You are on page 1of 5

ASMA BRONKIAL

(ICD X : J45)
No. Dokumen : SOP/UKP/PU/006
No. Revisi : 00
SOP
Tgl. Terbit : 1 April 2017
Halaman : 1/4
UPT. PUSKESMAS dr. I GN B. Sastrawan Dj, M.Kes
KUTA SELATAN Nip.197101232000121004

1. Pengertian
Asma adalah penyakit heterogen, selalu dikarakteristikkan dengan inflamasi kronis di saluran
napas. Terdapat riwayat gejala respirasi seperti mengi, sesak, rasa berat di dada dan batuk yang
intensitasnya berberda-beda berdasarkan variasi keterbatasan aliran udara ekspirasi.
2. Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah tatalaksana Asma Bronkial
3. Kebijakan
1. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No. 100/76/Pusk KS/2017 tentang Standar Layanan
Klinis
2. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No.100/21/Pusk KS/2017 tentang Kebijakan mutu.
3. SK Kepala Puskesmas Kuta Selatan No. 100/71/Pusk KS/2017 tentang Kewajiban tenaga
klinis dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien.
4. Referensi
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 514 Tahun 2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
5. Alat dan Bahan
1. Asthma control test
2. Tabung oksigen
3. Kanul hidung
4. Masker sederhana
5. Nebulizer
6. Masker inhalasi
7. Peak flow meter
8. Spirometri
6. Langkah- Langkah
1. Melakukan Anamnesis (Subjective)
Gejala khas untuk Asma, jika ada maka meningkatkan kemungkinan pasien memiliki Asma,
yaitu :
1. Terdapat lebih dari satu gejala (mengi, sesak, dada terasa berat) khususnya pada dewasa
muda
2. Gejala sering memburuk di malam hari atau pagi dini hari
3. Gejala bervariasi waktu dan intensitasnya
4. Gejala dipicu oleh infeksi virus, latihan, pajanan allergen, perubahan cuaca, tertawa atau
iritan seperti asap kendaraan, rokok atau bau yang sangat tajam

Faktor risiko asma bronkial
Faktor Pejamu Prediposisi genetik
Atopi
Hiperesponsif jalan napas
Jenis kelamin
Ras/etnik

ruangan gejala asma menetap Infeksi pernapasan Exercise dan hiperventilasi Perubahan cuaca Sulfur dioksida Makanan. penyedap. Pemeriksaan darah (eosinofil dalam darah) 3. pewarna makanan). yaitu terdapat kenaikan ≥15 % rasio APE sebelum dan sesudah pemberian inhalasi salbutamol. kecoa. aditif (pengawet. Mengi dapat juga tidak terdengar selama eksaserbasi asma yang berat karena penurunan aliran napas yang dikenal dengan “silent chest”. Melakukan Penatalaksanaan Komprehensif (Plan) Penatalaksanaan 1. Pasien disarankan untuk mengidentifikasi serta mengendalikan faktor pencetusnya. Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pasien asma biasanya normal. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. parfum. jamur) asma Bahan di lingkungan kerja (Asap rokok pada perokok aktif dan pasif) Polusi udara(dalam dan luar ruangan) Infeksi pernapasan (Hipotesis higiene) Infeksi parasit Status sosioekonomi Besar keluarga Diet dan obat Obesitas Faktor lingkungan Alergen di dalam dan di luar ruangan mencetuskan eksaserbasi dan Polusi udara di dalam dan di luar atau menyebabkan gejala. Faktor lingkungan Alergen di dalam ruangan (mite mempengaruhi domestic. Perlu dilakukan perencanaan dan pemberian pengobatan jangka panjang serta menetapkan pengobatan pada serangan akut sesuai tabel di bawah ini. bau-bauan 2. Arus Puncak Ekspirasi (APE) menggunakan Peak Flowmeter 2.l. Abnormalitas yang paling sering ditemukan adalah mengi ekspirasi saat pemeriksaan auskultasi. Melakukan Penegakan Diagnosis (Assessment) Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. 2. tetapi ini bisa saja hanya terdengar saat ekspirasi paksa. 4. jamur) berkembangnya asma pada Alergen di luar ruangan (tepung sari individu dengan predisposisi bunga. obat- obatan Ekspresi emosi yang berlebihan Asap rokok Iritan (a. Penatalaksanaan asma berdasarkan beratnya keluhan Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega 2/4 . Pemeriksaan Penunjang 1. biantang.

400 μg • Teofilin lepas lambat Ringan BB/hari atau • Leukotriene modifiers ekuivalennya) Asma Kombinasi inhalasi Persisten glukokortikostero id • Glukokortikosteroid •Ditambah Sedang (400-800 μg BB/hari inhalasi (400-800 μg agonis atau ekuivalennya) BB atau ekuivalennya) beta-2 dan agonis beta-2 ditambah Teofilin lepas kerja lama kerja lama lambat. pertahankan terapi paling tidak 3 bulan. tidak melebihi 3-4 kali sehari Berat Medikasi pengontrol Alternatif / Pilihan Alternatif Asma harian lain lain Asma Kombinasi Prednisolon/ Persiste Inhalasi Metilprednisolon oral n glukokortikostero Selang sehari Berat id (> 800 μg BB 10 mg ditambah atau ekuivalennya) agonis beta-2 dan agonis beta-2 kerja lama oral. atau • Glukokortikosteroid • Ditambah inhalasi (400-800 μg teofilin BB/hari atau lepas ekuivalennya) lambat ditambah agonis beta-2 kerja lama inhalasi dosis tinggi (>800 μg BB atau ekuivalennya) atau • Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 μg BB atau ekuivalennya) ditambah modifiers Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan. kerja lama. ---- Intermiten Asma Glukokortikoster oid ---- Persisten inhalasi (200. atau oral. kemudian turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan) 3/4 . tidak melebihi 3-4 kali sehari Berat Medikasi pengontrol Alternatif / Pilihan Alternatif Asma harian lain lain Asma Tidak perlu ---. bila dibutuhkan. ditambah teofilin Diambah ≥ 1 lepas lambat di bawah ini : • Teofilin lepas lambat • Leukotriene modifiers • Glukokortikost eroid oral Semua tahapan : Bila tercapai asma terkontrol.

Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara berkala (asthma control test/ ACT) 3. perubahan penyakit (apakah membaik atau memburuk). Rekaman Historis perubahan ASMA BRONKIAL (ICD X : J45) No. Uji provokasi bronkus Komplikasi Pneumotoraks. 6. sifat penyakit. 3. Foto toraks 2. Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan: a) Menghindari setiap pencetus. Uji sensitifitas kulit 3. Spirometri 4. : DT/UKP/PO. b) Menggunakan bronkodilator/ steroid inhalasi sebelum melakukan exercise untuk mencegah exercise induced asthma. 2. Memberikan Konseling dan Edukasi 1. 3. Pola hidup sehat. No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai diberlakukan 1. Dokumen Terkait Rekam medis manual dan elektronik Formulir rujukan 11. Terdapat oksigen. Bila sering terjadi eksaserbasi. 8. Hal-hal perlu diperhatikan Mekanisme pemberian Nebulizer dan prosedur rujukan 9. Pneumomediastinum. jenis dan mekanisme kerja obatobatan dan mengetahui kapan harus meminta pertolongan dokter. Melakukan pencatatan data pasien pada rekam medis 7. Pemberian steroid sistemik injeksi atau inhalasi disamping pemberian bronkodilator kerja cepat inhalasi. Pasien harus didampingi oleh dokter/tenaga kesehatan terlatih selama perjalanan menuju ke pelayanan sekunder. Revisi : 00 TILIK Tgl. Gagal napas. Asma dengan komplikasi. 5. Dok. yaitu: 1. Unit Terkait Loket Apotik 10. Persiapan dalam melakukan rujukan bagi pasien asma. Asma resisten terhadap steroid.01/006 DAFTAR No. 2. Pada serangan asma akut sedang dan berat. 2. 4. Melakukan rujukan bila diperlukan Kriteria rujukan 1. Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit. Terbit : 1 April 2017 4/4 .

M..) 5/4 . I GN B. PUSKESMAS dr. Sastrawan Dj.Kes KUTA SELATAN Nip. Halaman : 1/1 UPT. % Penilai : Yang Dinilai : (………………………) (………………………….197101232000121004 NO PROSEDUR PENILAIAN : YA TIDAK TIDAK BERLAKU 1 Melakukan Anamnesa 2 Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang 3 Penegakan Diagnosis 4 Melakukan Penatalaksanaan secara komprehensif 5 Memberikan Konseling dan edukasi pada pasien 6 Melakukan pencatatan pada rekam medis pasien 7 Melakukan rujukan bila diperlukan Total Score Nilai Kepatuhan : …………………………….