You are on page 1of 5

PEMBAHASAN SOAL UAS GENAP TP.

2015/2016 KELAS X

PEMBAHASAN SOAL NO. 6


Pembagian zona laut berdasarkan intensitas cahaya matahari.
1. Zona Fotik (Euphotic zone)
Wilayah perairan laut yang dapat ditembus sinar matahari, kedalamnnya hingga
mencapai kurang lebih 200 m. Beragam jenis biota hidup di zona ini seperti terumbu
karang, ikan, rumput laut dan lainnya.

2. Zona Twilight (Disphotic zone)


Wilayah titik remang-remang yang minim cahaya sehingga jumlah produsen kurang,
sebab mereka tidak bisa melakukan aktifitas fotosintesis. Kedalamannya antara 200
sampai 2000 meter.Contoh hewan laut yang hidup di zona ini diantaranya ikan paus,
hiu dan gurita.

3. Zona Afotik (Aphotic zone)


Wilayah dimana tidak sedikitpun cahaya matahari dapat menembus kedalaman lautan.
Zona ini disebut laut dalam dan biota yang hidup disini adalah biota-biota unik seperti
biota yang memiliki kemampuan menghasilkan cahaya sendiri atau sering disebut juga
bioluminescene. Pendaran cahaya tersebut dihasilkan dari reaksi zat kimia tertentu
yang diproduksi oleh mahluk tersebut.

PEMBAHASAN SOAL NO. 7

Urat daun adalah susunan pembuluh pengangkut pada daun. Tumbuhan


monokotil memiliki urat daun yang memanjang dari pangkal ke ujung daun secara
sejajar. Tumbuhan dikotil memiliki urat daun yang membentuk jaringan. Urat daun
tersebut bercabang-cabang hingga menjadi percabangan kecil dan membentuk
susunan seperti jaring atau jala.

PEMBAHASAN SOAL NO. 8


Ciri-ciri umum Kingdom plantae adalah sebagai berikut:

Organisme eukariotik

Bersifat multiseuler

Memiliki klorofil (organisme fotosintetik)

Klorofil terdapat dalam plastida

Memiliki dinding sel

Tumbuhan memiliki organisasi jaringan dan organ


Bersifat autotrof

Memiliki orga reproduksi multiseluler

Umumnya memiliki akar, batang dan daun

Tumbuhan menyimpan makanan dalam bentuk pati

Beberapa memiliki siklus hidup atau pergantian keturunan

PEMBAHASAN SOAL NO. 9


Ciri tumbuhan monokotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki:

Bentuk Akar Memiliki sistem akar serabut

Jumlah keping biji atau kotiledon satu buah keping biji saja

Bentuk sumsum atau pola tulang daun Melengkung atau sejajar

Kaliptrogen / tudung akar Ada tudung akar / kaliptra

Kandungan akar dan batang Tidak terdapat kambium

Pertumbuhan akar dan batang Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

Jumlah kelopak bunga Umumnya adalah kelipatan tiga

Pelindung akar dan batang lembaga Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar
lembaga /keleorhiza

PEMBAHASAN SOAL NO. 10

PEMBAHASAN SOAL NO. 11

1. Psilopsida (Paku Purba)

Sub divisi dari sistem klasifikasi tumbuhan paku yang pertama adalah Psilopsida atau paku
purba. Sesuai dengan namanya, jenis tumbuhan paku satu ini telah ada sejak zaman purba.
Sebagian di antara mereka telah mengalami kepunahan dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil,
misalnya Rhynia (paku tidak berdaun), sedangkan sebagian kecil lainnya masih dapat ditemukan
saat ini, misalnya Paku Tmesipteris yang tumbuh di kepulauan dan Psilotum nudum tumbuh di
daerah tropis dan subtropis.

Ciri-ciri dari jenis tumbuhan paku ini antara lain tingginya 30 cm 1 m, memiliki rizhom yang
dikelilingi rizoid, serta tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Akan tetapi, dari ciri-ciri
tersebut, ada pula beberapa pengecualian. Sebagian paku purba yang memiliki daun mempunyai
ciri yang lebih spesifik di antaranya:

1. Ukuran daun sangat kecil berbentuk seperti sisik.

2. Sporangium berada di ketiak ruas batang.


3. Gametofit tersusun atas sel yang tidak berklorofil.

4. Batang berklorofil dan sudah memiliki sistem pengangkut (pembuluh vaskuler).

2. Lycopsida (Paku Kawat)

Pengklasifikasian tumbuhan paku juga menghasilkan satu sub divisi yaitu tumbuhan paku kawat
atau paku rambut (Lycopsida). Sub divisi paku-pakuan ini diperkirakan telah tumbuh di bumi di
masa Devonian. Mereka terus berkembang biak hingga jumlahnya sangat melimpah pada masa
Karboniferus. Hampir semua Lycopsida telah mengalami kepunahan. Mereka kebanyakan telah
ditemukan dalam bentuk fosil atau endapat batu bara. Namun, beberapa di antaranya yang
berukuran kecil hingga kini dapat kita temui di permukaan tanah atau kulit pohon di ekosistem
hutan_hujan_tropis.

Hampir semua Lycopsida telah mengalami kepunahan. Mereka kebanyakan telah ditemukan
dalam bentuk fosil atau endapat batu bara. Namun, beberapa di antaranya yang berukuran kecil
hingga kini dapat kita temui di permukaan tanah atau kulit pohon di ekosistem hutan hujan
tropis.

Secara umum, sub divisi dari klasifikasi tumbuhan paku ini dapat diidentifikasi dari morfologi
dan anatomi tubuhnya. Ciri-ciri tumbuhan paku ini antara lain:

1. Tinggi tubuhnya bisa mencapai 3 meter.

2. Sporofit tersusun dari sel-sel yang mengandung klorofil dan memiliki daun berbentuk
seperti rambut atau sisik.

3. Batangnya berbentuk seperti kawat dengan cabang-cabang yang mengandung


sporangium dalam wadah sporofil yang berbentuk gada (strobilus).

4. Gametofit berukuran kecil dan tidak berklorofil. Oleh karena itu, makanannya diperoleh
melalui simbiosis dengan jamur yang tumbuh di sekitarnya.

5. Sporangium menghasilkan spora. Ada Lycopsida yang menghasilkan satu jenis spora
(homospora), seperti Lycopodium sp., namun ada juga yang menghasilkan 2 jenis spora
(heterospora), seperti Selaginella sp.

6. Gametofitnya ada yang memiliki 2 jenis alat kelamin, misalnya Lycopodium sp., namun
ada pula yang menghasilkan 1 jenis alat kelamin saja, misalnya Selaginella sp.

3. Sphenopsida atau Equisetopsida (Paku Ekor Kuda)

Klasifikasi tumbuhan paku juga menghasilkan satu sub divisi yang dinamai divisi paku ekor
kuda (Sphenopsida atau Equisetopsida). Dinamai demikian karena jenis tumbuhan paku ini
mempunyai percabangan pada batangnya dengan bentuk menyerupai ekor kuda. Paku ekor kuda
memiliki beberapa ciri, di antaranya:

1. Sering tumbuh di daerah dengan tanah berpasir.

2. Sporofitnya berbentuk sisik dengan warna agak transparan dengan susunan melingkar
pada batangnya.
3. Batangnya berongga dan beruas. Karena pada lapisan luar batang terkandung silika
tinggi, batang dari klasifikasi tumbuhan paku ini cukup keras dan sering digunakan
sebagai alat penyikat.

4. Batang memiliki rizom dan ujung yang mengandung sporangia.

5. Sporangiumnya menghasilkan spora dengan ukuran dan bentuk sama, kendati dari jenis
yang berbeda. Oleh karena inilah paku-pakuan dalam sub divisi ini tergolong paku
peralihan.

6. Tingginya bisa mencapai 15 meter.

4. Pteropsida (Paku Sejati)

Sub divisi dalam klasifikasi tumbuhan paku selanjutnya adalah subdivisi paku sejati
(Pteropsida). Tumbuhan paku dari jenis ini umumnya dengan mudah kita temui pada habitat
lembab, seperti di daerah ekosistem hutan hujan tropis. Pakis yang tumbuh di sela pohon sawit
merupakan salah satu spesies dari golongan tumbuhan paku ini. Selain itu, spesies golongan
paku sejati juga dapat kita temui dengan melihat ciri-cirinya yaitu:

1. Memiliki akar, batang dan daun sejati dengan ukuran variatf.

2. Daunnya berukuran lebih besar dibanding paku-pakuan jenis lain, bentuknya lembaran,
dan tulang daunnya bercabang.

3. Daun atau tunas mudanya menggulung.

4. Terdapat > 12.000 spesies paku sejati di dunia saat ini. Beberapa contoh tumbuhan paku
dari sub divisi ini antara lain Asplenium nidus, Adiantum fimbriatum, dan Marsilea
crenata.

PEMBAHASAN SOAL NO. 12


a. Tumbuhan paku dapat digunakan sebagai tanaman hias. Misalnya : Adiantum, Platycerum,
Asplenium, Nephrolepis, dan Selaginella.

b. Beberapa tumbuhan paku dapat digunakan sebagai obat, Misalnya :


1) Equisetum digunakan untuk obat antidiuretik (lancar seni).
5. 2) Cyclophorus digunakan untuk obat pusing dan obat luar.
3) Dryopteris digunakan untuk obat cacing pita.
4) Platycerium bifurcatum digunakan untuk obat tetes telinga luar.
5) Lycopodium digunakan untuk obat antidiuretik dan sporanya digunakan untuk
pencahar lemak.

c. Beberapa tumbuhan paku dapat dijadikan sayuran (makanan), Misalnya, semanggi


(Marsilea) dan paku garuda (Pteridium aquilinum).

d. Azolla pinnata yang bersimbiosis dengan Anabaena (alga biru) dapat mengikat unsur
nitrogen bebas dari udara sehingga dapat menyuburkan tanah.

e, Paku tiang (Alsophyla glauca) batangnya dapat digunakan untuk tiang bangunan.

f. Tepung spora Lycopodium dapat digunakan untuk bahan kembang api.

g. Batang paku ekor kuda (Equisetum) yang dikeringkan dapat dipakai untuk alat
pembersih (penggosok).
h. Tumbuhan paku ada yang merugikan karena beberapa ada yang menjadi gulma
(tumbuhan pengganggu). Misalnya, Salvinia natans (keyambang) merupakan tumbuhan
pengganggu pada tumbuhan padi.