaskan terus. sehingga diperlukan suhu yang lebih tinggi agra batu kapur terurai sempurna. Waktu yang diperlukan tergantung dari besarnya ukuran butiran batu kapur yang dibakar. 10 . kemudian perlahan-lahan pada bagian butirnya. pada suhu tertentu batu kapur akan mengurai dan berubah molekulnya. CaCO3 MgCO3 + suhu 700-900°C → CaOMgO + 2CO2 Batu kapur dolomit + dipanaskan suhu 700-900°C → kapur tohor dolomit + gas Bila pemanasan mencapai suhu terlalu tinggi.C. Pembakaran Batu Kapur Pembakaran batu kapur pada suhu 500°C tidak banyak berpengaruh. Suhu dimana batu kapur mulai mengurai disebut dengan “suhu keseimbangan/suhu desosiasi”.Batu kapur kalsium (CaCO3) mulai mengurai pada suhu 900°C dan batu kapur magnesium (MgCO 3) mulai mengurai pada suhu 700 – 770°C. Kondisi ini disebut dengan terbakar lewat. Reaksi kimia proses penguraian : CaCO3 + suhu 900°C → CaO + CO2 Batu kapur kalsium + dipanaskan suhu 900°C → kapur tohor kalsium + gas MgCO3 + suhu 700-770°C → MgO + CO2 Batu kapur magnesium + dipanaskan suhu 700-770°C → kapur tohor magnesium + gas. oksida yang terbentuk akan memadat dan sukar bereaksi dengan air pada saat proses pemadaman. penguraian mula-mula terjadi pada permukaan batu kapur.

Oksida kapur yang terbentuk volumenya menyusut 25 – 50 % sehingga menjadi keras dan pori- porinya menjepit. pembakaran (kalsinasi). Kedua hal ini diusahakan tidak terjadi karena kapur yang dihasilkan berbutir kasar dan mengganggu pada saat pemakaian kapur. Bahan bakar yang digunakan berupa kayu bakar dan minyak bakar. dengan tinggi 6 – 14 meter. pendinginan kapur tohor. yaitu tungku tegak ( shaft kiln) dan tungku putar. diameter 1. yaitu : 11 . D.6 meter. sedangkan tungku tegak digunakan untuk ukuran butiran besar. Suhu yang terlalu tinggi dan pembakaran yang terlalu lama . Proses pembakaran di dalam tungku : 1) Batu kapur dimasukkan dari bagian atas tungku. Ukuran batu kapur 10 – 20 cm. Biasanya suhu pembakaran di bawah suhu desosiasi. Pada pembakaran batu kapur terjadi 2 hal : 1. Pembakaran tidak sempurna dimana bagian dalam butiran batu kapur tidak mengalami penguraian dan batu kapur akan merupakan butiran-butiran kecil yang tidak terbakar.5 – 3. menyebabkan batu kapur terbakar lewat/mencapai titik lelehnya. Untuk di Indonesia. masih menggunakan tungku tegak tradisional. Tungku yang biasa digunakan adalah tungku tegak. 4) Batu kapur di dalam tungku mengalami proses : penyiapan batu kapur. 2. 3) Kapur tohor hasil pembakaran dikeluarkan dari dasar tungku. Ada 2 jenis tungku pembakaran. Ada 2 cara pemadaman kapur. pemanasan pendahuluan. Pembakaran kapur di lakukan di tumgku-tungku pembakaran yang dindingnya menggunakan bata tahan api. 2) Bahan bakar dipasang di bagian bawah. Pemadaman kapur Tohor Pemadaman kapur (slakking) bertujuan untuk merubah kapur tohor menjadi kapur hidroksida dengan cara mereaksikannya dengan air. sedikit di atas dasar tungku. Tungku tegak digunakan untuk membakar batu kapur dengan ukuran butiran kecil. Kondisi ini membuat kapur sukar bereaksi dengan air/sukar dipadamkan.

kapur yang terlalu basah akan cepat mengeras dan mengganggu proses pengikatannya. Cara pemadaman ini paling banyak dilakukan orang. Bila masih ada bagian kapur yang belum padam. volumenya berubah. Pada umumnya hasil pemadaman mempunyai kadar air 20 25 %. Pada penyimpanan yang agak lama. Setelah reaksinya berhenti. Pemadaman yang baik menghasilkan kapur tohor berbutiran halus dengan kadar air kurang dari 10 %. terutama untuk kapur yang terbakar lewat. Uap panas ini berguna untuk mempercepat pemadaman kapur tohor. kapur padam ini diaduk-aduk. Kerugian-kerugian pemadaman dengan cara kering adalah : a) Panas dan uap yang timbul dalam proses hidrasi cepat hilang sehingga sering dijumpai masih terdapat butir-butir kapur yang belum padam. Kapur padam yang terlalu basah akan mudah menarik CO2 dari udara sehingga akan terbentuk CaCO3 kembali. kapur menjadi panas dan airnya menguap. Akibat penyiraman air ini kapur tohor berubah menjadi kapur padam Ca(OH)2. Dari pemadaman cara ini didapatkan bubuk kapur padam berwarna putih. c) Setelah dilakukan pemadaman. seringkali tidak dilakukan pengayakan maupun penggilingan sehingga kapur yang dihasilkan mengandung butiran-butiran kasar yang mungkin terdiri dari kapur yang belum padam atau kapur mentah. Kemudian kapur padam ditimbun di tempat terbuka. b) Air yang dipakai kurang terkontrol sehingga kapur yang dihasilkan seringkali terlalu basah. Batu kapur yang belum padamini berakibat buruk pada saat kapur digunakan sebagai 12 . kemudian diaduk lagi untuk memisahkan butir-butir batu kapur yang belum pecah dan masih mentah. disiram lagi dengan air. Hasil pemadaman dibiarkan selama 24 jam.1) Pemadaman Kering Kapur tohor yang akan dipadamkan dihamparkan di atas lantai terbuka setebal 30 – 50 cm. kemudian disiram air sebanyak ± ½ x berat kapur tohor.

Al 2O3 dan MgO. Mutu dan sifat-sifat kapur Mutu kapur yang dihasilkan suatu industri sangat dipengaruhi oleh : mutu dan kemurnian batu kapur sebagai bahan baku.3 kali dari berat kapur tohornya. Kerugiannya adalah dihasilkan kapur padam yang basah sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama. SiO. Kapur padam bereaksi dengan CO2 dari udara dan membentuk karbonat. berbutiran halus dan kapur yang terbakar lewat dapat terpadamkan dengan sempurna. Cara ini biasanya dilakukan bila kapur padamnya akan segera dipakai. Kapur tohor diberi air yang banyak ± 2 . Kapur padam yang dihasilkan dibiarkan di dalam bak selama 1 hari dan hasilnya berupa kapur padam kental. Proses Pengerasan Kapur Kapur dapat mengeras dan mempunyai kekuatan disebabkan oleh dua macam proses kimia yang terjadi di lingkungan basah (bila ada air). 2. 2) Pemadaman Basah Pemadaman basah menghasilkan kapur padam berbentuk bubur. Pada proses ini terjadi proses hidrasi dari kapur tohor menjadi kapur padam Ca(OH)2 dan panas. E. yaitu kadar CaO. Sifat-sifat penting yang menentukan mutu kapur adalah :  Prosentase bagian yang aktif dalam kapur. (kalsium karbonat atau batu kapur). Hal ini menyebabkan tembok retak atau pecah-pecah setempat. 13 . Pemadaman dengan cara ini menghasilkan kapur padam yang lebih baik. Kapur padam bereaksi dengan senyawa lain terutama silica dan membentuk kalsium silikat yang mengeras seperti batu serta tidak larut dalam air. perekat adukan karena akan terjadi pemadaman susulan setelah kapur ada di dalam tembok. kesempurnaan pembakaran dan pemadaman kapur tohor. sehingga air di dalam bak terlihat mendidih. F. yaitu : 1. Pemadaman dilakukan di dalam bak.

 Kekuatan adukan yaitu berupa kuat tekan adukan yang terbuat dari campuran kapur. 14 . pasir dan air. terbakar lewat atau belum terpadamkan.  Kekentalan bentuk adukan yang terbuat dari kapur tersebut. yang biasanya terdiri dari bagian kapur yang belum terbakar sempurna. Kehalusan butiran. Kapur tidak boleh mengandung butiran kasar.

Kegiatan pengolahan bahan galian ini bertujuan untuk membebaskan dan memisahkan mineral berharga dari mineral yang tidak berharga atau mineral pengotor sehingga setelah dilakukan proses pengolahan bahan galian dihasilkan konsentrat yang bernilai tinggi dan tailing yang tidak berharga. HCl dan H2SO4. Sedangkan pembakaran berguna untuk meningkatkan kualitas bentonit. sifat fisika. sizing dan pembakaran. Terakhir adalah Kapur. sifat mekanik dari mineral itu sendiri. Kesimpulan Berdasarkan tahapan proses. BAB III PENUTUP 3. Sementara itu pengolahan bentonit memiliki 3 tahapan penting. Komunisi berguna untuk memperhalus ukuran butir bentonit dengan menggunakan jaw crusher. yaitu komunisi. dan Tahap Dewatering. Kapur memiliki empat tahapan penting dalam pengolahannya. sehingga didapatkan CaO sebagai produk yang diinginkan dan CO2 sebagai produk sisa. 15 . Lalu sizing berguna untuk memisahkan bentonit sesuai ukuran butir menggunakan ayakan. dan pemadaman untuk mengubah kapur tohor menjadi kapur hidroksida. yaitu Tahap Preparasi. yaitu preparasi untuk mengurangi ukuran butir. Tahap penyaringan adalah memisahkan zeolit sesuai ukuran butir Sedangkan tahap Aktivasi berguna untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi maupun sifat katalisis dari zeolit menggunakan larutan asam anorganik seperti HF. pengolahan bahan galian dapat dibagi menjadi tiga tahapan proses. Tahap Pemisahan. penyaringan dan tahap aktivasi. sizing untuk memilah sesuai ukuran butir. Pengolahan zeolit memiliki tiga tahapan penting. kalsinasi untuk memisahkan CaCO3. Metode pengolahan bahan galian yang dipakai bermacam-macam tergantung dari sifat kimia. Tahap preparasi adalah untuk memecahkan zeolit menjadi butir-butir yang lebih kecil menggunakan jaw crusher. Metode pengolahan setiap bahan galian berbeda-beda agar menghasilkan nilai ekonomis yang maksimal untuk setiap bahan galian. yaitu tahap preparasi.1.

Saran Saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah lebih memaksimalkan dalam pemanfaatan hasil alam seperti Zeolit. besar harapan penulis agar makalah ini dapat berguna bagi semua pembacanya. Bentonit dan Kapur. 16 .3. Demikian yang dapat penulis sampaikan. Sebaiknya lebih mengembangkan teknologi pengolahan agar tidak hanya dapat mengespor hasil mentah dan dapat mengekspor hasil jadi.2.

com/pra. Bahan Galian Industri.com/ebook/sifat-kimia- zeolit-pdf. DAFTAR PUSTAKA Sukandarrumidi.go. Yogyakarta : UGM Press.html http://www.dim.id/wp- content/uploads/2009/04/zeolit1.html http://darsono-sigit.pdf http://openpdf.nesmd.id/index.com/ebook/pengolahan-zeolit-pdf.tripod.html http://openpdf.com/shtml/33181.esdm.php? option=com_content&view=article&id=493 &Itemid=395 http://www.shtml 17 . http://mputantular.um. 2004.ac.

S. Makalah Pengolahan Bahan Galian Tahapan Pengolahan Bahan Galian Strategis Zeolit. Bentonit dan Kapur Disusun oleh: Anjelina Vuspitasari (DBD 112 010 ) Willy Nadeak (DBD 112 034) Rety Winonazada ( DBD 112 073) Wiwik P.P (DBD 112 076) Jebrito Pakpahan (DBD 112 038) Igorando B.(DBD 112 049) Tio Elga Sinaga ( DBD 112 045) Elga Natalindo(DBD 112 073) KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN 18 . ( DBD 112 042) Prima Indah P. (DBD 112 062) Achmad Dasuki ( DBD 112 006) Eka Arilina (DBD 112 022) Achmad Syafriansyah ( DBD 112 001) Adham R.P (DBD 112 029) Eprilia Simamora ( DBD 112 025) Teguh Efrianes(DBD 112 075) Karina Anastasia C.

semoga makalah ini bermanfaat dan memberi kontribusi positif kepada semua pihak. Palangka Raya. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya. DAFTAR ISI ii 19 .” Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Pengolahan Bahan Galian. Untuk itu penulis memohon maaf jika terdapat kekurangan atau kesalahan disana sini pada penulisan makalah ini. Bentonit dan Kapur. Akhir kata. Penulis mengakui ‘Tak Ada Gading Yang Tak Retak’ begitu pula penulis. April 2014 Penulis. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tahapan Pengolahan Bahan Galian Strategis Zeolit. Atas kesalahan dan kekurangan tersebut saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. selaku manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

............................................................................. Saran......................... iii BAB I PENDAHULUAN 1... ii DAFTAR ISI................................................. 8 BAB III PENUTUP 3.......3.. i KATA PENGANTAR............... Manfaat Penulisan .....1....................................................................2.................................... Latar Belakang ......................................................4................... 1 1............................. 4 2.............................. 6 2...................... Tujuan Penulisan...................HALAMAN JUDUL............................................. 15 3......................3......................................................................... Rumusan Masalah….................... 3 1.1........................................................................................................................................................ Bentonit .............................................................. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.................... 16 DAFTAR PUSTAKA iii 20 .1.................................... 3 1...............................2.. Kesimpulan ...........2...................... Zeolit ........................ Kapur .................................................................