You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan kesehatan yang
ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah. Tingginya kadar gula
karena kurang maksimalnya pemanfaatan gula oleh tubuh sebagai sumber energi
karena kurangnya hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas atau tidak
berfungsinya hormon insulin dalam menyerap gula secara maksimal (Handelsman
et al, 2011).
Insulin merupakan hormon yang terdiri dari rangkaian asam amino,
dihasilkan oleh sel beta kelenjar pankreas. Dalam keadaan normal, bila ada
rangsangan pada sel beta, insulin disintesis dan kemudian disekresikan ke dalam
darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah. Secara
fisiologis, regulasi glukosa yang baik diatur bersama dengan hormaon glukagon
yang disekresikan oleh alfa kelenjar pankreas (Manaf, 2010).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan
urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Melitus di dunia. Pada
tahun 2006 jumlah penderita Diabetes Melitus di Indonesia mencapai 14 juta
orang. Dari Jumlah tersebut baru 50% penderita yang sadar mengidap dan sekitar
30% di antaranya melakukan pengobatan rutin (Sidhartawan, 2008).
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru (Profil
Kesehatan Tahun 2011) tentang jumlah kasus Diabetes Melitus yang terjadi di
seluruh Rumah sakit di Kota Pekanbaru yaitu sebanyak 210 jiwa menderita
Diabetes Melitus bergantung insulin, sedangkan untuk penderita Diabetes Melitus
tidak bergantung insulin berjumlah 7.055 jiwa, artinya pravalensi penderita
Diabetes Melitus di Provinsi Riau meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terbukti
dari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Riau.
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit hiperglikemia akibat
insensivitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau
berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta
pankreas, maka diabetes melitus tipe 2 dianggap sebagai non insulin dependent
diabetes melitus (Slamet, 2008).
Berdasarkan analisis antara jenis kelamin dengan kejadian Diabetes Melitus
Tipe 2, prevalensi kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada wanita lebih tinggi

1
daripada laki-laki. Wanita lebih berisiko mengidap diabetes karena secara fisik
wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar.
Sindroma siklus bulanan (premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang
membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses
hormonal tersebut sehingga wanita berisiko menderita diabetes mellitus tipe 2
(Irawan, 2010).
Penelitian antara umur dengan kejadian diabetes mellitus menunjukkan
adanya hubungan yang signifikan. Kelompok umur < 45 tahun merupakan
kelompok yang kurang berisiko menderita DM Tipe 2. Risiko pada kelompok ini
72% lebih rendah dibanding kelompok umur 45 tahun. Selain itu, studi yang
dilakukan Sunjaya (2009), juga menemukan bahwa kelompok umur yang paling
banyak menderita diabetes mellitus adalah kelompok umur 45 52 (47,5%).
Peningkatan diabetes risiko diabetes seiring dengan umur, khususnya pada usia
lebih dari 40 tahun, disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi
peningkatan intolenransi glukosa. Adanya proses penuaan menyebabkan
berkurangnya kemampuan sel pancreas dalam memproduksi insulin. Selain itu
pada individu yang berusia lebih tua terdapat penurunan aktivitas mitokondria di
sel-sel otot sebesar 35%. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar lemak
di otot sebesar 30% dan memicu terjadinya resistensi insulin
Kolesterol termasuk keluarga lemak, zat ini merupakan salah satu dari
komponen lemak itu sendiri. Kehadiran lemak sendiri dalam tubuh kita
sesungguhnya memiliki fungsi sebagai zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh
di samping zat gizi lainnya seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral
(Pellizzon, 2008).
Dalam menjalankan fungsinya apabila kolesterol dalam tubuh berlebih akan
menimbulkan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan
maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Beberapa kelainan fraksi lipid yang
utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida (TG),
serta penurunan kolesterol HDL. Berbagai perubahan profil lipid tersebut saling
terkait satu dengan lain sehingga tidak dapat dibicarakan sendiri-sendiri. Hal ini
menyebabkan kolesterol mudah sekali menempel dalam dinding pembuluh darah
koroner sehingga menimbulkan plak (timbunan lemak pada dinding pembuluh
darah ini disebut dengan plak aterosklerosis) (Handayani, 2003).

2
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul ingin mengambil judul Gambaran Kadar Kolesterol
Total Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Bhayangkara
Pekanbaru
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran kadar kolesterol total pada pasien yang menderita
Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru tahun 2016 ?.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kadar kolesterol total
pasien Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru tahun 2016.
1.3.2 Tujuan khusus
Untuk mengetahui kadar kolesterol total pada pasien penderita Diabetes
Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru tahun 2016

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi peniliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam bidang penelitian
khususnya tentang pemeriksaan kolesterol total pada pasien pendeita Diabetes
Melitus tipe 2.
1.4.2 Bagi institusi
Menambah bahan referensi untuk mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan
khususnya tentang pemeriksaan kadar kolesterol total pada pasien penderita
Diabetes Melitus tipe 2.

1.4.3 Bagi masyarakat


Memberi informasi bagi masyarakat, khususnya pada pasien penderita
diabetes melitus bawah pemeriksaan kolesterol merupakan salah satu pemeriksaan
yang penting untuk mengetahui stabilitas kadar kolesterol pada pasien penderita
diabetes melitus tipe 2 dan mengenai faktor yang berpengaruh terhadap kadar
kolesterol total pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 sehingga dapat dijadikan
sebagai bahan masukan bagi masyarakat agar melakukan hidup sehat sehingga
dapat mencegah resiko terjadinya Diabetes Melitus.

3
1.5 Keaslian Penelitian
Judul Penelitian KTI : GAMBARAN KADAR TRIGLISERIDA PADA
PASIEN DIABETES MELLITUS DI RUMAH
SAKIT BHAYANGKARA PEKANBARU TAHUN
2016
Tabel 1.1 keaslian Penelitian
Peneliti Judul referensi Hasil Referensi Persamaan Perbedaan
Trisnawati, Sk, Faktor Resiko Terdapat hubungan Variabel Analisis
Setryorongo, Kejadian Diabetes anatar umur, jenis bebas : umur data bivariat
S., 2013 Mellitus Tipe 2 Di kelamin dengan dan jenis
Puskesmas kerjadian Diabetes kelamin
Kecamatan mellitus tipe 2 Metode
Cingkareng Jakarta penelitian
Barat Tahun 2012 adalah cross
secsional
Irawati, R. R. Faktor-Faktor Yang Tidak terdapat Metode
D., Meikawati, Berhubungan hubungan yang Masalah yang penelitian
W., Astuti, R., Dengan Kadar bermakna antara dibahas adalah yang
2013 Trigliserida Dalam umur, jenis kelamin, hubungan digunakan
Darah (Studi Pada status gizi, konsumsi antara umur, adalah
Penderita Diabetes makanan tinggi jenis kelamin univariat
Mellitus Di Rumah karbohidrat, dan dan kadar dan bivariat
Sakit Bhakti Wira riwayat keluarga trigliserida
Tamtama dengan kadar pada pasien
Semarang) trigliserida. Ada Diabetes
hubungan yang Mellitus.

4
bermakna antara
aktifitas fisik dengan
trigliserida

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus


2.1.1 Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes melitus dalah penyakit kelainan metabolik yang dikarakteristikkan
dengan hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun keduanya
(WHO,2006)
Hiperglikemia kronis pada diabetes melitus akan disertai dengan
kerusakan,gangguan fungsi beberapa Organ tubuh khususnya mata, ginjal, saraf,
jantung, dan pembuluh darah.Walaupun pada diabetes melitus ditemukan
gangguan metabolisme semua sumber makanan tubuh kita, kelainan metabolisme
yang paling utama ialah kelainan metabolisme karbohidarat. Oleh karena itu
diagnosis diabetes melitus selalu berdasarkan tingginya kadar glukosa dalam
plasma darah(Adam,2006)

5
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
Secara umum dibagi menjadi 4 tipe, yaitu:
A. Diabetes Melitus tipe 1(insulin-dependent diabetes mellitus)
Diabetes Melitus tipe 1 adalah diabetes dengan pankreas sebagai
pabrik insulin tidak dapat atau kurang mampu membuat insulin. Akibatnya,
insulin tubuh kurang atau tidak ada sama sekali dan gula akan menumpuk
dalam peredaran darah karena tidak dapat diangkut ke dalam sel.Gejala
yang ditimbulkan mendadak dan bisa berat sampai koma apabila tidak
segera ditolong dengan suntikan insulin. Pengobatan dapat dilakukan
dengan penggunaan insulin (suntikan insulin, melalui pump yaitu pemberian
masukan insulin setiap 24 jam sehari dengan dosis yang ditentukan).
Pengobatan harus berlanjut terus(Tandra,2013)

2. Diabetes Melitus tipe 2(Noninsulin-Dependent Diabetes Mellitus)


Diabetes Melitus tipe 2 adalah jenis yang paling sering didapatkan.
Biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun, namun bisa pula timbul pada
usia di atas 20 tahun. Pada Diabetes Melitus tipe 2 pankreas masih bisa
membuat insulin, tetapi kualitas insulinya buruk dan tidak dapat berfungsi
dengan baik sehingga glukosa dalam darah meningkat. Pada tahap awal
kelainan yang muncul adalah meningkatnya kadar insulin. Pasien yang
mengidap Diabetes Melitus tipe ini tidak perlu tambahan suntikan insulin
dalam pengobatannya, tetapi memerlukan obat yang bekerja untuk
memperbaiki insulin, menurunkan glukosa. Penyebab lain terjadinya
Diabetes Melitus tipe 2 adalah sel-sel jaringan tubuh dan otot si pasien tidak
peka atau sudah resisten terhadap insulin, akibatnya insulin tidak bekerja
dengan baik dan akhirnya glukosa tertimbun dalam peredaran darah.
Keadaan ini umunya terjadi pada pasien yang gemuk dan
obesitas(Tandra,2013)

3. Diabetes Melitus Gestasional

6
Secara umum diabetes melitus pada kehamilan dibagi menjadi dua
kelompok yaitu diabetes melitus yang memang sudah diketahui sebelumnya
dan kemudian menjadi hamil yang kedua diabetes melitus yang baru
ditemukan saat hamil. Diabetes melitus gestasional didefinisikan sebagai
suatu intoleransi glukosa yang terjadi atau pertama kali ditemukan pada saat
hamil. Dinyatakan diabetes melitus gestasional bila glukosa plasma
puasa>126 mg/dL atau 2 jam setelah beban glukosa <200mg atau toleransi
glukosa terganggu. Faktro resiko diabetes melitus gestasional usia saat
hamil <30 tahun,riwayat diabetes dalam keluarga,dan riwayat pada
kehamilan sebelumnya(Adam,2015)

4. DiabetesMelitusTipe Lain
DM disebabkan karena kelainan genetic, penyakit pancreas, obat,
infeksi, antibody, sindroma penyakit lain. Diabetes tipe lain dapat juga
disebabkan defek genetik fungsi insulin, defek genetik kerja insulin,
penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat
kimia(Sutjahjo dkk, 2006).

2.1.3 Diagnosis Diabetes Melitus


Menurut PERKENI tahun 2006 diagnosa diabetes melitus dapat dipastikan
jika terdapat salah satu hasil pemeriksaan sebagai berikut
a. gejala klasik diabetes melitus dengan kadar glukosa darah sewaktu
>200mg/dL gejala klasik diabetes melitus yaitu sering kencing, cepat
lapar, sering haus,berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas
b. gejala klasik diabetes melitus dengan kadar glukosa darah puasa >126
mg/dL
c. pada tes toleransi glukosa oral(TTGO) didapatkan hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah 2 jam >200 mg/dL sesudah pemberian beban
glukosa 75 gr.

Tabel 2.1 kriteria Pengendalian DM


Baik sedang buruk

7
Glukosa Darah Puasa (mg/dL) 80-109 110-125 126
Glukosa darah 2 jam (mg/dL) 110-144 145-179 180
Glukosa sewaktu 80-144 145-179 180
A1C <6,5 6,5-8 >8
Kolesterol total (mg/dL) <200 200-239 240
Kolesterol LDL (mg/dL <100 100-129 130
Kolesterol HDL (mg/dL) >45
Trigliserida (mg/dL) <150 150-199 200
Sumber: konsensus pengolahan dan pencegahan DM Tipe II Perkeni di
indonesia,2006

2.1.2 Penyebab Diabetes Melitus


Ketika seseorang menderita diabetes maka pankreas orang tersebut tidak
dapat menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula yang diperoleh dari
makanan. Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas. Hormon ini
melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin
bertugas untuk membuka reseptor pada dinding sel agar glukosa memasuki sel,
lalu sel-sel tersebut mengubah glukosa menjadi energi yang diperlukan tubuh
untuk melakukan aktivitas dengan kata lain, insulin membantu menyalurkan gula
ke dalam sel agar diubah menjadi energi, jika jumlah insulin tidak cukup maka
terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes (Manganti,
2012).

2.1.3 Gejala diabetes mellitus


Gejala penyakit Diabetes Melitus masing-masing penderita bervariasi,
bahkan tidak menunjukan gejala apa pun. Gejala Diabetes Melitus dapat
digolongkan menjadi dua yaitu gejala akut dan gejala kronik. Tahap awal gejala
akut Diabetes Melitus yaitu polifagi (banyak makan), polidipsi (banyak minum),
dan poliuri (banyak kencing) bila keadaan tersebut tidak segera diobati akan
timbul gejala banyak minum, banyak kencing, nafsu makan mulai berkurang berat
badan turun dengan cepat (turun 5-10mkg dalam waktu 2-4 minggu), mudah
lelah. Pada gejala kronik Diabetes Melitus yang sering dialami adalah kesemutan,
kulit terasa panas seperti ditusuk jarum, rasa kebas dikulit, kram, mudah ngantuk,
mata kabur, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian janin dalam
kandungan, dan impotensi pada pria (Fatimah, 2015).

8
2.2.5 Faktro Resiko Diabetes Melitus
Peningkatan jumlah penderita diabetes melitus yang sebagian besar diabetes
melitus tipe 2 berkaitan dengan beberapa faktro yaitu faktor resiko yang dapat
diubah ,faktor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor lain. Menurut america
diabetes associantion bawah diabetes berkaitan dengan faktor resiko yang tidak
dapat diubah meliputi riwayat keluarga dengan diabetes melitus,umur 45 tahun,
etnik,riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi>4000 gram atau
riwayat pernah menderita diabetes melitus gestasional. Faktor resiko yang dapat
diubah meliputi obesitas,kurangnya aktivitas fisik,hipertensi,dislipidemia,dan diet
tidak sehat(Waspadji,2009)

2.2 Kolesterol
2.2.1 Lipid
Lipid atau lemak tubuh adalah salah satu komponen yang dibutuhkan
untuk proses-proses kimiawi dalam tubuh. Lipid bertindak sebagai bahan dasar
pembuatan hormon, sumber energi dan berperan sebagai komponen struktural
membran sel. Lipid juga berperan dalam membantu proses pencernaan. Lipid
besumber dari makanan yang dikonsumsi serta disintesis pula dalam hati. Lipid
terdiri dari beberapa kelompok yaitutriasilgliserol, fosfolipid, kolesterol, dan asam
lemak bebas. Lipid agar dapat diangkut melalui aliran darah harus berikatan
dengan protein membentuk senyawa yang larut dalam air yang disebut
lipoprotein(Burtis,2008)
2.2.2 Pengertian kolesterol
Kolesterol merupakan derivat lipid yang tergolong steroid atau sterol yang
selalu berikatan dengan asam lemak lain dalam bentuk ester. Kolesterol dalam
tubuh berasal dari makanan (eksogen) dan disintesis oleh tubuh (endogen).
Kolesterol eksogen hanya terdapat pada hewan seperti otak, usus, dan ginjal
sedangkan kolesterol endogen disintesis dari asetil KoA (intermediet glikolisis).
Kolesterol mempunyai fungsi utama dalam tubuh yaitu, pembentukan membran
sel, sintesis hormon-hormon steroid, sintesis asam empedu (Zulbadar Panil,
2008).

9
Kolesterol merupakan bentuk lemak yang berwarna kekuningan dan
berbentuk menyerupai lilin. Sekitar 75% kolesterol dalam darah diproduksi oleh
hati dan sel-sel dalam tubuh. Kadar kolesterol normal dalam tubuh adalah 160-
200 mg/dl. Kadar kolesterol yang berlebih dalam tubuh dapat membahayakan
kesehatan (Yekti dan Ari,2001)

2.2.3 Faktor-faktor penigkatan kolesterol


Trigliserida dibentuk di hati dari gliserol dan lemak yang berasal dari
makanan dengan bantuan insulin atau ada kelebihan kalori akibat asupan yang
berlebihan. Trigliserida merupakan lemak darah yang cenderung naik seiring
dengan konsumsi alkohol dan karbohidrat berlebih, peningkatan berat badan, diet
tinggi gula dan lemak serta gaya hidup. Kadar trigliserida tinggi juga cenderung
menyebabkan gangguan dalam diabetes. Kadar trigliserida tinggi disebabkan oleh
makan malam dengan porsi yang banyak, kelebihan karbohidrat dan lipid.
Akibatnya terjadi penumpukan pada pembuluh darah sehingga metabolisme akan
terganggu. Hal ini membuat badan sering pegal, lemas, dan kepala sakit serta
munculnya berbagai gejala penyakit seperti diabetes, hipertensi dan gangguan
jantung (Harti, 2014).
2.2.4 Jenis Kolesterol
a. LDL low density lipoprotein
LDL bersifat atherogenik yaitu menyebabkan terjadinya proses
atherosklerosis. Gagal jantung atau disebut penyakit jantung koroner
diakibatkan oleh atherosclerosis yang terjadi di arteri koronaria yang
mengalirkan darag ke jantung. Oleh karena itu LDL dikenal sebagai
kolersetrol jahat.
b. HDL high density lipoprotein
HDL adalah lipoprotein yang mempunyai kepadatan yang tinggi. Densitas
lipoprotein akan meningkat apabila kadar protein naik dan kadar lemaknya
berkurang, HDL disintesis dan diekresikan oleh hati dan usus. HDL berfungsi
sebagai pengangkut kolesterol dalam darah dari jaringan tubuh ke hati.
c. Trigliserida

10
Trigliserida adalah suatu ester gliserol. Trigliserida terbentuk dari 3 asam
lemak dan gliserol, apabila terdapat satu asam lemak yang berikatan dengan
gliserol maka dinamakan monogliserida. Fungsi utma trigliserida adalah
sebagai zat energi. Lemak disimpan di dalam tubuh .

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif kuantitatif yaitu
pengambilan data yang dilakukan untuk mengetahui gambaran yang terjadi dalam
suatu populasi. Variabel bebas adalah umur dan jenis kelamin sedangkan variabel
terikat adalah kadar kolesterol total darah (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat penelitian
Pengambilan sampel dan pemeriksaan kolesterol pada penderita Diabetes
Melitus akan dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru.
3.2.2 Waktu penelitian
Penelitian ini direncanakan pada bulan Desember 2016 sampai Januari
2017.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1 Populasi

11
Populasi yang akan diteliti adalah semua pasien Diabetes Melitus tipe 2
yang rutin melakukan pengobatan di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru tahun
2016.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit
Bhayangkara Pekanbaru tahun 2016, sebanyak 30 sampel. Sampel yang diambil
adalah sampel yang memenuhi kriteria yaitu kriteria inklusi berjenis kelamin laki-
laki dan perempuan, dewasa berumur 45 tahun, berpuasa 12 jam sebelum
pengambilan darah dan kriteria eklusi adalah pasien berusia 45 tahun.

3.4 Kriteria Pengambilan Sampel


3.4.1 Kriteria Inklusi
berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
dewasa berumur 45 tahun
pasien penderita Diabetes Melitus Tipe 2
berpuasa 12 jam sebelum pengambilan darah
pemeriksaan glukosa darah sewaktu >200 mg/dL,
glukosa darah puasa >126 mg/dL
3.4.2 Kriteria Eklusi
pasien berusia 45 tahun

3.5 Teknik Sampling


Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive samping
yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pada pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya. Pengambilan sampel dilakukan oleh petugas Laboratorium
Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru (Notoatmodjo, 2010).

3.6 Teknik Pengumpulan Data


3.6.1 Data Primer
Data primer merupakan Pengumpulan data yang diperoleh dari hasil
pemeriksaan kolesterol pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Laboratorium
Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru.
3.6.2 Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia untuk dikumpulkan oleh
suatu lembaga atau instansi terkait. Adapun data sekunder yang dapat diambil dari
data medis penderita diabetes melitus tipe 2 yang melakukan pemeriksaan di
laboratorium rumah sakit bhayangkara adalah sebagai berikut yaitu nama pasien,

12
umur dan jenis kelamin. Data sekunder biasanya digunakan untuk melengkapi
data primer.

3.6.4 Analisa Data


Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis
univariat yang bertujuan untuk menjelaskan gambaran terhadap variabel bebas
yaitu umur dan jenis kelamin dan variabel terikat yaitu kadar kolesterol total
darah pada pasien Diabetes Melitus tipe 2.

3.7 Prosedur Persiapan Sampel


3.7.1 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan untuk pengambilan darah vena adalah spuit,
torniquite, tabung vakum no additive, dan kapas alkohol 70%.
3.7.2 Pengambilan darah vena
Membersihkan tempat yang dipilih menggunakan kapas alkohol 70% dan
biarkan sampai kering, jika memakai vena dalam fosca cubiti, pasang ikatan
pembendung pada lengan atas dan minta pasien itu mengepal dan membuka
tangannya berkali-kali agar vena terlihat jelas. Setelah itu menegangkan kulit di
atas vena itu dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak, kemudian
tusuk kulit dengan spiut dalam tangan kanan sampai ujung jarum masuk dalam
lumen vena, setelah itu lepaskan dan meregangkan pembendungan dan perlahan-
lahan menarik penghisap spuit sampai jumlah darah yang dikehendaki didapatkan,
lalu lepaskan pembendungan jika masih terpasang, kemudian taruh kapas di atas
jarum dan cabutlah spuit itu, setelah itu minta kepada orang yang diambil
darahnya untuk menekan tempat tusukan tadi beberapa menit dengan kapas
tadi,lepaskan jarum dari spuit dan alirkan darah (jangan semprotkan) kedalam
tabung atau wadah yang tersedia melalui dinding tabung (GandaSoebrata, 2010).
3.7.3 Teknik Pemisahan Serum
Darah yang sudah diambil dimasukan ketabung merah vakum no additive
kemudian dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Lapisan
jernih bewarna kuning muda yang berada dibagian atas adalah serum yang akan
diperiksa.

3.8 Pemeriksaan Kolesterol Total

13
3.8.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah BA400, mikropipet,
Pintip, cup sampel serta alat gelas sesuai prosedur kerja. Bahan yang digunakan
pada penelitian ini adalah sampel serum yang diperoleh dari sentrifuge sebagai
bahan pemeriksaan kolesterol dan reagensia yang digunakan reagen kolesterol Bio
Systems dan menggunakan akuades.
3.8.2 Metode Pemeriksaan
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan kolesterol yaitu pemeriksaan
enzymatic colimetric.
3.8.3 Prinsip
Kolesterol dan ester-esternya dibebaskan dari lipoprotein melalui proses
hidrolisa oleh kolesterol esterase. Kolesterol yang terbentuk dioksidasi oleh
kolesterol oksidase menghasilkan H2O2 selanjutnya H2O2 bereaksi dengan 4-
aminonantiphyrine oleh peroksidase menghasilkan 4 H2O dan quinoneimine.
Reaksi :
Cholesterol ester
Cholesterol ester+H2O cholesterol+fatty acid

Cholesterol oksidase
Cholesterol +O2 4Cholesterol-3-one+H2O2
peroksidase
2H2O2 + 4-aminoantiphyrine + phenol quinoneimine+4H2O

3.8.4 Prosedur Menghidupkan Alat


Nyalakan UPS dan nyalakan komputer kemudian periksa pada alat Bio
systems BA400 tutup botol reagen dirotor reagen dibuka terlebih dahulu, cek
volume aquadest pada dirigen/tank, cek volume waste pada dirigen, apabila penuh
buang terlebih dahulu. Pastikan tidak ada botol atau benda apapun yang dapat
membahayakan pergerakan ARM.
Jika semua sudah benar nyalakan instrument lampu indikator ON buzzer
bunyi. Pada komputer klik program USER BA400. Jika alat sudah ON dan dalam
posisi stand by lakukan prosedur warming up lamanya proses kurang lebih 25
menit.
3.8.5 Prosedur Pemeriksaan Sampel
Pipet serum sebanyak 500l, masukkan ke dalam cup sampel dan beri
nomor. Klik tombol SAMPLE REQUEST liat di SAMPLE CLASS, pilih
PATIENT, kemudian tentukan jenis type SAMPLE pilih SER-Serum
selanjutnya pilih pemeriksaan yang akan dilakukan dengan cara mengklik TEST

14
pilih kolesterol lalu klik simbol ceklis lalu klik patient selection masukkan nama
pasien kemudian pilih tekan positioning setelah pasien sudah terdaftar di
WORKSESSION PREPARATION klik positioning selected sample kemudian klik
AUTOMATIC SAMPLE POSITIONING sample secara otomatis akan terdaftar di
rak sampel, jika semua sudah pada posisi yang benar maka klik yang simbol
ceklis untuk ACCEPT kemudian tekan START untuk memulai. Untuk melihat
Results atau hasil tekan WORKSESSION RESULTS.

3.8.6 Prosedur kalibrasi dan kontrol


Keluarkan reagen kalibrasi dari lemari pendingin, lalu biarkan pada suhu
ruang selama 15 menit, larutkan reagen kalibrator dengan 5 mL akuadest
menggunakan pipet volumetrik, biarkan selama 15 menit. Setelah itu pindahkan
200uL mikroliter ke dalam cup sampel, klik tombol Sample request, lihat di
Sample class pilih kalibrasi atau control. Pilih Test untuk memilih parameter yang
akan diperiksa yaitu kolesterol, tekan tanda ceklis untuk Accept lalu centangkan
kotak kalibrator atau kontrol, tekan Possioning maka alat mengatur posisi sampel
secara otomatis, tekan ceklis untuk Accept tekan Star untuk memulai, untuk
melihat hasil kalibrasi atau control tekan Worksession.

3.8.7 Prosedur Mematikan Alat


Tekan SHUTDOWN ikuti sampai proses selesai dan program keluar
dengan sendirinya. Mematikan alat dengan menekan tombol switch OFF yang ada
di samping alat. Bila reagen hendak dimasukkan ke dalam lemari pendingin
makan tekan tombol switch REAGENT REFRIGERATOR/PENDINGIN bila
tidak dipindahkan pastikan tombol REAGENT REFRIGERATOR/PENDINGIN
tetap dalam kondisi ON. Pada komputer lakukan prosedur SHUTDOWN seperti
biasa.
3.9 Nilai Normal
Nilai normal kadar kolesterol total
Kadar kolesterol total darah normal : kecil dari < 200 mg/dL
Kadar kolesterol total darah sedang : 200 239 mg/dL
Kadar kolesterol total tinggi : besar dari >240 mg/dL

15
DAFTAR PUSTAKA

Adam, J. M. F., 2009. Dislipidemia. Dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I.,
Marcellus, Simadibrata.K., & Setiati, S (Eds.), Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jilid 3. Edisi 4. Internal publishing. Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau. (2011). Profil kesehatan kota pekanbaru.


Pekanbaru Riau.

Gandasoebrata, R., 2010. Penuntun Laboratorium klinik. Dian rakyat. Jakarta.

Harti, A. S., 2014. Biokimia kesehatan. Nuha medika. Yogyakarta.

Irawati, R. R. D., Meikawati, W., & Astuti, R., 2013

Joyce Lefever Kee, 2003. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.


Penerbit kedokteran. Edisi 6. EGC.

Notoatmodjo, S., 2012. Metodologi penelitian kesehatan. Rineka cipta. Jakarta.

Panil, Z., 2008. Memahami teori dan praktek biokimia dasar medis. Buku
kedokteran EGC. Jakarta.

16
Patonah., Sukandar, E. Y., Adnyana, I. K., & Tjahjono. D. H., 2010.
Antihipertrigliseridemi Kurkuminoid dan Smetilsistein: Metode Tes
Toleransi Lipid. 7: 4.

Purnamasari, D., 2009. Diagnosa dan klasifikasi diabetes melitus. Dalam Sudoyo
A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, Simadibrata.K., & Setiati, S
(Eds.), Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3. Edisi 4.Internal publishing.
Jakarta.

Sulistia G. G. 2005. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Bagian Farmakologi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Gaya Baru. Pp: 427-
8,364-5.

Soebardi, S., & Yunir, E., 2009. Terapi non farmakologis pada diabetes melitus.
Dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus, Simadibrata.K.,
& Setiati, S (Eds.), Bulu ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3. Edisi 4. Internal
publishing. Jakarta.

Soegondo, S., 2009. Farmakoterapi pada pengendalian glikemia diabetes mellitus


tipe 2. Dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Marcellus,
Simadibrata.K., & Setiati, S (Eds.), Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 3.
Edisi 4. Internal publishing. Jakarta.

17