You are on page 1of 66

Bab-bab tersebut dapat dibedakan atas 7 bagian, namun pada c.

Dalam melaksanakan tugasnya bidan haruslah
pembahasan ini kami hanya membahas kewajiban bidan terhadap berdasarkan tugas dan fungsi bidan, dimana hal ini
klien dan masyarakat, Bagian ini terdiri dari 6 butir sebagai berikut : telah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia
Indonesia nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga
A. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati kesehatan pasal 58 ayat (1) butir (a) yang berbunyi :
dan melindungi dan mengamalkan sumpah jabatannya Tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik wajib :
dalam melaksanakan tugas dan pengabdianya. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standart
1. Bahwa bidan harus melakukan tugasnya berdasarkan profesi, standart pelayanan profesi, standart prosedur
tugas dan fungsi bidan yang telah ditetapkan sesuai operasional, dan etika profesi serta kebutuhan kesehatan
dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. penerima pelayanan kesehatan.
2. Bahwa bidan dalam melakukan tugasnya, harus memberi Serta pada pada pasal 62 ayat (1) disebutkan bahwa “ tenaga
pelayanan yang optimal kepada siapa saja, dengan tidak kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai
membedakan pangkat dan kedudukan, golongan, bangsa dengan kewenangan yang didasarkan pada kompetensi yang
dan agama. dimilikinya”.
3. Bahwa tidak akan menceritakan kepada orang lain dan Analisa :
merahasiakan segala yang berhubungan dengan Undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2014
tugasnya. melengkapi regulasi yang mengatur peran dan fungsi bidan
4. Bidan hanya boleh membuka rahasia pasien / klien apa yaitu dengan adanya Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor
bila diminta untuk keperluan kesaksian pengadilan. 369 tahun 2007 tentang standart profesi bidan yang disyahkan
Dasar Hukum : pada tanggal 27 Maret 2007 dan Keputusan Menteri
1. Bahwa bidan harus melakukan tugasnya berdasarkan Kesehatan RI nomor 938 tahun 2007 tentang standart asuhan
tugas dan fungsi bidan yang telah ditetapkan sesuai kebidanan yang disyahkan pada tanggal 13 Agustus 2007. Hal
dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. ini dapat dijadikan sebagai pedoman atau standarisasi bagi
a. Bidan merupakan jenis tenaga kesehatan yang bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan yang aman
termasuk dalam kelompok tenaga kebidanan sesuai dan berkualitas baik secara mandiri maupun kolaborasi
dengan Undang-undang Republik Indonesia nomor /rujukan.
36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan pasal 11 Standar pelayanan medis mempunyai dua tujuan yaitu
ayat (5). Pertama, untuk melindungi masyarakat dari praktik-praktik
b. Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari yang tidak sesuai standar profesi. Kedua, melindungi anggota
pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai profesi dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar (Nasution,
ketentuan peraturan perundangan-undangan 2005). Oleh karena itu setiap tenaga kesehatan harus
(Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia memperhatikan standar yang berlaku di profesinya termasuk
Nomor 1464 tahun 2010 tentang izin dan bidan, serta bidan juga harus patuh pada Kode Etik Kebidanan.
penyelenggaraan praktik bidan). Kode etik Kebidanan merupakan suatu pernyataan
komprehensif profesi yang memberikan tuntunan bagi

bidan untuk melaksanakan praktek kebidanan baik yang a. Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga
berhubungan dengan kesejahteraan keluarga, masyarakat, Kesehatan pasal 73 ayat (1) yang berbunyi:
teman sejawat, profesi dan dirinya ( Sofyan dkk, 2007). “Setiap tenaga kesehatan dalam melaksankan pelayanan
kesehatan wajib menyimpan rahasia kesehatan penerima
2. Bidan dalam melakukan tugasnya, harus memberi pelayanan kesehatan”.
pelayanan yang optimal kepada siapa saja, dengan tidak b. Undang-undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang
membedakan pangkat dan kedudukan, golongan, bangsa Kesehatan pasal 57 ayat (1) yang berbunyi:
dan agama. “Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan
Dasar Hukum : pribadinya yang telah dikemukakan oleh penyelenggara
Ini sejalan dengan undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 pelayanan kesehatan”.
pasal 61 yang berbunyi: Analisa :
“Dalam menjalankan praktik, tenaga kesehatan yang Informasi menyangkut data diri pasien adalah hal yang
memberikan pelayanan langsung kepada penerima pelayanan berhubungan dengan rahasia pasien (rahasia medis/rahasia
kesehatan harus melaksanakan upaya terbaik untuk kedokteran). Rahasia medis merupakan hak pasien yang harus
kepentingan penerima pelayanan kesehatan dengan tidak dihormati. Jika hal ini dilanggar maka akan menimbul
menjanjikan hasil”. tanggung jawab hukum berupa sanksi bagi yang membukanya.
Analisa : Rahasia pasien merupakan salah satu hak pasien, maka
Memberikan pelayanan secara optimal kepada siapa saja diaturlah hak atas rahasia medis ini dalam beberapa peraturan
tentunya tidak lepas dari wewenang dan standart profesi bidan perundang-undangan di bidang kesehatan.
yang mana bidan sebagai sebagai tenaga profesional yang Hal ini menunjukkan bahwa kerahasiaan dari pasien atau
bertanggungjawab dan akuntabel, bekerja sebagai mitra klien yang telah kita berikan pelayananan kebidanan sangatlah
perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat dilindungi oleh hukum di Indonesia, sehingga bidan haruslah
selama masa hamil, masa persalinan, masa nifas, dan hati-hati dalam memberikan informasi mengenai kondisi
memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dan bayi. Asuhan kesehatan pasien/klien kepada keluarga/suami/orang lain
yang diberikan mencakup upaya promosi atau pencegahan, karena jika pasien kita tidak menerima tindakan kita tersebut
deteksi dini, penanganan medis dan kegawatdaruratan. Dalam maka pasien/klien dapat menuntut kita secara hukum.
memberikan pelayanan tentunya bidan tidak boleh
membedakan golongan pasien dan agama, hal ini sesuai 4. Bidan hanya boleh membuka rahasia pasien / klien apa
dengan kode etik profesi dan sumpah jabatan sebagai bidan. bila diminta untuk keperluan kesaksian pengadilan.
Dasar Hukum :
3. Bahwa tidak akan menceritakan kepada orang lain dan a. Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga
merahasiakan segala yang berhubungan dengan Kesehatan pasal 73 ayat (2) yang berbunyi:
tugasnya. “ Rahasia kesehatan penerima pelayanan kesehatan dapat
Dasar Hukum : dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan penerima
pelayanan kesehatan, pemenuhan permintaan aparatur

penegak hukum bagi kepentingan penegakan hukum, 1. Bahwa bidan pada hakikatnya manusia termasuk klien
permintaan penerima pelayanan kesehatan sendiri, atau membutuhkan penghargaan dan pengakuan hakiki baik
pemenuhan ketentuan perundang-undangan”. dari golongan masyarakat intelektual, menengah maupun
b. Undang-undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang kelompok masyarakat kurang mampu. Oleh karena itu,
Kesehatan pasal 57 ayat (2) yang berbunyi: bidan harus menunjukan sikap yang manusiawi (sabar,
“Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan lemah lembut, dan iklas) dalam memberi pelayanan.
pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku 2. Dilandasi sikap menghargai martabat setiap insan, maka
dalam hal : bidan harus memberi pelayanan professional yang
1) Perintah undang-undang memadai kepada setiap klienya.
2) Perintah pengadilan 3. Professional, artinya memberi pelayanan sesuai dengan
3) Izin yang bersangkutan bidang ilmu yang di miliki dan manusiawi secara penuh,
4) Kepentingan masyarakat atau tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri tetapi
5) Kepentingan orang tersebut mendahulukan kepentingan klien serta menghargai klien
sebagaimana bidan menghargai dirinya sendiri.
Analisa : 4. Bidan memberi pelayanan, harus menjaga citra bidan, arti
Ini menunjukkan, bidan dapat dibenarkan oleh hukum dalam bidan sebagai profesi memiliki nilai-nilai pengabdian yang
membuka rahasia penyakit pasien/klien berdasarkan perintah sangat esensial, yaitu bahwa jasa yang diberikan kepada
undang-undang, perintah pengadilan, mendapatkan izin yang klienya adalah suatu kebajikan social, karena masyarakat
bersangkutan, untuk kepentingan masyarakat atau orang akan merasa dirugikan atas ketidak hadiran bidan.
tersebut. Pada kasus di pengadilan dimana bidan sebagai Pengabdian dan pelayanan bidan adalah dorongan hati
saksi diminta untuk memberikan keterangan mengenai nurani yang tidak mendahulukan balas jasa.
pasien/klien yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan
darinya. Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam
perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai Dasar Hukum :
suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri 1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari 369/MENKES/SKII/2007 tentang standar profesi bidan.
pengetahuannya (Isfandyarie, 2006). Dalam memberikan Analisa :
keterangan, bidan haruslah bersifat tidak memihak, jujur, Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya yang
objektif dan membatasi pendapatnya hanya dalam ruang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaaan yang
lingkup keahliannya. utuh dan memelihara citra bidan didasarkan pada kemampuan
dan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur
B. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya, melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Standar
menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaaan Profesi Bidan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
yang utuh dan memelihara citra bidan. Indonesia Nomor : 369/MENKES/SKII/2007 dimana dijelaskan
bahwa praktik kebidanan adalah implementasi dari ilmu

berencana. tugas dan tanggung jawab sesuai asuhan kebidanan ini. dan keluarga profesi bidan. Selain hal peraturan Menteri Kesehatan. dimana bidan melakukan pencatatan secara lengkap. diharapkan dapat menjadi acuan dan dengan kebutuhan klien. kualifikasi pendidikan bidan. tersebut standar ini dapat digunakan sebagai parameter tingkat Dasar Hukum kualitas dan keberhasilan asuhan yang diberikan bidan dan 1. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan. berbagai definisi dalam pelayanan Penyelenggaraan Praktik Bidan. melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang Analisa : tugasnya. melandaskan kode etik yang telah ditetapkan dalam standar pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Pasal 9 dijelaskan bidan harus menjunjung tinggi harkat dan martabat bahwa bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk kemanusiaaan yang utuh dan memelihara citra bidan dengan memberikan pelayanan yang meliputi : pelayanan kebidanan.kebidanan oleh bidan yang bersifat otonom. Standar berpedoman pada peran. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya. Oleh sebab itu dalam menjunjung tinggi harkat dan Praktik bidan didasarkan pada hukum dan peraturan martabat kemanusiaaan yang utuh dan memelihara citra bidan perundang-undangan yang mengatur dan berkaitan dengan maka seorang bidan harus bekerja secara profesional dalam praktik bidan dan hukum kesehatan yaitu Keputusan Menteri meningkatkan mutu pelayanan profesinya dengan mengikuti Kesehatan Republik Indonesia Nomor : perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan peraturan yang 938/Menkes/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan telah ditetapkan. yaitu dalam menjalankan tugasnya bidan di semua fasilitas pelayanan kesehatan. kebidanan. Dalam menjalankan tugas profesinya. keluarga dan komunitasnya. Standar profesi bidan berisi mengenai latar Nomor 1464/Menkes/PER /X/2010 tentang Izin dan belakang kebidanan. standar praktik kebidanan dan kode etik bidan Republik Indonesia Nomor 1464/Menkes/PER /X/2010 tentang Indonesia. keluarga dan masyarakat. yang mengacu pada beberapa Undang-undang. standar pelayanan kebidanan mandiri berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan kebidanan. ruang Analisa : lingkup kebidanan. standar Dalam hal ini seorang bidan dapat melakukan praktik pendidikan berkelanjutan bagi bidan. tentang Kesehatan . singkat dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan C. dapat memelihara citra bidan di mata masyarakat. dalam memberikan asuhan kebidanan masyarakat ini. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia kode etik bidan. Sehingga dapat senantiasa berpedoman terhadap peran tugas dan tanggung dicapai asuhan kebidanan yang berkualitas dan terstandar dan jawabnya. Undang-undang Republik Indonesia No 36 tahun 2009 merupakan perlindungan hukum bagi Bidan dan Klien/Pasien. kepada perempuan. Pasal 18 butir 2 tertulis bahwa dalam menjalankan praktik 2. akurat. seorang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. didasari etika dan 3. falsafah kebidanan. paradigma kebidanan. dengan Nomor : 938/Menkes/SK/VIII/2007 tentang Standar Asuhan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi Kebidanan. landasan untuk melaksanan tindakan/kegiatan dalam lingkup Pada butir ke tiga dari kewajiban bidan terhadap klien dan tanggung jawab bidan.

(2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud inisiasi menyusu dini. a. f. masa persalinan. Bab III Pasal 9 f. Pelayanan kesehatan ibu. Bab III penyelenggaraan praktik j. dan perawatan tali pusat. Pasal 12 d. d. Pemberian surat keterangan kematian. Pelayanan ante natal pada kehamilan normal. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No h. Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II. anak balita. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas. dan dengan perujukan. promosi air susu ibu eksklusif. Pelayanan ibu menyusui. Pelayanan persalinan normal. termasuk resusitasi. Pemberian uterotonika pada manajemen kala III kesehatan yang setinggi-tingginya aktif dan post partum 2. Pemberian surat keterangan cuti bersalin. Pasal 10 (2) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak (1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang dalam pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra untuk : hamil. Pemantauan tumbuh kembang bayi. Pelayanan konseling pada masa pra hamil. 1464/MENKES/PER/X/2010 i. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan dalam pasal 9 huruf b diberikan pada bayi baru lahir. dengan perujukan. Pelayanan konseling pada masa antara dua d. dan c. b. dan Pasal 9 bidan dalam menjalankan praktik. (0-28 hari). a. Penanganan kegawat daruratan. Pelayanan kesehatan anak. Penanganan kegawat daruratan dilanjutkan e. Episiotomi. Pasal 11 b. Pemberian surat keterangan kelahiran. c. injeksi vitamin K 1. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. pada ayat (1) meliputi : perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal a. dan anak pra sekolah. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan c. e. dan (1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud c. dilanjutkan h. f. mempertahankan dan meningkatkan derajat g. Melakukan asuhan bayi baru lahir normal masa menyusui dan masa antara dua kehamilan. pencegahan hipotermi. Pemberian konseling dan penyuluhan. masa nifas. Pemberian surat keterangan kematian. untuk memberikan pelayanan yang meliputi : a. . anak balita dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk : dan anak pra sekolah. segera merujuk. Pemberian imunisasi rutin sesuai dengan kehamilan. b. kehamilan. Bimbingan pada kelompok ibu hamil. Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan (1) setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan. keluarga berencana bayi. Penyuluhan dan konseling. berwenang k. Pelayanan ibu nifas normal. g. (3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana e. b. program pemerintah.

Memberikan penyuluhan dan konseling natal terintegrasi. Peraturan Perundang-Undangan. bidan yang dapat dilakukan oleh bidan yang dilatih untuk itu. pengembangan kompetensi. bidan memiliki tiga kategori tugas melalui informasi dan edukasi. h. hamil. berwenang untuk : (2) Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat meningkatkan kesehatan bagi dirinya dan keluarganya dengan di bidang kesehatan ibu dan anak. Pemberian alat kontrasepsi suntikan. serta berusaha c. penyimpanan catatan kebidanan dan Tanggung jawab terhadap f. pendampingan terhadap wanita usia subur. dan penyehatan sebagai manusia seutuhnya dan bertanggung jawab Terhadap lingkungan. Melaksanakan deteksi dini. dan memberikan kesehatan masyarakat sesuai dengan perannya yakni bidan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. menular seksual (IMS) termasuk pemberian kondom. Tanggung jawab terhadap anak pra sekolah dan anak sekolah. sebagai pengelola yang mengatur pelayanan dasar kesehatan b. alat Bidan ikut bertanggung jawab dalam meningkatkan derajat kontrasepsi dalam rahim. dengan pedoman yang telah ditetapkan. 1. menjalankan program pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan meliputi : Analisa a. Bidan bekerja sama dengan wanita dalam memelihara dan d. (1) selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) hanya pasal 10.Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi i. pasal 11. Pelayanan kesehatan lain yang merupakan perempuan dan keluarga berencana sebagaiman program pemerintah. Tanggung jawab terhadap e. Olehnya itu kita perlu mengetahui g. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika. wanita bawah supervisi dokter. penanganan bayi dan anak balita kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga sakit. dan pasal 12. dan memberikan penyuluhan terhadap infeksi menular b. Peran Sebagai Pelaksana Psikotropika dan Zat Adikitif lainnya (NAPZA) Sebagai pelaksana. merujuk dan bagaimana peran dan fungsi bidan dalam kesehatan memberikan penyuluhan terhadap infeksi masyarakat (Syaifudin. merujuk dan berencana. dan penyakit lainnya. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom. 2007). nifas dan lansia. seksual (IMS) dan penyakit lainnya. dimaksud dalam pasal 9 huruf c. Asuhan ante natal terintegrasi dengan intervensi dan bekerja sama dengan stakeholder lainnya dalam memberi khusus penyakit kronis tertentu dilakukan di penyuluhan. tugas kolaborasi dan tugas ketergantungan . keluarga yang dilayani. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai mewujudkan individu sehat dengan upaya-upaya preventif. dan yaitu tugas mandiri. serta Pasal 13 pencegahan dan penyalahgunaan Narkotika. anak balita. asuhan ante a. melahirkan. dan pelaksanaan deteksi dini. menyusui. anak usia menghargai martabat manusia dan memperlakukan wanita sekolah dan remaja. Pemantauan tumbuh kembang bayi.

masa nifas periode interval . dan anak merupakan bagian dari keluarga. Oleh 4. Tanggung jawab terhadap pengembangan kompetensi Indonesia No 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan Setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara penyelenggaraan praktik bidan.masa persalinan . kesehatan keluarga. fungsi bidan sebagai pengelola. 2. 3. Tanggung jawab terhadap penyimpanan catatan penyiapan Sumber Daya Manusia karena pelayanan bidan kebidanan meliputi kes wanita selama kurun kesehatan reproduksi Setiap bidan diharuskan mendokumentasikan kegiatan wanita . Selain Pengaturan tenaga kesehatan ditetapkan di dalam itu. terhadap klien dan masyarakat dengan di dasarkan pada undangan yang berlaku. sejak remaja. sebagai pendidik dan fungsi bidan sebagai peneliti. berikut ini 4 tanggung jawab bidan Undang-undang No 36 tahun 2009 tentang tenaga dalam menjalankan tanggung jawabnya kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik 1. masa calon pengantin . Indonesia melalui upaya promotif. Tanggung jawab terhadap keluarga yang dilayani Sebagai pendidik bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai Bidan memiliki kewajiban memberi asuhan kepada ibu pendidik dan penyuluh kesehatan bagi klien serta dan anak yang meminta pertolongan kepadanya. nampak jelas peran kemempuan profesionalnya. seorang bidan harus dapat bertanggung jawab undang-undang dan peraturan pemerintah.catatan pengembangan pelayanan dasar kesehatan dan tugas yang dilakukan bidan dapat digunakan sebagai bahan partisipasi dalam tim. seminar. Catatan bidan mengenai hamil . menjamin kerahasiaan klien dan peraturan atau keputusan Menteri Kesehatan. Bidan erat hubungan nya dgn 2. Selain itu. masa dalam bentuk catatan tertulis. tanggung jawab dalam dengan kegiatan praktik bidan diatur didalam melaksanakan tugasnya. Tanggung Jawab Terhadap Peraturan Perundang- menjalankan tugasnya yang meliputi fungsi bidan sebagai Undangan pelaksana. Tugas dan terhadap profesi yakni berusaha untuk dapat kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan mengembangkan diri. laporan untuk disampaikan. fungsi bidan Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. bidan juga mempunyai fungsi dalam 4.tanggung jawab bidan tidak hanya dalam bidang kesehatan baik secara mandiri maupun pada kesehatan ibu dan anak. tetapi juga menyangkut berkelompok. Ibu pelatih dan pembimbing kader. kegiatan bidan sangat erat kegiatannya Bidan melakukan investigasi atau penelitian terapan dengan keluarga. kuratif dan pendidikan berkelanjutan. preventif . kemauan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap warga negara keterampilannya dengan mengikuti pelatihan. serta pertemuan rehabilitatif sebagai upaya peningkatan sumber daya ilmiah lainnya. Peran Sebagai Peneliti/Investigator karena itu. bila terjadi gugatan terhadap tindakan yang dilakukannya Dalam menjalankan peran tugas dan tanggung jawabnya dapat di tuntut sesuai dengan peraturan Perundang. Peran Sebagai Pendidik 3. yaitu tugas dipertanggungjawabkan bila terjadi gugatan. Oleh karena itu bidan seorang bidan adalah meningkatkan kesadaran . manusia yg berkualitas. Peran Sebagai Pengelola pasien yang dilayaninya dapat Sebagai pengelola bidan memiliki 2 tugas.masa .

adil dan jujur. Alternatif terapi lainnya. dan menghormati nilai-nilai yg dideritanya. melakukan penanganan emergency biasanya bidan melakukan 11.Pasien berhak atas 13. 14. pelayanan yang manusiawi.nifas dan bayinya yang baru atau spirituial. dilahirkan. dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. D. Pasien berhak mendapatka informasi tentang 16. Dari beberapa point diatas. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya sesuai keinginannya. selama dalam perawatan di Rumah Sakit 4. sebagai seorang bidan harus 6. Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan Dalam butir tersebut dijelaskan bahwa Seorang bidan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya. menentukan pendapat kritis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar. Pasien berhak memeperoleh pelayanan kebidanan sesuai agama/kepercayaannya selama hal itu tidak mengganggu dengan profesi bidan tanpa diskriminasi pasien lainnya. Pasien berhak menyetujui/memmberikan ijin atas tindakan kolaborasi dengan dokter obgin dalam melakukan asuhan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan patologis pada pasien. Tidak boleh melakukan asuhan yang sekiranya ditentang oleh masyarakat. Dalam Perkiraan biaya pengobatan. Pasien berhak memperoleh informasi. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril kehamilannya. 3. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas kembang balita serta anak prasekolah . dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang Seorang bidan juga harus menghormati nilai-nilai atau berlaku di RS.persalinan. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang kepentingan klien.sepengetahuan dokter yang merawat.mendahulukan 8. aturan masyarakat. Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas 5. 1. asuhan sesuai kompetinsnya diluar tersebut bisa melakukan 12. Tindakan kebidanan yang dianggap penting karena klien biasanya dalam keadaan dilakukan. Prognosisnya dan emergency dan perlu dilakukan penanganan segera. Pasien berhak didampingi keluarga dalam keadaan kritis. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai 2. terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta Dalam melakukan asuhannya bidan harus menghormati hak perawatan atas tanggungjawab sendiri sesudah klien antara lain : memperolehinformasi yang jelas tentang penyakitnya. Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan kolaborasi dengan spesialis ataupun obgin. Bidan . Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai mampu memberikan asuhan sesuai dengan hak-haknya. Jadi seorang bidan harus melakukan penyakit yang dideritannya. keluarga selama proses persalinan berlangsung. berlaku di masyarakat 9. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya. Pasien berhak memperoleh informasi yang meliputi: menjalankan tugasnya karena kepentingan klien harus Penyakit yang diderita. terdaftar di RS ( second opinian ) terhadap penyakit yang menghormati hak klien. Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau terjadinya kasus malpraktek. Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya 15. harus menjadikan klien sebagai kepentingan utama dalam 10. 17. klimakterium dan menopause serta memantau tumbuh 7.

kesehatan. perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi dan pelayanan kebidanan yang mengacu pada konsep orang tua. memperbolehkan masyarakat melakukan kepercayaan komunitas. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya 2009 setempat. pelayanan kesehatan yang aman. tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh untuk wanita. 2009). Kompetensi ke 5 diharapkan tercapainya taraf kesejahteraan hidup masyarakat Asuhan pada ibu Nifas dan Mnyusui Bidan (Meilani. menjadi orang tua. Kompetensi 2 keluarga yang sehat. masyarakat/ lingkungan. Dalam asuhannya harus memiliki ilmu-ilmu budanya dengan syarat tidak membahayakan pasien atau berkaitan dengan social. Seorang bidan juga harus menghormati etika 1. bayi baru lahir maupun keluarganya Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan Asuhan pada ibu Nifas dan Menyusui Bidan yang juga keterampilan dari ilmu-ilmu sosial. Kompetensi ke 1 berkaitan untuk wanita. memperhatikan tentang etik yang sesuai dengan budaya Dasar Hukum setempat. kesehatan sehat. Kemudian asuhan kita juga a. dan Analisa : terjangkau. paradigma kebidanan dan paradigma sehat sehingga c. kesehatan berkaitan terhadap budaya setempat. kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari Seorang bidan juga dalam memberikan asuhannya harus asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya. Niken dkk. Pasal 5 d. dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan b. Kompetensi ke 8 (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam Kebidanan Komunitas Bidan memberikan asuhan memperoleh akses atas sumber daya di bidang yang bermutu tinggi dan komperhensif pada keluarga. bayi baru lahir dan keluarganya. Dalam asuhan kebidanan komunitas sudah pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya sesuai dengan pelaksanaan pelayanan kebidanan komunitas dan pelayanan menyeluruh dimasyarakat dalam didasarkan pada empat konsep utama dalam pelayanan rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang kebidanan yaitu : manusia. memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui 2. asuhan pada ibu nifas maupun dalam . bermutu. keterampilan khusus dalam melakukan asuhannya baik dalam Pasal 6 pengetahuan. kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya (2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh setempat. kesehatan masyarakat dan harus klien. Dari ke empat point diatas dapat disimpulkan bahwa (3) Setiap orang berhak secara mandiri dan tugas bidan sesuai dengan kode etik kebidanan dimana bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan seorang bidan Seorang harus memiliki keterampilan. Standart profesi bidan : kepmenkes no budaya masing-masing untuk mencegah hal yang tidak 396/MENKES/SKIII/2007 diinginkan dalam asuhannya. perencanaan kehamilan dan kesiapan Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi.

dapat dipertanggungjawabkan. bertanggung jawab. Penderita penyakit yang penyakitnya dapat d. menentukan kehidupan reproduksinya dan (1) Setiap orang berhak menerima atau menolak bebas dari diskriminasi. c. aman. Dalam beberapa isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai pasal tersebut berisi tentang hak-hak seperti Setiap orang dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat Pasal 7 (1) tidak berlaku dalam hal: Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi a. a. menentukan sendiri kapan dan berapa sering (2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud ingin bereproduksi sehat secara medis serta pada ayat (1) tidak berlaku pada: tidak bertentangan dengan norma agama. berhak atas kesehatan selain itu pasien juga berhak Pasal 57 memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. c. Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang (2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. secara lengkap. dalam pasal diatasas bahwa pasien atau klien memiliki hak-hak (3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak dalam memperoleh asuhan kebidanan. memperoleh informasi. Kepentingan masyarakat. b. Perintah undang-undang. bermutu. yang sah. serta bebas dari pengobatan yang telah maupun yang akan paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan diterimanya dari tenaga kesehatan. dan/atau sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang kekerasan yang menghormati nilai-nilai luhur akan diberikan kepadanya setelah menerima dan yang tidak merendahkan martabat manusia memahami informasi mengenai tindakan tersebut sesuai dengan norma agama. atau e. dan terjangkau. Kepentingan orang tersebut. edukasi. dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan b. menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan seksual yang sehat. Izin yang bersangkutan. (1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pelayanan kesehatan yang aman. pribadinya yang telah dikemukakan kepadanya Jadi setiap pasien harus memperoleh penanganan kesehatan yang mudah dijangkau baik dari berbagai kalangan dan selain . Pasal 56 Perlindungan Pasien b. d. setiap orang berhak: Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang a. paksaan. Analisa : atau Sesuai dengan kode etik kebidanan dapat kita lihat c. dan konseling secara cepat menular ke dalam masyarakat mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan yang lebih luas. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri. Bagian Keenam Kesehatan Reproduksi Pasal 8 Pasal 72. Gangguan mental berat. Perintah pengadilan.

Chrisdiono. Permenkes RI No 1464/MENKES/PER/X/2010 Tentang 4. adanya kaitannya dengan kesehatan reproduksi. Bidan juga serta gangguan mental karena seseorang yang dapat berkewajiban untuk melakukan rujukan pada pasien yang melakukan informed consent harus dalam keadaan kompeten. edukasi. tidak dapat ditangani dengan tepat waktu Pasien juga berhak memperoleh kesehatan lingkungan serta d. Sesuai dengan kode etik bidan diatas sudah sangat Dalam ayat lainnya juga disebutkan bahwa Setiap jelas dasar hukum tersebut menjadi dasar dalam orang berhak menerima atau menolak tindakan yang akan melaksanakan praktek/kerja. Memberikan informasi tentang masalah dengan Standar Profesi. 3. Dalam hak-hak tersebut sebagai seorang bidan juga harus sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien kepada tenaga memberikan informasi. dan keinginan klien. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan memproleh edukasi mengenai edukasi yang diberikan oleh Analisa : tenaga kesehatan dalam peningkatan derajat kesehatannya. sebelum melakukan dan dimengerti dengan baik. Norma agama sangat erat kesehatan dengan pasien berasaskan kepercayaan. bidan berkewajiban untuk diberikan salah satunya bisa menggunakan pemberian Menghormati hak pasien. Menghormati hak pasien a. Standar Prosedur Operasional. bukan kewenangannya agar pasien dapat ditangani dengan yaitu pasien dapat merespon tenaga kesehatan dalam tepat waktu. pasien memiliki hak dalam informasi yang jelas kepada pasien sehingga dapat dipahami memperoleh asuhan oleh bidan. Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau terhadap penanganan maupun obat yang akan dikonsumsi. Beberapa penolakan tidak berlaku penanganan sebaiknya bidan memberikan informasi tentang pada tindakan medis yang perlu penanganan segera dan masalah kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan. dan konseling mengenai kesehatan untuk berbuat sesuatu setelah mendapatkan kesehatan reproduksi yang benar sesuai dengan kebutuhan penjelasan atau informasi. keadaan sadar. 2007). dan . Dalam pasal lainnya juga diatur meneganai Kemudian bidan juga harus Meminta persetujuan hak pasien terhadap hak reproduksinya salah satunya dapat tindakan yang akan dilakukan berupa informed consent bebas dari paksaan berkaitan dengan kehidupan seksualnya sebelum melakukan asuhannya sesuai Menurut Faden dan dengan pasangan yang sah dengan reproduksi yang sehat dan Beauchamp informed consent adalah hubungan antara tenaga menghormati norma agama. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan 2014 Tentang Tenaga Kesehatan Pasal 18 BAB IX Hak Dan Kewajiban Tenaga Kesehatan Dalam melaksanakan praktek/kerja. Hal tersebut juga dikenal sah. dan penggunaan bayi tabung atau invitro fertilitation dimana ovum adanya hubungan perjanjian antara tenaga kesehatan dan maupun sperma harus dilakukan oleh kedua pasangan yang pasien (Achadiat. salah satunya hak otonomi atau menentukan nasib atas dirinya sendiri. Standar Pelayanan kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan Profesi. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai b. emergency salah satunya seperti keadaan tidak sadarkan diri sebeulum maupun sesudah asuhannya.itu juga pasien dapat menetukan pelayanan secara mandiri c. bidan berkewajiban Pasal 58 : untuk : (1) Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik wajib: a.

Bidan (1) Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik pada juga harus mengacu pada Standar Profesi. Tenaga Kesehatan lain yang mempunyai keterampilan. 2009). Bidan juga harus pada bencana untuk penyelamatan nyawa dan dengan tanggap memberikan asuhankegawat daruratan sesuai pencegahan kecacatan. Standar Prosedur Operasional. keluarga dan terlebih dahulu. dengan kewenangannya salah satunya melakukan rujukan. dan aman dan bertanggung jawab pada berbagai tatanan tindakan yang dilakukan pelayanan kesehatan. memperoleh persetujuan dari Penerima Analisa : Pelayanan Kesehatan atau keluarganya atas Sebagai seorang bidan dalam menjalankan prakteknya harus tindakan yang akan diberikan berdasarkan kewenangan maupun kompetensinya. dan sikap. dan sikap (Sujianti. merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke suatu kemampuan yang dilandasi oleh pengetahuan. menjaga kerahasiaan kesehatan Penerima bidan adalah kemampuan dan karakteristik yang meliputi Pelayanan Kesehatan pengetahuan. dan etika profesi pertolongan pertama kepada Penerima Pelayanan dalam melakukan asuhannya agar tidak melanggar aturan Kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan/atau yang telah ditetapkan oleh pemerintah. membuat dan menyimpan catatan dan/atau seorang bidan dalam melaksanakan praktek kebidanan secara dokumen tentang pemeriksaan. rumusan suatu kemampuan bidan yang dilandasi oleh Pasal 59 : pengetahuan. (2) Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang menolak Penerima Pelayanan E. keterampilan. kompetensi c. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa Kesehatan dan/atau dilarang meminta uang muka mendahulukan kepentingan klien. Standar kompetensi bidan adalah Kompetensi dan kewenangan yang sesuai. menyelenggarakan pelayanan kesehatan. masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan Pasal 62 : kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. keterampilan dan prilaku yang harus dimiliki oleh d. Tentang tenaga kesehatan (2) Jenis Tenaga Kesehatan tertentu yang memiliki lebih dari satu jenjang pendidikan memiliki kewenangan Pasal 23 profesi sesuai dengan lingkup dan tingkat (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk Kompetensi. Standar Pelayanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib memberikan Profesi. . (1) Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik harus Dasar Hukum dilakukan sesuai dengan kewenangan yang 1. asuhan. etika profesi serta kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan b. Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 didasarkan pada Kompetensi yang dimilikinya. Standar kompetensi adalah rumusan e. mengutamakan kepentingan yang bernilai materi. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan profesi (4) Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang Peraturan Menteri.

wajib memberikan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan terwujud derajat kesehatan masyarakat yang pencegahan kecacatan terlebih dahulu. artinya bidan harus secara sosial dan ekonomis. pelayanan yang diskriminatif. Analisa Bab 1 Ketentuan Umum Bidan selalu mengutamakan pelayanan kesehatan untuk (11) Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau kepentingan masyarakat menjadi semakin baik dan jaminan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara kesehatan yang ada tidak menimbulkan masalah terutama bagi terpadu. memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat banyak mengeluhkan adanya pungutan uang. Seharusnya jika memperhatikan masyarakat. mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat. 36 Tahun 2009 Peran serta masyarakat adalah proses dimana individu. dunia usaha dan Pasal 1 masyarakat luas pada umumnya : . Dasar Hukum Undang – Undang No. peraturan yang ada. administrasi yang berbelit. mampu menilai situasi saat ia menghadapi kliennya. bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. pelayan kesehatan selama memberikan Pasal 3 pelayanan tidak diperkenankan mengutamakan kepentingan Bab II Asas dan Tujuan yang bernilai materi. sebagai investasi bagi Dalam hal ini kepentingan klien berada di atas pembangunan sumber daya manusia yang produktif kepentingan sendiri maupun kelompok. kemauan. Dasar Hukum Analisa 1. Pasal 23 Undang-Undang Kesehatan Pembangunan kesehatan bertujuan untuk dinyatakan bahwa dalam keadaan darurat. Dengan demikian bidan haruslah memberikan asuhan Pasal 46 Bab VI Upaya Kesehatan atau pelayanan kepada kliennya pada saat klien tersebut Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi- membutuhkan asuhan atau pelayanan walaupun pada saat itu tingginya bagi masyarakat. Utamakan pelayanan yang dibutuhkan klien dan tidak boleh ditinggalkan begitu saja. setinggi-tingginya. masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit. tenaga peningkatan kesehatan. diselenggarakan upaya seorang bidan mempunyai kepentingan lain seperti kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam kepentingan keluarga. dan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. pengobatan penyakit. dan medis yang tidak humanis dan fasilitas pelayanan kesehatan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau yang tidak memadai. Setiap Bidan Senantiasa Menciptakan Suasana yang Serasi Pasal 53 dalam Hubungan Pelaksanaan Tugasnya dengan (2) Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk Mendorong Partisipasi Masyarakat Untuk Meningkatkan memelihara dan meningkatkan kesehatan serta Derajat Kesehatannya secara Optimal. terintegrasi dan berkesinambungan untuk masyarakat miskin atau masyarakat yang tidak mampu. fasilitas pelayanan meningkatkan kesadaran. lembaga swadaya masyarakat. F. Tentang Kesehatan keluarga.

Dorongan masyarakat untuk mengenali potensi kesejahteraan dirinya sendiri. mengenal.a. dibidang kesehatan yang dilandasi dengan semangat a. 1997). Manusia didorong agar . anak. dan Kesediaan juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan kebutuhan yang dirasakan masyarakat. tersedia yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung b. Manfaat kegiatan yang dilakukan gotong royong (Depkes RI. kehidupannya yang sehat dalam rangka meningkatkan c. anak dan keluarga Jika dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat berencana. keluarga berencana d. Mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam kesehatan masyarakat (Melani N. Adanya kesempatan mereka sendiri. dan swadaya masyarakat dalam rangka menolong b. 1997). Untuk mencapai Rasa memiliki sesuatuu akan tumbuh jika sejak awal tujuan tersebut berbagai upaya dilakukan oleh bidan kegiatan masyarakat sudah diikutsertakan jika rasa seperti : memiliki ini bisa ditumbuhkembangkan dengan baik maka 1. Peningkatan dan kesadaran serta kemauan yang disegani ikut serta maka mereka akan tertarik pula masyarakat alam pemeliharaan. perbaikan dan berperan serta (Depkes RI. Mengambil tanggung jawab atas kesehatan dan 3. Jika kegiatan yang dilakukan memberikan manfaat yang Peran serta masyarakat adalah serangkaian kegiatan nyata dan jelas bagi masyarakat maka kesediaan masyarakat yang dilakukan berdasarkan gotong royong masyarakat untuk berperan serta menjadi lebih besar. keluarga dan masyarakat. anak dan keluarga berencana. melihat bahwa tokoh masyarakat atau pemimpin kader 2. 2009) upaya peningkatan kesehatan mereka sendiri Selain itu juga tujuan peran serta masyarakat adalah danmasyarakat sehingga termotivasi untuk memecahkan tujuan program peran serta masyarakat yang masalah kesehatan yang dialami meningkatkan peran dan kemandirian serta kerjasama c. Rasa memiliki menuju keluarga sehat dan sejahtera. faktor yang mempengaruhi peran serta memimpin dalam perkembangan kegiatan masyarakat masyarakat. Jika yang dilaksanakan membutuhkan ketrampilan Tujuan pembinaan peran serta masyarakat yang tertentu dan orang mempunyai ketrampilan sesuaidengan dilakukan bidan adalah terwujudnya upaya yang ketrampilan tersebut maka orang tertarik untuk berperan dilakukan oleh masyarakat secara terorganisasi untuk serta meningkatkan kesehatan ibu. memecahkan masalah. Menjadi perintis pembangunan kesehatan. peningkatan keluaga terutama kesehatan ibu. Peningktan peran pemimpin dimasyarakat untuk peran serta akan dapat dilestarikan mendorong dan mengarahkan masyarakat dalam e. Pembinaan peran serta masyarakat pada umumnya merupakan ekologi manusia. dan dengan lembaga. Memiliki keterampilan mutu hidup dan kesejahteraan masyarakat. baik dalam atau ajakan untuk berperan serta dan masyarakat melihat bidang kesehatan maupun dalam bidang yang berkaitan memang ada hal-hal yang berguna dalam kegiatan yang dengan kesehatan agar mampu memelihara akan dilakukan. Factor tokoh masyarakat setiap upaya kesehatan ibu.

preventif. seorang bidan dapat untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan dijatuhi sanksi oleh pemerintah apabila perbuatannya tersebut upaya kesehatan. melanggar hal-hal yang diatur oleh hukum. peningkatan kesehatan. khususnya bidan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk masyarakat harus lebih berhati-hati dalam memberikan pelayanan hidup produktif secara sosial dan ekonomis. pengobatan penyakit. kesehatan yang baik kepada masyarakat. Karena dengan adanya 2) Pasal 1 Ayat 6 berbagai peraturan tersebut. berlaku yang meliputi upaya promotif. keluarga dan masyarakat di masyarakat melalui dialog untuk mendapatkan 3. Melaksanakan kegiatan kesehatan keluarga untuk rehabilitatif masyarakat melalui kader yang telah terlatih (Depkes RI. Hal ini berarti apabila dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau dalam memberikan pelayanan kesehatan atau dalam rangka keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang menjalankan profesinya sebagai bidan. terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit. keluarga dan masyarakat sesuai dengan tugas dan mengenali dan menggerakkan sumber daya yang kewenangannya sebagai Bidan sesuai dengan peraturan yang dimilikinya. KEWAJIBAN BIDAN TERHADAP TUGASNYA . Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal Bidan memberikan pelayanan paripurna atau komprehensif dan memecahkan masalah kesehatan keluarga dengan kepada klien. Melaksanakan penggalangan. baik secara fisik.1 Setiap bidan senantiasa memberi pelayanan paripurna upaya kesehatan keluarga di masyarakar. Ayat 1 khusus mengatur kesehatan .1 Landasan Hukum dukungan. 3) Pasal 1 Ayat 11 Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu. berupaya mengambangkan kemampuan menjadi pelaku 3. maka para tenaga kesehatan Kesehatan adalah keadaan sehat. kuratif. Secara garis besar terhadap klien. Kesehatan pada Bab I Ketentuan Umum menyatakan bahwa: Dengan dikeluarkannya berbagai peraturan yang secara 1) Pasal 1.1. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang 1997). dan ANALISIS KODE ETIK KEBIDANAN pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. mental. dan c. maka tindakan bidan tidak hanya berkaitan dengan etika yang berasal dari profesi saja akan tetapi Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri saat ini tindakan bidan memiliki aspek hukum. pemimpin dan organisasi kebutuhan klien. keluarga dan masyarakat sesuai dengan langkah mengembangkan peran serta adalah : kemampuan profesi yg dimilikinya berdasarkan pada a. b.

7) Pasal 1 Ayat 15 5) Pasal 8 Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. 1) Pasal 4 1) Pasal 2 Setiap orang berhak atas kesehatan. Persalinan. 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil. Hal ini telah Mendapatkan pelayanan yang paripurna dan komprehensif diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun merupakan hak pasien. yang menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit. serta Pelayanan Kesehatan Seksual bertujuan untuk: . sebagaimana dinyatakan dalam Undang. Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau (2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh serangkaian kegiatan pelayanan 12kesehatan yang lebih pelayanan kesehatan yang aman. terjangkau. Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi. 5) Pasal 1 Ayat 13 (3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan diperlukan bagi dirinya. dan Masa Sesudah Melahirkan. tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. atau pengendalian kecacatan Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam 4) Pasal 1 Ayat 12 memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. pengurangan penderitaan akibat 4) Pasal 7 penyakit. Persalinan. dan mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan. Hak Dan Kewajiban Bagian Kesatu tentang Hak menyatakan Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi. 3) Pasal 6 6) Pasal 1 Ayat 14 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau pencapaian derajat kesehatan. bermutu. anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan Pelayanan yang paripurna dapat diartikan bahwa dalam masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan memberikan pelayanannya Bidan memberikan asuhan kebidanan kemampuannya. Masa 2) Pasal 5 Hamil. Pengaturan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil. Dan Masa Sesudah Melahirkan. pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit. Serta Pelayanan bahwa: Kesehatan Seksual. Masa Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada Bab III Hamil. pengendalian penyakit.

pemeriksaan status anemia. c. (2) Pemeriksaan status gizi sebagaimana dimaksud pada ayat Persalinan. dan dilaksanakan secara menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. menjamin kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan b. hak reproduksi. c. (2) Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada: b. c. Masa Hamil. serta Pelayanan (1) Pemeriksaan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Kesehatan Seksual diselenggarakan dengan pendekatan ayat (3) huruf a paling sedikit meliputi: promotif. 3) Pasal 5 5) Pasal 7 (1) Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil dilakukan Pemeriksaan penunjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal untuk mempersiapkan perempuan dalam menjalani 5 ayat (3) huruf b merupakan pelayanan kesehatan yang kehamilan dan persalinan yang sehat dan selamat serta dilakukan berdasarkan indikasi medis. konsultasi kesehatan. remaja. . preventif. pemberian imunisasi. pengetahuan dan teknologi. a. pelayanan kesehatan lainnya. kuratif. a. pemeriksaan penyakit menular seksual. dan/atau generasi yang sehat dan berkualitas. pasangan usia subur. menjamin tercapainya kualitas hidup dan pemenuhan hak. dan bermanfaat sesuai dengan perkembangan ilmu d. calon pengantin. mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang bermutu. dan b. pemeriksaan tanda vital. a. serta Pelayanan a. pemeriksaan darah yang dianjurkan. dan 2) Pasal 4 f. d. dan rehabilitatif yang a. (2) Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil. dan Masa Sesudah Melahirkan. menanggulangi masalah Kurang Energi Kronis (KEK). pemeriksaan status gizi. mengurangi angka kesakitan dan angka kematian ibu dan (3) Kegiatan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil bayi baru lahir. Persalinan. Kesehatan Seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan dilakukan sesuai standar. aman. Masa Hamil. a. dan Masa Sesudah Melahirkan. pemeriksaan darah rutin. e. b. (1) Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil. b. pemeriksaan penunjang. b. 4) Pasal 6 Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi. (1) huruf b harus dilakukan terutama untuk: Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: c. suplementasi gizi. pemeriksaan fisik. terdiri atas: memperoleh bayi yang sehat.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). penyakit menular termasuk HIV dan AIDS. 9) Pasal 11 (5) Ketentuan mengenai Pemberian imunisasi tetanus toxoid sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai (1) Materi pemberian komunikasi informasi dan edukasi dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. perlindungan terhadap penyakit Tetanus. dan petugas lain yang terlatih. informasi. toxoid dapat dilakukan saat yang bersangkutan menjadi calon pengantin. 8) Pasal 10 f. kader terlatih. dan edukasi. informasi. 7) Pasal 9 (2) Materi pemberian komunikasi. 5 ayat (3) huruf e berupa pemberian komunikasi. (3) Status T5 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan (4) Komunikasi. a. kesehatan reproduksi. tumbuh kembang Anak Usia Sekolah dan Remaja. informasi. pemeriksaan urin rutin. dan edukasi. informasi. imunisasi. guru dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mencapai status bimbingan dan konseling. kesehatan jiwa dan NAPZA. dan edukasi sebagaimana agar wanita usia subur memiliki kekebalan penuh. tambah darah. (3) Tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) sebagaimana (2) meliputi guru usaha kesehatan sekolah. kelompok diskusi terarah. g. dalam bentuk pemberian edukasi gizi seimbang dan tablet d. e. pemberian imunisasi tetanus komunikasi. dan pemberian imunisasi dasar dan lanjutan sebagaimana diskusi interaktif dengan menggunakan sarana dan media dimaksud pada ayat (2). dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan melalui (4) Dalam hal status imunisasi belum mencapai status T5 saat ceramah tanya jawab. informasi. d. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dilakukan sesuai tahap perkembangan mental dan kebutuhan. (2) Pemberian suplementasi gizi untuk pencegahan anemia b. gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan c. pemeriksaan penunjang lainnya. . dan edukasi sebagaimana (1) Pemberian imunisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan oleh tenaga 5 ayat (3) huruf c dilakukan dalam upaya pencegahan dan kesehatan dan tenaga nonkesehatan. gizi. dan edukasi (1) Pemberian suplementasi gizi sebagaimana dimaksud untuk remaja meliputi : dalam Pasal 5 ayat (3) huruf d bertujuan untuk pencegahan anemia gizi. konselor sebaya. 6) Pasal 8 (2) Komunikasi. dan (1) Konsultasi kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal e. T5 hasil pemberian imunisasi dasar dan lanjutan.

b. persalinan dan kesiagaan bila terjadi 10) Pasal 12 penyulit/komplikasi. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS). penyakit dan penyulit/komplikasi pranikah. cerdas. informasi lain yang diperlukan. pemberian pelayanan dan konseling kesehatan 1. kesehatan. penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat (4) Persiapan pranikah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) waktu bila diperlukan. c. 1 (Satu) kali pada trimester pertama. 4. dan dilakukan: melahirkan bayi yang sehat dan berkualitas. melibatkan ibu hamil. bersalin dengan selamat. dan hingga sebelum mulainya proses persalinan c. h. dan menjaga kesehatan menjaga kesehatan dan gizi ibu hamil. persiapan yang perlu dilakukan dalam persiapan b. dan huruf a angka 3 antara lain persiapan fisik. suami. perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk dalam pernikahan termasuk peran laki-laki dalam melakukan rujukan jika terjadi penyulit/komplikasi. informasi tentang keadilan dan kesetaraan gender d. hak reproduksi. menyiapkan organ reproduksi. 2 (Dua) kali pada trimester ketiga . (3) Materi pemberian komunikasi. (2) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sejak terjadinya masa konsepsi b. 1 (Satu) kali pada trimester kedua. informasi. f. pada ayat (1) wajib dilakukan melalui pelayanan antenatal terpadu. persiapan gizi. dan kehamilan. informasi pranikah meliputi: a. deteksi dini masalah. dan keluarganya dalam status imunisasi Tetanus Toxoid. a. (1) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil bertujuan untuk 11) Pasal 13 memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan (1) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil dilakukan sekurang- kesehatan yang berkualitas sehingga mampu menjalani kurangnya 4 (empat) kali selama masa kehamilan yang kehamilan dengan sehat.dan (3) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil sebagaimana dimaksud i. berlangsung sehat dan janinnya lahir sehat dan 2. penyiapan persalinan yang bersih dan aman. 3. dan edukasi untuk calon pengantin dan pasangan usia subur (4) Pelayanan antenatal terpadu sebagaimana dimaksud pada (prakonsepsi) meliputi : ayat (3) merupakan pelayanan kesehatan komprehensif dan berkualitas yang dilakukan melalui: a. kesehatan intelegensia. e. kesehatan reproduksi dan pendekatan siklus termasuk stimulasi dan gizi agar kehamilan hidup.

konseling. dan 12) Pasal 14 c. pemeriksaan tinggi fundus uteri. (2) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil sebagaimana dimaksud (3) Pelayanan kesehatan bagi ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga kesehatan yang pada ayat (2) dilakukan dengan ketentuan waktu memiliki kompetensi dan kewenangan. pencegahan infeksi. pemeriksaan meliputi: (3) Pelayanan Kesehatan Masa Hamil sebagaimana dimaksud a. b. pemeriksaan jalan lahir. ketentuan peraturan perundang-undangan. pemeriksaan lokhia dan perdarahan. dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan. d. dalam buku KIA. sesuai dengan standar Asuhan Persalinan Normal (APN). pelayanan kesehatan bagi ibu. c. (3) Persalinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan f. penanganan risiko tinggi dan komplikasi pada nifas. (2) Pelayanan kesehatan bagi ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit 3 (tiga) kali selama masa nifas. respirasi dan suhu. pencatatan (rekam medis) asuhan persalinan. membuat keputusan klinik. a. dan e. (2) Persalinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan (4) Kegiatan Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana kepada ibu bersalin dalam bentuk 5 (lima) aspek dasar dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi: meliputi: a. 13) Pasal 15 h. pelayanan kontrasepsi pascapersalinan. 1 (Satu) kali pada periode 4 (empat) hari sampai (4) Ketentuan mengenai buku KIA dilakukan sesuai dengan dengan 28 (dua puluh delapan) hari pascapersalinan. asuhan sayang ibu dan sayang bayi. 14) Pasal 16 . pascapersalinan. b. nadi. pelayanan kesehatan bayi baru lahir. 1 (Satu) kali pada periode 6 (enam) jam sampai pada ayat (1) harus dilakukan sesuai standar dan dicatat dengan 3 (tiga) hari pascapersalinan. dan (5) Pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir sebagaimana b. g. Eksklusif. 1 (Satu) kali pada periode 29 (dua puluh sembilan) (1) Persalinan harus dilakukan di fasilitas pelayanan hari sampai dengan 42 (empat puluh dua) hari kesehatan. b. pemberian kapsul vitamin A. c. rujukan pada kasus komplikasi ibu dan bayi baru lahir. pemeriksaan tekanan darah. dan (1) Pelayanan Kesehatan Masa Sesudah Melahirkan meliputi: i. pemeriksaan payudara dan anjuran pemberian ASI e. a. d.

serius. (4) Kegagalan kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat 17) Pasal 20 (1) merupakan kejadian kehamilan pada akseptor KB aktif yang pada saat tersebut menggunakan metode kontrasepsi. sesuai indikasi. (1) Pergerakan pelayanan kontrasepsi sebagaimana (2) Efek samping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf a dilakukan merupakan efek yang tidak diinginkan akibat penggunaan sebelum pelayanan sampai pasangan usia subur siap alat kontrasepsi tetapi tidak menimbulkan akibat yang untuk memilih metode kontrasepsi. tidak mempengaruhi produksi Air Susu Ibu. a. pemberian atau pemasangan kontrasepsi. 18) Pasal 21 b. penanganan terhadap efek samping. (2) Pelayanan kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat (1) dilaksanakan melalui pemilihan metode kontrasepsi dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan atau tempat sesuai pilihan pasangan suami istri. pelayanan sesuai standar. (1) Pelayanan kontrasepsi pascapersalinan sebagaimana (1) Pemberian atau pemasangan kontrasepsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4) huruf g bertujuan untuk dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf b harus didahului menjaga jarak kehamilan berikutnya atau membatasi oleh konseling dan persetujuan tindakan medik (Informed jumlah anak yang dilaksanakan dalam masa nifas Consent). dapat berupa konseling. dan edukasi tentang metode (1) Penyelenggaan Pelayanan Kontrasepsi dilakukan dengan kontrasepsi. dan Pasal 18 ayat (2) huruf c dilakukan oleh tenaga kesehatan kegagalan kontrasepsi. dan kegagalan kontrasepsi sebagaimana dimaksud dalam c. dan pelayanan lain. informasi. (3) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa 15) Pasal 18 komunikasi. cara yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi agama. etika. dilakukan secara lengkap dan cukup sehingga pasien (2) Pelayanan kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat dapat memutuskan untuk memilih metoda kontrasepsi (1) meliputi: yang akan digunakan (informed choise). komplikasi. serta segi kesehatan. dan (1) Penanganan terhadap efek samping. perundang-undangan. komplikasi. pergerakan pelayanan kontrasepsi. . 16) Pasal 19 dan/atau rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan. (2) Penggerakan pelayanan kontrasepsi sebagaimana (3) Komplikasi kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara (1) merupakan gangguan kesehatan ringan sampai berat berkesinambungan oleh tenaga kesehatan dan tenaga bagi klien yang terjadi akibat proses nonkesehatanan sesuai dengan ketentuan peraturan pemberian/pemasangan metode kontrasepsi. (4) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus norma budaya.

robek atau diangkat terlalu cepat. (6) Dalam hal pasangan suami istri memilih metode kontrasepsi jangka pendek berupa pil sebagaimana b. dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi suntik. tenaga kesehatan harus lain. . memberikan konseling kepada ibu dan pasangannya untuk (4) Metode kontrasepsi jangka panjang sebagaimana mencegah dampak psikologis dari kehamilan yang tidak dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi Alat Kontrasepsi diinginkan. AKDR ekspulsi. menjarangkan kehamilan pada pasangan suami istri dimaksud pada ayat (2). (1) Metode kontrasepsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal (2) Pelayanan kontrasepsi darurat pada ibu yang tidak 22 dapat berupa: terlindungi kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada ayat a. (5) Dalam hal terjadi kegagalan kontrasepsi sebagaimana (2) dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas dimaksud pada ayat (4). berupa pil dan kondom sebagaimana dimaksud pada ayat e. (1) Kontrasepsi darurat diberikan kepada ibu tidak terlindungi kontrasepsi atau korban perkosaan untuk mencegah 20) Pasal 23 kehamilan. anak. kondisi kesehatan. diafragma pecah. dan Metode Operasi (1) Pilihan metode kontrasepsi yang dilakukan oleh pasangan Wanita (MOW) harus dilaksanakan sesuai standar di suami istri harus mempertimbangkan usia. a. tidak menginginkan kehamilan pada pasangan suami istri yang berusia lebih dari 35 (tiga puluh lima) tahun. metode kontrasepsi jangka pendek. pemberian pelayanan untuk yang berusia antara 20 (dua puluh) sampai 35 (tiga pertama kalinya harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. paritas. Metode Operasi Pria (MOP). pil. dan c. vagina atau pada genitalia externa) (3) Pemberian pelayanan metode kontrasepsi jangka pendek d. dan norma agama. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit atau 19) Pasal 22 implan. kondom bocor. atau 21) Pasal 24 c. lepas atau salah menggunakannya. dan (1) meliputi: b. menunda kehamilan pada pasangan muda atau ibu yang belum berusia 20 (dua puluh) tahun. (2) Metode kontrasepsi jangka pendek sebagaimana b. Dalam Rahim (AKDR). puluh lima) tahun. jumlah fasilitas pelayanan kesehatan. salah hitung masa subur. metode kontrasepsi jangka panjang a. (5) Pemberian pelayanan Metode kontrasepsi jangka pendek (2) Pilihan metode kontrasepsi sebagaimana dimaksud pada berupa suntik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (1) mengikuti metode kontrasepsi rasional sesuai metode kontrasepsi jangka panjang sebagaimana dengan fase yang dihadapi pasangan suami istri meliputi : dimaksud pada ayat (4) harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. kegagalan senggama terputus (misal : ejakulasi di kondom.

pelayanan kesehatan peduli remaja. termasuk c. (2) Pelayanan Kesehatan Seksual sebagaimana dimaksud c. dan edukasi. b. informasi. mampu mengatur kehamilan. dan 24) Pasal 28 e. lupa minum pil KB lebih dari 2 tablet. dan sesuai standar. rasa (4) Dalam hal Pelayanan Kesehatan Seksual terintegrasi takut. dan program promosi kesehatan lainnya. terbebas dari disfungsi dan gangguan orientasi HIV dan AIDS dan kemungkinan menderita kemandulan seksual. pelayanan kesehatan reproduksi dan pelayanan (3) Pemberian kontrasepsi darurat sebagaimana dimaksud kontrasepsi. d. tiga bulanan b. abstinen secara suka rela. dan pada ayat (1) diutamakan pada: h. paksaan dan diskriminasi. keterampilan sosial. (1) Pelayanan Kesehatan Seksual yang dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dilakukan 23) Pasal 27 dalam bentuk: (1) Pelayanan Kesehatan Seksual dilakukan pada fasilitas a. pelayanan antenatal. terbebas dari infeksi menular seksual. promosi kesehatan bagi remaja dan dewasa menikmati hubungan seksual secara sehat. 22) Pasal 26 (3) Pelayanan Kesehatan Seksual yang terintegrasi pada (1) Pelayanan Kesehatan Seksual diberikan agar setiap program promosi kesehatan lainnya sebagaimana perempuan menjalani kehidupan seksual dengan dimaksud pada ayat (1) antara lain pada iklan layanan pasangan yang sah yang memungkinkan pasangan dapat masyarakat. f. terbebas dari kekerasan fisik dan mental. konseling. komunikasi. diharapkan remaja meliputi kehidupan seksual yang: dan dewasa muda mengerti tentang keadaan seksualnya a. melalui perilaku seksual yang bertanggungjawab. pelayanan kesehatan tingkat pertama dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjutan. pelayanan kesehatan pada infeksi menular seksual. dengan promosi kesehatan bagi remaja dan dewasa muda (2) Kesehatan seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagaimana dimaksud pada ayat (4). pada ayat (1) dapat terintegrasi dengan pelayanan d. pada ayat (1) harus dilakukan oleh tenaga kesehatan c. malu dan rasa bersalah. sesuai dengan etika dan moralitas. tanpa muda. pengobatan. d. sehingga dapat melindungi dirinya dari kehamilan yang tidak diinginkan. (3) . IMS termasuk b. terlambat lebih dari 2 minggu untuk suntik KB yang a. terbebas dari kekerasan. aman. terlambat lebih dari 1 minggu untuk suntik KB yang pelayanan kesehatan lainnya sebagaimana dimaksud setiap bulan. dan kesehatan atau program promosi kesehatan lainnya. Pelayanan Kesehatan Seksual yang terintegrasi pada g. aborsi yang tidak aman.

e. perawatan. c. Pencatatan dan pelaporan kematian ibu (surveilans
(2) Keterampilan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kematian ibu).
huruf a dilakukan dalam bentuk pendidikan keterampilan (3) Pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan ibu
hidup sehat (life skill education) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan secara
(3) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berjenjang.
dilaksanakan dengan pemberian informasi tentang perilaku 27) Pasal 31
penyimpangan seksual atau gangguan seksualitas dan (1) Surveilans Kesehatan Ibu dan Anak merupakan kegiatan
pengaruhnya terhadap kesehatan. pengamatan yang sistematis dan terus menerus terhadap
25) Pasal 29 data dan informasi tentang kejadian atau masalah
(1) Pelayanan seksual dalam bentuk keterampilan sosial, kesehatan ibu dan anak dan kondisi yang mempengaruhi
komunikasi, informasi, dan edukasi, serta konseling terjadinya peningkatan cakupan atau mutu pelayanan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) huruf a, kesehatan ibu dan anak untuk memperoleh dan
huruf b, dan huruf c merupakan pelayanan seksual dasar memberikan informasi guna menyelenggarakan pelayanan
yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. kesehatan ibu dan anak secara efektif dan efisien.

(2) Pelayanan kesehatan dalam bentuk pengobatan dan (2) Surveilans Kesehatan Ibu dan Anak sebagaimana
perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dimaksud pada ayat (1) meliputi
dan huruf e hanya dilakukan oleh dokter terlatih. a. pencatatan dan pelaporan;
(3) Dalam hal terdapat kasus kesehatan seksual yang berat, b. pemantauan wilayah setempat; dan
dokter terlatih sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus c. audit maternal perinatal;
melakukan rujukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. d. respon tindak lanjut
26) Pasal 30 28) Pasal 32
(1) Setiap fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka Pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud dalam
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu harus Pasal 31 ayat (2) huruf a meliputi:
melakukan Pencatatan dan Pelaporan sesuai dengan a. pelayanan kesehatan ibu dan anak;
mekanisme yang berlaku.
b. kelahiran bayi;
(2) Pencatatan dan Pelaporan pelayanan kesehatan ibu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: c. kesakitan ibu dan anak; dan

a. pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan kesehatan d. kematian ibu dan anak.
ibu; dan 29) Pasal 33
b. pencatatan dan pelaporan kesakitan ibu

(1) Pemantauan wilayah setempat sebagaimana dimaksud 31) Pasal 40
dalam Pasal 31 ayat (2) huruf b dilakukan melalui kegiatan Setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan
mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan Pelayanan Kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil,
menginterprestasi data serta menyebarluaskan informasi persalinan, dan masa sesudah melahirkan, penyelenggaraan
ke penyelenggara program dan pihak terkait untuk tindak pelayanan kontrasepsi, dan pelayanan kesehatan seksual
lanjut. sesuai dengan standar.
(2) Pemantauan wilayah setempat sebagaimana dimaksud 32) Pasal 41
pada ayat (1) meliputi kegiatan mengumpulkan, mengolah,
menganalisis dan menginterprestasi data serta (1) Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama wajib
menyebarluaskan informasi ke penyelenggara program mampu melakukan upaya promotif, preventif, stabilisasi
dan instansi terkait untuk tindak lanjut. kasus dan merujuk kasus yang memerlukan rujukan.
30) Pasal 38 (2) Merujuk kasus yang memerlukan rujukan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dalam kondisi stabil dan
(1) Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu merupakan tepat waktu.
kegiatan pelayanan kesehatan yang mengintegrasikan
semua pelayanan kesehatan dalam lingkup kesehatan (3) Rujukan sebagaimana pada ayat (1) dilakukan sesuai
reproduksi yang meliputi kesehatan ibu dan anak, keluarga dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
berencana, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan (4) Merujuk kasus yang memerlukan rujukan sebagaimana
penanggulangan infeksi menular seksual termasuk dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui
penanggulangan HIV dan AIDS, dan pelayanan kesehatan Puskesmas PONED dan/atau langsung ke fasilitas
reproduksi lainnya. pelayanan tingkat lanjutan.
(2) Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu sebagaimana 33) Pasal 42
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
kebutuhan pada tiap tahapan siklus kehidupan yang (1) Sumber daya manusia dalam pelayanan Kesehatan masa
dimulai dari tahap konsepsi, bayi dan anak, remaja, usia sebelum hamil, masa hamil, persalinan, dan masa
subur dan usia lanjut. sesudah melahirkan, dan penyelenggaraan pelayanan
kontrasepsi, meliputi tenaga kesehatan dan tenaga
(3) Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu sebagaimana nonkesehatan.
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama. (2) Sumber daya manusia dalam pelayanan kesehatan
seksual harus tenaga kesehatan.
(4) Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk meningkatkan (3) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
akses dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi dan ayat (2) merupakan tenaga yang mempunyai
melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilatif. kompetensi dan kewenangan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

(4) Dalam hal suatu daerah tidak terdapat tenaga kesehatan (1) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin
yang memiliki kompetensi dan kewenangan sebagaimana ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan
dimaksud pada ayat (3), tenaga kesehatan lain yang perbekalan kesehatan dalam penyelenggaraan pelayanan
terlatih dapat menerima penugasan. kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, persalinan,
(5) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan masa sesudah melahirkan, penyelenggaraan
dilakukan oleh kepala dinas kesehatan setempat setelah pelayanan kontrasepsi, dan pelayanan kesehatan
memperoleh pertimbangan dari organisasi profesi terkait. seksual.

34) Pasal 43 (2) Obat dan perbekalan kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) memenuhi persyaratan keamanan, khasiat,
(1) Tenaga nonkesehatan yang memberikan pelayanan dan mutu.
kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, persalinan,
dan masa sesudah melahirkan, dan penyelenggaraan (3) Perbekalan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
pelayanan kontrasepsi, merupakan tenaga yang terlatih. (2) merupakan semua bahan dan peralatan medik yang
diperlukan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan
(2) Pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, masa sebelum hamil, masa hamil, persalinan, dan masa
persalinan, dan masa sesudah melahirkan, dan sesudah melahirkan, penyelenggaraan pelayanan
penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi, yang diberikan kontrasepsi, dan pelayanan kesehatan seksual.
oleh tenaga nonkesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) hanya berupa pelayanan promotif dan preventif. (4) Peralatan medik sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
harus dalam keadaan siap pakai dan dengan
35) Pasal 44 memperhatian keselamatan dan keamanan pasien (patient
(1) Selain memberikan Pelayanan Kesehatan masa sebelum safety).
hamil, masa hamil, persalinan, dan masa sesudah 37) Pasal 46
melahirkan, penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi, dan
pelayanan kesehatan seksual, tenaga kesehatan (1) Dalam rangka membantu mempercepat pencapaian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 harus melakukan derajat kesehatan ibu yang optimal diperlukan peran serta
penanganan komplikasi meliputi komplikasi: masyarakat baik secara perseorangan maupun
terorganisasi.
a. obstetri;
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
b. penyakit menular dan penyakit tidak menular; dan (1) dapat berupa :
c. masalah gizi. a. program perencanaan persalinan dan pencegahan
(2) Penanganan komplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat komplikasi;
(1) dilakukan sesuai standar. b. penyelenggaraan kelas ibu hamil;
36) Pasal 45 c. kemitraan bidan dan dukun; dan

41) Pasal 50 e. (1) berupa: (2) Kemitraan antara bidan dan dukun sebagaimana dimaksud a. pengenalan tanda bahaya kehamilan dan Persalinan. diketahui oleh Kepala Desa/Lurah setempat. oleh seluruh ibu hamil. pada ayat (1) hanya dilakukan pada daerah tertentu dengan mempertimbangkan kendala sosial budaya. (3) Kemitraan antara bidan dan dukun sebagaimana dimaksud c. pendataan dan pemetaan sasaran ibu hamil. penyiapan donor darah. d. b. posyandu. penyiapan ambulans (transportasi). penandatanganan amanat Persalinan. meningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu mengenai kehamilan. dalam Pasal 46 ayat (2) huruf c dapat dilakukan untuk (3) Kegiatan program perencanaan persalinan dan meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga pencegahan komplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. desa dan rumah penduduk. perawatan bayi baru lahir dan senam hamil. 38) Pasal 47 (2) Penyelenggaraan kelas ibu hamil sebagaimana dimaksud (1) Program perencanaan persalinan dan pencegahan pada ayat (1) dilakukan melalui penyediaan sarana untuk komplikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat belajar kelompok bagi ibu hamil. yang berfungsi sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu . 39) Pasal 48 (3) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penyelenggaraan kelas ibu hamil sebagaimana dimaksud (1) dapat dikembangkan dalam bentuk lain sesuai dengan dalam Pasal 46 ayat (2) huruf b bertujuan untuk kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. penyiapan tabungan ibu bersalin (tabulin) dan dana pada ayat (1) dituangkan dalam kesepakatan secara sosial ibu tertulis antara kedua pihak dan sekurang-kurangnya bersalin (dasolin). d. (1) Rumah tunggu kelahiran sebagaimana dimaksud dalam dan Pasal 46 ayat (2) huruf d merupakan tempat atau ruangan f. persalinan dan nifas termasuk perencanaan (1) Kemitraan antara bidan dan dukun sebagaimana dimaksud penggunaan alat kontrasepsi pasca persalinan. pasangan dan atau keluarga. (2) huruf a merupakan suatu kegiatan dalam rangka dan penyelenggaraannya harus dilakukan oleh pemberi meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan masa hamil (antenatal) dan diikuti bagi ibu dan bayi baru lahir. rumah tunggu kelahiran. (2) Program perencanaan persalinan dan pencegahan (3) Sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat komplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa fasilitas pelayanan kesehatan. dalam bentuk tatap muka. perawatan nifas. persalinan. balai dilaksanakan melalui upaya peningkatan peran aktif suami. keluarga berencana. keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi 40) Pasal 49 kehamilan.

Selain Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2016 (2) SPM Bidang Kesehatan sebagaimana dimaksud pada tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Bidan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai e) Setiap anak pada usia pendidikan dasar dengan budaya. dan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. karena keterlambatan mendapatkan pertolongan dan h) Setiap penderita hipertensi mendapatkan pelayanan meningkatkan mutu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sesuai standar. Dalam keputusan menteri kesehatan ini disebutkan bahwa b) Setiap ibu bersalin mendapatkan pelayanan Bidan sebagai profesi memiliki standar kompetensi. mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar. kompetensi Bidan adalah sebagai berikut: c) Setiap bayi baru lahir mendapatkan 1) Kompetensi ke 1 pelayanankesehatan sesuai standar. l) Setiap orang berisiko terinfeksi HIV (ibu hamil. 1) Pasal 2 pasien TB. kesehatan masyarakat dan etik yang sesuai standar. Standar persalinan sesuai standar. pengguna (1) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyelenggarakan napza. Pelayanan Kebidanan Paripurna juga dapat digambarkan bahwa pelayanan kebidanan yang diberikan sesuai dengan standar j) Setiap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. (2) Rumah tunggu kelahiran sebagaimana dimaksud pada g) Setiap warga negara Indonesia usia 60 tahun ke atas ayat (1) dibentuk dalam rangka menurunkan kematian ibu mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar. memberikan pelayanan kehamilan juga mengacu kepada k) Setiap orang dengan TB mendapatkan pelayanan TB Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2016 tentang sesuai standar. pasien IMS. Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan d) Setiap balita mendapatkan pelayanan kesehatan dari ilmu-ilmu sosial. i) Setiap penderita Diabetes Melitus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. 59 tahun masa persalinan mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar. kesehatan di daerah yang sulit akses ke fasilitas pelayanan kesehatan. 2) Kompetensi ke 2 . kewajiban ayat (1) meliputi: Bidan untuk memberikan layanan kebidanan sesuai dengan standar profesi bidan yang tercantum dalam Keputusan Menteri a) Setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal Kesehatan Nomor 369 Tahun 2007 sesuai standar. untuk wanita. dan warga binaan lembaga pemasyarakatan) pelayanan dasar kesehatan sesuai SPM Bidang mendapatkan pemeriksaan HIV sesuai standar. hamil dan pendampingnya sebelum maupun sesudah f) Setiap warga negara Indonesia usia 15 s. waria/transgender. bayi baru lahir dan keluarganya.d. Kesehatan.

. tanggap 2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan adalah sebagai berikut: terhadap kebudayaan setempat selama persalinan. keluarga dan masyarakat. KB. pendidikan pada bayi dan balita sehat (1 bulan – 5 tahun) kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan 8) Kompetensi ke 8 menyeluruh di masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan Kebidanan Komunitas kehidupan keluarga yang sehat. maka telah diatur dalam Asuhan pada bayi dan Balita Peraturan Menteri Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Kebidanan. komprehensif Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi. komprehensif Untuk menjamin terlaksananya pemberian layanan kebidanan pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan yang paripurna terhadap klien. Pra konsepsi. pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem reproduksi 4) Kompetensi ke 4 Dalam memberikan layanan kebidanan yang paripurna maka Asuhan selama Persalinan dan Kelahiran sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 938 Tahun Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi. Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada keluarga. 2) Standar II Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan 5) Kompetensi ke 5 3) Standar III Perencanaan Asuhan pada Ibu Nifas dan Menyusui 4) Standar IV Implementasi Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang 5) Standar V Evaluasi bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat. memimpin selama persalinan yang bersih dan aman. dan Ginekologi Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi. kelompok dan masyarakat sesuai 3) Kompetensi ke 3 dengan budaya setempat Asuhan dan Konseling selama Kehamilan 9) Kompetensi ke 9 Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk Asuhan pada Ibu/Wanita dengan Gangguan Reproduksi mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini. menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan 1) Standar I Pengkajian wanita dan bayinya yang baru lahir. keluarga dan masyarakat sesuai 7) Kompetensi ke 7 dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan pada kebutuhan klien. perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua. 6) Standar VI Pencatatan Asuhan Kebidanan 6) Kompetensi ke 6 Pencatatan Asuhan Kebidanan (Dokumentasi Kebidanan Asuhan pada Bayi Baru Lahir dicatat dengan bentuk atau format SOAP) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi.

perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud d. pemantauan tumbuh kembang bayi. dan anak pra sekolah. anak balita dan kehamilan. dan a. dan a. 4) Pasal 12 c. f. f. dan d. kehamilan. dan eksklusif. memberikan pelayanan yang meliputi: j. 2) Pasal 10 (2) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak (1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk: Pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra hamil. pemberian konseling dan penyuluhan. c. pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum. c. b. penyuluhan dan konseling. anak balita. dilanjutkan Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi dengan perujukan. pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah. pemberian surat keterangan kematian. Pasal 9 huruf b diberikan pada bayi baru lahir. perujukan. melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk masa persalinan. g. e. episiotomi. k. penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II. pemberian surat keterangan kematian. memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom. inisiasi menyusu antara dua kehamilan. a. pelayanan kesehatan anak. 5) Pasal 13 . pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas. dini. penanganan kegawat-daruratan. (3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana f. b. penanganan kegawat-daruratan. pemberian surat keterangan kelahiran. pelayanan konseling pada masa pra hamil. berwenang untuk: e. dan perawatan tali ayat (1) meliputi: pusat. injeksi Vitamin K 1. b. fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan a. dilanjutkan dengan d. merujuk. Bidan dalam menjalankan praktik. memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan promosi air susu ibu reproduksi perempuan dan keluarga berencana. bimbingan pada kelompok ibu hamil. dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk: g. bayi. perawatan bayi baru lahir (2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada pada masa neonatal (0 – 28 hari). pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga (1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam berencana. pelayanan ibu menyusui. pelayanan persalinan normal. dalam Pasal 9 huruf c. pelayanan ibu nifas normal. b. pencegahan hipotermi. dan 3) Pasal 11 c. pelayanan kesehatan ibu. masa menyusui dan masa resusitasi. h. berwenang untuk i. a. anak pra sekolah. pelayanan antenatal pada kehamilan normal. penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera b. pemberian tablet Fe pada ibu hamil. pemberian surat keterangan cuti bersalin. pelayanan konseling pada masa antara dua e. masa nifas.1) Pasal 9 h.

tenaga gizi. termasuk pemberian kondom. terintegrasi. dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan h. tenaga teknik biomedika. dan Pasal 12. serta pencegahan penyalahgunaan i. Bidan yang menjalankan pelayanan kebidanan yang berkualitas. pelaksanaan deteksi dini. penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai b. Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan c. pencegahan penyalahgunaan Narkotika. Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) j. tenaga keperawatan. tenaga medis. pelayanan kesehatan lain yang merupakan program e. maka telah diterbitkan program Pemerintah berwenang rambu-rambu tentang sumber daya manusia kebidanan yaitu pada: melakukan pelayanan kesehatan meliputi: 1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga a. dan . a. anak usia sekolah Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan remaja.(1) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal Pemerintah dalam memberikan jaminan terselenggaranya 10. edukasi. (3) Pasal 11 f. h. tenaga kebidanan. Narkotika. alat kontrasepsi Kesehatan dalam rahim. hanya dapat dilakukan oleh bidan yang dilatih untuk itu. dan g. anak kecuali tenaga medis. (2) Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. Pasal 11. l. e. tenaga keterapian fisik. pemantauan tumbuh kembang bayi. pemberian alat kontrasepsi suntikan. Pemerintah. (1) Tenaga Kesehatan dikelompokkan ke dalam: g. penyakit lainnya. Tenaga Kesehatan. dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas. k. asuhan antenatal f. b. tenaga kesehatan masyarakat. dan penyakit lainnya. merujuk. tenaga kesehatan tradisional. tenaga kesehatan lingkungan. melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. dan penyehatan lingkungan. anak balita. tenaga psikologi klinis. (1) Pasal 8 b. pedoman yang ditetapkan. pra sekolah dan anak sekolah. penanganan bayi dan anak balita sakit. asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi Tenaga di bidang kesehatan terdiri atas: khusus penyakit kronis tertentu dilakukan di bawah supervisi dokter. merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) a. Asisten Tenaga Kesehatan. tenaga keteknisian medis. i. (2) Pasal 9 d. melaksanakan deteksi dini. tenaga kefarmasian. huruf a harus memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga. dan d. dan c.

bidang pelayanan kesehatan wajib memiliki izin. mahasiswa/siswa yang bertugas dalam (1) Pasal 3 pemeriksaan. pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki STR b. dan Rahasia Kedokteran f. wajib memiliki STR. hal lain yang berkenaan dengan pasien. dan (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik c. tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan. pengantar pasien. ayat (2) huruf c diperoleh melalui uji kompetensi e. Ayat 1 yang memiliki akses terhadap data dan informasi Setiap Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan kesehatan pasien. identitas pasien. a. dan/atau (1) Rahasia kedokteran mencakup data dan informasi manajemen informasi di fasilitas pelayanan mengenai: kesehatan. . pengobatan dan/atau (4) Pasal 44 tindakan kedokteran. (2) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) Pasal 46 (1) dapat bersumber dari pasien. walaupun pasien telah meninggal dunia. b. pemeriksaan penunjang. tenaga lainnya yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan pasien di fasilitas Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada pelayanan kesehatan. Registrasi Tenaga Kesehatan (2) Pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (1) Pasal 2 a. tenaga kesehatan lain. pemeriksaan fisik. dokter dan dokter gigi serta tenaga kesehatan lain a. c. perawatan. atau sumber lainnya. kesehatan pasien meliputi hasil anamnesis. penegakan diagnosis. badan hukum/korporasi dan/atau fasilitas 3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2012 tentang pelayanan kesehatan. surat keterangan konsultasi atau (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik di rujukan. pengobatan. m. Ayat 3 d. (3) Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran berlaku b. keluarga pasien. (2) Pasal 4 (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk SIP (1) Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran dan/atau menggunakan data dan informasi 2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161 Tahun 2010 tentang tentang pasien wajib menyimpan rahasia kedokteran. selamanya. pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan.

dikelola secara akuntabel dan transparan. (3) Pasal 3 (2) Sponsorship yang dilakukan secara terbuka dan tidak (1) Sponsorship dapat diberikan kepada Tenaga ada konflik kepentingan sebagaimana dimaksud pada Kesehatan. dimaksud pada ayat (1) Sponsorship juga dapat diberikan kepada Institusi. organisasi fasilitas Berdasarkan peraturan yang berlaku dalam praktik pelayanan kesehatan dan/atau Organisasi Profesi kebidanan. alat kesehatan. tidak mempengaruhi independensi dalam promotif. huruf b antara lain cek. Sponsorship Bagi Tenaga Kesehatan c. sesuai dengan kewenangannya. (2) Pasal 2 (5) Pasal 5 Pengaturan Sponsorship bagi Tenaga Kesehatan dalam (1) Sponsorship oleh perusahaan/industri farmasi. dan masyarakat melalui kegiatan a. tidak diberikan secara langsung kepada individu. tugasnya dengan profesional. giro. kompeten sehingga dapat memberikan pelayanan yang paripurna artinya komprehensif. dipertanggungjawabkan secara transparan dan (3) Setara uang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akuntabel. (2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud diorganisir atau disponsori oleh perusahaan/industri pada ayat (1) huruf b dan huruf c. anjuran (2) Selain kepada Tenaga Kesehatan sebagaimana penggunaan barang atau terkait produk Sponsorship. diberikan secara terbuka. terbuka dan tidak boleh ada konflik kepentingan. terpadu dan berkelanjutan kepada klien. preventif. alat Peraturan Menteri ini bertujuan untuk mendukung kesehatan.4) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2016 tentang b. . (4) Pasal 4 menyeluruh. Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: e. atau billyet. dan 1. alat laboratorium kesehatan diberikan berupa uang atau setara uang untuk honor dan/atau perusahaan/industri lainnya yang dapat bagi pembicara dan/atau moderator. keluarga. tidak dalam bentuk uang atau setara uang. (1) Pasal 1 d. keluarga dan (1) Sponshorship yang diberikan kepada Tenaga masyarakat. maka Bidan memiliki kewajiban untuk melaksanakan sebagai penyelenggara. pemberian pelayanan kesehatan. alat laboratorium kesehatan dan/atau peningkatan pengetahuan dan/atau keterampilan serta perusahaan/industri lainnya harus dilakukan secara pengembangan profesi Tenaga Kesehatan. segala bentuk bantuan dan/atau kegiatan dalam rangka peningkatan pengetahuan yang dilakukan. Sponsorship dapat farmasi. Sponsorship adalah pemberian dukungan dalam f. sesuai dengan bidang keahlian. kuratif dan rehabilitatif. sesuai dengan Kesehatan harus memenuhi prinsip: kebutuhan klien. ayat (1) dimaksudkan agar tidak mempengaruhi independensi seperti penulisan resep.

pelayanan ibu menyusui anak pra sekolah f. g. berwenang untuk j. kehamilan. pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga Penyelenggaraan Praktik Bidan yang mengatur kewenangan bidan dan postpartum sebagai berikut: h. pemberian surat keterangan cuti bersalin. pelayanan persalinan normal d. pelayanan konseling pada masa pra hamil c. pemberian surat keterangan kematian. 3) Pasal 11 a. pemberian tablet Fe pada ibu hamil e. pelayanan ibu nifas normal e. penanganan kegawat-daruratan. penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera (2) Pelayanan kesehatan ibu meliputi: merujuk a. pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga (2) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak berencana. anak balita dan e. pemberian surat keterangan kelahiran (3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana h. Isi Peraturan Menteri air susu ibu eksklusif Kesehatan Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang Izin dan g. pelayanan konseling pada masa antara dua f.2 Setiap bidan berhak memberi pertolongan dan a. penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II dalam tugasnya. penyuluhan dan konseling 1) Pasal 9 i. pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464 Tahun 2010 f. bimbingan pada kelompok ibu hamil Bidan dalam menjalankan praktik. pelayanan kesehatan anak bayi. dimaksud pada ayat (2) berwenang untuk: . dilanjutkan dengan konsultasi dan/ atau rujukan perujukan 3. resusitasi. 3. dan perawatan tali pusat b. pada masa neonatal (0 .1 Landasan Hukum d. masa menyusui injeksi Vitamin K 1. pencegahan hipotermi.2. pemberian surat keterangan kematian memberikan pelayanan yang meliputi: k. pemantauan tumbuh kembang bayi. episiotomi mempunyai kewenangan dalam mengambil keputusan b. perawatan bayi baru lahir dan masa antara dua kehamilan. b. berwenang untuk: 2) Pasal 10 a. pelayanan antenatal pada kehamilan normal perujukan c. penanganan kegawat-daruratan. melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk (1) Pelayanan kesehatan ibu diberikan pada masa pra hamil. pelayanan kesehatan ibu (1) Pelayanan kesehatan anak diberikan pada bayi baru lahir. dan anak pra sekolah. masa nifas. anak balita.28 hari). c. pemberian konseling dan penyuluhan kehamilan. inisiasi menyusu dini. termasuk keputusan mengadakan c. fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi tentang izin penyelenggaraan praktik bidan. pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah d. masa persalinan. dilanjutkan dengan b.

dapat melakukan pelayanan program Pemerintah berwenang melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangannya. memiliki tempat praktik. dan penyehatan lingkungan balita dan prasekolah yang memenuhi persyaratan e. melakukan pembinaan peran serta masyarakat di untuk tindakan asuhan kebidanan. memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom. Merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani dengan tepat waktu . asuhan antenatal pasien dan pelayanan yang dibutuhkan terintegrasi. anak balita. alat kontrasepsi atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh kepala dinas dalam rahim. anak usia sekolah untuk menunjang pelayanan kesehatan bayi. penyalahgunaan Narkotika 8) Pasal 18 Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) serta (1) Dalam melaksanakan praktik/kerja bidan berkewajiban penyakit lainnya untuk : h. penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai persyaratan meliputi: pedoman yang ditetapkan a. merujuk dan memberikan c. Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) hanya dapat 4) Pasal 12 dilakukan oleh bidan yang dilatih untuk itu. Menghormati hak pasien Pemerintah b. kesehatan meliputi: Daerah yang tidak memiliki dokter adalah kecamatan a. pelayanan kesehatan lain yang merupakan program a. melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas persalinan g. memiliki sarana. ruangan praktik dan peralatan d. (1) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. pemantauan tumbuh kembang bayi. i. berwenang untuk: a. kewenangan bidan dimaksud tidak b. melaksanakan deteksi dini. Dalam hal daerah tersebut kontrasepsi bawah kulit telah terdapat dokter. pemberian alat kontrasepsi suntikan. peralatan dan obat sesuai dengan penyuluhan Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk ketentuan yang berlaku pemberian kondom. 6) Pasal 14 5) Pasal 13 (1) Bagi bidan yang menjalankan praktik di daerah yang (1) Selain kewenangan tersebut bidan yang menjalankan tidak memiliki dokter. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan (2) Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit. dan memberikan pelayanan alat kesehatan kabupaten/kota. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan penanganan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Narkotika keluarga berencana. anak lingkungan sehat pra sekolah dan anak sekolah b. dan c. anak dan remaja. menyediakan maksimal 2 (dua) tempat tidur untuk f. asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi berlaku. memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana b. serta peralatan bidang kesehatan ibu dan anak. penanganan bayi dan anak balita sakit. khusus penyakit kronis tertentu dilakukan di bawah 7) Pasal 17 supervisi dokter (1) Bidan dalam menjalankan praktik mandiri harus memenuhi c.

Audit Maternal Perinatal adalah serangkaian kegiatan h. serta Indonesia Tahun 1945. g. dan 6. 7. Bupati atau Walikota 1) Pasal 1 dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggaraan Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: pemerintah daerah. Mematuhi standar. perinatal penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk dan neonatal guna mencegah kesakitan atau kematian pelaporan kelahiran dan kematian. masa hamil. Pelayanan Kesehatan Masa Melahirkan. Pelayanan Kesehatan Seksual adalah setiap kegiatan f. 8. oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan 3. 369/MENKES/SK/III/2007 tentang menjadi hamil sehat. Bidan dapat berkolaborasi jika terdapat adanya indikasi dalam situasi darurat dimana bidan . Pelayanan Kesehatan Masa Sesudah Melahirkan sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan. peraturan perundang undangan 5. lakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari 4. d. Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan dilahirkannya sampai berusia 2 (dua) tahun. penyelenggaraan kontrasepsi. persalinan. setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang ditujukan pada perempuan sejak saat remaja hingga saat sebelum hamil dalam rangka menyiapkan perempuan Kepmenkes RI No. 9. kolaborasi atau rujukan” disebut Persalinan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang ditujukan pada ibu sejak Pelayanan kebidanan kolaborasi adalah pelayanan yang dimulainya persalinan hingga 6 (enam) jam sesudah dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya di melahirkan. serupa di masa yang akan datang. Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang pemerintahan. Tujuan pelayanan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan ini adalah berbagi otoritas dalam pemberian pelayanan berkualitas yang dilakukan ditujukan pada ibu selama masa nifas sesuai ruang lingkup masing-masing. Negara Republik Indonesia sebagaimana pelayanan kesehatan masa sebelum hamil. Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil adalah pemerintah di bidang kesehatan. Melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan dan/atau serangkaian kegiatan yang ditujukan pada pelayanan lainnya secara sistematika kesehatan seksualitas. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan dan pelayanan yang mendukung bayi yang e. yang selanjutnya secara mandiri. Melakukan pencatatan dan pelaporan penelusuran sebab kematian atau kesakitan ibu. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan 1. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. standar profesi bidan 2. pelayanan kesehatan seksual. Pelayanan Kesehatan Masa Hamil adalah setiap kegiatan “Yang menyatakan bahwa Pelayanan Kebidanan adalah dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan terjadinya masa konsepsi hingga melahirkan. dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik dan masa setelah melahirkan.

Anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau c. prognosa dan prioritas b.1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin penyelenggaraan Rujukan Pelayanan Kebidanan adalah pelayanan yang praktik bidan pasal 10 ayat (2) poin (c) dimana bidan memberikan dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan asuhan persalinan normal. “R” hamil anak pertama dengan UK 39 minggu inpartu tindakan kolaborasi lahir spontan ditolong oleh Bidan “S” di BPS. keluarga mengerti dan setuju untuk dilakukan d. dalam persalinan yang memerlukan konsultasi dan rujukan yang dapat bekerjasama secara timbal balik dengan baik. f. dilanjutkan dengan horizontal maupun vertical. Harus melibatkan tenaga ahli dengan keahlian yang berbeda.harus segera bertindak dalam rangka menyelamatkan jiwa Tindakan Rujukan bidan pada ibu bersalin sebagai berikut: pasien. perujukan. Menyusun rencana asuhan kebidanan pada ibu dalam UC masih tetap lembek. Membuat catatan dan laporan kewenangan nya sesuai Permenkes RI No.2. dilakukan KBI. memerlukan rujukan c. Elemen kolaborasi mencakup: a. tapi hasilnya c. Menentukan diagnosaa. Bidan “S” meminta bantuan teman bidan masa persalinan dengan resiko tinggi dan pertolongan untuk menghubungi keluarga pasien dan menjelaskan tentang pertama sesuai prioritas kondisi Ny “R”. Mengirim klien untuk intervensi lebih lanjut kepda dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang di petugas/instansi pelayanan kesehatan yang berwenang berikan oleh setiap anggota tim tersebut e. Menyusun rencana tindak lanjut bersama klien/keluarga Dalam kasus ini bidan telah melaksanakan tugas sesuai dengan g. Dan Kepmenkes RI No. 369/MENKES/SK/III/2007 . “R” mengalami perdarahan post partum. Namun pada kala IV terjadi HPP pada yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan Ny. e. b. Mengkaji adanya penyulit dan keadaan kegawatan pada ibu a. Setelah placenta lahir b. Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dalam tindakan selanjutnya. Mengkaji kebutuhan asuhan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi dan keadaan kegawat 3.2 Contoh kasus dan Analisa daruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan Ny. Memberikan pertolongan pertama pada kasus yang bekerjasama. “R” yang mengaharuskan bidan untuk memberikan penanganan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong kegawat daruratan pada pasien dengan HPP sesuai dengan persalinan. Menentukan diagnosa. Mengevaluasi hasil asuhan kebdianan dan pertolongan pertama pada ibu hamil dengan resiko tinggi Dalam kasus ini Ny. juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau PERMENKES RI NO. KBE dan faktor resiko dan keadaan kegawatan KBI ulang yang berkolaborasi dengan Bidan lainnya. Kelompok harus memberi pelayanan yang keunikannya d.1464/MENKES/PER/X/2010 Pasal 10 ayat (3) fasilitas pelayanan kesehatan atau fasilitas kesehatan lain secara poin (c) penanganan kegawat-daruratan. Sementara Bidan “S” tetap mempertahankan masapersalinan dengan resiko tinggi dan memberikan posisi nya yaitu melakukan rujukan dengan memasang kondom pertolongan pertama sesuai prioritas kateter ke RS. Membuat catatan dan laporan serta mendokumentasikan Tugas Kolaborasi bidan pada ibu bersalin sebagai berikut: seluruh kejadian dan intervensi yang sudah diberikan a. prognosa dan prioritas sesuai dengan ternyata UC lembek dan perdarahan aktif.

Dan penanganan kasus ini sesuai (1) Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran dengan PERMENKES RI NO. badan hukum/korporasi dan/atau fasilitas pelayanan yang dapat dan/ atau dipercayakan kepadanya. peraturan perundang-undangan. bidan adalah pelayanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim berkewajiban untuk: yang kegiatannya di lakukan secara bersamaan atau sebagai salah (e). Bidan 2) Peraturan Menteri Kesehatan No. dia merujuk Ny. Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran berlaku 1) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor selamanya. jika diminta oleh pengadilan atau diperlukan sehubungan f.1 Landasan Hukum informasi di fasilitas pelayanan kesehatan. Pasal 4 :” memiliki peralatan lebih lengkap. walaupun pasien telah meninggal dunia.3 Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan e.3.1464/ MENKES/ PER/X/2010 Pasal dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien 11 ayat (2) poin c tentang penanganan keggawat daruratan. 1464/MENKES/PER/X/2010 Tentang Izin Dan 3) Undang – undang Republik Indonesia No. melakukan tugas pelaksana Rujukan atau Ketergantungan. Dalam melaksanakan praktik/kerja. wajib menyimpan rahasia kedokteran. dan/atau manajemen 3. dilanjutkan dengan perujukan.tentang standart profesi bidan. tepat sesuai dengan kondisi pasien. kesehatan pasien. dokter dan dokter gigi serta tenaga kesehatan lain dengan tepat. saat terjadi kasus yang tidak mungkin untuk ditangani sendiri karena di luar kewenangannya. mahasiswa/siswa yang bertugas dalam pemeriksaan.36 Tahun 2014 Penyelenggaraan Praktik Bidan.36 tahun 2012 Tentang dapat berkolaborasi jika terdapat adanya indikasi dalam situasi Rahasia Kedokteran. perawatan. tenaga lainnya yang memiliki akses terhadap data dan informasi kesehatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan. terhadap tugasnya. Karena penjagaan. tenaga yang berkaitan dengan pembiayaan pelayanan dengan kewenangannya dan mampu mengambil keputusan yang kesehatan. tentang Tenaga Kesehatan . menyebutkan: darurat dimana bidan harus segera bertindak dalam rangka BAB I. Dalam kasus tersebut Bidan “S” telah untuk memberikan kepastian hukum dalam perlindungan. Pasal 18 ayat (1) poin (d) meminta persetujuan yang memiliki akses terhadap data dan informasi tindakan yang akan dilakukan. dengan kepentingan klien pengobatan. 3. kecuali kesehatan. dan penyimpanan rahasia kedokteran. Pasal 18 ayat (1) poin (c) merujuk (2) Pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat ditangani a. g. d. pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan. “R” ke RSUD yang BAB III. dimana bidan telah melaksanakan tugas sesuai c. Pasal 2 : “Pengaturan rahasia kedokteran bertujuan menyelamatkan jiwa pasien. Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan. ” Tujuan pelayanan ini adalah berbagi otoritas dalam pemberian pelayanan berkualitas sesuai ruang lingkup masing-masing. Pasal 18 Ayat 1 butir (e) . Pelayanan kebidanan kolaborasi Berbunyi: “ 1. Contoh kasus diatas telah menggambarkan kewajiban bidan b.

pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. mengatakan bahwa “setiap orang berhak atas kondisi kesehatan 5) Pasal 32 (i) UU No. profesi-profesi lain dalam bidang maupun yang dahulu. yang menyatakan bahwa Bab I. Setiap tenaga kesehatan ribu rupiah. Bab III. baik yang sekarang Tidak hanya bidan. Kode etik tersebut tentunya menyebutkan bahwa: berdasarkan pada undang-undang dan peraturan dari kementerian (1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan kesehatan. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 57 pelaksaan kebidanan profesional. kesehatan dalam menjalankan tugasnya juga terikat dalam lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya sembilan peraturan dan perundang-undangan. yang dengan sengaja membuka rahasia yang wajib ia simpan karena jabatannya atau karena pekerjaannya. menyebutkan bahwa: “Jenis Tenaga dipercayakan kepadanya. kewenangan dan peraturan kebijaksanaan yang berlaku bagi bidan. Kualifikasi dan Pengelompokan Tenaga Kesehatan menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan atau Pasal 11 ayat (5).44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara mengatakan bahwa hak pasien untuk mendapatkan privasi dan pelayanan kesehatan”. Dimana dalam PERMENKES tersebut mengharuskan agar bidan dalam bekerja dapat menjamin Pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan kerahasian dari kondisi kesehatan pasiennya. atau UU tentang kesehatan yaitu Pasal 57 UU No. bidan berkewajiban b. Aturan tersebut tertuang Kode etik adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. izin yang bersangkutan. UU tentang tersebut diancam pidana kurungan badan sebagai mana yang kesehatan merupakan pedoman dari semua peraturan bagi semua diatur dalam pasal 322 KUHP yang mengatakan: "barang siapa tenaga kesehatan. Sesuai dengan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah bidan. kepentingan orang tersebut. dihukum dengan hukuman penjara selama. Secara umum “Pengaturan rahasia kedokteran bertujuan untuk memberikan kode etik kebidanan dibedakan menjadi 7 bab. dengan UU tentang kesehatan. kepentingan masyarakat. kode etik merupakan pedoman dalam tata cara keselarasan dalam 4) UU RI No. diharuskan untuk dapat menjamin kerahasiaan dari kondisi kesehatan pasiennya masing-masing. kecuali jika diminta oleh pengadilan atau Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kebidanan diperlukan sehubungan dengan kepentingan klien. Perturan tersebut sejalan dengan d. perintah pengadilan untuk: “menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan c. Pasal 2 : tugas profesinya dan didalam hidup bermasyarakat. Salah satu peraturan kementerian yang terkait dengan tugas (2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan bidan diatas adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 Tentang Izin Dan dalam hal: Penyelenggaraan Praktik Bidan Pasal 18 Ayat 1 butir (e) disebutkan a.36 tahun 2012 Tentang setiap anggota profesi yang bersangkutan didalam melaksanakan Rahasia Kedokteran. Dilihat Dalam PERMENKES 1464 tentang kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data Izin dan penyelenggaraan Praktik Bidan tersebut sudah sesuai medisnya. peraturan perundang-undangan”.36/2009 (1) e. Salah satu kewajiban bidan yang terkait dengan tugasnya adalah setiap bidan . perintah undang-undang bahwa Dalam melaksanakan praktik/kerja.

36 tahun 2009 tentang Profesi bidan merupakan profesi yang sudah lama ada.kepastian hukum dalam perlindungan. informasi kesehatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan Bidan dapat bekerja di rumah sakit. 29 tahun 2014 tentang praktik kedokteran ini Praktik Bidan Pasal 18 Ayat 1 butir (e). yang didalamnya termasuk bidan. sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien. Pasal 4 :” dengan dokter dan perawat. Semua aturan tersebut sejalan lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan. (2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Dari semua Undang-undang dan Peraturan diatas telah harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter menunjukkan bahwa setiap tenaga kesehatan harus menjamin gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. salah satu mengenai tenaga lainnya yang memiliki akses terhadap data dan rahasia kebidanan. Sehingga penting bagi bidan terlihat bahwa aturan mengenai jaminan kerahasiaan kesehatan untuk menjalankan kewajiban terhadap tugasnya yakni untuk pasien lebih jelas terperinci diatur. Dalam setiap kondisi apapun salah satunya termasuk juga bidan. bayi dan anak. berupa PERMENKES yang belum membahas poin-poin penting (2) Pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: (d). dokter gigi. tersebut. Dan disebutkan: (1) Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud kerahasiaan pasien tersebut tetap dijaga sampai pasien telah dalam Pasal 46 merupakan milik dokter. (3) Ketentuan lebih kerahasiaan kondisi pasiennya. dalam kebidanan yang belum terperinci. penjagaan. Dalam UU tersebut sudah jelas disebutkan bahwa Pemerintahnya dan juga perundang-undangannya adalah dokter.44 tahun 2009 Tentang khususnya pasien ibu. Kesehatan Pasal 57 ayat (2). polindes. kepentingan orang Bidan tentunya aturan ini lebih lengkap dan terperinci. izin yang Dibandingkan dengan PERMENKES 1464 tentang Izin Praktik bersangkutan. pelayanan kesehatan. karena bidan merupakan dan dimanapun bekerja bidan tetap harus menjamin kerasahasiaan tenaga kesehatan yang memiliki akses terhadap perawatan kondisi kesehatan pasiennya. Keadaan tersebut tidak berlaku apabila: kondisi kesehatan pasien tertuang dalam tiga butir bahasan. perintah pengadilan. Tentunya dalam hal ini tenaga kesehatan yang dimaksud puskesmas maupun membuka BPM. data dan informasi kesehatan pasien. sesuai dengan UU RI No. Kedua profesi ini sudah memiliki (1) Semua pihak yang terlibat dalam pelayanan kedokteran Undang-undang yang mengatur profesinya masing-masing secara dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien jelas dan terperinci. dengan Permenkes Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Dari UU No. terlihat dalam UU ini ada BAB menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan atau tersendiri mengenai rahasia kedokteran dan mengenai kerahasiaan dipercayakan kepadanya. Sejak jaman penjajahan profesi bidan ini sudah ada. Rumah Sakit mengatakan bahwa hak pasien untuk mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data Selain profesi bidan. pasien berhak mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakitnya. Bandingkan saja penyimpanan rahasia kedokteran” dan Bab III. Salah satu dasar hukum yang dapat langsung kepada pasien. atau sarana meninggal. aturan dalam profesi bidan masih wajib menyimpan rahasia kedokteran. Sementara. digunakan antara lain: Pasal 32 (i) UU No. atau. dan masih banyak tertinggal dari profesi lainnya. klinik. Namun. bidan . profesi lain yang sudah jelas Peraturan medisnya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 hal ini tentunya berlaku bagi setiap tenaga kesehatan yang bekerja Tentang Praktik Kedokteran Pasal 47 mengenai rahasia kedokteran di Rumah Sakit. ada perintah undang-undang. kepentingan masyarakat.

Misalnya: bila ternyata kondisi tersebut dapat membahayakan banyak orang. Dari kondisi demikian. Pembimbing Dalam Undang-Undang ini. Okupasi terapis. dan Akupuntur) huruf a harus memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga. maka bidan dapat dapat menyampaikan kondisi Pasal 10 kesehatan tersebut kepada orang yang berpengaruh. maka disebut (2) Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada sebagai kondisi daya paksa absolut. diatur dengan Peraturan Menteri. dan entomolog kesehatan. Dokter spesialis. Sedangkan bila bidan terpaksa membuka pendidikan menengah di bidang kesehatan. definisi Tenaga 3 Tenaga Keperawatan (berbagai jenis perawat) Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam 4 Tenaga kebidanan (Bidan) bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau 5 Tenaga kefarmasian (Apoteker dan Tenaga teknis keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang kefarmasian) untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan 6 Tenaga kesehatan masyarakat (Epidemiolog kesehatan. Namun. serta Pasal 8 Tenaga kesehatan reproduksi dan keluarga) Tenaga di bidang kesehatan terdiri atas: 7 Tenaga kesehatan lingkungan (Tenaga sanitasi lingkungan. dan Mikrobiolog kesehatan) b. maka ayat (1) hanya dapat bekerja di bawah supervisi Tenaga bidan tidak disalah apabila harus menyampaikan rahasia kesehatan Kesehatan pasiennya. kesehatan. Tenaga Kesehatan gigi spesialis) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 2 Tenaga Psikologi klinik 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan. 8 Tenaga gizi (Nutrisionis dan Dietisien) Pasal 9 9 Tenaga keterapian fisik (Fisioterapis. sehingga (1) Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam dapat diambil sikap dan solusi. Pengelompokan Tenaga Kesehatan menurut pasal 11 Teman Sejawat adalah: 1 Tenaga Medis (Dokter. a. Tenaga biostatistik dan kependudukan. Teknis pelayanan darah. Asisten Tenaga Kesehatan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Asisten Tenaga Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri. Tehnik kardiovaskuler. dalam kondisi-kondisi tertentu bidan dapat (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kualifikasi minimum membuka kerahasiaan kondisi kesehatan pasiennya. 10 Tenaga keteknisan medis (Perekam medis dan Informasi kecuali tenaga medis. Tenaga Kesehatan. . (1) Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 terapis wicara. Tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Tenaga administrasi dan kebijakan Kualifikasi Dan Pengelompokan Tenaga Kesehatan kesehatan. Kondisi yang Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksud adalah bila bidan berada dalam kondisi daya paksa. Dokter A. Kondisi demikian disebut sebagai Pasal 8 huruf b harus memiliki kualifikasi minimum daya paksa relatif. rahasia kondisi pasien dalam keadaan terancam. upaya kesehatan. Dokter gigi. pada Bab III tentang kesehatan kerja.

Elektromedis. bidan dapat saling menggantikan sehingga tugas Bidan dalam menjalankan tugasnya harus saling pelayanan tetap berjalan menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga . kekeluargaan dan juga tidak boleh membeda-bedakan golongan. Audiologis. Teknisi gigi. Terapis gigi dan mulut. Ahli mengunjungi teman yang sakit. Apabila ada masalah pribadi tidak dibawa ke tempat kerja 12 Tenaga kesehatan tradisional (Tenaga kesehatan 4. Refraksionis optisien/ Optometris. Konsep Saling Menghormati dalam Hubungan Kerja (cuti). Saling membantu teman sejawat apabila membutuhkan keterampilan) pertolongan 13 Tenaga kesehatan lain 6. khitanan Radioterapis. bidan hendaknya terjalin rasa kebersamaan. Dalam melaksanakan tugas kebidanan baik pemerintah atau non pemerintah. jika ada sejawat yang berhalangan C. piknik bersama. sehingga untuk perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan menjalin keakraban dan kebersamaan antara para bidan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. 1. serta menggunakan pakaian dinas dan yang baik dengan teman sejawatnya sehingga diantara bidan kelengkapannya hanya dalam waktu dinas saja. Kerja sama dapat berlangsung manakala profesinya. banyak cara yang dapat dilakukan oleh dalam rangka tercapainya keluarga berkualiats. Fisikawan medik. Oleh karena itu ia harus mematuhi dan mencapai kepentingan mereka tersebut. perkawinan keluarga. teman sejawatnya sama artinya juga ia mencemarkan Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan nama baik sendiri. mutu pelayanan profesinya sesuai dengan standar yang Seorang bidan harus mampu untuk menjalin hubungan telah ditentukan. bahagia. Sesama sejawat harus saling mendukung. Konsep Hubungan dan Suasana Kerja yang Serasi anggota tim Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman 7. Untuk menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak profesinya. dan seorang bidan.) dengan mengadakan arisan. Bidan harus mau menerima tanggung jawab keprofesian yang sama dan memiliki kesadaran untuk bekerjasama guna yang dimilikinya. memenuhi undangan teknologi laboratorium medik. Pengertian kerja sama adalah suatu usaha bersama mengunjungi teman sejawatnya yang telah lama di antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tempat tersebut dan ikut bergabung dalam organisasi tujuan bersama. dan Ortotik prostetik) 3. diberikan oleh bidan sesuai kewenangan yang diberikannya 9. serta jabatan. sebaiknya bidan yang baru menetap di suatu tempat. berperan aktif dalam melaksanakan asuhan kebidanan Pelayanan kebidanan merupakan pelayanan yang sesuai dengan kewenangan dan standar keprofesian. Penata 2. misalnya anastesi. Bila seorang bidan mencemarkan atau menjelekkan sejawatnya untuk menciptakan suasana kerja yang serasi. antara lain berpenampilan baik. 11 Tenaga tehnik biomedika (Radiografer. pangkat keakraban. individu-individu yang bersangkutan memiliki kepentingan 8. Bidan harus mengetahui peran dan profesi lainnya dan selalu menjaga keharmonisan hubungan sesama B. menjaga sejahtera. Bisa saling bertukar pikiran dalam menjalankan tugas tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional 5.

4. perasaan. Tidak menjatuhkan teman sejawat ketika bekerja. mengembangkan kehidupannya. misalkan tidak menjelek. Misal 2.kesehatan lainnya. Pesan: informasi yang diterima. kolaborasi dilakukan dengan mendiskusikan yang kontinue karena memberikan respons pesan dan diagnosis pasien serta bekerjasama dalam penatalaksanaan mengirimkan pesan berupa stimulus yang baru kepada dan pemberian asuhan. demikian dapat tercipta suasana kerja yang baik. Tidak merebut pasien teman sejawat lainnya yang sudah diinterpretasikan. Kelompok harus memberi pelayanan yang keunikannya dengan lokasi yang sudah ada dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang 2. Receiver (penerima pesan): seseorang yang menerima nya tidak memfitnah pesan. dimana kolaborasi surat adalah kata. 4. Kepuasan dan kenyamanan serta rasa aman yang dicapai oleh individu dalam berhubungan sosial . Bisa berbentuk pesan yang diterima maupun pesan 5. Harus melibatkan tenaga ahli dengan bidang keahlian menghargai. Pesan akan efektif bila jelas dan terorganisir jelekkan teman sejawat lain di depan pasien yang diekspresikan oleh si pengirim pesan. konsultasi atau Komponen-komponen dalam komunikasi pertolongan mendadak hendaknya melibatkan imbalan 1. Dalam sistem pelayanan kesehatan. Anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau bekerja dan kekeluargaan. sama. Contoh: catatan atau merupakan kolaborasi. dapat saling berkonsultasi dengan tatap muka langsung atau melalui alat komunikasi lainnya dan tidak perlu hadir ketika Dalam pelayanan kesehatan sangat penting adanya tindakan dilakukan. Dengan dengan baik. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya menangani pasien bertanggung jawab terhadap keseluruhan selalu memerlukan orang lain dalam menjalankan dan penatalaksanaan asuhan. merupakan hubungan berbagai tanggungjawab atau 5. atau depan pasien atau klien. bisa berupa kata. Media: metode yang digunakan dalam pesan yaitu kata. Dalam komunikasi yang efektif. perlu diperhatikan jarak 3. dengan mengkonsultasikan kesulitan kepada sejawat 3. Petugas kesehatan yang ditugaskan komununikasi. bidan dapat saling membantu diberikan oleh setiap anggota tim tersebut. kondusif 2. Umpan balik merupakan proses praktiknya. Masing-masing tenaga kesehatan pengirim pesan. 1. Dalam menetapkan lokasi BPS. Umpan balik: penerima pesan memberikan informasi atau kerjasama dengan rekan sejawat atau tenaga kesehatan pesan kembali kepada pengirim pesan dalam bentuk lainnya dalam memberi asuhan pada pasien. Hubungan dengan orang Elemen kolaborasi mencakup: lain akan terjalin bila setiap individu melakukan komunikasi diantara sesamanya. Tidak menjatuhkan nama baik teman sejawat lainnya di 3. menghormati. kerjasama bisa dengan cara ditulis. Sender (pemberi pesan): individu yang bertugas yang sesuai dengan kesepakatan bersama. diucapkan. ide. saling mendukung dan saling yang berbeda yang dapat bekerjasama secara timbal balik membantu kepada sesama teman sejawatnya. 6. mengirimkan pesan.Seorang bidan juga harus saling 1. Dalam kerjasama antar teman sejawat. Jika mengalami kesulitan.

ada kelompok yang dapat menyatakan lebih berkuasa di atas Setiap profesi tersebut mempunyai tanggung jawab yang lainnya. Kerjasama dalam kesehatan lainnya. terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan walaupun pada pelaksanaannya sering juga terjadi konflik- antar individu atau kelompok. Tatanan klinik seperti rumah konflik etis. rasa saling percaya dengan profesi tenaga individu yang terlibat dalam sistem tersebut. Kelancaran masing-masing dari sistem sosial. Konsumen dalam hal Kolaborasi didasarkan pada: ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal dan 1. dan konsumen internal. diprediksi adanya komunikasi yang baik antara sesama tenaga penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar kesehatan. Dalam menjalankan Komunikasi dalam hal ini menjadi unsur terpenting dalam tugasnya. Praktek yang di fokuskan kepada pasien termasuk keperawatan. pengambilan keputusan bersama (dalam kolaborasi). yaitu klien daripada menyalahkan seseorang atau menghindari tanggung baik secara individual. kesehatan terwujud semua jenis profesi harus mempunyai Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai keinginan untuk berkolaborasi. Tidak tenaga laboratorium. kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kerjasama dalam pelayanan unsur komunikasi. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin 5. farmasi. perawat. Kolaborasi hanya pelaksanaannya saja yang berbeda disesuaikan yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi . Seringkali hubungan pelayanan kesehatan masyarakat dapat meningkat perlu buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit. menghargai profesi lain dalam pelayanan kebidanan meliputi: dokter. Masing-masing profesi memiliki profesional terhadap kesehatan pasien namun tetap memiliki visi yang yang berbeda sehingga ketika digabungkan dapat menjadi sama yakni terwujudnya pelayanan kesehatan yang prima. unsur adminitrasi sebagai provider merupakan gambaran dari sisi Kolegasi menekankan pada saling menghargai. gizi. Konsumen internal melibatkan unsur 2. kelompok. keluarga maupun jawab. memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan. dengan profesi masing-masing. Ketergantungan antara profesi modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang tetap ada asalkan sesuai dengan aturan yang ada. Kolegalitas hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara 4. Kemudian bagaimana caranya supaya tugas sakit yang dinyatakan sebagai salah satu sistem dari antar profesi dapat berjalan secara harmonis dan pelayanan kelompok sosial mempunyai kepentingan yang tinggi pada kesehatan menjadi maksimal. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai maka baik secara individual maupun kelompok. unsur penunjang lainnya. Kontribusi praktisi profesional hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit. Konsep tujuan umum konsumen eksternal. Komunikasi vertikal. Komunikasi yang hubungan kerjasama akan dapat terjalin dengan baik. akan ditawarkan kepada konsumennya.dengan orang lain merupakan hasil dari suatu komunikasi. profesi tergantung dari ketaatannya dalam menjalankan dan Komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mempertahankan kode etik profesinya. Agar kolaborasi dapat berjalan dengan baik dan masyarakat yang ada di rumah sakit. setiap profesi dituntut untuk mempertahankan kode mewujudkan integritas diri setiap manusia sebagai bagian etik profesi masing-masing. Sedangkan konsumen eksternal lebih pendekatan profesional untuk masalah-masalah dalam tim mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan. baik 3.

kewenangan profesi lain. bayi sakit. organologi. Bidan harus menghormati kewenangan profesi Bidan harus menghormati kewenangan profesi lain seperti profesi farmasi dalam pembuatan dan lain seperti profesi dokter dan bidan hanya boleh peracikan obat dan bidan hanya boleh melakukan melakukan sebatas kewenangan bidan tidak boleh sebatas kewenangan bidan tidak boleh mengambil mengambil kewenangan profesi lain. pengolahan. b. produksi. Menjalin kerjasama dalam pelayanan kebidanan yang Secara operasional. yang terdiri atas sarjana farmasi. yang baik. dan moral. Dalam pelayanan kebidanan. dan dalam koordinasi serta apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Perasaaan saling tergantung produksi. patofisiologis seperti: preeklamsia. proses penyaluran dan proses pelayanan dari (interdependensi) untuk bekerjasama. analis farmasi. Menjalin kerjasama dalam pelayanan kebidanan yang ditinjau dari segi hubungan dengan profesi dokter 2. secara menyeluruh. jantung dll. untuk melaksanakan kegiatan tertentu. sedini dan sedapat Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang mungkin. Contoh kerjasama dalam pelayanan kebidanan dengan Contoh kerjasama dalam pelayanan kebidanan dengan dokter yaitu: farmasi yaitu: a. Bidan harus melakukan kolaborasi dengan dokter a. Bidan dapat . DM. Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif membantu apoteker dalam menjalani pekerjaan dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab kefarmasian. paripurna. ahli profesional. yang terdiri dari berkesinambungan. Layanan yang madya farmasi. golongan usia. menyelesaikan semua masalah kesehatan yang pengembangan. melakukan pekerjaan kefarmasian. dan tenaga menengah diselenggarakannya adalah sebatas kompetensi dasar farmasi atau asisten apoteker. distosia bahu. Bekerja bersama sediaan farmasi yang tidak boleh diketahui oleh umum dalam suatu kegiatan dapat memfasilitasi kolaborasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.terselenggaranya pelayanan pasien yang berkualitas. bidan hanya dapat spesialis kandungan jika ada ibu hamil yang melakukan diagnosa pada ibu. Selain b. definisi “dokter” adalah ditinjau dari Segi hubungan dengan profesi farmasi. c. seorang tenaga kesehatan (dokter) yang menjadi Farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan tempat kontak pertama pasien dengan dokternya untuk yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan. dan jenis kelamin. Dalam memberikan resep obat ibu dapat membeli obat ke apotek. hukum. Bidan harus melakukan rujukan ke dokter spesialis itu diperlukan delegesi yang merupakan suatu pelimpahan kandungan jika ada ibu bersalin dengan patofisiologi wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain seperti: letak sungsang. kedokteran yang diperoleh selama pendidikan Pekerjaan kefarmasian yang menyangkut proses kedokteran. distribusi obat. Bidan harus melakukan rujukan ke dokter spesialis Kolaborasi dapat dilakukan oleh bidan dalam bentuk : anak jika ada balita sakit seperti diare. etika. 1. kolaborasi dengan profesional kesehatan lainya. dan dihadapi tanpa memandang jenis penyakit. anemia dll. peracikan.

Sementara praktik keperawatan profesional pangkat. tinggi sesuai dengan budaya. menjaga mutu pelayanan adalah tindakan mandiri perawat profesional dengan profesinya sesuai dengan standar yang telah ditentukan. kewenangan perawat. dan pemulihan atau perawatan kesehatan. KEPMENKES 369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar untuk pencegahan penyakit. dalam menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan menjalankan tugasnya. sebagai landasan dan menggunakan proses menggunakan pakaian dinas dan kelengkapannya hanya dalam keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan waktu dinas. 3. jabatan dan golongan.1 Dasar Hukum kesepakan antara perawat dan pasien dalam upaya 1. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK orang sakit umum. Profesi Bidan (standar kompetensi bidan) kuratif. Bidan tidak boleh melakukan perawatan luka Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan pada orang sakit. Menjalin kerjasama dalam pelayanan kebidanan yang ditinjau dari segi hubungan dengan profesi perawat Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri Wewenang Profesi perawat professional atau ners melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi kesehatan lain dalam upaya memberikan asuhan citra profesi dengan menampilkan kepribadian yang keperawatan yang holistik sesuai dengan wewenang bermartabat dan memberikan pelayanan yang bermutu dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan kepada masyarakat. hal tersebut dapat bidan lakukan komperhensif pada keluarga. Praktek keperawatan dilakukan berdasarkan pada 2. Kompetensi 1 Pengetahuan dan keterampilan dasar Bidan harus menghormati kewenangan profesi Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan lain seperti profesi perawat dan bidan hanya boleh keterampilan dari ilmu-ilmu sosial. berkolaborasi dengan bagian farmasi untuk pada perawat karena hal tersebut merupakan memberikan obat di klinik. bayi baru lahir Contoh kerjasama dalam pelayanan kebidanan dengan dan keluarganya.1. asuhan keperawatan. sesuai dengan budaya setempat. berpenampilan yang baik. pemelihara kesehatan. perawat yaitu: Kompetensi 8 Kebidanan Komunitas a. bidan tidak diperkenankan mencari kokoh mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan keuntunganperibadi dengan menjadi agen promosi suatu produk. kesehatan masyarakat melakukan sebatas kewenangan bidan tidak boleh dan etik yang mmbentuk dasar dari asuhan yang bermutu mengambil kewenangan profesi lain. b. pelayanan. tidak membeda-bedakan. kelompok dan masyarakat kolaborasi dengan perawat.2. untuk wanita. . termasuk praktik keperawatan individu dan Penerapannya dapat berupa: menjadi panutan dalam berkelompok. hidupnya. Bidan tidak dapat melakukan perawatan 2. hal tersebut dapat diberikan INDONESIA nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan pasal 18 ayat 2 : .

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Pasal 22 (5) Surat Izin Praktik Bidan. adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang Pasal 23 sudah memenuhi persyaratan untuk menjalankan (2) Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan. praktik bidan mandiri. dengan dalam Pasal 3.2 Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan diri dan memiliki Surat Izin Praktik. tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah. Rekomendasi dari organisasi profesi. b. pelayanan kesehatan. kesehatan wajib memiliki SIKB Pasal 27 (2) Setiap bidan yang menjalankan praktik mandiri wajib (3) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya memiliki SIPB berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan Pasal 4 pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. pemerintah daerah. 2. (10) Teknologi kesehatan adalah segala bentuk alat (4) Surat Izin Kerja Bidan. Rekomendasi dari kepala dinas kesehatan Penyelenggaraan Praktik Bidan kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk. dan penanganan sudah memenuhi persyaratan untuk bekerja di fasilitas permasalahan kesehatan manusia. dan Pasal 1 f. selanjutnya disingkat SIKB dan/atau metode yang ditujukan untuk membantu adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang menegakkan diagnosa. selanjutnya disingkat STR 2. 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang Izin dan e. Bidan dalam menjalankan praktik/kerja senantiasa (1) Untuk memperoleh SIKB/SIPB sebagaimana dimaksud meningkatkan mutu pelayanan profesinya. pelayanan kesehatan atau tempat praktik.2. Bidan harus mengajukan permohonan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dengan melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang melampirkan: tugasnya.1 Dasar Hukum d. Surat pernyataan memiliki tempat kerja di fasilitas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 2 Pasal 25 (2) Bidan yang menjalankan praktik mandiri harus (1) Pengadaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan berpendidikan minimal Diploma III (DIII) Kebidanan diselenggarakan oleh Pemerintah. selanjutnya disingkat SIPB (1) Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum. Pas foto berwarna terbaru ukuran 4X6 cm sebanyak 1. 36 Tahun 2009 adalah bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah tentang Kesehatan kepada tenaga kesehatan yang diregistrasi setelah Pasal 1 memiliki sertifikat kompetensi. a.2.2. (3) Surat Tanda Registrasi. 3 (tiga) lembar. Surat keterangan sehat fisik dari dokter yang 2. Pasal 3 dan/atau masyarakat melalui pendidikan dan/atau (1) Setiap bidan yang bekerja di fasilitas pelayanan pelatihan. pencegahan. . meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan c. Undang-undang Republik Indonesia No. Fotocopy STR yang masih berlaku dan dilegalisasi.

yang terdiri dari : (6) Mahasiswa pendidikan profesi sebagaimana dimaksud 1. (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik (2) Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat wajib memiliki STR. bidang pelayanan kesehatan wajib memiliki izin. dan dimanfaatkan Pasal 44 bagi kesehatan masyarakat. meningkatkan mutu dan karier Tenaga Kesehatan. mendeteksi registrasi ulang setelah memenuhi persyaratan. Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berhak: (2) Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) e. 36 Tahun 2014 (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tentang Tenaga Kesehatan dalam bentuk SIP. Jalur pendidikan profesi Pasal 30 Definisi Operasional : (1) Pengembangan Tenaga Kesehatan diarahkan untuk Pendidikan kebidanan terdiri dari pendidikan diploma. atau Pasal 60 lembaga sertifikasi yang terakreditasi. adanya penyakit. dikembangkan. pendidikan profesi dan pendidikan (2) Pengembangan Tenaga Kesehatan sebagaimana pasca sarjana. Jalur pendidikan vokasi pada ayat (1) yang lulus Uji Kompetensi memperoleh 2. Meningkatkan Kompetensi ditujukan untuk mencapai standar kompetensi lulusan 4. yang memenuhi standar kompetensi kerja. Undang-undang Republik Indonesia No. Standar Pendidikan Bidan pada ayat (1) yang lulus Uji Kompetensi memperoleh Standar V : Pola Pendidikan Kebidanan Sertifikat Kompetensi yang diterbitkan oleh Perguruan Pola pendidikan kebidanan mengacu kepada undang- Tinggi. lembaga pelatihan. memperkecil komplikasi. praktik. diedarkan. Pasal 21 (5) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing- (1) Mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa masing berlaku hanya untuk 1 (satu) tempat. (1) mencakup segala metode dan alat yang digunakan (4) STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat di untuk mencegah terjadinya penyakit. pendidikan sarjana. Jalur pendidikan akademik Sertifikat Profesi yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi. pendidikan vokasi dan profesi harus mengikuti Uji Pasal 57 Kompetensi secara nasional. 3. undang sistem pendidikan nasional. meringankan penderitaan akibat Pasal 46 penyakit. Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi bekerja sama profesinya dengan Organisasi Profesi. dan (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik di memulihkan kesehatan setelah sakit. 3. Tenaga Kesehatan bertanggung jawab untuk: (3) Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) b. dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pendidikan Standar IX : Lulusan . Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. diteliti. Pasal 42 dan pelatihan serta kesinambungan dalam menjalankan (1) Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan. 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan (5) Mahasiswa pendidikan vokasi sebagaimana dimaksud A. menyembuhkan.

Standar II : Falsafah . Standar Pendidikan Bidan Berkelanjutan kesehatan. falsafah yang selaras dengan falsafah organisasi profesi Definisi Operasional : IBI yang terermin visi. tingkat master dan 2. secara universal. melaksanakan praktiknya baik di institusi 2. Lulusan wajib berperan aktif dan ikut serta dalam 1. Pendidikan berkelanjutan merupakan kebutuhan pelayanan maupun praktik perorangan. untuk meningkatkan kemampuan bidan. Lulusan berperan aktif dalam merancang dan Pasal 50 menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagai (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung tanggapan terhadap perkembangan masyarakat. 4.3. konsultan dalam pendidikan bidan maupun 3. yang di buktikan dengan adanya sertifikat. Lulusan pendidikan bidan setingkat S2 dan S3. misi dan tujuan. Melalui penelitian dalam Pendidikan Berkelanjutan S1 merupakan bidan professional. Bidan harus mengembangkan diri dan belajar pelaksana. Lulusan program kebidanan.2. Standar IV : Program Pendidikan Dan Pelatihan Mereka dapat berperan sebagai pemberi layanan. 2.3 Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan doktor melakukan praktik kebidanan lanjut. pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan 3. institusi pelayanan maupun praktik perorangan. Program Pendidikan Berkelanjutan bidan berdasarkan institusi pelayanan maupun praktik perorangan. penelitian dan kegiatan sejenisnya yang dapat penelitian. ketatalaksanaan pelayanan. pengembang dan kelayakan. jawab meningkatkaN dan mengembangkan upaya B. Program tersebut disahkan/ terakreditasi organisasi IBI system/ketata-laksanaan pelayanan kesehatan (PP/PD/PC). konsultan pendidikan dan meningkatkan mutu dan citra profesinya. merupakan bidan 1. hasil pengkajian kelayakan. yang memiliki Definisi Operasional : kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di 1. 1. sesuai dengan kebutuhan dan pengembangan. Lulusan pendidikan bidan sebelum tahun 2000 Definisi Operasional : dan Diploma III kebidanan.Lulusan pendidikan bidan mengemban tanggung Pendidikan berkelanjutan untuk bidan mempunyai jawab profesional sesuai dengan tingkat pendidikan. Mereka dapat berperan sebagai pemberi layanan. Pendidikan berkelanjutan bidan memiliki program pengelola. 2. merupakan bidan profesional.1 Dasar Hukum 5. pengembangan. Lulusan pendidikan bidan setingkat Diploma IV / 3. dan pendidik. Ada program yang sesuai dengan hasil pengkajian pengelola. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun penentuan kebijakan dalam bidang kesehatan.2. pendidik. 2. yang memiliki akan memperkaya Body of Knowledge ilmu kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik di kebidanan. 2009 tentang Kesehatan 6. yang memiliki kompetensi untuk sepanjang hidupnya. peneliti.

Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dapat menghasilkan informasi kesehatan. 2) Memelihara kebersihan diri Definisi Operasional : Kebersihan diri meliputi kebersihan seluruh anggota tubuh. serta pakaian yang dikenakan. misi dan tujuan. tingkat master dan (3) Peningkatan dan pengembangan upaya kesehatan doktor melakukan praktik kebidanan lanjut. (4) Ketentuan mengenai peningkatan dan II. (IV) Lulusan program kebidanan. c) memelihara kebersihan rambut. pengembangan. yang memiliki Untuk menjaga kebersihan diri dapat dilakukan dengan: kompetensi untuk melaksanakan praktiknya baik a) mandi dua kali sehari di institusi pelayanan maupun praktik b) menggosok gigi ketika hendak tidur dan pagi hari perorangan. kuku. Dengan tetap sehat. teknologi. merupakan bidan profesional. termasuk gigi. konsultan berdasarkan pengkajian dan penelitian. 2. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan penelitian. pengelola. rambut. falsafah yang selaras dengan falsafah organisasi Pemerintah dan antarlintas sektor. produk melaksanakan tugas profesinya dengan baik. pendidikan dan ketatalaksanaan pelayanan. teknologi. profesi IBI yang tercermin visi. pendidik. jawab profesional sesuai dengan tingkat pendidikan. pengembang dan konsultan dalam pendidikan dan pakaian yang dikenakan. Standar IX Standar Pendidikan Bidan lakukan bisa berjalan lancar dan sesuai dengan harapan Lulusan pendidikan bidan mengemban tanggung kita contohnya dalam melayani klien. maka aktivitas yang akan kita I. hidung. telinga. Memperhatikan kesehatan perorangan. (2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat bidan maupun system/ketata-laksanaan (1) sekurang-kurangnya memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan secara universal kesehatan dasar masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun Definisi Operasional : 2014 tentang Tenaga Kesehatan (III) Melalui penelitian dalam Pendidikan Pasal 67 Berkelanjutan akan memperkaya Body of (1) Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik dapat Knowledge ilmu kebidanan melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Mereka dapat berperan sebagai setelah bangun tidur pemberi layanan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Memiliki tubuh yang sehat merupakan keinginan setiap Nomor 369/SK/III/2007 orang. 3) Memilih Makanan yang Sehat . 1) Menjaga daya tahan tubuh 3. Standar II Standar Pendidikan Berkelanjutan Bidan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat Pendidikan berkelanjutan untuk bidan mempunyai (1) dilaksanakan melalui kerja sama antar. dan teknologi informasi kesehatan untuk a. mendukung pembangunan kesehatan. (III) Lulusan pendidikan bidan setingkat S2 dan S3. Wewnag Bindan diri sendiri (2) Penelitian dan pengembangan sebagaimana A. peneliti. Penjabaran Kewajiban Bidan Terhadap Diri Sendiri dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk 1.

jaringan-jaringan tubuh. Namun. kurangi makanan pada pinggang. tidak langsung memengaruhi masalah lain seperti depresi misalnya tidur-tiduran. yaitu kemampuan badan Konsumsi zat-zat gizi tersebut harus dalam jumlah akan berfungsi pada efisiensi yang optimal dalam yang seimbang. dan kanker. Di sinilah televisi. dan hidrat arang). namun manfaat latihan fisik yang teratur Zat-zat gizi yang terdapat pada makanan memiliki merupakan bentuk upaya pencegahan terhadap penyakit fungsi yang berbeda bagi tubuh. Perbanyaklah mengonsumsi makanan sehat seperti akan membahayakan kesehatan dan menurunkan kualitas buah dan sayuran. terserang penyakit. ngobrol dengan teman. tetapi istirahat belum tentu sama bagi tubuh. Kekurangan zat gizi menyebabkan tubuh berolahraga: lebih mudah terserang penyakit dan memengaruhi a) Otot-otot menjadi kuat dan kekuatannya akan kesehatan jasmani dan mental yang bersangkutan. pentingnya makanan sehat. perbaikan kebugaran jasmani. bertambah. pemilihan makanan yang tidak sehat berakibat melepaskan lelah. penyakit jantung. yaitu sebagai sumber yang murah dan menyenangkan. dan gangguan metabolisme tubuh. mendengarkan radio. tidak mudah mengalami sakit Dalam mengonsumsi makanan. artinya tidak berlebihan dan tidak melakukan tugas sehari-hari. tersebut berguna untuk mengikat zat-zat yang berbahaya Tidur termasuk istirahat. instan atau cepat saji. mengistirahatkan badan dan kesadarannya. Sementara itu. 7) Perbanyak konsumsi air putih . kelelahan. Aktivitas fisik yang teratur dapat menyebabkan (protein. atau membaca buku bacaan. diabetes. kelebihan zat gizi juga tidak baik bagi b) Lebih tahan terhadap stres. c) Tekanan darah stabil. macam penyakit. vitamin. protein. perlu dipahami tenaga (lemak. mineral. mudah seimbang serta bersih dan tidak mengandung kuman. Selain memberi asupan vitamin 4) Istirahat dan Tidur dan mineral. sebagai ada yang lebih penting daripada sekadar mencegah pembangun (protein. Berikut ini manfaat kekurangan. dengan tidur. dan air). yang diperlukan tubuh. Sebaliknya. kuman penyakit. Buah dan sayuran mengandung Nutrisi kesehatan seseorang. misalnya lemak yang berlebihan. Pada makanan instan ada zat d) Kapasitas kerja fisik akan berkembang. sedangkan tidur artinya langsung pada kelebihan berat badan. Dengan mengonsumsi makanan sehat 6) Olahraga/Latihan Fisik secara Teratur berarti satu tahap menjaga kesehatan badan telah Latihan fisik memang tidak dapat menyembuhkan segala dilakukan. jika kita kurang zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang istirahat dapat menyebabkan sulit tidur. Selain itu. mineral). Beristirahat dapat melepaskan lelah serta mengembalikan Makanan sehat adalah makanan yang mengandung kesegaran dan kekuatan. menonton dan ketidaknyamanan sosial dan ekonomi. dan sebagai pengatur penyakit. secara 5) Istirahat dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. pengawet yang jika dikonsumsi secara berlebihan maka e) Risiko terserang penyakit berkurang. baik fisik maupun kesehatan karena menyebabkan penimbunan dalam psikologis. Beristirahat artinya berhenti sebentar untuk Di sisi lain. serat yang ada pada kedua bahan makanan Dalam hal ini dibedakan antara istirahat dan tidur. kegemukan.

seperti tentang kesehatan umumnya. minumlah terapi. didahulukan usaha pencegahan. Jika menemukan g. pada perawatan. Profesi bidan merupakan pengabdian. terpencil. c) Meningkatkan Taraf Kecerdasan dan Rohani Sebelum terjadinya sebuah penyakit. d) Melakukan pemeriksaan kesehatan a. yang c. sehingga kesehatan. hendaknya lebih berhati-hati bila di h. Mengikuti penataran. Pendidikan berkelanjutan keluarga yang sakit . dibutuhkan kewaspadaan terhadap kesehatan dirinya b) Menghindari kontak dengan sumber penularan sendiri. Air putih dapat memberi asupan mineral yang diperlukan objektif dalam menegakkan diagnosa dan menentukan tubuh dan mencegah tubuh dari dehidrasi. up ditemukan adanya gangguan kesehatan.rumah sakit yang lebih maju ke daerah-daerah c) Hentikan kebiasaan merokok. Mengadakan kunjungan atau studi perbandingan ke rumah b) Hindari minuman beralkohol. f. Pemeriksaan kesehatan (check up) sebaiknya keperawatan pada umumnya bahkan pengetahuan umum. pendidikan. penyakit: pelayanan 24 jam. e. kesehatan lainnya supaya bisa lebih objektif. 8) Menghindari terjadinya penyakit d. dilakukan secara periodik untuk mengetahui kondisi Berlangganan majalah profesi. Ruang lingkup yang Berikut ini cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari dilayani mencakup masyarakat. penyakit. simposium. disajikan dalam kesempatan pertemuan rutin. Jika dari check rubrik bulletin. akan lebih baik jika Untuk meningkatkan taraf kecerdasan dan rohani. Kebiasaan hidup sehat yang dilakukan untuk menjaga d. Sehingga disarankan untuk berobat kepada tenaga air putih minimal 8 gelas per hari. Seminar. Setiap bidan harus berusaha terus-menerus untuk Mematuhi dan menjalankan aturan agama. kesempatan pertemuan IBI di tingkat kecamatan. vaksinasi atau teknik pencegahan lainnya. kebidanan khususnya. seminar. kebidanan. Memperhatikan kesehatan lingkungan. a) Jauhi narkoba. Membaca buku-buku tentang kesehatan. meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai Meningkatkan pengetahuan dengan membaca. segera memeriksakan diri ke dokter. seseorang dapat melakukan langkah misalnya. Perlu diperhatikan mengenai upaya promotif dan preventif. misalnya bulanan. lokakarya. obati sendiri. Jika mengalami sakit atau keseimbangan tubuh terganggu. maka b. sakit. cabang. Membuat tulisan atau makalah secara bergantian. e. workshop. Karena terdapat kecenderungan tidak dapat . dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Mengisi badan dalam jangka waktu tertentu. lokakarya dapat dilakukan tindakan pencegahan dini. Kegiatan ini tentunya akan membuat a) Membiasakan diri dengan menjalankan aturan profesi bidan menjadi profesi yang sibuk. 9) Melakukan kebiasaan sehat lainnya daerah atau pusat. Perlu c. keluarga. b. Mengadakan latihan berkala seperti simulasi atau diingat bahwa pencegahan lebih murah daripada demonstrasi untuk tindakan yang jarang terjadi. majalah kesehatan. Mengundang pakar untuk memberi ceramah atau diskusi kualitas kesehatan meliputi hal-hal berikut ini: pada kesempatan pertemuan rutin. Jadi.

Lulusan program akademik profesional tingkat Sarjana k.Ia Hal ini akan meningkatkan kepuasan kosumen dan harus mampu bekerja sesuai dengan standar professional seorang bidan akan memperoleh imbalan sesuai dengan bidan dan memberikan pelayanan kesehatan yang pelayanan kesehatan yang telah di berikannya. Seorang bidan professional dan memiliki sikap yang baik (soft skill). apabila telah melaksanakan pendidikan berkelanjutan. propinsi. bidan akan lebih mengetahui perannya dalam pencapaian Pemerintah berupaya menyediakan dana bagi bidan di standar profesi bidan agar seorang bidan bekerja sesuai sector pemerintahan untuk melakukan program pendidikan dengan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung tersebut.Pola meningkatkan produktifitas kerja dan peningkatan kualitas pengembangan pendidikan berkelanjutan di rumuskan dan pelayanan kepada klien. Dengan adanya pendidikan berkelanjutan seorang pelayanan kesehatan yang berkualitas dan profesional. bidan memberikan pelayanan yang berkualitas. maka IBI membuat program komplek.baik pada tatanan . ferfome Lulusan pendidikan tingkat Diploma III menerapkan ilmu yang baik. seorang kebidanan dan tidak boleh melakukan praktek mandiri. Tujuan pendidikan berkelanjutan bagi bidan akan kesehatan ibu dan bayi serta meninggkat nya angka Pendidikan berkelanjutan memiliki tujuan yang kematian ibu dan bayi. kabupaten/ kota ) DI. Pelayanan kesehatan yang di kembangkan sesuai dengan kebutuhan.Lulusan pendidikan tingkat Diploma I saat sekarang ini Pendidikan berkelanjutan juga memberi peluang untuk di anggap tidak mampu memenuhi pelayanan praktek meningkatkan karier seorang bidan. Tingkatan pendidikan memberikan pelayanan langsung. Karena. seiring dengan perkembangan IPTEK dan kebutuhan j.Pendidikan berkualitas demi tercapainya penurunan angka kematian berkelanjutan kepada bidan akan meningkatkan intelektual Ibu dan bayi. IBI mendorong untuk meningkatkan pendidikan jawabnya.Lulusan tingkat Diploma IV menerapkan ilmu bidan memiliki keterampilan kepemimpinan (leadership pengetahuan klinik kebidananya dan penunjang yang sifat skill) yang sudah dibekali pada saat pendidikan sehingga nya khusus memberikan layanan langsung pada pasien mampu berhubungan baik dengan orang lain (human maupun memberikan pendidikan kepada tingkat relation) dan bekerja sama dengan rekan-rekan sejawat pendidikan bawah.Seorang mandiri. salah satu demi pemenuhan standar profesi Diploma III dan Diploma IV kebidanan demi tercapai nya bidan.i.Pendidikan berkualitas tersebut akan menarik konsumen untuk berkelanjutan bagi bidan bertujuan untuk mencapai memperoleh pelayanan terbaik dari seorang bidan yang kesejahteraan bagi Ibu hamil dan bayi nya. Sumber daya yang di miliki oleh seorang dan konseptual bidan. Mengadakan forum ilmiah yg lain (tingkat Pada awal nya pendidikan bagi bidan hanya sebatas nasional. sehingga seorang bidan dapat bidan harus di ikuti dengan perkembengan teknologi agar memberi dan menangani klien dengan tepat dan tanggap terciptanya pelayanan kesehatan yang memiliki ilmu karena telah terasahnya kemampuan seorang bidan dalam pengetahuan yang berkembang pada zaman sekarang memberikan asuhan kebidanan. ini. dan prestasi kerja yang sempurna akan pengetahuan kebidanannya dalam bentuk memberikan memperoleh penghargaan sebagai wujud pemberian pelayanan kebidanan terorganisir dan praktek pelayanan kesehatan yang baik kepada klien.Selain itu pendidikan berkelanjutan juga akan melalui kerja sama dengan Universitas dalam negeri. guna memberikan pelayanan yang berkualitas bagi klien. Studi banding.

Tujuan nya adalah pencapaian Profesi dan Perlindungan Hukum pasal 24 yang berbunyi: kesejahteraan klien dan mengurangi angka kematian pada 1) Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga Ibu dan bayi serta mendeteksi secara dini penyebab kesehatan yang melakukan tugasnya sesuai dengan meningkatnya angka kematian tersebut. l. perkembangan kesehatan di bidang teknologi. bidan. Salah satunya contoh nya adalah Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pemeriksaan antenatal. maupun menyelenggarakan dalam hal ini di tuntut untuk mampu bekerja secara praktek sendiri. Iptek dan kebidanan asuhan kebidanan. peran pendidikan berkelanjutan bagi bidan. Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dapat kemunkinan yang akan berakibat buruk pada ibu dan janin melaksanakan tugas profesinya dengan baik.Pendidikan berkelanjutan di laksanakan demi Analisis: .Lulusan tercapainya pemenuhan standar profesi kebidanan.Seorang bidan harus melakukan deteksi dini dan melanjutkan pendidikan nya pada tingkat yang lebih tinggi melaksanakan manajemen yang berkaitan dengan kondisi agar terpenuhinya kebutuhan klien terhadap klien.Seorang bidan melakukan teknologi maka seorang bidan harus mampu mengikutinya. pendidik.Lulusan kebidanan wajib berperan aktif dan professional dengan tujuan agar tidak terjadinya kesalahan ikut serta dalam penentuan kebijakan di bidang kesehatan dalam kerja. perlindungan hukum terhadap tenaga kesehatan terdapat peran yang sangat penting dalam perkembangan pada BAB V Standar Berdasarkan ketentuan yang terdapat pelayanan kesehatan yang di berikan seorang bidan di dalam PP Nomor 32 Tahun 1996 yang berkaitan dengan kepada kliennya. pemeriksaan kepada ibu hamil yang meliputi pemeriksaan agar ilmu kebidanannya berkembang sesuai dengan pada ibu dan janin dengan seksama apakah janin kebutuhan dan perkembangan zaman. Pendidikan berkelanjutan demi pemenuhan standar Pendidikan berkelanjutan bagi bidan berguna dalam pemenuhan standar kemampuan bidan dalam memberikan m. peneliti. Analisa Landasan Hukum Kewajiban Bidan Terhadap Diri dini penyebab yang mungkin terjadi pada ibu dan janin. Dalam hal ini seorang bidan harus mendeteksi secara B. program Sarjana ini dapat berperan sebagai pemberi Karena seorang bidan pada masa sekarang ini di tuntut layanan dikebidanan. institusi maupun tatanan layanan masyarakat. Sendiri Seorang bidan harus cepat dan tepat menanggapi 1. profesionalitas dalam kerja. kesehatan. Dalam hal ini untuk berkembang secara normal atau adanya kelainan yang mencapai dan menyesuaikan perkembangan teknologi di mungkin menyebabkan ibu tidak mampu bersalin secara zaman globalisasi ini maka seorang bidan harus normal. pengelola layanan kebidanan atau untuk bisa dan mampu memenuhi kebutuhan kliennya. rasa tanggung jawab yang 2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam penuh dan bekerja sesuai dengan standar profesi ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri. nya. Di sini di tuntut standar profesi tenaga kesehatan. Seorang bidan harus mampu untuk dan mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan mengurangi angka kematian Ibu dan bayi yang sangat berkualitas terhadap masyarakat terutama pada Ibu dan merebak di masa sekarang ini dan disinilah pentingnya bayi. Maka dalam hal ini pendidikan berkelanjutan memiliki a.

kesusilaan. Undang-undang dasar 1945 BAB XA tentang hak asasi praktik berhak: manusia pasal 28 H 1) memperoleh perlindungan hukum sepanjang 1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. c. moral. Dalam kemudian berhubungan erat dengan timbulnya hak dalam rangka tercapainya tujuan pembangunan kesehatan yang konsep yang sama. serta nilai- sebagai manusia yang bermartabat. perundang-undangan. namun pembangunan kesehatan serta terlindungi. melaksanakan tugas sesuai dengan Standar Profesi bertempat tinggal. nilai agama . Pasal 28 oleh konstitusi. baik bagi tenaga dalam sudut pandang holistik. perlindungan terhadap keadaan sewenang-wenang oleh siapapun. Penjelasan pasal 24 di atas meliputi perlindungan hukum 4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan yang berkaitan dengan rasa aman dalam melaksanakan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara tugas profesinya. peran dan tanggung jawab Bidan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang tenaga kesehatan sangatlah penting dalam kegiatan mengabdikan dirinya untuk melayani masyarakat. Bentuk Berdasarkan pasal tersebut diatas. Standar Pelayanan Profesi dan Standar baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan Prosedur Operasional. bidan juga tetap memiliki kesehatan itu sendiri maupun bagi masyarakat yang kewajiban dan hak atas dirinya dalam hal pelayanan menerima pelayanan kesehatan tersebut tentu perlu kesehatan yang memadai. dan medapatkan lingkungan hidup Bidan. termasuk bidan berhak memiliki Melaksanakan tugas dan profesinya bahwa setiap kehidupan yang sejahtera lahir dan batin dan berhak perbuatan yang dilakukan yang berdasarkan ketentuan memperoleh pelayanan kesehatan. kesehatan tentunya keberadaan. kesehatan. perlakuan yang sesuai dengan harkat memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh dan martabat manusia. 4) memperoleh perlindungan atas keselamatan dan 3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang kesehatan kerja. 2) memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari 2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan Penerima Pelayanan Kesehatan atau keluarganya khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat 3) menerima imbalan jasa yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. Hal ini tentunya akan membawa pengaturan yang dituangkan dalam bentuk peraturan pengaruh pada mutu kualitas pelayanan yang diberikannya. Dalam kode etik hukum yang berlaku akan mendapatkan perlindungan kebidanan bab V disebutkan mengenai kewajiban bidan hukum. Selaku komponen utama pemberi pelayanan H tersebut diatas. telah jelas disebutkan perlindungan hukum tenaga kesehatan Dalam bahwa setiap orang. Munculnya hak mengenai pemeliharaan sesuai dengan tujuan nasional sebagaimana diamanatkan kesehatan ini tertuang didalam UUD 1945 Bab Xa. membahayakan yang dapat mengancam keselamatan atau Analisis: jiwa baik karena alam maupun perbuatan manusia.Tenaga Kesehatan merupakan komponen utama untuk memelihara kesehatannya. kewajiban ini tentunya pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Undang-undang RI no 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan BAB IX tentang hak dan kewajiban tenaga kesehatan pasal 57Tenaga kesehatan dalam menjalankan b.

atau fasilitas kesehatan yang dapat digunakan masyarakat dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan kepentingan pemeliharaan kesehatannya. Analisis: 3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik Dari isi undang-undang tersebut telah terpapar jelas bahwa dan sehat. baik dalam kaitannya ia sebagai Analisis: tenaga kesehatan maupun sebagai masyarakat biasa yang Berdasarkan pasal tersebut diatas. yang tentunya akan berpengaruh pada 1464/MENKES/PER/X/2010 Pasal 1 (2)Fasilitas pelayanan peningkatan kompetensinya. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor keilmuannya. Proses ini adalah suatu cara kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk untuk memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik pelayanan yang diberikan oleh bidan adalah pelayanan promotif. kuratif maupun rehabilitatif yang yang terbaik. kode etik. Standar Prosedur Operasional. aman. termasuk pula 7) memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan digunakan oleh bidan. Undang-undang RI no 36 tahun 2014 tentang tenaga menjangkau fasilitas kesehatan. terutama pada poin juga berhak menggunakan fasilitas kesehatan yang (d) telah disebutkan dengan jelas bahwa bidan berhak disediakan oleh pemerintah. sesuai dengan keilmuan dan berprinsip pada etika profesinya. bidan harus jawab untuk : mengimplementasikannya sehingga akan sejalan 1) mengabdikan diri sesuai dengan bidang keilmuan yang dengan amanat pada undang-undang.39 tahun 1999 2) meningkatkan kompetensi tentang Hak azasi Manusia dan Kebebasan dasar 3) bersikap dan berperilaku sesuai dengan etika profesi manusia. 6) menolak keinginan Penerima Pelayanan atau pihak lain Analisis: yang bertentangan dengan Standar Profesi. 5) melakukan kendali mutu pelayanan dan kendali biaya 2) setiap orang berhak hidup tentram. Hal ini berarti pemerintah harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan. pemerintah daerah dan/ atau profesinya masyarakat. dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. seperti memberikan akses yang mudah untuk a. bidan memiliki kewajiban untuk selalu meningkatkan d. mempertahankan kepentingan pribadi atau kelompok hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. preventif. memperoleh perlindungan atas keselamatan dan 2. menyelenggarakan kesehatan BAB X tentang penyelenggaraan keprofesian lingkungan kerja yang aman. dalam menyelenggarakan upaya kesehatan. 5) mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dilakukan oleh pemerintah. Dengan disahkannya undang-undang ini . Setiap bidan harus secara terus menerus untuk kesehatan kerja. Selain hal ini menjadi Bagian I umum pasal 60Tenaga Kesehatan bertanggung kewenangan pemerintah.Sejalan dengan dimiliki undang-undang diatas. Pasal 9 : 4) mendahulukan kepentingan masyarakat daripada 1) setiap orang berhak untuk hidup. damai. UU RI No. sejahtera lahir dan batin. Dalam hal ini. Dari sini nampak bahwa pemerintah telah mengatur adanya standar pelayanan. melalui berbagai sisi. bagian ke 1. bahagia. bidan dapat dipandang Peraturan Perundang-undangan.

tenaga dimaksudkan agar tenaga kesehatan yang bersangkutan kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah. Undang-Undang Dasar RI. pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu keseimbangan. selalu mengutamakan kewajiban diatas hak-hak ataupun kepentingan pribadi. berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan Tambahan Lembaran Negara RI Nomor UU kesehatan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki No. penghormatan pengetahuan dan teknologi. Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009. seni dan budaya. Namun demikian halnya sebagai Analisis: manusia. harus memiliki izin d. Hak dan kewajiban meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan Tenaga Kesehatan Pribadi yang luhur adalah pribadi yang umat manusia. manfaat. perlindungan. b. berhak mendapat diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. demi terhadap hak dan kewajiban keadilan gender dan non diskriminatif dan norma-norma agama. dengan profesinya. teknologi dan pengetahuan. tenaga kesehatan berhak dan 205 pasal. dapat 1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui diutarakan pada pasal 2 pembangunan kesehatan pemenuhan kebutuhan dasarnya. Analisis: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 terdiri dari 22 bab Penjelasan dari pasal 27 di atas. Lebih lanjut dapat memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan dijelaskan bahwa tenaga kesehatan dalam melakukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Undang-undang dasar 1945 BAB XA tentang hak asasi baik berupa SIK (Surat Iziin Kerja) atau SIP (Surat Izin manusia pasal 28 C ayat: Praktek) dari pemerintah. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144. Dari 22 bab tersebut yang langsung mendapatkan perlindungan hukum apabila pasien sebagai berkaitan dengan perlindungan terhadap Tenaga kesehatan konsumen kesehatan menuduh/merugikan tenaga terdapat pada bab V tentang sumber daya bidang kesehatan dimana tenaga kesehatan sudah melakukan kesehatan yang terdapat dalam pasal 23 ayat (3) yang tugas sesuai ke ahliannya serta kewajiban mengembangkan berbunyi : dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan. serta tanggung jawab Setiap orang berhak untuk mengembangkan diri dalam hal profesinya kepada masyarakat. pelayanan kesehatan serta tugasnya. tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab terhadap pribadi dan keluarga.36/2009 berfungsi sebagai payung hukum yang 3) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban tenaga mengacu pada tanggung jawab pemerintah pusat dan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan kemudian menentukan apa yang diharapkan pemerintah ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pusat dari pemerintah daerah. Pasal 27 ayat: meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan . seni budaya untuk c. pendidikan. Pemerintah memiliki tujuan untuk memberikan layanan 1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan kesehatan yang berkualitas demi terciptanya masyrakat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai yang sehat.

bahagia dan sejahtera sesuai dengan hak pengetahuan dan tehnologi dalam bidang kesehatan. Pada pasal 15 ayat (2) Bidan praktik mandiri yang ditugaskan sebagai pelaksana Analisis: progam pemerintah berhak atas pelatihan dan pembinaan dari pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota.manusia terutama rakyat indonesia. termasuk melalui jalur akademik. pengetahuannya sesuai dengan perkembangan ilmu berakhlak mulia. Sejalan dengan hal tersebut diatas. bertanggugjawab. harus selalu update sehingga akan mampu memberikan Pasal 48 : pelayanan terbaik kepada masyarakat sebagai wujud Wanita berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengabdiannya. Berdasarkan kedua pasal diatas tenaga kesehatan Pasal 13 : pada kenyataannya masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ijin dari .39 tahun 1999 tentang Pasal 18 ayat (2) Hak azasi Manusia dan Kebebasan dasar manusia. pasal 48 : meningkatkan mutu pelayanan profesinya. 18 ayat 2. pengajaran di semua jenis. Pasal 12 . pelatihan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia memperjuangkan haknya secara kolektif untuk Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010 Pasal 15 ayat 2. bangsa dan negaranya. untuk selalu mengembangkan dirinya karena keilmuannya seni dan budaya sesuai dengan martabat manusia demi kesejahteaan pribadinya. Setiap orang berhak memajukan dirinya dengan berbagai Analisis: cara. Dalam hal ini termasuk Setiap orang berhak untuk mengembangkan dan juga bidan. pasal 13. azasi manusia. bagian bidan dalam menjalankan praktik/kerja senantiasa ke 3. mencerdaskan Analisis: dirinya dan meningkatkan kuaitas hidupnya agar menjadi bidan sebagai tenaga kesehatan harus mengupdate ilmu manusia yang beriman. pasal membangun masyarakat. selain memiliki hak. bertakwa. ia juga memang diwajibkan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. dsb. pribadinya. bangsa dan umat manusia. Bidan harus diberikan banyak bidan sebagai tenaga kesehatan dalam mengembangkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan semacam ini demi keilmuannya sehingga bisa meningkatkan kualitas memajukan kemampuannya. seperti pendidikan pemerintah juga berperan untuk meningkatkan pendidikan formal. dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Pasal 12 : melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan tugasnya. jenjang dan jalur pendidikan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan 2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam e. seperti yang telah diatur dalam pelayanan kesehatan dimasyarakat. undang-undang. untuk memperoleh pendidikan. disebutkan juga dalam UU RI No.

Pasal 28 J UUD 1945 :Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. Bagian Kedua Kewajiban Pasal 12 . pihak-pihak tertentu yang tidak mendukung pengembangkan Weweang Bidan Nusa dan Bangsa pendidikan bidan dan pelatihan untuk bidan terutama yang berada di daerah perifer disebabkan karena akses yang 2. 2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan c.4. didasari pendidikan akademik yang sah.3 Aspek Perlindungan Hukum Bidan di Indonesia masih sangat terbatas. dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan.2 UU No. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.4. Demikian pua hal nya berlaku untuk bidan. tanpa yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. BAB II ASAS DAN TUJUAN pendidikan minimum yang memungkinkannya untuk dapat Pasal 5 berpartisipasi dalam proses pencerdasan kehidupan (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama bangsa. Undang-undang dasar 1945 BAB XIII tentang pendidikan a. Seseorang tidak dapat disebut bidan jika Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hanya melakukan pelayanan berdasarkan kebiasaan. Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. Pasal 27 Ayat 1 : Segala warga negara bersamaan dan kebudayaan pasal 31 kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu Pasal 31 dengan tidak ada kecualinya. keamanan. setiap orang wajib tunduk kepada satu sistem pengajaran nasional. yang diatur dengan pembatasan yang ditetapkan dengan undang- undang-undang. 1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. dan ketertiban bagi siapa pun yang tidak melaksanakan kewajiban itu. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN. bermutu. 2. seseorang (2) Setiap orang mempunyai hak dalam baru bisa dikatakan sah menjadi bidan jika telah berhasil memperoleh pelayanan kesehatan yang aman.1 UUD 1945 f.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Dengan demikian setiap warga negara mempunyai a. b. nilai-nilai agama. 2. b. melewati jenjang pendidikan yang telah diatur dalam Pasal 6 undang-undang. undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak Analisis: dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan Pendidikan dasar menjadi wajib dan akan ada sanksi moral. umum dalam suatu masyarakat demokratis. dan terjangkau.

Pasal 53 ayat (1). sesuai dengan kewenangannya (4) Ketentuan mengenai hak pengguna memberikan sanksi administratif kepada pelayanan kesehatan. BAB XIII SANKSI ADMINISTRATIF Undang-Undang nomor 36 tahun 2014 ini Pasal 82 bertujuan untuk: . Pasal 52 yang menjadi tanggung jawabnya.4. (4) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat berupa: teguran lisan. b. dan Pasal 74 dikenai sanksi prosedur operasional.peringatan tertulis. dengan Peraturan Menteri. Pasal 59 ayat (1). merata bagi ayat (1). pemerintah daerah provinsi. Pasal 58 ayat seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat (1). Pasal 62 ayat (1). dan/ataupencabutan izin. dan standar (4). Pasal 31 (5) Tata cara pengenaan sanksi administratif Fasilitas pelayanan kesehatan wajib: terhadap Tenaga Kesehatan dan Fasilitas a. dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan (2) Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang kode etik. Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan dan standar prosedur operasional Kesehatan sebagaimana dimaksud pada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur ayat (1) dan ayat (2). BAB V SUMBER DAYA DI BIDANG KESEHATAN 70 ayat (1). a. mengirimkan laporan hasil penelitian dan pengembangan kepada pemerintah daerah 2. Pasal 70 ayat (2). Setiap orang berkewajiban menjaga dan (1) Setiap Tenaga Kesehatan yang tidak meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain melaksanakan ketentuan Pasal 47. kesehatan yang setinggi-tingginya Pasal 66 ayat (1).36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan atau Menteri. standar profesi. (3) Ketentuan mengenai kode etik dan standar (3) Pemerintah. Pasal 54 ayat (1). Pasal 70 ayat Pasal 24 (3) dan Pasal 73 ayat (1) dikenai sanksi (1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud administratif. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 3: d. standar pelayanan.3 UU No. administratif.denda administratif. memberikan akses yang luas bagi kebutuhan Pelayanan Kesehatan penelitian dan pengembangan di bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat kesehatan. Pasal 68 ayat (1). hak pengguna tidak melaksanakan ketentuan Pasal 26 pelayanan ayat (2). standar pelayanan. dan (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pemerintah daerah kabupaten/kota diatur oleh organisasi profesi. Pasal c. Pasal 70 ayat (2) kesehatan.

kehamilan. Pasal 9 Tenaga Kesehatan. normal 2. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana (5) memberikan kepastian hukum kepada dimaksud dalam pasal 9 huruf diberikan pada masyarakat dan Tenaga Kesehatan. PENGADAAN. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana (1) Tenaga Kesehatan yang telah ditempatkan di dimaksud pada ayat (10) meliputi: Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib 1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil melaksanakan tugas sesuai dengan 2) Pelayanan ante natal pada kehamilan Kompetensi dan kewenangannya. masa menyusui dan masa antara PENDAYAGUNAAN Bagian III Pendayagunaan dua kehamilan. penyelenggaraan Upaya Kesehatan yang 2. BAB IV PERENCANAAN. b.dianjurkan 1464/MENKES/PER/2010 tentang Izin dan denganperujukan Penyelenggaraan Praktik Bidan (lampiran 1). berwenang untuk dengan kebutuhan masyarakat. Bidan dalam memberikan pelayanan Asuhan Kebidanan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 berwenang untuk : 2. Pelayanan kesehatan ibu. dalam menerima penyelenggaraan Upaya b. masa persalinan. (1) memenuhi kebutuhan masyarakat akan 1. (2) mendayagunakan Tenaga Kesehatan sesuai Bidan dalam menjalankan praktik. Pelayanan kesehatan anak.1 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 3) Pelayanan persalinan normal Nomor 369/MENKES/SK/ III/2007 tentang Standar 4) Pelayanan ibi nifas normal Profesi Kebidanan. DAN masa nifas. 5) Pelayanan ibu menyusui dan 6) Pelayanan konseling pada masa antara 2.4. masa pra hamil. memberikan pelayanan yang meliputi : (3) memberikan pelindungan kepada masyarakat a. Pasal 10 diberikan oleh Tenaga Kesehatan.2 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia dua kehamilan Nomor 938/MENKES/SK/ VIII/2007 tentang Standar c. Yang terdiri dari beberapa pasal yaitu : 6) Bimbinganinisiasi menyusu dinidanpromosi ASI eksklusif .4.4. Dalam 4) Pemberian tablet Fe padaibuhamil menjalankan praktek profesionalnya wewenang 5) PemberianVitamin A dosistinggi pada bidan diatur dalam BAB III PENYELENGGARAAN ibunifas PRAKTIK. c.3 Izin Penyelenggaran Praktek Bidan Dan 1) Episiotomi Kewenangan Bidan 2) Penjahitanluka jalanlahirtingkat I dan II Peraturan Menteri Kesehatan RI No 3) Penanganankegawatdaruratan. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan (4) mempertahankan dan meningkatkan mutu keluarga berencana. dan a. dan Kesehatan. Pasal 26 b.

dan anak program pemerintah sekolah 5) Pemantauan tumbuh kembang bayi. 6) Melaksanakan pelayanan kebidanan anak balita dan anak pra sekolah komunitas 6) Pemberian konseling dan penyuluhan 7) Melaksanakan deteksi dini. Pasal 13 a. Pasal 11 5. Memberikan penyuluhan dan konseling 11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana b. anak usia sekolah dan remaja. dan alat ayat (1) berwenang untuk : kontrasepsi bawah kulit 1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal 2) Asuhanvantenatal terintegrasi dengan termasuk resusitasi pencegahan intervensi khusus penyakit kronis tertentu hipotermi. Pelayanan kesehatan anak sebagaimana a. anakbalita. menjalankan program pemerintah berwenang dananakprasekolah melakukan pelayanan kesehatan meliputi : b. 11. 4) Melakukan pembinaan peran serta 2) Penanganan hipotermi pada bayi baru masyarakat di bidang kesehatan ibu dan lahir dan segera merujuk anak. dan sesuai pedoman yang ditetapkan perawatan tali pusat. perawatan bayi baru lahir 3) Penanganan bayi dan anak balita sakit pada masa neonatal (0-28 hari). merujuk dan 7) Pemberian surat keterangan kelahiran memberikan penyuluhan terhadap Infeksi dan Menular Seksual (IMS) 8) Pemebrian surat keterangan kematian. anak prasekolah. Pasal 12 . 4) Pemberian imunisasi rutin sesuai dengan anak balita. kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada alatkontrasepsi dalam rahim. 8) Kondom dan penyakitnya 4. injeksi dilakukan dibawah supervisi dokter vitamin K1. bidan yang padabayibarulahir. penyehatan lingkungan dilanjutkan dengan perujukan 5) Pemantauan tumbuh kembang bayi. dan 12. Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dimaksud dalam pasal 9 huruf b diberikan dalam pasal 10. bayi. Memberikan kontrasepsi oral dan kondom 3. dan 3) Penanganan kegawatdaruratan. inisiasi menyusu dini. Bidan dalam memberikan pelayanan 1) Pemberian alatkontrasepsisuntikan. 7) Pemberianuterotonika Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan padamanajemenaktifkalatigadanpostpartum reproduksi perempuan dan keluarga berencana 8) Penyuluhandankonseling sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf c 9) Bimbingan padakelompokibuhamil berwenang untuk : 10) Pemberian surat keterangan kematian a.

tentunya kaidah/ketentuan hukum mengenai tenaga kesehatan juga didasarkan pada 3. Nusa. asuhan antenatal terintegras. khususnya dalam pelayanan KIA/KB pada ketentuan yang diatur didalam Pasal 27 UUD 1945 dan kesehatan keluarga dan masyarakat.2 Butir 2 kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan menyumbangkan pemikirannya kepada pemerintah tidak ada kecualinya” dan Pasal 28J UUD 1945 yaitu untuk. UUD 1945 merupakan grundnorm (norma dasar) bagi seluruh peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia.1 Butir Satu dan anak balita sakit.1 Kewajiban Bidan Terhadap Pemerintah. hal ini didasarkan bidang kesehatan. UU No. Tenaga Tanah Air (2 butir) kesehatan sebagai individu dan obyek hukum memiliki 3. 9) Pencegahan penyalahgunaan narkotika. ayat 1 yaitu “Segala warga negara bersamaan 3. kesehatan terutama pelayanan KIA/KB dan kesehatan Psikotropika dan zat adiktif lainnya keluarga.1. senantiasa kesamaan hak untuk melakukan berbagai upaya/usaha melaksanakan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam yang berkaitan dengan profesinya.2. penanganan bayi 3.36 Tahun 2009 dilakukan oleh bidan yang telah dilatih untuk Tentang Kesehatan dan UU No. Nusa. dan pelaksanaan deteksi dini.1. Sebagai PEMBAHASAN norma dasar. serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan diamanatkan pada kewajiban bidan butir 1 didasari oleh zat Adiktif lainnya (NAPZA) hanya dapat UUD 1945 Pasal 27 dan 28.meningkatkan mutu jangkauan pelayanan . (NAPZA) melalui informasi dan edukasi 10) Pelayanan kesehatan lain yang 3.2 Analisa Kewajiban Bidan Terhadap Pemerintah. Tenaga Kesehatan. merujuk dan memberikan penyuluhan Bidan dalam melaksanakan ketentuan – terhadap infeksi Menular Seksual (IMS) dan ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan yang penyakit lainnya.1 Butir 1 Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya. Bangsa Dan ketentuan yang terdapat didalam UUD 1945. artinya seluruh kaidah perundang-undangan yang ada di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan BAB III kaidah yang terkandung di dalam UUD 1945. merupakan program pemerintah Bangsa Dan Tanah Air b. 36 Tahun 2014 Tentang itu. Pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit.

standar yang berarti didasarkan Undang-Undang. berkaitan dengan pelaksanaan peran. penyelenggaraan diatur oleh organisasi profesi. Berdasarkan ketentuan yang diatur didalam untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak ketentuan dasar tentang tenaga kesehatan di atas. baik ketentuan yang Kebidanan. pelayanan. Ketentuan mengenai hak dan tanggung jawab Dalam UU No. (2) Ketentuan mengenai kode etik dan pembinaan.“Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. Bidan diakui sebagai salah satu yang harus ditaati oleh seluruh Bidan di Indonesia tanpa tenaga yang dikelompokkan ke dalam tenaga kebidanan. dan (3) Ketentuan pemerintahan haruslah didasarkan pada asas legalitas. Kompetensi Bidan jelas dan dapat pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan diukur. hak pengguna pelayanan bahwa pemerintah merupakan satu-satunya regulator kesehatan. Bidan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor tentunya harus taat dan patuh terhadap ketentuan yang 369/MENKES/SK/ III/2007 tentang Standar Profesi mengatur tentang tenaga kesehatan. dan Hal ini didasari juga oleh UU No. dan organisasi profesinya. pengadaan. fungsi. operasional. keamanan. dan standar prosedur operasional . standar profesi. dan ketertiban umum dalam suatu di dalamnya dapat benar-benar dilaksanakan. dan standar prosedur dalam perencanaan. mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan. pendayagunaan. standar pelayanan. Kesehatan Pasal 24 (1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dianalisis kode etik. serta ketentuan mengenai registrasi Bidan khusus mengatur tentang Bidan dan tenaga kesehatan. begitu juga dengan standar pelayanan dan memiliki kewenangan untuk melakukan pelayanan standar praktik yang ditetapkan oleh IBI sebagai kesehatan ibu. sebagai tolak ukur untuk menilai pencapaian dan maupun ketentuan perundang-undangan lainnya yang penguasaan standar kompetensi yang telah ditentukan. standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Sebagai sebuah Negara hukum.36 Tahun 2009 Tentang tanggung jawab Bidan sebagai tenaga kesehatan. setiap Bidan sebagai salah satu jenis tenaga kesehatan orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan belum memiliki ketentuan berupa Undang-Undang dengan undang-undang dengan maksud semata-mata Kebidanan. dan pengawasan mutu tenaga kesehatan. masyarakat demokratis”. dalam hal ini terlihat dengan adanya Keputusan keluarga berencana. nilai-nilai pelaksana lainnya agar kaidah/ketentuan yang dimaksud agama. maka dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan diperlukan adanya peraturan perundang-undangan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. pelayanan kesehatan anak. Sebagai tenaga kesehatan. terkecuali. 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga profesi disusun oleh IBI menjadi sebuah kode etik Bidan Kesehatan Pasal 11.

Sehingga Setiap orang berkewajiban Kesehatan wajib melaksanakan tugas sesuai dengan mendapat pelayanan kesehatan yang merata bagi Kompetensi dan kewenangannya. parlemen. dilihat dari angka kematian ibu yang terjadi di negara tersebut. yaitu Peraturan Menteri Nomor 1464 Tahun 2010 Tentang Izin dan Berdasarkan SDGs yang diintegrasikan dalam Penyelenggaraan Praktik Bidan.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan pada Pasal 5 kesehatan. Kesehatan yang telah ditempatkan di Fasilitas Pelayanan dan terjangkau. 2015).000 kelahiran hidup Bidan dalam melaksanakan tugas pelayanan kelahiran hidup pada tahun 2030 sesuai dengan program kesehatan.000 kelahiran hidup. maupun dengan bekerja di fasilitas pelayanan UU No. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan angka kematian ibu melahirkan pada Tahun 2015 Peraturan Menteri. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan bahwa Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam didalam Kepmenkes Tentang Standar Profesi Bidan memperoleh akses atas sumber daya di bidang bahwa Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang kesehatan. Dan apabila bidan seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan dalam memberikan asuhan kebidanan tidak sesuai yang setinggi-tingginya dengan kewenangannya dan melanggar peraturan yang berlaku akan mendapatkan sanksi administratif sesuai Permasalahan yang belum tuntas ditangani dengan pasal 82 undang-undang tentang kesehatan diantaranya yaitu upaya penurunan angka kematian ibu tahun 2009. perundang-undangan pelaksana. mencapai 305 per 100. yaitu menjamin (1) disebutkan bahwa Bidan dapat memberikan kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan pelayanan kebidanan baik dengan menjalankan praktik bagi semua orang di segala usia dan juga didukung oleh mandiri. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun . dunia usaha. organisasi profesi dan akademisi. bermutu. Pembangunan sektor kesehatan untuk SDGs sangat tergantung kepada peran aktif seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah pusat dan daerah.2. Setiap orang mempunyai hak dalam paripurna dimanapun dan kapanpun dan Tenaga memperoleh pelayanan kesehatan yang aman. mitra pembangunan Derajat kesehatan suatu negara salah satunya serta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) (SDGs. (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Didalam Pasal 2 ayat satu tujuan yakni tujuan nomor 3. berdasarkan pada ketentuan peraturan SDGs. lembaga sosial kemasyarakatan.2 Butir Dua media massa. Jumlah itu harus diturunkan menjadi 70 per 100. 3.

(2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada standar pelayanan minimal kesehatan. keluarga yaitu dengan menjaga kesinambungan Selain itu Bidan juga dapat mencoba membuat penelitian pelayanan kesehatan ibu dan menggunakan pendekatan tentang masalah yang sering terjadi di masyarakat yang paradigma sehat yang mengedepankan konsep promotif berhubungan dengan tugas profesi kebidanan.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan daerah atau Menteri. Sesuai dengan amanat UUD 1945 Pasal 28 minimal kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang menyebutkan bahwa “Kemerdekaan berserikat diatur dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini didasari Peraturan Menteri Kesehatan yang luas bagi kebutuhan penelitian dan pengembangan RI No 1464/MENKES/PER/2010 tentang Izin dan di bidang kesehatan.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 31 yaitu asuhan pasca persalinan dan pelayanan keluarga Fasilitas pelayanan kesehatan wajib: memberikan akses berencana. Pasal 51 yaitu (1) Upaya kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi- tingginya bagi individu atau masyarakat. Bidan menyumbangkan pemikirannya dengan undang”. kehamilan yang sehat. mendampingi ibu selama proses Sumbangsih pemikiran bidan juga didukung oleh UU kehamilan. menolong ibu dalam proses persalinan. Berdasarkan ayat tersebut bidan melalui cara memberikan informasi atau laporan kepada profesinya dapat berpartisipasi dengan menyumbangkan pemerintah melalui profesi IBI tentang berbagai hal yang pemikirannya kepada pemerintahan untuk menurunkan berhubungan dengan melaksanakan tugas bidan di AKI dengan meningkatakan mutu jangkauan pelayanan daerah. dan mengirimkan laporan hasil Penyelenggaraan Praktik Bidan. . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan . No. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang. Selain itu hal ini juga penelitian dan pengembangan kepada pemerintah didukung oleh UU No. . dan preventif dalam pelayanan kesehatan dengan diantaranya penelitian mengenai berapa biaya standar menempatkan kesehatan sebagai input dari sebuah persalinan normal di suatu daerah dan berapa banyak proses pembangunan. termasuk faktor penunjang maupun penghambat kesehatan terutama pelayanan KIA / KB dan kesehatan pelaksanaan serta hasil penelitian yang dilakukan bidan. dan berkumpul. Peran bidan Dalam mendukung animo masyarakat di suatu daerah terhadap fasilitas paradigma tersebut adalah membantu ibu merencanakan KIA/KB yang telah di sediakan oleh pemerintah.